Anda di halaman 1dari 14

TINJAUAN PUSTAKA

A. Morfologi Tanaman Mahkota Dewa


Tanaman mahkota dewa (Phaleria Macrocarpa) masuk dalam famili
Thymelaece. Tanaman ini bias ditemukan dan ditanam di pekarangan rumah, di
kebun dan di jalan sebagai tanaman peneduh. Tanaman mahkota dewa ternyata
bukan sekedar pohon penghijauan yang sekaligus berfungsi untuk peneduh.
Hampir semua bagian dari tanaman ini mengandung khasiat yang besar
pengaruhnya bagi dunia pengobatan alternatif.
Sampai saat ini telah banyak penyakit yang berhasil disembuhkan
tergantung pada bagian tanaman yang digunakan biasanya memberikan efek yang
berbeda terhadap jenis penyakit yang dapat di obati/disembuhkan. Bagian yang
digunakan atau yang paling sering digunakan adalah daunnya, daunnya biasa di
gunakan dengan cara merebusnya. Penyakit yang dapat di obati yaitu disentri,
alergi dan tumor. Kulit dan daging buah juga digunakan untuk pengobatan
flu,rematik dan kanker rahim. Beberapa keunggulan dari mahkota dewa ini
menjadikannya salah satu tanaman obat yang mendapatkan perhatian cukup besar
untuk terus di kembangkan.
Beberapa keunggulan yang dimiliki oleh mahkota dewa menyebabkan
mahkota dewa mendapatkan perhatian yang besar dari beberapa negara. Saat ini
mahkota dewa sedang diteliti dan dikembangkan secara serius sebagai obat untuk
penyembuhan beberapa penyakit. Negara yang sedang mengembangkan penelitian
ini antara lain Belanda,Taiwan,Singapura dan Malaysia.
Tumbuhan ini akan mengeluarkan bunga dan diikuti dengan munculnya
buah setelah 9 12 bulan kemudian. Buahnya berwarna hijau saat muda dan
menjadi merah marun setelah berumur 2 bulan. Buahnya berbentuk bulat dengan
ukuran bervariasi mulai dari sebesar bola pingpong sampai sebesar buah apel,
dengan ketebalan kulit antara 0,1 0,5 mm. Buah mahkota dewa ini biasanya
digunakan untuk mengobati berbagai penyakit dari mulai flu, rematik, paru-paru,
sirosis hati sampai kanker.

Tumbuhan mahkota dewa juga dinamakan sebagai simalakama, karena


berkhasiat sebagai obat dan berpotensi sebagai racun. Aspek penting lainnya
adalah mendetoksifikasi berbagai macam racun di dalam tubuh, seperti buangan
metabolik, alkohol, residu insektisida, obat-obatan atau bahan-bahan kimia
berbahaya lainnya. Proses detoksifikasi ini dilakukan oleh enzim mikrosomal
hepatik yang sebagian besar terletak di retikulum endoplasmik halus dari
periacinar.
Sistem ini akan mengkonversi senyawa hidrofobik (larut dalam lemak)
yang secara alami sulit dieliminasi oleh tubuh, menjadi senyawa hidrofilik (larut
dalam air) agar dapat diekskresi ke dalam empedu atau urin. Prosesnya dengan
mengubah senyawa polar menjadi molekul-molekul atau modifikasi lainnya,
kemudian digabungkan dengan senyawa kimia lain sehingga dapat larut dalam air.
Ironisnya dalam proses detoksifikasi tersebut, hati terkadang justru merubah
bahan berbahaya menjadi lebih beracun dan merusak sel-selnya sendiri.
Hal tersebut akan menyebabkan terjadinya kerusakan struktur hepatosit
dengan rentang mulai pembengkakan seluler seperti lipidosis sampai nekrosis.
Pada kasus keracunan berat, kegagalan fungsi hati umumnya menyebabkan
kematian dalam 12 24 jam. Popularitas mahkota dewa menyebabkannya banyak
dikonsumsi masyarakat sebagai obat tradisional, baik secara tunggal maupun
dicampur dengan obat-obatan tradisional lainnya. Dikhawatirkan tumbuhan
mahkota dewa yang dikonsumsi masyarakat sebagai obat tradisional, akan
menimbulkan efek samping saat dikonsumsi dalam jumlah besar.
Bagian-bagian tanaman ini bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit.
Berikut ini bagian-bagian dari tanaman mahkota dewa :
a. Batang
Batangnya terdiri dari kulit dan kayu. Kulit batang berwarna cokelat
kehijauan, sementara kayunya berwarna putih. Batang mahkota dewa bergetah.
Diameternya dapat mencapai 15cm dan percabangan batang cukup banyak.

b. Daun
Daun mahkota dewa merupakan daun tunggal. Bentuknya lonjong,
langsing, memanjang, dan berujung lancip. Hampir menyerupai bentuk daun
jambu air, tetapi lebih langsing. Teksturnya pun lebih liat dan warnanya hijau.
Daun tua berwarna lebih gelap daripada daun muda. Permukaannya licin dan tidak
berbulu. Permukaan bagian atas berwarna lebih tua daripada permukaan bagian
bawah. Panjang daun bisa mencapai 7-10cm dengan lebar 3-5cm.
c. Bunga
Bunga mahkota dewa merupakan bunga majemuk yang tersusun dalam
kelompok 2-4 bunga. Pertumbuhan bunga menyebar di batang atau ketiak daun.
Warnanya putih, bentuknya seperti terompet kecil, dan baunya harum. Ukurannya
kira-kira sebesar bunga pohon cengkeh. Bunga ini keluar sepanjang tahun atau tak
kenal musim, tetapi paling sering tumbuh pada musim hujan.
d. Buah
Buah mahkota dewa merupakan cirri khas tanaman mahkota dewa.
Bentuknya bulat, permukaan licin dan beralur. Pada malam hari, jika terkena sinar
lampu tampak seperti berkilau. Buahnya mampu tumbuh dengan lebar. Buah
mahkota dewa terdiri dari kulit, daging, cangkang dan biji. Buah mahkota dewa
saat muda berwarna hijau, sedangkan saat tua, warnanya menjadi merah marun.
Ketebalan kulit sekitar 0,5-1mm. Daging buah berwarna putih. Ketebalan daging
bervariasi, tergantung pada ukuran buah.
e. Cangkang
Cangkang buah adalah batok pada buah. Jadi, cangkang merupakan bagian
buah yang paling dekat dengan biji. Cangkang buah berwarna putih dan

ketebalannya bisa mencapai 2mm. Rasa cangkang buah sepat-sepat pahit, tetapi
setelah matang rasanya sepat-sepat manis.
f. Biji
Biji mahkota dewa merupakan bagian yang paling beracun, biji buah
berbentuk bulat, dan berwarna putih. Diameternya mencapai 2cm. (Turyanto :
2009)
B. Habitat Tanaman Mahkota Dewa
Mahkota dewa telah dikenal puluhan tahun yang lalu di Negara China. Di
China mahkota dewa disebut dengan nama Shuan Tao. Selain di China, di
Indonesia pada awalnya mahkota dewa tumbuh di Papua. Tetapi di masyarakat
lokal mahkota dewa tidak di anggap sebagai tanaman berkhasiat, sehingga
mahkota dewa banyak dibiarkan dan berkembang sebagai tanaman liar.
Mahkota dewa dinamai berdasarkan tempat asalnya, yaitu Phaleria
Papuana. Namun, ada pula yang memberikan nama berdasarkan ukuran buahnya
yang besar (makro), yaitu Phaleria Macrocarpa. Sebutan atau nama lain untuk
mahkota dewa cukup banyak. Ada yang menyebut dengan nama Pustaka Dewa,
Derajat, Mahkota Ratu, Mahkota Raja, Trimahkota, dan masih banyak lagi. Di
Jawa Tengah, orang orang menyebutnya dengan nama Makuto Mewo, Makuto
Rojo DAN Makuto Ratu. Ada pula orang banten yang menyebut mahkota dewa
dengan sebutan Raja Obat.

C. Klasifikasi Tanaman Mahkota Dewa


Mahkota Dewa (Phaleria Macrocarpa)

Kingdom

: Plantae

Subkingdom

: Tracheobionta

Super Divisi

: Spermatophyta

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Subkelas

: Rosidae

Ordo

: Myrtales

Famili

: Thymelaeaceae

Genus

: Phalero

Spesies

: Phaleria Macrocarpa

D. EKOLOGI DAN PENYEBARAN


Mahkota Dewa tergolong pohon yang mampu hidup di berbagai kondisi,
dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Pohon ini mampu hidup di ketinggian
101.200 meter dpl (dari permukaan laut). Namun, pertumbuhannya paling baik
jika ditanam di ketinggian 101.000 meter dpl. Pohon ini akan tumbuh dengan
sangat baik jika ditanam di tanah yang gembur dengan kandungan bahan organik
yang tinggi. Pohon yang ditanam di dalam pot pertumbuhannya tidak setinggi
yang ditanam di kebun atau pekarangan. Perbanyakan pohon bisa dilakukan
secara vegetatif dan secara generatif. Dari sekian cara perbanyakan vegetatif,
hanya pencangkokan yang telah menunjukkan keberhasilan. Sedangkan
perbanyakan dengan setek batang belum menunjukkan hasil yang baik Erlan
(2005).

E. Kandungan Kimia

Tanaman mahkota dewa mengandung zat kimia yaitu zat antihistamin yang
mampu mencegah alergi. Disamping itu, tanaman mahkota dewa bersifat axytosin
dan sintosinon yang merangsang kerja otot rahim untuk mempermudah proses
melahirkan selama persalinan. Kandungan kimia pada daun mahkota dewa adalah
antihistamin, alkaloid, saponin, dan polifend. Pada kulit buah ada alkaloid,
saponin, dan flafanoid. Di dalam tanaman mahkota dewa terdapat kandungan aktif
pada buahnya, kandungan tersebut seperti :
a. Senyawa Metabolit Sekunder
1. Alkaloid, yang berfungsi sebagai detoksifikasi yang dapat menetralisir
racun-racun di dalam tubuh
2. Saponin, yang berfungsi untuk :
a. Sumber anti bakteri dan anti virus
b. Meningkatkan vitalitas
c. Meningkatkan sistem kekebalan tubuh
d. Mengurangi kadar gula dalam darah, dan
e. Mengurangi penggumpalan darah
3. Flavonoid, yang berfungsi untuk :
a. Melancarkan peredaran darah ke seluruh tubuh
b. Mencegah terjadinya penyumbatan pada pembuluh darah
c. Mengurangi kadar alcohol
d. Mengurangi penimbunan lemak pada dinding pembuluh darah
e. Mengurangi kadar resiko penyakit jantung koroner
f. Mengandung antiflamasi (anti radang)
g. Mengurangi rasa sakit jika terjadi pendarahan atau pembengkakan.
4. Poliferol, yang berfungsi sebagai pencegah alergi (Regina Sumastuti :
2009)
b. Mahkota Dewa Sebagai Zat Antihistamin

Penelitian lain mengenai Mahkota Dewa dilakukan oleh Dr. Regina Sumastuti.
Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa buah Mahkota Dewa mengandung zat
antihistamin. Zat ini merupakan penangkal alergi, misalnya aneka penyakit alergi
yang disebabkan histamin, seperti biduren, gatal-gatal, selesma, dan sesak napas
(Sumastuti 2007).
c. Mahkota Dewa Sebagai Zat Antiradang
Kandungan Mahkota Dewa juga dapat efektif berfungsi sebagai antiradang
(antiinflamasi). Telah diteliti aktivitas antiradang ekstrak n-heksan, etilasetat,
etanol dan air buah mahkota dewa dengan dosis 15 mg/kg bb dan 30 mg/kg bb
dan isolatnya pada tikus betina galur Wistar (menggunakan -karagenan sebagai
penginduksi radang). Ekstrak dibuat secara refluks bertingkat menggunakan
pelarut n-heksan, etilasetat, etanol dan air. Ekstrak etanol dengan dosis 30 mg/kg
bb menunjukkan aktivitas menghambat radang paling kuat ( Mariani, 2005).
d. Mahkota Dewa Sebagai Zat Oxytosin
Penelitian yang dilakukan oleh Sumastuti (2007) juga membuktikan bahwa
ekstrak buah tanaman Mahkota Dewa mampu berperan seperti oxytosin atau
sintosinon yang dapat memacu kerja otot rahim sehingga persalinan berlangsung
lebih lancar.
e. Mahkota Dewa Sebagai Zat Antikanker
Sebagai tanaman obat, telah banyak dilakukan penelitian untuk menguji
kemampuan Mahkota Dewa sebagai obat untuk terapi kanker. Berikut ini adalah
beberapa kandungan senyawa dalam Mahkota Dewa yang diteliti untuk melawan
kanker

f. Mahkota Dewa Untuk Mengobati Diabetes Mellitus

Penelitian mengenai kemampuan Mahkota Dewa dalam menurunkan gula


darah dilakukan oleh Santoso dkk (2006). Percobaan ini menggunakan rebusan
daging buah Mahkota Dewa dan menggunakan tikus putih. Hasil yang diperoleh
menunjukkan hasil bahwa rebusan daging mahkota Dewa dapat menurunkan
kadar glukosa dalam darah. Hasil yang serupa juga ditunjukkan dalam penelitian
yang dilakukan oleh Sugiwati et al. (2006).
Penurunan kadar glukosa darah akibat perlakuan Mahkota Dewa dapat
dijelaskan melalui dua mekanisme utama, yaitu secara intra pankreatik dan ekstra
pankreatik. Mekanisme intra pankreatik bekerja dengan cara memperbaiki
(regenerasi) sel pankreas yang rusak dan melindungi sel dari kerusakan serta
merangsang pelepasan insulin. Kemampuan ini dimiliki oleh alkaloid dan
flavonoid. Alkaloid terbukti mempunyai kemampuan regenerasi sel pankreas yang
rusak. Flavonoid mempunyai sifat sebagai antioksidan sehingga dapat melindungi
kerusakan sel-sel pankreas dari radikal bebas. Mekanisme ekstra pankreatik dapat
berlangsung melalui berbagai mekanisme. Alkaloid menurunkan glukosa darah
dengan cara menghambat absorbsi glukosa di usus, meningkatkan transportrasi
glukosa di dalam darah merangsang sintesis glikogen dan menghambat sintesis
gluksoa dengan menghambat enzim glukosa 6-fosfatase, fruktosa 1,6-bifosfatase
serta meningkatkan oksidasi glukosa melalui glukosa 6-fosfat dehidrogenase.
Glukosa 6-fosfatase dan fruktosa 1,6-bifosfatase merupakan enzim yang berperan
dalam glukoneogenesis. Penghambatan pada kedua enzim ini akan menurunkan
pembentukan glukosa dari substrat lain selain karbohidrat.

F. Skrining Fitokimia
Salah satu pendekatan untuk penelitian tumbuhan obat adalah penapis
senyawa kimia yang terkandung dalam tanaman. Cara ini digunakan untuk
mendeteksi senyawa tumbuhan berdasarkan golongannya. Sebagai informasi
awal dalam mengetahui senyawa kimia apa yang mempunyai aktivitas biologi
dari suatu tanaman. Informasi yang diperoleh dari pendekatan ini juga dapt
digunakan untuk keperluan sumber bahan yang mempunyai nilai ekonomi

lain seperti sumber tanin, minyak untuk industri, sumber gum, dll. Metode
yang telah dikembangkan dapat mendeteksi adanya golongan senyawa
alkaloid, flavonoid, senyawa fenolat, tannin, saponin, kumarin, quinon,
steroid/terpenoid (Teyler.V.E,1988)
1. Alkaloid
Pengertian alkaloid
Alkaloid merupakan golongan zat tumbuhan sekunder yang terbesar. Pada
umumnya alkaloid menccakup senyawa bersifat basa yang mengandung satu atau
lebih atom nitrogen, biasanya dalam gabungan, sebagai bagian dari sistem siklik.
Alkaloid seringkali beracun bagi manusia dan banyak yang mempunyai kegiatan
fisiologi

yang

menonjol

yang

digunakan

secara

luas

dalam

bidang

pengobatan.alakoloid biasanya tanpa warna, seringkali bersifat optis aktif,


kebanyakan berbentuk Kristal tetapi hanya sedikit yang berupa cairan ( misalnya
nikotina pada suhu kamar ).
Klasifikasi alkaloid
Pada bagian yang memaparkan sejarah alkaloid, jelas kiranya bahwa
alkaloid sebagai kelompok senyawa, tidak diperoleh definisi tunggal tentang
alkaloid. Sistem klasifikasi yang diterima, menurut Hegnauer, alkaloid
dikelompokkan sebagai:
a. Alkaloid Sesungguhnya
Alkaloid sesungguhnya adalah racun, senyawa tersebut menunjukkan
aktivitas phisiologi yang luas, hampir tanpa terkecuali bersifat basa; lazim
mengandung Nitrogen dalam cincin heterosiklik ; diturunkan dari asam amino ;
biasanya terdapat aturan tersebut adalah kolkhisin dan asam aristolokhat yang
bersifat bukan basa dan tidak memiliki cincin heterosiklik dan alkaloid quartener,
yang bersifat agak asam daripada bersifat basa.
b. Protoalkaloid

Protoalkaloid merupakan amin yang relatif sederhana dimana nitrogen dan


asam amino tidak terdapat dalam cincin heterosiklik. Protoalkaloid diperoleh
berdasarkan biosintesis dari asam amino yang bersifat basa. Pengertian amin
biologis sering digunakan untuk kelompok ini. Contoh, adalah meskalin, ephedin
dan N,N-dimetiltriptamin.
c. Pseudoalkaloid
Pseudoalkaloid tidak diturunkan dari prekursor asam amino. Senyawa
biasanya bersifat basa. Ada dua seri alkaloid yang penting dalam khas ini, yaitu
alkaloid steroidal (contoh: konessin dan purin (kaffein).
2. Fenol
Senyawa asam fenolat ada hubungannya dengan lignin terikat sebagai
ester atau terdapat pada daun di dalam fraksi yang tidak larut dalam etanol; atau
mungkin terdapat dalam fraksi yang larut dalam etanol, yaitu sebagai glikosida
sederhana. Deteksi asam fenolat dan lignindalam jaringan tumbuhan Lignin ialah
polimer fenol yang terdapat dalam dinding sel tumbuhan, yang bersama selulosa,
menyebabkan kekakuan dan kekokohan batang tumbuhan. Lignin terutama
terdapat pada tumbuhan berkayu karena sampai 30% bahan organic pepohonan
terdiri atas zat ini. Bila dioksidasi dengan nitrobenzene, lignin menghasilkan tiga
aldehida fenol sederhana yang ada kaitannya dengan asam fenolat tumbuhan
umum.
3. Tanin
Tanin terdapat luas dalam tumbuhan berpembuluh, dalam angiospermae
terdapat khusus dalam jaringan kayu. Menurut batasanya, tanin dapat bereaksi
dengan protein membentuk kepolumer mantap yang tidak larut dalam air. Dalam
industri, tanin adalah senyawa yang berasal dari tumbuhan, yang mampu
mengubah kulit hewan yang mentah menjadi kulit siap pakai karena
kemampuanya menyambung silang protein.

Di dalam tumbuhan letak tanin terpisah dari protein dan enzim sitoplasma,
tetapi bila jaringan rusak, misalnya bila hewan memakanya, maka reaksi
penyamakan dapat terjadi. Reaksi ini menyebabkan protein lebih sukar dicapai
oleh cairan pencernaan hewan. Pada kenyataanya, sebagian besar tumbuhan yang
banyak bertanin dihindari oleh hewan pemakan tumbuhan karena rasanya yang
sepat. Kita menganggap salah satu fungsi utama tanin dalam tumbuhan ialah
sebagai penolak hewan pemakan tumbuhan. Secara kimia terdapat dua jenis utama
tanin yang tersebar tidak merata dalam dunia tumbuhan. Tanin terkondensasi
hampir terdapat semesta di dalam paku-pakuan dan gimnosperae, serta tersebar
luas dalam angiospermae, terutama pada jenis tumbuhan berkayu. Sebaliknya,
tanin yang terhidrolisiskan penyebaranya terbatas pada tumbuhan berkeping dua.
4. Flavonoid
Flavonoid terdapat dalam tumbuhan sebagai campuran, jarang sekali
dijumpai hanya flavonoid tunggal dalam jaringan tumbuhan. Disamping itu,
sering terdapat campuran yang terdiri atas flavonoid yang berbeda kelas.
Penggolongan jenis flavonoid dalam jaringan tumbuhan mula mula didasarkan
pada telaah sifat kelarutan dan reaksi warna. Kemudian diikuti dengan
pemeriksaan ekstrak tumbuhan yang telah dihidrolisis secara kromatografi.
5. Steroid dan Triterpenoid
Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam
satuan isoprene dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C30 asiklik,
yaitu skualena. Triterpenoid dapat dipilah menjadi sekurang kurangnya empat
golongan senyawa : triterpena sebenarnya, steroid, saponin dan glikosida jantung.
Kedua golongan yang terakhir sebenarnya triterpena atau steroid yang terutama
terdapat sebagai glikosida. Sterol adalah triterpena yang kerangka dasarnya
system cincin siklopentana perhidrofenantrena. Dahulu sterol terutama dianggap
sebagai senyawa satwa (sebagai hormone kelamin, asam empedu, dll), tetapi pada
tahun tahun terakhir ini makin banyak senyawa tersebut yang ditemukan dalam
jaringan tumbuhan.

6. Kuinon
Kuinon adalah senyawa berwarna dan mempunyai kromofor dasar seperti
kromofor pada benzokuinon, yang terdiri atas dua gugus karbonil yang
berkonjugasi dengan dua ikatan rangkap karbon karbon. Untuk tujuan
identifikasi, kuinon dapat dipilah menjadi empat kelompok : benzokuinon,
naftokuinon, antrakuinon, dan kuinon isoprenoid. Tiga kelompok pertama
biasanya terhidroklisasi dan bersifat senyawa fenol serta mungkin terdapat in vivo
dalam bentuk gabungan dengan gula sebagai glikosida atau dalam bentuk kuinol.
G. Parameter Non Spesifik
a. penetapan kadar abu
Penentuan kadar abu dilakukan untuk memberikan gambaran kandungan
mineral internal dan eksternal yang berasal dari proses awal sampai diperoleh
simplisia dan ekstrak baik yang berasal dari tanaman secara alami maupun
kontaminan selama proses, seperti pisau yang digunakan telah berkarat). Jumlah
kadar abu maksimal yang diperbolehkan terkait dengan kemurnian dan
kontaminasi. Prinsip penentuan kadar abu ini yaitu sejumlah bahan dipanaskan
pada temperatur dimana senyawa organik dan turunannya terdestruksi dan
menguap sehingga tinggal unsur mineral dan anorganik yang tersisa.
kadar abu = bobot akhir/bobot awal x 100%
Penyebab kadar abu tinggi:

cemaran logam

cemaran tanah

b. penetapan susut pengeringan


susut pengeringan adalah persentase senyawa yang menghilang selama proses
pemanasan (tidak hanya menggambarkan air yang hilang, tetapi juga senyawa
menguap lain yang hilang).Pengukuran sisa zat dilakukan dengan pengeringan
pada temperatur 105C selama 30 menit atau sampai berat konstan dan dinyatakan
dalam persen (metode gravimetri).

susut pengeringan = (bobot awal - bobot akhir)/bobot awal x 100%


Untuk simplisia yang tidak mengandung minyak atsiri dan sisa pelarut organik
menguap, susut pengeringan diidentikkan dengan kadar air, yaitu kandungan air
karena simplisia berada di atmosfer dan lingkungan terbuka sehingga dipengaruhi
oleh kelembaban lingkungan penyimpanan.
c. kadar air
Tujuan dari penetapan kadar air adalah untuk mengetahui batasan maksimal
atau rentang tentang besarnya kandungan air di dalam bahan. Hal ini terkait
dengan kemurnian dan adanya kontaminan dalam simplisia tersebut. Dengan
demikian, penghilangan kadar air hingga jumlah tertentu berguna untuk
memperpanjang daya tahan bahan selama penyimpanan. Simplisia dinilai cukup
aman bila mempunyai kadar air kurang dari 10%.
Penetapan kadar air dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu:

metode titrimetri

metode ini berdasarkan atas reaksi secra kuantitatif air dengan larutan
anhidrat belerang dioksida dan iodium dengan adanya dapar yang bereaksi dengan
ion hidrogen.Kelemahan metode ini adalah stoikiometri reaksi tidak tepat dan
reprodusibilitas bergantung pada beberapa faktor seperti kadar relatif komponen
pereaksi, sifat pelarut inert yang digunakan untuk melarutkan zat dan teknik yang
digunakan pada penetapan tertentu. Metode ini juga perlu pengamatan titik akhir
titrasi yang bersifat relatif dan diperlukan sistem yang terbebas dari kelembaban
udara (Anonim, 1995).

metode azeotropi ( destilasi toluena )

metode ini efektif untuk penetapan kadar air karena terjadi penyulingan
berulang kali di dalam labu dan menggunakan pendingin balik untuk mencegah
adanya penguapan berlebih. Sistem yang digunakan tertutup dan tidak
dipengaruhi oleh kelembaban (Anonim, 1995).
kadar air ( v/b) = volume air yang terukur / bobot awal simplisia x 100%

metode gravimetric

Dengan

menghitung

susut

pengeringan

hingga

tercapai

bobot

tetap(Anonim, 1995).
H. Parameter spesifik
Parameter ini digunakan untuk mengetahui identitas kimia dari simplisia.Uji
kandungan kimia simplisia digunakan untuk menetapkan kandungan senyawa
tertentu dari simplisia. Biasanya dilkukan dengan analisis kromatografi lapis tipis