Anda di halaman 1dari 7

ANALISIS KUANTITATIF ANTIBIOTIK AMOKSISILIN

DENGAN METODE IODIMETRI


Marisa Dwi Ariani , Novia Bayu Kartika , Henny Aryani ,
Syifa Afifah Latief , Dinda Arditta

dinda13021@mail.unpad.ac.id

Laboratorium Analisis Farmasi


Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran,
Sumedang, Jawa Barat, Indonesia
Abstrak
Iodometri merupakan suatu metode analisis kimia volumetric, titrasi redoks dimana titik
akhirnya ditentukan dari munculnya atau menghilangnya iodine. Penentuan kadar didasarkan
reaksi oksidasi reduksi yang dilakukan dengan titrasi tidak langsung iodin dioksidasi dengan
larutan baku dalam jumlah berlebih dan kelebihannya dititrasi dengan larutan baku natrium
tiosulfat. Pada percobaan ini akan dilakukan analisis senyawa turunan antibiotik yakni
amoksisilin yang selanjutnya akan ditentukan kadarnya dengan menggunakan metode
iodometri. Amoksisilin direaksikan dengan iodin dengan penambahan NaOH dan HCl
terlebih dahulu, dan kemudian dititrasi dengan natrium tiosulfat 0,01 N hingga berwarna
kuning muda dan setelah diteteskan pasta KI-kanji, dan dititrasi kembali hingga bening. Dari
percobaan ini didapatkan bahwa kadar dari tablet amoksisilin adalah 74,63%.
Kata kunci: titrasi, potensiometri, iodometri, redoks, amoksisilin
Abstract
Iodometry is a method of volumetric chemical analysis, a redox titration where the
appearance or disappearance of elementary iodine indicates the end point. The
determination of the levels is based on redox reaction that involves indirect titration of iodine
liberated by reaction with the analyte and the excess of the iodine is titrated with the
standard solution sodium thiosulfate. In this experiment, the concentration or levels of
amoxicillin is determined using the iodometry method. Amoxicillin is reacted with iodine with
the addition of NaOH and HCl, and then the mixture is titrated with sodium thiosulfate 0,01
N until the mixture become yellow, then potassium-iodide paste is added, and the mixture is
titrated again until the mixture become clear. The concentration of amoxicillin tablet is
74.63%.
1

Keywords: titration, potentiometry, iodometry, redox, amoxicillin


tablet.

PENDAHULUAN
Amoksisilin

dilakukan dengan beberapa cara,


diantaranya

memiliki spektrum luas. Penisilin


merupakan

salah

penisiin

adalah

yang

anak-anak.

Iodometri adalah salah satu


titrasi redoks yang menggunakan

Amoksisilin

puluh

gastrointestinal.
persen

diekskresikan
Dalam

dari

iod dan iodida sebagai oksidator

ke

dalam

penggunaannya,

klavulanat

seringkali

bersamaan

dengan

dan reduktor. Sesuai namanya,

Tujuh

obat

titrasi redoks merupakan titrasi

ini

yang melibatkan reaksi reduksi

urin.

dan

asam

dapat

pemecahan

merupakan

amoksisilin.

enzim

bilangan

bersifat

bakterisidal

ini

dinding

menghambat
sel

bakteri

membuat

bakteri

akhirnya

mengalami

suatu

reaksi

dalamnya

terjadi

kenaikan

oksidasi

(Khopkar,

yang

tersebut

yang

di

menggunakan

senyawa

iodium secara tidak langsung. Ion

lisis

iodida

berlebih

ditambahkan

dan

senyawa

berbagai macam sediaan, salah


dalam

pada

Iodometri merupakan titrasi

sehingga

Amoksisilin tersedia dalam


adalah

oksidasi

penurunan

2003).

sintesis

(Kee&Hayes, 1996).

satunya

terjadi

di

merupakan
bilangan

atau dapat membunuh bakteri.


Obat

yang

atom, sedangkan reaksi oksidasi

oleh

beta-laktamase.

Amoksisilin

dalam

reaksi

dalamnya

mencegah

amoksisilin

oksidasi

pelaksanaannya. Reaksi reduksi

diberikan

Asam klavulanat merupakan zat


yang

KCKT

metode iodometri (USP, 2007).

sering

diabsorpsi dengan baik melalui


saluran

instrumen

titrimetri dengan menggunakan

diresepkan untuk orang dewasa


dan

fisikokimia

(Depkes RI, 1995) atau secara

derivat

paling

secara

menggunakan

satu

antibiotik golongan beta-laktam.


Amoksisilin

kadar

amoksisilin dalam tablet dapat

merupakan

antibiotik derivat penisilin yang


sendiri

Penetapan

iodium

menggunakan

bentuk

akan

membentuk
yang

larutan

dititrasi
baku

natrium tiosulfat dengan indikator


2

pasta

kanji-iodida

(Day&Underwood,

2002).

ditambahkan aquadest kembali hingga 300

Titik

ml.

akhir titrasi ditunjukkan dengan


hilangnya

warna

terbentuk

setelah

biru

Pembuatan Iodine 0,1 N

yang

penambahan

Ditimbang 3,81 gram I2 ditambahkan 9

indikator (USP, 2007).

gram kalium iodida dan 12 ml aquadest ,

Percobaan kali ini dilakukan


dengan
tablet

menggunakan
amoksisilin

Percobaan
mengetahui

ini

kadar

sampel

500

dilakukan

dikocok

larut

setelah

larut

kemudian ditambahkan aquadest hingga

mg.

300 ml.

untuk

zat

hingga

Pembuatan Baku Primer KIO3

aktif

amoksisilin pada sediaan tablet

Ditimbang 3,567 gram KIO3 masukkan

yang beredar di pasaran dengan

dalam labu ukur 1 L kemudian dilarutkan

menggunakan metode iodometri.

dengan aquadest.

METODE

Pembuatan Indikator Amilum

Alat

500 mg amilum ditambahkan dengan 100


ml aquadest, lalu dipanaskan hingga

Beaker glass, batang pengaduk, buret dan

mendidih.

statif, corong, erlenmeyer, mortar dan


stamper, neraca analitis, penangas air,

Pembuatan Pasta KI-Kanji

pipet tetes, plat tetes, spatel


100
Bahan

ml

aquadest

dipanaskan

hingga

mendidiih kemudian dimasukkan ke dalam


0.75 gram KI pada 5 ml aquadest, lalu

Amilum, Amoksisilin, Aquadest, HCl 4N,

ditambahkan 5 gram amilum dalam 30 ml

Iodin, Kalium Iodida, Kalium Iodat,

air dingin. Selanjutnya dipanaskan kembali

Natrium tiosulfat, Pasta kanjiiodide.

selama 2 menit, lalu didinginkan.

Prosedur

Pembakuan Natrium tiosulfat 0,1 N

Pembuatan Natrium Tiosulfat 0,1 N

Dimasukkan kedalam erlenmeyer 10 ml

Sebanyak 7.5 gram natrium tiosulfat

larutan KIO3 0,1 N kemudian ditambahkan

ditambahkan 60 mg natrium bikarbonat

15 ml aquadest lalu ditambahkan 4 ml HCl

lalu ditambahkan aquadest bebas CO2 dan

4 N dimana ditambahkan kembali 0,5


3

gram KI yang selanjutnya dilakukan

titrasi

tritrasi dengan Na-tiosulfat 0,1 N sampai

dilakukan dengan menggunakan prinsip

larutan berubah warna menjadi kuning

reduksi oksidasi. Pada titrasi iodometri

jerami,

dilakukan secara tidak langsung dan

ditambahkan

ml

indikator

amilum sampai warna biru tepat hilang.

iodometri.

Titrasi

iodometri

digunakan natrium tiosulfat sebagai titran


dengan

Pembakuan Iodine 0,1 N

indikator

pasta

kanji

iodida.

Sampel yang dapat dianalisis dengan titrasi

Dimasukkan ke dalam erlenmeyer 10 ml

iodometri ialah zat/senyawa yang memiliki

larutan

nilai

I2

kemudian

dititrasi

dengan

potensial

oksidatif

lebih

tinggi

Natrium tiosulfat hingga warna kuning

dibandingkan potensial oksidatif sistem I2

jerami kemudian ditambahkan indikator

I-.
Natrium tiosulfat merupakan suatu

amilum 1 ml lalu dititrasi kembali hingga


zat

berwarna biru tepat hilang.

pereduksi

sedagkan

amoksisilin

merupakan suatu oksidator, sehingga dapat


Penetapan kadar amoksisilin

terjadi reaksi reduksi oksidasi. Natrium


sulfat merupakan suatu larutan baku

Ditimbang 70 mg sampel amoksisilin dan

skunder,

dimasukkan ke dalam erlenmeyer tertutup,

diketahui

selanjutnya disaring menggunakan kertas

konsentrasi/normalitas

dapat dilakukan dengan menggunakan

dikocok kemudian didiamkan selama 15

kalium iodat, kalium kromat, tembaga, dan

menit. Ditambahkan 5 ml HCl 4 N dan 20

iod sebagai larutan primer. Pada kali ini

ml I2 dikocok kemudian didiamkan selama

digunakan kalium iodat sebagai larutan

15 menit. Selanjutnya dilakukan titrasi

standar

dengan Natrium tiosulfat 0,01 N hingga


muda,

dilakukan

sebenarnya. Pembakuan natrium tiosulfat

saring. 5 ml NaOH ditambahkan lalu

kuning

harus

pembakuan terlebih dahulu agar dapat

lalu ditambahkan 20 ml aquadest dan

berwarna

sehingga

primer.

Pembakuan

natrium

tiosulfat juga dilakukan dengan prinsip

kemudian

iodometri dan menggunakan indikator

ditambahkan 1 tetes pasta KI-Kanji dan

amilum.

titrasi kembali hingga warna biru tepat

Pembakuan

hilang.

dilakukan

dengan

menambahkan natrium tiosulfat dengan


PEMBAHASAN

kalium

iodat

0,01

dalam

labu

Erlenmeyer, lalu ditambahkan aquades 15

Penetepan kadar amoksisilin dalam

mL. Kemudian, ditambahkan 4 mL HCL 4

sediaan tablet dapat dilakukan dengan cara

N
4

dan KI 0,5 gram. Penambahan HCl

dilakukan untuk

memberikan

suasana

Na-tiosulfat

sebagai

titran

pada

asam pada reaksi. Campuran dititrasi

pembakuan iodin yang telah dibakuakn

dengan natrium tiosulfat hingga larutan

menggunakan kalium iodat. Larutan iodine

berwarna kuning jerami, lalu ditambahkan

dititrasi dengan Na-tiosulfat hingga warna

4 mL amilum dan dilanjutkan kembali

kuning jerami, dengan reaksi sebagai

titrasi hingga warna biru tepat menghilang.

berikut

Amilum

berfungsi

sebagai

2Na2SO3 + I2 2NaI + Na2S4O6

indikator,

adanya warna biru mendadakan terbentuk

(Basset, et al, 1994)

ikatan anatara amilum dengan iodida,

Kemudian ditambahkan amilum 1 mL

hilangnya warna biru menandakan iodida

sebagai indikator dan dilanjutkan titrasi

pada larutan telah tepat habis bereaksi

hingga warna bening, dengan reaksi


Amilum + I2 Iod-amilum

dengan natrium tiosulfat. Penambahan


amilum dilakukan diakhir titrasi karna

Iod-amilum+Na2SO32NaI+ Na2S4O6

ikatan yang terbentuk antara amilum dan

Pembakuan I2 juga dilakukan secara duplo

iodida dapat sangat sulit untuk terlepas

Tabel 2. Pembakuan I2

sehingga titik akhir titrasi tidak dapat

No.

dilihat dengan jelas. Untuk mendapatkan

Vol. KIO3

M KIO3

Vol. Na2SO3

(mL)
10
10
10

(M)
0,01
0,01
0,01

(mL)
13
12,8
12,9

0,0078
0,0078
0,0078

10
10
10

Setelah

= M2.V2

dilakukan

titrasi

dan

perhitungan didapatkan konsentrasi I2


sebesar 0,0965 M. konsentrasi Na-tiosulfat
dan

dan

I2

yang

dari

hasi

penetapan kadar sampel amoksisilin.


Sampel yang akan dianalisis pada

sebesar 0,0078 M.

praktikum
iodine

didapatkan

pembakuan ini yang akan digunakan pada


perhitungan

didapatkan molaritas natrium tiosulfat


Larutan

53
39,4
46,2

M2 = 0,0036 M

M2 = 0,0078 N
titrasi

(mL)

0,0078 . 46,2 = M2 . 10

0,01 . 10 = M2 . 12,9
hasil

(M)

M1.V1

M1.V1 = M2.V2

Dari

(mL)

Tabel 1. Pembakuan Na-tiosulfat

Vol. I2

titrasi dilakukan secara duplo

1
2

M Na2SO3

hasil normalitas yang tepat dan akurat,

No.

Vol. Na2SO3

juga

perlu

amoksisilin.

distandarisasi karena sifat I2 yang mudah

antibiotik

menguap dan fotolisis, sehingga volume

kali

ini

adalah

Amoksisilin
golongan

tablet

merupakan

penisilin

yang

memiliki cincin betalaktam. Penetapan

ataupun kadar dapat berkurang. Digunakan

kadar amoksisilin ini berhubungan dengan


5

penetapan mutu suatu obat. Kadar atau

menetralkan

konsentrasi obat merupakan salah satu

menjadi sedikit asam. penambahan HCl ini

parameter pengawasan mutu yang dapat

harus dilakukan karena titrasi iodometri

mempengaruhi khasiat dan efek obat.

tidak dapat berlangsung pada pH > 8.

Penetapan kadar dilakukan dengan cara 20

Dalam suasan basa, iodium akan bereaksi

tablet amoksisilin ditimbang dan dihitung

dengan hidroksida membentuk iodide dan

keseragaman bobotnya, kemudian digerus

hipoiodait.

dan diambil 70,3 mg serbuk amoksisilin

potensial reduksi yang lebih besar daripada

dan dilarutkan dalam aquades dalam

I2, sehingga ion hipoiodit akan lebih

erlenmeyer tertutup. Didapatkan tidak

berpotensi bereaksi dibandingkan I2 yang

semua

dapat menyebabkan titik akhir titrasi

serbuk

larut

pada

aquades.

Kemudian dilakuakan pemanasan selama

dan

Ion

membuat

suasana

hipoiodit

memiliki

menjadi tidak akurat.

15 menit, kemudian larutan disaring

Kemudian larutan pada erlenmeyer

dengan menggunakan corong dan kertas

ditambahkan 20 mL iodida 0,01 N ,

saring dan didapatkan larutan yang jernih.

dikocok kemudian didiamkan selama 15

Hal ini bertujuan untuk memisahkan zat

menit agar terjadi reaksi antara asam

aktif tablet (amoksisilin) dengan zat

penisilinoat

dengan

pengisinya.

penisilinoat

akan

iodida.

Asam

terreduksi

dan

Setelah dilakukan preparasi sampel

mengoksidasi iodida menjadi iodin yang

dan didapatkan larutan amoksisilin yang

nantinya akan berekasi dengan Na-tiosulfat

telah dipisahkan dari

zat

yang telah dibakukan. Larutan Na-tiosulfat

dilakukan

kadar

dengan

ditambahkan

larutan

kuning jerami, kemudian ditambahkan

ditambahkan 5 mL NaOH dan didiamlan

indikator pasta kanji dan dilanjutkan titrasi

selama 15 menit. Penambahan NaOH

dengan Na-tiosulfat hingga warna bening.

dilakukan untuk menghidrolisis cincin beta

Titrasi untuk penetapan kadar dilakukan

laktam pada amoksisilin, cincin beta

sebanyak 3 kali untuk didapatkan haisl

laktam yang terbuka akan membentuk

yang akurat dan mencegah terjadinya data

senyawa D-penicillamine sehingga dapat

yang bias.

iodometri.

penetapan

pengisinya

pertama-tama,

hingga

larutan

menjadi

dilakukan iodinasi. Pada waktu inkubasi


15 menit diperkirakan reaksi hidrolisis

Tabel 3. Penetapan Kadar Amoksisilin

terhadap cincin beta laktam telah terjadi


No.

sempurna. Kemudian, larutan ditambahkan


5 mL HCl 4 N yang ditujukan untuk
6

Vol. Na2SO3

M Na2SO3

(mL)

(M)

Massa
sampel
(mg)

1
2
3

25
14
17
18,67

0,0078
0,0078
0,0078
0,0078

kenormalan natrium tiosulfat adalah 0.078

70,3
70,3
70,3
70,3

N dengan kadar kenormalan I2 adalah


0,036 N dan kadar amoksisilin yang
didapatkan adalah 74,63%

( ( V . N ) I 2( V . N ) Na 2 SO 3 ) x Be sampel
massa sampel
=

( ( 0,036.20 )( 0,0078.18,67 ) ) x 91,35


70,3

x 100

DAFTAR PUSTAKA

x 100

Kee, Joyce L. & Evelyn R. Hayes.


1996.

=74.63

Farmakologi:

Pendekatan

Dari hasil titrasi diperoleh volume

Proses

Keperawatan. Jakarta: EGC

Na-tiosulfat rata-rata sebanyak 18,67 mL.

Departemen Kesehatan RI. 1995.

Dari volume Na-tiosulfat yang diperoleh,


hasil perhitunan menunukkan konsentrasi

Farmakope

amoksisilin sebesar 74,63%. Pada hasil ini

IV.

mendekati kadar dari tablet amoksisilin yang

Kesehatan RI

digunakan

yaitu

United

500
100 =71,04 .
703,6

Indonesia

Jakarta:
States

Edisi

Departemen
Pharmacopoeial

Convention.

2007.

Ketidaktepatan kadar ini dapat dikarenakan

States

Pharmacopeia-

adanya kesalahan yang dilakukan praktikan

National Formulary (USP 30-

dalam pre-treatment sampel, yaitu pada

NF

pemisahan

United

amoksisilin

dari

pengisi

35).

United

Washington

DC:

States

tabletnya. Selain itu, dapat juga terdapat

Pharmacopoeial

pengotor pada larutan sampel sehingga

Inc.

mempengaruhi titik akhir titrasi yang tidak

Khopkar,

S.M.

Convention

2003.

Konsep

Dasar Kimia Analitik. Jakarta :

akurat. I2

UI Press
SIMPULAN

Day, R.A & A.L. Underwood. 2002.


Analisis

Dari hasil pengamatan yang telah


dilakukan

dan

berdasarkan

Kimia

Jakarta: Erlangga

hasil

perhitungan dapat disimpulkan bahwa

Kuantitatif.