Anda di halaman 1dari 58

J U M A T ,

2 4

S E P T E M B E R

2 0 1 0

GOLONGAN OBAT YANG BEKERJA MEMPENGARUHI SISTEM SARAF PUSAT


BAB VII
Golongan Obat Pada Penyakit Parkinson

Susunan Saraf Pusat


Obat obat yang bekerja mempengaruhi SSP, bekerja dengan cara mengubah beberapa tahapan dalam
neurotransmitter. Obat obat yang bekerja mempengaruhi SSP mekanisme kerja obatnya antara lain,
bekerja pada presinaptik, mempengaruhi produksi, penyimpanan atau mengakhiri kerja
neurotransmitter. Ada juga obat yang bekerja dengan cara memacu atau menghambat reseptor
postsinaps.
Konsep ini berlaku untuk mengetahui etiologi dan strategi pengobatan penyakit yang disebabkan karena
kerusakan pada SSP terutama pada neurotransmitter dopamine, Asetilkolin, dan serotonin
(neurotransmitter yang berperan dalam otak).

Penyakit Parkinson
Definisi Parkinson adalah gangguan otak progresif yang menimbulkan gangguan neurologik gerakan
otot, dengan tanda2 tremor, kaku otot, bradikinesia (lambat dalam memulai dan melakukan gerakan)
kelainan posisi tubuh dan cara berjalan.
Etiologi Penyebab penyakit parkinson tidak diketahui, tetapi ada hubungannya dengan penurunan
aktivitas inhibitor neuron dopaminergik dalam substansi nigra dan korpus stratum dari sistem ganglia
basalis otak yang berfungsi mengatur gerakan.
Substansi nigra, merupakan sumber neuron dopaminergik yang berakhir dalam striatum. Setiap neuron
dopaminergik akan membuat ribuan kontaks dalam striatum dan memodulasi sebagian aktivitas sel.
Striatum, striatum dan substansi nigra dihubungkan oleh neuron yang mengeluarkan transmitter
inhibitor GABA diterminal dalam substansi nigra. Sebaliknya sel2 substansi nigra mengirim neuron ke
striatum dengan transmitter dopamin di ujung terminalnya.
Mekanisme terjadinya ganggguan neurotransmitter yang menyebabkan penyakit parinson,
1. Dopamin bekerja sebagai neurotransmiter inhibisi, Acetilkolin bekerja neurotransmiter eksitasi. Dan
bekerja saling menyeimbangkan.
2. Pada penyakit parkinson terjadi penurunan dopamin karena neuron pada substansi nigra berkurang
sehingga sekresi dopamin dalam neostriatum pun menurun. (lihat gambar 7.1)
3. Tanpa dopamin neuron akan distimulasi berlebihan oleh Ach menyebabkan tonus (ketegangan) otot
berlebihan yang ditandai oleh tremor dan rigiditas (kaku)

Gambar 7.1
Penyebab Penyakit Parkinson
Parkinson sekunder : disebabkan oleh ensefalitis virus atau lesi caskuler kecil yang multifel. Obat2
seperti fenotiazin dan haloperidol yang berfungsi menghambat reseptor dopamin di otak dapat
menyebabkan parkinson sehingga tidak boleh digunakan untuk penderita parkinson.

Golongan Obat Pada Penyakit Parkinson


1. levodopa
2. Bromokriptin
3. Amantadin
4. Deprenil
5. Triheksifenidil, Benzotropin, Biperidin (Golongan Antimuskarinik)

Tujuan terapi pada Penyakit Parkinson adalah :


1. Mengembalikan dopamin dalam ganglia basalis (ganglion yang ada di neostriatum)
2. Melawan eksitasi neuron kolinergik
3. Sehingga terjadi keseimbangan kembali dopamin/Ach.

Levodopa
Levodopa adalah prekursor metabolik dopamin. Mekanisme kerja Levodopa adalah mengendalikan kadar
dopamin substansia nigra, di dalam neuron tsb levodopa akan berkonversi menjadi dopamin, tetapi pada
pengobatan yang terlambat dimana jumlah neuron dan sel2 yang mampu mengambil levodopa
berkurang akibat penyakit.
Kesembuhan bersifat simptomatik dan berlangsung selama obat berada dalam tubuh. Parkinson
diakibatkan dopamin yang tidak mencukupi pada daerah tertentu di otak. Dopamin tidak dapat melewati
sawar darah otak, sementara levodopa dapat, sehingga lebih mudah levodopa lebih mudah diubah
menjadi dopamin di otak.
Efek kerja dari levodopa yaitu mengurangi kekakuan, tremor dan gejala parkinson lainnya

Karbidopa
Karbidopa dipakai untuk memperkuat efek levodopa , suatu inhibitordekarboksilase dopamin yang tidak
menembus sawar darah otak. Mekanisme kerja Karbidopa adalah mengurangi metabolisme levodopa
pada saluran cerna dan jaringan perifer, shg meningkatkan ketersediaan levodopa di SSP dan selain itu
karena karbidopa membantu memperkuat efek levodopa secara tidak langsung, jadi keuntungannya

dapat merendahkan dosis pemakaian levodopa sehingga menurunkan efek samping.

Bromokriptin
Bromokriptin suatu derivat ergotamin (alkaloid ergot yang terdapat pada gantum hitam yang
terkontaminasi jamur rye) dan mempunyai sifat vasokontriktor merupakan agonis reseptor dopamin
(atau dapat berikatan dengan reseptor dopamin). Tetapi karena Respon yang ditimbulkan bromokriptin
kecil maka sering diberikan bersama dengan levodopa. Penggunaan Bromokriptin harus diwaspadai pada
pasien dengan infark miokard karena akan menimbulkan masalah jantung, dan penggunaan pada pasien
dengan tukak lambung akan semakin parah.

Amantadin
Amantadin merupakan obat anti virus influensa yang berpengaruh sebagai antiparkinson.
Mekanisme kerjanya adalah meningkatkan sintesa, pengeluaran atau ambilan dopamin dari neuron yang
sehat. (shg bila pelepasan dopamin sudah maksimum, amantadin tidak bermanfaat)
Efek samping yang ditimbulkan yaitu, gelisah, halusinasi, agitasi, dan bingung. Pada dosis tinggi akan
menyebabkan psikosis toksik akut. Dibanding levodopaefek kerja amantadin kecil dan dapat
menimbulkan toleransi, namun efek samping lebih kecil.

Deprenil
Deprenil disebut juga selegilin bekerja secara selektif menghambat MAO B (yang memetabolisme
dopamin) (lihat gambar 7.2) tapi tidak menghambat MAO A (metabolisator NE dan Serotonin)
Fungsi deprenil, menurunkan metabolisme dopamin, meningkatkan kadar dopamin di otak,
meningkatkan kerja levodopa (sehingga mengurangi pengguanaan dosis levodopa)
Harus diwaspadai bila penggunaan dosis besar karena dapat menghilangkan selektifitas (menjadi tidak
selektif lagi) dan menimbulkan hipertensi yang berbahaya.
Gambar mekanisme kerja Deprenil

Meningkatkan kadar dopamin


Gambar 7.2
Antimuskarinik
Antimuskarinik kurang efektif bila dibandingkan dengan levodopa dan dalam terapi parkinson berfungsi
sebagai tambahan terapi. Mekanisme kerjanya yaitu menghambat transmisi kolinergik, sehingga
meningkatkan transmisi adrenergik (karena pembentukan yang tidak seimbang antara rasio
dopamin/asetilkolin)
Antimuskarinik yang sering digunakan untuk pengobatan parkinson yaitu, benzotropin, triheksifenidil,
biperidin. Efek lain yang menyertai penggunaan obat antimuskarinik adala memacu perubahan pikiran,

serostomia (mulut kering), masalah visualisasi. Efek sampingnya, antara lain dilatasi pupil, bingung dan
halusinasi.

BAB VIII
Golongan Obat pada Penyakit Gangguan Kejiwaan

Golongan Obat pada Gangguan Depresi

Keadaan yang tidak sesuai dengan kehidupan yang bersangkutan disertai hambatan emosi menyeluruh.
Depresi berbeda denga skizoprenia yang menggangu dalam pemikiran. Penyakit depresi mayor dan
bipolar adalah penyakit alam perasan yang menyimpang, mengganggu energi, pola tidur, napsu makan,
libido dan kemampuan bekerja.
Gejala depresi yaitu, emosi yang jatuh, tanpa harapan, tiada nafsu makan, dan tidak bisa tidur. Cara
berfikir pasien itu2 aja berkisar hanya pada diri sendiri. Disertai gejala bandaniah rasa penat, nyeri
lambung, nyeri jantung. Bila ditutupi oleh keluhan2 organis disebut depresi terselubung. Depresi
berbahaya akan menyebabkan bunuh diri.
Depresi disebabkan karena defisiensi monoamin seperti norepinefrin dan serotonin otak pada tempat2
penting di otak. Sementara manik (bipolar) disebabkan karena peningkatan neurotransmiter diatas pada
otak.
Kerja Semua golongan antidepresi bekerja dengan memperkuat langsung atau tidak langsung kerja
norepinefrin, dopamin dan atau serotonin otak,

Golongan Obat Antidepresan


Terdapat 3 (tiga) golongan obat antidepresan yaitu, Antidepresan Trisiklik (TCA), Selektif Serotonin ReUptake Inhibitor (SSRI) dan Mono Amin Oksidase Inhibitor (MAOI)

Antidepresan Trisiklik (TCA)


Yang termasuk obat golongan TCA adalah Amitriptilin, Amoksapin, Desipramin, Doksepin, Imipramin,
Maprotilin, Nortriptilin, Trimipramin
Mekanisme kerja TCA ;Menghambat ambilan neurotransmiter, TCA menghambat ambilan norepinefrin
dan serotonin neuron masuk ke terminal saraf pra sinaps, dengan menghambat jalan utama
pengeluaran neurotransmiter , TCA akan meningkatkan konsentrasi monoamin dalam celah sinaps,
menimbulkan efek antidepresan.
Efek TCA adalah meningkatkan pikiran, memperbaiki kewaspadaan mental, meningkatkan aktifitas fisik,
mengurangi angka kesakitan pada depresi.

Efek timbul memerlukan waktu 2 minggu atau lebih. Indikasi untuk Depresi, gangguan panik, dan dapat
digunakan untuk mengontrol ngompol bagi anak diatas 6 tahun.

Selektif Serotonin Re-Uptake Inhibitor (SSRI)


Yang termasuk obat golongan SSRI adalah Fluoksetin, Fluvoksamin, Nefazodon, Paroksetin, Sertralin,
Trazodon, Venlafaksin.
SSRI merupakan Antidepresan baru, sehingga penggunaannya harus hati - hati, karena efek jangka
panjangnya belum diketahui.
Mekanisme kerjanya sama seperti TCA tetapi lebih selektif menghambat ambilan neurotransmitter
serotonin dibanding yang lain (dopamin).
Indikasi SSRI Untuk depresi (lebih unggul dari golongan TCA), penderita Bulimia nevrosa, anoreksia
nevrosa, gangguan panik, nyeri neuropati diabetik, dan sindrom premenstrual.

Mono Amin Oksidase Inhibitor (MAOI)


Yang termasuk golongan MAOI yaitu, Isokarboksazid, Feneizin dan Tranilsipromin.
Monoamin oksidase adalah suatu enzim mitokondria yang ditemukan dalam jaringan saraf dan jaringan
lain, seperti usus dan hati. Dalam neuron, MAO berfungsi sebagai katup penyelamat (menonaktifkan
neurotransmiter monoamin ( NE, dopamin, serotonin).
Mekanisme kerja MAOI (lihat gambar dibawah)
a). MAO menginaktifasi monoamin (NE,serotonin,dopamin) yang keluar dari vesikel shg monoamin
dalam neuron berkurang.
b). Obat MAOI menghambat inaktivasi monoamin oleh MAO, sehingga monoamin tetap aktif dan
berdifusi kedalam ruang sinaps. (lihat gambar 8.1)
Gambar 8.1

Indikasi MAOI yaitu :


1. Untuk depresi pada pasien yang tidak responsif atau alergi oleh antidepresan trisiklik.
2. Ansietas hebat
3. Pasien Aktivitas psikomotorik lemah
4. Pengobatan fobia
5. Depresi atipikal (pikiran labil, menolak kebenaran, gangguan napsu makan)

Golongan Obat pada Gangguan Bipolar

Pasien dengan gangguan bipolar, mengalami dua situasi yang sangat berbeda, pada saat tertentu pasien
mengalami fase depresi, kemudian mengalami fase manik, dimana perubahan yang terjadi sangat

ekstrim. Bila pasien berada dalam fase manik maka gejala gejalanya adalah bahagia, berharap dan
gembira berlebihan, Perubahan mendadak dari merasa gembira ke lekas marah atau permusuhan,
Keresahan.
Tutur kata cepat dan kurang konsentrasi, Dorongan seksual tinggi, Cenderung membuat rencana besar
dan sulit dicapai

Golongan obat anti bipolar


Garam litium seperti Litium asetat, litium karbonat, litium sulfat dan antipsikotik seperti asam Valproat.

Golongan Obat pada Skizoprenia

Skozoprenia adalah jenis psikosis dengan berbagai gangguan kepribadiaan disertai perubahan cara
berfikir, perasaannya dan hubungannya dengan lingkungannya. Biasanya gangguan mental ini terjadi
disebabkan disfungsi otak yang diwariskan.
Gejala dasar pada gangguan skizoprenia adalah berfikir (kacau, lupa tiba2, perubahan urutan berfikir),
acuh tak acuh, mudah terangsang, hilangnya kontak dengan lingkungan, merasa asing sendiri,
terpecahnya kepribadiaan. Selain gejala dasar adapula gejala tambahan yaitu, halusinasi, gila (rasa
diikuti, rasa seperti keracunan, gila seks), tidak mau melakukan aktivitas, ungkapan2 aneh,
pembentukan istilah2 baru, pengulangan terus menerus. Setiap gangguan kejiwaan diamati dari gejala2
yang ditimbulkan dan dialami oleh penderita, sehingga dapat membedakan gangguan kejiwaan satu
dengan gangguang kejiwaan yang lainnya.
Penyebab skizoprenia secara farmakologis adalah peningkatan aktivitas neuron dopaminergik pada otak
(SSP), sehingga golongan obat yang digunakan untuk pengobatan skizoprenia adalah menurunkan
aktivitas neuron dopamin.

Golongan Obat antiskizoprenia (neuroleptik, antipsikotik, transkuilizer mayor)


Terdapat 5 (lima) golongan obat antiskizoprenia yaitu :
1. Golongan Fenotiazin yaitu, Klorpromazin, Flupenazin, Proklorperazin, Promazin, Prometazin,
Tioridazin.
2. Golongan Butirofenon yaitu, haloperidol.
3. Golongan Benzisoksazol yaitu, Risperidon.
4. Golongan Tioxanti yaitu, Tiotiksen.
5. Golongan Dibenzodiazepin yaitu, Klozapin.
Mekanisme Kerja Obat Neuroleptika (Antiskizoprenia) secara umum adalah menghambat reseptor
dopamin dalam otak dan perifer dan serotonin dalam otak.(lihat gambar 8.2)

Gambar 8.2
Indikasi neuroleptika (antiskizorenia) adalah,
1. sebagai antipsikotik/antiskizoprenia : mengurangi halusinasi dan agitasi dengan cara menghambat
reseptor dopamin di otak. Efek menenangkan dan mengurangi gerakan spontan. Berbeda dengan
depresan SSP lain, golongan neuroleptik tidak menekan fungsi intelektual.
2. sebagai pencegahan mual dan muntah (pada peristiwa mual muntah juga terjadi peningkatan
pelepasan dopamin)
Telah dikatakan bahwa mual muntah juga diakibatkan karena peningkatan dopamin, maka penggunaan
neuroleptika dapat juga diberikan untuk kasus mual muntah selain sebagai antiskizoprenia, dibawah ini
penggunaan neuroleptika untuk gejala mual muntah sesuai penyebabnya (lebih spesifik).
- Obat Meklizin, dimenhidrinat digunakan untuk antiemetik karena vertigo.
- Obat Skopolamin, Prometazin, digunakan sebagai antiemetik pada mabuk jalan.
- Obat Domperidon,metoklorpramid, digunakan untuk antiEmetik pada kemoterapi kanker
- Obat Tietilperazin,domperidon adalah antiemetik pada terapi radiasi
Kerja obat neuroleptik menghambat dopamin dan atau serotonin, selain itu banyak obat2 neuroleptik
yang menghambat reseptor kolinergik, adrenergik, histamin dengan berbagai efek samping, diantaranya
efek antimuskarinik seperti kabur, mulut kering, sedasi, bingung, kontipasi, retensi urin. Efek anti
adrenergik seperti hipotensi, pusing
Semua obat neuroleptika bekerja menghambat dopamin sehingga hampir semuan mempunyai efek
antiemetik (seperti diterangkan diatas)

Golongan Obat pada Ansietas (Cemas)

Ansietas adalah gangguan mental berupa suatu ketegangan yang tidak menyenangkan, rasa
takut,gelisah dan penyebabkannya tidak diketahui. Ansietas ringan tidak perlu diobati, ansietas berat
diobati. Gejala ansietas adalah Takhikardi, berkeringat, gemetar, palpitasi dan aktivitas simpatik
Secara farmakologi penyebab ansietas karena terjadinya letupan neuritansmitter di otak, sehingga obat
obat yang digunakan untuk menurunkan gejala ansietas adalah menormalkan letupan
neurotransmitter yang terjadi di otak.

Golongan Obat Antiansietas (Ansiolitik)


Obat yang digunakan untuk mengobati cemas, dari golongan benzodiazepin, golongan ini dibedakan
berdasarkan sifat ada tidaknya efek hipnotik, dengan pembagian sebagai berikut :
Pertama, golongan benzodiazepin Bersifat ansiolitik dan tidak mempunyai efek hipnotik adalah
Alprazolam, Klordiazepoksid, Klonazepam, Klorazepat, Diazepam dan Lorazepam . Kedua Golongan
benzodiazepine Bersifat Hipnotik adalah Quazepam, Midazolam, Estazolam, Flurazepam, Temazepam dan

Triazolam.
Mekanisme Kerja benzodiazepine sebagai anti cemas ,
1. Letupan neuron (cemas) dapat terjadi karena tertutupnya saluran Cl, karena tidak ada ikatan pada
GABA sehingga reseptor kosong. Pengikatan GABA menyebabkan saluran ion Cl membuka.
2. Bila pengikatan GABA diperkuat oleh benzodiazepin (obat ansiolitik), yang menyebabkan masuknya Cl
lebih banyak.
3. Masuknya Cl membuat hiperpolarisasi yang dapat menghambat letupan neuron. (lihat gambar 8.3)

Gambar 8.3

Indikasi obat golongan Ansiolitik


1. Untuk gangguan ansietas digunakan diazepam, untuk pasien yang memerlukan pengobatan lama.
Alprazolam untuk pengobatan lama atau pendek. Obat ini menimbulkan adiksi sehingga hanya untuk
ansietas kronik.
2. Untuk gangguan otot digunakan diazepam, bisa juga digunakan untuk kaku otot.
3. Untuk penanganan kejang dengan obat klonazepam untuk kejang karena epilepsi. epilepsi Klorazepat,
diazepam dan oksazepam untuk pengobatan akut putus alkohol.
4. Untuk gangguan tidur, tidak semua benzodiazepam dapat digunakan sebagai obat tidur, meskipun
semua mempunyai efek sedatif dan penenang. Yang digunakan untuk gangguan tidur (obat tidur) adalah
Flurazepam, Temazepam, Triazolam

BAB IX
Golongan Obat pada Penyakit Epilepsi

Epilepsi adalah suatu kelainan kejang kambuhan yang berbeda -beda yang memiliki persamaan yaitu
lepasan saraf otak yang mendadak, berlebihan dan tidak normal. Lepasan neuron yang mendadak ini
menyebabkan gerakan - gerakan atau persepsi yang abnormal yang berlagsung singkat tetapi
cenderung berulang.
Perbedaan tempat lepasan listrik yang terjadi menentukan perbedaan gejala yang timbul, misal epilepsi
yang menyebabkan kejang kejang jika motor korteks yang terlibat. Tetapi jika korteks parietal atau
oksipital yang terlibat, gejala serangan halusinasi penglihatan, pendengaran atau penciuman yang
timbul.
Etiologi epilepsi primer terjadi bila tidak ada penyebab anatomik yang spesifik untuk kejang, seperti
trauma. Kejang2 ditimbulkan karena abnormalitas turunan dalam SSP. Biasanya pasien diobati dengan
obat antiepileptik.
Sementara etiologi epilepsi sekunder disebabkan oleh sejumlah gangguan yang reversibel, seperti

tumor, luka kepala, hipoglikemik, infeksi meningen atau penghentian alkohol secara cepat pada
peminum.

Klasifikasi Epilepsi terdapat 2 (dua) jenis yaitu yang bersifat parsial dan generalisata.
Parsial (fokal)
A. Parsial sederhana, dimana selama kejang kesadaran tidak terganggu.
B. Parsial kompleks, dimana selama kejang kesadaran terganggu.
Generalisata :
A. Tonik-klonik (gran mal), bila kejang diawali fase tonik adalah kontraksi kuat dan kaku otot lengan dan
tungkai. Lalu diikuti fase klonik yaitu kontraksi dan relaksasi ritmik otot, menyebabkan hilangnya
kesadaran.kebingungan dan kelelahan.
B. Absence (petit mal ), bila kehilangan kesadaran yang pendek dan sembuh sendiri. Memandang dan
berkedip2 cepat selama 3-5 detik.
C. Mioklonik, bila terjadi kontraksi otot yang singkat berulang2 dalam beberapa menit, serangan ini
jarang terjadi bagi semua umur.
D. Kejang demam yaitu terjadi kejang pada anak 3 bulan sampai 5 tahun disertai demam tinggi,
biasanya kejang tonik-klonik yang berlangsung singkat.
E. Status epileptikus yaitu serangan serangan epilepsi yang berlangsung secara cepat.

Golongan Obat Antiepilepsi


1. Fenitoin
2. Karbamazepin
3. Fenobarbital
4. Asam valproat
5. Benzodiazepin
6. Gabapentin, Lamotrigen
Mekanisme Kerja Obat Antiepilepsi secara umum adalah menghambat lepasan listrik dari area fokal atau
mencegah meluasnya lepasan listrik abnormal ke daerah disekililing otak.

Fenitoin
Untuk serangan tonik-klonik dan parsial (fokal) untuk pasien dewasa. Interaksi obat terjadi bila fenitoin
diberikan bersamaan dengan kloramfenikol, dikumarol, cimetidin, sulfonamid. INH, karena obat obat
tersebut dapat menghambat metabolisme fenitoin, sehingga konsentrasi fenitoin meningkat dalam
plasma. Sebaliknya apabila diberikan bersamaan dengan karbamazepin akan memperkuat metabolisme
fenitoin.

Karbamazepin
Karbamazepin efektif untuk serangan epilepsi parsial (sederhana dan kompleks), Merupakan obat pilihan
pertama. Dapat juga digunakan untuk terapi manik depresi dalam memperbaiki gejala manik
depresi.
Interaksi obat terjadi bila diberikan bersamaan dengan simetidin, diltiazem, eritromisin, INH, profoksifen
karena obat obat tersebut, akan menghambat metabolit karbamazepin sehingga konsentrasi
karbamazepin meningkat dalam plasma.

Fenobarbital
Beberapa indikasi Fenobarbital, yaitu digunakan untuk serangan kejang parsial sederhana, kurang efektif
untuk serangan parsial kompleks, Status epileptikus pada anak - anak, Serangan kejang demam pada
anak - anak, serangan tonik-klonik kambuhan bila tidak responsif terhadap kombinasi diazepam dan
fenitoin.
Dapat juda dipakai sebagai sedatip ringan untuk menghilangkan ansietas ketegangan mental dan
insomnia, walaupun benzodiazepin lebih baik.

Asam valproat
Asam valproat digunajan pada serangan mioklonik, petit mal, tonik-klonik. Asam valproat juga
digunakan untuk pengobatan bipolar pada fase manik. Interaksi obat akan terjadi bila dgunakan
bersamaan dengan fenobarbital, karena asam valproat akan menghambat metabolisme fenobarbital.

Benzodiazepam
Golongan benzodiazepam yang digunakan untuk epilepsi kronik adalah klonazepam, klorazepat.
Sedangkan untuk gejala epilepsi akut digunakan diazepam. Golongan Benzodiazepam paling aman dan
sedikit sekali memberikan efek samping. Tapi kekurangannya dapat menimbulkan sedatif atau
mengantuk.

Gabapentin
Gabapentin merupakan kelas obat baru pada penyakit epilepsi. Dapat digunakan pada serangan parsial
sederhana dan kompleks, serangan generalisata tonik-klonik.

BAB X
Golongan Obat Analgetika Kuat

Nyeri adalah gejala penyakit atau kerusakan yang paling sering, sebenarnya nyeri berfungsi untuk
mengingatkan atau melindungi atau memudahkan diagnosa. Tetapi apabila sangat menyiksa penderita,

sehingga nyeri kadang harus dihilangkan.


Beberapa rangsang yang dapat menimbulkan nyeri, yaitu kerusakan jaringan, gangguan metabolisme
jaringan. Kerusakan dan gangguan tersebutakan membebaskan senyawa yang disebut zat nyeri
(mediator nyeri) berupa Histamin, Bradikinin, Serotonin, Ach da Prostaglandin.
Nyeri
Somatik
Nyeri
Permukaan
Nyeri I
Nyeri II
Kulit
Nyeri
Dalaman
Otot
Jaringan ikat
Tulang
Sendi
Perut
Nyeri
Viseral
Contoh : Tusukan jarum, cubitan
Contoh : Kejang otot,
Sakit kepala
Contoh ; kolik kantung empedu, nyeri luka lambung

Sebenarnya yang terjadi dalam tubuh, apabila terjadi rangsang yang dapat menimbulkan nyeri, secara
otomatis tubuh akan mengaktifkan System penghambat nyeri yang diperankan oleh senyawa endogen,
yaitu Endorfin dan Enkefalin.
Endorfin (endogen) dan obat gol analgetika kuat (eksogen) bekerja pada reseptor yang sama, yang
disebut reseptor opiat, sama farmakodinamika sama tapi berbeda dalam farmakokinetikanya, karena
sifat peptida pada endorfin.
Mekanisme Kerja Endorfin Kerja pada saraf prasinaptik menurunkan pembebasan neurotransmitter lain,
khususnya senyawa P yang berfungsi sebagai pembawa impuls nyeri sanaptik.sehingga jumlah potensial
aksi yang ditimbulkan menurun.
Salah satu contoh mekanisme sistem penghambat nyeri yang terjadi pada kasus kecelakaan lalu lintas,

yang menimbulkan sistem penghatar nyeri menaik, Masih terdapat sistem penghambat nyeri tubuh yang
mempersulit penerusan impuls nyeri dengan demikian menurunkan rasa nyeri. Menjelaskan kenapa
pada situasi tekanan (stress) pada luka pada kecelakaan lalu lintas mula2 tidak terasa, baru disadari
setelah berhentinya ketegangan.

Mekanisme terjadinya nyeri pada SSP


Pada system saraf pusat (SSP) yang terdiri dari medulla spinalis, medulla oblongata, midbrain dan
korteks serebri, terdapat reseptor yang berhubungan dengan nyeri disebut reseptor opioid.
Reseptor opioid tersebut bila berikatan dengan senyawa yang dilepaskan oleh tubuh karena adanya
kerusakan, perasan emosional dan perasaan sensorik yaitu senyawa bradikinin, serotonin dan
prostaglandin maka ikatan reseptor opioid senyawa kimia tersebut akan terjadi proses nyeri.
Proses nyeri tersebut dapat dihambat bila reseptor opioid berikatan dengan endorfin dan enkefalin
sehingga menghasilkan efek analgetik. mekanisme yang terjadi pada proses analgetik adalah ikatan
antagonis kompetitif.
Reseptor opioid dibagi menjadi beberapa kelas reseptor, dan memiliki makna farmakologis yang penting
yaitu, , , dan .
Table 1.1
no
Kelas
Efek kerja
1
Reseptor
analgesi supraspinal, derpresi pernapasan, menurunkan motilitas GI dan kontraksi pupil.
2
Reseptor
Analgesia spinal, sedasi, kontraksi pupil
3
Reseptor
Disforia, halusinasi, efek psikotomimetik, dan dilatasi pupil

Beberapa Golongan Obat Analgetika Kuat


Salah satu contoh obat yang mempunyai efek analgetika kuat, yaitu meferidin (Pethidin), morfin,
fentanil dan tramadol.

Meferidin (Pethidin)

Komposisi :
Pethidine HCl injeksi 50 mg/ml
Petidin tablet 50 mg
Indikasi : analgesia untuk semua tipe nyeri yang berat.
Nyeri sedang sampai berat, sebagai suplemen sedasi sebelum pembedahan, nyeri pada infark
miokardium walaupun tidak seefektif morfin sulfat, untuk menghilangkan ansietas pada pasien dgn
dispnea karena acute pulmonary edema & acute left ventricular failure
Cara kerja obat : Petidin merupakan narkotika sintetik derivat fenilpiperidinan dan terutama berefek
terhadap susunan saraf pusat. Petidin terutama bekerja sebagai agonis reseptor .
Efeknya terhadap SSP adalah menimbulkan analgesia, sedasi, euphoria, dapresi pernafasan serta efek
sentral lain. Efek analgesik petidin timbul aga lebih cepat daripada efek analgetik morfin, yaitu kira-kira
10 menit, setelah suntikan subkutan atau intramuscular, tetapi masa kerjanya lebih pendek, yaitu 2-4
jam. Absorbsi petidin melalui pemberian oral maupun secara suntikan berlangsung dengan baik. Obat ini
mengalami metabolism di hati dan diekskresikan melalui urin.
Dosis dan cara pemberian :
Analgesi Obstetrik : Dosis tunggal 100-150 mg IM, Boleh diulang hanya sekali, tapi jarang.
Hindari penggunaan total lebih dari 1,5 mg/kg
Penghilang nyeri neonatal : Dosis 1 mg/kg IM atau IV (diulang setelah 6-8 jam), resiko besar terjadinya
depresi pernapasan.
Kontra indikasi :
Penderita dengan gangguan fungsi hati yang berat, Depresi pernafasan, Alkoholisme akut, kejangkejang, Penderita asma bronchial dan payah jantung sebagai akibat dari penyakit paru-paru kronik,
Hipersensitif terhadap petidin, Penderita yang menggunakan MAOI dalam jangka waktu 14 hari
sebelumnya, Cedera kepala, Asidosis diabetik, Hipertensi.
Peringatan :
- Petidin sebaiknya tidak diberikan secara intravena kecuali peralatan resusitatif dan antagonis opioid
telah disiapkan
- Dosis tinggi/pemberian petidin dengan cepat secara IVdapat menyebabkan terjadinya depresi
pernafasan secara cepat
- Petidin injeksi sebaiknya diberikan secara perlahan-lahan dan dalam larutan yang telah diencerkan
- Penggunaan tidak dianjurkan pada penderita dengan luka pada kepala dan kenaikan intrakanial
- Dapat menimbulkan kesukaran pada saat eksplorasi oleh alat pada duktus empedu
- Pemberian secara intra-arterial yang kurang hati-hati dapat menyebabkan terjadinya nekrosis dan
pembekakan
- Dapat menimbulkan ketergantungan fisik dan psikis dapat timbul pada pengulangan dosis
- Penghentian penggunaan petidin secara tiba-tiba pada penderita yang ketergantungan secara fisik

dapat menimbulkan sindroma putus obat termasuk konvulsi


- Digunakan secara hati-hati dan jika diperlukan penguranagan dosis dianjurkan pada penderita manula
dan penderita dengan kerusakan fungsi paru-paru, hati, ginjal, dan penderita hipotiroid, insufisiensi,
hipertrofi prostat, atau penyempitan urethra, hati-hati juga pada penderita yang masih sangat muda
atau penderita yang menerima terapi seperti fenobarbital dan phenitoin
- Tidak boleh untuk penderita infark cardiac karena menyebabkan kenaikan tekanan darah dan
hambatan sistemik vascular sebanding dengan peningkatan kecepatan denyut jantung
- Hiperglikemia terjadi pada agonis opioid
- Dapat menyebabkan depresi sistem pernafasan pada bayi baru lahir
- Pada mata petidin dapat menyebabkan miosis, midriasis atau tidak adanya perubahan pupil.
- Penggunaan pada saat menyusui tidak dianjurkan karena dapt mengakibatkan air susu mengandung
petidin dan belum diketahui secara signifikan secara klinis
Efek samping :
- Dosis besar meferidin menyebabkan tremor, kedutan otot, dan sangat jarang, konvulsi.
- Hipotensi yang berat bila obat ini diberikan pasca operasi.
- Dapat menyebabkan ketergantungan.
Interaksi obat :
- Isoniazid : Meningkatkan efek samping isoniazid.
- Antidepresan (MAOi & trisklik) : Potensiasi efek antidepresan.
- Kontraseptik oral & estrogen : Menghambat metabolisme petidin.
- MAO inhibitor : Penggunaan bersama petidin menyebabkan serotonin sindrom (agitasi, sakit kepala,
hipertensi, hipotensi, konvulsi, hiperpireksia, koma),
- Agonis opiod lainnya, anestetik umum, trankuilizer, sedative, hipnotik : Potensiasi efek depresi sistem
saraf pusat.
- Relaksan otot : Opioid dpt meningkatkan kerja penghambatan neuromuscular
- Kumarin antikoagulan : Potensiasi aktivitas antikoagulan.
- Diuretik : opioid menurunkan efek diuretic pada pasien dengan kongestif jantung

Morfin
Komposisi : Mengandung morfin sulfat 10 mg/ml
Indikasi : Digunakan untuk pre-medikasi bedah, mengatasi nyeri pasca bedah, nyeri akibat kanker.
Cara kerja obat : Morfin mengikat reseptor opioid, terutama reseptor ( lihat tabel 1.1 )
Dosis dan cara pemberian :
Untuk mendapatkan dosis bolus tunggal 1 mg/ml adalah 0,1 ml (1 mg) ad 1 ml dengan NaCL 0,9%.
Untuk infus kontinu, encerkan 1 ml preparat dengan 10 ml NaCL 0,9%, ambil 1 ml yang telah
diencerkan tadi kemudian di encerkan lagi dengan 50 ml Dektrose 10%, infuskan dengan kecepatan 1

ml/jam.
Efek samping : Depresi pernapasan berat, muntah, alergi yang meningkatkan efek hipotensi
Interaksi obat :
Penggunaan bersamaan dengan fenotiazin, IMAO, antidepresan trisiklik, amfetamin dapat meningkatkan
analgesia.
Cara penyimpanan : Pada lemari khusus obat sesuai aturan penyimpanan obat narkotika dan
psikotropika.

Fentanil
Komposisi : Cairan injek 0,05 mg/ml
Indikasi : Analgetik narkotik tambahan pada anestesi umum atau regional, memperkuat Anesthesia,
nyeri berat pada pasien yang telah mendapatkan terapi opioid untuk mengatasi nyeri kanker kronis,
depresan nafas pada pasien dengan assisted respiretion
Cara kerja obat :
Fentanyl merupakan golongan opioid sintetik dari kelompok fenilpiperidin
dan bekerja sebagai agonis reseptor M. fentanyl banyak digunakan untuk anestetik karena waktu untuk
mencapai puncak analgesia lebih singkat dibanding morfin dan meperidin (sekitar 5 menit) efek cepat
berakhir setelah dosis kecil yang diberikan secara bolus dan relatif kurang mempengaruhi
kardiovaskuler.
Dosis dan cara pemberian :
Penggunaan IV dan IM
IV 25 50 mcg / jam ; IM 0,05 0,1 mcg tiap 1 2 jam
Penggunaan Transdermal 25 mcg/jam tiap 72 jam
Penggunaan transmukosal 200 mcg dapat diulang satu kali, 30 menit setelah dosis pertama lalu
dititrasi/disesuaikan secara bertahap.
Kontra indikasi : Depresi pernapasan., Luka kepala., Alkoholisme akut. Dan Serangan asmatis akut.
Peringatan : Pasien berusia lanjut dan lemah, Difungsi hati & ginjal, Penyakit paru.
Menurunnya cadangan pernapasan, Anak berusia kurang dari 2 tahun, Hipotiroidisme, Pembesaran
prostat, Syok, Sumbatan usus besar, Penyakit kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah).
Efek samping : Depresi pernapasan, otot kaku, hipotensi, bradikardia, laringospasme, mual dan muntah.
Kedinginan, kelelahan, halusinasi setelah operasi, gejala-gejala ektrapiramidal saat digunakan dengan
suatu tranquilizer seperti Droperidol.
Interaksi obat : Premedikasi opioid : analgesic opioid meningkatkan efek sodium oksibat
(hindari penggunaan bersamaan)
Hindari penggunaan dengan Obat-obat depresan susunan saraf pusat.
Nitroksida.

Tramadol
Komposisi : Mengandung Tramadol Hidroklorid 50 mg
Indikasi : Pengobatan nyeri akut dan kronik yang berat, nyeri pasca pembedahan.
Dosis dan cara pemberian :
Dewasa dan anak > 16 thn
Dosis umum : dosis tunggal 50 mg, dosis tersebut biasanya cukup untuk meredakan nyeri, apabila
masih terasa nyeri dapat ditambah 50 mg setelah selang waktu 30-60 menit.
Dosis maksimum : 400 mg sehari, dosis sangat tergantungpada intenstas rasa nyeri yang diderita
Penderita gangguan hati dan ginjal dengan bersihan klirens < 30 ml/menit : dosis tramadolnya 50-100
mg setiap 12 jam, maksimum 200 mg per hari.
Pasien dengan cirrhosis : dosis tramadolnya 50 mg setiap 12 jam.
Kontra indikasi : hipersensitifitas terhadap tramadol dan opiat

BAB XI
Golongan Obat Analgetik Lemah

Bagaimana proses nyeri dan inflamasi terjadi di sistem perifer.


Prostaglandin adalah suatu mediator kimia atau hormon lokal yang diproduksi dalam jumlah kecil oleh
semua jaringan secara normal, dan di dalam tubuh dengan cepat di metabolisme menjadi bentuk yang
inaktif.
Tapi dalam kondisi infeksi, luka atau kerusakan metabolisme jaringan prostaglandin akan diproduksi
lebih banyak, prostaglandin ini berasal dari fosfolipid membran sel yang rusak akibat kerusakan, infeksi
atau luka tersebut, sehingga prostaglandin beredar dalam darah.
Prostaglandin yang dilepaskan tersebut dapat menyebabkan inflamasi dan nyeri, sebenarnya merupakan
penanda bahwa di dalam tubuh telah terjadi sesuatu yang abnormal, dan manifestasi yang dirasakan
oleh penderita adalah nyeri.
Sintesa Prostaglandin, berasal dari prekursor asam arakidonat yang terdapat dalam fosfolopid membran
sel (salah satu komponen membran sel)
Dalam proses nyeri dan inflamasi terjadi dua jalur sintesa mediator kimia yaitu,
Jalur Siklooksigenase sebagai jalur sintesa prostaglandin, tromboksan dan prostasiklin dari asam
arakidonat. Dan Jalur Lipooksigenase sebagai jalur sintesa leukotrien dari asam arakidonat.
Enzim yang berperan dalam pembentukan prostaglandin adalah Enzim siklooksigenase, enzim tersebut
terdapat sebagai jenis COX1 dan COX2.

Mekanisme Kerja Analgetika

Analgetika lemah (sampai sedang) bekerja secara perifer, selain kerja analgetika golongan obat ini juga
memiliki spektrum kerja lain yaitu antipiretik dan antiflogistik
Golongan obat analgetika ini disebut juga anti inflamasi non steroid (AINS) dengan mekanisme kerja
menghambat enzim siklooksigenase sehingga konversi asam arakhidonat menjadi PGG2 terganggu.
, selain itu terdapat juga golongan obat lain yang mempunyai kerja menghambat sintesa prostaglandin
(kerja analgetika) tetapi golongan tersebut mempunyai struktur steroid sehingga dinamakan anti
inflamasi steroid (AIS) dengan mekanisme kerja yang berbeda yaitu menghambat pembentukan asam
arakhidonat (zat pembentuk prostaglandin) dari fosfolipid. (lihat gambar 11.1)

Luka/trauma
Kerusakan Membran sel
Phospolipod
Asam Arakhidonat
Endoperoksid PGG2
Prostaglandin
Hidroperoksid
Leukotrien
Enzim Lipooksigenase
Enzim Siklooksigenase
Dihambat AIS
Dihanbat AINS
Gambar 11.1
Cara obat analgetika bekerja terhadap nyeri, yaitu :
- Mencegah sensibilitas reseptor nyeri dengan cara penghambatan sintetik prostaglandin dengan
analgetika yang bekerja perifer.
- Mencegah pembentukan rangsang dalam reseptor nyeri dengan mamakai anastetika permukaan atau
anestetika infiltrasi.
- Menghambat penerusan rangsang dalam serabut sensorik dengan anestetika konduksi.
- Meringankan nyeri atau meniadakan nyeri melalui kerja dalam sistem saraf pusat dengan analgetika
yang bekerja pada pusat atau obat narkosis.
- Mempengaruhi pengalaman nyeri dengan psikofarmaka (trankuilansia, neuroleptika, antidepresiv)

Beberapa Golongan Obat Analgetika lemah


Derivat asam propionat
Ibuprofen
Ketoprofen

Derivat asam salisilat


Aspirin
Derivat asam fenamat
Asmef
Derivat Pirazolon
Fenilbutazon
Derivat asam asetat
Asam fenilasetat co : Diklofenak
Asam asetat indol co : Indometasin, Sulindac
Derivat Oksikam
Piroksikam
OBAT AINS

Parasetamol
Komposisi : Mengandung parasetamol 500 mg
Indikasi : Meringankan rasa sakit pada sakit kepala, sakit gigi, menurunkan demam, setelah vaksinasi.
Cara kerja obat :
Dosis dan cara pemberian :
Dewasa : 3-4 kali sehari 500 mg
Umur 6-12 thn : 250-500 mg per 6-8 jam
Umur >1-5 thn : 125-250 mg per 6-8 jam
Umur <1 thn : 60-120 mg per 6-8 jam atau menurut petumjuk dokter.
Kontra indikasi :
Tidak boleh digunakan pada pederita dengan gangguan hati berat.
Hipersensitif terhadap parasetamol da defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase.
Peringatan :
Dapat menimbulkan gangguan fungsi hati dan ginjal yang berat (disfungsi hati dan ginjal)
Hati-hati pada penderita forpiria, peminum alkohol karena dapat meningkatkan resiko kerusakan hati.
Efek samping :
Penggunaan dalam jangka waktu lama dan dosis besar dapat menyebabkan gangguan fungsi hati dan
hipersensitifitas.
Ruam kulit dan reaksi alergi lainnya.
Kasus khusus : purpura trombositopenik, anemia hemolitik dan agranulositosis.

Ibuprofen
Komposisi : Ibuprofen 200 mg

Indikasi :
Meredakan demam, mengurangi rasa nyeri pada sakit gigi, sakit kepala nyeri otot, nyeri setelah operasi
cabut gigi dan penyakit reumatik.
Dosis dan cara pemberian :
Dewasa : 200 mg 3x4 kali/hari
Anak-anak 1-12 thn untuk mengurangi demam suhu < celcius =" 5"> 39 derajat celcius = 10 m /kg BB,
diberikan 2-4 kali/hari.
Kontra indikasi : Hipersensitif terhadap ibuprofen atau AINS lainnya, ulkus peptik berat dan aktif, hamil
trimester ketiga.
Efek samping : Gangguan salran cerna, mual muntah, nyeri lambung, diare, konstipasi, perdarahan
lambung, ruam kulit, bronkospasme, trombositopenia dan penurunan ketajaman penglihatan.

Asam Mefenamat
Komposisi : Tiap kaplet mengandung 500 mg asam mefenamat.
Indikasi : meredakan nyeri ringan sampai berat pada sakit kepala, sakit gigi, nyeri otot tulang, nyeri
karena luka, nyeri setelah operasi, nyeri setelah melahirkan, dismenore, nyeri rematik, nyeri tulang
belakang, demam.
Dosis dan cara pemberian :
Dewasa dan anak > 14 tahun : awal 500 mg, kemudian 250 mg tiap 6 jam.
Dismenore : awal 500 mg, kemudian 250 mg tiap 6 jam.
Kontra indikasi : Pasien dengan tukak peptik, kerusakan ginjal dan pasien asma yang sensitif terhadap
Anti inflamasi Non steroid.
Peringatan :
Penggunaan asam mefenamat maksimal 7 hari.
Penggunaan obat diberikan segera sesudah makan.
Hati hati penggunaan pada ibu hamil dan menyusui.
Pada pasien dengan peradangan abdomen efek samping diare dapat menjadi berat.
Tidak dianjurkan penggunaan pada anak dibawah 14 tahun.
Efek samping :
Diare, mengantuk, konstipasi dan anemia hemolitik, eritema kulit, bronkokontriksi.
Interaksi obat :
Pemberian Asam Mefenamat bersama dengan Anti Koagulan (mencegah pembekuan darah) akan
menyebabkan efek anti koagulan meningkat sehingga resiko perdarahan meningkat.

Ketoprofen
Komposisi, Ketoprofen tersedia dalam bentuk sediaan:

Tablet : 50 mg, 100 mg, 200 mg


Supositoria : 100 mgInjeksi : 100 mg/ml-ampul, 100 mg/2ml, 100 mg/vialGel : 2,5 mg/g, 25 mg
Indikasi :
Ketoprofen dapat digunakan sebagai anti-encok seperti Rematik inflamasi kronik/abartikuler, gout, atritis
akut, osteoatritis, rematoid atritis, skiatika, dan nyeri pada punggung bawah
Ketoprofen umumnya diresepkan untuk arthritis inflamasi yang berhubungan dengan nyeri atau sakit
gigi yang parah yang mengakibatkan radang gusi. Ketoprofen dapat juga digunakan untuk mengobati
rasa sakit, terutama nyeri saraf seperti neuralgia pasca-herpes untuk radiculopathy, dalam bentuk krim,
salep, cair, semprot, atau gel yang juga berisi Ketamine dan lidokain, bersama dengan agen lain yang
mungkin berguna seperti cyclobenzaprine, amitryptiline, asiklovir, gabapentin, orphenadrine dan obat
lain yang digunakan untuk pengobatan sebagai NSAID atau ajuvan, atipikal atau nyeri potensiator.
Cara kerja obat : Ketoprofen merupakan suatu antiinflamasi non steroid dengan efek
antiinflamasi,analgesik dan antipiretik. Sebagai anti inflamasi bekerja dengan menghambat sintesa
prostaglandin. Pada pemberian oral kadar puncak dicapai selama 0,52 jam. Waktu paruh eliminasi pada
orang dewasa 3 jam, dan 5 jam pada orang tua.
Dosis dan cara pemberian :
Penggunaan oral
Dosis awal yang dianjurkan : 75 mg 3 kali sehari atau 50 mg 4 kali sehari.
Dosis maksimum 300 mg sehari. Sebaiknya digunakan bersama dengan makanan atau susu.
Penggunaan IM
50100 mg tiap 4 jam. Dosis maksimum 200 mg/hari, tidak lebih dari 3 hari.
Penggunaan supp
1 suppositoria pada pagi dan malam hari, 1 suppositoria pada malam hari, jika digabungkan dengan
pemberian oral pada siang hari.
Penggunaan Gel
2 x sehari dioleskan tipis pada bagian yang nyeri, maksimal pemakaian 7 hari.
Kontra indikasi :
Hipersensitif terhadap ketoprofen, aspirin dan AINS lain.
Gangguan fungsi ginjal dan hati yang berat
Ulkus peptikum dan pada penderita asma.
Peringatan :
Hati-hati bila diberikan pada penderita hiperasiditas lambung.
Tidak dianjurkan penggunaan pada wanita hamil dan menyusui.
Hati-hati pada penderita gangguan fungsi ginjal.
Efek samping :
ulkus gastrointestinal, penurunan jumlah sel darah merah (akibat pendarahan GI), dan jarang kerusakan

ginjal, protein kerugian, dan gangguan perdarahan.


Interaksi obat :
Ketoprofen tidak boleh digunakan dalam dengan NSAID atau kortikosteroid lainnya, karena hal ini
meningkatkan risiko ulserasi GI. Ini juga harus digunakan dengan hati-hati dengan antikoagulan lain.
Hal ini umumnya digunakan dengan omeprazol, sucralfate, dan simetidin untuk membantu melindungi
saluran GI.
Petunjuk konsultasi :
Katakan pada dokter, jika anda alergi atau mengalami reaksi apapun yang tidak lazim, atau terhadap
obat obatan seperti aspirin atau salisilat yang lain, ketorolak, oksifenbutazon, suprofen, zomepirak.
Jangan memakai ketoprofen selama 3 bulan terakhir kehamilan, kecuali atas perintah dokter.
Efek yang timbul pada anak anak sama dengan efek yang timbul pada orang dewasa.
Katakana pada dokter, jika anda mengalami masalah kesehatan berikut : alcohol, masalah perdarahan,
colitis ( tukak lambung, atau gangguan saluran cerna lain ), diabetes mellitus, hepatitis atau gangguan
hati lainnya, sedang atau punya riwayat gangguan ginjal, baru baru ini mengalami iritasi atau
perdarahan pada anus, system lupus erythematous, merokok atau pernah merokok, anemia, asma,
epilepsy, retensi cairan ( kaki membengkak), penyakit jantung, penyakit jiwa, Parkinson, tukak, bintik
putih atau merah di mulut ( jika timbul setelah memakai obat, kadang kadang menunjukan efek
samping yang serius.
Untuk mengurangi gangguan cerna, sebaiknya diminum bersama makanan atau antasida.
Tidak perlu diminum bersama makanan, jika sediaan salut enteric karena dapat melindungi lambung
dari iritasi obat.
Jika menggunakan antasida, sebaiknya jenis kombinasi alumunium dengan magnesium kecuali jika
dokter memberikan antasida jenis lain.
Minumlah obat ini dengan segelas air putih (250 ml).
Beberapa sediaan obat harus ditelan utuh, tidak boleh digerus atau dihancurkan.
Agar efektif dan aman, jangan minum melebihi anjuran dosis, frekuensi dan lamanya pengobatan dari
dokter anda.
Simpan di tempat yang terhindar dari panas dan cahay serta jauhkan dari jangkauan anak anak.
Jangan di simpan di tempat yang lembab atau panas karena akan merusak obat.
Jagalah agar suppositoria atau sediaan cair obat ini tidak beku
Jangan menyimpan obat yang telah kadaluarsa atau tidak digunakan lagi.

Piroxicam
Indikasi : Rematoid artritis, osteoartritis, anklilosing spondilitis, gout akut dan gangguan muskulo
skeletal akut.
Dosis dan cara pemberian :

Dewasa :
Rematoid artritis, osteoartritis, ankilosing spondilitis : 20 mg dalam dosis tunggal atau dosis terbagi
Gout akut : 40 mg sehari dalam dosis terbagi selama 4-6 hari. Tidak dianjurkan untuk pemakaian lama.
Gangguan muskulo skeletal akut : 40 mg sehari dalam dosis tunggal / dosis terbagi selama 2 hari,
selanjutnya 20 mg sehari dalam dosis tunggal selama 7-14 hari.
Kontra indikasi :
pada penderita yang hipersensitif terhadap Piroxicam, cross sensitivitas yang potensial terhadap aspirin
dan obat-obat anti inflamasi non steroid lain dapat mengalami bonchospasm, nasal polip dan
angioedema.
Penderita yang mempunyai riwayat tukak lambung aktifatau sejarah tukak yang berulang perforasi atau
pendarahan lambung.
Peringatan :
hati-hati bila digunakan pada pendeita dengan riwayat penyakit saluran cerna bagian atas, kegagalan
fungsi ginjal, kegagalan fungsi jantung, hipertensi, dan keadaan lain yang berhubungan dengan retensi
cairan, kaena dapat memperburuk keadaan.
Gangguan fungsi hati
Data-data yang menunjang keamanan pemakaian pada wanita hamil dan menyusui belum mencukupi.
Keamanan pnggunaan pada anak-anak belum diketahui dngan pasti.
Efek samping :
Ikatan dengan protein darah kuat dan menggantikan ikatan albumin dengan obat lain.
Piroxicam dan aspirin tidak boleh diberikan secara bersamaan.
Hati-hati bila diberikan bersama-sama dengan litium akan meningkatkan kada litium dalam plasma.
Interaksi obat :
Ikatan dengan protein darah kuat dan menggantikan ikatan albumin dengan obat lain.
piroxicam dan aspirin diberikan secara bersamaan.akan meningkatkan efek analgetik
hati-hati bila diberikan bersama-sama dengan litium akan meningkatkan kadar litium
dalam plasma.

BAB XI
Golongan Obat Anestesi

Penggunaan obat untuk anestesi tidak digunakan tunggal selalu dikombinasi, bersamaan dengan obat
preanestesi atau dengan pelemas otot tujuannya adalah untuk menjaga keseimbangan, membantu
proses anestesi dan menurunkan dosis obat anestesi.
Golongan obat Preanestetik dapat menyebabkan penderita tenang, menghilangkan rasa sakit,

melindungi terhadap efek yang tidak diinginkan pada proses pembedahan selanjutnya.
Jenis obat preanestesi
- Benzodiazepin : untuk menghilangkan ansietas dan memudahkan amnesia.
- Untuk sedasi : barbiturat.
- Antihistamin untuk mencegah reaksi alergi difenhidramin.
- Untuk mengurangim keasaman lambung : simetidin.
- Antiemetik : droperidol.
- Analgesia : opioid
- Antikolinergik : skopolamin
- Obat2 ini membantu kelancaran anestesi dan menurunkan dosisi anestesi.
Tahap anestesi
1. Mengalami analgesia,
2. Amnesia, dan
3. Tidak sadar sedangkan
4. Otot mengalami relaksasi dan
5. Penekanan refleks yang tak dikehendaki.
Fase anestesi terdiri dari 3 (tiga) tahap yaitu, induksi, pemeliharaan dan sadar kembali dari anestesi.
- Induksi : suatu periode waktu dari mulai pemberiaan anestetik sampai pada anestesi pembedahan
yang efektif pada penderita. Atau kecepatan konsentrasi efektif obat anestetik yang mencapai otak.
- Pemeliharaan : suatu fase anestesi yang bertahan.
- Sadar kembali : pembalikan induksi dan tergantung dari seberapa cepanya obat anestetik hilang dari
otak atau waktu dari putusnya pemberian obat anestetik sampai kesadaran kembali.
Kedalaman Anestesi
Kedalaman anestesi ditandai dengan meningkatnya penekanan SSP yang disebabkan oleh penumpukan
obat anestetik di otak. Dibagi dalam 4 stadium diantaranya,

Stadium I (fase analgesia) : Hilangnya sensasi nyeri akibat gangguan transmisi sensorik pada traktus
spinotalamikus. Penderita sadar dan dapat diajak bicara. Pada saat mendekati
Stadium II (gelisah) : Penderita mengalami delirium dan tingkah laku kekerasa, tekanan darah dan
pernapasan meningkat, untuk menghindari stadium ini dapat diberikan barbiturat kerja singkat, seperti
natrium pentotal yang diberikan secara IV sebelum diberikan anestetik inhalasi.

STADIUM KEDALAMAN ANESTESI

Stadium III (anestesi pembedahan) : Relaksasi otot rangka, refleks mata menurun, pergerakan bola
mata terhenti, pembedahan dapat dilakukan pada stadium ini.

Stadium IV (paralisis medular) : Depresi kuat pusat pusat pernapasan dan vasomotor, kematian dapat
cepat terjadi.

Golongan Obat Anestesi


Obat obat anestesi yang sering dipakai yaitu, ketamin, benzodiazepin, barbiturate, opioid dan propofol.

Ketamin
Ketamin anestesi non barbiturat kerja secara singkat, dimana penderita tampaknya bangun tapi tidak
sadar dan tidak merasakan sakit.
Ketamin digunakan untuk anak - anak dan dewasa muda untuk tindakan singkat, efek ketamin dapat
meningkatkan aliran darah otak dan halusinasi pasca bedah (mimpi buruk)
Kombinasi dengan barbiturat dengan tujuan untuk menghilangkan stadium mimpi buruk,

Benzodiazepin
Banyak sekali golongan benzodiazepin yang digunakan untuk tujuan antiansietas (lihat bab ansietas)
tetapi untuk penggunaan anestesi lebih banyak dignakan benzodiazepin jenis Lorazepam dan midazolam
dimana efek anestesinya lebih kuat dibanding diazepam.
Penggunaan anestesi dari golongan benzodiazepin dapat menimbulkan terjadi amnesia, efek analgesia
kurang dan menimbulkan aktivitas otot rangka tak terkendali.
Kombinasi dengan pelemas otot yaitu parasimpatomimetik (isofluran)

Barbiturat
Golongan barniturat adalah Tiopental, tiamilal, metoheksital. Bersifat anestetika kuat dan analgesia
lemah. Banyak diberikan secara IV, cepat masuk SSP dan menekan SSP, kurang dari 1
menit.distribusinya luas ke jaringan tubuh, otot rangka dan jaringan adiposa, dari adiposa (gudang
obatnya ) kemudian merembes berlahan2 kemudian dimetabolisbagai (bersama analgetika kuat gol
opioid.

Opioid
Golongan opioid yang sering digunakan dalam anestesi adalah morfib dan fentanil.
Morfin digunakan dalam anestesi adalah efek analgetika nya yang kuat sehingga harus ditambahkan
nitrogen oksida, dan ini merupakan anestesi yang bagus untuk pembedahan jantung. Tetapi

kenyataannya fentanil lebih sering digunakan daripada morfin.


Nalokson merupakan antagonis opioid (menghambat kerja efek opioid)

Propofol
Profopol merupakan sedatif/hipnotik IV yang digunakan untuk menginduksi atau memelihara anestesi.
Mula kerja pelan terjadi pada waktu 40 detik.
Dan preanestesi untuk propofol yaitu golongan narkotik sebagai analgesi.
Diposkan oleh dinnadi 07.31

2 komentar:

1.
hobby Lince27 Oktober 2010 08.50
Mba Dinna,infonya oke. Tertarik dgn obat antiepileptiknya. Mamaku sedang minum
Fenitoin sebulan ini tapi tadi ke dokter diberi resep 500mg acetaminophen dan 20mg
piroxicam. Boleh tidak dgn fenitoin? sementara jadi stop dulu d fenitoinnya tapi obat2
an itu bikin kejang2 tidak yah? aku takut kalo mamaku kejang lagi.
Semoga
sempat
dibales
ya,mba.
Tks,
Lince
Balas

2.
toko obat4 Agustus 2015 12.17
Buka
JUAL
OBAT
Hub 081390299777

PENENANG

Link
(

Balas
Posting LamaBeranda

Langganan: Poskan Komentar (Atom)

DUNIA OBAT
P E N G I K U T

A R S I P

B L O G

2010 (7)
September (2)

ANTI

DEPRESAN

:
)

GOLONGAN OBAT YANG BEKERJA MEMPENGARUHI SISTEM SAR...

BAB I Hormon Didalam tubuh terdapat 2 (dua) syste...


Februari (5)

2009 (5)

M E N G E N A I

S A Y A

dinna
alumnus apoteker UNTAG Jakarta, dosen Farmasi mata kuliah Farmakologi dan medisinal,
praktisi farmasi RS.
Lihat profil lengkapku

OBAT-OBAT PARKINSON
Anti Parkinson. Obat anti Parkinson digunakan untuk penyakit parkinson. Penyakit Parkinson merupakan suatu
sindrom dengan gejala utama berupa trias gangguan neuromuskular; Tremor, Rigiditas, Akinesia (hipokinesia)
disertai kelainan postur tubuh dan gaya berjalan.Penyakit Parkinson bisa diobati dengan berbagai obat, seperti
Levodopa, Carbidopa, Bromokriptin, Antikolinergik (Triheksifenidil), anti depresi (Pramipexole), Entacapone.
Obat anti Parkinson terdiri atas empat golongan, diantaranya :
Obat Dopaminerik sentral : Prekursor DA (Levodopa) dan Agonis DA (Bromokriptin, apomorfin, ropinirol,
pramipreksol)
Levodopa.
Pengobatan dasar untuk Parkinson adalah Levodopa- Karbidopa. Penambahan Karbidopa dimaksudkan untuk
meningkatkan efektivitas Levodopa di dalam otak dan untuk mengurangi efek Levodopa yang tidak diinginkan di
luar otak. Kini ada kombinasi tiga obat selain Levodopa dan Karbidopa juga ditambahkan Entacapone. Dimana
fungsi Entacapone membantu kerja kedua obat tersebut dengan memperlancar masuknya kedua obat tersebut
ke otak.
Mekanisme Kerja. Di dalam otak Levodopa dirubah menjadi Dopamin. Pengubahan levodopa menjadi dopamin
membutuhkan adanya dekarboksilase asam L-amino aromatik.
Dosis. Oral semula 2-3 dd 125 mg d.c. dan dinaikkan setiap 2-4 hari dengan 125-250 mg sampai tercapai dosis
pemeliharaan dari 2,5 7 g sehari.
Efek samping. Yang paling sering terjadi adalah mual, muntah dan anoreksia. Pada permulaan terapi juga dapat
timbul hipotensi ortostatis dan gangguan pusat ringan seperti gelisah, rasa takut, bingung dan pikiran kacau.
Interaksi Obat. Piridoksin, sebagai ko-enzim, mempercepat perombakan perifer levodopa dengan jalan
memperkuat kegiatan dekarboksilase.

Bromokriptin.
Bromokriptin merupakan prototip kelompok ergolin yaitu alkaloid ergot yang bersifat dopaminergik, yang
dikelompokkan sebagai ergolin.
Mekanisme Kerja. Bromokriptin merangsang reseptor dopeminergik. Obat ini lebih besar afinitasnya terhadap
reseptor D2 dan merupakan antagonis reseptor D1. organ yang dipengaruhi ialah yang memilki reseptor
dopamin yaitu SSP, kardiovaskular, poros hipotalamus dan saluran cerna.
Dosis. Terapi dengan bromokriptin dimulai dengan dosis 1,25 mg, dua kali sehari. Kemudian dosis dinaikkan
sampai efek terapi tercapai atau timbul efek samping. Obat sebaiknya diberikan dengan makanan. Peningkatan
dosis dilakukan setiap 2-4 minggu sebanyak 2,5 mg/hari. Dosis optimum kira-kira 45 mg sehari (20-75 mg) yang
dapat dicapai dalam kira-kira 6 minggu (2-15 minggu).
Efek samping. Efek samping bromokriptin memperlihatkan variasi individu yang nyata.Gangguan psikis berupa
halusinasi penglihatan dan pendengaran lebih sering ditemukan dibandingkan dengan pemberian levodopa. Efek
samping yang jarang-jarang terjadi adalah eritromelalgia, kemerahan, nyeri, panas dan edema ditungkai bawah.
Interaksi Obat. Pemberian obat bersama antasid atau makanan, mengurangi mual yang berat. Antipsikotropika
dan metoklorpromida sebagai antagonis dopamin, dapat mengurangi efeknya.
Obat antikolinergik sentral :
Senyawa antikolinergik sentral: triheksifenidil, biperidin, sikrimin, prosiklidin, benzotropin mesilat, dan karamifen,
Senyawa antihistamin : Difenhidramin, klorfenoksiamin, orfenadrin, dan fenindamin.
Derivat fenotiazin : etopropazin, prometazin, dan dietazin
Antikolinergik merupakan obat alternatif levodopa dalam pengobatan parkinsonisme. Prototip kelompok ini
adalah triheksifenidil. Termasuk dalam kelompok ini adalah biperidin, prosiklidim, benzotropin, dan antihistamin.
Mekanisme Kerja. Dasar kerja obat ini adalah mengurangi efektivitas kolinergik yang berlebihan di ganglia basal.
Dosis. Triheksifenidil (2 mg, 2-3 kali sehari), Biperidin HCL atau laktat (0,5 2 mg, 2-4 kali sehariZ), Prosiklidin (5
mg, 2 -3 kali sehari), Benzotropin mesilat (0,5 1 m/hari diberikan pada malam hari).
Efek samping. Antiparkinson kelompok antikolinergik menimbulkan efek samping sentral dan perifer. Efek
samping sentral dapat berupa gangguan neurologik yaitu : ataksia, disartria, hipertermia, gangguan mental,
pikiran kacau, amnesia, delusi, halusinasi, somnolen, dan koma.
Interaksi Obat. Obat parkinson dapat melawan atau meniadakan efek antipsikotika dan bisa mencetuskan gejala
psikosi pada pasien yang ditangani dengan dua obat. Dengan demikian dianjurkan untuk menurunkan dosis obat
parkinson. Sebaliknya antidepresiva dapat memperkuat efek kognitif dar antikolinergika.
Obat Dopamino-antikolinergik : Amantadin dan Antidepresan trisiklik
Amantadin
Amantadin adalah antivirus yang digunakan terhadap influenza Asia. Secara kebetulan penggunaan amantandin
pada seorang pasien yang menderita influenza yang juga menderita Parkinson memperlihatkan perbaikan gejala
neurologik. Kenyataan ini merupakan titik tolak penggunaan amantandin.

Mekanisme kerja. Amantandin diduga meningkatkan aktivitas dopaminergik serta menghambat aktivitas
kolinergik di korpus striatum. Amantandin membebaskan DA dari ujung saraf dn menghambat ambilan
prasinaptik DA, sehingga memperpanjang waktu paruh DA di sinaps.
Dosis. Pemberian amnatandin dimulai dengan 100 mg per hari. Jika pasien cukup toleran setelah 1 minggu dosis
dapat ditambah menjadi dua kali 100 mg sehari dan kemudian menjadi 3 kali 100 mg.
Efek samping. Efek samping amantandin menyerupai gejala intoksikasi atropin. Gejala yang dapat timbul adalah
depresi, gelisah, insomnia, pusing, gangguan saluran cerna, mulut kering dan dermatitis.
Penghambat MAO-B : Selegilin
Selegilin merupakan penghambat monoamin oksidase-B (MAO-B) yang relatif spesifik. Saat ini dikenal dua
bentuk penghambat MAO, tipe A yang terutama berhubungan dengan deaminasi oksidatif norepinefrin dan
serotonin, tipe B yang memperlihatkan aktivitas terutama pada dopamin.
Mekanisme kerja. Selegilin menghabat deaminasi dopamin sehingga kadar dopamin sehingga kadar dopamin
diujung saraf dopaminergik lebih tinggi. Selain itu, ada hipotesis yang mengemukakan bahwa selegilin mungkin
mencegah pembentukan neurotoksin endogen yang membutuhkan aktivasi oleh MAO-B.
Dosis. Selegilin dengan dosis 10 mg per hari dapat terterima dengan baik.
Efek samping. Efek samping berat tidak dilaporkan terjadi, efek samping kardoivaskuler jelas kurang dari
penghambat MAO-A. Hipotensi, mual, kebingungan dan psikosis pernah dilaporkan.
Obat-obatan untuk mengobati penyakit Parkinson :
Obat

Aturan Pemakaian

Keterangan

Levodopa
(dikombinasikan
dengan
karbidopa)

Merupakan pengobatan
utama untuk parkinson.
Diberikan bersama
karbidopa untuk
meningkatkan
efektivitasnya &
mengurangi efek
sampingnya
Mulai dengan dosis
rendah, yg selanjutnya
ditingkatkan sampai efek
terbesar diperoleh

Setelah beberapa
tahun digunakan,
efektivitasnya bisa
berkurang

Bromokriptin
atau pergolid

Pada awal pengobatan


seringkali ditambahkan
pada pemberian levodopa
untuk meningkatkan kerja
levodopa atau diberikan
kemudian ketika efek
samping levodopa
menimbulkan masalah
baru

Jarang diberikan
sendiri

Seringkali diberikan
sebagai tambahan pada

Bisa
meningkatkan

Seleglin

pemakaian levodopa

aktivitas levodopa
di otak

Obat
antikolinergik
(benztropin &
triheksifenidil),
obat anti depresi
tertentu,
antihistamin
(difenhidramin)

Pada stadium awal


penyakit bisa diberikan
tanpa levodopa, pada
stadium lanjut diberikan
bersamaan dengan
levodopa, mulai diberikan
dalam dosis rendah

Bisa menimbulkan
beberapa efek
samping

Amantadin

Digunakan pada stadium


awal untuk penyakit yg
ringan
Pada stadium lanjut
diberikan untuk
meningkatkan efek
levodopa

Bisa menjadi tidak


efektif setelah
beberap bulan
digunakan sendiri

Sumber :
Gunawan, Sulistia, 2007. Farmakologi dan Terapi edisi V. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : jakarta.
Katzung, G, Bertram, 2002. Farmakologi dasar dan klinik. PT. Salemba Medika : Jakarta.
Tjay, Hoan Tjay, 2002. Obat-Obat Penting Edisi V. PT. Elex Media Komputindo Gramedia : Jakarta.

Dosis:
100 mg 3 kali sehari, dengan selang waktu 6 jam setiap dosis; maksimal 200 mg 3
kali sehari pada kondisi terpaksa. Dosis harian pertama sebaiknya diminum pada
waktu yang sama dengan levodopa dengan inhibitor dekarboksilase dopa. Dapat
dilanjutkan lebih dari 3 minggu hanya jika terjadi perbaikan yang bermakna.

Interaksi Obat Anti Parkinson

1.

Levodopa + Antasid
Antasid tidak berinteraksi secara signifikan dengan levodopa, walaupun ada beberapa kejadian ada
beberapa kejadian bahwa antacid mengurangi bioavailabilitas levodopa.
Mekanisme :
Usus halus merupakan tempat absorpsi yang utama untuk levodopa dan penundaan pengosongan
lambung dapat menyebabkan kadar levodopa dalam plasma rendah, hal ini disebabkan karena
levodopa dapat dimetabolisme di dalam pencernaan.

2.

Levodopa + Antikolinergik
Antikolinergik sangat luas penggunaannya dengan levodopa. Antikolinergik dapat mengurangi
penyerapan levodopa sehingga dapat mengurangi efek sampai tingkat tertentu.
Mekanisme :
Usus halus merupakan tempat absorpsi yang utama untuk levodopa, antikolinergik dapat
menyebabkan penundaan pengosongan lambung sehingga dapat menyebabkan rendahnya kadar
levodopa dalam plasma karena metabolism di mukosa lambung menjadi lebih lambat.

3.

Levodopa + Antiemetik (Metoklopramid)


Metoklopramid dapat meningkatkan efek dari levodopa
Mekanisme :
Metoklopramid merupakan antagonis dopamine yang dapat menyebabkan gangguan extrapiramidal
(gejala Parkinson). Pada sisi lain metoklopramid merangsang pengosongan lambung yang dapat
meningkatkan bioavaibilitas levodopa.

4.

Levodopa + Antipsikosis (Phenotiazin & Butirofenon)


Phenotiazin (eg. Chlorpromazin) dan Butirofenon (eg.Haloperidol) memblok reseptor dopamine di
otak dan mempengaruhi pengembangan extrapiramidal (gejala Parkinson)

5.

Levodopa + Baclofen
Menyebabkan efek samping yang tidak menyenangkan (halusinasi, bingung, sakit kepala, mual) dan
memeperburuk gejala Parkinson.

6.

Levodopa + Benzodiazepin

Menyebabkan

efek

terapeutik

levodopa

berkurang

karena

penggunaan

bersama

dengan

chlordiazepoxid, diazepam atau nitrazepam

7.

Levodopa dengan anastetik


Anestetik : meningkatkan potensi aritmia, jika levodopa diberikan bersamaan dengan cairan
anestetik umum yang diuapkan (inhalasi)

8.

Levodopa dengan anti depresan


Resiko terjadi krisis hipertensi jika levodopa diberikan bersamaan dengan penghambat MAO,
meningkatkan resiko efek smping jika levodopa diberikan bersama dengan moklobemid

9.

Levodopa dengan piridoksin


Dapat menurunkan jumlah levodopa yang melewati sawar otak.
Mekanisme : Dalam jumlah yang kecil (lebih dari 5 mg) piridoksin sudah dapat meningkatkan
dekarboksilasi levodopa di perifer, akibatnya levodopa yang mencapai jaringan otak berkurang

10. Amantadin + Cotrimoxazol


Dapat meningkatkan kekacauan mental akut pada pasien usia lanjut, namun bersifat reversible

11. Amantadin + Quinin & Qunidin


Pada kadar 200 mg quinine atau quinidin dapat mengurangi metabolisme amantadin berturut-turut
sebanyak 36 %.

12. Amantadin + Thiazid

Menyebabkan ataksia (kehilangan keseimbangan tubuh), gelisah dan halusinasi berkembang tidak
lebih.

13. Bromokriptin + Antibiotik Makrolide


Menghambat metabolism bromokriptin oleh hati sehingga ekskresinya menurun dan konsentrasinya
tinggi dalam serum darah

14. Levodopa + Entacapone


Entacapone meningkatkan kadar plasma dan bioavailabilitas levodopa, sehingga meningkatkan efek
terapi pada pasien penyakit Parkinson. Akan tetapi peningkatan ini disertai dengan meningkatnya
efek samping levodopa (contoh: diskinesia), sehingga disarankan bahwa saat mulai digunakan
entacapone, dosis levodopa sebaiknya dikurangi sekitar 10 sampai 30% (termasuk pada hari atau
minggu pertama pemakaian) untuk menghindari potensi terjadinya efek samping tersebut.

15. Levodopa + Fluoxetine


Penggunaan fluoxetine untuk mengobati depresi yang terkait dengan penyakit parkinson umumnya
bermanfaat bagi pasien yang diterapi dengan levodopa untuk mengobati penyakit tersebut.
Meskipun

demikian,

terkadang

gejala

parkinsonian

justru

semakin

memburuk.

Gejala

ekstrapiramidal jarang terjadi namun diduga gejala tersebut merupakan efek samping fluoxetine.

Urgensitas dan menejemen


Walaupun memiliki bukti terbatas, namun tampaknya pada beberapa kasus, parkinsonisme dapat
diperparah oleh fluoxetine. Suatu penelitian menemukan bahwa kombinasi yang digunakan dapat
ditoleransi oleh 12 dari 14 orang percobaan, sehingga disimpulkan bahwa interaksi hanya terjadi
pada beberapa penderita, akan tetapi belum diketahui tipe pasien yang seperti apakah yang dapat
menimbulkan terjadinya interaksi tersebut. Penggunaan bersama secara berkelanjutan dapat
memberikan keuntungan dan tidak perlu dihindari, hanya saja perlu dilakukan monitoring hasil, dan
apabila diperlukan pemakaian fluoxetine dapat dihentikan.

16. Levodopa + Isoniazid


Tidak terdapat bukti bahwa isoniazid dapat menurunkan efek levodopa pada penderita Parkinson.
Dilaporkan pula bahwa penggunaan isoniazid bersama dengan levodopa dapat menyebabkan
terjadinya hipertensi, takikardi, flushing dan tremor pada pasien.

Mekanisme
Studi metabolisme pada pasien mengindikasikan bahwa isoniazid menghambat dopa-dekarboksilase
(walaupun mungkin dapat disebabkan oleh mekanisme lainnya). Kasus mengenai hipertensi dan
takikardi belum diketahui, meskipun demikian diasumsikan bahwa hal tersebut disebabkan oleh
efek inhibisi monoamine oksidase yang lemah oleh metabolit isoniazid.

17. Levodopa + Metildopa


Metildopa dapat meningkatkan efek levodopa sehingga perlu dilakukan penurunan dosis pada
beberapa pasien, akan tetapi di sisi lain hal ini dapat pula menyebabkan terjadinya diskinesia yang
semakin buruk. Dapat pula terjadi efek peningkatan hipotensi yang kecil.

RUANG KITA
Selasa, 18 Juni 2013

Interaksi Obat Anti Parkinson

1.

Levodopa + Antasid
Antasid tidak berinteraksi secara signifikan dengan levodopa, walaupun ada beberapa kejadian ada
beberapa kejadian bahwa antacid mengurangi bioavailabilitas levodopa.

Mekanisme :
Usus halus merupakan tempat absorpsi yang utama untuk levodopa dan penundaan pengosongan
lambung dapat menyebabkan kadar levodopa dalam plasma rendah, hal ini disebabkan karena
levodopa dapat dimetabolisme di dalam pencernaan.

2.

Levodopa + Antikolinergik
Antikolinergik sangat luas penggunaannya dengan levodopa. Antikolinergik dapat mengurangi
penyerapan levodopa sehingga dapat mengurangi efek sampai tingkat tertentu.
Mekanisme :
Usus halus merupakan tempat absorpsi yang utama untuk levodopa, antikolinergik dapat
menyebabkan penundaan pengosongan lambung sehingga dapat menyebabkan rendahnya kadar
levodopa dalam plasma karena metabolism di mukosa lambung menjadi lebih lambat.

3.

Levodopa + Antiemetik (Metoklopramid)


Metoklopramid dapat meningkatkan efek dari levodopa
Mekanisme :
Metoklopramid merupakan antagonis dopamine yang dapat menyebabkan gangguan extrapiramidal
(gejala Parkinson). Pada sisi lain metoklopramid merangsang pengosongan lambung yang dapat
meningkatkan bioavaibilitas levodopa.

4.

Levodopa + Antipsikosis (Phenotiazin & Butirofenon)


Phenotiazin (eg. Chlorpromazin) dan Butirofenon (eg.Haloperidol) memblok reseptor dopamine di
otak dan mempengaruhi pengembangan extrapiramidal (gejala Parkinson)

5.

Levodopa + Baclofen

Menyebabkan efek samping yang tidak menyenangkan (halusinasi, bingung, sakit kepala, mual) dan
memeperburuk gejala Parkinson.

6.

Levodopa + Benzodiazepin
Menyebabkan

efek

terapeutik

levodopa

berkurang

karena

penggunaan

bersama

dengan

chlordiazepoxid, diazepam atau nitrazepam

7.

Levodopa dengan anastetik


Anestetik : meningkatkan potensi aritmia, jika levodopa diberikan bersamaan dengan cairan
anestetik umum yang diuapkan (inhalasi)

8.

Levodopa dengan anti depresan


Resiko terjadi krisis hipertensi jika levodopa diberikan bersamaan dengan penghambat MAO,
meningkatkan resiko efek smping jika levodopa diberikan bersama dengan moklobemid

9.

Levodopa dengan piridoksin


Dapat menurunkan jumlah levodopa yang melewati sawar otak.
Mekanisme : Dalam jumlah yang kecil (lebih dari 5 mg) piridoksin sudah dapat meningkatkan
dekarboksilasi levodopa di perifer, akibatnya levodopa yang mencapai jaringan otak berkurang

10. Amantadin + Cotrimoxazol


Dapat meningkatkan kekacauan mental akut pada pasien usia lanjut, namun bersifat reversible

11. Amantadin + Quinin & Qunidin

Pada kadar 200 mg quinine atau quinidin dapat mengurangi metabolisme amantadin berturut-turut
sebanyak 36 %.

12. Amantadin + Thiazid


Menyebabkan ataksia (kehilangan keseimbangan tubuh), gelisah dan halusinasi berkembang tidak
lebih.

13. Bromokriptin + Antibiotik Makrolide


Menghambat metabolism bromokriptin oleh hati sehingga ekskresinya menurun dan konsentrasinya
tinggi dalam serum darah

14. Levodopa + Entacapone


Entacapone meningkatkan kadar plasma dan bioavailabilitas levodopa, sehingga meningkatkan efek
terapi pada pasien penyakit Parkinson. Akan tetapi peningkatan ini disertai dengan meningkatnya
efek samping levodopa (contoh: diskinesia), sehingga disarankan bahwa saat mulai digunakan
entacapone, dosis levodopa sebaiknya dikurangi sekitar 10 sampai 30% (termasuk pada hari atau
minggu pertama pemakaian) untuk menghindari potensi terjadinya efek samping tersebut.

15. Levodopa + Fluoxetine


Penggunaan fluoxetine untuk mengobati depresi yang terkait dengan penyakit parkinson umumnya
bermanfaat bagi pasien yang diterapi dengan levodopa untuk mengobati penyakit tersebut.
Meskipun

demikian,

terkadang

gejala

parkinsonian

justru

semakin

memburuk.

Gejala

ekstrapiramidal jarang terjadi namun diduga gejala tersebut merupakan efek samping fluoxetine.

Urgensitas dan menejemen


Walaupun memiliki bukti terbatas, namun tampaknya pada beberapa kasus, parkinsonisme dapat
diperparah oleh fluoxetine. Suatu penelitian menemukan bahwa kombinasi yang digunakan dapat

ditoleransi oleh 12 dari 14 orang percobaan, sehingga disimpulkan bahwa interaksi hanya terjadi
pada beberapa penderita, akan tetapi belum diketahui tipe pasien yang seperti apakah yang dapat
menimbulkan terjadinya interaksi tersebut. Penggunaan bersama secara berkelanjutan dapat
memberikan keuntungan dan tidak perlu dihindari, hanya saja perlu dilakukan monitoring hasil, dan
apabila diperlukan pemakaian fluoxetine dapat dihentikan.

16. Levodopa + Isoniazid


Tidak terdapat bukti bahwa isoniazid dapat menurunkan efek levodopa pada penderita Parkinson.
Dilaporkan pula bahwa penggunaan isoniazid bersama dengan levodopa dapat menyebabkan
terjadinya hipertensi, takikardi, flushing dan tremor pada pasien.

Mekanisme
Studi metabolisme pada pasien mengindikasikan bahwa isoniazid menghambat dopa-dekarboksilase
(walaupun mungkin dapat disebabkan oleh mekanisme lainnya). Kasus mengenai hipertensi dan
takikardi belum diketahui, meskipun demikian diasumsikan bahwa hal tersebut disebabkan oleh
efek inhibisi monoamine oksidase yang lemah oleh metabolit isoniazid.

17. Levodopa + Metildopa


Metildopa dapat meningkatkan efek levodopa sehingga perlu dilakukan penurunan dosis pada
beberapa pasien, akan tetapi di sisi lain hal ini dapat pula menyebabkan terjadinya diskinesia yang
semakin buruk. Dapat pula terjadi efek peningkatan hipotensi yang kecil.

Bukti klinis
a.

Efek pada respon levodopa


Studi silang acak-ganda (double-blind crossover study) pada 10 pasien dengan penyakit Parkinson
yang telah menggunakan levodopa selama 12 sampai 40 tahun menunjukkan bahwa dosis harian

optimum levodopa diturunkan menjadi 68% apabila digunakan metildopa dengan dosis tertinggi
pada penelitian ini (1920 mg per hari), dan menjadi 50% dengan metildopa 800 mg per hari.
Laporan lain menjelaskan penurunan dosis levodopa terjadi sampai lebih dari 30% dan 70% selama
pengobatan bersama metildopa. Laporan lain menyatakan bahwa terapi penyakit Parkinson pada
beberapa pasien meningkat selama penggunaan bersama metildopa, akan tetapi di sisi lain dapat
memperburuk diskinesia. Metildopa itu sendiri dapat menyebabkan sindrome mirip-parkinson
reversibel.

b.

Efek terhadap respons metildopa


Penelitian pada 18 pasien Parkinsosn menunjukkan bahwa kombinasi levodopa dan metildopa dapat
menurunkan tekanan darah. Dosis yang digunakan tidak mempengaruhi tekanan sistolik apabila
digunakan sendiri. Dosis harian2,5 g levodopa dengan metildopa 500 mg dapat menyebabkan
penurunan tekanan darah hingga 12/6 mmHg. Tidak tampak terjadinya perubahan pada
kontrol levodopa, akan tetapi studi tersebut hanya dilakukan selama beberapa hari.

Mekanisme
(a) Satu teori menyatakan bahwa levodopa menghambat enzim pendestruksi levodopa di luar otak
sehingga lebih banyak levodopa bebas yang dapat memberikan efek terapi.
(b) Peningkatan hipotensi dapat disebabkan oleh efek aditif kedua obat.

Urgensitas dan menejemen


Penggunaan bersama kedua obat tidak perlu dihentikan akan tetapi perlu dimonitoring dengan baik.
Penggunaan metildopa diikuti dengan penurunan dosis levodopa (antara 30 dan 70%) dan dapat
meningkatkan kontrol pada penyakit Parkinson, akan tetapi perlu diperhatikan bahwa pada
beberapa pasien diskinesia dapat semakin memburuk.

18. Levodopa + Mirtazapine

Suatu laporan menjelaskan mengenai psikosis serius yang disebabkan oleh interanksi antara
levodopa dan mirtazapine. Hal tersebut terjadi dikarenakan psikosis yang diinduksi dopamine
dicetuskan oleh efek aditif mirtazapine pada levodopa.

19. Levodopa atau Whole broad beans + Monoamin oksidase inhibitor (MAOI)
Reaksi hipertensi yang cepat, serius dan mengancam jiwa dapat terjadi pada pasien pengguna MAOI
non selektif ireversibel apabila diberikan levodopa atau apabila mereka memakan whole broad
beans yang mengandung dopa pada cangkang atau kulitnya. Diragukan adanya interaksi yang terjadi
antara sediaan levodopa yang mengandung carbidopa atau benserazide (Sinemet, Madopar). Tidak
terjadi reaksi hipertensi serius yang dilaporkan telah terjadi pada penggunaan MAO-A inhibitor
selektif seperti moclobemide, dan interaksi akut yang serius pada penggunaan selegiline, MAO-B
inhibitor selektif.

(a) Levodopa + MAOI non-selektif, ireversibel


Pasien yang setiap hari mengkonsumsi phenelzine selama 10 hari diberikan 50 mg levodopa secara
peroral. Hanya dalam waktu beberapa jam menunjukkan terjadinya peningkatan tekanan darah dari
135/90 menjadi sekitar 190/130 mmHg, dan walaupun dengan penyuntikan 5 mg phentolamine
secara iv, tekanan darah meningkat sampai 200/135 mmHg sebelum akhirnya turun kembali setelah
penyuntikan 4 mg phentolamine berikutnya. Hari berikutnya percobaan dilanjutkan dengan
pemberian 25 mg levodopa, akan tetap tampak terjadinya peningkatan tekanan darah. Tiga minggu
setelah penghentian phenelzine, pemberian levodopa sampai 500 mg tidak memberikan efek
hipertensi.
Kasus hipertensi akut yang serupa biasa disertai dengan flushing, throbbing, danpoundingpada
kepala, leher, dada dan sakit kepala ringan dilaporkan terjadi pada penggunaan levodopa bersama
dengan pargyline, nialamide, tranylcypromine, phenelzine dan isocarboxazid.

(b) Whole broad beans + MAOI non-selektif, ireversibel


Reaksi seperti hipertensi dilaporkan terjadi pada pasien yang menggunakan MAOI non-selektif,
ireversibel yang juga mengkonsumsi whole broad beans (Vicia alba) atau polong utuh yang masih

berkulit, karena pada kulitnya mengandung dopa akan tetapi tidak pada polongnya. Termasuk di
dalam interaksi ini adalah pargyline dan phenelzine.

(c) Levodopa + MAO-A inhibitor selektif (Moclobamide)


Sebuah penelitian pada 12 orang sehat yang diberikan dosis tunggal Madopar (levodopa +
benserazide) dengan 200 mg moclobemide dua kali sehari melaporkan bahwa objek percobaan
menderita mual, muntah dan peningkatan dizziness, akan tetapi reaksi peningkatan tekanan darah
yang signifikan tidak terlihat.

(d) Levodopa + MAO-B inhibitor selektif (Selegiline)


Kombinasi levoopa dan seleginine telah digunakan secara luas. Tidak terjadi reaksi hipertensi yang
serius pada penggunaan MAOI non-selektif. Tidak ada interaksi farmakokinetik yang dilaporkan, dan
interaksi

serius

jarang

terjadi.

Beberapa

penelitian

melaporkan

efek

kombinasi

yang

menguntungkan pada kombinasi tersebut, akan tetapi dikatakan bahwa hal tersebut dapat
meningkatkan mortalitas. Retensi urinasi juga diasosiasikan pada penggunaan kombinasi obat ini.

Mekanisme
Keseluruhan levodopa dikonversi secara enzimatis di dalam tubuh, pertama menjadi dopamine, dan
kemudian menjadi noradrenalin (norepinefrin), keduanya akan dirusak oleh monoamine oksidase.
Akan tetapi dengan adanya MAOI efek penghancuran tersebut dapat terhambat, sehingga kadar
plasma dopamine dan noradreanalin akan meningkat. Bagaimana tepatnya hal tersebut dapat
meningkatkan tekanan darah secara tajam belum jelas, akan tetapi baik dopamine maupun
noradrenalin akan secara langsung menstimulus reseptor alfa pada sistem kardiovaskular

Urgensitas dan menejemen


Interaksi antara MAOI non-selektif ireversibel dengan levodopa atau whole broad beans termasuk
sarius dan membahayakan jiwa. Pasien sebaiknya tidak diberikan levodopa selama pengobatan
dengan MAOI tersebut, maupun setelah 2 sampai 3 minggu pasca penghentian obat tersebut.

Tidak terjadi interaksi akut yang tidak diinginkan pada penggunaan bersama antara levodopa dan
moclobemide, akan tetapi beberapa efek samping akan tetap terjadi.
Tidak terjadi interaksi akut yang tidak diinginkan pada penggunaan bersama antara levodopa dan
seleginine, akan tetapi dikatakan bahwa dengan penambahan seleginine dapat dilakuka penurunan
dosis levodopa (disarankan sekitar 30%).

20. Levodopa + Papaverin


Bukti Klinis :
(a) Penurunan efek levodopa
Seorang wanita dengan parkinsonisme diterapi menggunakan levodopa (yang selanjutnya dilakukan
penambahan carbidopa), mulai menunjukkan parkinsonisme yang semakin memburuk dalam satu
minggu saat diberikan 100 mg papaverin setiap hari untuk mengobati insufisiensi pembuluh
serebral. Kondisi tersebut tetap tampak bahkan setelah penghentian papaverin. Respons normal
terhadap levodopa kembali pulih setelah satu minggu. Empat pasien lainnya juga menunjukkan
respons serupa.

(b) Efek levodopa tetap


Sebuah studi acak ganda (double blind crossover) dilakukan pada 9 pasien parkinsonisme yang
diobati menggunakan levodopa (antara 100 sampai 750 mg per hari) dan inhibitor dopadekarboksilase. Dua di antaranya juga manggunkan bromocriptine 40 mg per hari dan
triheksilphenidyl (benzhexol) 15 mg per hari.

Mekanisme
Papaverin memblok reseptor dopamine pada otak, sehingga menghambat efek levodopa. Selain itu
papaverim memiliki aktivitas mirip-reserpin pada vesikel di neuron adrenergik (yang dapat
menurunkan simpanan katekolamin).

21. Levodopa + Penicillamine

Penicillamine dapat meningkatkan kadar plasma levodopa pada beberapa pasien. Hal ini dapat
meningkatkan terapi pada parkinsonisme, akan tetapi ROTD levodopa juga dapat meningkat.

Bukti Klinis, mekanisme, urgensitas dan menejemen.


Pasien parkison mengalami peningkatan kadar plasma levodopa sebesar 60% setelah pemberian 600
mg penicillamin per hari. Hal ini menyebabkan meningkatnya terapi akan tetapi diikuti pula oleh
diskinesia. Diperhatikan bahwa pasien perlahan-lahan mengalami penurunan kadar tembaga
(copper) dan ceruloplasmin plasma. Hal ini disebabkan karena terjadinya efek kelasi tembaga oleh
penicillamine. Penicillamine dapat ,mempengaruhi farmakokinetik levodopa.

22. Levodopa + Phenylbutazone


Bukti Klinis, mekanisme, urgensitas dan menejemen
Seorang pasien (yang sangat sensitif terhadap levodopa) ditemukan bahwa pasien tersebut dapat
mencegah pergerakan involunter dari lidah, leher dan lengan yang disebabkan oleh levodopa
(125 mg). Pasien

tersebut

dapat

menekan

efek

samping

levodopa

dengan

menggunakan

fenilbutazon. Fenilbutazon juga menurunakan efek terapi dari levodopa.

23. Levodopa + Phenytoin


Efek terapi levodopa dikurangi atau dihilangkan dengan adanya fenitoin.
Bukti Klinis, mekanisme, urgensitas dan menejemen
Suatu studi pada pasien yang menggunakan levodopa 630 hingga 4600 mg, ditemukan bahwa jika
dilakukan pemberian bersama dengan fenitoin (dosis 500 mg per hari selama 5 sampai 19 hari) maka
dapat menghilangkan efek dyskinesia, tetapi efek menguntungakan dari levodopa untuk penyakit
parkinson juga berkurang atau hilang

24. Levodopa + Pyridoxine (Vitamin B6)

Efek levodopa berkurang atau hilang pada penggunaan bersama dengan piridoksin tetapi interaksi
ini

tidak

terjadi

jika

levodopa

diberikan

bersama

dengan carbidopa ataubenserazide

(misal :. Sinemet, Madopar).

Bukti Klinis

(a) Levodopa
Suatu studi pada 25 pasien yang diobati dengan levodopa menunjukkan bahwa jika mereka
diberikan piridoksin dosis tinggi (750 hingga 1000 mg per hari),efeklevodopa benar-benar hilang
dalam 3 sampai 4 hari, dan beberapa penurunan efek dalam 24 jam. Dosis harian 50 hingga 100 mg
piridoksin juga mengurangi atau menghilangkan efek dari levodopa, dan peningkatkan tanda dan
gejala parkinson terjadi 8 dari 10 pasien yang menggunakan 5 sampai 10

(b) Levodopa/carbidopa
Studi pada 15 pasien kronik Parkinson dengan levodopa ditemukan bahwa jika diberikan
dosis tunggal 250-mg dosis levodopasecara oral, pemberian piridoksin 50 mg
menyebabkan puncal level oplasma menurun hingga mencapai 70%. Pemberian50 mg
dengan levodopa 250 mg mempotensiasi level puncak plasma dopa menjadi
1300 nanograms/ml.

Mekanisme
Konversi levodopa menjadi dopamine di dalam tubuh membutuhkan adanyapyridoxal-5-phosphate
(berasal dari pyridoxine) seagai kofaktor.jika konsumsi piridoksin tinggi, maka metabolisme perifer
levodopa di luar otak meningkat sehingga hanya sedikit yang dapat masuk ke dalam susunan saraf
pusat. Pyridoksin
formation.Adanya

juga

dapat

menyebabkan

metabolisme

levodopa

dengan Schiff-base

inhibitor dopa-decarboxylase seperti carbidopa atau benserazide,metabolisme

perifer levodopa diturunkan dan levodopa dapat masuk ke susunan saraf pusat dalam jumlah yang
lebih besar.

25. Levodopa + Rauwolfia alkaloids

Efek levodopa diantagonis dengan penggunaan alkaloidrauwolfia sepertireserpine.


Bukti Klinis, mekanisme, urgensitas dan menejemen
Reserpine dan

alkaloid

rauwolfia

lain

menurunkan

miniamin

di

dalam

otak,

termasukdopamine, sehingga menurunkan efeknya. Hal ini dapat menyebabkan gejala yang mirip
dengan parkinson, dan dapat mengantagonis efek dari levodopa.

26. Levodopa + Spiramycin


Level plasma carbidopa diturunkan dengan penggunaan spiramycin, oleh karena itu dapat
menurunkan efek terapeutiknya.

Bukti Klinis
Observasi pada pasien Parkinson yang menggunakan levodopa/carbidopa (Sinemet)menjadi sedikit
tidak terkontrol jika diberikan bersama dengan spiramisin. Studi dilanjutkan pada 7 orang sehat
yang diberikan 250 mg levodopa dengan 25 mg carbidopa. Setelah menggunakan spiramisin 1 g dua
kali sehari selama 3 hari, AUC darilevodopa turun 57%, sementara level maksimum plasma turun
dari

2162 menjadi1680 nanograms/ml

(tidak

signifikan). Kerelativan

ioavailabilitas

levodopa

hanya 43%.

Mekanisme
Spiramycin menurunkan absorpsi carbidopa, dengan membentuk kompleks yang tidak dapat
diabsorpsi di dalam usus atau dengan meningkatkan transit di dalam usus.Sehingga carbidopa yang
diabsorpsi tidak mencukupi, sehingga efek levodopa turun.

Urgensitas dan menejemen


Informasi sangatlah terbatas, tetapi terdapat interaksi obat dan penting secara klinis.
Jjka spiramycin diberikan, maka antisipasi diperlukan untuk meningkatkan dosislevodopa/carbidopa

(hingga dua kali dosis biasa). Hal ini tidak diketahui apakah antibakteri makrolida lain memiliki efek
yang sama, atau apakah spiramycin berefek pada sediaan levodopa/benserazide.

27. Levodopa + Tacrine


Semakin memburuknya parkinson pada pasien yang diberikan tacrin. Efek levodopa diantagonis
ketika dosis takrin meningkat

Bukti Klinis
Parkinson ringan pada wanita tua yang juga menderita Alzheimer semakin memburuk, terjadi
tremor yang parah, stiffness dan disfungsi gait (cara berjalan) dalam waktu 2 minggu saat
meningkatkan dosis takrin dari 10 mg menjadi 20 mg empat kali sehari.

Mekanisme
Parkinsson disebabkan karena ketidakseimbangan antara dua neurotransmiter (dopamine and
acetylcholine) di dalam basal ganglia otak. Tacrine (antikolinesterase sentral) meningkatkan jumlah
asetilkolin di dalam otak, yang dapat menyebabkan eksaserbasi gejala parkinson.

28. Levodopa + Tricyclic antidepressants


Terjadi efek hipertensif ketika imipramine atau amitriptyline digunakan bersama dengan Sinemet.

Bukti Klinis

Adanya

hipertensi (tekanan

darah 210/110 mmHg) yang

berhubungan

dengan

agitasi,tremor dan rigidity terjadi pada wanita uang menggunakan 6 tablet of Sinemet(levodopa
100 mg + 10 mg carbidopa) per hari, kemudian hari berikutnya pasien tersebut menggunakan
imipramin 25 mg tiga kali sehari. Saat penggunakan imipramin dihentikan, pasien tersebut kembali
pada keadaan nornal setelah 24 jam. Reaksi serupa terjadi lagi saat pasien tersebut meminum
25 mg amitriptyline tiga

kali

sehari.

dari 190/110 menjadi 270/140 mmHg) terjadi

Reaksi
dalam

hipertensif
waktu 34 jam

yang
pada

mirip

(meningkat

pasien

lain

yang

mengkonsumsi amitriptyline 20 mg pada malam ketika diberikan setengah tablet Sinemet dan10 mg
metoclopramide tiga kali sehari.

Mekanisme
Tidak diketahui. Usus halus merupakan tempat absorpsi utama dari levodopa. Menunda efek
pengosongan lambung yang dapat disebabkan oleh antikolinergik, nampak adanya penurunan lebel
plasma levodopa, karena mukosa lambung memetabolisme levodopa.

29. Lisuride + berbagai macam obat


Eritromisin dan makanan dapat bereaksi secara klinik dengan lisuride. Antagonis dopamine dapat
diperkirakan mengurangi efek dari lisuride, dan lisuride dapat memperburuk efek dari obat-obt
psikotropik.

Bukti Klinis
Terhadap 12 orang sehat, lisuride dengan dosis 200 mcg secara oral atau 50 mcg secara iv diberikan
30 menit setelah penggunaan eritromisin (dosis tidak diketahui) sehari 2 kali selama empat hari.
Lalu pada 30 orang sehat lainnya diberikan 200 mcg lisuride secara oral dalam keadaaan puasa atau
terdapat makanan. Maka dapat terlihat eritromisin dan makanan dapat merubah farmakokinetik
dan farmakokinetik dari lisuride.
Lisuride merupakan agonis dopamine, maka obat-obat antagonis dopamine seperti haloperidol,
sulpirirde dan metoklopramid dapat melemahkan efek obat-obat psikotropik.

30. Piribedil + Clonidine


Clonidine dapat dilaporkan, bahwa efeknya melawan efek yang dihasilkan dari piribedil.

Berdasarkan pengamatan pada 5 pasien yang mengkonsumsi piribedil bersamaan dengan clonidine
(1,5 mg perhari untuk 10-24 hari) dapat memperburuk proses Parkinson. Maka, penggunaan obat
antikolinergik dapat mengurangi dengan efek dari interaksi tersebut.

31. Pramipexole + berbagai macam obat


Cimetidine, Probenecid dan amantadine dapat mengurangi clearance pramipexole dari dalam
tubuh.

Pramipexole

tidak

diharapkan

berinteraksi

dengan

obat-antikolinergik,

levodopa

(pengurangan dosis mungkin diperlukan) atau selegine, tetapi penggunaannya harus diperhatikan
jika obat tersebut dikombinasikan dengan obat antipsikotik.

Berdasarkan pengamatan terhadap 12 orang sehat, ditemukan cimetidine (multiple dose)


mengurangi clearance dari pramipexole dengan dosis 250 mcg (single dose) sebesar 35 % dan
meningkatkan waktu paruh sebesar 40 %. Amantadine dan cimetidine, keduanya dieliminasi oleh
rute tersebut ( contoh melalui renal kationik sistem transport sekresi), maka tingkat ekskresi kedua
obat tersebut berkurang.

Probenecid (multiple dose) diberikan kepada 12 orang sehat dapat mengurangi clearance
pramipexole sebesar 10, 3%. Dapat disimpulkan bahwa hendaknya pengurangan dosis pramipexole
dipertimbangkan

ketika

amantadin

atau

cimetidine

diberikan

secara

bersamaan

dengan

pramipexole.

Meskipun tidak ada interaksi farmakokinetik diantara pramipexole dan levodopa, pramipexole
merubah aksi levodopa , maka penurunan dosis levodopa seiring dengan penaikan dosis
pramipexole. Penggunaan secara bersamaan dengan obat-obat antipsikoti, harus dapat dihindari,
sebab sebagian besar aksi antagonis dopamine akan mengantagonis efek pramipexole, agonis
dopamine.

Meskipun tidak terdapat interraksi farmakokinetik pramipexol dengan levodopa, tetapi jika pada
penggunaan Pramipexole dengan dosis tinggi, maka levodopa dosisnya harus ditambah.
Aksi Antagonis dopamine dapat akan mengantagonis atau menghambat efek dari pramipexole,
antagonis dopamine.

32. Ropinirole + berbagai macam obat


Oestrogen dapat mengurangi clearancero pinerole. Cimetidin, Ciproploxacin, fluvoxamin dapat
meningkatkan efek ropinerole, dan dopamine antagonis seperti metoklopramid dan sulpiride
mengurangi efek ropinerole.
Ropinirole merupakan agonis dopamine, jadi obat antipsikotik dan obat-obat lain yang bertindak
pada reseptor sentral dopamine antagonis (sulpiride dan metoclopramide), harus dihindari karena
dapat mengurangi keefektifan ropinerole.
Ropinirol dan levodopa tidak memiliki interaksi farmakokinetik pada kondisi steady-state. Meskipun
demikian, maka disarankan mengurangi dosis levodopa sekitar 20%. Oestrogen yang digunakan
dalam Hormonal Replacement Therapy (HRT) dapat mengurangi clearance ropinirole.
Berdasarkan pengamatan secara invitro menunjukkan sitokrom P45o dengan isoenzim CYP1A2 yang
sebagian besar bertanggung jawab terhadap metabolisme ropinerole, dengan CYP3A yang
mempunyai sedikit peranan dalam metabolisme ropinirol. Adanya interaksi dengan obat-obat yang
merangsang atau menghambat CYP1A2.
Penggunaan bersama dengan obat-obat seperti cimetidin, ciprofloxacin dan fluvoxamine dapat
miningkatkan efek ropinirenol, maka jika digunakan bersamaan dosis ropinerol hendaknya
dikurangi.

33. Selegine + Antidepressant


Beberapa kasus sindrom serotonin dan kerusakan serius pada SSP telah terlihat pada penggunaan
selegiline dan trisiklik antidepresan atau SSRI S .
SSRIS

a.

Citalopram
Pengamatan dilakukan secara acak terhadap 18 orang , dimana tidak menunjukkan adanya interaksi
farmakodinamik dan farmakokinetik pada penggunaan bersama citalopram dan selegiline.
Pemberian 20 mg citalopram sekali dalam sehari untuk pemakaian 10 hari dimana 4 hari citalopram
digunakan bersama selegiline dengan pemberian dosis 10 mg sekali sehari. Tidak ada bukti yang
menunjukkan adanya perubahan, teteapi bioavaibilitas selegiline sedikit berkurang sekitar 30%
dengan adanya citalopram. Tetapi dapat disimpulkan bahwa tidak ada interaksi klinik yang terjadi
diantara selegiline dan citalopram.

Antidepresan Tetrasiklik
Pada seseorang yang sedang menggunakan selegiline, levodopa/carbidopa, lisuride, maprotiline,
teofilin, efedrin menyebabkan hipertensi (tekanan darah 300/150 mg), vasokonstriksi, bingung,
nyeri perut, berkeringat dan takikardi (110 bpm) meningkatkan dosis teofilin dan efedrin. Semua
obat tersebut diberhentikan penggunaannya, dan pasien diberikan nicardipin secara iv. Orang
tersebut

sembuh

dalam

waktu

yang

singkat.

Dapat

diperkirakan

hal

tersebut

adalah

pseudophaeochromocytoma yang disebabkan oleh selegiline/maprotilen/interaksi efedrin.

Antidepresan Trisiklik
Pada tahun 1989 dan 1994 FDA menerima 16 laporan mengenai interaksi selegiline dan antidepresan
trisiklik, yang berhubungan dengan adanya sindrom serotonin. Oleh karena ini pihak Amerika
menetapkan bahwa penggunaan bersama selegiline dengan antidepresan trisiklik harus dihindari.
Salah satu penelitian menyatakan pada 4568 pasien yang menggunakan selegiline dan antidpresan
(termasuk trisiklik) hanya ditemukan 11 orang (0,24%) yang mengalami sindrom serotonin dan 2
orang (0,04%) yang mengalami gejala yang serius.
Penelitian lainnya yang dirancang untuk mengevaluasi toleransi dan efikasi dari kombinasi selegiline
dan antidepresan trisiklik yang diidentifikasi dari 28 pasien yang menggunakan kedua obat tersebut.
Berdasarkan pengamatan, 17 pasien sudah pasti menerima kebaikan/manfaat dan 6 pasien lainnya
kemungkian menerima kebaikan/manfaat dari kombinasi kedua obat tersebut.
Sedangkan pada penelitian lainnya yaitu pada 25 angka kejadian pada penggunaan kombinasi
selegiline-trisiklik tidak ditemukan adanya kasus serotonin sindrom.

Antidepresan lainnya
a.

Trazodone
Berdasarkan pengamatan pada pasien dengan penyakit Parkinson dengan selegiline 5-10 mg perhari
(dan obat antiparkinson lainnya seperti levodopa/carbidopa, bromocriptin, amantadin, pergolide
antikolinergik) menyebutkan bahwa penambahan tazadone 25 sampai 150 mg perhari menyebabkan
tidak adanya efek samping dan pasien menunjukkan bahwa adanya manfaat dari kombinasi
tersebut, termasuk peningkatan gejala-gejala parkinson

b.

Venlafaxine
Seseorang dengan peningkatan sindrom serotonin 15 hari setelah memberhentikn penggunaan
selegiline 50 mg (perhari)dan selama 30 menit pada awal penggunaan venlafaxine 37,5 mg.

34. Selegiline + Cocain


Cocain dan selegiline tidak berinteraksi secara langsung
Berdasarkan pengamatan terhadap 5 orang yang diberikan cocaine dengan dosis 0,20 dan 40 mg,
lalu satu jam kemudian diberikan selegiline dengan dosis 10 mg secara oral. Maka, Coccaine akan
meningkatkan denyut jantung,tekanan darah, diameter pupil dan euphoria. Bagaimanapun,
pemberian selegiline mengurangi diameter pupil, tetapi tidak merubah dilatasi pupil atu efek
lainnya yang ditimbulkan setelah pemberian cocaine. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan kedua
obat tersebut aman jika digunakan secara bersamaan dan tidak menguatkan efek cocaine.
Diposkan oleh wols di 08.05
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Label: Pendidikan, Pengertian

Tidak ada komentar:


Poskan Komentar
Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda

Langganan: Poskan Komentar (Atom)


Entri Populer

Outfit Of The Day Hijab


Outfit of the day hijab . Saat ini para hijaber tidak lagi bingung untuk tampil stylish, banyak yang bisa di
jadikan referensi berhijab sa...

7 Vintage Muslimah Style


Vintage muslimah style . Gaya vintage dengan berbagai modelnya selalu menjadi pilihan yang seakan tidak
pernah tergerus oleh perubahan tre...

Pretty in Peplum Hijab


Pretty in Peplum Hijab . Setiap wanita tentu ingin tampil dengan bentuk tubuh yang sempurna, namun tidak
semuanya memiliki tubuh seperti itu...

Tips Busana Muslim Untuk Orang Gemuk


Tips Busana Untuk Orang Gemuk. Fashion itu milik semua orang yang ingin tampil modis, bukan hanya untuk
mereka yang bertubuh ideal atau yan...

Pengertian Globalisasi
Pengertian Dan Penjelasan Globalisasi Seperti yang disitir dalam Artikel ini, kata globalisasi diambil dari kata
global, yang maknanya ial...

Tutorial Hijab Ramadhan Rose Dian Pelangi


Tutorial Hijab Ramadhan Rose Dian Pelangi - Melihat gaya hijab yang dipakai para model saat memamerkan
busana muslim rancangan Dian Pelangi...


Cewek 11 Tahun Dengan Hijab Trendy
Cewek 11 Tahun Dengan Hijab Trendy . Fenomena berhijab tidak hanya untuk wanita muslim yang dewasa tapi
juga anak-anak. Lihat saja aksinya d...

Hijab Fashion Style dengan Motif Bunga


Hijab Fashion Style dengan Motif Bunga. Setiap wanita ingin memancarkan sisi feminin dan lembut dalam
berbusana. Menjaga penampilan dalam h...

Koleksi Busana Muslim Terbaru Dian Pelangi Bernuansa Maroko


Koleksi Busana Muslim Terbaru Dian Pelangi Bernuansa Maroko - Trunk show yang diadakan oleh departement
store Galeries Lafayette dengan tem...

Interaksi Obat Anti Parkinson


1.
Levodopa + Antasid Antasid tidak berinteraksi secara signifikan dengan levodopa, walaupun ada
beberapa kejadian ada beberapa kejad...
Arsip Blog

2013 (895)

Oktober (19)

September (86)

Agustus (34)

Juli (82)

Juni (470)

Lomba Perancang Mode Femina Group

Koleksi Busana Muslim Terbaru Stephanus Hamy Di JI...

Fabulous Moslem Of Indonesia Koleksi Busana Muslim...

Dian Pelangi Hadirkan Busana Muslim di IIFF 2013

Koleksi Busana Pria Roberto Cavalli Spring Summer ...

Tips Memilih Warna Busana Sesuai Warna Kulit

Koleksi Busana Muslim Terbaru Beatnik by Ria Miran...

Elegance Forever Koleksi Busana Muslim Adrianto Ha...

Hijab Sreet Style

The Simsons Koleksi Sepatu Sneakers Dari Converse

Cara Membuat Aksesoris Jilbab nan Cantik

Cara Memakai Jilbab Arabian Style

Media Pembiakan

Gambaran Klinis

Infeksi Asending

Infeksi Enterococcus Faecalis

Pengertian Acinetobacter

Pseudomonas Aeroginosa

Pengertian Etiologi

Pengertian Epidemiologi

Infeksi Saluran Kemih

Koleksi Baru Sepatu Dan Sandal Wanita Crocs Juni 2...

TUTORIAL HIJAB: Tren Gaya Hijab Untuk Mahasisiwi M...

Tips Berhijab Ala Okky Asokawati

Pilihan Baju Pengantin Untuk Wanita Berhijab

Discretionary Access Control

Pengamanan Komputer dari Faktor sistem Operasi

Enkripsi Public Key

Enkripsi Konvensional

Enkripsi Untuk Keamanan Data Pada Jaringan

Pengertian Sniffer

Password Attack

Kepedulian Masalah Jaringan Komputer

Jaringan Komputer

Fatwa Majlis Ulama Indonesia

Penerapan Etika Adminitrasi

Perilaku tidak etis di birokrasi pemerintah

Bentuk Kegagalan Etika

Implementasi Etika dalam Birokrasi

Asas-asas Birokrasi

Analisis Etika Pejabat Birokrasi Indonesia

Pengertian Etos Kerja

Badan Geologi Indonesia

Tampilan Hijab Modis untuk Tubuh Berisi

Koleksi Busana Pria Bottega Veneta Spring Summer 2...

Cara Lain Memakai Jillbab Dengan Headband

Relevansi Postmodernisme bagi kehidupan Masa Kini

Postmodernisme dan Kritik Pembangunan

Kritik terhadap Postmodernisme

Teoretisi Postmodernisme

Strukturalisme dalam Kerangka Marxisme

Ralisme, Pluralisme dan Strukturalisme

Strukturalisme dan Sistem Internasional

Pluralisme dan Keberagaman Aktor

Realisme dan Peran Sentral Negara

Realisme dan Liberalisme

Perspektif Konfrontatif

The Clash of Perspectives

Hubungan Internasional

Sekilas Ringkasan Realisme

Tips Smart Tampil Gaya dengan Busana Tabrak Motif

Faktor Yang Menghambat Pelaksanaan Pendaftaran Tan...

Tujuan Pendaftaran Tanah

Konsep Pendaftaran Tanah

Waktu Berbuka Puasa

Hal-Hal Yang Membatalkan Puasa

Wajib Imsak

Tutorial Hijab Untuk Pipi Chubby

Sertifikat Hak Milik Atas Tanah

Pengertian Ajudikasi

Proses Pendaftaran Sertifikat Hak Milik

Pengertian Sertifikat Hak Milik

Pedagang Pasar Tradisional Terancam

Strategi Inovasi Pasar Tradisional

Orang Yang Diberi Kelonggaran Untuk Tidak Puasa Ra...

Rukun Puasa

Masyru'iyat dan Matlamat Puasa Ramadhan

Network Planning

Rencana Kerja Dan Rencana Lapangan

Unsur-Unsur Pelaksana Pembangunan

Unsur Dasar Management

Hubungan Managment Dengan Adminitrasi

Proses dan Fungsi Management

Construction management

Perkembangan Managemant Kontruksi

Tujuan managemant konstruksi

Koleksi Busana Wannita Resort 2014 Diane Von Furst...

Tampil Berani dengan Hijab Tabrak Motif

Cara Memakai Jilbab Kepang Untuk kebaya

10 Profesi Unik Wanita Berjilbab

MEMANFAATKAN BOTOL BEKAS SEBAGAI PERANGKAP NYAMUK

Ekonomi Pengetahuan Global

Dampak globalisasi terhadap organisasi dan manajem...

Lingkungan Bisnis dalam Ekonomi Global

Ekonomi Global

Dampak Kultural Dalam Perdagangan

Dinamika Kultural Dalam Pemasaran Global

Pengertian Pasar Lelang

MENGHADAPI KOMPETISI GLOBAL

Manajemen Pemasaran

Mei (64)

April (43)

Maret (36)

Februari (28)

Januari (33)

2012 (144)
Mengenai Saya

wols
Lihat profil lengkapku

Template Simple. Diberdayakan oleh Blogger.

Nama Obat Generik :


Theophylline / Teofilin
Nama Obat Bermerek :
Bronsolvan
KOMPOSISI
Tiap tablet Bronsolvan mengandung Theophylline (Teofilin) 150 mg.Tiap 15 ml
sirup Bronsolvan mengandung Theophylline (Teofilin) 150 mg.
FARMAKOLOGI (CARA KERJA OBAT)
Teofilin merupakan turunan metilxantin yang mempunyai efek antara lain
merangsang susunansaraf pusat dan melemaskan otot polos, terutama bronkus.
INDIKASI
Indikasi Bronsolvan adalah untuk meringankan dan mengatasi serangan asma
bronkial.
KONTRAINDIKASI

Hipersensitivitas atau alergi terhadap komponen obat.

Penderita tukak lambung.


PERINGATAN DAN PERHATIAN

Hati-hati pemberian Bronsolvan pada hipoksemia, hipertensi, atau penderita


yangmempunyai riwayat tukak lambung.

Bronsolvan dapat mengiritasi saluran gastrointestinal.

Hati-hati pemberian Bronsolvan pada wanita hamil, menyusui, dan anak-anak.

Pemberian Bronsolvan jangan melampaui dosis yang dianjurkan dan bila dalam 1
jamgejala-gejalanya masih tetap atau bertambah buruk, agar menghubungi
puskesmas ataurumah sakit terdekat.

Hati-hati pemberian Bronsolvan pada penderita kerusakan fungsi hati, penderita


di atas55 tahun terutama pria dan pada penyakit paru-paru kronik.
EFEK SAMPING
Efek samping Bronsolvan yang dapat timbul adalah sebagai berikut :

Gastrointestinal : mual, muntah, diare.

Susunan saraf pusat : sakit kepala, insomnia.

Kardiovaskular : palpitasi, takikardia, aritmia ventrikuler.

Pernapasan : takipnea

Ruam kulit, hiperglikemia


INTERAKSI OBAT

Bronsolvan jangan diberikan bersamaan dengan preparat xantin yang lain.

Simetidin, eritromisin, troleandomisin dan kontrasepsi oral dapat meningkatkan


kadarteofilin serum.

Rifampisin menurunkan kadar teofilin serum.


DOSIS DAN CARA PEMBERIAN
Dewasa : 1 tablet Bronsolvan atau 15 ml sirup Bronsolvan, 3 kali sehari.Anakanak 6-12 tahun : tablet atau 7,5 ml sirup Bronsolvan, 3 kali sehari.Atau sesuai
petunjuk dokter.
KEMASAN
Tablet, Dus, Isi 10 Strip x 10 tablet.Sirup, Botol, isi 100 ml.
KETERANGAN
Kocok terlebih dahulu.Simpan di bawah suhu 30 C. Simpan dalam keadaan
tertutup rapat.Brand:
:
Kalbe Farma

ProductCode:
:

GKomposisi
:
TheophyllineIndikasi
:
Meredakan dan mengobati asma bronkial.Dosis
:
Dewasa : 1 tablet. Anak 6-12 tahun : 1/2-1 tablet atau 1 1/2 sendok takar. Anak
1-6 tahun : 1 sendok takar. Diberikan 3 kali/hari.PemberianObat
:
Dapat diberikan bersama makanan jika timbul rasa tidak nyaman pada
salurancernaKontraIndikasi
:
Tukat peptik.Perhatian
:
Hipoksemia, hamil, laktasi, anak. Gagal hati, usia lanjut, penyakit
pernafasankronis, bayi.EfekSamping
:
Mual, muntah, nyeri pada ulu hati, sakit kepala, iritasi, insomnia (sulit
tidur), berdebar, takiaritmia, takipnea (pernapasan yang cepat), ruam
kulit,hiperglikemia.InteraksiObat
:
Simetidin, eritromisin, troleansomisin dan kontrasepsi oral, derivat xantin
:meningkatkan efek obat. Rifampisin : menurunkan efek obat.Kemasan
:
Sirup 150 mg/15 mL x 100 mL x 1