Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN


GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKELETAL (FRAKTUR)

OLEH :
NAMA

: NI KADEK ITA RATNA DEWI

NIM

: P07120214081

KELAS

: II.3 D III KEPERAWATAN

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
2016
I. Konsep Dasar Penyakit
A. Pengertian

Fraktur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh.
Kebanyakan fraktur disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang
berlebihan pada tulang, baik berupa trauma langsung dan trauma tidak
langsung (Sjamsuhidajat & Jong, 2005).
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan
tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa
(Mansjoer, 2007). Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh
trauma atau tenaga fisik (Price dan Wilson, 2006).
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan
tulang

atau

tulang

rawan

yang

umumnya

disebabkan

oleh

rudapaksa.Fraktur dapat dibagi menjadi :


1. Fraktur komplit adalah patah pada seluruh garis tengah tulang dan
biasanya megalami pergeseran (bergeser dari posisi normal).
2. Fraktur tidak komplit (inkomplit) adalah patah yang hanya terjadi pada
sebagian dari garis tengah tulang.
3. Fraktur tertutup (closed) adalah hilangnya atau terputusnya kontinuitas
jaringan tulang dimana tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang
dengan dunia luar atau bila jaringan kulit yang berada diatasnya/
sekitar patah tulang masih utuh.
4. Fraktur terbuka (open/compound) adalah hilangnya atau terputusnya
jaringan tulang dimana fragmen-fragmen tulang pernah atau sedang
berhubungan dengan dunia luar.Fraktur terbuka dapat dibagi atas tiga
derajat, yaitu :
a. Derajat I
1) Luka < 1 cm
2) Kerusakan jaringan lunak sedikit, tak ada tanda luka remuk
3) Fraktur sederhana, transversal, oblik, atau kontinuitif ringan
4) Kontaminasi minimal

b. Derajat II
1) Laserasi > 1 cm
2) Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, flap/avulse
3) Fraktur kontinuitif sedang

4) Kontaminasi sedang
c. Derajat III
1) Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur
kulit, otot, dan neurovascular serta kontaminasi derajat tinggi.
Fraktur derajat III terbagi atas :
a)
b)

IIIA

: Fragmen tulang masih dibungkus jaringan lunak


IIIB

: Fragmen tulang tak dibungkus jaringan

lunak terdapat

pelepasan lapisan periosteum,

fraktur kontinuitif
c)

IIIC

: Trauma pada arteri yang membutuhkan

perbaikan agar bagian distal dapat diperthankan,


terjadi kerusakan jaringan lunak hebat.
B. Etiologi
Fraktur disebabkan oleh trauma di mana terdapat tekanan yang
berlebihan pada tulang yang biasanya di akibatkan secara langsung dan
tidak langsung dan sering berhubungan dengan olahraga, pekerjaan atau
luka yang di sebabkan oleh kendaraan bermotor.
Penyebab patah tulang paling sering di sebabkan oleh trauma
terutama pada anak-anak, apabila tulang melemah atau tekanan ringan.
Menurut (Doenges, 2000) adapun penyebab fraktur antara lain :
1. Trauma Langsung, yaitu fraktur terjadi di tempat dimana bagian
tersebut mendapat ruda paksa misalnya benturan atau pukulan pada
anterbrachi yang mengakibatkan fraktur.
2. Trauma Tak Langsung, yaitu suatu trauma yang menyebabkan patah
tulang ditempat yang jauh dari tempat kejadian kekerasan.
3. Fraktur Patologik
Stuktur
yang
terjadi
pada
tulang
yang

abnormal

(kongenital,peradangan, neuplastik dan metabolik)


Menurut Carpenito (2000) adapun penyebab fraktur antara lain :
1. Kekerasan langsung
Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya
kekerasan. Fraktur demikian demikian sering bersifat fraktur terbuka
dengan garis patah melintang atau miring.
2. Kekerasan tidak langsung

Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang ditempat yang


jauh dari tempat terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah
bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran vektor kekerasan.
3. Kekerasan akibat tarikan otot
Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi. Kekuatan dapat
berupa pemuntiran, penekukan, penekukan dan penekanan, kombinasi
dari ketiganya, dan penarikan.
Etiologi dari fraktur menurut Price dan Wilson (2006) ada 3 yaitu :
1. Cidera atau benturan
2. Fraktur patologik
Fraktur patologik terjadi pada daerah-daerah tulang yang telah
menjadi lemah oleh karena tumor, kanker dan osteoporosis.
3. Fraktur beban
Fraktur beban atau fraktur kelelahan terjadi pada orang- orang yang
baru saja menambah tingkat aktivitas mereka, seperti baru di terima
dalam angkatan bersenjata atau orang- orang yang baru mulai latihan
lari.
C. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinik dari faktur , menurut (Brunner and Suddarth, 2002) :
1. Nyeri terus-menerus dan bertambah beratnya sampai tulang
diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk
bidai almiah yang di rancang utuk meminimalkan gerakan antar
2.

fregmen tulang.
Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tidak dapat di gunakan dan
cenderung bergerak secara alamiah (gerak luar biasa) bukanya tetap
rigid seperti normalnya. Pergeseran fragmen tulang pada fraktur
lengan dan tungkai menyebabkan deformitas (terlihat maupun
teraba) ekstermitas yang bisa diketahui membandingkan ekstermitas
yang normal dengan ekstermitas yang tidak dapat berfungsi dengan
baik karena fungsi normal otot bergantung pada integritas tulang

3.

tempat melekatnya otot.


Pada fraktur panjang terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya
karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat
fraktur. Fragmen sering saling melingkupi satu samalain sampai 2,55 cm (1-2 inchi).

4.

Saat ekstermitas diperiksa dengan tangan teraba adanya derik tulang


dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu
dengan lainnya (uji krepitus dapat mengaibatkan kerusakan jaringan

5.

lunak yang lebih berat).


Pembengkakan dan perubahan warna lokal terjadi sebagai akibat
trauma dari pendarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini baru bisa
terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cidera.

Menurut
Santoso Herman (2000:153)
Kondisiadalah
patologis
Trauma
langsung
Trauma tdkmanifestasi
langsung klinik dari fraktur
:
1. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya samapi fragmen tulang
Fraktur

diimobilisasi, hematoma, dan edema.


2. Deformitas karena adanya pergeseran fragmen tulang yang patah
3. Terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot
Diskontinuitas tulang

Pergeseran fragmen tlg

Nyeri Akut

yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur.


4. Krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya
5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit.

Kerusakan fragmen tlg

Perubahan jaringan sekitar

D. Pohon Masalah

Pergeseran fragmen tulang

Spasme otot

Deformitas

Peningkatan tek kapiler

Ggn fungsi ekstermitas

Pelepasan histamin

Metabolisme asam lemak

Hambatan mobilitas fisik

Protein plasma hilang

Bergabung dg trombosit

Laserasi kulit

Edema

Emboli

Penekanan pembuluh darah

Menyumbat pembuluh
darah

Kerusakan integritas
kulit

Ketidakefektifan perfusi
jaringan perifer

Mengenai jaringan kutis dan sub kutis

Perdarahan
Resiko Infeksi
Kehilangan volume cairan

Resiko syok
(hipovolemik)

Tekanan sumsum tulang


lbh tinggi dari kapiler
Melepaskan katekolamin

E. Patofisiologis
Patah tulang biasanya terjadi karena benturan tubuh, jatuh atau trauma.
Baik itu karena trauma langsung misalnya: tulang kaki terbentur bemper
mobil, atau tidak langsung misalnya: seseorang yang jatuh dengan telapak
tangan menyangga. Juga bisa karena trauma akibat tarikan otot misalnya :
patah tulang patela dan olekranon, karena otot trisep dan bisep mendadak
berkontraksi. (Doenges, 2000).
Sewaktu tulang patah perdarahan biasanya terjadi di sekitar tempat
patah dan ke dalam jaringan lunak sekitar tulang tersebut, jaringan lunak
juga biasanya mengalami kerusakan. Reaksi peradangan biasanya timbul
hebat setelah fraktur. Sel-sel darah putih dan sel mast berakumulasi
menyebabkan peningkatan aliran darahketempat tersebut. Fagositosis dan
pembersihan sisa-sisa sel mati dimulai. Di tempat patah terbentuk fibrin
(hematoma fraktur) dan berfungsi sebagai jala-jala untuk melekatkan selsel baru. Aktivitas osteoblast terangsang dan terbentuk tulang baru imatur
yang disebut callus. Bekuan fibrin direabsorbsi dan sel-sel tulang baru
mengalami remodeling untuk membentuk tulang sejati (Carpenito, 2000).
Insufisiensi pembuluh darah atau penekanan serabut saraf yang
berkaitan dengan pembengkakan yg tidak ditangani dapat menurunkan
asupan darah ke ekstremitas dan mengakibatkan kerusakan saraf perifer.

Bila tidak terkontrol pembengkakan dapat mengakibatkan peningkatan


tekanan jaringan, oklusi darah total dapat berakibat anoksia jaringanyg
mengakibatkan rusaknya serabut saraf maupun jaringan otot. Komplikasi
ini dinamakan sindrom kompartemen (Brunner & suddarth, 2002).
F. Pemeriksaan Diagnostik
Menurut (PERMENKES RI, 2014) pemeriksaan diagnosik meliputi :
1. Foto polos
Umumnya dilakukan pemeriksaan dalam proyeksi AP dan lateral,
untuk menentukan lokasi, luas dan jenis fraktur.
2. Pemeriksaan radiologi lainnya
Sesuai indikasi dapat dilakukan pemeriksaan berikut, antara lain :
radioisotope scanning tulang, tomografi, artrografi, CT-scan, dan
MRI, untuk memperlihatkan fraktur dan mengidentifikasi kerusakan
jaringan lunak.
3. Pemeriksaan darah rutin dan golongan darah
Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun (perdarahan
bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multiple).
Peningkatan sel darah putih adalah respon stress normal setelah
trauma.
4. Kreatinin : Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens
ginjal.
5. Profil koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah.
G. Managemen Preoperatif pada Pasien Fraktur
Tindakan keperawatan pre operetif merupakan tindakan yang
dilakukan oleh perawat dalam rangka mempersiapkan pasien untuk
dilakukan tindakan pembedahan dengan tujuan untuk menjamin
keselamatan pasien intraoperatif. Persiapan fisik maupun pemeriksaan
penunjang serta pemeriksaan mental sangat diperlukan karena kesuksesan
suatu tindakan pembedahan klien berawal dari kesuksesan persiapan yang
dilakukan selama tahap persiapan.
1. Evaluasi Pra Anestesi
Evaluasi pra-anestesi adalah langkah awal dari rangkaian tindakan
anestesi yang bertujuan untuk mengetahui status fisik pasien prabedah
dan

menganalisa jenis operasi sehingga dapat memilih jenis atau

teknik anestesi yang sesuai, juga dapat meramalkan penyulit yang akan

terjadi selama operasi dan atau pasca bedah dan kemudian


mempersiapkan obat atau alat untuk menanggulangi penyulit tersebut.
Tatalaksana evaluasi pra-anestesi meliputi anamnesis, pemeriksaan
fisik, pemeriksaan penunjang, konsultasi dan

koreksi terhadap

kelainan fungsi organ vital dan penentuan status fisik pasien praanestesi. Hal ini dilakukan untuk menegakkan diagnosis sehingga
persiapan pasien dapat dilakukan sesegera mungkin. Yang harus
diperhatikan

pada

anamnesis

adalah

identifikasi

pasien,

riwayat penyakit yang pernah atau sedang diderita misalnya gangguan


faal hemostatis, penyakit saraf otot, infeksi di daerah lumbal,
syok, anemia, dan kelainan tulang belakang, riwayat obat-obatan yang
sedang atau telah digunakan, riwayat operasi dan anesthesia yang
pernah dialami di waktu yang lalu, serta kebiasaan buruk sehari-hari
yang mungkin dapat mempengaruhi jalannya anestesi seperti merokok.
Pemeriksaaan fisik rutin meliputi pemeriksaan tinggi, berat,
suhu badan, keadaan umum, kesadaran umum, tanda-tanda anemia,
tekanan darah, nadi dan lain - lain. Pemeriksaan laboratorium yang
diperlukan pada pasien fraktur adalah pemeriksaan darah (Hb, leukosit,
golongan darah, faal hemostasis), foto polos AP/ lateral pada bagian
yang dicurigai fraktur, foto polos toraks, dan EKG. Gangguan
elektrolit dan abnormalitas dari faktor koagulasi harus dikoreksi
terlebih dahulu.
2. Persiapan Pra Anestesi
Persiapan pra-anestesi adalah mempersiapkan pasien baik psikis
maupun fisik agar pasien siap dan optimal untuk menjalani prosedur
anestesi dan diagnostik atau pembedahan yang direncanakan sesuai
hasil

evaluasi

pra-anestesi,

persiapan juga mencakup surat persetujuan tindakan medis.


Sebagai seorang ahli anestesi yang menjadi perhatian utama pada
pasien dengan peritonitis adalah memperbaiki keadaan umum pasien
sebelum diambilnya tindakan operasi. Tindakan mencakup airway,
breathing

dan

circulation.

Oksigenisasi,

cairan, vasopresor/inotropik dan transfusi bila diperlukan.

terapi

Pemasangan infuse bertujuan untuk mengganti deficit cairan


selama puasa dan mengkoreksi deficit cairan prabedah, sebagai
fasilitas vena terbuka untuk memasukan obat-obatan selama operasi
dan sebagai fasilitas transfuse darah, memberikan cairan pemeliharaan,
serta mengoreksi deficit atau kehilangan cairan selama operasi.Berikut
adalah tujuan dari terapi cairan, yaitu mengganti cairan dan kalori yang
dialami pasien prabedah akibat puasa, fasilitas vena terbuka bahkan
untuk koreksi defisit akibat hipovolemik atau dehidrasi.
H. Penatalaksanaan
Prinsip penanganan fraktur meliputi reduksi, imobilisasi, dan
pengembalian fungsi dan kekuatan.
1. Rekognisi (Pengenalan)
Riwayat kecelakaan, derajat keparahan, harus jelas untuk menentukan
diagnosa dan tindakan selanjutnya. Contoh, pada tempat fraktur
tungkai akan terasa nyeri sekali dan bengkak. Kelainan bentuk yang
nyata dapat menentukan diskontinuitas integritas rangka.
2. Reduksi fraktur (setting tulang)
Mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan rotasi
anatomis. Reduksi tertutup dilakukan dengan mengembalikan fragmen
tulang ke posisinya dengan manipulasi dan traksi manual. Reduksi
terbuka dilakukan dengan pendekatan bedah, fragmen tulang direduksi
alat fiksasi interna (ORIF) dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat, paku,
atau batangan logam untuk mempertahankan fragmen tulang dalam
posisinya sampai penyembuhan tulang yang solid terjadi.
3. Retensi (Imobilisasi fraktur)
Setelah fraktur direduksi fragmen tulang harus diimobilisasi atau
dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi
penyatuan. Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna
(OREF) meliputi : pembalutan, gips, bidai, traksi kontinu pin, dan
tehnik gips atau fiksator ekterna. Implan logam dapat digunakan untuk
fiksasi interna (ORIF) yang berperan sebagai bidai interna untuk
mengimobilisasi fraktur yang dilakukan dengan pembedahan.
4. Rehabilitasi (Mempertahankan dan mengembalikan fungsi)

Segala upaya diarahkan pada penyembuhan tulang dan jaringan lunak.


Latihan isometric dan setting otot diusahakan untuk meminimalkan
atrofi disuse dan meningkatkan aliran darah. Partisipasi dalam aktivitas
hidup sehari-hari diusahakan untuk memperbaiki kemandirian fungsi
dan harga diri.

II.

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


A. Pengkajian Keperawatan
1. Data Subjektif
Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses
keperawatan, untuk itu diperlukan kecermatan dan ketelitian tentang
masalah-masalah klien sehingga dapat memberikan arah terhadap
tindakan keperawatan. Keberhasilan proses keperawatan sangat
bergantuang pada tahap ini. Tahap ini terbagi atas :
a.
Pengumpulan Data
1) Anamnesa
a) Identitas Klien
b) Keluhan Utama
Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah
rasa nyeri. Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung
dan lamanya serangan. Untuk memperoleh pengkajian yang
lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan :
(1) Provoking Incident : apakah ada peristiwa yang menjadi
yang menjadi faktor presipitasi nyeri.
(2) Quality of Pain : seperti apa rasa nyeri yang dirasakan
atau digambarkan klien. Apakah seperti terbakar,
berdenyut, atau menusuk.
(3) Region : radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda,
apakah rasa sakit menjalar atau menyebar, dan dimana
rasa sakit terjadi.
(4) Severity (Scale) of Pain : seberapa jauh rasa nyeri yang
dirasakan klien, bisa berdasarkan skala nyeri atau klien
menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi
kemampuan fungsinya.
(5) Time : berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah
bertambah buruk pada malam hari atau siang hari.
c) Riwayat Penyakit Sekarang

d)
e)
f)
g)

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat Psikososial
Pola-Pola Fungsi Kesehatan
(1) Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat
Pada kasus fraktur akan timbul ketidakutan akan
terjadinya kecacatan pada dirinya dan harus menjalani
penatalaksanaan

kesehatan

untuk

membantu

penyembuhan tulangnya. Selain itu, pengkajian juga


meliputi kebiasaan hidup klien seperti penggunaan obat
steroid yang dapat mengganggu metabolisme kalsium,
pengkonsumsian

alkohol

yang

bisa

mengganggu

keseimbangannya dan apakah klien melakukan olahraga


atau tidak.
(2) Pola Nutrisi
Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi
kebutuhan sehari-harinya seperti kalsium, zat besi,
protein, vitamin C dan lainnya untuk membantu proses
penyembuhan tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi
klien bisa membantu menentukan penyebab masalah
muskuloskeletal dan mengantisipasi komplikasi dari
nutrisi yang tidak adekuat terutama kalsium atau protein
dan terpapar sinar matahari yang kurang merupakan
faktor predisposisi masalah muskuloskeletal terutama
pada lansia. Selain itu juga obesitas juga menghambat
degenerasi dan mobilitas klien.
(3) Pola Eliminasi
Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan pada
pola eliminasi, tapi walaupun begitu perlu juga dikaji
frekuensi, konsistensi, warna serta bau feces pada pola
eliminasi alvi. Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji
frekuensi, kepekatannya, warna, bau, dan jumlah. Pada
kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan atau tidak.
(4) Pola Tidur dan Istirahat
Semua klien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan
gerak, sehingga hal ini dapat mengganggu pola dan

kebutuhan tidur klien. Selain itu juga, pengkajian


dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana lingkungan,
kebiasaan tidur, dan kesulitan tidur serta penggunaan
obat tidur.
(5) Pola Aktivitas
Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka
semua bentuk kegiatan klien menjadi berkurang dan
kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh orang lain.
Hal lain yang perlu dikaji adalah bentuk aktivitas klien
terutama pekerjaan klien. Karena ada beberapa bentuk
pekerjaan beresiko untuk terjadinya fraktur dibanding
pekerjaan yang lain
(6) Pola Hubungan dan Peran
Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam
masyarakat. Karena klien harus menjalani rawat inap.
(7) Pola Persepsi dan Konsep Diri
Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu timbul
ketidakutan akan kecacatan akibat frakturnya, rasa
cemas, rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas
secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang
salah (gangguan body image).
(8) Pola Sensori dan Kognitif
Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama
pada bagian distal fraktur, sedang pada indera yang lain
tidak timbul gangguan. begitu juga pada kognitifnya
tidak mengalami gangguan. Selain itu juga, timbul rasa
nyeri akibat fraktur
(9) Pola Reproduksi Seksual
Dampak pada klien fraktur yaitu, klien tidak bisa
melakukan hubungan seksual karena harus menjalani
rawat inap dan keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang
dialami klien. Selain itu juga, perlu dikaji status
perkawinannya

termasuk

perkawinannya
(10) Pola Penanggulangan Stress

jumlah

anak,

lama

Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan


dirinya, yaitu ketidakutan timbul kecacatan pada diri
dan

fungsi

tubuhnya. Mekanisme

ditempuh klien bisa tidak efektif.


(11) Pola Tata Nilai dan Keyakinan
Untuk klien fraktur tidak dapat

koping

yang

melaksanakan

kebutuhan beribadah dengan baik terutama frekuensi


dan konsentrasi. Hal ini bisa disebabkan karena nyeri
dan keterbatasan gerak klien.
2. Data Objektif
a. Pemeriksaan Fisik
Dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan umum (status generalisata)
untuk mendapatkan gambaran umum dan pemeriksaan setempat
(lokalis).
1) Keadaan umum : baik atau buruknya yang dicatat adalah tandatanda, seperti :
a) Kesadaran penderita : apatis, sopor, koma, gelisah, kompos
mentis tergantung pada keadaan klien.
b) Kesakitan, keadaan penyakit: akut, kronik, ringan, sedang,
berat dan pada kasus fraktur biasanya akut.
c) Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik
fungsi maupun bentuk.
2) Pemeriksaan head-to-toe :
a) Kepala
Tidak ada gangguan yaitu, normo cephalik, simetris, tidak
ada penonjolan, tidak ada nyeri kepala.
b) Mata
Tidak ada gangguan seperti konjungtiva tidak anemis
(karena tidak terjadi perdarahan).
c) Hidung
Tidak ada deformitas, tak ada pernafasan cuping hidung.
d) Telinga
Tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. Tidak
ada lesi atau nyeri tekan.
e) Mulut dan Gigi
Tak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi perdarahan,
mukosa mulut tidak pucat.
f) Leher

Tidak ada gangguan yaitu simetris, tidak ada penonjolan,


reflek menelan ada.
g) Thoraks
Tak ada pergerakan otot intercostae, gerakan dada simetris.
h) Paru
(1) Inspeksi
Pernafasan meningkat, reguler atau tidaknya
tergantung

pada

riwayat

penyakit

klien

yang

berhubungan dengan paru.


(2) Palpasi
Pergerakan sama atau simetris, fermitus raba sama.
(3) Perkusi
Suara ketok sonor, tak ada erdup atau suara tambahan
lainnya.
(4) Auskultasi
Suara nafas normal, tak ada wheezing, atau suara
tambahan lainnya seperti stridor dan ronchi.
i) Jantung
(1) Inspeksi
Tidak tampak iktus jantung.
(2) Palpasi
Nadi meningkat, iktus tidak teraba.
(3) Auskultasi
Suara S1 dan S2 tunggal, tak ada mur-mur.
j) Abdomen
(1) Inspeksi
Bentuk datar, simetris, tidak ada hernia.
(2) Palpasi
Tugor baik, tidak ada defands muskuler, hepar tidak
teraba.
k) Perkusi
Suara thympani, ada pantulan gelombang cairan.
l) Auskultasi
Peristaltik usus normal 20 kali/menit.
m) Inguinal-Genetalia-Anus
Tak ada hernia, tak ada pembesaran lymphe, tak ada
kesulitan BAB.
n) Kulit
Terdapat erytema, suhu sekitar daerah trauma meningkat,
bengkak, oedema, nyeri tekan.
o) Ekstermitas
Kekuatan otot, adanya oedema atau tidak, suhu akral, dan
ROM.
b. Pemeriksaan Penunjang

1) Pemeriksaan Radiologi
2) Pemeriksaan Laboratorium
a) Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap
penyembuhan tulang.
b) Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan
menunjukkan kegiatan osteoblastik dalam membentuk
tulang.
c) Enzim otot seperti Kreatinin Kinase, Laktat Dehidrogenase
(LDH-5), Aspartat Amino Transferase (AST), Aldolase
yang meningkat pada tahap penyembuhan tulang.
3) Pemeriksaan lain-lain
a) Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas :
didapatkan mikroorganisme penyebab infeksi.
b) Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama
dengan pemeriksaan diatas tapi lebih dindikasikan bila
terjadi infeksi.
c) Elektromyografi : terdapat kerusakan konduksi saraf yang
diakibatkan fraktur.
d) Arthroscopy : didapatkan jaringan ikat yang rusak atau
sobek karena trauma yang berlebihan.
e) Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya
infeksi pada tulang.
f) MRI : menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera.
2. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan integritas
struktur tulang, program pembatasan gerak.
3. Resiko infeksi.
4. Resiko syok hipovolemik.
5. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan nyeri
ekstermitas.
6. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan imobilisasi fisik.
C. Perencanaan Keperawatan
No. Diagnosa
1.

Tujuan dan Kriteria Intervensi

Keperawatan
Hasil
Nyeri
akut NOC :
Pain level
berhubungan
Pain control
dengan
agen Comfort level
Kriteria Hasil

NIC:
Pain management
a. Lakukan pengkajian
nyeri

secara

cidera

a. Mampu

komprehensif

mengontrol

nyeri

(tahu

penyebab

nyeri,

mampu

menggunakan
nonfarmakologi
untuk mengurangi
mencari

bantuan)
b. Melaporkan bahwa
nyeri

berkurang

dengan
menggunakan

(skala,

intensitas,
frekuensi dan tanda
nyeri)
d. Menyatakan
nyaman

karakteristik,

durasi,

frekuensi, kualitas dan

nonverbal

dari

ketidaknyamanan
c. Gunakan
tehnik
komunikasi terapeutik
untuk

mengetahui

pengalaman

nyeri

pasien
d. Kaji
kultur

yang

mempengaruhi respon

managemen nyeri
c. Mampu mengenali
nyeri

lokasi,

faktor presipitasi
b. Observasi
reaksi

tehnik

nyeri,

termasuk

nyeri
e. Evaluasi

pengalaman

nyeri masa lampau


f. Evaluasi
bersama
pasien

dan

tim

kesehatan lain tentang


rasa
setelah

nyeri berkurang

ketidakefektifan
kontrol

nyeri

lampau
g. Bantu pasien

masa
dan

keluarga

untuk

mencari

dan

menemukan dukungan
h. Kontrol
lingkungan
yang

dapat

mempengaruhi

nyeri

seperti suhu ruangan,


pencahayaan
kebisingan
i. Kurangi

dan
faktor

presipitasi nyeri
j. Pilih dan lakukan
penanganan

nyeri

(farmakologi,
nonfarmakologi

dan

interpersonal)
k. Kaji tipe dan sumber
nyeri

untuk

menentukan intervensi
l. Ajarkan tentang teknik
nonfarmakologi
m. Berikan
analgetik
untuk

mengurangi

nyeri
n. Evaluasi

keefektifan

kontrol nyeri
o. Tingkatkan istrihat
p. Kolaborasikan dengan
dokter

jika

ada

keluhan dan tindakan


nyeri tidak berhasil
q. Monitor penerimaan
pasien

tentang

manajemen nyeri
Analgesic administration
a. Tentukan
lokasi,
karakter, kualitas, dan
derajat nyeri sebelum
pemberian obat
b. Cek intruksi dokter
tentang

jenis

obat,

dosi, dan frekuensi


c. Cek riwayat alergi
d. Pilih analgesic yang
diperlukan

atau

kombinasi

dari

analgesic

ketika

pemberian lebih dari


satu
e. Tentukan

pilihan

analgesic

tergantung

tipe dan beratnya nyeri


f. Tentukan
analgesic
pilihan,

rute

pemberian, dan dosis


optimal
g. Pilih rute pemberian
secara IV, IM untuk
pengobatan

nyeri

secara teratur
h. Monitor vital

sign

sebelum dan sesudah


pemberian

anlgesik

pertama kali
i. Berikan
analgesic
tepat waktu terutama
saat nyeri hebat
j. Evalusi
efektivitas
analgesic, tanda dan
2.

Hambatan
mobilitas

fisik

NOC:
Joint
movement

gejala
NIC
: Exercise

therapy

active
ambulation
Mobility level
a. Monitoring vital sign
dengan kekuatan Self care : ADLs
sebelum/sesudah
Transfer perfoormance
dan
tahanan
Kriteria hasil:
latihan respon pasien
sekunder akibat a. Klien
meningkat
saat latihan
fraktur
dalam
aktivitas b. Konsultasikan dengan
berhubungan

fisik
b. Mengerti
dari

terapi
tujuan

peningkatan

mobilitas
c. Memverbalisasikan

rencana

fisik

tentang

ambulansi

sesuai
kebutuhan
c. Bantu klien

dengan
untuk

perasaan

menggunakan tongkat

dalammeningkatka

saat

kekuatan

dan

kemampuan

bantu

dan

cegah terhadap cidera


d. Ajarkan pasien atau
tenaga kesehatan lain

berpindah
d. Memperagakan
penggunaan

berjalan

tentang
alat

untuk

teknik

ambulansi
e. Kaji
kemampuan
pasien

mobilisasi (walker)

dalam

mobilisasi
f. Latih pasien

dalam

pemenuhan kebutuhan
ADLs secara mandiri
sesuai kemampuan
g. Damping dan bantu
pasien saat mobilisasi
dan

bantu

kebutuhan

penuhi
ADLs

pasien
h. Berikan alat bantu jika
i.

pasien memerlukan
Ajarkan
pasien
bagaimana
posisi

dan

bantuan
3.

Resiko infeksi

merubah
berikan
jika

diperlukan
NOC
NIC
Immune status
Infection Control
Knowledge : infection a. Bersihkan lingkungan
control
Risk control
Kriteria hasil
a. Klien bebas
tanda

dan

setelah dipakai pasien


dari
gejala

infeksi
b. Mendeskripsikan
proses

penularann

lain
b. Pertahankan

teknik

isolasi
c. Batasi pengunjung bila
perlu
d. Instruksikan

pada

penyakit,

factor

pengunjung

untuk

yang

mencuci tangan saat

mempengaruhi

berkunjung

penularan

serta

penatalaksanaannya
c. Menunjukkan
kemampuan untuk
mencegah
timbulnya infeksi
d. Jumlah
leukosit
dalam batas normal
e. Menunjukkan
perilaku
sehat

hidup

meninggalkan pasien
e. Gunakan
sabun
antimikroba untuk cuci
tangan
f. Cuci tangan

setiap

sebelum dan sesudah


tindakan keperawatan
g. Gunakan baju, sarung
tangan

sebagai

alat

penlindung
h. Pertahankan lingkunan
aseptic

selama

pemasangan alat
i. Ganti letak IV perifer
dan line central dan
dressing sesuai dengan
petunjuk umum
j. Gunakan
kateter
intermiten
menurunkan

untuk
infeksi

kandung kencing
k. Tingkatkan
intake
nutrisi
l. Berikan

terapi

antibiotic bila perlu


Infection protection
a. Monitor tanda dan
gejala infeksi sistemik
dan local
b. Monitor

hitung

granulosit, WBC
c. Monitor
kerentanan
terhadap infeksi

d. Batasi pengunjung
e. Pertahankan
teknik
aspesis

pada

pasien

yang beresiko
f. Pertahankan

teknik

isolasi k/p
g. Berikan
kulit
epidema
h. Inspeksi

perawatan

pada

area

kulit

dan

membrane mukosa
i. Terhadap kemerahan,
panas, dan drainase
j. Inspeksi
kondisi
luka/insisi bedah
k. Dorong
masukkan
nutrisi yang cukup
l. Dorong
masukan
cairan
m. Dorong istirahat
n. Instruksikan
pasien
untuk

minum

antibiotic sesuai resep


o. Ajarkan pasien dan
keluarga

tanda

gejala infeksi
p. Ajarkan

dan
cara

menghindari infeksi
q. Laporkan kecurigaan

4.

Resiko

syok NOC
Syok prevention
hipovolemik
Syok management
Kriteria hasil
a. Nadi dalam batas
yang diharapkan
b. Irama
jantung
dalam batas yang

infeksi
r. Laporkan kultur positif
NIC
Syok prevention
a. Monitor
status
sirkulasi
kulit,

BP, warna
suhu

kulit,

denyut jantung, HR,


dan ritme, nadi perifer,

diharapkan
c. Frekunsi

dan kapiler refill


napas b. Monitor
tanda

dalam batas yang

inadekuat

diharapkan
jaringan
d. Irama pernapasan c. Monitor
dalam batas yang

oksigenasi
suhu

dan

pernafasan
d. Monitor input

dan
diharapkan
e. Natrium serum dbn
output
f. Kalium serum dbn e. Pantau nilai labor:
g. Klorida serum dbn
HB, HT, AGD, dan
h. Kalsium serum dbn
elektrolit
i. Magnesium serum
f. Monitor hemodinamik
dbn
invasi yang sesuai
j. PH darah serum
g. Monitor tanda dan
dbn
gejala asites
Hidrasi
h. Monitor tanda awal
Indicator
a. Mata cekung tidak
syok
i. Tempatkan
pasien
ditemukan
b. Demam
tidak
pada posisi supine,
ditemukan
c. TD dbn
d. Hematokrit dbn

kaki

elevasi

peningkatan

untuk
preload

dengan tepat
j. Lihat dan pelihara
kepatenan jalan napas
k. Berikan cairan IV dan
atau oral yang tepat
l. Berikan
vasodilator
yang tepat
m. Ajarkan keluarga dan
pasien tentang tanda
dan gejala datangnya
syok
n. Ajarkan keluarga dan
pasien tentang langkah
untuk mengatasi gejala
syok
Syok management
a. Monitor
fungsi

neurologis
b. Monitor fungsi renal
(e.g

BUN

dan

Cr

Lavel)
c. Monitor tekanan nadi
d. Monitor status cairan,
input, output
e. Catat gas darah arteri
dan

oksigen

di

jaringan
f. Monitor EKG
g. Memanfaatkan
pemantauan jalur arteri
untuk

meningkatkan

akurasi

pembacaan

tekanan darah
h. Menggambarkan
darah

arteri

memonitor

gas
dan

jaringan

oksigenasi
i. Memantau tren dalam
parameter
hemodinamik
(misalnya CPV, MAP,
tekanan

kapiler

pulmonal/arteri)
j. Memantau
factor
penentu

pengiriman

jaringan

oksigen

(misalnya PaO2 kadar


haemoglobin

SaO2,

CO) jika ada


k. Memantau

tingkat

karbondioksida
sublingual
tonometry

dan/atau

5.

Ketidakefektifan

NOC
Circulation status
perfusi jaringan
Tissue perfusion :
perifer
cerebral
berhubungan
Kriteria hasil
Mendemonstrasikan
dengan
nyeri
status sirkulasi yang
ekstermitas
ditandai dengan:
a. Tekanan
systole
dan diastole dalam
rentang

yang

diharapkan
b. Tidak ada ortostatik
hipertensi
c. Tidak ada tandatanda

peningkatan

tekanan intracranial
(tidak lebih dari 15
mmHg)
Mendemonstrasikan
kemampuan

NIC
Peripheral

sensation

management
a. Monitor adanya daerah
tertentu yang hanya
peka

terhadap

panas/dingin/tajam/tu
mpul
b. Monitor

adanya

paretese
c. Instruksikan keluarga
untuk

mengobservasi

kulit jika ada lesi atau


laserasi
d. Gunakan

tangan untuk proteksi


e. Batasi gerakan pada
kepala,

kognitif

dan

BAB
g. Kolaborasi pemberian

analgetik
dengan jelas adn h. Monitor
dengan

kemampuan
b. Menunjukkan

sensasi
dan

orientasi
c. Memproses
informasi
d. Membuat
keputusan

dengan

benar
Menunjukkan

fungsi

sensori motori cranial

adanya

tromboplebitis
i. Diskusikan mengenai
penyebab

perhatian,
konsentrasi

leher,

punggung
f. Monitor kemampuan

yang ditandai dengan:


a. Berkomuniakasi
sesuai

sarung

perubahan

yang utuh : tingkat


kesadaran
tidak

ada

membaik,
gerakan-

gerakan involunter
6.

Kerusakan
integritas

kulit

berhubungan
dengan
imobilisasi fisik

NOC
Tissue integrity : skin
and

mucous

NIC
Pressure management
a. Anjurkan pasien untuk

menggunakan pakaian
membranes
Hemodyalisis akses
yang longgar.
Kriteria hasil
b. Hindari kerutan pada
a. Integritas
kulit
tempat tidur
yang baik bisa c. Jaga kebersihan kulit
dipertahankan

agar tetap bersih dan

(sensai, elastisitas,
temperature,
hidrasi, pigmentasi)
b. Tidak ada luka/lesi
pada kulit
c. Perfusi
jaringan
baik
d. Menunjukkan
perbaikan

kulit dan mencegah


terjadinya

cedera

berulang
e. Mampu melindungi
kulit

dan

mempertahankan
kelembaban

pasien

(ubah posisi pasien)


setiap dua jam sekali
e. Monitor kulit akan
adanya kemerahan.
f. Oleskan lotion atau
minyak/baby oil pada

pemahaman dalam
proses

kering.
d. Mobilisasi

kulit

perawatan alami

daerah yang tertekan


g. Monitor aktivitas dan
mobilisasi pasien
h. Monitor status nutrisi
pasien
i. Memandikan

pasien

dengan sabun dan air


hangat
Insision site care
a. Membersihkan,
memantau

dan

meningkatkan

proses

penyembuhan

pada

luka

yang

ditutup

dengan jahitan, klip

atau straples
b. Monitor

proses

kesembuhan area insisi


c. Monitor tanda dan
gejala

infeksi

pada

area insisi
d. Bersihkan area sekitar
jahitan atau straples,
menggunakan
kapas steril
e. Gunakan

lidi
preparat

antiseptic
program
f. Ganti balutan

sesuai
pada

interval waktu yang


sesuai
luka

atau

biarkan

tetap

terbuka

(tidak dibalut) sesuai


program
Dialysis

acces

maintenance
D. Implementasi
Pelaksanaan atau implementasi merupakan realisasi dari rangkaian dan
penetuan diagnosa keperawatan. Tahap pelaksanaan dimulai setelah
rencana tindakan disusun untuk membantu klien mencapai tujuan yang
diharapkan.
E. Evaluasi
Evaluasi yang diharapkan pada pasien fraktur disesuaikan dengan criteria
hasil yang telah ditentukan pada intervensi.

DAFTAR PUSTAKA
Anlie. 2013. Manajemen Perioperatif Pada Pasien Fraktur Multiple. (Online).
Available

https://www.scribd.com/doc/119623462/Manajemen-

Perioperatif-pada-Pasien-Fraktur-Multipel (diakses pada tanggal

Februari 2016 pukul 09.00 WIB)


Apley, A.G.,L. Solomon. 1995. Buku Ajar Ortopedi Fraktur Sistem Apley Edisi 7.
Jakarta: Widya Medika.
Baughman, Diane C.2000. Keperawatan Medikal Bedah : Buku Saku untuk
Brunner dan Suddarth.Jakarta : EGC.
Brunner dan Suddarth, 2002, Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta
Carpenito (2000), Diagnosa Keperawatan-Aplikasi pada Praktik Klinis, Ed. 6,
EGC, Jakarta
Corwin, Elizabeth J. 2010. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC.
Doenges at al (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Ed.3. Jakarta; EGC
Engram, Barbara.1998. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal-Bedah, Volume 3.
Jakarta : EGC.
Heather, Herdman. 2012. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 20122014. Jakarta: EGC.
Kusuma, Hardhi. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
Medis NANDA NIC-NOC. Yogyakarta : MediAction.
Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan, edisi 7. Jakarta:
EGC.
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006.
Jakarta:

Prima Medika

Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1 edisi 3. Jakarta: Media
Aesculapius

Denpasar, 8 Mei 2016

Mengetahui,
Pembimbing Praktik

Mahasiswa

Ni Kadek Ita Ratna Dewi


NIM. P07120014081

Mengetahui,
Pembimbing Akademik

Ns. I G A Ari Rasdini, S.Pd.,S.Kep.,M.Pd


NIP. 195910151986032001

Anda mungkin juga menyukai