Anda di halaman 1dari 21

Mata Kuliah

Tarikh Tasyri

Dosen Pmbimbing
Dr. Zulkayandri, MA

SEJARAH PERKEMBANGAN
HUKUM ISLAM DI INDONESIA I
Disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Tarikh Tasyri

UIN SUSKA RIAU

OLEH :
AHMAT YANI : 11121102996
NUR YASIN
: 11121101111
FENI FEBIANA : 11121202699

JURUSAN AHWAL AL SYAKHSIYAH


FAKULTAS SYARIAH DAN ILMU HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ( UIN )
SULTAN SYARIF KASIM RIAU
PEKANBARU
2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur diucapkan kehadirat Allah Swt. Yang telah memberikan rahmat
dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas tarikh tasyri dengan
judul sejarah perkembangan hukum islam di indonesia. Semoga dengan hadirnya
makalah ini dapat menambah ilmu pengetahuan kita.
Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad Saw.
yang telah merubah tatana hidup yang tidak terarah menjadi terarah.
Penulis mengucapakan kepada Rekan dan rekanita yang telah banyak
membantu dalam penyelesaian tugas ini, sehingga penulisan ini dapat diselesaikan
dengan cepat waktu. Penulis juga mengharap kritik dan saran yang bersifat
membagun dari parapembaca.

Pekanbaru, 05 Mei 2012

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................

DAFTAR ISI .................................................................................................

ii

BAB I

: PENDAHULUAN ..............................................................

BAB II

: PEMBAHASAN .................................................................

A. Hukum Islam Pada Masa Pra Penjajahan Belanda ...........................

B. Hukum Islam Pada Masa Penjajahan Belanda ..................................

C. Hukum Islam Pada Masa Penjajahan Jepang ....................................

D. Tokoh Tokoh Islam di Indonesia ...................................................

BAB III

: KESIMPULAN DAN SARAN ..........................................

17

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................

18

BAB I
PENDAHULUAN

Tidak dapat dipungkiri bahwa umat Islam di Indonesia adalah unsur paling
mayoritas. Dalam tataran dunia Islam internasional, umat Islam Indonesia bahkan
dapat disebut sebagai komunitas muslim paling besar yang berkumpul dalam satu
batas teritorial kenegaraan. Karena itu, menjadi sangat menarik untuk memahami
alur perjalanan sejarah hukum Islam di tengah-tengah komunitas Islam terbesar di
dunia itu. Pertanyaan-pertanyaan seperti: seberapa jauh pengaruh kemayoritasan
kaum muslimin Indonesia itu terhadap penerapan hukum Islam di Tanah Air.
misalnya, dapat dijawab dengan memaparkan sejarah hukum Islam sejak komunitas
muslim hadir di Indonesia.
Di samping itu, kajian tentang sejarah hukum Islam di Indonesia juga dapat
dijadikan sebagai salah satu pijakan bagi umat Islam secara khusus- untuk
menentukan strategi yang tepat di masa depan dalam mendekatkan dan
mengakrabkan bangsa ini dengan hukum Islam. Proses sejarah hukum Islam yang
diwarnai benturan dengan tradisi yang sebelumnya berlaku dan juga dengan
kebijakan-kebijakan politik-kenegaraan, serta tindakan-tindakan yang diambil oleh
para tokoh Islam Indonesia terdahulu setidaknya dapat menjadi bahan telaah penting
di masa datang. Setidaknya, sejarah itu menunjukkan bahwa proses Islamisasi sebuah
masyarakat bukanlah proses yang dapat selesai seketika.
Untuk itulah tulisan ini kami hadirkan dengan tujuan untuk melngkapi tugas
matakuliah tarikh tasyri dan juga dapat memberikan informasi mengenai
perkembangan Hukum Islam di indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN
SEJARAH PERKEMBANGAN HUKUM ISLAM DI INDONESIA I

A. Hukum Islam pada Masa Pra Penjajahan Belanda


Akar sejarah hukum Islam di kawasan nusantara menurut sebagian
ahli sejarah dimulai pada abad pertama hijriyah, atau pada sekitar abad
ketujuh dan kedelapan masehi.1 Sebagai gerbang masuk ke dalam kawasan
nusantara, kawasan utara pulau Sumatera-lah yang kemudian dijadikan
sebagai titik awal gerakan dakwah para pendatang muslim. Secara perlahan,
gerakan dakwah itu kemudian membentuk masyarakat Islam pertama di
Peureulak, Aceh Timur. Berkembangnya komunitas muslim di wilayah itu
kemudian diikuti oleh berdirinya kerajaan Islam pertama di Tanah air pada
abad ketiga belas. Kerajaan ini dikenal dengan nama Samudera Pasai. Ia
terletak di wilayah Aceh Utara.2
Pengaruh dakwah Islam yang cepat menyebar hingga ke berbagai
wilayah nusantara kemudian menyebabkan beberapa kerajaan Islam berdiri
menyusul berdirinya Kerajaan Samudera Pasai di Aceh. Tidak jauh dari Aceh
berdiri Kesultanan Malaka, lalu di pulau Jawa berdiri Kesultanan Demak,
Mataram dan Cirebon, kemudian di Sulawesi dan Maluku berdiri Kerajaan
Gowa dan Kesultanan Ternate serta Tidore.
Kesultanan-kesultanan tersebut, sebagaimana tercatat dalam sejarahitu tentu saja kemudian menetapkan hukum Islam sebagai hukum positif yang
berlaku. Penetapan hukum Islam sebagai hukum positif di setiap kesultanan

1 Sebagaimana disebutkan dalam Ramly Hutabarat, Kedudukan Hukum Islam dalam


Konstitusi-konstitusi Indonesia dan Peranannya dalam Pembinaan Hukum Nasional, Pusat Studi
Hukum Tata Negara Universitas Indonesia, Jakarta, Mei 2005, hal. 61. Sementara itu Bahtiar Effendy
menyebutkan bahwa Islam mulai diperkenalkan di wilayah nusantara pada akhir abad 13 dan awal
abad 14 Masehi. Kesimpulan ini sangat mungkin didasarkan pada fakta bahwa kesultanan Islam
pertama, Samudra Pasai, berdiri pada kisaran waktu tersebut. Lih. Bahtiar Effendy, Islam dan Negara;
Transformasi Pemikiran dan Praktik Politik Islam di Indonesia, Paramadina, Jakarta, Oktober 1998,
hal. 21.
2 Ramly Hutabarat, Kedudukan Hukum Islam dalam Konstitusi-konstitusi Indonesia, op.cit.,
hal. 61

tersebut tentu saja menguatkan pengamalannya yang memang telah


berkembang di tengah masyarakat muslim masa itu. Fakta-fakta ini
dibuktikan dengan adanya literatur-literatur fiqh yang ditulis oleh para ulama
nusantara pada sekitar abad 16 dan 17.3 Dan kondisi terus berlangsung hingga
para pedagang Belanda datang ke kawasan nusantara.

B. Hukum Islam pada Masa Penjajahan Belanda


Cikal bakal penjajahan Belanda terhadap kawasan nusantara dimulai
dengan kehadiran Organisasi Perdagangan Dagang Belanda di Hindia Timur,
atau yang lebih dikenal dengan VOC. Sebagai sebuah organisasi dagang,
VOC dapat dikatakan memiliki peran yang melebihi fungsinya. Hal ini sangat
dimungkinkan sebab Pemerintah Kerajaan Belanda memang menjadikan
VOC sebagai perpanjang tangannya di kawasan Hindia Timur. Karena itu
disamping menjalankan fungsi perdagangan, VOC juga mewakili Kerajaan
Belanda dalam menjalankan fungsi-fungsi pemerintahan. Tentu saja dengan
menggunakan hukum Belanda yang mereka bawa.
Badan peradilan di Hindia Belanda ( menurut Reglement op De
Rechterlijke Organisatie 1847 ) badan peradilan tersebut antara lain :
1.

Districtsgerecht
Adalah

suatu

badan

pengadilan

yang

diselengggarakan

di

kawedanan-kawedanan untuk orang pribumi, dengan wedana


(pejabat pemerintahan yang berkedudukan langsung di bawah
Bupati) ertindak sebagai hakim dalam perkara-perkara perdata
berkenaan dengan objek sengketa tak lebih dari 20 gulden, dan
dalam perkara-perkara pelanggaran yang diancam pemidanaan denda
setinggi-tingginya 3 gulden.

2.

Regentschapsgerecht

3 Ibid., hal. 61-62.

Adalah suatu badan pengadilan yang diselenggarakan di kabupatenkabupaten untuk orang-orang pribumi, dengan bupati atau wakilnya (
patih ) bertindak sebagia hakim.
3.

Landraad
Adalah badan-badan pengadilan sehari-hari yang normal untuk
orang-orang pribumi kebanyakan.

4.

Rechtbank van Ommegang


Adalah juga suatu badan pengadilan untuk orang-orang pribumi
yang telah dikenal pada zaman Raffles, disebut Court of Circuit pada
waktu itu, dimana sistem juri ditiadakan. Sidangnya terdiri dari
empat orang hakim pribumi yang berasal dari kepala-kepala
masyarakat setempat yang diangkat oleh Gubernur Jenderal dengan
pertimbangan-pertimbangan dari Hooggerechtshoff.

5.

Rechtsspraak ter Politierol


Adlah suatu badan pengadilan untuk perkara-perkara sumir yang
tidak masuk ke dalam yurisdiksi Landraad atau Rechtsbank van
Ommegang.

6.

Residentiegerecht
Adalah suatu badan pengadilan pemerintah kolonial yang secara
eksklusif akan memeriksa dan memutusi dalam tingkat pertama
perkara-perkara orang Eropa atau yang menjejaskan orang-orang
Eropa, baik dalam perkara perdata maupun dalam perkara pidana
yang sifatnya ringan atau sederhana.

7.

Raad van Justitie


Adalah badan pengadilan yang sebagai suatu lembaga peradilan
untuk orang-orang Eropa, terbilang paling tua.

8.

Hooggerechtshoff
Adalah badan pengadilan yang berkedudukan tertinggi dalam hirarki
peradilan kolonial, dan berkompetensi sebagai badan pengadilan
kasasi untuk semua keputusan Landraad dalam perkara-perkara

perdata dan badan pengadilan banding untuk keputusan-keputusan


tingkat pertama yang dibuat oleh Raad van Justitie.4

Dalam kenyataannya, penggunaan hukum Belanda itu menemukan


kesulitan. Ini disebabkan karena penduduk pribumi berat menerima hukumhukum yang asing bagi mereka. Akibatnya, VOC pun membebaskan
penduduk pribumi untuk menjalankan apa yang selama ini telah mereka
jalankan.5
Kaitannya dengan hukum Islam, dapat dicatat beberapa kompromi yang
dilakukan oleh pihak VOC, yaitu:
1. Dalam Statuta Batavia yag ditetapkan pada tahun 1642 oleh VOC,
dinyatakan bahwa hukum kewarisan Islam berlaku bagi para pemeluk
agama Islam.
2. Adanya upaya kompilasi hukum kekeluargaan Islam yang telah
berlaku di tengah masyarakat. Upaya ini diselesaikan pada tahun
1760. Kompilasi ini kemudian dikenal dengan Compendium Freijer.
3. Adanya upaya kompilasi serupa di berbagai wilayah lain, seperti di
Semarang, Cirebon, Gowa dan Bone. Di Semarang, misalnya, hasil
kompilasi itu dikenal dengan nama Kitab Hukum Mogharraer (dari
al-Muharrar). Namun kompilasi yang satu ini memiliki kelebihan
dibanding Compendium Freijer, dimana ia juga memuat kaidahkaidah hukum pidana Islam.6
Pengakuan terhadap hukum Islam ini terus berlangsung bahkan
hingga menjelang peralihan kekuasaan dari Kerajaan Inggris kepada Kerajaan
Belanda kembali. Setelah Thomas Stanford Raffles menjabat sebagai
gubernur selama 5 tahun (1811-1816) dan Belanda kembali memegang
kekuasaan terhadap wilayah Hindia Belanda, semakin nampak bahwa pihak
Belanda berusaha keras mencengkramkan kuku-kuku kekuasaannya di

4 http://sosiologihuku.blogspot.com/2009/09/sejarah-hukum-dan-sistem-peradilandi_7382.html
5 Ramly Hutabarat, Kedudukan Hukum Islam dalam Konstitusi-konstitusi Indonesia, op.cit.,
hal. 63-64
6 Ibid., hal. 64-66.

wilayah ini. Namun upaya itu menemui kesulitan akibat adanya perbedaan
agama antara sang penjajah dengan rakyat jajahannya, khususnya umat Islam
yang mengenal konsep dar al-Islam dan dar al-harb. Itulah sebabnya,
Pemerintah Belanda mengupayakan ragam cara untuk menyelesaikan
masalah itu. Diantaranya dengan (1) menyebarkan agama Kristen kepada
rakyat pribumi, dan (2) membatasi keberlakuan hukum Islam hanya pada
aspek-aspek batiniah (spiritual) saja.7
Bila ingin disimpulkan, maka upaya pembatasan keberlakuan hukum
Islam oleh Pemerintah Hindia Belanda secara kronologis adalah sebagai
berikut:
1. Pada pertengahan abad 19, Pemerintah Hindia Belanda melaksanakan
Politik Hukum yang Sadar; yaitu kebijakan yang secara sadar ingin
menata kembali dan mengubah kehidupan hukum di Indonesia dengan
hukum Belanda.8
2. Atas dasar nota disampaikan oleh Mr. Scholten van Oud Haarlem,
Pemerintah Belanda menginstruksikan penggunaan undang-undang
agama,

lembaga-lembaga

dan kebiasaan

pribumi dalam

hal

persengketaan yang terjadi di antara mereka, selama tidak


bertentangan dengan asas kepatutan dan keadilan yang diakui umum.
Klausa terakhir ini kemudian menempatkan hukum Islam di bawah
subordinasi dari hukum Belanda.9
3. Atas dasar teori resepsi yang dikeluarkan oleh Snouck Hurgronje,
Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1922 kemudian membentuk
komisi untuk meninjau ulang wewenang pengadilan agama di Jawa
dalam memeriksa kasus-kasus kewarisan (dengan alasan, ia belum
diterima oleh hukum adat setempat). 10
4. Pada tahun 1925, dilakukan perubahan terhadap Pasal 134 ayat 2
Indische Staatsregeling

(yang isinya sama dengan Pasal 78

7 Ramly Hutabarat, Kedudukan Hukum Islam Konstitusi-konstitusi Indonesia, op.cit., hal. 6768.
8 Ibid., hal. 68.
9 Ibid., hal. 68-70.
10 Ibid., hal. 70.

Regerringsreglement), yang intinya perkara perdata sesama muslim


akan diselesaikan dengan hakim agama Islam jika hal itu telah
diterima oleh hukum adat dan tidak ditentukan lain oleh sesuatu
ordonasi.11
Lemahnya posisi hukum Islam ini terus terjadi hingga menjelang
berakhirnya kekuasaan Hindia Belanda di wilayah Indonesia pada tahun
1942.

C. Hukum Islam pada Masa Pendudukan Jepang


Setelah Jendral Ter Poorten menyatakan menyerah tanpa syarat
kepada panglima militer Jepang untuk kawasan Selatan pada tanggal 8 Maret
1942, segera Pemerintah Jepang mengeluarkan berbagai peraturan. Salah
satu diantaranya adalah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1942, yang
menegaskan bahwa Pemerintah Jepag meneruskan segala kekuasaan yang
sebelumnya dipegang oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda. Ketetapan baru
ini tentu saja berimplikasi pada tetapnya posisi keberlakuan hukum Islam
sebagaimana kondisi terakhirnya di masa pendudukan Belanda.12
Meskipun demikian, Pemerintah Pendudukan Jepang tetap melakukan
berbagai kebijakan untuk menarik simpati umat Islam di Indonesia.
Diantaranya adalah:
1. Janji Panglima Militer Jepang untuk melindungi dan memajukan
Islam sebagai agama mayoritas penduduk pulau Jawa.
2. Mendirikan Shumubu (Kantor Urusan Agama Islam) yang dipimpin
oleh bangsa Indonesia sendiri.
3. Mengizinkan berdirinya ormas Islam, seperti Muhammadiyah dan
NU.

11 Ramly Hutabarat, Kedudukan Hukum Islam dalam Konstitusi-konstitusi Indonesia, op.cit.,


hal. 72. Sebagaimana terlihat dengan jelas bahwa perubahan ini juga sangat dipengaruhi oleh Teori
Receptio Snouck Hurgronje.
12 Ibid., hal. 76.

4. Menyetujui berdirinya Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi)


pada bulan oktober 1943.13
5. Menyetujui berdirinya Hizbullah sebagai pasukan cadangan yang
mendampingi berdirinya PETA.
6. Berupaya memenuhi desakan para tokoh Islam untuk mengembalikan
kewenangan Pengadilan Agama dengan meminta seorang ahli hukum
adat, Soepomo, pada bulan Januari 1944 untuk menyampaikan
laporan tentang hal itu. Namun upaya ini kemudian dimentahkan
oleh Soepomo dengan alasan kompleksitas dan menundanya hingga
Indonesia merdeka.14
Dengan demikian, nyaris tidak ada perubahan berarti bagi posisi
hukum Islam selama masa pendudukan Jepang di Tanah air. Namun
bagaimanapun juga, masa pendudukan Jepang lebih baik daripada Belanda
dari sisi adanya pengalaman baru bagi para pemimpin Islam dalam mengatur
masalah-masalah keagamaan. Abikusno Tjokrosujoso menyatakan bahwa,
Kebijakan pemerintah Belanda telah memperlemah posisi Islam.
Islam tidak memiliki para pegawai di bidang agama yang terlatih di masjidmasjid atau pengadilan-pengadilan Islam. Belanda menjalankan kebijakan
politik yang memperlemah posisi Islam. Ketika pasukan Jepang datang,
mereka menyadari bahwa Islam adalah suatu kekuatan di Indonesia yang
dapat dimanfaatkan.15
D. Tokoh tokoh Islam di Indonesia
Di Indonesia terdapat banyak tokoh muslim yang mempunyai
keahlian di berbagai bidang seperti agama, pendidikan, politik, dan sosial.
Mereka memberi andil yang besar bagi perkembangan Islam dan bangsa
Indonesia. Berikut ini adalah nama, masa hidup, dan ketokohan para tokoh
Islam Indonesia abad XIX-XX.
13 Mengenai apakah Masyumi versi ini merupakan asal-usul Partai Masyumi di kemudian
hari, lihat Bahtiar Effendy, Islam dan Negara, op.cit., hal. 93, catatan kaki no.105.
14 Ramly Hutabarat, Kedudukan Hukum Islam dalam Konstitusi-konstitusi Indonesia, op.cit.,
hal. 76-79.
15 Daniel S.Lev, Islamic Courts in Indonesia, hal. 34, sebagaimana dinukil dari Bahtiar
Effendy, Islam dan Negara, op.cit., hal. 83.

NAMA

MASA_HIDUP

KETOKOHAN

Abbas Abdullah

1883-1957

Ulama dan tokoh pendidikan di


Minangkabau (Sumatera Barat)

Abdul Halim

1887-1962

Ulama, tokoh pembaru di bidang


kemasyarakatan dan pendidikan dari
Jawa Barat

Abdul Hamid
Hakim

1893-1959

Ulama dan tokoh pendidikan Islam


Sumatera Barat

Abdul Karim
Amrullah

1879-1945

Ulama dari Minangkabau, Sumatera


Barat, dan salah seorang perintis
majalah

Abdul Malik
Fadjar

1939

Menteri Agama Kabinet Reformasi


Pembangunan (1998-1999 dan menteri

Abdullah Ahmad

1878-1933

Ulama, tokoh pembaru pendidikan


Islam Sumatera Barat

Abdullah bin Nuh

1905-1987

Ulama, sastrawan, penulis, pendidik,


dan pejuang dari Cianjur, Jawa Barat

Abdullah Syafi'i

1910-1985

Ulama Betawi, pendiri lembaga asySyafi'iah

Abdurrahman
Siddiq al-Banjari

1857-1939

Ulama, pendidik, mufti Kerajaan


Indragiri, penulis, dan guru di
Masjidilharam, Mekah

1940

Cendekiawan, ketua umum


Tanfidziyah PBNU (1994-1999), dan
Presiden ke-4 RI, Pendiri PKB (Partai
Kebangkitan Bangsa)

Abu Bakar Atjeh

1909-1979

Ulama, penulis buku islam, filsafat,


tasawuf, sejarah, dan kebudayaan
Aceh

Achmad Siddiq

1926-1991

Ulama, Rais Am Syuriah NU (19851991), dan pemimpin Ponpes as-

Abdurrahman
Wahid

Siddiqiyah
Achmad
Tirtosudiro

1922

Ketua Umum ICMI (1997-2000),


cendekiawan, dan ketua DPA (19992003)

Agus Salim

1884-1954

Intelektual, pemimpin politik,


diplomat, pejuang Islam asal Sumatera
Barat

Ahmad Dahlan

1868-1923

Pendiri Muhammadiyah, anggota Budi


Utomo, Jam'iat Khair, dan Sarekat
Islam

Ahmad Hassan

1883-1958

Ulama dan politikus Persatuan Islam


(Persis) dan Masyumi

Ahmad Khatib alMinangkabawi

w. 1916

Ahli fikih, ahli hukum Islam, dan


ulama Minangkabau (Sumatera Barat)

Ahmad Sanusi

1888-1950

Tokoh partai Sarekat Islam (SI) dan


pendiri al-Ittihadiat al-Islamiyah, Jawa
Barat

Ahmad Soorkati

1874-1943

Ulama, pendidik, dan pendiri al-Irsyad

Ahmad Syaikhu

1921-1995

Tokoh politik NU dan pendiri Ponpes


al-Hamidiyah, Depok (Jawa Barat)

Alamsjah Ratu
Perwiranegara

1925-1998

Menteri Agama RI Kabinet


Pembangunan III (1978-1983)

Ali Akbar

1915-1994

Ilmuwan dan dokter Muslim

Ali Hasjmy

1914-1998

Ulama, tokoh Pujangga Baru, dan


mantan Gubernur DI Aceh
Ulama, pengasuh Ponpes alMunawwir Krapyak (DIY), dan Rais
AM

Ali Maksum

1915-1989

Ali Yafie

1926

Ulama, cendekiawan, dan pengurus


MUI serta ICMI Pusat

Amien Rais,

1944

Ketua Umum PP Muhammadiyah

(1995-2000), Pendiri Partai Amanat


Nasional (PAN), Ketua MPR (19992004)

Mohammad

1908-1972

Ulama, mubalig, dan pejuang dari


Sumatera Utara

As'ad Syamsul
Arifin

1897-1990

Ulama, tokoh NU, dan pemimpin


Ponpes Salafiyah Syafi'iayh,
Situbondo (Jawa Timur)

Azhar Basyir,
Ahmad

1928-1994

Ulama, cendekiawan, ahli fikih, dosen


filsafat Islam UGM, dan ketua umum

Bustami Abdul
Gani

1912

Ulama dan cendekiawan muslim, dan


guru besar IAIN Syarif Hidayatullah,
Jakarta

Deliar Noer

1926

Pemimpin Parta Umat Islam, rektor


IKIP Jakarta (167-1974), dan ahli ilmu
politik

Diponegoro,
Pangeran

1785-1855

Ulama, pangeran Kesultanan


Yogyakarta, dan mujahid (pejuang)
melawan

Fakhruddin,
Abdur Rozzaq

1916-1995

Ulama dan ketua PP Muhammadiyah


(1968-1990)

1904-1968

Tokoh Muhammadiyah, Menteri


Agama pada Kabinet RI XI dan
Kabinet XV

Habibie, B.J.

1936

Cendekiawan, ketua umum ICMI


(1992-2000), menteri Riset dan
teknologi

Hadikusumo, Ki
Bagus

1890-1954

Ulama, peimpinan Muhammadiyah,


anggota BPUPKI, PPKI, dan KNIP

HAMKA

1908-1981

Ulama, sastrawan, mubalig, dan


penulis Tafsir al-Azhar

Hamzah Haz

1940

Ketua Umum PPP, dan wakil presiden


RI (2001-2004)

Arsyad Thalib
Lubis

Faqih Usman, M.

Harun Nasution

1919-1998

Guru besar filsafat Islam IAIN Jakarta


dan pembaru pemikiran rasional umat
Islam

Hasan Basri

1920-1998

Ulama, mubalig, dan ketua umum


MUI (1985-1995)

Hasan Mustafa

1852-1930

Ulama, pujangga, dan penulis guritan


agama dan tasawuf dari Jawa Barat

Hasbi ashShiddieqy

1904-0975

Ulama, ahli fikih, hadis, tafsir, dan


ilmu kalam dari Aceh

Hasyim Asy'ari

1871-1947

Ulama, perintis NU, dan pendiri


Ponpes Tebuireng

Hasyim Muzadi

1944

Ketua umum PBNU mulai 1999

Hatta,
Mohammad

1902-1980

Cendekiawan muslim, ahli ekonomi,


proklamator, dan wakil presiden RI
pertama

Hazairin Gelar
Pangeran
Alamsyah

1906-1975

Intelektual muslim, ahli hukum Islam,


dan hukum adat istiadat Indonesia

Hidayat Nur
Wahid

1960

Intelektual muslim, ketua MPR RI


periode 1999-2004

Ibrahim Hosen

1917-2001

Ulama fikih, pemrakarsa dan rektor


(1971-1977) PTIQ dan IIQ di Jakarta

Idham Chalid

1921-2004

Tokoh NU, ketua PPP (1973), ketua


DPR/MPR RI (1971-1977), ketua
DPA

Ilyas Ruchiyat

1934

Ulama dan Rais Am Syuriah PBNU


(1992-1999)

Imam Bonjol,
Tuanku

1772-1864

Imam Zarkasyi

1910-1986

Ulama dan pemimpin Perang Paderi


melawan Belanja

Ulama dan salah seorng pendiri


Pondok Modern Gontor

Isa An Anshari,
Muhammad

1916-1969

Ulama dan politikus Indonesia dari


Maninjau, Sumatera Barat

Ismail al-Khalidi
an-Naqsyabandi

1811-1926

Ulama, penyebar Tarekat


Naqsyabandiyah di Sumatera dan
Semenanjung Malaka

Ismail Hasan
Metareum

1929-2005

Ketua umum PPP (1984-1994 dan


1994-1999) dan ketua umum HMI
(1957-1960)

Jambek,
Muhammad Jamil

1860-1947

Pelopor pembaru Islam di


Minangkabau dan ahli ilmu falak

Jambek,
Sa'adoedin

1911-1977

Guru, ahli ilmu hisab dan rukyat


Indonesia

Jassin, Hans
Bague

1917-2000

Kritikus, sastra dan sastrawan


Indonesia

Kahar Muzakkir,
Abdul

1908-1973

Intelektual, tokoh Muhammadiyah dan


Masyumi, anggota BPUPKI dan
Konstituante

Lukman Harun

1934-1999

Tokoh Muhammadiyah dan


cendekiawan muslim dari
Payakumbuh, Sumatera Barat

Mahmud Yunus

1899-1982

Tokoh pendidikan dan pemrakarsa


PTAIN (Perguruan Tinggi Agama
Islam Negeri)

Mas Mansur

1896-1946

Ulama dan ketua umum PB


Muhammadiyah (1936-1942)

Masykur

1902-1992

Toko NU dan menteri Agama RI


selama empat periode

Mohamad Roem

1908-1983

Tokoh agama dan politikus

Mukti Ali, A.

1923-2004

Menteri Agama RI Kabinet


Pembangunan I dan Kabinet
Pembangunan II

Munawir Sjadzali

1925-2004

Menteri Agama RI Kabinet


Pembangunan IV dan Kabinet

Pembangunan V
Natsir,
Mohammad

1908-1993

Ulama, negarawan, dan politikus


muslim

Nurcholish Madjid

1939-2005

Cendekiawan muslim, tokoh


pembaruan Islam, dan pendiri Ponpes
al-Furqan

Pabbaja,
Muhammad
Abduh

1928

Ulama, pembina Dar ad-Dakwah wa


al-Irsyad (DDI), dan pendiri Ponpes
al-Furqon

Palimokayo,
Mansoer Daoed
Datuk

1905-1985

Ulama, toko adat Minangkabau,dan


diplomat Indonesia

Prawoto
Mangkusasmito

1910-1970

Tokoh politik dan pendidikan dari


Magelang, Jawa Tengah

Quraish Shihab,
Muhammad

1944

Ulama, cendekiawan, ahli tafsir AlQur'an, rektor dan guru besar


IAIN/UIN

Rahmah elYunusiyyah

1900-1969

Tokoh pendidikan, pendiri Madrasah


Diniyah Puteri di Sumatera Barat, dan

Raja Ali Haji

1809-1870

Ulama dan sastrawan Melayu dari


Riau

Rasjidi,
Mohammad

1915-2002

Filsuf, ulama, guru besar, dan menteri


Agama RI ke-1

Rasuna Said, H.R.

1910-1965

Pendidik, pejuang, dan pahlawan


nasional

Rohana Kudus

1884-1972

Perintis pergerakan wanita Islam dan


wartawati

Sahal Mahfudz

1937

Rais Am Syuriah PBNU (1999), ketua


umum Dewan Pimpinan MUI (2000-)

Saifuddin Zuhri

1919-1986

Kiai, pendidik, ulama, aktivis sosialpolitik NU, dan menteri Agama RI


selama lima

Saleh Darat
Semarang,
Muhammad

1820-1903

Ulama dari Jawa Tengah dan pelopor


penerjemahan Al-Qur'an bahasa Jawa

Samanhudi

1868-1956

Pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI) di


Solo, Jawa Tengah

Singodimedjo,
Kasman

1904-1982

Pejuang dan politikus Islam dari


Purworejo, Jawa Tengah

Subchan Z.E.

1931-1973

Tokoh pembaru politik NU dari


Malang, Jawa Timur

Sulaiman arRasuli

1871-1970

Ulama ahlusunah wal jamaah dan


mazhab syafi'I dan pemimpin tarekat

Sutan Mansur,
Ahmad Rasyid

1895-1985

Ulama dan tokoh Muhammadiyah dari


Sumatera Barat

Syafi'I Ma'arif, A.

1935

Sejarawan, ketua PP Muhammadiyah


(sejak 2000)

Syarifuddin
Prawiranegara

1911-1989

Politikus muslim, negarawan, dan


pemimpin Pemerintah Darurat
Republik

Tajul Arifin,
Sahibul Wafa'

1915

Pemimpin Pesantren Suralaya,


Tasikmalaya, Jawa Barat

Tarmizi Taher

1936

Dai, menteri Agama Kabinet


pembanguan VI (1998-1998), perwira
TNI-AL

Taufik Abdullah

1936

Sejarawan, peneliti, dan ketua LIPI


(2000-2003)

Thaib Umar,
Muhammad

1874-1920

Ulama pembaru dan tokoh pembaruan


pendidikan Islam dari Sumatera Barat

Tjokroaminoto,
Oemar Said

1882-1934

Tokoh pergerakan Indonesia dan


pemimpin sarekat Islam

Wahab Hasbullah,

1888-1971

Ulama Jawa Timur, pendiri NU, dan

pengasuh Ponpes Tambakberas,


Jombang

Abdul

Wahid Hasyim,
Abdul

1914-1953

Ulama, tokoh NU, dan menteri Agama


pada tiga kabinet (1949-19520
Pemimpin pesantren di Singaparna,
Jawa Barat, dan pejuan pada masa

Zaenal Mustofa

1907-1944

Zainal Muttaqien,
Engkin

1925-1985

Ulama, mubaliq, pendidik, dan


cendekiawan Islam

Zainuddin M.Z.

1951

Ulama, dai "sejuta umat", dan ketua


Partai Bintang Reformasi

Zakiah Daradjat

1929

Ahli pendidikan Islam, guru besar


psikoterapi IAIN Jakarta, dan
intelektual muslim 16

16 http://al-quran.bahagia.us/_q.php?_q=sihab&dft=&dfa=&dfi=&dfq=&u2=&ui=1&nba=100

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Akar sejarah hukum Islam di kawasan nusantara menurut sebagian
ahli sejarah dimulai pada abad pertama hijriyah, atau pada sekitar abad
ketujuh dan kedelapan masehi. Sebagai gerbang masuk ke dalam kawasan
nusantara, kawasan utara pulau Sumatera-lah yang kemudian dijadikan
sebagai titik awal gerakan dakwah para pendatang muslim. Pengaruh dakwah
Islam yang cepat menyebar hingga ke berbagai wilayah nusantara kemudian
menyebabkan beberapa kerajaan Islam berdiri menyusul berdirinya Kerajaan
Samudera Pasai di Aceh. Tidak jauh dari Aceh berdiri Kesultanan Malaka,
lalu di pulau Jawa berdiri Kesultanan Demak, Mataram dan Cirebon,
kemudian di Sulawesi dan Maluku berdiri Kerajaan Gowa dan Kesultanan
Ternate serta Tidore.
B. SARAN
Dengan hadirnya tugas ini di hadapan para pembaca semoga bisa
memberikan informasi tentang posisi hukum islam yang ada di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

______Ramly Hutabarat, Kedudukan Hukum Islam dalam Konstitusi-konstitusi


Indonesia dan Peranannya dalam Pembinaan Hukum Nasional, Pusat Studi Hukum
Tata Negara Universitas Indonesia, Jakarta, 2005.
______http://sosiologihuku.blogspot.com/2009/09/sejarah-hukum-dan-sistemperadilan-di_7382.html
______Bahtiar Effendy, Islam dan Negara; Transformasi Pemikiran dan Praktik
Politik Islam di Indonesia, Paramadina, Jakarta, Oktober 1998,
______http://alquran.bahagia.us/_q.php?_q=sihab&dft=&dfa=&dfi=&dfq=&u2=&ui
=1&nba=100