Anda di halaman 1dari 4

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG
Kesehatan jiwa adalah suatu kondisi sehat emosional, psikologis, dan

sosial yang terlihat dari hubungan interpersonal yang memuaskan perilaku dan
koping individu efektif, konsep diri yang positif dan kestabilan emosional
(Johnsons, 1997 dalam Videback, 2008). Kesehatan jiwa juga mempunyai sifat
yang harmonis dan memperhatikan semua segi dalam kehidupan manusia dalam
berhubungan dengan manusia lainnya yang akan mempengaruhi perkembangan
fisik, mental, dan sosial individu secara optimal yang selaras dengan
perkembangan masing masing individu dan gangguan jiwa merupakan salah satu
masalah kesehatan di dunia.
Menurut WHO (2009), prevalensi masalah kesehatan jiwa mencapai 13%
dari penyakit secara keseluruhan dan kemungkinan akan berkembang menjadi
25% di tahun 2030. Gangguan jiwa ditemukan di semua negara, terjadi pada
semua tahap kehidupan, termasuk orang dewasa dan cenderung terjadi
peningkatan gangguan jiwa. Prevalensi terjadinya gangguan jiwa berat di
Indonesia berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (2007) adalah sebesar 4,6
permil,dengan kata lain dari 1000 penduduk Indonesia empat sampai lima
diantaranya menderita gangguan jiwa berat (Balitbang Depkes RI, 2008).
Penduduk Indonesia pada tahun 2007 sebanyak 225.642.124 sehingga
klien gangguan jiwa di Indonesia pada Tahun 2007 diperkirakan 1.037.454 orang
(Pusat Data dan Informasi Depkes RI, 2009) . Kondisi diatas mengambarkan

jumlah klien gangguan jiwa yang mengalami ketidak mampuan untuk terlibat
dalam aktivitas oleh karena keterbatasan mental akibat gangguan jiwa berat yang
akan mempengaruhi kualitas kehidupan penderitanya.
Berdasarkan Data dari Dinas Kesehatan Jawa Timur menyatakan, pada
tahun 2012, penduduk jawa timur yang mengalami gangguan jiwa sebanyak 0,9
persen. Artinya, jumlah penduduk Jawa timur saat ini sebanyak 37 juta jiwa, maka
0,9 persennya sebesar 333.000 orang mengalami gangguan jiwa. Berdasarkan
data yang diperoleh di RSJ Dr.Radjiman Wediodiningrat Lawang Malang, pada
tahun 2015 ( Bulan Januari-November) jumlah pasien yang mengalami gangguan
harga diri rendah sebanyak (......) orang. Angka kejadian ini merupakan penderita
yang sudah terdiagnosa. Persentase gangguan kesehatan jiwa itu akan terus
bertambah seiring dengan meningkatnya beban hidup masyarakat Indonesia.
Konsep diri adalah semua pikiran, keyakinan, dan kepercayaan yang
merupakan

pengetahuan

individu

tentang

dirinya

dan

mempengaruhi

hubungannya dengan orang lain. Konsep diri tidak terbentuk waktu lahir, tetapi
dipelajari sebagai hasil pengalaman unik seseorang dalam dirinya sendiri, dengan
orang terdekat, dan realitas dunia (Stuart, 2006). Konsep diri terdiri atas beberapa
komponen, yaitu citra tubuh (body image), ideal diri (self ideal), identitas diri
(self identity), peran diri (self role), dan harga diri (self esteem).
Menurut Stuart (2006), respon konsep diri dibagi menjadi 2, yaitu respon
adaptif dan respon maladaptif. Rentang respon adaptif adalah adanya aktualisasi
diri dilanjutkan dengan konsep diri positif, kemudian jika fase itu tidak dilewati
dengan baik akan muncul harga diri rendah yang akan menimbulkan kerancuan
identitas dan yang terakhir menuju depersonalisasi. Dari harga diri rendah sampai

depersonalisasi inilah yang disebut respon maladaptif. Maka sebelum terjadinya


kerancuan identitas dan depersonalisasi, hal yang perlu ditangani pertama adalah
harga diri rendah.
Harga diri rendah merupakan perasaan negatif terhadap dirinya sendiri,
termasuk kehilangan percaya diri, tidak berharga, tidak berguna, pesimis, tidak
ada harapan dan putus asa. Adapun perilaku yang berhubungan dengan harga diri
rendah yaitu mengkritik diri sendiri, penurunan produktivitas, destruktif yang
diarahkan kepada orang lain, gangguan dalam berhubungan, perasaan tidak
mampu, rasa bersalah, perasaan negatif terhadap tubuhnya sendiri, menarik diri
secara sosial, khawatir, serta menarik diri dari realitas (Damaiyanti & Iskandar,
2012). Salah satu hal yang terjadi pada pasien harga diri rendah adalah terjadinya
peruahan pada perilaku sosial.
Perilaku sosial adalah suasana saling ketergantungan yang merupakan
keharusan untuk menjamin keberadaan manusia (Rusli Ibrahim, 2001). Sebagai
bukti bahwa manusia dalam memnuhi kebutuhan hidup sebagai diri pribadi tidak
dapat melakukannya sendiri melainkan memerlukan bantuan dari orang lain.Ada
ikatan saling ketergantungan diantara satu orang dengan yang lainnya. Artinya
bahwa kelangsungan hidup manusia berlangsung dalam suasana saling
mendukung dalam kebersamaan. Untuk itu manusia dituntut mampu bekerja
sama, saling menghormati, tidak menggangu hak orang lain, toleran dalam hidup
bermasyarakat.
Berdasarkan suatu asumsi bahwa manusia adalah makhluk sosial maka
dapat di tarik suatu implikasi bahwa suatu hubungan sosial yang bersifat tidak
mumaskan atau bersifat tidak harmonis dengan orang lain dapat menimbulkan

tekanan tekanan stres dalam diri individu . Tekanan tekanan stres itu pada tahap
tertentu dapat menyebabkan ganguan gangguan tertentu terhadap kesehatan
mental seseorang (Fattah Harunawan,2015)
Berdasarkan dari fenomena dan data di atas menjadikan penulis tertarik
untuk mengobservasi tingkat prilaku sosial pasien harga diri rendah di RSJ DR
RADJIMANWIDIODININGRAT

1.2 RUMUSAN MASALAH


Berdasarakan latar belakang di atas, maka rumusan masalah sebagai berikut
Bagaimana prilaku sosial pasien harga diri rendah ?
1.3 TUJUAN PENELITIAN
Untuk mengetahui bagaimana prilaku sosial pasien harga diri rendah
1.4 MANFAAT PENELITIAN
1. Institusi Rumah Sakit
Sebagai masukan bagi perawat pelaksana di Unit Pelayanan Keperawatan
Jiwa dalam rangka mengambil kebijakan untuk meningkatkan mutu
pelayanan kesehatan khususnya pada klien yang mengalami perubahan
proses pikir : harga diri rendah
2. Penulis
Untuk mengetahui bagaimana prilaku sosial pasien harga diri rendah .
3. Peneliti yang akan datang
Sebagai bahan perbandingan dan penelitian faktor-faktor tentang prilaku
sosial pasien harga diri rendah