P. 1
Analisa Infrastruktur Jalan Nagreg

Analisa Infrastruktur Jalan Nagreg

|Views: 842|Likes:
Dipublikasikan oleh Raras Faliaresti

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Raras Faliaresti on May 15, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

01/22/2014

MANAJEMEN INFRASTRUKTUR

Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Manajemen Infrastruktur Makalah

Disusun oleh: Ajeng Ayu Miranti Ayu Nike Retnowati Dini Indra Herlina Dyah Nariswary R. M. Eva Fauziyah Hendana Intan Mustikawati Mitha Oktaviana Nurina Laila Ramdiani Rahmadita Maharani Raras Faliaresti

Program Studi Manajemen Aset Jurusan Administrasi Niaga

Politeknik Negeri Bandung
2009

BAB I IDENTITAS INSTITUSI

Organisasi Induk Organisasi bagian Operasional

(Strategic level) (Managerial level) (Operasional level)

= Pemerintah = Departemen PU = Dirjen Bina Marga

A. Nama Institusi Direktorat Jenderal Bina Marga, Departemen Pekerjaan Umum

B. Visi Terwujudnya Sistem Penyelenggaraan Jaringan Jalan yang Handal, Bermanfaat dan Berkelanjutan untuk Mendukung Tercapainya Indonesia yang Aman dan Damai, Adil dan Demokratis serta Lebih Sejahtera.

C. Misi • Memenuhi kebutuhan infrastruktur jalan untuk mendukung pengembangan wilayah dan kelancaran distribusi barang dan jasa. • Mendorong berkembangnya industri konstruksi yang kompetitif.

• Meningkatkan kapasitas pemerintah daerah dan masyarakat dalam pembangunan infrastruktur jalan. • Mengembangkan teknologi yang tepat guna dan kompetitif serta meningkatkan keandalan mutu infrastruktur jalan.

• Menerapkan organisasi yang efisien, tata laksana yang efektif dan terpadu dengan prinsip good governance serta mengembangkan SDM yang profesional.

D. Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga mempunyai tugas pokok melaksanakan kewenangan pemerintah daerah dalam bidang kebina margaan.

Untuk melaksanakan tugas pokok, Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga mempunyai fungsi: a. perumusan kebijakan teknis operasional pembangunan dan pengelolaan dibidang pekerjaan umum bina marga, b. pelaksanaan pembangunan, pemeliharaan jalan dan jembatan, c. pemberian bimbingan dibidang bina marga, d. pembinaan, pengawasan dan pengendalian teknis pembangunan, pemeliharaan dan pemanfaatan jalan serta jembatan, e. pelaksanaan analisa dan evaluasi tentang fungsi dan status jalan serta jembatan, f. pengelolaan administrasi umum, g. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya.

E. Susunan Organisasi

Sekretariat dan Bidang-bidang, masing-masing dipimpin oleh seorang Sekretaris dan Kepala Bidang yang berada dibawah dan bertanggungjawab langsung kepada Kepala Dinas. 1) Sekretariat

Sekretariat mempunyai tugas memberikan pelayanan teknis administrasi kepada seluruh satuan organisasi dalam lingkungan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga. Untuk melaksanakan tugas, Sekretariat mempunyai fungsi : a. pengelolaan administrasi umum dan urusan umum, b. pengelolaan administrasi kepegawaian dan kesejahteraan pegawai, c. pengelolaan administrasi keuangan dan gaji pegawai, d. pengelolaan administrasi perlengkapan perkantoran pemeliharaan, kebersihan dan keamanan cantor, e. pengelolaan urusan rumah tangga, f. penyiapan bahan untuk penyusunan pertanggungjawaban keuangan, anggaran dan pelaporan dan mengurus

g. pelaksanaan tugas-tugas hubungan kemasyarakatan, h. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas. Sekretariat, membawahi : a. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian, b. Sub Bagian Keuangan, c. Sub Bagian Perencanaan. Masing-masing Sub Bagian dipimpin oleh seorang Kepala Sub Bagian yang berada dibawah dan bertanggungjawab kepada Sekretaris. Tugas Pokok dan Fungsi Masing-masing Sub Bagian a. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian, mempunyai tugas : a) mengumpulkan bahan dan data dalam rangka penyusunan ketatausahaan dan kearsipan, b) melaksanakan analisis kebutuhan perlengkapan kantor dan perbekalan lainnya serta melaksanakan pemeliharaan perlengkapan dan peralatan kantor, c) melaksanakan dan mengurus pemeliharaan kebersihan dan keamanan kantor serta tugas keprotokolan, d) menyiapkan data dan pengolahan administrasi kepegawaian, e) menyiapkan proses upaya peningkatan kemampuan pegawai,

f) menyiapkan bahan untuk penyusunan dan penyempurnaan organisasi dan tatalaksana, g) melaksanakan tugas-tugas hubungan kemasyarakatan, h) melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Sekretaris sesuai dengan tugas dan fungsinya. b. Sub Bagian Keuangan, mempunyai tugas : a) mengumpulkan dan mengolah bahan dalam rangka penyusunan anggaran, b) melaksanakan keuangan, pengelolaan penatausahaan keuangan dan administrasi

c) melaksanakan pembayaran gaji dan pembayaran keuangan lainnya, d) melaksanakan analisis, evaluasi serta pengendalian terhadap pelaksanaan pengelolaan keuangan, e) menyusun laporan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan, f) melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Sekretaris sesuai dengan tugas dan fungsinya. c. Sub Bagian Perencanaan, mempunyai tugas : a) mengumpulkan data dan penyiapan bahan dalam rangka penyusunan program dan rencana kegiatan, b) menyusun program dan rencana kegiatan serta penyusunan anggaran kegiatan, c) melaksanakan analisis dan evaluasi serta pengendalian terhadap program dinas, d) melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Sekretaris sesuai dengan tugas dan fungsinya.

2) Bidang Pengendalian Operasional Bidang Pengendalian Operasional mempunyai tugas menyusun program perencanaan teknis dan pelaksanaan pelaporan dibidang pengendalian operasional. Untuk melaksanakan tugas, Bidang Pengendalian Operasional mempunyai fungsi : a. pengumpulan data dan bahan dalam rangka penyusunan program, analisa dan evaluasi pengembangan jalan, b. pelaksanaan studi kelayakan, AMDAL dan perencanaan teknis jalan,

c. pelaksanaan kegiatan penelitian dan pengkajian tanah serta bahan jalan, d. penyelenggaraan kegiatan pengumpulan, pemutakhiran dan penyimpanan data-data mengenai jalan, e. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan tugas dan fungsinya. Bidang Pengendalian Operasional, membawahi : a. Seksi Penyusunan Program, b. Seksi Perencanaan Teknis dan Legger Jalan, c. Seksi Pengujian Tanah dan Bahan. Masing-masing Seksi dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang bertanggungjawab langsung kepada Kepala Bidang Pengendalian Operasional. Tugas Pokok dan Fungsi Masing-masing Seksi: a. Seksi Penyusunan Program, mempunyai tugas : a) menghimpun bahan dan data kondisi, perkembangan dan perubahan jalan serta penetapan jalan, status dan fungsi jalan, b) melakukan kegiatan pemantauan, studi kelayakan dan AMDAL dalam rangka pengembangan jaringan jalan dan pemanfaatan jalan, c) melakukan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Pengendalian Operasional sesuai dengan tugas dan fungsinya. b. Seksi Perencanaan Teknis dan Legger Jalan, mempunyai tugas : a) melakukan survey tentang struktur jalan, bentuk sifat bangunan/topologi serta melakukan rencana dan gambar mengenai geometric jalan, b) melakukan spesifikasi teknis dan estimasi biaya terhadap pelaksanaan pembangunan dan peningkatan jalan serta jembatan, c) mengolah, menyajikan, menyimpan, pemutakhiran data jalan dan jembatan, memelihara dan melakukan

d) melakukan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Pengendalian Operasional sesuai dengan tugas dan fungsinya. c. Seksi Pengujian Tanah dan Bahan, mempunyai tugas : a) mengumpulkan bahan dalam rangka melaksanakan penelitian dan pengujian tentang keadaan tanah serta bahan jalan dan jembatan,

b) melakukan pengkajian terhadap kegiatan-kegiatan penggunaan bahan jalan dan jembatan, c) melakukan pengujian terhadap kualitas bahan pekerjaan pembangunan jalan, d) mengumpulkan bahan dan menyiapkan laporan dari hasil penelitian dan pengujian serta memberikan saran pertimbangan tentang keadaan tanah serta bahan jalan dan jembatan, e) melakukan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Pengendalian Operasional sesuai dengan tugas dan fungsinya.

3) Bidang Pembangunan Bidang Pembangunan mempunyai tugas menyusun program perencanaan teknis, pelaksanaan pelaporan dibidang pembangunan jalan dan jembatan. Untuk melaksanakan tugas, Bidang Pembangunan mempunyai fungsi : a. penyiapan dan pengumpulan bahan dalam rangka penyusunan program dan estimasi biaya pelaksanaan kegiatan pembangunan jalan dan jembatan, b. pelaksanaan program kegiatan pembangunan serta peningkatan jalan dan jembatan, c. pelaksanaan penelitian dan pengkajian dokumen teknis, pembinaan dan pengawasan kegiatan pembangunan jalan dan jembatan, peningkatan jalan dan penggantian jembatan, d. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan tugas dan fungsinya. Bidang Pembangunan, membawahi : a. Seksi Pembangunan Jalan, b. Seksi Peningkatan Jalan, c. Seksi Pembangunan Jembatan. Masing-masing Seksi dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang bertanggungjawab langsung kepada Kepala Bidang Pembangunan. Tugas Pokok dan Fungsi Masing-masing Seksi: a. Seksi Pembangunan Jalan, mempunyai tugas : a) mengumpulkan, menghimpun dan mengolah data untuk bahan pelaksanaan kegiatan pembangunan jalan,

b) menyusun pemutakhiran program-program, estimasi biaya pelaksanaan pembangunan dan peningkatan jalan, c) melakukan kegiatan pembangunan dan peningkatan jalan, d) melakukan pembinaan, pengawasan dan pengendalian pembangunan jalan, e) melakukan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsinya. b. Seksi Peningkatan Jalan, mempunyai tugas : a) mengumpulkan, menghimpun dan mengolah data untuk pelaksanaan kegiatan peningkatan jalan, b) menyusun pemutakhiran program-program dan estimasi biaya pelaksanaan peningkatan jalan, c) melakukan kegiatan-kegiatan peningkatan jalan, d) melakukan pembinaan, pengawasan dan pengendalian peningkatan jalan, e) melakukan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsinya. c. Seksi Pembangunan Jembatan, mempunyai tugas : a) mengumpulkan, menghimpun dan mengolah data untuk pelaksanaan kegiatan pembangunan jembatan, b) menyusun pemutakhiran program-program dan estimasi biaya pelaksanaan pembangunan jembatan, c) melakukan kegiatan-kegiatan peningkatan jembatan, d) melakukan jembatan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian pembangunan

e) melakukan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsinya.

4) Bidang Pemeliharaan Bidang Pemeliharaan mempunyai tugas menyusun program perencanaan teknis, pelaksanaan pelaporan dibidang pemeliharaan jalan dan jembatan. Untuk melaksanakan tugas, Bidang Pemeliharaan mempunyai fungsi :

a. pengumpulan data dan bahan dalam rangka penyusunan program, estimasi biaya pemeliharaan jalan dan jembatan, b. pelaksanaan program pemeliharaan jalan dan jembatan, c. penelitian dan pengkajian dokumen teknik pemeliharaan jalan dan jembatan serta penanggulangan kerusakan jalan dan jembatan akibat bencana alam, d. pelaksanaan pemanfaatan jalan dan pemberian rekomendasi serta perijinan penggunaan jalan, e. pengadaan, pemeliharaan peralatan dan perbekalan, f. pelaksanaan pembinaan dan pengendalian kegiatan, pemeiharaan, pemanfaatan jalan dan jembatan serta penanggulangan kerusakan jalan dan jembatan akbiat bencana alam, g. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan tugas dan fungsinya. Bidang Pemeliharaan, membawahi : a. Seksi Pemeliharaan Jalan dan Jembatan,
b. Seksi Peralatan dan Perbekalan,

c. Seksi Pemanfaatan Jalan dan Jembatan. Masing-masing Seksi dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang berada dibawah dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala Bidang Pemeliharaan. Tugas Pokok dan Fungsi Masing-masing Seksi: a. Seksi Pemeliharaan Jalan dan Jembatan, mempunyai tugas : a) menghimpun dan mengolah data guna pelaksanaan pemeliharaan jalan dan jembatan, b) menyusun pemutakhiran program pemeliharaan jalan dan jembatan, c) melaksnakan kegiatan pemeliharaan jalan dan jembatan serta upaya penanggulangan kerusakan jalan dan jembatan akibat bencana alam, d) menyiapkan bahan pembinaan, pengawasan dan pengendalian pemeliharaan jalan dan jembatan akibat bencana alam, e) melakukan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Pemeliharaan sesuai dengan tugas dan fungsinya. b. Seksi Peralatan dan Perbekalan, mempunyai tugas :

a) menyusun rencana kebutuhan pembekalan/peralatan termasuk alat-alat berat untuk pelaksanaan tugas pekerjaan umum bina marga, b) mengadakan koordinasi dengan instansi terkait untuk penyusunan kebutuhan bidang perbekalan untuk pembangunan dan perbaikan jalan, jembatan dan bangunan lainnya, c) melakukan perawatan serta perbaikan segala kendaraan dan peralatan berat, d) memelihara, mengawasi dan mengolah tata usaha perbekalan, e) mengatur pemakaian peralatan, f) menyusun inventarisasi dan laporan secara berkala tentang keadaan peralatan dan perbekalan serta penggunaannya, g) melakukan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Pemeliharaan sesuai dengan tugas dan fungsinya. c. Seksi Pemanfaatan Jalan dan Jembatan, mempunyai tugas : a) melakukan pendataan, pengkajian, penelitian dan pemantauan tentang manfaat status jalan dan jembatan, b) melakukan penyuluhan dan pembinaan terhadap pemanfaatan jalan dan jembatan, c) melakukan tugas dinas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Pemeliharaan sesuai dengan tugas dan fungsinya.

5) Kelompok Jabatan Fungsional 1. Kelompok Jabatan Fungsional mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas teknis Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga sesuai dengan bidang keahlian dan kebutuhan serta berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kelompok Jabatan Fungsional, terdiri dari sejumlah tenaga dalam jenjang jabatan fungsional yang terbagi dalam kelompok sesuai dengan keahliannya. Kelompok Jabatan Fungsional, dipimpin oleh seorang tenaga fungsional senior dalam melaksanakan tugasnya bertanggungjawab kepada Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga. Jumlah Jabatan Fungsional ditentukan berdasarkan kebutuhan dan beban kerja. Jenis dan jenjang jabatan fungsional diatur sesuai ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku.

2. 3.

4. 5.

Tata Kerja 1. Dalam melaksanakan tugasnya Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga wajib menerapkan prinsip koordinasi, integrasi dan sinkronisasi baik didalam lingkungan dinas serta instansi/lembaga lain yang terkait. 2. Setiap pimpinan pada unit organisasi dalam lingkungan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga melaksanakan koordinasi pengawasan melekat. 3. Setiap pimpinan pada unit organisasi dalam lingkungan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga bertanggungjawab serta memberikan bimbingan, pedoman dan petunjuk bagi pelaksanaan tugas bawahan. 4. Setiap pimpinan dan bawahan unit organisasi di lingkungan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga wajib mengikuti dan mematuhi pedoman dan petunjuk atasan, serta melaporkan hasil pelaksanaan tugasnya kepada atasan langsung secara berkala dan tepat waktu.

BAB II PRASARANA

A. Prasarana a. Jalan b. Jembatan c. Drainase

B. Prioritas Prasarana 1) Jalan Based on Need Based on Substitution : Basic : Unsubtitutable

Based on Its Ownership : Public Asset 2) Jembatan Based on Need Based on Substitution : Basic : Subtitutable

Based on Its Ownership : Public Asset 3) Drainase Based on Need Based on Substitution : Important : Subtitutable

Based on Its Ownership : Public Asset

C. Peran Prasarana

a. Jalan

• •

Mencapai kemudahan dan keseimbangan pertumbuhan antar daerah. Mewujudkan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya serta keseimbangan dalam pengembangan wilayah dengan memperhatikan keadilan, yang dapat dicapai dengan membina jaringan jalan yang dananya berasal dari pengguna jalan. Meningkatkan efisiensi pelayanan jasa distribusi guna menunjang peningkatan pertumbuhan ekonomi terutama di wilayah yang sudah tinggi tingkat perkembangannya.

b. Jembatan Jembatan merupakan satu struktur yang dibuat untuk menyeberangi jurang atau rintangan seperti sungai, rel kereta api ataupun jalan raya.Suatu jembatan biasanya dirancang untuk kereta api, untuk pengguna jalan raya atau untuk pejalan kaki. Ada juga jembatan yang dibangun untuk pipa-pipa besar dan saluran air yang bisa digunakan untuk membawa barang. Kadang-kadang, terdapat batasan dalam penggunaan jembatan; contohnya, ada jembatan yang dikususkan untuk jalan raya dan tidak boleh digunakan oleh pejalan kaki atau penunggang sepeda. Ada juga jembatan yang dibangun untuk pejalan kaki (jembatan penyeberangan), dan boleh digunakan untuk penunggang sepeda.

c. Drainase
a. Menjamin kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, b. Melindungi alam lingkungan seperti tanah, kualitas udara dan

kualitas air (PROKASIH), c. Menghindarkan bahaya, kerusakan materiil, kerugian dan bebanbeban lain yang disebabkan oleh amukan limpasan banjir, d. Memperbaiki kualitas lingkungan, e. Konservasi sumber daya air.

BAB III MANAJEMEN PRASARANA

A. Pendanaan Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2005 tentang Jalan Tol, pada Bab V tentang Pengusahaan Jalan Tol, dalam pasal 23 tentang Pendanaan dikemukakan : (1) (2) (3) (4) (5) Pendanaan pengusahaan jalan tol dapat berasal dari Pemerintah dan/atau Badan Usaha. Pendanaan yang berasal dari Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperuntukkan bagi ruas jalan tol yang layak secara ekonomi, tetapi belum layak secara finansial. Pendanaan yang berasal dari Badan Usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperuntukkan bagi ruas jalan tol yang layak secara ekonomi dan finansial. Pendanaan yang berasal dari Pemerintah dan Bdan Usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperuntukan bagi jalan tol yang layak secara ekonomi tetapi belum layak secara finansial. Ketentuan mengenai pendanaan pengusahaan jalan tol sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Pendanaan pengadaan jalan tol berasal dari: a. Pinjaman atau hibah dari luar negeri seperti dari Bank Dunia, b. APBN, dan/atau c. APBD. B. Perencanaan a. melakukan survey tentang struktur jalan, bentuk sifat bangunan/topologi serta melakukan rencana dan gambar mengenai geometric jalan, b. melakukan spesifikasi teknis dan estimasi biaya terhadap pelaksanaan pembangunan dan peningkatan jalan serta jembatan,
c. mengolah, menyajikan, menyimpan, memelihara dan melakukan pemutakhiran

data jalan dan jembatan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2005 tentang Jalan Tol, pada Bab V tentang Pengusahaan Jalan Tol, dalam Bagian Ketiga dan Keempat dikemukakan :

(1) (2) (3)

(4)

Bagian Ketiga Persiapan Pengusahaan Pasal 24 Persiapan pengusahaan dilakukan dalam rangka menyusun prioritas proyek jalan tol yang dilelang. Persiapan pengusahaan mencakup pelaksanaan prastudi kelayakan finansial, studi kelayakan, dan analisis mengenai dampak lingkungan. Prastudi kelayakan finansial sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencakup kegiatan analisa sosial ekonomi, analisa proyeksi lalu lintas, dan analisa perkiraan biaya konstruksi serta analisa kelayakan finansial termasuk rekomendasi bentuk pengusahaan, skema pendanaan dan upaya yang dibutuhkan untuk membuat proyek layak secara finansial. Hasil kegiatan prastudi kelayakan finansial sebagaimana dimaksud pada ayat (2) digunakan sebagai dasar penyusunan studi kelayakan. Pasal 25 Studi kelayakan dan analisis mengenai dampak lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (2) dilakukan untuk mengevaluasi kelayakan proyek dari aspek teknis, ekonomi dan finansial serta lingkungan. Studi kelayakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mecakup analisa sosial ekonomi daerah, analisa proyeksi lalu lintas, penyusuan desain awal, analisa perkiraan biaya konstruksi, analisa kelayakan teknik, ekonomi, dan finansial. Analisis mengenai dampak lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup kegiatan pengkajian dampak-dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat adanya rencana kegiatan pembangunan jalan tol. Hasil kegiatan studi kelayakan dan analisis mengenai dampak lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dijadikan dasar dalam proses pelelangan.

(1) (2) (3) (4)

Pasal 26 Kegiatan analisa kelayakan finansial, studi kelayakan, dan analisis mengenai dampak lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (2) dilaksanakan oleh BPJT. Bagian Keempat Perencanaan Teknis Pasal 27 (1) Rencana teknik jalan tol merupakan suatu kumpulan dokumen teknik yang memberikan gambaran produk yang ingin diwujudkan, yang terdiri dari gambar teknik detail, syaratsyarat umum, serta spesifikasi pekerjaan dengan mengacu kepada desain awal. (2) Rencana teknik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya harus memuat ketentuan teknik jalan tol yang meliputi: ruang manfaat jalan tol, yaitu ruang sepanjang jalan tol yang meliputi badan jalan, b. saluran tepi jalan, talud timbunan, dan galian serta ambang pengaman; c. ruang milik jalan tol yaitu ruang sepanjang jalan tol yang meliputi ruang manfaat d. jalan tol dan sejalur tanah tertentu di luar ruang manfaat jalan tol; e. ruang pengawasan jalan tol, yaitu ruang sepanjang jalan tol yang meliputi sejalur f. tanah tertentu di luar ruang milik jalan tol yang penggunaannya berada di bawah g. pengawasan Menteri; h. beban rencana, volume lalu lintas, dan kapasitas serta tingkat pelayanan jalan tol; i. persyaratan geometrik jalan tol;

a.

f. g. (3) (4) (5)

jarak minimum antarjalan keluar/masuk jalan tol; dan persyaratan konstruksi jalan tol. Rencana teknik jalan tol harus mampu memperhatikan keadaan serta factor pengaruh lingkungan dan harus menggambarkan hasil optimal sesuai dengan kebutuhan pengguna jalan tol dan penghematan sumber daya. Penyusunan rencana teknik jalan tol sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Badan Usaha. Ketentuan teknik jalan tol sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan Menteri. C. Pengadaan dan Pelaksanaan Konstruksi

a. Pembangunan 1) penyiapan dan pengumpulan bahan dalam rangka penyusunan program dan estimasi biaya pelaksanaan kegiatan pembangunan jalan dan jembatan, 2) pelaksanaan program kegiatan pembangunan serta peningkatan jalan dan jembatan, 3) pelaksanaan penelitian dan pengkajian dokumen teknis, pembinaan dan pengawasan kegiatan pembangunan jalan dan jembatan, peningkatan jalan dan penggantian jembatan. 1) 2) 3) 4) b. Pembangunan Jalan mengumpulkan, menghimpun dan mengolah data untuk bahan pelaksanaan kegiatan pembangunan jalan, menyusun pemutakhiran program-program, estimasi biaya pelaksanaan pembangunan dan peningkatan jalan, melakukan kegiatan pembangunan dan peningkatan jalan, melakukan pembinaan, pengawasan dan pengendalian pembangunan jalan,

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2005 tentang Jalan Tol, Bab V tentang Pengusahaan Jalan Tol Bagian Kelima dikemukakan : Pengadaan Tanah Pasal 28 Pelaksanaan konstruksi dimulai setelah pengadaan tanah selesai sekurangkurangnya pada bagian ruas jalan tol yang layak dioperasikan. Pengadaan tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan mengacu pada peraturan perundang-undangan di bidang pertanahan.

(1) (2)

(1)

Pasal 29 Pengadaan tanah dapat menggunakan dana uang berasal dari Pemerintah dan/atau Badan Usaha. (2) Dalam hal dana pengadaan tanah berasal dari badan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) besarnya dana pengadaan tanah yang dibutuhkan ditetapakan oleh Pemerintah. (3) Dalam hal realisasi dana pengadaan tanah melebihi dana yang telah ditetapkan sebagaimana pada ayat (2), selisihnya didanai Badan Usaha untuk selanjutnya dikompensasi dengan masa konsesi dan/atau dengan cara lain. (4) Dalam hal realisasi pengadaan tanah lebih rendah dari dana yang telah ditetapkan

sebagaimana dimaksud pada ayat (2), selisihnya disetor ke Kas Negara dan dicatat sebagai PNBP. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2005 tentang Jalan Tol, Bab V tentang Pengusahaan Jalan Tol Bagian Keenam dikemukakan : Pelaksanaan Konstruksi Pasal 30 Pelaksanaan konstruksi jalan tol dilaksanakan sesuai dengan rencana teknik jalan tol sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27. Pelaksanaan konstruksi jalan tol sebagaimana dimaksud pada ayat (1) termasuk pelaksanaan konstruksi jalan penghubung. Pelaksanaan konstruksi jalan tol harus menjamin keselamatan, keamanan, kenyamanan pengguna jalan, dan kelancaran arus lalu lintas pada jalan yang ada serta tidak menimbulkan kerugian bagi masyarakat sekitarnya.

(1) (2) (3)

Pasal 31 Pengadaan pelaksana konstruksi mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan. (1) (2) (3) (4) Pasal 32 Dalam hal pembangunan jalan tol menggunakan jalan yang ada maka harus disediakan jalan pengganti. Jalan pengganti harus disediakan dengan jumlah lajur, dan struktur lapis perkerasan yang sekurang-kurangnya sama dengan jumlah lajur, dan struktur lapis perkerasan lintas jalan yang digantikan. Jalan pengganti sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus memenuhi persyaratan geometrik yang ditetapkan. Selama pelaksanaan konstruksi jalan pengganti belum selesai atau jalan pengganti belum dapat difungsikan, jalan yang ada harus tetap berfungsi. Pasal 33 Dalam hal pelaksanaan konstruksi jalan tol mengganggu jalur lalu lintas yang telah ada, maka Badan Usaha terlebih dahulu menyediakan jalan pengganti sementara yang layak. Penyediaan jalan pengganti sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memperhatikan pendapat instansi yang terkait.

(1) (2)

Pasal 34 Dalam hal pelaksanaan konstruksi jalan tol berlokasi di atas atau di bawah jalan yang ada, maka jalan tersebut harus tetap berfungsi dengan baik. Pasal 35 Dalam hal pelaksanaan konstruksi jalan tol melintas di atas atau di bawah jalur kereta api, maka persyaratan tekniknya ditetapkan bersama oleh Menteri dan Menteri yang bertanggung jawab dalam bidang perkereta-apian dengan mengutamakan kepentingan umum dan memperhatikan pihak yang memiliki bangunan yang telah ada lebih dahulu. 1) b. Pembangunan Jembatan mengumpulkan, menghimpun dan mengolah data untuk pelaksanaan kegiatan pembangunan jembatan,

2) 3) 4)

menyusun pemutakhiran program-program dan estimasi biaya pelaksanaan pembangunan jembatan, melakukan kegiatan-kegiatan peningkatan jembatan, melakukan pembinaan, pengawasan dan pengendalian pembangunan jembatan.

D. Pengoperasian
1)

2)

Melengkapi perlengkapan jalan yang berkaitan langsung dengan pengguna jalan untuk menjamin keselamatan pengguna jalan pada kegiatan pembangunan jalan baru dan peningktan jalan. Melengkapi pemasangan nomor ruas jalan

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2005 tentang Jalan Tol, Bab V tentang Pengusahaan Jalan Tol pada Pasal 36 dan 37 tentang Pengoperasian dikemukakan: Pasal 36 Pengoperasian jalan tol meliputi kegiatan pengumpulan tol, penggunaan, penutupan sementara, pengambilalihan dan pengoperasian setelah masa konsesi, serta usaha-usaha lain yang sesuai dengan maksud dan tujuan penyelenggaraan jalan tol. Pasal 37 Pengoperasian jalan tol sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 dilakukan setelah memenuhi: a. laik fungsi terhadap ketentuan teknis dan administratif sebagai jalan umum sebagaimana ditetapkan dengan peraturan Menteri dan menteri terkait; b. laik fungsi terhadap ketentuan sistem tol yang meliputi sistem pengumpulan tol dan perlengkapan sarana operasi sebagaimana ditetapkan dengan peraturan Menteri. Kemudian pada Pasal 50 dan 51 dikemukakan pula: Pengambilalihan dan Pengoperasian setelah masa konsesi Pasal 50 (1) Dalam hal masa konsesi jalan tol telah selesai, BPJT mengambil alih dan merekomendasikan pengoperasian selanjutnya kepada Menteri. (2) Jalan tol yang telah selesai masa konsesinya ditetapkan oleh Menteri atas rekomendasi BPJT menjadi jalan umum tanpa tol. Pasal 51
(1) Selain ditetapkan menjadi jalan umum tanpa tol sebagaimana dimaksud pada Pasal

50 ayat (2), jalan tol yang telah selesai masa konsesinya dapat tetap difungsikan sebagai jalan tol oleh Menteri atas rekomendasi BPJT dalam hal : a. mempertimbangkan keuangan negara untuk pegoperasian dan pemeliharaan; dan/ atau b. untuk peningkatan kapasitas dan pengembangnan jal;an tol yang bersangkutan.

(2) Besaran tarif untuk jalan tol sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada kebutuhan biaya operasi dan pemeliharaan dan peningkatan kapasitas yang ada serta pengembangan dalam tol yang bersangkutan. E. Pemeliharaan Dalam prioritas penanganan jalan,pemeliharaan jalan mempunyai prioritas tertinggi. a. pengumpulan data dan bahan dalam rangka penyusunan program, estimasi biaya pemeliharaan jalan dan jembatan, b. pelaksanaan program pemeliharaan jalan dan jembatan, c. penelitian dan pengkajian dokumen teknik pemeliharaan jalan dan jembatan serta penanggulangan kerusakan jalan dan jembatan akibat bencana alam, d. pelaksanaan pemanfaatan jalan dan pemberian rekomendasi serta perijinan penggunaan jalan, e. pengadaan, pemeliharaan peralatan dan perbekalan, f. pelaksanaan pembinaan dan pengendalian kegiatan, pemeiharaan, pemanfaatan jalan dan jembatan serta penanggulangan kerusakan jalan dan jembatan akbiat bencana alam. Kegiatan pemeliharaan menyangkut pengelolaan permasalahan yang berkaitan dengan : a. penyediaan mutu pelayanan tertentu; b. sumber daya manusia, bahan, dan peralatan; c. kegiatan dan prosedur; d. lokasi dari jaringan jalan; dan e. waktu penanganan. Secara umum, ada tiga tujuan utama pemeliharaan jalan (World Bank, 1988), yaitu sebagai berikut : 1. mempertahankan kondisi agar jalan tetap berfungsi, 2. mengurangi tingkat kerusakan, dan 3. memperkecil biaya operasi kendaraan. Kategori Kegiatan Pemeliharaan Jalan 1. Berdasarkan Waktu Penanganan a. Pemeliharaan Rutin b. Pemeliharaan Periodik c. Pekerjaan Darurat 2. Berdasarkan Fisik Pekerjaan a. Perawatan Jalan b. Rehabilitasi c. Penunjangan Jalan d. Peningkatan Jalan 3. Berdasarkan Nilai Pekerjaan a. Pekerjaan Berat, meliputi : i. Pembangunan baru ii. Pekerjaan peningkatan iii. Pekerjaan rehabilitasi b. Pemeliharaan Berkala c. Pemeliharaan Rutin d. Pekerjaan Penyangga

e. Pekerjaan Darurat Pola Penanganan Pemeliharaan a) Swakelola a. Pekerjaan Pemeliharaan Rutin secara swakelola dilakukan jika UPR sudah tersedia. Untuk itu dibentuk Unit Pelaksanaan Teknis Dinas Tingkat I (UPTDI) yang memiliki sekurang-kurangnya satu Unit Pemeliharaan Rutin. b. Satu UPR direncanakan melayani panjang jalan 100 sampai 200 Km. Swakelola terdiri dari : a. Swakelola penuh, yaitu penanganan Pemeliharaan rutin dimana regu pekerja adalah tenaga-tenaga organik. b. Swakelola Upah borongan, yaitu penanganan Pemeliharaan Rutin dimana regu pekerja bukan tenaga organik dan pembayaran upah dilakukan secara upah borongan (taak werk). b) Dikontrakkan Pelaksanaan Pemeliharaan Rutin dimungkinkan untuk dikontrakkan apabila UPTD-I yang bersangkutan belum mempunyai UPR atau peralatan yang dimiliki kurang memadai, sehingga pekerjaan Pemeliharaan Rutin dilaksanakan oleh Bagian Proyek Rehabilitasi dan Pemeliharaan Jalan dan Jembatan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2005 tentang Jalan Tol, Bab V tentang Pengusahaan Jalan Tol pada Pasal 53 dan 54 tentang Pemeliharaan dikemukakan: (1) (2) (3) Pasal 53 Pemeliharaan jalan tol meliputi pemeliharaan rutin, pemeliharaan berkala, dan peningkatan. Badan Usaha wajib memelihara jalan tol dan jalan penghubung. Ketentuan lebih lanjut tentang bagian jalan penghubung yang harus dipelihara oleh Badan Usaha diatur dengan peraturan Menteri. Pasal 54 Pemeliharaan jalan tol dilaksanakan menurut ketentuan teknik pemeliharaan jalan tol. Pelaksanaan pemeliharaan jalan tol tidak boleh merugikan pengguna jalan, dan tidak menimbulkan gangguan terhadap kelancaran lalu lintas. Ketentuan lebih lanjut tentang tata cara pemeliharaan jalan tol sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan Menteri.

(1) (2) (3)

Tahap Pemenuhan • Tujuan: Benefit → transportasi lancar (tidak macet), kemajuan ekonomi masyarakat. Disbenefit → transportasi kurang lancar (macet), kemajuan ekonomi masyarakat terhambat.


Untuk mencapai benefit perlu produksi (pembuatan jalan) Untuk berproduksi perlu sarana produksi (proses penganggaran/pendanaan) Agar sarana produksi bisa berproduksi perlu prasarana (hal-hal yang dibutuhkan sebelum produksi) Untuk kebutuhan di atas perlu uang. Untuk mengetahui kebutuhan uang diperlukan identifikasi besarnya kebutuhan.

• • •

Proses Penganggaran Proposal Pengajuan : DUP (Daftar Usulan Proyek)

DIP (Daftar Isian Proyek) Pajak Finance Proyek Pemerintah APBN APBD Pendapatan SDA

Infrastruktur procurement, repair & maintenance Kuantitas - Jumlah pemakai 23300 – 31200/jam - Kelompok pemakai → Publik - Target waktu layanan → 24 jam

Kualitas - Daya dukung jalan 17 – 18 ton - Ketahanan jalan sampai 5 tahun - Untuk menjadi jalan yang baik perlu dilengkapi dengan : Rambu-rambu, pembatas jalan, penerangan, trotoar, pohon-pohon, tanda jalan.
-

Need

Rambu-rambu lalu lintas Pembatas jalan Tanda jalan Pengontrol jalan Petunjuk jalan Penerangan Trotoar Pohon Patung Want

Waktu - Untuk memenuhi kebutuhan jalan 2 tahun mendatang seiring dan meningkatnya jumlah pemakai

Misal : Jalan Negara Kelompok Pemakai Jumlah pemakai/jam Peak hour 2009-2010 Mobil Pribadi Truck Bus Sepeda Motor Jumlah mobil Jumlah total 6000 - 7000 2000 - 2400 600 - 800 9000 - 10000 8600 - 10200 17600 - 20200 Jumlah Pemakai/jam Peak hour 2011-2015 8000 - 11000 2500 - 3000 1800 – 2200 11000 – 15000 12300 - 16200 23300 - 31200

Kuantitas: Pelebaran jalan cukup untuk dilalui 23300 – 31200 per jam.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->