Anda di halaman 1dari 29

BUKU SAKU Patient Safety

6 Langkah Menuju KARS


A. Sasaran I: Ketepatan Identifikasi Pasien
1. Indikator melakukan identifikasi pasien secara benar
a. Pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas pasien, tidak boleh menggunakan
nomor kamar atau lokasi pasien.
b. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian obat, darah, atau produk darah.
c. Pasien diidentifikasi sebelum mengambil darah dan spesimen lain untuk pemeriksaan
klinis.
d. Pasien diidentifikasi sebelum memberikan perawatan atau prosedur pelayanan.
2. Gelang Identifikasi Pasien (untuk rawat inap, kamar bedah dan UGD)
- Merah Muda
:
identitas pasien perempuan
- Biru Muda
:
identitas pasien laki laki
- Kuning
:
pasien beresiko jatuh
- Merah
:
pasien alergi
3. Tips :
a. Petugas meminta pasien untuk menyebutkan nama dan tanggal lahir sebelum
melakukan prosedur dengan pertanyaan terbuka, contoj : Nama bapak
siapa?, Tolong sebutkan tanggal lahir bapak.
b. Jika pasien telah memakai gelang identitas, tetap dikonfirmasi secara verbal
sebelum melakukan prosedur, memberikan obat-obatan, transfuse darah atau
mengambil darah.
c. Bila pasien tidak dapat menyebutkan nama, identitas pasien dapat ditanyakan
kepada penunggu / pengantar pasien.
d. Bila pasien tidak dapat menyebutkan nama, gelang identifikasi harus diperiksa
kecocokannya dengan rekam medic oleh dua orang staf.
B. Sasaran II: peningkatan komunikasi yang efektif
1. Indikator melakukan komunikasi efektif :
a. Perintah lengkap secara lisan dan yang melalui telepon atau hasil pemeriksaan
dituliskan secara lengkap oleh penerima perintah.
b. Perintah lengkap lisan dan telpon atau hasil pemeriksaan dibacakan kembali secara
lengkap oleh penerima perintah.
c. Perintah atau hasil pemeriksaan dikonfirmasi oleh pemberi perintah atau yang
menyampaikan hasil pemeriksaan
2. Beberapa teknik komunikasi efektif :
a. Komunikasi verbal (Write Down/tulis, Read/Baca, Back/kembali)
Untuk perintah verbal atau melalui telepon, staf yang menerima pesan harus
menuliskan dan membacakannya kembali kepada pemberi pesan. Pemberi pesan
harus segera melengkapi dokumentasi verifikasi secara tertulis. Komunikasi verbal
menerapkan TBAK? Tulis BA ca K embali. Untuk istilah yang sulit atau obat-obat
kategori LASA (Look Alike Sound Alike) diminta penerima pesan mengeja kata
tersebut perhuruf, misalnya: U B R E T I D

b. Teknik SBAR (Situation-Background-Assessment-Recomendation)


Teknik ini berlaku untuk semua petugas saat melakukan pelaporan/ serah terima tugas
3. Sebelum menelephone dokter :
a. Periksa pasien dengan benar
b. Lihat nama DPJP yang sesuai untuk ditelephone
c. Mengetahui diagnosis masuk pasien
d. Baca catatan doktere dan keperawatan terbaru
e. Pegang RM pasien dan siap untuk melaporkan alergi, pengobatan yang diberikan,
cairan IV, hasil tes maupun laboratorium.
f. Setiap laporan SBAR berbeda. Fokus pada permasalah. Ringkas. Tidak semua
dilaporkan, hanya yang dibutuhkan dalam situasi saat itu.
4. Beberapa contoh penerapan SBAR (yang dicetak tebal adalah item yang harus
dipenuhi, yang dicetak biasa adalah pilihan jawaban sesuai kondisi pasien).
SITUASI/SITUATION
Saya menelephone tentang (nama pasien, umur dan tempat perawatan)
Pasien : Ny. Salma umur 50 tahun, diruang Mawar lantai 3 dok.
Masalah yang ingin disampaikan adalah :
Saya khawatir pasien akan mengalami syok
Tanda tanda vital :
TD : ... / mmHg, Nadi : x/m, Pernafasan : x/m, dan Suhu . 0C.
Saya khawatir tentang :
Tekanan darah karena lebih dari 200 atau kurang dari 100 atau 30 mmHg
dibawah dari biasanya.
Nadi karena lebih dari 140 atau kurang dari 50
Pernafasan karena kurang dari 5 atau lebih dari 40
Suhu karena kurang dari 350C atau lebih 400C.
BACKGROUND/LATAR BELAKANG
Status mental klien :
Sadar dan orientasi orang, waktu dan tempat baik
Kebingungan dan kooperatif / tidak kooperatif
Gelisah atau mengacau
Lesu tapi dapat berbicara dan dapat menelan
Koma, mata tertutup, tidak respon terhadap situasi
Kulit hangat dan kering, pucat berbintik, ekstremitas dingin/hangat
Pasien memakai / tidak memakai oksigen
Pasien memakai oksigen . l/m atau % selama . Menit / jam
Oksimeter menunjukkan %
Oksimeter tidak menunjukkan denyut nadi yang baik dan sulit dibaca

ASSESMENT/PENILAIAN
Masalah yang saya pikirkan adalah : (katakana apa masalah yang anda fikirkan).
- Masalah tampaknya adalah neurologis, sepsis, pulmo, antug, dll
- Pasien tampaknya tidak stabil dan cenderung memburuk
- Saya tidak yakin masalahnya tapi pasiennya makin memburuk
RECOMMENDATION / REKOMENDASI
Apakah (katakana apa yang ingin disarankan)
- Apakah pasien dapat ditansfer ke ICU/NICU, dok ?
- Dokter dapat melihat pasien sekarang ?
- Dokter dapat berbicara pada keluarga pasien tentang kondisi pasien sekarang ?
- Dokter dapat menghubungi dokter jaga/konsulen untuk melihat pasien
sekarang?
Apakah diperlukan pemeriksaan tambahan :
Apakah dokter membutuhkan pemeriksaan seperti ronthgen, analisa gas darah, EKG,
BNP, dll ?
Jika ada perubahan tatalaksana, tanyakan :
- Seberapa sering perlu dilaporkan tanda vital ke dokter ?
- Menurut perkiraan dokter berapa lama masalah ini akan berakhir ?
- Jika pasien tidak membaik apakah dokter ingin diberitahu / ditelephone lagi ?
CONTOH PERCAKAPAN TEHNIK SBAR :
1. Komunikasi perawat dengan dokter
Skenario 1 :
Ny. Ritha pasien penyakit dalam dengan riwayat tuberculosis yang lama. Ia masuk
kemarin pagi dengan pneumonia, mengguakan O2 3 l/m dengan oksimetri
GUNAKAN SINGKATAN SESUAI DAFTAR SINGKATAN RS. PELAMONIA
C. Sasaran III: peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai (high-alert)
1. Elemen Penilaian Sasaran III
a. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan agar memuat proses identifikasi,
menetapkan lokasi, pemberian label, dan penyimpanan elektrolit konsentrat.
b. Implementasi kebijakan dan prosedur.
c. Elektrolit konsentrat tidak berada di unit pelayanan pasien kecuali jika dibutuhkan
secara klinis dan tindakan diambil untuk mencegah pemberian yang kurang hati-hati
di area tersebut sesuai kebijakan.
d. Elektrolit konsentrat yang disimpan pada unit pelayanan pasien harus diberi label
yang jelas, dan disimpan pada area yang dibatasi ketat (restricted).
Obat obat yang memerlukan kewaspadaan tinggi :
a. Elektrolit Pekat :
- KCl 7,46%

b.

c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.

m.

- Meylon 8,4 %
- MgSO4 20%
- NaCl 3 %
Golongan Opiod
- Fentanil
- Kodein HCl
- Morfin HCl
- Morfin Sulfat
- Petidin HCl
- Sufentanil
Antikoagulan
- Heparin Natrium
- Enoksparin Natrium
Trombolitik
- Streptokinase
Anti Aritmia
- Lidokain HCl/Kom
- Amiodaron
Insulin
Obat Hipoglikemi Oral
Obat Agonis Adrenergik
- Epineprin
- Norepinefrin
Anastesik Umum
- Propofol
- Ketamin
Kemoterapi
Obat kontras
Pelemas otot
- Suksinikolin
- Rokuronium
- Vekuronium
Larutan Kardioplegi

2. TIPS :
a. Pemberian elektrolit pekat harus dengan pengenceran dan menggunakan label khusus
b. Setiap pemberian obat menerapkan 7 benar
c. Pastikan pengenceran dan pencampuran obat dilakukan oleh orang yang berkompeten
d. Pisahkan atau beri jarak penyimpanan obat dengan kategori LASA (Look-Alike,
Sound-Alike)
e. Tidak menyimpan obat kategori kewaspadaan tinggi di meja dekat pasien tanpa
pengawasan
f. Biasakan mengeja nama obat dengan kategori LASA saat memberi atau menerima
instruksi

PENERRAPAN 7 BENAR DALAM MENUNJANG MEDICATION SAFETY (Bagi


dokter, farmasis dan perawat)
1. Benar Pasien
- Gunakan minimal dua indentitas pasien
- Cocokkan obat yang akan diberikan dengan instruksi terapi tertulis
- Anamnesis riawayat alergi
- Anamnesis kehamilan / menyusui
- Anamnesis lengkap riwayat obat / penggunaan obat saat ini dan buat daftar
obat obat tertentu
- Bandingkan pemberian obat saat ini dengan daftar obat yang digunakan pasien
di rumah (termasuk kelalaian, duplikasi, penyesuaian, kehilangan /
menghilangkan, interkasi atau tambahan obat)
- Identifikasi pasien yang akan mendapat obat dengan kewaspadaan tinggi
dilakukan oleh dua orang yang kompeten double check
2. Benar Obat
- Beri label semua obat dan tempat obat (syringes, cangkir obat, baskom obat)
dan larutan lain.
- Obat dan larutan lain di lokasi perioperatif atau ruang prosedur yang tidak akan
segera dipakai juga harus diberi label
- Pemberian label dilokasi perioperatif atau ruang prosedur dilakukan setiap kali
obat atau larutan diambil dari kemasan asli ke tempat lainnya.
- Pada label, tuliskan nama obat, kekuatan, jumlah, kuantitas, pengenceran dan
volume, tanggal persiapan, tanggal kadaluarsa jika tidak digunakan dalam 24
jam dan tanggal kadaluarsa jika kurang dari 24 jam
- Semua obat atau larutan diverifikasi oleh 2 orang secara verbal dan visual jika
orang menyiapkan obat bukan yang memberikannya ke pasien.
- Pemberian label tiap obat atau larutan segera setelah obat disiapkan jika tidak
segera diberikan
- Jangan memberi label pada syringes atau tempat kosong, sebelum obat
disiapkan / diisi
- Siapkan satu obat atau larutan pada satu saat. Beri label hanya untuk satu obat
atau larutan pada satu saat
- Buang segera setiap obat atau larutan yang tidak ada labelnya.
- Buang semua tempat obat berlabel dilokasi steril segera setelah operasi atau
procedure tindakan (ini berarti tempat obat orisinal disimpan sampai tindakan
selesai).
- Saat pergantian tugas / jaga, review semua obat dan larutan oleh petugas lama
dan petugas baru secara bersama.
- Ubah daftar obat / kardeks jika terdapat perubahan obat.
- Kebenaran jenis obat yang perlu kewaspadaan tinggi dicek oleh dua orang
yang kompeten double check
3. Benar Dosis

Dosis / volume obat, terutama yang memerlukan kewaspadaan tinggi, dihitung


dan dicek oleh tiap dua orang yang kompeten double check
Jika ragu konsultasikan ke dokter yang menulis resep
Berkonsentrasi penuh pada saat menyiapkan obat, dan hindari gangguan.

4. Benar Waktu
- Sesuai waktu yang ditentukan : sebelum makan, setelah makan, saat makan.
- Perhatikan waktu pemberian :
3 X sehari tiap 8 jam
2 X sehari tiap 12 jam
Sehari sekali tiap 24 jam
Selang sehari tiap 48 jam
- Obat segera diberikan setelah diinstruksikan oleh dokter
- Belum memasuki masa kadaluarsa obat.
5. Benar Cara / Route Pemberian.
- Cara pemberian obat harus sesuai dengan bentuk / jenis sediaan obat :
Slow release tidak boleh digerus
Enteric coated tidak boleh digerus
- Obat yang akan diberikan per NGT sebaiknya adalah obat cair / syrup.
- Jadwal pemberian obat dan nutrisi juga berjarak.
6. Benar Dokumentasi.
- Setiap perubahan yang terjadi pada pasien setelah mendapat obat harus
didokumetasikan.
- Setiap dokumentasi klinik harus ada bukti nama dan tandatangan / paraf yang
melakukan.
- Setelah memberikan obat, langsung diparaf dan diberi nama siapa yang
memberikan obat tersebut.
- Setiap perubahan jenis / dosis / jadwal / cara pemberian obat harus diberi nama
dan paraf yang mengubahnya.
- Jika ada coretan yang harus dilakukan : buat hanya satu garis dan di paraf di
ujungnya : contoh
Lasix tab 1 X 40 mg Lasix inj 1 X 40 mg
- Dokumentasikan respon pasien terhadap pengobatan : efek samping obat
(ESO) dicatat dalam rekam medic dan form pelaporan insiden + formulir
pelaporan efek samping obat
- Pelaporan insiden dikirim ke Tim Keselamatan Pasien di instalasi Penjamin
Mutu dan Akreditasi. Pelaporan efek samping obat dikirim ke komite Farmasi
dan Terapi.
- Dokumentasikan Kejadian Tidak Diharapkan form pelaporan insiden ke
Tim Keselamatan Pasien.
7. Benar Informasi.

Semua rencana tindakan / pengobatan harus didokumentasikan pada pasien dan


atau keluarganya, termasuk pasien di ICU (hak pasien).
Jelaskan tujuan dan cara mengkonsumsi obat yang benar
Jelaskan efek samping yang mungkin timbul
Rencana lama terapi juga dikomunikasikan pada pasien
TIPS : semua informasi yang telah diberikan pada pasien dan kelurganya ini
ditulis dalam form Penjelasan dan Pendidikan Dokter Kepada Pasien
yang ada di dalam rekam medik dan di tandatangani oleh dokter dan pasien /
keluarga pasien.

D. Sasaran IV: Kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur, tepat pasien operasi


1. Elemen Penilaian Sasaran IV
a) Rumah sakit menggunakan suatu tanda yang jelas dan dimengerti untuk identifikasi
lokasi operasi dan melibatkan pasien di dalam proses penandaan.
b) Rumah sakit menggunakan suatu checklist atau proses lain untuk memverifikasi saat
preoperasi tepat lokasi, tepat prosedur, dan tepat pasien dan semua dokumen serta
peralatan yang diperlukan tersedia, tepat, dan berfungsi.
c) Tim operasi yang lengkap menerapkan dan mencatat prosedur sebelum insisi/timeout tepat sebelum dimulainya suatu prosedur/tindakan pembedahan.
d) Kebijakan dan prosedur dikembangkan untuk mendukung proses yang seragam
untuk memastikan tepat lokasi, tepat prosedur, dan tepat pasien, termasuk prosedur
medis dan dental yang dilaksanakan di luar kamar operasi.
Protokol Umum :
a. Tandai lokasi operasi / Marking () terutama :
- Multiple structures (jari tangan, jari kaki).
- Multiple level (operasi tulang belakang) : cervical, thoracal, lumbal).
- Multiple lesion yang mengerjakannya bertahap
b. Anjuran penandaan lokasi operasi
- Gunakan tanda yang telah disepakati
- Dokter yang akan melakukan operasi yang melakukan pemberian tanda
- Tandai pada atau dekat daerah insisi
- Gunakan tanda yang tidak ambigu (contoh tanda X merupakan tanda yang
ambigu)
- Gunakan penanda yang tidak mudah terhapus (contoh : gentium violet).
c. Sebelum dilaksanakan operasi terapkan pengisian check list keselamatan
operasi untuk memastikan :
- Tepat pasien
- Tepat prosedur
- Tepat daerah / lokasi operasi
CHECK LIST KESELAMATAN OPERASI STANDAR WHO
Nama Pasien :
Nama Operator :
Nomor Rekam Medik :
Jenis Operasi :
Sign In :
Jam :

Dilakukan sebelum induksi anastesi, minimal oleh perawat dan dokter anastesi
1.

2.
3.
4.
5.
6.
7.

2.

3.
4.

5.

Belum

Ya

Tidak

Pasien telah dikonfirmasikan


- Identifikasi dan gelang pasien
- Lokasi operasi
- Prosedur
- Surat Ijin Operasi
Lokasi operasi sudah diberi tanda
Mesin anestesi dan obat-obatan sudah dicek lengkap?
Pulse oksimetri sudah berfungsi
Apakah pasien memiliki:
Riwayat Alergi
Kesulitan bernafas/ resiko aspirasi ?
Dan menggunakan peralatan/ bantuan
Resiko kehilangan darah > 500ml (7ml/ kg bagi anak-anak)
- Dua akses intra vena/ akses sentral dan rencana terapi cairan

Time Out
Dilakukan sebelum insisi kulit, diisi oleh perawat, dokter anestesi dan operator
1.

Sudah

Jam :

Sudah Belum
Konfirmasi seluruh anggota Tim memperkenalkan nama dan perannya
masing-masing
Dokter bedah, dokter anestesi dan perawat melakukan konfirmasi verbal :
- Nama Pasien
- Prosedur
- Lokasi dimana insisi akan dibuat
Apakah antibiotik profilaksis sudah diberikan 60 menit sebelumnya?
- Nama Antibiotik yang diberikan
- Dosis antinbiotik yang diberikan : .
Antisipasi kejadian krisis :
a.
Review dokter bedah : langkah apa yang akan dilakukan bila kondisi kritis atau kejadian
yang tidak diharapkan, lamanya operasi, antisipasi kehilangan darah?
..
b.
Review tim anestesi : apakah ada hal khusus yang perlu diperhatikan pada pasien?
.

c.
Jika
perlu
CVC,
kapan
akan
dipasangkan?
.
d.
Review tim perawat : apakah peralatan sudah steril, adakah alat-alat yang perlu
diperhatikan
khusus
atau
dalam
masalah?
.
.
Apakah rontgen foto/ CT Scan dan MRI telah ditayangkan?

Sign Out
Jam
Dilakukan sebelum pasien meninggalkan OK, diisi oleh perawat, dokter anestesi, dan operator
Sudah Belum
1.
Perawat melakukan konfirmasi secara verbal dengan tim :
a. Nama Prosedur tindakan telah dicatat
b. Instrumen, sponge, dan jarum telah dihitung dengan benar
c. Spesimen telah diberi label (termasuk nama pasien dan asal Jaringan
spesimen)
Ya
Tidak
d. Adakah masalah dengan peralatan selama operasi
2.
Operator/ dokter bedah, dokter anestesi, dan perawat melakukan review
masalah utama apa yang harus diperhatikan untuk penyembuhan dan
menajemen pasien selanjutnya
Hal yang harus diperhatikan : ......................................................................................................

Tanggal :
Jam Verifikasi :
Operator
Dokter Anastesi
Perawat
( )

( )

( )

E. Sasaran V: pengurangan risiko infeksi / nosokomial infeksi terkait pelayanan kesehatan


Dengan Hand Hygiene Dan Penggunaan APD.
1. Elemen Penilaian Sasaran V
a. Rumah sakit mengadopsi atau mengadaptasi pedoman hand hygiene terbaru yang
diterbitkan dan sudah diterima secara umum (al.dari WHO Patient Safety).
b. Rumah sakit menerapkan program hand hygiene yang efektif.
c. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan untuk mengarahkan pengurangan secara
berkelanjutan risiko dari infeksi yang terkait pelayanan kesehatan.
2. Panduan menurunkan risiko infeksi nosokomial:
a. Melakukan 7 langkah cuci tangan yang dijadikan standar oleh WHO pada saat:
- Sebelum menyentuh pasien
- Sebelum Melakukan tindakan/aseptic
- Setelah terpapar cairan tubuh pasien
- Setelah melakukan tindakan invasive
- Setelah menyentuh area sekitar pasien/lingkungan

7 Langkah Mencuci Tangan Menurut WHO

Hand Wash dengan air mengalir : 40-60 detik


Hand Rub dengan Gel alkohol : 20-30 detik

b. APD (Alat Pelindung Diri)


Alat yang digunakan untuk melindungi petugas dari risiko pajanan darah, cairan tubuh,
ekskreta, dan selaput lendir pasien seperti: sarung tangan, masker, tutup kepala,
kacamata pelindung, apron/jas dan sepatu pelindung.
F. Sasaran VI : pengurangan risiko pasien jatuh.
1. Elemen Penilaian Sasaran VI
a. Langkah-langkah diterapkan untuk mengurangi risiko jatuh bagi mereka yang pada
hasil asesmen dianggap berisiko jatuh.
b. Langkah-langkah dimonitor hasilnya, baik keberhasilan pengurangan cedera akibat
jatuh dan dampak dari kejadian tidak diharapkan.
c. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan untuk mengarahkan pengurangan
berkelanjutan risiko pasien cedera akibat jatuh di rumah sakit.
2. TIPS :
a. Seluruh pasien rawat inap dinilai risiko jatuhnya dengan menggunakan checklist
penilaian risiko jatuh
b. Pasien anak memakai formulir: checklist penilaian risiko pasien anak: skala Humpty
Dumpty.
c. Pasien dewasa memakai formulir : penilaian risiko jatuh dewasa : skala Jatuh Morse
(Morse Fall Scale /MFS)
d. Pengkajian risiko ulang dilakukan jika ada perubahan kondisi, atau pengobatan.
CHECK LIST PENILAIAN RESIKO JATUH PASIEN ANAK
SKALA HUMPTY DUMPTY PASIEN RAWAT INAP
Tanggal
:
Nama :
Tanggal Lahir :
Petugas Yang Mengisi:
Parameter
Kriteria
Skor
Di bawah 3 tahun
4
Umur
3 - 7 tahun
3
7 - 13 tahun
2
> 13 tahun
1
Jenis Kelamin
Laki-laki
2
Perempuan
1
Kelainan Neurologi
4
Perubahan dalam oksigenasi
3
(Masalah Saluran Nafas.
Diagnosa
Dehidrasi, Anemia, Anoreksia,
Sinkop/sakit kepala, dll)
Kelainan Psikis/ Perilaku
2
Diagnosis Lain
1
Tidak sadar terhadap
3
Gangguan Kognitif
keterbatasan
Lupa keterbatasan
2
Mengetahui kemampuan diri
1

Riwayat jatuh dari tempat


tidur saat bayi-anak
Faktor Lingkungan
Pasien menggunakan alat
bantu atau box atau mebel.
Pasien berada di tempat tidur
Di luar ruang rawat
Respon Terhadap Operasi/
Dalam 24 jam
Obat Penenang/ Efek Anestesi Dalam 48 jam Riwayat Jatuh
> 48 jam
Bermacam-macam obat yang
digunakan: obat sedatif
(kecuali pasien ICU yang
Penggunaan Obat
menggunakan sedasi dan
paralisis) , Hipnotik,
Barbiturat, Fenotiazin,
Antidepresan, Laksans/
Diuretika,Narkotik
Salah satu dari pengobatan di
atas
Pengobatan lain
Total
Keterangan :
- Resiko Tinggi
- Resiko Rendah
Skor minimal 7, skor maksimal 23.

4
3
2
1
3
2
1
3

2
1
> 12
7 12

PROTOKOL PENCEGAHAN PASIEN JATUH PASIEN ANAK :


Standar risiko Rendah (skor 7-11):
1. Orientasi ruangan.
2. Posisi tempat tidur rendah dan ada remnya
3. Ada pengaman samping tempat tidur dengan 2 atau 4 sisi pengaman.
Mempunyai luas tempat tidur yang cukup untuk mencegah tangan dan kaki atau bagian
tubuh lain terjepit.
4. Menggunakan alas kaki yang tidak licin untuk pasien yang dapat berjalan
5. Nilai kemampuan untuk ke kamar mandi dan bantu bila dibutuhkan
6. Akses untuk menghubungi petugas kesehatan mudah dijangkau.
Terangkan kepada pasien mengenai fungsi dari alat tersebut.
7. Lingkungan harus bebas dari peralatan yang mengandung risiko
8. Penerangan lampu harus cukup.
9. Penjelasan pada pasien dan keluarga harus tersedia.
10. Dokumen pencegahan pasien jatuh ini harus berada pada tempatnya.
Standar Risiko Tinggi (skor > 12):
1. Pakaikan gelang risiko jatuh berwarna kuning
2. Terdapat tanda peringatan pasien risiko jatuh
3. Penjelasan pada pasien atau orang tuanya tentang protokol pencegahan pasien jatuh
4. Cek pasien minimal setiap satu jam
5. Temani pasien pada saat mobilisasi
6. Tempat tidur pasien harus disesuaikan dengan perkembangan tubuh pasien
7. Pertimbangkan penempatan pasien, yang perlu perhatian diletakkan dekat Nurse Station
8. Perbandingan pasien dengan perawat 1: 3, libatkan keluarga pasien sementara
perbandingan belum memadai.
9. Evaluasi terapi yang sesuai. Pindahkan semua peralatan yang tidak di butuhkan keluar
ruangan
10. Pencegahan pengamanan yang cukup, batasi ditempat tidur
11. Biarkan pintu terbuka setiap saat kecuali pada pasien yang membutuhkan ruang isolasi.
12. Tempatkan pasien pada posisi tempat tidur yang rendah kecuali pada pasien yang
ditunggu keluarga.
13. Semua kegiatan yang dilakukan pada pasien harus di dokumentasikan.

Tgl
Tgl
lahir

:
:

PENILAIAN RESIKO JATUH PASIEN DEWASA


SKALA JATUH MORSE (MORSE FALL SCALE / MFS)
Nama
:
Petugas Yang Mengisi
:

FAKTOR RESIKO

SKALA

RIWAYAT JATUH YANG BARU


ATAU DALAM 3 BULAN
TERAKHIR

YA
TIDAK

HEPARIN
GAYA BERJALAN

SCORE
HASIL STANDAR
25
0

YA
TIDAK

15
0

FURNITUR
MENYOKONG TONGKAT /
ALAT PENOPANG /
WALKER
BED REST
YA
TIDAK
TERGANGGU
LEMAH
LUPA/PELUPA
BAIK

30
15

DIAGNOSIS MEDIS SEKUNDER


>1
MENGGUNAKAN ALAT ALAT
BANTU

RM :

KESADARAN
JUMLAH SCORE
Keterangan :
- Resiko Tinggi (Alert Segitiga Merah)
- Resiko Sedang (Alert Segitiga Kuning)
- Resiko Rendah Alert Segitiga Hijau)

0
20
0
20
10
15
0
> 45
25 44
0 24

CARA MELAKUKAN SCORING


1.

2.
3.

4.
5.

6.

Riwayat Jatuh :
- Skor 25 bila pasien pernah jatuh sebelum perawatan saat ini, atau jika ada riwayat
jatuh fisiologis karena kejang atau gangguan gaya berjalan menjelang dirawat.
- Skor 0 bila tidak pernah jatuh
- Catatan: bila pasien jatuh untuk pertama kali skor langsung 25.
Diagnosis Sekunder :
- Skor 15 jika diagnosis medis lebih dari satu dalam status pasien
- Skor 0 jika tidak
Bantuan berjalan :
- Skor 0 jika pasien berjalan tanpa alat bantu/dibantu,menggunakan kursi roda, atau
tirah baring dan tidak dapat bangkit dari tempat tidur sama sekali
- Skor 15 jika pasien menggunakan kruk, tongkat atau walker
- Skor 30 jika pasien berjalan mencengkram furniture untuk topangan.
Menggunakan infus:
- Skor 20 jika pasien di infus
- Skor 0 jika tidak
Gaya berjalan/transfer:
- Skor 0 jika gaya berjalan normal dengan ciri berjalan dengan kepala tegak, lengan
terayun bebas disamping tubuh, dan melangkah tanpa ragu-ragu
- Skor 10 jika gaya berjalan lemah, membungkuk tapi dapat mengangkat kepala saat
berjalan tanpa kehilangan keseimbangan. Langkah pendek-pendek dan mungkin
diseret.
- Skor 30 jika gaya berjalan terganggu, pasien mengalami kesulitan bangkit dari kursi,
berupaya bangun dengan mendorong lengan kursi atau dengan melambung
(menggunakan beberapa kali upaya untuk bangkit). Kepala tertunduk, melihat
kebawah. Karena keseimbangan pasien buruk, beliau mengenggam furniture, orang,
atau alat bantu jalan dan tidak dapat berjalan tanpa bantuan.
Status mental :
Skor 0 jika penilaian diri terhadap kemampuan berjalannya normal. Tanyakan pada pasien,
Apakah bapak/ibu dapat pergi ke kamar mandi sendiri atau perlu bantuan? Jika
jawaban hasil menilai dirinya konsisten dengan kemampuan ambulasi, pasien dinilai
normal.
TINGKAT RISIKO DITENTUKAN SEBAGAI BERIKUT
Tingkat Risiko
Tidak berisko
Risiko rendah
Risiko tinggi

Skor MFS
0 - 24
25 -50
51

Tindakan
Perawatan yang baik
Lakukan intervensi jatuh standar
Lakukan intervensi jatuh risti

Intervensi jatuh standar:


1.
Tingkatkan observasi bantuan yang sesuai saat ambulasi.
2.
Keselamatan lingkungan: hindari ruangan yang kacau balau, dekatkan bel dan telfon,
biarkan pintu terbuka, gunakan lampu malam hari serta pagar tempat tidur

3.
4.
5.
6.

Monitor kebutuhan pasien secara berkala (minimal tiap dua jam): tawarkan ke belakang
(kamar kecil) secara teratur.
Edukasi prilaku yang lebih aman saat jatuh atau transfer
Gunakan alat bantu jalan (walker, handrail).
Anjurkan pasien menggunakan kaos kaki atau sepatu yang tidak licin.

Intervensi jatuh risiko tinggi:


1.
Pakaikan gelang risiko jatuh berwarna kuning
2.
Intervensi jatuh standar
3.
Strategi mencegah jatuh dengan penilaian jatuh yang lebih detail seperti analisa cara
berjalan sehingga dapat ditentukan intervensi spesifik seperti menggunakan terapi fisik
atau alat bantu jalan jenis terbaru untuk membantu mobilisasi.
4.
Pasien ditempatkan dekat Nurse Station
5.
Handrail mudah dijangkau pasien dan kokoh
6.
Siapkan dijalan keluar dari tempat tidur : alat bantu jalan, komod
7.
Lantai kamar mandi dengan karpet anti slip/tidak licin, serta anjuran menggunakan
tempat duduk di kamar mandi saat pasien mandi
8.
Dorong partisipasi keluarga dalam keselamatan pasien
9.
Jangan tinggalkan pasien sendiri dikamar, samping tempat tidur atau toilet

PELAPORAN HASIL TES KRITIS


Pengertian:
1. Proses penyampaian tes kritis / hasil kritis kepada dokter yang merawat pasien.
2. Nilai Hasil Kritis adalah hasil pemeriksaan diagnostik/ penunjang yang memerlukan
penanganan segera.
3. Pelaporan Hasil Kritis adalah proses penyampaian nilai hasil pemeriksaan yang
memerlukan penanganan segera dan harus dilaporkan ke DPJP secepat mungkin dalam
waktu kurang dari 1 jam.

PELAPORAN HASIL TEST KRITIS

TINDAKAN

Petugas Laboratorium Petugas R

Catat tanggal, jam, na


nama yang m

Ka. IG
Ka . IC
Dir. Med

INFORMED CONSENT/ PERSETUJUAN TINDAKAN PASIEN


Informed consent diberikan oleh dokter sebelum pasien menjalani pembedahan, anestesi,
transfuse darah dan hemodialisa, yang meliputi :
1. Kondisi pasien.
2. Rencana tindakan dan pengobatan.
3. Potensial manfaat dan kelemahan.
4. Peluang alternatif.
5. Kemungkinan kebersihan.
6. Kemungkinan komplilasi yang berkaitan dengan pemulihan.
7. Peluang hasil non tindakan / pengobatan.
Informasi Medik Minimal mencakup :
- Diagnosa dan tata cara tindakan kedokteran
- Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan
- Prognosa tentang hidup-matinya.
- Prognosa tentang fungsinya.
- Prognosa tentang kesembuhan.
- Keuntungan tindakan kedokteran yang dilakukan.
- Tingkat keberhasilan tindakan kedokteran
- Masalah yang mungkin terjadi selama masa pemulihan.
PENGKAJIAN AWAL PASIEN RAWAT INAP
Pengkajian awal pasien rawat inap dilakukan dalam 24 jam pertama dan meliputi 11 hal:
1. Nyeri
2. Risiko jatuh
3. Status nutrisi
4. Status fungksional
5. Risiko dekubitus
6. Psikologis
7. Sosial
8. Obat-obatan
9. Alergi
10. Pendidikan
11. Bahasa
PELAPORAN INSIDEN
Definisi Insiden Keselamatan Pasien :
Setiap kejadian atau situasi yang dapat mengakibatkan / berpotensi mengakibatkan harm
(penyakit, cedera, cacat, kematian, dll) yang seharusnya tidak terjadi.

ALUR PELAPORAN KEJADIAN


INSIDEN
KEJADIAN

Lengkapi Laporan

Kepala Satuan
GRADI
GRADING BIRU /

GRADING KUNING /

INVESTIGASI

REKOMENDASI

TIM KP
(BID.

TIM KP
(BID. KAJIAN)

REGRADING /

DIREKSI

REKOMENDASI

TIM KP

KKP RS -

KPC (KONDISI POTENSIAL CEDERA / REPORTABLE CIRCUM-STANGE)


Suatu kondisi / situasi yang sangat berpotensi untuk menimbulkan cedera, tetapi belum terjadi
insiden.
Contoh:
ICU yang sangat sibuk tetapi jumlah staf selalu kurang.
Penempatan defibrillator standby di IGD ternyata rusak dan tidak dapat digunakan.
KNC (NEAR MISS / KEJADIAN NYARIS CEDERA)
Terjadinya insiden yang belum sampai terpapar ke pasien.
Contoh :
Unit transfusi darah sudah siap dipasang pada pasien yang salah, namun kesalahan
tersebut diketahui sebelum transfusi dimulai.
KTC (KEJADIAN TIDAK CEDERA / NO HARM INCIDENT )
Suatu kejadian insiden yang sudah terpapar ke pasien tetapi tidak menimbulkan cedera.
Contoh :
Darah transfusi yang salah sudah dialirkan ke pasien tetapi tidak timbul cedera / gejala
inkompatibilitas pada pasien tersebut.
KTD (KEJADIAN TIDAK DIHARAPKAN / ADVERSE EVENT)
Suatu kejadian insiden yang mengakibatkan cedera pada pasien
Contoh:
Transfusi yang salah mengakibatkan pasien meninggal karena reaksi hemolisis.
KEJADIAN SENTINEL
Suatu KTD yang mengakibatkan cedera serius, kehilangan fungsi secara permanen yang tidak
berhubungan dengan perjalanan alamiah penyakit atau kondisi yang mendasari.
Yang termasuk kategori SENTINEL
Kematian yang tidak diharapkan.
Kehilangan fungsi tubuh yang utama.
Operasi pada sisi yang salah, atau pasien yang salah.
Penculikan anak.
Anak diserahkan pada orang tua yang salah.
Pemerkosaan yang terjadi di RS.
Bunuh diri di RS.
Setiap insiden, dilakukan matriks grading risiko berdasarkan frekuensi serta dampak insiden
seperti tertera di bawah ini :
Probabilitas
Sangat sering (5)
Sering Terjadi (4)
Mungkin terjadi (3)
Jarang terjadi (2)

Tidak
Signifikan
Moderate
Moderate
Rendah
Rendah

Minor

Moderat

Mayor

Katastropik

Moderate
Moderate
Moderate
Rendah

Tinggi
Tinggi
Tinggi
Moderate

Extrim
Extrim
Extrim
Tinggi

Extrim
Extrim
Extrim
Extrim

Sangat jarang
terjadi (1)

Rendah

Rendah

Moderate

Tinggi

Extrim

Keterangan :
o Sering digunakan.
o Untuk memetakan risiko terhadap Probabilitas / Frekuensi dan Dampak / Konsekuensi.
o Sebaiknya digunakan bersama-sama oleh pihak klinisi dan manajemen untuk menilai
insiden / risiko.
o Bila Bands/ pita resiko berwarna hijau atau biru, lakukan investigasi sederhana.
o Bila Bands/ pita risiko berwana kuning dan merah, lakukan analisis akar masalah.
Matriks risiko efektif :
o Mudah digunakan dan dimengerti.
o Mempunyai deskripsi detil dan definisi.
o Menerangkan bagaimana risiko dapat dimitigasi (dikurangi) pada tingkat yang bisa
ditolerir.
Tujuan umum Pelaporan insiden : Menurunnya insiden keselamatan pasien serta meningkatnya
mutu pelayanan dan keselamatan pasien.
Tujuan Khusus :
a. Terlaksananya sistem pelaporan dan pencatatan insiden keselamatan pasien di rumah
sakit.
b. Diketahui penyebab insiden keselamatan pasien sampai pada akar masalah.
c. Didapatkannya pembelajaran untuk perbaikan asuhan kepada pasien agar dapat
mencegah kejadian yang sama terulang lagi.
Siapa yang dapat melaporkan insiden ?
Staf RS yang menemukan insiden atau supervisornya.
Staf RS yang terlibat dalam kejadian atau supervisornya.
Form Pelaporan Insiden dapat diperoleh di nurse station masing-masing unit kerja / dapat
diminta ke Instalasi Penjamin Mutu dan Akreditasi.
PENANGANAN LIMBAH
Cara Penanganan/ Pembersihan Tumpahan Darah atau Cairan Infeksius
Serap tumpahan dengan kertas tissue
Buang tissue yang telah dipakai kedalam kantong kuning
Desinfeksi bekas tumpahan dengan larutan chlorine 1% diamkan 5 menit keringkan
dengan kain pel
Jika tumpahan banyak, lokalisasi area dengan memakai yellow tape (pita kuning)

PENDIDIKAN PASIEN DAN KELUARGA


Materi Edukasi sesuai kebutuhaan pasien
Penyakit dan Diagnosa pasien
Tatalaksana
Edukasi obat
Edukasi interaksi obat dan makanan
Edukasi gizi
Edukasi rehab medik
Edukasi pengelolaan nyeri
Edukasi pemakaian alat medik
PERAN DAN TANGGUNG JAWAB ANDA
1. Mengetahui peran anda sebagai karyawan di RSWS
2. Menggunakan tanda pengenal selama berada di lingkungan RSWS.
3. Mengetahui tugas dan tanggung jawab Anda.
4. Berorientasi pada Visi dan Misi RS dan pekerjaan Anda.
5. Memahami struktur organisasi RSWS.
6. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan kegiatan yang diadakan oleh RSWS.
7. Mengikuti pelatihan dan pendidikan yang diselenggarakan oleh RSWS dalam rangka
meningkatkan pengetahuan dan kemampuan (staf yang menangani pasien secara klinis
dan langsung harus menguasai Basic Life Support / BLS: dokter, perawat, fisioterapis,
radiographer, analis laboratorium, petugas gizi, sopir ambulance dan staf non klinis).
8. Staf RS yang bertugas di unit yang beresiko tinggi seperti poliklinik, UGD, UPT HIV,
Kamar operasi, Hemodialisa, Endoskopi, Cathlab, ruang perawatan dan laboratorium
yang berhubungan langsung dengan pasien ( dokter, perawat, dan analis ) harus
mengikuti program vaksinasi Hepatitis B.
Sebagai dokter, perawat dan tenaga kesehatan harus memenuhi persyaratan yang berlaku:
1. Memiliki ijin profesi.
2. Secara rutin memperbaharui ijin untuk memenuhi persyaratan yang ditetapkan.
3. Memahami prosedur yang berkaitan dengan pekerjaan.
WEWENANG & TANGGUNG JAWAB DOKTER PENANGGUNGJAWAB PASIEN
1. Memberikan pelayanan medis sesuai dengan kompetensi dan kewenangan klinis yang
diberikan, serta penugasan dari direksi RSWS melalui Ketua KSM.
2. Melakukan proses pendidikan dan pembelajaran kepada peserta didik program dokter dan
Dokter spesialis 1 dan 2 sesuai penugasan dari Ketua Program Studi / Koordinator
Pendidikan.
3. Melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan keilmuan kedokteran / kesehatan di
bagian.
4. Meningkatkan kompetensi profesi sesuai bidang keilmuannya.
5. Melakukan evaluasi dan usulan revisi (bila diperlukan) kepada Direksi RSWS melalui
Komite Medis, terhadap peraturan internal staf medis, standar / panduan pelayanan medis,

standar prosedur operasional tindakan medik dan standar prosedur operasional di bidang
administrasi dan manajerial.
6. Pada hari libur, tugas visitasinya dapat dilegasikan kepada konsultan jaga yang ditetapkan
oleh departemen (kompetensi / level sama).
HAK & KEWAJIBAN
PESERTA PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS ( PPDS )
Hak PPDS
1. Peserta PPDS tahap pembekalan diberi kesempatan melaksanakan pelayanan medik,
diutamakan sesuai bidang studinya, dibawah bimbingan konsulen / supervisor / peserta
periode mandiri. Tindakan yang diperbolehkan ditentukan oleh bagian masing masing.
2. Dalam setiap tahapan, peserta didik memperolah SIMTD dari Direksi (Direktur SDM &
Pendidikan) setelah selesai mengikuti orientasi atau telah dinyatakan kompeten untuk
melanjutkan ke tahap berikut, serta memiliki SIP.
3. Berhak menggunakan ruang jaga dan ruang istirahat PPDS beserta fasilitasnya selama
bertugas.
Kewajiban PPDS
1. Mentaati tata tertib dan disiplin.
2. Mengikuti seluruh kegiatan pendidikan.
3. Menjaga rahasia pasien.
4. Menjalin hubungan baik dengan pasien, dokter, tenaga kesehatan dan petugas administrasi
rumah sakit.
5. Menjaga kesehatan diri sendiri (vaksinasi, asuransi kesehatan).
HAK & KEWAJIBAN PERAWAT
Hak Perawat
1. Memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya.
2. Mengembangkan diri melalui kemampuan spesialisasi sesuai latar belakang pendidikannya.
3. Menolak keinginan klien / pasien yang bertentangan dengan peraturan perundangan serta
standar profesi dan kode etik profesi.
4. Mendapatkan informasi lengkap dari klien / pasien yang tidak puas terhadap pelayanannya.
5. Meningkatkan pengetahuan berdasarkan perkembangan IPTEK dalam keperawatan /
kesehatan secara terus-menerus.
6. Diperlakukan adil dan jujur oleh rumah sakit maupun klien / pasien dan atau keluarganya.
7. Mendapatkan jaminan perlindungan terhadap resiko kerja yang berkaitan dengan tugasnya.
8. Diikutsertakan dalam penyusunan / penetapan kebijakan pelayanan kesehatan di rumah sakit.
9. Diperhatikan privasinya dan berhak menuntut apabila nama baiknya dicemarkan oleh klien /
pasien dan atau keluarganya serta tenaga kesehatan lain.
10. Menolak pihak lain yang memberi / permintaan tertulis untuk melakukan tindakan yang
bertentangan dengan perundang-undangan standar profesi dan kode etik.
11. Mendapatkan penghargaan imbalan yang layak dari jasa profesinya sesuai peraturan /
ketentuan yang berlaku di rumah sakit.
12. Memperoleh kesempatan mengembangkan karir sesuai bidang profesinya.

Kewajiban Perawat
1. Perawat wajib mematuhi semua peraturan rumah sakit dengan hubungan hukun antara
perawat dengan pihak rumah sakit.
2. Perawat wajib mengadakan perjanjian tertulis dengan pihak rumah sakit.
3. Perawat wajib memenuhi hal hal yang disepakati / perjanjian yang telah dibuatnya.
4. Perawat wajib memberikan pelayanan / asuhan keperawatan sesuai standar profesi dan batas
kewenangan / otonomi profesi.
5. Perawat wajib menghormati hak-hak pasien.
6. Perawat wajib merujuk klien / pasien kepada perawat lain / tenaga kesehatan lain yang
mempunyai keahlian / kemampuan yang lebih baik.
7. Perawat wajib memberikan kesempatan kepada klien / pasien agar senantiasa dapat
berhubungan dengan keluarganya dan dapat menjalankan ibadah sesuai dengan agama /
keyakinannya sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan pelayanan kesehatan.
8. Perawat wajib bekerja sama dengan tenaga medis / tenaga kesehatan lain yang terkait dalam
memberikan pelayanan kesehatan kepada klien / pasien.
9. Perawat wajib memberikan informasi yang adekuat tentang tindakan keperawatan kepada
klien / pasien dan atau keluarganya sesuai dengan batas kewenangannya.
10. Perawat wajib mendokumentasikan asuhan keperawatan secara adekuat dan
berkesinambungan.
11. Perawat majib meningkatkan mutu pelayanan keperawatan sesuai standar profesi
keperawatan dan kepuasan klien /pasien.
12. Perawat wajib mengikuti perkembangan IPTEK Keperawatan secara terus-menerus.
13. Perawat wajib melakukan pertolongan darurat sebagai tugas kemanusiaan sesuai dengan
batas kewenangannya.
14. Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang klien / pasien bahkan
juga setelah klien/pasien meninggal kecuali jika diminta keterangannya oleh yang
berwenang.
HAK & KEWAJIBAN
PESERTA PENDIDIKAN DOKTER UMUM (PPDU)
Hak PPDU
1. Mengikuti program pendidikan di RSWS sesuai kurikulum.
2. Menggunakan ruang jaga dan ruang istirahat beserta fasilitasnya selama bertugas.
3. Melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan tindakan medis tertentu di bawah pengawasan
langsung dokter penanggung pasien yang menjadi pembimbing atau supervisor klinik.
Kewajiban PPDU
1. Mentaati tata tertib dan disiplin.
2. Mengikuti seluruh kegiatan pendidikan.
3. Menjaga rahasia pasien.
4. Menjaga dan menjalin hubungan baik dengan pasien, dokter, tenaga kesehatan dan petugas
administrasi rumah sakit.
5. Menjaga kesehatan diri sendiri (vaksinasi, asuransi kesehatan).

6. Membuat status pasien dalam status diri sendiri (bukan dalam rekam medik pasien).
Privasi & Kerahasiaan
Informasi di dalam rekam medis bersifat rahasia yang wajib dilindungi dari pembocoran sesuai
dengan kode etik kedokteran dan perundang-undangan yang berlaku.
Yang Harus Dilakukan :
1. Mematikan komputer setiap kali selesai digunakan atau ketika meninggalkan tempat kerja.
2. Pintu dan tirai ditutup selama melakukan tindakan atau pemeriksaan.
3. Pasien dilindungi dengan baik saat dilakukan tindakan pemindahan pasien.
4. Menjaga ketenangan / volume suara di area perawatan pasien.
5. Mahasiswa dalam menjalankan proses pendidikan harus senantiasa mengingat dan
memegang teguh janji kepaniteraan.
6. Setiap penelitian yang menggunakan pasien di rumah sakit harus memperhatikan dan sesuai
dengan kaidah etika penelitian.
Yang Jangan Dilakukan
1. Memberitahukan password anda kepada orang lain.
2. Tidak meninggalkan komputer yang berisi data pasien tanpa pengawasan atau terlindungi
oleh password.
3. Mendiskusikan informasi rahasi pasien di tempat umum seperti lobby, caf, lift, koridor, dll.
4. Menuliskan informasi rahasia pasien di papan pengumuman yang dapat diakses oleh publik.
5. Meninggalkan rekam medik dalam keadaan terbuka.
6. Membawa berkas rekam medik pasien keluar RS tanpa ijin.
HAK PASIEN DAN KELUARGA
Hak pasien
1. Hak memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di rumah sakit.
2. Hak atas pelayanan yang manusiawi, adil dan jujur.
3. Hak untuk mendapatkan pelayanan medis yang bermutu sesuai dengan standar dan profesi
kedokteran / kedokteran gigi tanpa diskriminasi.
4. Hak memperoleh asuhan keperawatan sesuai dengan standar profesi keperawatan.

5. Hak untuk memilih dokter dan kelas keperawatan sesuai dengan keinginannya dan sesuai
dengan peraturan yang berlaku di rumah sakit.
6. Hak dirawat oleh dokter yang secara bebas menentukan pendapat klinik dan pendapat etisnya
tanpa campur tangan dari pihak luar.
7. Hak atas Second opinion / meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain.
8. Has atas privacy dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data medisnya
kecuali apabila ditentukan berbeda menurut peraturan yang berlaku.
9. Hak untuk memperoleh informasi / penjelasan secara lengkap tentang tindakan medik yang
akan dilakukan terhadap dirinya.
10. Hak untuk memberikan persetujuan atas tindakan yang akan dilakukan oleh dokter
sehubungan dengan penyakit yang dideritanya.
11. Hak untuk menolak tindakan yang hendak dilakukan terhadap dirinya dan mengakhiri
pengobatan serta perawatan atas tanggung jawab sendiri sesudah memperoleh informasi yang
jelas tentang penyakitnya.
12. Hak didampingi keluarga dan atau penasehatnya dalam beribadah dan atau masalah lainnya
(dalam keadaan kritis atau menjelang kematian).
13. Hak beribadah menurut agama dan kepercayaannya selama tidak mengganggu ketertiban &
ketenangan umum / pasien lainnya.
14. Hak atas keamanan dan keselamatan selama dalam perawatan di rumah sakit.
15. Hak untuk megajukan usul, saran, perbaikan atas pelayanan rumah sakit terhadap dirinya.
16. Hak menerima atau menolak bimbingan moril maupun spiritual.
17. Hak transparansi biaya pengobatan / tindakan medis yang akan dilakukan terhadap dirinya
(memeriksa dan mendapatkan penjelasan pembayaran).
18. Hak akses pada rekam medis / hak atas kandungan rekam medis miliknya.
Setiap Hak Pasien, adalah Tanggung Jawab Setiap Orang.
Every Patients Right, Everyones Responssibility.
Kewajiban Pasien
1. Kewajiban pasien adalah sesuatu yang harus diperbuat atau yang harus dilakukan oleh
pasien.
2. Memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya kepada dokter
yang merawat.
3. Mematuhi nasehat dan petunjuk dokter atau diokter gigi dan perawat dalam pengobatannya.
4. Mematuhi ketentuan / peraturan dan tata tertib yang berlaku di rumah sakit.
5. Memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.
6. Berkewajiban memenuhi hal-hal yang telah disepakati / perjanjian yang telah dibuatnya.

TINDAKAN BILA MELIHAT KEBAKARAN


IPE
I : Informasikan
o Jangan panik Utamakan Keselamatan pasien.
o Hubungi security / koordinator pelaksana tanggap darurat dan laporkan :
- Sebut nama & asal unit / bagian.
- Sebut dimana lokasi adanya api / asap.
- Sebut kondisi api.
- Laporkan situasi terakhir, termasuk bila ada korban.
P : Pemadaman
o Jika terlatih menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), ambil apar yang terdekat
o Ikuti petunjuk penggunaan Apar.
o Menuju ke titik api.
o Pastikan jalur ke luar ke area aman bebas hambatan asap dan api.
o Padamkan api.
o Bila api gagal dipadamkan, segera evakuasi.
E : Evakuasi
o Segera keluar menuju ke titik berkumpul.
o Informasikan kondisi terakhir ke security / koordinator pelaksana tanggap darurat.
TINDAKAN BILA MENDENGAR PERINTAH EVAKUASI
o Tetap tenang jangan panik.
o Amankan semua dokumen berharga & kunci semua lemari.
o Matikan semua peralatan yang menggunakan tenaga listrik dan cabut semua steker dari
stop kontaknya.
o Tunggu dan dengarkan semua perintah dan aba-aba yang diberikan oleh PETUGAS
EVAKUASI.

ALUR KETIKA TERJADI KEBAKARAN :


ALUR KETIKA TERJADI KEBAKARAN :

TINDAKAN PETUGAS EVAKUASI


o Dengarkan perintah evakuasi.
o Bimbing semua penghuni bangunan untuk meninggalkan ruangan / gedung secara tertib
dan cepat lewat tangga darurat dan tidak menggunakan lift.
o Periksa semua ruangan dan tutup pintu ruangan setelah memeriksa.
o Pastikan semua ruangan di lantai itu benarbenar kosong.
o Pastikan semua orang yang mengungsi meninggalkan gedung menuju tempat berkumpul
yang sudah ditentukan dan menunggu sampai ada perintah lebih lanjut.
ALUR KEBAKARAN
o Orang/petugas pertama yang melihat kebakaran padamkan api menggunakan APAR, dan
segera melapor ke security dan PABX untuk mengaktifkan
o Tim PKD lantai, dan tim tersebut melakukan pemadaman
o PABX mengumumkan kode darurat kebakaran di rumah sakit,
o Security melaporkan kebakaran ke komandan bencana, dan bergerak untuk memadamkan
API menggunakan APAR
o Komandan Bencana mengawasi dan mengontrol kebakaran tersebut, dan berkoordinasi
dengan direktur utama dan dinas terkait.