Anda di halaman 1dari 40

LAPORAN KASUS

LUKA BAKAR LISTRIK

Oleh:
Thiyagu Ramachandaram

100100315

Kanagavalli Vijayakumar

100100403

Joel Nathaniel Richard Joseph

090100445

Tivagaran Loganathan

100100421

Pembimbing
dr. Cut Meliza, Sp. An

DEPARTEMEN ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF


RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2015

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas rahmat
dan kurnia-Nya, penulisan Laporan kasus: Luka Bakar Listrik, dapat diselesaikan.
Laporan Kasus ini diajukan untuk melengkapi tugas pada Kepaniteraan Klinik
Senior Departemen Neurologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utara.
Meskipun penulisan laporan kasus ini banyak mengalami hambatan,
kesulitan dan kendala, namun karena adanya bimbingan, petunjuk, nasihat dan
motivasi dari berbagai pihak, penulisan makalah ini dapat diselesaikan. Di sini
kami mengambil kesempatan untuk mengucapkan jutaan terima kasih kepada
pembimbing kami, dr.Cut Meliza Sp.An.
Akhir kata, meskipun berbagai usaha telah dilakukan semaksimal mungkin
dalam menyelesaikan laporan kasus ini, namun karena keterbatasan pengalaman,
pengetahuan, kepustakaan dan waktu, makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
Untuk ini, kritik dan saran dari berbagai pihak sangat diharapkan untuk
menyempurnakan lapora kasus ini.

Medan, Juli 2015,

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .........................................................................................


DAFTAR ISI ........................................................................................................
BAB 1 PENDAHULUAN ...................................................................................
1.1 Latar Belakang.............................................................................

i
ii
1
1

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA...........................................................................


2.1. Definisi .........................................................................

2
2

2.2. Etiologi..............................................................................................

2.3. Gejala Klinis....................................................................................

2.4. Klasifikasi.........................................................................................

2.5. Diagnosa...........................................................................................

10

2.5. Penatalaksanaan .............................................................................

10

2.6. Manajemen Nyeri............................................................................

18

2.7. Komplikasi...............................................................................

22

2.8. Prognosis..............................................................................

23

DAFTAR PUSTAKA............................................................................

24

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Luka bakar atau combusio adalah suatu bentuk kerusakan dan kehilangan
jaringan disebabkan kontak dengan sumber suhu yang sangat tinggi seperti
kobaran api di tubuh ( flame), jilitan api ke tubuh ( flash), terkena air
panas( scald), tersentuh benda panas (kontak panas), akibat serangan listrik, akibat
bahan-bahan kimia, serta sengatan matahari (sunburn) dan suhu yang sangat
rendah. Luka bakar berat menyebabkan morbiditas dan derajat cacat yang relatif
tinggi dibandingkan dengan cedera oleh sebab lain1,2,3.
Luka listrik adalah luka yang disebabkan oleh trauma listrik, merupakan
jenis trauma yang disebabkan oleh adanya persentuhan dengan benda yang
memiliki arus listrik, sehingga dapat menimbulkan luka bakar sebagai akibat
berubahnya energi listrik menjadi energi panas1,2,3. Umumnya tanda utama trauma
listrik adalah luka bakar pada kulit. Gambaran makroskopis kerusakan kulit yang
kontak langsung dengan sumber listrik bertegangan rendah disebut electrical
mark. Luka listrik biasanya dapat diamati di titik masuk (entry point ) maupun
titik keluar (exit point ) 2.
Luka listrik adalah kerusakan yang terjadi jika arus listrik mengalir kedalam
tubuh manusia dan membakar jaringan ataupun menyebabkan terganggunya
fungsi suatu organ dalam tubuh manusia adalah penghantar listrik yang baik.
Kontak langsung dengan arus listrik bisa berakibat fatal 1. Arus listrik yang
mengalir ke dalam tubuh manusia akan menghasilkan panas yang dapat
membakar dan menghancurkan jaringan tubuh. Meskipun luka bakar listrik
tampak ringan, tetapi mungkin saja telah terjadi kerusakan organ dalam yang
serius, terutama pada jantung, otot atau otak2.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi
Luka

listrik

adalah

luka

yang

disebabkan

oleh

trauma

listrik,

yangmerupakan jenis trauma yang disebabkan oleh adanya persentuhan dengan


bendayang memiliki arus listrik, sehingga dapat menimbulkan luka bakar sebagai
akibatberubahnya energi listrik menjadi energi panas1,2,3.
2.2. Etiologi
Luka bakar listrik bisa terjadi akibat tersambar petir atau menyentuh kabel
maupun sesuatu yang menghantarkan listrik dari kabel yang terpasang.
Dampaknya bisa berupa luka bakar ringan sampai kematian, tergantung kepada4:
1. Jenis aliran listrik
Kejadian kecelakaan karena tersengat arus listrik pada manusia lebih sering
dikarenakan arus bolak-balik (AC) dibandingkan arus searah (DC). Manusia lebih
sensitif terhadap arus AC dibandingkan arus DC (sekitar 4-6 kali). Arus DC
menyebabkan satu kontraksi otot. Sedangkan arus AC menyebabkan kontraksi
yang kontinyu (tetani) dapat mencapai 40-110 kali/detik, sehingga menyebabkan
luka yang lebih parah. Pada tegangan rendah, arus searah tidak berbahaya
dibanding arus bolak-balik dengan ampere yang sama. Sebaliknya, pada tegangan
tinggi, arus searah lebih berbahaya. Efek AC pada tubuh manusia sangat
tergantung kepada kecepatan berubahnya arus (frekuensi), yang diukur dalam
satuan siklus/detik (hertz). Arus frekuensi rendah (50-60 hertz) lebih berbahaya
dari arus frekuensi tinggi dan 3-5 kali lebih berbahaya dari DC pada tegangan dan
kekuatan yang sama. AC sebesar 60 hertz menyebabkan otot terpaku pada
posisinya, sehingga korban tidak dapat melepaskan genggamannya dari sumber
listrik. Akibatnya korban terkena sengatan listrik lebih lama sehingga terjadi luka
bakar yang berat. Arus DC dipakai dalam industri yang menggunakan proses
elektrolisa, misalnya pada pemurnian dan pelapisan atau penyepuhan logam. Juga

digunakan pada telepon (30-50 volt) dan kereta listrik (600-1500 volt). Arus AC
digunakan di rumah-rumah dan pabrik, biasanya menggunakan tegangan 110 volt
atau 220 volt.
2. Tegangan (Voltage)
Dikenal ada 2 macam tegangan :
a. Tegangan rendah (low voltage)
b. Tegangan tinggi (high voltage)
Batasnya ditetapkan pada 1000 volt. Tegangan tinggi dapat menyebabkan
kematian mendadak akibat dari henti jantung (cardiac arrest), tetapi untuk
tagangan rendah (110-380 V, arus searah 50-60 Hz) kematian biasanya akibat dari
fibrilasi ventrikel.
3. Kuat arus (Intensitas)
Kekuatan arus listrik diukur dalam ampere. 1 miliampere (mA) sama dengan
1/1,000 ampere. Kuat arus dapat dihitung dari tegangan (volt) dibagi dengan
tahanan (Ohm). 10 mA dapat menimbulkan rasa tidak enak (unpleasant
sensation). 10-60 mA dapat menghilangkan kontrol otot-otot dan dapat
menyebabkan asfiksia. Kuat arus lebih dari 60 mA dan berlangsung lebih dari 1
detik dapat menimbulkan fibrilasi ventrikel. Arus 60-80 mA atau 200-250 mA
pada DC adalah berbahaya bagi manusia. Jika arus langsung mengalir ke jantung,
misalnya melalui sebuah pacemaker, maka bisa terjadi gangguan irama jantung
meskipun arus listriknya jauh lebih rendah (kurang dari 1 mA). Lobl O
mengatakan bahwa kuat arus sebesar 30 mA adalah batas atas ketahanan
seseorang, pada 40 mA dapat menimbulkan hilangnya kesadaran. Kematian akan
terjadi pada kuat arus sebesar 100 mA atau lebih.
4. Ketahanan tubuh terhadap arus listrik (Resistensi)
Resistensi

adalah

kemampuan

tubuh

untuk

menghentikan

atau

memperlambat aliran arus listrik (satuan: Ohm). Tahanan tubuh manusia terhadap

arus listrik tergantung dari banyaknya kandungan air pada jaringan tersebut.
Urutan tahanan jaringan dimulai dari yang paling rendah adalah saraf, pembuluh
darah, otot, kulit, tendo, dan tulang. Tahanan kulit + 500-10.000 Ohm. Kulit yang
kering mempuyai tahanan antara 2000-3000 Ohm, sedangkan kulit yang basah
mempunyai tahanan sekitar 500 Ohm. Resistensi kulit yang tertusuk atau tergores
atau resistensi selaput lendir yang lembab (misalnya mulut, rektum atau vagina),
hanya separuh dari resistensi kulit utuh yang lembab. Resistensi dari kulit telapak
tangan atau telapak kaki yang tebal adalah 100 kali lebih besar dari kulit yang
lebih tipis.
Arus listrik banyak yang melewati kulit, karena itu energinya banyak yang
dilepaskan di permukaan. Jika resistensi kulit tinggi, maka permukaan luka bakar
yang luas dapat terjadi pada titik masuk dan keluarnya arus, disertai dengan
hangusnya jaringan diantara titik masuk dan titik keluarnya arus listrik.
Tergantung kepada resistensinya, jaringan dalam juga bisa mengalami luka bakar.
5. Aliran arus listrik (path of current)
Aliran arus listrik adalah tempat-tempat pada tubuh yang dilalui oleh arus
listrik sejak masuk sampai meninggalkan tubuh. Letak titik masuk arus listrik
(point of entry) dapat pada setiap titik dari tubuh korban, tetapi karena adanya titik
keluar yangg juga dapat berbeda-beda, maka efek dari arus listrik tersebut
bervariasi dari yang ringan sampai berat. Jaffe (1928) mengatakan bahwa apabila
arus listrik masuk dari sebelah kiri bagian tubuh lebih berbahaya daripada apabila
masuk dari sebelah kanan. Schridde (1936) mendapatkan 88% kematian setelah
adanya kontak antara konduktor dengan tangan kiri. Bahaya terbesar bisa timbul
apabila jantung atau otak berada dalam posisi aliran dari arus listrik tersebut .
Arus listrik paling sering masuk melalui tangan, kemudian kepala dan
paling sering keluar dari kaki. Arus yang melewati kepala bisa menyebabkan:
a. Kejang.
b.

Pendarahan otak.

c. Kelumpuhan pernapasan.
d. Perubahan psikis (misalnya gangguan ingatan jangka pendek,
perubahan kepribadian, mudah tersinggung dan gangguan tidur)
e. Irama jantung yang tidak beraturan.
f. Kerusakan pada mata bisa menyebabkan katarak.
6. Lamanya terkena arus listrik
Semakin lama terkena listrik maka semakin banyak jumlah jaringan yang
mengalami kerusakan. Seseorang yang terkena arus listrik bisa mengalami luka
bakar yang berat. Pada tegangan yang rendah, arus listrik dapat menimbulkan
spasme otot-otot dan menyebabkan korban menggenggam konduktor, sehingga
arus listrik akan mengalir dalam beberapa saat. Pada keadaan ini dapat
menjadikan korban berada dalam keadaan syok yang mematikan. Sedangkan
tegangan tinggi, seseorang mungkin dapat segera terlempar/melepaskan
konduktor atau sumber listrik yang tersentuh, oleh karena arus listrik dengan
tegangan tinggi tersebut dapat menyebabkan timbulnya kontraksi otot, termasuk
otot yang tersentuh aliran listrik tersebut.
2.3. KLASIFIKASI
Luka bakar listrik dapat diklasifikasikan menjadi5:
a. Kontak langsung
pemanasan elektrothermal
b. Kontak tidak langsung

bunga api listrik (arc)


nyala api listrik (flame)
kilatan listrik (flash)

Pemanasan jaringan sekunder untuk menyebabkan arus luka bakar


electrothermal. Biasanya luka bakar ini adalah hasil dari aliran listrik bertegangan

rendah pada daerah yang terbatas. Aliran yang terus-menerus saat ini dapat
menyebabkan luka bakar yang signifikan di mana saja di sepanjang jalan saat ini.
Biasanya lesi kulit luka bakar electrothermal yang berbatas tegas, deep- parsial
untuk luka bakar full-thickness 5.
Yang paling merusak dari cedera tidak langsung terjadi ketika korban
terkena dari percikan bunga listrik. Bunga api listrik adalah percikan yang
terbentuk antara dua benda bertegangan yang tidak bersentuhan satu sama lain,
biasanya merupakan sumber yang bertegangan tinggi dan tanah. Karena suhu
bunga api listrik adalah sekitar 2500 C, menyebabkan luka bakar yang sangat
mendalam pada titik di mana terjadi kontak dengan kulit. Dalam keadaan
lengkung, luka bakar dapat disebabkan oleh panas dari busur itu sendiri, pemanas
electrothermal akibat arus aliran, atau dengan api yang dihasilkan dari
pembakaran pakaian5.
Berdasarkan American Burn Association luka bakar diklasifikasikan
berdasarkan kedalaman, luas permukaan, dan derajat ringan luka bakar.
Berdasarkan luas permukaan luka bakar.

Gambar 1. Wallence Rule of Nines1

Luas luka tubuh dinyatakan sebagai persentase terhadap luas permukaan


tubuh atau Total Body Surface Area (TBSA). Untuk menghitung secara cepat
dipakai Rules of Nine atau Rules of Walles dari Walles. Perhitungan cara ini
hanya dapat diterapkan pada orang dewasa, karena anak-anak mempunyai
proporsi tubuh yang berbeda. Pada anak-anak dipakai modifikasi Rule of Nines
menurut Lund and Browder, yaitu ditekankan pada umur 15 tahun, 5 tahun dan 1
tahun.2
Bedasarkan derajat ringan luka bakar menurut American Burn Association1 :
a.

Luka Bakar Ringan


i.

Luka bakar derajat II < 5%

ii.

Luka bakar derajat II 10% pada anak

iii.

Luka bakar derajat II < 2%1

b. Luka Bakar Sedang


i.
ii.
iii.

Luka bakar derajat II 15-25% pada orang dewasa


Luka bakar derajat II 10-20% pada anak-anak
Luka bakar derajat III < 10%1

c. Luka Bakar Berat


i.

Luka bakar derajat II 25% atau lebih pada orang dewasa

ii.

Luka bakar derajat II 20% atau lebih pada anak-anak

iii.

Luka bakar derajat III 10% atau lebih

iv.

Luka

bakar

mengenai

tangan,

telinga,

mata,

kaki,

genitalia/perineum.

v.

Luka bakar dengan cedera inhalasi, listrik, disertai trauma lain. 1

2.4. Gejala Klinis

dan

Gejalanya tergantung kepada interaksi yang rumit dari semua sifat arus
listrik. Suatu kejutan dari sebuah arus listrik bisa mengejutkan korbannya
sehingga dia terjatuh atau menyebabkan terjadinya kontraksi otot yang kuat.
Kedua hal tersebut bisa mengakibatkan dislokasi, patah tulang dan cedera tumpul.
Kesadaran bisa menurun, pernafasan dan denyut jantung bisa lumpuh. Luka bakar
listrik bisa terlihat dengan jelas di kulit dan bisa meluas ke jaringan yang lebih
dalam6.
1. Kepala dan Leher
Kepala adalah titik kontak utama untuk cedera tegangan tinggi, dan
pasienmungkin menunjukkan luka bakar serta kerusakan neurologis. Katarak
timbul di sekitar 6 % kasus cedera tegangan tinggi, terutama bila tersengat
listrikdi sekitar kepala. Meskipun katarak mungkin hadirlebih cepat atau lambat
setelah kecelakaan itu, katarak biasanya muncul beberapa bulansetelah kejadian.
Ketajaman visual dan pemeriksaan funduskopi harus dilakukanpada kemudian
hari. Pasien harus segera dirujuk ke dokter mata untuk mengetahui kemungkinan
terjadinya katarak ini6.
2. Sistem kardiovaskular
Serangan jantung, baik dari detak jantung atau fibrilasi ventrikel, adalah
kondisi umum yang akan terjadi dalam kecelakaan listrik. Pada Elektrokardiografi
(EKG) ditemukan sinus takikardi, sementara elevasi segmen ST, QT
reversibelsegmen perpanjangan, kontraksi ventrikel prematur, fibrilasi atrium,
danbundel branch block. Infark miokard akut dilaporkan tetapi relatif jarang.
Kerusakan otot rangka dapat menghasilkan peningkatan fraksi CPK-MB,
mengarah pada diagnosis palsu infark miokard dalam beberapa pengaturan6.
3. Kulit
Selain serangan jantung, luka yang paling dahsyat yang terjadi saat cedera
listrik adalah kulit terbakar, yang paling parah pada luka masuk dan tubuh yang
kontak dengan tanah. Bagian tubuh yang paling sering dari terkena kontak dengan
sumber listrik ialah tangan dan tengkorak. Daerah yang paling sering dari tanah

adalah tumit. Seorang pasien mungkin memiliki beberapa luka masuk dan titik
kontak dengan tanah. Luka bakar di listrik yang parah sering muncul keluhan
seperti rasa sakit, depresi, kuning abu-abu, belang-belang daerah dengan pusat
nekrosis, atau daerah yang mengeras seperti mumi. Arus tegangan tinggi
seringmengalir pada internal tubuh dan dapat membuat kerusakan otot besar. Jika
kontak dalam singkat. Namun, arus minimal mungkin terjadi dan kerusakan kulit
terlihat mungkin mewakili hampir semua kerusakan. Seseorang sebaiknya tidak
mencoba untuk memprediksi jumlah kerusakan jaringan di bawahnya dari jumlah
keterlibatan kulit. Cedera listrik yang paling umum terlihat pada anak-anak kurang
dari 4 tahun adalah mulut luka bakar yang terjadi dari mengisap pada kabel
ekstensi listrik rumah tangga. Luka-luka bakar biasanya merupakan luka bakar
busur

lokal,

mungkin

melibatkan

orbicularis

oris

otot,

dan

sangat

mengkhawatirkan ketika komisura yang terlibat karena dari kemungkinan


deformitas kosmetik. Sebuah risiko yang signifikan pendarahan tertunda dari
arteri labial ada ketika memisahkan escar . Kerusakan pertumbuhan dilaporkan ,
dan biasanya dirujuk ke bedah mulut6.
Pada kulit terjadi escar yang bisa menyebabkan timbulnya sindrom
kompartemen. Syndrom kompartemen adalah suatu kondiri dimana terjadi
peningkatan tekannan insterstitial pada kompartemen osteofasial yang tertutup.
Sehingga mengakibatkan berkurangnya perfusi jaringan dan tekanan oksigen pada
jaringan.
Gejala klinis yang umumnya ditemukan pada sindroa kompartemen
meliputi:

Pain : nyeri pada saat peregangan pasif pada otot-otot yang terkena
Pallor: kulit terasa dingin jika dipalpasi, warna kulit biasanya pucat
Parastesia: biasanya terasa panas dan gatal pada daerah lesi
Paralisi: diawali dengan ketidak mampuan untuk menggerakkan sendi
Pulselesness: berkurang atau hilangnya denyut nadi akibat adanya
gangguan perfusi arterial.
Dalam cedera tegangan tinggi, nekrosis otot dapat meluas ke tempat yang

jauh dari luka kulit yang terlihat, dan kompartemen sindrom terjadi sebagai akibat

10

dari pembuluh darahiskemia dan edema otot. Dekompresi fasciotomy atau


amputasi sering diperlukan karena kerusakan jaringan yang luas.
4. Ekstrimitas
Pelepasan mioglobin yang banyakdari otot yang rusak dapat menyebabkan
kerusakan Myoglobinuria. Vascular ginjal dari energi listrik bisa menjadi jelas
setiap saat isi ulang kapiler harus dikaji dan didokumentasikan dalam semua
ekstremitas, dan pemeriksaan neurovaskular harus sering diulang. Karena arteri
adalah sistem high-flow, panas dapat hilang cukup baik dan menyebabkan sedikit
kerusakan awal jelas tapi hasilnya dalam kerusakan berikutnya. Pembuluh darah,
di sisi lain, adalah sistem aliran rendah, yang memungkinkan energi panas untuk
menyebabkan pemanasan lebih cepat dari darah, dengan akibat trombosis .
Akibatnya, ekstremitas mungkin muncul pembengkakan pada awalnya. Dengan
luka parah, seluruh ekstremitas mungkin muncul pengerasan ketika semua elemen
jaringan, termasuk arteri, mengalami koagulasi nekrosis. Kerusakan pada dinding
pembuluh pada saat cedera juga dapat mengakibatkan tertundatrombosis dan
perdarahan, terutama dalam arteri kecil pada otot6.
2.5. Diagnosa

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.

Untuk memantau denyut jantung korban dilakukan pemeriksaan EKG


(elektrokardiogram). Jika diperkirakan jantung telah menerima kejutan
listrik, pemantauan EKG dilakukan selama 12-24 jam.

Jika korban tidak sadar atau telah mengalami cedera kepala, dilakukanCT
scan untuk memeriksa adanya kerusakan pada otak6.

2.6. Penatalaksanaan
1. Prehospital
Hal pertama yang harus dilakukan jika menemukan pasien luka bakar di
tempat kejadian adalah menghentikan proses kebakaran. Maksudnya adalah

11

membebaskan pasien dari pajanan atau sumber dengan memperhatikan


keselamatan diri sendiri. Bahan yang meleleh atau menempel pada kulit tidak bisa
dilepaskan. Air suhu kamar dapat disiramkan ke atas luka dalam waktu 15 menit
sejak kejadian, namun air dingin tidak dapat diberikan untuk mencegah terjadinya
hipotermia dan vasokonstriksi1,2,4,7.
2. Burn Resusitasi
Burn shock akan berkembang menjadi hypovolemi dan penghancuran
jaringan selular. Karakteristik dari tipe shock ini adalah penurunan cardiac output
dan volume plasma dan terjadi peningkatan cairan ekstraseluler, edema dan
oligouria.
3. Resusitasi jalan nafas
Bertujuan untuk mengupayakan suplai oksigen yang adekuat. Pada luka
bakar dengan kecurigaan cedera inhalasi, tindakan intubasi dikerjakan sebelum
edema mukosa menimbulkan manifestasi obstruksi. Sebelum dilakukan intubasi,
oksigen 100% diberikan dengan menggunakan face mask. Intubasi bertujuan
untuk mempertahankan patensi jalan napas, fasilitas pemeliharaan jalan napas
(penghisapan sekret) dan broncoalveolar lavage. Krikotiroidotomi masih menjadi
perdebatan karena dianggap terlalu agresif dan morbiditasnya lebih besar
dibandingkan intubasi. Krikotiroidotomi dilakukan pada kasus yang diperkirakan
akan lama menggunakan ETT yaitu lebih dari 2 minggu pada luka bakar luas yang
disertai cedera inhalasi. Kemudian dilakukan pemberian oksigen 2-4 liter/menit
melalui pipa endotracheal. Terapi inhalasi mengupayakan suasana udara yang
lebih baik disaluran napas dengan cara uap air menurunkan suhu yang meningkat
pada proses inflamasi dan mencairkan sekret yang kental sehingga lebih mudah
dikeluarkan. Pada cedera inhalasi perlu dilakukan pemantauan gejala dan distres
pernapasan. Gejala dan tanda berupa sesak, gelisah,takipneu, pernapasan dangkal,
bekerjanya otot-otot bantu pernapasan dan stridor. Pemeriksaan penunjang yang
perlu dilakukan adalah analisa gas darah serial dan foto thorax1,2,4,7.

12

4. Resusitasi cairan
Tujuan resusitasi cairan pada syok luka bakar adalah:
Preservasi reperfusi yang adekuat dan seimbang diseluruh pembuluh vaskuler
regional sehingga tidak terjadi iskemia jaringan
Minimalisasi dan eliminasi pemberian cairan bebas yang tidak diperlukan.
Optimalisasi status volume dan komposisi intravaskuler untuk menjamin
survival seluruh sel
Minimalisasi respon inflamasi dan hipermetabolik dan mengupayakan
stabilisasi pasien secepat mungkin kembali ke kondisi fisiologis. 1,4,7.

a.Jenis cairan
Terdapat tiga jenis cairan secara umum yaitu kristaloid, cairan hipertonik
dan koloid 1,4,7:

Larutan kristaloid

Larutan ini terdiri atas cairan dan elektrolit. Contoh larutan ini adalah Ringer
Laktat dan NaCl 0,9%. Komposisi elektrolit mendekati kadarnya dalam plasma
atau memiliki osmolalitas hampir sama dengan plasma. Pada keadaan normal,
cairan ini tidak hanya dipertahankan di ruang intravaskular karena cairan ini
banyak keluar ke ruang interstisial. Pemberian 1 L Ringer Laktat (RL) akan
meningkatkan volume intravaskuer 300 ml1,4,7.

Larutan hipertonik

Larutan ini dapat meningkatkan volume intravaskuler 2,5 kali dan


penggunaannya dapat mengurangi kebutuhan cairan kristaloid. Larutan garam
hiperonik tersedia dalam beberapa konsentrasi, yaitu NaCl 1,8%, 3%, 5 %, 7,5%
dan 10%. Osmolalitas cairan ini melebihi cairan intraseluler sehingga cairan akan
berpindah

dari

intraseluler

ke

ekstraseluler. Larutan

garam

hipertonik

13

meningkatkan volume intravaskuler melalui mekanisme penarikan cairan dari


intraseluler1,4,7.

Larutan koloid

Contoh larutan koloid adalah Hydroxy-ethyl starch (HES) dan Dextran.


Molekul koloid cukup besar sehingga tidak dapat melintasi membran kapiler, oleh
karena itu sebagian akan tetap dipertahankan didalam ruang intravaskuler. Pada
luka bakar dan sepsis, terjadi peningkatan permeabilitas kapiler sehingga molekul
akan berpindah ke ruang interstisium. Hal ini akan memperburuk edema
interstisium yang ada1,4,7.
HES merupakan suatu bentuk hydroxy-substitued amilopectin sintetik, HES
berbentuk larutan 6% dan 10% dalam larutan fisiologik. T dalam plasma selama
5 hari, tidak bersifat toksik, memiliki efek samping koagulopati namun umumnya
tidak menyebabkan masalah klinis. HES dapat memperbaiki permeabilitas kapiler
dengan cara menutup celah interseluler pada lapisan endotel sehingga
menghentikan kebocoran cairan, elektrolit dan protein. Penelitian terakhir
mengemukakan bahwa HES memiliki efek antiinflamasi dengan menurunkan
lipid protein complex yang dihasilkan oleh endotel, hal ini diikuti oleh perbaikan
permeabilitas kapiler. Efek antiinflamasi diharapkan dapat mencegah terjadinya
SIRS1,4,7.
b.

Dasar pemilihan Cairan

Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan cairan adalah efek
hemodinamik, distribusi cairan dihubungkan dengan permeabilitas kapiler,
oksigen, PH buffering, efek hemostasis, modulasi respon inflamasi, faktor
keamanan, eliminasi praktis dan efisien. Jenis cairan terbaik untuk resusitasi
dalam berbagai kondisi klinis masih menjadi perdebatan terus diteliti. Sebagian
orang berpendapat bahwa kristaloid adalah cairan yang paling aman digunakan
untuk tujuan resusitasi awal pada kondisi klinis tertentu. Sebagian pendapat
koloid bermanfaat untuk entitas klinik lain. Hal ini dihubungkan dengan

14

karakteristik masing-masing cairan yang memiliki kelebihan dan kekurangan.


Pada kasus luka bakar, terjadi kehilangan ciran di kompartemen interstisial secara
masif dan bermakna sehingga dalam 24 jam pertama resusitasi dilakukan dengan
pemberian cairan kristaloid1,4,7.
c. Penentuan jumlah cairan
Untuk melakukan resusitasi dengan cairan kristaloid dibutuhkan tiga sampai
empat kali jumlah defisit intravaskuler. 1 L cairan kristaloid akan meningkatkan
volume intravaskuler 300 ml. Kristaloid hanya sedikit meningkatkan cardiac
output dan memperbaiki transpor oksigen1,4,7.
Penatalaksanaan dalam 24 jam pertama
Resusitasi syok menggunakan Ringer laktat atau ringer asetat, menggunakan
beberapa jalur intravena. Pemberian cairan pada syok atau kasus luka bakar > 2530% atau dijumpai keterlambatan > 2 jam. Dalam <4 jam pertama diberikan
cairan kristaloid sebanyak 3[25%(70%xBBkg)] ml. 70% adalah volume total
cairan tubuh, sedangkan 25% dari jumlah minimal kehilangan cairan tubuh dapat
menimbulkan gejala klinik sidrom syok1,4,7.
Pada resusitasi cairan tanpa adanya syok atau kasus luka bakar luas < 2530%, tanpa atau dijumpai keterlambatan < 2 jam. Kebutuhan dihitung berdasarkan
rumus baxter 3-4 ml/kgBB/% LB1,4,7.
Metode Parkland merupakan metode resusitasi yang paling umum
digunakan pada kasus luka bakar, menggunakan cairan kristaloid. Metode ini
mengacu pada waktu iskemik sel tubulus ginjal < 8 jam sehingga lebih tepat
diterapkan pada kasus luka bakar yang tidak terlalu luas tanpa keterlambatan1,4,7.
Pemberian cairan menurut formula Parkland adalah sebagai berikut: (1,4,7,10)
Pada 24 jam pertama: separuh jumlah cairan diberikan dalam 8 jam pertama,
sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya. Pada bayi, anak dan orang tua,

15

kebutuhan cairan adalah 4 ml. Bila dijumpai cedera inhalasi maka kebutuhan
cairan 4 ml ditambah 1% dari kebutuhan.
Penggunaan zat vasoaktif (dopamin dan dobutamin) dengan dosis 3
mg/kgBB dengan titrasi atau dilarutkan dalam 500ml Glukosa 5% jumlah
tetesan dibagi rata dalam 24 jam.
Pemantauan untuk menilai sirkulasi sentral melalui tekanan vena sentral
(minimal 6-12cm H20) sirkulasi perifer (sirkulasi renal). Jumlah produksi
urin melalui kateter, saat resusitasi (0,5- 1ml /kg BB/jam maka jumlah
cairan ditingkatkan 50% dari jam sebelumnya.
Pemeriksaan fungsi renal (ureum, kreatinin) dan urinalisis (berat jenis dan
sedimen).
Pemantauan sirkulasi splangnikus dengan menilai kualitas dan kuantitas
cairan lambung melaui pipa nasogastrik. Jika , 200ml tidak ada gangguan
pasase lambung, 200-400ml ada gangguan ringan, >400 ml gangguan
berat1,4,7.

Penatalaksanaan 24 jam kedua


Pemberian cairan yang menggunakan glukosa dan dibagi rata dalam 24
jam. Jenis cairan yang dapat diberikan adalah glukosa5% atau 10% 1500-2000 ml.
Batasan ringer laktat dapat memperberat edema interstisial.
Pemantauan sirkulasi dengan menilai tekanan vena pusat dan jumlah
produksi uin <1-2 ml/kgBB/jam,berikan vasoaktif samapi 5 mg/kgBB
Pemantauan analisa gas darah, elektrolit1,4,7.

Penatalaksanaan setelah 48 jam


Cairan diberikan sesuai kebutuhan maintanance

16

Pemantauan sirkulasi dengan menilai produksi urin (3-4 ml/kgBB),


hemoglobin dan hematokrit1,4,7.

Rumus Baxter:
Pada dewasa:
Hari I: 3-4 ml x kgBB x % luas luka bakar
Hari II:Koloid: 200-2000 cc + glukosa 5%
Pemberian cairan volume pada 8 jam pertama dan volume diberikan 16 jam
berikutnya.
Pada anak:
Hari I: RL:dex 5% = 17:3
(2cc x kgBB x % luas luka bakar) + keb. faal
Kebutuhan Faal:
<1 thn = kgBB X 100cc
5-15 thn = kgBB X 75cc
>15 thn = kgBB X 50cc
Hari II: sesuai kebutuhan faal

Formula Parkland: (1,4,7,10)


Hari I (24jam pertama):
8 jam pertama: [0,5 x (4 cc x kgBB x % TBSA )] / 8 jam =cc/jam
16 jam kedua: [0,5 X (4 cc x kg BB x % TBSA)] / 16 jam = cc/jam
Penambahan cairan rumatan pada anak :
4 cc/kgBB/jam dalam 10 kg pertama

17

2 cc/kg BB/jam dalam 10 kg kedua (11-20kg)


1 cc/kgBB/jam untuk tiap >20kg
Bila dijumpai cedera inhalasi maka kebutuhan cairan 4 ml ditambah 1%
dari kebutuhan.Pengawasan kecukupan cairan yang diberikan dapat dilihat dari
produksi urin yaitu pada dewasa

0,5-1,0 cc/kg/jam

dan pada anak 1,0-1,5

cc/kg/jam1,4,7.
2.

Perawatan luka

Perawatan luka dilakukan setelah tindakan resusitasi jalan napas, mekanisme


bernapas dan resusitasi cairan dilakukan. Tindakan meliputi debridement secara
alami, mekanik (nekrotomi) atau tindakan bedah (eksisi), pencucian luka, wound
dressing dan pemberian antibiotik topikal . Tujuan perawatan luka adalah untuk
menutup luka dengan mengupaya proses reepiteliasasi, mencegah infeksi,
mengurangi jaringan parut dan kontraktur dan untuk menyamankan pasien.
Debridement diusahakan sedini mungkin untuk membuang jaringan mati dengan
jalan eksisi tangensial. Tindakan ini dilakukan setelah keadaan penderita stabil,
karena merupakan tindakan yang cukup berat. Untuk bullae ukuran kecil
tindakannya konservatif sedangkan untuk ukuran besar(>5cm) dipecahkan tanpa
membuang lapisan epidermis diatasnya1,4,7.
Pengangkatan keropeng (eskar) atau eskarotomi dilakukan juga pada luka
bakar derajat III yang melingkar pada ekstremitas atau tubuh sebab pengerutan
keropeng(eskar) da pembengkakan yang terus berlangsung dapat mengakibatkan
penjepitan (compartment syndrome) yang membahayakan sirkulasi sehingga
bahgian distal iskemik dan nekrosis(mati). Tanda dini penjepitan (compartment
syndrome) berupa nyeri kemudian kehilangan daya rasa (sensibilitas) menjadi
kebas pada ujung-ujung distal. Keaadan ini harus cepat ditolong dengan membuat
irisan memanjang yang membuka keropeng sampai penjepitan bebas1,4,7.
Pencucian luka dilakukan dengan hidroterapi yaitu memandikan pasien atau
dengan air hangat mengalir dan sabun mandi bayi. Lalu luka dibalut dengan kasa

18

lembab steril dengan atau tanpa krim pelembap. Perawatan luka tertutup dengan
occlusive dressing untuk mencegah penguapan berlebihan. Penggunaan tulle
(antibiotik dalam bentuk sediaan kasa) berfungsi sebagai penutup luka yang
memfasilitasi drainage dan epitelisasi. Sedangkan krim antibiotik diperlukan
untuk mengatasi infeksi pada luka1,4,7.
2.6. Manajemen Nyeri
Keberhasilan pengobatan nyeri pada luka bakar memerlukan penilaian
yang hati-hati terhadap perjalanan nyerinya, memahami jenis dan pola nyeri yang
berbeda dan mengetahui jenis terapi yang terbaik. Sebuah penilaian awal yang
baik berfungsi sebagai dasar untuk mengevaluasi hasil intervensi selanjutnya.
Pendekatan

multidisiplin

pada

pasien

ini

sangat

diperlukan,

karena

kompleksitasnya faktor yang terlibat dalam prosesnya timbul nyeri8.


1) Evaluasi Nyeri
Sangat penting untuk melakukan evaluasi secara terus-menerus dan
berkesinambungan terhadap pasien luka bakar khususnya terhadap perasaan nyeri
yang dialami untuk membantu memandu dalam memberikan jenis tatalaksana
analgetik yang tepat dan respon terhadap oobat yang telah tercapai. Hal-hal yang
perlu dievaluasi seperti lokasi nyeri, nyeri membaik atau memberat, tipe serta
intensitas nyeri8.
Intensitas nyeri pada pasien biasanya digambarkan dengan menggunakan
skala numerik (0-10). Semakin tinggi angkanya menunjukkan semakin berat
intensitas nyeri yang dirasakan pasien. Selain menggunakan skala numerik
tersebut, untuk mengevaluasi intensitas nyeri juga dapat dilakukan dengan
menggunakan skala analog visual, skala deskriptif verbal, dan skala wajah dan
warna. Terdapat pula berbagai macam skala yang dikembangkan untuk
menggambarkan

intensitas

nyeri

pada

pasien-pasien

yang

tidak

dapat

mengekspresikan perasaan nyeri mereka sendiri, misalnya pada pasien usia lanjut
yang mengalami gangguan fungsi kognitif dengan menggunakan skala nyeri

19

Abbey dan pada anak-anak dengan menggunakan skor FLACC. Terdapat empat
pola nyeri yang dapat diamati pada pasien luka bakar8.
1. Background pain merupakan nyeri yang dirasakan secara terus-menerus pada
saat istirahat maupun perubahan posisi atau gerakan
2. Breakthrough pain merupakan nyeri yang intensitas nyerinya memberat secara
episodik dan tiba-tiba
3. Nyeri yang berlangsung selama tindakan perawatan
4. Nyeri yang terjadi pada periode pos operasi

2) Tatalaksana Farmakologi
Sebelum memberikan obat-obatan kepada pasien luka bakar, seorang
klinisi terlebih dahulu harus memahami perubahan status farmakokinetik obat
yang terjadi sebagai akibat adanya perubahan proses patofisiologi pada pasein.
Selama 48 jam pertama, terjadi penurunan perfusi darah ke organ yang akan
mengurangi pembersihan obat, tetapi pada fase hipermetabolik berikutnya (48 jam
setelah cedera) terjadi peningkatan pembersihan obat dari dalam sirkulasi. Adanya
variasi kadar protein plasma pada fase akut memicu terjadinya perubahan pada
daya ikat dan fraksi bebas obat. Oleh karena itu dosis obat akan sangat bervariasi
pada masing-masing individu dan dapat berubah setiap waktu pada individu yang
sama9.

Analgetik Opioid
Opioid merupakan fondasi utama dalam upaya mengontrol nyeri pada luka

bakar. Opiod sangat efektif dan variasi obatnya yang banyak tersedia memberikan
berbagai jenis pilihan potensi, metode pemberian dan lamanya kerja. Efek positif
dari obat ini adalah dapat memberikan rasa nyaman melebihi batas undividu untuk
merasakan perasaan bebas nyeri. Morfin telah terbukti berkorelasi positif dengan
menurunkan gejala sindrom stres pasca-trauma. Efek opioid sangat luas dan

20

berkorelasi dengan efek samping yang ditimbulkan seperti depresi pernapasan,


gatal, mual, dan muntah8,9.
Dosis obat dapat sangat bervariasi dan bertambah selama proses
pengobatan luka bakar. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan penyembuhan luka
dan modulasi nyeri, tetapi juga berhubungan dengan berkembangnya status
toleransi terhadap opioid atau yang baru-baru ini dikenal dengan opiate-induced
hyperalgesia (OIH). Toleransi didefinisikan sebagai peningkatan dosis opioid
tertentu yang diperlukan untuk mencapai efek analgesik yang sama dan berlaku
sama untuk efek sampingnya. Hal ini lebih sering terjadi setelah penggunaan
opioid kerja pendek, terutama bila diberikan sebagai infus.
Rasa nyeri pada saat istirahat (background pain) pada pasien luka bakar
bersifat sedang dan dapat ditangani dengan opiat potensi sedang yang konsentrasi
plasmanya relatif tetap konstan sepanjang hari. Contoh yang paling umum adalah:
infus intravena opioid, opioid kerja panjang (metadon) diberikan secara oral, atau
pemberian opoid enteral jangka panjang (morfin atau oksikodon pelepasan
terkendali). Tramadol dan opioid juga memberikan efek yang menguntungkan
pada nyeri neuropatik. Tidak ada bukti dalam literatur yang menunjukkan
mengenai keunggulan suatu opioid tertentu pada pengobatan nyeri neuropatik.
Remifentanil, opioid dengan onset kerja dan metabolism plasma yang ultra cepat,
merupakan pilihan obat untuk memberikan efek analgesia selama prosedur atau
tindakan terapi lainnya pada pasien luka bakar dengan cara diberikan melalui
infus kontinu. Selain itu juga dapat digunakan opiat jenis lain seperti fentanyl atau
alfentanyl8.

Obat Antiinflmasi, Parasetamol, dan Dipyrone


Obat-obat ini dapat mengurangi jumlah opioid yang dibutuhkan hingga

20-30%. Obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAID) juga dapat mengurangi dampak


buruk dari penggunaan opioid secara signifikan. Obat-obatan yang paling tepat
untuk pasien dengan luka bakaradalah parasetamol, dipyrone, dan NSAID
selective cox-2 inhibitor. Meskipun obat ini memiliki potensi lemah bila
digunakan secara sendiri-sendiri, tetapi obat-obat ini bertindak secara sinergis

21

dengan opioid. Karena efek penghambatan agregasi platelet, penggunaan NSAID


harus dihindari pada keadaan di mana risiko perdarahan merupakan masalah
serius yang akan dihadapi (seperti luka bakar yang parah). Penggunaannya juga
membutuhkan perhatian pada pasien dengan penyakit kardiovaskular dan
gastrointestinal8,9.

Antikonvulsan
Gabapentin dan pregabalin sering digunakan untuk mengobati nyeri

neuropatik pada pasien luka bakar. Obat ini mengurangi rasa nyeri dengan bekerja
secara langsung dan tidak langsung pada pusat nyeri. Secara langsung obat ini
mengurangi sensitisasi pusat nyeri dengan cara mengikat saluran kalsium dan
secara tidak langsung bekerja dengan menghambat reseptor presinaptik N-methylD-aspartat

(NMDA).

Dosis

gabapentin

yang

direkomendasikan

pada

penatalaksanaan nyeri neuropatik adalah 300 mg dosis terbagi dengan titrasi yang
jika diperlukan dapat dinaikkan hingga 3600 mg/hari. Untuk anak-anak dapat
dimulai dengan dosis 10mg/kgBB dengan titrasi sebesar 40-50 mg/kgBB.
Pregablin merupakan senyawa yang sama dengan gabapentin dan diberikan
sebanyak dua kali sehari8,9.

Antidepresan
Antidepresan adalah obat yang efektif dan karena itu memiliki peran

penting dalam konsep pengobatan multimodal terhadap rasa sakit yang terkait
dengan luka bakar. Amitriptyline, yang digunakan dalam dosis rendah, memiliki
peran yang cukup signifikan dalam pengelolaan nyeri neuropatik. Kerjanya adalah
dengan mengaktifkan jalur penghambatan di sumsum tulang belakang. Dosis yang
dibutuhkan biasanya tidak lebih dari 75 mg per hari. Selective serotonin reuptake
inhibitor (SNRTI) juga dapat digunakan dalam kasus intoleransi terhadap efek
samping dari trisiklik. Efek analgesik dari antidepresan biasanya terjadi dalam
beberapa hari atau minggu8.

Ketamine

22

Ketamine merupakan antagonis non-kompetitif reseptor NMDA dan dapat


digunakan untuk sedasi sadar selama tindakan mengganti pakaian pada pasien
luka bakar. Obat ini menginduksi keadaan anestesi disosiatif dengan dosis
intravena sebesar 1 mg/kgBB. Keuntungan penggunaan ketamine adalah obat ini
tetap mempertahankan refleks jalan napas, tekanan darah, dan detak jantung
dengan pelepasan norepinefrin secara langsung. Terjadinya halusinasi yang efek
samping yang signifikan, dapat dilemahkan dengan pemberian bersamaan dengan
benzodiazepin atau propofol8,9.

Benzodiazepine
Karena gangguan kecemasan dapat memperburuk keluhan nyeri,

penggunaan obat anti cemas terkait dengan obat analgesik merupakan tindakan
yang sering dilakukan di banyak pusat pelayanan kesehatan. Ketakutan dan
ketegangan dapat menurunkan toleransi terhadap rasa sakit. Pasien luka bakar
yang paling diuntungkan dari penggunaan terapi benzodiazepin adalah pasienpasien dengan tingkat kecemasan dan rasa sakit yang tinggi. Ketika dibutuhkan
obat dengan onset kerja yang cepat, midazolam merupakan pilihan yang tepat
untuj tujuan tersebut. Lorazepam lebih cocok daripada diazepam pada kelompok
pasien luka bakar karena sering terjadi penurunan metabolisme hepatik pada
pasien ini, yang dapat memperpanjang metabolism obat dari dalam tubuh8,9.

Alpha-2 agonist
Alpha-2

agonist

memiliki

sifat

menarik

yang

memudahkan

penggunaannya dalam manajemen analgesik pasien luka bakar. Clonidine dapat


digunakan secara aman dalam pengelolaan analgesik korban luka bakar anak.
Pada beberapa pusat luka bakar, obat tersebut rutin diberikan untuk anak-anak dan
orang dewasa. Dexmedetomidine memiliki durasi kerja yang lebih dari dari
clonidine dan kerjanya lebih selektif terhadap alpha-2 reseptor8,9.
2.7. Komplikasi

23

Komplikasi pada luka bakar dibagi menjadi dua, yaitu komplikasi saat
perawatan kritis atau akut dan komplikasi yang berhubungan dengan eksisi dan
grafting.Kompilkasi yang dapat terjadi pada masa akut adalah SIRS, sepsis dan
MODS.Selain itu komplikasi pada gastrointestinal juga dapat terjadi,ss yaitu atrofi
mukosa, ulserasi dan perdarahan mukosa, motilitas usus menurun dan ileus. Pada
ginjal dapat terjadi acute tubular necrosis karena perfusi ke renal menurun. Skin
graft loss merupakan komplikasi yang sering terjadi, hal ini disebabkan oleh
hematoma, infeksi dan robeknya graft. Pada fase lanjut suatu luka bakar, dapat
terjadi jaringan parut pada kulit berupa jaringan parut hipertrofik., keloid dan
kontraktur.Kontraktur kulit dapat menganggu fungsi dan menyebabkan kekeauan
sendi. Kekakuan sendi memerlukan program fisioterapi yang intensif dan
kontraktur memerlukan tindakan bedah1,4,7.
2.8. Prognosis
Prognosis pada luka bakar tergantung dari derajat luka bakar, luas
permukaan badan yang terkena luka bakar, adanya komplikasi seperti infeksi, dan
kecepatan pengobatan medikamentosa. Luka bakar minor ini dapat sembuh 5-10
hari tanpa adanya jaringan parut. Luka bakar moderat dapat sembuh dalam 10-14
hari dan mugkin dapat menimbulkan luka parut. Jaringan parut akan membatasi
gerakan dan fungsi. Dalam beberapa kasus, pembedahan dapat diperlukan untuk
membuang jaringan parut1,4,7.

24

BAB 3
LAPORAN KASUS
1. Anamnesis
Laki-laki, 27 tahun, 65kg, datang ke IGD RSUP HAM dengan keluhan
luka bakar listrik. Hal ini telah dialami os sejak 7 hari SMRS apabila
pasien sedang mengecat tembok dan tiang cat menyentuh kabel listrik.
Pasien sebelumnya dirawat di rumah sakit luar dan sudah dilakukan
debridement 4 hari yang lalu.
Time Sequence

27 JUNI
Haji Adam Malik
2015

Pasien tiba di IGD RSUP HAM

27 JUNI
2015

Pasien dikonsulkan ke bagian anestesi

27 JUNI
2015

ACC tindakan debridement

Primary survey
Tanda dan Gejala
A (airway)

Kesimpulan
Airway clear

Penanganan
Jalan nafas dipantau

Hasil
Airway clear

25

Snoring (-)
Gargling (-)
Crowing (-)
B (breathing)
Napas: spontan
I: simetris
Pal: stem fremitus
ki=ka
Per: sulit dinilai
Aus: SP/ST:
vesikuler/(-)
SaO2: 99%
RR: 20x/i
C (circulation)
CRT: 3
Akral: H/P/K
T/V: cukup
TD: 110/70mmHg
HR: 118x/i
UOP: 30cc/jam
D (disability)
Pasien sadar penuh

E (exposure)
Dijumpai luka
bakar listrik yang
ditutupi dengan
verban pada torso
anterior, extremitas
superior dextra dan
sinistra, extremitas
inferior dextra dan
sinistra dan torso
posterior

terus

Breathing
clear

Breathing dipantau terus

RR: 20x/i
SaO2: 99%

Dehidrasi
ringan

Pasang IV line 18G


Pemberian cairan RL
Pemasangan Foley
catheter

CRT<2
Akral: H/M/K
T/V: Cukup
HR: 106x/i
UOP:50cc/jam

Pasien
compos
mentis
namun agak
cemas
Hipotermi
dan infeksi

Keep A-B-C clear

Pasien lebih
tenang.

Setelah debridment luka


ditutupi dengan verban
dan selimuti . Pemberian
antibiotik ceftriaxone

Secondary Survey

B1: Airway : clear, RR: 20x/I, SP: Ka =Ki: vesikuler, ST: (-), MLP: T1, GL:
Bebas, A/S/B/A: -/-/-/-

26

B2: Akral: H/P/K, TD: 110/70 mmHg, HR: 118x/I, CRT: 3,T/V: cukup,
SpO2: 99%, T: 37,1C

B3: Sens: CM, GCS: 15, Pupil: +, RC: +/+ diameter 3mm ka=ki, VAS 6

B4: kateter terpasang, UOP: 30cc/jam, warna kuning pekat.

B5: Abdomen: soepel, Peristaltik (+)

B6: luka bakar listrik yang ditutupi verban pada torso anterior, extremitas
superior dextra dan sinistra, extremitas inferior dextra dan sinistra, dan torso
posterior. Edema (-), fraktur (-),

Penanganan di IGD

Mengevaluasi dehidrasi
Makrosirkulasi
Frekuensi nadi: 118x/I

Mikrosirkulasi
Akral: H/P/K

Tekanan darah: 110/70 mmHg

UOP: 40cc/jam

SaO2: 99%

CRT: 3 detik

Tugor: Baik
Memasang IVFD Ringer Laktat single Line (IV cath no 18 G)
di kaki kanan.

Melakukan foto toraks

Melakukan EKG( tidak dapat dilakukan karena luka bakar pada dada)

Memasang kateter urine

27

Pemeriksaan Laboratorium (27 Juni 2015, Pukul 14:20:59)


Jenis Pemeriksaan
HEMATOLOGI
Hemoglobin (HGB)
Eritrosit (RBC)
Leukosit (WBC)
Hematokrit
Trombosit (PLT)
FAAL HEMOSTASIS
PT
INR
APTT
TT
KIMIA KLINIK
Albumin
Glukosa Darah
(sewaktu)
Ureum
Kreatinin
Natrium
Kalium
Klorida

Hasil

Rujukan

10,70 g/dL
3,52.106/mm3
8,81.103/mm3
29,80%
172. 103mm3

13,2-17,3
4,20-4,87
4,5-11,0
43-49
150-450

12,9 detik
0,95
38,6 detik
14,5 detik
2,1 g/dL
95,30 mg/dL

3,5-5,0
<200

101.00mg/dl
2.79mg/dl
130 mEq/L
4,6 mEq/L
102 mEq/L

<50
0,70-1,20
135-155
3,6-5,5
96-106

7,439mmHg
24,5mmHg
163,8
16,2mmol/L
17.0mmol/L
-7 mmol/L
99,5%

7,35-7,45
38-42
85-100
22-26
19-25
(-2) - (+2)
95-100

Analisa Gas Darah


pH
pCO2
pO2
Bikarbonat(HCO3)
Total CO2
Kelebihan Basa (BE)
Saturasi O2

Pemeriksaan Radiologi

28

Kesimpulan: Kedua sinus costophrenicus lancip, kedua diafragma licin. Jantung


ukuran normal CTR<50%. Trakea di tengah. Tulang-tulang dan soft tissue baik,
Kesan : Normal
Elektrokardiografi
Pada pasien ini tidak dapat dilakukan EKG karena terdapat luka bakar pada
seluruh bagian dada pasien.

Follow up pasien
27 Juni 2015

29

Permintaan Konsultasi
Mohon konsul tindakan anestesi (debridement) pada pasien ini dengan
diagnosa:
Electrical burn 60%
Jawaban Konsultasi
Airway: clear, SP/ST: ka=ki vesikuler, (-) S/G/C:-/-/-, RR:20x/i
CRT<3 detik, akral: H/P/K, Nadi: 118x/I, TD: 110/70mmHg
CM, RC:+/+ diameter 3mm ka=ki
UOP (+), kateter urine (+), volume: 30cc/jam
Abdomen: soepel, peristaltic (+)
Edema(-), fraktur (-),luka bakar yang ditutupi verban pada torso anterior,
extremitas superior dextra dan sinistra, extremitas inferior dextra dan sinistra,
dan torso posterior.

LAPORAN ANESTESI
Spesialis Anestesi

: dr. Asmin Lubis, Sp.An, KMN

Residen Anestesi

: dr. Andro/dr.Iqbal

Diagnosis prabedah

: Electrical burn 63%

Jenis pembedahan

: Debridement

Diagnosis paskabedah: Electrical burn 63%


Jam masuk

: Pukul 22.45 WIB

Keadaan prabedah

BB

: 60kg

TD

: 120/70mmHg

TB

: 165cm

HR

: 76x/menit

Anamnesis

: KU : Luka bakar listrik


T : Dialami sejak 7 hari yag lalu.

30

Pemeriksaan fisik & Penunjang


Airway: clear, SP/ST: ka=ki vesikuler, (-) S/G/C:-/-/-, RR:20x/i
CRT<3 detik, akral: H/P/K, Nadi: 118x/I, TD: 110/70mmHg
CM, RC:+/+ diameter 3mm ka=ki
UOP (+), kateter urine (+), volume: 30cc/jam
Abdomen: soepel, peristaltic (+)
Edema(-), fraktur (-),luka bakar yang ditutupi verban pada tubuh bagian anterior,
extremitas superior dextra dan sinistra, extremitas inferior dextra dan sinistra, dan
punggung.
STATUS FISIK ASA: 2
Teknik Anestesi : GA: TIVA
Penilaian Pra induksi : Pasien layak induksi anestesi
Infus perifer :
1. Kaki kanan, 18G
Posisi : Terlentang
Premedikasi: IV: Midazolam 5mg,
Induksi: IV: Ketamine
Jalan nafas: Cairan infus

: 500cc Ringer Laktat

Darah

:-

Urine

: 100cc

Perdarahan

: 20cc

EBV

: 60 x 70 = 4200cc

EBL

: 10% (420cc), 20% (840cc), 30% (1260cc)

31

Penanganan

: IVFD Ringer Laktat 2 fls

Lama Pembiusan

: 01 jam 10 menit

Lama Pembedahan

: 00 jam 50 menit

Catatan Kamar Pemulihan


Data masuk (Jam 23.10)
Jalan nafas

: Tidak ada kelainan

Pernafasan

: Spontan

Bila spontan : Adekuat bersuara


Kesadaran

: Belum sadar betul

Skor ALDRETTE
Aktivitas (1), Sirkulasi (2), Pernafasan (2), Kesadaran (1), Warna kulit (2), Total:
(8)
Data keluar (Jam 01.10)
Skor ALDRETTE
Aktivitas (1), Sirkulasi (2), Pernafasan (2), Kesadaran (2), Warna kulit (2), Total:
(9)
Instruksi Pasca Bedah
Bila kesakitan

: Inj ketorolac 30mg/8jam

Bila mual/muntah

: miring kepala kanan/kiri

Antibiotika

: Injeksi Ceftriakson 1 gr/12jam

Obat-obatan lain

: IVFD RL 30gtt/i
Inj. Ranitidine 80mg/8jam

Minum
Follow up pasien
28 Juni 2015

: apabila sadar penuh & peristaltik (+)

32

S : Visite post operasi


O : B1 : airway: clear, SP/ST: vesikuler/-, S/G/C:-/-/-, RR:22x/i
B2 : CRT<3 detik, akral: H/M/K, Nadi: 90x/I, TD: 120/80mmHg
B3 : Sens: CM, pupil isokor, RC:+/+ diameter 3mm ka=ki,
B4 : UOP (+)
B5 : Abdomen: soepel, NT(-)
B6 : Edema(-), fraktur (-), luka bakar 63%
A : Post debridement d/t Electrical burn 63%
P : - Bed rest, head up 30
-

O2 2-4 l/menit

IVFD RL 30 gtt/i

Inj. Ceftriaxone 1gr/12 jam

Inj. Ranitidine 50mg/12 jam

Inj. Ketorolac 30mg/12 jam

29 Juni 2015
S : Nyeri (+), berkurang
Hemodinamik stabil
O:
A : Electrical burn 63%
P:
- IVFD RL 30 gtt/I
-

Inj. Ceftriaxone 1gr/12 jam

Inj. Ranitidine 50mg/12 jam

Inj. Ketorolac 30mg/8 jam

Albumin 25% 1 Fls

R/ Cek DL, Albumin, elektrolit, ureum,creatinine, KGD

33

Diet MB; Energi : 2350kkal, protein 81,05gr, lemak: 68gr.


Karbohidrat 330gr

30 Juni 2015
S : Nyeri (+), berkurang
O : Hemodinamik stabil
A : Electrical burn 63%
P:
-

IVFD RL 40 gtt/I

Inj. Ceftriaxone 1gr/12 jam

Inj. Ranitidine 50mg/12 jam

Inj. Ketorolac 30mg/8 jam

Hasil lab
Hb/leu/Ht/Plt : 8.5/12.96/24.6/240
Albumin

: 2.0

Ur/Cre

: 74/1.4

Na/K/Cl

: 125/4.8/90

Kesan

: anemia + leukositosis

1 Juli 2015
S : Nyeri (+), berkurang
O : Hemodinamik stabil
A : Electrical burn 63%
P:
- IVFD RL 30 gtt/I
-

Inj. Ceftriaxone 1gr/12 jam

Inj. Ranitidine 50mg/12 jam

Inj. Ketorolac 30mg/8 jam

R/ Transfusi PRC 3 bag

- Albumin fls III


-

Sudah dilakukan pemasangan CVC

2 Juli 2015
S : Nyeri (+), berkurang, demam (+)
O : Hemodinamik stabil
A : Electrical burn 63%

34

P:

IVFD RL 30 gtt/I

Inj. Ceftriaxone 1gr/12 jam

Inj. Ranitidine 50mg/12 jam

Inj. Ketorolac 30mg/8 jam

3 Juli 2015
S : Nyeri (+), berkurang
O : Hemodinamik stabil
A:

P:

Electrical burn 63%

IVFD RL 30 gtt/I

Inj. Ceftriaxone 1gr/12 jam

Inj. Ranitidine 50mg/12 jam

Inj. Ketorolac 30mg/8 jam

Kultur darah

Permasalahan dan Pembahasan


No.
Masalah
1. Circulation
Pada pasien didapatkan TD=
110/70 mmHg, HR= 118x/ menit,
CRT: 3 detik, UOP: 30cc/jam.
Pada pasien pemasangan single
cath no. 18G dan diberikan cairan
Ringer Laktat.

Pembahasan
Pada pasien luka bakar listrik dapat
terjadi kehilangan cairan yang banyak
yang kemudian dapat menyebabkan
kurangnya volume darah di dalam
tubuh.
Kurangnya
volume
di
intravaskuler dapat menyebabkan
kurangnya transportasi oksigen dari
sel darah ke jaringan sel. Pada
pendarahan yang massive dapat terjadi
penurunan perfusi jaringan.
Resusitasi cairan :

35

Cairan kristaloid 3:1


Maka diberikan jumlah cairan
kristaloid sebanyak 3000cc (6 fls)
Untuk fase cepat, pasien diberikan
sebanyak 2000cc (4 fls) secara guyur
dalam waktu satu jam.
Telah terjadi perbaikan hemodinamik
dari pasien seteleh resusitasi fase
cepat.
1000cc berikutnya dibagi kepada 8
jam dan 16 jam berikutnya.
Rumatan: 2cc/kgBB = 120cc
8 jam pertama: 500+120=620cc
(25gtt/I makro)
16 jam kedua : 500+120=620cc
(13gtt/I makro)
Hasilnya pada pasien didapatkan
perbaikan hemodinamik berupa TD =
110/70 mmHg, dan HR=96 x/menit
dan CRT <2.
3.

Disability
Ditemukan pasien alert atau sadar Derajat kesadaran harus selalu
penuh. Skor GCS 15
diobservasi untuk memantau keadaan
umum pasien. Pasien ini masuk
dengan tingkat kesadaran compos
mentis, namun jika terjadi penurunan
kesadaran,
berarti
mungkin
penanganan di atas belum mencukupi
atau mungkin terdapat gangguan lain
di airway atau di breathing.

4.

Exposure
Pada primary survey ditemukan
pasien datang dengan luka bakar
listrik yang ditutupi dengan verban
pada torso anterior, extremitas
superior dextra dan sinistra,
extremitas inferior dextra dan
sinistra dan torso posterior

Pada primary dan secondary survey


seluruh verban dibuka, mencari tandatanda trauma dan kelainan lainnya,
jika perlu dilakukan logroll untuk
mencari kelainan di daerah punggung.

36

5.

Pasien trauma dengan luka bakar


listrik mempunyai resiko infeksi,
sehingga
diperlukan
terapi
antibiotik.

Sebagai profilaksis efek peningkatan


asam lambung dari antibiotik dapat
diberikan obat yang menghambat
produksi asam lambung.
Inj. Ceftriaxone 1 gr / 12 jam

Inj. Ranitidine 50 mg / 12 jam

DAFTAR PUSTAKA
1. Sjamsuhidajat R & Jong W.D., 2005. Luka Bakar dalam Buku Ajar Ilmu
Bedah. Edisi 2. Penerbit : EGC. Jakarta.
2. Gerard & Doherty M.,2006. Current Surgical Diagnosis and Treatment.
Edisi 12. Penerbit : McGraw Hill Companies.New York.
3. Benjamin W. First Aid For Burns [Internet]. Medicinenet.com. 2015
[cited
5
July
2015].
Available
from:
http://www.medicinenet.com/burns/article.htm
4. Cushing
&
Tracy
A.
Electrical
Injuries
[Internet].
Emedicine.medscape.com. 2010. [cited 5 July 2015]. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/770179-overview
5. Mayo clinic staff . Burns First Aids.. [Internet]. Mayo clinic.com. 2008
[cited 5 July 2015]. Available from :

http://www.mayoclinic.org/first-

aid/first-aid-burns/basics/art-20056649

6. James H. Holmes., David M. heimbach. 2005. Burns, in : Schwartzs


Principles of Surgery. 18th ed. McGraw-Hill. New York. p.189-216

37

7. Rubangi. S, 1990. Trauma listrik dan Halilintar. Fakultas Kedokteran


Universitas

Indonesia.

Jakarta.http://eprints.ui.ac.id/13260/1/82850-

T6046-Trauma%20listrik-TOC.pdf

8. de Castro RJA, Leal P. C. & Sakata R.K. Pain Management in Burn


Patients. Rev Bras Anestesiol. 2013;63(1):149-58.

9. Richardson R &Mustard L. The Management of Pain in the Burns Unit.


Burns. 2009:1-16

Anda mungkin juga menyukai