Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN KLIEN

PERSALINAN DISTOSIA

I.

Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan dengan Klien Persalinan Distosia


A. Konsep Dasar Penyakit
1. Definisi Distosia
Distosia ialah kesulitan dalam jalannya persalinan.(Mochtar, 1989). Distosia secara
harfiah, berarti persalinan sulit, ditandai oleh kemajuan persalinan yang terlalu lambat.Secara
umum, persalinan abnormal sering terjadi jika terdapat ketidakseimbangan ukuran antara
bagian presentasi janin dan jalan lahir.Distosia merupakan akibat dari beberapa kelainan
berbeda yang dapat berdiri sendiri atau kombinasi.(Leveno, 2009).
Distosia bahu adalah tersangkutnya bahu janin dan tidak dapat dilahirkan setelah kepala janin
dilahirkan. Selain itu distosia bahu juga dapat didefinisikan sebagai ketidakmampuan
melahirkan bahu dengan mekanisme atau cara biasa. (Rusniawati, 2011)
Distosia bahu ialah kelahiran kepala janin dengan bahu anterior macet diatas sacral
promontory karena itu tidak bisa lewat masuk ke dalam panggul,atau bahu tersebut bisa lewat
promontorium,tetapi mendapat halangan dari tulang sacrum atau tulang ekor.
Distosia bahu adalah suatu keadaan diperlukannya tambahan maneuver obstetric oleh karena
dengan tarikan biasa ke arah belakangan pada kepala bayi tidak berhasil untuk melahirkan
bayi. Pada persalinan persentasi kepala,setelah kepala lahir bahu tidak dapat dilahirkan
dengan cara pertolongan biasa dan tidak didapatkan sebab lain dari kesulitan tersebut.
Insidensi distosia bahu sebesar sebesar 0,2-0,3 % dari seluruh persalinan vaginal persentasi
kepala . apabila distosia bahu didefinisikan sebagai jarak waktu antara lahirnya kepala
dengan lahirnya badan bayi lebih dari 60 detik,maka insidensitasnya menjadi 11%.
(Prawirohardjo, 2011)
Pada mekanisme persalinan normal,ketika kepala dilahirkan, maka bahu memasuki
panggul dalam posisi oblig. Bahu poterior memasuki panggul lebih dahulu sebelum bahu
anterior.Ketika kepala melakukan putaran paksi luar bahu posterior berada dicekungan tulang
sakrum atau disekitar spina ischiadika dan memberikan ruang yang cukup bagi bahu anterior
untuk memasuki panggul melalui belakang tulang pubis atau berotasi dari foramen

obturator.Apabila bahu berada dalam posisi antero-posterior ketika hendak memasuki pintu
atas panggul, maka bahu porterior dapat tertahan promontorium dan bahu anterior tertahan
tulang pubis. Dalam keadaan demikian kepala yang sudah dilahirkan akan tidak dapat
melakukan putar paksi luar dan tertahan akibat adanya tarikan yang terjadi antar bahu
posterior dengan kepala (disebut dengan turtle sign). (Prawirohardjo, 2011)
Distosia bahu biasanya terdapat kasus maksrosomia. Resikonya meningkat 11 kali lipat bayi
dengan BB 4000 g dan 22 kali lipat pada bayi dengan BB 4500 g posterm dan makrosomia
beresiko mengalami distosia bahu karena pertumbuhan trunkal dan bahu tidak sesuai dengan
pertumbuhan kepala pada masa akhir kehamilan . Faktor Distosia bahu harus dicurigai pada
pemanjangan kala II atau pemanjangan fase deselarasi pada kala II.

2. Etiologi
Distosia bahu terutama disebabkan oleh deformitas panggul,kegagalan bahu untuk
melipat ke dalam panggul (misal : pada makrosomia). Disebabkan oleh fase aktif dan
persalinan kala II yang pendek pada multipara sehingga penurunan kepala yang terlalu cepat
menyebabkan bahu tidak melipat pada saat melalui jalan lahir atau kepala telah melalui pintu
tengah panggul setelah mengalami pemanjangan kala II sebelah bahu berhasil melipat masuk
kedalam panggul. Faktor penyebab distosia antara lain:
1. Distosia Karena Kelainan His
Kelainan his dapat berupa inersia uteri hipotonik atau inersia uteri hipertonik.
a. Inersia Uteri Hipotonik
Adalah kelainan his dengan kekuatan yang lemah/tidak adekuat untuk melakukan
pembukaan serviks atau mendorong anak keluar.
Disini kekuatan his lemah dan frekuensinya jarang. Sering dijumpai pada penderita
dengan keadaan umum kurang baik seperti anemia,uterus yang terlalu teregang misalnya
akibat hidramnion atau kehamilan kembar atau makrosomia, grandemultipara atau
primipara, serta pada penderita dengan keadaan emosi kurang baik. Dapat terjadi pada
kala pembukaan serviks, fase laten atau fase aktif, maupun pada kala pengeluaran.

Inersia uteri hipotonik terbagi dua (Yusuf, 2010) yaitu:


1) Inersia uteri primer
Terjadi pada permulaan fase laten. Sejak awal telah terjadi his yang tidak adekuat
(kelemahan his yang timbul sejak dari permulaan persalinan), sehingga sering sulit untuk
memastikan apakah penderita telah memasuki keadaan inpartu atau belum.
2) Inersia uteri sekunder
Terjadi pada fase aktif kala I atau kala II.Permulaan his baik, kemudian pada keadaan
selanjutnya terdapat gangguan/kelainan.
Penanganan :
a) Keadaan umum penderita harus diperbaiki. Gizi selama kehamilan harus diperhatikan.
b) Penderita dipersiapkan menghadapi persalinan, dan dijelaskan tentang kemungkinankemungkinan yang ada.
c) Teliti keadaan serviks,presentasi dan posisi,penurunan kepala/bokong bila sudah masuk
PAP pasien disuruh jalan,bila his timbul adekuat dapat dilakukan persalinan
spontan,tetapi bila tidak berhasil maka akan dilakukan sectio cesaria.
b. Inersia Uteri Hipertonik
Adalah kelainan his dengan kekuatan cukup besar (kadang sampai melebihi normal)
namun tidak ada koordinasi kontraksi dan bagian atas, tengah dan bawah uterus,
sehingga tidak efisien untuk membuka serviks dan mendorong bayi keluar. (Anonim,
2014). Disebut juga sebagai incoordinate uterine action. Misalnya tetania uteri karena
obat uterotonika yang berlebihan.Pasien merasa kesakitan karena his yang kuat dan
berlangsung hampir terus menerus. Pada janin dapat terjadi hipoksia janin karena
gangguan sirkulasi uteroplasenter. Faktor yang dapat menyebabkan kelainan ini antara
lain adalah rangsangan pada uterus, misalnya pemberian oksitosin yang berlebihan,
ketuban pecah lama dengan disertai infeksi,dan sebagainya.
Penanganan:

Dilakukan pengobatan simtomatis untuk mengurangi tonus otot, nyeri, mengurangi


ketakutan.Denyut jantung janin harus terus dievaluasi. Bila dengan cara tersebut tidak
berhasil , persalinan harus diakhiri dengan sectio cesarea.
2. Distosia Karena Kelainan Letak
a. Letak Sungsang
Letak sungsang adalah janin terletak memanjang dengan kepala difundus uteri dan bokong
dibawah bagian cavum uteri.
Macam-macam Letak Sungsang:
1) Letak bokong murni (frank breech)
Letak bokong dengan kedua tungkai terangkat keatas.
2) Letak sungsang sempurna(complete breech)
Kedua kaki ada disamping bokong dan letak bokong kaki sempurna.
3) Letak sungsang tidak sempurna (incomplete breech)
Selain bokong sebagian yang terendah adalah kaki atau lutut.
Etiologi letak sungsang:
1. Fiksasi kepala pada PAP tidak baik atau tidak ada; pada panggul sempit ,hidrocefalus,
anencefalus, placenta previa,tumor.
2. Janin mudah bergerak ;pada hidramnion ,multipara,janin kecil (prematur)
3. Gemeli
4. Kelainan uterus; mioma uteri
5. Janin sudah lama mati
6. Sebab yang tidak diketahui

Diagnosis letak sungsang :

1) Pemeriksaan luar,janin letak memanjang,kepala didaerah fundus uteri


2) Pemeriksaan dalam,teraba bokong saja,atau bokong dengan satu atau dua kaki.

Syarat Partus Pervagina Pada Letak Sungsang :


1) Janin tidak terlalu besar
2) Tidak ada suspek CPD
3) Tidak ada kelainan jalan lahir
Jika berat janin 3500 g atau lebih ,terutama pada primigravida atau multipara dengan
riwayat melahirkan kurang dari 3500 g ,sectio cesarea lebih dianjurkan.

b. Prolaps Tali Pusat


Yaitu tali pusat berada disamping atau melewati bagian terendah janin setelah ketuban
pecah. Bila ketuban belum pecah disebut tali pusat (tali pusat menumbung) timbul bahaya
besar ,tali pusat terjepit pada waktu bagian janin turun dalam panggul sehingga
menyebabkan asfiksia pada janin.
Prolaps tali pusat mudah terjadi bila pada waktu ketuban pecah bagian terdepan janin
masih berada di atas PAP dan tidak seluruhnya menutup seperti yang terjadi pada
persalinan

hidramnion,

tidak

ada

keseimbangan

antara

besar

kepala

dan

panggul,premature,kelainan letak.
Diagnosa prolaps tali pusat ditegakkan bila tampak tali pusat disamping bagian terendah
janin. Pencegahan Prolaps Tali Pusat : menghindari pecahnya ketuban secara premature
akibat tindakan kita.
Penanganan Tali Pusat terdepan (Ketuban belum pecah):
1) Usahakan agar ketuban tidak pecah
2) Ibu posisi trendelenburg
3) Posisi miring,arah berlawanan dengan posisi tali pusat

4) Reposisi tali pusat.

Penanganan Prolaps Tali Pusat :


1) Apabila janin masih hidup,janin abnormal,janin sangat kecil harapan hidup tunggu
partus spontan.
2) Pada presentasi kepala apabila pembukaan kecil,pembukaan lengkap Vacum
ekstraksi,porcef.
3) Pada letak lintang atau letak sungsang Sectio Cesaria

3. Distosia Karena Kelainan Jalan Lahir


Distosia karena kelainan jalan lahir dapat disebabkan adanya kelainan pada jaringan
keras/tulang panggul,atau kelainan pada jaringan lunak panggul.
a. Distosia karena kelainan panggul/bagian keras dapat berupa:
1) Kelainan bentuk panggul yang tidak normal gynecoid,misalnya panggul jenis Naegele,
Rachitis, Scoliosis. Kyphosis, Robert dan lain-lain.
2) Kelainan ukuran panggul
Panggul sempit (pelvic contraction) panggul disebut sempit apabila ukurannya 1-2 cm
kurang dari ukuran yang normal. (Mochtar, 1989)
Kesempitan panggul bisa pada:
a) Kesempitan pintu atas panggul Inlet dianggap sempit apabila cephalopelvis kurang
dari 10 cm atau diameter transversa kurang dari 12 cm. Diagonalis (CD) maka Inlet
dianggap sempit bila CD kurang dari 11.5 cm.

b) Kesempitan midpelvis

Diameter interspinarum 9 cm

Kalau diameter transversa ditambah dengan diameter sagitalis posterior kurang

dari 13,5 cm
Kesempitan midpelvis hanya dapat dipastikan dengan RO-pelvimetri
Midpelvis contraction dapat memberi kesulitan sewaktu persalinan sesudah
kepala melewati pintu atas panggul.

c) Kesempitan outlet
Kalau diameter transversa dan diameter sagitalis posterior kurang dari 15 cm.
Kesempitan outlet,meskipun mungkin tidak menghalangi lahirnya janin,namun dapat
menyebabkan rupture perineal yang hebat. Karena arkus pubis sempit, kepala janin
terpaksa melalui ruang belakang.
b. Kelainan jalan lahir lunak
Adalah kelainan serviks uteri,vagina,selaput dara dan keadaan lain pada jalan lahir
yang menghalangi lancarnya persalinan.
1) Distosia Servisis
Adalah terhalangnya kemajuan persalinan disebabkan kelainan pada servik
uteri.Walaupun harus normal dan baik, kadang-kadang permukaan serviks menjadi
macet karena ada kelainan yang menyebabkan servik tidak mau membuka.
Ada 4 jenis kelainan pada servik uteri:

servik kaku (rigit cervix)


servik gantung (hanging cervix)
servik konglumer (conglumer cervix)
edema servik

2) kelainan selaput dara dan vagina

selaput dara yang kaku,tebal


Penanganannya : dilakukan eksisi selaput dara (hymen)

septa vagina
sirkuler Anteris-posterior

3) kelaianan-kelainan lainnya

tumor-tumor jalan lahir lunak : kista vagina,polip serviks,mioma uteri,dan

sebagainya.
kandung kemih yang penuh atau batu kandung kemih yang besar.
rectum yang penuh skibala atau tumor.
kelainan letak serviks yang dijumpai pada mutipara dengan perut gantung .
ginjal yang turun ke dalam rongga pelvis. Kelainan-kelainan bentuk uterus :
uterus bikorvus, uterus septus, uterus arkuatus dan sebagainya.

3. Faktor Resiko
Kelainan bentuk panggul,diabetes gestasional,kehamilan postmature,riwayat persalinan
dengan distosia bahu dan ibu yang pendek.
Faktor resiko distosia bahu:
1. Maternal
a. Kelainan anatomi panggul
b. Diabetes gestasional
c. Kehamilan pasotmatur
d. Riwayat distosia bahu
e. Tubuh ibu pendek
2. Fetal
a. Dugaan macrosomia
3. Masalah persalinan
a. Assisted vaginal delivery (forceps atau vacum)
b. Protracted active phase pada kala I persalinan
c. Protracted pada kala II persalinan
Distosia bahu sering terjadi pada persalinan dengan tindakan cunam tengah atau pada
gangguan persalinan kala I dan atau kala II yang memanjang.

4. Tanda Dan Gejala


1. Pada proses persalinan normal kepala lahir melalui gerakan ekstensi. Pada distosia an
tertarik kedalam dan tidak dapat mengalami putar paksi luar yang normal.
2. Ukuran kepala dan bentuk pipi menunjukkan bahwa bayi gemuk dan besar. Begitu pula
dengan postur tubuh parturien yang biasanya juga obesitas .
3. Usaha untuk melakukan putar paksi luar, fleksilateral dan traksi ridak berhasil
melahirkan bahu.
4. Kemajuan lambat dari 7-10 cm, meskipun kontraksinya baik.
5. Kemajuan lambat dan kloning serta kelahiran kepala lambat.
6. Gelisah
7. Sesak nafas.

5. Patofisologi
Setelah keliharan kepala, akan terjadi putaran paksi luar yang menyebabkan kepala
berada pada sumbu normal dengan tulang belakang bahu pada umumnya akanberada

pada

sumbu miring (oblique) di bawah ramus pubis. Dorongan pada saat meneran akan
menyebabkan bahu depan (anteriot) berada di bawah pubis, bila bahu gagal untuk
mengadakan putaran menyesuaikan dengan sumbu miring dan tetap berada pada posisi
anteroposterior, pada bayi yang besar akan terjadi benturan bahu depan terhadap simfisis
sehingga bahu tidak bisa lahir mengikuti kepala.
6. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan rasa nyaman : nyeri b/d tekanan kepala pada servik, partus lama, kontraksi
tidak efektif
b. Resiko tinggi cedera janin b/d penekanan kepala pada panggul, partus lama, CPD
c. Resiko tinggi kekurangan cairan b/d hipermetabolisme, muntah, pembatasan masukan
cairan

d. Resiko tinggi cedera maternal b/d kerusakan jaringan lunak karena persalinan lama
e. Resiko tinggi infeksi b/d rupture membrane, tindakan invasive
f. Cemas b/d persalinan lama

7. Pemeriksaan Penunjang
Adapun untuk pemeriksaan penunjang dapat dilakukan seperti sebagai berikut (Mochtar,
1989) :
a. Pemeriksaan panggul: panggul luar dan panggul dalam
b. Pemeriksaan radiologik: untuk pelvimetri dibuat 2 foto yaitu

Foto pintu atas panggul: ibu dalam posisi setengah duduk, sehingga tabung

Ro tegak lurus atas pintu atas panggul


Foto lateral: ibu dalam posisi berdiri, tabung Ro diarahkan horizontal pada
trochanter major dari samping

c. Pemeriksaan besarnya janin


8. Manajemen Terapeutik
a. Penanganan Umum

Nilai dengan segera keadaan umum ibu dan janin


Lakukan penilaian kondisi janin : DJJ
Kolaborasi dalam pemberian :

1). Infus RL dan larutan NaCL isotanik (IV)


2). Berikan analgesiaberupa tramandol/ peptidin 25 mg (IM) atau morvin 10 mg (IM)
3). Perbaiki keadaan umum
4). Dukungan emosional dan perubahan posisi
5). Berikan cairan
2. Penanganan Khusus

a. Kelainan His

TD diukur tiap 4 jam


DJJ tiap 1/2 jam pada kala I dan tingkatkan pada kala II
Pemeriksaan dalam :

1). Infus RL 5% dan larutan NaCL isotonic (IV)


2). Berikan analgetik seperti petidin, morfin
3). Pemberian oksitosin untuk memperbaiki his
b. Kelainan janin

Pemeriksaan dalam
Pemeriksaan luar
MRI

Jika sampai kala II tidak ada kemajuan dapat dilakukan seksiosesaria baik primer pada awal
persalinan maupun sekunder pada akhir persalinan
c. Kelainan jalan lahir
Kalau konjungata vera<8 (pada VT terba promontorium) persalinan dengan SC

9. Komplikasi
1. Komplikasi Maternal
a. Perdarahan pasca persalinan.
b. Pistula rectovagina.
Rectovagina pistula merupakan kondisi abnormal pada saluran antara bagian
bawah usus besar atau rectum dengan vagina.karena kondisi ini,isi usus bisa
bocor melalui pistula sehingga penderita dapat mengeluarkan gas atau tinja
lewat vagina.
c. Simpisiolisis atau diathesis dengan atau tanpa transien fermonal neuropathy.
d. Robekan perineum derajat III atau IV.

e. Rupture Uteri.

2. Komplikasi Fetal
a. Brachial plexus palsy
Kelumpuhan kaki tangan bagian atas (brachial plexus palsy) disebabkan oleh
luka regangan (stretch injury) pada syaraf-syarat yang memenuhi otot-otot gian
atas(brachial plexus)selama proses kelahiran.
b. Fraktura Clavicle
Fraktur clavicula bisa disebabkan oleh benturan ataupun kompressi yang
berkekuatan rendah sampai yang berkekuatan tinggi yang bisa menyebabkan
terjadinyafraktur tertutup ataupun multiple trauma.
c. Kematian Janin.
d. Hipoksia janin, dengan atau tanpa kerusakan neurololgis permanen.
e. Fraktura humerus
Fraktur humerus adalah kelainan yang terjadi pada kesalahan teknik dalam
melahirkan lengan pada presentasi puncak kepala atau letak sungsang dengan
lengan membumbung ke atas.pada keadaan ini biasanya sisi yang terkena tidak
dapat diperakkan dan refleks moro pada sisi tersebut menghilang.
Komplikasi distosia bahu :
1. Bagi janin
a. Terjadi peningkatan insiden kesakitan dan kematian intrapartum pada saat
peralinan melahirkan bahu beresiko anoreksia sehingga dapat mengakibatkan
kerusakan otak.
b. Kerusakan saraf.kerusakan atau kelumpuhan pleksus brakhialis dan keretakan
bahkan sampai fraktur tulang klavikula.
2. Bagi ibu

a. Laserasi daerah perinium dan vagina yang luas.


b. Gangguan psikologis sebagai dampak dari pengalaman persalinan yang traumatic
c. Depresi jika janin cacat atau meninggal.
10. Penatalaksanaan
Penanganan umum : pada setiap persalinan, bersiaplah untuk menghadapi distosia bahu,
khususnya pada persalinan dengan bayi besar dan siapkan beberapa orang untuk
membantu.
Penangananan khusus :
1. Membuat episiotomy yang cukup luas untuk mengurangi obstruksi jaringan lunak dan
memberikan ruang yang cukup untuk tindakan.
2. Meminta ibu untuk menekuk kedua tungkainya dan mendekatkan lututnya sejauh
mungkin kearah dadanya dalam posisi berbaring telentang. Meminta bantuan 2 asisten
untuk menekan fleksi kedua lutut ibu kearah dada
3. Dengan memakai sarung tangan yang telah didisinfeksi tingkat tinggi.
4. Melakukam tarikan yang kuat dan terus-meneruskearah bawah pada kepala janin
untuk menggerakkan bahu depan bawah simfisis pubis.
(catatan: hindari tindakan yang berlebihan pada kepala yang dapat mengakibatkan
trauma)
5. Meminta seseorang asisten untuk melakukan tekanan secara simultan lebih lanjut
kearah bawah pada daerah suprapubis uuntuk membantu persalinan bahu
(catatan: jangan menekan fundus karena dapat mempengaruhi bahu lebih lanjut dan
dapat mengakibatkan repture uteri)
6. Jika bahu masih belum dapat dilahirkan
7. Pakailah sarung tangan didedesinfeksi tingkat tingg, masukan tangan kedalam vagina
8. Lakukan penekanan pada ibu yang terletak didepan dengan arah sternum bayi untuk
memutar bahu dan mengecilakn diameter bahu

9. Jika diperlukan lakukan penekanan pada bahu belakang sesuai dengan arah sternum.
10. Jika bahu masih belum dapat dilahirkan.
11. Masukan tangan ke dalam vagina
12. Lengan humerus dari lengan belakang dan dengan menjaga lengan tetap fleksi pada
siku, gerakan tangan kearah daad. Ini akan memberikan ruanagn untuk bahu depan
agar dapat bergerak dibawah simfisis pubis.
13. Jika semua tindakan di atas tetaop tidak dapat melahirkan bahu, pilihan lain.
a. Patahkan klavikula untuk mengurangi lebar bahu dan bebaskan bahu depan
b. Lakukan tarikan dengan mengait ketiak untuk mengeluarkan lenngan belakang.
Penatalaksanaan Distosia Bahu:
1. Kesigapan penolong persalinan dalam mengatasi distosia bahu sangat diperlukan.
2. Pertama kali yang harus dilakukan bila terjadi distosia bahu adalah melakukan
traksi curam bawah sambil meminta ibu untuk meneran.
3. Lakukan episiotomi.
Setelah membersihkan mulut dan hidung anak, lakukan usaha untuk membebaskan
bahu anterior dari simfsis pubis dengan berbagai maneuver :
a. Tekanan ringan pada suprapubic
b. Maneuver Mc Robert
c. Maneuver Woods
d. Persalinan bahu belakang
e. Maneuver Rubin
f. Pematahan klavikula
g. Maneuver Zavanelli
h. Kleidotomi

i. Simfsiotomi
Penjelesan :
1. Tekanan ringan pada suprapubic
Dilakukan tekanan ringan pada daerah suprapubik dan secara bersamaan dilakukan
traksi curam bawah pada kepala janin. Tekanan ringan dilakukan oleh asisten pada
daerah suprapubic saat traksi curam bawah pada kepala janin.
2. Maneuver Mc Robert
Tehnik ini ditemukan pertama kali oleh Gonik dkk tahun 1983 dan selanjutnya
William A Mc Robert mempopulerkannya di University of Texas di Houston.
Maneuver ini terdiri dari melepaskan kaki dari penyangga dan melakukan fleksi
sehingga paha menempel pada abdomen ibu. Tindakan ini dapat menyebabkan
sacrum mendatar, rotasi simfisis pubis kearah kepala maternal dan mengurangi
sudut inklinasi. Meskipun ukuran panggul tak berubah, rotasi cephalad panggul
cenderung untuk membebaskan bahu depan yang terhimpit. Fleksi sendi lutut dan
paha serta mendekatkan paha ibu pada abdomen sebaaimana terlihat pada (panah
horisontal).Asisten melakukan tekanan suprapubic secara bersamaan (panah
vertikal).Analisa tindakan Maneuver Mc Robert dengan menggunakan xray.Ukuran panggul tak berubah, namun terjadi rotasi cephalad pelvic sehingga
bahu anterior terbebas dari simfisis pubis.
3. Maneuver Woods ( Wood crock screw maneuver )
Dengan melakukan rotasi bahu posterior 1800 secara crock screw maka
bahu anterior yang terjepit pada simfisis pubis akan terbebas. Maneuver Wood.
Tangan kanan penolong dibelakang bahu posterior janin. Bahu kemudian diputar
180 derajat sehingga bahu anterior terbebas dari tepi bawah simfisis pubis.
4. Melahirkan bahu belakang
a. Operator memasukkan tangan kedalam vagina menyusuri humerus posterior janin
dan kemudian melakukan fleksi lengan posterior atas didepan dada dengan
mempertahankan posisi fleksi siku.
b. Tangan janin dicekap dan lengan diluruskan melalui wajah janin.

c. Lengan posterior dilahirkan.


5. Maneuver Rubin
Terdiri dari 2 langkah :
a. Mengguncang bahu anak dari satu sisi ke sisi lain dengan melakukan
tekanan pada abdomen ibu, bila tidak berhasil maka dilakukan langkah
berikutnya yaitu :
b. Tangan mencari bahu anak yang paling mudah untuk dijangkau dan
kemudian ditekan kedepan kearah dada anak. Tindakan ini untuk
melakukan abduksi kedua bahu anak sehingga diameter bahu mengecil
dan melepaskan bahu depan dari simfisis pubis
Maneuver Rubin II
a. Diameter bahu terlihat antara kedua tanda panah
b. Bahu anak yang paling mudah dijangkau didorong kearah dada anak
sehingga diameter bahu mengecil dan membebaskan bahu anterior yang
terjepit.
6. Pematahan klavikula dilakukan dengan menekan klavikula anterior kearah SP.
7. Maneuver Zavanelli : mengembalikan kepala kedalam jalan lahir dan anak
dilahirkan melalui SC. Memutar kepala anak menjadi occiput anterior atau
posterior sesuai dengan PPL yang sudah terjadi. Membuat kepala anak menjadi
fleksi dan secara perlahan mendorong kepala kedalam vagina.
8. Kleidotomi : dilakukan pada janin mati yaitu dengan cara menggunting klavikula.
9. Simfisiotomi.
Hernandez dan Wendell (1990) menyarankan untuk melakukan serangkaian tindakan
emergensi berikut ini pada kasus distosia bahu:
a. Minta bantuan asisten , ahli anaesthesi dan ahli anaesthesi.
b. Kosongkan vesica urinaria bila penuh.

c. Lakukan episiotomi mediolateral luas.


d. Lakukan tekanan suprapubic bersamaan dengan traksi curam bawah untuk
melahirkan kepala.
e. Lakukan maneuver Mc Robert dengan bantuan 2 asisten.
Sebagian besar kasus distosia bahu dapat diatasi dengan serangkaian tindakan diatas. Bila
tidak, maka rangkaian tindakan lanjutan berikut ini harus dikerjakan :
a. Wood corkscrew maneuver
b. Persalinan bahu posterior
c. Tehnik-tehnik lain yang sudah dikemukakan diatas.
Tak ada maneuver terbaik diantara maneuver-maneuver yang sudah disebutkan diatas, namun
tindakan dengan maneuver Mc Robert sebagai pilihan utama adalah sangat beralasan.

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian (data subyektif/obyektif)
A. Pengkajian
1. Identitas klien
2. Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan dahulu
Yang perlu dikaji pada klien, biasanya klien pernah mengalami distosia sebelumnya,
biasanya ada penyulit persalinan sebelumnya seperti hipertensi, anemia, panggul
sempit, biasanya ada riwayat DM, biasanya ada riwayat kembar dll.
b. Riwayat kesehatan sekarang
Biasanya dalam kehamilan sekarang ada kelainan seperti: : kelainan letak janin
(lintang, sunsang) apa yang menjadi presentasi dll.
c. Riwayat kesehatan keluarga
Apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit kelainan darah, DM, eklamsi
dan pre eklamsi
3. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala, rambut tidak rontok, kulit kepala bersihtidak ada ketombe
b. Mata, biasanya konjungtiva anemis
c. Thorak, Inpeksi pernafasan : frekuensi, kedalam, jenis pernafasan, biasanya ada bagian
paru yang tertinggal saat pernafasan

d. Abdomen, kaji his (kekuatan, frekuensi, lama), biasanya his kurang semenjak awal
persalinan atau menurun saat persalinan, biasanya posisi, letak, presentasi dan sikap
anak normal atau tidak, raba fundus keras atau lembek, biasanya anak kembar/ tidak,
lakukan perabaab pada simpisis biasanya blas penuh/ tidak untuk mengetahui adanya
distensi usus dan kandung kemih.
e. Vulva dan Vagina, lakukan VT : biasanya ketuban sudah pecah atau belum, edema
pada vulva/ servik, biasanya teraba promantorium, ada/ tidaknya kemajuan persalinan,
biasanya teraba jaringan plasenta untuk mengidentifikasi adanya plasenta previa
f. Panggul, lakukan pemeriksaan panggul luar, biasanya ada kelainan bentuk panggul dan
kelainan tulang belakang.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri b/d tekanan kepala pada servik, partus lama, kontraksi tidak efektif
2. Resiko tinggi cedera janin b/d penekanan kepala pada panggul, partus lama, CPD
3. Resiko tinggi kekurangan cairan b/d hipermetabolisme, muntah, pembatasan masukan
cairan
4. Resiko tinggi cedera maternal b/d kerusakan jaringan lunak karena persalinan lama,
intervensi penanganan lama
5. Resiko tinggi infeksi b/d rupture membrane, tindakan invasive SC atau VT
6. Kecemasan b/d persalinan lama

C. Intervensi
1. Nyeri b/d tekanan kepala pada servik, partus lama, kontraksi tidak efektif
N
o
1

Diagnosa

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi (NIC)

Keperawatan
(NOC)
Nyeri b/d tekanan
NIC
Kebutuhan rasa
kepala pada servik,
nyaman terpenuhi/
Urinary Retention Care
partus
lama,
nyeri berkurang
a. Kebutuhan rasa
kontraksi
tidak
nyaman terpenuhi/
Kriteria Hasil
efektif
nyeri berkurang.
a. Klien
tidak
b. Kaji sifat, lokasi dan
merasakan
nyeri
durasi nyeri, kontraksi
uterus, hemiragic dan
lagi.

b. Klien tampak rileks


c. Kontraksi
uterus
efektif
d. Kemajuan persalinan
baik

c.

d.

e.

f.

nyeri tekan abdomen


R/ Membantu dalam
mendiagnosa
dan
memilih
tindakan,
penekanan
kepala
pada servik yang
berlangsung
lama
akan
menyebabkan
nyeri.
Kaji intensitas nyeri
klien dengan skala
nyeri
R/
Setiap
individu mempunyai
tingkat ambang nyeri
yang
berbeda,
dengan skala dapat
diketahui
intensitas
nyeri klien.
Kaji stress psikologis/
pasangan dan respon
emosional
terhadap
kejadian R/ Ansietas
sebagai
respon
terhadap
situasi
darurat
dapat
memperberat derajat
ketidaknyamanan
karena
sindrom
ketegangan
takut
nyeri
Berikan lingkungan
yang nyaman, tenang
dan aktivitas untuk
mengalihkan
nyeri,
bantu klien dalam
menggunakan metode
relaksasi dan jelaskan
prosedur R/ Teknik
relaksasi
dapat
mengalihkan
perhatian
dan
mengurangi nyeri
Berikan
dukungan
social/
dukungan

keluarga R/ Dengan
kehadiran
keluarga
akan membuat klien
nyaman, dan dapat
mengurangi
tingkat
kecemasan
dalam
melewati persalinan,
klien
merasa
diperhatikan
dan
perhatian
terhadap
nyeri akan terhindari
g. Kolaborasi
dalam
pemberian
obat
(narkotik dan sedatif)
sesuai indikasi R/
Pemberian narkotik
atau sedative dapat
mengurangi
nyeri
hebat.

2. Resiko tinggi cedera janin b/d penekanan kepala pada panggul, partus lama, CPD
No

Diagnosa

Tujuan & Kriteria

Intervensi

Hasil
2

Resiko tinggi cedera janin


b/d penekanan kepala
pada panggul, partus
lama, CPD

NOC

NIC
Cedera pada janin
dapat dihindari

dalam

batas

normal
b. Kemajuan persalinan
baik

manuver
Leopold untuk

Kriteria Hasil :
a. DJJ

a. Lakukan

menentukan
posis janin dan
presentasi

R/

Berbaring
tranfersal

atau

presensasi
bokong
memerlukan
kelahiran

sesarea.
Abnormalitas
lain

seperti

presentasi
wajah,

dagu,

dan

posterior

juga

dapat

memerlukan
intervensi
khusus

untuk

mencegah
persalinan yang
lama
b. Kaji data dasar
DJJ

secara

manual

dan

atau elektronik,
pantau dengan
sering
perhatikan
variasi DJJ dan
perubahan
periodic

pada

respon terhadap
kontraksi uterus
R/ DJJ harus
direntang

dari

120-160 dengan
variasi rata-rata
percepatan
dengan variasi
rata-rata,
percepatan
dalam

respon

terhadap
aktivitas
maternal,
gerakan
dan

janin

kontraksi

uterus.
c. Catat kemajuan
persalinan

R/

Persalinan
lama/
disfungsional
dengan
perpanjangan
fase laten dapat
menimbulkan
masalah
kelelahan

ibu,

stress

berat,

infeksi

berat,

haemoragi
karena

atonia/

rupture uterus.
Menempatkan
janin

pada

resiko

lebih

tinggi terhadap
hipoksia

dan

cedera
d. Infeksi
perineum

ibu

terhadap

kutil

vagina,

lesi

herpes

atau

rabas klamidial

R/

Penyakit

hubungan
kelamin didapat
oleh

janin

selama

proses

melahirkan
karena

itu

persalinan
sesaria

dapat

diidentifikasi
khususnya klien
dengan

virus

herpes simplek
tipe II
e. Catat DJJ bila
ketuban

pecah

setiap 15 menit
R/

Perubahan

pada

tekanan

caitan

amnion

dengan rupture
atau

variasi

deselerasi
setelah

DJJ
robek

dapat
menunjukkan
kompresi
pusat

tali
yang

menurunkan
transfer oksigen
kejanin
f. Posisi

klien

pada

posisi

punggung janin

R/
Meningkatkan
perfusi
plasenta/
mencegah
sindrom
hipotensif
telentang

3. Resiko tinggi kekurangan cairan b/d hipermetabolisme, muntah, pembatasan masukan


cairan
No

Diagnosa

Tujuan & Kriteria

Intervensi

Hasil
3

Resiko tinggi kekurangan


cairan b/d
hipermetabolisme,
muntah, pembatasan
masukan cairan

NOC

NIC
Kebutuhan cairan
terpenuhi

Kriteria Hasil :
a. Tidak ada tanda-tanda
kekurangan
cairan

volume

a. Observasi
penyebab
kekurangan
volume
cairan R/
Sebagai data
dasar dalam
menetapkan
intervensi
b. Kaji tandatanda
dehidrasi R/
Untuk
mengetahui
secara dini
adanya
tanda-tanda
dehidrasi dan
ditangani
cesara cepat
dan tepat
c. Ukur intake
dan output

cairan R/
Untuk
mengetahui
keseimbanga
n cairan
d. Kolaborasi
pemberian
terapi cairan
sesuai
indikasi R/
Membantu
untuk
memenuhi
kebutuhan
cairan

4. Resiko tinggi cedera maternal b/d kerusakan jaringan lunak karena persalinan lama,
intervensi penanganan lama
No

Diagnosa

Tujuan & Kriteria

Intervensi

Hasil
4

Resiko tinggi cedera


maternal b/d kerusakan
jaringan lunak karena
persalinan lama,
intervensi penanganan
lama

NOC

NIC
Tidak

terjadi

cedera
Kriteria Hasil :
a. Persalinan
adekuat untuk
menghasilkan
dilatasi
b. Terjadi
kelahiran tanpa
komplikasi
maternal

a. Kaji frekuensi
kontraksi uterus
R/
Memberikan
data dasar
untuk
menentukan
intervensi
selanjutnya
b. Pantau
kemajuan
dilatasi servik
dan pendataran
R/ Untuk
mengetahui
perkembangan
dilatasi servik

c. Pantau
masukan dan
haluaran R/
Untuk
mengetahui
keseimbangan
cairan tubuh
d. Kaji adanya
dehidrsi R/
Untuk
memberikan
penanganan
secara cepat
dan tepat
e. Beri oksitosin
sesuai program
R/ Oksitosin
berperan untuk
merangsang
kontaksi
5.
No

Resiko tinggi infeksi b/d rupture membrane, tindakan invasive SC atau VT


Diagnosa

Tujuan & Kriteria

Intervensi

Hasil
5

Resiko tinggi infeksi b/d


rupture membrane,
tindakan invasive SC atau
VT

NOC

NIC
Infeksi tidak
terjadi

Kriteria Hasil :
a. Tidak didapatkan
tanda-tanda
infeksi
b. Integritas kulit
mengalami
peningkatan (jika
dilakukan SC)

a. Cuci tangan
dengan sabun
anti mikroba R/
Untuk
mencegah
kontaminasi
mikroba
b. Gunakan
universal
precaution dan
sarung tangan
steril jika
melakukan
Vaginal
Toucher R/
Mengurangi
transmisi
mikroba

c.

d.

e.

f.

6.
No

Kecemasan b/d persalinan lama


Diagnosa

Tujuan & Kriteria

Intervensi

Hasil
6

sebagai
pencegahan
infeksi
Kaji suhu badan
setiap 4 jam R/
Peningkatan
suhu tubuh
merupakan
tanda adanya
infeksi
Kaji turgor,
warna, dan
tekstur kulit ibu
setelah
dilakukan SC
R/ Untuk
mengetahui
adanya tandatanda infeksi
Berikan
perawatan luka
yang tepat jika
dilakukan SC
pada ibu R/
Perawatan luka
yang tepat
mengurangi
resiko infeksi
Kolaborasi
pemberian
antibiotik
sesuai indikasi
R/ Antibiotik
berperan
sebagai anti
infeksi

Kecemasan b/d persalinan

NOC

NIC

lama

Klien tidak cemas


dan dapat
mengerti tentang
keadaannya.

Kriteria Hasil :
a. Klien tidak
cemas, penderita
tenang, klien
tidak gelisah.

a. Anjurkan klilen
untuk
mengemukakan
hal-hal yang
dicemaskan R/
Untuk
mengeksternalis
asikan
kecemasan
yang dirasakan
b. Beri penjelasan
tentang kondisi
janin R/
Mengurangi
kecemasan
tentang
kondisi /
keadaan janin.
c. Beri informasi
tentang kondisi
klien R/
Mengembalikan
kepercayaan
dan klien.
d. Anjurkan untuk
manghadirkan
orang-orang
terdekat R/
Dapat memberi
rasa aman dan
nyaman bagi
klien
e. Menjelaskan
tujuan dan
tindakan yang
akan diberikan
R/ Membina
hubungan
saling percaya
sehingga dapat
mengurangi
kecemasan

D.

Implementasi

Setelah rencana tindakan keperawatan disusun secara sistemik. Selanjutnya rencana tindakan
tersebut diterapkan dalam bentuk kegiatan yang nyata dan terpadu guna memenuhi kebutuhan
dan mencapai tujuan yang diharapkan
E.

Evaluasi

Akhir dari proses keperawatan adalah ketentuan hasil yang diharapkan terhadap perilaku dan
sejauh mana masalah klien dapat teratasi. Disamping itu perawat juga melakukan umpan
balik atau pengkajian ulang jika tujuan ditetapkan belum berhasil/ teratasi.

DAFTAR PUSTAKA

Bobak , dkk.2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas ed.4. Jakarta: EGC


http;//yanuarparty333.blogspot.com/2012/12/asuhan-keperawatan-distosia_7.html
http;//reni-risnawati.blogspot.com/2011/10/makalah-distosia.html
http;//wwwduniakeperawatan.blogspot.com/2013/01/distosia.html
http;//mrkulu.blogspot.com/2013/10/distosia.html