Anda di halaman 1dari 70

Demam Tifoid

Alvivin
112014294

Pembimbing : dr. Riza Mansyoer, Sp.A

Identitas Pasien
Nama Lengkap

: An. DHA
Tanggal Lahir (Umur)
: 7 Maret 2004 (11 Tahun 7
Bulan 4 Hari)
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Alamat
: Jl. Kali Baru Barat
Suku Bangsa
: Betawi
Agama
: Islam
Pendidikan
: SD
Tanggal Masuk RS
: 11 Oktober 2015

Identitas Orang Tua


Ayah
Nama Lengkap
: Tn. AK
Tanggal Lahir (Umur)
: 11 November 1985 (40
Tahun)
Suku Bangsa
: Betawi
Alamat
: Jl. Kali Baru Barat IX
Agama
: Islam
Pendidikan
: SMP
Pekerjaan
: Supir
Hubungan dengan Anak
: Ayah Kandung

Identitas Orang Tua


Ibu
Nama Lengkap
: Ny. NH
Tanggal Lahir (Umur)
: 19 Juli 1983 (32 Tahun)
Suku Bangsa
: Betawi
Alamat
: Jl. Kali Baru Barat IX
Agama
: Islam
Pendidikan
: SD
Pekerjaan
: Ibu Rumah Tangga
Hubungan dengan Anak
: Ibu Kandung

Riwayat Penyakit
ANAMNESIS
Diambil dari
: Alloanamnesis dari Ibu
pasien
Tanggal
: 14 Maret 2016
Pukul
: 13.00 WIB

Riwayat Penyakit

Keluha
n
Utama
Keluha
n
Tamba
han

Demam sejak 7
hari sebelum
masuk rumah
sakit.
Mual, muntah
>5x, nyeri ulu
hati, nyeri
kepala, dan
konstipasi

Pasien dibawa ke Puskesmas, diberikan obat


parasetamol,antibiotic,obat anti mual dan muntah. Suhu
badan pasien menurun setelah meminum obat tersebut.
Gejala mual, muntah serta nyeri ulu hati berkurang

Pasien masih demam. Tidak ada perbaikan. Kali


ini disertai muntah-muntah dengan frekuensi
kurang lebih 5 kali, muntahan berisi cairan
dengan volume kurang lebih setengah gelas kecil,
tidak ada lendir, tidak ada darah..
Pasien demam naik-turun. Demam lebih tinggi
terutama pada sore sampai malam hari. Mengigil
(-), keringat dingin (-). Ibu pasien tidak mengukur
suhunya dirumah. Mual (+); Muntah (-). Nyeri ulu
hati (+). Nafsu makan pasien berkurang namun
pasien masih mau makan dan minum.

5 Hari
SMRS

6 Hari
SMRS

7 Hari
SMRS

Riwayat Perjalanan Penyakit

Pasien mulai merasakan lemas, demam masih dirasakan


naik turun. Pasien juga masih merasakan mual dan muntah
frekuensi lebih sering 4-5x dalam sehari isi cairan, tidak ada
lendir maupun darah. Pasien mulai tidak mau makan namun
masih mau minum. Belum BAB, BAK normal.

Pasien masih demam, mengigil (-), keringat dingin (-),


terutama dirasakan pada malam hari. Mual (+), muntah (+)
sebanyak 3x, berisi cairan, tidak ada lendir maupun darah.
Ibu pasien mengatakan bahwa anaknya sering mengigau.
Belum BAB, BAK normal.
Keadaan pasien membaik, demam naik turun (+). Mual (+),
muntah (+) sebanyak 3x, berisi cairan, tidak ada lendir
maupun darah.

2 Hari
SMRS

3 Hari
SMRS

4 Hari
SMRS

Riwayat Perjalanan Penyakit

Pasien dibawa ke IGD jam 17.00 sore karena


demam tinggi dan pasien sampai menggigil
dan keringat dingin. Pasien muntah 3x berisi
cairan, tidak ada lendir, tidak ada darah,
dengan volume kurang lebih gelas kecil.
Pasien kembali merasakan nyeri lut hati. Pasien
semakin sering mengigau, bicara melantur.
Pasien juga mengeluhkan kepalanya terasa
nyeri nyut-nyutan di seluruh kepala. Pasien
mengatakan belum BAB sejak 3 hari yang lalu,
BAK normal.

1 Hari
SMRS

Riwayat Perjalanan Penyakit

Riwayat Perjalanan Penyakit


Menurut ibu pasien, tidak
pernah terlihat adanya tandatanda
perdarahan
seperti
mimisan, gusi berdarah atapun
muncul ruam merah pada
tubuh pasien. Orang yang
serumah dengan pasien tidak
ada yang mengalami gejala
yang sama. Tidak ada keluhan
kejang, batuk, pilek maupun
diare. Ibu pasien mengatakan
bahwa anaknya sering jajan
makanan di pinggir jalan.

Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat Penyakit Keluarga

Silsilah Keluarga (Family Tree)

Riwayat Kehamilan dan


Kelahiran

Riwayat Perkembangan
Sektor Personal Sosial
Berusaha menggapai mainan : Usia
5 bulan
Tepuk tangan
: Usia 7 bulan
Sektor Motor Halus
Adaptif
Kepala menoleh ke samping kanan
dan kiri: Usia 2 bulan
Memegang dengan ibu jari dan jari
: Usia 8 bulan

Riwayat Perkembangan
Sektor Bahasa
Mengoceh
: Sekitar usia 8 bulan
Memanggil papa mama
: Usia 12
bulan
Sektor Motor Kasar

Tengkurap
Merangkak
Duduk
Berdiri
Berjalan

: Usia 4 bulan
: Usia 6 bulan
: Usia 7 bulan
: Usia 9 bulan
: Usia 12 bulan

Riwayat Perkembangan
Kesan :
Tidak ada gangguan riwayat perkembangan
pada anak ini.

Riwayat Imunisasi

Kesan : imunisasi pasien tidak lengkap,


pasien tidak imunisasi campak dikarenakan

Variasi
: Bervariasi
Jumlah
: 1 Piring
Frekuensi : 3 kali/hari
Nafsu Makan : Baik

Tanggal : 14 Maret
2016
Jam : 13.00 WIB

Riwayat
Nutrisi
Pemeriks
aan Fisis

perempuan pasien.
Rumah kontrakan di
kawasan padat
penduduk. Terdapat
penerangan listrik dan
sumber air berasal dari
PAM.. Lingkungan rumah
tidak terlalu bersih,
rumah hanya terdiri dari
satu lantai dan sinar
matahari yang masuk
juga kurang. Pasien juga
aktif berinteraksi dengan
anak tetangga. Personal
hygiene kurang, karena
pasien sering kali tidak

Riway
at
Perso
nal
Sosial

Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum : Tampak sakit ringan
Frekuensi Nadi

:
Tekanan Darah :
Frekuensi Napas:
Suhu Tubuh
:

84 kali/menit
100/60 mmHg
21 kali/menit
37.8 oC

Data Antropometri
Data Antropometri
Berat Badan : 33 kg
Tinggi Badan : 143 cm
Status Gizi :
BB/U = 33/38 x 100%
= 86 %
TB/U= 143/146 x 100% = 97%
BB/TB= 33/36 x 100% = 91%
Kesan: Gizi Baik
Lingkar Kepala : 54 cm
Lingkar Dada : 80 cm
Lingkar Lengan Atas : 23 cm

Status Generalis
Normocephal simetris, rambut
bewarna hitam distribusi rata dan
tidak mudah dicabut

Konjungtiva anemis(-/-),
konjungtiva hiperemis (-/-),
sklera ikterik(-), refleks pupil
(+), d 3 mm, isokor dextrasinistra eksoftalmos dan
enoftalmos (-), edema
palpebra (-), pergerakan mata
kesegala arah baik

Tidak ada pembesaran KGB pada


daerah axilla, leher, inguinal dan
submandibula, nyeri tekan (-)

Kulit warna sawo matang,


ikterus pada kulit (-), pucat
telapaktangan dankaki(-),
sianosis (-) ruam-ruam
kemerahan di kulit (-), turgor
kulit normal, edema (-),
pertumbuhanrambut normal

Deviasi septum (-), sekret (-/-),


darah (-/-), nyeri tekan (-), hidung
bagian luar tidak ada kelainan,
pernapasan cuping hidung (-).
Normotia, nyeri (-/-), serumen
(+/+), darah (-/-), pendengaran
baik
Bibir kering (+), stomatitis (-),
coated tongue (-), gigi geligi
lengkap, gusi berdarah (-), faring
hiperemis (-), T1/T1

AUSKULTASI suara
napas vesikuler (+/
+), lendir (-/-), ronkhi
(-/-), wheezing(-/-)

PERKUSI sonor pada


semua lapang paru,
batas sonor-pekak
setinggi ICS 6 linea
midclavicularis
dextra

PALPASI simetris,
vocal fremitus sama
dextra-sinistra, tidak
ada bagian dada
yang tertinggal saat
bernapas, nyeri
tekan (-)

INSPEKSI simetris
dextra-sinistra, tidak
ada bagian dada yang
tertinggal saat
bernapas, retraksi
dinding dada (-), scar
(-), otot bantu
pernapasan (-)

Paru

Jantung

AUSKULTASI bunyi
jantung I dan II
regular, bising
jantung (-)

INSPEKSI ictus
cordis tidak
terlihat
PERKUSI batas
jantung relatif
dalam batas
normal

PALPASI ictus
cordis teraba
di ICS 5 linea
midclavicularis
sinistra

Abdomen

AUSKULTASI

pada seluruh
kuadran abdomen
, shifting dullness
(-)

tekan epigastrium
(-) hepatomegali
(-) splenomegali
(-)
massa (-)
bising usus (+)
normal

INSPEKSI perut
kembung - scar
(-), peteki (-)
PERKUSI timpani

PALPASI nyeri

Anus
dan
Rectu
m

Tidak dilakukan
pemeriksaan

Genita
lia

Tidak dilakukan
pemeriksaan

Pemeriksaan Sistematis

Pemeriksaan Sistematis

Pemeriksaan Sistematis
Tulang Belakang
Tulang belakang normal dan lurus, tidak terdapat
benjolan, gibbus (-).
Kulit
Kulit normal, tidak terdapat lesi di kulit.

Rambut
Pertumbuhan rambut merata, rambut berwarna hitam.

Kelenjar Getah Bening


Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening.

Pemeriksaan Neurologis
Tingkat Kesadaran

: GCS 15
Delirium
: Tidak ada
Tidak ada tremor, korea, ataksia
Rangsang Meningeal :
Kaku kuduk (-), Kernig Sign (-), Brudzinsky Sign (-),
Laseque Sign (-)
Saraf Kranialis I-XII
: Kesan dalam batas
normal
Refleks Patologis
: tidak ada

Pemeriksaan Laboratorium

Resume
Seorang anak 11 tahun datang dengan keluhan
demam sejak 7 hari SMRS.
7 hari SMRS : pasien demam naik-turun. Demam
lebih tinggi terutama pada sore sampai malam
hari tidak disertai dengan menggigil dan keringat
dingin. Pasien juga mengeluh mual namun tidak
muntah. Nafsu makan berkurang.
6 hari SMRS : pasien masih demam. Tidak ada
perbaikan. Mual (+) disertai muntah-muntah
dengan frekuensi kurang lebih 5 kali, muntahan
berisi cairan dengan volume kurang lebih
setengah gelas kecil, tidak ada lendir, tidak ada
darah. Nyeri ulu hati (+).
5 hari SMRS : pasien dibawa ke Puskesmas,
diberikan obat, parasetamol,antibiotic, obat anti

2 hari SMRS : pasien lemas, frekuensi muntah lebih


sering 4-5 x dalam sehari isi cairan, tidak ada lendir
maupun darah. Pasien tidak mau makan namun masih
bisa minum.
1 hari SMRS : pasien dibawa lagi ke IGD jam 17.00 sore
demam tinggi (+) menggigil (+) keringat dingin (+) .
Muntah 3x berisi cairan, tidak ada lendir, tidak ada
darah, dengan volume kurang lebih gelas kecil. nyeri
ulu hati (+). Pasien semakin sering mengigau, bicara
melantur. kepalanya terasa nyeri nyut-nyutan (+).
Pasien mengatakan belum BAB sejak 3 hari yang lalu.
Tidak ada tanda-tanda pendarahan.
Pemeriksaan serologi Widal : S. typhi O (+) 1/320

Diagnosa Kerja

Dem
am
Tifoid

Diagnosis ditegakkan pada pasien


didapatkan :
puncak demam akhir
minggu
pertama
mual,
muntah,
dan konstipasi

Hasil pemeriksaan penunjang :


Serologi Widal S.Typhi titer O
(+)1/320

Differential Diagnosis
Paratyphoid Fever
Dengue Fever
Leptospirosis

Tidak jajan di pinggir jalan, usahakan makan makanan dari


rumah yang dicuci dan dimasak dengan bersih.
Makan makanan yang bergizi, bersih, dan matang.
Menjaga kebersihan diri.

IVFD KAEN 3B 16 tpm (makro)


Inj. Ranitidine 2 x 30 mg IV
Inj. Ondansentrone 2 x 30 mg IV
PCT tab 3 x 500 mg
Antasida syrup 3 x 1 cth
Inj. Cefrtriaxon 2 x 800 mg

Tirah baring
Observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital

Edukasi

Medika
Mentosa

Nonmedika
mentosa

Penatalaksanaan

Prognosis
Ad vitam

: Dubia ad Bonam
Ad functionam : Dubia ad Bonam
Ad sanationam : Dubia ad Bonam

Follow-Up

Follow-Up

Follow-Up

Follow-Up

Follow Up

Follow Up

Tinjauan Pustaka
Definisi

Demam tifoid adalah suatu penyakit sistemik bersifat


akut yang disebabkan oleh Salmonella typhi. Penyakit
ini ditandai oleh panas berkepanjangan,
dengan

bakteremia

tanpa

keterlibatan

ditopang
struktur

endotelial atau endokardial dan invasi bakteri sekaligus


multiplikasi ke dalam sel fagosit mononuklear dari hati,
limpa, kelenjar limfe usus, dan Peyers patch.

Epidemiologi
Data WHO tahun 2003 : 17 juta kasus demam

tifoid

di

seluruh

dunia

dengan

insidensi

600.000 kasus kematian tiap tahun.


Indonesia :
Pedesaan : 358 / 100.000 penduduk/tahun.
Perkotaan : 1.5 juta kasus per tahun.
Umur penderita yang terkena : 3-19 tahun.

FAKTOR RESIKO

Pengetahuan
Pengetahuan
kesehatan
kesehatan
kurang
kurang

Penderita
Penderita
carrier
carrier

Kebiasaan
Kebiasaan
makan
makan yang
yang
jelek
jelek

Sanitasi
Sanitasi lingkungan
lingkungan
kurang
kurang mendukung
mendukung

Higiene
Higiene
yang
yang jelek
jelek

Etiologi
Bakteri Gram negatif
Mempunyai
Flagela
Family :Enterobakteriasiase
Tidak berkapsul
Tidak membentuk
spora
Fakultatif anaerob
Antigen somatik (O) :
oligosakarida
Flagelar antigen (H) :
protein
Envelope antigen (K) :
polisakarida.

Salmonella typhi

PATOGENESIS

Peran Endotoksin
Menstimulasi makrofag di dalam hati, limpa, folikel

limfoma usus halus dan kelenjar limfe mesenterika


untuk memproduksi sitokin dan zat-zat lain.
Produk

dari

makrofag

inilah

yang

dapat

menimbulkan nekrosis sel, sistem vaskular yang


tidak stabil, demam, depresi sumsum tulang,
kelainan pada darah dan juga menstimulasi sistem
imunologik.

Respon Imunologik
Respons imun humoral maupun seluler baik di

tingkat lokal (gastrointestinal) maupun sistemik.


Penurunan

jumlah limfosit T ditemukan pada

pasien sakit berat dengan demam tifoid.


Karier

memperlihatkan

gangguan

reaktivitas

seluler terhadap antigen Salmonella ser. typhii


pada uji hambatan migrasi leukosit. Pada karier,
sejumlah besar basil virulen melewati usus tiap
harinya

dan

dikeluarkan

dalam

tinja,

tanpa

Manifestasi Klinis
Masa inkubasi (10-14 hari):
Asimptomatis
Fase Invasi
Demam ringan, naik secara bertahap, terkadang suhu
malam lebih tinggi dibandingkan pagi hari. Gejala lainnya
adalah nyeri kepala, rasa tidak nyaman pada saluran cerna,
mual, muntah, sakit perut, batuk, lemas, konstipasi
Akhir Minggu Pertama
Demam telah mencapai suhu tertinggi dan akan konstan
tinggi selama minggu kedua. Tanda lainnya adalah diare
atau konstipasi.
Stadium Evolusi
demam mulai turun perlahan, tetapi dalam waktu yang
cukup lama. Dapat terjadi komplikasi perforasi usus. Pada
sebagian kasus, bakteri masih ada dalam jumlah minimal
(menjadi karier kronis).

58

step-ladder temperature chart yang ditandai


dengan demam timbul insidius, kemudian naik
secara bertahap tiap harinya dan mencapai titik
tertinggi pda akhir minggu pertama, setelah itu
demam akan bertahan tinggi dan pada minggu
ke-4 demam turun perlahan secara lisis, kecuali
apabila terjadi focus infeksi

Rose spot, suatu ruam makulopapular yang berwarna merah dengan


ukuran 1,5 mm, sering kali dijumpai pada daerah abdomen, toraks,
ekstremitas, dan punggung pada orang kulit putih. muncul pada hari ke-7
sampai hari ke-10 dan bertahan selama 2-3 hari
59

Komplikasi
Peritonitis

dan

perdarahan

saluran cerna
Perforasi intestinal
Ensefalopati tifoid (toxic typhoid)
Hepatitis tifosa
Anemia normokromi normositik

Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium Hematologi Rutin
Anemia (pada umumnya terjadi karena supresi sumsum
tulang, defisiensi Fe, atau perdarahan usus), leukopenia
(namun jarang kurang dari 3000/uL), an-eosinofilia,
limfositosis relatif, atau trombositopenia (pada kasus berat)
Peningkatan Laju Endap Darah
Peningkatan Enzim Transaminase
Serologi
Serologi Widal terjadi kenaikan titer S.typhi titer O 1:200 atau
kenaikan 4 kali titer fase akut ke fase konvalesens); kadar IgM
dan IgG (Typhi-dot) / antibody IgM 09 Salmonella typhi
Pemeriksaan Biakan Darah
Biakan darah terutama pada minggu 1-2 dari perjalanan
penyakit

Tatalaksana
Kloramfenikol (drug of choice) 50-100 mg/kgBB/hari, oral atau
IV, dibagi dalam 4 dosis selama 10-14 hari.
Amoksisilin 100 mg/kgBB/hari, oral atau intravena, selama 10
hari.

Kotrimoksasol 6 mg/kgBB/hari, oral, selama 10 hari.

Seftriakson 80 mg/kgBB/hari, intravena atau intramuskular,


sekali sehari, selama 5 hari.
Sefiksim 10 mg/kgBB/hari, oral, dibagi dalam 2 dosis, selama
10 hari.
Kortikosteroid diberikan pada kasus berat dengan gangguan
kesadaran. Deksametason 10-3 mg/kgBB/hari intravena,
dibagi 3 dosis hingga kesadaran membaik.

Indikasi Rawat
Cairan dan Kalori
Terutama pada demam tinggi, muntah
atau diare, bila perlu asupan cairan
dan kalori diberikan melalui sonde
lambung.
Pada ensefalopati, jumlah kebutuhan
cairan
dikurangi
menjadi
4/5
kebutuhan dengan kadar natrium
rendah.
Penuhi kebutuhan volume cairan
intravaskular dan jaringan.
Pertahankan fungsi sirkulasi dengan
baik.

Indikasi Rawat
Antipiretik
Diberikan apabila demam >39oC,
kecuali pada pasien dengan riwayat
kejang demam dapat diberikan lebih
awal
Diet
Makanan tidak berserat dan mudah
dicerna.
Setelah demam reda, dapat segera
diberikan makanan yang lebih padat
dengan kalori cukup.
Transfusi
darah:
kadang-kadang

Pemantauan
Evaluasi demam dengan memonitor suhu.
Apabila pada hari ke 4-5 setelah pengobatan
demam tidak reda, maka harus segera
kembali dievaluasi adakah komplikasi,
sumber infeksi lain, resistensi S.typhi
terhadap antibiotik, atau kemungkinan salah
menegakkan diagnosis.
Pasien dapat dipulangkan apabila tidak
demam selama 24 jam tanpa antipiretik,
nafsu makan membaik, klinis perbaikan, dan
tidak dijumpai komplikasi. Pengobatan dapat
dilanjutkan di rumah.

Prognosis
Prognosis pasien demam tifoid tergantung

ketepatan terapi, usia, keadaan kesehatan


sebelumnya, dan ada tidaknya komplikasi.

Pencegahan
Memperhatikan

kualitas
makanan
dan
minuman yang mereka konsumsi. Salmonella
typhi di dalam air akan mati apabila dipanasi
setinggi 57oC untuk beberapa menit atau
dengan proses iodinasi/klorinasi.
Untuk makanan, pemanasan sampai suhu
57oC beberapa menit dan secara merata juga
dapat mematikan kuman Salmonella typhi.
Imunisasi aktif dapat membantu menekan
angka kejadian demam tifoid.

Vaksin Demam Tifoid


Kuman yang dimatikan
Kuman hidup
Komponen Vi dari Salmonella typhi

Vaksin Demam Tifoid


TAB vaccine
Vaksin yang berisi kuman Salmonella typhi, S.
paratyphi A, S. paratyphi B yang dimatikan dengan
cara pemberian suntikan subkutan; namun vaksin ini
hanya memberikan daya kekebalan yang terbatas.
Ty-21a
Vaksin yang berisi kuman Salmonella typhi hidup yang
dilemahkan diberikan per oral tiga kali dengan interval
pemberian selang sehari, memberi daya perlindungan
6 tahun. Vaksin Ty-21a diberikan pada anak berumur
diatas 2 tahun. Pada penelitian di lapangan didapat
hasil efikasi proteksi yang berbanding terbalik dengan
Vaksin
berisi
komponen Vi dari
derajat yang
transmisi
penyakit.
Salmonella typhi
Vaksin yang berisi komponen Vi dari Salmonella typhi
diberikan secara suntikan intramuskular memberikan
perlindungan 60-70% selama 3 tahun.

TERIMA KASIH