Anda di halaman 1dari 72

MATI BATANG OTAK, EUTHANASIA DAN

DO NOT RESUSCITATION

Oleh :
Zukhruful Muzakkie, S.Ked
NIM :
71 2014 033
DEPARTEMEN ILMU ANESTESIOLOGI DAN REANIMASI
RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH PALEMBANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG
2016

LOGO

BAB I
PENDAHULUAN

LOGO

Latar Belakang
Refleks
Pupil
Respon
Nyeri

Refleks
OkuloVestibular

Refleks
Kornea

Mati Batang
Otak

Pernapasan
Spontan

Refleks
OkuloSefalik
Refleks
MuntahBatuk
LOGO

Latar Belakang

Qatlu arrahma atau


taysir al-maut

Mati cepat
tanpa derita

Euthanasia
Mercy killing
(mati dengan
tenang)

Meringankan
dan
mempercepat
kematian
LOGO

Latar Belakang

Do Not Resuscitation
(DNR)

Merupakan perintah medis yang ditulis


oleh seorang dokter. Perintah tersebut
berisi agar tenaga emergensi medis tidak
melakukan
Cardio
Pulmonary
Resuscitation (CPR) jika pasien mengalami
henti napas ataupun henti jantung.
LOGO

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

LOGO

DEFINISI
Dengan adanya kemajuan ilmu pengetahuan
seperti alat respirator (alat bantu nafas)

Seseorang yang dikatakan mati batang otak


ditandai dengan rekaman EEG yang datar, namun
masih bisa menunjukkan aktifitas denyut jantung,
suhu badan yang hangat, fungsi alat tubuh yang
lain seperti ginjal pun masih berjalan sebagaimana
mestinya, selama dalam bantuan alat repirator
tersebut.
LOGO

Fase Kematian dibagi menjadi 2 fase, yaitu somatic


death (kematian somatik) dan biological death
(kematian biologik).

LOGO

Mati batang otak masuk ke dalam fase


kematian somatik

Kematian somatik merupakan fase kematian


dimana tidak didapati tanda-tanda kehidupan
seperti denyut jantung, gerakan pernafasan, suhu
badan yang menurun dan tidak adanya aktifitas
listrik otak pada rekaman EEG.
Dalam 2 jam kematian somatik akan diikuti fase
kematian biologik yang ditandai dengan kematian
sel.
LOGO

ETIOLOGI
Batang otak mengatur fungsi dasar kehidupan
seperti :
Respon
terhadap nyeri

Refleks kornea

Respon
terhadap cahaya

Refleks
okulo-sefalik
Pengatur
pernapasan
spontan

Refleks
muntah dan batuk
Reflek
okulo-vestibular
LOGO

Mati batang otak disebabkan karena hipoksia otak yang


terjadi karena penurunan aliran darah otak. Sehingga
fungsi batang otak seperti respon, refleks, dan
pernapasan spontan menjadi hilang.
Saat terjadi kematian otak, pasien akan kehilangan
refleks dengan arah rostral ke kaudal, dan medulla
oblongata adalah bagian terakhir dari otak yang
berhenti berfungsi.

LOGO

LOGO

PATOFISIOLOGI
Patofisiologi penting terjadinya kematian otak adalah :
Perdarahan

Edema otak

Peningkatan hebat
Tekanan Intra Kranial (TIK)
Perfusi serebral akan terhenti
Terjadi kematian otak
LOGO

Aliran darah normal yang melalui jaringan otak


pada orang dewasa rata-rata sekitar 50 sampai
60 mililiter per 100 gram otak per menit.
Untuk seluruh otak, yang kira-kira beratnya
1200 1400 gram terdapat 700 sampai 840
ml/menit.
Penghentian aliran darah ke otak secara total
akan menyebabkan hilangnya kesadaran dalam
waktu 5 sampai 10 detik.
LOGO

Hal ini dapat terjadi karena tidak ada


pengiriman oksigen ke sel-sel otak yang
kemudian langsung menghentikan sebagian
metabolismenya.
Aliran darah ke otak yang terhenti untuk tiga
menit
dapat
menimbulkan
perubahanperubahan yang bersifat irreversibel.

LOGO

DIAGNOSIS & CARA


PEMERIKSAAN
Diagnosis kematian batang otak merupakan diagnosis
klinis. Tidak diperlukan pemeriksaan lain apabila
pemeriksaan klinis termasuk pemeriksaan refleks
batang otak dan tes apnea dapat dilaksanakan secara
adekuat. Pemeriksaan tersebut antara lain:

1.
2.
3.
4.

Respon terhadap nyeri


Respon terhadap cahaya
Refleks kornea
Refleks okulo-sefalik

5. Refleks
muntah
dan batuk
6. Refleks
okulovestibular
7. Tes apneu
LOGO

`
Tes tidak ada respon terhadap nyeri.
Beri tekanan pada supra orbita dengan ibu
jari atau tekan sternum dengan ibu jari, lihat
respon.
Positif jika tidak ada gerak salah satu
ekstremitas.

LOGO

`
Pupil tidak respon terhadap cahaya.
Periksa bahwa penderita tidak mendapatkan
obat tetes mata antikolinergik sebelumnya.
Arahkan cahaya ke kedua pupil bergantian
dan lihat respon pupil.
Positif jika tidak ada kontraksi pupil pada
kedua mata.

LOGO

`
Tidak ada refleks kornea.
Sentuh kornea dengan kapas basah, jika
tidak ada respon coba beri tekanan dengan
cotton bud basah dengan hati-hati.
Positif jika tidak ada kontraksi otot sekitar
(M. Orbikularis Okuli).

LOGO

Tes Refleks Kornea

LOGO

`
Tidak ada refleks okulo sefalik (dolls eye reflex).
Tes ini tidak boleh dilakukan jika ada trauma
vertebra servikal.
Pegang kepala dengan tetap membuka kelopak
mata lalu gerakkan kepala ke kanan dan
kekiri 900.
Positif jika mata tidak ikut bergerak walaupun
kepala digelengkan (tetap terfiksasi).

LOGO

Tes Refleks Okulo Sefalik

LOGO

`
Tidak ada refleks muntah dan batuk.
Tekan lidah dengan spatula dan sentuh
bagian posterior faring dengan spatula lain.
Masukkan suction catheter lewat pipa
edotrakeal untuk menstimulasi trakea.
Positif jika tidak terjadi refleks muntah
ataupun batuk.

LOGO

`
Tidak ada refleks okulo-vestibular (caloric test).
Periksa telinga dengan otoskop untuk
pastikan membrana timpani baik.
Naikkan kepala dari tempat tidur 300
Masukkan dengan menggunakan suction
catheter 50 ml air dingin/es pelan-pelan
(selama 15-30 detik) ke dalam telinga.
Perhatikan selama 1 menit. Tunggu 5 menit
kemudian ulangi tes yang sama pada
telinga sebelahnya.
Tidak ada gerak mata, berarti tes positif.
LOGO

Tes Refleks Okulo Vestibular


LOGO

`
Tes Apneu.
Beri oksigen 100% selama 10-20 menit sebelum
tes.
Periksa BGA (analisa gas darah) untuk
menentukan PaCO2 dasar (sekitar 35-40 mmHg).
Monitor EKG, tekanan darah dan saturasi
oksigen untuk memastikan tekanan sistolik di
atas 90 mmHg dan saturasi oksigen di atas 90%
selama tes berlangsung.

LOGO

`
Jika terjadi penurunan tekanan darah maupun
saturasi
maka
ventilator
harus
segera
disambungkan kembali.
Beri insuflasi oksigen 6 liter/ menit dengan
suction catheter lewat pipa endotrakea, lepaskan
hubungan dengan ventilator dan amati adakah
napas spontan selama 5-8 menit, lalu periksa
BGA lagi sebelum dihubungkan kembali dengan
ventilator, dan ada kenaikan PCO2 > 50 mmHg
atau kenaikan > 20 mmHg dari dasar.
LOGO

`
Jika belum terjadi kenaikan PCO2 seperti yang
diinginkan,
tes
dapat
diulangi
dengan
memperpanjang periode lepas ventilator (apneu)
selama 10 menit.

LOGO

`
Setelah pemeriksaan pertama, penderita harus
dievaluasi kembali dalam jarak waktu tertentu
yang disepakati banyak ahli yaitu 6 jam baik
untuk penderita dewasa maupun anak-anak
diatas 1 tahun.
Pada anak kurang dari 1 tahun diperlukan
waktu yang lebih lama.

LOGO

`
Jika pemeriksaan pertama menunjukkan tanda
jelas mati batang otak, pemeriksaan ulangan
dapat dipersingkat yaitu 2 jam kemudian.
Jika salah satu dari 7 tes tersebut tidak
menunjukkan mati otak, walaupun yang lainnya
positif, maka dapat dikonfirmasi dengan
angiografi serebral dan EEG.

LOGO

A. Angiogram serebral menunjukkan aliran darah


normal menuju ke otak.
B. Angiogram serebral menunjukkan aliran darah
yang kurang menuju ke otak.
LOGO

A. EEG pada pasien yang responsive dan interaktif terhadap


lingkungan.
B. EEG pada pasien yang mengalami mati otak.

LOGO

N. Cranialis yang terlibat pada


pemeriksaan batang otak
LOGO

LOGO

EUTHANASIA
Menurut istilah kedokteran, euthanasia
berarti tindakan agar kesakitan atau
penderitaan yang dialami seseorang yang
akan meninggal diperingan.
Juga
berarti
mempercepat
kematian
seseorang yang ada dalam kesakitan dan
penderitaan hebat menjelang kematiannya.

LOGO

Euthanasia bisa muncul dari keinginan


pasien sendiri, permintaan dari keluarga
dengan persetujuan pasien (bila pasien masih
sadar), atau tanpa persetujuan pasien (bila
pasien sudah tidak sadar).

LOGO

Euthanasia Aktif
(Euthanasia agresif)
EUTHANASIA

Euthanasia pasif
Euthanasia Non Agresif

LOGO

Euthanasia Aktif

Tindakan dokter mempercepat kematian pasien dengan


memberikan suntikan ke dalam tubuh pasien tersebut.
Suntikan diberikan pada saat keadaan penyakit pasien
sudah sangat parah atau sudah sampai pada stadium
akhir, yang menurut perhitungan medis sudah tidak
mungkin lagi bisa sembuh atau bertahan lama.

LOGO

Alasan yang biasanya dikemukakan dokter adalah


bahwa pengobatan yang diberikan hanya akan
memperpanjang penderitaan pasien serta tidak akan
mengurangi sakit yang memang sudah parah.

LOGO

Euthanasia Pasif

Tindakan dokter menghentikan pengobatan pasien


yang menderita sakit keras, yang secara medis sudah
tidak mungkin lagi dapat disembuhkan.
Penghentian pengobatan ini berarti mempercepat
kematian pasien.

LOGO

Alasan yang lazim dikemukakan dokter adalah karena


keadaan ekonomi pasien yang terbatas, sementara
dana yang dibutuhkan untuk pengobatan sangat
tinggi, sedangkan fungsi pengobatan menurut
perhitungan dokter sudah tidak efektif lagi.

LOGO

Euthanasia Non Agresif

Yaitu dimana seorang pasien menolak secara tegas


dan dengan sadar untuk menerima perawatan medis
dan sipasien mengetahui bahwa penolakannya
tersebut akan memperpendek atau mengakhiri
hidupnya.
Dengan penolakan tersebut ia membuat sebuah
"codicil" (pernyataan tertulis tangan).

LOGO

DO NOT
RESUSCITATION
Do Not Resuscitation
(DNR)

Merupakan perintah medis yang ditulis


oleh seorang dokter. Perintah tersebut
berisi agar tenaga emergensi medis tidak
melakukan
Cardio
Pulmonary
Resuscitation (CPR) jika pasien mengalami
henti napas ataupun henti jantung.
LOGO

Cardio Pulmonary Resuscitation


(CPR)
Suatu prosedur medis yang digunakan untuk
mengembalikan fungsi jantung (sirkulasi) dan
pernapasan spontan pasien bila seorang pasien
mengalami kegagalan jantung maupun pernapasan.
CPR melibatkan ventilasi paru dan kompresi dinding
dada untuk mempertahankan perfusi ke jaringan
organ vital selama dilakukan upaya-upaya untuk
mengembalikan respirasi dan ritme yang spontan.
LOGO

Tujuan Do Not Resuscitation


(DNR)

Untuk menyediakan suatu proses dimana pasien


bisa memilih prosedur yang nyaman dalam hal
bantuan hidup oleh tenaga medis emergensi dalam
kasus henti jantung atau henti napas.

LOGO

Rumah sakit menghormati hak pasien dan


keluarga dalam menolak tindakan resusitasi atau
pengobatan bantuan hidup dasar.
Penolakan resusitasi dapat diminta oleh pasien
dewasa
yang
kompeten
dalam
mengambil
keputusan.

LOGO

Pasien yang tidak bisa membuat keputusan


terhadap dirinya (belum cukup umur, gangguan
kesadaran mental dan fisik) diwakilkan kepada
anggota keluarga atau wali yang ditunjuk.

LOGO

Kriteria DNR antara lain:

Perintah DNR dapat diminta oleh pasien dewasa


yang kompeten mengambil keputusan, telah
mendapat penjelasan dari dokternya, atau bagi
pasien
yang
dinyatakan
tidak
kompeten,
keputusan dapat diambil oleh keluarga terdekat,
atau wali yang sah yang ditunjuk oleh pengadilan.

LOGO

Dengan pertimbangan tertentu, hal-hal dibawah


ini dapat menjadi bahan diskusi perihal DNR
dengan pasien/walinya:
1. Kasus-kasus
dimana
angka
harapan
keberhasilan pengobatan rendah atau CPR
hanya menunda proses kematian yang alami.
2. Pasien tidak sadar secara permanen.

LOGO

3. Pasien berada dalam kondisi terminal.


4. Ada kelainan atau disfungsi kronik dimana lebih
banyak kerugian dibanding keuntungan jika
resusitasi dilakukan.

LOGO

Prosedur yang
direkomendasikan:

1. Meminta Informed consent.


2. Mengisi formulir DNR.
3. Pasien mengenakan gelang DNR.
4. Tinjau secara berkala jika ada revisi, bila
DNR dibatalkan, catat tanggalnya lalu
gelang DNR dimusnahkan.
LOGO

5. Perintah DNR harus mencakup (Diagnosis,


Alasan DNR, Kemampuan pasien untuk
membuat keputusan, Dokumentasi bahwa
status DNR telah ditetapkan dan oleh
siapa).

LOGO

6. Perintah DNR dapat dibatalkan dengan


keputusan pasien sendiri atau dokter yang
merawat, atau oleh wali yang sah. Dalam
hal ini, catatan DNR direkam medis harus
pula dibatalkan dan gelang DNR (jika ada)
harus dimusnahkan.

LOGO

Dokumentasi
1. Pencatatan dan pelaporan dilakukan oleh
seluruh
penyelenggara
RS
dengan
menggunakan
format
yang
sudah
disediakan oleh Rekam Medis.
2. Penolakan
pemberian
DNR
Resuscitation)
atau
jangan
resusitasi
dengan
mengisi
keputusan DNR.

(Do
Not
lakukan
formulir

LOGO

3. Seluruh tindakan yang dilakukan dicatat


dalam catatan keperawatan atau Rekam
Medis.

LOGO

BAB III
KESIMPULAN

LOGO

Mati batang otak ditandai dengan rekaman EEG


yang datar, namun masih bisa menunjukkan
aktifitas denyut jantung, suhu badan yang
hangat, fungsi alat tubuh yang lain seperti ginjal
pun masih berjalan sebagaimana mestinya,
selama dalam bantuan alat respirator.

LOGO

Batang otak mengatur fungsi dasar kehidupan


seperti denyut jantung, respon terhadap rangsang
nyeri, respon terhadap cahaya, refleks kornea,
refleks muntah dan batuk, reflek okulovestibular, serta sebagai pengatur pernapasan
spontan.

LOGO

Mati batang otak disebabkan karena hipoksia


otak yang terjadi karena penurunan aliran darah
otak akibat dari meningkatnya tekanan intra
kranial sehingga fungsi batang otak seperti
respon, refleks, dan pernapasan spontan menjadi
hilang.

LOGO

Patofisiologi penting terjadinya kematian otak


adalah peningkatan hebat tekanan intrakranial
(TIK) yang disebabkan perdarahan atau edema
otak.
Peningkatan TIK mengakibatkan perfusi serebral
terhenti sehingga oksigenasi ke otak berkurang.
Terhentinya aliran ini dalam 3 menit akan
menyebabkan perubahan yang irreversible.

LOGO

Diagnosis kematian batang otak merupakan


diagnosis klinis. Tidak diperlukan pemeriksaan
lain apabila pemeriksaan klinis termasuk
pemeriksaan refleks batang otak dan tes apnea
dapat dilaksanakan secara adekuat.

LOGO

Pemeriksaan tersebut antara lain, tes tidak ada


respon terhadap nyeri, respon pupil terhadap
cahaya, tidak ada refleks kornea, tidak ada
refleks okulo sefalik (dolls eye reflex), tidak ada
refleks muntah dan batuk, tidak ada refleks
okulo-vestibular (caloric test), dan tes Apneu.

LOGO

Setelah pemeriksaan pertama, penderita harus


dievaluasi kembali dalam jarak waktu tertentu
yang disepakati banyak ahli yaitu 6 jam baik
untuk penderita dewasa maupun anak-anak
diatas 1 tahun.

LOGO

Euthanasia berasal dari kata Yunani eu : baik


dan thanatos : mati.
Maksudnya adalah mengakhiri hidup dengan
cara yang mudah tanpa rasa sakit.
Menurut istilah kedokteran, euthanasia berarti
tindakan agar kesakitan atau penderitaan yang
dialami
seseorang
yang
akan
meninggal
diperingan dan mempercepat kematian seseorang
yang ada dalam kesakitan dan penderitaan hebat
menjelang kematiannya.

LOGO

DNR atau Do Not Resuscitate adalah suatu


perintah yang memberitahukan tenaga medis
untuk tidak melakukan CPR.
Hal ini berarti bahwa dokter, perawat, dan tenaga
emergensi medis tidak akan melakukan usaha
CPR emergensi bila pernapasan maupun jantung
pasien berhenti.

LOGO

Tujuan Do Not Resuscitation (DNR) adalah untuk


menyediakan suatu proses dimana pasien bisa
memilih prosedur yang nyaman dalam hal
bantuan hidup oleh tenaga medis emergensi
dalam kasus henti jantung atau henti napas.

LOGO

Kriteria DNR antara lain:


Perintah DNR dapat diminta oleh pasien dewasa
yang kompeten mengambil keputusan, telah
mendapat penjelasan dari dokternya, atau bagi
pasien
yang
dinyatakan
tidak
kompeten,
keputusan dapat diambil oleh keluarga terdekat,
atau wali yang sah yang ditunjuk oleh
pengadilan.

LOGO

Dengan pertimbangan tertentu, hal-hal dibawah


ini dapat menjadi bahan diskusi perihal DNR
dengan pasien/walinya:
1. Kasus-kasus
dimana
angka
harapan
keberhasilan pengobatan rendah atau CPR
hanya menunda proses kematian yang alami.

LOGO

2.
3.
4.

Pasien tidak sadar secara permanen.


Pasien berada dalam kondisi teminal.
Ada kelainan atau disfungsi kronik dimana
lebih banyak kerugian dibanding keuntungan
jika resusitasi dilakukan.

LOGO

DAFTAR PUSTAKA
1. Mernoff T. S. MD. 2009. Brain Death: Neurologists
Perspective, clinical Assistant profesor of neurology,
brown medical school, neurorehabilitation program,
rehabilitation hospital of rhode island.
2. Guidelines For Detremining Brain Death. 2005. New
York State Departement of Health December 2005.
3. Sofyan M, H., Abdul L., Himawan S. 2013. Tandatanda kematian dan mati batang otak dalam
Anestesiologi. Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif
FK. UNDIP/RSUD Dr. Kariadi. Semarang. Hal: 375382.

LOGO

4. Burhan H. 2009. Etika dan Kode Etik Kesehatan


Terhadap Euthanasia. Universitas Muslim Indonesia.
Makassar.
5. Anonim. 2012. Panduan DNR (do not resuscitation).
Tersedia dalam
https://www.scribd.com/doc/252688745/PanduanDNR#download (diakses 4 Mei 2016)

LOGO

TERIMA KASIH

LOGO