Anda di halaman 1dari 2

Terapi toxoplasmosis

1. Toxoplasmosis kongenital
Infeksi kongenital pada neonatus diterapi dengan dosis harian pyrimethamin oral
1mg/kg berat badan dan sulfadiazine 100mg/kg berat badan dengan tambahan asam folat
selama 1 tahun. Jika terdapat tanda dan gejala dari infeksi toxoplasmosis, dapat diberikan
prednisone 1 mg/kg berat badan per hari untuk infeksi kongenital.
2. Infeksi pada pasien dengan imun kompeten
Orang dewasa ataupun remaja yang memiliki system imun yang kompeten dan
hanya memiliki gejala limfadenopati tidak memerlukan terapi spesifik, kecuali terdapat
gejala berat yang persisten.
Pasien dengan toxoplasmosis okuoler diterapi selama 1 bulan dengan
pyrimethamine ditambah sulfadiazine atau clindamycin, prednisone dapat digunakan
sebagai tambahan terapi. Dosis pemberian awal yaitu pyrimethamine 50-75 mg/hari,
ditambah sulfadiazine 4-6 g/hari dalam dosis terbagi 4. Selain itu diberikan juga kalsium
folinat 10-15 mg/ hari selama 6 minggu. Semua preparat ini hanya bekerja aktif terhadap
stadium takizoit toxoplasmosis. Terapi pada toxoplasmosis ocular harus berkonsultasi
dengan ophthalmologist yang berpengalaman dalam menangani penyakit toxoplasmosis.
Penyakit pada mata ini dapat sembuh sendiri (self-limited) tanpa terapi, tetapi terapi
diperlukan untuk lesi yang berat atau pada fovea atau diskus optic yang tertutup.
3. Infeksi pada pasien dengan penurunan system imun/ immunocompromised
Profilaksis Primer
Pasien yang sistem imunnya lemah (immunocompromised) contohnya pada
pasien AIDS harus diterapi untuk toxoplasmosis akut, pada pasien immunocompromised
akan menyebabkan sakit yang fatal jika tidak diterapi. Sebelum adanya terapi
antiretrovirus (ART), waktu kelangsungan hidup rata-rata adalah> 1 tahun untuk pasien
yang bisa mentolerir pengobatan TE (toxoplasmic ensefalitis). Meskipun obat tersebut
bersifat toksik, obat yang digunakan untuk mengobati TE yang diperlukan untuk bertahan
hidup sebelum adanya ART. Insiden TE telah menurun serta kelangsungan hidup pasien
dengan infeksi HIV meningkat melalui penggunaan ART.
Di Afrika, banyak pasien yang didiagnosis dengan infeksi HIV setelah infeksi
oportunistik berkembang seperti TE. Pasien AIDS yang seropositif untuk T. gondii dan
yang memiliki jumlah hitung limfosit T CD4+ <100/L harus menerima terapi profilaksis
terhadap TE.
Trimethoprim-sulfamethoxazole (TMP-SMX) bisa menjadi alternatif yang efektif
untuk pengobatan TE jika pirimetamin + sulfadiazin tidak tersedia. Dosis harian TMPSMX direkomendasikan sebagai rejimen pilihan untuk profilaksis PCP (one-double
strength tablet) efektif terhadap TE. Jika pasien tidak dapat mentoleransi TMP-SMX,
alternatif yang disarankan adalah dapson-pyrimethamine, yang juga efektif melawan
PCP. Atovakuon dengan atau tanpa pirimetamin juga dapat dipertimbangkan. Monoterapi

profilaksis dengan dapson, pirimetamin, azitromisin, klaritromisin, atau pentamidin


aerosol mungkin tidak cukup. Pasien AIDS yang seronegatif untuk Toxoplasma dan tidak
menerima profilaksis untuk PCP harus diuji ulang untuk antibodi IgG untuk Toxoplasma
jika jumlah limfosit T CD4 + mereka turun menjadi <100 / L. Jika serokonversi telah
terjadi, maka pasien harus diberikan profilaksis seperti dijelaskan di atas.
Penghentian Primer Profilaksis
Studi saat ini menunjukkan bahwa profilaksis terhadap TE dapat dihentikan pada
pasien yang telah merespon ART dan yang jumlah hitung limfosit T CD4+ telah > 200 / L
selama 3 bulan. Meskipun pasien dengan jumlah limfosit T CD4+ <100 / L berada pada
risiko terbesar untuk terkena TE, risiko bahwa kondisi ini akan berkembang ketika
penghitungan telah meningkat menjadi 100-200 / L belum ditetapkan. Dengan demikian,
profilaksis harus dihentikan ketika jumlah telah meningkat menjadi> 200 / L.
Penghentian terapi mengurangi beban pil; potensi toksisitas obat, interaksi obat, atau
pemilihan patogen resistan terhadap obat; dan biaya. Profilaksis harus memulai kembali
jika limfosit T CD4 + hitung lagi menurun ke <100-200 / L.
Individu yang telah menyelesaikan terapi awal untuk TE harus menerima
pengobatan tanpa batas waktu kecuali pemulihan kekebalan, dengan jumlah limfosit T
CD4 + dari> 200 / L. Terapi kombinasi dengan pirimetamin dan sulfadiazin ditambah
leucovorin dapat memberikan hasil yang efektif. Alternaatif lain untuk mengganti
sulfadiazin dalam rejimen ini klindamisin.
Penghentian Profilaksis sekunder (Long-Term Maintenance Therapy)
Pasien yang menerima profilaksis sekunder untuk TE beresiko rendah untuk
kekambuhan ketika mereka telah menyelesaikan terapi awal untuk TE, tetap asimtomatik,
dan memiliki jumlah limfosit T CD4+ > 200/L selama minimal 6 bulan setelah terapi
ART. Scan otak berulang MRI dianjurkan. Profilaksis sekunder harus diperkenalkan
kembali jika jumlah limfosit T CD4 + menurun <200/L.
Sumber : Longo et all. 2012. Harrisons : Principles of Internal Medicine. 18th Edition. McGrawHill. Ebook