Anda di halaman 1dari 7

PRAK T I K U M V

Topik

Kerapatan dan Pola Penyebaran Cacing Tanah

Tujuan

Untuk mengetahui kerapatan dan pola distribusi populasi


cacing tanah

Hari / Tanggal

Senin - Jumat / 15 Maret 2010 - 19 Maret 2010

Tempat

Desa Gedambaan Kabupaten Kota baru.

1.

ALAT DAN BAHAN


A. Alat
1. Meteran
2. Patok
3. Kertas label
4. Kantung plastik
5. DO meter
6. pH meter
7. Penggali tanah
B. Bahan
1. Spesies cacing

2.

CARA KERJA
3. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
4. Menentukan lokasi dengan luas kuadran 30 x 30 cm.
5. Menggali tanah dengan alat penggali sampai kedalaman 30 cm.
6. Mengambil cacing tanah pada lokasi tersebut.
7. Mengukur pH, suhu tanah, suhu lingkungan, serta kelembaban tanah.
8. Memisahkan cacing tanah tersebut berdasarkan jenisnya.
9. Membersihkan atau mencuci dengan air cacing tanah tersebut.
10. Memasukkan data pengamatan dalam tabel pengamatan

11.

TEORI DASAR
Bagi kalangan masyarakat cacing tanah bukanlah merupakan
hewan yang asing. Hewan ini kadang-kadang menjijikkan dan merupakan
penghuni tanah pekarangan, sawah, tegal, hutan dan tanah lainnya. Dlihat
secara mikroskopis cacing tanah tampak lunak dan lemah, namun dibalik itu
dia memilik peranan yang cukup penting dalam proses pembentukan tanah
(Sutejo & Kartasapoetro, 1991).
Menurut Fenton (1947) dalam Odum (1993) struktur komunitas
tanah dibedakan dalam 3 kelompok ukuran yang dikenal yaitu:
1) Mirkobiota, meliputi alga tanah, bakteri, jamur dan protozoa.
2) Mesobiota, meliputi Nematoda, Oligochaeta dan larva serangga.
3) Makrobiota,

meliputi

serangga

yanag

lebih

besar, cacing

tanah

(Lumbricidae) dan organisme yang mudah dipilih dengan termasuk tikus


tanah.
Cacing tanah yang menyamai nematoda-nematoda dalam tanah
terutama yang banyak dalam tanah mineral, terutama tanah liat berkapur, di
mana dapat mencapai kepadatan lebih 30 ekor per meter. Di samping itu cacing
tanah terdapat melimpah dalam tekstur halus dengan kandungan organik yanag
tinggi. Cacing tanah yang hanya sedikit terdapat dalam tanah berpasir dan
rendah kandungan organiknya. Walaupun demikian jumlah dan aktivitas cacing
tanah sangat besar dari lokaasi ke lokasi yang lainnya seperti halnya organisme
tanah lainnya. Bentuk-bentuk gundukan tanah menggambarkan banyaknya
cacing tanah.
Pada bentuk morfologi cacing tanah mempunyai alat bantu yaitu
seta. Seluruh tubuh cacing tanah dilapisis lendir yang dihasilkan oleh kelenjar
epidermis. Lendir tersebut berfungsi untuk mempertahankan dir idari musuhmusuhnya.
Tubuh cacing tanah mudah teradaptaasi dengan lngkungannya, sebab
struktur

organ-organ

yanga

adimilikinya

sangat

sederhana.

Untuk

pergerakkannya cacing tanah menggunakan otot badannya. Pada bagian depan

tubuhnya terdapat mulut yanag dilengkapi bentuk bibir yang disebut protomium
yang berfungsi untuk menembus tanah.

IV. HASIL PENGAMATAN


Tabel hasil pengamatan kerapatan dan pola penyebaran cacing tanah
No.
1.
2.

individu dalam plot


1
2
3
6
7
8
6
2

Nama spesies
Tubifex sp
Lumbricus sp
Jumlah

Jumlah

Jumlah

individu
21
8
29

cuplikan
3
2

Tabel perhitungan kerapatan dan pola penyebaran cacing tanah


No.
1
2

Nama spesies
Tubifex sp
Lumbricus sp
Jumlah

Ind Cup
21
3
8
2
29

KR

(%)
72,39
27,61
100

7
2,67
9,67

(x2)

(x)2

IS

149
40

441
64

1,01
2

Contoh perhitungan untuk Tubifex sp


K = individu

= 21

plot
(%) KR =

= 7

3
K spesies

x 100 =

K semua spesies

x 100

= 72,39

9,67

X2
36
49
64
X2 = 149

X
6
7
8
X = 21
IS

N. (X2) - X

(X)2 - X

3 .(149) - 21
(21)2 21

Contoh perhitungan untuk Lumbricus sp


K = individu
plot

= 8
3

= 2,67

= 426
420

= 1,01

Pola
penyebaran
Berkelompok
Berkelompok

(%) KR =

K spesies

x 100 = 2,67

K semua spesies
X
6
2
X = 8
IS

x 100

= 27,61

9,67

X2
36
4
2
X = 40

N. (X2) - X

(X)2 - X

3 . (40) - 8
(8)2 8

= 112

= 2

56

Tabel pengamatan parameter lingkungan


No.
1
2
3
4
5
6

V.

Hasil pengukuran pada plot


1
2
3
4

Parameter dan satuan

Kisaran

Suhu udara (C)


Kelemababan udara (%)
Ketinggian tempat (mdpl)
Intensitas cahaya (lux)
pH tanah
Kecepatan angin (m/s)

ANALISIS DATA
Cacing terdapat melimpah dalam tekstur halus dengan kandungan
organik yang tinggi. Cacing tanah yang hanya sedikit terdapat dalam tanah
berpasir dan rendah kandungan organiknya. Walaupun demikian jumlah dan
aktivitas cacing tanah sangat besar dari lokasi ke lokasi yang lainnya seperti
halnya

organisme

tanah

lainnya.

menggambarkan banyaknya cacing tanah.

Bentuk-bentuk

gundukan

tanah

Pada pengamatan tentang kerapatan dan pola distribusi cacing tanah,


dilakukan penggalian seluas 30 cm x 30 cm dengan kedalaman 30 cm, di 3 titik
yang berbeda dan tiap titik berjarak 1 meter.
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan ditemukan 2 jenis
cacing yaitu Tubifex sp dan Lumbricus sp. Spesies yang paling banyak
ditemukan adalah Tubifex sp dengan jumlah 21 individu, dan untuk Lumbricus
sp hanya ditemukan 8 individu.
Sedangkan berdasarkan perhitungan terhadap kerapatan populasi
cacing tanah di desa Gedambaan Kabupaten Kotabaru maka dapat diketahui
kerapatan tertinggi adalah pada spesies Tubifex sp sebesar 7 dan kerapatan
relatif (KR) sebesar 72,39 %. Sedangkan kerapatan yang terendah pada
Lumbricus sp sebesar 2,67 dan kerapatan relatif (KR) sebesar 27,61 %.
Sedangkan Lumbricus sp memiliki nilai kerapatan yang terendah hal
ini menunjukkan bahawa cacing ini tidak memiliki kemampuan adaptasi yang
baik pada lingkungannya.
Berdasarkan hasil pengamatan pola penyebaran cacing tanah
semuanya adalah mengelompok karena nilai IS lebih dari 1.
Pada pengamatan yang dilakukan juga di ukur parameter
lingkungannya yaitu pH tanah bersifat asam dimana berkisar antara 5,6 sampai
6,9, kelembaban tanah 60-70%, kelembaban udara 78-80%, suhu tanah 290C,
intensitas cahaya 2300 dengan ketinggian tempat 0 mdpl.
VI. KESIMPULAN
1. Nilai kerapatan yang paling tinggi terdapat pada Tubifex sp sebesar 7.
sedangkan nilai kerapatan paling rendah terdapat pada Lumbricus sp
sebesar 2,67.
2. Pola penyebaran cacing tanah pada Tubifex sp dan Lumbricus sp adalah
mengelompok.

VII. DAFTAR PUSTAKA

Ramli, Dzaki, Hardiansyah dan Dharmono. 2009. Penuntun Praktikum Ekologi


Hewan. FKIP UNLAM: Banjarmasin.
Manurung, Binari. 1995. Dasar-Dasar Ekologi Hewan. IKIP: Medan.
Odum, E.P. 1994. Dasar-Dasar Ekologi. UGM Press: Yogyakarta.