Anda di halaman 1dari 23

II.

TINJAUAN PUSTAKA
A . Tanaman Ampas Sagu
Tanaman sagu (Metroxylon sagu) (Gambar 1) merupakan tanaman yang
tersebar di Indonesia, dan termasuk tumbuhan monokotil dari keluarga Palmae, marga
Metroxylon, dengan ordo Spadiciflorae. Sagu memiliki kandungan pati yang lebih
tinggi dibandingkan dengan jenis Metroxylon lainnya, sehingga sagu banyak
dimanfaatkan dalam berbagai industri pertanian. Saat ini, pemanfaatan sagu hanya
terfokus pada pati yang terkandung di dalamnya.

Gambar 1. Tanaman Sagu


Menurut Haryanto dan Pangloli (1992), empulur sagu merupakan bagian
batang sagu yang mengandung serat dan pati. Pati sagu diambil dengan cara
mengekstrak batang sagu dan menyisakan ampas sebagai limbah yang kemudian
6

hanya dimanfaatkan sebagai media tumbuh jamur. Ampas memiliki kandungan


terbesar berupa selulosa, hemiselulosa dan lignin. Lignin memiliki struktur yang sulit
untuk dihidrolisis sehingga umumnya ampas hanya dimanfaatkan dengan
menghidrolisis selulosa menjadi glukosa. Perbandingan komposisi kimia antara
empulur sagu dan ampasnya disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Perbandingan komposisi kimia empulur sagu dan ampas sagu
Komposisi
Air (%)
Lemak (%)
Protein (%)
Serat kasar (%)
Karbohidrat (%)

Empulur Sagu
64.80
0.41
2.14
6.56
26.81

Ampas Sagu
78.34
0.20
1.31
13.48
6.67

Perkembangan industri pengolahan pati menyebabkan peningkatan hasil


sampingan berupa limbah sagu yang berupa kulit batang dan limbah sagu. Limbah
ikutan pengolahan sagu berupa kulit batang sekitar 17-25% dari serat batang,
sedangkan ampas sagu75-83%. Namun, limbah tersebut belum dimanfaatkan secara
optimal (McClatchey et al. 2006).
Limbah sagu merupakan limbah lignoselulosa yang kaya akan selulosa dan
pati, sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber karbon. Limbah
sagu berupa ampas mengandung 65,7% pati dan sisanya berupa serat kasar, protein
kasar, lemak, dan abu. Berdasarkan presentase tersebut ampas mengandung residu
lignin sebesar 21%, sedangkan kandungan selulosanya sebesar 20% dan sisanya
merupakan zat ekstraktif dan abu. Selain itu, kulit batang sagu mengandung selulosa
7

(57%) dan lignin yang lebih banyak (38%) daripada ampas sagu (Kiat 2006).
Kandungan dari ampas sagu (Tabel 2) dipengaruhi oleh spesies, umur, tempat hidup,
dan proses pengolahannya.
Tabel 2. Kandungan ampas sagu
Jenis

Jumlah (%)

Kadar air
78,34
Lemak
0,20
Protein
1,31
Karbohidrat
6,67
13,48
Serat kasar
Sumber: Haryanto dan Pangloli (1992).
B . Batubara dan Klasifikasinya
Batubara adalah bahan bakar yang terbentuk dari fosil yang sudah dikenal
dimana-mana, yaitu dari tanaman yang telah membusuk dan kemudian tertekan ke
bawah oleh pertumbuhan lapisan-lapisan baru dan tanah yang terbentuk diatasnya
(Arnold, 1987). Batubara terbentuk dengan cara yang sangat komplek dan
memerlukan waktu puluhan hingga ratusan juta tahun dibawah pengaruh fisika,
kimia ataupun keadaan geologi (Sukandarrumidi, 1995). Batubara merupakan salah
satu batuan sedimen organik yang dapat terbakar karena berasal dari sisa-sisa
kehidupan dan menjadi padat setelah tertimbun oleh lapisan diatasnya (Karona dkk,
1981).
Batubara adalah bahan bakar fosil yang dapat terbakar dan terbentuk dari
endapan batuan organik yang memiliki kandungan utama, yaitu: karbon, hidrogen
dan oksigen. Batubara terbentuk dari sisa tumbuhan mati dengan komposisi utama

selulosa. Proses pembentukan batubara (coalification) yang dibantu oleh faktor fisika,
kimia dan alam akan mengubah selulosa menjadi batubara (Sebayang, 2008).
Batubara dapat dibagi dalam empat jenis, yaitu: antrasite, bitominous, sub
bitominous dan lignite. Antrasite memiliki karakteristik: padat, keras, warna hitam
mengkilap, mengandung 93 96 % karbon, nilai kalor sangat tinggi, kandungan air
dan abu sangat sedikit, lambat terbakar dan sedikit sekali asap dan merupakan jenis
batubara terbaik. Bitominous atau batubara lunak memiliki karakteristik: kurang
padat, warna hitam mengkilap, mengandung 82 90 % karbon, nilai kalor tinggi,
kandungan air dan abu sedikit, kebanyakan batubara berbentuk bitominous. Sub
bitominous mengandung karbon relatif tinggi (75 82 %), warna hitam mengkilap,
nilai kalor rendah, kandungan abu dan air sedikit sehingga menghasilkan sumber
panas yang tidak efisien. Sedangkan lignite atau batubara coklat adalah batubara yang
mengandung cukup banyak air, warnanya hitam, sangat rapuh, kandungan karbonnya
70 %, kandungan abu banyak dan memiliki nilai kalor yang rendah. (Sukandarrumidi,
1995).
Mutu dari setiap endapan batubara muda ditentukan oleh suhu dan tekanan
serta lama waktu pembentukan, yang disebut sebagai maturitas organik. Proses
awalnya gambut berubah menjadi lignite (batubara muda) atau brown coal (batubara
coklat) ini adalah batubara dengan jenis maturitas organik rendah. Dibandingkan
dengan batubara jenis lainnya, batubara muda agak lembut dan warnanya bervariasi
dari hitam pekat sampai kecoklat-coklatan.

Batubara pada dasarnya adalah karbon (C) yang didapat dari tambang dengan
kualitas berbeda-beda karena tercampur dengan bahan-bahan lain yang tergantung
pada kondisi tambangnya. Hal-hal yang menentukan mutu batubara antara lain adalah
nilai kalorinya. Karena batubara berasal dari fosil tumbuhan yang tertimbun di dalam
tanah, maka semakin tua umurnya semakin tinggi nilai kalorinya (Marsudi, 2005).
Kualitas batubara Indonesia hanya sebagian kecil termasuk kategori kualitas sedangtinggi yaitu berupa sub-bituminous (26,63%) dan bituminous (14,38%), kualitas
tinggi berupa antrasit (0,36). Sisanya sebagian besar masih tergolong batubara muda
dengan kualitas rendah, yaitu berupa lignite (58,6%) (Soyartono dan Indria B.,2000)
Komposisi, Komponen, serta besarnya kalori batubara tersebut disajikan pada
Tabel 3 berikut..
Tabel 3. Hasil Analisa Laboratorium Sampel Batubara Kolaka Utara
(Distamben,2007)

Parameter

Nilai

Zat Terbang (%)

44,16

Abu (%)

9,06

Kadar Air (%)

7,66

Fixed Carbon (%)

43,26

Nilai Kalor (kkal/kg)

4170,38

10

1. Komponen-komponen Batubara Muda


Komponen-komponen yang terdapat dalam batubara yaitu:
a. Air
Air dalam batubara dibagi menjadi dua bagian yaitu air bebas (free moisture),
air yang terikat secara mekanik dengan batubara dan mempunyai tekanan uap normal
dimana

kadarnya

dipengaruhi

oleh

pengeringan

dan

pembasahan

selama

penambangan, transportasi, penyimpanan, dan lain-lain. Air lembab (moisture in air


dried) yaitu air yang terikat secara fisika dalam batubara dan mempunyai tekanan uap
di bawah normal.
b. Karbon, Hidrogen, dan Oksigen
Karbon, hidrogen, dan oksigen merupakan unsur pertama pembentuk
batubara. Dari ketiga unsur ini dapat memberikan gambaran mengenai umur, jenis,
dan sifat-sifat batubara.
c. Nitrogen
Kandungan nitrogen dalam batubara umumnya tidak lebih dari 2%. Nitrogen
dalam batubara terdapat sebagai senyawa organik yang terikat pada ikatan karbon.
d. Sulfur
Sulfur dalam batubara terdiri dari sulfur besi dan sering disebut pirit sulfur,
sulfur sulfat dalam bentuk kalsium sulfat dan besi sulfat, serta sulfur organik.
e. Abu

11

Abu tang terbentuk pada pembakaran batubara berasal dari mineral-mineral


yang terikat kuat pada batubara seperti silika, titan, dan oksida alkali. Mineralmineral ini tidak menyublin pada pembakaran di bawah 925C. Abu yang terbentuk
ini diharapkan akan keluar sebagai sisa pembakaran batubara tersebut.
f. Kalor
Pada umumnya logam-logam alkali seperti natrium, kalium, dan litium terikat sebagai
garam klorida, sedangkan kadarnya antara 0,3-0,4%. (Setiawan, 2005). Secara umum
batubara digolongkan menjadi 5 tingkatan (dari tingkatan tertinggi hingga tingkatan
terendah) berdasarkan kandungan relatif antara unsur karbon (C) dan air (H 2O) yang
terdapat dalam batubara, yaitu : antrasit, bituminous, subbituminous, lignit dan
gambut (peat). Menurut Bateman (1960 dalam Sukandarrumidi, 2006) pada antrasit,
kandungan C relatif lebih tinggi dibandingkan dengan kandungan H2O. Sedangkan
pada bituminous dan gambut kandungan C relatif lebih rendah dibandingkan dengan
kandungan H2O. Pada bituminous kandungan unsur C relatif lebih rendah
dibandingkan dengan kandungan unsur C pada antrasit, dan sebaliknya kandungan
H2O pada bituminous relatif lebih tinggi dibandingkan dengan kandungan H 2O pada
antrasit (Sukandarrumidi, 2006).

Batubara lignit merupakan batubara yang paling lunak dan kepadatannya


masih dalam tingkat pertama. Dari pandangan geologi, lignit merupakan batubara
termuda karena tersusun dari bahan yang mudah menguap dan kandungan air dengan

12

kadar fixed carbon yang rendah. Batubara bituminous juga merupakan batubara
muda yang biasanya dipakai di rumah-rumah dan pabrik karena mempunyai
kandungan volatile matter yang cukup, tetapi nilai kalorinya relatif tinggi sehingga
dapat menghasilkan suhu nyala yang lebih tinggi (Sukandarrumidi, 1995). Sedangkan
antrasit, merupakan batubara yang paling keras dan tidak berasap jika dibakar
(Arnold, 1987). Salah satu ciri dari batubara antrasit

adalah memiliki kadar

hidrokarbon yang rendah (Sukandarrumidi, 1995). Batubara jenis antrasit ini


merupakan batubara tertua jika dilihat dari sudut pandang geologi karena merupakan
batubara keras, tersusun dari komponen utama karbon dengan sedikit kandungan
bahan

yang

mudah

menguap

dan

hampir

tidak

berkadar

air

(http://www.tekmira.esdm.go.id/kp/Batubara/index.asp.html).

Tabel 4. Karakteristik Beberapa Jenis Batubara (Sebayang. dkk, 2008 dan


Sukandarumiddi, 2006)
Jenis Batubara
Antrasite
Bitominous
Subbitominous
Lignite

Zat
Kelembapan
Menguap
(%)
(%)

Perubahan
Massa
(%)

Nilai Kalor
(kal/g)

Fuel
Ratio

8300

12-100

20-35

5650-8200

5-8

13

30-40

5-10

5289-5862

1-5

15

53

3328-3339

0,9

Batubara bersifat heterogen, baik ditinjau dari komposisi kimia dan sifat
fisiknya (Sukandarrumidi, 2006). Sifat fisik batubara termasuk nilai panas, kadar air,

13

bahan mudah menguap dan abu. Sifat kimia batubara tergantung dari kandungan
berbagai bahan kimia seperti karbon, hidrogen, oksigen, dan sulfur. Nilai kalor
batubara beraneka ragam dari tambang batubara yang satu ke yang lainnya
(http://www.tekmira.esdm.go.id/kp/Batubara/index.asp.html).
Batubara jenis antrasit memiliki sifat berwarna hitam sangat mengkilat dan
kompak, nilai kalornya sangat tinggi dengan kandungan karbon sangat tinggi, dan
memiliki kandungan air, abu dan sulfur sangat sedikit. Pada batubara jenis
bituminous/subbituminous memiliki sifat berwarna hitam mengkilat tetapi kurang
kompak, nilai kalornya tinggi dengan kandungan karbon relatif tinggi, dan memiliki
kandungan air, abu dan sulfur sedikit. Sedangkan pada batubara jenis lignit memiliki
sifat berwarna hitam dan sangat rapuh, nilai kalornya rendah dengan kandungan
karbon sedikit, dan memiliki kandungan air yang tinggi serta kandungan abu dan
sulfur yang banyak (Sukandarrumidi, 1995).
C . Briket Biomassa
Biomassa adalah bahan hayati yang dianggap sebagai sampah dan sering
dimusnahkan dengan cara dibakar (Subroto 2007). Sedangkan menurut Silalahi
(2000), biomassa adalah campuran material organik yang kompleks, biasanya terdiri
dari karbohidrat, lemak, protein, dan beberapa mineral lain yang jumlahnya sedikit
seperti sodium, fosfor, kalsium, dan besi. Komponen utama tanaman biomassa adalah
karbohidrat (berat kering kira-kira sampai 75%), lignin (sampai dengan 25%), dimana
dalam beberapa tanaman komposisinya berbeda-beda. Biomassa merupakan produk

14

fotosintesis, dimana sel hijau daun menyerap energi matahari dan mengkonversi
karbon dioksida dengan air menjadi suatu senyawa karbon, hidrogen, dan oksigen.
Senyawa tersebut menyerap energi yang dapat dikonversi menjadi produk lain. Hasil
konversi senyawa tersebut dapat berbentuk arang atau karbon, alkohol kayu, ter, dan
sebagainya.
Biomassa adalah suatu limbah benda padat yang bisa dimanfaatkan lagi
sebagai sumber bahan bakar. Biomassa meliputi limbah kayu, limbah pertanian,
limbah perkebunan, limbah hutan, komponen organik dari industri dan rumah
tangga. Energi biomassa dapat menjadi sumber energi alternatif pengganti bahan
bakar fosil (minyak bumi) karena beberapa sifatnya yang menguntungkan yaitu
sumber energi ini dapat dimanfaatkan secara lestari karena sifatnya yang dapat
diperbaharui (renewable resources), sumber energi ini relatif tidak mengandung
unsur sulfur sehingga tidak menyebabkan polusi udara dan juga dapat meningkatkan
efisiensi pemanfaatan sumber daya hutan dan pertanian (Syafii,2003).
Biobriket dikatakan memiliki mutu yang baik apabila memiliki ciri-ciri
seperti api yang dihasilkan berwarna kebiru-biruan, tidak berasap atau mengeluarkan
sedikit asap, tidak memercikan api, tidak berbau, tidak terlalu cepat terbakar, dan
menghasilkan kalor panas yang tinggi (Sudrajat dan Soleh 1993). Mutu briket
umumnya ditentukan dri sifat fisik dan kimia seperti kadar air, kadar abu, nilai kalor,
dan bagian yang hilang pada suhu 750C. Tabel 4 merupakan data standar briket
menurut standar Inggris, Jepang, dan SNI.

15

Table 5. Standar Nilai-nilai Sifat Fisik-Kimia Briket Arang


Parameter

Standar
Inggris

Standar Jepang

SNI

Kadar air %
3,5
6
8
Kadar abu %
8,3
3-6
9
Kadar zat menguap %
16,4
25-30
30
Kadar karbon terikat %
75,3
60-80
49-52
Nilai kalor (kal/g)
7289
6000-7000
5000
Sumber: Hartoyo, dkk dalam soeparno, dkk dalam Favan Onu dkk (2010)
Bahan biomassa yang dapat dibuat briket, menurut Bossel (1994) dalam Daud
Patabang (2011), terdiri atas:
1. Limbah pengolahan kayu seperti : logging residues, bark, saw dusk, shavinos,
waste timber.
2. Limbah pertanian seperti; jerami, sekam, ampas tebu, ampas sagu, dan daun
kering.
3. Limbah bahan berserat seperti; serat kapas, goni, sabut kelapa,
4. Limbah pengolahan pangan seperti kulit kacang-kacangan, biji buah-buahan,
kuli buah-buahan,
5. Selulosa seperti, limbah kertas, karton.
Adapun faktor-faktor yang perlu diperhatikan didalam pembuatan briket
antara lain :
1. Bahan baku
Briket dapat dibuat dari bermacam-macam bahan baku, seperti ampas sagu,
sekam padi, serbuk gergaji, dll. Bahan utama yang harus terdapat didalam bahan

16

baku adalah selulosa. Semakin tinggi kandungan selulosa semakin baik kualitas
briket, briket yang mengandung zat terbang yang terlalu tinggi cenderung
mengeluarkan asap dan bau tidak sedap.
2. Bahan perekat
Untuk merekatkan partikel-partikel zat dalam bahan baku pada proses
pembuatan briket maka diperlukan zat perekat sehingga dihasilkan briket yang
kompak. Secara umum proses pembuatan briket melalui tahap penggerusan,
pencampuran, pencetakan, pengeringan dan pengepakan.
a. Penggerusan adalah menggerus bahan baku briket untuk mendapatkan

ukuran

butir tertentu. Alat yang digunakan adalah mortal dan blender.


b. Pencampuran adalah mencampur bahan baku briket pada komposisi tertentu
untuk mendapatkan adonan yang homogen. Alat yang digunakan adalah
mixer, combining blender.
c. Pencetakan adalah mencetak adonan briket untuk mendapatkan bentuk
tertentu sesuaikan yang diinginkan. Alat yang digunakan adalah Briquetting
Machine.
d. Pengeringan adalah proses mengeringkan briket menggunakan udara panas pada
temperatur tertentu untuk menurunkan kandungan air briket.
e.

Pengepakan adalah pengemasan produk briket sesuai dengan spesifikasi


kualitas dan kuantitas yang telah ditentukan.
Adapun keuntungan dari bentuk briket adalah sebagai berikut :

17

1. Ukuran dapat disesuaikan dengan kebutuhan.


2. Porositas dapat diatur untuk memudahkan pembakaran.
3. Mudah dipakai sebagai bahan bakar.
D . Prinsip Dasar Pembuatan Briket
D.1. Pengarangan (Karbonasi)
Menurut (Jankowska dkk, 1991) secara umum penyediaan arang aktif
meliputi dua tahap penting, yaitu karbonasi dan aktivasi. Karbonasi merupakan
peristiwa pirolisis untuk mengubah bahan dasar menjadi arang. Dengan pirolisis,
hampir semua unsur bukan karbon lepas kedalam bentuk gas, sedangkan karbonkarbon bebas bentukan proses ini bergabung membentuk susunan semacam kristal
yang disebut sebagai kristalit grafitik. Susunan didalam kristalik ini tidak teratur,
disana sini terdapat celah-celah bebas. Celah-celah inilah yang membentuk pori pada
arang tersebut, sehingga karbonasi merupakan tahap awal pembentukan pori.
Menurut Kurikane (1999), pembuatan arang aktif melibatkan dua proses
utama, yaitu karbonisasi dan aktivasi. Karbonasi (proses pengarangan), yaitu
pembentukan arang dari bahan baku yang yang dapat dilakukan dengan udara
terbatas. Selama proses Karbonisasi komponen yang mudah menguap hampir hilang.
Menurut Manocha (2003), proses karbonisasi adalah proses perlakuan panas
pada kondisi oksigen yang sangat terbatas (pirolisis) terhadap bahan dasar (bahan
organik). Proses pemanasan tersebut menyebabkan terlepasnya komponen yang
mudah menguap dan karbon mulai membentuk struktur pori-pori. Dengan demikian
bahan dasar tersebut telah mimiliki luas permukaan tetapi penyerapannya masih
18

relatif kecil karena masih terdapat residu tar dan senyawa lain yang menutupi poripori. Bahan dasar hasil karbonasi adalah karbon atau arang. Proses karbonasi
dilakukan pada temperatur 400-500 oC sehingga material yang mudah menguap yang
terkandung pada bahan dasar akan hilang.

Proses karbonisasi merupakan proses

pembakaran sempurna dari bahan-bahan organik dengan jumlah oksigen yang sangat
terbatas, yang menghasilkan arang serta menyebabkan penguraian senyawa organik
yang menyusun struktur bahan pembentuk uap air, methanol dan hidrokarbon. Proses
pengarangan dapat dibagi menjadi empat tahap yaitu penguapan air, penguraian
selulosa, penguraian senyawa lignin dan pembentukan gas hidrogen. Lamanya
pengarangan ditentukan oleh jumlah atau volume bahan organik, ukuran parsial
bahan, kerapatan bahan, tingkat kekeringan bahan, jumlah oksigen yang masuk, dan
asap yang keluar dari ruang pembakaran.
Di dalam istilah kimia arang disebut sebagai karbon. Menurut Jacobs
(Sawarni, 1989), menyebutkan bahwa arang adalah suatu bentuk karbon berwarna
hitam dan berpori-pori yang diperoleh dari hasil pembakaran bahan-bahan karbon
dengan menggunakan udara terbatas. Dari proses karbonasi ini menghasilkan karbon
yang pori-porinya masih tertutup hidrokarbon dan senyawa organik lainnya.
Arang merupakan suatu padatan berpori yang mengandung 85 - 95% karbon,
dihasilkan dari bahan-bahan yang mengandung karbon dengan pemanasan pada suhu
tinggi. Ketika pemanasan berlangsung, diusahakan agar tidak terjadi kebocoran udara
didalam ruangan pemanasan sehingga bahan yang mengandung karbon tersebut
hanya terkarbonisasi dan tidak teroksidasi. Arang selain digunakan sebagai bahan
19

bakar, juga dapat digunakan sebagai adsorben (penyerap). Daya serap ditentukan oleh
luas permukaan partikel dan kemampuan ini dapat menjadi lebih tinggi jika arang
tersebut diaktivasi dengan aktivator bahan-bahan kimia ataupun dengan pemanasan
pada temperatur tinggi. Dengan demikian, arang akan mengalami perubahan sifatsifat fisika dan kimia (Meilita dan Tuti, 2003).
D.2. Penghalusan Arang dan Pengayakan
Seluruh arang yang dihasilkan dari proses karbonisasi biasanya masih
berbentuk bahan aslinya. Oleh karena itu sebelumnya harus dihancurkan terlebih
dahulu dalam ukuran yang kecil kecil dengan menggunakan alat tertentu
tergantung dari ukuran dan tingkat kekerasan arangnya. Kemudian arang tersebut
diayak untuk mendapatkan ukuran partikel arang yang seragam. Keseragaman
ukuran partikel dimaksudkan untuk mempermudah pencetakan briket.
D.3. Aktivasi
Aktivasi merupakan proses pengaktifan arang yang dapat dicapai jika diberi
beberapa perlakuan seperti panas atau dengan penambahan bahan kimia tertentu.
Arang yang telah diaktifkan akan memiliki luas permukaan lebih besar. Pengaktifan
dengan menggunakan zat-zat kimia yang sering disebut pengaktifan kimia dilakukan
dengan cara merendam bahan baku kedalam larutan KOH.
Aktivasi adalah suatu perlakuan terhadap arang yg bertujuan untuk
memperbesar pori, yaitu dengan cara memecahkan ikatan hidrokarbon atau
mengoksidasi molekul-molekul permukaan, sehingga arang mengalami perubahan

20

sifat, baik fisika maupun kimia, yaitu luas permukaannya bertambah besar dan
berpengaruh terhadap daya adsorpsi (Aksah, 2009).
Aktivasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu aktivasi secara fisika dan
aktivasi secara kimia. Tujuan aktivasi fisika ini adalah membuka Struktur pori.
Tujuan Aktivasi kimia adalah menghasilkan porositas yang lebih besar. Metode
aktivasi yang umum digunakan dalam pembuatan arang aktif adalah:
a.

Aktivasi kimia yaitu proses pemutusan rantai karbon dari senyawa organik
dengan

pemakaian bahan-bahan kimia seperti KOH.

b. Aktivasi fisika yaitu proses pemutusan rantai karbon dari senyawa organic
dengan bantuan panas, uap dan CO2 (karbon dioksida).
D.4. Pencampuran Perekat
Perekat adalah suatu zat atau bahan yang memiliki kemampuan untuk
mengikat dua benda melalui ikatan permukaan. Salah satu istilah dari perekat adalah
pasta. Pasta merupakan perekat pati yang dibuat melalui pemanasan campuran pati
dan air. Penggunaan perekat akan mengakibatkan ikatan antar partikel semakin kuat,
butir-butiran arang akan saling mengikat yang menyebabkan air terikat dalam poripori arang (Josep dan Hislop 1981).
Ndraha (2009) dalam penelitiannya menyatakan bahwa perlakuan persentase
bahan pengikat member pengaruh sangat nyata terhadap kulitas nilai kalor briket.
Menurut Schuchart, dkk (1996) pembuatan briket dengan penggunaan bahan perekat
akan lebih baik hasilnya jika dibandingkan tanpa mengunakan bahan perekat.
Disamping meningkatkan nilai bakar dari bioarang, kekuatan briket arang dari
21

tekanan luar juga lebih baik (tidak mudah pecah). Perekat adalah bahan yang dapat
merekatkan dua buah benda berdasarkan ikatan permukaan. Menurut (Maarif, 2004)
kekutan perekatan dipengaruhi oleh faktor sifat perekatnya sendiri dan tingkat
penyesuaian antara jenis bahan perkat dengan bahan yang direkat. Penggunaan bahan
perekat dimaksudkan agar ikatan antar partikel akan semakin kuat, butiran arang akan
saling mengikat yang menyebabkan air terikat dalam pori-pori arang (Maymanah. M,
2010).
Perekat yang umum digunakan, yaitu pati, clay, molase, resin tumbuhan,
pupuk hewan, tanin, dan ter. Perekat yang baik mempunyai bau yang baik bila
dibakar, kemampuan merekat yang baik, harga yang murah, dan mudah didapatkan
(Karch dan Boutette 1983). Menurut Hartoyo et al. (1983), bahan perekat seperti pati,
dekstrin, dan tepung beras akan menghasilkan briket yang tidak berasap tetapi
mempunyai nilai kalor yang rendah dibandingkan dengan arang kayu.
Kanji adalah perekat tapioka dicampur air dalam jumlah tidak melebihi 70%
dari berat serbuk arang dan kemudian dipanaskan sampai berbentuk gel.
Pencampuran kanji dengan serbuk arang diusahakan merata (Sudrajat dan Soleh
1993). Hasil penelitian menunjukkan bahwa briket arang dengan tepung kanji sebagai
bahan perekatnya akan menurunkan sedikit nilai kalornya bila dibandingkan dengan
nilai kalor kayu dalam bentuk aslinya.
Penggunaan perekat pati memiliki beberapa keuntungan, yaitu harga murah,
mudah pemakaiannya, dapat menghasilkan kekuatan rekat kering yang tinggi. Namun
perekat ini memiliki kelemahan, yaitu ketahanan terhadap air rendah, hal ini
22

disebabkan karena tapioka mempunyai sifat dapat menyerap air dari udara, sehingga
memungkinkan mudah diserang jamur,bakteri, dan binatang pemakan pati (Hartoyo
et al. 1983)
Pencampuran serbuk arang dengan perekat bertujuan memberikan lapisan
tipis dari perekat pada permukaan partikel arang. Selain itu, penggunaan bahan
perekat dengan adanya perekat maka susunan partikel akan semakin baik, teratur, dan
lebih padat sehingga dalam proses pengempaan pada briket akan semakin baik
(Silalahi 2000). Tahap ini merupakan tahap terpenting dalam menentukan mutu briket
yang dihasilkan.
Perekat yang digunakan adalah kanji,pati singkong, daan pati biji jarak yang
terlebih dahulu dibuat menjadi adonan kental yaitu dengan jalan mencmpur dengan
air secukupnyaa dan memanaskan di atas api sampai tepung berubah menjadi adonan
kental. Banyaknya perekat yaitu 15% dari massa bahan briket hybrid. Selanjutnya
adonan kental dicampur dengan serbuk arng sampai menjadi adonan yang merata.
Pembuatan briket hybrid dengan penggunaan bahan perekat akan lebih baik
hasilnya jika dibandingkan tanpa menggunakan bahan perekat, disamping
meningkatkan nilai bakr dari briket, kekuatan briket arang dari tekanan luar juga lebih
baik (tidak mudah pecah). ( ITB, 2010 ).
D.5. Pencetakan Briket
Pencetakan arang bertujuan untuk memperoleh bentuk yang seragam
dan memudahkan

dalam

pengemasan

serta

penggunaannya.

Dengan

kata

lain, pencetak briket akan memperbaiki penampilan dan mengangkat nilai


23

jualnya. Oleh karena itu bentuk ketahanan briket yang yang diinginkan tergantung
dari alat pencetak yang digunakan.
D.6. Penentuan Kualitas Briket
Penentuan kualitas briket arang umumnya dilakukan terhadap komposisi
kimia seperti kadar abu, kadar zat mudah menguap, kadar karbon terikat; dan sifat
fisika seperti kadar air, berat jenis, nilai kalor; serta sifat mekanik (Hendra, 1999).
Adapun komponen Sifat fisis dan kimia briket arang Jepang, Amerika, Inggris, dan
Indonesia.
Tabel 6. Sifat fisis dan kimia briket arang Jepang, Amerika, Inggris, dan Indonesia.
Sifat
Jepang
Amerika Inggris Indonesia
Kadar air(%)
6-8
6.2
Kadar abu(%)
3-6
8.3
Kadar zat menguap (%)
15-30
19-28
Kadar karbon terikat (%)
60-80
60
Kerapatan(g/cm3)
1.0-1.2
1
2
Keteguhan tekanan (kg/cm )
60-65
62
Nilai kalor (kal/g
6000-7000
6230
Sumber : Badan Penelitian dan Pengembangan Hutan 1999.

3.6
5.9
16.4
75.3
0,48
12.7
7289

7.57
5.51
16.14
78.35
0.4407
6914.11

D.6.1. Kadar Air


Besarnya persentase nilai kadar air berbanding terbalik dengan jumlah nilai
kalor yang dihasilkan. Semakin tinggi kadar air semakin rendah nilai kalor dan daya
pembakarannya. Listiyanawati et al. (2008) menjelaskan bahwa kadar air sangat
mempengaruhi nilai kalor dan efisiensi pembakaran suatu briket karena panas yang
tersimpan dalam briket terlebih dahulu digunakan untuk mengeluarkan air yang ada
sebelum menghasilkan panas yang dapat dipergunakan sebagai panas pembakaran.
24

D.6.2. Kadar Abu


Merupakan ukuran kandungan material dan berbagai material anorganik di
dalam benda uji. Kadar abu setiap arang berbeda-beda tergantung jenis bahan baku
arang. Arang yang baik memiliki kadar abu sekitar 3% (Subadra 2005). Senyawa
yang terdapat dalam abu meliputi SiO2, Al2O3, P2O5, Fe2O3, dan lain-lain (Raharjo
2006). Senyawa yang banyak terkandung dalam abu hasil pembakaran briket adalah
silikat. Kandungan silikat yang tinggi menunjukkan kadar abu yang tinggi dalam
briket. Kadar abu yang terkandung pada briket akan mempengaruhi nilai kalornya.
Semakin tinggi kadar abu yang terkandung dalam briket maka semakin rendah nilai
kalornya (Listiyanawati et al. 2008).
D.6.3. Bagian yang hilang pada pemanasan 750C (Volatile Matter)
Merupakan zat selain air, karbon terikat, dan abu yang terdapat dalam briket,
terdiri dari cairan dan sisa ter yang tidak habis dalam proses karbonisasi. Bagian yang
hilang pada pemanasan 750 C dalam arang mempunyai batas maksimum 40% dan
batas minimum 5%, hal ini akan mempengaruhi kesempurnaan pembakaran, laju
pembakaran, dan intensitas api (Raharjo 2006).
D.6.4. Fixed carbon (FC)
Komponen yang bila terbakar tidak membentuk gas, yaitu karbon tetap atau
KT atau FC (fixed carbon) (Husada, 2008). Sedangkan Djatmiko dkk(1981)
dalam Husada,(2004) mengemukkan karbon terikat sebagai karbon (C) dalam arang
selain fraksi abu, air dan zat mudah menguap. Karbon terikat mempunyai peranan
yang cukup penting untuk menemukan kualitas arang karena akan mempengaruhi
25

besarnya nilai kalor yang dihasilkan. Semakin tinggi karbon terikat dalam arang,
semakin tinggi pula nilai kalor yang dihasilkan. Arang yang bermutu baik adalah
arang yang mempunyai nilai kalor dan karbon terikat tinggi, tetapi mempunyai kadar
abu yang rendah.
Menurut Rahardjo (2006) dalam Husada(2008) nilai kadar carbon diperoleh
melalui pengurangan angka seratus dengan jumlah kadar air (kelembaban), kadar abu
dan jumlah zat terbang. Kadar karbon dan jumlah zat terbang digunakan sebagai
perhitungan untuk menilai kualitas bahan bakar, yaitu berupa nilai fuel ratio.
E. Nilai Kalor
Nilai kalor suatu bahan bakar biomassa adalah jumlah energi panas (kJ) yang
dapat dilepaskan pada setiap satu satuan berat bahan bakar (kg) tersebut apabila
terbakar habis dengan sempurna (SNI 01-6235-2000). Suatu bahan bakar disebut
terbakar habis dan sempurna apabila seluruh kandungan unsur karbon (C) dalam
bahan bakar tersebut bereaksi dengan oksigen menjadi karbon dioksida (CO2). Energi
panas (kalor) yang dilepaskan dapat dipindahkan ke lingkungan dengan cara hantaran
(konduksi), edaran (konveksi), atau pancaran (radiasi).
Salah satu jenis pengukur nilai kalor adalah kalorimeter bom (Gambar 2).
Bagian utama alat ini adalah bejana reaksi yang diletakkan dalam bejana yang lebih
besar sehingga terdapat rongga udara di antarakedua bejana tersebut yang berfungsi
sebagai isolator perpindahan kalor. Prinsip yang digunakan pada alat ini adalah
perubahan suhu fluida pada volume tetap, dimana reaksi pembakaran terjadi dalam
bejana tertutup dan disebut bom.
26

Gambar 2. Calorimeter Bom.

27

28