Anda di halaman 1dari 30

Laporan Praktikum Teknologi Bahan Konstruksi II

BAB I
PERENCANAAN CAMPURAN BETON
(MIX DESIGN)
A. PENDAHULUAN
Beton, sejak dulu dikenal sebagai material dengan kekuatan tekan yang
memadai, mudah dibentuk, mudah diproduksi secara lokal, relatif kaku, dan
ekonomis. Tapi di sisi lain, beton juga menunjukkan banyak keterbatasan baik
dalam proses produksi maupun sifat-sifat mekaniknya, sehingga beton pada
umumnya hanya digunakan untuk konstruksi dengan ukuran kecil dan menengah.
Beton merupakan suatu material yang menyerupai batu, diperoleh dengan
membuat suatu campuran yang mempunyai proporsi tertentu dari semen, pasir,
koral atau agregat lainnya, dan air untuk membuat campuran tersebut menjadi
keras dalam cetakan sesuai dengan bentuk dan dimensi struktur yang diinginkan.
Semen bereaksi secara kimiawi untuk mengikat partikel agregat tersebut menjadi
suatu masa yang padat (Winter, Nilson, 1993).
Adapun kelebihan beton adalah mudah dicetak, ekonomis, tahan lama,
effisien, dapat diproduksi ditempat, mempunyai estetika, dan mempunyai kuat
desak yang tinggi. Sedangkan kekurangannya adalah kekuatan regang rendah,
keliatan rendah, volumenya tidak stabil, kekuatan rendah dibanding beratnya dan
mempunyai tarik desak yang rendah.
Tujuan utama mempelajari sifat-sifat dari beton adalah untuk perencanaan
dari campuran (mix design), yaitu pemilihan dari bahan-bahan beton yang
memadai serta menentukan kuantitas masing-masing bahan untuk menghasilkan
beton yang seekonomis mungkin. Apabila tidak tersedia cukup data yang
menunjukkan bahwa suatu campuran beton tertentu yang diharapkan dapat
menghasilkan mutu beton yang disyaratkan dan atau bahwa Deviasi Standart
Rencana yang diusulkan benar-benar akan tercapai dalam pelaksanaan yang
sesungguhnya,

maka

harus

diadakan

percobaan

pendahuluan.

Sebagai

persiapannya dianjurkan untuk mengadakan dulu percobaan-percobaan di


laboratorium.

KELOMPOK X

Laporan Praktikum Teknologi Bahan Konstruksi II

Perencanaan campuran merupakan bagian yang terpenting dari suatu


pelaksanaan struktur beton. Sebelum diadakan perencanaan campuran, semua
bahan dasar dari semen, pasir, kerikil, atau batu pecah, air dan zat adiktif harus
diperiksa terlebih dahulu mutunya.
Suatu campuran beton harus direncanakan sedemikian rupa sehingga
memenuhi syarat-syarat berikut :
1) Campuran yang seekonomis mungkin.
Masalah ekonomi berkaitan dengan suatu pelaksanaan pembuatan
campuran beton. Dalam pembuatan campuran beton diharapkan mempunyai
ruang pori adukan yang minimum, karena makin minimum ruang porinya
makin sedikit pasta yang dipergunakan, sehingga kebutuhan juga berkurang.
Oleh karena itu yang paling menentukan perencanaan campuran beton adalah
bahan atau material.
Dengan melihat harga semen yang lebih mahal dari pada harga agregat
maka dengan mengurangi kadar semen suatu faktor penting dalam
menurunkan biaya pembuatan beton. Hal ini dilakukan dengan cara memakai
slump yang rendah sesuai dengan batas yang diizinkan, memakai ukuran butir
maksimum agregat dan bila perlu dipakai bahan admixture. Keuntungan yang
diperoleh dengan menggunakan nilai slump yang rendah yaitu dapat
mengurangi terjadinya penyusutan beton dan panas hidrasi rendah. Tetapi
apabila kadar semen terlalu rendah akan dapat menurunkan kekuatan awal
beton.
2) Campuran mudah dikerjakan pada saat masih muda (workabilitas).
Dalam desain yang baik campuran harus mudah dikerjakan dalam
dipadatkan sesuai peralatan yang tersedia. Kemampuan penyelesaian akhir
harus ditingkatkan sehingga segregasi (pemisahan agregat dengan pasta
semen) dan bleeding (keluarnya air yang berlebihan) dapat dikurangi.
Kebutuhan air untuk workabilitas yang minimun dengan menambah mortar
semen sedikit dari pada penambahan banyak air atau agregat halus.

KELOMPOK X

Laporan Praktikum Teknologi Bahan Konstruksi II

3) Memenuhi kekuatan karakteristik yang dikehendaki dan keawetannya.


Yang dimaksud dengan kekuatan karakteristik adalah kekuatan tekan,
dimana dari sejumlah besar hasil pemeriksaan benda uji, kemungkinan
adanya kekuatan tekan yang kurang dari itu terbatas sampai 5 % saja. Pada
umumnya spesifikasi beton akan memerlukan kekuatan tekan yang minimum.
Ini penting untuk menjaga supaya kebutuhan ini tidak bertentangan satu
dengan yang lain. Spesifikasi ini juga menghendaki bahwa beton harus
persyaratan keawetan yang dikehendaki, seperti perlawanan terhadap
pembekuan dan pencairan atau terhadap serangan bahan kimia pertimbangan
ini selanjutnya memberikan batas penentuan untuk faktor air semen atau
kadar air semen.
Sesuai dengan perkembangan teknologi beton yang demikian pesat,
ternyata kriteria beton mutu tinggi juga selalu berubah sesuai dengan kemajuan
tingkat mutu yang berhasil dicapai. Pada tahun 1950an, beton dengan kuat tekan
30 MPa sudah dikategorikan sebagai beton mutu tinggi. Pada tahun 1960an
hingga awal 1970an, kriterianya lebih lazim menjadi 40 MPa. Saat ini, disebut
mutu tinggi untuk kuat tekan diatas 50 MPa, dan 80 MPa sebagai beton mutu
sangat tinggi, sedangkan 120 MPa bisa dikategorikan sebagai beton bermutu ultra
tinggi (Supartono, 1998).
Meskipun tujuan praktisnya adalah untuk menyatakan kuat tekan beton
berdasarkan hasil uji pada umur 28 hari, namun terdapat pergeseran untuk
menyatakan kekuatan pada umur 56 atau 90 hari dengan alasan bahwa banyak
elemen-elemen struktur yang tidak terbebani selama kurun waktu dua atau tiga
bulan atau lebih. Saat kekuatan yang tinggi tidaklah diperlukan pada umur-umur
awal, akan lebih baik untuk tidak menyatakannya hanya untuk mencapai sejumlah
keuntungan misalnya penghematan semen, kemampuan untuk menggunakan
bahan-bahan tambah (admixture) secara berlebihan dan produk yang lebih
durable.
Bahan-bahan yang dibutuhkan dalam campuran high strength conrete
antara lain:

KELOMPOK X

Laporan Praktikum Teknologi Bahan Konstruksi II

1) Semen
Semen Portland (PC) umum pada berbagai tipe (yang memenuhi
spesifikasi standar ASTM C 150) dapat digunakan untuk memperoleh
campuran beton dengan kekuatan tekan sampai dengan 50 MPa. Untuk
mendapatkan kuat tekan yang lebih tinggi saat mempertahankan workability
yang baik, sangat perlu untuk menggunakan admixture yang dikombinasikan
dengan semen. Pada kasus tersebut, kompabilitas semen-admixture menjadi
sebuah hal yang penting.
Pengalaman telah memperlihatkan bahwa, dengan penggunaan tipe
superplasticizer naphthalene sulfonate atau melamine sulfonate, semen
portland dengan kadar C3A dan alkali yang rendah umumnya menghasilkan
campuran beton yang memperlihatkan hilangnya slump tinggi sejalan dengan
waktu. Situasi ini telah berubah karena telah dilaporkan bahwa polyacrylate
copolymer, sebuah generasi baru superplasticizer, tidak menyebabkan
kehilangan slum yang berlebihan pada kebanyakan jenis semen portland
maupun semen portland campuran.
2) Agregat
Pada beton normal, tipe dan jumlah agregat memainkan peranan yang
penting dalam stabilitas isi beton, namun hal tersebut memiliki efek yang
terbatas pada kekuatan. Pada high strength conrete, agregat masih
memainkan peranan yang penting dalam stabilitas isi, namun juga
memainkan peranan yang penting dalam kekuatan dan kekakuan beton. Rasio
faktor air semen yang digunakan pada campuran high strength conrete
menyebabkan pemadatan pada daerah matrik dan daerah transisi antarmuka.
Lebih lanjut, beberapa tipe agregat seperti granit dan kwarsit dapat
menyebabkan retak-retak mikro pada daerah transisi karena perbedaan susut
suhu dan menghalangi pengembangan kekuatan mekanis tinggi. Sehingga,
perhatian yang layak harus diambil pada pemilihan agregat-agregat untuk
high strength concrete. Berdasarkan hasil-hasil dari studi eksperimental,
Aitcin dan Mehta merekomendasikan bahwa tipe agregat yang keras dan kuat
dengan modulus elastisitas tinggi dan koefisien ekspansi panas yang kecil

KELOMPOK X

Laporan Praktikum Teknologi Bahan Konstruksi II

lebih baik digunakan untuk memproduksi campuran very high strength


concrete.
Dengan sebuah rasio faktor air semen yang telah ditentukan, kekuatan
dari campuran beton dapat dinaikkan secara signifikan dengan secara
sederhana mengurangi ukuran maksimum agregat kasar. Hal ini memiliki
efek yang menguntungkan pada kekuatan daerah transisi antar muka.
Menurut Aitcin, semakin tinggi kekuatan yang ingin dicapai, maka semakin
kecil ukuran agregat kasarnya. Nilai kuat tekan sampai dengan 70 MPa dapat
diproduksi dengan agregat kasar kualitas bagus dengan ukuran maksimum 40
mm 25 mm. untuk menghasilkan nilai kuat tekan 100 MPa, maka ukuran
maksimum agregat kasar yang harus digunakan adalah 14 mm 40 mm.
Beton-beton komersial dengan nilai kuat tekan lebih dari 125 MPa telah
diproduksi menggunakan ukuran agregat maksimum 10 mm 14 mm.
Memandang agregat halus, setiap bahan dengan ukuran distribusi
partikelnya memenuhi spesifikasi standar ASTM C 38 layak digunakan untuk
campuran high strength concrete. Aitcin merekomendasikan penggunaan
agregat halus dengan modulus kehalusan yang tinggi (kira-kira 3,0) untuk
beberapa alasan berikut ini :
a) Campuran high strength concrete sudah memiliki partikel-partikel kecil
semen dan pozzolan dalam jumlah yang bayak, dengan demikian
kehadiran partikel yang sangat kecil pada agregat yang halus tidak
diperlukan untuk mengembangkan workability.
b) Penggunaan agregat yang lebih kasar akan memerlukan air yang lebih
sedikit untuk memperoleh workability yang sama, dan
c) Selama proses pencampuran, partikel-partikel yang lebih ksar akan
menghasilkan tegangan geseran yang lebih besar yang membantu untuk
menghindari penggumpalan partikel-partikel semen.
3) Admixture
Kebutuhan kekuatan yang tinggi dan ukuran agregat yang kecil berarti
bahwa isi dari bahan-bahan pengikat pada campuran beton akan menjadi
tinggi, umumnya di atas 400 kg/m3. Isi bahan-bahan pengikat sebesar 600
kg/m3 dan bahkan lebih tinggi telah diselidiki namun tidak diinginkan dengan

KELOMPOK X

Laporan Praktikum Teknologi Bahan Konstruksi II

alasan tingginya biaya dan susut suhu dan pengeringan yang berlebihan.
Lebih jauh, dengan naiknya proporsi semen dalam beton, memang kekuatan
yang tinggi tercapai, namun dengan susah kekuatan yang tinggi dicapai di
atas sejumlah semen yang tertentu. Sebagaimana dijelaskan di atas, hal ini
mungkin disebabkan karena ketidak-homogenitas-an yang sudah menjadi
sifat pasta semen portland yang telah terhidrasi yang berisi luasan-luasan
kristal kalsium hidroksida yang terdistribusi secara acak dalam fase utama.
Luasan-luasan ini menyatakan daerah-daerah yang lemah yang rentan
terhadap retak mikro karena tegangan tarik.
Pada umumnya, terutama bila berhubungan dengan tuntutan mutu dan
keawetan yang tinggi, ada beberapa faktor utama yang bisa menentukan
keberhasilan pengadaan beton bermutu tinggi, diantaranya adalah :
1) Faktor air semen (fas, w/c) yang rendah.
Faktor air semen (fas, w/c) adalah angka yang menunjukan perbandingan
antara berat air dan berat semen. Pada beton mutu tinggi dan sangat tinggi,
pengertian w/c bisa diartikan sebagai water to cementitious ratio, yaitu rasio
berat air terhadap berat total semen dan aditif cementitious, yang umumnya
ditambahkan pada campuran beton mutu tinggi. Faktor air semen yang
rendah, merupakan faktor yang paling menentukan dalam menghasilkan
beton mutu tinggi, dengan tujuan untuk mengurangi seminimal mungkin
porositas beton yang dihasilkan. Dengan demikian semakin besar volume
faktor air-semen (fas) semakin rendah kuat tekan betonnya.
2) Kualitas agregat halus (pasir).
Kualitas agregat halus yang dapat menghasilkan beton mutu tinggi adalah :
a) Berbentuk bulat.
b) Tekstur halus (smooth texture).
c) Modulus kehalusan (fineness modulus), menurut hasil penelitian
menunjukan bahwa pasir dengan modulus kehalusan 2,5 s/d 3,0 pada
umumnya akan menghasilkan beton mutu tinggi (dengan fas yang
rendah) yang mempunyai kuat tekan dan workability yang optimal
(Larrard, 1990).

KELOMPOK X

Laporan Praktikum Teknologi Bahan Konstruksi II

d) Bersih.
e) Gradasi yang baik dan teratur (diambil dari sumber yang sama).
3) Kualitas Agregat Kasar (batu pecah/koral).
Kualitas agregat kasar yang dapat menghasilkan beton mutu tinggi adalah :
a) Porositas rendah.
Dari hasil penelitian menunjukan bahwa porositan rendah akan
menghasilkan suatu adukan

yang seragam (uniform), dalam arti

mempunyai keteraturan atau keseragaman yang baik pada mutu (kuat


tekan) maupun nilai slumpnya. Akan sangat baik bila bisa digunakan
agregat kasar dengan tingkat penyerapan air (water absorption) yang
kurang dari 1 %. Bila tidak, hal ini bisa menimbulkan kesulitan dalam
mengontrol kadar air total pada beton segar, dan bisa mengakibatkan
kekurang teraturan (irregularity) dan deviasi yang besar pada mutu dan
dan nilai slump beton yang dihasilkan. Karenanya, sensor kadar air
secara ketat pada setiap group agregat yang akan dipakai merupakan
suatu tahapan yang mutlak perlu dikerjakan.
b) Bentuk fisik agregat.
Dari beberapa penelitian menunjukan bahwa batu pecah dengan bentuk
kubikal dan tajam ternyata menghasilkan mutu beton yang lebih baik
dibandingkan dengan menggunakan kerikil bulat (Larrard, 1990). Hal ini
tidak lain adalah karena bentuk kubikal dan tajam bisa memberikan daya
lekat mekanik yang lebih baik antara batuan dengan mortar.
c) Ukuran maksimum agregat.
Dari beberapa penelitian menunjukan bahwa pemakian agregat yang
lebih kecil (< 15 mm) bisa menghasilkan mutu beton yang lebih tinggi
(Larrard, 1990). Namun pemakaian agregat kasar dengan ukuran
maksimum 25 mm masih menunjukan tingkat keberhasilan yang baik
dalam produksi beton mutu tinggi.
d) Bersih dan kuat tekan hancur yang tinggi.
e) Gradasi yang baik dan teratur (diambil dari sumber yang sama).

KELOMPOK X

Laporan Praktikum Teknologi Bahan Konstruksi II

4) Penggunaan admixture dan aditif mineral dalam kadar yang tepat.


Untuk menghasilkan beton dengan mutu (kuat tekan beton) tinggi
dibutuhkan Superplasticizer (high range water reducer) dan Aditif mineral
yang bersifat cementitious yaitu berupa : Abu terbang (fly ash), Pozzofume
(super fly ash), dan Mikrosilika (silicafume) dengan kadar yang tepat. Sebab
bahan admixture dan aditif jika dicampur dengan kadar yang tidak tepat
hasilnya akan sebaliknya, yaitu tidak meningkatkan kuat tekannya akan tetapi
dapat menurunkan.
Superplasticizer atau high range water reducer dalam hal ini mutlak
diperlukan karena kondisi fas yang umumnya sangat rendah pada beton mutu
tinggi atau sangat tinggi, untuk bisa mengontrol dan menghasilkan nilai
slump yang optimal pada beton segar (workable), sehingga bisa dihasilkan
kinerja pengecoran beton yang baik. Namun dalam segala hal, penggunaan
Superplasticizer perlu sesuai dengan standard ASTM-C 494-81 tipe F.
Ketepatan dosis penambahan Superplasticizer umumnya perlu dibuktikan
dengan membuat campuran percobaan (trial mixes) dengan beberapa variasi
dosis penambahan Superplasticizer hingga mendapatkan hasil yang optimum
dalam memenuhi syarat kelecakan yang direncanakan
Mikrosilika (Silicafume) merupakan aditif yang sangat baik untuk
digunakan dalam pembuatan beton mutu tinggi dan sangat tinggi, yang
merupakan produk sampingan sebagai abu pembakaran dari proses
pembuatan silicon metal atau silicon alloy dalam tungku pembakaran listrik.
Mikrosilika ini juga bersifat pozzolan (bahan yang mempunyai kandungan
utama senyawa silika/silika dioksida dan alumina), dengan kadar kandungan
senyawa silica-dioksida (Si O2) yang sangat tinggi (> 90 %), dan ukuran
butiran partikel yang sangat halus, yaitu sekitar 1/100 ukuran rata-rata
partikel semen. Dengan demikian penggunaan mikrosilika pada umumnya
akan memberikan sumbangan yang lebih efektif pada kinerja beton, terutama
untuk beton bermutu sangat tinggi.

KELOMPOK X

Laporan Praktikum Teknologi Bahan Konstruksi II

5) Prosedur yang benar dan cermat pada keseluruhan proses produksi beton.
Untuk menghasilkan beton bermutu tinggi maka dibutuhkan prosedur
yang benar dan cermat pada keseluruhan proses produksi beton yang meliputi
hal-hal sebagai berikut :
a) Uji material (material testing).
b) Sensor dan pengelompokan material (material sensor and grouping).
c) Penakaran dan pencampuran (batching).
d) Pengadukan (mixing).
e) Pangangkutan (transportating).
f) Pengecoran (placing).
g) Perawatan (curing).
Disamping itu pengawasan dan pengendalian yang ketat pada keseluruhan
prosedur dan mutu pelaksanaan, yang didukung oleh koordinasi operasional
yang optimal.
6) Pengawasan dan pengendalian yang ketat pada keseluruhan prosedur dan
mutu pelaksanaan, yang didukung oleh koordinasi operasional yang optimal.
Metode yang digunakan dalam merencanakan campuran high strength
concrete ada beberapa cara, antara lain: (1) Minimum Voids Method, (2) Maximum
Density Method, (3) Fineness Modulus Method, (4) British Mix Design (DOE)
Method, (5) American Concrete Institute Method (ACI Method), dan (6) Indian
Standard Method. Namun secara umum, desain campuran beton yang optimum
dihasilkan dari pemilihan bahan-bahan local yang tersedia yang menyebabkan
beton segar mampu untuk ditempatkan dan mampu untuk diselesaikan dan dapat
memastikan pengembangan kekuatan dan sifat-sifat lain yang diinginkan dari
beton yang telah mengeras sebagaimana dinyatakan oleh desainer.
Beberapa konsep dasar yang perlu untuk dipahami untuk high strength
concrete antara lain:
1) Agregat semestinya kuat dan durable. Agregat tidak perlu keras dan
kekuatannya tinggi namun perlu kompatibel, dalam arti cukup kaku dan kuat,
dengan pasta semen. Umumnya ukuran maksimum agregat kasar yang lebih
kecil digunakan untuk kuat tekan beton yang lebih tinggi. Agregat halus yang

KELOMPOK X

Laporan Praktikum Teknologi Bahan Konstruksi II

digunakan bisa jadi lebih kasar daripada yang diperbolehkan oleh ASTM C
33 (modulus kehalusan butir lebih besar dari 3,2) karena tingginya agregat
halus telah digantikan oleh bahan-bahan perekat (semen).
2) Campuran high strength concrete akan memiliki isi bahan-bahan perekat yang
tinggi yang meningkatkan panas hidrasi dan kemungkinan susut yang tinggi
mengawali potensi retak. Kebanyakan campuran berisi satu atau lebih bahanbahan perekat tambahan seperti fly ash (tipe C atau F), ground granulated
blast furnace slag, silica fume, metakaolin atau bahan-bahan pozolanik alami.
3) Campuran high strength concrete umumnya membutuhkan rasio factor air
semen yang rendah, dimana rasio factor air semen berada pada rentangan 0,23
sampai dengan 0,35. Faktor air semen yang rendah ini hanya dapat dicapai
dengan admixture (superplasticizer) dalam jumlah dan dosis yang besar,
menyesuaikan antara tipe F atau G berdasarkan ASTM C 494. Admixture
pengurang air tipe A juga dapat digunakan sebagai kombinasinya.
4) Isi total dari bahan-bahan perekat umumnya sekitar 700 lb/yd 3 (415 kg/m3)
namun tidak boleh lebih dari 1100 lb/yd 3 (650 kg/m3).
5) Pemakaian air entrainment pada high strength concrete akan menurunkan
potensial kekuatan secara besar.
Perhatian yang lebih dan evaluasi akan diperlukan bila spesifikasi
pekerjaan mengatur batas-batas sifat beton seperti rangkak, susut dan modulus
elastisitas. Ahli teknik mungkin mengatur batas-batas sifat tersebut untuk desain
strukturnya. Penelitian-penelitian saat ini mungkin tidak memberikan panduan
yang diperlukan tentang hubungan empiris dari sifat-sifat tersebut dari pengujianpengujian trandisional dan beberapa dari pengujian tersebut sangat khusus dan
mahal untuk dilakukan bagi evaluasi campuran. Berdasarkan pertimbanganpertimbangan teoretis, rangkak dan susut yang lebih kecil, modulus elastisitas
yang lebih tinggi dapat dicapai dengan agregat yang lebih besar dan isi pasta yang
lebih sedikit pada beton. Menggunakan ukuran agregat terbesar yang dapat
dicapai dan agregat halus yang digradasi medium sampai dengan kasar dapat
mencapai hal tersebut. Ukuran agregat yang lebih kecil misalkan 3/8 inci ( 9,5
mm) dapat digunakan untuk menghasilkan kuat tekan yang sangat tinggi namun

KELOMPOK X

Laporan Praktikum Teknologi Bahan Konstruksi II

membutuhkan sifat-sifat seperti rangkak, susut dan modulus elastisitas untuk


dikorbankan. Apabila kesulitan ditemui dalam mencapai kuat tekan yang tinggi,
hanya dengan menambahkan bahan-bahan perekat tidak akan menaikkan
kekuatan. Faktor-faktor seperti bahan-bahan pengganggu dalam agregat, pelapispelapis agregat, agregat kasar, muka-muka pecah, tampang dan tekstur, dan
batasan-batasan pengujian bisa jadi menghalangi kuat tekan tinggi dapat tercapai.
Proporsi campuran beton akhir ditentukan dengan batch coba-coba, entah itu di
laboratorium ataupun dengan batch-batch produksi lapangan skala kecil. Produksi,
transportasi, penempatan dan finishing high strength concrete bisa jadi berbeda
secara

signifikan

dari

prosedur-prosedur

yang

digunakan

pada

beton

konvensional. Untuk proyek-proyek yang kritis, sangat direkomendasikan


penuangan coba-coba dan evaluasi dilakukan dan dimasukan sebagai item yang
harus dibayarkan pada kontrak. Pertemuan pra-penawaran dan pra-konstruksi
sangatlah penting untuk dilakukan untuk memastikan kesuksesan proyek yang
menggunakan high strength concrete. Selama konstruksi, pengukuran ekstra harus
dilakukan untuk melindungi terhadap susut plastik dan retak panas pada bagianbagian yang lebih tipis. High strength concrete mungkin membutuhkan waktu
yang lebih lama sebelum perancah dibongkar.
Silinder-silinder uji high strength concrete sebaiknya dicetak dengan hatihati, dirawat, ditutupi dan diuji. Waktu setting high strength concrete yang lebih
lambat mungkin juga terjadi.

B. PERENCANAAN CAMPURAN ADUKAN BETON

KELOMPOK X

Laporan Praktikum Teknologi Bahan Konstruksi II

Perencanaan campuran atau perbandingan campuran beton yang lebih


dikenal sebagai Mix Design merupakan suatu proses yang meliputi dua tahap
yang saling berkaitan, yaitu :
a. Pemilihan terhadap bahan-bahan yang sesuai untuk pembuatan campuran
beton seperti, semen, agregat halus, agregat kasar dan lain-lain.
b. Penentuan jumlah relative dari bahan-bahan campuran untuk menghasilkan
beton yang baik.
Cara DOE adalah cara yang paling sering digunakan di Indonesia. Dalam
penggunaan metode DOE ini ada dua anggapan dasar, yaitu :
a. Mudahnya pengerjaan adukan beton tergantung dari jumlah air bebas dan
tidak tergantung dari kadar semen dan faktor air semen.
b. Kekuatan beton tergantung dari faktor air semen dan tidak tergantung dari
banyaknya air dan kadar semen.
Data Perencanaan
a. Kuat tekan karakteristik (f`c)

: 40 MPa (400 kg/cm2)

b. Umur

: 28 hari

c. Kemungkinan Gagal

: 5%

d. Agregat Kasar

: Batu Pecah

e. Zat Aditif

: 2,5 %

f. Kode Mix design

: SNI T15-1990-03

g. Jenis Pekerjaan

: Balok

h. Keadaan Beton

: di dalam ruangan, keadaan keliling


bangunan non-korosif

1. Kuat Tekan Karakteristik (f`c)


Yaitu kuat tekan yang disyaratkan, kuat tekan beton karakteristik umur 28
hari yang jumlah cacat tidak lebih dari 5%, artinya kekuatan yang ada hanya
5% yang diperbolehkan dari jumlah yang ditest.
Nilai fc = 40 MPa.

2. Deviasi Standar (Sd)


KELOMPOK X

Laporan Praktikum Teknologi Bahan Konstruksi II

Deviasi

standar

ditetapkan

berdasarkan

tingkat

mutu

pengendalian

pelaksanaan pencampuran betonnya, makin baik mutu pelaksanaan makin


kecil nilai deviasinya.
Jika pelaksana tidak mempunyai data pengalaman

atau mempunyai pengalaman kurang dari 15 buah benda uji, maka nilai
deviasi standar diambil dari tingkat pengendalian mutu pekerjaan pada
tabel di bawah ini.
Tabel 1.1 Mutu Pekerjaan Diukur Dengan Deviasi Standar
Tingkat Pengendalian

Standar Deviasi

Mutu Pekerjaan

(MPa)

Memuaskan

2,8

Sangat Baik

3,5

Baik

4,2

Cukup

5,6

Jelek

7,0

Tanpa Kendali

8,4

Jika

pelaksana

mempunyai

data

pengalaman

pembuatan beton serupa minimum 30 buah silinder yang diuji kuat tekan
rata-ratanya pada umur 28 hari, maka jumlah data dikoreksi terhadap nilai
deviasi standar dengan suatu faktor pengali.
Rumus:
Dimana:

Sd =

( x x )

n1

= tegangan untuk benda uji

= jumlah data

Tabel 1.2 Faktor Pengali Deviasi Standar Bila Data Hasil Uji Yang
Tersedia Kurang Dari 30
Jumlah Data

30

25

20

15

< 15

Faktor Pengali

1,0

1,03

1,08

1,16

Tidak boleh

3. Nilai Tambah Margin (M)

KELOMPOK X

Laporan Praktikum Teknologi Bahan Konstruksi II

Nilai tambah margin yang tergantung dari hasil kali deviasi standar
dimana faktor k tergantung dari banyaknya cacat dan jumlah benda uji.

M = 1,64 . Sd
Dimana:

= Nilai tambah

Sd

= Standar Deviasi

= Konstanta Kegagalan 5 % = 1,64

Rumus di atas berlaku jika pelaksana mempunyai data pengalaman


pembuatan beton yang diuji kuat tekannya pada umur 28 hari. Jika tidak
mempunyai data pengalaman pembuatan beton atau mempunyai
pengalaman kurang dari 15 benda uji, nilai M langsung diambil 12 MPa.
Karena tidak mempunyai data pengalaman diambil M = 12 MPa.
4. Kuat Tekan Rata-rata (f`cr)
f`cr= f`c + M
Dimana:
Maka

f`cr

= Kekuatan tekan rata-rata (MPa)

f`c

= Kekuatan tekan karakteristik (MPa)

f`cr

= 40 + 12

= 52 MPa

5. Menetapkan Jenis Semen


Menurut SII 003-81 Semen Portland dibagi menjadi lima jenis:
Jenis I

: Semen

untuk

penggunaan

umum,

tidak

memerlukan

persyaratan khusus
Jenis II : Semen untuk beton tahan sulfat dan mempunyai panas hidrasi
sedang
Jenis III : Semen untuk beton dengan kekuatan awal tinggi (cepat
mengeras)
Jenis IV : Semen untuk beton yang memerlukan panas hidrasi rendah
Jenis V : Semen untuk beton yang sangat tahan terhadap sulfat
Semen yang digunakan adalah Semen Gresik (Tipe I).
6. Jenis Agregat
KELOMPOK X

Laporan Praktikum Teknologi Bahan Konstruksi II

Tentukan jenis agregat kasar dan agregat halus. Adapun jenis agregat
dibedakan menjadi dua yaitu agregat alami (tak dipecah) dan batu pecah.
Jenis pasir yang digunakan adalah jenis alami, dan kerikil yang
digunakan adalah jenis batu pecah.
7. Faktor Air Semen
Faktor air semen rencana diperoleh dari tiga cara, yaitu:
Cara Pertama
Grafik 1.1 Hubungan FAS dan Kuat Tekan Silinder Beton

91 hari

28 hari

43

7 hari

3 hari

0,30

Untuk f`cr = 52 MPa dan Umur 28 hari dan jenis semen Tipe I maka
faktor air semen didapat sebesar 0,30.
Cara Kedua
Tentukan nilai kuat tekan pada umur 28 hari dengan

menggunakan Tabel 1.3, sesuai dengan semen dan agregat yang akan
dipakai.

KELOMPOK X

Lihat Grafik 1.2 untuk benda uji berbentuk kubus.

Laporan Praktikum Teknologi Bahan Konstruksi II

Tarik garis tegak lurus ke atas melalui faktor air semen 0,5

sampai memotong kurva kuat tekan yang ditentukan pada sub butir 2
di atas.
Tarik garis mendatar melalui nilai kuat tekan yang ditargetkan

sampai memotong kurva yang ditentukan pada sub butir 3 di atas.


Tarik garis tegak lurus ke bawah melalui titik potong tersebut

untuk mendapatkan faktor air semen yang diperlukan.


Tabel 1.3 Perkiraan Kuat Tekan Beton (MPa) Dengan FAS 0,5
Jenis Semen

Jenis Agregat
Kasar

Semen Portland Alami


Batu Pecah
(Tipe I, II, III)
Semen Portland Alami
Batu Pecah
(Tipe III)

Kuat Tekan (MPa) Pada Umur


7
28 Hari 91 Hari
Hari
Hari
3

17
19
21
25

23
27
28
33

33
37
38
44

40
45
44
48

Untuk Umur 28 Hari , Jenis Semen Tipe I didapat Kuat Tekan 37 MPa.
Grafik 1.2. Hubungan Antara Kekuatan Tekan Beton dan Faktor Air
Semen untuk umur 28 Hari dan fc` = 52 MPa

KELOMPOK X

Laporan Praktikum Teknologi Bahan Konstruksi II

Faktor Air Semen didapatkan dari grafik untuk Umur 28 Hari dan
Kuat Tekan 47 MPa, sebesar 0,36.
8. Faktor Air Semen Maksimum
Nilai faktor air semen dengan melihat persyaratan untuk berbagai
pembetonan dan lengkungan khusus, beton yang berhubungan dengan air
tanah mengandung sulfat, dan untuk beton bertulang terendam air. Ketiga
hal tersebut terlihat dari tabel berikut ini.
Tabel 1.4 Persyaratan

Faktor

Air

Semen

Maksimum

Untuk

Berbagai Pembetonan Dan Lingkungan Khusus


FAS
Maksimum

Uraian
1.

Beton di dalam ruang bangunan


a.

Keadaan keliling non korosif

b.

Keadaan

keliling

korosif

disebabkan kondensasi atau uap-uap korosif


2.

Beton di luar ruang bangunan

0,60
0,52

a. Tak terlindung hujan dan terik matahari


langsung
b. Terlindung hujan dan terik matahari langsung
3.

Beton

yang

masuk

0,55

kedalam

0,60

Mengalami keadaan basah dan kering

0,55

tanah
a.

bergantian
b.

lihat tabel 2.6

Mendapat pengaruh sulfat alkali dari


tanah atau air tanah

4.

lihat tabel 2.5

Beton yang kontinu berhubungan


dengan air

Tabel 1.5 Faktor Air Semen Untuk Beton Bertulang Dalam Air
Berhubungan
dengan

KELOMPOK X

Tipe Semen

Faktor Air Semen

Laporan Praktikum Teknologi Bahan Konstruksi II

Air Tawar

Semua Tipe I IV

Air Payau

0,50

Tipe I + Pozolan(15-

0,45

40)% atau S.P.Pozolan

Air Laut

0,50

Tipe II atau V

0,45

Tipe II atau V

Tabel 1.6 Faktor Air Semen Untuk Beton Bertulang Dalam Air
Konsentrasi Sulfat (SO3)
Dalam Tanah
FAS
SO3
SO3 dalam
Maksimu
Dalam
Jenis Semen
campuran
m
Total
Air Tanah
(g/l)
SO3 %
air : tanah =2 (g/l)
:1
< 0,2
< 1,0
< 0,3
Tipe I, dengan atau 0,50
tanpa
0,2

1,0 1,9

0,5

0,3

40)%

1,2

Pozolan

(150,50

Tipe

tanpa 0,55

Pozolan

1,9 3,1
0,5

2,5
3,1 5,6

+ 0,55

S.P.Pozolan

Tipe II atau V

Tipe

> 5,6
1,0

Pozolan(15-40)% atau 0,45


1,2

1,0

Tipe

0,45
+ 0,45

Pozolan(15-40)% atau 0,45


2,5

S.P.Pozolan

2,0

5,0

Tipe II atau V

> 2,0

> 5,0

Tipe II atau V
Tipe II atau V dan
Lapisan Pelindung

KELOMPOK X

Laporan Praktikum Teknologi Bahan Konstruksi II

Untuk bangunan di dalam ruangan dan keadaan keliling non-korosif


didapatkan nilai fas maksimum sebesar 0,6.
9. Faktor Air Semen Yang Digunakan
Nilai faktor air semen yang digunakan adalah nilai terendah dari nilai fas
rencana dan fas maksimum.
Maka faktor air semen yang digunakan 0,30.

10. Nilai Slump Beton


Nilai slump beton yang akan digunakan untuk memeriksa kekentalan
suatu adukan beton. Nilai slump juga dapat ditentukan sebelumnya, tetapi
bila tidak ditentukan nilai slump dapat diperoleh dari Tabel 1.7.
Tabel 1.7 Penetapan Nilai Slump
No

Uraian

Slump (cm)
Max Min

Dinding plat pondasi telapak bertulang

12,5

5,0

Pondasi telapak tidak bertulang, kaison, dan 9,0


konstruksi bawah tanah

2,5

Plat, balok, kolom, dan dinding

15,0

7,5

Pengerasan jalan

7,5

5,0

Pembetonan missal

7,5

2,5

Untuk penggunaan beton (balok dan kolom) dari tabel diambil Nilai
Slump dengan rentang antara 7,5-15 cm.
11. Ukuran Maksimum Agregat
Penetapan butir maksimum diperoleh melalui pengayakan, dan tidak
boleh melebihi ketentuan-ketentuan berikut ini:

kali jarak bersih minimum antar tulangan atau berkas baja


tulangan atau tandon prategang atau selongsong.

KELOMPOK X

Laporan Praktikum Teknologi Bahan Konstruksi II

/3
1

kali tebal plat

/5 jarak
1

terkecil antara bidang samping cetakan

Untuk penetapan butir maksimum dapat menggunakan diameter


maksimum 40 mm, 40 mm, dan 10 mm.
Dicoba ukuran maksimum agregat 40 mm.
12. Kebutuhan Air
Kebutuhan air ditentukan sebagai berikut:

Agregat tak dipecah dan dipecah (jenis agregat sama) dipergunakan


tabel 1.8

Agregat campuran (jenis agregat berbeda) dihitung menurut:


A = 2/3 Ah + 1/3 A
Dimana: A

= kebutuhan air

Ah

= perkiraan jumlah air untuk agregat halus

Ak

= perkiraan jumlah air agregat kasar pada tabel 1.8

Tabel 1.8 Penentuan Kebutuhan Air per-Meter Kubik Beton


(liter)
Ukuran Max.
Agregat (mm)
10
20
40

Jenis Agregat
Alami
Batu Pecah
Alami
Batu Pecah
Alami
Batu Pecah

0 10
150
180
135
170
115
155

Slump (mm)
10 30 30
180
205
160
190
140
175

60
205
230
180
210
160
190

60 - 180
225
250
190
225
175
205

Karena jenis agregat tidak sama, dari tabel didapat kebutuhan air
225 lt/m3 = 225 kg/m3.
13. Kebutuhan Semen Rencana

KELOMPOK X

Laporan Praktikum Teknologi Bahan Konstruksi II

Kadar semen merupakan jumlah semen yang dibutuhkan per m 3 beton


sesuai faktor air semen yang didapat dari membagi kadar air bebas
dengan faktor air semen.
KebutuhanSemen Re ncana

Kebutuhan Air
Faktor Air Semen Re ncana

Kebutuhan Semen Rencana

225
= 750 Kg/m3
0,30

Maka kebutuhan semen rencana 750 kg/m3.

14. Kebutuhan Semen Minimum


Kadar semen minimum ditetapkan lewat tabel antara lain untuk
menghindari beton dari kerusakan akibat lingkungan khusus misalnya
lingkungan korosif, air payau dan air laut.
Tabel 1.9 Kebutuhan Semen Minimum Untuk Berbagai Pembetonan
Dan Lingkungan Khusus
Uraian

KELOMPOK X

Jumlah Semen Minimum


Per m3 Beton (kg/m3)

Laporan Praktikum Teknologi Bahan Konstruksi II

1.

Beton

di

dalam ruang bangunan


a. Keadaan keliling non korosif
b. Keadaan keliling korosif disebabkan

275

kondensasi atau uap-uap korosif


2.

325

Beton di luar
ruang bangunan
a. Tidak terlindung dari hujan dan terik
matahari langsung
b. Terlindung

dari

325
hujan

dan

terik

matahari langsung
3.

275
Beton

yang

masuk kedalam tanah


a. Mengalami keadaan basah dan kering

325

berganti-ganti
b. Mendapat pengaruh sulfat alkali dari

lihat tabel 1.11

tanah atau air tanah


4.

Beton

yang

lihat tabel 1.10

kontinu berhubungan dengan air tawar/


payau / laut

Dari Tabel 1.9 didapatkan kebutuhan semen minimum 275 kg.

Tabel 1.10 Kandungan Semen Minimum Beton Bertulang Dalam Air


Berhubungan
dengan

KELOMPOK X

Tipe Semen

Ukuran Agregat (mm)


40

20

Laporan Praktikum Teknologi Bahan Konstruksi II

Air Tawar

Semua Tipe I IV

Air Payau

Tipe I + Pozolan(15-

280

300

340

380

290

330

330

370

40)% atau S.P.Pozolan

Air Laut

Tipe II atau V

Tipe II atau V

Tabel 1.11 Kandungan Semen Minimum Untuk Beton Yang


Berhubungan Dengan Air Tanah Yang Mengandung
Sulfat
Konsentrasi Sulfat (SO3)

Kandungan
Semen Minimum
(kg/m3)
Ukuran Agregat

Dalam Tanah
SO3 dlm
Total SO3 % campuran (g/l)
air : tanah =2 : 1

Jenis Semen

SO3 Dalam Air


Tanah (g/l)

40

< 0,2

< 1,0

< 0,3

0,2 0,5

1,0 1,9

0,3 1,2

0,5 1,0

1,9 3,1

1,2 2,5

1,0 2,0
> 2,0

3,1 5,6
> 5,6

2,5 5,0
> 5,0

Tipe I, dgn atau


Pozolan(15-40)%

tanpa

Tipe I tanpa Pozolan


Tipe I + Pozolan (15-40)% atau
S.P.Pozolan
Tipe II atau V
Tipe I + Pozolan (15-40)% atau
S.P.Pozolan
Tipe II atau V
Tipe II atau V
Tipe II atau V dan Lapisan
Pelindung

20

10

280 300

350

290 330

380

250 290
340 380

430
430

290 330
330 370
330 370

380
420
420

15. Kebutuhan Semen Yang Dipakai


Untuk menetapkan kebutuhan semen, yang dipakai adalah harga terbesar
dari kadar semen rencana dan kadar semen minimum.
Karena kebutuhan semen rencana lebih besar dari kebutuhan semen
minimum, maka kebutuhan semennya 750 Kg/m3.

16. Penyesuaian Jumlah Air atau Faktor Air Semen


Tentukan faktor air semen yang disesuaikan jika jumlah semen berubah,
maka faktor air semen harus diperhitungkan kembali dengan:

KELOMPOK X

Laporan Praktikum Teknologi Bahan Konstruksi II

Jika akan menurunkan faktor air semen, maka faktor air semen
dihitung lagi dengan cara jumlah air dibagi jumlah semen minimum.

Jika akan menaikkan jumlah air, maka jumlah semen minimum


dikalikan faktor air semen.

Karena kebutuhan semen tidak berubah maka tidak perlu penyesuaian,


jadi nilai fas 0,30 dan kebutuhan air sebesar 225 Liter/m3.

17. Gradasi Agregat Halus


Tentukan gradasi agregat halus melalui analisa saringan. Dalam SK-SNIT-15-1990-03 kekasaran pasir dibagi menjadi 4 daerah, yaitu:

Daerah I

: pasir kasar

Daerah II : pasir agak kasar

Daerah III : pasir agak halus

Daerah IV : pasir halus

Tabel 1.12 Gradasi Pasir


Lubang
Ayakan (mm)
10,0
4,80
2,40
1,20
0,50
0,30
0,15

Daerah I
100
90 - 100
60 - 95
30 - 70
15 - 34
5 - 20
0 10

Persen Lolos Saringan


Daerah II
Daerah III
100
100
90 - 100
90 - 100
75 - 100
85 - 100
55 - 90
75 - 100
35 - 59
60 - 79
8 - 30
12 - 40
0 10
0 10

Daerah IV
100
95 - 100
95 - 100
90 - 100
80 - 100
15 - 50
0 15

Dari perhitungan terdahulu (praktikum TBK 1) didapat untuk agregat


halus termasuk Daerah 2

18. Prosentasi Agregat Halus


Tentukan prosentasi fraksi pasir berdasarkan Grafik 1.3

KELOMPOK X

Laporan Praktikum Teknologi Bahan Konstruksi II

Grafik 1.3 Proporsi Pasir Untuk Nilai Slump 75 150 Mm dan Ukuran
Maksimum Agregat 40 mm

Dari Grafik 1.3 didapatkan prosentase agregat halus 30%.


19. Berat Jenis Relatif Agregat Gabungan
Berat jenis relatif agregat ditentukan sebagai berikut:

Persentase agregat halus

= 30 %

Persentase agregat kasar

= 100 % - 30 % = 70 %

Apabila tidak ada data maka agregat alami (tak dipecah) 2,6 t/m3 dan
untuk agregat dipecah 2,7 t/m3.

Apabila memiliki data (dari hasil uji) dapat menggunakan rumus:


Prosentasi agregat halus

= 30 %

Prosentasi agregat kasar

= 70 %

BJ SSD Agregat halus

= 2,66

BJ SSD Agregat kasar

= 2,61

BJ Agregat Gabungan

= (% Agr. Halus x BJ Agr. Halus) +


(% Agr. Kasar x BJ Agr. Kasar)

KELOMPOK X

Laporan Praktikum Teknologi Bahan Konstruksi II

= (0,30 x 2.66) + (0,70 x 2.61)


= 2,625 kg/m3
Maka Berat Jenis Agregat Gabungan untuk jenis agregat alami adalah
2,625 kg/m3.
20. Berat Jenis Beton
Tentukan berat jenis beton menurut Grafik sesuai dengan kadar air bebas
yang sudah ditentukan dan berat jenis relatif agregat gabungan.
Grafik 1.4 Berat Jenis Agregat Gabungan

Berat Jenis
agregat campuran

2320

225

Untuk kebutuhan air 225 Liter dan BJ Agregat Gabungan 2,625 kg/m 3
didapat BJ Beton 2320 kg.

21. Menentukan Kebutuhan Pasir dan Kerikil

KELOMPOK X

Laporan Praktikum Teknologi Bahan Konstruksi II

Berat Pasir + Kerikil = BJ beton basah kebutuhan semen kebutuhan air


= 2320 750 225
= 1345 kg/m3
22. Menentukan Kebutuhan Pasir
Kebutuhan Pasir = (berat pasir + kerikil) x % agregat halus
= 1345 x 30 %
= 403,5 kg/m3
23. Menentukan Kebutuhan Kerikil
Kebutuhan Kerikil = (berat pasir + kerikil) kebutuhan pasir
= 1345 403,5
= 941,5 kg/m3
Jadi perbandingan berat (SSD) bahan dari pengecoran :
a. Semen

= 750

kg/m3

b. Air

= 225

liter/m3

c. Agregat Halus

= 403,5

kg/m3

d. Agregat Kasar

= 941,5

kg/m3

24. Koreksi Terhadap Kondisi Bahan


Koreksi ini dilakukan minimal sekali sehari, karena pasir dan kerikil
dianggap dalam keadaan jenuh kering (SSD), padahal biasanya di
lapangan tidak dalam keadaan jenuh kering, maka perhitungan dikoreksi
dengan rumus:
Ah A1
A A2
x B k
x C
100
100

Air

= A

Pasir

= B +

Ah A1
x B
100

Kerikil = C +

Ak A2
x C
100

Dimana:

KELOMPOK X

Laporan Praktikum Teknologi Bahan Konstruksi II

= Jumlah kebutuhan air (L/m3)

= Jumlah kebutuhan pasir (kg/m3)

= Jumlah kebutuhan kerikil (kg/m3)

Ah

= Kandungan air dalam pasir (%)

Ak

= Kandungan air dalam kerikil (%)

A1

= Kandungan air pada pasir jenuh kering muka (%)

A2

= Kandungan air pada kerkil jenuh kering muka (%)

Tabel 1.13 Koreksi Terhadap Kondisi Bahan


Bahan (kg/m3)
Semen = 750
Air
= 225
Pasir = 403,5
Kerikil = 941,5

Absorption (%)
1,36
4,031

Kadar Air (%)


1,643
0,629

Nilai absorption untuk pasir dan kerikil didapat dari Laboratorium


Teknologi Bahan Konstruksi.
Jadi bahan bahan yang diperlukan:

Semen = 750 kg/m3

Pasir =

Ah A1
1,643 1,36
x B =
x 403,5 = 1,14 kg/m3
100
100

Kebutuhan pasir

= 403,5 + 1,141905
= 404,64 kg/m3

Kerikil =

Ak A2
0,629 4,031
xC=
x 941,5 = -32,03 kg/m3
100
100

Kebutuhan Kerikil

= 941,5 32,03
= 909,47 kg/m3

Air

= 225 - 1,14 + 32,03


= 255,89 liter/m3

Super plasticizer (SP 337)

Koreksi air yang digunakan = 255,89 6,40 = 249,49 liter/m3

KELOMPOK X

2,5
x 255,89 = 6,40 liter/m3
100

Laporan Praktikum Teknologi Bahan Konstruksi II

Perbandingan bahan yang digunakan :


Semen : Agregat Halus : Agregat Kasar : Air
1

0,536

1,213

: Superpasticizer

: 0,333 :

0,0085

25. Perhitungan Benda Uji


Untuk percobaan diperlukan 6 benda uji :
3 benda uji dengan diameter (d) = 15 cm dan tinggi (h) = 30 cm
Volume

= 3(0,25 x x 0,15 x 0,30) = 0,0159 m

3 benda uji dengan diameter (d) = 10 cm dan tinggi (h) = 20 cm


Volume

= 3(0,25 x x 0,10 x 0,20) = 0,0047 m

Volume Total = 0,0159 m + 0,047 m = 0,0206 m.


Dalam pelaksanaan ditambah 20% dari total volume bahan untuk
menjaga kemungkinan susut, jadi diperlukan:
Volume Total Akhir = 0,0206 + (20% x 0,0206) = 0,02472 m.
Maka bahan yang diperlukan untuk 6 benda uji sebanyak:
a.Semen

= 0,02472 m x 750 kg/m


= 18,54 kg

b.

Pasir

= 0,02472 m x 404,64 kg/m


= 10,003 kg

c.Kerikil
Air

= 10.003 gr

= 0,02472 m x 909,47 kg/m


= 22,482 kg

d.

= 18.540 gr

= 22.482 gr

= 0,02472 m x 249,49 liter/m


= 6,167 liter = 6.167 ml

e.Zat aditif

= 0,02472 m x 6,4 liter/m


= 0,158 liter = 158 ml

Tabel 1.14 Perencanaan Campuran Beton


1.

Tegangan Karakteristik

KELOMPOK X

: 40

MPa

Laporan Praktikum Teknologi Bahan Konstruksi II

1...
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.

Standar Deviasi
Margin
Rencana tegangan rata-rata
Tipe semen
Tipe agregat kasar
Tipe agregat halus
Faktor Air Semen maks.
Faktor Air Semen Rencana
Slump
Ukuran agregat maks.
Kebutuhan air bebas
Kadar Semen Rencana
Kadar Semen min.
Berat jenis gabungan kondisi SSD
Berat jenis Beton basah
Berat agregat total
Grading agregat halus
Prosen agregat halus
Berat agregat halus
Berat agregat kasar

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

Kegagalan = 5
7
12
52
Gresik (Tipe I)
Batu Pecah
Alami
0,60
0,30
75150
40
225
750
275
2,625
2320
1345
Daerah II
33
403,5
941,5

%
MPa
MPa
MPa

mm
mm
liter
kg/m3
kg/m3
kg/m3
kg/m3
kg/m3
%
kg/m3
kg/m3

Tabel 1.15 Kebutuhan Bahan-Bahan Campuran Beton per m3


1
2
3
4

Air
Semen
Agregat halus (Pasir)
Agregat kasar (Kerikil)
Total

KELOMPOK X

:
:
:
:
:

249,49
750
404,64
909,47
2313,6

liter
kg
kg
kg
kg