Anda di halaman 1dari 17

Mempertanggung jawabkan

suara hati

Meta Safitri, M. Sc., Apt

Permasalahan
Apakah suara hati harus dipertanggung
jawabkan?
Apakah suara hati itu mesti selalu benar?
Bagaimana caranya untuk mengambil keputusan
yang dapat dipertanggung jawabkan?

Contoh kasus:
Seorang pasien datang dengan membawa resep
ke apotek anda, ternyata obat yang diresepkan
tidak ada yang sama, farmasis melaporkan
kepada dokter mengenai hal tersebut, kemudian
dokter memberikan hak untuk dapat melkukan
pergantian obat begitu pula dengan pasien.
Dalam hal ini keputusan apa yang akan anda
pilih?obat apa yang akan anda pilih?atas
pertimbangan apa keputusan anda tersebut?

Suara hati
Keputusan apa yang anda ambil:
Jawaban anda

Penilaian moral suara hati


-

Suara hati

Suara hati adalah kesadaran


akan kewajiban kita dalam
situasi yang konkrit

Jadi dapat diambil


kesimpulan bahwa yang
dilakukan oleh suara hati
adlah memberikan sebuah
penilaian moral

Bagaimana suara hati dapat


dipertanggungja
wabkan ???

Emotivisme (perasaan)
Suara hati tidak memiliki penilaian moral, sehingga
tidak dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.
Alasan hal tersebut:
penilaian moral pada hakikatnya merupakan
masalah perasaan belaka, dan suatu perasaan
memang tidak dapat disebut benar atau salah dan
oleh karena itu juga tidak masuk akal, kalau
dituntut pertanggungjawaban.
Oleh karena itu anggapan mereka disebut emotivisme
(dari kata emotion, perasaan).

Lanjutan
rasa buah durian itu buruk rasanya
Hal tersebut tergantung dari sudut pandang anda
masing-masing bukan???
Penilaian itu tidak benar atau salah, melainkan
sekedar ungkapan sikap orang terhadap suatu
peristiwa.
Jadi penilaian moral yang tidak bersifat objektif.
Maka tidak mungkin diberikan
pertanggungjawaban rasional dan objektif.

Pertanggungjawaban penilaian moral


Apakah benar bahwa penilaian moral sekedar masalah
perasaan??
Contoh :
Seorang dokter didatangi oleh seorang siswi SMA yang hamil
karena kurang berhati-hati dalam pergaulan. Ia sudah dalam
bulan keempat. Siswi itu minta agar isi kandungannya
digugurkan. Sebagai alasan ia mengajukan bahwa ia merasa
malu, ayah anak itu tidak mau bertanggung jawab, dan bila
mana keluarganya mendengarkan tentang hal itu, ia akan
ditolak dan masa depannya hancur. Maka dokter
berhadapan dengan pertanyaan: bolehkah ia memenuhi
permintaan putri itu?

Lanjutan
apakah masalah ini hanya sekedar masalah perasaan.
Sebagaimana diketahui, ada dua pendapat: yang satu dapat
membenarkan permintaan itu, yang satunya menolak.
Terdapat 2 argumen:
Golongan pertama barangkali akan mengemukakan bahwa
pengguguran itu boleh dilakukan demi masa depan anak putri
itu sendiri dan bahwa wanita berhak untuk menentukan
sendiri apakah kehamilan mau diteruskan atau tidak.
Sedangkan yang menolak pengguguran mengemukakan
bahwa isi kandungan putri itu bukan segumpal daging,
melainkan seorang manusia kecil yang sebagai manusia dan
berhak agar hidupnya dilindungi.

Penilaian moral secara objektif


Situasi ini sangat berbeda dari masalah apakah
buah durian itu enak atau tidak. Karena hal enak
tidaknya memang masalah perasaan masingmasing, maka kedua belah pihak dapat
menerima bahwa pihak lain berbeda sikapnya.
Tidak ada kontradiksi kalau yang satu senang
makan durian dan yang satunya tidak.
Sedangkan dalam hal pengguguran isi
kandungan tidak mungkin kedua belah
pendapat benar sekaligus.

Kesimpulan apa yang dapat kita tarik dari


pertimbangan-pertimbangan tentang debat
sekitar masalah pengguguran? Kelihatan bahwa
penilaian moral bukan sekedar masalah
perasaan, melainkan masalah kebenaran
objektif. Kalau ada perbedaan pendapat moral,
kita tidak berdebat tentang perasaan kita,
melainkan tentang apa yang secara objektif
menjadi kewajiban kita dan apa yang tidak.
Hal yang sama harus kita terapkan pada
pertanggungjawaban suara hati. Yang dituntut
rasionalitas,

Mengambil keputusan
cara untuk mengambil suatu keputusan.
Pertanyaan yang dibahas sekarang berbunyi:
Bagaimana cara pengambilan keputusan
supaya keputusan itu secara moral memadai?

Hal-hal apa yang perlu dilakukan:


Yang pertama dibutuhkan adalah sikap terbuka.
Terbuka berarti: bersedia untuk membiarkan
pendapat sendiri dipersoalkan
Kita harus mempelajari masalahnya. Kita harus
memperhatikan pendapat-pendapat utama yang
terdapat mengenai masalah yang harus kita
putuskan. Terutama kita harus terbuka terhadap
pandangan yang berbeda dengan pandangan kita.
Kita harus mem-pertimbangkan argumen pro
dan contra, mana yang lebih kuat

Lanjutan..
Misalnya masalah pengguguran: Kalau seorang dokter
sudah memikirkannya secara mendalam,
mendiskusikannya bersama dokter-dokter lain dan
bersama para ahli etika dan moral agama, dan
berdasarkan itu sudah mencapai pendirian yang pasti,
misalnya bahwa ia tidak akan melakukan pengguguran
itu meskipun ia diminta, maka ia tentu saja tidak setiap
kali harus mengadakan semua pertimbangan itu dari
semula. Ia dapat mendasarkan diri pada pendiriannya
itu, karena merupakan hasil usaha yang bertanggung
jawab untuk menangani kasus pengguguran secara tepat.

Jadi tak pernah kita boleh mengambil sikap aku


sudah mempunyai pendirian dan oleh karena itu
argumen-argumen, pandangan-pandangan dan
tantangan-tantangan baru tak perlu
kuhiraukan! Kita tak pernah boleh berhenti
belajar!

Kita memang harus bertindak menurut keyakinan


hati kita, tetapi itu tidak membebaskan kita dari
kewajiban untuk mempertanggungjawabkan
mengapa kita sampai ke keyakinan itu. Jadi kita
tidak boleh melindungi diri di belakang keyakinan
atau suara hati kita. Suara hati merupakan fakta,
bahwa kita berkeyakinan demikian, tetapi tidak
menjelaskan mengapanya.
Mempertanggung jawabkan suara hati berarti
kita menjelaskan mengapa kita dalam hati
berpendapat demikian.

TERIMAKASIH