Anda di halaman 1dari 5

Tema

: Opini Mengenai MEA

Nama

: Arnold Arzelan

No. Reg

: 8335154461

Berkaitan dengan telah diselanggarakannya perdagangan bebas atau Masyarakat Ekonomi


ASEAN pada akhir tahun 2015, beberapa dampaknya ialah membanjirnya produk - produk
negara lain di pasar Indonesia dan bertambahnya jumlah tenaga kerja asing di Indonesia.
Namun, UMKM di Indonesia masih banyak menghadapi kendala dalam menjalankan
usahanya. Salah satu kendala yang paling sering dihadapi oleh para pelaku UMKM ialah
kurangnya pengetahuan dan kemampuan UMKM dalam menentukan strategi pemasaran dan
menganalisis kondisi pasar, khususnya pasar luar negeri (ekspor).
Banyak kasus UMKM di Indonesia yang tidak dapat melakukan strategi pemasaran yang
tepat. Cenderung UMKM di Indonesia hanya menunggu konsumen saja. Hal inilah yang
menjadi permasalahan mendasar yang sering dihadapi UMKM yang mengakibatkan lemahnya
kemampuan untuk menembus pasar.
Selain kendala diatas, kendala mengenai biaya yang harus dikeluarkan dalam kegiatan
ekspor juga merupakan hambatan yang dialami UMKM. Berdasarkan dari hasil yang saya
dapatkan melalui internet, hal ini disebabkan karena adanya pungutan atau biaya tidak resmi
(pungli) sehingga harga menjadi relatif tinggi dibandingkan eksportir produk sejenis dari negara
lain
Oleh karena itu, alangkah baiknya hal seperti inilah yang menjadi perhatian pemerintah
dalam membuat peraturan. Apabila hal ini dibiarkan terus terjadi tanpa ada tindakan lanjut dari
pihak pemerintah, maka kegiatan ekspor, khususnya yang dilaksanakan oleh UMKM, akan
menjadi makin sulit karena makin rendahnya daya saing.
Jadi, agar UMKM di Indonesia dapat berkembang dan bisa menembus pasar ekspor, perlu
dukungan berupa penyuluhan atau pembelajaran yang lebih dalam mengenai perdagangan
internasional, seminar dan penyediaan fasilitas yang disediakan oleh pemerintah dan adanya
perubahan atau ketegasan dalam mengatasi pungli.

Nama

: Ricky Haryanto

No. Reg

: 8335155450

Perdagangan International Indonesia akan memasuki pasar bebas Asia Tenggara atau lebih
dikenal dengan sebutan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pada 1 Januari 2016. Tujuan dari
diberlakukannya ini untuk meningkatkan perekonomian baik dikancah regional maupun
international. Sehingga pertumbuhan perekonomian merata. Dampak yang akan terasa dengan
adanya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) untuk Indonesia sangatlah besar, baik itu Positif dan
Negatif.
Dampak Positif yang akan dirasakan oleh Indonesia seperti menjual barang dan jasa
dengan mudah ke negara negara Asean .Dari Segi Negatif, Negara asean dengan mudah
melakukan kegiatan menjual barang dan jasa kepada Indonesia.
Jika Indonesia tidak siap dalam menghadapi MEA ini akan menjadi suatu ancaman yang
sangat besar untuk Indonesia. Dimana akan makin banyaknya tenaga asing yang berpotensi
mendorong peningkatan pengangguran.
Dalam Kebijakan MEA ini banyak yang pro dan kontra atas kebijakan tersebut, apapun
yang diambil oleh pemerintah itulah yang terbaik untuk bangsa ini,sebelum melakukan sesuatu
kita harus lihat dari diri kita dahulu apakah sudah siapkah kita bersaing dengan negara lain.

Nama

: Rizki

No. Reg

: 8335154944

Indonesia baru saja memasuki era perdagangan bebas, yaitu ASEAN Economic
Community atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada penghujung tahun 2015 lalu.
Tentunya hal ini menjadi peluang karena dengan diberlakukannya MEA, Indonesia punya
kesempatan besar untuk melakukan perdagangan tidak terbatas hanya di Indonesia melainkan
juga secara global di negara-negara ASEAN. Akan tetapi MEA juga dapat menjadi ancaman
apabila Indonesia tidak mampu bersaing dalam perdagangan internasional tersebut yang
mengakibatkan Indonesia hanya menjadi pangsa pasar yang besar dikarenakan banyaknya
serbuan produk dari luar.
Hingga saat ini Indonesia masih mengandalkan produk-produk komoditi dan ekspor
industri pengolahan non migas. Untuk menghadapi MEA hal ini tidaklah cukup dikarenakan
negara-negara ASEAN lainnya tidak hanya mengandalkan produk komoditi saja, melainkan juga
produk-produk lain yang telah diolah dan memiliki nilai tambah seperti produk-produk handmate
dan industri kreatif lainnya.

Nama

: M. Indra Munhamir

No. Reg

: 8335155355

Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) merupakan realisasi pasar bebas di Asia Tenggara yang
telah dilakukan secara bertahap mulai KTT ASEAN di Singapura pada tahun 1992. Tujuan
dibentuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) untuk meningkatkan stabilitas perekonomian
di kawasan ASEAN, serta diharapkan mampu mengatasi masalah-masalah di bidang ekonomi
antar negara ASEAN.
Salah satu poin dari pasar bebas ini adalah terjadinya treading labor dari berbagai negara di
Asia Tenggara. Pekerja yang datang dari penjuru Asia pasti sudah membekali dirinya dengan
skill yang cukup tinggi, sedangkan pekerja dalam negeri masih banyak yang belum cukup
mendapat pendidikan. Persaingan tenaga kerja ini dapat mempengaruhi regulasi pemerataan
pendapatan, terutama bagi para calon pegawai dari daerah kecil yang dengan skill/kapasitas
terbatas.
Jika pemerintah tidak jeli dalam memperhatikan permasalahan ini mungkin akan
mengakibatkan kenaikan tingkat pengangguran yang cukup tinggi. Pemerintah harus
mengantisipasi untuk permasalahan trading labor ini, seperti meningkatkan kualitas para
pelajar/mahasiswa untuk siap menghadapi dunia persaingan MEA. Departemen pendidikan juga
harus memperhatikan standar pendidikan yang setara dengan pendidikan di seluruh Asia, supaya
para calon lulusan mahasiswa dapat bersaing dengan standar pendidikan dan skill yang sama.

Nama

: Afif Lutfhiasyah

No. Reg

: 8335155611

Ketua Institut Akuntan Publik Indonesia, Tarko Sunaryo, mengakui ada kekhawatiran
karena banyak pekerja muda yang belum menyadari adanya kompetisi yang semakin ketat.
Selain kemampuan Bahasa Inggris yang kurang, kesiapan mereka juga sangat tergantung
pada mental. Banyak yang belum siap kalau mereka bersaing dengan akuntan luar negeri
MEA sudah tidak bisa di hindarkan lagi, tapi bagaimana negara menjaga bidang-bidng
yang belum siap? Negara bisa memperketat seleksi contoh tenaga kerja asing harus dapat
berbahasa Indonesia, lalu diperlukannya sertifikasi ulang di dalam negeri, agar lapangan kerja
tidak terbuka seluas-luasnya