Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN

KURANG KALORI PROTEIN

Disusun oleh:

1. Brama mandala putra

(6143048)

2. Ima aida

(6143064)

3. Intan maharani dewi

(6143065)

4. Nabilatul Rohmatul F

(6143069)

5. Salma soraya

(6143074)

6. Wiwid widyawati

(6143083)

PRODI S1 KEPERAWATAN 2B
STIKES MUHAMMADIYAH KUDUS
TAHUN 2015 2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Kurang Kalori Protein(KKP)akan terjadi manakala kebutuhan tubuh akan kalori,
protein,atau keduanya,tidak tercukupi oleh diet.kedua bentuk difesiensi ini tidak jarang
berjalan bersisian,meskipun salah satu lebih dominan dari pada yang lain.Keperahan KKP
berkisar dari hanya penyusutan besar berat badan atau terlambat nya tunbuh,sampai ke
sindrown klinis yang nyata,dan tidak jarang berkaitan dengan defisiensi vitamin dan
mineral.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Apa definisi dari KKP?
2. Apa etiologi dari KKP?
3. Apa manifestasi klinis dari KKP?
4. Apa patofisiologi dari KKP?
5. Apa saja pemeriksaan penunjang dari KKP?
6. Apa saja komplikasi dari KKP?
7. Apa saja penatalaksanaan medis dari KKP?
8. Apa saja pengkajian dari KKP?
9. Apa saja diagnosa dan intervensi dari KKP?
1.3 TUJUAN
1. Untuk mengetahui definisi dari KKP.
2. Untuk mengetahui etiologi KKP.
3. Untuk mengetahui patofisiologi KKP.
4. Untuk mengetahui manifestasi klinis KKP
5. Untuk mengetahui patofisiologi KKP.
6. Untuk mengetahui penunjang KKP.
7. Untuk mengetahui komplikasi KKP.
8. Untuk mengetahui penatalaksanaa KKP
9. Untuk mengetahui pengkajian KKP.
10. Untuk mengetahui diagnosa dan intervensi KKP.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 DEFINISI
Beragam masalah malnutrisi banyak ditemukan pada anak-anak. Secara umum,
kurang gizi adalah salah satu istilah dari penyakit KKP, yaitu penyakit yag diakibatkan
kekurangan energi dan protein. KKP dapat juga diartikan sebagai keadaan kurang gizi
yang disebabkan rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari
sehingga tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG). Bergantung pada derajat
kekurangan energy protein yang terjadi, maka manifestasi penyakitnya pun berbedabeda. Penyakit KKP ringan sering diistilahkan dengan kurang gizi.
Penyakit ini paling banyak menyerang anak balita, terutama di negara-negara
berkembang. Gejala kurang gizi ringan relative tidak jelas, hanya terlihatbahwa berat
badananak tersebut lebih rendah disbanding anak seusianya. Kira-kira berat badannya
hanya sekitar 60% sampai 80% dari berat badan ideal.

2.2 ETIOLOGI
Kurang kalori protein yang dapat terjadi karena diet yang tidak cukup serta kebiasaan
makan yang tidak tepat seperti yang hubungan dengan orangtua-anak terganggu, karena
kelainan metabolik, atau malformasi congenital. Pada bayi dapat terjadi karena tidak
mendapat cukup ASI dan tidak diberi makanan penggantinya atau sering diserang diare.
Secara umum, masalah KKP disebabkan oleh beberapa faktor, yang paling dominan
adalah tanggung jawab negara terhadap rakyatnya karena bagaimana pun KKP tidak
akan terjadi bila kesejahteraan rakyat terpenuhi.
Berikut beberapa faktor penyebabnya :
1. Faktor sosial
Yang dimaksud faktor sosial adalah rendahnya kesadaran masyarakat akan
pentingnya makana bergizi bagi pertumbuhan anak, sehingga banyak balita tidak
mendapatkan makanan yang bergizi seimbang hanya diberi makan seadanya atau asal
kenyang. Selain itu, hidup di negara dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi

sosial dan politik tidak stabil, ataupun adanya pantangan untuk menggunakan
makanan tertentu dan berlangsung turun-temurun dapat menjad hal yang
menyebabkan terjadinya kwashiorkor.
2. Kemiskinan
Kemiskinan sering dituding sebagai biang keladi munculnya penyakit ini di
negara-negara berkembang. Rendahnya pendapatan masyarakat menyababkan
kebutuhan paling mendasar, yaitu pangan pun sering kali tidak biasa terpenuhi apalagi
tidak dapat mencukupi kebutuhan proteinnya.
3. Laju pertumbuhan penduduk yang tidak diimbangi dengan bertambahnya ketersedian
bahan pangan akan menyebabkan krisis pangan. Ini pun menjadi penyebab
munculnya penyakit KKP.
4. Infeksi
Tidak dapat dipungkiri memang ada hubungan erat antara infeksi dengan
malnutrisi. Infeksi sekecil apa pun berpengaruh pada tubuh. Sedangkan kondisi
malnutrisi akan semakin memperlemah daya tahan tubuh yang pada gilirannya akan
mempermudah masuknya beragam penyakit. Tindakan pencegahan otomatis sudah
dilakukan bila faktor-faktor penyebabnya dapat dihindari. Misalnya, ketersediaan
pangan yang tercukupi, daya beli masyarakat untuk dapat membeli bahan pangan, dan
pentingnya sosialisasi makanan bergizi bagi balita serta faktor infeksi dan penyakit
lain.
5. Pola makan
Protein (asam amino) adalah zat yang sangat dibutuhkan anak untuk tumbuh
dan berkembang. Meskipun intake makanan mengandung kalori yang cukup, tidak
semua makanan mengandung protein atau asam amino yang memadai. Bayi yang
masih menyusui umumnya mendapatkan protein dari Air Susu Ibu (ASI) yang
diberikan ibunya. Namun, bayi yang tidak memperoleh ASI protein dari suber-sumber
lain (susu, telur, keju, tahu, dan lain-lain) sangatlah dibutuhkan. Kurangnya
pengetahuan ibu mengenai keseimbangan nutrisi anak berperan penting terhadap
terjadinya kwashiorkor terutama pada masa peralihan ASI ke makanan pengganti ASI.
6. Tingkat pendidikan orang tua khususnya ibu mempengaruhi pola pengasuhan balita.
Para ibu kurang mengerti makanan apa saja yang seharusnya menjadi asupan untuk
anak-anak mereka.
7. Kurangnya pelayanan kesehatan, terutama imunisasi. Imunisasi yang merupakan
bagian dari system imun mempengaruhi tingkat kesehatan bayi dan anak-anak.

2.3 MANIFESTASI KLINIS

1.
2.
3.
4.

Penurunan ukuran antropometri


Perubahan rambut (defigmentasi, kusam, kering, halus, jarang dan mudah dicabut)
Gambaran wajah sepe
Tanda-tanda gangguan sistem pernapasan (batuk, sesak, ronchi,retraksi otot

intercostal)
5. Perut tampak buncit, hati teraba membesar, bising usus dapat meningkat bila terjadi
diare.
6. Edema tungkai
7. Kulit kering, hiperpigmentasi, bersisik dan adanya crazy pavement dermatosis
terutama pada bagian tubuh yang sering tertekan (bokong, fosa popliteal, lulut, ruas
jari kaki, paha dan lipat paha)

2.4 PATOFISIOLOGI
Kurang kalori protein akan terjadi manakala kebutuhan tubuh akan kalori,protein, atau
keduanya tidak tercukupi oleh diet. Dalam keadaan kekuranganmakanan, tubuh selalu
berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi.
Kemampuan tubuh untukmempergunakan karbohidrat, protein dan lemak merupakan hal
yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan, karbohidrat (glukosa) dapat
dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh
untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi
kekurangan.
Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan
asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan ginjal. Selama puasa
jaringan lemak dipecah menjadi asam lemak, gliserol dan keton bodies. Otot dapat
mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai sumber energi kalau kekurangan
makanan ini berjalan menahun. Tubuh akan mempertahankan diri jangan sampai
memecah protein lagi seteah kira - kira kehilangan separuh dari tubuh.

2.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan Laboratorium
a) pemeriksaan darah tepi memperlihatkan anemia ringan sampai sedang, umumnya
berupa anemia hipokronik atau normokromik.

b) Pada uji faal hati tampak nilai albumin sedikit atau amat rendah, trigliserida

normal, dan kolesterol normal atau merendah.


c) Kadar elektrolit K rendah, kadar Na, Zn dan Cu bisa normal atau menurun.
Pemeriksaan Radiologik
Pada pemeriksaan radiologik tulang memperlihatkan osteoporosis ringan.

2.6 KOMPLIKASI
1. Defisiensi vitamin A (xerophtalmia) Vitamin A berfungsi pada penglihatan (membantu
regenerasi visual purple bila mata terkena cahaya). Jika tidak segera teratasi ini akan
berlanjut menjadi keratomalasia (menjadi buta).
2. Defisiensi Vitamin B1 (tiamin) disebut Atiaminosis. Tiamin berfungsi sebagai koenzim dalam metabolisme karbohidrat. Defisiensi vitamin B1 menyebabkan penyakit
beri-beri dan mengakibatkan kelainan saraf, mental dan jantung.
3. Defisiensi Vitamin B2 (Ariboflavinosis) Vitamin B2/riboflavin berfungsi sebagai koenzim pernapasan. Kekurangan vitamin B2 menyebabkan stomatitis angularis (retakretak pada sudut mulut, glositis, kelainan kulit dan mata.
4. Defisiensi vitamin B6 yang berperan dalam fungsi saraf.
5. Defisiensi Vitamin B12 Dianggap sebagai faktor anti anemia dalam faktor ekstrinsik.
Kekurangan vitamin B12 dapat menyebabkan anemia pernisiosa.
6. efisit Asam Folat Menyebabkan timbulnya anemia makrositik, megaloblastik,
granulositopenia, trombositopenia.
7. Defisiensi Vitamin C Menyebabkan skorbut (scurvy), mengganggu integrasi dinding
kapiler. Vitamin C diperlukan untuk pembentukan jaringan kolagen oleh fibroblas
karena merupakan bagian dalam pembentukan zat intersel, pada proses pematangan
eritrosit, pembentukan tulang dan dentin.
8. Defisiensi Mineral seperti Kalsium, Fosfor, Magnesium, Besi, Yodium Kekurangan
yodium dapat menyebabkan gondok (goiter) yang dapat merugikan tumbuh kembang
anak.
9. Tuberkulosis paru dan bronkopneumonia.
10. Noma sebagai komplikasi pada KEP berat Noma atau stomatitis merupakan
pembusukan mukosa mulut yang bersifat progresif sehingga dapat menembus pipi,
bibir dan dagu. Noma terjadi bila daya tahan tubuh sedang menurun. Bau busuk yang
khas merupakan tanda khas pada gejala ini.

2.7 PENATALAKSANAAN MEDIS

Penatalaksanaan kurang kalori protein (Suriadi & Rita Yuliani, 2001)


1. Di tinggi kan kalori, protein, mineral dan vitamin
2. Pemberian terapi cairan dan elektrolit
3. Penanganan diare bila ada : cairan, antidiare, dan antibiotic
2.8 PENGKAJIAN
1) Data biologis meliputi:
Identitas klien
Identitas penanggung
2) Riwayat kesehatan
a) Riwayat kesehatan dahulu
Apakah dahulu si anak memiliki gangguan nutrisi
b) Riwayat kesehatan sekarang
Pada umunya anak masuk rumah sakit dengan keluhan gangguan pertumbuhan
(berat badan semakin lama semakin turun), bengkak pada tungkai, sering diare
dan keluhan lain yang menunjukan terjadinya gangguan kekurangan gizi.
c) Riwayat keluarga
Meliputi pengkajian komposisi keluarga, lingkungan rumah dan komunitas,
pendidikan dan pekerjaan anggota keluarga, fungsi dan hubungan antara keluarga,
kultur dan kepercayaan, perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatan, persepsi
keluarga tentang penyakit klien dan lain-lain.
3) Pengkajian fisik
Meli/m 8 puti pengkajian komposisi keluarga, lingkungan rumah dan komunitas,
pendidikan dan pekerjaan anggota keluarga, fungsi dan hubungan anggota keluarga,
kultur dan kepercayaan, perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatan, persepsi
keluarga tentang penyakit klien dan lain-lain.

2.9 DIAGNOSA DAN INTERVENSI


1. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan
tidak adekuat atau nafsu makan berkurang.
Tujuan: pasien mendapat nutrisi yang adekuat
Kriteria hasil: Meningkatkan masukan oral, kebutuhan nutrisi terpenuhi, nafsu makan
meningkat
INTERVENSI
1. Kaji penyebab kekurangan gizi dan

RASIONAL
Mengindentifikasi penentuan intervensi

buat rencana makan dengan pasie.


2. Timbang berat badan secara rutin

Pengawasan kehilangan nutrisi dan alat

3. Tentukan rencana program pasien

pengkajian kebutuhan nutrisi.


Mendorong pasien untuk menyusun program

dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi


4. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
menentukan kebutuhan kalori dan
nutrisi untuk kenaikan berat badan
yang ideal

pemenuhan

kebutuhan nutrisi lebih nyata

dan sesuai dengan rencana


Terjadi kenaikan berat badan yang ideal

2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan status metabolik.


Kriteria hasil: intergritas kulit yang baik dapa di pertahankan, mampu untuk
melindungi kulit dan mempertahankan kelembapan kulit dan perawatan kuli.
INTERVENSI
1. Obervasi adanya kemerahan, pucat,

Untuk

ekskoriasi.
2. Gunakan krim kulit 2 kali sehari

kemerahan pada kulit


Melicinkan kulit dan menurunkan gatal.

setelah mandi, pijat kulit, khususnya


di daerah di atas penonjolan tulang.
3. Pentingnya perubahan posisi sering,
perlu untuk mempertahankan
aktivitas.
4. Tekankan pentingnya masukan
nutrisi/cairan adekuat.

RASIONAL
mengetahui apakah

Pemijatan

sirkulasi

pada

masih

kulit,

ada

dapat

meningkatkan tonus kulit.


Meningkatkan sirkulasi dan perfusi kulit
dengan

mencegah

jaringan.
Perbaikan

nutrisi

tekanan
dan

memperbaiki kondisi kulit.

lama

hidrasi

pada
akan

BAB III
PENUTUP

2.9 KESIMPULAN
KKP merupakan masalah gizi utama di indonesia. KKP disebabkan karena defisiensi
makro nutrion ( zat gizi makro ). Meski pun saat ini terjadi masalah dengan defisiensi
macro nutrion namun di beberapa daerah di prevalensi kep masih tinggi sehingga
memerlukan penanganan yang intensif dalam penurunan prevalensi.
Kurang kalori protein akan terjadi manakala kebutuhan tubuh akan kalori, protein,
atau keduanya tidak tercukupi oleh diet. (Arisman, 2004:92). Dalam keadaan kekurangan
makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi
kebutuhan pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat,
protein dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan,
karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan baka
2.10

SARAN
Hendaknya mahasiswa dapat benar benar memahami dan mewujud nyatakan peran

perawat yang prefesional, serta dapat melaksanakan tugas-tugas dengan penuh tanggung
jawab, dan selalu mengembangkan ilmu keperawatan

DAFTAR PUSTAKA
Arisman.2004. Gizi dalam Daur Kehidupan.Jakarta:EGC
Richard,Gehrman.1999. Ilmu Kesehatan Anak Nelson.vol.1.Jakarta:EGC
Suriadi, rita yuliani.2010.asuhan keperawatan pada anak edisi 2.sagung seto:jakarta