Anda di halaman 1dari 9

A.

Sistem Dua komponen Padat-Cair


Berikut ini merupakan contoh kesetimbangan dua komponen padat-cair.
1. Kedua komponen missibel dalam fasa cair dan immisibel dalam fasa padat
Jenis kesetimbangan ini dimiliki oleh dua zat yang dapat saling larut dalam keadaan
cairannya, sementara itu di fasa padatannya terdapat komponen-komponen murninya (tidak
membentuk larutan padat/tidak saling melarutkan). Apabila larutan cair A dan B diturunkan
suhunya, pada suatu saat akan muncul padatan. Suhu pada saat itu disebut dengan titik beku
larutan. Pada suhu tersebut terdapat dua fasa, yaitu fasa cair dan padat. Oleh karena itu f=cp+2=2-2+2+2, sistem mempunyai dua derajat kebebasan. Biasanya proses dilakukan pada
tekanan tetap, sehingga sistem menjadi univarian, jadi cukup satu saja yang diperlukan untuk
menyatakan keadan sistem (misalnya: dipilih variabel komposisi saja maka titik bekunya sudah
tertentu), setiap larutan mempunyai titik beku tertentu. Apabila, titik beku sederet larutan cair
dengan berbagai komposisi ditentukan lalu dialurkan terhadap komposisi cairannya maka akan
diperoleh kurva CE dan DE seperti yang ditunjukan pada gambar 1 dibawah ini :

Gambar 1. Diagram fasa padat-cair dengan senyawa bertitik leleh kongruen


Titik CD merupakan titik beku A murni dan B murni. Penambahan A akan menurunkan titik
bekunya sepanjang garis CE, begitu pula penambahan A terhadap B akan menurunkan titik beku
sepanjang garis DE. Jika larutan yang kaya akan A, yakni larutan dengan komposisi antara A dan
Xe, didinginkan, maka akan terpisah zat padat A, sementara larutan yang kaya akan B yakni
larutan dengan komposisi antara Xe dan B, didinginkan, akan terbentuk zat padat B. Jika kurva
CE dan DE dapat dipandang sebagai kondisi suhu dimana larutan (cair) pada berbagai komposisi
ada dalam keadaan kesetimbangan dengan padatan A (untuk kurva CE) dan dengan padatan B

(untuk kurva DE). Di titik E kedua kurva bertemu, sehingga baik padatan A maupun B keduanya
ada dalam kesetimbangan dengan larutannya. Titik E merupakan suhu beku terendah dari setiap
campuran padatan A dan B. Oleh karena itu, titik E disebut titik eutectic (Yunani: mudah
meleleh) dan merupakan suhu terendah bagi keberadaan fasa cair.
Dari uraian di atas, menyatakan bahwa di atas kurva CED merupakan daerah cair, hanya fasa
cair yang ada karena suhunya di atas titik leleh setiap campuran. Derajat kebebasan pada daaerah
ini, f=c-p+2=2-1+2=3, tapi karena tekanannya sudah tertentu maka f=2, jadi perlu dinyatakan
suhu dan komposisi larutan untuk menyatakan keadaan sistem. Di bawah kurva FEG, hanya
terdapat fasa padat. Di daerah ini, ada dua fasa padat, yakni A murni dan B murni. Menurut
aturan fasa, sistem pada tekanan tetap adalah univarian. Karena komposisi setiap fasa sudah
tertentu, yakni masing-masing zat murni, maka variabelnya hanya suhu. Daerah CEF merupakan
daerah dua fasa, yakni fasa padat A murni, dan fasa cair. Daerah DEG juga daerah dua fasa, fasa
padat B murni dan fasa cair.
Sekarang kita tinjau secara lebih terperinci yang terjadi pada proses pendinginan secara
isobar dari larutan A dan B dengan komposisi XAl. Kita Mulai dari titik H lalu turun secara
vertikal hingga titik S. Garis HIJKS disebut garis isopleth, yakni garis dengan komposisi tetap.
Di titik H campuran (larutan) A dan B ada dalam keadaan cair. Ketika B membeku, nilai XA
dalam larutan (cair) akan meningkat, dan titik bekunya akan terus menurun. Untuk memperoleh
padatan B yang lebih banyak, maka suhu harus terus diturunkan. Pada suhu T2, terdapat
kesetimbangan antara padatan B (XB=1) dan larutan dengan komposisi yang dinyatakan titik M,
yakni X A. Sepeti telah dibahas dibagian sebelumnya, garis MJN merupakan garis dasi.
Berdasarkan aturan lever maka nB,S/(nA,l + nB,l) = MJ/JN, dengan nB,S jumlah mol padatan B
yang berkesetimbangan dengan larutan (cair) yang terdiri atas nA,l mol A dan nB,l mol B. Di
titik I, nB,S=0. Penurunan suhu sepanjang garis IJK menyababkan jarak horisontal terhadap IME
meningkat, artinya terjadi peningkatan padatan B dengan berkurangnya suhu. Pada suhu T 3, suhu
eutectic, diperoleh titik K. Di titik K, larutan mempunyai komposisi Xe (titik E), dan A maupun
B keduanya membeku. Jumlah relatif A dan B yang membeku bergantung pada komposisi
eutectic dari larutan Xe. Keseluruhan larutan yang ada akan membeku pada suhu T 3 tanpa
mengalami perubahan komposisi lagi. Di titik K ada tiga fase dalam kesetimbangan, yakni
padatan A, padatan B, dan larutan. Derajat kebebasan untuk tiga fasa: f=2-3+2=1, karena tekanan
sudah tertentu maka tak ada derajat kebebasan, sistem invarian. Suhu harus tetap konstan di titik

T3 sampai semua larutan membeku dan jumlah fasa berkurang menjadi 2. Di bawah T3
penurunan suhu hanya mendinginkan campuran padatan A dan B.
Apabila proses tersebut di balik dan dimulai dari titik S (padatan A dan padatan B), cairan
pertama yang terbentuk akan mempunyai komposisi Xe. Campuran padatan tersebut akan
memperoleh rentang suhu T3 sampai T1. Jika titik lelehnya ada dalam rentang suhu tertentu,
artinya zat yang diuji merupakan campuran, bukan senyawa murni. Campuran padat dengan
komposisi eutktik akan meleleh seluruhnya pada satu suhu (T 3). Demikian pula larutan A dan B
dengan komposisi eutektik akan membeku seluruhnya pada suhu T3 menghasilkan campuran
eutektik padatan A dan B. Pengujian mikroskopis memperlihatkan bahwa sistem eutektik terdiri
atas campuran kristal A dan kristal B.
Apabila ditinjau dari proses isotermal pada suhu tertentu, T4 yakni sepanjang garis horisontal
RUVWXY. Titik R menyatakan zat A murni pada suhu T4. Sejumlah zat B ditambahkan kedalam
zat A hingga komposisinya sampai di titik U. Titik U ini terletak di daerah 2 fasa, yakni fasa
padat A murni dan larutan (cair) dengan komposisi V. Semua B yang ditambahkan akan meleleh
jauh di bawah titik lelehnya dan lelehan B akan melarutkan sebagian A sampai komposisi
cairannya ada di V. Dari aturan lever dapat diperoleh jumlah relatif cairan yang ada di titik U
cukup kecil. Pada penambahan B selanjutnya B akan terus meleleh dan melarutkan lebih banyak
lagi A untuk membentuk larutan V, jadi titik bergerak dari U ke V. Ketika titik V dicapai, B yang
telah ditambahkan cukup untuk melarutkan semua padatan A semula membentuk larutan jenuh A
dalam B. Penambahan B selanjutnya hanya akan mengencerkan larutan dan titik keadaan
bergerak melalui daerah cair dari V ke W. Di W larutannya jenuh dengan B. Penambahan B
selanjutnya tidak mengubah komposisi larutannya, zat padatan B yang ditambahkan tetap
sebagai padatannya.
Metode percobaan
Salah satu metode yang digunakan untuk menentukan

diagram fasa melalui percobaan

adalah dengan analisa termal. Melalui metode ini suatu campuran dengan komposisi yang
diketahui akan dipanaskan sampai suhu yang cukup tinggi sehingga terbentuk cairan yang
homogen. Cara lain untuk menentukan diagram fasa adalah dengan membiarkan system yang
diketahui komposisi keseluruhannya pada suhu tertentu dalam waktu yang cukup lama supaya
kesetimbangan tercapai. Fasa-fasa yang ada kemudian dipisahkan dan dianalisis secara kimia.
2. Kedua Komponen Membentuk Senyawa dengan Titik Leleh Kongruen

Jika komponen A dan B membentuk suatu senyawa padat AB, dengan fasa cairnya
misibel, sementara fasa padatnya immisibel maka diagram kesetimbangan padat-cairnya akan
mengikuti gambar 9. Gambar 9 akan lebih mudah dipahami dengan membayangkan bahwa
diagram tersebut terdiri atas dua diagram eutektik sederhana yang berdampingan antara A-AB
dan AB-B.

Gambar 2. Diagram fasa padat-cair dengan senyawa bertitik leleh kongruen


Disebelah kiri garis DD merupakan gambaran dari kesetimbangan fasa dua komponen A dan
AB, sementera sebelah kanan garis DD merupakan gambaran kesetimbangan fasa AB dan B.
Larutan cair di bagian atas diagram merupakan campuran cair A,B dan AB. Jika larutan ini
didinginkan akan terpisah padatan A, B dan AB, tergantung pada komposisi larutannya. Saat
mencapai salah satu dari dua suhu eutektik, barulah akan mulai muncul padatan kedua. Di titik
D, fasa cair dan padatnya mempunyai komposisi yang sama, sehingga D dianggap sebagai titik
leleh senyawa AB. Jadi senyawa AB dikatakan mempunyai titik leleh yang kongruen, tidak ada
perubahan komposisi padat dan cairnya.
Jika kedua komponen membentuk lebih dari satu senyawa, diagram fasanya akan mempunyai
kurva yang mirip dengan gambar 9. Jika senyawa yang terbentuk ada n senyawa, maka diagram
fasa padat-cairnya dapat dipandang terdiri atas (n + 1) diagram fasa eutektik sederhana yang
diletakkan secara berdampingan.
Sebagai contoh diagram fasa untuk pembentukan dua macam senyawa A2B dan AB2 dari dua
komponen A dan B, yang dapat dilihat pada gambar 10. Contoh lainnya yaitu sistem airferiklorida yang dapat dilihat pada gambar 11.

Gambar 3. Diagram fasa padat-cair dua komponen yang membentuk dua senyawa
bertitik-leleh kongruen
3. Kedua Komponen Membentuk Senyawa dengan Titik Leleh Inkongruen
Pada sistem seperti yang terlihat dalam gambar 9, senyawa yang terbentuk memiliki titik
leleh yang lebih tinggi dari kedua komponennya. Pada keadaan ini, akan selalu diperoleh bentuk
diagram fasa seperti gambar 9, yaitu ada dua titik eutektik dalam diagram. Namun jika titik leleh
senyawa ada dibawah salah satu konstituen penyusunnya, maka akan muncul dua kemungkinan
yaitu pertama, akan diperoleh diagram fasa seperti yang terdapat dalam gambar 11, kemungkinan
kedua digambarkan dengan sistem kalium-natrium, seperti yang terlihat pada gambar 12.
Jika senyawa padat murni, Na2K, suhunya dinaikkan, titik keadaan bergerak sepanjang garis
AB. Pada titik B terbentuk cairan dengan komposisi C. Cairan ini lebih kaya akan kalium
dibandingkan dengan senyawa semula, sehingga akan terdapat sebagian natrium padat yang tetap
tidak meleleh. Jadi pada pelelehan terjadi disosiasi dan persamaannya sebagai berikut.
Na2K(s) Na(s) +C(l) (3)

Gambar 4. Sistem H2O-Fe2Cl6


dengan titik leleh senyawa yang
kongruen

Gambar 5. Sistem dengan titik


leleh senyawa yang inkongruen

Senyawanya, Na2K, dikatakan meleleh secara inkongruen, karena lelehannya mempunyai


komposisi yang berbeda dengan senyawanya. Pada titik B ini terdapat tiga fasa, yaitu padatan
Na2K, padatan Na dan cairan, sehingga derajat kebebasannya yaitu 0. Pada sistem invarian,
meskipun terdapat sistem yang masuk ke dalam sistem, suhunya akan tetap sama, sampai semua
senyawa padat meleleh, kemudian suhu akan naik kembali. Titik keadaan akan bergerak
sepanjang garis BEF dan sistem terdiri atas natrium padat dan larutan. Di titik F, natrium padat
tepat habis meleleh, dan di atas F sistem hanya terdiri atas satu fasa yaitu cair. Penurunan suhu
larutan dengan komposisi G membalik perubahan di atas. Di F akan mulai muncul natrium padat.
Penurunan lebih lanjut menyebabkan jumlah natrium padat bertambah dan komposisi cairan
bergerak sepanjang FC. Di B terdapat cairan dengan komposisi C bersama-sama dengan padatan
natrium dan padatan Na2K.
Reaksi fasa yang sebaliknya dari persamaan 3 terjadi sampai cairan dan natrium padat
keduanya bereaksi secara simultan, sehingga ketika titik keadaan bergerak sepanjang BA hanya
ada Na2K padat. Jika cairan dengan komposisi I didinginkan, natrium padat akan mulai muncul
di J, dan komposisi cairan bergerak sepanjang JC ketika kristal natrium yang terbentuk makin
banyak. Pada titik K terbentuk Na2K padat karena reaksi peritektik,
C(l) + Na(s) Na2K(s)
Jumlah natrium pada komposisi I tidak cukup untuk mengubah semua cairan C menjadi
senyawanya. Oleh karena itu, semua kristal natrium yang ada akan bereaksi, namun C(l) masih
bersisa. Suhu akan turu ketika natrium padat habis, Na2K mengkristal dan komposisi cairan
bergerak sepanjang CM. Di L, garis dari MLN menunjukkan bahwa Na2K, titik N, terdapat
bersama-sama dengan cairan M. Ketika titik 0 dicapai, cairan mempunyai komposisi eutektik P.
Sistem invarian sampai cairan habis membentuk campuran kalium padat dan Na2K padat.
Jika sistem dengan komposisi Q didinginkan, natrium padat mulai muncul di R. pendinginan
selanjutnya menyebabkan natrium padat bertambah banyak dan komposisi cairan bergerak
sepanjang garis RC. Di titik S muncul padatan Na 2K hasil reaksi peritektik. Cairan yang ada
bereaksi semua dengan Na padat karena komposisi asal (Q) lebih kaya dari Na dibandingkan
dengan Na2K, maka pada reaksi peritektik persamaannya sebagai berikut.
Na(s) + C(l) Na2K(s)
Na padat tidak habis bereaksi, tetapi C(l) habis bereaksi dan titik keadaan turun ke titik T
dengan penurunan suhu sehingga di T terdapat campuran padat Na2K dan natrium.

4. Kedua Komponen Membentuk Larutan Padat


Ada pasangan zat tertentu yang dapat membentuk larutan padat. Dalam larutan padat A dan B
tidak ada kristal A ataupun B. Larutan nikel dan tembaga adalah salah satu contohnya. Kedua zat
yakni nikel dan tembaga dapat saling melarut dalam semua komposisi di fasa padatnya. Diagram
fasa system tembaga-nikel dapat dilihat pada gambar (13)
kurva pada gambar 13 a merupakan kurva cair dan kurva bawahnya merupakan kurva padat.
Interpretasi diagram ini sama dengan interpretasi diagram cair-uap.

Gambar 6.a. Diagram fasa


tembaga-nikel

Gambar 7.b. Larutan padat


dengan titik leleh minimum.

Selain diagram seperti yang terdapat pada gambar 13 a, dikenal pula sistem biner yang
membentuk larutan padat dengan titik leleh maksimum maupun minimum, lihat gambar 13 b.
Diagram fasanya mirip dengan kurva cair-uap pada sistem yang membentuk azeotrop. Akan
tetapi campuran dengan kurva titik leleh maksimum lebih jarang ditemukan.
5. Kedua komponen misibel dalam fasa cair dan misibel sebagia dalam fasa padat.
Dua zat dalam berbagai komposisi pada fasa cair saling larut, sementara pada fasa padat
kedua zat saling melarutkan hanya dalam batas-batas tertentu. Pada batas-batas konsentrasi
tertentu dapat diperoleh dua larutan pada konyugat. Gejala ini mirip dengan larutan cair yang
misibel sebagian. Padatan A dapat larut dalam sejumlah padatan B membentuk suatu larutan
padat, demikian pula halnya dengan padatan B yang dapat larut dalam sejumlah tertentu padatan
A. Tetapi jika konsentrasi-konsentrasi ini dilampaui akan diperoleh dua fasa padat, masingmasing larutan padat A dalam B dan larutan padat B dalam A.
Jika larutan cair dengan komposisi R didinginkan, di titik S mulai terpisah fasa padat, dan
disebut sebagai fasa alfa, yakni larutan padat B dalam A. Komposisi larutan padat ini dinyatakan

dengan X, di ujung garis dasi SX. Pendinginan selanjutnya mengakibatkan jumlah B dalam
larutan padat bertambah. Di titik T, larutan cair mempunyai komposisi z dan larutan padat
mempunyai komposisi Y. Perbandingan jumlah larutan padat dan cair dinyatakan oleh
perbandingan panjang garis TZ/TY.

Gambar 8. Diagram fasa padat-cair: misibel dalam fasa cair dan misibel sebagian pada fasa
padat
Di titik Y dapat dilihat bahwa jumlah B dalam larutan padat tersebut lebih banyak
dibandingkan dengan larutan padat di titik X. Di titik U, lelehannya mempunyai komposisi
eutektik dan kedua fasa padat sekarang membeku, yakni fasa alfa (padatan A yang jenuh dengan
B) dan fasa beta (padatan B yang jenuh dengan A). Di titik ini, terdapat tiga fasa, dua fasa, dan
satu fasa cair, dengan demikian derajat kebebasan pada P tetap adalah f= c-p+1=2-3+1=0, jadi
sistem invarian. Pendinginan lebih lanjut sampai di V diperoleh dua larutan padat bersama-sama
yakni : padatan alfa dengan komposisi M dan padatan beta dengan komposisi N.
Di titik T, padatan yang berkesetimbangan dengan lelehannya mempunyai komposisi Y,
sementara padatan yang pertama muncul mempunyai komposisi X. Jadi sistem perlu dibiarkan di
titik T untuk waktu yang lama sebelum fasa padat menjadi homogen dengan komposisi Y semua.
Contoh sistem yang mempunyai kurva seperti gambar di atas adalah sistem emas- nikel, bismuttimbal, kadmium-timbal, perak klorida-tembaga (I) klorida dan sebagainya.
Ada pula sistem padat-cair yang membentuk larutan padat, mempunyai kurva yang berbeda
dengan di atas, seperti yang terlihat pada gambar berikut.

Gambar 9. Diagram fasa padat-cair dengan titik peritektik


Kurva ini dapat kita bayangkan terbentuk dari kurva kelarutan padat-padat yang misibel
sebagian dan kurva larutan padat yang kontinu. Jika padatan alfa dengan komposisi F
dipanaskan, maka padatan tersebut akan mulai meleleh di titik G membentuk campuran dua fasa
yakni fasa padatan
fasa

dan larutan cair dengan komposisi awal N. Ketika dicapai titik H, sisa dari

mencair membentuk larutan cair dengan komposisi M dan padatan fasa

komposisi R.

dengan