Anda di halaman 1dari 11

7RW BUK4 INFO

Suara Undang Walet Jarak Jauh

Sebelum saya menjelaskan bagaimana cara beternak burung walet,


alangkah baiknya kita mengenal dulu ciri-ciri, jenis-jenis, dan sifat-sifat
yang dimiliki burung walet.
Walet merupakan burung pemakan serangga yang bersifat aerial dan
suka meluncur. Burung ini berwarna gelap. Terbangnya cepat dengan
ukuran tubuh sedang. Sayapnya berbentuk sabit yang sempit dan
runcing. Sayap walet sangat kuat. Kakinya sangat kecil sehingga burung
jenis ini tidak pernah hinggap di pohon. Paruhnya sangat kecil. Walet
mempunyai kebiasaan berdiam di gua-gua atau rumah-rumah yang
cukup lembab, remang-remang sampai gelap. Walet menggunakan
langit-langit untuk menempelkan sarang sebagai tempat beristirahat
dan berkembang biak.
JENIS - JENIS WALET
Ada beberapa jenis walet yang dikenal di Indonesia yang dapat
menghasilkan sarang. Namun, tidak semua sarang yang dihasilkan bisa
dikonsumsi dan memiliki khasiat. Karena kondisi lingkungan yang cocok,
Indonesia memiliki enam jenis walet. Beberapa jenis tersebut dapat
dibedakan berdasarkan ukuran tubuh, suara, warna bulu, tingkah laku
dalam membuat sarang, dan bahan yang digunakan dalam membuat
sarang. Karena burung walet gemar terbang melayang di udara, burung
walet sering disebut burung layang-layang.
Banyak orang berpendapat, bahwa burung sriti adalah burung layanglayang. Burung sriti yang bersarang di rumah dan sarangnya dapat
dimanfaatkan untuk menetaskan telur walet. Semula, burung ini
dianggap anak jenis dari walet sapi karena sepintas hampir sama. Bulu
badan bagian atas sriti berwarna hitam kehijauan mengkilat dan tidak

memiliki bulu kecil di atas ibu jari kakinya. Sedangkan walet sapi, bulu
penutup tubuhnya berwarna hitam kebiruan mengkilat dan di atas jari
kakinya terdapat bulu kecil.
Semua jenis walet memiliki bentuk tubuh yang hampir sama. Burung
walet lebih suka menggantung pada batu-batu karang dengan
menggunakan cakarnya yang tajam dan bersarang di gua-gua atau
langit-langit rumah. Oleh karena kebiasaannya hinggap di langit-langit
rumah, orang menjaringnya agar burung ini mau bersarang di rumah
yang didirikan.
Berikut ini adalah jenis-jenis walet yang ada di Indonesia :
a. Walet putih
Walet putih, disebut demikian karena menghasilkan sarang berwarna
putih. Bulu walet ini berwarna cokelat kehitam-hitaman dengan bulu
bagian bawah keabu-abuan atau cokelat. Bulu ekor sedikit bercelah.
Suaranya melengking tinggi. Termasuk walet berukuran sedang dengan
panjang tubuh sekitar 12 cm. Mata berwarna cokelat gelap, paruh hitam,
dan kaki hitam.
Sayap walet ini lebih kaku dan terbangnya juga lebih kuat. Bila ia
mencari makan jarang berputar-putar di tempat yang rendah. Walet
putih lebih suka mencari makan dekat pohon-pohon tinggi yang banyak
terdapat serangga kecil. Juga sering terlihat meluncur ke dalam air
untuk mandi dan minum, lantas terbang lagi.di alam, sarangnya terletak
di celah-celah batu karang, atau gua kapur yang sulit dicapai. Sarang
tersebut seluruhnya terbuat dari air liur sehingga harganya mahal dan
sering dicari pemetik sarang burung. Telur berwarna putih, berbentuk
memanjang. Biasanya hanya bertelur dua butir. Walet putih bersarang
secara musiman, tergantung pada tempat bersarang yang dipilihnya.
b. Walet besar
Jenis walet ini berwarna hitam dengan bulu bagian bawah cokelat gelap.
Bulu ekor agak bercelah. Suaranya keras dan berderik. Merupakan jenis
walet yang berukuran paling besar dibandingkan dengan jenis walet
lainnya. Panjang tubuhnya sekitar 16 cm.
Karena sayap dan badannya lebih besar, walet ini dapat terbang lebih
tinggi dan lebih cepat. Ketika terbang, ia memangsa serangga-serangga
kecil yang menjadi makanannya. Walet besar lebih suka bersarang pada
lubang-lubang batu (gua kecil), atau pada celah-celah batu dekat air
terjun. Sarangnya tidak dapat dimakan. Sarang ini berbentuk mangkok,
terbuat dari campuran akar-akaran, lumut, dan serat-serat.
Dibandingkan dengan walet jenis lain, sarang walet besar termasuk
kotor dan semrawut. Jika bertelur biasanya hanya sebutir. Warna telur
putih, bentuknya agak lonjong. Pada bulan November dan Desember
walet besar biasanya memasuki musim bersarang.
c. Walet sarang hitam
Warna bulu walet ini cokelat kehitam-hitaman dengan bulu ekor cokelat

kelabu. Bulu ekor bercelah sedikit. Walet ini kakinya berbulu merata.
Dalam hal ukuran tubuh, ia termasuk berukuran sedang. Panjang
tubuhnya sekitar 12 cm. Jika dilihat sepintas, penampilannya sangat
mirip walet putih. Mata berwarna cokelat tua, paruh hitam, dan kaki
hitam. Tidak seperti walet lain, jenis ini suaranya terdengar mencicit.
Walet ini juga memakan serangga-serangga kecil yang disambarnya
ketika terbang. Untuk lokasi sarang, lebih meyukai pada gua-gua kapur.
Sarangnya disebut sarang hitam karena air liur untuk membuat sarang
bercampur dengan bulu-bulu tubuhnya yang berwarna hitam. Bila
bertelur hanya sebuah. Warna telurnya putih, berbentuk memanjang.
Musim kawinnya sama dengan walet putih. Seperti halnya walet putih,
walet sarang hitam juga lebih mudah untuk dibudidayakan dibandingkan
dengan jenis walet lainnya.
d. Walet gunung
Warna burung ini hitam, tetapi warna ekornya abu-abu kehitaman. Bulu
ekor bercelah dalam. Kakinya sedikit berbulu atau tidak berbulu sama
sekali. Suaranya khas suara burung walet yang berderik. Ukuran
tubuhnya tergolong besar. Panjang tubuhnya sekitar 14 cm. burung ini
terbang berkelompok dengan cepat di dekat tebing atau puncak gunung.
Serangga-serangga kecil makanannya disantap ketika terbang. Sarang
dibuat di celah-celah batu. Biasanya sarang dibangun pada bekas kawah
pegunungan. Karena terbuat dari rumput-rumputan dan hanya sedikit
atau tidak ada air liur pada bahan sarangnya, maka sarang walet
gunung tidak dapat dimakan. Pada musim kawin, biasanya bertelur dua
butir.
e. Walet sarang lumut
Bulu burung ini berwarna cokelat kehitam-hitaman, tetapi warna ekor
lebih gelap. Ekornya hanya sedikit bercelah. Dilihat dari jauh,
penampilannya mirip dengan walet putih. Suara melengking tinggi.
Tubuhnya berukuran sedang. Panjang tubuhnya sekitar 12 cm.
Jenis walet ini jarang dikenal orang karena sulit ditemui. Sarangnya
dibangun pada bagian-bagian gua yang lebih dalam dan sangat sukar
untuk dicapai. Kuat terbang jauh dan tinggi. Jarang sekali terbang
berputar-putar rendah dekat permukaan tanah. Sambil terbang ia
langsung memangsa serangga-serangga kecil. Sarangnya bagus dengan
permukaan yang halus dan bentuknya lebih bundar. Lumut digunakan
untuk tambahan sarang sehingga sarangnya disebut sarang lumut.
f. Walet sapi
Walet ini berbulu hitam kebiru-biruan dengan warna yang mengkilat.
Bulu bagian bawah kelabu gelap, bagian perut agak putih. Ekornya
sedikit bercelah. Merupakan jenis walet yang berukuran paling kecil.
Panjang tubuhnya hanya sekitar 10 cm. Mata berwarna cokelat gelap,
paruh hitam, dan kaki hitam. Suaranya melengking tinggi. Habitatnya
meliputi semua ketinggian permukaan, baik pada padang rumput

berpohon terbuka atau hutan.


Walet ini jika terbang berkelompok, tetapi tidak beraturan. Walet sapi
tidak kuat terbang jauh. Biasanya terbang rendah hanya berputar-putar
di dekat permukaan tanah atau sungai untuk mandi dan minum. Bila
mencari makan, sering mengitari pohon-pohon besar dan tinggi yang
banyak serangganya, terutama tawon kecil. Sarangnya berbentuk tidak
beraturan, terdiri dari campuran lumut dan rumput yang direkatkan
dengan air liurnya. Pada celah gua yang terang, celah batu walet sapi
dapat bersarang. Bila bertelur biasanya hanya dua butir. Telurnya
berwarna putih dan agak lonjong. Walet sapi bersarang tidak tergantung
pada musim, ia bisa bersarang sepanjang tahun.
SIFAT-SIFAT WALET
Pada habitat aslinya walet ditemukan bersarang di gua-gua yang
terpencil. Umumnya, gua itu di tebing-tebing yang curam dekat laut
lepas. Di sekitar gua biasanya dikitari oleh hutan lebat. Walet lebih suka
bila daerah itu memiliki perairan (sungai atau danau), padang rumput,
dan pepohonan yang tinggi dan rimbun. Pada daerah seperti ini, banyak
terdapat serangga-serangga kecil yang merupakan makanan walet. Di
Indonesia, walet terdapat hampir di seluruh provinsi. Walet tidak
menyukai daerah-daerah yang tandus. Walau terbangnya tinggi, walet
tidak menyukai daerah dengan ketinggian lebih dari 1.500 m di atas
permukaan laut.
Untuk lokasi sarang walet sangat memerlukan tempat yang lembab.
Kelembaban ruang yang dibutuhkan sekitar 85-95%. Suhu ruangan
yang cocok untuk walet antara 2529 0C. Walet menginginkan lokasi
yang tenang, aman, dan belum tercemar oleh polusi udara. Walet
merupakan burung yang hidup secara berkelompok. Walaupun anggota
suatu kelompok dapat pindah ke kelompok lain, tetapi tidak ada walet
yang hidup memisahkan diri dari lainnya. Jumlah anggota suatu
kelompok walet berbeda-beda, tergantung besar kecilnya tempat
tinggal. Semakin besar tempat tinggal walet, maka semakin besar pula
anggota kelompoknya.
Dalam suatu rumah atau gua dapat dihuni oleh beberapa kelompok.
Walet berkelompok dalam segala kegiatan hidup. Mereka berkelompok
antara lain untuk berburu serangga bersama ke hutan. Pagi hari
berangkat bersama dan sore hari pulang bersama kembali. Suatu
kelompok walet akan membangun sarang-sarang secara berdekatan
pada tempat tinggalnya. Tidak pernah dalam suatu rumah walet terjadi
perselisihan antar kelompok. Walaupun hidup berdesak-desakan di satu
tempat, walet tidak saling mengusik walet lainnya.
Setelah seharian mencari makan, walet pulang dan langsung beristirahat
di sarang. Kalau biasanya walet terbang lurus sewaktu berburu, maka
sewaktu pulang ke rumahnya walet akan terbang berputar-putar
mengelilingi rumah. Pada musim membuat sarang dan bertelur, walet
pulang lebih cepat dari hari biasa. Walet memang tipe burung yang

memiliki sifat pulang kandang. Walet terikat pada tempat tinggalnya dan
senantiasa akan pulang ke tempat itu lagi selama keadaan tempat sesuai
dan aman.
Walet menyukai tempat tinggal yang gelap. Lebih-lebih lagi bila sinar
matahari yang masuk sangat sedikit. Ini sesuai dengan habitat walet asli
di dalam gua yang teduh dan gelap. Tidak seperti binatang lainnya,
walet tidak mempunyai kesulitan dengan kegelapan di sekitar
sarangnya. Untuk mengatasi keadaan yang gelap ini walet tidak
mengandalkan panca indera matanya. Walet menggunakan sistem
pantulan suara sebagai alat pengukur jarak (ekholokasi). Biasanya,
walet pulang sesudah senja hari dan keadaan tempat tinggal mereka
saat itu sangat gelap. Untuk mengetahui dengan tepat posisi sarang,
mereka mengeluarkan suara melengking. Suara yang dipantulkan
kembali oleh dinding rumah tempat mereka bersarang, menuntun
mereka untuk mengetahui lokasi dalam ruangan. Itulah sebabnya walet
dapat masuk ke dalam gua yang gelap tanpa kesulitan di malam hari.
Ada juga kekecualian. Jenis walet besar dan walet sapi tidak
menggunakan ekholokasi. Keadaan ini berlaku untuk walet yang
bertempat tinggal di tempat yang cukup terang.
Sarang walet dibuat pada waktu malam setelah pulang. Sarang tidak
dibuat sendiri-sendiri. Kedua pasangan walet, jantan dan betina, bekerja
sama memoleskan air liurnya membentuk sarang. Pada kerongkongan
walet terdapat sepasang kelenjar saliva yang dapat menghasilkan air
liur. Pekerjaan membangun sarang dilakukan terus menerus setiap hari.
Proses pembentukan hingga sebuah sarang selesai memerlukan waktu
4080 hari. Bila makanan walet berupa serangga banyak terdapat dan
tidak pada musim bertelur, waktu yang dibutuhkan sekitar 40 hari. Akan
tetapi pada saat musim bertelur, waktunya bisa dua kali lebih lama yaitu
sampai 80 hari.
Di luar musim bertelur, ukuran sarang lebih kecil. Bentuk sarang kurang
bagus dan tidak beraturan. Sarang ini dibuat hanya sebagai tempat
istirahat. Sebaliknya, sarang yang di buat pada musim bertelur
berukuran lebih besar dan bentuknya lebih bagus. Pada saat ini, sarang
digunakan selain untuk beristirahat juga untuk mengerami telur dan
membesarkan anak walet. Apabila sarang diambil pada musim bertelur,
walet akan segera membangun sarang baru kembali. Sarang baru dibuat
dalam waktu lebih cepat dari pada pembuatan sarang yang telah
diambil. Pengambilan sarang sebaiknya jangan beruntun. Pengambilan
sarang secara beruntun dalam waktu musim bertelur akan merugikan.
Walet akan kehilangan rasa aman. Apalagi bila orang yang memetik
sarang melakukannya ketika walet sudah pulang dan tengah beristirahat
atau mengerami telur.
Pada musim kawin, walet akan saling mencari jodoh dengan jalan
berkejar-kejaran di udara. Ini bisa dilakukan sewaktu walet berburu
serangga. Jantan dan betina akan terbang tinggi saling berkejaran.
Pasangan walet yang terbentuk segera mencari tempat yang cocok

untuk membangun sarang. Walet kawin setelah sarang yang dibuat


bersama-sama terbentuk dengan bagus dan cukup besar. Proses
perkawinan bisa berlangsung 5-8 hari, setelah itu barulah si betina akan
segera bertelur. Biasanya walet hanya bertelur dua butir. Pengeraman
telur juga dilakukan bersama-sama, jantan dan betina akan mengerami
telur bergantian sampai saatnya menetas.
Anak walet disuapi dari makanan yang dikeluarkan dari paruh induknya.
Makanan ini dapat dicerna oleh bayi walet karena sebelumnya telah
dilumatkan oleh induknya. Dalam seminggu, anak walet sudah mulai
tumbuh bulu sayapnya. Setelah bulu sayap tumbuh, disusul dengan
tumbuhnya bulu punggung. Barulah seluruh bulu tubuh walet
bermunculan. Pada umur 45 hari setelah menetas, walet sudah kuat
terbang untuk mencari makan sendiri. Seperti burung pemakan
serangga umumnya, paruh walet berbentuk segitiga.
Makanan walet terdiri dari serangga-serangga yang biasa menjadi hama
bagi tanaman yang dibudidayakan. Serangga-serangga makanan walet
antara lain jenis-jenis wereng, kumbang, belalang kecil, laron, semut
bersayap, hama putih padi, penghisap batang padi, dan sundep. Secara
tak langsung walet merupakan musuh biologi hama tanaman tadi
sehingga dapat mengurangi kerugian usaha budidaya tanaman. Dengan
demikian walet berjasa bagi usaha pertanian di sekitarnya.
Puluhan juta Rupiah dikeluarkan, dan bahkan sampai ratusan juta
Rupiah demi memikat agar Burung walet mau bersarang/ bertempat
tinggal di dalam gedung walet/ rumah walet tersebut. Setelah
Pembangunan Gedung selesai dilakukan, berbagai cara-pun dilakukan
demi menambah daya pikat Rumah walet, gedung walet tersebut
dilakukan. Diantaranya
memberikan Cairan perangsang/ pemikat pada rumah atau gedung
walet, memasang suara walet sebagai sarana pemanggil walet agar
datang berkunjung dan menginap serta bertempat tinggal di rumah atau
gedung walet tersebut.
Bermacam jenis Aroma Cairan, suara walet sebagai pemanggil-pun
bermunculan,
1. Diantara jenis suara walet terbut ada jenis suara luar / suara walet
luar gedung seperti:
green wave luar,
platinum luar,
tiger suara luar,
suara walet putih luar,
red wave luar,
selir walet luar,
2. ada juga suara walet dalam gedung seperti:

green wave dalam,


platinum dalam,
tiger suara dalam,
red wave dalam,
3. suara inap / suara walet inap seperti:
walet inap dalam,
4. suara Olympus
5. suara apollo
6. suara venus
7. suara jaguar
SUARANYA BISA TERDENGAR LEBIH JAUH. ITULAH SEPENGGAL
KALIMAT IKLAN PRODUK TELEVISI BERTEKNOLOGI SUARA BAZOOKA
BEBERAPA TAHUN LALU. UNGKAPAN ITU PAS MENGGAMBARKAN
TEMUAN BARU TWEETER RUMAH WALET YANG DAPAT MEMANCARKAN
SUARA JAUH: TWEETER BAZOOKA.
Tweeter berbentuk tabung layaknya meriam itu mulai dilirik peternak
Collocalia fuciphaga di tanahair seperti Pontianak, Kalimantan Barat,
dan Surabaya, Jawa Timur. Pun peternak di Malaysia dan Vietnam.
Musababnya tweeter baru ini selain berfungsi memancing walet juga
ramah lingkungan. Tidak menimbulkan suara bising yang mengganggu
penduduk sekitar rumah si liur emas.
Tweeter konvensional bertipe corong disinyalir cukup menimbulkan
gangguan. Tiga tahun lalu di sentra walet di Sedayu, Gresik, Jawa Timur,
sekelompok masyarakat sampai mendatangi sebuah rumah walet akibat
bunyi tweeter yang tak putus-putus sepanjang hari. 'Mereka terganggu
karena suara tweeter corong menyebar sampai pemukiman warga,' ujar
Ubaidillah Thohir, praktisi walet di Gresik. Beruntung masalah ini bisa
diselesaikan dengan damai. Itu tak bakal terjadi jika menggunakan
tweeter bazooka.
Jarak jauh
Tweeter bazooka tak hanya memfokuskan suara ke satu titik, tapi juga
dapat memancarkan gema suara lebih jauh. Tweeter konvensional
menjangkau jarak sekitar 100 m. 'Bahkan bisa lebih pendek, hanya 50
m, kalau terhalang gedung-gedung walet lain seperti di sentra walet
Sedayu,' ujar Ubaidillah.
Tweeter bazooka dibuat dengan cara memodikasi moncong tweeter
konvensional. 'Jika moncong tweeter dimodikasi lebih panjang,
frekuensi makin rendah dan gelombang suara makin panjang sehingga
suara dapat terdengar lebih jauh,' ujar Hary K Nugroho, konsultan walet
di Kelapagading, Jakarta Utara. Tak hanya itu, kelebihan tweeter

bazooka mempunyai daya sampai 100 watt; tweeter konvensional


berdaya 1 watt. Itu artinya kekuatan suara tweeter bazooka jauh lebih
tinggi, menjangkau area sejauh 500-1.000 m.
Meski suara lebih fokus, tetapi pemasangan tweeter bazooka perlu
cermat. 'Jangan sampai salah sasaran,' ujar Harry. Untuk mengundang
walet, tweeter di pasang di atap gedung dengan kemiringan sekitar 450
ke arah langit yang biasa dilalui walet. Tweeter bukan diarahkan ke
gedung atau benda lain di sekitarnya. Oleh karena itu menurut Philip
Yamin, konsultan walet, tweeter bazooka harus dipasang pada
ketinggian minimal setingkat lebih tinggi daripada bangunan di
sekitarnya.
Lubang tweeter tidak boleh kemasukan air hujan yang berakibat suara
tidak lepas. Jadi tweeter perlu diletakkan di teras atau di bawah atap
pelindung. Cara lain dengan mengatur kemiringan hingga 200. Makin
kecil sudut, makin kecil kemungkinan kemasukan air. 'Yang penting
tweeter tetap mengarah ke langit, bukan gedung,' ujar Hary.
Jika rumah walet kecil, misal berukuran 8 m x 12 m, cukup
menggunakan sebuah tweeter bazooka. Namun, kenyataannya ada juga
yang menggunakan 4 tweeter sekaligus dengan mengarahkan suara ke
empat penjuru mata angin. Menurut Hary pemasangan tweeter lebih dari
satu kurang efektif karena hanya akan membuat walet bingung. Ia hanya
terbang memutar-mutar mengelilingi suara, tidak tergiring masuk
gedung.
Untuk mengarahkan walet yang terpancing masuk, di tiap lubang
keluarmasuk dan di dalam rumah dapat dipasang tweeter biasa
berukuran kecil. Menurut Philip kunci keberhasilan mengundang walet
masuk, tetap tergantung jenis suara pancingan yang diputar. 'Meski
pakai bazooka, tapi jika suaranya salah atau jelek susah berhasil
memancing walet,' ujarnya. Yang dimaksud Philip, suara salah misalnya
memancing walet di luar dengan suara walet mengeram.
Multi media
Di dalam dunia pancing-memancing walet, tak hanya tweeter yang
dimodikasi, tapi juga media penyimpan suaranya. Pada awal
perkembangannya sumber suara pemancing berasal dari kaset yang
diputar. Sejalan dengan perkembangan teknologi kemudian beralih ke
CD, lalu menggunakan USB, dan kini multimedia card (MMC).
MMC yang sebetulnya sudah diperkenalkan sejak 5 tahun lalu, mulai
digunakan peternak walet di Jawa dan luar Jawa. MMC memiliki
kapasitas suara lebih besar. Ia bisa menyimpan beragam jenis suara
dalam satu keping kartu yang sangat kecil. Selain itu lebih awet
dibanding media lain. Sayangnya, suaranya tak sejernih CD. CD walet

lebih disukai peternak karena suara yang dihasilkan lebih jernih. 'Namun
jika diputar nonstop umurnya paling lama 6 bulan,' ujar Ubaidillah.
Sementara alat pemutar atau player dipilih sesuai media penyimpan
suara. CPU termasuk player multifungsi karena dapat digunakan untuk
CD, USB, maupun MMC. CPU dapat dihubungkan dengan 2 kabel output
untuk suara luar dan dalam. Alat ini juga dapat dilengkapi timer alias
pengatur waktu sehingga interval pemutaran suara dapat diatur.
'Agar media dan piranti pemutar awet, sebaiknya suara tidak diputar
nonstop,' ujar Hary. Di sinilah letak keunggulan timer. Dengan memori
hingga 16 perintah, timer dapat digunakan untuk mengatur waktu
pemutaran suara sesuai keinginan peternak. Pagi, misalnya, player
dinyalakan pukul 06.00-09.00, siang hari 11.00-14.00, dan malam
pukul 15.00-20.00.
Tak hanya itu, kini ada CPU pemutar suara walet yang dilengkapi telepon
seluler. Dengan kemajuan teknologi itu, peternak yang tinggal jauh dari
rumah walet dapat mengetahui gangguan teknis pada player. Misal jika
aliran listrik padam sehingga player tidak bekerja, secara otomatis
'telepon CPU' akan menghubungi nomor si empunya. Hubungan telepon
itu tidak akan putus sampai si empunya menelepon balik ke nomor
tersebut-artinya pemilik menyadari ada masalah dengan player di rumah
waletnya. Dengan modikasi dalam teknologi walet, upaya memancing
walet dapat lebih mudah.
Berikut suara panggil :
Nemo V-WK4.mp3, PSSB.mp3, SR-1.mp3, VP-A.mp3.
Suara panggil walet lainnya yang cukup populer dikalangan peternak
walet, antara lain :
BLACK MAGIC SUPER.mp3, BPS-MASTER.mp3, KEJORA-1.mp3, SUPER
A242.mp3, TRACK 3-RAJA.mp3, AX-01.mp3.
Untuk suara inapnya adalah :
BJA SUPER.mp3, INAP VICTORY.mp3.
Adapun bagi yang memakai mesin audio dengan sistem stereo dengan
memakai 1 ashdisk atau 1 memory card, silahkan coba pakai suara
panggil/inap ini : STEREO VC-A.mp3 atau STEREO VC-B.mp3. Demikian
sajian saya kali ini, selamat mencoba dan salam.

10 comments:
Hantu COC April 27, 2015 at 10:04 AM
makasih gan postingnya ijin sedot z nih
Reply

jamjami hakim August 1, 2015 at 5:29 AM


terima kasih semoga jadi amal jariah
Reply

Ujang sholeh August 18, 2015 at 8:36 PM


makasih gan infonya
mohoon ijin donwload mp3nya..^_^
Reply

Ahmad Azhar September 20, 2015 at 3:29 AM


Terima kasih infonya, and permisi downloadnya
Reply

m2 cell-computer September 30, 2015 at 10:20 AM


terima kasih semoga jadi amal jariah
Reply

AMINUDDIN October 15, 2015 at 1:05 PM


terimakasi gan,,, ehh lupa ngucapin izin sedot ya gan, kalau ada yg lebih
mantap hub dongg 085211112829 minu sulteng
Reply

Ishak Masriadi October 19, 2015 at 9:03 AM


Terima kasih banyak gan infonya smga brmanfaat gan.. smga usahanya
lncar trus gan
Reply

Ishak Masriadi October 19, 2015 at 9:04 AM

Terima kasih banyak gan infonya smga brmanfaat gan.. smga usahanya
lncar trus gan
Reply

maulana muel October 30, 2015 at 4:51 PM


Gan ada pssb + inap ngk?
Reply

maulana muel October 30, 2015 at 4:56 PM


Gan ada pssb + inap ngk?
Reply
Add comment

Home

View web version


Powered by Blogger.