Anda di halaman 1dari 14

PEMERINTAH KABUPATEN BANJAR

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH RATU ZALECHA


Jl.Menteri Empat Martapura Kal-Sel Telp. ( 0511 ) 4789454-4789635 Fax. 4789454-4789635
Email : ratuzalecha@gmail.com

KEPUTUSAN DIREKTUR
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH RATU ZALECHA MARTAPURA
NOMOR 01./PP/2016
TENTANG
KEBIJAKAN PELAYANAN INTENSIF CARE UNIT
PADA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH RATU ZALECHA MARTAPURA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH RATU ZALECHA MARTAPURA,
Menimbang

: a. bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan RSUD Ratu


Zalecha Martapura, maka diperlukan penyelenggaraan pelayanan
Intensif Care Unit yang bermutu tinggi;
b. bahwa agar pelayanan Intensif Care Unit di RSUD Ratu Zalecha
Martapura dapat terlaksana dengan baik, perlu adanya kebijakan
Direktur RSUD Ratu Zalecha Martapura sebagai landasan bagi
penyelenggaraan pelayanan Intensif Care Unit di RSUD Ratu Zalecha
Martapura;

Mengingat

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam a dan


b ,perlu ditetapkan dengan Keputusan Direktur RSUD Ratu Zalecha
Martapura.
: 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 tentang
Rumah Sakit
2. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269 /Menkes/Per/III/2008
tentang Intensif Care Unit
MEMUTUSKAN

Menetapkan

: KEPUTUSAN DIREKTUR TENTANG PELAYANAN INTENSIF CARE


UNIT PADA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH RATU ZALECHA
MARTAPURA.

KESATU

: Menetapkan Sasaran Keselamatan Pasien Rumah Sakit Pada Rumah Sakit


Umum Ratu Zalecha Martapura.

KEDUA

: Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pelayanan Intensif Care


Unit RSUD Ratu Zalecha Martapura dilaksanakan oleh Manajer
Pelayanan RSUD Ratu Zalecha Martapura.

KETIGA

: Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkannya, dan apabila di


kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapan ini akan
diadakan perbaikan sebagaimana mestinya
Ditetapkan di : Martapura

Pada Tanggal

: 11 Januari 2016

Direktur,

drg. Yasna Khairina, MM


NIP. 19650611 199301 2 002

Lampiran
Keputusan Direktur RSUD Ratu Zalecha
Nomor

Tanggal

KEBIJAKAN PELAYANAN INTENSIF CARE UNIT


RSUD RATU ZALECHA MARTAPURA

Kebijakan Umum
1. Peralatan di unit harus selalu dilakukan pemeliharaan dan kalibrasi sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
2. Pelayanan di unit harus selalu berorientasi kepada mutu dan keselamatan pasien.
3. Semua petugas unit wajib memiliki izin sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
4. Dalam melaksanakan tugasnya setiap petugas wajib mematuhi ketentuan dalam K3
5.

(Keselamatan dan Kesehatan Kerja)


Setiap petugas harus bekerja sesuai dengan standar profesi, standar prosedur

opersinal yang berlaku, etika profesi, etikket, dan menghormati hak pasien.
6. Pelayanan unit dilaksanakan dalam 24 jam.
7. Penyediaan tenaga harus mengacu kepada pola ketenagaan.
8. Untuk melaksanakan koordinasi dan evaluasi wajib dilaksanakan rapat rutin
bulanan minimal satu bulan sekali.
9. Setiap bulan wajib membuat laporan.
Kebijakan Khusus
1. Ruang intensif penerimaan rujukan pasien dari rumah sakit lain sesuai dengan
standar dan fasilitas yang dimiliki dan bila pasien memerlukan perawatan insentif
yang lebih tinggi tingkatannya dapat di rujuk ke rumah sakit lain sesuai dengan
kondisi pasien.
2. Setiap tindakan kedokteran (medis) yang akan dilakukan harus ada informed
consent.
3. Pada keadaan darurat, untuk kepentingan terbaik pasien, dokter jaga ICU atau
dokter spesialis anestesi dapat melakukan tindakan kedokteran yang diperlukan dan
informasi dapat diberikan pada kesempatan pertama.
4. Apabila pasien berada dalam tahap terminal dan tindakan resuitasi diketahui tidak
akan menyembuhkan atau memperbaiki kualitas hidup pasien, dokter dapat
membuat keputusan untuk tidak melakukan resusitasi.
5. Dalam menghadapi tahap terminal, dokter ICU harus mrngikuti pedoman
penentuan kematian batang otak dan penghentian peralatan life supporting.
6. Tindakan yang bersifat kedokteran harus dikerjakan oleh tenaga medis tetapi
dengan pertimbangan yang memperhatikan keselamatan pasien tindakan tindakan
tertentu dapat didelegasikan kepada tenaga kesehatan non medis yang terlatih.

7. Kriteria dokter ICU adalah telah mengikuti pelatihan / pendidikan perawatan ICU
dan telah mendapat sertifikat Intensive care Medicine ( KIC, Konsultan Intensive
Care) melalui program pelatihan dan pendidikan yang diikuti oleh perhimpunan
profesi yang terkait.
8. Mampu melakukan prosedur Critical Care biasa, antara lain :

Mempertahankan jalan nafas termasuk intubasi tracheal dan ventilasi


mekanis.

Fungsi arteri untuk mengambil sampel arteri.

Memasang kateter intravascular dan peralatan monitoring, termasuk :


- Kateter arteri
- Kateter vena perifer
- Kateter vena central ( CVP )
- Kateter arteri pulmonalis

Pemasangan kabel pacu jantung transvenous temporer

Resuitasi kardiopulmoner

Pipa thoracostomy
9. Fungsi dan kewenangan Kepala unit intensif sebagai coordinator pengelolaan
pasien :
Fungsi :
Melakukan evaluasi menyeluruh, menngmbil kesimpulan, member instruksi terapi
dan tindakan secara tertulis dengan mempertimbangkan usulan anggota team.
Kewenangan / peran :
Mampu berperan sebagai pimpinan tim dan memberikan pelayanan di ICU,
menggabungkan dan titrasi layanan pada pasien berpenyakit kompleks atau
cedera termasuk gagal organ multi sistem.
Intervist memberi pelayanan sendiri atau dapat berkolaborasi dengan dokter
pasien sebelumnya. Mampu mengelola pasien dalam kondisi yang biasa terdapat
pada pasien sakit kritis seperti :
1. Haemodinamik tidak stabil
2. Gangguan atau gagal nafas, dengan atau tanpa memerlukan tunjangan
ventilasi mekanis.
3. Gangguan neurologis akut termasuk mengatasi hipertensi cranial
4. Gangguan atau gagal ginjal akut
5. Gangguan endokrin dan / metabolic akut yang mengancam nyawa
6. Kelebihan dosis obat, reaksi obat atau keracunan obat
7. Gangguan koagulasi
8. Infeksi serius
9. Gangguan nutrisi yang memerlukan tunjangan nutrisi
10. Tata cara dan indikasi masuk / keluar ICU dari dalam rumah sakit dan luar
rumah sakit :
Tata cara pasien masuk / keluar ICU
Penanggung jawab pasien melakukan register / pendaftaran di bagian
admission.
Indikasi pasien masuk ICU
Pasien saat kritis, tidak stabil yang memerlukan terapi intensif seperti
bantuan ventilasi, infus obat-obat vaso aktif kontinyu dan lain-lainnya
Indikasi pasien keluar ICU :

Bila kebutuhan untuk terapi intensif telah tidak ada lagi atau bila terapi
intensif telah gagal atau tidak bermanfaat sehingga prognosis jangka
pendek jelek
11. Setiap pengguanaan peralatan medis diinformasikan kepada penanggung
jawab pasien
12. Seluruh fasililtas pelayanan yang ada di ICU baik medis maupun non
medis menjadi tanggung jawab Ka Ru termasuk pemeliharaan dan
perbaikan berkoordinasi dengan bagian teknisi.
13. Untuk pencegahan infeksi nosokomial, setiap petugas diwajibkan mencuci
tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien
14. Indikasi pemeriksaan laboratorium dan radiologi berdasarkan permintaan
dari DPJP (Dokter Penanggung Jawab Pasien) atau dokter konsulen lain
berkoordinasi dengan dokter penanggung jawab ICU
15. Setiap permintaan laboratorium dan radiologi dituliskan pada formulir
yang sudah ditentukan lalu di input oleh petugas administrasi untuk
selanjutnya di informasikan pada bagian terkait
16. Prosedur konsul antar spesialis / konsulen :
Pada dasarnya DPJP pasien yang dirawat di ICU adalah dokter spesialis
anestesi yang bertugas di ICU
Bila ada lebih dari satu DPJP, maka DPJP utama adalah dokter spesialis
yang bertugas di ICU
DPJP pasien yang di rujuk langsung ke ICU oleh dokter jaga IGD ialah
dokter spesialis anestesi yang bertugas di ICU
Bila dokter spesialis anestesi memerlukan rawat bersama dengan dokter
spesialis lain, maka sebagai DPJP utama adalah dokter spesialis anestesi
yang bertugas di ICU
Pasien yang dirujuk oleh dokter spesialis untuk di rawat di ICU harus jelas
apakah akan rawat bersama atau di rujuk. Bila rawat bersama, maka DPJP
utamanya ialah dokter spesialis anestesi yang bertugas di ICU
DPJ Putama berwenang dalam melaksanakan praktek kedokteran yang di
bantu sepenuhnya oleh seluruh perawat dan staf ICU yang bertugas.
Kewenangan

tersebut

harus

dengan

tetap

memperhatikan

dan

mempertimbangkan saran dari DPJP atau dokter spesialis lain yang terkait
dengan parawatan pasien
Bila ada keberatan DPJP lain atas pelayanan medis yang diberikan oleh
DPJP utama, maka masukan / keberatan harus dikomunikasikan langsung
ke DPJP utama atau di tulis dalam Intensif Care Unit pasien
Bila tidak dicapai kesepakatan antara DPJP utama dengan DPJP lain yang
menangani pasien sejak awal perawatan, maka dapat ditetapkan ulang
siapa DPJP utama pasien tersebut. Hal tersebut harus dicatat dalam
Intensif Care Unit
Bila terjadi masalah dalam penepatan DPJP utama, maka hal tersebut
dilaporkan kepada Manajer Pelayanan sesegera mungkin

Untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit, setiap hal yang terkait
dengan mutu pelayanan dan kepentingan pasien akan di ajukan untuk
dilakukan audit medis oleh Sub Komite Audit pasien

Direktur,
RSUD Ratu Zalecha Martapura

drg. Yasna Khairina, MM


NIP. 19650611 199301 2 002

PEMERINTAH KABUPATEN BANJAR

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH RATU ZALECHA


Jl.Menteri Empat Martapura Kal-Sel Telp. ( 0511 ) 4789454-4789635 Fax. 4789454-4789635
Email : ratuzalecha@gmail.com

PERATURAN DIREKTUR RSUD RATU ZALECHA MARTAPURA


NOMOR 01./PP/2016
TENTANG
KEBIJAKAN PELAYANAN INTENSIF
No RUMAH:SAKIT
800/ UMUM DAERAH
/ Raza
Martapura, 01 April
PADA
RATU ZALECHA MARTAPURA
2014
Lampiran

: -

Kepada Yth.

Menimbang
Perihal

: a. :Bahwa
dalam Kehilangan
upaya meningkatkan
Laporan
BMDmutu pelayanan kesehatan
di Instalasi Pelayanan Intensif RSUD Ratu Zalecha Martapura,
Kepala BPKAD Kab. Banjar
maka diperlukan suatu proses pelayanan yang profesional,
Di
cepat dan tepat.
Tempat
No

: 800/

/ Raza

Martapura, 01 April

2014
Lampiran

: -

Kepada Yth.

Kepala BPKAD Kab. Banjar


Di
Tempat
b. Bahwa untuk melancarkan tugas dan pelayanan kesehatan di
Instalasi Intensif RSUD Ratu Zalecha Martapura, dipandang
perlu untuk membuat kebijakan Instalasi Pelayanan Intensif.

Mengingat

MEMPERHATIKAN

c. Bahwa untuk kepentingan tersebut di atas, perlu diterbitkan


Peraturan Direktur tentang Kebijakan Instalasi Pelayanan
Intensif RSUD Ratu Zalecha Martapura.
: 1. Undang undang No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
2. Undang undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.
3. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
1203/Menkes/SK/XII/2008 tentang Standar Pelayanan ICU.
4. Standar Pelayanan ICU, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia tahun 2003.
5. Standar Pelayanan Keperawatan di ICU, Departemen Kesehatan
Republik Indonesia tahun 2006.
:
Standar Akreditasi Rumah Sakit Direktorat Jenderal Bina Upaya
Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Komisi
Akreditasi Rumah Sakit (KARS) tahun 2011.
MEMUTUSKAN

Menetapkan

: MMEMBERLAKUKAN
PELAYANAN
INTENSIF
MARTAPURA, yaitu:

KEBIJAKAN
RSUD
RATU

INSTALASI
ZALECHA

KESATU

: Kebijakan Instalasi Pelayanan Intensif RSUD Ratu Zalecha,


sebagaimana tercantum dalam lampiran Peraturan Direktur ini.

KEDUA

: Didalam memberikan pelayanan kesehatan di Instalasi Pelayanan


Intensif RSUD Ratu Zalecha berpedoman pada kebijakan yang
telah disusun dan ditetapkan.

KETIGA

: Perubahan kebijakan harus dibahas sekarang kurangnya setiap 3


(tiga) tahun sekali dan apabila diperlukan, sewaktu waktu akan
dilakukan perubahan sesuai dengan perkembangan yang ada.

KEEMPAT

: Peraturan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan


apabila dikemudian hari terdapat kesalahan akan dilakukan
perbaikan sebagaimana mestinya.
Ditetapkan di : Martapura
Pada Tanggal : 11 Januari 2016
RSUD RATU ZALECHA MARTAPURA
Direktur,

drg. Yasna Khairina, MM


NIP. 19650611 199301 2 002

Lampiran
Keputusan Direktur RSUD Ratu Zalecha
Nomor

Tanggal

KEBIJAKAN INTALASI PELAYANAN INTENSIF


RSUD RATU ZALECHA MARTAPURA
1. Instalasi Pelayanan Intensif Rumah Sakit Panti Nirmala adalah Instalasi Pelayanan
Intensif Sekunder dengan kriteria:
a. Mampu memberikan pelayanan intensif umum yang tinggi.
b. Mampu memberikan tunjangan ventilasi mekanik lebih lama.
c. Mampu melakukan tunjangan hidup yang lain tetapi tidak terlalu kompleks.
d. Mengutamakan keselamatan pasien pada setiap tindakan pelayanan.
e. Mempunyai ruang tersendiri mudah dijangkau dari Instalasi Kamar Operasi, Instalasi
Gawat Darurat dan ruang rawat inap yang lain.
f. Memiliki kriteria pasien masuk, keluar dan rujukan.
g. Mempunyai dokter spesialis sebagai konsultan yang dapat dihubungi setiap kali
diperlukan.
h. Memiliki Kepaa Instalasi Pelayanan Intensif yaitu seorang dokter spesialis
anestesiologi yang bertanggungjawab secara keseluruhan dan dokter jaga Instalasi
Gawat Darurat yang mampu melakukan resusitasi jantung paru.

i. Memiliki tenaga keperawatan kritis yang mempunyai pengalaman kerja lebih dari 3
(tiga) tahun.
j. Menyediakan pelayanan laboratprium, radiologi dan farmasi 24 (dua puluh empat)
jam.
2. Kepala Urusan Pelayanan Keperawatan Instalasi Pelayanan Intensif RSUD Ratu Zalecha
adalah seorang lulusan D3 Keperawatan, pengalaman kerja lebih dari 5 (lima) tahun di
Instalasi Pelayanan Intensif, mempunyai sertifikat manajemen ruang perawatan.
3. Ada tata cara tentang penilaian karyawan yang berlaku di Instalasi Pelayanan Intensif
4. Melakukan program pendidikan dan keterampilan baik internal maupun eksternal rumah
sakit.
5. Tersedianya fasilitas peralatan yang dapat memenuhi kebutuhan pelayanan dan akan
berkembang sesuai dengan kemajuan teknologi di bidang kesehatan.
6. Melaksanakan kalibrasi peralatan medis secara berkala.
7. Karyawan baru di Instalasi Pelayanan Intensif wajib mengikuti program orientasi baik
secara umum maupun orientasi khusus di Instalasi Pelayanan Intensif.

Ditetapkan di : Martapura
Pada Tanggal : 11 Januari 2016
RSUD RATU ZALECHA MARTAPURA
Direktur,

drg. Yasna Khairina, MM


NIP. 19650611 199301 2 002
FORMAT PEDOMAN PELAYANAN RAWAT INTENSIF

BAB I

PENDAHULUAN
A.
B.
C.
D.

BAB II

Latar Belakang
Ruang Lingkup Pelayanan (Primer, Sekunder, Tertier)
Batasan Operasional
Landasan Hukum

STANDAR KETENAGAAN
A.
B.
C.
D.

Kualifikasi sumber daya manusia


Distribusi ketenagaan
Pengaturan jaga
Pelatihan
a. Pengenalan tanda kegawat-daruratan yang mengancam nyawa
b. Perawatan gawat darurat pendahuluan termasuk RJP dasar
c. Pemasangan intervensi intravaskuler
d. Melakukan pelayanan perawatan intensif sesuai kebutuhan pasien
e. Program pengendalian infeksi
f. Program keselamatan dan kesehatan kerja.
g. Penggunaan peralatan secara benar, efektif dan aman.
h. Pelayanan prima.
BAB III STANDAR FASILITAS

A. Denah ruang
B. Standar fasilitas
a. Tempat tidur khusus
b. Alat pengukur tekanan darah
c. Pulse oxymetri
d. E K G
e. Alat pengukur tekanan vena sentral
f. Alat pengukur suhu
g. Alat penghisap (suction) sentral
h. Alat ventilasi manual dan alat penunjangnya
i. Peralatan akses vaskuler
j. Ventilator
k. Oksigen sentral
l. Lampu untuk melakukan tindakan
m. Defebrilator dan alat pacu jantung
n. Peralatan drain toraks
o. Emergency trolley yang berisi alat dan obat untuk keadaan emergency :
Airway, laringoskop, ambu bag, O 2, adrenalin, dll
p. Pompa infus dan pompa syringe
q. Monitor tekanan darah invasif
r. Monitor tekanan darah sentral
s. Monitor tekanan arteri pulmonalis
t. Kapnograf
u. Bronkospkopi
v. Echokardiografi
w. EEG
x. Hemodialisis atau CRRT
C. Pemeliharaan, perbaikan dan kaliberasi peralatan
BAB IV TATA LAKSANA PELAYANAN
A.
B.
C.
D.

E.
F.
G.

H.
I.

Kriteria masuk dan keluar ICU


Persiapan penerimaan pasien
Monitoring pasien
Prosedur medik
a. Pemasangan CVP
b. Pemasangan stomach tube
c. Intubasi dan perawatannya
d. Ekstubasi
e. Balance cairan
f. Rehabilitasi Medik
g. Penilaian kematian batang otak
Indikasi penggunaan dan penghentian ventilator mekanik
Penggunaan ventilator mekanik
Pengunaan alat medik
a. Inkubator
b. Syringe pump
c. Infusion pump
d. Suction
e. Defibrilator
Konsultasi
Indikasi dan prosedur pemeriksaan laboratorium dan radiologi

J. Pengiriman pasien
a.
Pengiriman ke rawat inap
b.
Pengiriman ke kamar operasi
c.
Pengiriman rujukan
d.
Pengiriman ke kamar jenazah
K. Rekam Medis
L. Pencacatan dan pelaporan kegiatan pelayanan
M. Evaluasi hasil perawatan pasien (Pelaporan pada Pedoman Organisasi)
BAB V

LOGISTIK
A. Prosedur penyediaan Alat Kesehatan dan Obat
B. Perencanaan peralatan / peremajaan

BAB VI KESELAMATAN KERJA


Pelaksanaan program keselamatan kerja, kebakaran dan kewaspadaan bencana (K3)
BAB VII PENGENDALIAN MUTU
A. Angka ketidak lengkapan rekam medis
B. Angka kematian spesifik
C. Angka infeksi nosokomial (pneumonia, infeksi saluran kemih, infeksi jarum infus)
D. Indikator klinik dan insiden keselamatan pasien
BAB VIII PENUTUP

KEBIJAKAN PELAYANAN PER UNIT RSUD RATU ZALECHA MARTAPURA

Kebijakan Umum
1. Peralatan di unit harus selalu dilakukan pemeliharaan dan kalibrasi sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
2. Pelayanan di unit harus selalu berorientasi kepada mutu dan keselamatan pasien.
3. Semua petugas unit wajib memiliki izin sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
4. Dalam melaksanakan tugasnya setiap petugas wajib mematuhi ketentuan dalam K3
5.

(Keselamatan dan Kesehatan Kerja)


Setiap petugas harus bekerja sesuai dengan standar profesi, standar prosedur

opersinal yang berlaku, etika profesi, etikket, dan menghormati hak pasien.
6. Pelayanan unit dilaksanakan dalam 24 jam.
7. Penyediaan tenaga harus mengacu kepada pola ketenagaan.
8. Untuk melaksanakan koordinasi dan evaluasi wajib dilaksanakan rapat rutin
bulanan minimal satu bulan sekali.
9. Setiap bulan wajib membuat laporan.
Kebijakan Khusus
1. Ruang intensif penerimaan rujukan pasien dari rumah sakit lain sesuai dengan
standar dan fasilitas yang dimiliki dan bila pasien memerlukan perawatan insentif
yang lebih tinggi tingkatannya dapat di rujuk ke rumah sakit lain sesuai dengan
kondisi pasien.

2. Setiap tindakan kedokteran (medis) yang akan dilakukan harus ada informed
consent.
3. Pada keadaan darurat, untuk kepentingan terbaik pasien, dokter jaga ICU atau
dokter spesialis anestesi dapat melakukan tindakan kedokteran yang diperlukan dan
informasi dapat diberikan pada kesempatan pertama.
4. Apabila pasien berada dalam tahap terminal dan tindakan resuitasi diketahui tidak
akan menyembuhkan atau memperbaiki kualitas hidup pasien, dokter dapat
membuat keputusan untuk tidak melakukan resusitasi.
5. Dalam menghadapi tahap terminal, dokter ICU harus mrngikuti pedoman
penentuan kematian batang otak dan penghentian peralatan life supporting.
6. Tindakan yang bersifat kedokteran harus dikerjakan oleh tenaga medis tetapi
dengan pertimbangan yang memperhatikan keselamatan pasien tindakan tindakan
tertentu dapat didelegasikan kepada tenaga kesehatan non medis yang terlatih.
7. Kriteria dokter ICU adalah telah mengikuti pelatihan / pendidikan perawatan ICU
dan telah mendapat sertifikat Intensive care Medicine ( KIC, Konsultan Intensive
Care) melalui program pelatihan dan pendidikan yang diikuti oleh perhimpunan
profesi yang terkait.
8. Mampu melakukan prosedur Critical Care biasa, antara lain :

Mempertahankan jalan nafas termasuk intubasi tracheal dan ventilasi


mekanis.

Fungsi arteri untuk mengambil sampel arteri.

Memasang kateter intravascular dan peralatan monitoring, termasuk :


- Kateter arteri
- Kateter vena perifer
- Kateter vena central ( CVP )
- Kateter arteri pulmonalis

Pemasangan kabel pacu jantung transvenous temporer

Resuitasi kardiopulmoner

Pipa thoracostomy
9. Fungsi dan kewenangan Kepala unit intensif sebagai coordinator pengelolaan
pasien :
Fungsi :
Melakukan evaluasi menyeluruh, menngmbil kesimpulan, member instruksi terapi
dan tindakan secara tertulis dengan mempertimbangkan usulan anggota team.
Kewenangan / peran :
Mampu berperan sebagai pimpinan tim dan memberikan pelayanan di ICU,
menggabungkan dan titrasi layanan pada pasien berpenyakit kompleks atau
cedera termasuk gagal organ multi sistem.
Intervist memberi pelayanan sendiri atau dapat berkolaborasi dengan dokter
pasien sebelumnya. Mampu mengelola pasien dalam kondisi yang biasa terdapat
pada pasien sakit kritis seperti :
17. Haemodinamik tidak stabil
18. Gangguan atau gagal nafas, dengan atau tanpa memerlukan tunjangan
ventilasi mekanis.
19. Gangguan neurologis akut termasuk mengatasi hipertensi cranial
20. Gangguan atau gagal ginjal akut
21. Gangguan endokrin dan / metabolic akut yang mengancam nyawa

22. Kelebihan dosis obat, reaksi obat atau keracunan obat


23. Gangguan koagulasi
24. Infeksi serius
25. Gangguan nutrisi yang memerlukan tunjangan nutrisi
26. Tata cara dan indikasi masuk / keluar ICU dari dalam rumah sakit dan luar rumah
sakit :
Tata cara pasien masuk / keluar ICU
Penanggung jawab pasien melakukan register / pendaftaran di bagian
admission.
Indikasi pasien masuk ICU
Pasien saat kritis, tidak stabil yang memerlukan terapi intensif seperti
bantuan ventilasi, infus obat-obat vaso aktif kontinyu dan lain-lainnya
Indikasi pasien keluar ICU :
Bila kebutuhan untuk terapi intensif telah tidak ada lagi atau bila terapi
intensif telah gagal atau tidak bermanfaat sehingga prognosis jangka
pendek jelek
27. Setiap pengguanaan peralatan medis diinformasikan kepada penanggung jawab
pasien
28. Seluruh fasililtas pelayanan yang ada di ICU baik medis maupun non medis
menjadi tanggung jawab Ka Ru termasuk pemeliharaan dan perbaikan
berkoordinasi dengan bagian teknisi.
29. Untuk pencegahan infeksi nosokomial, setiap petugas diwajibkan mencuci tangan
sebelum dan sesudah kontak dengan pasien
30. Indikasi pemeriksaan laboratorium dan radiologi berdasarkan permintaan dari
DPJP (Dokter penanggung Jawab Pasien) atau dokter konsulen lain berkoordinasi
dengan dokter penanggung jawab ICU
31. Setiap permintaan laboratorium dan radiologi dituliskan pada formulir yang
sudah ditentukan lalu di input oleh petugas administrasi untuk selanjutnya di
informasikan pada bagian terkait
32. Prosedur konsul antar spesialis / konsulen :
Pada dasarnya DPJP pasien yang dirawat di ICU adalah dokter spesialis
anestesi yang bertugas di ICU
Bila ada lebih dari satu DPJP, maka DPJP utama adalah dokter spesialis
yang bertugas di ICU
DPJP pasien yang di rujuk langsung ke ICU oleh dokter jaga IGD ialah
dokter spesialis anestesi yang bertugas di ICU
Bila dokter spesialis anestesi memerlukan rawat bersama dengan dokter
spesialis lain, maka sebagai DPJP utama adalah dokter spesialis anestesi
yang bertugas di ICU
Pasien yang dirujuk oleh dokter spesialis untuk di rawat di ICU harus jelas
apakah akan rawat bersama atau di rujuk. Bila rawat bersama, maka DPJP
utamanya ialah dokter spesialis anestesi yang bertugas di ICU
DPJ Putama berwenang dalam melaksanakan praktek kedokteran yang di
bantu sepenuhnya oleh seluruh perawat dan staf ICU yang bertugas.
Kewenangan

tersebut

harus

dengan

tetap

memperhatikan

dan

mempertimbangkan saran dari DPJP atau dokter spesialis lain yang terkait
dengan parawatan pasien
Bila ada keberatan DPJP lain atas pelayanan medis yang diberikan oleh
DPJP utama, maka masukan / keberatan harus dikomunikasikan langsung
ke DPJP utama atau di tulis dalam Rekam Medis pasien
Bila tidak dicapai kesepakatan antara DPJP utama dengan DPJP lain yang
menangani pasien sejak awal perawatan, maka dapat ditetapkan ulang
siapa DPJP utama pasien tersebut. Hal tersebut harus dicatat dalam rekam
medis
Bila terjadi masalah dalam penepatan DPJP utama, maka hal tersebut
dilaporkan kepada Manajer Pelayanan sesegera mungkin
Untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit, setiap hal yang terkait
dengan mutu pelayanan dan kepentingan pasien akan di ajukan untuk
dilakukan audit medis oleh Sub Komite Audit pasien