Anda di halaman 1dari 8

MELTING POINT

Laporan Tetap Instrumentasi dan


Teknik Pengukuran

Kelompok 1
Kelas 3 EGC
Nama:
1. Adhi Prayogatama
2. Akhmad Hafiz Adytia
3. Cherly meigita
4. Fauzia
5. Gede marawijaya
6. Oci oktarini
7. Yunita tri andani

061440411693
061440411696
061440411698
061440412035
061440411702
061440411710
061440411716

Instruktur : Ir. Hj. Sutini Pujiastuti L, M.T.

JURUSAN TEKNIK ENERGI


2015/2016
PENENTUAN TITIK LELEH
( MELTING POINT )

I.

TUJUAN
Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa diharapkan :
Menetapkan besarnya titik leleh suatu zat padat dengan alat penentu titik leleh

II.

ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN

ALAT-ALAT YANG DIGUNAKAN


Pipa kapiler
1
Pipa gelas
1
Kaca arloji
1
Spatula
1
Alat penentu titik leleh (Digital Melting Point Apparatus)
BAHAN KIMIA YANG DIGUNAKAN

Asam Oksalat (C2H2O4.2H2O)


Asam Benzoat (C6H5COOH)

III.

DASAR TEORI

TITIK LELEH
Titik leleh adalah temperatur senyawa padat dimana benda tersebut akan berubah wujud
menjadi zat cair. Pada senyawa dengan berat molekul hampir sama, senyawa lebih polar dan
struktur molekulnya lebih simetris mempunyai titik leleh yang lebih tinggi. Titik leleh
senyawa murni ditentukan dengan pengamatan temperetur saat terjadi perubahan padatan dan
cairan. Sejumlah kecil zat padat diletakkan dalam tabung kapiler gelas dan diapanaskan
merata.Pertama diamati temperatur saat mulai terbentuk cairan kemudian temperature saat
padatan berubah menjadi cairan semua.
Rentang temperature yang tidak begitu jauh menunjukan kemurnian padatan
tersebut. Titik leleh yang ada pada literature biasanya dalam bentuk range titik leleh. Sampel
senyawa murni biasanya hanya terdiri atas satu bentuk kristal dan meleleh pada temperature
dengan range kurang dari 1oC. Besar daerah titik leleh atau range lebih 1oC menunjukan
adanya pengotor. Campuran zat padat pada umumnya menunjukkan daerah titik leleh teoritis
pada asam asetat adalah 101,5oC.

Titik lebur juga diartikan sebagai keadaan dimana terjadi keseimbangan antara fase
padat dengan fase lainnya pada suatu zat.
Suhu lebur adalah suhu pada saat suatu zat tepat melebur seluruhnya yang ditujukan pada
fase padat tepat hilang.

Menurut farmakope Indonesia III , jarak lebur adalah suhu awal dan suhu akhir
peleburan zat. Suhu awal dicatat apda saat zat mulai menciut atau membentuk tetesan pada
pipa kapiler, suhu akhir dicatat pada saat hilangnya fase padat.
Panas yang diabsorbsi ketika 1 g padatan meleleh atau panas yang dilepaskan ketika
cairan itu membeku dikenal sebagai panas peleburan. Pana sopeleburan dapat juga dianggap
nsebagai panas yang dibutuhkan untuk menaikkan jarak antar atom atau jarak antar molekul
dalam Kristal sehingga memungkinkan terjadinya pelelehan. Suatu kristal yang terikat
dengan gaya yang lemah mempunyai panas peleburan yang rendah dan titik leleh yang
rendah. Sedangkan yang terikat dengan gaya yang kuat mempunyai panas peleburan dan titik
didih yang tinggi.
Panas peleburan untuk air pada 0 C adalah 80 kal/g (1436 kal/mol). Panas peleburan
tidak memberikan penambahan temperature, sampai seluruh suhu padatang hilang kerena
panas ini diubah lagi menjadi energy molekul yang potensial untuk mengubah seluruh
padatan menjadi cairan.
Tinggi rendahnya suhu lebur pada suatu zat pada t dipengaruhi oleh bentuk zat padat
tersebut. Sremakin kuat ikatan yang dibentuk, semakin besar energy yang diperlukan untuk
memutuskannya. Dengan kata lainsemakin tinggi pula titik lebur unsur tersebut.
Perbedaan titik lebur antara senyawa-senyawa pada golongan yang sama dapat dijelaskan
dengan keelektronegatifan unsur-unsur pembentuk senyawa tersebut. Elektronegativitas
adalah kecenderungan suatu unsur unutk menarik electron, karena unsur-unsur pembentuknya
mempunyai elektronegativitas yang berbeda yang manjadikan senyawa terpolarisasi.
Semakin besar perbedaan elektronegativitas unsur-unsur pembentuk senyawa, semakin kuat
ikatan unsur dalam senyawa itu. Semakin kuat ikatan senyawa semakin tinggi ikatan titik
lebur itu.
Pada suatu padatan dengan bentuk Kristal dan ikatan kovalen, maka akan memiliki suhu
lebur yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan padatan yang lain dengan iukatan van der
walls walaupun terdiri dari unsur yang sama.
Suhu lebur zat padat adalah suhu pada saat zat padat menyatu dan melebur sempurna.
Suatu zat dikatakan murni apabila titik lebur yang diperoleh dari percobaan sama dengan
yang ada dalam literature. Tetapi bila zat itu tidak murni atau terdapat campuran, maka ikatan
molekulnya semakin kecil dan ikatannya mudah lepas, sehingga tidak leburnya akan lebih
kecil dari zat murni.
Prinsip kerja dari titik lebur terletak pada penetapan pemberian energy panasnya. Titik
lebur bersifat karakteristiky yang digunakan untuk sifat fisika dari suatu zat. Karakteristik
suatu zat berbeda denga yang lain. Perbedaan tersebuh dilihat dalam hal kekuatan antar
molekul. Kekuatan antar molekul berbeda dengan struktur kimia dan molekul atom atau
molekul unsurnya berbeda.
Dalam bidang farmasi suatu senyawa obat murni dapat ditentukan kemurniannya dengan
jalan penentuan titik leburnya. Selain itu, penentuan titik lebur dari bahan suatu obat juga
digunakan dalam pembuatan sediaan obat, terutama obat yang diberikan melalui raktal, dan
diperlukan dalam cara penyimpanan suatu sediaan obat agar tidak mudah rusak pada suhu
kamar tertentu.

Alat yang digunakan untuk menentukan titik lebur suatu zat adalah melting point
apparatus.
Prinsip kerja dari pada melting point apparatus adalah pertama menyalakan melkting
point dengan memutar pemutar suhu 20 oC permenit. Kedua, ketika suhu pada thermometer
mencapai 60oC dari titiik lebur atau titik leleh pada suatu senyawa murni yang telah
ditetapkan oleh ilmuan , maka pemutar suhunya harus diturunkan hingga mencapai 10 oC per
menit. Ketiga, jika suhunya telah mencapai suhu titik lebur atau titik pada suatu senyawa
murni yang telah ditetapkan oleh ilmuan, maka pada pemutar suhu harus diputar kekiri
hingga 1oC per menit.
IV.

CARA KERJA

PREPARASI SAMPEL
1. Sampel yang akan ditentukan titik lelehnya harus benar-benar kering, homogen
dalam bentuk bubuk.
2. Sampel lembab harus dikeringkan dan disimpan dalam desikator selama 24 jam.
3. Sampel kasar crystaline dan sampel nonhomogen digiling dan dihaluskan dengan
mortar.
4. Memasukan sampel dalam pipa kapiler dari bagian atas pipa sambil ditekan pelan.
5. Tinggi sampel dalam tabung kapiler 4-6 mm atau diukur ketinggian sampel
sampai tanda batas alat.
PENENTUAN MELTING POINT
1. Menghidupkan alat atau pada posisi on.
2. Memilih menu melting point dengan memutar knop.
3. Menekan method dan kemudian menekan edit.
4. Memasukan harga temp. 95C dengan memutar tombol knop.
5. Menekan next,memasukan harga stop 105C dengan memutar tombol knop,
menekan tombol next.
6. Memasukan temperatur gradian atau kenaikan temperatur 0,5C / menit dengan
memutar tombol knop.
7. Menekan tombol save.
8. Memasukan pipa kapiler berisi sampel pada tempatnya.
9. Mengamati perubahan yang terjadi.

V.

DATA PENGAMATAN


N
o
1
2

VI.

SAMPEL
ASAM OKSALAT
ASAM BENZOAT

Kenaikan temperatur
(C/menit)
1
1

PERHITUNGAN
SAMPEL ASAM OKSALAT
KESALAHAN =

TEORI PRAKTEK
100
TEORI

106 105,3
100
106

= 0,66 %
SAMPEL ASAM BENZOAT
KESALAHAN =

TEORI PRAKTEK
100
TEORI

123 122,8
100
123

= 0,16 %

Set 1

Set 2

Set 3

103,3
121,4

103,6
122

105,3
122,8

VII.

ANALISA PERCOBAAN

Pada percobaan kali ini yaitu penentuan titik leleh dan titik nyala dimana bahan yang
digunakan untuk penentuan titik leleh umumnya berupa padatan, Adapun bahan yang
digunakan pada percobaan kali ini adalah asam benzoat dan asam oksalat untuk penentuan
titik leleh.
Pada penentuan titik leleh harus memperhatikan penempatan senyawa dalam pipa kapiler.
Senyawa/sampel dimasukkan dalam pipa kapiler dengan salah satu ujungnya ditutup dengan
cara dibakar. Mengupayakan agar sampel dalam pipa kapiler tidak terdapat ruang
kosong/udara, harus dipadatkan dengan cara menjatuhkan pipa kapiler ke dalam pipa gelas
secara berulang-ulang. Kecepatan pemanasan diatur pada range 2-3 dan suhu diatur sesuai
dengan yang dianalisis. Titik leleh dapat dilihat dari proses mencairnya padatan, namun hal
yang perlu diperhatikan adalah tetesan pertama karena tetesan pertama dari zat tersebut
merupakan suhu titik lelehnya.

VIII.

KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan :
1. Titik leleh adalah suhu dimana suatu padatan berubah menjadi cair, sedangkan titik nyala
adalah suhu terendah dari suatu larutan dimana akan timbul penyalaan api sesaat, apabila
permukaan larutan tersebut didekatkan nyala api.
Untuk titik leleh :
2. Asam oksalat, titik lelehnya 105,3oC dengan %kesalahan 0,66 %
3. Asam benzoat, titik lelehnya 122,8oC dengan %kesalahan 0,16 %

DAFTAR PUSTAKA

http://www.wikipedia.org
Tim Lab. Instrumentasi dan teknik pengukuran.Penuntun Praktikum Kimia
Fisika.Politeknik Negeri Sriwijaya : Palembang.

GAMBAR ALAT

SEPERANGKAT ALAT MELTING POINT