Anda di halaman 1dari 25

KATALIS HOMOGEN

Katalis adalah suatu zat yang dapat mempercepat laju


reaksi reaksi kimia pada suhu tertentu, tanpa mengalami
perubahan atau terpakai oleh reaksi itu sendiri

Katalis dapat dibedakan ke


dalam dua golongan utama:
katalis homogen dan katalis
heterogen

Katalis homogen adalah


senyawa yang memiliki fase
sama dengan reaktan ketika
reaksi kimia berlangsung

Katalis homogen ini mempunyai kelemahan yaitu: mencemari


lingkungan, dan tidak dapat digunakan kembali. Contoh Katalis
Homogen : Katalis dan pereaksi berwujud gas, dan katalis dan pereaksi
berwujud cair. Sebagian besar reaksi katalis homogen adalah asam
basa, seperti halnya reaksi hidrolisis dari ester atau mutarotasi glukosa.

KATALIS HOMOGEN
Bila sistem reaksinya berfasa padat, maka
katalis yang digunakan berfasa padat
Bila sistem reaksinya berfasa cair maka
katalisnya berfasa cair
Bila sistem reaksinya berfasa gas maka
katalisnya berfasa gas.
Dari ketiga fasa sistem reaksi, yang paling
sering terjadi dan dilakukan adalah sistem
cair.

KATALIS HOMOGEN
Yang akan dibahas
Katalis homogen fasa cair terutama yang melibatkan air
baik pelarut, sebagai reaktan maupun sebagai reaktan
sekaligus sebagai pelarut
Contoh:
Esterifikasi dan saponifikasi ester dengan katalis asam,
Dekomposisi hidrogen peroksida oleh ion di dalam larutan,
Inversi sukrosa dan mutarotasi glukosa dg katalis asam
atau basa,
Proses metabolisme di dalam tubuh misal reaksi antara
hemoglobine dengan oksigen

MEKANISME REAKSI
Tanpa Katalis
A + B AB# C
Molekul A langsung berinteraksi dg molekul B
membentuk komplek teraktivasi AB # yg
kemudian berubah menjadi hasil reaksi

Mekanisme Reaksi
Dengan Katalis
Intermediate Akat sebagai hasil dari reaksi
antara katalis dg salah satu reaktan
A + kat k1
Akat (intermediate)
k2

Pembentukan kompleks teraktivasi sbg


hasil reaksi antara intermediate dg
reaktank3kedua
Akat + B (AB#)kat (kompleks teraktivasi)

Mekanisme Reaksi
Pembentukan produk dan regenerasi
katalis
k4
(AB#)kat kat + C +
Pembentukan kompleks teraktivasi (AB#)kat sbg
hasil interaksi antara intermediate Akat dg
reaktan kedua (molekul B) merupakan tahapan
yang memerlukan tenaga paling besar
dibandingkan dua tahapan yang lain sehingga
(AB#)kat merupakan kompleks teraktivasi
Pemilihan kompleks teraktivasi didasarkan atas
energi pembentukannya

Tahapan Penentu Laju (rate


determining step)
Selain energi pembentukan, faktor lain yang menentukan
laju diantaranya adalah konsentrasi:
Tahapan Pembentukan Akat
A + kat

k1

Akat

k2

Laju pembentukan Akat


Dimana
k1 = A1 e;E1/RT

d[ Akat] = k1[A] [kat]


dt

Dari segi energi tahapan ini mudah berlangsung, [A]


dan [kat] tersedia cukup banyak, sehingga secara
keseluruhan laju tahapan ini cukup besar, dan
setelah reaksi berlangsung sesaat konsentrasi Akat
sudah cukup besar

Tahapan Penentu Laju (rate


determining step)
Tahapan pembentukan (AB#)kat
Laju pembentukan (AB#)kat dari tahapan
k3

Akat + B (AB#)kat

d(AB#)kat = k3[Akat] [B]


dt

Dimana
k3 = A3 e-E3/RT
Dari segi energi tahapan ini susah berlangsung namun
dilain pihak ketersediaan [Akat] cukup besar, sehingga
secara keseluruhan laju tahapan ini cukup besar.

Tahapan Penentu Laju (rate


determining step)
Tahapan Dekomposisi (AB#)kat
Laju dekomposisi (AB#)kat dari tahapan
k

4
(AB#)kat
kat + C+

Dimana
k4 = A4 e-E4/RT

d[C]/dt = - d(AB#)kat = k4(AB#)kat


dt

Dari segi energi, tahapan ini mudah berlangsung namun


demikian (AB#)kat yang tersedia tidak cukup banyak apalagi
pada awal reaksi, sehingga secara keseluruhan laju tahapan ini
sangat kecil

Energi Potensial

Kompleks teraktivasi
Tenaga
pengaktifan

Penghalang energi
tanpa katalis

Ea.f
Penghalang energi
dengan katalis

Ea.f

Katalis

Reaktan

Ea.r

Ea.r

Menurunkan energi aktivasi


Produk
Koordinat reaksi

Proses Katalitik
Terbentuk intermediate dengan disertai
perubahan tenaga potensial sistem dari keadaan
awal yang besarnya sama dengan panas
pembentukan senyawa Akat .
Pembentukan kompleks teraktivasi yang
menyerap tenaga sebesar tenaga pengaktifan

Dekomposisi kompleks teraktivasi menjadi


hasil akhir dengan melepaskan tenaga

Hitungan Kinetika Reaksi


Teori kompleks teraktivasi
mengemukakan bahwa laju reaksi
ditentukan oleh dekomposisi kompleks
teraktivasi menjadi produk:
d[C]/dt = - d(AB#)kat = k4(AB#)kat
Kompleks teraktivasi kadang hanya merupakan
dt
senyawa hipotesis karena kestabilannya yang rendah,
karena tidak diperoleh dalam keadaan stabil maka tidak
dapat diukur konsentrasinya.

Hitungan
Kinetika Reaksi
Untuk menyelesaikan persamaan laju reaksinya maka
konsentrasi kompleks teraktivasi diukur dengan konsentrasi
senyawa yang dapat diukur.
Pada kondisi mapan (steady state) maka konsentrasi kompleks
teraktivasi konstan atau tidak berubah dengan bertambahnya
waktu.
d(AB#)kat = k3(Akat) [B] - k4[(AB#)kat] = 0
dt
Maka:
[(AB#)kat] = k3/k4 (Akat) [B]

Hitungan
Kinetika Reaksi
Karena reaksi pembentukan intermediate Akat adalah reversibel,
sehingga dengan keadaan stationer/ kondisi mapan diperoleh:
d[Akat] = k1[A] [kat] - k2[Akat] - k3[Akat] [B]
dt
dan
[Akat] = k1 [A] [kat]
k2 + k3 [B]

Hitungan
Kinetika Reaksi
Dikembalikan ke persamaan semula
d[C] = k1k3[A] [B][kat]
dt
k2+k3[B]
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa laju
reaksi berbanding langsung dengan konsentrasi
katalis.
Untuk menyederhanakan persamaan diatas dapat
diambil dua kondisi batas.

Hitungan
Kinetika Reaksi
Kondisi batas pertama bila tetapan laju reaksi dekomposisi
intermediate menuju reaktan jauh lebih besar dibanding laju
pembentukan kompleks teraktivasi, sehingga k2 >> k3 maka:
d[C] = k1k3[A] [B][kat]
dt
k2
Terlihat bahwa laju reaksi berbanding langsung dengan
konsentrasi katalis dan reaktan. Dalam hal ini intermediate
disebut sebagai intermediate Arhenius.

Hitungan
Kinetika Reaksi
Kondisi batas kedua adalah sebaliknya bila tetapan laju
pembentukan kompleks jauh lebih besar dibanding dekomposisi
intermediate, sehingga k2 << k3 maka:
d[C] = k1 [A] [kat]
dt
Yang menyatakan bahwa semua intermediate berubah
menjadi produk dan laju reaksi berbanding langsung
dengan konsentrasi reaktan yang bereaksi dengan katalis
membentuk intermediate. Dalam hal ini intermediate
disebut intermediate vant Hoff.

Reaksi Katalisis Satu Reaktan

AC+
Pembentukan intermediate Akat sebagai hasil dari
reaksi reversibel antara katalis dengan reaktan
merupakan tahapan satu-satunya yang memerlukan
tenaga maka Akat merupakan intermediate dan juga
sebagai kompleks teraktivasi.
Karena merupakan satu-satunya tahapan maka juga
merupakan tahapan yang paling lambat atau
tahapan penentu laju reaksi (rate determining step)

Tahapan Penentu Laju (rate


determining step)
Tahapan Pembentukan Akat
k1

A + kat

Akat
k2

Laju pembentukan Akat


d[ Akat] = k1[A] [kat]
dt

Tahapan Penentu Laju (rate


determining step)
Tahapan Dekomposisi Akat
Laju dekomposisi Akat dari tahapan
k3

Akat kat + C+

d[C]/dt = - d(Akat) = k3Akat

Laju reaksi ditentukan oleh laju dekomposisi kompleks


dt
teraktivasi menjadi produk:
d[C] = k3 Akat

Hitungan
Kinetika Reaksi
Pada kondisi mapan (steady state) maka konsentrasi kompleks
teraktivasi konstan atau tidak berubah dengan bertambahnya
waktu
d[Akat] = k1[A] [kat] - k2[Akat] - k3[Akat] = 0
dt
Sehingga:
[Akat] = k1 [A] [kat]
k2 + k3

Hitungan
Kinetika Reaksi
Dikembalikan ke persamaan semula
d[C] = k1k3[A] [kat]
dt
k2+k3
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa laju
reaksi berbanding langsung dengan konsentrasi
katalis dan konsentrasi reaktan.
Untuk menyederhanakan persamaan diatas dapat
diambil dua kondisi batas.

Hitungan
Kinetika Reaksi
Kondisi batas pertama bila tetapan laju reaksi dekomposisi
intermediate menuju reaktan jauh lebih besar dibanding laju
pembentukan produk reaksi, sehingga k2 >> k3 maka:
d[C] = k1k3[A] [kat]
dt
k2
Terlihat bahwa laju reaksi berbanding langsung dengan
konsentrasi katalis dan reaktan. Dalam hal ini intermediate
disebut sebagai intermediate Arhenius.

Hitungan
Kinetika Reaksi
Kondisi batas kedua adalah sebaliknya bila tetapan laju
pembentukan kompleks jauh lebih besar dibanding dekomposisi
intermediate, sehingga k2 << k3 maka:
d[C] = k1 [A] [kat]
dt
Yang menyatakan bahwa semua intermediate berubah
menjadi produk dan laju reaksi berbanding langsung
dengan konsentrasi reaktan yang bereaksi dengan katalis
membentuk intermediate. Dalam hal ini intermediate
disebut intermediate vant Hoff.

Etilena
Fasa gas

H2
Fasa gas
Etilena, C2H4
teradsorpsi
C2H5,
Zat antara

Permukaan Pt

Etana, C2H6
terdesorpsi

Atom H2
teradsorpsi
Etana, C2H6
teradsorpsi