Anda di halaman 1dari 34

PASAR MODAL

SYARIAH

Kelompok 10
1. Muhammad Isa

1112000431

2. Sri Nurhayati 1112000469


3. Dian Oktaviani
4. Sunarman

1112000432

1112000359

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Keberadaan pasar modal syariah merupakan fenomena yang
menarik dalam industri pasar modal di tanah air. Seperti pendirian
bank syariah, pasar modal syariah didirikan berdasarkan pada
kenyataan bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim.
Dan diantara jutaan muslim tersebut ada yang mempunyai
kelebihan dana (surplus unit) serta mereka susah
menginvestasikannya, dan salah satu penyebabnya adalah
mereka enggan investasi di pasar modal yang ada. Muslim kaya
tersebut enggan berinvestasi di pasar modal konvensional karena
pasar modal yang ada tersebut hanya merupakan tempat
manipulasi pasar dan cenderung dipenuhi transaksi spekulatif.

Pengertian Pasar Modal Syariah


Pasar Modal menurut pasal 13 UU Nomor. 8 Tahun 1995 adalah
kegiatan yang bersangkutan dengan Penawaran Umum dan
perdagangan Efek, Perusahaan Publik yang berkaitan dengan Efek
yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan
dengan Efek.
Sedangkan Prinsip Syari`ah menurut pasal 1 ayat (13) UU No. 10
tahun 1998 adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum islam
antara bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan atau
pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya yang dinyatakan
sesuai dengan syariah, antara lain mudharabah, musyarakah ,
murabahah , atau ijarah , atau dengan ijarah wa iqtina.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Pasar Modal Syariah adalah
kegiatan yang berhubungan dengan perdagangan efek syariah
perusahaan public yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya
serta lembaga profesi yang berkaitan dengannya, di mana semua
produk dan mekanisme operasionalnya tidak bertentangan dengan
syariat Islam. Pasar Modal Syariah dapat juga diartikan adalah
pasar modal yang menerapkan prinsip-prinsip syariah.

Perkembangan Pasar Modal Syariah


Sejarah perkembangan industri keuangan syariah yang meliputi
perbankan, asuransi dan pasar modal pada dasarnya merupakan suatu
proses sejarah yang sangat panjang. Lahirnya Agama Islam sekitar 15
(lima belas) abad yang lalu meletakkan dasar penerapan prinsip
syariah dalam industri keuangan, karena di dalam Islam dikenal kaedah
muamalah yang merupakan kaedah hukum atas hubungan antara
manusia yang di dalamnya termasuk hubungan perdagangan dalam
arti yang luas.
Namun demikian, perkembangan penerapan prinsip syariah mengalami
masa surut selama kurun waktu yang relatif lama pada masa imperium
negara-negara Eropa. Pada masa tersebut negara-negara di Timur
Tengah serta negara-negara Islam lain hampir semuanya menjadi
wilayah jajahan negara-negara Eropa.Dalam perkembangan
selanjutnya, dengan banyaknya negara Islam yang terbebas dari
penjajahan dan semakin terdidiknya generasi muda Islam, maka ajaran
Islam mulai meraih masa kebangkitan kembali. Sekitar tahun 1960-an
banyak cendekiawan muslim dari negara-negara Islam sudah mulai
melakukan pengkajian ulang atas penerapan sistem hukum Eropa
kedalam industri keuangan dan sekaligus memperkenalkan penerapan
prinsip syariah Islam dalam industri keuangannya.

Islamisasi Pasar Modal


Dilihat dari sisi syariah, pasar modal adalah salah
satu sarana atau produk muamalah. Transaksi didalam
pasar modal, menurut prinsip hukum syariah tidak
dilarang atau dibolehkan sepanjang tidak terdapat
transaksi yang bertentangan dengan ketentuan yang
telah digariskan oleh syariah. Diantara yang dilarang
oleh syariah adalah transaksi yang mengandung
bunga dan riba. Larangan transaksi bunga (riba)
sangat jelas, karena itu transaksi dipasar modal yang
didalamnya terdapat bunga (riba) tidak diperkenankan
oleh Syariah.
Dengan adanya berbagai ketentuan dan
pandangan syariah seperti diatas, maka investasi
tidak dapat dilakukan terhadap semua produk pasar
modal karena diantara produk pasar modal itu banyak
yang bertentangan dengan syariah. Oleh karena itu
investasi di pasar modal harus dilakukan dengan

Produk
Pasar
Modal
Syariah

1995 tentang Pasar Modal (UUPM), Efek adalah


surat berharga, yaitu surat pengakuan utang,
surat berharga komersial, saham, obligasi,
tanda bukti utang, Unit Penyertaan kontrak
investasi kolektif, kontrak berjangka atas Efek,
dan setiap derivatif dari Efek. Sejalan dengan
definisi tersebut, maka produk syariah yang
berupa efek harus tidak bertentangan dengan
prinsip syariah.Oleh karena itu efek tersebut
dikatakan sebagai Efek Syariah. Dalam
Peraturan Bapepam dan LK Nomor IX.A.13
tentang Penerbitan Efek Syariah disebutkan
bahwa Efek Syariah adalah Efek sebagaimana
dimaksud dalam UUPM dan peraturan
pelaksanaannya yang akad, cara, dan kegiatan
usaha yang menjadi landasan pelaksanaannya
tidak bertentangan dengan prinsip prinsip
syariah di Pasar Modal. Sampai dengan saat ini,
Efek Syariah yang telah diterbitkan di pasar
modal Indonesia meliputi Saham Syariah, Sukuk
dan Reksa Dana Syariah.

1. Saham
Syariah

Secara konsep, saham merupakan surat


berharga bukti penyertaan modal kepada
perusahaan dan dengan bukti penyertaan
tersebut pemegang saham berhak untuk
mendapatkan bagian hasil dari usaha
perusahaan tersebut. Konsep penyertaan modal
dengan hak bagian hasil usaha ini merupakan
konsep yang tidak bertentangan dengan prinsip
syariah.Prinsip syariah mengenal konsep ini
sebagai kegiatan musyarakah atau
syirkah.Berdasarkan analogi tersebut, maka
secara konsep saham merupakan efek yang
tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

2. Sukuk atau
Obligasi
Syariah
Sukuk merupakan istilah
baru yang dikenalkan
sebagai pengganti dari
istilah obligasi syariah
(islamic bonds). Sukuk
secara terminologi
merupakan bentuk jamak
dari kata sakk dalam
bahasa Arab yang berarti
sertifikat atau bukti

Karakteristik Sukuk
Sebagai salah satu Efek Syariah sukuk
memiliki karakteristik yang berbeda dengan
obligasi. Sukuk bukan merupakan surat utang,
melainkan bukti kepemilikan bersama atas suatu
aset/proyek. Setiap sukuk yang diterbitkan harus
mempunyai aset yang dijadikan dasar penerbitan
(underlying asset ). Klaim kepemilikan pada sukuk
didasarkan pada aset/proyek yang spesifik.
Penggunaan dana sukuk harus digunakan untuk
kegiatan usaha yang halal. Imbalan bagi pemegang
sukuk dapat berupa imbalan, bagi hasil, atau
marjin, sesuai dengan jenis akad yang digunakan
dalam penerbitan sukuk.

Jenis Sukuk
a.

Sertifikat kepemilikan dalam aset yang disewakan.

b.

Sertifikat kepemilikan atas manfaat, yang terbagi menjadi 4 (empat)


tipe : Sertifikat kepemilikan atas manfaat aset yang telah ada,
Sertifikat kepemilikan atas manfaat aset di masa depan, sertifikat
kepemilikan atas jasa pihak tertentu dan Sertifikat kepemilikan atas
jasa di masa depan.

c.

Sertifikat salam.

d.

Sertifikat istishna.

e.

Sertifikat murabahah.

f.

Sertifikat musyarakah.

g.

Sertifikat muzaraa.

h.

Sertifikat musaqa.

i.

Sertifikat mugharasa.

3. Reksa Dana
Syariah
Reksa Dana Syariah adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun
dana dari masyarakat pemodal sebagai pemilik harta ( shabib al-mal/rabb almal) untuk selanjutnya diinvestasikan dalam Portofolio Efek oleh Manajer
Investasi sebagai wakil shahib al-mal menurut ketentuan dan prinsip Syariah
islam. Portofolio efek adalah kumpulan (kombinasi) sekuritas, surat berharga
atau efek , atau instrument yang dikelola.
Reksa Dana Syariah sebagaimana reksa dana pada umumnya merupakan
salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal
kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk
menghitung risiko atas investasi mereka. Reksa Dana dirancang sebagai
sarana untuk menghimpun danadari masyarakat yang memiliki modal,
mempunyai keinginan untuk melakukan investasi, namun hanya memiliki
waktu dan pengetahuan yang terbatas. (kasmir, Bank dan Lembaga
Keuangan Lainnya. PT RajaGrafindo Persada Jakarta 2007 hlm. 64)

Struktur Pasar Modal Syariah

Gambaran Pasar Modal Syariah Di


Indonesia
Sejak secara resmi Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam)
meluncurkan prinsip pasar modal syariah pada tanggal 14 dan 15
Maret 2003 dengan ditandatanganinya nota kesepahaman antara
Bapepam dengan Dewan Syariah Nasional- Majelis Ulama Indonesia
(DSN-MUI), maka dalam perjalanannya perkembangan dan
pertumbuhan transaksi efek syariah di pasar modal Indonesia terus
meningkat. Harus dipahami bahwa ditengah maraknya pertumbuhan
kegiatan ekonomi syariah secara umum di Indonesia, perkembangan
kegiatan investasi syariah di pasar modal Indonesia masih dianggap
belum mengalami kemajuan yang cukup signifikan, meskipun
kegiatan investasi syariah tersebut telah dimulai dan diperkenalkan
sejak pertengahan tahun 1997 melalui instrumen reksa dana syariah
serta sejumlah fatwa DSN-MUI berkaitan dengan kegiatan investasi
syariah di pasar modal Indonesia.
Dilihat dari kenyataannya, walaupun sebagian besar penduduk
Indonesia mayoritas beragama Islam namun perkembangan pasar
modal yang berbasis syariah dapat dikatakan sangat tertinggal jauh
terutama jika dibandingkan dengan Malaysia yang sudah bisa
dikatakan telah menjadi pusat investasi berbasis syariah di dunia,
karena telah menerapkan beberapa instrumen keuangan syariah

Tujuan Dan Fungsi Pasar Modal Syariah

Tujuan Pasar Modal Syariah


Guna memenuhi kebutuhan jaman yang semakin
berkembang sebagai negara hukum, pemerintah
Indonesia mengaktifkan beroperasinya pasar modal
dengan tujuan untuk lebih memacu laju pertumbuhan
ekonomi nasional. Upaya tersebut dilandaskan oleh
adanya kebutuhan dana pembangunan yang semakin
meningka. Dengan demikian melalui pasar modal,
dunia usaha akan dapat memperoleh sebagian atau
seluruh pembiayaan di perlukan. Selain itu, juga
dimaksudkan untuk meratakan hasil-hasil
pembangunan melalui kepemilikan saham-saham
perusahaan serta penyediaan lapangan kerja dan
pemerataan kesempatan usaha.

Fungsi Pasar Modal Syariah


Menurut Metwally fungsi dari keberadaan pasar modal syariah :
1.

Memungkinkan bagi masyarakat berpartispasi dalam kegiatan


bisnis dengan memperoleh bagian dari keuntungan dan risikonya.

2.

Memungkinkan para pemegang saham menjual sahamnya guna


mendapatkan likuiditas

3.

Memungkinkan perusahaan meningkatkan modal dari luar untuk


membangun dan mengembangkan lini produksinya

4.

Memisahkan operasi kegiatan bisnis dari fluktuasi jangka pendek


pada harga saham yang merupakan ciri umum pada pasar modal
konvensional

5.

Memungkinkan investasi pada ekonomi itu ditentukan oleh


kinerja kegiatan bisnis

Karakteristik Pasar Modal Syariah


karakteristik yang diperlukan dalam membentuk pasar modal syariah
(Metwally, 1995, 178- 179) adalah sebagai berikut :
a.

Semua saham harus diperjualbelikan pada bursa efek

b.

Bursa perlu mempersiapkan pasca perdagangan dimana saham dapat


diperjualbelikan melalui pialang

c.

Semua perusahaan yang mempunyai saham yang dapat


diperjualbelikan di Bursa efek diminta menyampaikan informasi
tentang perhitungan (account) keuntungan dan kerugian serta neraca
keuntungan kepada komite manajemen bursa efek, dengan jarak tidak
lebih dari 3 bulan

d.

Komite manajemen menerapkan harga saham tertinggi (HST) tiap-tiap


perusahaan dengan interval tidak lebih dari 3 bulan sekali

e.

Saham tidak boleh diperjual belikan dengan harga lebih tinggi dari HST

f.

Saham dapat dijual dengan harga dibawah HST

g.

Komite manajemen harus memastikan bahwa semua perusahaan yang


terlibat dalam bursa efek itu mengikuti standar akuntansi syariah

h.

Perdagangan saham mestinya hanya berlangsung dalam satu minggu


periode perdagangan setelah menentukan HST

i.

Perusahaan hanya dapat menerbitkan saham baru dalam periode


perdagangan, dan dengan harga HST

Instrument Pasar Modal Syariah


Efek-efek yang boleh diperdagangkan dalam pasar modal
syariah adalah hanya memenuhi criteria syariah, seperti saham
syariah, obligasi syariah, dan reksadana syariah. Untuk
menghasilkan instrumen yang benar-benar sesuai dengan
syariah, telah dilakukan upaya-upaya rekontruksi terhadap surat
berharga di antaranya :
a. Penghapusan

bunga tetap dan mengalihkannya ke surat

investasi yang ikut serta dalam keuntungan dan kerugian serta


tunduk pada kaidah al-ghunmu bil ghunmi (keuntungan /
penghasilan berimbang dengan kerugian yang ditanggung)
b. Penghapusan

surat jaminan atas kembalinya harga obligasi

denga bunga, sehingga menjadi seperti saham biasa.


c.

Pengalihan obligasi ke saham biasa.

Berdasarkan kaidah tersebut, maka diterbitkanlah instrument


pasar modal syariah dengan prinsip-prinsip berikut:

A) Muqaradah/ mudharabah funds


Dana yang berbentuk saham yang memberikan kesempatan
kepada insvestor untuk bersama-sama dalam pembiayaan
atau investasi dengan perjanjian bagi hasil dan bagi risiko
(profit and loss sharing).

B) Muraqadhah/ mudharabah bonds


Salah satu bentuk obligasi yang sesuai dengan ketentuan
syariah adalah obligasi berdasarkan prinsip mudharabah

Instrument Yang Dilarang Dalam Pasar


Modal Syariah

Preferred stock (saham istimewa)


Saham istimewa adalah saham yang memberikan hak lebih
besar daripada saham biasa dalam dividen pada waktu
perseroan dilikuidasi.Adapun karakteristik saham preference
adalah hak utama atas aktiva, penghasilan tetap, jangka waktu
tidak terbatas, tidak punya hak suara.

Forward contract
Forward contract merupakan salah satu jenis transaksi
yang diharamkan, karena bertentangan dengan syariah.
Forward contract merupakan bentuk jual beli utang yang
didalamnya terdapat unsur riba, sedangkan transaksi (jual beli)
dilakukan sebelum tanggal jatuh tempo.

Option
Option adalah transaksi yang tidak disertai dengan
underlying asset atau real asset, dengan kata lain objek yang
ditransaksikan tidak dimiliki oleh pihak penjual. Option

Lanjutan Instrument Yang Dilarang Dalam Pasar Modal


Syariah ..

Transaksi margi on tranding


Transaksi ini adalah di mana pembeli membayar
sebagian harga secara tunai, yang sisinya dilunasi dari
pinjaman bank melalui perantara dengan syarat surat
berharga tersebut dijadikan jaminan bagi pialang untuk
melunasi harga pinjaman.

Transaksi short selling


Transaksi ini merupakan suatu benuk transaksi jual beli,
di mana penjualan terhadap surat berharga belum dimilki
pada waktu akad. Transaksi ini dilarang dalam agama islam

Indeks Syariah
Indeks harga saham adalah suatu indicator yang
menunjukan pergerakan harga saham. Indeks
berfungsi sebagai indicator tren pasar, artinya
pergerakan indeks menunjukan kondisi pasar pada
saat pasar sedang aktif atau lesu.

Ada beberapa fungsi indeks syariah, yaitu:

Sebagai Indicator tren pasar

Sebagai indikator tingkat keuntungan dari saham

Sebagai tolak ukur / patok duga (benchmark)

Sebagai dasar pembentukan portofolio dengan

Jakarta Islamic Index


Jakarta Islamic Index atau biasa disebut JII adalah salah
satu indeks saham yang ada di Indonesia yang menghitung
index harga rata-rata saham untuk jenis saham-saham
yang memenuhi kriteria syariah. Pembentukan JII tidak
lepas dari kerja sama antara Pasar Modal Indonesia (dalam
hal ini PT Bursa Efek Jakarta) dengan PT Danareksa
Invesment Management (PT DIM). JII telah dikembangkan
sejak tanggal 3 Juli 2000. Pembentukan instrumen syariah
ini untuk mendukung pembentukan Pasar Modal Syariah
yang kemudian diluncurkan di Jakarta pada tanggal 14
Maret 2003. Mekanisme Pasar Modal Syariah meniru pola
serupa di Malaysia yang digabungkan dengan bursa
konvensional seperti Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek
Surabaya. Setiap periodenya, saham yang masuk JII
berjumlah 30 (tiga puluh) saham yang memenuhi kriteria
syariah. JII menggunakan hari dasar tanggal 1 Januari 1995
dengan nilai dasar 100. (Dari Wikipedia bahasa
Indonesia, ensiklopedia bebas)

Lanjutan Jakarta Islamic Index

Tujuan pembentukan JII adalah untuk meningkatkan


kepercayaan investor untuk melakukan investasi pada
saham berbasis syariah dan memberikan manfaat
bagi pemodal dalam menjalankan syariah Islam untuk
melakukan investasi di bursa efek. JII juga diharapkan
dapat mendukung proses transparansi dan
akuntabilitas saham berbasis syariah di Indonesia. JII
menjadi jawaban atas keinginan investor yang ingin
berinvestasi sesuai syariah. Dengan kata lain, JII
menjadi pemandu bagi investor yang ingin
menanamkan dananya secara syariah tanpa takut
tercampur dengan dana ribawi. Selain itu, JII menjadi
tolak ukur kinerja (benchmark) dalam memilih
portofolio saham yang halal. (Dari Wikipedia
bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas).

Sejarah Jakarta Islamic Indeks


Pada dasarnya saham syariah sudah ada di Indonesia pada tahun
1997 dengan diluncurkannya saham reksadana syariah oleh PT.
Dana Reksa.Landasan hukum dari peluncuran saham syariah ini
didasarkan pada undang undang pasar modal no. 8 tahun 1995.
pasal 1 butir 13 dari undang undang tersebut yang menyatakan
bahwa pasar modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan
penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan public yang
berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan
profesi yang berkaitan dengan efek. (Buku Panduan Harga
Saham Bursa Efek Indonesia)
Dengan berlandaskan pada undang undang yang sama dengan
penerbitan saham syariah dana reksa, pada tanggal 3 Juli 2000, PT
Bursa Efek Indonesia bekerja sama dengan PT Danareksa
Investment Management (DIM) meluncurkan indeks saham yang
dibuat berdasarkan syariah Islam yaitu Jakarta Islamic Index (JII).
Indeks ini diharapkan menjadi tolak ukur kinerja saham-saham
yang berbasis syariah serta untuk lebih mengembangkan pasar
modal syariah. (Buku Panduan Harga Saham Bursa Efek
Indonesia)

Pemilihan Saham untuk Indeks


Penentuan kriteria dalam pemilihan saham dalam JII melibatkan
Dewan Pengawas Syariah PT DIM. Saham-saham yang akan masuk ke JII
harus melalui filter syariah terlebih dahulu. Berdasarkan arahan Dewan
Pengawas Syariah PT DIM, ada 4 syarat yang harus dipenuhi agar
saham-saham tersebut dapat masuk ke JII:
a.

emiten tidak menjalankan usaha perjudian dan permainan yang


tergolong judi atau perdagangan yang dilarang

b.

bukan lembaga keuangan konvensional yang menerapkan sistem


riba, termasuk perbankan dan asuransi konvensional

c.

usaha yang dilakukan bukan memproduksi, mendistribusikan, dan


memperdagangkan makanan/minuman yang haram

d.

tidak menjalankan usaha memproduksi, mendistribusikan, dan


menyediakan barang/jasa yang merusak moral dan bersifat mudharat

Kriteria Pemilihan Saham Jakarta Islamic Index


Untuk menetapkan saham-saham yang masuk dalam
perhitungan Jakarta Islamic Index dilakukan proses seleksi
sebagai berikut :

a.

Saham-saham yang akan dipilih berdasarkan Daftar Efek


Syariah (DES) yang dikeluarkan oleh Bapepam.

b.

Memilih 60 saham dari daftar efek syariah tersebut


berdasarkan urutan kapitalisasi pasar terbesar dalam 1
tahun terakhir.

c.

Dari 60 perusahaan tersebut dipilih 30 perusahaan


berdasarkan likuiditas, yaitu nilai transaksi di pasar reguler
dalam 1 tahun terakhir.

Adapun tahapan atau seleksi untuk saham yang masuk dalam


indeks syariah antara lain :
a.

Memilih kumpulan saham dengan jenis usaha utama yang tidak


bertentangan dengan prinsip syariah dan sudah tercatat lebih
dari 3 (tiga) bulan (kecuali masuk 10 besar dalam hal
kapitalisasi)

b.

Memilih saham berdasarkan laporan keuangan tahunan atau


tenaga tahun terakhir yang memiliki rasio kewajiban terhadap
aktiva maksimal sebesar 90%

c.

Memilih 60 saham dari susunan saham di atas berdasarkan


urutan rata-rata kapitalisasi pasar terbesar selama satu tahun

d.

Memilih 30 saham dengan urutan berdasarkan tingkat likuidasi


rata-rata nilai perdagangan reguler selama satu tahun terakhir.
(Sumber: Heri Sudarsono, bank & lembaga keuangan
syariah, deskripsi dan

ilustrasi)

Perhitungan Indeks
Perhitungan JII dilakukan oleh BEJ dengan
menggunakan metode perhitungan indeks yang telah
ditetapkan yaitu dengan bobot kapitalisasi pasar (market
cap weighted). Perhitungan indeks ini juga mencakup
penyesuaian - penyesuaian (adjustments) akibat
berubahnya data emiten yang disebabkan adanya
corporate action. (Dari Wikipedia bahasa Indonesia,
ensiklopedia bebas)

Komponen saham JII


Saham-saham perusahaan yang masuk dalam indeks JII yang valid utk periode
Desember 2015 - Mei 2016 adalah :
No.

Kode

Nama perusahaan

No.

Kode

Nama perusahaan

IDX: AALI

Astra Agro Lestari

16

IDX: LSIP

PP London Sumatra Indonesia

IDX: ADRO

Adaro Energy

17

IDX: MIKA

Mitra Keluarga Karyasehat

IDX: AKRA

AKR Corporindo

18

IDX: MPPA

Matahari Putra Prima

IDX: ASII

Astra International

19

IDX: PGAS

Perusahaan Gas Negara (Persero)

IDX: ASRI

Alam Sutera Realty

20

IDX: PTPP

PP (Persero)

IDX: BSDE

Bumi Serpong Damai

21

IDX: PWON

Pakuwon Jati

IDX: ICBP

Indofood CBP Sukses Makmur

22

IDX: SILO

Siloam International Hospitals

IDX: INCO

Vale Indonesia

23

IDX: SMGR

Semen Indonesia (Persero)

IDX: INDF

Indofood Sukses Makmur

24

IDX: SMRA

Summarecon Agung

10

IDX: INTP

Indocement Tunggal Prakarsa

25

IDX: SSMS

Sawit Sumbermas Sarana Tbk

11

IDX: ITMG

Indo Tambangraya Megah

26

IDX: TLKM

Telekomunikasi Indonesia (Persero)

12

IDX: JSMR

Jasa Marga (Persero)

27

IDX: UNTR

United Tractors

13

IDX: KLBF

Kalbe Farma

28

IDX: UNVR

Unilever Indonesia

14

IDX: LPKR

Lippo Karawaci

29

IDX: WIKA

Wijaya Karya (Persero)

15

IDX: LPPF

Matahari Departement Store

30

IDX: WSKT

Waskita Karya (Persero)

Kendala Dan Strategi Pasar Modal Syariah


Menurut Nurul Huda, Pakar Pasar Modal Syariah Pascasarjana UI (2006),
dalam mengembangkan pasar modal syariah di Indoensia, ada beberapa
kendala yang dihadapi , antara lain :
a.

Belum ada ketentuan yang menjadi legitimisi pasar modal syariah dari
Bapepam atau pemerintah, misalnya Undang-Undang. Perkembangan
keberadaan pasar modal syariah saat ini merupakan gambaran
bagaimana legalitas yang diberikan Bapepam dan pemerintah lebih
tergantung dari permintaan pelaku pasar yang menginginkan
keberadaan pasar modal syariah.

b.

Selama ini pasar modal syariah lebih populer sebagai sebuah wacana
dimana banyak bicara tentang bagaimana pasar yang disyariahkan.
Dimana selama ini praktek pasar modal tidak bisa dipisahkan dari riba,
maysir dan gharar, dan bagaimana memisahkan ketiganya dari pasar
modal

c.

Sosialisasi instrumen syariah di pasar modal perlu dukungan dari


berbagai pihak. Karena ternyata perkembangan pasar modal perlu
dukungan berbagai pihak. Karena ternyata perkembangan Jakarta
Islamic Index dan reksadana syariah kurang tersosialisasi dengan baik
sehingga perlu dukungan dari berbagai pihak, khususnya praktisi dan
akademisi. Praktisi dapat menjelaskan keberadaan pasar modal secara
pragmatis sedangkan akademisi bisa menjelaskan secara ilmiah

Berdasarkan pada kendala kendala tersebut maka


strategi yang perlu dikembangkan:
a. Keluarnya Undang-Undang Pasar modal syariah
diperlukan untuk mendukung keberadaan pasar modal
syariah atau minimal menyempurnakan UUPM No 8
Tahun 1995, sehingga dengan hal ini diharapkan
semakin mendorong perkembangan pasar modal
syariah
b. Perlu keaktifan dari pelaku bisnis (pengusaha) muslim
untuk membentuk kehidupan ekonomi yang islami.
Hal ini guna memotivasi meningkatkan image pelaku
pasar terhadap keberadaan instrumen pasar modal
yang sesuai dengan syariah
c. Diperlukan rencana jangka pendek dan jangka
panjang oleh Bapepam untuk mengakomodir
perkembangan instrumen-instrumen syariah dalam
pasar modal. Sekaligus merencanakan keberadaan
pasar modal syariah di tanah air.
d. Perlu kajian-kajian ilmiah mengenai pasar modal

Sedangkan Dari studi yang telah dilakukan Bapepam, kendala


umum pengembangan, antara lain:
1.

Kurangnya pengetahuan dan pemahaman pelaku pasar


dan pemodal

2.

Terbatasnya informasi tentang pasar modal syariah

3.

Belum siapnya kerangka peraturan untuk penerapan


prinsip syariah di pasar modal

4.

Pola institusi pengawasan dianggap sebagai disinsentif oleh para pelaku

5.

Kurangnya insentif

6.

Khusus bagi reksa dana, terbatasnya produk syariah


untuk dijadikan portofolio.

TERIMA
KASIH

Kesimpulan
Bahwasanya pasar modal syariah sangat dan perlu di perhatikan
diera globalisasi ini, lebih-lebih di Negara kita Indonesia, yang mana
sebagian besar penduduknya beragama muslim. Peran pasar modal
perlu di akui penting dan dicap jempol karena tidak adanya diskriminasi
dan hukum keadilan sangat diterapkan serta tingkat keamanan lebih
terjaga, tidak adanya sistem bunga, riba, dan hal-hal yang
memberatkan pihak sebelah (bersifat manfaat) serta hal-hal yang
melanggar atuaran agama islam, seperti dalam pasar modal
konvensional.Dimana jika pasar modal konvensional Sistem
mekanismenya yang mengandung riba, maisir dan gharar selama ini
telah menimbulkan keraguan dikalangan umat islam.
Ketentuan-ketentuan hukum perikatan nasional dan sanksi pidana
dalam hukum nasional yang cukup rinci sangat mendukung
pemberlakuan prinsip syariah dalam bermuamalah.Kecuali dalam hal
riba, dan transaksi yang menyangkut makanan yang diharamkan oleh
umat Muslim, prinsip-prinsip hukum nasional (khususnya di bidang
pasar modal) tidak bertentangan prinsip-prinsip syariah.Dengan
demikian dapat diharapkan pasar modal dapat segera disemarakkan
dengan produk-produk pasar modal yang berbasis syariah. Namun
demikian, karena istilah-istilah syariah berbeda dengan istilah yang
sudah dikenal dikhasanah hukum nasional. umat Muslim merasa lebih