Anda di halaman 1dari 42

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA

ANAK DENGAN PENYAKIT HYPOSPADIA

I.

Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Anak dengan Penyakit Hypospadia


A. Konsep Dasar Penyakit
1. Definisi Hypospadia

Hipospadia berasal dari dua kata yaitu hypo yang berarti di bawah dan
spadon yang berarti keratan yang panjang. Hipospadia adalah suatu kelainan
bawaan congenital dimana meatus uretra externa terletak di permukaan ventral penis
dan lebih ke proksimal dari tempatnya yang normal (ujung glans penis). Hipospadia
merupakan kelainan abnormal dari perkembangan uretra anterior dimana muara dari
uretra terletak ektopik pada bagian ventral dari penis proksimal hingga glands penis.
Muara dari uretra dapat pula terletak pada skrotum atau perineum. Semakin ke
proksimal defek uretra maka penis akan semakin mengalami pemendekan dan
membentuk kurvatur yang disebut chordee. Bentuk hipospadia yang lebih berat
terjadi jika lubang uretra terdapat di tengah batang penis atau pada pangkal penis,
dan kadang pada skrotum (kantung zakar) atau di bawah skrotum. Kelainan ini
seringkali berhubungan dengan kordi, yaitu suatu jaringan fibrosa yang kencang,
yang menyebabkan penis melengkung ke bawah pada saat ereksi.
Hipospadia adalah kelainan kongetinal berupa kelainan letak lubang uretra
pada pria dari ujung penis ke sisi ventral (Corwin, 2009). Hipospadia adalah
kegagalan meatus urinarius meluas ke ujung penis, lubang uretra terletak dibagian

bawah batang penis, skrotum atau perineum (Barbara J. Gruendemann & Billie
Fernsebner, 2005).
Dan menurut (Muscari, 2005) Hipospadia adalah suatu kondisi letak lubang
uretra berada di bawah glans penis atau di bagian mana saja sepanjang permukaan
ventral batang penis. Kulit prepusium ventral sedikit, dan bagian distal tampak
terselubung.
2. Etiologi
Penyebabnya sebenarnya sangat multifaktor dan sampai sekarang belum
diketahui penyebab pasti dari hipospadia. Namun, ada beberapa faktor yang oleh
para ahli dianggap paling berpengaruh antara lain :
1. Gangguan dan ketidakseimbangan hormone, hormone yang dimaksud di sini
adalah hormone androgen yang mengatur organogenesis kelamin (pria). Atau
biasa juga karena reseptor hormone androgennya sendiri di dalam tubuh yang
kurang atau tidak ada. Sehingga walaupun hormone androgen sendiri telah
terbentuk cukup akan tetapi apabila reseptornya tidak ada tetap saja tidak akan
memberikan suatu efek yang semestinya. Atau enzim yang berperan dalam
sintesis hormone androgen tidak mencukupi pun akan berdampak sama.
2. Genetika, Terjadi karena gagalnya sintesis androgen. Hal ini biasanya terjadi
karena mutasi pada gen yang mengode sintesis androgen tersebut sehingga
ekspresi dari gen tersebut tidak terjadi. Mekanisme genetik yang tepat mungkin
rumit dan variabel. Penelitian lain adalah turunan autosomal resesif dengan
manifestasi tidak lengkap. Kelainan kromosom ditemukan secara sporadis pada
pasien dengan hipospadia.
3. Prematuritas, Peningkatan insiden hipospadia ditemukan di antara bayi yang
lahir dari ibu dengan terapi estrogen selama kehamilan. Prematuritas juga lebih
sering dikaitkan dengan hipospadia.
4. Lingkungan, Biasanya faktor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan
dan zat yang bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi.
3. Patofisiologi
Fusi dari garis tengah dari lipatan uretra tidak lengkap terjadi sehingga
meatusuretra terbuka pada sisi ventral dari penis. Ada berbagai derajat kelainan letak
meatus ini,dari yang ringan yaitu sedikit pergeseran pada glans, kemudian disepanjang batang
penis, hingga akhirnya di perineum. Prepusium tidak ada pada sisi ventral dan
menyerupai topi yang menutup sisi dorsal dari glans. Pita jaringan fibrosa yang
dikenal sebagai chordee, pada sisi ventral menyebabkan kurvatura (lengkungan)
ventral dari penis. Hipospadia terjadi dari pengembangan tidak lengkap uretra dalam

rahim. Penyebab pasti cacat diperkirakan terkait dengan pengaruh lingkungan dan
hormonal genetik. Perpindahan dari meatus uretra biasanya tidak mengganggu
kontinensia kemih. Namun, stenosis pembukaan dapat terjadi, yang akan
menimbulkan obstruksi parsial outflowing urine. Hal ini dapat mengakibatkan ISK
atau hidronefrosis. Selanjutnya, penempatan ventral pembukaan urethral bisa
mengganggu kesuburan pada pria dewasa, jika dibiarkan tidak terkoreksi
POHON MASALAH
Proses
4.
perkembangan
5.
janin
6.
7.
HIPOSPADIA

8.
Tidak dilakukan
9.
operasi
-

10.

Pembentukan
uretra terganggu

Pembentukan
saluran kencing
tidak sempurna
Gangguan
eliminasi urine

Stenosis
meatus
11.
(aliran
urine sulit
12.
diatur)
13.
- Testis turusn ke
dalam
14. skrotum
Defisiensi
15.
pengetahuan
(ansietas)

16.
Pemasangan
kateter

Risiko infeksi
17.
4. Klasifikasi

Penyatuan glandula
uretra di garis tengah
lipatan uretra tidak
lengkap

Meatus uretra terbuka


pada sisi ventral penis

Pembedahan
(operasi)
Eksisi chorde
uretroplasty
Pra pembedahan

Nyeri

Gangguan rasa
nyaman

(Gambar : Jenis-jenis hipospadia berdasarkan letak lubang saluran kemih beserta


persentasi kejadiannya)

Terdapat berbagai tipe hipospadia berdasarkan letak orifisium atau posisi meatus uretra,
yaitu:
1. Hipospadia tipe Perenial, lubang kencing berada di antara anus dan buah zakar.

2. Hipospadia tipe Scrotal, lubang kencing berada tepat di bagian depan buah
zakar.
3. Hipospadia tipe Peno Scrotal, lubang kencing terletak di antara buah zakar
(skrotum) dan batang penis.
4. Hipospadia tipe Peneana Proximal, lubang kencing berada di bawah pangkal
penis.
5. Hipospadia tipe Mediana, lubang kencing berada di bawah bagian tengah
batang penis.
6. Hipospadia tipe Distal Peneana, lubang kencing berada di bawah ujung batang
penis.
7. Hipospadia tipe Sub Coronal, lubang kencing berada pada sulcus coronarius
penis (cekungan kepala penis).
8. Hipospadia tipe Granular, lubang kencing sudah berada pada kepala penis hanya
letaknya masih berada di bawah kepala penisnya.
Berbagai tipe hipospadia di atas dapat digolongkan menjadi tiga golongan, yaitu :
1. Tipe sederhana atau tipe anterior. Terletak di anterior yang terdiri dari tipe
glandular (hipospadia glanduler) dan coronal (hipospadia koronal). Pada tipe ini,
meatus terletak pada pangkal glans penis. Secara klinis, kelainan ini bersifat
asimtomatik dan tidak memerlukan suatu tindakan. Bila meatus agak sempit
dapat dilakukan dilatasi atau meatotomi.
2. Tipe penil atau tipe middle. Tipe middle terdiri dari distal penile, mediana, dan
proksimal penile. Pada tipe ini, meatus terletak antara glans penis dan skrotum
(hipospadia penoskrotal). Biasanya disertai dengan kelainan penyerta, yaitu
tidak adanya kulit prepusium bagian ventral, sehingga penis terlihat melengkung
kebawah atau glans penis menjadi pipih. Pada kelainan tipe ini, diperlukan
intervensi tindakan bedah secara bertahap, mengingat kulit dibagian ventral
preposium tidak ada maka sebaiknya sirkumisi karena sisa kulit yang ada dapat
berguna untuk tindakan bedah selanjutnya.
3. Tipe posterior. Tipe posterior terdiri dari pene-escrontal, tipe scrotal, dan
perineal. Pada tipe ini umumnya pertumbuhan penis akan terganggu, kadang
disertai dengan skrotum befida, meatus uretra terbuka lebar, dan umumnya testis
tidak turun. Hipospadia perineal dapat menunjukkan kemungkinan letak lubang
kencing pada pasien hipospadia
5. Gejala Klinik
Gejala dan tanda yang biasanya di timbulkan antara lain :
1. Glans penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal di bagian
bawah penis yang menyerupai meatus uretra eksternus.

2. Preputium (kulup) tidak ada dibagian bawah penis, menumpuk di bagian


punggung penis.
3. Adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan
membentang hingga ke glans penis, teraba lebih keras dari jaringan sekitar.
4. Kulit penis bagian bawah sangat tipis.
5. Tunika dartos, fasia Buch dan korpus spongiosum tidak ada.
6. Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada dasar dari glans penis.
7. Chordee dapat timbul tanpa hipospadia sehingga penis menjadi bengkok.
8. Sering disertai undescended testis (testis tidak turun ke kantung skrotum).
9. Kadang disertai kelainan kongenital pada ginjal.
10. Pancaran air kencing pada saat BAK tidak lurus, biasanya kebawah,
menyebar,mengalir melalui batang penis, sehingga anak akan jongkok pada
saat BAK.
11. Pada Hipospadia grandular/ koronal anak dapat BAK dengan berdiri
denganmengangkat penis keatas.
12. Pada Hipospadia peniscrotal/ perineal anak berkemih dengan jongkok.
13. Penis akan melengkung kebawah pada saat ereksi.
Gambaran klinis Hipospadia :
1. Kesulitan atau ketidakmampuan berkemih secara adekuat dengan posisi
berdiri.
2. Chordee (melengkungnya penis) dapat menyertai hipospadia.
3. Hernia inguinalis (testis tidak turun) dapat menyertai hipospadia (Corwin,
2009).
4. Lokasi meatus urine yang tidak tepat dapat terlihat pada saat lahir (Muscari,
2005).

6. Pemeriksaan Fisik
1. Sistem kardiovaskuler (Tidak ditemukan kelainan)
2. Sistem neurologi (Tidak ditemukan kelainan)
3. Sistem pernapasan (Tidak ditemukan kelainan)
4. Sistem integumen (Tidak ditemukan kelainan)
5. Sistem muskuloskletal (Tidak ditemukan kelainan)
6. Sistem Perkemihan
a. Palpasi abdomen untuk melihat distensi vesika urinaria atau pembesaran
pada ginjal.
b. Kaji fungsi perkemihan
c. Dysuria setelah operasi
7. Sistem Reproduksi
a. Adanya lekukan pada ujung penis
b. Melengkungnya penis ke bawah dengan atau tanpa ereksi
c. Terbukanya uretra pada ventral

d. Pengkajian setelah pembedahan : pembengkakan penis, perdarahan,


drinage.
7. Pemeriksaan Diagnostic / Penunjang
Pemeriksaan diagnostik berupa pemeriksaan fisik. Jarang dilakukan
pemeriksaan tambahan untuk mendukung diagnosis hipospadia. Tetapi dapat
dilakukan pemeriksaan ginjal seperti USG mengingat hipospadia sering disertai
kelainan pada ginjal. Pemeriksaan diagnostic meliputi :
1. USG sistem kemih kelamin
2. BNO-IVP karena biasanya pada hipospadia juga disertai dengan kelainan
kongenital ginjal
3. Kultur urine.
8. Diagnose / Criteria Diagnosis
Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan obstruksi anatomik (aliran urine
sulit diatur)
a. Definisi
Disfungsi pada eliminasi urine
b. Batasan Karakteristik
1. Disuria
2. Sering berkemih
3. Anyang-anyangan
4. Inkontinensia
5. Nokturia
6. Retensi
7. Dorongan
c. Faktor yang Berhubungan
1. Obstruksi anatomik
2. Penyebab multipel
3. Gangguan sensori motorik
4. Infeksi saluran kemih

Ansietas berhubungan dengan krisis situsional (tindakan operasi yang akan


dilakukan)
a. Definisi
Ansietas adalah perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar
disertai respons otonom (sumber sering kali tidak spesifik atau tidak
diketahui oleh individu), perasaan takut yang disebabkan oleh antisipasi
terhadap

bahaya.

Hal

ini

merupakan

isyarat

kewaspadaan

yang

memperingatkan individu akan adanya bahaya dan memampukan individu


untuk bertindak menghadapi bencana (NANDA, 2012).
b. Batasan Karakteristik

Menurut NANDA, 2012 batasan karakteristik dari ansietas adalah sebagai


berikut
1) Perilaku
a) Penurunan produktivitas
b) Gelisah
c) Insomnia
d) Kontak mata yang buruk
e) Mengekspresikan kekhawatiran karena perubahan dalam peristiwa
hidup
f) Tampak waspada
2) Afektif
a) Gelisah
b) Kesedihan yang mendalam
c) Distress
d) Ketakutan
e) Perasaan tidak adekuat
f) Berfokus pada diri sendiri
g) Peningkatan kewaspadaan
h) Rasa nyeri yang meningkatkan ketidakberdayaan
i) Khawatir
3) Fisiologis
a) Wajah tegang
b) Tremor tangan
c) Peningkatan keringat
d) Peningkatan ketegangan
e) Gemetar
f) Tremor
g) Suara bergetar
4) Simpatik
a) Anoreksia
b) Mulut kering
c) Jantung berdebar-debar
d) Peningkatan tekanan darah
e) Peningkatan denyut nadi
f) Peningkatan reflex

g) Peningkatan frekuensi pernapasan


5) Parasimpatik
a) Nyeri abdomen
b) Gangguan tidur
c) Kesemutan pada ekstremitas
6) Kognitif
a) Kesulitan berkonsentrasi
b) Penurunan kemampuan untuk belajar
c) Ketakutan terhadap konsekuensi yang tidak spesifik
c. Faktor yang Berhubungan
Menurut NANDA 2012-2014 faktor yang berhubungan dari ansietas adalah
sebagai berikut
1) Perubahan dalam :
a) Status ekonomi
b) Status kesehatan
2) Infeksi/kontaminan interpersonal
3) Penularan penyakit interpersonal
4) Krisis situasional
5) Stress
6) Penyalahgunaan zat
7) Kebutuhan yang tidak dipenuhi

Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan informasi tentang


prosedur pengobatan yang akan dilakukan
a. Definisi
Ketiadaan atau defisiensi informasi kognitif yang berkaitan dengan topik
tertentu.
b. Batasan Karakteristik
a) Perilaku hiperbola
b) Ketidakakuratan mengikuti perintah
c) Perilaku tidak tepat (misalnya: histeris, bermusuhan, agitasi,

c.
a)
b)
c)
d)
e)

apatis)
d) Pengungkapan masalah
Faktor yang Berhubungan
Keterbatasan kognitif atau informasi
Salah interpretasi informasi
Kurang pajanan
Kurang minat dalam belajar
Kurang dapat mengingat

f) Tidak famailier dengan sumber informasi

Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasive (pemasangan kateter)


a. Definisi
Keadaan ketika individu berisiko terserang agens patogenik atau opotunistik
(virus, jamur,bakteri, protozoa, atau parasit lain ) yang berasal dari sumbersumber endogen atau eksogen
b. Faktor yang berhubungan
Berbagai situasi dan masalaah kesehataan dapat memunculkan kondisi yang
mendukung perkembangan infeksi. Beberapa faktor yang umum dijumpai
adalaah sebagai berikut :
Patofisilogis :
1) melemahnya daya tahan hospes sekunder
2) gangguan sirkulasi
3) Terkait-penangan
4) tempat masuknya organisme biologis (adanya jalur invasif)
5) melemahnya daya tahan hospes
6) tempat masuknya organisme sekunder
7) kontak dengan agens yang menular (nosokomial, atau yang didapat dari
komunitas )
8) peningkatan kerentanan bayi.

Nyeri akut berhubungan dengan cidera fisik akibat pembedahan


a. Definisi
Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang
muncul akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau
digambarkan dalam hal kerusakan sedemikian rupa (International
Association for the Study of Pain), awitan yang tiba-tiba atau lambat dari
intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau
diprediksi dan berlangsung < 6 bulan.
b. Batasan Karakteristik
Perubahan selera makan
Perubahan tekanan darah
Perubahan frekuensi jantung
Perubahan frekuensi pernapasan
Mengekspresikan perilaku (mis, gelisah, merengek, menangis,

waspada, iritabilitas, mendesah)


Sikap melindungi area nyeri
Fokus menyempit (mis,gangguan persepsi nyeri, hambatan proses

berpikir, penurunan interaksi dengan orang dan lingkungan)


Indikasi nyeri yang dapat diamati
Perubahan posisi untuk menghindari nyeri
Sikap tubuh melindungi
Fokus pada diri sendiri

Gangguan tidur
c. Faktor yang Berhubungan
Agens cedera (mis.,biologis, zat kimia, fisik, psikologis)
9. Terapi / Tindakan Penanganan
Tindakan operatif merupakan penatalaksanaan definitif dari hipospadia.
Operasi biasanya dilakukan dalam rentang waktu tahun pertama usia bayi, dengan
syarat ukuran jaringan penis cukup besar dan jelas untuk bisa dimanipulasi. Tidak
jarang ukuran penis penderita hipospadia lebih kecil dari ukuran penis anak
sebayanya (micropenis), dalam hal ini penderita akan dialihkan dahulu ke dokter
anak untuk mendapatkan terapi hormonal sampai ukuran penis sesuai. Operasi
sebaiknya telah tuntas dilakukan sebelum penderita memasuki usia sekolah. Tujuan
operasi adalah mengembalikan penis ke dalam bentuk dan fungsi sebaik-baiknya.
Untuk mencapai hal tersebut, maka lubang kencing harus dikembalikan ke posisi
seanatomis mungkin di ujung kepala penis, dan bentuk penis harus tegak lurus saat
ereksi.Komplikasi pascaoperasi yang mungkin terjadi adalah perdarahan, infeksi
luka, kebocoran saluran kencing baru (fistula) dan penyempitan lubang kencing baru
(striktura) seperti yang sudah dijelaskan di atas. Untuk menekan risiko striktura, saat
ini ahli bedah plastik rekonstruksi mengembangkan teknik operasi 2 tahap :
1) Chordectomy dan Meatotomi
Operasi tahap pertama mencakup pembuangan jaringan ikat (chordee
release), pembuatan lubang kencing di ujung kepala penis sesuai bentuk
anatomi yang baik, dan membuat saluran kencing baru (tunneling) di dalam
kepala penis yang dindingnya dibentuk dari kulit tudung (preputium) kepala
penis. Operasi tahap pertama ini menentukan hasil akhir operasi hipospadia
secara keseluruhan; operasi tahap pertama yang baik akan menghasilkan
bentuk estetik penis yang anatomis penis lurus dan lubang kencing tepat di
ujung kepala penis dan bebas dari risiko striktura.
2) Urethroplasty
Operasi tahap kedua dilakukan setelah proses penyembuhan operasi
pertama tuntas, paling dini 6 bulan setelah operasi pertama. Operasi tahap
kedua membentuk saluran kencing baru (urethroplasty) di batang penis yang
menghubungkan lubang kencing abnormal, saluran kencing di dalam kepala
penis, dan lubang kencing baru di ujung penis. Dengan teknik operasi yang
baik, risiko komplikasi kebocoran saluran kencing dapat diperkecil.

Apapun teknik operasi hipospadia yang dikerjakan (1 tahap atau 2 tahap),


semuanya membutuhkan kelebihan kulit tudung kepala penis (preputium) untuk
rekonsuksi saluran kencing baru. Oleh karena itu,pada setiap bayi yang menderita
hipospadia tidak boleh dilakukan khitan (sirkumsisi). Bentuk penis setelah operasi
hipospadia sudah serupa dengan bentuk penis setelah khitan.

Diagnosa : Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan obstruksi anatomik


(aliran urine sulit diatur)
1. Gunakan gambar-gambar atau boneka untuk menjelaskan prosedur,
pemasangan kateter menetap, mempertahankan kateter, dan perawatan
kateter, pengosongan kantong urin,
2. Monitor urine, warna dan kejernihan, dan perdarahan
3. Gunakan teknik aseptik untuk perawatan kateter
4. Perhatikan setiap saat yaitu posisi kateter tetap atau tidak
5. Monitor adanya kink-kink (tekukan pada kateter) atau kemacetan
6. Pastikan kateter pada anak terbalut dengan benar dan tidak lepas
7. Hindari alat-alat tenun atau yang lainnya yang dapat mengkontaminasi
kateter dan penis
8. Monitor intake dan output (pemasukan dan pengeluaran)

Diagnosa : Ansietas berhubungan dengan krisis situsional (tindakan operasi yang


akan dilakukan)
1. Meningkatkan rasa nyaman
2. Pemberian air minum yang adekuat
3. Ajarkan untuk ekspresi perasaan dan perhatian tentang kelainan pada penis.

Diagnosa : Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan informasi


tentang prosedur pengobatan yang akan dilakukan
1. Memberikan pengajaran dan penjelasan pada orang tua sebelum operasi
tentang prosedur pembedahan, perawatan setelah operasi, pengukuran tandatanda vital, dan pemasangan kateter
2. Jelaskan tentang pengobatan yang diberikan, efek samping dan dosis serta
waktu
3. Ajarkan orang tua untuk berpartisipasi dalam perawatan sebelum dan
sesudah operasi

Diagnosa : Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasive (pemasangan


kateter)
1. Gunakan teknik aseptik untuk perawatan kateter
2. Memastikan kebersihan pasien, keluarga dan lingkungan
3. Ajarkan orang tua untuk berpartisipasi dalam perawatan sebelum dan
sesudah operasi.

Diagnosa : Nyeri akut berhubungan dengan cidera fisik akibat pembedahan


1. Pemberian analgetik sesuai program
2. Ajarkan untuk ekspresi perasaan dan perhatian tentang kelainan pada penis.

10. Komplikasi
Komplikasi dari hipospadia antara lain :
1. Dapat terjadi disfungsi ejakulasi pada pria dewasa. Apabila chordee nya parah,
maka penetrasi selama berhubungan intim tidak dapat dilakukan
2. Pseudohermatroditisme (keadaan yang ditandai dengan alat-alat kelamin dalam
satu jenis kelamin tetapi dengan satu beberapa ciri seksual tertentu) (Ramali,
Ahmad & K. St. Pamoentjak, 2005)
3. Psikis (malu) karena perubahan posisi BAK
4. Kesukaran saat berhubungan saat, bila tidak segera dioperasi saat dewasa (Anakhipospadia)
Komplikasi pascaoperasi yang terjadi :
1. Edema / pembengkakan yang terjadi akibat reaksi jaringan besarnya dapat
bervariasi, juga terbentuknya hematom/ kumpulan darah di bawah kulit, yang
biasanya dicegah dengan balutan ditekan selama 2 sampai 3 hari pascaoperasi
2. Striktur, pada proksimal anastomis yang kemungkinan disebabkan oleh angulasi
dari anastomis
3. Rambut dalam uretra, yang dapat mengakibatkan infeksi saluran kencing
berulang atau pembentukan batu saat pubertas
4. Fitula uretrokutan, merupakan komplikasi yang sering dan digunakan sebagai
parameter untuk menilai keberhasilan operasi. Pada prosedur satu tahap saat ini
angka kejadian yang dapat diterima adalah 5-10%
5. Residual chordee /rekuren chrodee, akibat dari chordee yang tidak sempurna,
dimana tidak melakukan ereksi artifisial saat operasi atau pembentukan scar
yang berlebihan di ventral penis walaupun sangat jarang
6. Divertikulum (kantung abnormal yang menonjol ke luar dari saluran atau alat
berongga) (Ramali, Ahmad & K. St. Pamoentjak, 2005), terjadi pada

pembentukan neouretra yang terlalu lebar atau adanya stenosis meatal yang
mengakibatkan dilatasi yang dilanjut.
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian (data subyektif/obyektif)
A. Identitas
1. Usia
Ditemukan saat lahir
2. Jenis kelamin
Hipospadia merupakan anomaly uretra yang paling sering terjadi pada
laki-laki dengan angka kemunculan 1:250 dari kelahiran hidup.
B. Keluhan Utama
Lubang penis tidak terdapat diujung penis, tetapi berada dibawah atau
didasar penis, penis melengkung kebawah, penis tampak seperti
berkerudung karena adanya kelainan pada kulit dengan penis, jika
berkemih anak harus duduk.
C. Riwayat Kesehatan
1. Riwayat Penyakit Sekarang
Pada umumnya pasien dengan hipospadia ditemukan adanya lubang
kencing yang tidak pada tempatnya sejak lahir dan tidak diketahui
dengan pasti penyebabnya.
2. Riwayat Penyakit Dahulu
Biasanya pasien dengan hipospadia ditemukan adanya penis yang
melengkung kebawah adanya lubang kencing tidak pada tempatnya
sejak lahir.
3. Riwayat Kongenital
a. Penyebab yang jelas belum diketahui.
b. Dihubungkan dengan penurunan sifat genetik.
c. Lingkungan polutan teratogenik.
D. Riwayat Kehamilan Dan Kelahiran
Hipospadia terjadi karena adanya hambatan penutupan uretra penis pada
kehamilan minggu ke-10 sampai minggu ke-14.
E. Activity Daily Life
1. Nutrisi
Tidak ada gangguan
2. Eliminasi
Anak laki-laki dengan hipospadia akan mengalami kesukaran dalam
mengarahkan aliran urinenya, bergantung pada keparahan anomali,
penderita mungkin perlu mengeluarkan urine dalam posisi duduk.
Konstriksi lubang abnormal menyebabkan obstruksi urine parsial dan
disertai oleh peningkatan insiden ISK
3. Hygiene Personal
Dibantu oleh perawat dan keluarga
4. Istirahat dan Tidur

Tidak ada gangguan


F. Pemeriksaan Fisik
a. Sistem kardiovaskuler (Tidak ditemukan kelainan)
b. Sistem neurologi (Tidak ditemukan kelainan)
c. Sistem pernapasan (Tidak ditemukan kelainan)
d. Sistem integumen (Tidak ditemukan kelainan)
e. Sistem muskuloskletal (Tidak ditemukan kelainan)
f. Sistem Perkemihan
1. Palpasi abdomen untuk melihat distensi vesika urinaria atau
pembesaran pada ginjal.
2. Kaji fungsi perkemihan
3. Dysuria setelah operasi
g. Sistem Reproduksi
1. Adanya lekukan pada ujung penis
2. Melengkungnya penis ke bawah dengan atau tanpa ereksi
3. Terbukanya uretra pada ventral
4. Pengkajian setelah pembedahan : pembengkakan penis, perdarahan,
drinage.
2. Diagnose keperawatan yang mungkin muncul
Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan obstruksi anatomik (aliran urine
sulit diatur)
a. Definisi
Disfungsi pada eliminasi urine
b. Batasan Karakteristik
1. Disuria
2. Sering berkemih
3. Anyang-anyangan
4. Inkontinensia
5. Nokturia
6. Retensi
7. Dorongan
c. Faktor yang Berhubungan
1. Obstruksi anatomic
2. Penyebab multiple
3. Gangguan sensori motoric
4. Infeksi saluran kemih

Ansietas berhubungan dengan krisis situsional (tindakan operasi yang akan


dilakukan)
a. Definisi
Ansietas adalah perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar
disertai respons otonom (sumber sering kali tidak spesifik atau tidak
diketahui oleh individu), perasaan takut yang disebabkan oleh antisipasi
terhadap

bahaya.

Hal

ini

merupakan

isyarat

kewaspadaan

yang

memperingatkan individu akan adanya bahaya dan memampukan individu


untuk bertindak menghadapi bencana (NANDA, 2012).
b. Batasan Karakteristik
Menurut NANDA, 2012 batasan karakteristik dari ansietas adalah sebagai
berikut
1) Perilaku
a) Penurunan produktivitas
b) Gelisah
c) Insomnia
d) Kontak mata yang buruk
e) Mengekspresikan kekhawatiran karena perubahan dalam peristiwa
hidup
f) Tampak waspada
2) Afektif
a) Gelisah
b. Kesedihan yang mendalam
c. Distress
d. Ketakutan
e. Perasaan tidak adekuat
f. Berfokus pada diri sendiri
g. Peningkatan kewaspadaan
h. Rasa nyeri yang meningkatkan ketidakberdayaan
i. Khawatir
3) Fisiologis
a) Wajah tegang
b) Tremor tangan
c) Peningkatan keringat
d) Peningkatan ketegangan
e) Gemetar
f) Tremor
g) Suara bergetar
4) Simpatik
a) Anoreksia
b) Mulut kering
c) Jantung berdebar-debar
d) Peningkatan tekanan darah
e) Peningkatan denyut nadi
f) Peningkatan refleks
g) Peningkatan frekuensi pernapasan
5) Parasimpatik

a) Nyeri abdomen
b) Gangguan tidur
c) Kesemutan pada ekstremitas
6) Kognitif
a) Kesulitan berkonsentrasi
b) Penurunan kemampuan untuk belajar
c) Ketakutan terhadap konsekuensi yang tidak spesifik
c. Faktor yang Berhubungan
Menurut NANDA 2012-2014 faktor yang berhubungan dari ansietas adalah
sebagai berikut :
1) Perubahan dalam :
a) Status ekonomi
b) Status kesehatan
2) Infeksi/kontaminan interpersonal
3) Penularan penyakit interpersonal
4) Krisis situasional
5) Stress
6) Penyalahgunaan zat
7) Kebutuhan yang tidak dipenuhi

Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan informasi tentang


prosedur pengobatan yang akan dilakukan
a. Definisi
Ketiadaan atau defisiensi informasi kognitif yang berkaitan dengan topik
tertentu.
b. Batasan Karakteristik
a) Perilaku hiperbola
b) Ketidakakuratan mengikuti perintah
c) Perilaku tidak tepat (misalnya: histeris, bermusuhan, agitasi, apatis)
d) Pengungkapan masalah
c. Faktor yang Berhubungan
a) Keterbatasan kognitif atau informasi
b) Salah interpretasi informasi
c) Kurang pajanan
d) Kurang minat dalam belajar
e) Kurang dapat mengingat
f) Tidak famailier dengan sumber informasi

Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasive (pemasangan kateter)


a) Definisi

Keadaan ketika individu berisiko terserang agens patogenik atau opotunistik


(virus, jamur,bakteri, protozoa, atau parasit lain ) yang berasal dari sumbersumber endogen atau eksogen
b) Faktor yang berhubungan
Berbagai situasi dan masalaah kesehataan dapat memunculkan kondisi yang
mendukung perkembangan infeksi. Beberapa faktor yang umum dijumpai
adalaah sebagai berikut :
Patofisilogis :
1) Melemahnya daya tahan hospes sekunder
2) Gangguan sirkulasi
3) Terkait-penangan
4) Tempat masuknya organisme biologis (adanya jalur invasif)
5) Melemahnya daya tahan hospes
6) Tempat masuknya organisme sekunder
7) Kontak dengan agens yang menular (nosokomial, atau yang didapat dari
komunitas )
8) Peningkatan kerentanan bayi.

Nyeri akut berhubungan dengan cidera fisik akibat pembedahan


a. Definisi
Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang
muncul akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau
digambarkan dalam hal kerusakan sedemikian rupa (International
Association for the Study of Pain), awitan yang tiba-tiba atau lambat dari
intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau
diprediksi dan berlangsung < 6 bulan.
b. Batasan Karakteristik
a) Perubahan selera makan
b) Perubahan tekanan darah
c) Perubahan frekuensi jantung
d) Perubahan frekuensi pernapasan
e) Mengekspresikan perilaku (mis, gelisah, merengek, menangis,
waspada, iritabilitas, mendesah)
f) Sikap melindungi area nyeri
g) Fokus menyempit (mis,gangguan persepsi nyeri, hambatan proses
berpikir, penurunan interaksi dengan orang dan lingkungan)
h) Indikasi nyeri yang dapat diamati
i) Perubahan posisi untuk menghindari nyeri
j) Sikap tubuh melindungi
k) Fokus pada diri sendiri
l) Gangguan tidur
c. Faktor yang Berhubungan
Agens cedera (mis.,biologis, zat kimia, fisik, psikologis)

3. Rencana Asuhan Keperawatan

1. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan obstruksi anatomik (aliran urine


sulit diatur)
No
1

Diagnosa

Tujuan dan Kriteria Hasil

Keperawatan
Gangguan

(NOC)
Setelah diberikan

Eliminasi Urine

keperawatan.x

Intervensi (NIC)

asuhan NIC
jam Urinary Retention Care

diharapkan pola eliminasi

a. Lakukan

urine pasien normal dengan

kemih

Kriteria Hasil

komprehensif

a. Kandung

kemih

kosong secara penuh


b. Tidak

ada

residu

urine > 100-200 cc


c. Intake cairan dalam
rentang normal
d. Bebas dari ISK
e. Tidak ada spasme
bladder
f. Balance
seimbang

cairan

penilaian
yang

berfokus

pada

inkontinensia
(misalnya

output

urin, pola berkemihkemih,

fungsi

kognitif, dan masalah


kencing )
b. Memantau
penggunaan

obat

dengan

sifat

antikolinergik

atau

properti alpha agonis


c. Monitor

efek

dari

obat-obatan

yang

diresepkan,

seperti

calcium

channel

blockers

dan

antikolinergik
d. Sediakan waktu yang
cukup

untuk

pengosongan kandung
kemih (10 menit)
e. Masukkan

kateter

kemih
f. Anjurkan
pasien/keluarga untuk

merekam output urine


g. Memantau asupan dan
keluaran
h. Memantau

tingkat

distensi

kandung

kemih dengan palpasi


dan perkusi
i. Membantu

dengan

toilet secara berkala


j. Menerapkan
kateterisasi
intermitten
k. Rujuk

ke

spesialis

kontinensia kemih
2. Ansietas berhubungan dengan krisis situsional (tindakan operasi yang akan
dilakukan)
No Diagnosa

Tujuan & Kriteria

Intervensi

Hasil
2

Ansietas

NOC

NIC

a. Anxiety self-control

Anxiety

b. Anxiety level

(penurunan

c. Coping

kecemasan)

Kriteria Hasil :
a. Klien

Reduction

d. Gunakan
mampu

menunjukkan gejala
cemas

pendekatan
menenangkan
e. Jelaskan

b. Mengidentifikasi,

yang
semua

prosedur dan apa

mengungkapkan dan

yang

menunjukkan teknik

selama prosedur

untuk

mengontrol

cemas
c. Vital

dirasakan

f. Pahami prespektif
pasien

sign

dalam

batas normal
d. Postur
ekspresi

terhadap

situasi stress
g. Temani

pasien

tubuh,

untuk memberikan

wajah,

keamanan

dan

bahasa

tubuh

tingkat

dan

aktivitas

mengurangi takut
h. Dorong

menunjukkan

untuk

berkurangnya

anak

kecemasan

keluarga
menemani

i. Identifikasi tingkat
kecemasan
j. Bantu
mengenal

pasien
situasi

yang
menimbulkan
kecemasan
k. Dorong

pasien

untuk
mengungkapkan
perasaan,
ketakutan,
persepsi
l. Instruksikan
keluarga

untuk

menggunakan
teknik relaksasi
m. Berikan

obat

untuk mengurangi
kecemasan

3. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan informasi tentang


prosedur pengobatan yang akan dilakukan
Diagnosa

Tujuan & Kriteris Hasil

Intervensi

NOC
Difisiensi pengetahuan

Knowledge

: NIC

Teaching
:
disease
disease proces
Knowledge : health proces
behavior
Berikan penilaian
Kriteria hasil

keluarga

tentang

tingkat

menyatakan

pengetahuan

tentang penyakit,

keluarga tentang

kondisi, prognosis

proses

dan

yang spesifik
Jelaskan

program

pengobatan
keluarga mampu

penyakit

patofisiologi dari

melaksanakan

penyakit

prosedur

bagaimana hal ini

yang

berhungan

dijelaskan secara
benar
Keluarga mampu
menjelaskan

dengan

anatomi

dan

fisiologi

,dengan cara yang

kembali apa yang


dijelaskan

dan

tepat.
Gambarkan tanda

perawat/tim

dan gejala yang

kesehatan lainnya.

biasa

pada

penyakit, dengan

tanda yang tepat


Identifikasi
kemungkinan
penyebab, dengan

cara yang tepat


Sediakan
informasi

pada

pasien

tentang

kondisi,

dengan

cara yang tepat


Hindari jaminan

yang kosong
Sediakan
bagi
keluarga
informasi tentang
kemajuan pasien
dengan cara yang

tepat
Diskusikan

perubahan

gaya

hidup

yang

mungkin
diperlukan untuk
mencegah
komplikasi yang
akan datang dan
atau

proses

pengontrolan

penyakit.
Diskusikan
pilihan terapi atau

penanganan.
Dukung keluarga
untuk
mengeksplorasi
atau mendapatkan
second informasi
atau

opinion

dengan cara yang


tepat

atau

diindikasikan.
Instruksikan
keluarga
mengenai

tanda

dan gejala untuk


melaporkan pada
pemberi
perawatan
kesehatan, dengan
cara yang tepat.
4. Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasive (pemasangan kateter)
No.

Diagnosa

Tujuan dan Kriteria

Keperawatan

Hasil

Intervensi

4.

Resiko Infeksi

Setelah dilakukan asuhan Kontrol Infeksi


1. Bersihkan lingkungan
keperawatan
selama
setelah dipakai pasien
x.jam diharapkan status
lain
kekebalan
pasien
2. Batasi pengunjung bila
meningkat
dengan
perlu
Kriteria hasil :
3. Instruksikan
pada
1. Klien bebas dari tanda
pengunjung
untuk
dan gejala infeksi
mencuci tangan saat
2. Mendeskripsikan
berkunjung dan setelah
proses
penularan
berkunjun
penyakit , faktor yang
meninggalkan pasien
memengaruhi
4. Gunakan
sabun
penularan
serta
antimikroba untuk cuci
penatalaksanaannya
tangan
3. Menunjukkn
5. Cuci tangan setiap
kemampuan
untuk
sebelum dan sesudah
mencegah
timbunya
tindakan kolaboratif
infeksi
6. Gunakan
baju,sarung
4. Menunjukkan perilaku
tangan sebagai alat
hidup sehat
pelindung
7. Pertahankan lingkungan
aseptik

selama

pemasangan alat
8. Ganti letak IV perifer
dan line central dan
dressing

sesuai

petunjuk
9. Gunakan

dg

kateter

intermiten

untuk

menurunkan

infeksi

kandung kemih
10. Tingkatkan

intake

nutrisi
11. Berikan

terapi

antibiotik

bila

perlu

infection

protection

(proteksi

terhadap

infeksi)

12. Monitor

tanda

dan

gejala infeksi sistemik


dan lokal
13. Monitor

kerentanan

terhadap infeksi
14. Pertahankan
teknik
aseptik
15. Berikan perawatan kulit
pada area epidema
16. Inspeksi
kulit
dan
membran
terhadap

mukosa
kemerahan,

panas dan drainase


17. Inspeksi
kondisi
luka/insisi bedah
18. Ajarkan keluarga tanda
dan gejala infeksi
19. Ajarkan keluarga cara
menghindari infeksi
20. Laporkan
kecurigaan
infeksi

5. Nyeri akut berhubungan dengan cidera fisik akibat pembedahan


No
.
5.

Diagnosa

Tujuan
Hasil

dan

Kriteria Intervensi

Nyeri Akut

NOC :
a. Pain level
b. Pain control
c. Comfort level
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selamax. jam. Pasien
tidak mengalami nyeri,
dengan :
Kriteria Hasil
a. Mampu mengontrol
nyeri
b. Memperlihatkan
bahwa
nyeri
berkurang
dnegan
menggunakan

NIC :
a. Lakukan
pengkajian
nyeri
secara
komprehensif termasuk
lokasi,
karakteristik,
furasi,
frekuensi,
kualitas dan faktor
presipitasi
b. Observasi
reaksi
nonverbal
dari
ketidaknyamanan
c. Bantu
pasien
dan
keluarga untuk mencari
dan
menemukan
dukungan
d. Kontrol
lingkungan
yang
dapat

manajemen nyeri
c. Mampu
mengenali
nyeri
(skala,
intensitas, frekuensi
dan tanda nyeri)
d. Menyatakan
rasa
nyaman setelah nyeri
berkurang
e. Tanda vital dalam
rentang normal
f. Tidak
mengalami
gangguan tidur

e.
f.
g.

h.

i.

mempengaruhi
nyeri
seperti suhu rungan,
pencahayaan
dan
kebisingan
Kurangi
faktor
presipitasi nyeri
Kaji tipe dan sumber
nyeri
untuk
menentukan intervensi
Ajarkan tentang teknik
non farmakologi : napas
dala,
relaksasi,
distraksi,
kompres
hangat/dingin
Berikan
informasi
tentang nyeri kepada
keluarga pasien seperti
penyebab nyeri, berapa
lama
nyeri
akan
berkurang
dan
antisipasi
ketidaknyamanan dari
prosedur
Monitor vital sign
sebelum dan sesudah
pemberian analgesik

DAFTAR PUSTAKA

Anak-hipospadia. (t.thn.). Dipetik Agustus 5, 2012, dari Scribd: http://ml.scribd.com


Corwin, E. J. (2009). Buku Saku : Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Johnson, Marion dkk. (2000). Nursing outcomes classification (NOC). Mosby
Mansjoer, Arif, dkk. (2000).Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2, Jakarta : Media
Aesculapius.
McCloskey, Joanne C. (1996). Nursing interventions classification (NIC). Mosby
NANDA International. 2012.Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 20122014.Jakarta: EGC
NANDA NIC-NOC. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
Medis & NANDA. Jogjakarta: Mediaactin
Price, Sylvia Anderson. (2000). Pathofisiologi. Jakarta: EGC
Purnomo, B Basuki. (2000). Dasar dasar urologi. Jakarta : Infomedika
Santosa, Budi. (2005-2006). NANDA. Prima Medika
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. (2000). Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak.
Jakarta :EGC.
Suriadi SKp, dkk. (2001). Asuhan keperawatan pada anak. Jakarta : Fajar Interpratama

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK


DENGAN PENYAKIT HIPOSPADIA DI RSUD WANGAYA
TANGGAL 9 JANUARI 2016
II.

Asuhan Keperawatan Anak dengan Penyakit Hypospadia


A. Pengkajian
I.
IDENTITAS
A. Anak
1. Nama
: An. Km
2. Anak yang ke
: 3 (tiga)
3. Tanggal lahir/umur: 21 April 2013/3 th
4. Jenis kelamin
: Laki-laki
5. Agama
: Hindu
B. Orang tua
1. Ayah
a. Nama
: Tn. M (kandung)
b. Umur
: 47 th
c. Pekerjaan
: Pegawai swasta
d. Pendidikan
: SMA
e. Agama
: Hindu
f. Alamat
: Jl. Wibisana Barat no. 20A, Denpasar Utara
2. Ibu
a. Nama
: Ny. S (kandung)
b. Umur
: 45 th
c. Pekerjaan
: IRT
d. Pendidikan
: SMA
e. Agama
: Hindu
g. Alamat
: Jl. Wibisana Barat no. 20A, Denpasar Utara

II.

GENOGRAM ( dibuat apabila ada hubungan dengan kasus yang dibuat )

Tn.
M

Ny. S

An. Km

Ket.
= Laki-laki

= Garis Pernikahan
= Garis Keturunan

= Perempuan

= Penderita hipospadia

III.

ALASAN DIRAWAT
a) Keluhan Utama
:
Keluarga pasien mengatakan pasien susah melakukan BAK
b) Riwayat Penyakit
:
Ny. S datang dengan anaknya An. Km 3 tahun ke RSUD Wangaya pada
tanggal 9 Januari 2016 pukul 10.00 Wita. Ny. S mengeluhkan bahwa
anaknya sering sakitsakitan ,dan memiliki kelainan pada bagian alat
kelaminnya dan susah untuk BAK , setelah dilakukan pemeriksaan oleh
dokter bahwa terjadi juga kelainan pada daerah ginjal An. Km dan

dinyatakan An. Km menderita hipospadia. dan akan segera dilakukan


operasi pada bagian penis An. Km.

IV.

RIWAYAT ANAK (0 6 TAHUN), tergantung penyakit


A. Perawatan dalam masa kandungan :
Ny. S mengatakan selalu memeriksakan kehamilannya ke klinik bersalin
setiap satu bulan sekali dan sudah mendapat imunisasi TT serta tidak ada
riwayat penyakit selama hamil.
B. Perawatan pada waktu kelahiran :
Umur kehamilan 9 bulan dilahirkan di klinik bersalin
Ditolong oleh bidan
Berlangsungnya kelahiran
Lamanya proses persalinan 5 jam
Keadaan bayi setelah lahir normal
BB lahir 3,1 kg PBL 30cm LK 30cm LD 33cm
Ny. S mengatakan An. Km diberi ASI eksklusif serta diberi makanan
tambahan (MPASI) setelah usianya 5 bulan.

V.

KEBUTUHAN BIO-PSIKO-SOSIAL-SPIRITUAL DALAM KEHIDUPAN


SEHARI-HARI
A. Bernafas
1. Kesulitan bernafas : tidak ada
2. Kesulitan dirasakan : tidak ada
3. Keluhan yang dirasa : tidak ada
4. Suara nafas : Normal
B. Makan dan minum
- Bayi
ASI/PASI : Asi eksklusif selama 1,5 th
Makanan pendamping ASI : biscuit milna, bubur tim saring
Makanan cair diberi umur 6 bulan
Bubur susu diberi umur 8 bulan
Nasi tim saring diberi umur 10 bulan
Nasi tim diberi umur 1th
Makanan tambahan sup diberi umur 1,5 th
Pola makan 3 kali dalam sehari selang-seling ASI
-

Anak-anak
Keadaan sebelum sakit nafsu makan pasien 3x sehari, jenis makanan
pokok nasi, jenis lauk ayam, tempe, tahu dan telur, jenis sayuran bayam,
kangkung, wortel dan sayur hijau, alergi udang, jenis makanan selingan
biskuit.
Keaadan saat sakit nafsu makan pasien berkurang cuma 2x sehari dan
sedikit-sedikit, jenis makanan pokok nasi, jenis lauk ayam, tempe, tahu

dan telur, jenis sayuran bayam, kangkung, wortel dan sayur hijau, alergi
udang, jenis makanan selingan biskuit.
C. Eliminasi (BAB/BAK)
Biasa memberitahu dan melakukan BAB/BAK
BAB/BAK di toilet.
BAK: 1x setiap 3 jam,

sendiri, tempat

warna kuning kecoklatan, ada kelainan

(hipospadia). Keluarga pasien mengatakan An. Km susah untuk


melakukan BAK dan merasa kesakitan. Dan kesulitan mengarahkan
aliran urinenya.
BAB: 1x setiap 3 hari warna kuning , bau dipengaruhi oleh makanan
yang dimakan dan flora bakteri yang dimiliki, konsistensi lunak, tidak
ada kelainan.
D. Aktifitas
Pasien suka bermain semua jenis permainan. Dirumah pasien memiliki
permainan mobil-mobilan, bola serta robot-robotan. Pasien sering
bermain di dalam rumahnya dan terkadang di halaman rumahnya
bermain sepak bola.
E. Rekreasi
Pasien biasanya diajak

jalan-jalan

ke

taman

bersama

dengan

keluarganya.
F. Istirahat dan tidur
Kebiasaan istirahat.
Kebiasaan tidur: Pasien mencuci kaki sebelum tidur, kencing sebelum
tidur, tidak mengompol, tidak mengorok, tidak mengigau, jarang terjaga
ketika tidur, tidak ada kebiasaan tidur lainnya, tidur malam selama 810/jam mulai jam 20.00 WITA, bangun pagi jam 07.00 WITA, tidur
ditemani oleh orang tua. Dan terbiasa tidur siang selama 2-3/jam.
G. Kebersihan diri
Mandi :
Pasien mandi di bantu oleh orang tuanya di kamar mandi dengan
memakai sabun dikeringkan dengan handuk.
Menggosok gigi sendiri dengan menggunakan pasta gigi waktu
menggosok gigi selama 2-3 menit.
H. Pengaturan suhu tubuh
Suhu tubuh pasien 36, 5 C.
I. Rasa nyaman
Keluarga pasien mengatakan An. Km sering merasa kesakitan pada
bagian alat kelaminnya dan susah melakukan BAK.
J. Rasa aman
Pasien merasa aman berada di dekat keluarganya. Tetapi pasien merasa
cemas dengan penyakitnya.
K. Belajar (anak dan orang tua)

Keluarga pasien mengatakan bahwa sudah mengetahui tentang makanan


yang baik bagi anaknya, penyebab penyakit yang diderita oleh pasien,
kesehatan lingkungannya, personal hygiene, tumbuh kembang anaknya
yang lambat, dan pendidikan seks serta tentang keluarga berencana.
L. Prestasi
Keluarga pasien mengatakan pasien belum mengerti dengan penyakit
yang dideritanya dan selama sakit pasien selalu mendapat dukungan
kesehatan oleh keluarganya.
M. Hubungan sosial anak
Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien dirawat oleh kedua orang tua
dan nenek, dengan keadaan rumah bersih, dekat dengan keramaian (jalan
raya), dilingkungan perumahan.
N. Melaksanakan ibadah
Keluarga pasien mengatakan pasien melaksanakan ibadah setiap hari dan
dibantu oleh orang tuanya.
VI.

PENGAWASAN KESEHATAN
Bila sehat pasien tidak diawasi. Saat sakit keluarga pasien minta pertolongan
kepada dokter.
Kunjungan ke Posyandu dilakukan setiap pasien mendapatkan jadwal imunisasi
Pengawasan anak dirumah sangat ketat dilakukan oleh orang tuanya.
Imunisasi (1-5 tahun)
Imunisasi

Umur

Tgl diberikan

Reaksi

Tempat
Imunisasi

HB0

0 hari

BCG dan POLIO 1

1
lebih

21 April 2013

Rumah Sakit

Puskesmas

21 Juni 2013

Demam

Puskesmas

21 Juli 2013

Puskesmas

bulan 22 Mei 2013


4

hari
Pentabio 1, POLIO 2

2 bulan 1

Pentabio 2, POLIO 3

hari

Pentabio 3, POLIO 4
CAMPAK

3 bulan 2
hari
4
lebih
hari

25 Agustus 2013

Puskesmas

bulan
5

25 Maret 2015

Puskesmas
-

24 bulan

VII.

PENYAKIT YANG PERNAH DIDERITA


No Jenis
Penyakit

VIII.

Akut/Kronis
/Menular/tidak

Umur

Lamanya

Pertolongan

saat sakit

KESEHATAN LINGKUNGAN
Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien dirawat oleh kedua orang tua dan
nenek, dengan keadaan rumah bersih, dekat dengan keramaian (jalan raya),
dilingkungan perumahan.

IX.

PERKEMBANGAN ANAK (0 6 tahun)


1. Berdasarkan pengukuran Denver Development Screening Test (DDST)
diperoleh perkembangan yang sudah dicapai oleh anak umur 4 bulan adalah:
Motorik kasar
: Berbalik dari telungkup ke telentang, mengangkat
kepala setinggi 90 derajat, mempertahankan posisi
kepala tetap tegak dan stabil, berdiri menumpu beban
Bahasa

pada kaki.
: Mengeluarkan suara gembira bernada tinggi atau
memekik, tersenyum ketika melihat mainan/gambar

Motorik halus

menarik saat bermain sendiri, bersuara ooo/aaa


: Tangan bersentuhan, memegang kericikan, mengikuti

Personal sosial

lewat garis tengah, Mengikuti ke garis tengah,


: Membalas senyuman, tersenyum spontan, mampu

mengamati tangannya sendiri.


2. Berdasarkan pengukuran Kuisioner Pra Screening Perkembangan (KPSP)
diperoleh hasil perkembangan anak usia 4 bulan

5 hari adalah

perkembangan anak sesuai dengan tahap perkembangannya. Berdasarkan


KMS, By. FF yang berusia 4 bulan 5 hari dengan berat badan 6,2 kg
tergolong gizi baik.
X.

PEMERIKSAAN FISIK

A. Kesan umum : Kebersihan baik, pergerakan, postur/bentuk tubuh kurus


B.
C.
D.
E.
F.
G.

tegap , termasuk status gizi baik.


Warna kulit : Sawo matang normal dan tidak terdapat kelainan.
Suara waktu menangis : Keras
Tonus otot : Kuat
Turgor kulit : Normal
Udema : Tidak ada
Kepala
Mikrosepali, penyebaran rambut tidak merata dan kulit kepala tampak
bersih.

H. Mata
Bentuk bola mata juling, pergerakannya normal, keadaan pupil isokor,
konjungtiva merah muda, keadaan kornea mata bening, sklera mata putih,
bulu mata tersebar merata serta ketajaman penglihatan baik.
I. Hidung
Tidak ada secret, tidak ada pergerakkan cuping hidung, tidak ada suara saat
bernafas, jembatan/pungggung hidung mendatar.
J. Telinga
Kebersihan cukup, tidak ada terpasang alat pendengaran, tidak ada
kelainan.
K. Mulut
Kebersihan daerah sekitar mulut cukup, keadaan selaput lendir lembab,
keadaan tenggorokan baik, tidak terdapat kelainan. Keadaan gigi tidak
berlubang, terdapat karang gigi, kebersihan gigi cukup, gusi normal dan
tidak terdapat kerusakan lainnya. Keadaan lidah normal.
L. Leher:
Tidak ada pembesaran kelenjar/pembuluh darah, tidak ada kaku kuduk,
tidak mempunyai gerak leher sempurna.
M. Thoraks:
Bentuk dada simetris, irama pernafasan, tidak ada tarikan otot bantu
pernafasan, adanya suara nafas vesicular.
N. Jantung :
Bunyi jantung normal, tidak terjadi pembesaran pada jantung
O. Persarafan :
Reflek fisiologis normal, reflek patologis normal
P. Abdomen :
Bentuk simetris, tidak terdapat pembesaran organ, tidak teraba skibala,
tidak terdapat nyeri pada perabaan, tidak terdapat disentensi, tidak ada
hernia.
Q. Ekstremitas :
Jari tangan dan jari kaki pendek dan tegap, ibujari gemuk dan lebar, tidak
terdapat udem, reflek lutut normal.
R. Alat kelamin :

Kelainan abnormal dari perkembangan uretra anterior dimana muara dari


uretra terletak ektopik pada bagian ventral dari penis proksimal hingga
glands penis. Penis mengalami pemendekan dan akan melengkung ketika
ereksi.
S. Anus :
Tidak terdapat pelebaran pada vena/hemoroid
T. Antropometri (ukuran pertumbuhan)
1. BB
= 9 kg
2. TB
= 90 cm
3. Lingkar kepala
= 49 cm
4. Lingkar dada
= 52 cm
5. Lingkar lengan
= 13 cm
U. Gejala kardinal :
1. Suhu
= 36,5 oC
2. Nadi
= 100 x/menit
3. Pernafasan
= 30 x/menit
4. Tekanan darah
= 80/70 mmHg

XI.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan

Hasil

Nilai

Satuan

HEMATOLOGI
Darah Rutin
Hb

13.6

12.8 16.8

g/dl

Lekosit

6.0

4.5 13

10^9/L

Eritrosit

4.8

4.4 5.9

10^12/L

Hematokrit

38.2 L

41 53

Trombosit

436 H

150 400

10^9/L

Eosinofil

15

Basofil

01

Netrofil Batang

36

Netrofil Segmen

55

25 60

Limfosit

32

25 50

Monosit

8H

16

Gol. Darah

Differential Count

Koagulasi
PPT
PPT test

16.1

12 19

Detik

PPT kontrol

16.7

12.3 18.9

Detik

PTTK test

40.5

27 42

Detik

PTTK kontrol

36.0

27.0 43.0

Detik

Ureum

27.0

< 31

mg/dl

Creatinin

0.8

<1

mg/dl

PPTK

Kimia Klinik

Pemeriksaan diagnostik meliputi :


1. USG sistem kemih kelamin
2. BNO-IVP karena biasanya pada hipospadia juga disertai dengan kelainan
kongenital ginjal
3. Kultur urine.
XII.

HASIL OBSERVASI
1. Interaksi anak dengan orang tua
Anak tampak dekat dengan ibunya, terlihat dari saat digendong anak
nyaman dengan ibunya dan anak tidak mau berpisah dari ibunya saat akan
dilakukan penimbangan berat badan dan imunisasi.
2. Bentuk / arah komunikasi

Menggunakan komunikasi nonverbal dan komunikasi dilakukan 2 arah.


Misalnya, ketika ibunya memanggil nama anaknya, anaknya merespon
dengan menoleh ke arah suara dan tersenyum.
3. Rasa aman anak
Anak merasa aman dengan ibunya terlihat dari anak tidak menangis saat
digendong ibunya. Saat dilepas dari gendongan ibunya untuk ditimbang
anak agak gelisah dan tampak ingin menangis.
b. Analisa Data
TGL/JAM

DATA FOKUS

INTERPRETASI/

MASALAH

PENYEBAB
9 Januari 2016 DO: Letal uretra tidak
pk. 10.00 Wita

Kelainan pada uretra

normal

Gangguan
eliminasi urine

DS: Keluarga pasien


mengatakan anaknya susah
untuk BAK
9 Januari 2016 DO: Keluarga pasien

Kurangnya

pk. 10.00 Wita

tampak cemas dan pasien

pengetahuan

tampak gelisah

mengenai prosedur

DS: Keluarga pasien

Ansietas

pembedahan/operasi

mengatakan merasa takut


ketika mendengar anaknya
akan dioperasi

c. Diagnosa Keperawatan Berdasarkan Prioritas


No

Tanggal

Diagnosa Keperawatan

Tanggal

muncul
1

9
2016

teratasi

Januari Gangguan

eliminasi

urine

berhubungan 10 Januari

dengan obstruksi anatomik (aliran urine sulit 2016


diatur)

TTD

januari Ansietas

2016

berhubungan

dengan

krisis 10 Januari

situsional (tindakan operasi yang akan 2016


dilakukan)

d. Rencana Keperawatan
RENCANA TINDAKAN
No

Tgl

.
1

Diagnosa

Tujuan & Kriteria Intervensi

keperawatan

hasil

Rasional

/ttd

9 Januari Gangguan

Setelah diberikan

2016

eliminasi

tindakan

mengetahui

urine

keperawatan

keadaan

berhubungan

selama 1 x 6 jam

dengan

diharapkan

pasien
- Untuk

obstruksi

retensi

urine

anatomik

berkurang dengan

(aliran

a. M

urine Kriteria hasil :

sulit diatur)

- Untuk

mengawasi/
memantau
keadaan

pasien
- Dengan

melakukan

hal yang

ada

demikian

residu urine >

akan dapat

a.Kandung kemih
kosong

secara

penuh
b.Tidak
100-200 cc

mempercepat

c.Intake

cairan

eliminasi urin

dalam

rentang

untuk

berkurang.

normal
d. Bebas dari ISK
e.Tidak

Nama

ada

spasme bladder
f. Balance cairan b. Observasi
keadaan pasien
seimbang

c. Lakukan
penilaian kemih
yang
komprehensif
berfokus

pada

inkontinensia
(output/input
urine,

pola

berkemih, fungsi
kognitif,

dan

masalah
kencing)

9 Januari Ansietas

Setelah diberikan a. Jelaskan semua - Suasana

2016

asuhan

berhubungan

prosedur dan apa yang tenang

dengan krisis keperawatan

yang

situsional

selama 1 x 6 jam

selama prosedur

(tindakan

diharapkan

operasi yang perasaan

cemas

akan

pasien berkurang

dilakukan)

dengan

Kriteria

menguragi
ansietas
dengan
menberikan
informasi
yang jelas

Hasil :

dapat

a. Klien

menambah

mampu
menunjukkan
gejala cemas
b. Mengidentifi

pengetahuan
keluarga
pasien
mengenai

kasi,
mengungkap
kan

dirasakan dapat

dan

proses
penyembuhan

menunjukkan

penyakit.
-Untuk

teknik untuk b. Identifikasi

mengetahui

mengontrol

tingkat

cemas

kecemasan

c. Vital

tingkat
kecemasan

sign

dalam

pasien
-Teknik

batas

normal

c. Intruksikan

d. Postur tubuh,

relaksasi

keluarga pasien

ekspresi

untuk

wajah, bahasa

menggunakan

tubuh

teknik relaksasi

dan

adalah teknik
yang sering

tingkat

digunakan
untuk
mengurangi

aktivitas

perasaan

menunjukkan

cemas
-Untuk

berkurangnya
kecemasan

d. Berikan

obat mengurangi

untuk

kecemasan

mengurangi
kecemasan

e. Implementasi Keperawatan
N

Hari/Tanggal/ No

o
1.

Waktu
Sabtu,

Dx
9 1

Januari 2016

Implementasi
Mengobservasi

Evaluasi

Formatif Paraf

(Respon pasien)
keadaan KU : Lemah,

umum pasien

pasien Perawat

tampak pucat dan susah jaga

Pukul 10.00

melakukan BAK

Wita
Pukul

11.00 1

Mengukur tanda-tanda vital

Wita

TD : 80/70 mmHg

Perawat

jaga

: 36,5 C

N : 100x/menit
Rr : 30x/menit
Pukul 12.00 1

Memberikan

makan

dan Puasa (akan menjalankan Perawat

Wita

minum kepada pasien

operasi)

jaga

Pukul 12.30 1

Delegatif dalam pemberian Obat sudah masuk

Perawat

Wita

obat

jaga

Reaksi alergi (-)

- IV NaCl 0,9 % 20 tpm


Pukul 13.00 1

Mengobservasi

Wita

pasien

keadaan KU : Lemah, wajah pucat Perawat


, masih susah BAK , jaga
CM : 1500 cc, CK :
750 cc, IWL : 9 kg

Pukul 14.00 2

Memberikan

Wita

keluarga

HE

kepada Keluarga pasien antusias Perawat

pasien

prosedur

tentang mendengarkan
tindakan mengerti

pembedahan/operasi

yang

dan jaga

dengan

dijelaskan

apa
oleh

perawat
Pukul 14.30 2

Mengajarkan

teknik Keluaga

Wita

relaksasi kepada pasien dan kooperatif


keluarga pasien

pasien Perawat
dan

teknik jaga

relaksasi dilakukan

Pukul 15.00 2

Mengidentifikasi

tingkat Keluarga pasien nampak Perawat

Wita

kecemasan keluarga pasien

tidak merasa cemas lagi jaga


dengan

prosedur

tindakan
pembedahan/operasi dan
keluarga pasien bersedia
mengikuti semua yang
dianjurkan dokter untuk
kesembuhan anaknnya
Pukul 16.00 1

Mengobservasi tanda-tanda

Wita

vital pasien

Perawat
TD : 80/70 mmHg
S

: 36 C

jaga

N : 105x/menit
Rr : 30x/menit

f. Evaluasi
No.

Hari/tanggal/waktu

1.

Sabtu, 9 Januari 2016


Pk. 17.00 Wita

No.
Dx.
1

Evaluasi Sumatif

Paraf

S: Keluarga pasien mengatakan Perawat jaga


pasien

masih

susah

melakukan BAK
O: Pasien tampak pucat, lemah,
CM : 1500 cc/hari , CK :
750 cc/hari
TD : 80/70 mmHg
S

: 36 C

N : 105x/menit
Rr : 30x/menit
A: Tujuan belum tercapai dan
masalah belum teratasi
2.

Sabtu, 9 Januari 2016


Pk. 17.00 Wita

P: Lanjutkan intervensi 1,2,3.


S: Keluarga pasien mengatakan Perawat jaga
sudah tidak cemas dan takut
terhadap prosedur tindakan
pembedahan/operasi
akan

dilakukan

yang
kepada

anaknnya
O: Pasien tampak rileks bersama
dengan ibunya
A: Tujuan tercapai dan Masalah
teratasi
P: Pertahankan kondisi pasien