Anda di halaman 1dari 24

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS PADA KELOMPOK PENYAKIT

KRONIS
Dosen :
Fatma sayekti S.kep., Ns., M.kep.,

Kelompok :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

IKE BETTY SORAYA


(13620848)
IRYATI N. I
(13620849)
INAYATUN TOYIBBAH (13620850)
KHAIRA A.
(13620851)
KRISTOPORUS A.
(13620852)
KURNIAWAN N.
(13620853)
LERINA DINDA C.
(13620854)
LIA VIDYA O.
(13620855)
LIA WIDA N.
(13620856)
AHMAD ERVAN
(11620682)
RYAN DWI S.
(11

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS KADIRI
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya penyusun
dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Asuhan Keperawatan komunitas pada

kelompok penyakit kronis. Penyusunan makalah ini dilakukan untuk memenuhi tugas
mata kuliah Keperawatan komunitas.
Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa terselesaikannya makalah ini, berkat
bimbingan, bantuan, dan kerja sama serta dorongan berbagai pihak sehingga dapat
terselesaikan dengan baik. Pada kesempatan ini, dengan segala hormat penyusun
mengucapakan terima kasih kepada:
1. Fatma sayekti S.kep., Ns., M.kep., selaku pembimbing yang selalu sabar
memberikan

perhatian, bimbingan, pengarahan serta saran-saran dalam

pembuatan Makalah ini.


2. Teman-teman kelas PSIK 6A, yang telah berusaha membantu, memberikan ide,
pendapat serta dorongan sehingga terselesaikannya makalah ini.
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh
karena itu, penyusun mengharapakan kritik dan saran demi kesempurnan penyusunan
makalah yang selanjutnya. Akhirnya penyusun berharap semoga isi makalah ini dapat
memberikan manfaat bagi siapa saja yang memerlukannya di masa yang akan datang.
Kediri, 16 Mei 2016

Penyusun,

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Diabetes Melitus adalah kelainan metabolik yang ditandai dengan intoleren glukosa.
Penyakit ini dapat dikelola dengan menyesuaikan perencanaan makanan , kegiatan
jasmani dan pengobatan yang sesuai dengan konsensus pengelolaan diabetes di Indonesia
dan perlunya diadakan pendekatan individual bagi edukasi diabetes, yang dikenal dengan
Pentalogi Terapi DM meliputi :
1. Terapi Primer, yang terdiri dari : Penyuluhan Kesehatan, Diet Diabetes, Latihan Fisik.
2. Terapi Sekunder, yang terdiri dari : Obat Hipoglikemi
Diabetes Militus berhubungan dengan meningkatnya kadar glukosa darah dan
bertambahnya risiko komplikasi gawat darurat bila tidak dikelola dengan baik
(Soegondo,1999). Komplikasi dapat timbul oleh karena ketidak patuhan pasien dalam
menjalankan program terapi sebagai berikut : pengaturan diet, olah raga dan penggunaan
obat-obatan (Putra,1995). Berbagai penelitian telah menunjukan ketidak patuhan pasien
DM terhadap perawatan diri sendiri( Efendi Z,1991).
Disamping peningkatan prevalensi DM,

penderita memerlukan perawatan yang

komplek dan perawatan yang lama. Kepatuhan berobat merupakan harapan dari setiap
penderita DM. Berarti setiap penderita DM sanggup melaksanakan instruksiinstruksi
ataupun

anjuran

dokternya

agar

penyakit

DM

nya

dapat

dikontrol

dengan

baik(Haznam,1986). Pada umumnya penderita DM patuh berobat kepada dokter selama ia


masih menderita gejala / yang subyektif dan mengganggu hidup rutinnya sehari-hari.
Begitu ia bebas dari keluhan keluhan tersebut maka kepatuhannya untuk berobat
berkurang.
Ketidakpatuhan

ini sebagai masalah medis yang sangat berat, Taylor [ 1991]. La

Greca & Stone [ 1985] menyatakan bahwa mentaati rekomendasi pengobatan yang
dianjurkan dokter merupakan masalah yang sangat penting . Tingkat ketidakpatuhan
terbukti cukup tinggi dalam populasi medis yang kronis.
1

Walaupun pasien DM telah mendapatkan pengobatan , masih banyak pasien tersebut


mengalami kegagalan. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor antara lain: pengetahuan
yang relatif minim tentang penyakit DM, tidak menjalankan diet dengan baik dan tidak
melakukan latihan fisik secara teratur (Tjokroprawiro,A.,1991).
Dalam meningkatkan pengetahuan pasien tentang penyakit DM diperlukan suatu proses
yang berkesinambungan dan sesuai dengan prinsip-prinsip penatalaksanaan DM. Prinsip
tersebut meliputi :
1.
2.
3.
4.
5.

Dukungan yang positif untuk menghindari kecemasan.


Pemberian informasi secara bertahap.
Mulai dengan hal sederhana
Penggunaan alat bantu pandang (audio visual ).
Lakukan pendekatan dan stimulasi

Materi penyuluhan ini meliputi pengaturan diet yang ditekankan pada 3 J : jenis, jadwal
dan jumlah diet yang diberikan kepada pasien DM. Disamping itu materi penyuluhan
difokuskan pada aktifitas fisik secara teratur dan penggunaan obat anti diabetik secara
realistis. Ketiga hal ini merupakan kunci pokok keberhasilan program terapi DM.
Dari uraian diatas , maka perlu diadapak penelitian guna mengetahui faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi kepatuhan pasien dalam menjalankan program terapi, sehingga hasil
penelitian ini dapat memberikan masukan bagi perawat khususnya dalam menberikan
asuhan keperawatan pada pasien DM.
1.2 Tujuan
1. Mengetahui asuhan keperawatan komunitas pada penderita DM
2. Mengetahui masalah-masalah dan diagnosa keperawatan komunitas pada pasien DM
3. Merencanakan asuhan keperawatan komunitas pada penderita DM
4. Mengidentifikasi pengaruh tingkat pendidikan terhadap kepatuhan pasien DM dalam
menjalankan program terapi.

BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian
Diabetes militus adalam penyakit metabolik yang kebanyakan herediter dengan
tanda hiperglikemia dan glukosuria, disertai dengan atau tidak adanya gejala klinik akut
maupun kronik, sebagai akibat dari kurangnya insulin efektif maupun insulin absolut
dalam tubuh. Gangguan primer terletak pada metabolisme karbohidrat, yang biasanya
disertai juga gangguan metabolisme protein dan lemak.
Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh
kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner dan Suddarth, 2002).
Diabetes Melllitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang
disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan
insulin baik absolut maupun relatif (Arjatmo, 2002).
2.2 Klasifikasi
1. Diabetes tipe 1
- kerusakan sel mengarah kepada defisiensi insulin absolut
A. Imun
B. Idiopatik
2. Diabetes tipe 2 (80%)
- defisiensi insulin relatif sampai defek sekresi (tidak tergantung insulinNIIDM)
3. DM kehamilan (Gestational DM)

2.3 Etiologi

DM mempunyai etiologi yang heterogen, dimana berbagai lesi dapat menyebabkan


insufisiensi insulin, tetapi determinan genetik biasanya memegang peranan penting pada
mayoritas DM. Faktor lain yang dianggap sebagai kemungkinan etiologi DM yaitu :
a) Kelainan sel beta pankreas, berkisar dari hilangnya sel beta sampai kegagalan sel beta
melepas insulin.
b) Faktor faktor lingkungan yang mengubah fungsi sel beta, antara lain agen yang
dapat menimbulkan infeksi, diet dimana pemasukan karbohidrat dan gula yang
diproses secara berlebihan, obesitas dan kehamilan.
c) Gangguan sistem imunitas. Sistem ini dapat dilakukan oleh autoimunitas yang disertai
pembentukan sel sel antibodi antipankreatik dan mengakibatkan kerusakan sel sel
penyekresi insulin, kemudian peningkatan kepekaan sel beta oleh virus.
d) Kelainan insulin. Pada pasien obesitas, terjadi gangguan kepekaan jaringan terhadap
insulin akibat kurangnya reseptor insulin yang terdapat pada membran sel yang
responsir terhadap insulin.
e)
2.4 Patofisiologi
Sebagian besar gambaran patologik dari DM dapat dihubungkan dengan salah satu efek
utama akibat kurangnya insulin berikut:
1. Berkurangnya pemakaian glukosa oleh sel sel tubuh yang mengakibatkan
naiknya konsentrasi glukosa darah setinggi 300 1200 mg/dl.
2. Peningkatan mobilisasi lemak dari daerah penyimpanan lemak yang menyebabkan
terjadinya metabolisme lemak yang abnormal disertai dengan endapan kolestrol
pada dinding pembuluh darah.
3. Berkurangnya protein dalam jaringan tubuh.
Pasien pasien yang mengalami defisiensi insulin tidak dapat mempertahankan kadar
glukosa plasma puasa yang normal atau toleransi sesudah makan. Pada hiperglikemia yng
4

parah yang melebihi ambang ginjal normal ( konsentrasi glukosa darah sebesar 160 180
mg/100 ml ), akan timbul glikosuria karena tubulus tubulus renalis tidak dapat
menyerap kembali semua glukosa. Glukosuria ini akan mengakibatkan diuresis osmotik
yang menyebabkan poliuri disertai kehilangan sodium, klorida, potasium, dan pospat.
Adanya poliuri menyebabkan dehidrasi dan timbul polidipsi. Akibat glukosa yang keluar
bersama urine maka pasien akan mengalami keseimbangan protein negatif dan berat badan
menurun serta cenderung terjadi polifagi. Akibat yang lain adalah astenia atau kekurangan
energi sehingga pasien menjadi cepat telah dan mengantuk yang disebabkan oleh
berkurangnya atau hilangnya protein tubuh dan juga berkurangnya penggunaan
karbohidrat untuk energi.
Hiperglikemia yang lama akan menyebabkan arterosklerosis, penebalan membran
basalis dan perubahan pada saraf perifer. Ini akan memudahkan terjadinya gangren.
2.5 Tanda dan gejala
Gejala yang sering muncul pada DM, yaitu :
a) Poliuria (banyak dan sering kencing)
b) Polipagia (banyak makan)
c) Polidipsi (banyak minum)
kemudian diringi dengan keluhan-keluhan :
a) Kelemahan tubuh, lesu, tidak bertenaga.
b) Berat badan menurun
c) Rasa kesemutan, karena iritasi (perangsangan) pada serabut-serabut saraf
d) Kelainan kulit, gatal-gatal, bisul-bisul
e) Infeksi saluran kencing
f) Kelainan ginjal kalogi: keputihan

g) Infeksi yang sukar sembuh


Pada pemeriksaan laboratorium:
a) Kadar gula darah meningkat
b) Peningkatan plasma proinsulin dan plasma C polipeptida
c) Glukosuria
2.6 Test diagnosa
a) Test Glukosa darah
b) Gula dalam urine
c) Glukosa toleran test
d) Plasma proinsulin
2.7 Pengobatan
a) Diit rendah kalori
b) Exercise untuk meningkatkan jumlah dan fungsi reseptor site
c) Insulin diberikan bila dengan oral tidak efektif
d)
e) Khusus untuk ganggren :
-

Ringan atau lokasi bukan daerah ekstremitas dilakukan nekrotomi luas di OK

Berat dan lokasinya pada ektremitas pertimbangan amputasi

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 KASUS
Di RT 3 RW 5 kelurahan Margo Rukun terdapat penduduk yang menderita diabetes
melitus berjumlah 300 orang, 55 % wanita yaitu sebanyak 180 orang dan 45 % laki-laki sebanyak 120
orang. Dari jumlah penduduk yang menderita diabetes melitus tersebut sebanyak 150 orang (50 %)
usia dewasa dan 30% usia lansia sebanyak 90 orang, serta 20% ibu hamil sebanyak 60 orang. Dari data

tersebut diketahui Diabetes Melitus dengan tipe IDDM 25% sebanyak 75 orang, NIDDM 35%
sebanyak 105 orang, dan DM dengan gangren 30% sebanyak 90 orang, serta DM gestasional sebanyak
30 orang (10 %). Dari penduduk yang menderita DM sangat sedikit sekali penderita DM yang rutin
memeriksakan kadar gula darahnya. Asuhan keperawatan ini menggunakan pendekatan proses
keperawatan yang meliputi : pengkajian status kesehatan masyarakat, perumusan diagnosa
keperawatan, dan perencanaan keperawatan. Pemberian asuhan keperawatan melibatkan kader
kesehatan, tokoh masyarakat dan pimpinan wilayah tersebut.

3.2PENGKAJIAN
Pengkajian menggunakan pendekatan community as partner meliputi : data inti dan data sub
sistem.
3.2.1 Data Inti komunitas meliputi ;
1.

Riwayat atau sejarah perkembangan komunitas


Lokasi

Propinsi

: Jawa Timur

Kabupaten/ kotamadya

: Pacitan

Kecamatan

: Sumber Asri

Kelurahan

: Margorukun

Rw

: 05

Rt

: 03

Luas wilayah

: 5.220 m2

Batas wilayah/wilayah

Utara

: Jalan raya melati

Selatan

: RT 06 /RW 04

Barat

: RT 07

Timur

: RT 18/ RW 03

Keadaan tanah menurut pemanfaatannya

Pemukiman : 4550 m2
1. Data demografi
1)

Jumlah penderita hipertensi

: 250 orang

2)

Jumlah penderita TB Paru

: 65 orang

3)

Jumlah penderita asma

: 20 orang

4)

Jumlah penderita DM

: 300 orang

Berdasarkan kelompok penderita DM

Anak-anak

:-

Remaja

:-

Dewasa

: 150 orang (50 %)

Lansia

: 90 orang (30 %)

Ibu hamil

: 60 orang (20%)

Berdasarkan agama

Islam

: 20 orang (80%)

Kristen

: 30 orang (10%)

Hindu

: 15 orang (5%)

Budha

: 15 orang (5%)

Konghucu

:-

Katolik

:-

Berdasarakan suku bangsa


Jawa
Madura
Sunda
WNI keturunan
Jumlah penderita DM gangrene
Status perkawinan
Kawin
Tidak kawin
Duda
Janda

: 210 orang (70%)


: 75 orang (25%)
: 9 orang (3%)
: 6 orang (2%)
: 90 orang
: 195 orang (65%)
: 60 orang (20%)
: 30 orang (10%)
: 15 orang (5%)

3.2.2 Data sub sistem


1. Data lingkungan fisik
a.

Sumber air dan air minum


Penyediaan Air bersih
PAM
Sumur
Sungai

: 180 orang (60%)


: 120 orang (40%)
:-

Penyediaan air minum

PAM

: 150 orang (50%)

Sumur

: 90 orang (30%)

Sungai

Lain-lain/air mineral

:-

Pengolahan air minum


Masak
Tidak dimasak
Pengelolaan air minum
Selalu dimasak
Air mentah

: 60 orang (20%)
: 300 orang (100%)

:: 300 orang (100%)


:-

b. Saluran pembuangan air/sampah


Kebiasaan membuang sampah

Diangkut petugas

: 30%

Dibuang sembarangan

: 70%

Pembuangan air limbah

Got/parit

: 100%

Sungai

:-

Keadaan pembuangan air limbah

c.

Baik/lancar

Kotor

: 25%
: 75%

Jamban
Kepemilikan jamban
Memiliki jamban

: 80%

10

Tidak memiliki jamban

: 20%

Macam jamban yang dimiliki

Septitank

: 75%

Disungai

: 25%

Keadaan jamban

Bersih

: 45%

Kotor

: 55%

d. Keadaan rumah
Tipe rumah
Tipe A/permanen

: 210 orang (70%)

Tipe B/semipermanen

: 75 orang (25%)

tipe C/tidak permanen

: 15 orang (5%)

Status rumah

Milik rumah sendiri

: 180 orang (60%)

Kontrak

: 120 orang (40%)

Lantai rumah

Tanah

: 30 orang (10%)

Papan

: 90 orang (30%)

Tegel/keramik

: 180 orang (60%)

Ventilasi

Ada

: 240 orang (80%)

Tidak ada

: 60 orang (20%)

Luas kamar tidur

Memenuhi syarat

: 180 orang (60%)

Tidak memenuhi syarat

: 120 orang (40%)

Penerangan rumah oleh matahari


Baik
Cukup
Kurang
e)

: 120 orang (40%)


: 150 orang (50%)
: 30 orang (10%)

Halaman rumah
Kepemilikan pekarangan

11

Memiliki
: 240 orang (80%)
Tidak memiliki
: 60 orang (20%)
Pemanfaatan pekarangan
Ya
: 270 orang (90%)
Tidak
: 30 orang (10%)

2. Fasilitas umum dan kesehatan


a) Fasilitas umum
1

Sarana kegiatan kelompok

Karang taruna
Pengajian
Ceramah agama
PKK

: 1 kelompok
: 2 kelompok
: 1 kelompok
: 1 kali per bulan

Tempat perkumpulan umum

Balai desa
Dukuh
RW
RT
Masjid/Mushola

: ada (1 buah)
: ada (1 buah)
: ada (1 buah)
: ada (1 buah)
: ada (2 buah)

b) Fasilitas kesehatan
1. Pemanfaatan fasilitas kesehatan

Puskesmas
Rumah sakit
Para dokter swasta
Praktek kesehatan lain

: 150 orang (50%)


: 50 orang (16,6%)
: 25 orang (8,3%)
: 75 orang (25%)

2. Kebiasaan check up kesehatan

3. Ekonomi
a.

Rutin tiap bulan


Jarang

: 90 orang (30%)
: 210 orang (70%)

Karekteristik pekerjaan

PNS/ABRI
Pegawai swasta
Wiraswasta

: 60 orang (20%)
: 60 orang (20%)
: 30 orang (10%)

12

Buruh tani/pabrik
b. Penghasilan rata-rata perbulan
<dari UMR
UMR 1.000.000,00
>dari UMR
c.

:150 orang (50%)


: 150 orang (50%)
: 90 orang (30%)
: 60 orang (20%)

Pengeluaran rata-rata perbulan

<dari UMR

: 165 orang (55%)

UMR 1.000.000,00

: 105 orang (35%)

>dari UMR

: 30 orang (10%)

d. Kepemilikan usaha

Toko
Warung makanan
UKM
Tidak punya

: 30 orang (10%)
: 15 orang (5%)
: 9 orang (3%)
: 246 orang (82%)

4. Keamanan dan transportasi


a.

Keamanan

1. Diet makan

Kebiasaan makan makanan manis


Kebiasaan makan makanan berlemak
Lain-lain

: 70% ( 210 org )


: 20% ( 60 org )
:10% ( 30 org )

2. Kepatuhan terhadap diet

Patuh
Kadang-kadang
Tidak patuh

: 25% ( 75 org )
: 30% ( 90 org )
: 45% (135 org )

3. Kebiasaan berolah raga

Sering

: 15% (45 org )

Kadang-kadang

: 40% (120 org )

13

Tidak pernah

: 45% (135 org )

4. Kebiasaan sehari-hari

Memakai alas kaki


Setiap saat

: 60% ( 180 org )

Saat di luar rumah

: 30% ( 90 org)

Jarang memakai

: 10% ( 30 org )

5. Kebiasaan mencuci kaki sebelum tidur


Sering
Kadang-kadang
Tidak pernah

: 10% ( 30 org )
: 15% ( 40 org )
: 75% ( 225 org )

b. Transportasi
1) Fasilitas transportasi

: Jalan raya, angkutan umum, ambulan

2) Alat transportasi yang dimiliki

Sepeda
Motor
Mobil
Lain-lain/ becak

: 90 orang (30%)
: 120 orang (40%)
: 6 orang (2%)
: 84 orang (28%)

3) Penggunaan sarana transportasi oleh masyarakat


Angkutan umum

: 165 orang (55%)

Kendaraan pribadi

: 135 orang (45%)

5. Politik dan pemerintahan


a) Struktur organisasi

: ada

Terdapat kepala desa dan perangkatnya

14

Ada organisasi karang taruna


b) Kelompok layanan kepada masyarakat (pkk, karang taruna, panti, posyandu)
c) Kebijakan pemerintah dalam pelayanan kesehatan

: ada yaitu puskesmas

d) Kebijakan pemerintah khusus untuk penyakit DM

: belum ada

e) Peran serta partai dalam pelayanan kesehatan

: belum ada

6. Sistem komunikasi
a.

Fasilitas komunikasi yang ada

Radio
TV
Telepon/handphone
Majalah/Koran

: 225 orang (75 %)


: 165 orang (55 %)
: 120 orang (40 %)
: 135 orang (45%)

b. Fasilitas komunikasi yang menunjang untuk kelompok DM

c.

Poster tentang diit DM

: ada

Pamflet tentang penanganan DM

: ada

Leaflet tentang penanganan DM

: ada

Kegiatan yang menunjang kegiatan DM


Penyuluhan oleh kader dari masyarakat dan oleh petugas kesehatan dari Puskesmas
: ada tapi jarang

7. Pendidikan
Distribusi pendudukan berdasarkan tingkat pendidikan formal
SD

: 135 orang (45%)

SLTP

: 90 orang (30%)

SLTA
Perguruan tinggi

: 60 orang (20%)
: 15 orang (5%)

8. Rekreasi

15

Tempat wisata yang biasanya dikunjungi taman kota dan alun alun.

Ada program setahun sekali diadakan program wisata bersama kader kesehatan RT 05 RW 03
Kelurahan Margo Rukun.

3.3 Analisa Data


No

1.

Pengelompokan Data
Ds :

Etiologi

Masalah

Dari hasil wawancara di dapat tingkat

Pengetahuan yang

Ketidakpatuhan

pendidikan ada 50% warga yang tidak

kurang

terhadap diet Di RT 3

patuh menjalankan diet

RW 5 kelurahan

Do :

Margo Rukun

- data menyebutkan bahwa tingkat


pendidikan SD sebanyak 135 orang
(45%)
- penyuluhan kader dari masyarakat dan
petugas kesehatan dari puskesmas
jarang ada
- kebiasaan masyarakat makan makanan
yang manis sebanyak 210 orang (70%)
Ds:
2

Dari hasil wawancara didapat ketidak

Faktor penghasilan

Ketidakpatuhan

patuhan masyarakat untuk

yang rendah

masyarakat/penderita

melaksanakan check up kesehatan

DM melaksanakan

sebanyak 219 orang (70%)

check up kesehatan

Do:

Di RT 3 RW 5

- sebanyak 210 orang jarang check

kelurahan Margo

up/bulan

Rukun

- lulusan SD sebanyak 135 orang


- lulusan SLTP sebanyak 90 orang
- penghasilan < UMR sebanyak 150
orang
- penghasilan UMR-1.000.000
sebanyak 90 orang
- penghasilan > UMR 60 orang

Ds:
3

Dari hasil wawancara didapat jumlah

Kurangnya

Resiko

penderita DM 300 orang

pengetahuan penderita

penderita ganggren Di

16

peningkatan

Do:

DM tentang

RT 3 RW 5 kelurahan

-jumlah penderita DM dengan ganggren

pencegahan terjadinya

Margo Rukun

sebanyak 30% (90 orang)

luka ganggren

- distribusi penderita DM berdasarkan


tingkat pendidikan formal
SD

:45% (135 orang)

SLTP

:30% (90 orang)

SLTA

:20% (60 orang)

Perguruan tinggi:5%(15 orang)


-sebanyak 210 orang (70%) penderita
DM tidak check up secara rutin
- kebiasaan sehari hari penderita DM
yang setiap saat memakai alas kaki
sebanyak 45 orang (15%),saat dilauar
rumah 75 orang (25%) dan jarang
memakai 180 orang (60%)

3.4 PRIORITAS MASALAH


Diagnosa

Pentingnya

Perubahan

Penelesaian untuk

keperawatan

penyelesaian

positif untuk

peningkatan kwalitas

masalah

penyelesaian di

hidup

1 : rendah

komunitas

0 : tidak ada

2 : sedang

0 : tidak ada

1 : rendah

3 : tinggi

1 : rendah

2 : sedang

2 : sedang

3 : tinggi

score

3 : tinggi
Ketidakpatuhan
terhadap diit di RT 5
RW

kelurahan

Margo

Rukun

berhubungan
dengan Pengetahuan
yang kurang
Ketidakpatuhan
masyarakat/penderit
a DM melaksanakan

17

check up kesehatan
di RT 5

RW 3

kelurahan

Margo

Rukun berhubungan
dengan

faktor

penghasilan

yang

rendah
Resiko peningkatan
penderita

ganggren

di RT 5

RW 3

kelurahan

Margo

Rukun berhubungan
dengan

Kurangnya

pengetahuan
penderita

DM

tenytang pencegahan
terjadinya

luka

ganggren

3.5 PERENCANAAN

Diagnosa keperawatan
1)
Ketidakpatuhan

Tujuan

terhadap diet di RT 5 RW 3

jangka pendek:

Tujuan1.

kelurahan Margo Rukun

Intervensi
Sasaran
Metode
Bina 1.
Kader 1.
KIE
hubungan

kesehatan

1.

Ceram

saling percaya

masyarakat dan

ah, tanya

berhubungan dengan

Setelah

dengan

masyarakat

jawab, diskusi,

Pengetahuan yang kurang

dilakukan

masyarakat

yang menderita

demonstrasi.

ditandai dengan :

asuhan

1.

Lakuk

DM

keperawatan

an pendidikan1.

bahwa tingkat pendidikan

selama 1

kesehatan

penderita DM di

SD sebanyak 135 orang

minggu

tentang diit

RT 5 RW 3

(45%)

diharapkan

untuk

kelurahan

penderita DM

penderita DM

margorukun

data menyebutkan

penyuluhan kader

Semua

dari masyarakat dan petugas

patuh tyerhadap

kesehatan dari Puskesmas

pengobatan

Berikan

Semua

jarang ada

terhadap diit

penyuluhan

penderita DM di

tentang

RT 5 RW 3

pentingnya

kelurahan

Tujuan

18

jangka panjang:
kebiasaan

masyarakat

kepatuhan

margorukun

makan makanan yang manis

pengobatan

sebanyak 210 orang (70%)

Masyarakat

terhadap

mengetahui

bagi penderita

tentang diit

DM

diit

untuk penderita
DM
Masyarakat
mengetahui
tentang
pentingnya
kepatuahan
pengobatan
2)

Resiko peningkatan

Setelah

1.

Berika
1.

Seluruh
1.

KIE,

penderita ganggren di RT 5

dilakukan

n health

penderita DM di

demonstrasi,

RW 3 kelurahan Margo

asuhan

education pada

RT5 RW 3

dan

Rukun berhubungan dengan

keperawatan

penderita DM

Kelurahan

demonstrasi

Kurangnya pengetahuan

dalam waktu 1

tentang cara

Margo Rukun 1.

penderita DM tenytang

minggu tidak

pencegahan 1.

pencegahan terjadinya luka

terjadi

terjadinya luka

penderita DM

ganggren di tandai dengan:

peningkatan

gangren, dan

dan keluarga di1.

penderita DM

penyebab

RT5 RW 3

DM dengan ganggren

dengan

terjadinya luka

sebanyak 30% (90 orang)

ganggren

gangrene

jumlah penderita

distribusi penderita
DM berdasarkan tingkat

Tujuan2.

SLTP
:
30% (90 orang)
SLTA
:
20% (60 orang)
Perguruan

ah, tanya
jawab, diskusi
Tindak
an langsung

1.

Ceram
ah, tanya
jawab, diskusi

n kepada

jangka pendek :

penderita DM

Laptop,

- Penderita DM

maupun

materi, screen,

mengetahui cara

keluarganya

dan leaflet

pencegahan

tentang

terjadinya luka

perawatan luka

ganggren

gangrene

pendidikan formal
SD
:45% (135
orang)

Ajarka

Seluruh

Ceram

1.
- Penderita DM
mengerti cara
perawatan luka

Berika
n penyuluhan
tentang

19

LCD,

pentingnya
tinggi:5%(15 orang)

ganggren

sebanyak 210 orang

- Penderita DM

(70%) penderita DM tidak

mengetahui

check up secara rutin

penyebab

kebiasaan

sehari

hari

penderita DM yang setiap


saat

memakai

sebanyak

alas

45

check up gula
darah bagi
penderita DM

1.

Lakuk
an Check up

terjadinya luka

gula darah

ganggren

gratis pada

kaki

Tujuan

orang

jangka panjang:

penderita DM

(15%),saat dilauar rumah 75


orang (25%) dan jarang

Setelah

memakai 180 orang (60%)

dilakukan
asuhan
keperawatan
selama 1
minggu
diharapkan
semua
masyarakat
penderita DM
dapat patuh
dalam
melaksanakan
check up gula
darah

2.
3)

Ketidakpatuhan

Berika
2.

Kelura

- Masyarakat

n penyuluhan

han Margo

Laptop,

masyarakat/penderita DM

penderita DM

tentang faktor

Rukun

materi, screen,

melaksanakan check up

mengetahui

resiko tentang1.

Seluruh

kesehatan di RT 5 RW 3

tentang resiko

ketidakpatuhan

penderita DM di

kelurahan Margo Rukun

ketidakpetuhan

penderita DM

RT 5 RW 3

berhubungan dengan faktor

untuk

tentang check

kelurahan

penghasilan yang rendah

melaksanakan

up gula darah

margo Rukun

ditandai dengan:

check up gula

1.

darah

Seluruh
penderita DM di

20

dan leafle

LCD,

sebanyak 210 orang

RT 5 RW 3
kelurahan

jarang check up/bulan

margo Rukun

lulusan SD
sebanyak 135 orang
lulusan SLTP
sebanyak 90 orang
penghasilan < UMR
sebanyak 150 orang
penghasilan UMR1.000.000 sebanyak 90
orang
penghasilan > UMR
60 orang

DAFTAR PUSTAKA

21

Doenges, Marilyn E. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian
Perawatan Pasien edisi 3 alih bahasa I Made Kariasa. (1999). Jakarta : EGC.
Carpenito, Lynda Juall. (1997). Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 alih bahasa YasminAsih. Jakarta
: EGC
Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth
Edisi 8 Vol 2 alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono, Monica Ester, Yasmin asih. Jakarta : EGC.

22