Anda di halaman 1dari 20

PRESENTASI KASUS

Sindroma Nefrotik

Oleh:
Meidya Mukarramah
61111056
Pembimbing:
dr. Murfariza Herlina, SpA, M.Kes

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BATAM
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
EMBUNG FATIMAH
BATAM
2015

IDENTITAS PASIEN

Nama penderita

: An. A

Jenis kelamin

: laki-laki

Tanggal lahir

: 15 januari 2012

Umur

: 3,5 tahun

Agama

: Islam

Suku

: Melayu

Kiriman dari

: Datang sendiri

Tanggal dirawat

: 31 Agustus 2015 pukul 21.00 WIB

Nama ayah

: Tn. N

Umur

: 45 tahun

Pekerjaan

: Wiraswasta

Alamat

: kavling Sabuga

Nama ibu

: Ny. T

Umur

: 43 tahun

Pekerjaan

: IRT

Alamat

: Kavling Sabuga

II. ANAMNESIS

2.1. Heteroanamnesis diberikan oleh

: ibu pasien

2.2. Keluhan Utama : bengkak seluruh tubuh


2.3. Riwayat Perjalanan Penyakit :
Pasien datang ke UGD RSUD dengan keluhan bengkak seluruh tubuh sejak 3 hari
sebelum masuk rumah sakit. Bengkak diawali pada daerah kelopak mata sejak 30 hari
sebelum masuk rumah sakit, terutama pada pagi hari dan berkurang saat siang dan
sore hari yang kemudian menjalar pada daerah kaki sejak 21 hari sebelum masuk
rumah sakit. Sudah berobat ke bidan, tetapi bengkak tidak berkurang. Bengkak makin
bertambah menyebar kedaerah muka, perut dan kelamin. Keluhan bengkak pada
kelamin juga disertai dengan nyeri.
Keluhan tidak disertai dengan sesak napas saat tidur, muntah, panas badan, kejang,
diare, penurunan kesadaran, penderita tidak pernah mengeluh terbangun dari tidurnya
karena ingin buang air kecil pada malam hari serta buang air kecil menjadi jarang dan
keruh. Selama bengkak anak tidak pernah tampak pucat, lemas, dan lesu.

2.4. Penyakit dahulu


Ibu Pasien mengaku Anaknya belum pernah mengalami keluhan seperti ini
sebelum nya. Riwayat menderita penyakit jantung, hepatitis, sakit kuning, alergi,
bercak kemerahan berbentuk seperti kupu-kupu pada wajah, terutama sekitar
hidung dan mengkonsumsi obat obatan dalam jangka waktu Lama disangkal.

2.5. Penyakit Keluarga


Tidak ada anggota keluarga yang mengalami hal serupa.
2.6. Riwayat Kelahiran
Riwayat Kehamilan/Kelahiran:
Kehamilan
Morbiditas kehamilan
Perawatan antenatal
Kelahiran

Tidak ada
Periksa ke bidan 1
kali/bulan, TT 2 kali
Rumah bersalin
Bidan
Spontan
8 bulan
Berat bayi lahir
1800gram (gameli)
Panjang badan 45 cm
Langsung menangis
Kulit kemerahan

Tempat persalinan
Penolong persalinan
Cara persalinan
Masa gestasi
Keadaan bayi

Kesimpulan Riwayat Kehamilan / Kelahiran: Baik


2.7 Riwayat Tumbuh Kembang:
Pertumbuhan gigi : 5 bulan
Gangguan perkembangan mental : tidak ada
Psikomotor: keluarga os lupa
Tengkurap:- lupa

Berjalan: - lupa

Duduk: -lupa

Bicara: -lupa

Berdiri: -lupa

Membaca dan menulis: - 4 tahun

Kesimpulan: Riwayat pertumbuhan dan perkembangan baik

2.8 Riwayat Makanan :


Umur
ASI/PASI
(bulan)
0-2

2-4

4-6

6-8

8-10

10-12

Umur di atas 1 tahun


Jenis Makanan
Nasi/pengganti
Sayur
Daging

Buah / Biskuit Bubur susu

Frekuensi dan Jumlah


3 x sehari, 1 piring/kali
1 x sehari, mangkuk/kali
3 x seminggu, 1 potong/kali
4

Nasi Tim

Takaran/ hari
sesuai AKG
3 piring
mangkuk/kali
Lauk hewani

Telur
Ikan
Tahu
Tempe
Susu (merek/takaran)
Lain-lain

3 kali seminggu, 1 butir/ kali


3 x seminggu, 1 potong/kali
3 x seminggu, 1 potong/kali
3 x seminggu, 1 potong/kali
Susu formula SGM, 2-3 kali
sehari, 500cc
-

1-2 potong
Lauk Nabati
1-2 potong

Kesulitan makan: tidak ada


Kesimpulan: Kebutuhan gizi terpenuhi dengan baik
Riwayat Imunisasi:
Vaksin

Dasar (umur)
Ulangan(u
mur)

Hepatitis B
BCG
DPT
Polio

0 bulan
1 bulan
6 bulan
0 bulan
2 bulan
3 bulan
4 bulan
18 bulan
0
2 bulan
3 bulan 4 bulan 18 bulan
bulan
Campak
9 bulan
Kesimpulan Riwayat Imunisasi : Imunisasi lengkap

III. PEMERIKSAAN FISIK

3.1. Keadaan Umum


Kesan sakit

: sakit sedang

Kesadaran

: compos mentis

3.2. Tanda-tanda Vital


Nadi

: 90 x / menit

Suhu tubuh

: 36,6 C (aksiler)

Pernapasan

: 20 x/ menit, abdominothorakal

Tekanan darah

: 100/60 mmhg

3.3. Pengukuran
Umur

: 3,5 tahun

Berat badan

: 14 kg

Panjang badan

: 95 cm

2 tahun

Status gizi

: TB/u

: -1 SD : perawakan normal

BB/U

:-1 SD : Gizi baik

BB/TB

: -1 Sd: Gizi baik

IMT/U

: - 1 SD :Gizi baik

3.4. Pemeriksaan sistematik


3.4.1. Rambut

: Hitam, distribusi merata, lebat

Kulit

: Pucat (-), sianosis (-), ikterik (-), turgor kembali cepat

Kuku

: Capillary refill time > 2 detik, tidak anemis, tidak sianosis

KGB

: Tidak teraba membesar

3.4.2. Kepala
Kepala

: simetris, Ubun-Ubun Besar datar

Mata

: konjungtiva anemis -/-, sclera ikterik -/-, pupil bulat isokor


dengan diameter 2 mm, refleks cahaya +/+, edema pada
palpebra +/+

THT

: Pernafasan Cuping Hidung -/-, secret -/-

Mulut

: mukosa mulut basah

3.4.3. Leher

: kaku kuduk (-)

3.4.4. Dada
3.4.4.1. Dinding dada / paru- paru
Inspeksi

: bentuk dan pergerakan simetris kanan = kiri, retraksi (-)

Palpasi

: pergerakan simetris kiri=kanan, sela iga tidak melebar

Perkusi

: sonor

Auskultasi

: Suara Nafas +/+ vesikularbronkial, ronchi -/-, wheezing -/-

3.4.4.2. Jantung
Inspeksi

: ictus cordis tidak terlihat

Palpasi

: ictus cordis teraba di ICS V linea midclavicularis kiri

Perkusi

: batas jantung dalam batasan normal


Kanan : ICS IV linea sternalis kanan
6

Auskultasi

atas

: ICS III linea parasternalis kiri

kiri

: ICS V linea midclavicularis kiri

: bunyi jantung I dan II normal, reguler, murmur (-)

3.4.5. Perut
Inspeksi

: cembung (+)

Auskultasi

: bising usus (+) Normal

Perkusi

: shifting dullness (+), undulasi (+) kesan Asisites (+)

Palpasi

: distensi, hepar tidak teraba, lien tidak teraba membesar. Nyeri


tekan epigastrium (-)

3.4.6. Anggota gerak dan tulang : kelainan bentuk (-), fraktur (-), akral dingin (-)
udem pada kedua kaki (+)
3.4.7. Genitalia

: Bengkak (+) NT (+). Transluminasi (+)

IV. Pemeriksaan Penunjang


Hematologi:
Pemeriksaan
Hemoglobin
Warna
Lekosit
Kejernihan
Berat jenis
Hematokrit
pH
Leukosit
Trombosit
Nitrit
Protein
Eritrosit
Glukosa
Basofil
Keton
Urobilinogen
Eosinofil
Bilirubin

Hasil
14,1g/dL
Kuning
11.500/uL
Jernih
1.015
42%
6
Negatif 3
699.000/mm
Negatif
3+juta
5.2
Negatif
Negatif
Negatif
negatif

Netrofil batang

Nilai Rujukan
11,5 13 g/dL
Kuning
5,5 Jernih
15,5 /uL
1,000-1,030
34 39 %
negatif
250 550/mm3
Negatif
Negatif
4,0-5,5
Negatif
0-1
Negatif
Negatif
1-3
Negatif
2-6

Netrofil Segmen

37

50-70

Limfosit

56

20-40

Monosit

urinalisis

Kimia darah
ureum
Creatinine
trigliserida
Chlolesterol total
Cholesterol HDL
Cholesterol LDL
albumin

38 mg/dl
0,3 mg/dl
293 mg/dl
378 mg/dl
49 mg/dl
287 mg/dl
1,8 g/dl

Foto Thorax
Kesan :

bronko pneumonia dd proses spesifik

cardiomegali (-)

DIAGNOSIS

10-50
0.7-1.2
50-150
<200
> 55
<130
3,4 4,8

DIAGNOSIS BANDING
Sindroma nefrotik primer serangan pertama lesi minmal
Sindroma nefrotik primes serangan pertama membranous
proliferasi gromerulo nefritis
USULAN PEMERIKSAAN
1. Biopsi ginjal
2. Biomarker

Diagnosis kerja

: Sindroma Nefrotik primer serangan pertama lesi minimal

PENATALAKSAAN AWAL
1. IVFD Dextrose5%
2. INJEKSI : CEFTRIAXONE 1X 50 MG
3. Diit Makanan Lunak

FOLLOW UP

FOLLOW UP PASIEN DI BANGSAL


1. Hari ke 1-2 perawatan (tanggal 1-2 september 2015))
Keadaan umum penderita tampak sakit sedang. Kesadaran kompos mentis,
Tanda-tanda vital : TD stabil dengan sistol berkisar 80- 90 mmHg dan diastol
berkisar 50-60 mmhg. Berat badan pasien 14 kg. oedem palpebra +/+, asites +,
oedem skrotum +, oedem anasarka +.
Kesan: bengkak pada selutuh tubuh (+)
Penatalaksanaan :
IVFD D5%
Ceftriaxone 1 x 50 mg
Prednison (2mg/kgBB/hari) 3 x 2 tablet
OAT hari pertama (1 september 2015) inh 1 x 125 mg, RH 1 x 500
mg, PZA 1x 250 mg
9

Program : MT
2. Hari ke 3-6 perawatan (3-6 september 2015)
Keadaan umum penderita tampak membaik. Kesadaran komposmentis Tandatanda vital : TD stabil dengan sistol berkisar 80-100 mmHg dan diastol
berkisar 50-70 mmHg. Berat badan pasien masih 14 kg. . Berat badan pasien
14 kg. oedem palpebra +/+, asites +, oedem skrotum +, oedem anasarka +.
Hasil mantoux tes (-)
Kesan : Tidak ada perubahan yang berarti untuk bengkak.
Penatalaksanaan :
IVFD D5%
Ceftriaxone 1 x 50 mg
Prednison 3 x 4 mg
OAT inh 1 x 125 mg, RH 1 x 500 mg, PZA 1x 250 mg
Tranfusi albumin 20% 35 cc dalam 30 menit dengan premedikasi
furosemid 14 mg
Diit : MLRG
3. Hari ke 7-8 perawatan (7-8 september 2015)
Keadaan umum penderita tampak membaik. Kesadaran komposmentis Tandatanda vital : TD stabil dengan sistol berkisar 80-100 mmHg dan diastol
berkisar 50-70 mmHg. Berat badan pasien 13,5 kg. Oedem palpebra +/+ ,
asites +, oedem skrotum +, oedem anasarka +.
Kesan : bengkak pada palpebra berkurang. Tidak ada perubahan yang berarti
untuk bengkak pada perut, genitalia, dan kaki.
Penatalaksanaan :
IVFD D5%
Ceftriaxone 1 x 50 mg
Prednison 3 x 4 mg
OAT inh 1 x 125 mg, RH 1 x 500 mg, PZA 1x 250 mg
Tranfusi albumin 20% 3 x 35 cc dengan premedikasi furosemid 14
mg
Diit : MLRG
Program : Cek urinalisa tanggal 9 September 2015.
4. Hari ke 9 perawatan (9 september 2015)
Keadaan umum penderita tampak membaik. Kesadaran komposmentis Tandatanda vital : TD stabil dengan sistol berkisar 80-100 mmHg dan diastol

10

berkisar 50-70 mmHg. Berat badan pasien 12,7 kg. Oedem palpebra +/+
, asites +, oedem skrotum +, oedem anasarka +/+.
Kesan :Bengkak pada palpebra, perut, skrotum dan kaki berkurang.
Hasil pemeriksaan Urinalisa 9 september 2015
Warna
Kejernihan
Berat jenis
pH
Leukosit
Nitrit
Protein
Glukosa
Keton
Urobilinogen
Bilirubin

Kuning
Jernih
1.015
6
+1
Negatif
3+
Negatif
Negatif
Negatif
negatif

Kuning
Jernih
1,000-1,030
negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif

Pasien diperbolehkan untuk pulang.


Terapi pulang :
Cefixime 2 x 21/2 cth
Prednison 3 x 4 mg
OAT inh 1 x 125 mg, RH 1 x 500 mg, PZA 1x 250 mg 1 x 1

DIAGNOSIS AKHIR
Sindroma nefrotik primer serangan pertama lesi minimal
PROGNOSIS

Ad vitam
Ad functionam

: dubia ad bonam
: dubia ad bonam

11

RESUME
Dari anamnesis diketahui bahwa Pasien datang ke UGD RSUD dengan
keluhan bengkak seluruh tubuh sejak 3 hari yang lalu. Bengkak diawali pada daerah
kelopak mata sejak 30 hari sebelum masuk rumah sakit, terutama pada pagi hari dan
berkurang saat siang dan sore hari yang kemudian menjalar pada daerah kaki sejak 21
hari sebelum masuk rumah sakit. Sudah berobat ke bidan, tetapi bengkak tidak
berkurang. Bengkak makin bertambah menyebar kedaerah muka, perut dan kelamin.
Keluhan bengkak pada kelamin juga disertai dengan nyeri. Keluhan ini tidak disertai
dengan sesak nafas, demam, badan biru, jantung berdebar debar dan gatal gatal.
Hasil pemeriksaan fisik didapatkan Keadaan umum lemah. Dengan Tekanan
darah 80/60 mmHg, Nadi 90x/menit, frekuensi nafas 20x/menit dan suhu 36,6C.
Serta ditemukan Oedem palpebra pada kedua mata, asites, Udem scrotum dan udem
anasarka. Hasil pemeriksaan Laboratorium ditemukan hasil pemeriksaan darah rutin
dalam batas normal, sedangkan pada pemeriksaan kimia darah ditemukan peningktan
trigliserida (293 MG/DL), peningkatan cholesterol total (293 mg/dl), penurunan HDL
(49 mg/dl), peningkatan LDL (287 mg/dl), danpenurunan kadar albumin (1,8 g/dl),
dan pada pemeriksaan urinalisa ditemukan protein +3.
Pasien didiagnosis dengan Sindroma nefrotik primer serangan pertama lesi
minimal sesuai dengan kepustakaan yang menyatakan bahwa adanya pasien dengan
bengkak

seluruh

tubuh

disertai

dengan

temuan

hipoalbuminuria,

hipercholesterolnemia, dan proteinuria merupakan tanda tanda penyakit sindroma


nefrotik. Pasien ditatalaksana di ruangan dengan IVFD D5% asnet 7%, Ceftriaxone 1
x 50 mg, Prednison 3 x 4 mg, OAT inh 1 x 125 mg, RH 1 x 500 mg, PZA 1x 250
mg, dan Tranfusi albumin 20%.

12

DISKUSI
Penegakkan diagnosis
Dari anamnesis diketahui bahwa keluhan utama pasien bengkak seluruh tubuh,
hal ini sesuai dengan manifestasi dari sindroma nefrotik yaitu penyakit dengan oedem
yang mulanya ditemukan disekitar mata kemudian berangksur angusr pada perut dan
juga ekstremitas bawah yang semakin lama semakin membesar dan diikuti dengan
kenaikan berat badan. 1 Seringkali cairan yang menyebabkan edema dipengaruhi oleh
gravitasi sehingga bengkak dapat berpindah-pindah. Saat malam cairan terakumulasi
di tubuh bagian atas seperti kelopak mata. Disaat siang hari cairan terakumulasi
dibagian bawah tubuh seperti ankles, pada saat duduk atau berdiri.2
Penderita ini di diagnosa sebagai sindrom nefrotik primer serangan pertama lesi
minimal.
Didiagnosa sebagai sindrom nefrotik karena :2
-

Dari anamnesa didapatkan bahwa penderita bengkak seluruh tubuh yang


diawali pada kelopak mata, dan kemudian ke kaki dan perut

Dari pemeriksaan fisik didapatkan adanya edema periorbital, asites, edema


scrotum, edem anasarka..

Dari laboratorium didapatkan adanya hipoalbuminemia, proteinuri, dan


hiperkolesterolemia

Hal ini sesuai dengan batasan sindrom nefrotik bahwa SN merupakan penyakit
yang disebabkan pengeluaran protein melalui urine, akibatnya dapat terjadi
hipoproteinemi dan edema. Pada sebagian penderita didapatkan hiperlipidemi.
Pada umumnya sindrom nefrotik pada anak mempunyai bentuk lesi minimal
(80%), 60% diantaranya mempunyai serangan pertama antara umur 2-6 tahun.
Kriteria diagnostik adalah :3
(1) edema
(2) albumin yang rendah (< 2 g/dL)
(3) proteinuri masif (> 50 mg/kgBB/24 jam)
(4) hiperkolesterolemi (> 200 mg/dL)
Diagnosa sindrom nefrotik primer karena :4

13

Dari anamnesa dapat disingkirkan adanya penyebab SN sekunder. Pada anak, 90%
penyebab SN primer adalah idiopatik.
Penderita mengalami sindrom nefrotik serangan pertama, karena penderita baru
pertama kali menderita penyakit ini dan belum pernah mengalami remisi. Serangan
pertama adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keadaan penyakit yang
pertama kali dialami oleh penderita, dan pada sindrom nefrotik penderita belum
pernah mengalami remisi. Remisi adalah keadaan hilangnya edema disertai proteinuri
negatif selama 3 hari berturut-turut. Berdasarkan etiologi, sindrom nefrotik pada anak
dibagi dalam :
-

Sindrom Nefrotik Primer


Menunjukkan dimana penyakit terbatas hanya dalam ginjal atau glomerulus
dan etiologinya tidak diketahui (idiopatik). Diduga ada hubungannya dengan
genetik, imunologi, dan alergi.

Sindrom Nefrotik Sekunder


Menunjukkan dimana penyakit tidak terbatas hanya dalam ginjal atau
glomerulus, akan tetapi penyakit berasal dari ekstra renal atau dengan catatan
lain mempunyai etiologi khusus, merupakan bentuk yang jarang dijumpai.

Diagnosa sindrom nefrotik lesi minimal pada pasien ini ditegakkan berdasarkan :1
-

Secara epidemiologis :
o Sindrom nefrotik lesi minimal terjadi sekitar 85% dari seluruh kasus
sindrom nefrotik idiopatik
o Sindrom nefrotik lesi minimal sering terjadi pada anak usia < 6 tahun
dengan peak incidence 2-5 tahun

Dari anamnesa tidak terdapat gejala hematuri, tidak mengalami tanda-tanda


hipertensi, dan memberikan respons yang baik terhadap kortikosteroid

Dari pemeriksaan fisik tidak didapatkan tanda-tanda hipertensi (TD 110/80


mmHg)

Dari pemeriksaan laboratorium tidak didapatkan hematuri dan kadar kreatin


serum yang tidak meningkat.

Pada pasien ini masih di DD/ dengan membranous proliferatis gromelrulo nefritis
karena :6

14

Diagnosa pasti hanya bisa ditegakkan dengan biopsi ginjal

dapat terjadi pada usia 2-6 tahun (15%)

juga dapat terjadi tanpa hipertensi atau hematuri

juga dapat berespons terhadap kortikosteroid

Usul Pemeriksaan
-

Biopsi ginjal, untuk menegakkan diagnosa pasti. Digunakan untuk


membedakan sexara histologis masing masing jenis secara pasti.7

Biomarker, untuk memastikan diagnosis dan menentukan terapi , khusus nya


dengan penemuan CD80 dapat memastikan diagnosis sindroma nefrotik lesi
minimal. Tetapi CD80 hanya akan terlihat pada masa insial terapi saja, dan
akan menghilang pada masa remisi.

Penatalaksanaan3,4,6,7,12
Tujuan utama terapi adalah untuk menurunkan ekskresi protein melalui urine
sampai jumlah yang normal . Juga mencapai keadaan remisi secepat mungkin untuk
mencegah terjadinya relaps dan meminimalkan efek samping obat.

Adapun

penatalaksanaannya adalah sebagai berikut :


1.

Untuk pengobatan pada pasien ini diberikan steroid full dose sesuai dengan
International Study on Kidney Diseases in Children(ISKDC) diberikan prednison
60 mg/m2LPB/hari atau 2 mg/kgBB/hari (maksimal 80 mg/hari dalam dosis
terbagi untuk menginduksi remisi). Untuk pemberian dosis prednison sesuai berat
badan ideal (BB terhadap TB) .3 Berdasarkan WHO Growth Chart Standart, pada
pasien ini BB ideal nya di umur 3,5 tahun dengan TB 95 cm adalah 14 kg,
sehingga dosis prednison yang diberikan adalah 14 kg x 2 mg/kgBB/hari = 28
mg/hari, dibulatkan menjadi 30 mg/hari dikarenakan: 1. Satu tablet prednison
mengandung 5 mg sehingga mempermudah dalam penentuan jumlah tablet yang
akan diberikan dan mempermudah dalam pengkonsumsian obat; 2. Dosis
pembulatan menjadi 30 mg masih dalam dosis aman prednison yaitu maksimal 80
mg/hari. Sehingga pasien ini menggunakan prednison sebanyak 6 tablet sehari
dengan dosis terbagi 2-2-2 Prednison dalam dosis penuh inisial diberikan selama
4 minggu. Setalah pemberian steroid dalam 2 minggu pertama, remisi telah

15

terjadi pada 80% ksus, dan remisi mencapai 94 % setelah pengobatan steroid 4
minggu. Bila terjadi remisi pada 4 minggu pertama, maka pemberian steroid
dilanjutkan dengan 4 minggu kedua dengan dosis 40 mg/m2 LPB/hari (2/3 dosis
awal) secara alternating (selang sehari), 1 kali sehari setelah makan pagi. Bila
setelah 4 minggu pengobatan steroid dosis penuh, tidak tarjadi remisi, pasien
dinyatakan sebagai resisten steroid.5Berat badan dihitung berdasarkan berat badan
tanpa edema (berat badan terhadap tinggi badan pada persentil 50).8
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa 98% penderita sindrom nefrotik
(yang mungkin tergolong lesi minimal) akan memberikan respon terhadap
pemberian prednison dosis inisial, yaitu dengan terjadinya remisi dalam 4 minggu
terapi inisial.9
Anak dengan awitan sindrom nefrotik antara usia 1-8 tahun agaknya
menderita penyakit lesi minimal yang responsif terhadapt kortikosteroid. Penyalit
lesi minimal tetap lazim pada anak usia diatas 8 tahun, tetapi glomerulonefritis
membranosa dan membranoploriferatif frekuensinya menjadi semakin sering.
Pada kelompok ini biopsi ginjal dianjurkan biopsi ginjal untuk menegakan
diagnostik sebelum pertimbangan terapi.8
Sindroma

Edema, proteinuria >40mg/m2/jam, ratio albumin creatinin

Nefrotik
Kambuh

>2, hipoalbuminemia (2,5mg/dl)


Proteinuria 2 + atau proteinuria > 40 mg/m2/jam selama 3
hari berturut-turut, dimana sebelumnya pernah mengalami

Kambuh

remisi
tidak Kambuh < 2 kali dalam masa 6 bulan, atau < 4 kali dalam

sering
Kambuh sering

periode 12 bulan
Kambuh 2 kali dalam 6 bulan pertama setelah respons

Remisi

awal, atau 4 kali kambuh pada setiap periode 12 bulan


Proteinuria <4mg/m2/jam; 0 atau +/- dengan dipstick 3 hari

Steroid

berturut-turut
2x relapse selama terapi steroid atau 2 minggu setelah

dependence
Steroid

berhenti
Gagal mencapai remisi setalah 4 minggu mendapatkan

resistance

terapi oral prednisolone dengan dosis 2mg/kgBB/hari

16

Penggunaan steroid pada pasien baru serangan pertama; 4

Penggunaan steroid pada pasien relaps

Penggunaan steroid pada pasien resisten steroid

2.

Terapi diuretik

17

Terapi diuretik bisa bermanfaat seperti loop diuretik furosemid (1-2


mg/khBB) tetapi dalam beberapa penelitian ditemukan pemberian furosemid bisa
memperberat edem dan menimbulkan reaksi hipovolemik.11
3.

Albumin
Terapi albumin diberikan dengan indikasi adanya edeme berat (edema
anasarka, tungakai, scrotum/labia) dan kadar albumin <2,5g/dl. Tetapi perlu hati
hati dalam pemberian terapi albumin yang terlalu cepat yang akan menimbulkan
edema pulmonal, gagal ginjal akut dan alergi.12

4.

Pada pasien dengan Sindrom Nefrotik diberikan diet rendah protein yaitu 1,2
2,0 g/kg BB/hari dan cukup kalori yaitu 35 kal/kg BB/hari serta rendah garam
(1g/hari). Bentuk makanan disesuaikan dengan keadaan pasien, dapat makanan
biasa atau lunak. 12

5.

Anitibiotik
Ceftriaxone 1x50 mg. Ceftriaxone adalah golongan sefalosporin
diberikan untuk mencegah komplikasi sindrom nefrotik yaitu infeksi, karena pada
pasien sindrom nefrotik sangat rentan terhadap infeksi, bila terdapat infeksi perlu
segera di obati dengan pemberian antibiotik. Infeksi merupakan komplikasi utama
dari sindrom nefrotik, komplikasi ini akibat dari meningkatnya kerentanan
terhadap infeksi bakteri selama kambuh. Peningkatan kerentanan terhadap infeksi
disebabkan oleh5 yaitu : penurunan kadar imunoglobulin, kadar IgG pada anak
dengan sindrom nefrotik sering sangat menurun, dimana pada suatu penelitian
didapkan rata-rata 18% dari normal, cairan edema yang berperan sebagai media
biakan.,

defisiensi

protein,,

penurunan

aktivitas

bakterisid

leukosit,,

imunosupresif karena pengobatan, penurunan perfusi limpa karena hipovolemia,


kehilangan faktor komplemen (Faktor properdin B) dalam urin yang meng
oponisasi bakteria tertentu.5
6.

Sebelum diberikan terapi prednison, pasien ini dilakukan uji mantoux terlebih
dahulu untuk mengetahui apakah pasien ini terdapat penyakit tuberkulosis atau
tidak, sesuai dengan tindakan pada pasien ini yang dilakukan Mantoux Tes. 4

Prognosis
Prognosa pada pasien ini adalah sebagai berikut :
-

Prognosa quo ad vitam : dubia ad bonam


Karena pada penderita didapatkan tanda vital dalam batas normal

18

Prognosa quo ad functionam : ad bonam


Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sekitar 98% penderita sindrom
nefrotik ini (yang mungkin tergolong lesi minimal) akan memberikan respon
terhadap pemberian prednison dosis inisial, sedangkan 2-10% penderita tidak
memberi respon terhadap terapi prednison atau dikenal dengan sindrom
nefrotik non respons steroid. Dari keseluruhan sindrom nefrotik serangan
pertama 44,3% yang bebas dari relaps sedangkan 52,4% akan mengalami
relaps, baik dalam bentuk relaps infrequent (2,8%) ataupun relaps frequent
(30,6%).8
Sebelum diberikan terapi prednison, pasien ini dilakukan uji mantoux terlebih

dahulu untuk mengetahui apakah pasien ini terdapat penyakit tuberkulosis atau tidak,
sesuai dengan tindakan pada pasien ini yang dilakukan Mantoux Tes. 4

DAFTAR PUSTAKA
19

1.
2.

Betz, Cecily L, Sowden, Linda L. 2009. Pediatrik Edisi 5. Jakarta: EGC.


Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2012. Konsensus Tatalaksana Sindrom Nefrotik
Idiopatik Pada Anak Edisi 2.

3.

International Study on Kidney Diseases in Children. 2012. The primary nephrotic


syndrome in children. Identification of patients with minimal change nephrotic
syndrome from initial response to prednisone. J Pediatr;98:561-4.

4.

Niaudet, P., Mattoo, T.K., Kim, M.S. 2014. Treatment of idiopathicnephrotic


syndrome in children.http://www.uptodate.com/contents/treatment-of-idiopathicnephroticsyndrome-in-children. Diakses pada tanggal 16 Agustus 2015.

5.

Kidney Disease Improving Global Outcomes. 2012. Steroid-sensitive nephrotic


syndrome in children. Kidney International Supplements (2012) 2:163-171.

6.

Wong, W., Prestidge, C., Gavin, R. 2013. Starship Childrens Health Clinical
Guideline2013.http://www.adhb.govt.nz/starshipclinicalguidelines/Documents/Ne
phrotic%20 Syndrome%20in%20Childhood.pdf. Diakses pada tanggal 18
september 2015.

7.

Agraharkar Mahendra, Nefrotic Syndrome. www.emedicine.com Last Update:


september 2, 2015.

8.

Alatas H, Tambunan T, Trihono PP, Pardede SO : Sindrom Nefrotik, Buku Ajar


Nefrologi Anak. Edisi 2. Balai Penerbit FKUI, Jakarta 2012

9.

Nephrotic

Syndrome,

The

Merck

Manual

Diagnosis

and

Therapy.

syndrome,

2012

www.Merckmanual.com.
10. Abeera

Mansur,

indeopatic

nephrotic

http://emedicine.medscape.com//243348-overview#a52012 diakses 30 September


2015
11. Alfonso Segarra-Medrano et al. 2012. Biological markers of nephrotic syndrome
http://www.revistanefrologia.com. Diakses 30 september 2015
12. Jerome C Lane, MD et all 2015. Pediatric Nephrotic Syndrome Treatment &
Managemen, http://emedicine.medscape.com//982920-treatment#d11. Diakses 30
September 2015

20