Anda di halaman 1dari 24

Warga Timor Leste Diduga Serobot Wilayah

Indonesia

Ilustrasi. scpr.org
TEMPO.CO, Kupang - Warga Distrik Oeccuse, Timor Leste, yang berbatasan dengan Timor
Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT), diduga menyerobot wilayah Indonesia untuk
melakukan aktivitas pertanian.
"Mereka (warga Oeccuse) sudah serobot lahan Indonesia hingga kurang lebih 200 meter," kata
Camat Bikomi Nailulat Ludovikus Lake yang menghubungi Tempo, Rabu, 22 Oktober 2014.
Menurut Ludovikus, penyerobotan lahan itu dilakukan warga Oeccuse untuk bertani di Desa
Sunkaen, Kecamatan Bikomi Nailulat. Penyerobotan ini berpotensi memicu bentrok antarwarga,
seperti yang terjadi di Desa Haumeni Ana beberapa waktu lalu. Bahkan, Ludovokus
memperkirakan masalah tersebut bakal lebih besar ketimbang di Haumeni Ana.
Pada Juli 2012, warga Desa Haumeni Ana, Kecamatan Bikomi Nailulat, Kabupaten Timor
Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, bentrok dengan warga Pasabe, Distrik Oeccuse,
Timor Leste. Konflik tersebut terjadi lantaran penggusuran tanah. (Baca juga: Warga Perbatasan
dan Timor Leste Terlibat Bentrok)
Ludovikus telah melaporkan penyerobotan lahan ini ke pemerintah Indonesia dan membuat
dokumentasi aktivitas pertanian warga Timor Leste yang telah melewati batas negara itu. Dia

khawatir warga NTT marah dengan aksi warga Timor Leste tersebut.
Konsulat Timor Leste untuk Nusa Tenggara Timur, Felixiano da Costa, yang dikonfirmasi terkait
penyerobotan itu mengaku belum menerima laporannya. "Saya belum laporannya sehingga saya
belum bisa berkomentar," katanya.
YOHANES SEO

WNI di Perbatasan Punya KTP Timor Leste

Kartu Tanda Penduduk Elektronik (E-KTP). ANTARAA/Seno S.


TEMPO.CO, Kupang - Sekitar 40 kepala keluarga warga negara Indonesia yang tinggal di
Desa Naktuka, Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, ternyata
memiliki Kartu Tanda Penduduk negara Timor Leste.
"Ada 40 KK yang berada di zona bebas antara dua negara memiliki KTP Timor Leste," kata Staf
Kodim 1604 Kupang, Mayor (Inf) Dwi Kristianto, kepada Tempo di Kupang, Jumat, 24 Oktober
2013.
Masalah perbatasan Indonesia-Timor Leste di Kecamatan Amfoang Timur sampai sekarang
masih jadi sengketa. Belum ada kesepakatan antar kedua negara soal batas wilayah sehingga

ditetapkanlah sebuah zona bebas di wilayah perbatasan itu.


"Di situ ada zona bebas sehingga kedua belah pihak tidak boleh ada kegiatan di lokasi itu,"
katanya. Dia mengakui pemerintah Timor Leste sempat membangun dua kantor pemerintah,
yakni Dinas Pertanian dan Imigrasi di lokasi itu pada 2008. Namun, telah dihentikan karena
berada di zona bebas. "Kami sudah komunikasikan untuk dihentikan pembangunannya," katanya.
Di zona itu juga, katanya, terdapat Desa Naktuka yang ditinggali 40 KK warga Indonesia.
Namun, mereka hanya miliki KTP Timor Leste. "Pemahaman kami mungkin saja banyak saudara
mereka di Timor Leste," katanya.
Bupati Kupang Ayub Titu Eki membenarkan adanya 40 KK di Naktuka. Namun, menurut dia,
mereka tinggal di zona bebas sehingga dia menganggap 40 KK adalah warga yang tak punya
negara. "Mereka berada di zona bebas. Jadi, kami tidak bisa klaim bahwa itu warga Indonesia,"
katanya.
Walaupun diakuinya, 40 KK tersebut sebenarnya adalah warga Indonesia karena mereka bukan
warga Oekusi, Timor Leste. "Mereka lahir besar di NTT," katanya. Namun, jika mereka memilih
ke Timor Leste itu hak mereka. "Mungkin saja, pelayanan pemerintah Timor Leste lebih baik
sehingga mereka memilih bergabung ke sana," katanya.
YOHANES SEO

Warga Timor Leste Tak Tahu Zona Bebas di


Nelu

Perbatasan RI - Timor Leste di Motamasin, Kab. Belu, Nusa Tenggara Timur. TEMPO/Jhon Seo
TEMPO.CO, Dili - Pemerintah Timor Leste menuding pemerintah Indonesia tidak
mensosialisasikan kesepakatan zona bebas di perbatasan Indonesia-Timor Leste kepada
warganya. Akibatnya, terjadi bentrokan antarwarga negara di wilayah perbatasan, Selasa dan
Rabu pekan lalu.
Ini hanya sebuah bentrokan kecil antarwarga di perbatasan karena warga Indonesia di
perbatasan belum ada informasi soal keputusan kedua negara ini, kata Wakil Menteri Luar
Negeri Timor Leste Constancio Pinto, Jumat pekan lalu.
Aksi saling lempar batu terjadi antara warga Timor Nelu Desa Sunsea, Kecamatan Naibenu,
Distrik Timor, Kabupaten Timor Tengah Utara, dan warga Leolbatan, Desa Costa-Oekusi, Timor
Leste. Bentrokan itu dipicu oleh pembangunan jalan raya oleh pemerintah Timor Leste di zona
bebas. Sudah ada keputusan bahwa garis batas adalah milik Timor Leste, sesuai kesepakatan
kedua negara, Pinto menambahkan.
Ia menegaskan, jalan yang dipersoalkan ini dibangun di wilayah Timor Leste. Hal tersebut
diperkuat dengan tanda batas berupa sebuah kuburan, sungai, dan pasir. Jadi, kata Pinto, klaim
warga Indonesia bahwa wilayah perbatasan itu milik mereka tidak benar.
Sekarang, saya menunggu informasi detail dari polisi perbatasan Timor Leste dan Sekretariat

Negara Urusan Keamanan Timor Leste, ujar Pinto.


Pinto meminta warga Indonesia agar menghargai garis perbatasan yang telah diputuskan kedua
negara. Ia menilai, konflik ini berskala kecil dan dapat diselesaikan dengan baik. Menurut dia,
garis perbatasan yang hingga sekarang belum diselesaikan adalah Naktuka dan Noel Besi.
Namun Kepala Badan Pengelola Perbatasan Daerah Nusa Tenggara Timur Eduard Gana justru
menilai pemerintah Timor Leste melanggar kesepakatan. Kami menyepakati zona bebas.
Artinya, di kedua belah pihak tidak boleh beraktivitas di lokasi itu, kata dia, Kamis pekan lalu,
di Kupang.
JOSE SARITO AMARAL (DILI) | YOHANES SEO (KUPANG)

Situasi Perbatasan Indonesia-Timor Leste


Memanas

Perbatasan Timor Leste. Tempo/Jhon Seo


TEMPO.CO, Kupang - Situasi di perbatasan Indonesia dan Timor Leste di Distrik Oecusse,
yang berbatasan dengan Desa Haumeni Ana, Kecamatan Bikomi Naiulat, Kabupaten Timor
Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali memanas. Pasalnya, Timor Leste dinilai
melanggar sumpah adat yang telah disepakati bersama.

Camat Bikomi Nilulat, Ludovikus Lake, mengatakan, warga Pasabe, Distrik Timor Leste, telah
melanggar kesepakatan yang dibuat bersama pada 19 November 2011 lalu terkait dengan zona
netral di titik perbatasan yang belum terselesaikan. "Mereka telah melanggar kesepakatan yang
telah dibuat bersama, sehingga warga Haumeni Ana marah," katanya ketika dihubungi Tempo
dari Kupang, Selasa, 29 Januari 2013.
Warga Pasabe, Timor Leste, menurut dia, telah melakukan aktivitas pertanian di atas lahan yang
berada di zona bebas, yakni di Desa Sunkaen dan Nenaban, Kecamatan Haumenei Ana. Karena
itu, warga di perbatasan mengancam akan menebang seluruh tanaman pertanian itu karena
berada di zona bebas. "Warga Timor Leste telah melakukan aktivitas di zona tersebut. Itu yang
sangat disesalkan," katanya.
Namun, dia mengaku telah melakukan koordinasi dengan warga di perbatasan agar tidak
melakukan tindak anarkistis. Jika warga menebang tanaman pertanian itu, bentrokan antarwarga
di perbatasan tidak terhindarkan. "Kami hanya sebatas mengimbau kepada warga," katanya.
Berdasarkan kesepakatan warga di perbatasan negara, disepakati bersama untuk melakukan
aktivitas apa pun di atas lahan zona netral itu, termasuk aktivitas pertanian. "Warga merasa
terhina karena kesepakatan itu sudah melalui sumpah adat," katanya.
Diketahui, masih terdapat lima titik batas antara Indonesia dan Timor Leste di Distrik Oecuse
yang belum terselesaikan. Lima titik itu yakni Subina di Desa Inbate, Pistana di Desa Nainaban
dan Desa Sunkaen, Tububanat di Desa Nilulat, Oben di Desa Tubu, dan Nefonunpo di Desa
Haumeni Ana.
YOHANES SEO

Timor Leste Klaim Lokasi Kantor Imigrasi


di Wilayahnya

Peta Timor Leste. everynation.org.ph


TEMPO.CO , Kupang - Pemerintah Timor Leste membantah pembangunan kantor CIQ
(Costumer, Imigrasi dan Karantina) di Haumeni Ana, Kecamatan Bikomi Naiulat, Kabupaten
Timor Tengah Utara, yang disengketakan berada di zona netral. Karena, pembangunan berada di
wilayah Timor Leste.
"Sebenarnya lokasi itu bukan zona konflik karena berada di wilayah Timor Leste, cuma
sayangnya kurang sosialiasi kepada Indonesia," kata Konsul Timor Leste di Kupang, Feliciano
da Costa yang dihubungi Tempo, Ahad, 5 Agustus 2012.
Dalam perundingan antara Indonesia-Timor Leste mengenai batas wilayah, menurut dia, hanya
ada satu opsi wilayah RI atau wilayah Timor-Leste, jadi tidak ada zona netral. "Tidak ada zona
netral dalam perudindangan kedua negara," katanya.
Pada tahun 2005, katanya, zona itu dikatakan netral oleh United Nation (PBB) untuk digunakan
sebagai kawasan koordinasi keamanan antara TNI dan UN, fasilitasi pembangunan pasar bagi
warga di perbatasan, dan digunakan sebagai tempat rekonsiliasi antara masyarakat eks Timtim
dengan masyarakat Pasabe, distrik Oecusee, Timor Leste.
"Zona itu digunakan untuk itu, namun pembangunannya masih di wilayah Timor Leste,"
katanya.

Sebelumnya, warga perbatasan Indonesia dan Timor Leste di Haumeni Ana, Kecamatan Bikomi
Naiulat, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, sempat terlibat bentrok,
terkait penolakan warga atas pembangunan kantor Imigrasi Timor Leste di wilayah zona netral
kedua negara.
Gubernur NTT Frans Lebu Raya mengingatkan warga agar bisa menahan diri, dan meminta agar
lokasi itu dikosongkan, karena termasuk zona netral yang masih disengketakan.

KONDISI MASYARAKAT
Kawasan Perbatasan Darat di Nusa Tenggara Timur
Kawasan Perbatasan Negara dengan Negara Timor Leste di NTT merupakan wilayah
Perbatasan Negara yang terbaru mengingat Timor Leste merupakan negara yang baru
terbentuk dan sebelumnya adalah merupakan salah satu dari propinsi di Indonesia.
Panjang garis perbatasan darat Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan Timor Leste adalah
268,8 kilometer.
Khusus perbatasan pada wilayah enclave Oekusi dimana sesuai dengan perjanjian antara
pemerintah Kolonial Belanda dan Portugis tanggal 1 Oktober 1904 perbatasan antara
Oekusi Ambeno wilayah Timor-Timur dengan Timor Barat dimulai dari Noel Besi
sampai muara sungai (Thalueg) dengan panjang 119,7 kilometer. Perbatasan dengan
Australia terletak di dua kabupaten yaitu Kupang dan Rote Ndao yang umumnya adalah
wilayah perairan laut Timor dan khususnya di Pulau Sabu.
Kondisi wilayah perbatasan di Nusa Tenggara Timur, secara umum masih belum
berkembang dengan sarana dan prasarananya yang masih bersifat darurat dan sementara.
Meskipun demikian relatif lebih baik dibandingkan dengan di wilayah Timor Leste. Di
wilayah perbatasan ini sudah berlangsung kegiatan perdagangan barang dan jasa yang
dibutuhkan oleh masyarakat Timor Leste dengan nilai jual yang relatif lebih tinggi.
Kawasan perbatasan antarnegara dengan Timor Leste di NTT merupakan kawasan
perbatasan antarnegara yang terbaru mengingat Timor Leste merupakan negara
yang baru terbentuk dan sebelumnya adalah salah satu Provinsi di Indonesia.
Perbatasan antarnegara di NTT terletak di 3 (tiga) kabupaten yaitu Belu, Kupang,
dan Timor Leste Utara (TTU). Perbatasan antarnegara di Belu terletak memanjang
dari utara ke selatan bagian pulau Timor, sedangkan Kabupaten Kupang dan TTU
berbatasan dengan salah satu wilayah Timor Leste, yaitu Oekussi, yang terpisah

dan berada di tengah wilayah Indonesia (enclave). Garis batas antarnegara di NTT
ini terletak di 9 (sembilan) kecamatan, yaitu 1 (satu) kecamatan di Kabupaten
Kupang, 3 (tiga) kecamatan di Kabupaten TTU, dan 5 (lima) kecamatan di
Kabupaten Belu.
Pintu perbatasan di NTT terdapat di beberapa kecamatan yang berada di tiga
kabupaten tersebut, namun pintu perbatasan yang relatif lengkap dan sering
digunakan sebagai akses lintas batas adalah di Kecamatan Tasifeto Timur,
Kabupaten Belu. Fasilitas perbatasan yang ada seperti CIQS, sudah cukup lengkap
walaupun masih darurat, seperti kantor kantor bea cukai yang belum dilengkapi
dengan alat detektor/scan bagi barang yang masuk dan keluar NTT, kantor imigrasi
yang masih sangat sederhana, karantina hewan dan tumbuhan, serta pos
keamanan yang juga masih sederhana.
Prasarana pasar di perbatasan yang terletak di dekat pintu perbatasan rusak
berat akibat perusakan oleh sekelompok orang dalam insiden yang terjadi pada
tahun 2003, sehingga dipindahkan ke tempat lain dan saat ini masih dalam kondisi
darurat, sedangkan sarana dan prasarana lain seperti sekolah dan pusat kesehatan
masyarakat telah tersedia walau dalam kondisi yang belum baik. Fasilitas-fasilitas
sosial yang telah ada dibangun oleh pemerintah pusat dan daerah untuk kebutuhan
para pengungsi.
Sarana dan prasarana perhubungan darat maupun laut ke pintu perbatasan
Timor Leste cukup baik, sehingga akses kedua pihak untuk saling berkunjung relatif
mudah dan cepat. Kondisi jalan dari Atambua, ibukota Belu, menuju pintu
perbatasan cukup baik kualitasnya, sehingga perjalanan dapat ditempuh dalam
waktu satu setengah jam. Hal ini dapat dimengerti karena kedua daerah NTT dan
Timor Leste sebelumnya merupakan dua Provinsi yang bertetangga, sedangkan
hubungan udara telah dipenuhi oleh maskapai penerbangan Merpati yang memiliki
penerbangan regular dari Bali ke Dili.
Kegiatan perdagangan lintas batas yang terjadi sebagian besar adalah
perdagangan kebutuhan alat-alat rumah tangga dan bahan makanan lainnya yang

tersedia di kawasan perdagangan atau di Atambua, ibukota kabupaten Belu.


Kegiatan lintas batas lainnya adalah kunjungan kekerabatan antar keluarga karena
banyaknya masyarakat eks pengungsi Timor Leste yang masih tinggal di wilayah
Atambua, sedangkan warga Indonesia lainnya yang berkunjung ke Timor Leste
adalah dalam rangka melakukan kegiatan perdagangan bahan makanan dan
komoditi lainnya yang dibutuhkan oleh masyarakat Timor Leste.
Kegiatan lintas batas yang sering terjadi adalah lintas batas tradisional
melalui jalan masuk yang dahulu pernah digunakan sebagai jalan biasa sewaktu
Timor Leste masih menjadi salah satu Provinsi Indonesia, seperti yang ada di
perbatasan antara Kabupaten TTU (Provinsi NTT) dan Oekussi (Timor Leste). Untuk
memfasilitasi warganya di Oekussi mengunjungi wilayah Timor Leste lainnya,
Pemerintah Timor Leste mengusulkan adanya ijin bagi warga Oekussi untuk
menggunakan prasarana jalan dari Oekussi ke wilayah utama Timor Leste. Namun
usulan ini masih belum ditanggapi oleh pihak Republik Indonesia

Potensi sumberdaya alam yang tersedia di kawasan perbatasan NTT pada


umumnya tidak terlalu besar, mengingat kondisi lahan di sepanjang perbatasan
tergolong

kurang baik bagi pengembangan pertanian, sedangkan

hutan di

sepanjang perbatasan bukan merupakan hutan produksi atau konversi serta hutan
lindung atau taman nasional yang perlu dilindungi.
Kondisi masyarakat di sepanjang perbatasan umumnya miskin dengan
tingkat kesejahteraan yang rendah dan tinggal di wilayah terisolir. Sumber mata
pencaharian utama masyarakat di kawasan perbatasan adalah kegiatan pertanian
lahan kering yang sangat tergantung pada hujan. Kondisi masyarakat di wilayah
Indonesia ini saat ini pada umumnya bahkan masih relatif lebih baik dari
masyarakat Timor Leste yang tinggal di sekitar perbatasan. Dengan demikian,
kawasan perbatasan di NTT khususnya di lima kecamatan yang berbatasan
langsung dengan Timor Leste maupun daerah NTT secara keseluruhan perlu
diperhatikan secara khusus karena dikhawatirkan akan terjadi kesenjangan yang

cukup tajam antara masyarakat NTT di perbatasan dengan masyarakat Timor Leste,
khususnya penduduk Belu yang sebagian besar masih miskin.

REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG -- Tentara Nasional Indonesia (TNI) unsur Satuan Tugas


Pengamanan Perbatasan RI-Timor Leste di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur,
meningkatkan kewaspadaan di tapal batas negara itu, menyusul baku tembak di negara bekas
provinsi ke-27 Indonesia, Sabtu (8/8).
"Meski kondisi keamanan perbatasan masih sangat aman dan terkendali, namun kewaspadaan
lebih ditingkatkan pascainsiden di Dili itu," kata Komandan Satuan Tugas Pengamanan
Perbatasan (Satgas Pamtas) RI-Timor Leste sektor Timur Batalyon Infantri 514/Raider Kostrad,
Letkol Inf Muhammad Nas, kepada Antara dari Atambua ibu kota Kabupaten Belu, Senin (10/8).
Danyon 514/Raider Kostrad itu dimintakan tanggapannya terkait, insiden baku tembak antara
pasukan bentukan Pemerintah Timur Leste dengan gerombolan pengacau keamanan pimpinan
Mouk Moruk (MM) alias Paulina Gama yang terjadi di Venilale Distric Baucau, pada Sabtu (8/8)
sekitar pukul 20.00 WTLS, menyebabkan pejuang kemerdekaan Timor Leste yang saat ini
berseberangan dengan pemerintah itu tewas ditempat.
Menurut Muhammad Nas, kondisi di sepanjang tapal batas hingga hingga saat ini masih
terkendali dan kondusif. Tidak ada pergerakan yang mengancam kondisi kedaulatan NKRI di
sepanjang tapal batas. Dia mengatakan, secara kelembagaan TNI tetap mengedepankan
kewaspadaan dari semua aspek kemungkinan terjadinya gangguan terhadap eksistensi kedaulatan
negara.
Hal itu juga dilakukan pascainsiden di Timor Leste Sabtu lalu itu. "TNI perbatasan saat ini lebih
meningkatkan kewaspadaan, pascakejadian kemarin di Timor Leste," katanya.
Personel yang berada di setiap pos perbatasan, lanjut Muhammad Nas, masih berada pada
posisinya dengan jumlah yang tidak ada penambahan. "Kita masih pada jumlah personel yang
sama," katanya.
TNI, kata Muhammad Nas, memiliki tugas menjaga setiap jengkal tanah NKRI dari setiap upaya
ancaman dari siapa pun dan negara manapun. Untuk itulah, dalam konteks di perbatasan dengan
Timor Leste, TNI juga menerapkan fungsinya itu dengan baik dan bertanggung jawab.
Kerja sama dengan masyarakat sepanjang beranda negara itu, menjadi keniscayaan untuk
kepentingan tetap utuhnya kedaulatan negara di tapal batas, katanya. Indonesia adalah negara
berdaulat. Tugas TNI adalah menjaga kondisi keamanan dan kedaulatan negara.

Karenannya, setiap pergerakan TNI tetap mengarah kepada satu tujuan tugas, NKRI harga mati.
"Sehingga jika ada kerusuhan di negara tetangga dan berdampak terjadinya gelombang
pengungsian manusia, maka TNI akan tetap menjaga kedaulatan negara tercinta," katanya.
Informasi yang diperoleh Antara dari Dili ibu kota Negara Timor Leste, diketahui telah terjadi
baku tembak antara pasukan keamanan negara itu dengan Mouk Moruk dan anak buahnya di
Venilale Distric Baucau, Sabtu (8/8).
Dalam aksi baku tembak yang terjadi sejak sore hingga malam hari itu, akhirnya pemimpin
pemberontak Mouk Moruk alias Paulina Gama itu pun tewas. Jenazah MM lalu dievakuasi ke
Dili Timor Leste, Sabtu malam untuk dilakukan otopsi di RS Nasional Guido Valadares.
Keluarga dan sejumlah pengikut pejuang yang pascamerdeka memilih berdomisili di Belanda
dan akhirnya 2014 kembali ke bekas provinsi ke-27 Indonesia untuk melakukan pemberontakan.
Mereka sempat melakukan aksi protes dengan melakukan pelemparan dan demonstrasi di
wilayah RS Nasional Guido valadares, namun bisa dikendali oleh aparat kepolisian maupun
tentara Timor Leste.

Transcript of PERBATASAN INDONESIA DALAM SISTEM PERTAHANAN


WILAYAH DARAT,
Wilayah merupakan salah satu unsur utama dalam suatu negara di samping rakyat
dan pemerintahan. Indonesia mempunyai potensi wilayah yang handal untuk
dikembangkan karena memiliki sekitar 17.506 buah pulau dan dua per tiga
wilayahnya berupa lautan. Indonesia memiliki wilayah perbatasan dengan banyak
negara baik perbatasan darat (kontinen) maupun laut (maritim). Batas darat
wilayah Republik Indonesia berbatasan langsung dengan negara-negara Malaysia,
Papua New Guinea (PNG), dan Timor Leste. Sedangkan wilayah laut Indonesia
berbatasan dengan 10 negara, yaitu India, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam,
Filipina, Republik Palau, Australia, Timor Leste, dan Papua Nugini (PNG). Pada masa
awal kemerdekaan hingga sekarang pun banyak terjadi isu wilayah seperti
penjualan pulau, pengelolaan pulau oleh asing, hingga terebutnya pulau oleh
negara lain.
Di sinilah letak kepentingan ketahanan nasional bagi bangsa Indonesia, yang
memiliki tujuan salah satunya yakni untuk menjaga keamanan dan ketentraman
bangsa Indonesia dari segala bahaya. Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut
serta dalam usaha pembelaan negara. Hal ini merupakan dasar dari sistem
pertahanan dan keamanan rakyat semesta. Dalam sistem pertahanan dan
keamanan rakyat semesta, ABRI yang tumbuh dari rakyat serta bersama dalam
kemanunggalan dengan rakyat menegakkan dan mengisi kemerdekaan bangsa,
menjadi inti dalam sistem tersebut.

Pertahanan dan keamanan nasional yang disusun berdasarkan sistem Pertahanan


dan Keamanan Rakyat Semesta akan mampu mensukseskan perjuangan nasional
pada umumnya, pembangunan nasional pada khususnya dan mengamankannya
dari setiap ancaman, sehingga usaha bangsa dalam mencapai tujuan nasional
dapat berlangsung dalam suasana damai, aman, tentram, tertib, dan dinamis.
Pembinaan pertahanan dan keamanan nasional diusahakan untuk meningkatkan
kemampuan pertahanan dan keamanan, yang meliputi kemampuan kekuatan di
darat, di laut, di udara, penertiban dan penyelamatan masyarakat, sehingga
mampu melaksanakan tugas-tugas pertahanan dan keamanan nasional sesuai
dengan keperluan dan tantangan yang dihadapi oleh negara dan bangsa Indonesia.
Kekayaan Angkatan Bersenjata RI sebagai kekuatan sosial, bersama kekuatan sosial
lainnya, memikul tugas dan tanggung jawab perjuangan bangsa dalam mengisi
kemerdekaan dan memperjuangkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Pembinaan kemampuan ABRI sebagai kekuatan sosial diarahkan agar Angkatan
Bersenjata RI dalam kemanunggalannya dengan rakyat, mampu secara aktif
melaksanakan kegiatan pembangunan nasional, serta dapat meningkatkan
peranannya dalam memperkokoh ketahanan nasional.
UNSUR-UNSUR KETAHANAN NASIONAL
Menurut Kusrahmadi (2004) terdapat pula unsur, elemen atau faktor yang
mempengaruhi kekuatan atau ketahanan nasional suatu negara. Unsur-unsur
tersebut terdiri atas beberapa aspek sebagai berikut:
1. Gatra Penduduk
Penduduk suatu negara menentukan kekuatan atau ketahanan nasional negara
yang bersangkutan. Faktor yang berkaitan dengan penduduk negara meliputi dua
hal yaitu aspek kualitas dan kuantitas.
2. Gatra wilayah
wilayah turut pula menentukan kekuatan nasional negara. Hal ini terkait dengan
wilayah negara meliputi :
Bentuk wilayah negara nerupa negara pantai, negara kepulauan atau negara
continental
Luas wilayah negara
Posisi geografis, astronomis dan geologis negara
Daya dukung wilayah negara, ada negara yang habitable dan unhabitable
3. Gatra sumber daya alam
Hal-hal yang berkaitan dengan unsure sumber daya alam sebagai elemen ketahan
nasional meliputi :
Potensi sumber daya alam wilayah yang bersangkutan mencakup sumber daya
alam hewani, namabati dan tambang
Kemampuan mengeskplorasi sumber daya alam
Pemanfaatan sumber daya alam dengan memperhitungkan masa depan dan
lingkungan hidup
Kontrol atas sumber daya alam

4. Gatra di bidang Ideologi


Ideologi mendukung ketahanan suatu bangsa karena ideology bagi suatu bangsa
memiliki dua fungsi poko yaitu:
Sebagai tujuan atau cita-cita dari kelompok masyarakat yang bersangkutan
artinya nilai-nilai yang terkandung dalam ideology itu menjadi cita-cita yang hendak
dituju secara bersama
Sebagai sarana pemersatu dari masyarakat ang bersangkutan, artinya
masyarakat yang banyak dan beragam itu bersedia menjadikan ideology sebagai
milik bersama dan menjadikannya bersatu.
5. Gatra di bidang politik
Politik penyelenggaraan negara sangat mempengaruhi kekuatan nasional yang
ditinjau dari beberapa aspek :
Sistem politik suatu negara
Sistem pemerintahan suatu negara
Bentuk pemerintahan suatu negara
Bentuk negara suatu Negara
6. Gatra di bidang ekonimi
Berkaitan dengan sistem ekonomi suatu negara baik yang menganut sistem
ekonomi liberal atau sistem ekonomi sosialis.
7. Gatra dibidang pertahanan dan keamanan
Berkaitan ancaman militer yang dihadapi sutu negara dari negra lain, sehingga
unsure utama pertahanan dan keamanan berada ditangan tentara (militer).
BATAS-BATAS WILAYAH NEGARA
1. Darat
Wilayah daratan ada di permukaan bumi dalam batas-batas tertentu dan di dalam
tanah di bawah permukaan bumi. Artinya, semua kekayaan alam yang terkandung
di dalam bumi dalam batas-batas negara adalah hak sepenuhnya negara pemilik
wilayah. Batas-batas wilayah daratan suatu negara dapat berupa:
Batas alam, misalnya: sungai, danau, pegunungan, lembah.
Batas buatan, misalnya: pagar tembok, pagar kawat berduri, parit.
Batas menurut ilmu alam: berupa garis lintang dan garis bujur peta bumi
2. Laut
Lautan yang merupakan wilayah suatu negara disebut laut teritorial negara itu,
sedangkan laut di luarnya disebut laut terbuka (laut bebas, mare liberum). Ada dua
konsepsi pokok tentang laut, yaitu:
1) Res Nullius, yang menyatakan bahwa laut tidak ada pemiliknya, sehingga dapat
diambil/ dimiliki oleh setiap negara.
2) Res Communis, yang menyatakan bahwa laut adalah milik bersama masyarakat
dunia dan karenanya tidak dapat diambil/ dimiliki oleh setiap negara.
Tidak ada ketentuan dalam hukum internasional yang menyeragamkan lebar laut
teritorial setiap negara. Kebanyakan negara secara sepihak menentukan sendiri
wilayah lautnya. Pada umumnya dianut tiga (3) mil laut ( 5,5 km) seperti Kanada
dan Australia. Tetapi ada pula yang menentukan batas 12 mil laut (Chili dan

Indonesia), bahkan 200 mil laut (El Salvador). Batas laut Indonesia sejauh 12 mil
laut diumumkan kepada masyarakat internasional melalui Deklarasi Juanda pada
tanggal 13 Desember 1957 (Melda, 2013).
Pada tanggal 10 Desember 1982 di Montego Bay (Jamaica), ditandatangani traktat
multilateral yang mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan lautan,
misalnya: permukaan dan dasar laut, aspek ekonomi, perdagangan, hukum, militer
dan lingkungan hidup. Traktat tersebut ditandatangani 119 delegasi peserta yang
terdiri dari 117 negara dan dua organisasi kebangsaan (Melda, 2013).
Tentang batas lautan ditetapkan sebagai berikut:
1. Batas laut teritorial
Setiap negara berdaulat atas lautan teritorial yang jaraknya sampai 12 mil laut,
diukur dari garis lurus yang ditarik dari pantai.
2. Batas zona bersebelahan
Di luar batas laut teritorial sejauh 12 mil laut atau 24 mil dari pantai adalah batas
zona bersebelahan. Di dalam wilayah ini negara pantai dapat mengambil tindakan
dan menghukum pihak-pihak yang melanggar undang-undang bea cukai, fiskal,
imigrasi, dan ketertiban negara.
3. Batas Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE)
ZEE adalah wilayah laut suatu engara pantai yang batasnya 200 mil laut diukur dari
pantai. Di dalam wilayah ini, negara pantai yang bersangkutan berhak menggali
kekayaan laut dan menangkap nelayan asing yang kedapatan menangkap ikan di
wilayah ini serta melakukan kegiatan ekonomi lainnya. Negara lain bebas berlayar
atau terbang di atas wilayah itu serta bebas pula memasang kabel dan pipa di
bawah laut.
4. Batas landas benua
Landas benua adalah wilayah lautan suatu engara yang batasnya lebih dari 200 mil
laut. Dalam wilayah ini negara pantai boleh melakukan eksplorasi dan eksploitasi
dengan kewajiban membagi keuntungan dengan masyarakat internasional.
3. Udara
Wilayah udara suatu negara ada di atas wilayah daratan dan lautan negara itu.
Kekuasaan atas wilayah udara suatu negara itu pertama kali diatur dalam Perjanjian
Paris pada tahun 1919 (dimuat dalam Lembaran Negara Hindia Belanda
No.536/1928 dan No.339/1933). Perjanjian Havana pada tahun 1928 yang dihadiri
27 negara menegaskan bahwa setiap negara berkuasa penuh atas udara di
wilayahnya. Hanya seizin dan atau menurut perjanjian tertentu, pesawat terbang
suatu negara boleh melakukan penerbangan di atas negara lain. Demikian pula
Persetujuan Chicago 1944 menentukan bahwa penerbangan internasional melintasi
negara tanpa mendarat atau mendarat untuk tujuan transit dapat dilakukan hanya
seizin negara yang bersangkutan. Sedangkan Persetujuan Internasional 1967
mengatur tentang angkasa yang tidak bisa dimiliki oleh negara di bawahnya
dengan alasan segi kemanfaatan untuk semua negara dan tujuan perdamaian.
PERMASALAHAN KEAMANAN PERBATASAN WILAYAH INDONESIA
Banyaknya kasus mengenai perbatasan wilayah yang muncul dapat disimpulkan

menjadi beberapa permasalah pokok, diantaranya :


1. Permasalahan yang muncul di daerah perbatasan adalah belum tuntasnya
dilakukan perundingan dengan Negara Tetangga, khususnya mengenai penetapan
titik-titik koordinat yang menjadi dasar penarikan garis batas wilayah kedaulatan
masing-masing Negara. Hal ini merupakan kondisi yang sangat rawan bagi
Pertahanan dan Keamanan Negara karena dapat memungkinkan terjadinya
pelanggaram wilayah baik secara tidak sengaja maupun sengaja dengan maksud
memprovokasi atau tujuan negatif lainnya.
2. Isu yang rawan dan perlu solusi segera adalah masalah kesejahteraan penduduk
di wilayah perbatasan. Pada umumnya kondisi masyarakat di perbatasan masih
terbelakang baik sumber daya manusia maupun ekonominya dibandingkan dengan
Negara tetangga khususnya Negara Malaysia.
3. Keterbatasan daya jangkau/mobilitas, baik aparat Pemerintah Pusat maupun
Pemda setempat termasuk aparat keamanan dan pertahanan, akibat kondisi cuaca,
medan dan lingkungan yang dihadapi di lapangan dibandingkan alutsista, serta
kuantitas dan kualitas khususnya alut sista/teknologi yang memadai.
4. Meningkatnya Transnational Crime seperti : illegal logging, illegal fishing,
penyelundupan tenaga kerja, penyelundupan senjata dan obat terlarang, terorisme,
perampokan di laut dan bentuk-bentuk kejahatan lintas Negara lainnya. Masalah
kemananan non tradisional tersebut semakin menunjukkan peningkatan dan
merupakan ancaman bagi keamanan dan keutuhan wilayah Negara Rl umumnya
dan wilayah perbatasan khususnya.
5. Adanya kepentingan negara-negara lain yang bisa melihat dan memanfaatkan
berbagai kesempatan di perbatasan baik ekonomi, sumber daya alam maupun
potensi lain, dengan bermodalkan teknologi dan manajemen yang memadai.
PERMASALAHAN DALAM PERTAHANAN NEGARA
Dengan potensi ancaman yang tidak ringan serta kondisi sosial, ekonomi dan
budaya yang beragam, bangsa dan negara Indonesia memerlukan kemampuan
pertahanan negara yang kuat untuk menjamin tetap tegaknya kedaulatan NKRI.
Pembangunan kemampuan pertahanan relatif terabaikan sehingga mengakibatkan
turunnya kemampuan pertahanan negara secara keseluruhan. Gerakan separatisme
di NAD dan Papua serta konflik horizontal di Maluku, Maluku Utara, Poso dan
Mamasa menunjukkan bahwa kemampuan pertahanan Indonesia tidak saja rentan
terhadap ancaman dari luar tetapi juga belum mampu meredam gangguan dari
dalam.
Permasalahan dalam usaha mempertahan keutuhan NKRI :
1. Belum komprehensifnya kebijakan dan strategi pertahanan.
Selama ini kebijakan dan strategi pertahanan belum sepenuhnya bersifat
komprehensif dan lebih difokuskan pada aspek kekuatan inti pertahanan. Potensi
dukungan pertahanan yang merupakan salah satu aspek penting dalam pertahanan
semesta juga belum didayagunakan secara optimal sebagai akibat kebijakan dan
strategi pertahanan yang relatif bersifat parsial. Selain itu, postur pertahanan yang
tersedia juga belum mencukupi untuk dapat dijadikan acuan bagi pembangunan

kekuatan pertahanan darat, laut, dan udara yang mampu mencegah dan mengatasi
ancaman secara lebih efektif. Dalam rangka mewujudkan kebijakan dan strategi
pertahanan yang komprehensif selama 5 tahun mendatang, Indonesia
membutuhkan kebijakan dan strategi pertahanan berupa dokumen Strategic
Defense Review (SDR), strategi pertahanan raya, dan postur pertahanan sebagai
dasar pembangunan kekuatan pertahanan negara.
2. Belum mantapnya partisipasi masyarakat (civil society) dalam pembangunan
pertahanan.
Kemampuan pertahanan negara yang kuat tersebut sangat bergantung pada
kebijakan dan strategi pertahanan, kemampuan kekuatan inti pertahanan yaitu TNI
dan kemampuan komponen cadangan pertahanan. Dalam era konsolidasi
demokrasi yang sedang berlangsung saat ini, penyusunan perencanaan kebijakan
dan strategi pertahanan dalam kerangka peningkatan kemampuan pertahanan
negara adalah tanggung jawab seluruh komponen bangsa dan membutuhkan
peranan masyarakat (civil society) yang kuat dalam mewujudkannya. Di masa
datang, seiring dengan perkembangan kehidupan demokrasi, dibutuhkan
peningkatan kapasitas civil society untuk dapat menjalankan peran aktif sebagai
bagian komponen bangsa yang turut memikul tanggung jawab peningkatan
kemampuan pertahanan secara keseluruhan.
3. Kurang memadainya sarana dan prasarana, peningkatan profesionalisme serta
rendahnya kesejahteraan anggota TNI.
Permasalahan mendasar dalam meningkatkan profesionalisme anggota TNI di masa
mendatang adalah fasilitas pendidikan yang kurang memadai, medan dan fasilitas
latihan yang terbatas, alat instruksi dan alat penolong instruksi yang relatif
kedaluwarsa, serta peralatan pendidikan dan latihan yang juga terbatas. Selain itu,
masalah kesejahteraan prajurit dan belum tersiapkannya potensi dukungan
pertahanan seperti rakyat terlatih dalam jumlah yang cukup merupakan
permasalahan yang masih dihadapi dalam peningkatan kemampuan pertahanan
selama 5 tahun mendatang.
4. Rendahnya kondisi dan jumlah Alutsista.
Masalah terbesar yang masih dihadapi TNI sebagai kekuatan utama kemampuan
pertahanan adalah jumlah peralatan pertahanan terutama alat utama sistem
persenjataan (alutsista) yang sangat terbatas dan kondisi peralatan pertahanan
yang secara rata-rata tidak sesuai lagi dengan perkembangan teknologi.
Alutsista TNI AD masih jauh dari kondisi ketercukupan. Saat ini kemampuan
pertahanan TNI AD antara lain bertumpu pada kendaraan tempur (Ranpur) berbagai
jenis dengan kondisi siap hanya sekitar 60 persen dan pesawat terbang dengan
kondisi siap hanya sekitar 50 persen. Kebutuhan alat komunikasi yang merupakan
pendukung utama kemampuan pertahanan TNI AD juga belum dapat terpenuhi dan
masih mempergunakan teknologi yang rawan penyadapan.
Dalam kemampuan pertahanan matra laut, selain jumlahnya yang masih kurang,
kondisi Kapal Republik Indonesia (KRI) kekuatan pemukul yaitu kapal selam, kapal
perusak kawal rudal, kapal cepat roket, kapal cepat terpedo, dan kapal buru ranjau
secara rata-rata juga sudah relatif tua.

Kekuatan pesawat tempur TNI AU bahkan lebih mengkuatirkan lagi yaitu hanya 28
persen pesawat dalam keadaan siap operasi. Selain itu, ruang udara Indonesia yang
belum dapat terpantau oleh radar (blank spot) juga masih luas. Sebagian ruang
udara di kawasan Indonesia bagian barat dan sebagian besar ruang udara di
kawasan Indonesia bagian timur seringkali menjadi perlintasan penerbangan gelap
karena ruang udara tersebut tidak dapat terpantau oleh radar meskipun telah
dibantu oleh radar sipil.
5. Embargo senjata oleh negara produsen utama serta rendahnya pemanfaatan
industri pertahanan nasional
Selama ini upaya memodernisasi peralatan pertahanan secara bertahap terhambat
oleh embargo yang dilakukan oleh beberapa negara. Kondisi ini diperparah dengan
relatif rendahnya upaya pemanfaatan industri nasional dalam memenuhi kebutuhan
peralatan pertahanan. Ketidaksesuaian diantara kebutuhan peralatan pertahanan di
satu sisi serta kemampuan teknis dan finansial industri nasional di sisi lain
merupakan salah satu penyebab ketertinggalan peralatan pertahanan dan
ketergantungan terhadap negara lain.
6. Belum tercukupinya anggaran pertahanan secara minimal
Menurunnya kemampuan pertahanan selama ini disebabkan terutama oleh
anggaran yang tersedia. Meskipun telah meningkat dalam 5 (lima) tahun terakhir
ini, anggaran pertahanan yang dapat disediakan baru 74,1 persen dari kebutuhan
minimal anggaran pertahanan. Sedangkan, kebutuhan minimal anggaran
pertahanan tersebut dirancang untuk mengganti penyusutan alutsista TNI dan
menutup kesenjangan antara kondisi nyata TNI saat ini dengan kebutuhan minimal
personel dan peralatan TNI seperti yang tercantum dalam TOP (Tabel Organisasi dan
Personel) dan DSPP (Daftar Susunan Personel dan Peralatan). Dibandingkan dengan
negara-negara tetangga yang tingkat ancamannya relatif lebih rendah dan memiliki
wilayah jauh lebih sempit, proporsi anggaran pertahanan Indonesia baik terhadap
Produk Domestik Bruto (PDB) maupun terhadap APBN pada tahun 2004 adalah
paling kecil, seperti yang ditunjukkan dalam tabel berikut:
No. Negara % Terhadap PDB % Terhadap APBN
1 Australia 2,3 7,1
2 Brunei 6,9 18,0
3 Filipina 2,2 19,9
4 Malaysia 4,0 9,1
5 Thailand 2,8 15,0
6 Singapura 5,2 21,0
7 Indonesia 1,1 5,7
7. Belum optimalnya pendayagunaan potensi masyarakat dalam bela negara.
Masyarakat adalah salah satu komponen utama dalam suatu sistem pertahanan
negara. Manfaat dari bela negara tidak hanya untuk kepentingan pertahanan
negara semata, akan tetapi lebih jauh dari itu perubahan sikap mental dan sosial
masyarakat memiliki pengaruh luas bagi kemajuan suatu bangsa.

PERBATASAN INDONESIA
DALAM SISTEM PERTAHANAN
WILAYAH
LAUT,DARAT
DAN UDARA
UPAYA MENANGGULANGI MASALAH KEAMANAN PERBATASAN WILAYAH INDONESIA
Masalah pertahanan dan keamanan Rl umumnya dan di perbatasan khususnya
adalah tanggung jawab seluruh komponen bangsa, dalam hal ini TNI sebagai
kekuatan utama dan masyarakat sebagai kekuatan cadangan dan pendukung.
Namun demikian dengan keterbatasan kemampuan yang dimiliki TNI saat ini, maka
peran serta semua pihak sangat diperlukan, oleh karena itu perlu upaya-upaya
keamanan secara terpadu sebagai berikut:
1. Melanjutkan perundingan bilateral/trilateral dengan negara-negara tetangga
dengan mengutamakan diplomasi yang dilandasi pemikiran tetap tegaknya
kedaulatan NKRI.
2. Melanjutkan Survei Tagas Batas (Demarkasi dan Delimitasi)
3. Mengembangkan wilayah perbatasan dengan mengubah arah kebijaksanaan
pembangunan yang selama ini cenderung berorientasi inward looking menjadi
outward looking, sehingga kawasan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pintu
gerbang aktivitas ekonomi dan perdagangan dengan negara-negara tetangga.
4. Menyusun rencana tata ruang secara profesional sehingga peruntukkan lahan
sesuai dengan fungsi dan daya dukung lingkungan.
5. Memupuk kesadaran bela negara dengan pendekatan yang tepat sampai ke
pelosok daerah perbatasan, cehingga timbul rasa kebangsaan dan semangat bela
negara Rl.
6. Penegakan hukum di perbatasan darat, laut dan udara untuk mencegah kegiatan
illegal logging, illegal fishing, pelanggaran perbatasan dan lain-lain.
7. Penambahan pembangunan pos-pos pengamanan sepanjang perbatasan.
8. Mewujudkan sabuk pengaman khususnya di wilayah perbatasan yang berfungsi
sebagai sarana kontak sepanjang perbatasan.
9. Meningkatkan kemampuan personil, alutsista dan kesejahteraan Prajurit TNI dan
Anggota Polri.
10. Meningkatkan kerjasama bilateral /trilateral dengan landasan kedaulatan dan
UNCLOS Tahun 1982.
11. Meningkatkan kerjasama yang sinergis antar Instansi terkait dalam penanganan
kawasan perbatasan.
12. Menyusun Undang-undang dan pembentukan kelembagaan khusus yang
menangani masalah perbatasan.
13. Merealisasikan rencana pembentukan Kanwil Dephan pada daerah-daerah yang
berpotensi rawan, sehingga Dephan secara sinergis dapat meningkatkan kerjasama
dengan Instansi lain.
PROGRAM-PROGRAM PENINGKATAN PERTAHANAN INDONESIA

Arah kebijakan dalam peningkatan kemampuan pertahanan negara dijabarkan


melalui program-program sebagai berikut:
1. Program pengembangan sistem dan strategi pertahanan
Tujuan program ini untuk mewujudkan rumusan kebijakan umum dan kebijakan
pelaksanaan serta perencanaan strategis yang meliputi pembinaan dan
pendayagunaan komponen pertahanan negara dalam rangka menghadapi ancaman
dan gangguan termasuk pencegahan serta penanggulangan separatisme. Kegiatan
pokok yang dilakukan adalah:
1. Penyusunan Strategic Defense Review (SDR), Strategi Raya pertahanan, Postur
Pertahanan dan Kompartemen Strategis;
2. Penyusunan manajemen aset sistem pertahanan termasuk alutsista;
3. Pengembangan sistem, berupa pembinaan sistem dan metode dalam rangka
mendukung tugas pokok organisasi/satuan, pelaksanaan survei tentang tegas batas
antara RI dengan negara PNG, Malaysia dan RDTL, pelaksanaan survei dan
pemetaan darat, laut dan udara, serta pengembangan sistem informatika;
4. Penggiatan fungsi yang meliputi dukungan kebutuhan sesuai fungsi organisasi,
teknik, tata kerja, tenaga manusia dan peralatan;
5. Pengembangan sistem dan strategi ketahanan nasional yang meliputi sistem
politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan;
6. Telaahan/perkiraan/apresiasi strategi nasional serta evaluasi dan monitoring
ketahanan nasional dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan
keamanan.
7. Program pengembangan pertahanan integratif
KESIMPULAN
Wilayah merupakan salah satu unsur utama dalam suatu negara di samping rakyat
dan pemerintahan. Indonesia yang memiliki potensi wilayah yang handal untuk
dikembangkan karena memiliki banyak sekali pulau. Hal ini suatu hal yang
seharusnya dijaga oleh seluruh rakyatnya. Namun, kurangnya perhatian dan
kepedulian sering kali menyebabkan timbulnya berbagai permasalahan tentang
perbatasan antara wilayah Indonesia. Sehingga dapat menyebabkan semakin
menyempitnya luas wilayah negara.
Penanggulangan dalam berbagai masalah negara tidak hanya menjadi tanggung
jawab dari pemerintah ataupun aparat pertahanan negara saja. Masyarakat yang
merupakan komponen utama dalam suatu sistem pertahanan negara juga
seharusnya dioptimalkan pendayagunaannya dalam bela negara. Namun, peranan
masyarakat dalam bela negara bukanlah langsung turun tangan sebagaimana
aparat pertahanan negara, melainkan lebih bersifat perubahan sikap mental dan
sosial masyarakat dalam kecintaannya kepada tanah air. Oleh karena itu,
tumbuhnya rasa cinta tanah air dan bela negara sangat diperlukan dalam tiap-tiap
individu manusia.

Kehidupan ekonomi dan social masyarakat perbatasan dengan


timor leste

Berbagai permasalahan sosial kini muncul, sejak Timor Leste terlepas dari Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Kondisi Sosial yang menyelimuti kehidupan masyarakat tersebut, jelas
mempengaruhi sendi-sendi kehidupan dan prilaku masyarakat, yang intinya masyarakat harus
menerima konsekwensi atas kebijakan politik internasional. Perbatasan kedua Negara ini, untuk
Indonesia dikawal oleh semacam Satuan Tugas atau disingkat Satgas, yang terdiri dari gabungan
TNI dan Polri. Namun bagi masyarakat adanya pengawalan perbatasan ini belum berarti banyak
dalam hal pencegahan aksi kriminalitas yang umum didaerah ini, adalah Pencurian Ternak
Masyarakat seperti Kerbau,Lembu dan Kuda. Ternak-ternak masyarakat itulah yang selalu
digasak maling Timor Leste dan sulit untuk diusut,karena perbedaan Pemerintahan Negara
tersebut, kejadian demi kejadian pencurian tersebut sudah sangat merusak kehidupan
perekonomian Rakyat Indonesia yang berada di Perbatasan itu.Kelihatannya Pihak Satgas yang
melaksanakan misi pengawalan perbatasan ini tidak dapat berbuat banyak, untuk mencegah
kejahatan yang merugikan rakyat tersebut. BAHAN BAKAR DIDUGA DIMAINKAN Sejak
kebijakan yang diberlakukan Menyangkut peralihan Minyak Tanah kepada Gas Elpiji untuk
Bahan Bakar Dapur, di Kabupaten Atambua pengguaan Bahan Bakar Minyak Tanah Bersubsidi
masih tetap berlangsung, dan mudah untuk didapatkan dengan harga eceran sebesar Rp.4.000,rupiah perliter. Namun untuk Bahan Bakar Kenderaan Bermotor seperti Solar dan Bensin, ini
yang terpaksa harus mengusik pemikiran kemana hilangnya sebahagian Bahan Bakar
tersebut.Permasalahannya bila kita ingin mendapatkan Bahan Bakar Kenderaan pada pukul 19.00
wib, setiap SPBU yang ada di Atambua sudah menyatakan Bahan Bakar Habis.di Kabupaten
Atambua rovinsi Nusatenggara Timur, terdapat setidak-tidaknya lima unit SPBU. Permasalahan
kelangkaan Bahan Bakar itu, menurut warga masyarakat setempat sudah berlangsung selama dua
tahun.Apakah ada kaitannya dengan peraktek penyelundupan, inilah yang masih menjadi mistri.
PENDIDIKAN YANG TIDAK KENAL GRARTIS. Kendati Pemerintah Negeri ini sudah
berusaha mengikis pengeluaran Orang Tua Murid,untuk biaya Sekolah hingga ke Tingkat
SLTA.Jangan harapkan anak-anak Sekolah di Kabupaten Atambua bisa menikmati Sekolah
Gratis itu,. Karena sejak Murid Sekolah Dasar,hingga Sekolah Menengah Atas walaupun yang
bermerk Negeri,tetap dikutip Pembayaran hingga Rp.60.000,- perbulan.
Sumber Berita: http://www.metroandalas.com/berita-menelusuri-kehidupan-ekonomi-dansosial--masyarakat-perbatasan-dengan-timur--leste.html#ixzz4829x9cvx

Selain Pos Batas, PU Bangun Jalan Mulus di Perbatasan RI-Timor Leste

Atambua -Tiga buah Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Indonesia dengan Timor Leste
di Pulau Timor, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tengah dibangun Pemerintahan
Joko Widodo (Jokowi). Pembangunan yang dilakukan tak hanya fokus pada
pembangunan PLBN sebagai simbol negara di perbatasan tetapi juga pada
infrastruktur dasar seperti jalan.
Kepala Balai Jalan Wilayah VIII Kementerian PU dan Perumahan Rakyat Syaiful
Anwar mengatakan, di saat yang bersamaan, pemerintah juga tengah melakukan
jalan paralel alias jalan yang sejajar dengan garis perbatasan yang disebut Sabuk
Merah Perbatasan.
Jalan ini menghubungkan dua PLBN yang ada di Pulau Timor yakni PLBN Motaain di
Kabupaten Belu yang berada di sisi utara dengan PLBN Motamasin di Kabupaten
Malaka yang berada di sisi selatan Pulau Timor. Rute Jalan Sabuk Merah ini adalah
Motaain, Salore-Haliwen, Sadi, Asumanu, Haekesak, Laktutus hingga ke Motamasin.

"Pembangunan Jalan Motaain-Motamasin sudah mulai kita bangun di Tahun 2015 ini.
Total panjangnya 177,9 Kilometer (Km). Kita buat dengan lebar 2-7-2 (bahu jalan
masing-masing 2 meter di kiri-kanan jalan dan badan jalan 7 meter)," ujar Syaiful
kepada derikFinance di Desa Wini, Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT, Rabu
(4/11/2015).
Hingga saat ini, pekerjaan telah menunjukkan perkembangan yang sangat positif.
Dari total panjang jalan yang direncanakan tersebut, ada 47 Km jalan yang sudah
masuk tahap perkerasan jalan.
"Diharapkan Desember 2015 ini sudah selesai yang 47 km lalu lanjut dengan
pekerjaan lainnya," jelas dia.
Ia pun merinci kebutuhan anggaran untuk menyelesaiakn 177,9 km Jalan Sabuk
Merah senilai Rp 1,81 triliun yang ditarget beroperasi penuh akhir 2017.
Jalan yang sejajar dengan perbatasan Timor Leste ini masih tahap kegiatan
pengaspalan, perkerasan aspal dasar alias agregat hingga pembangunan jembatanjembatan yang akan menghubungkan seluruh badan jalan yang melintas sungai
atau cekungan geografis lainnya.
"Total panjang jembatan yang ada di trase ini ada 1,1 km. Itu terbagi dalam
beberapa jembatan. Anggarannya sudah masuk juga di anggaran penanganan jalan
sabuk merah itu," katanya.
Di 2015 ini, dialokasikan dana sebesar Rp 362 miliar untuk membangun 47 Km jalan
di trase tersebut. Di 2016, dialokasikan dana sebesar Rp 136 miliar untuk
mengerjakan jalan dengan target pengaspalan 29 Km dan perkerasan agregat alias
aspal dasar.
"Kita mengejar fungsional sampai terus melakukan pembangunan ruas berikutnya,"
katanya.
Sementara di tahun 2017 akan dialokasikan dana Rp 154 miliar dengan target jalan
beraspal sepanjang 79 km dan 84 km jalan agregat. Ia mengakui masih ada sekitar
14 km yang belum masuk rencana penanganan karena keterbatasan anggaran.
"Tapi kami sudah punya alternatif, kalau ada dana sisa kontrak yang tidak
terealisasi setiap tahunnya akan langsung dialihkan ke pembangunan jalan ini
sehingga 2017 diharapkan semua sudah terbangun," tuturnya.
Jalan Sabuk Merah Perbatasan Indonesia-Timor Leste ini punya arti penting karena
akan menjadi tulang punggung akses pendekat ke garis perbatasan sehingga bisa

mempermudah pengawasan garis perbatasan dua negara di dua negara tersebut.