Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Rumah pemotongan hewan merupakan suatu komplek bangunan dengan desain dan
syarat tertentu yang digunakan sebagai tempat pemotongan hewan bagi konsumsi masyarakat
luas. Rumah Pemotongan Hewan didirikan oleh Kolonial Belanda pada tahun 1927 dengan
nama Abbatoir / Slach Plats dan dikelola oleh Goemente Sourabaia. Selanjutnya pada tahun
1948 berganti nama menjadi Slach Plats/ Pembantaian dengan pengelola Gedegeer Recomba
karesidenan Sourabaia. Pada tahun 1955 bernama Pembantaian dan dikelola oleh Pemerintah
Kota Besar Sourabaia. Tahun 1969 bernama Pemerintah Dinas Pembantaian dikelola oleh
Kota Praja Surabaya. Tahun 1982 sampai pada saat ini berdasarkan Perda No. 11 Tahun 1982
menjadi Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan yang merupakan salah satu BUMD
Pemerintah Kota Surabaya.
Daging merupakan bahan pangan asal ternak yang dibutuhkan oleh manusia karena
memiliki nilai gizi yang tinggi dan mengandung asam amino esensial yang diperlukan untuk
pertumbuhan sel- sel baru, pergantian sel-sel rusak serta diperlukan bagi metabolisme tubuh.
Untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan bagi masyarakat, daging harus memenuhi aspek
kuantitatif, aspek kualitatif (nilai gizi), aspek kesehatan (syarat-syarat hygiene) dan aspek
kehalalan, sehingga diperoleh produk yang aman, sehat, utuh dan halal (ASUH).
Mengingat beberapa permasalahan tersebut diatas maka setiap kegiatan yang bergerak
dan berhubungan dengan penanganan daging harus dilaksanakan dengan memenuhi
persyaratan kesehatan masyarakat. Sehingga masyarakat (konsumen daging) akan dapat
memperoleh manfaat dan nilai kelebihan akan gizinya serta sekaligus dapat terhindar dari
penularan penyakit.
Rumah pemotongan hewan (RPH) sebagai sarana pelayanan terhadap masyarakat,
khususnya jasa pelayanan pemotongan dan pemeriksaan kesehatan hewan dan daging, RPH
Kota Surabaya berfungsi pula sebagai unit penghasil pendapatan asli daerah (PAD). Untuk
dapat meningkatkan PAD RPH Kota Surabaya, selain tempat pelayanan yang memadai
dituntut pula jasa pelayanan yang prima dan profesional dari aparatur.
Di dalam pemotongan hewan terutama daging sapi dilakukan pengembangan usaha,
seperti : bakso, burger, siomay, gorengan, abon daging sapi, kroket dan tahu dari hasil
pemotongan, hewan sapi yang prospektif umtuk cara bisnis.

Bakso di Perusahaan Daerah RPH Kota Surabaya merupakan salah satu produk hasil
pengolahan daging sapi. Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan bakso adalah daging
sapi, tepung tapioka, dan bumbu-bumbu yaitu : garam, msg dan bawang putih.
Proses pengolahan bakso sapi di Perusahaan Rumah Potong Hewan Kota Surabaya
daging yang diperoleh dari hasil pemotongan daging sapi yang lebih segar dibandingkan
dengan daging sapi yang berada di pasaran dan aman bagi kesehatan konsumen yang akan
mengkonsumsinya, yang tahap pemeriksaan melewati dokter hewan. Dan konsumen yang
telah membelinya terjamin akan keamanan pangan dengan harga yang terjangkau dan produk
bakso sapinya terasa khas daging sapi tersebut.
I.2 Tujuan
Pelaksanaan tugas Legislasi Pangan di Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan
Kota Surabaya bertujuan untuk :
a. Mengetahui tugas pokok dan fungsi di Perusahaan Daerah Rumah Potong
Hewan Kota Surabaya
b. Mengetahui struktur organisasi di Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan
Kota Surabaya
c. Mengetahui sifat dan tujuan di Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan
Kota Surabaya
d. Mengetahui dasar hukum yang diterapkan di Perusahaan Daerah Rumah
Potong Hewan Kota Surabaya
e. Menegetahui program kerja di Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan Kota
Surabaya
I.3 Rumusan Masalah
a. Bagaimana sanitasi pada pembuatan bakso sapi di Perusahaan Daerah Rumah Potong
Hewan Kota Surabaya?
b. Bagaimana pengendalian IPAL di Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan Kota
Surabaya?
c. Bagaimana standarsisasi di Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan Kota
Surabaya?

BAB II
RUANG LINGKUP PERUSAHAAN DAERAH
RUMAH POTONG HEWAN KOTA SURABAYA
2

2.1 Tugas pokok dan fungsi


2.1.1 Tugas pokok

Memberikan pelayanan kepada masyarakat terhadap kebutuhan daging sehat,


segar dan hygienis serta halal.

Sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan sumber Pendapatan Asli Daerah
dan sebagai sarana pembangunan perekonomian dalam rangka pembangunan
Daerah khususnya dan pembangunan Nasional pada umumnya.

2.1.2 Fungsi

Perencanaan segala usaha untuk kepentingan pengembangan Perusahaan


Daerah.

Pelaksanaan pemungutan retribusi pemotongan hewan dan lainnya yang sah


dengan ketentuan yang berlaku, pembangunan dan pemeliharaan sarana dan
prasarana yang ada dalam kewenangan Perusahaan Daerah.

Pembinaan, bimbingan dan penyuluhan terhadap kegiatan para pemakai jasa


Rumah Potong Hewan.

Koordinasi baik keluar maupun kedalam dalam mewujudkan tujuan


Perusahaan Daerah.

Pengawasan teknis sesuai dengan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Kepala


Daerah / Badan Pengawas serta Peraturan Perundangan yang berlaku.

2.2 Struktur Organisasi


Struktur Organisasi Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan dibentuk
berdasarkan Peraturan Walikota No. 31 Tahun 2010 tanggal 18 Mei 2010.
Status kepegawaian di PD RPH terdiri dari :
- Direksi

: 3

Orang

- Pegawai Negeri Sipil

Orang

- Pegawai Perusahaan Daerah

: 84

Orang

- Tenaga Kontrak

: 6

Orang

: 93

Orang

Jumlah Pegawai
2.3 Sifat dan Tujuan

Berdasarkan Perda No. 11 Tahun 1982, Perusahaan Daerah Rumah Potong


Hewan :

a. Bersifat memberi jasa dan menyelenggarakan kemanfaatan umum serta memupuk


Pendapatan Daerah.
b. Memiliki tujuan, yaitu :
1.

Memberikan pelayanan kepada masyarakat terhadap kebutuhan daging


yang hygienis dari hasil pemotongan hewan-hewan yang sehat dan tidak
berpenyakit menular.

2.

Melaksanakan pembangunan daerah khususnya dan pembangunan


perekonomian nasional pada umumnya dalam rangka meningkatkan
kesejahteraan dan memenuhi kebutuhan rakyat menuju masyarakat adil dan
makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

2.4 Program kerja


a. Bidang Operasional:
Peningkatan mutu produk
Peningkatan mutu layanan.
Revitalisasi Rumah Potong Hewan (RPH)
Peningkatan pengendalian pencemaran lingkungan
b. Bidang Keuangan :
Intensifikasi dan skstensifikasi pendapatan.
Peningkatan efektifitas pengawasan internal
Peningkatan tata kelola perusahaan yang sehat (GCG)
Peningkatan efektifitas anggaran.
c. Bidang Pemasaran dan Pengembangan :

Mengoptimalkan nilai asset perusahaan

Diversikasi produk/ layanan

Pengembangan kerjasama usaha.

Akselerasi sinergi dengan instansi pemerintah.

d. Bidang Sumber Daya Manusia :

Menghentikan sementara atau monitorium penerimaan pegawai.

Transfortasi budaya kerja.

Pendidikan dan pelatihan berkelanjutan.

Pengembangan perfotmance management.

e. Bidang Umum :

Pengadaan fasilitas produksi.

Melakukan inventarisasi asset perusahaan dan status


kepemilikannya.

Penyempurnaan RAPERDA.

Melakukan perawatan dan perbaikan asset perusahaan secara


periodic dan konsisten.

2.5 Dasar hukum


2.4 Dasar hukum berdirinya Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan adalah
UU No. 5 tahun 1962 jo UU No. 2 tahun 1965 tentang Perusahaan Daerah.
2.5

UU No. 5 tahun 1974 tentang Pokok dan Pemerintahan di Daerah.

2.6 Perda No. 11 tahun 1982 tentang Pembentukan Perusahaan Daerah Rumah
Potong Hewan Kotamadya Surabaya,
2.7 Perda No. 8 tahun 1987 tentang Ketentuan Pokok Badan Pengawas Direksi
dan Kepegawaian Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan Kotamadya
Surabaya,
2.8 Perda No. 5 tahun 1988 tentang Perubahan Pertama Perda Kotamadya
Surabaya No. 11 tahun 1982 tentang Pembentukan Perusahaan Daerah
Rumah Potong Hewan Kotamadya Surabaya.
2.9 Surat Walikota No. 900/640/402.02.01/1999 tentang Pelaksanaan
Pengembangan Usaha PD RPH Kota Surabaya

2.10

Peraturan Walikota No. 31 Tahun 2010 tanggal 18 Mei 2010 tentang

Struktur Organisasi dan Tata Kerja PD RPH Kota Surabaya

BAB III
SANITASI PADA PEMBUATAN BAKSO SAPI DI
PERUSAHAAN DAERAH RUMAH POTONG HEWAN KOTA SURABAYA
3.1 Sanitasi lingkungan proses pengolahan bakso sapi
Lingkungan proses pengolahan bakso sapi merupakan tempat pusat kegiatan proses
produksi. Sanitasi lingkungan proses pengolahan bakso sapi perlu diperhatikan, faktor yang
berkaitan dengan masalah tersebut adalah lokasi dan konstruksi bangunan yang menentukan
aman atau tidaknya produk yang dipengaruhi oleh kondisi lokasi dan bangunan
(kebersihannya dan keamanannya).
3.2 Sanitasi bahan baku
Sanitasi terhadap bahan baku di perusahaan daerah rumah potong hewan kota
surabaya yang dilakukan dari awal yaitu datangnya bahan baku dari daging sapi sampai
proses pengolahan. Daging sapi yang diterima selalu diteliti. Cara pelaksanaannya adalah
dengan melihat secara langsung daging sapi dengan membau dan memegang daging sapi
6

tersebut. Daging sapi dikatakan segar dan baik jika tidak terjadi perubahan warna, bau dan
tekstur. Untuk mengantisipasi bila daging sapi tersebut terkena penyakit atau bakteri yang
merugikan kesehatan tubuh dan lain lainnya yang dapat terjadi kontaminasi.
3.3 Sanitasi air
Air merupakan bahan yang dibutuhkan untuk pembentukan adonan dalam pembuatan
bakso sapi di perusahaan daerah rumah potong hewan kota surabaya, tetapi sangat vital dan
besar peranannya. Air sangat penting yang dikarenakan selama proses produksi yang
berlangsung air selalu digunakan baik untuk mancampurkan adonan seperti tepung tapioka,
garam, msg, daging dan bawang putih serta membersihkan mesin peralatan untuk kesehatan
dan keamanan serta memenuhi kebutuhan pegawai dan tenaga kerja yang tidak berhubungan
langsung maka tidak dilakukan pengolahan khusus.

3.4 Sanitasi mesin dan peralatan


Sanitasi semua mesin dan peralatan produksi bakso sapi di perusahaan daerah rumah
potong hewan kota surabaya sangat penting yang dikarenakan kontak langsung dengan bahan
pangan. Hal ini untuk mencegah terjadinya kontaminasi atau kerusakan pada bahan pangan
saat proses produksi berlangsung. Bagian bahan pangan yang tertinggal pada mesin peralatan
pengolahan dapat menjadi sumber kontaminasi dan kerusakan bahan pangan, apabila
tertinggal dalam waktu cukup lama maka akan menjadi media yang baik untuk pertumbuhan
mikrooragnisme perusak dan pathogen yang merugikan bagi kesehatan tubuh. Bahan bahan
sanitasi yang baik adalah air panas, uap bertekanan tinggi dan lain lainnya. Pembersihan
mesin dan peralatan sebelum dan sesudah segera secepatnya dibersihkan. Pada perusahaan
daerah rumah potong hewan kota surabaya, mesin peralatan sebelumnya dilakukan
pengecekan agar bahan yang diproses dapat dikendalikan, setelah proses produksi mesin
peralatan dibersihkan secara manual dengan deterjen biasa.
3.5 Sanitasi pekerja

Kesehatan dan kebersihan pekerja sangat penting dalam proses produksi bakso,
sehingga setiap pekerja di perusahaan daerah rumah potong hewan kota surabaya
diwajibakan membersihkan tangan sebelum dan sesudah bekerja agar terjaga keamanannya
tersebut.
3.6 Dasar hukum
Peraturan pemerintah nomor 28 tahun 2004 tentang keamanan, mutu dan gizi pangan
Peraturan daerah kabupaten belitung timur nomor 11 tahun 2012 tentang
penyelenggaraan higiene sanitasi makanan dan minuman di tempat pengolahan
makanan
Keputusan menteri kesehatan republik indonesia nomor 715/menkes/sk/v/2003
tentang persyaratan higiene sanitasi jasaboga

BAB IV
PENGENDALIAN IPAL DI PERUSAHAAN DAERAH RUMAH POTONG HEWAN
KOTA SURABAYA
Perusahaan telah membangun IPAL di RPH Pegirian, agar tidak mengganggu
lingkungan sekitar, memiliki kapasitas terpasang sekitar 250-300 meter kubik limbah per
hari, dan saat ini mengolah 60 meter kubik limbah penyembelihan setiap hari.
Proses pengolahan air limbah pada RPH menggunakan sistem biofilter anaerob-aerob.
Seluruh air yang berasal dari kegiatan RPH dialirkan melalui saluran pembuang dan
dilewatkan melalui saringan kasar untuk menyaring sampah yang berukuran besar (bulu
hewan, daun, kertas). Setelah melalui saringan, air limbah dialirkan ke bak pembersih lemak
atau minyak. Bak pemisah lemak tersebut berfungsi untuk memisahkan lemak atau minyak
yang berasal dari kegiatan pemotongan hewan, serta untuk memngendapkan kotoran pasir,
tanah atau senyawa padatan yang tak dapat terurai secara biologis. Selanjutnya limpasan dari

bak pemisah lemak dialirkan kebak ekualisasi yang berfungsi sebagai bak penampung limbah
dan bak kontrol aliran. Air limbah di dalam bak ekualisasi selanjutnya dipompa keunit IPAL.
Di dalam unit IPAL tersebut, pertama air limbah dialirkan masukke bak pengendap
awal, untukmengendapkan partikel lumpur, pasir dan kotoran organik tersuspesi. Selain
sebagai bak pengendapan, juga berfungasi sebagai bak pengurai senyawa organik yang
berbentuk padatan, sludge digestion (pengurai lumpur) dan penampung lumpur. Air limpasan
dari bak pengendap awal selanjutnya dialirkan ke bak kontaktor anaerob dengan arah aliran
dari atas ke bawah, dan dari bawah ke atas. Di dalam bak kontaktor anaerob tersebut diisi
dengan media dari bahan plastik tipe sarang tawon. Jumlah bak kontaktor anaerob terdiri dari
dua buah ruangan. Penguraian zat-zat organik yang ada dalam air limbah dilakukan oleh
bakteri anaerobik atau facultatif aerobik.Setelah beberapa hari operasi, pada permukaan
media filter akan tumbuh lapisan film mikro-organisme. Mikro-organisme inilah yang akan
menguraikan zat organik yang belum sempat terurai pada bak pengendap.
Air limpasan dari bak kontaktor anaerob dialirkan ke bak kontaktor aerob. Di dalam
bak kontaktor aerob ini diisi dengan media dari bahan pasltik tipe rarang tawon, sambil
diaerasi atau dihembus dengan udara sehingga mikro organisme yang ada akan menguraikan
zat organik yang ada dalam air limbah serta tumbuh dan menempel pada permukaan media.
Dengan demikian air limbah akan kontak dengan mikro-orgainisme yang tersuspensi dalam
air maupun yang menempel pada permukaan media yang mana hal tersebut dapat
meningkatkan efisiensi penguraian zat organik,deterjen serta mempercepat proses nitrifikasi,
sehingga efisiensi penghilangan ammonia menjadi lebih besar. Proses ini sering di namakan
Aerasi Kontak (Contact Aeration).
Dari Bak aerasi, air dialirkan ke bak pengendap akhir. Di dalam bak ini lumpur aktif
yang mengandung massa mikro-organisme diendapkan dan dipompa kembali ke bagian inlet
bak aerasi dengan pompa sirkulasi lumpur. Sedangkan air limpasan (over flow) dialirkan ke
bak khlorinasi. Di dalam bak kontaktor khlor ini air limbah dikontakkan dengan senyawa
khlor untukmembunuh micro-organisme patogen. Air olahan, yakni air yang ke luar setelah
proses khlorinasi dapat langsung dibuang ke sungai atau saluran umum. Dengan kombinasi
proses anaerob dan aerob tersebut selain dapat menurunkan zat organik(BOD, COD),
ammonia, padatan tersuspensi (SS), phospat dan lainnya. Skema proses pengolahan air
limbah rumah potong hewan dengan sistem biofilter anaerob-aerob dapat dilihat pada
gambar.

DASAR HUKUM
Peraturan pemerintah republik indonesia no. 82 tahun 2001 dinyatakan bahwa
instalasi pengolahan air limbah (IPAL) sangat diperlukan dalam upaya menurunkan
kadar parameter pencemar dalam limbah, agar diperoleh limbah cair dengan kualitas
baik dan memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan.
Peraturan daerah provinsi jawa tengah nomor 5 tahun 2007 tentang pengendalian
lingkungan hidup di provinsi jawa tengah. Pasal 22 ayat (1): setiap usaha dan/atau
kegiatan yang membuang air limbah wajib : a. memiliki izin pembaunagan air limbah,
b. Mengolah semua air limbah dan membuang sesuai dengan baku mutu yang
dipersyaratkan, c. Melaporkan hasil pengolahan air limbah meliputi debit, kadar dan
beban pencemaran secara berkala paling lama satu bulan sekali kepada gubernur dan
bupati/walikota, d. Memiliki unit organisasi yang berfungsi dalam penangan
pengelolaan lingkungan hidup, e. Mamiliki manajer lingkungan dan tenaga operator
instalasi pengelolaan air limbahyang bersertifikat.

10

KepMen LH nomor 112 tahun 2003 tentang baku mutu air limbah bagi usaha dan
kegiatan domestik
KepMen LH nomor 142 tahun 2003 tentang perubahan atas KepMen nomor 111 tahun
2003 tentang pedoman mengenai syarat dan tata cara perizinan serta pedoman kajian
pembuangan air limbah ke air atau sumber air
Peraturan walikota kota metro nomor 07 tahun 2012 tentang izin pengolahan limbah
cair

BAB V
STANDARDISASI DI PERUSAHAAN DAERAH RUMAH POTONG HEWAN
KOTA SURABAYA
5.1 Persyaratan dan Unit Penanganan
Pada SNI tentang rumah potong hewan No. 01-6159-1999 dan Peraturan Menteri Pertanian
No. 13/Permentan/OT.140/1/2010 tentang Persyaratan Rumah Potong HewanRuminansia dan
11

Unit Penanganan Daging diatur beberapa persayaratan yang harusdipenuhi oleh sebuah
rumah potong hewan, persyaratan tersebut mengatur mengenai
1. Persyaratan lokasi :
a) Tidak bertentangan dengan rencana umum tata ruang dan rencana detail tata
ruang wilayah
b) Tidak berada ditengah kota, letak lebih rendah dari pemukiman penduduk
c) Tidak berada dekat industri logam atau kimia serta daerah rawan banjir
d) Lahan luas
2. Persyaratan sarana : Jalan yang baik, cukup sumber air dan tenaga listrik yang cukup.
3. Persyaratan bangunan dan tata letak bangunan yang harus ada antara lain :Kandang
istirahat , Kandang isolasi , Kantor administrasi dan kantor dokter hewan,Tempat
istirahat karyawan, kantin dan mushala, Tempat penyimpanan barang pribadi/ruang
ganti pakaian, Kamar mandi, Sarana pengolahan limbah, Incinerator,Tempat parker,
Rumah jaga dan Menara air
4. Persyaratan peralatan
a) Semua alat terbuat dari bahan yang mudah korosif dan mudah dibersihkan
b) Alat yang langsung bersentuhan dengan daging tidak bersifta toksis
c) Dilengkapi dengan system rel dan alat penggantung karkas
d) Dilengkapi sarana desinfektan. Dilengkapi peralatan khusus karyawan
5. Persyaratan karyawan dan perusahaan
a) Setiap karyawan harus sehat dan diperiksa kesehatannya min 1 x setahun
b) Karyawan mendapat pelatihan tentang hygiene dan mutuKaryawan daerah
kotor dan bersih dipisah
6. Pengawasan kesmavet
a) Diberlakukan pemeriksaan antemortem dan postmortem
b) Memiliki tenaga dokter hewan
7. Kendaraan pengangkut daging : dengan menggunakan box tertutup yang
8.
9.
10.
11.

dilengkapialat pendingin dan alat penggantung karkas.


Persyaratan ruang pendinginan/pelayuan ; bersih, cukup cahaya, sanitasi lancar
Persyaratan pembekuan; bersih, cukup cahaya, sanitasi lancar
Persyaratan ruang pembagian karkas dan pengemasan daging
Persyaratan laboratorium.

Selain beberapa persyaratan tersebut di atas, bangunan induk RPH harusmengacu pada
Standar internasional dan meliputi :
1. Bangunan Utama terdiri atas: Rumah Pemotongan ( slaughter house ), Kandang
Penampungan Sementara ( lairage ), Karantina ( quarantine ), Tempat PenurunanSapi
( cattle ramp ), Ruang Pembakaran ( incenerator ), Rumah Diesel (power house ),
Pengolaha Limbah Cair ( waste water treatment ), Perkantoran (office ),Laboratorium
( laboratory ) dan gang-gang disekitar RPH ( gangway)

12

2. Bangunan Pendukung terdiri atas: Gudang ( workshop ), Garasi ( garage), Pos Jaga
( guard house ), Perumahan ( housing ), Kantin (canteen), Ruang Istirahat( rest room )
dan Tempat Ibadah (prayer place)
3. Infrastruktur terdiri atas :Jalan-jalan dan Areal Parkir (roads and parking ), Tower
Tempat Air ( water plant ) dan Pagar/Tembok Pembatas (yard fencing )
5.2 Penyembelihan Hewan
a) PEMOTONGAN SAPI
1. Hewan diistirahatkan di kandang penampungan selama 12 Jam.
2. Dilakukan pemeriksaan ANTE MORTEM oleh petugas pemeriksaan daging dari
Dinas PKPPK, termasuk pemeriksaan sapi betina produktif ( butuh waktu 15 menit )
3. Kemudian dilaksanakan penyembelian secara Islami oleh Modin, diteruskan dengan
penyelesaian pemotongan oleh pekerja dari jagal. ( membutuhkan waktu 30 menit )
4. Dilakukan pemeriksaan POST MORTEM oleh juru periksa daging. Apabila ada
bagian daging yang menunjukkan kelainan ( patalogis ) maka bagian tersebut diafkir.
( membutuhkan waktu 30 menit )
5. Setelah pemeriksaan selesai daging diberi Stempel yang menyatakan bahwa daging
tersebut baik dan layak dikonsumsi / dipasarkan.

b)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

PEMOTONGAN BABI
Babi diistirahatkan dikandang
Dilakukan pemeriksaan ANTE MORTEM
Babi dipingsankan dengan elektonik/ listrik.
Leher ditusuk dengan pisau sehingga darah mengalir dan babi tersebut mati,
Babi dimasukan kedalam bak air panas untuk mempermudah pengerokan bulu.
Dilakukan pembelahan karkas dan pengeluaran jerohan.
Dilakukan pemeriksaan POST MORTEM oleh juru periksa daging. Apabila ada

bagian daging yang menunjukkan kelainan ( patalogis ) maka bagian tersebut diafkir.
8. Setelah pemeriksaan selesai daging diberi Stempel yang menyatakan bahwa daging
tersebut baik dan layak dikonsumsi / dipasarkan.
c) PEMOTONGAN KAMBING
1. Kambing diistirahatkan dahulu di kandang.
2. Dilakukan pemeriksaan ANTE MORTEM oleh petugas pemeriksaan daging dari
Dinas PKPPK,
3. Kemudian dilaksanakan penyembelian secara Islami oleh Modin, diteruskan dengan
penyelesaian pemotongan oleh pekerja dari jagal
4. Dilakukan pemeriksaan POST MORTEM oleh juru periksa daging. Apabila ada
bagian daging yang menunjukkan kelainan ( patalogis ) maka bagian tersebut diafkir.
13

5. Setelah pemeriksaan selesai daging diberi Stempel yang menyatakan bahwa daging
tersebut baik dan layak dikonsumsi / dipasarkan.
DASAR HUKUM
PermenPAN nomor: PER/ 21/M.PAN/11/2008 tentang Pedoman Penyusunan Standar
Operasional Prosedur Administrasi Pemerintahan\
Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 52 tahun 2011 tentang standar operasional
prosedur

BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Bahwa di Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan Kota Surabaya telah menerapkan
IPAL dengan cukup baik. Dalam penyembelihan atau pemotongan hewan telah
menerapkan SOP (STANDART OPERASIONAL PROSEDUR) dengan cukup baik. Dalam
sanitasi kurangnya kesadaran dan penerapan di lapangan, akan tetapi pihak RPH telah
berusaha dengan baik dalam menjaga sanitasi dan keamanan dalam penyembelihan
maupun pembuatan bakso sapi.
6.2 Saran
Diharapkan sanitasi lingkungan (bercecernya darah) dapat ditindaklanjuti supaya
tidak mempengaruh hasil produk yang akan di produksi

14

LAMPIRAN

15

16