Anda di halaman 1dari 120

demikian filsafat berarti cinta

BAB I

ilmu atau hikmah.

PENDAHULUAN

Sidi Gazalba
filsafat itu

A. Pengertian Filsafat

berpendapat bahwa

adalah berpikir

mendalam,

sistematis,

universal
dari

terhadap

dalam

secara

radikal

rangka

dan

mencari

Secara etimologis filsafat berasal

kebenaran inti atau hakikat mengenai

bahasa Yunani Philosophia,. Philos

segala sesuatu yang ada.

artinya suka, cinta atau kecenderungan

Selanjutnya Harold Titus (1984 :

pada sesuatu. Sedangkan Sophia artinya

11-14)

kebijaksanaan. Dengan demikian secara

pengertian

sederhana filsafat diartikan cinta atau

sekumpulan

kecenderungan pada kebijaksanaan.

terhadap

Louis

mengemukakan
filsafat

(1).

sikap

kehidupan

beberapa

filsafat

dan
dan

adalah

kepercayaan
alam

yang

A. Kattsoff mengartikan

biasanya diterima secara tidak kritis (arti

filsafat yang berasal dari kata

philo,

informal) (2). filsafat adalah suatu proses

berarti cinta, dan kata Sophia

yang

berarti

ilmu

atau

hikmah. Dengan

kritik

atau

pemikiran

terhadap

kepercayaan dan sikap yang sangat kita


junjung tinggi

(arti formal) (3).Filsafat

adalah

usaha

gambaran

untuk

mendapatkan

keseluruhan

(4).Filsafat

adalah analisis logis dari bahasa serta


penjelasan

(5).

sekumpulan

problem

Filsafat

adalah

yang

langsung

memperoleh perhatian

manusia dan

dicarikan jawabannya oleh ahli filsafat.


Jika dikaitkan dengan pendidikan, maka
akan

ditemukan

pengertian

pendidikan sebagaimana
oleh

para

ahli

filsafat

dikemukakan

misalnya

Omar

pemikiran

yang teratur

yang menjadikan

falsafah itu sebagai jalan untuk mengatur,


menyelaraskan

dan

memadukan

proses

pendidikan yang dapat menjelaskan nilainilai yang diusahakan untuk dicapai. Dengan
demikian

falsafah

pendidikan

dan

pengalaman kemanusiaan merupakan tiga


unsur yang terpadu.
Maka

dengan

demikian

filsafat

pendidikan Islam menurut Omar Mohammad


al-Toumy al-Syaibany (1979 : 30) itu dapat
diartikan :
1. Pelaksanaan pandangan

falsafat dan

Mohammad al-Toumy al-Syaibany (1979 :

kaidah falsafat Islam yang diterapkan

30) mengatakan bahwa filsafat pendidikan

di bidang pendidikan.

adalah pelaksanaan pandangan falsafah dan

kaidah falsafah dalam

bidang

pendidikan

2. Aktivitas
selaras

pemikiran
dan

yang

terpadu dalam

teratur
upaya

dan pengalaman kemanusiaan yang disebut

menjelaskan nilai-nilai dan tujuan yang

pendidikan.

hendak dicapai yang bersumber dari

Menurut Moh. Labib al-Najihi (1967)


bahwa

falsafah pendidikan adalah aktivitas

anugrah Tuhan.

B. Tugas Pokok Filsafat pendidikan Islam

3. Melakukan upaya-upaya untuk memperjelas


tujuan-tujuan yang akan

Apa yang harus dilakukan oleh filsafat

dicapai melalui

usaha pendidikan.

pendidikan Islam dalam hubungannya untuk


memperbaiki kualitas pendidikan Islam ?
Tugas pokok

filsafat pendidikan Islam

itu

sekurang-kurangnya adalah :
1. Memberi

kritik

anggapan

C. Kegunaan Filsafat Pendidikan Islam

Menurut Omar Mohammad al-Toumy

terhadap

anggapan-

yang menjadi pegangan

para

pendidik dalam pendidikan Islam.

al-Syaibani (1979 : 33-36) bahwa

filsafat

pendidikan Islam mempunyai tiga kegunaan


yaitu :

2. Melakukan evaluasi secara sistematis, kritis

1. Filsafat pendidikan Islam dapat menolong

dan bertanggungjawab terhadap konsep-

para perencana

konsep

telah

orang yang melaksanakannya dalam suatu

dan dilaksanakan dalam suatu

negara untuk membentuk pemikiran sehat

waktu untuk melihat tingkat relevansi dan

terhadap proses pendidikan. Juga dapat

efektivitasnya

menolong terhadap tujuan-tujuan, fungsi-

pendidikan

dibangun

pendidikan

Islam

dalam
Islam,

yang

mencapai
misalnya

tujuan
evaluasi

fungsi

serta

terhadap penggunaan metode pendidikan

penyelesaian

Islam, penerapan kurikulum dan sebagainya.

peningkatan
termasuk

pendidikan

dan orang-

meningkatkan
masalah

tindakan

mutu

pendidikan,
dan

keputusan

rancangan-rancangan

pendidikan. Filsafat Pendidikan Islam juga

berguna untuk memperbaiki pelaksanaan


pendidikan,

kaidah dan cara mengajar

4. Memberi

sandaran intelektual dalam

membela

kepentingan

yang mencakup penilaian bimbingan dan

pengajaran

penyuluhan.

menghadapi

2. Filsafat pendidikan Islam dapat menjadi


azas terbaik untuk melakukan penilaian
terhadap

pendidikan

pengertian

Islam

menyeluruh.

dalam

Penilaian

Islam,

pendidikan

membimbing

perkembangan

dan

dalam
dunia

pendidikan.
5. Memberi corak yang khas sesuai dengan
prinsip-prinsip dan nilai

ajaran agama

Islam.#

pendidikan itu dianggap persoalan yang


penting dalam setiap pengajaran yang baik.
Penilaian pendidikan

mencakup segala

D. Dasar Filsafat Pendidikan Islam

usaha dan kegiatan yang dilakukan oleh


sekolah, institusi pendidikan secara umum
untuk mendidik

angkatan baru,

warga

Dasar

Filsafat

menurut Omar Mohammad

negara dan semua yang berhubungan

Syaibani (1973 : 55-

dengan hal itu.

berikut :

3. Filsafat pendidikan Islam akan menolong


dalam memberikan pendalaman
terhadap

faktor-faktor

pikiran
spiritual,

kebudayaan, sosial, ekonomi dan politik


di negara kita.

pendidikan

al-Toumy

alam

pemikiran bahwa :

raya

al-

363) adalah sebagai

1. Prinsip-prinsip yang mendasari


terhadap

Islam

pandangan

mencakup

dasar

a. Tingkah laku manusia selain dipengaruhi

b.

kesempurnaan dan terhindar dari cacat.

oleh lingkungan sosial, juga dipengaruhi

Dengan

oleh lingkungan fisik.

berbeda dengan wujud ciptaan-Nya.

Jagad raya dengan seisinya

2. Prinsip-Prinsip

c. Setiap wujud mempunyai dua aspek yaitu

menjadi

dasar

pemikiran bahwa :
a. Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang

alam ruh, alam dunia dan

alam akhirat.
d. Alam

yang

pembentukan

konsep alam nyata, alam ghaib, alam


materi dan

pencipta

pandangan terhadap manusia yang memuat

aspek materi dan ruh. Pemikiran ini


kepada

wujud

adalah

ciptaan Allah SWT.

mengarahkan

demikian

paling mulia sesuai dengan hakikat kejadiannya.


b. Manusia mempunyai tugas

senantiasa mengalami perubahan

menurut sunnah Allah.

(wakil) Allah untuk memakmurkan bumi.


c.

e. Keteraturan gerak alam merupakan bukti

sebagai Khalifah

Manusia mempunyai kemampuan untuk


berkomunikasi,

kemampuan

belajar

dan

bahwa alam semesta adalah satu tatanan

kemampuan untuk mengembangkan potensi

yang tunggal sebagai sunnah Allah SWT.

diri.

f. Alam merupakan sarana yang disediakan


untuk

manusia

agar

meningkatkan

kemampuan dirinya.
wujud alam

dimensi yaitu badan, akal dan ruh.


e. Manusia tumbuh dan berkembang sesuai dengan

g. Allah adalah pencipta alam yang berada


diluar

d. Kepercayaan bahwa manusia mempunyai tiga

dan

memiliki

potensi genetika

(faktor

keturunan)

lingkungan yang mempengaruhinya.

dan

f.

Manusia mempunyai perbedaan individu

g. Manusia

mempunyai

(keluwesan)

dan

sifat

b.

fleksibilitas

kemampuan

untuk

Pengetahuan manusia terbentuk melalui


kemampuan akal, intuisi dan wahyu.

c.

mengubah serta mengembangkan diri.

Pengetahuan

manusia

bertingkat,

pengetahuan yang paling utama adalah


pengetahuan yang berhubungan dengan

3. Prinsip-prinsip
pandangan

yang

terhadap

menjadi

dasar

masyarakat

yang

mengandung pemikiran bahwa :

Allah SWT, perbuatan dan makhlukmakhluk-Nya.


d.

a. Masyarakat merupakan kumpulan individu

Pada hakikatnya pengetahuan manusia


merupakan

hasil

penafsiran

dan

yang terikat oleh kesatuan berbagai aspek,

pengungkapan kembali terhadap masalah-

misalnya tanah air, budaya, agama, tradisi

masalah yang berkaitan dengan ciptaan

dan lainnya.

Allah SWT. Oleh karena itu pengetahuan

b. Masyarakat

Islam

tersendiri yang

memiliki

secara

prinsip

identitas

bukanlah

berbeda

pemikiran manusia yang optimal secara

dengan masyarakat lainnya.

dari

memuat pemikiran

e.

Pengetahuan dapat diraih


berbagai

cara

seperti

bahwa :

langsung,

penelitian,

a.

peristiwa,

rangkuman

Pengetahuan adalah potensi manusia


dalam

upaya

untuk

suatu

proses

murni.

4. Prinsip yang mendasari pandangan terhadap


pengetahuan manusia

hasil

meningkatkan

kehidupan pribadi dan masyarakat.

melalui

pengamatan

kajian

terhadap

dari

berbagai

pendapat atau melalui bimbingan Allah


SWT.

f.

Pengetahuan yang

hakiki adalah

d.

pengetahuan yang berdasarkan akidah


agama, sehingga dapat menenteramkan
jiwa

manusia.

Oleh

karena

Akhlak sesuai dengan fitrah dan akal


sehat manusia

e.

Akhlak mempunyai tujuan akhir yang

itu

sama dengan tujuan akhir ajaran agama

pengetahuan yang mempunyai nilai adalah

Islam yaitu untuk mencapai kebahagiaan

pengetahuan yang memberi manfaat bagi

hidup di dunia dan di akhirat.

manusia.

f.

Ajaran Islam merupakan sumber nilainilai

5. Prinsip-prinsip

yang

menjadi

dasar

pandangan terhadap akhlak, berisi pemikiran


bahwa :

akhlak

dapat

dibentuk

melalui

pembiasaan yang baik, sehingga

ia

menjadi kebiasaan manusia.


b.

Akhlak merupakan sikap yang mendalam


dalam jiwa manusia yang dapat dipelajari.

c.

Kepercayaan bahwa tujuan akhlak


adalah untuk meraih kebahagiaan di dunia

pada

yaitu bagaimana hidup beriman.


g. Akhlak

Akhlak

akhlak

hakikatnya adalah realisasi ajaran agama

terhadap
a.

karena

berintikan
amanat

tanggungjawab

Allah

SWT

yang

keabsahannya dinilai berdasarkan tingkat


kemampuan

untuk

mengaplikasikan

hubungan yang sebaik mungkin antara


sesama

manusia dan lingkungannya

berdasarkan

tuntunan

ajaran

agama

Islam. Akhlak mulia merupakan

tujuan

akhir dari sikap hidup yang diinginkan.#

dan di akhirat baik bagi individu maupun


bagi masyarakat.

E. Sumber Filsafat Pendidikan Islam

Dalam kaitan ini Mohammad


Sumber filsafat pendidikan Islam adalah :

Fadhil al-Jamali

(1981 : 165)

menjelaskan bahwa apabila falsafah


1.

Al-Quran. Al-Quran

bermaksud

mempelajari

mengandung berbagai hal tentang

masalah

Tuhan (pencipta), manusia dan alam

hubungan antara manusia

semesta

yang

manusia, antara manusia dengan

(bahan

alam semesta dan antara manusia

pemikiran manusia). Al-Quran sendiri

dengan Pencipta alam semesta, maka

mendorong

falsafah

(ciptaan-Nya)

merupakan

objek

kajian

agar

manusia

yang

segala

menyangkut

al-Quran

dengan

mencakup

menggunakan akal untuk memikirkan

keseluruhan

segala yang ada dilangit dan di bumi

Selanjutnya

ini yang kemudian melahirkan ilmu

bermaksud

pengetahuan. Misalnya afala taqilun,

mengembangkan

afala

afala

manusia sebagai individu, maka al-

tatafakkarun (apakah kamu tidak

Quran bermaksud mendidik semua

berpikir, apakah kamu tidak melihat

makhluk, yang

dan apakah kamu tidak memikirkan)

manusia.

Falsafah

apa yang telah dijadikan Allah SWT

mengenai

pendidikan

yang ada di muka bumi ini.

karena sifatnya yang lengkap serta

tubsyirun

dan

masalah

tersebut.

apabila

pendidikan

membentuk

dan

kemampuan

berarti

mendidik
al-Quran
lebih baik,

mengandung kemungkinan

untuk

mengantisipasi perkembangan dan

3.

perubahan.
2.

Ciri-ciri pertumbuhan dan


perkembangan pengajaran dari segi

As-Sunnah

jasmani, intelektual, psikologi dan

Selain al-Quran sebagai sumber

spiritual dan penggerak-penggeraknya

pemikiran filsafat, maka as-Sunnah

yang bermacam-macam berdasarkan

baik perkataan, perbutan

hasil

ketetapan

Nabi

maupun

menjadi

sumber

filsafat pendidikan Islam. Misalnya

penelitian

tentang

perkembangan manusia.
4.

Nilai-nilai sosial yang baik yang

Nabi mengajarkan agar para orang

tidak

tua

Islam

memulai mendidik anak-anak

bertentangan
dan

dengan

mampu

ajaran

mengikuti

untuk mengerjakan shalat

secara

perkembangan dan kemajuan zaman

bertahap

tahun

yang sesuai dengan ajaran Islam.

sejak

usia

kemudian 10 tahun. Dengan segala

5.

Hasil penelitian dan kajian-

konsekuensinya apabila anak tidak

kajian

mau mengerjakan shalat dalam usia

berkaitan dengan sifat-sifat dan proses

tersebut.

ini

pendidikan,

fungsi

dan

bagaimana

pendidikan.

Proses

pertumbuhan

Sunnah

melahirkan

qauliyah

pemikiran

pendidikan,

psikologi yang
tujuan

orang tua mendidik anaknya sejak

kebudayaan, sosial, ekonomi, politik

kecil dengan pendidikan keimanan,

dan

ibadah, akhlak dan lainnya.

masyarakat.

spiritual

yang

perlu

bagi

6.

Prinsip-prinsip yang menjadi

3. Konsep tentang guru pendidikan Islam

dasar falsafah politik, ekonomi dan

yang memenuhi semua

sosial

diperlukan bagi seorang guru pendidikan

yang

dilaksanakan oleh

negara. (Omar Mohammad al-Toumy


al-Syaibany, 1979 : 38- 44).#

kriteria yang

Islam.
4. Konsep tentang metode pendidikan yang
efektif untuk mencapai tujuan pendidikan.

F.

Ruang

lingkup Filsafat

Pendidikan

5. Lingkungan pendidikan yang merupakan


faktor yang dapat mempengaruhi proses

Islam

pencapaian

tujuan pendidikan

dan

sebagainya.
Ruang
Islam

lingkup filsafat pendidikan

adalah

pemikiran

pemikiran

yang

filosofis

atau

G. Peranan Filsafat Pendidikan Islam

mendalam, sistematis,

terpadu, logis dan menyeluruh

tentang

Peranan filsafat pendidikan Islam menurut

masalah pendidikan Islam. Dengan demikian

Zuhairini

ruang lingkupnya

berikut :

adalah konsep-konsep

pendidikan yang mencakup :


1. Perumusan

tujuan

pendidikan

dkk

(1995

: 135)

adalah sebagai

1. Filsafat pendidikan Islam menunjukkan problem


yang

yang dihadapi

oleh pendidikan Islam, sebagai

menjadi dasar seluruh proses pelaksanaan

hasil dari pemikiran yang mendalam dan berusaha

pendidikan

untuk memahami

2. Perumusan kurikulum pendidikan Islam

duduk masalahnya. Dengan

analisis filsafat, maka filsafat pendidikan Islam

bisa

menunjukkan

alternatif-alternatif

pemecahan masalah tersebut.

tersebut dalam kehidupan nyata tidak boleh

2. Filsafat pendidikan Islam memberikan pandangan


tertentu tentang

manusia

(menurut Islam).

Pandangan tentang hakikat manusia tersebut


berkaitan dengan

tujuan hidup manusia

sekaligus juga merupakan tujuan


menurut

Islam.

husna dan dalam mengembangkan sifat-sifat

Filsafat

dan

pendidikan

pendidikan

Islam

tujuan

umum

berperan untuk menjabarkan


pendidikan Islam tersebut dalam

bentuk tujuan

mengarah kepada perbuatan menodai

atau

merendahkan sifat Tuhan tersebut.


4. Filsafat

pendidikan

Islam dalam analisisnya

terhadap masalah pendidikan Islam masa kini


yang

dihadapinya akan dapat memberikan

informasi apakah proses pendidikan Islam yang


berjalan selama

ini

mampu mencapai tujuan

pendidikan Islam yang

khusus yang operasional. Kemudian tujuan yang

dapat

operasional itu berperan untuk mengarahkan

sehingga mampu memberikan alternatif perbaikan

secara

dan pengembangannya.

nyata gerak

dan kegiatan pelaksanaan

merumuskan

ideal atau tidak, dan

letak

kelemahannya

pendidikan Islam.
3.

Hasil analisis filsafat pendidikan Islam terhadap


hakikat

hidup

dan

menunjukkan bahwa
potensi

kehidupan
manusia

pembawaan yang

kembangkan.

Filsafat

menunjukkan bahwa potensi

manusia

H.

Metode

Kajian Filsafat Pendidikan

Islam

mempunyai

harus ditumbuhpendidikan

Islam

yang dibawa oleh

manusia adalah sifat-sifat Tuhan atau al-asmaul

Dalam
pendidikan,

mengkaji
filsafat

kajian sebagai berikut :

masalah-masalah

menggunakan

metode

1. Metode

spekulatif

dan

kontemplatif

yang

menetapkan

aturan-aturan dalam kehidupan

merupakan metode utama dalam setiap cabang

nyata, dalam filsafat Islam, bisa disebut sebagai

filsafat. Dalam sistem

pendekatan syariyah yaitu mencari ketentuan

filsafat Islam disebut

tafakkur. Baik kontemplatif maupun tafakkur,

dan menetapkan ketentuan

adalah berpikir secara mendalam

boleh dan yang tidak boleh menurut Syariah

dan dalam

tentang apa yang

situasi yang tenang, sunyi, untuk mendapatkan

Islam. Objeknya adalah

kebenaran

yang

tingkah laku dan amal perbuatan. Metode ijtihad

dengan

dalam fiqih seperti istihsan, maslahah mursalah,

tentang

hakikat

dipikirkan. Oleh karena

sesuatu

itu berkaitan

al-adah,

hidup menurut Islam, hakikat iman, Islam, sifat

contoh-contoh metode normatif dalam sistem

Tuhan, taqdir, malaikat dan sebagainya.

filsafat Islam.

berarti

aturan atau

hukum-hukum. Norma

adalah

dengan

masalah-masalah yang abstrak, misalnya hakikat

2. Pendekatan normatif. Norma artinya nilai, juga

muhakkamah,

berkaitan

merupakan

3. Analisis konsep yang juga disebut analisis bahasa.


Konsep berarti pengertian atau

tangkapan

menunjukan keteraturan suatu sistem. Nilai juga

seseorang terhadap

menunjukkan baik atau buruk, berguna-tidak

seseorang

bergunanya

sebagai alat untuk mengungkapkan pengertian

sesuatu.

Norma

juga

akan

menunjukkan arah gerak sesuatu aktivitas.


dan semua

bentuk norma

selalu berkaitan dengan bahasa,

tersebut. Pengertian suatu objek

Menurut filsafat Islam sumber nilai adalah


Tuhan

suatu objek. Pengertian

dirumuskan

dalam bentuk definisi yang menggunakan bahasa

akan

atau kalimat tertentu. Kata atau kalimat

dan

mengarahkan manusia kepada Islam. Pendekatan

bahasa pada hakikatnya adalah kumpulan

dari

normatif

pengertian-pengertian

dimaksudkan untuk

mencari dan

dari

konsep-konsep.

Konsep seseorang tentang

suatu objek berbeda

sendiri.

Dalam

sistem

pemikiran

filsafat,

antara satu dengan lainnya, dan konsep ini pun

pengulangan sejarah yang sesungguhnya

dibatasi oleh waktu dan tempat. Al-Quran dan

mungkin terjadi.

hadits nabi adalah juga menggunakan

untuk memberikan petunjuk dan membina masa

bahasa

depan.

dari konsep-konsep yang bisa dimengerti oleh

sejarah banyak manfaatnya untuk pendidikan.

manusia. Dalam sistem filsafat Islam, menafsirkan

Ayat-ayat al-Quran banyak menganjurkan untuk

dan

al-Quran

mengambil pelajaran dari sejarah. Dalam sistem

merupakan praktek konkrit dari pendekatan

filsafat Islam, penggunaan sunnah nabi SAW

analisis konsep atau analisis bahasa. Ajaran Islam

sebagai sumber hukum, penelitian-penelitian akan

penuh dengan konsep-konsep

filosofis tentang

hadits yang menghasilkan pemisahan antara

hidup dan kehidupan manusia, seperti iman,

hadits palsu dan hadits shahih pada hakikatnya

Islam, Ihsan, amal saleh, taqwa,

merupakan

menawilkan

ayat-yat

bahagia dan

sebagainya. Semuanya adalah menjadi problem


pendidikan Islam.

contoh

peristiwa-peristiwa

praktis

dari

penggunaan

analisis historis dalam filsafat pendidikan Islam.


5. Pendekatan ilmiah terhadap masalah aktual yang

4. Pendekatan historis. Historis artinya sejarah,


yaitu mengambil

demikian

sejarah berguna

manusia, yang berarti juga merupakan kumpulan

juga

Dengan

Peristiwa

tidak

pelajaran dari peristiwa dan

pada hakikatnya merupakan pengembangan dan


penyempurnaan dari pola

kejadian masa lalu. Suatu kejadian atau peristiwa

empiris

dalam pandangan kesejarahan

terjadi karena

berkembang pada masa jayanya filsafat dalam

hubungan sebab akibat, dan terjadi dalam suatu

Islam. Pendekatan ini merupakan realisasi dari

setting

ayat al-Quran yang menyatakan bahwa : Allah

situasi kondisi dan

waktunya sendiri-

dan

berpikir rasional,

eksperimental

yang

telah

tidak

akan

mengubah

sehingga kaum itu

nasib

yang

suatu

kaum,

berusaha untuk

mengubahnya (Q. S Ar-Raad : 11).

kalau seseorang tidak memahami

permasalahan-permasalahan

berpikir yang empiris dan intuitif.

Usaha

mengubah keadaan atau nasib tidak mungkin bisa


dilakukan

merasakan. Pendekatan ini lebih mendekati pola

aktual

yang

Berbagai pendekatan filosofis


mungkin dapat digunakan
berbagai persoalan

tersebut

untuk memecahkan

pendidikan

yang dihadapi

dihadapinya. Pendidikan pada hakikatnya adalah

oleh umat Islam. Keefektifan suatu pendekatan

usaha untuk

sangat ditentukan oleh karakter masalah

mengubah

dan mengarahkan

yang

keadaan atau nasib tersebut. Hal ini merupakan

dihadapi oleh pendidikan Islam (Zuhairini dkk,

problematika

1995 : 131-134).

pokok filsafat pendidikan

Islam

masa sekarang.
6. Pendekatan komprehensif dan terpadu antara
sumber naqli, aqli dan imani, sebagaimana yang
dikembangkan oleh
Gazali

kebenaran

kebenaran

yang

merupakan

Al-Ghazali. Menurut Alyang

sebenarnya

diyakininya

kebenaran.

yaitu

betul-betul

Kebenaran

yang

mendatangkan keamanan dalam jiwa, bukan


kebenaran yang mendatangkan

keragu-raguan.

Untuk mencapai kebenaran yang benar-benar


diyakini,

haruslah

melalui

pengalaman

dan

secara

tidak

pendidikan

langsung

diposisikan

bahwa
sebagai

bagian yang tidak terpisahkan dari


kehidupan umat manusia.
Dalam kaitan ini

John Dewey

(1966 : 1-4) berpendapat bahwa


BAB II

pendidikan

sebagai

salah

satu

kebutuhan hidup, sebagai salah satu


HAKIKAT PENDIDIKAN ISLAM

fungsi sosial, sebagai bimbingan,


sebagai sarana pertumbuhan yang
mempersiapkan membukakan dan

A. Pengertian Pendidikan Islam

membentuk disiplin hidup, melalui


Pendidikan

dalan

merupakan salah

Islam

satu faktor yang

transmisi

dalam bentuk informal

maupun

formal. Bahkan Lodge

sangat menentukan corak kehidupan

(1947 : 23)

seseorang. Oleh karena itu Islam

pendidikan dan proses kehidupan

memandang

pendidikan

manusia berjalan serempak, tidak

merupakan salah satu aktivitas yang

terpisahkan di antara keduanya (Life

wajib

is education and education is life).

bahwa

dilaksanakan

oleh

setiap

muslim, yang berlangsung secara


terus menerus. Dengan demikian

mengatakan bahwa

Dengan demikian pendidikan

tidak boleh melanjutkan keadaan

itu mengiringi proses kehidupan

kemarin menurut alam kemarin.

manusia

mengembangkan

Pendidikan

yang

menuju

kebudayaan

optimal

sehingga

untuk

potensi-potensi
pertumbuhan
menjadi manusia
bermanfaat

yang bukan saja


untuk

dirinya,

melainkan juga bermanfaat


orang lain

dan

bahkan

bagi
alam

lingkungannya.

adalah

usaha

yang

berazaskan

peradaban yakni memajukan hidup


agar

mempertinggi

derajad

kemanusiaan. Rumusan pengertian


ini

tampaknya

dinamis

dan

lebih

lengkap,

demokratis

serta

dengan

aspek

mengaitkannya
budaya manusia.

Pendidikan menurut Ki Hajar

Dengan

agak

lebih

rinci

Dewantara (1962 : 166) adalah usaha

Soegarda Poerbakawatja (1970 : 11)

yang

mengemukakan

dilakukan

keinsyafan yang
keselamatan

dengan penuh
ditujukan untuk

dan

bahwa pendidikan

dalam pengertian umum mencakup

kebahagiaan

segala usaha

dan perbuatan dari

manusia, pendidikan tidak hanya

generasi tua

untuk mengalihkan

bersifat pelaku pembangunan, tetapi

pengalamannya,

sering

perjuangan,

kecakapannya dan keterampilannya

memelihara

kepada

merupakan

pendidikan

berarti

hidup tumbuh kearah kemajuan,

generasi

pengetahuannya,
muda

untuk

melakukan fungsi hidupnya dalam

pergaulan bersama dengan sebaik-

orang dalam usaha mendewasakan

baiknya dan corak pendidikan itu

manusia melalui usaha pengajaran

erat

corak

dan pelatihan (KBBI, 1989 :234).

karena

itu

Hampir sejalan dengan pengertian

penghidupan

itu

pendidikan tersebut di atas seperti

hubungan

penghidupan.
apabila

dengan

Oleh

corak

berubah, maka corak pendidikannya

yang

akan berubah juga, agar anak siap

Undang Republik Indonesia Nomor

untuk memasuki pendidikan itu.

20 tahun 2003 tentang

Pengertian
sejalan

dengan

dikemukakan

ini

nampaknya

pengertian

oleh

Ki

yang
Hajar

Dewantoro.

dalam

UndangSistem

Pendidikan Nasional bab I pasal 1


bahwa

pendidikan

adalah

usaha

sadar untuk menyiapkan anak didik


melalui bimbingan pengajaran dan

Secara filosofis Mohammad


Natsir

(1954

bahwa

pendidikan ialah pimpinan

jasmani

tertuang

menyatakan

mendatang.
Pendidikan menurut Ahmad

kesempurnaan dan kelengkapan arti

D. Marimba (1989 : 19) adalah

kemanusiaan yang

sebagai bimbingan atau pimpinan

lain

ruhani

bagi peranannya dimasa

menuju

Pengertian

dan

87)

latihan

sesungguhnya.

dari

pendidikan

yang dilakukan secara sadar oleh

adalah proses pengubahan sikap dan

seorang

pendidik

terhadap

tatalaku seseorang atau kelompok

perkembangan jasmani dan ruhani

anak

didik menuju terbentuknya

kepribadian

utama.

Sedangkan

adalah

pendidikan

manusia

seutuhnya, akal dan hatinya, ruhani

pendapat Langiveld dalam Kartini

dan

(1992 : 22) bahwa pendidikan adalah

keterampilannya. Oleh karena itu

kegiatan membimbing anak manusia

pendidikan

pada kedewasaan dan kemandirian.

manusia untuk hidup baik dalam

Untuk menunjukkan konsep


pendidikan

Islam,

jasmaninya,

akhlak

Islam

dan

menyiapkan

keadaan damai maupun perang dan

dalam

menyiapkannya untuk menghadapi

masyarakat muslim digunakan tiga

masyarakat dengan segala kebaikan

istilah yaitu tarbiyah, talim

dan

dan

tadib.

kejahatannya,

manis

dan

pahitnya.
Dalam dunia muslim istilah

Sedangkan Abdurrahman An-

yang berkembang adalah tarbiyah.

Nahlawi

Ketika pengertian pendidikan secara

pendidikan

umum

logis dan sesuai secara keseluruhan

dikaitkan

sebagai

sebuah

ditemukan

dengan
ad-Din

Islam
akan

pengertian-pengertian

baik

dalam

mengatakan
Islam

bahwa

adalah secara

kehidupan

individu

maupun kolektip.

baru tentang pendidikan itu.


M. Yusuf Qardhawi (1980 :
157)

misalnya

memberikan

pengertian bahwa pendidikan Islam

Mustafa Al-Ghulayani dalam


Nur

Uhbiyati

berpendapat

(1998

bahwa

10)

pendidikan

Islam itu ialah menanamkan akhlak

Muhammad Nuqaib al-Attas (1996:

yang mulia di dalam jiwa anak didik

17) adalah

dalam masa pertumbuhannya dan

pendidik terhadap anak didik untuk

menyiraminya dengan air petunjuk

pengenalan dan pengakuan tempat-

dan nasehat, sehingga akhlak itu

tempat

menjadi salah satu kemampuan yang

sesuatu di dalam tatanan penciptaan

meresap ke dalam

sehingga

berwujud

jiwanya yang

keutamaan

sebagai

usaha yang dilakukan

yang

benar

dari

membimbing

pengenalan dan

segala
kearah

pengakuan akan

buahnya kebaikan dan cinta bekerja

tempat Tuhan yang tepat di dalam

untuk kemaslahatan tanah air.

tatanan wujud dan kepribadian.

Hasan Langgulung (1980 : 94)


merumuskan

Islam

pengertian pendidikan baik secara

sebagai

suatu proses penyiapan

umum maupun pendidikan Islam

generasi

muda

mengisi

masih bersifat global dan konseptual,

peranan, memindahkan nilai-nilai

belum mengarah kepada pengertian

Islam

teknis.

dan

pendidikan

Berdasarkan semua rumusan

untuk

pengetahuan

yang

diselaraskan dengan fungsi manusia


untuk

diamalkan

hasilnya

dipetik

di

dunia
di

dan

akhirat.

Pendidikan Islam menurut Syeikh

Untuk itu kemudian Endang


Syaifuddin

Anshari (1976 : 85)

merumuskan pengertian pendidikan

Islam secara lebih rinci dan teknis

seseorang sebagai pendidik dengan

yaitu bahwa

pendidikan Islam

menggunakan cara dan alat tertentu

adalah sebagai proses bimbingan

untuk mentransfer materi dengan

(pimpinan, tuntunan dan usulan)

tujuan agar terbentuk manusia yang

oleh

subjek

didik

terhadap

berkepribadian

perkembangan

jiwa

(pikiran,

proses tersebut dilakukan penilaian

perasaan,

kemauan,

intuisi

dan

muslim.

Dalam

yang menggunakan norma-norma

sebagainya) dan raga subjek didik

ajaran

dengan bahan-bahan materi tertentu

tampaknya pengertian pendidikan

dalam jangka waktu tertentu dengan

Islam tersebut sangat lengkap karena

metode tertentu dan dengan alat

para

perlengkapan

sehingga mencakup semua aspek

yang

ada

kearah

terciptanya pribadi tertentu disertai


evaluasi sesuai dengan ajaran Islam.
Berdasarkan

berbagai

pendapat tersebut di atas

terlihat

bahwa

Islam.

ahli

Dengan

saling

demikian

melengkapi,

kependidikan.
B. Landasan Pendidikan Islam
Pada

dasarnya

ada

empat

landasan pendidikan Islam yaitu :

pendidikan

Islam

mengandung

makna

proses

bimbingan yang

ditujukan kepada

umatnya menguasai berbagai ilmu

dilakukan oleh

pengetahuan sebagai modal untuk

anak didik yang

1.

Landasan al-Quran. Islam adalah


agama

yang

mendorong

agar

melaksanakan tugas ke-Khalifahan

pertama

orang-orang

dimuka bumi. Oleh karena itu

kepada

Allah

pendidikan

mendekatkan diri kepada-Nya dan

dan

merupakan

pengajaran

suatu

mencapai

proses

penguasaan

pengetahuan.
surat

Dalam

al-Alaq

untuk
ilmu
SWT

dan

orang sedang membagi pelajaran.


Melihat dua peristiwa tersebut
Rasulullah SAW berkomentar bahwa

memerintahkan kepada manusia

pertemuan

untuk membaca, baik membaca

meminta kepada Allah SWT, maka

yang tersurat maupun yang tersirat.

apabila Tuhan

Perintah

ini

pertama,

mereka

menghendaki akan

secara

jelas

dikabulkan-Nya. Tetapi sebaliknya

keharusan

adanya

jika Allah tidak menghendaki maka

sebab

Dia tidak mengabulkannya. Tetapi

membaca dalam arti yang luas

kelompok kedua ini adalah orang

adalah dalam kontek belajar secara

yang

akademik

sedangkan saya sendiri diutus untuk

menunjukkan
proses

pendidikan

(formal)

melalui

lembaga pendidikan.
2.

SWT

dalam pertemuan kedua orang-

al-Quran

Allah

berdoa

sedang

menjadi

Landasan As-Sunnah. Pada suatu

pendidik.

kedua.

rumahnya

Rasulullah

pertemuan.

Dalam

pertemuan

manusia,
Kemudian

Rasulullah duduk pada pertemuan

hari Rasulullah SAW keluar dari


dan menyaksikan dua

mengajar

Apa

yang

dilakukan

ini merupakan contoh

yang baik untuk kita tauladani yaitu

bahwa beliau sangat mendorong


orang

untuk

belajar

dan

mengajarkan ilmu secara luas.

4. Warisan

pemikiran

Landasan pendidikan
lain

adalah

warisan

Islam.
Islam yang
pemikiran

Islam yaitu hasil pemikiran para


3. Nilai-Nilai sosial kemasyarakatan.

ulama,

filosof dan cendikiawan

Landasan pendidikan Islam yang

muslim,

khusus

ketiga

adalah

dalam

bidang

nila-nilai

sosial

pendidikan menjadi dasar rujukan

yang

tidak

penting

kemasyarakatan

bertentangan dengan ajaran

al-

dalam

pendidikan

pengembangan

Islam,

karena

Quran dan as-Sunnah dan atau

pemikiran mereka itu merupakan

prinsip

refleksi

yang

kemanfaatan

mendatangkan
dan menjauhkan

kemudaratan bagi manusia. Atas

terhadap ajaran-ajaran

pokok Islam (Azyumardi Azra, 1999


: 9). ##

dasar inilah kemudian pendidikan


Islam diletakkan dalam kerangka
sosiologis yang dapat

menjadi

sarana transmisi pewaris kekayaan


sosial

budaya

yang

kehidupan manusia.

C. Karakteristik Pendidikan Islam

baik bagi

Berdasarkan

landasan

pendidikan sebagaimana diuraikan di


atas kemudian dikembangkan sistem
pendidikan

Islam

yang

mempunyai

karakteristik tersendiri yang tidak sama

dengan sistem-sistem pendidikan pada


umumnya.
Karakteristik pendidikan Islam
menurut Azyumardi Azra (1999

: 10)

adalah sebagai berikut :

pada

penguasaan

dan

potensi

dan

kemampuan

seseorang

untuk

berkembang

dalam

suatu

kepribadian.
4. Pengamalan

1. Penekanan pada pencarian ilmu


pengetahuan,

3. Pengakuan

ilmu

pengetahuan

atas dasar tanggungjawab kepada


Tuhan dan masyarakat.

pengembangan atas dasar ibadah


kepada

Allah.

Pencaharian,

Selain karakteristik pendidikan

penguasaan dan pengembangan

Islam sebagaimana disebut di atas,

ilmu pengetahuan

terdapat

suatu

merupakan

proses

berkesinambungan

yang
dan

prinsipnya berlangsung

pada
seumur

hidup ( life long education).


2.

Sebagai suatu ibadah, maka

pula

karakteristik

pendidikan Islam yang lain yaitu :


1. Rabbaniyah
aspek

yaitu

pendidikan

seluruh
Islam

bersandarkan sepenuhnya pada


nilai

Rabbaniyah

yang

dalam pencarian, penguasaan dan

terjabarkan dari kitabullah dan

pengembangan ilmu pengetahuan

sunnah Rasulullah SAW.

dalam pendidikan
menekankan
akhlak.

pada

Islam sangat
nilai-nilai

2. Syamilah (baik sistem, arah


dan

muatannya).

pendidikan

bahwa

Islam dibangun

dengan memperhatikan segala

perkembangan

aspek

dengan

manusia.

kehidupan, baik keseluruhan

4. Murunah

terkait

kematangan
(penerapannya).

aspek pada diri individu (aqal,

Dalam aplikasinya pendidikan

ruh dan jasad), maupun dalam

Islam

disesuaikan

kerangka

situasi

dan

hubungan

individu

dengan

kondisi

yang

dengan masyarakat, alam dan

melatarbelakangi

al-Khaliq.

melingkupi objek dan subjek

tidak

Pendidikan

mengenal

bahkan

Islam

pemisahan,

sangat

pandangan yang

mencela
parsialistik

(penggalan).

pendidikan

dalam

mengoptimalisasi hasil.
5. Istimrariyah (keterlibatannya).
Proses pendidikan Islam tidak

3. Marhaliyah
Seluruh tabiat

dan

(metodenya).

mengenal istilah usai. Karena

alam

setiap individu wajib belajar

terjadi

secara bertahap. Demikian pula

sepanjang hayatnya

perkembangan fisik dan psikis

education)

manusia.

Oleh

karena

itu

6. Tanmawiyah (metode, pola dan

metode pendidikan Islam juga

peralatannya).

dibangun dengan

memberikan

sifat-sifat

tersebut, bertahap mengikuti

(long life

Islam
peluang

memperbaharui
gaya

untuk

metode

pendidikan

dan

sejalan

dengan

penemuan

perkembangan
pengetahuan,

dan
ilmu

selama

sejalan

dengan prinsip dasar Islam.


7. Fardhiyah

(sifatnya).

mewajibkan

setiap

Islam
individu

untuk menuntut ilmu. Implikasi


dari kewajiban ini

berarti

melibatkan semua pihak untuk


mempersiapkan
perangkat
perlengkapan
dengan

segala

sarana

HAKIKAT TUJUAN PENDIDIKAN


ISLAM

dan

pendidikan

A. Pengertian Tujuan Pendidikan Islam

sebaik-baiknya

(Junanah, dalam Mukaddimah,


2001 : 141).##

BAB III

Tujuan pendidikan Islam adalah sesuatu


yang akan dicapai melalui kegiatan pendidikan.
Tujuan pendidikan Islam dapat dikelompokkan
kedalam dua tujuan yaitu tujuan umum dan
tujuan khusus.
B. Karakteristik Tujuan Pendidikan Islam

Karakteristik tujuan pendidikan Islam


menurut Abuddin Nata (1997 : 53) adalah :
1. Mengarahkan

manusia agar menjadi

5. Mengarahkan manusia
mencapai

agar

dapat

kebahagiaan hidup di dunia

dan di akhirat.

Khalifah di bumi dengan sebaik-baiknya


yaitu

memakmurkan

mensejahterakan

bumi

dan
melalui

C. Macam-Macam

Tujuan

Pendidikan

Islam

pendidikan.
2. Mangarahkan

seluruh

Pada garis besarnya tujuan pendidikan

pelaksanaan tugas ke-Khalifahannya di

Islam dikelompokkan kedalam tujuan umum

muka

dan tujuan khusus pendidikan Islam.

bumi

manusia

agar

dilaksanakan

dalam

kerangka beribadah kepada Allah SWT.

1. Tujuan Umum Pendidikan Islam

3. Mengarahkan manusia agar berakhlak


mulia,

sehingga

menyalahgunakan

ia
fungsi

tidak
ke-

Khalifahannya.

Banyak

kajian

yang

berusaha

menentukan tujuan-tujuan pendidikan dari


sejarah pemikiran dan pendidikan Islam.

4. Membina dan mengarahkan fungsi akal,

Diantara tujuan umum pendidikan Islam

jiwa dan jasmani sehingga ia memiliki

yang dapat dicapai oleh kajian-kajian ini

ilmu akhlak dan keterampilan yang

dapat dijelaskan dibawah ini.

semuanya digunakan untuk mendukung


tugas ke-Khalifahannya.

Dalam kajian

tentang pendidikan

Islam Moh. Athiyah Al-Abrasyi (1969 : 71)

menyimpulkan terdapat lima tujuan umum

sebagai landasan normatif melahirkan visi,

pendidikan Islam yaitu :

missi pendidikan dan proses pembelajaran.

a. Untuk pembentukan akhlak yang mulia. Kaum

e. Menyiapkan anak didik dari segi profesional,

muslimin dari dahulu sampai sekarang setuju

teknikal

bahwa

inti

menguasai profesi tertentu dan keterampilan

pendidikan Islam dan bahwa untuk mencapai

pekerjaan tertentu agar ia dapat mencari rizki

akhlak yang sempurna merupakan

dalam hidup,

pendidikan

akhlak

adalah

tujuan

pendidikan yang sebenarnya.

dan

pertukangan

supaya

selain memelihara

dapat

segi

keruhanian dan keagamaan.

b. Persiapan untuk dunia dan kehidupan akhirat.


Pendidikan

menitik

Sedangkan menurut Abdurrahman An-

beratkan pada keagamaan saja atau keduniaan

Nahlawi tujuan umum pendidikan Islam itu

saja, melainkan pada keduanya.

adalah :

c. Persiapan

Islam

untuk

bukan

hanya

mencari

rizki

dan

a. Pendidikan

akal

dan

persiapan

pemeliharaan segi manfaat atau lebih terkenal

pikiran. Allah menyuruh

dengan nama tujuan-tujuan vokasional dan

merenungkan kejadian langit dan

profesional.

bumi agar dapat beriman

d. Menumbuhkan semangat ilmiah para pelajar

manusia
kepada

Allah SWT.

dan memuaskan keingintahuan (curiosity)

b. Menumbuhkan potensi-potensi dan

yang memungkinkan ia mengkaji ilmu demi

bakat-bakat asal yang terdapat pada

ilmu itu sendiri. Falsafah pendidikan Islam

anak-anak.

Islam

adalah

agama

fitrah, sebab ajarannya tidak asing

dari tabiat asal manusia, bahkan ia

tanggung

jawab

adalah

dalam

hidup

fitrah

yang

manusia

perseorangan
ini,

(2).

diciptakan sesuai dengannya. Tidak

Memperkenalkan kepada manusia

ada kesukaran dan perkara

akan hubungan-hubungan sosialnya

yang

luar biasa.

dan tanggungjawabnya dalam jangka

c. Menaruh perhatian pada kekuatan


dan potensi generasi
mendidik mereka
baiknya,

baik

muda

dan

dengan sebaik-

laki-laki

maupun

perempuan.

waktu dalam
(3).

Memperkenalkan

manusia

akan

semesta)

dan

kepada

makhluk

(alam

mengajaknya

memahami hikmah Penciptaannya

d. Berusaha untuk

menyeimbangkan

segala potensi-potensi dan

bakat-

bakat manusia.

dalam

menggunakan

Berdasarkan kajian terhadap


Al-Jamali (1966 : 82)

mengemukakan

menciptakan alam ini dan

memungkinkan
faedah

al-Quran,

suatu sistem social,

tujuan

atau

untuk

mengambil

padanya,

(4).

Memperkenalkan kepada manusia


akan pencipta alam semesta ini.

umum

pendidikan Islam sebagai berikut :


(1).Memperkenalkan

dari

manusia

kepada

Berdasarkan keempat tujuan


yang diuraikan di atas

nampak

manusia akan tempatnya di antara

terjalin erat, tetapi tiga tujuan yang

makhluk-makhluk

pertama merupakan jalan kearah

dan

akan

tujuan

yang

keempat

yaitu

agama dan ajaran-ajaran Islam dan

mengenal Allah SWT dan bertaqwa

mengajak manusia

kepada-Nya.

nilai

akhlak,

kepada nilai-

(4).

Mewujudkan

ketenteraman dalam
Menurut

Moh.

Said

jiwa

dan

akidah yang dalam, perhambaan

Ramadhan El-Bouthy (1961 : 102)

yang semata-mata

bahwa tujuan umum pendidikan

yang ikhlas kepada Allah SWT, (5).

Islam

(1).

Mencapai

Memelihara

keredhaan Allah SWT,

menjauhi

kesusasteraan Arab sebagai

murka

adalah
dan

melaksanakan

dan kepatuhan

siksa-Nya

dan

pengabdian

yang

al-Quran

bahasa
dan

kebudayaan

dan
bahasa

sebagai wadah
dan

unsur-unsur

tulus ikhlas kepada-Nya. Tujuan ini

kebudayaan Islam

dianggap induk dari segala tujuan

menonjol dan sebagai jalan bagi

pendidikan Islam, (2). Mengangkat

orang yang ingin memahami al-

tarap

Quran dan mempelajari

akhlak

dalam

berdasarkan

pada

diturunkan

untuk

masyarakat

agama

yang

membimbing

masyarakat kearah yang

di redhai

dan

hukum-hukumnya,

Menghapuskan
yang

yang paling

syariah
(6).

khurafat-khurafat

bercampur

dengan

oleh-Nya,(3).Memungkinkan

hakikat

timbulnya

kesadaran Islam yang sebenarnya

diri manusia

jiwa kebangsaan pada


berdasarkan

pada

agama,

baur

menyebarkan

dan menunjukkan hakikat agama

atas

kebersihan

dan

(3).Tujuan-tujuan yang berkaitan dengan

kecemerlangannya,(7). Meneguhkan

pembentukan jiwa yang

perpaduan

menghadapi kehidupan ini.

tanah

air

dan

tenang

untuk

menyatukan barisan melalui usaha


menghilangkan

perselisihan,

3. Tujuan khusus pendidikan Islam

bergabung dan bekerja sama dalam


rangka

prinsip-prinsip

dan

Yang

dimaksud

dengan

tujuan

Islam

adalah

kepercayaan Islam yang terkandung

khusus

dalam al-Quran dan as- Sunnah.

perubahan-perubahan yang ingin dicapai

pendidikan

yang merupakan bagian


Berdasarkan pandangan para ahli

dari tiap-tiap

tujuan umum pendidikan Islam. Dengan

tersebut, maka tujuan umum pendidikan

perkataan

Islam

pengetahuan, keterampilan, pola tingkah

dapat

dikelompokkan

sebagai

lain

adalah

gabungan

berikut : (1). Tujuan tujuan yang berkaitan

laku,

dengan usaha untuk mencapai kehidupan

terkandung dalam tujuan akhir

akhirat, misalnya mengenal Allah SWT dan

umum pendidikan.

mengamalkan

syariat-Nya,(2).

sikap

dan

kebiasaan

yang
tujuan

Tujuan-

tujuan yang berkaitan dengan kemampuan

Menurut

Abdurrahman

An-

dan keterampilan yang harus dimiliki oleh

Nahlawi (1963 : 163-164) bahwa tujuan

setiap orang untuk mencari rizki dalam

khusus pendidikan Islam adalah : (1).

memenuhi

Memperkenalkan kepada generasi muda

kebutuhan

hidup

dunia,

akan akidah Islam, asal usul ibadah dan

diri,

cara melaksanakannya dengan benar,

kewajiban,

membiasakan mereka agar berhati-hati

kebaikan dan taqwa, kasih sayang, cinta

mematuhi

dan

kepada kebaikan, sabar, berjuang untuk

(2).

kebaikan, memegang teguh pada prinsip,

benar

berkorban untuk agama dan tanah air

akidah

menghormati

agama

syiar

agama,

Menumbuhkan kesadaran

yang

tanggung

jawab,

tolong

menghargai

menolong

atas

dan dasar-dasar akhlak yang mulia, (3).

dan bersikap untuk

Menanamkan keimanan

Mendidik naluri, motivasi dan keinginan

SWT,

kepada Allah

kepada malaikat, rasul-rasul,

generasi

muda

dan

akidah

dan

membelanya,(1).
menguatkannya

kitab-kitab dan hari qiamat berdasarkan

dengan

pada paham kesadaran dan perasaan, (4).

membiasakan

Menumbuhkan minat generasi

mengatur emosi dan membimbingnya

muda

nilai-nilai

serta

mereka menahan dan

untuk menambah pengetahuan dalam

dengan

baik.

adab dan pengetahuan keagamaan dan

mereka

agar berpegang

untuk mengikuti hukum-hukum agama

sopan santun dalam pergaulan baik di

dengan

kecintaan dan kerelaan, (5).

rumah, sekolah dan dimana pun mereka

Menumbuhkan rasa bangga terhadap

berada, (1). Menanamkan iman yang kuat

sejarah dan kebudayaan

kepada Allah SWT, (1). Membersihkan

Islam dan

pahlawan-pahlawannya

dan mengikuti

hati

jejak

Menumbuhkan

benci, kasar, zalim,

mereka,

perasaan

(6).

rela, optimisme, kepercayaan

dari

Begitu

pula

mengajar

pada

adab

segala rasa dengki, irihati,


egoisme, tipuan,

khianat dan sifat jelek lainnya.

laku
Sebagai

seorang

pemikir

dari

zaman keemasan Islam yang banyak

yang

mulia

dalam

kehidupannya.
3. Menyiapkan seseorang dari

segi

menulis tentang pendidikan, terutama

vokasional atau pekerjaan. Bahwa

pada

untuk mencari dan menegakkan

karyanya

yang

terkenal

yaitu

Mukaddimah, Ibnu Khaldun ( 1962 :

kehidupan ini

203) juga menulis

pekerjaan,

tujuan

khusus

pendidikan Islam sebagai berikut :


yaitu

sebagaimana

ditegaskan bahwa

1. Menyiapkan seseorang dari segi


keagamaan

dengan mencari

mengajarkan

pekerjaan

pentingnya

sepanjang

umur

manusia, sedangkan pengajaran

syiar-syiar agama menurut al-

atau

Qur;an

termasuk diantara keterampilan-

dan

as-Sunnah,

sebab

dengan jalan itu potensi iman itu

pendidikan

dianggapnya

keterampilan itu.

diperkuat, sebagaimana

halnya

dengan

lainnya

pikiran, sebab dengan pemikiran

yang kuat telah mendarah daging,

itulah seseorang dapat memegang

maka

berbagai

potensi-potensi
ia se-akan-akan

menjadi

fitrah.
2. Menyiapkan seseorang dari segi
akhlak, agar ia dapat bertingkah

4. Menyiapkan seseorang dari

pertukangan
tertentu.

pekerjaan
atau

segi

dan

keterampilan

5. Menyiapkan seseorang dari segi

pandangan yang lebih modern, anak

kesenian, baik seni musik, syair,

didik

tidak hanya dianggap

khat dan sebagainya.##

sasaran pendidikan, melainkan juga


harus

diperlakukan

pendidikan,

misalnya

sebagai

sebagai

subjek

dengan

cara

melibatkan mereka dalam memecahkan


masalah yang dihadapi dalam proses
belajar mengajar.

BAB IV

Dalam bahasa Arab dikenal tiga


HAKIKAT

istilah yang menunjukkan

ANAK DIDIK

pada anak

didik yang secara harfiah berarti orang


yang menginginkan atau membutuhkan

A. Pengertian Anak Didik

sesuatu
Anak didik atau peserta didik

yaitu

tilmidz,

(jamanya) yang

talamidz

berarti murid dan

adalah makhluk yang sedang dalam

thalib al-ilmi

proses perkembangan dan pertumbuhan

pelajar atau mahasiswa (Yunus, 1990 :

menurut

79).

fitrahnya

masing-masing.

yang

menuntut ilmu,

dan

Ketiga istilah tersebut seluruhnya

pengarahan yang konsisten dari orang

mengacu kepada seseorang yang tengah

dewasa menuju kearah titik optimal

menempuh

kemampuan

hanya terletak pada penggunaannya.

Mereka memerlukan bimbingan

fitrahnya.

Dalam

pendidikan.

Perbedaan

Yang dimaksud dengan anak

1. Tubuhnya selalu berkembang sehingga

didik menurut Ag. Sudjono (1980 : 36)

makin lama makin dapat menjadi alat

ialah anak yang belum dewasa yang

untuk menyatukan kepribadiannya.

memerlukan usaha orang lain untuk

2. Anak dilahirkan dalam keadaan tidak

menjadi

dewasa

melaksanakan

agar

tugasnya

dapat

berdaya yang menyebabkan ia terikat

sebagai

pada pertolongan orang dewasa yang

makhluk Tuhan, sebagai umat manusia,


sebagai warga negara, sebagai anggota
masyarakat

dan

sebagai

pribadi.

Menurut Sutari Imam Barnadib (1995 :


78) bahwa anak didik adalah anak yang

bertanggung jawab.
3. Anak

membutuhkan

perlindungan serta pendidikan untuk


kesejahteraan mereka.
4. Anak mempunyai daya bereksplorasi,

sedang berkembang yang dialami sejak

anak

terciptanya

menentukan

sampai

meninggal

dan

mempunyai

perubahan-perubahan itu terjadi secara

pendidikan

wajar.

kesempatan.
Dalam memahami anak didik

kita

mengenal

sebagaimana

ada

lima

dikemukakan

azas
Sutari

pertolongan,

dan

kekuatan
menuntut

untuk

5. Anak mempunyai

untuk
kepada

memperoleh
dorongan untuk

mencapai emansipasi dengan orang


lain.

Imam Barnadib (1995 : 78) yaitu :


B. Ciri Pertumbuhan Anak Didik

d. Masih
Ada

empat

tingkat

ciri

pertumbuhan anak didik menurut Ratno


S. Satmoko (1996) yaitu :
Taman Kanak-kanak (TK) :
fisiknya secara sederhana.

perlindungan dan kasih sayang.


sesuatu yang nyata dengan khayalan.

kesibukan

orang

dewasa

sekitarnya dalam bentuk bermain.

yang

g. Kemampuan memecahkan persoalan

manifestasinya akan nampak dalam

dengan berpikir berdasarkan pada

adanya kesenangan untuk berkawan,

hal-hal yang konkrit.

sanggup

mematuhi

berlaku

(meniru) dan beridentifikasi (sama)


pada

b. Mulai mengenal kehidupan sosial dan


yang

kepada orang lain dan memerlukan

f. Mempunyai kesanggupan berimitasi

a. Memiliki kemampuan untuk melayani

sosial

ketergantungan

e. Belum dapat membedakan antara

1. Ciri pertumbuhan kejiwaan anak didik

pola

mempunyai

aturan,

sadar

akan hak dan tanggung jawab dan


sanggup bergaul dengan anak lain.
c. Menyadari bahwa dirinya berbeda
dengan anak lain

h. Mampu

mengaitkan

pengetahuan

terdahulu dengan yang sekarang.


i. Mampu
terhadap

menyesuaikan
kejadian

yang

reaksi
dialami,

yaitu bahwa

sehingga anak dapat dilatih untuk

mempunyai keinginan dan perasaan

menguasai dan mengarahkan ekspresi

tertentu.

perasaannya dalam bentuk yang lebih


baik.

j. Dorongan

untuk

mengeksploitasi

c.

Semakin

menyadari

lingkungan politik dan sosial mulai

tentang

tumbuh dengan ditandai seringnya

bahwa dirinya

bertanya

dan

tentang segala sesuatu

kepada orang di sekitarnya untuk


memperoleh

informasi

atau

pengalaman.

pengetahuan

dirinya dan menyadari pula


mempunyai keinginan

perasaan

tertentu

dan

bertumbuhnya minat tertentu.


d. Kemampuan berpikirnya masih dalam
tingkatan persepsional (pemahaman).

2. Ciri pertumbuhan kejiwaan anak didik


Sekolah Dasar (SD).

e. Dalam bergaul anak didik bekerjasama


dalam melakukan kegiatan bersama.

a. Pertumbuhan fisik dan motorik anak

f. Mereka mempunyai kesanggupan untuk

didik maju dengan pesat. Hal ini sangat

memahami hubungan sebab akibat.

penting peranannya bagi pengembangan

g. Ketergantungan kepada orang dewasa

dasar-dasar yang

diperlukan sebagai

makhluk individu dan sebagai makhluk

semakin berkurang, semakin kurang


memerlukan perlindungan mereka.

sosial.
b. Kehidupan sosialnya
dengan

kemampuan

bekerjasama

diperkaya selain
dalam

tetapi juga dalam

hal

Sekolah Menengah (SMP).

hal

bersaing dan hidup dalam kelompok


sebaya.

3. Ciri pertumbuhan kejiwaan anak didik

a. Bertambahnya kemampuan membuat


abstraksi dan memahami hal-hal yang
bersifat abstrak.

b. Bertambahnya

kemampuan

berkomunikasi pikir dengan orang lain.


c. Mampu

mengadakan

a. Memiliki

kemantapan

kesetabilan emosi.

identifikasi

b. Kemampuan

dengan kondisi dalam lingkungan hidup

diri dengan

yang lebih kuat.

semakin mantap.

d. Bertumbuhnya minat untuk memahami


diri sendiri dan orang lain.
e. Bertumbuhnya

pengertian
kemampuan

c. Sanggup

untuk

menyesuaikan

lingkungan
memenuhi

menjadi

hak

dan

kewajiban kelompok.
tentang

konsepsi moral dan nilai.


f. Pertumbuhan

atau

d. Menyadari
dirinya

sosial

meliputi : kemampuan untuk saling

akan

dan

berkurangnya

meningkatkan

demi

penyempurnaan dirinya.
e. Telah

mencapai

internalisasi

memberi dan menerima, berpartisipasi

perbuatan moral yakni kemampuan

dalam kelompok masyarakat sebaya

menghayati dan mengamalkan nilai

menonjol, bersifat kompromis, tindakan

moral dan nilai social

kompetitif (bersaing) untuk menguji

f. Kreativitas mulai menurun

kemampuan diri.
Dengan memahami perbedaan
4. Ciri

pertumbuhan

dewasa.

kejiwaan

orang

ciri pertumbuhan anak didik ini maka


menjadi keharusan para pendidik
untuk

memberikan

pelayanan

pendidikan yang tidak harus selalu

sama-seragam.

Karena

perbedaan

kewajiban

yang

harus

dilakukan

pertumbuhan itu juga berimplikasi

anak didik adalah :

bahwa

perbedaan

1. Mensucikan diri dari akhlak dan

perbedaan

sifat tercela. Sebab menuntut

terjadinya

kebutuhan

dan

kemampuan.

Demikian

rancangan

kurikulum

betapapun

harus

pula

pendidikan

memperhatikan

pertumbuhan anak didik.

ilmu

merupakan ibadah batin

untuk mendekatkan diri kepada


Allah

SWT.

Kalau shalat merupakan ibadah


lahir tidak sah tanpa

C. Kewajiban Anak Didik

kesucian

lahir, demikian pula menuntut


ilmu tidak sah tanpa penyucian

Kewajiban anak didik adalah


sebagai suatu aktivitas atau sikap
yang

harus

diperhatikan

2. Mengurangi berbagai kesibukan


duniawi

atau

kemudian dilaksanakan oleh setiap

kepada

belajar.

anak didik dalam kehidupan sehari-

bercabang

hari dalam kaitannya dengan proses

tercapainya hakikat, sebab Allah

pendidikan.

tidak

Al-Ghazali

untuk

batin.

(1962:49-55)

mengemukakan bahwa kewajiban-

berkonsentrasi
Pikiran

akan

rongga.

menghalangi

menciptakan

seseorang dua hati

yang

bagi
dalam satu

3. Tidak sombong kepada ilmu dan


guru.

Salah

satu

kesombongan

ialah

ia

memanfaatkan.

tanda

seseorang

hanya

menjadikan

memilih guru yang terkenal.


4. Murid

pemula

ilmu

ia

akan

bersikap

6. Tidak mempelajari suatu ilmu

pandang-

pandangan

tentang

memusuhinya.

hendaknya

menghindarkan

Ketidaktahuan

secara

khilafiyah

mendalam

Hendaknya

sekaligus.

memperhatikan

(controversial). Pandangan yang

sistematika dan mulai dari yang

demikian itu dapat melelahkan

paling

otak dan menghilangkan gairah

mempunyai waktu yang cukup

untuk mendalami Ilmu.

untuk mempelajari semua ilmu

5. Tidak

meninggalkan

satupun

ilmu-ilmu terpuji. Kalau


waktu

hendaknya

anak

maka

cukup
didik

penting.

Kalau

tidak

hendaknya mengambil

ilmu yang paling baik saja.


7.

Ilmu-ilmu

tersusun

mendalaminya dan kalau tidak,

sistematis,

hendaknya ia mendalami ilmu

prasyarat

yang paling penting, sedangkan

sebagian yang lain. Oleh karena

ilmu-ilmu

cukup

itu hendaknya anak didik tidak

dan

mempelajari suatu ilmu sebelum

lainnya

diketahui ruang lingkup

tujuannya. Sebab ilmu-ilmu itu

ilmu

yang

saling berhubungan dan saling

dikuasai.

sebagian

secara

untuk

menjadi

mempelajari

menjadi

prasyarat

8. Mengetahui

norma

untuk

10. Mengetahui

kedudukan

menyusun hirarkhi ilmu. Norma

tujuan

yang dimaksud adalah kemuliaan

mendahulukan ilmu yang tidak

buah

dalil.

penting.

lebih

tidak

dan

kekuatan

Umpamanya ilmu agama


mulia
karena

dari

ilmu

buah

pengobatan,
ilmu

ialah

ilmu,

agar

dan

Umpamanya
mungkin

antara ilmu dunia dengan ilmu


akhirat,

maka

ilmu

hendaknya didahulukan

buah

merupakan tujuan. ##

pengobatan

ialah

apabila

menyatukan

kehidupan yang abadi, sedangkan


ilmu

tidak

akhirat
karena

kehidupan yang fana. Ilmu hitung


lebih mulia dibandingkan ilmu
perbintangan,

karena

yang

Pandangan

lain

tentang

kewajiban yang harus dilakukan oleh

pertama memiliki dalil lebih kuat

anak

dari pada yang kedua.

dikemukakan oleh al-Kanani dalam

9. Belajar

hendaknya

bertujuan,

didik

sebagaimana

Hery Noer Ali (1999 : 131) adalah :

tujuan didunia untuk menghiasi

1. Kewajiban yang berhubungan dengan

batin dengan keutamaan dan

diri anak didik yaitu : mensucikan hati

tujuan

untuk

dari sifat-sifat tercela, niat ikhlas dalam

mendekatkan diri kepada Allah

menuntut ilmu, belajar ketika masih

SWT.

muda, lapang dada terhadap apa yang

di

akhirat

telah dicapai, mengatur waktu belajar

dan

mengajar,

menghindarkan

bersikap

wara,

makanan

yang

memperhatikan
dan

banyak

catatan,

dan

pandai-pandai

memilih teman bergaul.

sebelum

dihapal, mempelajari ilmu hadist, dasar

berbahaya bagi kesehatan badan, tidak


tidur

naskah

cabangnya,
rajin

membuat

catatan-

menghadiri

majelis,

memelihara etika dalam kelas, tidak

2. Kewajiban yang berhubungan dengan


guru yaitu memilih guru yang baik,

malu bertanya dan memperhatikan


kebenaran pelajaran.

patuh kepada guru dalam segala hal,


bersedekah dan berdoa, menghormati

Sejalan dengan pendapat di atas

hak guru, bersabar terhadap guru yang

maka Mohammad

Athiyah Al-Abrasyi

keras, banyak berterima kasih kepada

(1970 : 147-148) mengatakan kewajiban-

guru, menjaga sopan santun terhadap

kewajiban yang harus dilakukan oleh anak

guru, memelihara tata krama dalam

didik adalah :

belajar, lemah lembut dalam bertanya

1. Sebelum belajar anak didik hendaklah

dan menjawab serta tidak mendahului

membersihkan hatinya dari segala sifat

guru dalam menjawab.

buruk, karena belajar dan mengajar

3. Kewajiban yang berhubungan dengan

merupakan ibadah. Ibadah tidak sah

pelajaran, yaitu : memulai belajar

tanpa berhati suci dan berakhlak mulia

dengan

al-Quran,

seperti berkata benar, ikhlas, taqwa,

pendapat-pendapat

rendah hati, zuhud dan menerima apa

mempelajari

menghindari
khilafiah

pada

permulaan

belajar,

yang ditentukan Allah, serta menjauhi

sifat-sifat buruk seperti dengki, benci

duduk ditempat duduk guru, dan tidak

dan sebagainya.

mulai bicara tanpa seizin guru.

2. Dengan belajar anak didik hendaknya


bertujuan

7. Hendaknya tidak membukakan rahasia

mengisi jiwanya dengan

kepada guru, tidak berbuat ghibah

fadhilah dan mendekatkan diri kepada

dihadapannya dan tidak mencari-cari

Allah,

kesalahan serta memakluminya apabila

bukan

menonjolkan

bertujuan

diri,

untuk

berbangga

dan

meraih prestise.

keliru.
8. Bersungguh-sungguh dalam belajar dan

3. Siap menuntut ilmu, sehingga sanggup

memanfaatkan waktu siang dan malam

meninggalkan keluarga dan tanah air

untuk

untuk bepergian ke tempat-tempat yang

dengan lebih dahulu mencari ilmu yang

paling jauh sekalipun.

lebih penting.

4. Jangan

selalu

menukar

guru

hendaknya berpikir panjang

dan

sebelum

bertindak mengganti guru.


5. Hendaknya

menghormati

memperoleh

9. Hendaklah pergaulan

pengetahuan

antara sesama

anak didik diliputi jiwa persaudaraan


dan kecintaan, sehingga mereka seakan-

dan

akan anak satu bapak.

memuliakan guru karena Allah, serta

10. Hendaknya lebih dahulu memberi salam

berdaya upaya untuk menyenangkan

kepada guru, mengurangi percakapan

hatinya dengan cara yang baik.

dihadapan

6. Hendaknya tidak memojokkan guru


dengan

berbagai

pertanyaan,

tidak

guru, tidak mengadukan

kepada guru, misalnya sipulan berkata


tidak seperti yang bapak katakan, dan

tidak pula menanyakan

siapa teman

dekat guru.

sebagaimana dikutip

Busyairi Madjdi

(1970 : 5-6) adalah :

11. Hendaknya memilih waktu senja dan


menjelang subuh untuk mengulangi

1. Tawaddu yaitu sifat sederhana, tidak


sombong tidak pula rendah diri.

pelajaran. Waktu antara isya dan makan

2. Iffah yaitu sifat yang menunjukkan

sahur itu adalah waktu yang penuh

harga diri yang menyebabkan seseorang

berkah.

terhindar dari perbuatan atau tingkah

12. Bertekad untuk belajar

hingga akhir

hayat, hendaknya tidak meremehkan

laku yang tidak patut.


3. Tabah

atau

sabar

tahan

suatu cabang ilmu tetapi hendaknya

menghadapi kesulitan pelajaran

memandang

guru.

bahwa

setiap

ilmu

mempunyai faedah dan hendaknya tidak

dalam
dari

4. Tahan terhadap godaan nafsu yang

meniru pendapat orang-orang terdahulu

rendah,

yang

kelezatan dan terhadap godaan-godaan

merendahkan

sebagian

ilmu

seperti ilmu mantiq dan filsafat.

keinginan-keinginan

akan

yang berat.
5. Cinta ilmu dan hormat kepada guru dan

D. Sifat Anak didik

keluarganya. Dengan demikian ilmu itu


akan bermanfaat.

Sifat-sifat yang diperlukan oleh

6. Sayang kepada kitab, menyimpannya

anak didik menurut Syeikh Az-Zarnudji

dengan baik tidak membubuhi catatan

supaya tidak kotor atau menggosok


tulisan sehingga menjadi kabur.

Posisi anak sebagai peserta didik

7. Hormat kepada sesama penuntut ilmu

baik

ketika

berinteraki

dan tawaddu kepada guru dan kawan

sebagai

untuk menyadap ilmu dari mereka.

hendaklah mempunyai akhlak.

8. Bersungguh-sungguh
memanfaatkan

belajar

dengan

waktu dengan sebaik-

baiknya (bangun tengah malam), tetapi


tidak

memaksakan

diri

sehingga

menjadi lemah.
9. Teguh

ilmu

dan
dan

ulet

dalam

mengulangi

pelajaran.

sendirian

adalah :
a. Adanya niat yang tulus dan baik,
menuntut ilmu
Allah

hanya untuk mencari


semata-mata,

beramal

karena Allah dan menegakkan syariatNya.


b. Menjaga diri dalam segala situasi dan

10. Mempunyai cita-cita yang tinggi dalam


mengejar

maupun

guru

1. Akhlak anak didik terhadap dirinya sendiri

redha

pendirian

menuntut

pendidik

dengan

ilmu

pengetahuan.

dengan cita-citanya

Orang

seperti burung

dengan sayapnya.
11. Tawakkal yaitu menyerahkan segala
perkara kepada Allah.

kondisi seperti dalam hal makan dan


minum

harus

bersikap

hati-hati

terutama berkaitan dengan status dan


keharaman makanan tersebut untuk
meraih kehormatan yang tinggi.
c. Menghindari makan dan minum yang
menyebabkan kebodohan dan lemahnya

A. Akhlak Anak didik

daya tangkap.

d. Mengurangi porsi tidur, dalam sehari


semalam sekitar 8 jam, kalau bisa
kurang dari itu.
e. Membatasi

kecuali

yang

lawan

jenis.

secara

berulang-ulang.
f. Selalu

pergaulan dengan

dilakukan

berterimakasih

kepada

pendidik atas pertolongannya dalam


mengajar.
g. Meminta

2. Akhlak anak didik terhadap

pendidik

izin

keluar/masuk

dari

kelas.
h. Sopan santun ketika duduk dihadapan

adalah :
dahulu,

guru, berpakaian bersih dan rapi,

mengikuti pendidik yang profesional

penataan rambut dan kuku dengan

dan yang berakhlak mulia.

rapi.

a. Merefleksikan

lebih

b. Memegang teguh ajaran gurunya dan

seperlunya,

menghormati petuahnya.
c. Berasumsi

bahwa

i. Berbicara

pendidik

dengan

sopan,

tidak

berbicara

bicara
yang

dapat menyinggung pendidik.

mempunyai

kelebihan

dan

j. Mendengar dengan seksama serta

kewibawaan

dibanding

dengan

penuh perhatian terhadap penjelasan


pendidik.

dirinya.
d. Mengetahui hak-hak pendidik, tidak

suatu

melupakan berterima kasih.


e. Merespon

dengan

sabar

k. Tidak

terhadap

sikap kasar dan kesalahan pendidik

mendahulukan

menjelaskan

permasalahan,

pertanyaan

atau

menjawab

menampakkan

kemampuannya sebelum diminta oleh


pendidik.

belajar.

l. Memberikan sesuatu kepada pendidik


dengan tangan kanan.
m. Jika

e. Mengucap salam ketika masuk ruang

berjalan

f. Jika menghadapi kesulitan tidak malu


bertanya kepada pendidik.

bersama

pendidik

g. Bersikap optimis dan giat dalam belajar

hendaknya di depannya pada waktu

(Al-Kanany, dalam Hery Noer Aly,

malam dan di belakangnya pada

1999 : 67-69).##

waktu siang hari.


3. Akhlak anak didik terhadap pelajaran
adalah:
a. Membaca al-Quran sebelum memulai
pelajaran,

bismillah,

hamdalah,

shalawat pada Nabi dan berdoa.


b. Berhati-hati

terhadap

perbedaan

pendapat
c. Memeriksa materi yang akan dihafal
d. Tidak merasa cukup dengan ilmu yang
diperolehnya
pandai.

dan

merasa

dirinya

sosial dan makhluk individual yang mampu


berdiri sendiri (Nur Uhbiyati, 1997 : 71).
Istilah yang lazim digunakan untuk menyebut
pendidik

ialah guru yang dipergunakan pada

jenjang pendidikan formal (sekolah).


Secara etimologi pengertian guru ditemukan
dalam kamus yaitu orang yang pekerjaannya (mata
pencariannya, profesinya) mengajar (KBBI, 1989 :
152). Dalam bahasa Inggris kata guru berasal kata
BAB V
HAKIKAT PENDIDIK DALAM ISLAM

teach yang berarti mengajar. Dalam bahasa

Arab

ditemukan kata

yang

berarti

al-Muallim, al-Mudarris

guru atau pengajar. Dalam kontek ini

dibedakan antara guru


A. Pengertian

perempuan

yaitu al-

Muallimah, al-Mudarrisah (Munawir, 1984 : 1038)

Pendidik ialah penghubung antara anak didik

dan dalam Leksikon Islam (1988 : 750), guru laki-laki

dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai.

disebut ustaz sedangkan guru perempuan disebut

Pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung

ustazah.

jawab membimbing atau membantu anak didik

Dalam masyarakat sekarang pengertian guru

dalam perkembangan jasmani dan ruhaninya agar

mengalami perkembangan, sehingga kita mengenal

mencapai kedewasaan, mampu melaksanakan

sebutan guru ngaji, guru silat, guru nyanyi, guru tari,

tugasnya sebagai makhluk Allah SWT, makhluk

guru les dan sebagainya. Namun guru yang dimaksud

dalam buku ini adalah guru yang tugas utamanya

B. Sifat-Sifat Pendidik

mengajar dan untuk tugas tersebut ia harus memiliki


pengetahuan khusus, sehingga ia disebut sebagai
seseorang yang profesinya sebagai guru.

Tugas pendidik dalam mengantarkan anak didik


untuk sampai kepada tujuan yaitu pembentukan anak

Hakikat guru yang baik atau ideal sebagaimana

didik yang berkepribadian muslim merupakan tugas

dikemukakan oleh Thomas Gordon (1984 : 25-26)

yang tidak ringan. Oleh karena itu agar tugas-tugas

salah satunya adalah selalu mengetahui jawaban yang

pendidik sukses, diperlukan dukungan sifat-sifat

menjadi pertanyaan

pendidik

anak didik. Guru yang baik

memiliki pengetahuan lebih banyak dari yang dimiliki

itu sendiri sebagai orang yang

dapat

dijadikan contoh oleh anak didiknya.

oleh anak didiknya. Karena itu guru yang ideal itu

Oleh karena itu Al-Ghazali sebagaimana dikutip

adalah yang (1). Pribadinya tenang (tidak pernah

M. Athiyah al-Abrasyi (1970 : 150-151) mengatakan

menunjukkan

sifat pendidik itu adalah :

emosi

yang

tinggi)

(2).

Tidak

berperasangka buruk (3) Menyembunyikan perasaan


yang

sesungguhnya

kepada

anak

didik

(4)

Memandang sama kepada semua anak didiknya, tidak

1. Guru harus memiliki rasa kasih sayang terhadap


anak didiknya dan memperlakukan mereka seperti
anak sendiri.

pilih kasih (5). Mampu menciptakan lingkungan

2. Guru tidak mengharapkan balas jasa atau ucapan

belajar yang kondusif (6) Selalu konsisten (7) selalu

terima kasih, tetapi mengajar dimaksudkan untuk

membantu yang lain, selalu menjadi satu barisan

mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mencari

dalam

keredhaan-Nya.

menghadapi

anak-anak

tanpa

mempertimbangkan perasaan, nilai dan hukuman.

3. Memberi nasehat kepada anak didik agar jangan


sibuk dengan ilmu yang ghaib dan abstrak,

sebelum menyelesaikan pelajaran atau memahami

sesuatu

ilmu yang jelas dan konkrit dan ilmu yang pokok-

menangkap pelajaran sehingga mereka tidak lari

pokok. Jelaskan kepada anak didik bahwa belajar

dari

itu untuk mendekatkan diri kepada Allah bukan

berbicaralah dengan bahasa mereka.

untuk

bermegah-megahan

dengan

ilmu

pengetahuan itu.

yang

pelajaran.

tingkat

Dengan

kemampuan

perkataan

lain

8. Seorang guru harus mengamalkan ilmunya dan


harus

4. Mencegah murid dari akhlak yang tidak baik,

melebihi

sama

antara

perkataan

dengan

perbuatannya.#

melalui cara sindiran jika memungkinkan dan


jangan secara terus terang, dengan cara yang halus

C. Tugas Pendidik

dan jangan mencela.


5. Kepada anak didik jangan ditimbulkan rasa benci

Dalam

menjalankan

terhadap cabang ilmu yang lain, tetapi sebaiknya

pendidik

dibukakan jalan untuk mempelajari cabang ilmu

dikemukakan M.D.Dahlan adalah :

tersebut.

berbagai

1. Sebagai pekerja kelompok

6. Keadaan anak didik yang masih dibawah umur


sebaiknya diberikan pelajaran

mempunyai

profesi

pendidikan,
tugas

seperti

yang menciptakan

suasana belajar di kelas maupun di luar kelas.

yang jelas dan

Perkembangan dan kemunduran pembentukan

pantas buat mereka dan tidak perlu disebutkan

kelompok sangat dipengaruhi oleh tingkah laku

rahasia yang terkandung di dalam ilmu tersebut.

guru yang merupakan tenaga penting.

7. Memerhatikan tingkat akal pikiran anak didik,

2. Guru sebagai penyuluh yang bertugas membantu

berbicara kepada mereka sesuai dengan tingkat

anak

didik

agar

mampu mengarahkan

dan

akal pikiran mereka dan jangan menyampaikan

menyesuaikan diri pada lingkungan hidupnya.

Dengan demikian guru hendaknya mampu

pembentukan anak-anak yang berkepribadian

membantu individu mengubah dan memecahkan

muslim. Oleh karena itu guru harus mencontoh

masalah yang

peran yang dilakukan Nabi dan para pengikutnya

dihadapi anak didik melalui

hubungan interpersonal.

yaitu berperan mengkaji dan mengajarkan ilmu

3. Guru sebagai aktor riset yang mengkhususkan diri

Ilahi. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT

dalam meningkatkan pelayanan pendidikan dan

bahwa hendaklah kita menjadi orang-orang yang

pengajaran. Mengapa demikian ? Karena ia

sempurna ilmu dan taqwa kepada Allah. Karena

bertindak sebagai pelaku penelitian ditengah-

kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan karena

tengah situasi nyata dalam memenuhi kebutuhan

kamu

praktis untuk memperbaiki situasi.

mengisyaratkan bahwa tugas pokok Rasul SAW

tetap

mempelajarinya.

adalah mengajarkan
Abdullah Nasih Ulwan (1978 : 47-48)
berpendapat

bahwa

tugas

guru

ialah

melaksanakan pendidikan ilmiah karena ilmu


pengetahuan

berpengaruh

besar

terhadap

al-Kitab dan

Allah

juga

al-Hikmah

kepada manusia serta mensucikan mereka yaitu


mengembangkan

dan

membersihkan

jiwa

mereka.
Abdurrahman An-Nahlawi

(1979 : 154

pembentukan kepribadian dan emansipasi harkat

-155) setelah menyimpulkan kandungan al-Quran

manusia. Sebagaimana pelaksana amanat orang

surah al-Baqarah : 129, berpendapat bahwa tugas

tua

guru selain melaksanakan

pokok guru adalah : pertama, tugas pensucian

pendidikan ilmiah, juga harus sinkron dengan

yaitu mengembangkan dan membersihkan jiwa

tugas orang tua agar proses pendidikan dapat

anak didik agar dapat mendekatkan diri pada

berjalan serasi

Allah SWT, menjauhi keburukan dan menjaga diri

anak didik,

dan mencapai tujuan yaitu

agar tetap berada dalam fitrahnya, kedua, tugas


pengajaran yaitu menyampaikan berbagai ilmu

4. Menyelenggarakan

bimbingan individu atau

kelompok.

pengetahuan serta pengalaman kepada anak didik

5. Membuat catatan pribadi anak didik secara baik.

untuk diterjemahkan kedalam tindakan dalam

6. Menyelenggarakan pertemuan dengan orang tua

kehidupannya.

anak didik untuk saling memahami

Selain itu guru juga mempunyai tugas


membimbing

anak

didik

untuk

mengetahui

kebutuhan, kesanggupan minat dan bakat yang


dimiliki

anak

didik,

pendidikan yaitu suatu

menciptakan

situasi

suasana

proses

agar

pendidikan dapat berlangsung dengan baik dan

tentang

pendidikan anak.
7. Bekerjasama

dengan

masyarakat

dalam

memecahkan masalah yang dihadapi anak didik.


8. Secara

bersama sama dengan petugas lainnya

menyusun program bimbingan sekolah.


9. Meneliti perkembangan kemajuan anak didik.

efektif.
Dalam kaitannya dengan perannya sebagai

Dalam pendidikan Islam guru mempunyai

pembimbing, maka seorang guru harus mampu

peranan dan arti yang sangat penting, karena ia

melakukan

mempunyai tanggungjawab untuk mencerdaskan

beberapa

hal

sebagaimana

dikemukakan oleh Omar Hamalik (2000 : 34) :


1. Mengenal dan memahami setiap anak didik.

anak didik dan menentukan arah pendidikan.


Oleh karena itu Islam sangat menghargai

2. Mengamati perilaku anak didik sehari-hari.

dan menghormati orang-orang yang berilmu

3. Memahami anak didik yang memerlukan bantuan

pengetahuan. Bahkan Nabi SAW bersabda bahwa

khusus.

Allah SWT, malaikat-Nya, penghuni

langit dan

bumi termasuk semut dalam lubang dan ikan di

laut akan mendoakan keselamatan untuk orang-

Arifin, 2000 : 105, Suharsimi Arikunto, 1993 :

orang

229-230) atau pekerjaan yang membutuhkan

yang mengajarkan

manusia kepada

kebaikan (H.R at-Tirmidzi).


Al-Ghazali

keahlian yang diperoleh melalui pendidikan


bahwa

atau latihan khusus. Dalam pengertian lain

kedudukan guru merupakan kedudukan yang

profesi dapat diartikan sebagai suatu bidang

paling

keahlian khusus untuk menangani lapangan

mulia

dikuatkan

berpandangan

setelah nabi. Pandangan ini

dengan

menukilkan ayat-ayat

al-

kerja

tertentu yang

membutuhkannya.

Quran dan hadits Nabi SAW, kemuliaan guru itu

Profesionalisme

telah mencapai puncaknya setelah tugas-tugas

pandangan bahwa keahlian tertentu diperlukan

yang dibebankan kepada Rasul SAW sebagaimana

untuk

dapat diketahui dalam al-Quran surah Ali-Imran

melalui proses pendidikan dan latihan atau

ayat 164 (Hery Noer Ali, 1999 : 107).

profesionalisme

pekerjaan

mengajarkan
D. Konsep Profesionalisme Pendidik

dapat

berarti

tertentu

yang

adalah
bahwa

diperoleh

paham
setiap

suatu

yang

pekerjaan

dilakukan oleh orang yang profesional (Ahmad


Tafsir, 1994 : 107). Kata profesional bermula

1. Pengertian Profesionalisme.
Apa

yang

dari kata yang mengandung arti pencarian dan

dimaksud

dengan

profesionalisme ? bagaimana konsep guru yang


dapat

disebut

profesional

profesionalisme berasal

itu

Kata

dari kata profesion

yang berarti sama dengan kata accupation (M.

kata benda yang mengandung arti orang yang


mempunyai keahlian tertentu.
Uzer Usman (2000 : 14) mengartikan
profesional
bersifat

adalah

profesional

suatu
yang

pekerjaan

yang

membutuhkan

berbagai bidang ilmu yang secara sengaja

f. Terdapatnya

organisasi

yang

mampu

harus dipelajari dan kemudian diaplikasikan

meningkatkan standar pelayanan, disiplin anggota

untuk kepentingan umum.

dalam profesi serta kesejahteraan anggota.

2. Ciri-ciri profesi

g. Memberikan

kesempatan

untuk

mencapai

kemajuan kemandirian dan spesialisasi.


Ciri-ciri pekerjaan profesi menurut Robert
W.

Richey

sebagaimana

dikutip

Suharsimi

h. Memandang profesi sebagai suatu karir hidup dan


menjadi seorang anggota yang permanen.

Arikunto (1993 : 235) adalah :


a. Lebih mementingkan layanan kemanusiaan yang
ideal dari pada kepentingan pribadi.
b. Seorang pekerja profesional, memerlukan waktu

Oleh karena luasnya cakupan pekerjaan profesi


itu maka ciri-ciri profesi itu begitu luas

seperti

juga

Gibson

dikemukakan

oleh

D.

Westby

yang panjang untuk mempelajari konsep-konsep

sebagaimana dikutip Suharsimi Arikunto (1993 :

serta prinsip-prinsip

236) sebagai berikut :

pengetahuan khusus yang

mendukung keahliannya.

a. Adanya pengakuan oleh masyarakat terhadap

c. Memiliki kualifikasi tertentu untuk memasuki


profesi

tersebut

serta

mampu

mengikuti

perkembangan dalam pertumbuhan jabatan.


d. Memiliki kode etik yang mengatur keanggotaan,
tingkah laku, sikap dan cara kerja.
e. Memerlukan kegiatan intelektual yang tinggi

layanan tertentu yang hanya dapat dilakukan oleh


kelompok pekerja yang

dikatagorekan sebagai

suatu profesi.
b. Dimilikinya sekumpulan

bidang ilmu yang

menjadi landasan sejumlah teknik dan prosedur


yang unik.

c. Diperlukan persiapan yang sengaja dan sistematis

yang baku secara universal, artinya profesi itu dijalani

sebelum orang melaksanakan suatu pekerjaan

menurut aturan tertentu, terbuka dan pegangannya

profesional.

itu diakui secara universal, keempat, profesi adalah

Dengan memperhatikan deskripsi ciri-ciri


profesi di atas

kita dapat menentukan

atau

untuk masyarakat, bukan untuk pribadi, kelima,


profesi

harus

dilengkapi

dengan

kecakapan

menilai suatu pekerjaan dapat disebut pekerjaan

diagnostik dan kompetensi aplikatif. Kecakapan dan

profesi atau apakah dapat disebut sebagai seorang

kompetensi itu diperlukan untuk meyakinkan peran

profesional. Dengan demikian ciri-ciri tersebut

profesi itu terhadap kliennya, keenam, pemegang

menjadi penting sebagai alat untuk mengukur dan

profesi memiliki otonomi dalam menjalankan tugas

menilai suatu pekerjaan atau seseorang yang

profesinya. Otonomi ini hanya dapat diuji atau dinilai

berkaitan dengan profesional.

oleh

Menurut Muhtar Luhfi (1989 : 44) bahwa


seseorang tersebut
pertama,

profesi

memiliki

mengandung

se-profesi,

ketujuh,

profesi

memiliki kode etik yang disebut kode etik profesi,


kedelapan, profesi harus mempunyai klien yang jelas

keahlian,

yaitu orang-orang yang membutuhkan layanan. Suatu

artinya suatu profesi itu mesti ditandai oleh suatu

profesi memerlukan organisasi profesi yang kuat

keahlian tertentu atau khusus untuk profesi itu.

untuk membina anggota profesi tersebut serta

Keahlian

cara

mempertahankan profesi, setiap anggota profesi

mempelajarinya secara khusus dan bukan diwarisi,

harus mengenal profesi lain karena di dalam

kedua, profesi dipilih karena panggilan hidup dan

menjalankan

dijalani sepenuh waktu. Ia dipilih karena dirasa

memerlukan keterlibatan profesi lainnya.

tersebut

harus

profesi adalah :

rekan-rekan

diperoleh

dengan

sebagai kewajiban,ketiga, profesi memiliki teori-teori

suatu

profesi

kadang-kadang

E. Kompetensi Guru

berinteraksi

dengan

masyarakat

untuk menunaikan missi pendidikan.


Sebagai seorang yang profesional guru

c.

Melaksanakan

bimbingan

dan

pendidikan agama Islam harus memiliki berbagai

penyuluhan : pertama,, membimbing

jenis kompetensi.

anak didik yang mengalami kesulitan

Menurut Moh. Uzer Usman

(2000 : 16-17) kompetensi tersebut adalah :

belajar, kedua, membimbing anak

1. Kompetensi

didik yang mengalami kelainan dan

pribadi.

Kompetensi

pribadi

bakat khusus.

meliputi kemampuan :
a. Mengembangkan

kepribadian

pertama, bertaqwa kepada Tuhan


Yang

Maha

Esa

kedua,

2. Kompetensi professional
a. Menguasai landasan pendidikan Islam

mengembangkan masyarakat sebagai

yaitu:

warga Negara yang berjiwa sosial

pendidikan Islam sebagai bagian dari

ketiga,

pendidikan nasional, kedua, mengenal

terpuji

mengembangkan sifat-sifat
yang

dipersyaratkan

bagi

jabatan profesi guru.


b. Berinteraksi

dan

fungsi

pertama,

sekolah

ketiga,
berkomunikasi

(Suharsimi Arikunto, 2000 : 293)

mengenal

dalam

mengenal

tujuan

masyarakat,

prinsip-prinsip

psikologi pendidikan.
b. Menguasai

bahan

pelajaran

yaitu:

yaitu : pertama, berinteraksi dengan

pertama,

teman sejawat untuk meningkatkan

pendidikan, kedua, menguasai bahan

kemampuan

pengajaran.

professional,

kedua,

menguasai kurikulum

c. Menyusun

program pengajaran

pertama,

menetapkan

pengajaran,

kedua,

mengembangkan

memilih

bahan

kepribadian
pengetahuan

dan

dan

keterampilan

mengajar

pelajaran,

pelajaran

metode belajar mengajar,

belajar

keempat,

dan mengembangkan media


kelima,

memanfaatkan

sumber belajar.
pengajaran :

memiliki
bahan

menguasai

sehingga

tercipta

suasana
suasana

belajar yang kondusif. Kriteria

atau

indikator guru yang profesional ialah


guru

d. Melaksanakan program

ilmu

dalam suatu kelas serta

kemampuan

pengajaran,

menguasai

tujuan

ketiga, memilih dan mengembangkan


memilih

jiwa,

yang

mampu

tanggungjawab

dengan

baik,

guru

pertama, menciptakan iklim belajar

tersebut

mengajar yang tepat, kedua, mengelola

peranan-peranannya secara berhasil.

interaksi belajar mengajar.

Guru tersebut mampu bekerja dalam

e. Melaksanakan proses dan hasilbelajar

mampu

mengemban
melaksanakan

usaha mencapai tujuan pendidikan dan

yaitu: pertama, menilai prestasi anak

mampu

didik

dalam proses belajar mengajar (Omar

untuk

keperluan

pengajaran,

kedua, menilai proses belajar mengajar


yang

telah

melaksanakan peranannya

Hamalik, 1991 : 43).

berlangsung.

Dengan memperhatikan uraian

Dengan demikian dapat disimpulkan

ini tampaknya guru pendidikan Agama

bahwa kompetensi Guru Pendidikan

Islam dapat dikatagorekan sebagai guru

Agama

yang

Islam

adalah

memiliki

profesional,

karena

telah

memenuhi

syarat-syarat

pekerjaan

sebuah

professional

yang

Al-Qasqosandi seperti dikutip Nur


Uhbiyati (1997 : 82) menetapkan

dua

dikehendaki oleh sebuah tugas profesi.

syarat untuk menjadi guru yaitu : pertama

Sebagai seorang pendidik ia harus

syarat fisik yang mencakup badannya

mengerti

ilmu

pendidikan

dengan

bagus, mukanya manis berseri-seri, dahinya

sehingga

semua

lebar terbuka (bermuka bersih), kedua,

mendidik

syarat psikhis yaitu berakal sehat, hatinya

disesuaikan dengan jiwa anak didiknya,

bersih, pemahamannya tajam, adil, bersifat

dia harus memiliki bahasa yang baik

perwira, lapang dada, apabila berbicara

dan menggunakannya dengan sebaik-

lebih dahulu terbayang

baiknya,

bahasa

mampu memilih perkataan yang jelas,

tertarik

mudah dipahami, berkaitan satu sama

dengan pelajaran yang diajarkannya,

lainnya dan menghindari perkataan yang

dia harus mencintai anak didiknya,

tidak jelas.

sebaik-baiknya,
tindakannya

tersebut

dalam

sehingga
anak

sehingga
kepentingan

dengan

didik

mampu

akan

mengutamakan

anak didik

kepentingan pribadi
1997 : 82).

dalam hatinya,

Seorang pendidik

wajib berusia

dari pada

dewasa, wajib sehat jasmani dan ruhani,

(Nur Uhbiyati,

memiliki keahlian, memiliki budi pekerti


yang baik serta berdedikasi

tinggi (Ag.

Soejono, 1980 : 64-65).


F. Syarat-Syarat Pendidik

Departemen Agama (1982 : 39-42)


merumuskan syarat untuk menjadi guru

agama

yaitu : bertaqwa kepada Allah

SWT, berilmu, sehat jasmani, akhlaknya

1. Memiliki pengetahuan kependidikan (Pendidikan


guru) yang dibuktikan dengan ijzah.

baik, berjiwa nasionalis dan bertanggung

2. Sehat jasmani dan ruhani

jawab.

3. Beragama yang baik

Kriteria akhlak yang diperlukan

ialah : mencintai

jabatan sebagai guru,

4. Berakhlak mulia

berlaku adil terhadap murid-muridnya,

Al-Kanany seperti dikutip Hery Noer Ali

berwibawa dan bergembira, berlaku sabar

(1999 : 99-103) secara lebih luas mengemukakan

dan

persyaratan

tenang,

bersifat

manusiawi,

bekerjasama dengan guru-guru

lain dan

bekerja sama dengan masyarakat.

berijazah, sehat

guru ialah :

jasmani dan ruhani,

bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha

dengan

diri

sendiri,

dengan

pelajaran dan dengan anak didik.

Menurut Ngalim Purwanto (1995 :


139) syarat untuk menjadi

berhubungan

menjadi guru agama ada yang

1. Adapun Persyaratan yang berhubungan


dengan diri sendiri :
a. Guru

hendaklah

senantiasa

Esa

insyaf akan pengawasan Allah

dan berkelakuan baik, bertanggung jawab

terhadap dirinya dalam segala

dan berjiwa nasional.

perbuatan dan perkataan, bahwa

Berdasarkan uraian

di atas,

jika

ia pemegang amanat ilmiah yang

disederhanakan maka persyaratan untuk

diberikan Allah SWT kepadanya.

menjadi guru agama Islam adalah sebagai

Karena itu

berikut :

mengkhianati amanat itu, malah


ia

harus

ia tidak boleh
tunduk

dan

merendahkan diri kepada Allah

awam bahwa

SWT.

tidak abadi.

b. Hendaklah
kemuliaan

guru memelihara
ilmu.

d. Hendaknya

guru

tidak

satu

berorientasi

duniawi

bentuk pemeliharaannya ialah

menjadikan

ilmu sebagai alat

tidak mengajarkannya kepada

untuk

mencapai

orang

harta

dan

yang

Salah

kesenangan itu

tidak

berhak

menerimanya yaitu orang-orang


yang

mencari

ilmu

untuk

kepentingan dunia semata.


c. Hendaknya

kedudukan,

prestise

atau

kebanggaan.
e. Hendaklah

guru

situasi-situasi

menjauhi

yang

dapat

berzuhud,

mendatangkan fitnah dan tidak

artiya, ia mengambil rizki dunia

melakukan sesuatu yang dapat

hanya untuk sekedar memenuhi

menjatuhkan harga dirinya.

kebutuhan

guru

dengan

pokok

diri

dan

f. Hendaknya

guru

memelihara

keluarganya secara sederhana. Ia

syiar-syiar

hendaknya

tamak

melaksanakan shalat berjamaah

dunia,

di masjid, mengucapkan salam

orang

yang

serta menjalankan amar maruf

labih

tahu

nahi

tidak

terhadap kesenangan
sebab
berilmu

sebagai
ia

dibandingkan

dengan orang

Islam,

mungkar.

seperti

Dalam

melakukan semua itu hendaknya


ia

bersabar

dan

tegar

menghadapi berbagai celaan dan

menerima ilmu dari orang yang

cobaan.

lebih rendah dari padanya baik

g. Guru

hendaknya

melakukan

hal-hal

rajin

kedudukan, keturunan ataupun

yang

usia.

disunatkan agama, baik dengan

k. Guru hendaknya rajin meneliti,

lisan maupun dengan perbuatan,

menyusun

seperti membaca

dengan

berzikir

dan

al-Quran,

shalat

tengah

malam (shalatu al-lail)


h. Guru

yang

mulia

dalam

pergaulan dengan masyarakat


dan menghindarkan diri

mengarang

memperhatikan

keterampilan dan keahlian yang


dibutuhkan untuk itu.

hendaklah memelihara

akhlak

dan

dari

akhlak buruk.

2. Persyaratan yang berhubungan dengan


pelajaran adalah :
a. Sebelum keluar rumah untuk
mengajar,

hendaklah

guru

bersuci

dari

hadats

i. Guru hendaknya selalu mengisi

kotoran

serta

mengenakan

waktu-waktu luangnya dengan

pakaian

yang baik dengan

hal-hal yang bermanfaat seperti

maksud

untuk

beribadah,

mengagungkan

membaca

dan

mengarang.
j. Guru hendaknya selalu belajar
dan

tidak merasa malu untuk

ilmu

dan

dan

syariat.
b. Ketika keluar

dari rumah

hendaklah guru berdoa agar

tidak

menyesatkan

atau

f. Hendaklah

guru

mengatur

disesatkan dan terus berzikir

volume suaranya agar tidak

kepada Allah hingga sampai

terlalu

kemajelis pengajaran.

membisingkan ruangan, dan

c. Hendaklah guru

mengambil

keras

sehingga

tidak pula terlalu

rendah

posisi yang dapat terlihat oleh

sehingga tidak terdengar oleh

murid-murid.

anak didik.

d. Sebelum memulai
guru

hendaknya

mengajar
membaca

g. Hendaklah

guru

menjaga

ketertiban

majelis

sebagian dari Al-Quran agar

pengajaran

dengan

memperoleh

mengarahkan

berkah

dalam

mengajar,kemudian membaca
basmalah.

pada objek tertentu.


h. Guru

e. Guru hendaknya mengajarkan

pembahasan

hendaknya

murid-murid

yang

bidang studi sesuai dengan

menjaga

sopan

hirarki

dalam

majelis,

nilai kemuliaan dan

kepentingannya
al-quran
ushul

menegur
tidak

santun

di

seperti

yaitu tafsir

menghina temannya, tertawa

kemudian hadits,

keras, tidur, berbicara dengan

al-ddin,

dan seterusnya.

ushul

fiqih

temannya
mengajar

ketika
atau

menerima kebenaran.

guru
tidak

i. Guru

hendaknya

bijaksana

bersikap

dalam melakukan

pembahasan, menyampaikan
pelajaran

dan

menjawab

pertanyaan murid. Apabila ia


ditanya tentang sesuatu yang

l.

Guru

hendaknya

tidak

mengasuh bidang studi yang


tidak dikuasainya.
3. Persyaratan

yang berkaitan dengan

murid adalah :
a. Guru

mengajar

hendaklah

tidak ia ketahui, hendaknya

dangan

ia mengatakan bahwa ia tidak

Allah SWT, menyebarkan ilmu,

tahu.

menghidupkan

j. Terhadap murid

baru, guru

niat mengharap ridha

menegakkan

syara,
kebenaran

dan

hendaknya bersikap wajar dan

melenyapkan kebatilan

menciptakan

memelihara kebaikan umat.

suasana

membuatnya

yang

merasa telah

b. Hendaknya

guru

serta
menolak

menjadi bagian dari kesatuan

mengajar murid yang

teman-temannya.

mempunyai niat ikhlas dalam

k. Guru hendaknya
setiap
mengajar

menutup

belajar.

akhir

kegiatan

c. Hendaknya

dengan

kata-kata

wallahu alam (Allah Maha


Tahu)

yang

menunjukan

keikhlasan kepada Allah.

guru

tidak

memotivasi

muridnya untuk menuntut ilmu


seluas mungkin.

d. Hendaknya mencintai muridnya


seperti

ia mencintai dirinya

sendiri.

perkembangan

murid

baik

intelektual, maupun akhlaknya.

e. Hendaknya guru menyampaikan


pelajaran dengan bahasa
mudah

h. Guru hendaknya terus memantau

dan

muridnya

berusaha agar

dapat

pelajaran.

yang

Murid yang saleh akan menjadi


tabungan bagi guru baik di
dunia maupun di akhirat. ##

memahami

Hendaknya

melakukan evaluasi

guru

terhadap

kegiatan belajar mengajar.


f. Hendaknya guru bersikap

adil

terhadap semua muridnya.


g. Hendaknya berusaha membantu
memenuhi kemaslahatan murid,
baik dengan

kedudukan atau

hartanya. Apabila murid


maka

ia

sakit,

HAKIKAT METODE PENDIDIKAN


ISLAM

hendaknya

menjenguknya

dan

kehabisan bekal

ia hendaknya

membantu.

BAB VI

apabila

A.Pengertian
Istilah metode berasal dari
bahasa latin meta yang berarti
melalui dan hodos yang

berarti

jalan atau ke
bahasa

Arab

Thariqah
sistem

atau cara.

Dalam

metode

disebut

artinya

jalan,

mendidik atau mengajarkan ajaran


agama Islam kepada manusia.

cara,

atau ketertiban

dalam

B. Prinsip Metode Pendidikan Islam

mengerjakan sesuatu.

Dalam penerapan metode pendidikan

Sedangkan menurut
metode

istilah

ialah suatu sistem

atau

Islam

hendaklah

memperhatikan

prinsip-

prinsip berikut ini : (1). prinsip memberikan

cara yang mengatur suatu cita-cita

suasana

(Uhbiyati, 1998 : 123).

dijabarkan dari sabda Rasul SAW kepada

Dalam Kamus Besar Bahasa


Indonesia

(1989 : 581)

kegembiraan. Prinsip ini dapat

sahabat beliau yang diutus untuk berdakwah

metode

kepada Gubernur Romawi di Damaskus yaitu

adalah cara yang teratur dan terpikir

Muaz bin Jabal dan Abu Musa Al-Asyari :

baik-baik untuk mencapai maksud,

Permudahkanlah

cara kerja yang

mempersulit, gembirakan mereka dan jangan

bersistem untuk

memudahkan pelaksanaan

suatu

kegiatan guna mencapai tujuan.


Jika
pendidikan
dimaksud
pendidikan
yang

dikaitkan

Islam,

jangan

berbuat sesuatu yang menyebabkan mereka


Allah menghendaki kemudahan bagimu dan

yang

tidak menghendaki kesukaran bagimu (Q. S

metode

Al-Baqarah : 185). (2). Prinsip memberikan

ialah cara-cara

layanan dan santunan dengan lemah-lembut,

dengan
Islam

dan

menjauhi kamu dan firman Allah SWT

dengan

maka

mereka

yang digunakan

untuk

sebagaimana firman Allah SWT Maka

disebabkan Rahmat Allah kamu berlaku

menggunakan kata-kata yang mengandung

lemah-lembut

tanbih (meminta perhatian)

terhadap mereka. Sekiranya

dengan kata-

kamu bersikap keras lagi berhati kasar,

kata : Alif lammim, kaf haa yaa ain shad

tentulah

dan

mereka

menjauhkan

diri

dari

sebagainya.

(5).

Prinsip

Komunikasi

sekelilingmu, karena itu maafkanlah mereka

Terbuka. Guru mendorong anak didik agar

dan memohon ampunlah bagi mereka (Q. S

membuka diri terhadap bahan-bahan yang

Ali-Imran : 159 ). (3). Prinsip kebermaknaan

disajikan kepada mereka, sehingga dapat

bagi anak didik. Sebagaimana

menyerapnya menjadi bahan apersepsi dalam

hadits Nabi

Berbicaralah kamu kepada manusia sesuai

pikirannya.

dengan kadar kemampuan akal pikiran

manusia

mereka. Hadits ini bersumber

perasaan, pendengaran dan penglihatannya

dari firman

Al-Quran

untuk

banyak

membuka

hati,

untuk

terkunci mati hati mereka oleh Allah dan

difirmankan Allah yang kemudian apa yang

mereka mengikuti hawa nafsu mereka (Q. S

diserap itu akan dimintai pertanggungjawaban

Muhammad

: 16). (4). Prinsip prasyarat.

dihadapan Allah, sebagaimana

Pengalaman

dan pemahaman

yang telah

Dan sesungguhnya Aku jadikan untuk (isi

dimiliki siswa dihubungkan dengan hal-hal

neraka jahannam) kebanyakan dari jin dan

baru yang hendak diajarkan (apersepsi) untuk

manusia,

menarik minat siswa terhadap pelajaran baru

tetapi

yang akan disajikan. Allah banyak memberikan

memahami ayat-ayat Allah dan mempunyai

prasyarat

mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk

al-Quran

dengan

pesan-pesan

pikiran,

Allah Mereka itulah orang-orang yang

dalam

menyerap

mendorong

yang

firman Allah

mereka mempunyai hati, akan


tidak

dipergunakannya

untuk

melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan

(kedatangan) hari qiamat dan dia banyak

mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak

menyebut (nama) Allah (Q. S al-Ahzab : 21),

dipergunakannya

(8). prinsip

untuk mendengar ayat-

Praktek

secara

anak

untuk

ayat Allah (Q. S Al-Araf : 179). (6). Prinsip

aktif.

pemberian pengetahuan yang baru. Anak didik

mengamalkan semua pengetahuan yang telah

ditarik minat dan perhatiannya kepada bahan-

diperoleh dalam proses belajar mengajar atau

bahan pengetahuan yang baru bagi mereka.

pengalaman dari keyakinan dan sikap

Dalam Islam terdapat prinsip kebaharuan

mereka hayati dan pahami sehingga nilai-

dalam belajar,

nilai yang

baik

tentang fenomena-

Mendorong

(Pengalaman)
didik

yang

telah ditransformasikan atau di

fenomena alamiah maupun fenomena yang

internalisasi ke dalam

terdapat dalam diri manusia sendiri, seperti

menghasilkan buah yang bermanfaat bagi

biologi, fisika, astronomi, mineralogi dan

diri dan masyarakat

sebagainya. (7). Prinsip

memberikan Model

kasih sayang,

Perilaku

Anak didik dapat

Prinsip ini dapat ditemukan dalam berbagai

memperoleh contoh perilaku yang baik melalui

ayat al-Quran, misalnya : (a). Dan peliharalah

pengamatan dan peniruan yang tepat guna

hubungan kasih sayang (Q. S An-Nisa : 1).

dalam proses belajar mengajar, misalnya

(Hamdani Ihsan, 2001 : 165-178).

yang baik.

diri manusia

sekitarnya, (9).prinsip

bimbingan dan konseling.

seperti firman Allah Sesungguhnya telah ada


pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang
baik

bagimu

mengharap

yaitu

bagi

orang

yang

(Rahmat)

Allah

dan

didik

C. Macam Metode Pendidikan Islam

ada,

Setelah mengkaji berbagai sumber yang

untuk menghindarkan orang yang

ditemukan

nasehat

macam-macam

metode

pendidikan Islam sebagai berikut :

jalan

1. Metode Teladan.
Metode

teladan

ialah

metode

yang

perkataan,

perbuatan

maupun

cara

dan menunjukkan ke

mendatangkan

manfaat

dan

kebahagiaan (An-Nahlawi, 1979 : 253).


3.Metode Kisah
Metode kisah

pendidikan dengan memberi contoh yang baik,


baik

dari bahaya

diberi

anak

dengan

ialah cara mendidik

menceritakan

peristiwa

Dalam kesehariannya guru atau

terdahulu untuk diambil pelajaran yang

dapat menggunakan metode

berharga yang kemudian dapat membentuk

keteladanan ini dalam mendidik anak-anak

sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-

disekolah maupun diluar sekolah. Dalam al-

hari anak.

Quran dijelaskan bahwa Pada diri mereka

4. Metode Hiwar (Percakapan)

berpikir.
orang tua

(Ibrahim dan umatnya)

Metode hiwar

terdapat teladan

yang baik bagimu yaitu bagi

orang-orang

antara dua

ialah percakapan

orang atau lebih mengenai

yang mengharapkan pahala dari Allah SWT

suatu masalah yang dilakukan dengan

dan keselamatan pada hari kemudian (Q. S

sengaja

Al-Mumtahanah : 6).

tertentu yang diinginkan.

2.Metode Nasehat

5. Metode Perumpamaan

Metode nasehat adalah cara mendidik

yang

Metode

diarahkan

pada

perumpamaan

tujuan

adalah

dengan memberi penjelasan tentang sesuatu

menyerupakan sesuatu dengan sesuatu

kebenaran dan kemaslahatan yang bertujuan

yang

lain

dalam

hukumnya,

mendekatkan

sesuatu yang

abstrak

kepada yang konkrit atau menonjolkan


makna dalam bentuk perkataan yang
menarik,

pada

mempengaruhi

yang

terhadap

dapat
kejiwaan

seseorang.

diperintahkan Allah, juga berarti ancaman


untuk menakut-nakuti seseorang.
8.Metode Targhib
Metode targhib adalah janji yang
disertai bujukan
menunda

6. Metode Pembiasaan

dan rayuan

kemaslahatan,

kenikmatan

untuk

kelezatan

yang dilaksanakan

dan

melalui

Metode pembiasaan ialah cara yang

amal saleh dan pencegahan dari kelezatan

dilakukan melalui suatu proses penanaman

yang membahayakan yang dilakukan untuk

kebiasaan, atau cara-cara bertindak yang

mencari redha Allah.

persisten, uniform

dan hampir-hampir

9. Metode ganjaran

otomatis (Dahlan, 1979 : 7). Penanaman

Metode ganjaran ialah cara mendidik

kebiasaan untuk menjadikan seorang anak

dengan memberi hadiah atau membalas

terbiasa untuk melakukan suatu perbuatan

jasa atas kebaikan yang

baik dalam kehidupannya.

Hampir

7.Metode Tarhib

yang berarti perbuatan menghargai atau

Metode

tarhib adalah berupa

sama dengan penghargaan yang

menghormati anak-anak yang telah mampu

ancaman atau intimidasi melalui hukuman

berkarya

yang disebabkan oleh

produk kebaikan.

kesalahan karena

melanggar larangan Allah dan menganggap


sepele

pelaksanaan

kewajiban

yang

dilakukan anak.

atau

10. Metode Hukuman

menghasilkan

sesuatu

Hukuman merupakan salah satu

Metode penyaluran kekuatan adalah

dari sekian banyak

metode pendidikan

dengan mengaktipkan kekuatan-kekuatan

dalam

digunakan

yang tersimpan

Islam,

ia

apabila

dalam jiwa seseorang

penerapan metode yang lain tidak mampu

disalurkan

merubah perilaku negatif anak. Metode

bermanfaat

hukuman sebagai pilihan terakhir dengan

masyarakatnya.

beberapa persyaratan, misalnya seperti

12. Metode Mengisi Kekosongan

yang dikemukakan M. Athiyah al-Abrasyi


dalam Hamdani

Ihsan (2001 : 197 )

kepada perbuatan baik yang


untuk kepentingan diri dan

Jiwa yang kosong perlu diisi dengan


berbagai

kekuatan

yang

pertama, sebelum anak berumur 10 tahun

menimbulkan

tidak boleh dipukul, kedua, pukulan tidak

bermanfaat

boleh

dan

masyarakat. Sebab jiwa yang kosong akan

menggunakan lidi atau tongkat kecil bukan

dapat merusak pribadi seseorang apabila

tongkat

dibiarkan kosong, tidak diisi, sehingga

lebih

dari

besar,

tiga
ketiga,

kali,

diberikan

perbuatan

dapat

bagi

diri,

kesempatan kepada anak untuk bertaubat

dapat membahayakan

dari

lain.

kesalahan

yang ia lakukan dan

memperbaiki kesalahannya tanpa perlu


menggunakan pukulan atau merusak nama
baiknya (menjadikan ia malu).
11.Metode Penyaluran Kekuatan (bakat)

baik

yang

keluarga

dan

dirinya dan orang

13. Pengajaran tentang cara pengamalan


atau keterampilan
14. Mempergunakan akal

15. Perintah kepada kebaikan, larangan


perbuatan

munkar, saling berwasiat

kebenaran, kesabaran dan kasih saying


16. Menanamkan

atau

menghilangkan

kebiasaan

baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang


munkar (Q.S Luqman : 17).
3. Cerita tentang orang-orang yang taat dan orang
orang

yang

berdosa

serta

akibat-akibat

perbuatan mereka. Misalnya orang yang taat dan

Menurut M. Arifin seperti dikutip

berbuat baik akan memperoleh kehidupan yang

Hamdani Ihsan (2001 : 204) bahwa dalam

baik, seperti cerita Shabibul Kahfi yaitu pemuda

al-Quran dan sunnah Nabi SAW ditemukan

yang beriman dan

taat kepada Allah selalu

berbagai metode untuk pendidikan Islam

dibawah lindungan

Allah dalam gua sampai

antara lain :

beratus-ratus tahun lamanya (cerita pahlawan).

1. Larangan,
dilakukan

contoh
oleh

metode

Luqman

tersebut dalam al-Quran


anakku janganlah kamu

pendidikan
al-Hakim,
yang

yang
seperti

artinya Hai

mempersekutukan

Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah)

Sedangkan orang-orang yang tidak taat dan suka


berbuat

jahat, seperti cerita kaum nabi Saleh,

yang tidak taat kepada amanat Allah menemui


kerusakan.
4. Peragaan, misalnya

dalam mengajarkan tauhid

adalah benar-benar kezaliman yang besar (Q. S

Allah memerintahkan kepada manusia untuk

Luqman : 13).

melihat kejadian alam ini, melihat gunung, lautan,

2. Perintah, sebagai contoh perintah Luqman alHakim kepada anaknya Hai anakku dirikanlah
shalat, dan suruhlah manusia mengerjakan yang

hujan, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya.


5. Instruksional

(bersifat

pengajaran),

misalnya

Allah menyebutkan sifat-sifat orang yang beriman


dan sebagainya.

6. Acquisition (self education=mendidik diri sendiri),

10. Explanation (memberikan penjelasan tentang hal-

misalnya Allah menyebutkan tingkah laku orang

hal yang kurang jelas), misalnya nabi memberi

munafik itu merugikan diri mereka sendiri,

penafsiran ayat-ayat al-Quran

dengan maksud agar manusia tidak munafik dan

mujmal seperti ayat yang memerintahkan shalat

mau mendidik diri sendiri kearah

dan sebagainya.

iman yang

sebenarnya.

Demikianlah antara lain metode-metode

7. Mutual education (mengajar dalam kelompok),


misalnya nabi mengajar

yang bersifat

pendidikan dalam Islam yang perlu mendapat

para sahabat tentang

perhatian dari para pendidik baik orang tua

cara-cara shalat dengan mendemontrasikannya.

sebagai pendidik pertama dan utama maupun

Sebagai perintah beliau bersabda shalatlah kamu

para guru diberbagai sekolah dalam mendidik

sebagaimana kamu melihat aku shalat (Hadits).

anak agar menjadi seorang muslim yang beriman

8. Exposition (dengan menyajikan) yang

didahulu

kuat, beramal banyak, berakhlak mulia dan

dengan motivation (menimbulkan minat) yakni

mempunyai

dengan memberi mukaddimah lebih dahulu,

kebutuhan hidupnya.#

kemudian menjelaskan inti pelajaran. Tuhan


apabila akan menyebutkan sesuatu yang penting
seperti ke-Esaan Tuhan menyebut damir syaan.
9. Function (pelajaran dihidupkan dengan praktek),
misalnya nabi mengajarkan tentang rukun-rukun
dan syarat-syarat haji, kemudian nabi bersamasama mempraktekkannya.

ketrampilan

untuk

memenuhi

Crow kurikulum adalah rancangan pengajaran yang


berisi sejumlah mata pelajaran yang disusun secara
sistematis yang

diperlukan sebagai syarat

untuk

menyelesaikan suatu program pendidikan tertentu.


Pengertian kurikulum ini mengalami perkembangan
sejalan dengan perkembangan teori pendidikan.
Dalam pandang baru penekanan kurikulum

pada

pengalaman belajar. Dengan demikian kurikulum


diartikan segala pengalaman yang diajarkan kepada
siswa dibawah pengarahan dan pengawasan sekolah.
Pengertian kurikulum ini sejalan dengan pendapat
Hasan Langgulung (1995 : 145) bahwa bahwa
BAB VII

kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan,

HAKIKAT KURIKULUM

kebudayaan, sosial, olah raga dan kesenian, baik yang

PENDIDIKAN ISLAM

berada di dalam maupun diluar kelas yang dikelola


oleh sekolah.

A. Pengertian

Berdasarkan

Kurikulum
sekumpulan

sebagaimana

materi

atau

diketahui

mata

kurikulum

pendidikan

Islam

tersebut,
dapat

maka

diartikan

yang

sekumpulan bahan atau mata pelajaran berupa

disiapkan untuk dipelajari oleh peserta didik dalam

sejumlah ilmu pengetahuan, lingkungan dan seluruh

jenjang atau tingkat tertentu.

pelajaran

adalah

pengertian

Menurut Crow and

situasi tempat anak didik belajar (sekolah/madrasah)

tujuan, kurikulum dan

serta pengalaman yang diajarkan kepada anak didik.

berlandaskan agama Islam atau syariat Islam

Dengan pengertian ini bahwa kurikulum

yang menyangkut

sebagainya

prinsip dan

haruslah

ajaran yang

pendidikan Islam bukan hanya sejumlah pengetahuan

berkaitan dengan akidah, ibadah, muamalah dan

yang harus diajarkan kepada anak didik, tetapi

hubungan-hubungan

seluruh proses dan lingkungan tempat

masyarakat, yang harus dikembalikan kepada

memperoleh

pendidikan

dan

anak didik
pengajaran.

kitab

Al-Quran

yang

berlaku

dan Sunnah

dalam

Nabi

SAW.

Pengetahuan yang akan diberikan kepada anak didik

Berdasarkan Al-Quran dan Sunnah, kemudian

itu berlandaskan Al-Quran dan Sunnah Nabi SAW

melahirkan sumber-sumber cabang lain yang

atau dengan kata lain ilmu pengetahuan yang tidak

menguraikan dan menyimpulkan dasar-dasar dan

bertentangan dengan Al-Quran dan Sunnah Nabi

hukum umum yang terkandung dalam kedua

SAW.

sumber tersebut.

B. Landasan Kurikulum Pendidikan Islam

2. Dasar Falsafah
Falsafah

Landasan

pengembangan

kurikulum

yang

pendidikan Islam

menjadi

prinsip

dalam

wajib dipelihara, bukan hanya

pendidikan Islam menurut Omar Mohammad al-

dalam menentukan tujuan-tujuan pendidikan Islam

Toumy al-Syaibany (1979: 524) adalah sebagai

saja, tetapi juga dalam semua aspek pendidikan

berikut:

Islam,

1. Dasar Agama

mengembangkan

Semua sistem
termasuk

kehidupan masyarakat

sistem pendidikan

yang memuat

Falsafah

termasuk

dalam
kurikulum

menentukan
pendidikan

dan
Islam.

pendidikan Islam yang menjadi dasar

pengembangan

kurikulum

pendidikan

bukanlah

falsafah hasil karya manusia,

tetapi falsafah yang

juga kepercayaan bahwa kenyataan objektif tunduk

bersumber dari wahyu Allah SWT, atas bimbingan

pada proses perkembangan dan perubahan, ketiga, di

Nabi SAW dan peninggalan-peninggalan pemikiran

antara segi persamaan antara falsafah pendidikan

Islam

yang benar sepanjang zaman. Perbedaan

Islam dengan falsafah humanisme intelektual adalah

pendidikan Islam dari falsafah-falsafah

bahwa ia meninggikan tujuan akal dan ilmu-ilmu

buatan manusia tidak mengingkari adanya sebagian

kemanusiaan, keempat, di antara segi persamaan

falsafah

antara falsafah pendidikan Islam dengan falsafah

falsafah

buatan

manusia

yang

tradisional

dan

progresif. Kebebasan dan perbedaan antara falsafah

realisme klasik adalah

pendidikan Islam dengan falsafah lainnya tidak

Tuhan dan ilham

bertentangan dengan adanya persamaan antara

sumber-sumber

falsafah buatan manusia dengan falsafah pendidikan

menghormati pemikiran

Islam yaitu: Pertama, di antara persamaan yang

mengakui peranan utama bagi akal yaitu mencari

terdapat antara falsafah pendidikan Islam dengan

kebenaran, mengakui kemerdekaan

falsafah idealisme, misalnya adalah kepercayaan

yang bertanggung jawab dan diperkukuh oleh akhlak,

kepada nilai-nilai spiritual

dan

mengakui

akhirnya kembali kepada

wahyu Pencipta

ideal, yang pada


Yang

antara

mengakui adanya wahyu

sebagai dua sumber


dasar

bagi

pengetahuan;

dan penafsiran akal dan

perbedaan-perbedaan

individu

antara

dengan

perseorangan

perseorangan

mempercayai

di

bahwa

Maha Tinggi dan Mulia, kedua, di antara segi

perbedaan itu tidak menyentuh inti individu, kelima,

persamaan antara falsafah pendidikan Islam dengan

diantara segi persamaan antara falsafah Islam dengan

falsafah realisme natural adalah kepercayaan bahwa

falsafah naturalisme romantik adalah memberontak

alam nyata ini adalah alam sebenarnya yang berdiri

terhadap kebekuan, menaruh perhatian terhadap

sendiri lepas dari akal yang mengamatinya. Begitu

kehidupan

masa kini, menghormati keinginan-

keinginan dan kebutuhan individu-individu pada teori

Bahwa

kurikulum

pendidikan

Islam

itu

pengetahuan, keenam, persamaan falsafah Islam

dikembangkan atas dasar kehidupan masyarakat atau

dengan falsafah pragmatisme adalah mempercayai

dengan

pentingnya

dibentuk

membuka rahasia

segala bidang

perkataan lain
dengan

bahwa kurikulum itu

memperhatikan

persoalan-

kemanfaatan pada benda-benda yang memberi per

persoalan kehidupan masyarakat, seperti kebudayaan,

hidmatan pada manusia.

kepercayaan, pengetahuan, keterampilan, tradisi,

3. Dasar Psikologis.

kebiasaan hidup, dan sebagainya. Dasar ini sangat

Dasar psikologis adalah dasar yang berkaitan

diperlukan

karena

kurikulum

disusun

untuk

dengan ciri-ciri perkembangan anak didik, tahap

kepentingan masyarakat baik kepentingan untuk

kematangannya, bakat-bakat jasmani, intelektual,

mendidik anak sebagai generasi pengganti yang akan

bahasa,

kebutuhan-kebutuhan,

melanjutkan tugas-tugas generasi tua dalam bidang

keinginan, minat, kecakapan, perbedaan individu,

pekerjaan tertentu dan sebagainya. Kemudian tugas

faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan

kurikulum memang berkaitan

sebagainya. Islam tidak melarang mendalami

dan

misalnya karena kurikulum turut serta dalam proses

mengkaji aspek psikologi anak didik di negara muslim

kemasyarakatan bagi anak didik, penyesuaian mereka

sesuai dengan pertimbangan

dalam menentukan

dengan

tujuan-tujuan

kurikulum

dan

menentukan

memperoleh sikap dan perilaku yang baik terhadap

kandungannya,

menyusun

melaksanakan

masyarakatnya, cara bergaul dan bekerjasama dalam

emosi,

sosial,

pengalaman-pengalamannya.
4. Dasar Sosial

dan

masyarakat

tempat

dengan masyarakat,

mereka

hidup,

masyarakat, tanggung jawab, rela berkurban dan


sebegainya.

Selain itu

kurikulum menyiapkan anak didik

cara perlakuan dan hubungan-hubungan yang

untuk memikul tanggung jawab dan berperan dalam

berlaku dalam lembaga-lembaga pendidikan harus

masyarakat, mengembangkan masyarakat Islam dan

berdasar pada agama

merubahnya agar menjadi

lebih baik, memelihara

terisi dengan jiwa agama Islam, keutamaan-

kebudayaan dan peninggalan Islam, mewariskannya

keutamaan, cita-citanya yang tinggi dan bertujuan

kepada

sumber

untuk membina pribadi yang mukmin, kemauan

kekayaan alam dan membangkitkan semangat untuk

yang baik dan hati nurani yang selalu waspada.

mengkajinya

mengokohkan

Prinsip ini wajib dipelihara bukan hanya pada

sosial

ilmu-ilmu syariat saja, tetapi pada segala yang

keluarga

generasi

muda,

dan
dan

menunjukkan

memeliharanya,
lembaga-lembaga

dan

memecahkan masalah-masalah sosial yang terjadi.


C. Prinsip

Pengembangan

Kurikulum

Pendidikan Islam
Prinsip-prinsip
kurikulum

pendidikan

terkandung

dan akhlak Islam, harus

dalam kurikulum termasuk ilmu,

akal, fisik, profesional dan segala kegiatan dan


pengalaman, sebab semunya

pengembangan
Islam

menurut

Omar Mohammad al- Toumy Al-Syaibany


(1979: 520-522) adalah:

harus berjalan

dalam rangka agama, akhlak dan berusaha untuk


mencapai tujuan-tujuan spiritual dan akhlak.
2. Luas cakupannya dan menyeluruh kandungannya
yaitu kurikulum yang benar-benar mencerminkan

1. Prinsip pertama adalah pertautan yang sempurna

semangat,

pemikiran

dan

ajaran

yang

dengan agama, termasuk ajaran-ajaran dan nilai-

menyeluruh, luas pula dalam perhatiannya. Ia

nilainya. Maka setiap yang berkaitan dengan

memperhatikan

kurikulum,

terhadap segala aspek pribadi anak didik dari segi

termasuk

falsafah,

tujuan-tujuan,

kandungan-kandungan, metode mengajar, cara-

pengembangan

intelektual, psikologis, sosial

bimbingan

dan spiritual dan

bermanfaat

bagi

perkembangan

masyarakat

dalam

spiritual, kebudayaan, sosial,

memilih jalan tengah, yaitu keseimbangan dan


kesederhanaan dalam segala sesuatu.

ekonomi dan politik, termasuk ilmu-ilmu agama,

4. Prinsip keempat adalah berkaitan dengan bakat,

bahasa kemanusiaan, fisik, praktis, profesional,

kemampuan-kemampuan dan kebutuhan anak

seni dan sebagainya.

didik, begitu juga dengan alam sekitar, fisik

3. Prinsip ketiga adalah keseimbangan yang relatif


antara

tujuan-tujuan

kandungan

dengan
Kalau

ia

berinteraksi untuk memperoleh pengetahuan-

memberi

pengetahuan, kemahiran-kemahiran, pengalaman

besar pada aspek spiritual dan ilmu

dan sikapnya. Sebab dengan memelihara prinsip

syariat, tidaklah berarti ia membolehkan aspek

ini maka anak didik lebih terpenuhi kebutuhannya

spiritual itu melebihi

dan lebih sejalan dengan suasana alam sekitar dan

perhatian

kurikulum.

kandungan-

maupun sosial dimana anak didik itu hidup dan

aspek penting yang lain

dalam kehidupan, dan juga tidak boleh ilmu

kebutuhan-kebutuhan masyarakatnya.

syariat melampaui ilmu seni dan kegiatan lain

5. Prinsip kelima adalah pemeliharaan perbedaan

yang tidak dapat diabaikan untuk diadakan baik

individu di antara para anak didik dalam bakat,

bagi individu maupun

masyarakat. Oleh sebab

minat, kemampuan, kebutuhan dan masalahnya

itu agama Islam yang menjadi sumber ilham

serta juga memelihara perbedaan dan kelainan di

kurikulum dalam menciptakan

dan

antara alam sekitar dan masyarakat. Karena

kepentingan

pemeliharaan ini dapat menambahkan kesesuaian

mengakui pentingnya

kurikulum dengan kebutuhan anak didik dan

tujuan-tujuannya,

menekankan

dunia dan akhirat serta

falsafah

jasmani, akal, jiwa dan kebutuhan setiap aspek


itu. Oleh sebab itu ia meminta kaum muslimin

masyarakat

serta

menambahkan

fungsi

dan

gunanya,

sebagaimana

ia

menambahkan

keluwesannya.

pengambilan

juga

dengan

kandungan-kandungan

6. Prinsip keenam adalah prinsip perkembangan dan


perubahan.

Demikian

Islam

yang

falsafah,

menjadi

prinsip

pertautan
kurikulum

antara
dengan

kebutuhan-kebutuhan anak didik dan kebutuhan-

sumber

kebutuhan masyarakat, serta tuntutan zaman.

dasar

Islam tidak menyetujui kurikulum pendidikan

dan

kurikulum pendidikan Islam, mencela keras sifat

Islam

taklid

tanpa

pengalaman dan aktivitas anak didik sesuai

melakukan penyelidikan tentang kebenarannya.

dengan perkembangan logika dan perkembangan

Islam

usia anak didik.

(mengikuti)

sesuatu

menggalakkan

perubahan

yang

pendapat

perkembangan

progresif,

bermanfaat

dan

yang

tidak

tersusun

mata

pelajaran,

dan

Dalam menyusun kurikulum pendidikan

membolehkan sifat menyesuaikan diri dengan

Islam prinsip-prinsip yang harus diperhatikan

perkembangan dan perubahan yang berlaku dalam

adalah sebagai berikut:

kehidupan manusia. Oleh karena itu menjadi

1. Kurikulum pendidikan Islam haruslah

sejalan

kewajiban kaum muslimin untuk melakukan

dengan

perubahan

terhadap

mengandung materi atau bahan berupa ilmu

kurikulum pendidikan Islam untuk disesuaikan

pengetahuan yang berfungsi sebagai alat untuk

dengan

mencapai tujuan hidup Islami.

dan

kebutuhan

pengembangan
umat

Islam

pada

masa

sekarang.
7. Prinsip ketujuh adalah prinsip pertautan antara

idealitas Islam, yaitu kurikulum yang

2. Supaya kurikulum pendidikan Islam berfungsi


sebagai alat yang efektif untuk mencapai tujuan

mata pelajaran, pengalaman-pengalaman dan

tersebut

di

atas,

maka

kurikulum

harus

aktivitas yang terkandung dalam kurikulum.

mengandung tata nilai Islami yang intrinsik

(terkandung) dan ekstrinsik (berasal

dari luar)

keagamaan. Al-Farabi menempatkan ilmu ke-

yang mampu merealisasikan tujuan pendidikan

Tuhanan pada tingkat kemuliaan yang utama dan

Islam.

menganggapnya sebagai ilmu yang tertinggi dan

3. Kurikulum yang Islami itu diproses melalui

teragung. Sedangkan ilmu lainnya merupakan

metode yang sesuai dengan nilai yang terkandung

pengiring ilmu ke-Tuhanan. Sebagian sarjana

dalam tujuan pendidikan Islam.

menamakan ilmu ke-Tuhanan itu sebagai ilmu

4. Ada keterkaitan antara kurikulum dan metode

tertinggi sedangkan

ilmu matematika

sebagai

dengan tujuan pendidikan Islam dan saling

ilmu penengah dan ilmu

menjiwai dalam proses mencapai hasil yang dicita-

terendah. Menurut An-Namiri al-Qurtubi dalam

citakan menurut ajaran Islam (M. Arifin, 1991 :

(M. Athiyah al-Abrasyi,1984: 174)

97).

disebut ilmu bagi ahli agama ada

185)

fisika sebagai ilmu


bahwa yang
tiga yaitu:

Menurut M. Athiyah al-Abrasyi (1984: 173-

pertama, Ilmu tertinggi bagi mereka ialah ilmu

bahwa

agama, kedua, Ilmu menengah ialah pengetahuan

dalam

penyusunan

kurikulum

pendidikan Islam perlu memperhatikan

prinsip-

prinsip sebagai berikut:

mengenai keduniaan, seperti ilmu kedokteran,


ilmu ukur, sedangkan ketiga, ilmu terendah ialah

1. Pengaruh mata pelajaran dalam pendidikan jiwa

seperti ilmu-ilmu perindustrian serta kesenian

dan kesempurnaanya. Oleh karena itu perlu

praktis seperti berenang, berkuda, menulis indah

diberikan mata pelajaran

yaitu ilmu-ilmu yang memberikan kemahiran

keagamaan dan ke-

Tuhanan. Ilmu yang termulia ialah mengenai

melalui latihan-latihan anggota

Tuhan dan sifat-sifat-Nya. Oleh karena itu perlu

filosof

diberikan mata pelajaran ke-Tuhanan

keagamaan adalah ilmu yang termulia, terhormat

dan

Islam

berpendapat

badan. Para

bahwa

ilmu-ilmu

dan untuk mempelajarinya disyaratkan agar

sihir (2). Ilmu yang terpuji sedikit atau banyak

jangan peserta didik mempelajarinya dengan

seperti ilmu tentang Allah, perbuatan Tuhan

tujuan

dan

terhadap makhluknya, yang merupakan ilmu yang

mereka

harus diketahui untuk mencapai kebahagiaan

mempelajari ilmu keagamaan itu untuk mencari

akhirat (3). Ilmu yang terpuji secara wajar saja

kekayaan, keduniaan, kedudukan dan kekuasaan,

seperti ilmu perbintangan (Ihya ulumuddin, I :

tetapi hendaklah semata-mata mencari keredhaan

36).

untuk

keduniawian.

mencapai
Jangan

kebendaan

hendaknya

Allah SWT. Rasul SAW Melarang mempelajari

2. Pengaruh

suatu

mata

pelajaran

dalam

bidang

suatu ilmu dengan tujuan untuk berbangga-

petunjuk dan tuntunan adalah dengan menjalani cara

bangga dengan ulama atau orang-orang bodoh,

hidup yang mulia dan sempurna seperti, dengan ilmu

tetapi pelajarilah ilmu untuk mencari keredhaan

akhlak, hadits dan fiqih. Islam sangat memperhatikan

Allah SWT dan untuk akhirat (Hadits). Menurut

pendidikan akhlak pada jenjang pendidikan pertama

Al-Gazali kesempurnaan seseorang itu dapat

atau pendidikan tinggi serta mengutamakan mata

diketahui dari dekat atau jauhnya kepada Allah.

pelajaran ilmu agama, terutama fiqih, karena ilmu

Hal itu hanya bisa dilakukan melalui ilmu

agama merupakan sendi kemuliaan, fadhilah dan

pengetahuan.

Dekat atau jauhnya seseorang

sendi-sendi moral yang sempurna. Sebagian ulama

kepada

tergantung

dan

Islam beranggapan bahwa mempelajari bermacam-

sempurnanya ilmu yang ia miliki (M. Athiyah al-

macam ilmu pengetahuan agama maupun filsafat

Abrasyi, 1984: 175).

membagi ilmu

semuanya membawa kepada tujuan-tujuan ruhaniah

pengetahuan ke dalam tiga bagian yaitu (1). bagian

dan akhlak. Oleh karena itu mereka mempelajarinya

yang tercela banyak maupun sedikit seperti ilmu

dengan sungguh-sungguh untuk mencapai tujuan

Allah

dari

Al-Gazali

banyak

ruhaniah dan akhlak mulia, sebelum mencapai tujuan

teliti dalam berpikir, teliti dalam berbicara dan

lainnya. Sebagian filosof Islam mendorong agar

berbuat,

mempelajari ilmu-ilmu geografi alam, karena mereka

puasa, urusan perdagangan, ilmu fiqih untuk dapat

berkeyakinan bahwa pelajaran-pelajaran ilmu jiwa

memahami hukum syariat Islam dalam bidang

menyebabkan jiwa itu rindu untuk terbang kealam

ibadah dan muamalah, ilmu nahu

luar, ke alam bintang-bintang dan alam ruhaniah.

lidah terhindari dari kesalahan bicara, menghindari

Filosof lainnya menganjurkan supaya mempelajari

kesalahan pena sewaktu menulis. Ilmu kedokteran

sejarah, karena ilmu sejarah ternyata menempati

dipelajari untuk menghindari manusia dari segala

kedudukan penting dalam kurikulum pendidikan

macam penyakit dan keperluan pengobatan.

Islam.

mengenal ilmu kewarisan, waktu-waktu

dipelajari agar

4. Orang muslim mempelajari ilmu pengetahuan karena

3. Mata pelajaran yang dipelajari oleh manusia karena

ilmu tersebut dianggap yang terlezat bagi manusia.

pertimbangan bahwa ia mengandung kelezatan ilmiah

Menurut fitrahnya manusia senang mengetahui

dan kelezatan idiologi yang disebut oleh para ahli-ahli

sesuatu yang baru. Oleh karena itu para filosof

pendidikan menuntut ilmu karena ilmu itu sendiri.

muslim sangat

Selain itu adapula mata pelajaran yang dianjurkan

ilmu

oleh para sarjana Muslim, karena secara praktis dan

memuaskan fitrah itu, karena

langsung memberi manfaat dalam hidup.

pengetahuan. Sebagai

Sedangkan mantiq dipelajari karena ilmu


tersebut mampu menghindarkan

memperhatikan

pengetahuan

dan

berbagai cabang

kesenian,

demi untuk

manusia yang cinta

suatu cara terbaik

dalam

pendidikan Islam ialah para siswa mempelajari ilmu

seseorang dari

pengetahuan semata-mata untuk ilmu, karena di

kekeliruan berpikir, ilmu hitung dan ilmu ukur

dalamnya tersimpan kelezatan ilmiah yang sangat

dipelajari agar akal dan hati terbiasa dengan sifat

tinggi. Al-Hajj Khalifah menulis, bahwa ilmu adalah

suatu yang

paling

lezat

dan

mulia, ilmu

itu

keruhanian telah lebih unggul dari aspek-aspek

diagungkan

semata-mata karena ilmu itu sendiri

kebendaan dan kemanfaatan dunia. Inilah jiwa yang

dan ilmu adalah pemegang segala jenis kemuliaan,


karena ilmu itu sendiri adalah lezat.

6. Mempelajari beberapa mata pelajaran sebagai alat

5. Pendidikan kejuruan, teknik dan industri untuk


mencari

penghidupan.

ideal dan tujuan-tujuan utama pendidikan Islam.

Pendidikan

Islam

dan pembuka jalan untuk mempelajari ilmu-ilmu lain.


Kaum muslimin telah mempelajari bahasa dan sastra

mengutamakan segi keruhanian, keagamaan dan

Arab,

moral

mempelajari tafsir Al-Quran, hadits dan fiqh Islam.

yang

dirasakan

oleh

orang-orang

yang

karena keduanya membantu untuk

membaca buku-buku yang ditulis oleh filosof-filosof

Para

dan ulama-ulama Islam, sedangkan pendidikan Islam

kesempurnaan dan mendalam dalam ilmu bahasa

tidak mengesampingkan pemberian tuntunan kepada

seperti nahwu, balaghah, syair dan kemudian telah

para siswa untuk mempelajari subjek atau latihan-

meninggalkan pengaruh-pengaruh ilmiah yang tidak

latihan

bidang

ada bandingannya dalam perkembangan bahasa-

pekerjaan, teknik dan perindustrian, segera setelah

bahasa di dunia. Sedangkan dahulunya mereka

mereka menghafal Al-Quran dan pelajaran-pelajaran

belajar bahasa, hanyalah sebagai jalan dan alat saja.

agama dengan tujuan untuk mempersiapkan mereka

Dengan

memenuhi kebutuhan hidupnya. Mencari ilmu dalam

pendidikan Islam lebih mengutamakan pendidikan

Islam semata karena ilmu sendiri dan inilah tujuan

agama, akhlak dan keruhanian, kemudian baru

tertinggi

pelajaran-pelajaran

mengenai

keuntungan materi sebagai tujuan utama. Dalam

Perbedaan terpenting

antara

kenyataannya bahwa kelezatan ilmiah dan aspek

dengan pendidikan umum ialah bahwa tujuan utama

kejuruan

dari

mengenai

suatu

beberapa

pendidikan

dan

bukan

sarjana

muslim

demikian

telah

dapat

mencapai

disimpulkan

derajad

bahwa

kebudayaan.
pendidikan Islam

pendidikan Islam

keruhanian, akhlak dan

yaitu pendidikan idealis yang bersifat keruhanian,

moral, karena seorang muslim mempelajari ilmu

moral dan keagamaan. Oleh karena itu kita belajar,

pengetahuan

mencari

karena ilmu dan kelezatan ilmiah, sehingga kita

melainkan

terhindar dari keruntuhan, kejahatan dan kenistaan,

mencari ilmu untuk memperoleh keredhaan Allah

keserakahan, penjajahan, keangkara-murkaan dan

SWT.

peperangan

kebanggaan,

adalah
tidaklah

kedudukan

Adapun

bermaksud
dan

pendidikan

harta,

umum

sekarang

ini

menjadikan kebendaan dan keduniawian sebagai


tujuan pokok yang menjadikan pendidikan sebagai

dengan

segala

bencana

yang

ditimbulkannya.
Menurut Asma Hasan Fahmi (dalam Nur

cara untuk memperoleh kedudukan, jabatan atau

Uhbiyati,

pekerjaan.

menentukan kurikulum pendidikan Islam hendaklah

Sekalipun

mengutamakan

pendidikan

Islam

lebih

nilai-nilai ilmiah yang bersifat

keruhanian, tetapi Islam juga tidak mengabaikan

cet.2,

1998:

164-165)

bahwa

dalam

berpegang pada prinsip-prinsip sebagai berikut:


1. Nilai

materi

atau

mata

pelajaran,

karena

subjek-subjek kebudayaan, kejuruan dan latihan-

berpengaruh dalam mencapai kesempurnaan jiwa

latihan

dalam

dengan cara mengenal Tuhan Yang Maha Esa yang

menghadapi kebutuhan hidup, sebagaimana sabda

merupakan tugas ilmu ke-Tuhanan dan ilmu-ilmu

Rasul SAW Bekerjalah untuk dunia mu, seakan-

agama. Dalam menyusun mata pelajaran ini, kaum

akan kamu akan hidup selamanya, dan beramallah

muslimin telah mengikuti sistem logis dan oleh

untuk

karena itu mereka memilih untuk tingkat pertama

praktis dan pemikiran-pemikiran

akheratmu,

seakan-akan

kamu

akan

meninggal besok pagi . Sekalipun ilmu pengetahuan

mata

pelajaran

yang

dapat

mengantarkan

dan teknologi maju dengan pesatnya, namun dunia

seseorang kepada tujuan yang lebih tinggi yaitu

modern sekarang ini membutuhkan pendidikan Islam

mengetahui Allah SWT, sebagai pencipta alam

semesta. Untuk mencapai tujuan ini tidaklah

belum sempurna apabila

dimulai dengan mempelajari ilmu ke-Tuhanan,

pelajaran fiqih.

belum memuat mata

melainkan dimulai dengan mempelajari ilmu yang

3. Nilai mata pelajaran, karena pengaruhnya yang

dianggap kurang penting, seperti ilmu bahasa.

berupa latihan atau nilainya dalam memperoleh

Menurut para filosof dan ahli agama bahwa

kebiasaan tertentu dari akal yang dapat berpindah

mempelajari ilmu ke-Tuhanan dan ilmu-ilmu

kelapangan-lapangan lain, bukan lapangan mata

agama sangat penting.

pelajaran yang melatih akal itu pada awalnya. Oleh

2. Nilai

mata

pelajaran,

karena

mengandung

karena itu orang mengatakan bahwa ilmu mantiq

nasehat. Untuk mengikuti jalan hidup yang baik

adalah salah satu alat yang merupakan peraturan

dan utama yang merupakan tugas ilmu akhlak,

yang

ilmu hadist dan ilmu fiqih. Dalam kurikulum

menghindarkan

pendidikan Islam nampak sangat jelas bahwa

berpikir.

faktor budi pekerti (akhlak) sangat dipentingkan

4. Nilai

jika

mata

dijaga,

benar-benar

seseorang

pelajaran

dari

yang

akan

dapat

kesalahan

berfungsi

untuk

baik pada tingkat pendidikan pertama maupun

pembudayaan dan kesenangan otak. Orang-orang

terakhir. Oleh karena itu ajaran-ajaran Islam

Islam

merupakan sumber akhlak, seperti sifat-sifat

bermacam jenis ilmu pengetahuan dan kesenian

keutamaan, maka ia telah mengarahkan perhatian

dengan tujuan utama adalah untuk memuaskan

besar

agama,

naluri alamiah manusia kepada pengetahuan dan

terutama fiqih yang berisi petunjuk, nasehat dan

inilah yang dianggap oleh ulama Islam sebagai

penjelasan tentang urusan agama dan dunia. Oleh

suatu naluri yang membedakan antara manusia

karena itu kurikulum pendidikan Islam dianggap

dengan hewan.

untuk

mempelajari

ilmu-ilmu

sangat

berminat

untuk

mempelajari

5. Nilai mata pelajaran yang diperlukan untuk

mempelajarinya tidak harus terlalu mendalam,

mempersiapkan seseorang memperoleh pekerjaan

yang

atau penghidupan. Sungguhpun kaum muslimin

menghambat untuk mempelajari ilmu-ilmu yang

mementingkan

nilai

pengetahuan,

akan

maknawi
tetapi

dapat

menghabiskan

waktu,

sehingga

dari

ilmu

asli atau ilmu yang di dalamnya terdapat tujuan-

mereka

tidak

tujuan pokok yang ingin dicapai

ketinggalan dan tidak mengenyampingkan nilainilai kemanfaatan dalam memilih sesuatu mata

D.Ciri-Ciri Kurikulum Pendidikan Islam


Adapun

ciri-ciri

kurikulum

pendidikan

pelajaran, sehingga setiap orang yang telah

Islam sebagaimana pandangan Omar Mohammad

menyelesaikan suatu jenjang pendidikan, segera

al-Toumy al-Syaibani (1979: 489-515) adalah:

setelah itu memperoleh pekerjaan atau sumber


rezeki.

1. Ciri pertama kurikulum pendidikan Islam adalah


mengedepankan tujuan agama dan akhlak dalam

6. Nilai mata pelajaran, karena ia merupakan alat

berbagai

tujuan-tujuannya,

kandungan-

atau media untuk mempelajari ilmu yang lebih

kandungannya, metode-metode, alat-alat untuk

berguna dan mata pelajaran yang dianggap oleh

bercorak agama.

orang

Islam

sebagai

media

yang

otomatis

2. Ciri kedua kurikulum pendidikan Islam adalah

untuk mempelajari mata pelajaran lain seperti

meluas

ilmu

untuk

kandungannya yaitu kurikulum yang benar-benar

dan

mencerminkan semangat, pemikiran dan ajaran

mantiq. Para ulama Islam berpendapat bahwa

yang menyeluruh, luas pula dalam perhatiannya.

mempelajari ilmu alat, merupakan media untuk

Ia memperhatikan

bahasa

yang sangat membantu

memahami agama, ilmu

sampai

kepada

tujuan.

matematika

Oleh

karena

itu

cakupannya

dan

pengembangan

menyeluruh

bimbingan

terhadap segala aspek pribadi anak didik dari segi

manusia

intelektual, psikologi, sosial dan spiritual.

manusia, memeliharanya dari penyimpangan dan

3. Ciri ketiga kurikulum pendidikan Islam adalah

dan

menjaga

bertujuan

untuk

keselamatan

menyucikan

fitrah

seimbang di antara berbagai ilmu yang terkandung

sebagaimana

dalam kurikulum yang akan digunakan, seimbang

bahwa hamba-hambaku diciptakan dengan

antara

kecenderungan (pada kebenaran), lalu syetan

pengembangan bagi

individual dan

sosial.

diisyaratkan

oleh

manusia,
hadits

qudsi

menyesatkan mereka.

4. Ciri keempat adalah kecenderungan pada seni


halus, aktivitas

pendidikan

2. Kurikulum

pendidikan

Islam

harus

dapat

jasmani, latihan

mewujudkan tujuan pendidikan yang fundamental

militer, pengetahuan teknik, latihan kejuruan dan

yaitu memurnikan ketaatan dan peribadahan

bahasa-bahasa Asing.

hanya kepada Allah SWT. Artinya kurikulum

5. Ciri kelima kurikulum pendidikan Islam adalah


keterkaitannya

dengan

minat,

kemampuan,

kebutuhan

dan

perbedaan-perbedaan

perseorangan anak didik.


an-Nahlawi

(1983:

196-199)

mengatakan bahwa kurikulum pendidikan Islam


hendaknya memenuhi ketentuan sebagai berikut:
1. Kurikulum

Islami

harus

Islam

meluruskan

dan

harus

diarahkan

mengarahkan

untuk

kehidupan,

sehingga tujuan fundamental pendidikan Islam


dapat menjadi kenyataan. Kurikulum pendidikan

Dengan menggunakan istilah karakter, maka


Abdurrahman

pendidikan

memiliki

sistem

pengajaran dan materi yang selaras dengan fitrah

Islam disusun sebagai landasan kebangkitan


pendidikan Islam, baik pada aspek intelektual,
pengalaman, fisikal maupun sosial.
3. Kurikulum pendidikan Islam harus sesuai dengan
karakteristik, usia, tingkat pemahaman, jenis

kelamin serta tugas-tugas kemasyarakatan pada

peserta didik, baik yang berkaitan dengan sunnah,

setiap jenjang atau tingkat pendidikan

kaidah, sistem maupun realitas alam semesta.

4. Kurikulum

pendidikan

hendaklah

6. Hendaklah kurikulum itu bersifat realistik, artinya

masyarakat

bahwa ia dapat dilaksanakan sesuai dengan

seperti kesehatan, keamanan, administrasi dan

situasi, kondisi dan batas kemungkinan yang

pendidikan. Selain itu harus pula diarahkan untuk

terdapat

pemeliharaan

melaksanakannya.

memperhatikan

Islam

kebutuhan

berbagai

nyata

kepentingan

hidup

dalam

suatu

negara

yang

akan

manusia seperti lingkungan bisnis, pertanian,

7. Metode pembelajaran yang merupakan bagian

perindustrian dan pemukiman. Hal yang penting

dari kurikulum, hendaklah bersifat fleksibel.

adalah

pemeliharaan

Artinya bahwa metode pembelajaran itu dapat

kepentingan tersebut bertentangan dengan ajaran

disesuaikan dengan berbagai situasi dan kondisi

Islam, akan tetapi justru harus mendukung

lokal, serta berbagai perbedaan yang dimiliki anak

pelayanan umat dan perkembangan peradaban

didik, seperti bakat, minat, kemampuan untuk

intelektual, spiritual dan perwujudan syariat

menangkap, mengorganisasi

Islam.

bahan ajar.

5. Sistem

jangan

sampai

kurikulum

usaha

pendidikan

Islam

dan

menganalisis

harus

8. Kurikulum hendaknya efektif sehingga dapat

terbebas dari kontradiksi yang mengacu kepada

membentuk tingkah laku yang positip dan dapat

kesatuan Islam dan selaras dengan integritas

mengendalikan emosi manusia.

psikologis yang telah diciptakan Allah SWT bagi


manusia

serta

pengalaman

yang

selaras
hendak

dengan
diberikan

9. Kurikulum hendaknya memperhatikan tingkat

kesatuan

pertumbuhan dan perkembangan anak didik, baik

kepada

fisik, emosional maupun intelektualnya serta

masalah-masalah yang dihadapinya dalam tingkat

pendidikan

perkembangan,

1999: 163).

seperti

pertumbuhan

bahasa,

kematangan sosial dan kesiapan religiusitas.

interaksional

Menurut

10. Kurikulum hendaklah memperhatikan segi-segi

(1983: 193-199)

(Hery Noer

Abdurrahman

Ali,

an-Nahlawi

bahwa bentuk

kurikulum

tingkah laku amaliah Islami yang berupa aktivitas

pendidikan Islam adalah Kurikulum terpusat

secara langsung,

yang dikaitkan dengan berbagai aktivitas yang

pembangunan

seperti
masyarakat

dakwah Islam dan


muslim

yang

mendukung atau disebut kegiatan

merupakan wujud pengamalan akhlak Islami,

kurikuler.

syariah Islam dan

memberikan berbagai ilmu pengetahuan yang

syiar Islam,

baik dalam

kehidupan individual maupun sosial


E. Bentuk

Pengembangan

Karena

kurikulum

ekstra

model

ini

saling terkait satu dengan yang lainnya.


Kurikulum

F. Materi Kurikulum Pendidikan Islam


Materi atau isi kurikulum pendidikan Islam

Pendidikan Islam
Dalam pendidikan dikenal ada 4 model

merupakan bagian yang sangat penting dalam proses

konsep kurikulum yang masing-masing lahir

pendidikan Islam. Karena materi kurikulum itulah

dari aliran pendidikan yang berbeda, yaitu (1)

yang merupakan bahan atau materi yang akan

kurikulum subjek akademis, berasal dari aliran

diajarkan atau diberikan kepada anak didik untuk

pendidikan klasik, (2) kurikulum humanistik

membentuk mereka menjadi manusia yang cerdas,

lahir dari aliran kepribadian, (3) kurikulum

beriman

teknologi berasal dari teori teknologi (4)

keterampilan untuk mengarungi kehidupan. Apabila

kurikulum

isi kurikulum keliru atau tidak sesuai untuk mencapai

rekonstruksi

sosial

lahir

dari

dan

berakhlak

mulia

serta

memiliki

tujuan pendidikan Islam, maka

agama, bangsa dan

karena ilmu ini berfungsi membantu ilmu agama (3)

negara akan mengalami kerugian, karena tidak

ilmu-ilmu yang fardfu kifayah yaitu ilmu kedokteran,

berhasil membentuk generasi muslim yang baik, kuat

matematika,

dan berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Imam

jenisnya dan juga ilmu politik (4) ilmu kebudayaan,

Gazali

seperti syair, sejarah dan beberapa cabang filsafat

membagi

dua

kelompok

ilmu

menurut

kepentingannya yaitu: Pertama, Ilmu yang fardu

teknologi

yang

bermacam-macam

(M. Arifin, 2000: 89).

(wajib) untuk diketahui oleh semua orang muslim

Fadhil Al-Djamaly mengatakan bahwa semua

yaitu ilmu agama, ilmu yang bersumber dari kitab

jenis ilmu yang terkandung dalam Al-Quran harus

suci Al-Quran, seperti ilmu-ilmu Al-Quran, fiqih,

diajarkan kepada anak didik. Ilmu-ilmu tersebut

hadits dan tafsir. Ilmu bahasa seperti nahu, syaraf,

meliputi ilmu agama, sejarah, ilmu falaq, ilmu bumi,

ilmu tajwid dan lafal-lafalnya yang dapat membantu

ilmu jiwa, ilmu kedokteran, ilmu pertanian, biologi,

ilmu agama. Kedua,

fardu

ilmu hitung, ilmu hukum dan perundang-undangan,

Kifayah untuk dipelajari oleh setiap muslim. Ilmu ini

ilmu kemasyarakatan, ilmu ekonomi, bahasa Arab,

adalah ilmu yang dimanfaatkan untuk memudahkan

ilmu pembelaan negara dan segala ilmu yang dapat

urusan hidup duniawi, seperti ilmu kedokteran,

mengembangkan

matematika, teknologi dan ilmu politik (M. Arifin,

mempertinggi derajadnya (M. Arifin, 1991: 186).

ilmu yang merupakan

kehidupan

manusia

dan

2000: 88). Kemudian Al-Gazali mengusulkan ilmu-

Ilmu yang harus dijadikan materi atau isi

ilmu pengetahuan yang harus dipelajari oleh anak

kurikulum lembaga pendidikan Islam menurut Ibnu

didik sebagai berikut: (1) ilmu Al-Quran dan ilmu

Khaldun sebagaimana dikutip M. Arifin (2000: 91)

agama,

(2)

meliputi tiga jenis yaitu: Ilmu lisan (bahasa) yang

Sekumpulan bahasa, nahwu, makhraj dan lafalnya,

terdiri dari Ilmu lughah, nahwu saraf, balaghah,

seperti

Fiqih,

Hadits

dan

Tafsir

maani, bayan, adab atau

syair-syair. Ilmu Naqli

riyadi (matematika), ilmu Ilahi, yaitu ilmu yang

yaitu ilmu-ilmu yang dinukilkan dari Al-Quran dan

mengandung iktibar tentang maujud dari alam dan

As-Sunnah Nabi SAW, terdiri dari ilmu qiraat Al-

isinya yang dianalisis secara jujur dan jelas, akan

Quran, dan ilmu Tafsir, Sanad-sanad hadits dan

diketahui Maha Penciptanya. Ilmu Amali (praktis)

pentasehannya,

qanun-qanun

yang terdiri dari bermacam ilmu pengetahuan yang

fidyahnya, melalui ilmu-ilmu tersebut agar anak

prinsip-prinsipnya berdasarkan atas sasaran-sasaran

didik dapat memahami hukum-hukum Allah SWT

analisisnya. Misalnya ilmu yang menganalisis tentang

yang diwajibkan kepada umat manusia. Sedangkan

perilaku manusia yang jika dilihat dari aspek

ilmu yang dapat digunakan untuk menganalisis ajaran

individual

Al-Quran adalah ilmu Tafsir, ilmu Hadits, Ushul

analisisnya dilihat dari aspek sosial, maka melahirkan

fiqih,

ilmu politik (siasah).

dengan

serta

istimbat

menggunakan

metode

istimbat,

deduktif dan induktif. Ilmu Aqli yaitu ilmu yang dapat


menunjukkan

manusia

melalui

kemampuan

melahirkan

ilmu

akhlak,

dan

Menurut M. Arifin (1991: 193-195)

jika

ilmu

pengetahuan Islam yang dijadikan materi kurikulum

berpikirnya kepada filsafat dan semua jenis ilmu

pendidikan

Islam

adalah:

Pertama,

Ilmu

mantiq, ilmu alam, ilmu teologi, ilmu teknik, ilmu

pengetahuan dasar yang esensial yaitu ilmu-ilmu

tentang tingkah laku manusia dan ilmu hitung.

yang membahas ulumul quran dan hadits kedua,

Klasifikasi ilmu pengetahuan yang dilakukan

Ilmu-ilmu pengetahuan yang membahas manusia

oleh Ibnu Sina dalam M. Arifin (1991: 191) yang

sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat.

kemudian dijadikan materi kurikulum pendidikan

Yang termasuk kedalam ilmu ini adalah antropologi,

Islam adalah : Ilmu Nadari atau ilmu teoritis, yang

pedagogik, psikologi, sosiologi, sejarah, ekonomi,

termasuk

politik,

kedalam jenis ini ialah ilmu alam, ilmu

hukum

dan

sebagainya.

Al-Faruqi

menggolongkannya

kedalam ilmu tentang umat.

Apabila disesuaikan dengan referensi Al-Quran,


maka termasuk katagore al-Ulumul insaniyah (ilmuilmu

tentang

manusia).

ketiga,

Ilmu-ilmu

sosiologi, psikologi, antropologi, politik


dan sebagainya
3. llmu-ilmu alat yang mencakup ilmu
bahasa, teknik dan sebagainya.##

pengetahuan tentang alam yang disebut al ulum alkauniyah (ilmu pengetahuan alam) yang termasuk ke
dalamnya

antara

lain

biologi,

botani,

fisika,

astronomi dan sebagainya.


Berdasarkan berbagai pemikiran tentang isi
atau materi kurikulum pendidikan Islam, yang

BAB VIII

telah diuraikan di atas, maka dapat dijelaskan


lebih lanjut secara rinci sebagai berikut :

HAKIKAT EVALUASI PENDIDIKAN

1. Ilmu pengetahuan agama Islam yang


mencakup

Al-Quran,

Hadits,

ilmu

Kalam, Fiqih/Ushul, Akhlak/tasawuf,


Sejarah Islam dan sebagainya. Ilmu
Pengetahuan

Alam

yang

Fisika, Biologi, Kimia,

mencakup

Ekonomi dan

sebagainya.
2. Ilmu

A. Pengertian Evaluasi
Kata evaluasi

berasal dari bahasa

Inggris evaluate yang berarti

menilai,

mengevaluasi, menaksir, evaluation berarti


penilaian, penaksiran (John M. Echols,

Pengetahuan

mencakup

ISLAM

ilmu

Sosial

geografi,

yang
geologi,

1984
bahasa

220).
Arab

Evaluation yang dalam


al-Taqdir, dalam bahasa

Indonesia berarti penilaian. Akar katanya

Evaluasi

adalah

sebagai

proses

adalah value ; dalam bahasa Arab al-

membandingkan situasi yang ada dengan

Qimah; dalam bahasa Indonesia berarti

kriteria tertentu karena evaluasi adalah

nilai. Dengan demikian secara harfiah,

proses

evaluasi

menggunakannya

pendidikan

(Educational

mendapatkan

dan

untuk

menyusun

rangka

membuat

evaluation=al-Taqdir al-Tarbawiy) dapat

penilaian

diartikan sebagai penilaian dalam bidang

keputusan (A. Tabrani Rusyan dkk, dalam

pendidikan atau penilaian mengenai hal-hal

Abuddin Nata, 2001 : 131).#

yang berkaitan dengan kegiatan pendidikan

dalam

informasi

B. Ruang Lingkup Evaluasi Pendidikan

(Anas Sudijono, 1998 : 1). Evaluasi adalah


suatu

tindakan

atau

proses

menentukan nilai sesuatu atau

untuk
sebagai

tindakan atau proses untuk menentukan

Ruang

lingkup

evaluasi

pendidikan

adalah:
1. Evaluasi

program

pengajaran

nilai segala sesuatu yang ada hubungannya

mencakup : pertama,

dengan pendidikan (Suharsimi Arikunto ,

tujuan pengajaran, kedua, evaluasi terhadap

1993 : 1).

isi

Dalam bahasa Arab dikenal dengan


istilah imtihan

yang berarti

ujian, dan

program

evaluasi

yang

pengajaran,

ketiga,

terhadap
evaluasi

terhadap strategi belajar mengajar.


2. Evaluasi Proses pelaksanaan pengajaran yang

khataman sebagai cara menilai hasil akhir

mencakup

dari suatu proses pendidikan (M. Arifin,

proses belajar

1991 : 247).

dengan,

pertama, kesesuaian
mengajar

garis-garis

antara

yang berlangsung
besar

program

pengajaran

yang

telah ditetapkan,

kedua,

ingin

dicapai

dalam

unit-unit

program

kesiapan guru dalam melaksanakan program

pengajaran yang bersifat terbatas, kedua,

pengajaran, ketiga, kesiapan siswa dalam

evaluasi mengenai tingkat pencapaian anak

mengikuti pelajaran, keempat, minat atau

didik

perhatian siswa dalam mengikuti pelajaran,

pengajaran (Anas Sudijono, 1998 : 29).#

kelima, keaktivan atau partisipasi anak didik


selama

proses

pembelajaran

terhadap

tujuan-tujuan

C. Fungsi Evaluasi

berlangsung,

Sebagai suatu proses untuk memperoleh

keenam, peranan bimbingan dan penyuluhan

informasi tentang penyelenggaraan

terhadap anak didik yang

kegiatan

memerlukannya,

ketujuh, komunikasi dua arah antara

guru

umum

suatu

dan hasil

yang dicapai, maka

evaluasi mempunyai

peran yang sangat

dengan murid selama proses pembelajaran

penting dalam proses pendidikan. Karena tidak

berlangsung, kedelapan, Pemberian dorongan

mungkin dapat mengetahui hasil dari sebuah

terhadap siswa, kesembilan, Pemberian tugas-

proses pendidikan tanpa melakukan evaluasi.

tugas kepada siswa dalam rangka penerapan

Dalam

teori-teori yang

diperoleh dalam kelas,

menurut A.Tabrany Rusyan dkk

kesepuluh,

menghilangkan

dikutip Abuddin Nata

upaya

negatif yang

dampak

timbul sebagai akibat dari

hubungan

mempunyai

fungsi

inilah

maka evaluasi

(1999 : 135-136)

yaitu

: (1). Untuk

kegiatan-kegiatan yang dilakukan di sekolah.

mengetahui

tercapai

tidaknya

3. Evaluasi hasil belajar yang meliputi : pertama,

instruksional

secara

komprehensif

evaluasi

tentang

didik terhadap

tingkat penguasaan anak


tujuan-tujuan khusus yang

meliputi aspek

seperti

tujuan
yang

pengetahuan, sikap dan

tingkah laku, (2). Sebagai umpan balik yang

berguna untuk melakukan tindakan berikutnya

Dari segi lain,

dimana segi-segi yang sudah dicapai lebih

pendidikan

ditingkatkan

(2001 : 10-11)

sebanyak

dan aspek yang merugikan


mungkin

dihindari, (3). Bagi

untuk

bagi anak didik

terhadap

dan bagi masyarakat untuk mengetahui berhasil

atau tidaknya program-program pendidikan


yang

dilaksanakan, (4). Untuk memberikan

umpan balik kepada guru sebagai dasar untuk


memperbaiki proses belajar mengajar dan
mengadakan program remedial bagi murid,
(5). Untuk menentukan angka kemajuan atau
hasil belajar, (6).Untuk menempatkan murid
dalam situasi belajar mengajar yang tepat,
(7). Untuk mengenal
didik yang mengalami
belajar.

latar

belakang anak

kesulitan-kesulitan

Suharsimi

Arikunto

adalah :

Melalui evaluasi guru mempunyai cara

keberhasilan proses belajar mengajar, sedangkan


bahan pelajaran yang diberikan dan dikuasainya,

menurut

fungsi evaluasi

1. Berfungsi sebagai selektif

pendidik evaluasi bermanfaat untuk mengukur


bermanfaat untuk mengetahui

maka

mengadakan seleksi atau penilaian


siswanya.

Fungsi

selektif

ini

bertujuan (a). untuk memilih siswa yang dapat


diterima di sekolah tertentu (b) untuk memilih
siswa yang dapat naik kelas atau tingkat
berikutnya (c). Untuk memilih siswa yang
seharusnya mendapat beasiswa (d) untuk
memilih

siswa

yang

sudah

berhak

meninggalkan sekolah dan sebagainya.


2. Fungsi diagnostik.
Dengan menggunakan alat yang tepat,
maka guru akan mengetahui kelemahan siswa
dan sebab terjadinya
Dengan

demikian

kelemahan tersebut.
guru

akan

mudah

menentukan cara untuk mengatasi kelemahan


tersebut.

3. Evaluasi berfungsi sebagai penempatan

menempatkan mereka

Sistem baru yang kini diterapkan adalah


belajar sendiri. Belajar sendiri dapat dilakukan

pada kelompok yang

sama.
4. Evaluasi

berfungsi

dengan cara mempelajari

sebuah paket

keberhasilan.

belajar, baik dalam bentuk

modul ataupun

Proses

sebagai

pendidikan

pengukur

dan

pengajaran

bentuk lainnya. Salah satu alasan lahirnya

melibatkan banyak unsur pendidikan seperti

sistem ini adalah

yang

guru, metode dan alat. Untuk mengetahui

besar terhadap kemampuan individu, karena

efektivitas atau keberhasilan proses tersebut

sejak lahir manusia telah

dilakukan evaluasi. Oleh karena itu evaluasi

adanya pengakuan

membawa bakat

sendiri-sendiri sehingga pelajaran akan lebih

berfungsi

efektif

keberhasilan program pendidikan.

apabila

pembawaan

sistem pendidikan secara individual

Anas Sudijono (1998 : 8-11) secara umum

menjadi sulit diterapkan karena keterbatasan

memiliki tiga macam fungsi pokok yaitu (1).

tenaga dan sarana.

Untuk

melayani

Namun

tingkat

Fungsi evaluasi pendidikan menurut

bersifat

didik.

dengan

mengetahui

kadang-

kadang

anak

disesuaikan

untuk

Pendekatan yang lebih


perbedaan

mengukur

kemajuan

(2)

untuk

kemampuan

menunjang penyusunan rencana (3) untuk

adalah pengajaran secara kelompok. Untuk

memperbaiki atau melakukan penyempurnaan.

memastikan di kelompok mana seorang


tempatkan

perlu

dilakukan

di

penilaian.

Kesamaan hasil penilaian terhadap siswa akan

Sedangkan

secara

khusus

fungsi

evaluasi dilihat dari tiga segi yaitu :


1. Dari

segi

psikologis.

Evaluasi pendidikan bagi anak didik

secara psikologis akan memberikan

masing

pedoman

tengah kelompoknya.

atau pegangan batin

untuk

mengenal

kemampuan
diantara

atau

didik

ditengah-

kapasitas

c. Memberikan bahan yang penting

statusnya

untuk memilih dan kemudian

kelompoknya.

Bagi

pendidik evaluasi pendidikan akan


memberikan

anak

kepastian

atau

menetapkan status anak didik.


d. Memberikan
mencari

pedoman

untuk

jalan keluar

dari

ketetapan hati untuk mengetahui

kesulitan yang

sejauhmana

didik yang memerlukannya.

lakukan
hasil,

usaha

yang

mereka

selama ini memberikan


sehingga menjadi pedoman

untuk melangkah selanjutnya.


2. Dari

segi

didaktik

evaluasi

landasan

petunjuk tentang

sudah sejauh manakah program


pengajaran yang telah ditentukan

pendidikan mempunyai fungsi :


a. Memberikan

e. Memberikan

dialami anak

untuk

sudah dapat dicapai.


3. Secara

administratif

evaluasi

pendidikan memiliki fungsi : (a).

menilai hasil usaha yang telah

Memberikan

dicapai oleh anak didik.

kemajuan dan perkembangan anak

b. Memberikan
sangat
mengetahui

informasi

yang

berguna

untuk

posisi

masing-

didik

setelah

laporan

mengenai

mereka

proses pembelajaran

mengikuti

dalam waktu

tertentu (b). Memberikan bahanbahan

keterangan

(data)

untuk

pengambilan keputusan pendidikan

Sehubungan dengan hal itu maka dalam

(c).Memberikan gambaran mengenai

melakukan

hasil-hasil belajar yang telah dicapai

memperhatikan dasar-dasar berikut ini :

dalam proses

1. Evaluasi hendaknya didasarkan pada hasil

pembelajaran yang

evaluasi

pengukuran

belajar anak didik setelah dilakukan

pengukuran yang meliputi aspek kognitif,

evaluasi.

afektif dan psikomotorik.


dengan

D. Prinsip-Prinsip Evaluasi Pendidikan

komprehensif

perlu

tercermin antara lain dari hasil

2. Evaluasi

yang

pendidikan

yaitu

dibedakan antara penskoran


angka

dan

penilaian

dengan

katagore. Penskoran berkenaan dengan


aspek kuantitatif (dapat dihitung) dan

Evaluasi

sebagai

memperoleh

suatu

informasi

penyelenggaraan pendidikan
proses

pendidikan

berencana

usaha

dan

untuk
tentang

penilaian

berkenaan

dengan

aspek

kualitatif (mutu).

atau hasil dari

3. Dalam proses pemberian nilai hendaknya

perlu dilakukan secara

diperhatikan dua macam penilaian yaitu

memenuhi

ketentuan-

penilaian yang norm


dengan

referenced

ketentuan yang dapat mendukung pencapaian

berkenaan

hasil

hasil evaluasi yang memadai sesuai yang

dan

dinginkan oleh lembaga atau pelaku evaluasi.

berkenaan dengan penempatan.

yang

belajar siswa

orientation referenced

yang

4. Pemberian nilai

hendaknya merupakan

komprehesif

(menyeluruh)

bagian yang integral dari proses belajar

penilaian

mengajar.

menyeluruh yaitu mencakup

5. Penilaian hendaknya bersifat komparabel


artinya

dapat dibandingkan antara satu

tahap dengan tahap penilaian lainnya.


6. Sistem

penilaian

hendaknya jelas
pengajar

yang

dipergunakan

bagi siswa

sendiri

dan bagi

sehingga

tidak

haruslah

dan

baik,

selain

atau

tidak
aspek

kognitif,

aspek

aspek

psikomotorik
kemudian

afektif

anak

dapat

proses

tepat

berbagai

aspek lainnya. Menyeluruh dalam

dalam Abuddin Nata, 2001 : 140).


secara

secara

terpisah-pisah antara satu aspek dengan

sosok anak didik

hasil evaluasi

dilakukan

aspek yang perlu dinilai

membingungkan (A. Tabrani Rusyan dkk


Untuk memperoleh

artinya

dan

didik,

sehingga

digambarkan

tentang

yang telah mengikuti

pembelajaran

dalam

waktu

tertentu, (1). Prinsip objektivitas artinya


evaluasi

haruslah

dilakukan

tanpa

memerhatikan dasar-dasar tersebut di atas,

dipengaruhi oleh faktor-faktor subjetif.

maka evaluasi haruslah dilakukan sesuai

Dengan

dengan prinsip-prinsip berikut ini : (1).

hendaknya bersikap wajar, jujur atau apa

Prinsip

adanya

kontinuitas

Bahwa evaluasi

(kesinambungan).

hendaklah dilakukan

subjektif

demikian

seorang

evaluator

tanpa terpengaruh oleh faktor


yang

sulit

dipertanggung

secara terus menerus, secara sambung-

jawabkan, (4). Prinsip sistematis yakni

menyambung selama anak didik dalam

penilaian

proses

pendidikan,

(2).

Prinsip

haruslah

dilakukan

secara

sistematis dan teratur (Abuddin Nata, 2001


: 140).

Sedangkan
dalam ajaran

Prinsip penilaian tersebut di atas

prinsip
Islam

seseorang, yaitu

menyeluruh

dalam menilai

penilaian dari

segi

sejalan dengan ajaran Islam, misalnya

ucapan, perbuatan maupun hatinya. Dan

dalam

menilai

diantara manusia itu ada orang yang

seseorang dimulai sejak masih anak-anak

mengatakan : kami beriman kepada Allah

sampai usia tua, sehingga dapat diketahui

dan hari qiamat, sedangkan sebenarnya

perbedaan kualitas ketaqwaan pada masa

mereka

masih anak-anak dengan setelah usia tua.

beriman (Q. S Al-Baqarah : 8).

Kalau

ajaran

Islam

untuk

masih sama, maka orang tersebut

bukan
Ayat

orang-orang

ini

menunjukan

yang
bahwa

dianggap tidak berubah, tetapi apabila

seorang yang beriman itu bukan hanya

berbeda tingkat ketaqwaannya, maka dia

dari segi ucapannya, tetapi juga bagaimana

dianggap

perbuatan (amaliah) sehari-hari, apakah

mengalami perubahan atau

semakin meningkat nilai ketaqwaannya

mencerminkan

kepada

sebaliknya. Karena sesungguhnya perilaku

Allah

SWT,

sebagaimana

keimanannya

dinyatakan bahwa orang yang hari ini sama

seseorang

dengan hari kemarin, maka dia termasuk

keyakinan atau

orang yang

baik itu merupakan cermin pemahaman

rugi, tetapi orang yang hari

kemarin tidak sama dengan hari ini, maka

dan

dia beruntung (Hadits).

mulia. #

merupakan

cermin

atau
dari

hatinya, atau perbuatan

penghayatannya

terhadap akhlak

E. Tujuan Evaluasi

evaluasi

ini adalah untuk mengukur tingkat

Setiap kegiatan yang dilakukan

kemajuan anak didik setelah mengikuti proses

oleh seseorang atau kelompok orang,

pembelajaran dengan menyelesaikan sejumlah

tentulah mempunyai tujuan yang ingin

kurikulum dalam waktu yang ditentukan.

dicapai.

Demikian

pula

kegiatan

evaluasi

yang

dilakukan

dibidang

b. Untuk mengetahui tingkat


metode pengajaran

yang

efektivitas dari
telah diterapkan

pendidikan mempunyai tujuan. Ada dua

dalam proses pembelajaran dalam waktu

tujuan

tertentu.

dari

pendidikan

kegiatan

evaluasi

yaitu tujuan umum dan

tujuan khusus.

2. Tujuan khusus
Tujuan

khusus

dari

kegiatan

evaluasi

pendidikan adalah : (a). Untuk merangsang


1. Tujuan Umum

kegiatan anak didik dalam menempuh program


pendidikan. Karena dengan adanya evaluasi dapat

Tujuan umum evalusi pendidikan adalah :


a. Untuk

mengumpulkan

diketahui kelebihan dan kekurangan anak didik

bahan-bahan

dalam mengikuti program pendidikan, sehingga

keterangan yang akan dijadikan sebagai bukti

dengan kekurangan tersebut anak didik akan

tentang

termotivasi

tarap

perkembangan

atau

untuk

memperbaiki

kemampuan belajar yang dialami oleh anak

mengembangkan

didik

Sebaliknya jika hasil pendidikannya

setelah

mereka

mengikuti

proses

kegiatan

dan

pendidikannya.
baik anak

pembelajaran dalam jangka waktu yang telah

didik akan terdorong untuk lebih meningkatkan

ditentukan Dengan demikian

prestasinya

tujuan umum

pada masa mendatang. (b). Untuk

menemukan atau mencari


menjadi

penyebab

faktor-faktor

keberhasilan

dan

yang
ketidak

yang

sebelum mereka, maka sesungguhnya

Allah SWT mengetahui orang yang benar, dan

berhasilan anak didik dalam mengikuti program

sesungguhnya

pendidikan, sehingga dapat dicarikan cara atau

yang

jalan keluar

Terkadang Allah mengevaluasi manusia beriman

dari kegagalan untuk perbaikan

dimasa depan (Anas Sudijono,1998 : 17).

Dia

dusta (Q.S

mengetahui
Al-Ankabut

orang-0rang
: 2-3). (4).

dengan menggunakan kata bala atau cobaan

Dengan mengkaji ayat al-Quran,

maka

sebagaimana firman-Nya Dan sungguh Kami

ditemukan bahwa tujuan evaluasi menurut Islam

berikan

adalah : (1). Untuk mengetahui sejauhmana hasil

ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa

yang

dan buah-buahan. Dan beri kabar gembiralah

dicapai

oleh pendidikan

yang telah

cobaan

kepadamu,

dengan

sedikit

ditetapkan Rasulullah SAW kepada umatnya.

kepada orang-orang yang sabar (Q. S

(2). Untuk menguji ketahanan manusia beriman

Baqarah : 155). (5). Untuk menentukan tingkatan

dalam menghadapi berbagai macam problem

manusia

kehidupan

Untuk

sehingga dapat diketahui ada manusia yang paling

mengevaluasi keimanan ini, Allah kadang-kadang

mulia disisi Allah yaitu yang paling bertaqwa,

menguji

adapula manusia yang dalam kondisi sedang

yang

dialaminya.

(3)

manusia dengan berbagai cobaan

sebagaimana

firman-Nya

mengira, bahwa

Apakah

manusia

mereka akan dibiarkan saja

mengatakan : kami telah beriman, sedangkan

dalam

muslim

hal

dalam

beriman

hal

kepada

keimanannya,

Allah

dan

ketaqwaannya dan adapula manusia yang sama


sekali ingkar kepada kebenaran ajaran Islam.#

mereka tidak diuji (dievaluasi) lagi ? dan


sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang

al-

F. Ciri-Ciri Evaluasi Pendidikan

2. Ciri
Ciri evaluasi pendidikan adalah :

kedua

Evaluasi

menggunakan

ukuran

kuantitatif artinya menggunakan simbol bilangan

1. Ciri pertama bahwa evaluasi dilaksanakan secara

kemudian

diinterpretasi

kedalam

bentuk

tidak langsung. Dalam contoh ini akan mengukur

kualitatif. Contoh hasil pengukuran menunjukkan

kepandaian siswa

bahwa Putra mempunyai IQ 110, sedangkan

menyelesaikan

melalui ukuran kemampuan

soal-soal.

Carl

Witherington

Imam IQ 125. Dengan demikian Putra dapat

seperti dikutip Suharsimi Arikunto (2001 : 12)

digolongkan sebagai anak pandai dan Imam

mengatakan bahwa tanda-tanda anak

sebagai anak di atas rata-rata.

yang

cerdas adalah anak yang mempunyai :

3.

Ciri

ketiga

bahwa

Penilaian

pendidikan

a. Kemampuan untuk bekerja dengan bilangan.

menggunakan unit-unit atau satuan-satuan yang

b. Kemampuan

tetap,

untuk

menggunakan

bahasa

dengan baik.

karena

IQ 110 termasuk anak normal,

sedangkan anak yang hasil pengukuran IQ-nya 80

c. Kemampuan untuk menangkap sesuatu yang


baru (cepat mengikuti

pembicaraan orang

lain).

menurut unit ukurannya termasuk anak dungu.


4. Ciri keempat dari evaluasi pendidikan

adalah

bersifat relatif, artinya tidak sama atau tidak

d. Kemampuan untuk mengingat-ingat.

selalu tetap dari satu waktu ke waktu yang lain.

e. Kemampuan

Contoh : hasil ulangan Adi hari Senin 70, hasil

untuk

memahami

(termasuk menangkap kelucuan).


f. Kemampuan untuk berfantasi.

hubungan

ulangan hari Selasa 9o. Perbedaan hasil ulangan


yang berbeda ini banyak faktor penyebabnya
antara lain mungkin kondisi kesehatan Adi yang

berbeda

pada

saat

mengikuti

ulangan

dan

sebagainya.

hasil penilaian. (3). Anak didik yang dinilai.


Perasaan dan suasana hati anak didik sangat

5. Ciri kelima adalah bahwa evaluasi

pendidikan

sering terjadi kesalahan-kesalahan.

hati yang

Kesalahan dalam pengukuran dapat terjadi


disebabkan oleh faktor :

(1). Alat ukurnya. Alat

pengukuran harus baik,

sedih, kalut akan menghasilkan nilai

yang buruk, sedangkan suasana hati yang gembira


akan menghasilkan nilai yang baik. Demikian pula

alat ukur

keadaan fisik anak didik pada saat dilakukan

haruslah tepat dengan objek yang akan diukur.

penilaian. Anak yang dalam keadaan sakit fisiknya

Misalnya mengukur meja dengan meteran yang

tidak mungkin konsentrasi

terbuat dari bahan keras (kayu,besi), (b). Orang

berpengaruh pada hasil penilaian. (4). Situasi

yang

yang

ketika dilaksanakan penilaian. Suasana yang

bersumber dari pelaku pengukuran antara lain :

gaduh akan mengganggu konsentrasi siswa, dan

(a). Kesalahan penilai karena faktor subjektifitas

pengawasan

penilai,

untuk

Pengawasan yang terlalu ketat menyebabkan ada

memberikan nilai secara murah atau mahal, (c).

sebagian anak didik yang tidak nyaman, sehingga

Adanya kesan penilai

dapat

mengukur

(b).

artinya

berpengaruh terhadap hasil penilaian. Suasana

(pelaku).

Kecenderungan

Kesalahan

penilai

terhadap siswa baik dari

pada

saat

mengganggu

sehingga sangat

penilaian

dilakukan.

keadaannya

dalam

guru lain maupun guru pemegang mata pelajaran

mengerjakan soal-soal ujian (Hamdani Ihsan,

(d). Pengaruh dari hasil penilaian terdahulu,

2001 : 220-224).#

sehingga guru memberi nilai di atas perolehan


nilai

pertama atau kedua (e). Kesalahan yang

disebabkan kekeliruan menjumlah angka-angka

G. Sasaran Evaluasi
Aspek

harus

yang menjadi

sasaran

sebelum

evaluasi pendidikan adalah :


1. Calon

siswa.

diketahui

sejak

mengikuti proses

pendidikan.

Aspek

yang

2. Aspek kurikulum pendidikan,

menjadi sasaran evaluasi dari

apakah kurikulum pendidikan

calon

yang

siswa

adala

(a).

diterapkan

sesuai

Kemampuan seorang calon

dengan

siswa,

masyarakat pengguna lulusan

karena

untuk

mengikuti pendidikan disuatu

kebutuhan

atau tidak?

lembaga pendidikan seorang

3. Metode pembelajaran, apakah

calon siswa harus mempunyai

metode yang digunakan oleh

kemampuan yang memadai

guru sesuai dengan materi

atau sesuai dengan program

pelajaran,

studi

mampu

menyerap

materi

yang

diberikan

atau

yang

dipilih,

Kepribadian.

(b).

Informasi

tentang kepribadian seorang


calon

siswa

diketahui
tempat

sangat
oleh

siswa

perlu

lembaga

belajar.

(c).

sehingga

siswa

sebaliknya belum.
4.

Sarana

pembelajaran,

apakah dari segi jumlah sudah


mencukupi atau
sudah

dari segi

Inteligensi atau kecerdasan

ketepatan

sesuai

seorang calon siswa sudah

dengan materi pelajaran atau

sesuai

dengan

jenis

kebutuhan.
5.

H. Kegunaan Evaluasi

Sistem
apakah

administrasi,

sudah

memberikan
optimal

dapat
pelayanan

kepada

komponen

memajukan

atau

bidang pendidikan evaluasi mempunyai

sekolah

kegunaan :

jumlah

apakah

mencukupi dan

sudah
dari segi

kualitas

apakah

dengan

bidang studi yang

sesuai

diajarkan dan sebagainya.


Lulusan. Penilaian terhadap
dimaksudkan untuk

mengetahui

sejauhmana

tingkat ketercapaian prestasi


belajar

dalam

sangat

pendidkkan. Oleh karena itu dalam

6. Tenaga Pengajar, dari segi

lulusan

bermanfaat

evaluasi

seluruh

belum ?

7.

Pelaksanaan

selama

mengikuti

program pendidikan.#

1. Terbuka

kemungkinan

bagi

evaluator memperoleh informasi


tentang

hasil-hasil

yang

telah

dicapai dalam rangka pelaksanaan


program pendidikan.
2. Terbuka
dapat

kemungkinan
mengetahui

untuk
relevansi

antara program pendidikan yang


telah dirumuskan dengan tujuan
yang hendak dicapai.
3. Terbuka kemungkinan untuk dapat
dilakukannya

usaha

perbaikan,

penyelesaian dan penyempurnaan

program

pendidikan

yang

kemungkinan ia akan berusaha

dipandang lebih berdaya guna dan

meraih hasil yang sama pada

berhasil guna, sehingga tujuan

kesempatan lain atau pada

yang

mata pelajaran lain. Dengan

dicita-citakan akan dapat

dicapai dengan hasil yang sebaik-

demikian

siswa

termotivasi

baiknya (Anas Sudijono,1998 :17).

untuk belajar lebih giat lagi.


Akan tetapi dapat berakibat

Dilihat dari segi

pihak-pihak

sebaliknya yaitu siswa merasa

yang memperoleh kemanfaatan dari

cukup puas dengan hasil yang

evaluasi adalah :

diraihnya, sehingga tidak lagi

1. Kegunaan bagi siswa

merasa penting untuk belajar

Dengan adanya evaluasi para


siswa

dapat

sungguh-sungguh

mengetahui

meraih prestasi

sejauhmana hasil yang diperoleh

pada

dalam mengikuti pelajaran yang

berbeda.

diberikan oleh guru. Ada dua hasil

b.

untuk
yang

sama

kesempatan

yang

Hasil yang tidak memuaskan.

yang di peroleh yaitu :

Terhadap

a.

Hasil yang memuaskan. Jika

memuaskan siswa akan lebih

siswa memperoleh hasil yang

giat lagi belajar untuk meraih

memuaskan

hasil yang memuaskan dimasa

menyenangkan,

sehingga
maka

ada

hasil

yang akan datang.

yang

tidak

sehingga
2. Kegunaan bagi guru:

selanjutnya dapat diraih.

(a) Dengan hasil penilaian yang


diperoleh,

keberhasilan

maka

guru

akan

(b) .Guru akan mengetahui apakah


materi yang diajarkan sudah

dapat mengetahui siswa-siswa

tepat

mana

berhak

untuk memberikan pengajaran

pelajarannya,

di waktu yang akan datang

yang

sudah

melanjutkan
karena

sudah

menguasai
maupun

berhasil

bahan

pelajaran,

bagi

tidak

siswa,

perlu

sehingga

diadakan

perubahan.

mengetahui siswa-

(c) .Guru akan mengetahui apakah

belum berhasil

metode yang digunakan sudah

pelajaran.

tepat atau belum. Jika sebagian

siswa yang
menguasai
Berdasarkan

petunjuk

ini,

besar siswa memperoleh nilai

maka guru dapat memusatkan

jelek

perhatiannya

penilaian oleh guru, mungkin

siswa

kepada

yang

belum

siswaberhasil.

hal

setelah
itu

dilakukan

disebabkan

oleh

Apalagi guru mengetahui faktor

pendekatan atau metode yang

penyebabnya,

ia

akan

digunakan guru kurang tepat.

memberikan

perhatian

yang

Apabila yang demikian sebagai

dan memberikan

penyebabnya, maka guru harus

yang lebih teliti,

berusaha mencari metode lain

memuaskan
perlakuan

yang

lebih

tepat

untuk

evaluasi dapat digunakan sebagai

digunakan.

pedoman
yang

3. Kegunaan bagi sekolah:

bagi sekolah, apakah

dilakukan

oleh

sekolah

sudah memenuhi standar atau


belum. Pemenuhan standar akan

Bagi

sekolah

evaluasi

terlihat dari

memberi manfaat dalam tiga hal

angka

(a).

(Suharsimi Arikunto, 2001 : 6-8).#

Apabila

guru

mengadakan

yang

bagusnya angkadiperoleh

siswa

penilaian dan diketahui bagaimana


hasil

belajar

siswanya

diketahui apakah

dapat

kondisi belajar

I. Penggolongan Evaluasi Pendidikan

yang diciptakan oleh sekolah sudah


sesuai

dengan

harapan

atau

Penggolongan

evaluasi

pendidikan

belum. Hasil belajar merupakan

sekurang-kurangnya pada tiga katagore (Anas

cerminan kualitas suatu sekolah.

Sudijono, 1998 : 19-23) yaitu :

(b). Informasi dari guru

tentang

1. Evaluasi

pendidikan

dengan

tepat tidaknya kurikulum untuk

mendasarkan pada

sekolah dapat merupakan bahan

dalam proses pendidikan :

pertimbangan bagi perencanaan

a. Evaluasi

pendidikan

sekolah untuk masa yang

akan

dalam

datang.

hasil

kebutuhan

(c).

Informasi

upaya

fungsi

yang

dilaksanakan

memenuhi

psikologis.

evaluasi

Secara

kebutuhanpsikologis

setiap orang yang terlibat dalam proses

pengambilan keputusan pendidikan

pendidikan memerlukan informasi

sebagai

terdiri dari : (1). Evaluasi pendidikan dalam

bahan untuk menentukan keadaan dirinya,

upaya pengambilan keputusan pendidikan

misalnya dimanakah dia berada dan kearah

yang bersifat individual. Maksudnya ialah

manakah seharusnya dia menuju, untuk

keputusan-keputusan

mencapai tujuan pendidikan.

individu-individu yang hasilnya hanya untuk

b. Evaluasi
dalam

pendidikan
upaya

yang

dilaksanakan

memenuhi

kebutuhan-

kebutuhan didaktik. Hasil evaluasi

yang

individu

yang

yang

dibuat

oleh

tertentu. Contohnya : keputusan

seorang Kepala sekolah untuk membebaskan


seorang siswa dari kewajiban membayar uang

dapat memenuhi kebutuhan pembelajaran

BP3 atau SPP karena

seperti

belajar

berbagai pertimbangan, misalnya karena

kepada anak didik, untuk mengetahui gaya

prestasi yang diraih siswa tersebut, (2).

guru mengajar dan sebagainya.

Evaluasi

memberikan

dorongan

pendidikan

setelah melakukan

dalam

rangka

pengambilan keputusan pendidikan yang


2. Penggolongan
didasarkan

evaluasi
pada

yang

bersifat

institusional

(kelembagaan).

pemanfaatan

Maksudnya ialah keputusan yang dibuat oleh

informasi yang berasal dari kegiatan

lembaga pendidikan tertentu yang ditujukan

evaluasi

kepada orang banyak. Contoh : Keputusan

untuk

kepentingan

pengambilan keputusan pendidikan.


a. Evaluasi pendidikan yang mendasarkan diri
pada banyaknya orang yang terlibat dalam

Rektor berdasarkan persetujuan Senat yang


menetapkan
mahasiswa.

besaran

uang

SPP

bagi

b. Evaluasi pendidikan yang didasarkan pada

3. Evaluasi

pendidikan

yang

jenis keputusan pendidikan terdiri dari : (1).

dilatarbelakangi oleh pertanyaan :

Evaluasi

pendidikan yang dilaksanakan

kapan, atau pada bagian manakah

dalam rangka pengambilan keputusan yang

evaluasi itu seharusnya dilaksanakan :

bersifat didaktik yaitu keputusan-keputusan

(1).

yang diambil untuk memenuhi kebutuhan

formatif

pengajaran, misalnya keputusan mengenai

dilaksanakan

keharusan siswa SMP kelas

III untuk

berlangsungnya proses pembelajaran

mengikuti les untuk menghadapi UAN, (2).

yaitu setiap selesai satuan program

Evaluasi

pelajaran atau subpokok bahasan yang

dalam

pendidikan yang
rangka

keputusan

dilaksanakan

pengambilan

pendidikan

bimbingan dan

keputusan-

yang

bersifat

penyuluhan,(3). Evaluasi

Evaluasi

formatif.

adalah

bertujuan
penguasaan

pada

untuk
anak

Evaluasi

evaluasi

yang

saat

masih

mengetahui
didik

terhadap

pokok bahasan tertentu, (2). Evaluasi

pendidikan yang dilaksanakan dalam rangka

sumatif. Evaluasi

pengambilan

yang

evaluasi yang dilaksanakan setelah

Evaluasi

sekumpulan program pelajaran selesai

bersifat

keputusan-keputusan

administrative,

(4).

pendidikan yang dilaksanakan dalam rangka

diberikan

pengambilan

dilaksanakan

keputusan-keputusan

berkaitan dengan
ilmiah.

kegiatan

yang

penelitian

atau

sumatif adalah

evaluasi

yang

setelah semua mata

pelajaran selesai diberikan


bertujuan untuk

yang

menentukan nilai

yang menunjukkan keberhasilan anak

didik dalam mengikuti mata pelajaran


tertentu.#

4. Evaluasi penempatan yang menitik beratkan pada


penilaian

tentang

yang

berkaitan

pengetahuan

J. Jenis Evaluasi

Jenis Evaluasi dalam pendidikan adalah :


1. Evaluasi formatif ialah evaluasi yang menetapkan

dan

permasalahan-permasalahan
dengan:pertama,
keterampilan

murid

Ilmu
yang

diperlukan untuk awal proses belajar mengajar


kedua,

pengetahuan

murid

tentang

tujuan

tingkat penguasaan anak didik dan menentukan

pengajaran yang telah ditetapkan sekolah, ketiga,

bagian-bagian tugas yang belum dikuasai dengan

minat dan perhatian, kebiasaan bekerja, corak

tepat.

kepribadian yang menonjol yang mengandung

2. Evaluasi sumatif ialah


tentang

penilaian secara umum

keseluruhan hasil dari proses belajar

mengajar yang dilaksanakan pada setiap periode

konotasi pada suatu metode

belajar tertentu,

misalnya belajar berkelompok dan sebagainya.


Dalam praktek pendidikan Islam juga
dikenal jenis evaluasi seperti di atas, walaupun

belajar mengajar secara terpadu.


yang

tidak secara eksplisit, misalnya murid al-Kutab

dipusatkan pada proses belajar mengajar dengan

pada periode awal perkembangan Islam hanya

melokalisasikan

ditetapkan untuk anak-anak. Demikian pula

3. Evaluasi

diagnostik

yaitu

evaluasi

suatu titik keberangkatan yang

cocok. Misalnya mengklasifikasikan


kesamaan

minat,

bakat,

belakang,

kecerdasan,

kedalam

kepribadian,

latar

keterampilan

dan

Zawiyah yang

hanya diikuti oleh orang-orang

yang berminat sama yaitu tasawuf. Ibnu Sina


misalnya

menjelaskan bahwa ketentuan dalam

sebagainya. Selain itu evaluasi ini bertujuan untuk

berolah

raga

yang disesuaikan dengan tingkat

menetapkan tahap-tahap program selanjutnya.

perkembangan usia anak didik serta bakat yang

dimilikinya. Dengan demikian

dapat diketahui

DAFTAR KEPUSTAKAAN

mana anak didik yang perlu diberikan pelajaran


olah raga sekedarnya dan mana yang harus dilatih
berolah raga lebih banyak lagi (Abuddin Nata,

Abdurrahman An-Nahlawi, Ushul at-Tarbiyah alIslamiyah wa Asalibuha fi al-Bayt wa al-Madrasah wa


al- Mujtama, Damaskus : Darul al-Fikri,1979.

2000:70).
Dalam sejarah pendidikan Islam telah lama
dikenal adanya evaluasi,

Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta :


Logos Wacana Ilmu, 1997.

misalnya pada setiap

akhir suatu mata pelajaran diadakan imtihan


atau ujian dan khataman. #

Ag. Soejono, Pendahuluan Ilmu Pendidikan


Umum, Bandung : Penerbit CV Ilmu, 1980.
Ahmad D. Marimba, Filsafat Pendidikan Islam,
Bandung : PT Al-Maarif ,1980.
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif
Islam, Bandung : Rosdakarya, 1994.
Ahmad Warson Munawir, Al-Munawir, Kamus
Arab Indonesia, Yogyakarta
: Pondok Pesantren
Krapyak, 1994.
Ahmad Hanafi, Pengantar
Jakarta : Bulan Bintang,1982.

Filsafat

Islam,

Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Semarang : Toha


Putra, tt.
Aisyiyah Dahlan, Membina Rumah
Tangga
Bahagia dan Peranan
Rumah Tangga, Jakarta :
Yamunu, 1989.

Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi pendidikan,


Jakarta : PT Raja Grafindo, Persada, 1998 .
Asma Hasan
Fahmi, Sejarah dan Filsafat
Pendidikan Islam, Jakarta : Bulan Bintang, 1974.
Azyumardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi dan
Modernisasi Menuju Milinium Baru, Jakarta : Logos
Wacana Ilmu , 1999.
Busyairi Madjdi,
Yogyakarta IAIN , 1970.

Filsafat

Pendidikan

Islam,

Badan Litbang Depdiknas, Undang Undang


Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, Jakarta : 2003.
Dep. Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya,
Jakarta : 2000.
Dep. Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar
Bahasa Indonesia, Jakarta : 1989.
Endang
Syaifuddin
Anshari, Pokok-Pokok
Pikiran Tentang Islam, Jakarta : Usaha Interpres. 1978.
First World Confrence of Muslim Education, Inter
Islamic University Coorporation of Indonesia, tt.

Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan,


Jakarta : Al-Husna Zikra,1995.
Harold Titus, Smith dan Nolan, PersoalanPersoalan Filsafat, Alih bahasa HM. Rasyidi, Jakarta :
Bulan Bintang , 1984.
Hamdani Ihsan dan A. Fuad Ihsan, Filsafat
Pendidikan Islam, Bandung : Pustaka Setia, 2001.
Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta :
Logos,1999.
Ibnu Khaldun, Mukaddimah, Kahirah : Lajnah alBayan, 1962.
Ismail dkk, Paradigma Pendidikan Islam,
Yogyakarta Pustaka Pelajar, 2001.
John Dewey, Democracy and Education, New
York : The Free Press,1966.
John Echol dan Hassan
Sadhily, Kamus
Indonesia Inggris, Jakarta : PT Gramedia, 1984.
Ki
Hajar
Dewantoro,
Bagian
Pendidikan, Yogyakarta : Majelis Luhur
Tamansiswa, 1962.

Pertama
Persatuan

Kartini Kartono, Pengantar Pendidikan Teoritis :


Apakah Pendidikan Masih Diperlukan, Bandung : CV
Mandar Maju, 1992.

M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi


Aksara, 1991.

Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat (Terjemah),


Yogyakarta : Bayu Indra Grafika, 1989.

M. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan


dan Islam), Jakarta : Bumi Aksara, 2000.

Moh. Natsir,
Gravenhoge, 1964.

M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta :


Bumi Aksara , 2000.

Muhammad Noer Syam, Filsafat Pendidikan


dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila, Surabaya :
Usaha Nasional, 1986.

Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional,


Bandung : Rosdakarya, 2000.

Kapita

Selekta,

Bandung

Mohammad Labib Najihi, Pengantar pada


falsafat Pendidikan, Kaherah : Maktabah al-Englo, AlMasriyah, 1967.
Kopertais
Wilayah
III
Daerah
Istimewa
Yogyakarta, Mukaddimah, Jurnal Studi Islam, Edisi,
2001.
M.Yusuf Qardawi, Pendidikan Islam dan
Madrasah Hasan al-Banna, Jakarta : Bulan Bintang,
1980.
Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, Jakarta :
PT Hidakarya Agung, 1990.
Moh. Athiyah al-Abrasyi, At-Tarbiyah alIslamiyah (terjemahan) Jakarta : Bulan Bintang , 1970.

(Umum

Muhtar Luthfi, dalam Mimbar Pendidikan Nomor


3 Bandung : IKIP,1989.
Mohammad
Fadhil
al-Jamali, Falsafah atTarbiyah
fi al- al-Quran (terjemah) Falsafat
Pendidikan Dalam al-Quran, Jakarta : Pepara, 1981.
Mohammad Said Ramadhan al-Buthi, Tajribah
at-Tarbiyah al-Islamiyah fi Mizan al-Bahs, Damaskus :
Al-Maktabah al-Ummawiyah, 1961.
Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan
Praktis, Bandung : Remaja Rosdakarya, 1993.
Noeng Muhajir, Ilmu Pendidikan dan Perubahan
Sosial, Yogyakarta : Rake Sarasin, 2000.

Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, Bandung :


CV Pustaka Setia, 1998 .

Sutari Imam Barnadib, Pengantar Ilmu


Pendidikan Sistematis, Yogyakarta : Andi Ofset, 1995.

Omar Hamalik, Psikologi Mengajar dan Belajar,


Bandung : Sinar Baru, al-Gesindo, 2000.

Sayid Sajjad Husien dan Sayid Ali Ashraf,


Menyongsong Keruntuhan Pendidikan Islam, Bandung :
Gema Risalah, 1994.

Omar Hamalik, Pendidikan Guru Konsep dan


Strategi, Bandung : CV Mandar Maju, 1991.
Omar Mohammad
al-Toumy al-Syaibany,
Falsafatut Tarbiyah al-Islamiyah (terjemah), Jakarta :
Bulan Bintang, 1979.

Soegarda, Purbakawatja, Pendidikan Dalam Alam


Indonesia Merdeka, Jakarta : Gunung Agung, 1970.
Thomas Gordon, Teacher Effectivines Training
(Terjemah) , Jakarta : Rajawali 1984.

Retno S. Satmoko, Materi Pokok Pengantar


Pendidikan, Jakarta : Depdikbud, 1995/1996.

Tim Penyusun Pustaka, Leksion Islam, Jakarta :


Pustazit Perkasa, 1988.

Rizal Muntasyir, Filsafat


Pustaka Pelajar, 2001.

Tim Penyusun Buku Teks. Ilmu Pendidikan Islam,


Jakarta : Proyek Pembinaan PTA/IAIN, 1982.

Ilmu, Yogyakarta :

Sayid Nuqaib al-Attas, Konsep Pendidikan Islam,


(terjemah), Bandung : Mizan, 1986.

Yusuf
Hadi Miarsa, Definisi
Pendidikan, Jakarta : Rajawali, 1986.

Sidi Gazalba, Sistematika


Jakarta : Bulan Bintang, 1981.

Zuhairini dkk, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta


: Bumi Aksara, 1995.

Filsafat

Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar


Pendidikan, Jakarta : Bumi Aksara,2001.

Buku

I,

Evaluasi

Suharsimi Arikunto, Manajemen Pengajaran


Secara Manusiawi, Jakarta : Reineka Cipta, 1993.

Teknologi

2. Dosen
BIODATA PENULIS

Luar

Biasa

Pendidikan

Agama

Islam

Universitas Negeri (UNY) Yogyakarta (1999-sekarang)


3. Dosen Luar Biasa Pendidikan Agama Islam Politeknik

Drs. H. Rifai Abubakar, M.A, lahir di Kecamatan Singkep

Kesehatan Kementerian Kesehatan Yogyakarta (2007-

Pesisir, Kab.Lingga, Propinsi Kepulauan Riau, 4 Juli 1961.

sekarang)

Pendidikan:

4. Dosen Program Akta Mengajar UPY-STAIMS (2008-

1. Sekolah Dasar (SD) Negeri Desa Kute, Kec. Singkep


Pesisir, Kab. Lingga, Provinsi Kep. Riau
2.

Madrasah Tsanawiyah (MTs.) Nurus Saadah,

2010)
5. Dosen PGSIT Lukman Al-Hakim Yogyakarta (2004-

Dabo

Singkep, Kab. Lingga, Provinsi Kep. Riau

sekarang)
6.

3. Pendidikan Guru Agama (PGA) Negeri Kota Tanjung

Dosen PGRA Asy-Syarkowiyah

Purworejo (2005-

2008).

Pinang, Provinsi Kep. Riau


4. Sarjana Muda Fakultas Ilmu Dakwah Institut Dakwah
Masjid Syuhada (FID-IDMS) Yogyakarta

1. Basic Training HMI Cabang Yogyakarta, 1983

5. Sarjana (S.1) Fakultas Dakwah IAIN Sunan Kalijaga


Yogyakarta
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

1985
4. Penataran P-4 Pola Pendukung 25 Jam bagi Pimpinan

Pekerjaan:
Sunan Kalijaga Yogyakarta DPK pada STAIMS

2. Intermediet Training HMI Cabang Yogyakarta,1986


3. Latihan Kepemimpinan Tingkat Nasional di Jakarta,tahun

6. Sarjana Strata Dua (S.2) Psikologi Pendidikan Islam

1. Dosen Tetap Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Pendidikan tambahan antara lain:

Ormas, Tingkat Kecamatan, tahun 1984


UIN

5. Penataran P4 Pola Pendukung 63 Jam Juru Penerang


Agama Islam Tingkat Provinsi DIY tahun 1983.

6. Penatarn P-4 Pola Pendukung 100 Jam bagi Pejabat Eselon


V Pemerintah Kota Yogyakarta tahun 1994.

di Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Bandung

dan

Jakarta.

7. Penataran Khatib di Yogyakarta, 1986.


8. Lokakarya Bilbiografi Information Sistem of Islam (BISIS)
di Bandung, 1987.
9. Kursus Orientasi Gerakan Pramuka Kwartir Cabang
Yogyakarta,1987
10. Penataran Perpustakaan Perguruan Tinggi di Yogyakarta,
1987
11. Pelatihan Khatib se-Indonesia di Jakarta,1995
12. Pendidikan dan Latihan Administrasi Umum (ADUM) di
Semarang selama dua bulan, 1996
13. Pelatihan Penelitian Antropologi di IAIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta, 1990
14. Pendidikan dan Latihan Gerakan KB Nasional di
Yogyakarta tahun 1997
15. Pendidikan dan Latihan Koperasi Tk. Dasar dan Lanjutan
di Dep. Agama Kota Yogyakarta 1997.
16. Berbagai Seminar, Lokakarya, Pelatihan dan Workshop
Perguruan Tinggi baik tingkat Regional maupun Nasional

Jabatan yang pernah dipangku antara lain:


1. Koordinator Seksi Agama Dewan Kerja Cabang Gerakan
Pramuka Kabupaten Kepulauan Riau 1980-1981
2. Ketua Umum Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Dakwah
Institut Dakwah Masjid Syuhada Yogyakarta, 1982-1984
3. Ketua Umum HMI Komisariat Ibnu Khaldun IDMS 19831984
4. Ketua Umum HMI Komisariat Fakultas Dakwah IAIN
Suka Yogyakarta 1985-1986
5. Ketua Umum Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) IDMS
Yogyakarta,1985-1986, sebagai penggagas (pendiri).
6. Ketua Umum Badan Kerja sama Senat Mahasiswa
Perguruan Tinggi

Agama

Islam Swasta (BKS SEMA

PTAIS) DIY, 1985-1987, penggagas (Pendiri)


7. Koordinator Departemen Pengkaderan Ikatan Pelajar Riau
(IPR) di Yogyakarta 1986-1987.
8. Ketua Umum Tamir Masjid Al-Muthmainnah Klitren Kec.
Gondokusuman Yogyakarta 1986-1988

9. Ketua Umum Pimpinan Ranting Muhammadiyah Klitren


Kec. Gondokusuman Yogyakarta 1986-1989

Kota Yogyakarta periode 1995-2000

10. Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Keluarga


Alumni STAIMS Yogyakarta, periode 1985-1990, periode
1990-1995 dan periode 1995-2000,penggagas (Pendiri).
11. Sekretaris Dewan Masjid Indonesia Kec.Gondokusuman
Kota Yogyakarta 1985-1987.
12. Sekretaris

Lembaga

Pelayanan

dan

Pengabdian

Al-Quran (TPA) Kota Yogyakarta 1995-2000.


21. Sekretaris Umum MUI Kota Yogyakarta periode 19952000, 2000-2005, 2005-2010)
2002-2007,2007-2012)
23. Ketua I Lembaga Pembinaan Pendidikan Agama (LP2A)

13. Pembantu Dekan/Ketua III STAIMS Yogyakarta periode


1990-1992

Kota Yogyakarta (Lembaga otonomi Departemen Agama)


24. Ketua

14. Pembantu Dekan/ Ketua I STAIMS Yogyakarta

periode

1992-1994.

Bidang

Perhakiman

Lembaga

Pengembangan

Tilawatil Quran (LPTQ) Kota Yogyakarta (Lembaga


Otonomi Departemen Agama)

Ketua

I STAIMS

Yogyakarta

periode1994-1998.
16. Anggota Badan Pengawas

25. Anggota Majelis Tabligh Pimpinan

Muhammadiyah

Daerah Kota Yogyakarta,2000-2005


BAZIS Kota Yogyakarta

periode 1996-2000
18. Anggota Bagian Dakwah dan Publikasi

26. Sekretaris/Anggota

Senat STAIMS Yogyakarta, periode

1995-2012

17. Sekretaris LPTQ Kota Yogyakarta periode 2003-2006


DPD

Majelis

Dakwah Islamiyah (MDI) Kota Yogyakarta, periode 19941999

20. Anggota Pengurus Badan Koordinasi Taman Pendidikan

22. Ketua II Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Yogyakarta

Masyarakat IDMS 1985.

15. Pembantu Dekan/

19. Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah

27. Ketua Program Kerjasama STAIMS Yogyakarta, 20052008.

28. Penasehat Yayasan BALARODA (Organisasi Tukang


Becak

di

wilayah

Kecamatan

Umbulharjo

A. Dalam bentuk Penelitian

Kota

1. Peranan

Yogyakarta).
29. Ketua

Dalam

Dakwah

Islamiah,

penelitian literatur untuk Risalah Sarjana Muda, 1985

Program

Kerjasama

Manajemen

Pascasarjana

Magister

STAIMS-Universitas

Studi

Islam

2. Kegiatan

Muhammadiyah

Melalui

Beberapa

Masjid

di

Perumahan Minomartani, Sleman, Penelitian untuk

Yogyakarta, 2008-2009
30. Ketua Jaringan Pelaksana

Dakwah

Skripsi, 1989
Gerakan Pemahaman dan

3. Peranan Penghulu Kraton Kadipaten Pakualaman pada

Pengamalan Al-Quran (GPPA) Kota Yogyakarta.


31. Anggota Bidang Pendidikan Pengurus

Abad XIX-XX, 1989

Yasma Syuhada

4. Pendidikan Keluarga dan Pengaruhnya di Kecamatan

Yogyakarta, 2008-20013

Umbulharjo Kota Yogyakarta, penelitian hasil (lulus)

32. Sekretaris II Pengurus Yasma Syuhada Yogyakarta, 1998-

seleksi

2003

Proyek Penelitian Dep. Agama

RI dan

memperoleh bantuan Dana Penelitian, tahun 2000


5. Konsep Pendidikan Keluarga Dalam Islam, penelitian
literatur untuk Tesis S2 setebal 307 halaman dengan

Jabatan sekarang:

137 daftar Kepustakaan sebagai bahan rujukan

1. Ketua I Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Yogyakarta,

6. Konversi Agama di Kecamatan Umbulharjo Kota

(2012-2017)
2. Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota
Yogyakarta, (2012-2017)

Yogyakarta, penelitian Unggulan KOPERTAIS Wilayah


III
DIY tahun 1993
B. Dalam Bentuk Buku

Karya Ilmiah

1. Tuntunan

Ibadah

Ramadhan

diterbitkan oleh Penerbit

Lengkap

Praktis

PELITA Yogyakarta tahun

1984, dipasarkan sebanyak 500 eksemplar.


2. Prinsip-Prinsip Organisasi dan Leadership, diterbitkan
oleh Penerbit PELITA Yogyakarta tahun 1984
3. Kepemimpinan Dalam Teori dan Praktek diterbitkan
oleh LPPM IDMS tahun 1988
tahun 1988
Kuliah

Pendidikan

Kewarganegaraan,

diterbitkan oleh Sekretariat STAIMS, Februari 2005


6. Teori-Teori Pendidikan Agama Islam, diterbitkan oleh
STAIMS Pers, Januari 2006
7. Metodologi Penelitian, diterbitkan oleh STAIMS Pers,
Januari 2006
8. Diktat Pengantar Studi Islam, diterbitkan oleh STAIMS
Pers, Februari 2006
9. Diktat Kuliah Ulumul Quran diterbitkan oleh STAIMS
Pers, Maret 2006
10. Diktat Kuliah Filsafat Pendidikan Islam, diterbitkan
oleh LPPM STAIMS, Mei 2006.

oleh LPPM STAIMS, April 2006


12. Din Al-Islam, Buku Teks PAI di Perguruan Tinggi,
(tulisan bersama) Tim Dosen PAI UNY, diterbitkan oleh
UPT MKU Universitas Negeri Yogyakarta, 2000.
13. Pendidikan

Kewarganegaraan

STAIMS Press, 2015

4. Pragmatika Dakwah diterbitkan oleh LPPM IDMS


5. Diktat

11. Diktat Kuliah Kapita Selekta Agama Islam, diterbitkan

Untuk

Mahasiswa,