Anda di halaman 1dari 51

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada era industrialisasi saat ini kebutuhan energy listrik merupakan factor yang sangat
penting bagi bidang perindustrian dimana peningkatan kebutuhannya seiring dengan
perkembangan industry tersebut,baik industry dalam skala kecil maupun industry dalam skala
besar.Dalam hal ini banyak pihak-pihak yang telah berupaya untuk meningkatkan penyediaan
energy listrik,salah satunya adalah pemerintah,dimana pemerintah telah membangun beberapa
unit pembangkit baru dan meningkatkan optimasi dari pembangkit-pembangkit yang sudah ada.
Dalam suatu industry yang besar, pada proses produksinya sebagian besar (mayoritas)
beban yang digunakan adalah beban-beban yang sifatnya induktif seperti motor, trafo, AC, lampu
TL dan lain-lain. Pada penggunaan beban induktif ini masalahnya yang sering terjadi adalah
pada nilai factor daya yang rendah, karena beban induktif ini mengakibatkan daya reaktif
menjadi nail sehingga konsumsi daya (MVA) menjadi meningkat.
Untuk meningkatkan kualitas system kelistrikan dengan beban yang sama, maka
dibutuhkan suatu usaha untuk meningkatkan nilai factor daya Cos dengan tujuan
meningkatkan efisiensi, sehingga akan memberikan keuntungan-keuntungan, misalnya
penambahan kapasitas daya listrik akibat berkurangnya rugi-rugi, meningkatnya masa pakai
peralatan listrik, dsb. Peningkatan factor daya pada umumnya adalah menggunakan kapasitor
sebagai kompensatornya, karena kapasitor merupakan komponen yang paling ekonomis serta
mudah dalam pemasangan. Tap changer adalah alat perubahan perbandingan transformasi untuk
mendapatkan tegangan operasi sekunder yang lebih baik ( diinginkan ) dari tegangan
jaringan/primer yang berubah-ubah, tap changer yang hanya bisa beroperasi untuk memindahkan
tap transformator dalam keadaan transformator tidak berbeban disebut dengan off load tap
changer dan hanya dapat dioperasikan secara manual, tap changer yang dapat beroperasi untuk
memindahkan tap transformator dalam keadaan transformator berbeban disebut dengan on load
tap changer dan dapat dioperasikan secara manual dan otomatis, transformator ( trafo ) suatu
alat listrik yang dapat memindahkan dan mengubah energy listrik dari satu atau lebih rangkaian

listrik ke rangkaian listrik yang lainnya, melalui suatu gandengan magnet dan berdasarkan
prinsip induksi elektromagnetik.
Pada sekripsi ini akan dibahas metode untuk menyelesaikan masalah perbaikan factor daya
dengan menggunakan software ETAP Power Station. Hasil yang dicapai diharapkan dapat
mencapai kepuasan dan menunjukkan penampilan yang terbaik.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan hal diatas maka timbul sebuah pokok permasalahan yaitu bagaimana memecahkan
masalah perbaikan factor daya dengan penempatan kapasitor, agar factor daya tidak berada
dibawah batas operasi yang ditetapkan dan memperkecil rugi-rugi daya. Sehubungan dengan hal
tersebut, maka sekripsi ini diberi judul :

ANALISA PENGATURAN TAP TRAFO DAN KAPASITOR UNTUK PERBAIKAN


ALIRAN DAYA REAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN SOFTWARE ETAP POWER
STATION PADA PLTU PAITON UNIT 9

1.3. Tujuan
Memecahkan masalah perbaikan factor daya dengan penempatan kapasitor untuk meningkatkan
factor daya pada PLTU PAITON UNIT 9 dan mengurangi rugi-rugi daya dan rugi-rugi tegangan
dengan menggunakan software ETAP Power Station.

1.4. Batasan Masalah


Agar permasalahan mengarah sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan maka permasalahan
dalam sekripsi ini dapat dibatasi pada hal-hal sebagai berikut :

1. Analisa perhitungan menggunakan program ETAP Power Station.


2. Permasalahan yang dibahas adalah perbaikan aliran daya reaktif, Tap Trafo dan kapasitor
di PLTU PAITON UNIT 9.
3. Analisa dilakukan dengan menganggap bahwa system dalam keadaan normal.
4. Analisa dilakukan hanya sebatas pengkajian beban yang telah ada.

1.5. Metode Penelitian


Metode yang digunakan dalam penyusunan sekripsi ini adalah :
1. Studi Literatur, yaitu kajian pustaka untuk mempelajari teori-teori yang terkait melalui
literatur yang ada, yang berhubungan dengan permasalahan.
2. Pengumpulan Data
Bentuk data yang digunakan :
Data kuantitatif, yaitu data yang dapat dihitung atau data yang berbentuk angka

angka.
Data kualitatif, yaitu data yang berbentuk diagram, dalam hal ini single line

diagram penyulang.
3. Pemodelan
Setelah mendapatkan data, maka disimulasikan dalam software ETAP Power Station.
4. Analisa Data
Menganalisis data yang diperoleh dengan mempergunakan software ETAP.
5. Kesimpulan
Menarik kesimpulan dari hasil analisa data.

1.6. Sistematika Penulisan


Sistematika dari pembahasan di dalam sekripsi ini adalah sebagai berikut :

BAB I

: PENDAHULUAN
Berisi tentang latar belakang, tujuan, perumusan masalah, metode penelitian
yang digunakan,serta sistematika penulisan.

BAB II

: SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK


Disini akan membahas tentang masalah system jaringan distribusi, daya dalam
system tenaga listrik, Tap Trafo dan Kapasitor daya.

BAB III

: METODE PENELITIAN
Pada

bab

ini

akan

dibahas

masalah

factor

daya,

perbaikan

factor

daya,pengurangan rugi-rugi daya, perbaikan tegangan dan metode aliran daya


Newton Rhapson.
BAB IV

: HASIL DAN ANALISA HASIL


Pada bab ini berisi data dan analisa hasil simulasi dari ETAP Power Station.

BAB V

: PENUTUP
Merupakan bab terakhir yang memuat intisari dari hasil pembahasan, yang
berisikan kesimpulan dan saran yang dapat digunakan sebagai pertimbangan
untuk pengembangan penulisan selanjutnya.

1.7. Relevansi
Dengan adanya perbaikan kapasitor pada Tap Trafo diharapkan akan memberikan solusi kepada
PLTU PAITON UNIT 9 yaitu factor daya yang bagus atau tidak berada dibawah pada batas yang
diijinkan oleh PLN dan daya yang disuplay dari generator dapat mencukupi kebutuhan
4

operasional di perusahaan dan di perumahan karena rugi-rugi dayanya sudah diperkecil dengan
perbaikan dan penempatan kapasitor yang tepat.

BAB II
SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK
2.1. Sistem Distribusi Tenaga Elektrik

System tenaga listrik merupakan suatu system terpadu yang terbentuk oleh hubungan-hubungan
peralatan dan komponen-komponen listrik. Sistem tenaga listrik ini mempunyai peranan utama
untuk menyalurkan energy listrik yang dibangkitkan oleh generator dari pembangkit ke
konsumen yang membutuhkan energy listrik.

Gambar 2.1. Jaringan Distribusi Tegangan Menengah ( JTM ), Jaringan Distribusi Tegangan
Rendah ( JTR ) dan Sambungan Rumah ke pelanggan.

Jaringan setelah keluar dari G.I. biasanya disebut jaringan distribusi. Setelah tenaga listrik
disalurkan melalui jaringan distribusi primer maka kemudian tenaga listrik diturunkan
tegangannya dalam gardu-gardu distribusi menjadi tegangan menengah dan tegangan rendah,
kemudian disalurkan ke industry-industri, rumah-rumah atau pelanggan (konsumen).

Dalam pendistribusian tenaga listrik ke konsumen, tegangan yang digunakan bervariasi


tergantung dari jenis konsumen yang membutuhkan. Untuk konsumen industry biasanya
digunakan tegangan menengah 20 kV, sedangkan untuk konsumen perumahan digunakan
tegangan rendah 220/380 Volt, yang merupakan tegangan siap pakai untuk peralatan-peralatan
rumah tangga. Dengan demikian maka system distribusi tenaga listrik dapat diklasifikasikan
menjadi dua bagian system yaitu :
6

1. Sistem distribusi primer atau JTM ( Jaringan Tegangan Menengah ).


2. Sistem distribusi sekunder atau JTR ( Jaringan Tegangan Rendah ).
Pengklasifikasian system distribusi tenaga listrik menjadi dua ini berdasarkan tingkat tegangan
distribusinya.

2.1.1. Sistem Distribusi Primer ( Jaringan Tegangan Menengah )


Tingkat tegangan yang digunakan pada system distribusi primer adalah meliputi tegangan 20 kV,
oleh karena itu system distribusi ini sering disebut dengan system distribusi tegangan menengah.

2.1.2. Sistem Distribusi Sekunder ( Jaringan Tegangan Rendah )


Tingkat tegangan yang digunakan pada system distribusi sekunder adalah tegangan rendah yaitu
127/220 Volt atau 220/380 Volt, oleh karena itu system distribusi ini sering disebut dengan
system distribusi tegangan rendah.
System jaringan yang digunakan untuk menyalurkan dan mendistribusikan tenaga listrik tersebut
dapat menggunakan system satu fasa dengan dua kawat maupun system tiga fasa dengan empat
kawat.

2.2. Struktur Jaringan Distribusi Tenaga Listrik [2]


Ada beberapa bentuk jaringan yang umum dipergunakan untuk menyalurkan dan
mendistribusikan tenaga listrik yaitu :
1. System jaringan distribusi radial.
2. System jaringan distribusi rangkaian tertutup ( loop).
3. System jaringan distribusi mesh.
7

2.2.1. Sistem Jaringan Distribusi Radial


Bentuk jaringan ini merupakan bentuk dasar yang paling banyak digunakan dan yang paling
sederhana. Sistem ini dikatakan radial karena dari kenyataan bahwa jaringan ini ditarik secara
radial dari gardu induk ke pusat-pusat beban atau konsumen yang dilayaninya. Sistem ini terdiri
dari saluran utama ( main feeder ) dan saluran cabang ( lateral ) seperti pada gambar 2.2.

Gambar 2.2. Sistem Distribusi Radial


Pelayanan tenaga listrik untuk suatu daerah beban tertentu dilaksanakan dengan memasang
transformator disembarang titik pada jaringan yang sedekat mungkin dengan daerah beban yang
dilayani.
Untuk daerah beban yang menyimpang jauh dari saluran utama maupun saluran cabang, maka
akan ditarik lagi saluran tambahan yang dicabangkan pada saluran tersebut.
Kelemahan yang dimiliki oleh system radial adalah jatuh tegangan yang cukup besar dan bila
terjadi gangguan pada system akan mengakibatkan jatuhnya sebagian atau bahkan keseluruhan
beban system.
2.2.2. Sistem Jaringan Distribusi Tertutup ( Loop )

System ini disebut dengan jaringan distribusi loop karena saluran primer yang menyalurkan daya
sepanjang daerah beban yang dilayani membentuk suatu rangkaian loop, seperti terlihat pada
gambar 2.3.

Gambar 2.3. Sistem Jaringan Distribusi Loop

2.2.3. Sistem Jaringan Distribusi Mesh


Jaringan Distribusi Mesh merupakan jaringan yang strukturnya komplek, dimana kelangsungan
penyaluran dan pelayanannya diutamakan. Struktur jaringan ini umumnya digunakan pada
jaringan tegangan rendah yang kepadatan bebannya cukup tinggi.

Gambar 2.4. Sistem Jaringan Distribusi Mesh

2.3. Daya Dalam Sistem Tenaga


Dalam system tenaga listrik, pembangkit-pembangkit tenaga listrik harus mampu menyediakan
tenaga listrik kepada pelanggan sesuai dengan permintaan beban listrik yang ada, dan hal yang
harus diperhatikan adalah system yang tetap ( konstan ). Dalam hal ini tegangan dan frekuensi
harus tetap konstan karena berhubungan dengan daya.
Daya listrik yang dibangkitkan dikenal dengan istilah :
2.3.1. Daya Nyata ( Real Power )
Daya nyata dinyatakan dalam persamaan :
P = |V |

|I| cos (2.1)

10

Daya nyata untuk beban 3 fasa seimbang :


P=

|V jala jala|

|I jala jala|

Cos

(2.2)

2.3.2. Daya Reaktif ( Reactive Power )


Daya reaktif adalah daya yang timbul karena adanya pembentukan medan magnet pada bebanbeban induktif ( KVAR ).
Daya reaktif dinyatakan dalam persamaan :
Q = |V |

|I| sin (2.3)

Daya reaktif untuk 3 fasa seimbang :


Q=

|V jala jala|

|I jala jala|

sin

..(2.4)

2.3.3. Daya Semu ( Apparent Power )


Daya semu dinyatakan dalam persamaan :
S = |V |

|I| (2.5)

Daya semu untuk beban 3 fasa seimbang :


S=

|V |

|I| .(2.6)

11

2.4. Kapasitor Daya


Secara sederhana kapasitor terdiri dari dua plat logam yang dipisahkan oleh suatu bahan
dielektrik dan kapasitor ini mempunyai sifat menyimpan muatan listrik. Pada beberapa tahun lalu
kebanyakkan kapasitor terbuat dari dua buah plat aluminium murni yang dipisahkan oleh tiga
atau lebih lapisan kertas yang dilapisi oleh bahan kimia. Kapasitor daya telah mengalami
perkembangan yang begitu cepat selama 30 tahun terakhir. Karena bahan dielektrik yang
digunakan lebih efisien serta teknologi pembuatan kapasitor lebih baik.

2.4.1. Kapasitor Seri dan Kapasitor Shunt


Fungsi utama dari pemakaian kapasitor seri atau kapasitor shunt, dalam system tenaga adalah
untuk membangkitkan daya reaktif, untuk memperbaiki factor daya dan tegangan, sehingga
meningkatkan kapasitas system dan mengurangi rugi daya jaringan.
a. Kapasitor seri
Kapasitor seri adalah kapasitor yang dihubungkan seri dengan impedansi saluran yang
bersangkutan, pemakaiannya amat dibatasi pada saluran distribusi, karena peralatan
pengamannya cukup rumit. Jadi secara umum dikatakan biaya untuk pemasangan
kapasitor seri lebih mahal dari pada biaya pemasangan kapasitor shunt ( parallel ).
b. Kapasitor shunt ( parallel )
Kapasitor shunt adalah kapasitor yang dihubungkan parallel dengan saluran dan secara
intensif digunakan pada saluran distribusi. Kapasitor shunt mencatu daya reaktif atau arus
yang menentang komponen arus beban induktif.
Dengan dipasangnya kapasitor shunt pada jaringan distribusi akan dapat memperbaiki
profil tegangan, memperbaiki factor daya dan menaikkan kapasitas system serta dapat
mengurangi rugi-rugi saluran.

2.4.2. Pemasangan Kapasitor Shunt

12

Kapasitor shunt adalah kapasitor yang dihubungkan pararel dengan saluran dan secara intensif
digunakan pada system distribusi. Kapasitor shunt mencatu daya reaktif atau arus yang
menentang komponen arus beban induktif. Dengan dipasangnya kapasitor shunt pada jaringan
distribusi akan dapat memperbaiki profil tegangan, memperbaiki factor daya, dan menaikkan
kapasitas system serta dapat mengurangi rugi-rugi saluran.
Ada dua cara dalam pemakaian kapasitor shunt :
-

Kapasitor tetap.
Kapasitor saklar.

a. Kapasitor Tetap
Adalah kapasitor untuk kompensasi daya reaktif yang kapasitasnya tetap dan selalu
terpasang di jaringan. Penggunaan kapasitor jenis ini harus memperhatikan kenaikan
tegangan yang terjadi pada saat beban ringan agar tidak melebihi batas tegangan yang
ditetapkan.
b. Kapasitor Saklar
Adalah kapasitor untuk kompensasi daya reaktif yang dapat di hubungkan dan dilepaskan
dari jaringan dan dapat diatur besar kapasitasnya sesuai dengan kondisi beban.

2.6. Sistem Per-Unit


Untuk memudahkan perhitungan-perhitungan dalam system tenaga listrik digunakan system p.u
(per-unit) yang didefinisikan sebagai perbandingan harga yang sebenarnya dengan harga dasar
(base value), sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut :
Besaran per-unit =

Besaran sebenarnya
Besaran dasar dengan ukuran yang sama

...

(2.7)

Rumus yang digunakan untuk penentuan arus dasar dan impedansi dasar adalah :

13

Untuk data 1 fasa


Arus dasar
Id =

kVA dasar 1 fasa


kVA dasar LN

(2.8)

Impedansi dasar

Zd =

(kV dasar LN )2 X 1000


kVA dasar 1 fasa

(2.9)
2

(kV dasar LN )
MVA dasar 1 fasa

...(2.10)

Dalam persamaan di atas nilai-nilai besaran diberikan untuk rangkaian satu fasa. Jadi
tegangannya adalah tegangan antar fasa dengan tanah dan daya setiap fasa. Setelah besaranbesaran dasar ditentukan maka besaran-besaran itu dinormalisasikan terhadap besaran dasar.
Dengan demikian impedansi per-satuan didefinisikan sebagai berikut :

Z=

impedansi sebenarnya Z ()
impedansi dasar Zd

..

(2.11)

2.7. Pengertian Tentang Tap Trafo


Tap Changer, adalah salah satu bagian utama dari Trafo Tenaga yang berfungsi untuk melayani
pengaturan tegangan trafo tersebut, dengan cara memilih/merubah ratio tegangan, perubahan
ratio ( perbandingan transformasi ) antara kumparan primer dan sekunder, untuk mendapatkan
tegangan operasi disisi sekunder sesuai dengan yang diinginkan, kualitas ( besarnya ) tegangan
pelayanan disisi sekunder dapat berubah karena tegangan jaringan/system yang berubah-ubah
14

akibat dari pembebanan ataupun saat kondisi system, pada perubahan ratio yang diatur oleh tap
changer adalah perubahan dengan range kecil antara + 10% - 15% dari tegangan dasar trafo
tersebut.

Perbandingan besar tegangan antara sisi primer terhadap tegangan sisi sekunder adalah
berbanding lurus dengan jumlah belitan pada masing-masing kumparan, ( E primer / Esekunder =
Nprimer / Nsekunder ) bila tegangan disisi primer berubah, sedangkan tegangan disisi sekunder yang
diinginkan akan tetap, maka untuk mendapatkan tegangan disisi sekunder yang konstan harus
melakukan penambahan atau mengurangi jumlah belitan disisi primer. Untuk mendapatkan range
yang lebih luas didalam pengaturan tegangan, pada kumparan utama trafo biasanya ditambahkan
kumparan bantu ( tap winding ) yang dihubungkan dengan tap selector pada OLTC.
Pada umumnya Tap Changer dihubungkan dengan kumparan sisi primer dengan pertimbangan
sebagai berikut :
1. Lebih mudah cara penyambungan karena kumparan primer terletak pada belitan paling
luar.
2. Arus disisi primer lebih kecil daripada disisi sekunder, tujuannya untuk memperkecil
resiko bila menjadi los kontak dengan arus yang lebih kecil dapat dipergunakan
ukuran/jenis konduktor yang kecil pula.
Ditinjau dari sisi pengoperasiannya jenis tap changer ada dua macam yaitu, Tap changer yang
hanya dapat beroperasi untuk memindahkan tap dalam posisi transformator tidak beroperasi
( tidak bertegangan ) disebut dengan Off Load Tap Changer / deenergized tap changer, yang
hanya dapat dioperasikan secara manual. Biasanya dioperasikan dengan cara diputar untuk
memilih posisi Tap pada Trafo TM tombol pengaturnya dibagian atas deksel trafo, diantara
Bushing Primer dan Sekunder.
Sedangakan Tap Changer yang dapat beroperasi untuk memindahkan Tap Transformator dalam
keadaan berbeban disebut dengan On Load Tap Changer atau disebut juga dengan OLTC,
yang pengoperasiannya dapat secara manual maupun elektris/motor rise.

15

Transformator yang terpasang di gardu induk pada umumnya menggunakan Tap Changer yang
dapat dioperasikan dalam keadaan Trafo berbeban ( OLTC ) yang dipasang disisi Primer,
berfungsi

untuk

melanyani

pengaturan

tegangan

keluar

dari

Trafo,

Dengan

cara

memilih/merubah ratio tegangan tanpa harus melakukan pemadaman.


Sedangakan Transformator penaik tegangan ( step up ) diunit pembangkit atau pada Trafo
kapasitas kecil ( Trafo TM ), pada umumnya menggunakan Tap Changer yang digunakan oleh
Off Load Tap Changer bila akan dilakukan perubahan Trafo harus dipadamkan terlebih dahulu
( tanpa beban ).
2.7.1. Konstruksi dan Komponen dari OLTC
Tap Changer Trafo tenaga ditempatkan dalam tabung/Compartment direndam dalam minyak,
yang ditetapkan terpisah dari tangki utama ( Main-tank ) karena Trafo dalam pengoperasian
OLTC terjadi switching ketika kontak-kontak didalam OLTC berpindah posisi sehingga kualitas
minyak cepat menurun terutama warnanya cepat kotor dan berwarna hitam ( karbon dioksida ),
oleh karena itu minyak di Tap Changer ditempatkan terpisah dari minyak Trafo di dalam tangki
utama. Penempatan OLTC dirancang sedekat mungkin dengan belitan/kumparan di dalam Trafo
untuk memperpendek pemakaian konduktor yang dipakai untuk menghubungkan Tap Changer
dengan belitan.
Komponen/bagian-bagian dari OLTC :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Tap Changer Head.


Diverter Switch.
Tap Selector.
Mekanik motor penggerak.
Relay Proteksi RS 2000.
Konservator.

1. pada Tap Changer Head terpasang :


-

Mechanism Gear, untuk mengatur gerakan pada OLTC.


Indicator posisi Tap, digunakan untuk mengetahui posisi dari Tap dan angka
penunjukannya harus sama dengan posisi yang ditunjukkan pada mekanik penggerak.

16

Flenes/katup-katup minyak yang menghubungkan OLTC dengan Konservator, Suction


pipa, fasilitas untuk menyaring minyak di OLTC dan katup-katup pembuang udara
( Venting/Bleeder ).

Pada type tertentu dapat dipasang Diagfragma/Pressure Relief untuk pengaman tekanan
lebih dari OLTC.

2. pada Diverter Switch saat bergerak berubah-ubah posisi Tap,kontak-kontak Diverter Switch
membawa arus beban namun walaupun ada arus beban tidak terjadi pemutusan arus ( open
connection ) karena akan dilengkapi dengan kontak-kontak transisi dan resistor transisi, namun
saat perubahan posisi kontak-kontak Diverter Switch terjadi arcing tetapi masih dalam batas
toleransi. Gerakkan dalam Diverter Switch akan berlangsung setelah gerakan posisi kontakkontak dalam Selector mencapai titik perpindahannya.
3. pada Tap Selector merupakan kontak-kontak utama dalam Tap untuk perpindahan posisi pada
pengoperasian di OLTC, saat perubahan sampai diposisi Tap yang akan dicapai Tap Selector
tidak berbeban ( tidak membawa arus ) karena itu Tap Selector dapat ditempatkan dalam Main
tank Trafo dalam kecepatan gerak pada Tap Selector dan Diverter Switch awal gerak hingga
sampai diposisi berikutnya ( satu step ) sekitar 40-70 milli detik sesuai dengan typenya.
4. pada Mekanik Penggerak terdiri dari beberapa komponen antara lain adalah :
-

Motor dan posisi Tap.


Heater.
Kontaktor-kontaktor + wiring.
Penunjukan angka counter / jumlah operasi.
Gear box dll.

5. pada Proteksi yang terpasang pada OLTC adalah untuk pengaman terhadap tekanan lebih
( Pressure ) yang terjadi saat gangguan berat.
-

Rele Jansen / RS 2000 / RS 2001.


Pressure Relay.
Pressure rele Device.
Explosive Mebrane.

17

6. pada Konservator
Diverter Switch ditempatkan dalam kompartemen yang diisi oleh minyak isolasi, pada
pengoperasiannya terjadi pemanasan terhadap minyak oleh karena itu untuk menampung
pemuaian minyak kompartemen di OLTC dihubungkan dengan Konservator, disamping itu
karena kontaminasi minyak dari Diverter Switch bisa naik ke Konservator maka minyak di
Konservator OLTC harus terpisah / disekat dengan minyak Konservator tangki utama di Trafo.
2.7.2. Macam-macam Jenis Type OLTC
1. OLTC MR ( Maschinenfabrik Reinhausen )
OLTC MR ( Maschinenfabrik Reinhausen ) dari system pemasangan menggantung disebut juga
dengan Bell Type, penempatan dari Tap Changer diupayakan sedekat mungkin dari kumparan
Trafo sehingga hanya cukup menggunakan konduktor yang tidak terlalu panjang.
Pada OLTC MR ini ada dua konsep desain perpindahan Tap Changer yaitu dengan cara :
a. Tap Selector dengan Diverter Switch ( contoh MR Type M / MS ).
b. Tap Selector dikombinasi dengan Diverter Switch ( MR Type V ).
Keunggulan dari OLTC MR adalah :
1. Bentuk dari OLTC MR simple dan Compact.
2. Cara pemeliharaannya sangat mudah, bagian dalam dari ( Inser Tap / Diverter ) yang
dapat diangkat.
3. Penggantian kontak-kontak sangat mudah dilakukan.
4. Arcing Contact cukup kuat dan dilapisi oleh Tungsten.
2. OLTC ABB Type UZ
OLTC ABB type UZ dirancang sedemikian rupa dengan tujuan untuk keandalan yang tinggi,
desain yang disederhanakan dan kuat, oleh karena itu pemeliharaannya dapat diminimalisir oleh
Tap Changer dan ditempatkan diluar tangki utama di Trafo.

Komponen utama dari OLTC ABB terdiri dari : dudukkan / rumah kontak ( Moulding ), Selector
Switch, Transition, Resistor dan Chang-over Switch. Komponen-komponen tersebut terletak
18

didalam tangki OLTC ABB, semua perlengkapan di OLTC ABB dijadikan satu unit termasuk
Motor system penggerak, oleh sebab itu OLTC ABB Type UZ dapat dipakai pada banyak macam
Trafo tenaga.
3. OLTC UNION
Prinsip kerja dari OLTC UNION mengacu kepada prinsip DR.Jansen yaitu dengan menggunakan
Selector dan Diverter Switch pada permukaan kontak Selector Switch yang diberi lapisan perak
yang dapat menjamin pengoperasian dengan keandalan tinggi, kontak Selector Switch dan
Gearingnya didesain untuk free maintenance selama Trafo tenaga beroperasi. Diverter Switch
dilengkapi dengan high speed resistance, arah gerakan Diverter Switch kekanan dan kekiri untuk
menjamin keandalan tinggi permukaan kontak-kontak Diverter Switch yang dilapisi tembaga
campuran Tungsten. Kontak-kontak dari OLTC UNION mampu menahan arus beban pada 1,1
kali rating dari arus beban, dari system Proteksi OLTC UNION menggunakan Surge Pressure
Protective Device yang ditempatkan pada Tap Changer Head, bila terjadi gangguan akan dapat
merespon sangat cepat hampir instantaneous < 10 ms, hal ini untuk mencegah kerusakan dari
tangki Diverter Switch disamping itu system dari proteksinya ditambah dengan Diverter
Protective Device sejenis dari RS 2001.

BAB III

19

HASIL ANALISA DAN PARAMETER


3.1. Faktor Daya
3.1.1. Pengertian Faktor Daya
Pada sebagian besar peralatan yang mengandung dua unsur atau jenis beban, yaitu beban resistif
dan beban reaktif. Dalam terjadinya hal ini maka akan membutuhkan pula suatu komponen arus
yang disebut arus Ir ( arus beban resistif ) dan arus Ix ( arus beban reaktif ), kedua komponen
arus tersebut adalah :
1. Arus beban resistif adalah arus yang dikonversikan menjadi kerja, biasanya dalam bentuk
panas, kerja mekanik, cahaya dan bentuk energy lain. Daya yang dihasilkan dari adanya
arus ini adalah daya yang bekerja dengan satuan Watt, Kilo Watt, dsb.
2. Arus beban reaktif mengalir pada komponen beban yang tidak dapat dikonversikan
menjadi bentuk penggunaan energy lain secara langsung, tetapi keberadaannya tidak
dapat dipisahkan dari kebutuhan beban antara lain untuk menghasilkan fluks dalam
pengoperasian peralatan elektromagnetis ( misalnya : trafo, motor induksi, dsb ). Tanpa
arus ini maka tidak ada arus magnetisasi dan energy tidak mengalir melalui trafo atau
menembus celah udara pada motor induksi.
Setiap pemakaian daya reaktif akan menyebabkan turunnya factor daya yang menyebabkan
memburuknya karakteristik kerja peralatan-peralatan system pada umumnya, baik dari segi
teknik operasional maupun segi ekonomisnya,factor daya adalah perbandingan antara daya nyata
dan daya semu.

Factor Daya =

Daya Nyata(kW )
Daya Semu(kVA)

(3.1)

Untuk daya semu sendiri dibentuk oleh dua komponen daya nyata ( kw ) dan daya reaktif
(kVAR).

20

Hubungan ini dapat digambarkan sebagai berikut ini :

Dengan factor daya =

P
P +Q2
2

..(3.2)

P = daya nyata ( kW )
= V . I . cos ...(3.3)
Q = daya reaktif ( Kvar )
= V . I . sin ...(3.4)
S = daya semu ( kVA )
= V . I ..(3.5)
= sudut phase
Suatu beban akan membutuhkan suplai daya aktif jika beban tersebut bersifat induktif dan suatu
beban membutuhkan suplai daya reaktif jika beban tersebut bersifat kapasitif. Jadi factor daya
dapat dilihat dari hubungan antara arus aktif, arus magnetisasi dan arus total.

Arus nyata ( Ia ) adalah arus yang dibeban dan kedalam energy panas.
Arus magnetisasi ( Im ) adalah arus yang mengalir dibeban untuk menimbulkan medan

magnet.
Arus total ( I ) adalah arus yang mengalir dijaringan dan merupakan penjumlahan vector
dari arus nyata dan arus magnetisasi.

Dalam bentuk hubungan tersebut digambarkan sebagai berikut :


Beberapa sebab system distribusi mempunyai factor daya yang rendah, yaitu :

Banyaknya pemakaian motor asinkron terutama pada industry.


Makin meningkatnya pemakaian lampu TL untuk penerangan.
Pemakaian pemanas air.

21

Menurunnya factor daya berarti mengecilnya perbandingan antara daya nyata dengan daya semu
atau berarti semakin membesarnya kebutuhan beban dan daya aktif.
Karena pada saluran terdapat resistansi R dan reaktansi X maka rugi daya (

PL

) dirumuskan

sebagai berikut ini :


PL =

I2 R

I cos

Dimana :

R+

I sin

R .(3.6)

IR

adalah arus aktif

IX

adalah arus reaktif

3.1.2. Faktor Daya Leading


Apabila arus mendahului tegangan, maka factor daya itu dikatakan leading. Factor daya leading
ini terjadi apabila beban kapasitif, seperti kapasitor, generator sinkron dan motor sinkron.
3.1.3. Faktor Daya Lagging
Apabila arus tertinggal dari tegangan, maka factor daya itu dikatakan lagging. Factor daya
lagging ini terjadi apabila beban induktif, seperti motor induksi ( AC ) dan transformator.
3.2. Sumber Daya Reaktif Untuk Perbaikan Faktor Daya
Perbaikan factor daya pada umumnya adalah penambahan komponen sebagai pembangkit daya
reaktif yang memungkinkan mensuplai kebutuhan kVAR pada beban-beban induktif. Untuk
merencanakan suatu system dalam memperbaiki factor daya, dapat dipergunakan suatu konsep
yaitu kompensator ideal, dimana system ini dapat dihubungkan pada titik penyambungan secara
parallel dengan beban dan memenuhi tiga fungsi utama, yaitu :
1. Memperbaiki factor daya mendekati nilai satu.
22

2. Mengurangi atau mengeliminasi regulasi tegangan.


3. Menyeimbangkan arus beban dan tegangan fasa.
Untuk memenuhi kebutuhan daya reaktif yang efektif dan efisien, maka perlu dilakukan
pemilihan sumber daya reaktif. Terdapat beberapa komponen-komponen atau peralatan yang
menghasilkan daya reaaktif yaitu kondensor sinkron, kapasitor seri dan kapasitor shunt.
3.3. Pengurangan Rugi Daya Dengan Kapasitor Shunt
Rugi-rugi saluran perfasa dari saluran 3 fasa seimbang dengan beban terpusat seperti pada
gambar 3.3 adalah

I 2 ( R-j X ) atau dapat dibedakan menjadi :

Rugi daya aktif


2
( I R) = ( IR 2 + IX 2 ) R ..(3.7)

Rugi daya reaktif


(I2X) = ( IR2 + IX2 ) X ...(3.8)

Dimana : IR adalah komponen arus aktif


IX adalah komponen arus reaktif
Rugi daya ( I2R ) dapat dibagi menjadi dua komponen yaitu komponen arus aktif dan komponen
arus reaktif. Pada rugi daya karena komponen arus aktif tidak akan mempengaruhi penempatan
kapasitor pada saluran, hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
Diasumsikan bahwa rugi daya (I2R) disebabkan oleh arus saluran ( lagging ) I, yang mengalir
pada resistansi R, sehingga :
I2R = ( I cos )2R + ( I sin )2R .(3.9)
Setelah dipasang kapasitor dengan arus Ic, didapat arus saluran baru I1 dan rugi daya I2R sebagai
berikut ini :
I2R = ( I cos )2R + ( I sin )2R (3.10)

23

Sehingga pengurangan rugi daya sebagai akibat pemasangan kapasitor didapat :


pls = I2R J 2R
1
= ( I cos )2R + ( I sin )2R ( I cos )2R + ( I sin - Ic )2R
= 2 ( I sin ) IcR Ic2R (3.11)
Maka hanya komponen arus reaktif ( I sin

) saja yang berpengaruh terhadap pengurangan

rugi daya I2R akibat pemasangan kapasitor shunt pada saluran distribusi. Pengurangan rugi daya
saluran 3 fasa adalah :
pls = 3R (2( I sin ) Ic Ic2 ) Watt ..(3.12)
3.4. Perbaikan Tegangan
Pemakaian kapasitor shunt dalam system tenaga listrik selain untuk perbaikan factor daya juga
bertujuan menaikkan tegangan. Dan secara vektoris dapat digambarkan sebagai berikut :
V = I R + I X ..(3.13)
R
L

Jatuh tegangan setelah kapasitor dipasang :


V = I R + I X IcX .(3.14)
R
L
3.5. Perbaikan Faktor Daya dan Kapasitas Sistem
Manfaat terbesar yang diperoleh dari perbaikan factor daya berasal dari pengurangan daya reaktif
dalam system. Hal ini menghasilkan pengurangan biaya pemakaian daya yang lebih rendah,
kenaikan kapasitas system, perbaikan tegangan dan pengurangan rugi daya dalam system. Satusatunya cara untuk memperbaiki factor daya adalah mengurangi daya reaktif pada jaringan. Jika
komponen daya reaktif dapat dikurangi, maka total arus akan berkurang, sedang komponen daya
aktif tidak berubah, maka factor daya akan lebih besar sebagai akibat berkurangnya daya reaktif.
Factor daya akan mencapai 100% jika komponen daya reaktif sama dengan nol ( 0 ).
24

Dengan menambahkan kapasitor, daya reaktif komponen Q akan berkurang, gambar 3.7
menunjukkan perbaikan factor daya pada system, kapasitor mensuplay daya reaktif ke beban.
P
S1

Cos 1 =

..(3.15)

Bila suatu kapasitor Qc kVAR dipasang pada beban, factor daya dapat diperbaiki dari Cos
menjadi Cos

Cos 2 =

dimana :
P
S2
P
( P +Q 2)
2

Q1Qc

P2 +

.(3.16)

Sehingga daya semu dan daya reaktif berkurang dari S 1 ( kVA ) ke S2 ( kVA ) dan dari Q1 ( kVAR
) ke Q2 ( kVAR ) sehingga kapasitas beban akan meningkat. Dengan demikian dapat diambil
kesimpulan bahwa persentase pengurangan rugi daya jaringan dapat dihitung menggunakan
persamaan berikut ini :

% Rugi daya = 100

Faktor daya mulamula (cos 1 )


Faktor daya baru (cos 2)

% Pengurangan rugi daya

25

.(3.17)

= 100

1(

Faktor daya mulamula ( cos 1 )


Faktor daya baru ( cos 2 )

2 )

.(3.18)

3.5.1. Perhitungan Pengaruh Perbaikan Faktor Daya


Penjumlahan secara vector dari arus aktif dan reaktif menghasilkan arus-arus total yang dapat
dinyatakan dengan persamaan berikut :

I = Arus Semu =

(arus aktif )2+(arus reaktif )2


( I cos )2+(I sin )2

.(3.19)

Pada suatu tegangan V, daya aktif, daya reaktif dan daya semu adalah sebanding dengan arus,
dimana hubungannya dapat dinyatakan sebagai berikut :
Daya semu ( kVA ) =

( VI ) =

( Daya aktif )2 +(Dayareaktif )2


(VI cos )2+(VI sin )2
Dayaaktif
Daya reaktif

...(3.20)

KW
KVA

Factor daya

Daya aktif

= Daya semu x Faktor daya


kW = kVA x Faktor daya
kW = kVA Cos ..(3.21)

26

3.5.2. Penentuan Rating Kapasitor Untuk Perbaikan Faktor Daya Beban


Dari hubungan fasor diagram daya aktif dan reaktif dapat ditulis beberapa persamaan matematis
sebagai berikut ini :

Cos =

Daya aktif
Daya semu

Sin =

Daya reaktif
Daya semu

Tan =

Daya reaktif
Dayaaktif

(kW )
(kVA )

...(3.22)

(kVAR )
(kVA )

(3.23)

(kVAR )
( kW )

.(3.24)

Karena komponen daya aktif biasanya konstan, dan daya semu serta komponen daya reaktif
berubah sesuai dengan factor daya, maka persamaan yang dinyatakan dalam komponen daya
aktif yang paling tepat digunakan.

Persamaan ini dapat ditulis sebagai berikut ini :


Daya reaktif pada factor daya mula-mula = Daya aktif x Tan 1
= ( kW ) x Tan 1 ..(3.25)
Daya reaktif pada factor daya baru

= Daya aktif x Tan 2


= ( kW ) x Tan 2 ..(3.26)

Dengan 1 = sudut dari factor daya mula-mula


2 = sudut dari factor daya yang telah diperbaiki
Rating kapasitor yang dibutuhkan perbaikan factor daya sebagai berikut :
Daya reaktif ( kVAR ) = daya aktif x ( Tan 1 2 )
= ( Kw ) x ( Tan 1 2 ) (3.27)
27

Untuk penyederhanaan ( Tan 1 Tan 2 ) sering ditulis

Tan, yang merupakan suatu factor

pengali untuk menentukan daya reaktif.


Daya reaktif ( kVAR ) = Daya aktif x
= ( kW ) x

Tan

Tan (3.28)

3.6. Analisa Aliran Daya


Sebelum melakukan optimasi terlebih dahulu dilakukan suatu proses analisa aliran daya pada
kapasitor untuk mengetahui kondisi suatu system.
3.6.1. Tujuan
Tujuan analisa aliran daya dan kapasitor pada sekripsi ini adalah :
1. Untuk mengetahui profil tegangan pada setiap bus dari system jaringan.
2. Untuk mengetahui besarnya daya yang mengalir pada setiap cabang disaluran dari
struktur jaringan.
3. Untuk mengetahui besar rugi-rugi daya reaktif dan daya aktif pada setiap cabang dari
saluran distribusi.
3.6.2. Metode Newton Rephson
Secara matematis persamaan aliran daya Newton Raphson dapat diselesaikan dengan
menggunakan koordinat rectangular atau koordinat polar dalam pembahasan sekripsi ini
menggunakan bentuk polar.
Hubungan antara arus simpul IP dengan tegangan simpul Vq pada suatu jaringan dengan n simpul
dapat dituliskan sebagai berikut ini :
n

IP =

Y pq
q=1

VPq ..................................................................(3.29)

Injeksi daya pada simpul p adalah :


SP = Pp jQp Vp*. Ip ...(3.30)
28

= Vp*

Y pq

Vpq .......................................................(3.31)

q=1

Dalam penyelesaian aliran daya dengan Newton Raphson bentuk persamaan aliran daya yang
dipilih adalah polar, dimana tegangan dinyatakan dalam bentuk polar,sebagai berikut ini :

|V p|

Vp* =

Vq =

e-j

|V q|

ej

|V pq|

Pq* =

e -j

pq

Maka persamaan (3.32) dapat ditulis sebagai berikut ini :


n

Pp jQp =

|V p V q Y pq|
q=1

e j(

q+

pq)

..(3.32)

Dengan memisahkan bagian riil dan bagian imajiner maka dapat diperoleh :
n

Pp =

|V p V q Y pq|
q=1

cos ( p

+ pq ) ...(3.33)

sin ( p

+ pq ) ..(3.34)

Qp =

|V p V q Y pq|
q=1

Dengan menggunakan persamaan (3.34) dan persamaan (3.35) untuk n buah simpul dalam
system didapat 2n persamaan, sedangkan disetiap simpul ada 4 variabel. Untuk memecahkan
persoalan ini, 2n variable perlu ditentukan terlebih dahulu, sehingga 2n variable yang lain dapat
dicari dengan menggunakan 2n persamaan yang ada. Penentuan 2n variable ini dilakukan dengan
menentukan beberapa macam simpul dalam system,yaitu :
a. Simpul PQ ( Simpul Beban )

29

Pada simpul ini jumlah netto daya nyata dan daya reaktif P p dan Qp diketahui,
sedangkan yang dicari adalah

|Vp| dan sudutnya . Untuk itu, besarnya beban

PBp ditentukan berdasarkan perkiraan beban sedangkan daya yang dibangkitkan P Gp


dan QGp ditentukan besarnya. Selanjutnya
Pp = PBp PQp dan Qp = QBp QBp.
Simpul beban ( PQ ) yang murni mempunyai nilai PGp = 0 dan QGp = 0.
b. Simpul PV atau simpul Generator, atau simpul yang dayanya dapat diatur : Pada
simpul ini nilai P dan

|V |

diketahui, sedangkan yang dicari adalah nilai Q dan

.
c. Simpul Referensi ( Slack Bus )
Bedanya dengan kedua macam simpul yang terdahulu adalah bahwa pada simpul ini,
daya nyata maupun daya reaktif tidak ditentukan. Dilain pihak, yang ditentukan
adalah besarnya tegangan

|V 1|

dan sudutnya

yang biasanya ditentukan = 0,

sehingga merupakan sudut referensi bagi ketegangan dan system. Pada umumnya
dalam analisis aliran daya hanya sebuah simpul referensi.
Simpul referensi ini diperlukan karena nilai Pp dan Qp untuk setiap simpul tidak
ditentukan terlebih dahulu. Nilai P dan Q total dari system ini dapat dihitung setelah
aliran tidak dapat ditentukan terlebih dahulu. Nilai P dan Q total dari system ini dapat
dihitung setelah aliran daya antara simpul dihitung, kemudian rugi-rugi pada saluran
dihitung. Rugi-rugi pada saluran ini mempunyai nilai daya nyata Pr dan daya reaktif
Qr, hal ini selanjutnya harus diperhitungkan dengan daya nyata dan daya reaktif yang
dibangkitkan pada simpul referensi dengan persamaan sebagai berikut ini :
P = P + P P ( p 1 )
1

Bp

Gp

(3.35)
Q1 = P Bp + Pr P Qp ( p

1 )

...

(3.36)
Indeks 1 ( p = 1 ) adalah indeks bagi simpul referensi.

30

Berdasarkan uraian diatas untuk system yang terdiri dari n buah simpul, 2n
variable telah diketahui, sedangkan 2n variable yang lain harus dicari. Untuk
mencari 2n variable ini dipakai persamaan (3.33) dan persamaan (3.36)
untuk setiap simpul sehingga didapat 2n persamaan yang merupakan syarat
untuk mencari 2n variable tersebut. Hal yang merupakan syarat untuk
mencari 2n variable tersebut ialah :
Dalam metode

Newton

Raphson, variable-variabel yang harus dicari

dimisalkan dulu nilainya, jadi untuk setiap simpul ada dua variable yang
diketahui dan dua variable yang dimisalkan, kecuali untuk simpul referensi
yang akan dihitung terakhir. Kemudian digunakan persamaan (3.33) dan
persamaan (3.34) untuk menghitung nilai P dan nilai Q pada setiap simpul.
Pada setiap simpul P Q, nilai P dan nilai Q diketahui dan nilai yang diketahui
inilah yang dibandingkan dengan nilai hasil perhitungan di atas. Apabila
selisih antara nilai yang diketahui dan hasil perhitungan di atas lebih kecil
dari pada suatu nilai yang dikehendaki, maka nilai variable yang dimisalkan
tersebut di atas dapat dianggap benar. Apabila selisih tersebut lebih besar
dari nilai yang dikehendaki, maka harus dilakukan proses iterasi sampai
selisih tersebut mencapai nilai yang dikehendaki. Untuk simpul P V yang
tidak dibandingkan hanya selisih daya aktif

P saja, karena daya reaktif Q

yang diketahui, tidak ditentukan, akan merupakan hasil dari perhitungan.


Untuk simpul referensi (Slack Bus) dihitung terakhir seperti yang telah
dijelaskan. Sedangkan

adalah suatu angka yang ditentukan berdasarkan

ketelitian yang diinginkan.


3.6.3. Algoritma Perhitungan Aliran Daya dengan Metode Newton Rephson
Dalam perhitungan aliran daya dengan metode Newton Rephson, langkahlangkahnya adalah sebagai berikut ini :
A. Kebebasan-kebebasan yang diketahui :
31

1. Daya nyata P dan daya reaktif Q pada simpul P Q diketahui.


2. Daya nyata P dan besarnya tegangan |V | pada simpul P V
diketahui.
3. Besar tegangan

|V |

dan sudut fasa tegangan

dari simpul

referensi (Slack Bus) diketahui.


B. Kemudian dicoba nilai tertentu bagi besaran sebagai berikut ini :
1. Besarnya tegangan |V | beserta sudut fasa pada semua
simpul P Q.
2. Besarnya sudut fasa tegangan pada semua simpul P V.
C. Berdasarkan nilai yang dicoba tersebut pada butir B, dilakukan
perhitungan dengan menggunakan persamaan (3.33) dan persamaan
(3.34) untuk mendapatkan :
1. Nilai P dan Q yang dihitung untuk simpul-simpul P Q.
2. Nilai P yang dihitung untuk simpul P V.
D. Nilai P dan Q yang diketahui pada A dikurangi dengan nilai P dan Q
yang didapat dari perhitungan pada C disebut nilai residu dari P dan Q.

Nilai residu ini harus mendekati nol, atau <


dikehendaki

berdasarkan

suatu

ketelitian

( nilai yang

perhitungan

diinginkan). Apabila nilai residu P dan Q ini belum <

yang

, maka harus

dilakukan iterasi.
E. Proses iterasi dilakukan dengan mengkoreksi nilai yang dicoba bagi

|V | dan

seperti yang disebutkan dalam butir B.

32

3.6.4. Flowchart Aliran Daya Newton Raphson


Mulai

BENTUK ADMITANSI BUS


MISALKAN TEGANGAN BUS
(Vp(0)p = 1,2,3,p s)
ITERASI = 0
HITUNG K = K + 1
HITUNG DAYA BUS
( Pk dan Qk )

HITUNG TEGANGAN
BUS
Vpk
+ 1 Vpk + DVp

HITUNG PERUBAHAN DAYA


( DPk dan DQk )

PERIKSA
PERUBAHAN
TEGANGAN

HITUNG PERUBAHAN DAYA


( Mak DPk dan Mak DQk )
PERIKSA KONVERGENSI
( Mak DPk < S)
(Mak DQk <
S)

HITUNG ELEMEN
JACOBIAN
Tdak
HITUNG ARUS BUS
( I p(0)p = 1,2,3,p s)

Ya
HITUNG ALIRAN DAYA
33BUS
DAN DAYA SLACK
(Sp dan Spq)
DS1

Selesai

3.7. Algoritma Pemecahan Masalah


1.
2.
3.
4.
5.

Mulai.
Masukkan data : bus, power grid, generator, trafo, motor, static load dan kabel.
Cek data parameter.
Melakukan proses Aliran Daya dengan menggunakan Metode Newton Raphson.
Mengecek apakah terjadi Error Report :
a. Ya
: Cek data parameter lagi.
b. Tidak : Proses selanjutnya ( langkah 6 ).
6. Mengecek apakah Cos lebih kecil dari batas yang diijinkan.
7. Melakukan penempatan kapasitor.
8. Cetak hasil.
9. Selesai.

34

3.8. Flowchart Pemecahan Masalah


Mulai

Input data :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Bus
Power Grid
Generator
Trafo
Motor
Static Load
7. Kabel

Cek Data Parameter


Running Load Flow Newton
Raphson ( Initial
Condition )
Ya

Ada Warning ?

Running Load Flow

Memeriksa Syarat
0,87
Cos

Penempatan Kapasitor
Syarat Terpenuhi?

Cetak Hasil

Tidak

Selesai
35

BAB IV
ANALISA PENGATURAN TAP TRAFO DAN KAPASITOR UNTUK PERBAIKAN
ALIRAN DAYA REAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN SOFTWARE ETAP POWER
STATION PADA PLTU PAITON UNIT 9

4.1. Single Line PLTU PAITON PROBOLINGGO UNIT 9


Analisa yang dilakukan dengan penempatan kapasitor yaitu secara terdistribusi dan
terpusat untuk bisa menaikkan factor daya yang diinginkan, selain itu untuk perubahan
penempatan kapasitor harus juga dilakukan dengan penambahan kapasitas kapasitor untuk
menghasilkan nilai factor daya yang lebih di PLTU PAITON unit 9, salah satu cara yang
ditempuh adalah dengan cara penempatan atau menambahkan besaran kapasitas kapasitor.
ETAP Power Station merupakan program untuk menganalisis kondisi transien suatu system
kelistrikan. Dengan menggunakan softwere ETAP single line diagram bisa dimodelkan, baik
itu sebagai power grid, trafo, breaker, saluran dan beban (baik sebagai beban statis dan
dinamis).

36

Gambar 4.1. Single Line PLTU PAITON UNIT 9

37

Gambar 4.1.2. Single line PLTU PAITON Unit 9 menggunakan ETAP Power Station

38

39

40

41

42

43

44

4.3. Solusi Perbaikan Faktor Daya dengan menggunakan ETAP Power Station 7.0.0
ETAP Power Station 7.0.0 merupakan program untuk menganalisa kondisi transien suatu system
kelistrikan. ETAP Power Station memungkinkan antar muka secara grafis dan komputasi yang
sempurna dan secara langsung kita dapat menggambar single line diagram. Program ini didesain
berdasarkan tiga konsep, yaitu :

Operasi Nyata Secara Virtual ( Virtual Reality Operation )


Pengoperasian program mirip dengan pengoperasian listrik secara nyata. Seperti ketika
menutup atau membuka CB, membuat suatu elemen keluar dari rangkaian, mengganti
status operasi motor dan lain sebagainya. ETAP Power Station memiliki konsep-konsep
baru dalam menentukan koordinasi peralatan pengaman secara langsung dari single line

diagram.
Data Gabungan Total ( Total Integration of Data )
ETAP Power Station menggabungkan konsep elektrik, logika, mekanik dan fisik dari
suatu elemen system dalam database yang sama. Sebagai contoh : sebuah kabel, tidak
hanya terdiri dari data sifat-sifat listrik dan dimensi fisik, tetapi juga informasi yang
45

mengindikasikan jalur yang dilalui. Gabungan data-data ini menentukan konsistensi


system secara keseluruhan dan menghindarkan dari pemasukan data yang berulang-ulang

untuk elemen yang sama.


Kesederhanaan Dalam Memasukkan Data
ETAP Power Station menggunakan data lengkap dan setiap peralatan listrik yang kadang
hanya membutuhkan sama jenis pemasukan data. Data editor dapat mempercepat proses
memasukkan data dengan membutuhkan data minimum.

Standar yang digunakan ETAP Power Station versi 7.0.0 ada dua yaitu standar IEC dan standar
ANSI. Hal ini berdasarkan kenyataan bahwa dalam system tenaga di dunia terbagi dalam dua
satuan umum. Dalam gambar 4.2. terdapat toolbar AC Edit, DC Edit dan Instrument yang
merupakan kumpulan dari alat-alat ukur. AC Edit digunakan untuk menggambar jaringan AC,
DC Edit digunakan untuk menggambar rangkaian DC. Dimana setiap kelompok tools tersebut
terdapat bus, kabel, CB, fuse, beban dan lain sebagainya. Mode Toolbar digunakan untuk meruning program.
Analisa yang dapat dilakukan antara lain adalah analisa aliran daya, hubung singkat, motor
starting, harmonisa, stabilitas transient, koordinasi relay dan lain sebagainya. Komponen
diletakkan pada modul dengan cara klik kiri sekali pada salah satu tool yang diinginkan, lalu
diletakkan pada modul dengan klik kiri. Kemudian melakukan pengisian data dengan cara
double klik salah satu peralatan yang ada di modul yang telah terpilih untuk pengisian data
parameter maupun keterangan secara lengkap.
Factor daya tersebut merupakan nilai rata-rata dari bus system sehingga pada bus-bus lain
memungkinkan terdapat nilai factor daya yang buruk. Ini terjadi karena pada bus tersebut
terhubung beban-beban induktif dengan kapasitas yang besar yang berpeluang sangat besar pula
memperburuk nilai factor daya system. Selain itu rugi daya reaktif yang terjadi juga ditambah
oleh distorsi harmonic oleh beban-beban seperti motor induksi, komponen-komponen power
elektronik yang ada di dalam transformator maupun harmonic yang ditimbulkan oleh alat-alat
kompensasi itu sendiri. Dengan load flow analysis dalam ETAP Power Station, besar kandungan
daya reaktif bisa menjadi indikasi bahwa ada distorsi harmonic di dalamnya, tetapi dengan
menggunakan kompensasi kapasitor ini tidak begitu memberikan kontribusi yang berarti dalam
hal mereduksi distorsi harmonic. Akan lebih baik jika digunakan harmonic filter. Tetapi kedua
46

cara mengatasi permasalahan factor daya ini memiliki kelebihan masing-masing. Jika
menggunakan kapasitor biaya relative lebih murah.

BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
1. peningkatan factor daya dari 0,86 menjadi 0,90 membutuhkan kapasitor dengan kapasitas daya
sebesar 300kVar. Serta menyebabkan daya reaktif menurun dari 6,569 Mvar menjadi 5,519
Mvar.
2. terjadinya penurunan daya semu dari 13,485 MVA menjadi 13,033 MVA.
3serta mampu menurunkan rugi-rugi daya sebesar 0,004 MW.
5.2. Saran
Jika ingin dilakukan perluasan jaringan yang kemungkinan akan terjadi penambahan beban
dalam jumlah besar, maka perlu terlebih dahulu dilakukan analisa load flow agar system dapat
tetap dipertahankan dalam kondisi stabil, penyaluran daya aktif dan daya reaktif yang optimal
dan factor daya yang baik.
47

Daftar Pustaka
[1] Grainger, John J, William D. Stevenson, 1994, Power System Analysis . McGraw Hill, Inc.
Singapore.
[2] Bruce, Smith., Jos Arrilaga., 1998, ACDC Power System Analysis., Short Run Press, Ltd.,
England.
[3] Richardson, Dovald V., Arthur J. Caisse, 1996, Rotating Electric Machinery and
Transformer Technology 4th Edition., Prentice-Hall, Inc. United States of America.
[4] Harrison, J.A., The Essence of Electric Power System. Prentice Hall. Great Britain.
[5] Lister, 1993, Mesin dan Rangkaian Listrik (Terjemahan)., Erlangga, Jakarta.
[6] --------, 2000, TAP Powerstation User Guide Operation Technology.
[7] Deni, Almanda, Ir., 2000, Peranan Kapasitor dalam Penggunaan Energi Listrik.
Elektroindonesia.com.
[8] Paresh Chandra, Sen., 1996, Principles of Electric Machines and Power Electronics, 2nd
Edition, John Wiley and Sons, Inc. United States of America.

48

49

50

51