Anda di halaman 1dari 6

SKRINING HIPOTIROID PADA NEONATUS

Hipotiroid kongenital (HK) merupakan defisiensi sekresi hormon tiroid yang terjadi pada
bayi sejak lahir yang diakibatkan karena berkurangnya kerja hormone tiroid pada tingkat seluler.
Di negara-negara dengan program skrining pada bayi baru lahir, pada dasarnya semua bayi
dengan hipotiroidisme congenital didiagnosis setelah dideteksi dengan dilakukannya tes skrining.
Program skrining telah dikembangkan di Kanada, Amerika Serikat, bagian Meksiko, Barat
Eropa, Jepang, Australia, Selandia Baru, dan Israel. Dari populasi kelahiran di seluruh dunia dari
127 juta, diperkirakan bahwa 25 persen menjalani skrining congenital hipotiroidisme. Pada bayi
yang lahir tanpa program skrining, diagnosis dapat dibuat setelah pengembangan manifestasi
klinis dari hipotiroidisme (Rastogi, 2010).
Skrining pada bayi baru lahir di Indonesia sangat penting, karena penderita
hipotiroidisme congenital lebih cepat dideteksi pada usia 1 dibandingkan pada usia sebelum bayi
berumur 3 bulan. Selain itu , melalui skrining hipotiroidisme congenital pada bayi baru lahir
dapat cepat ditangani dan pengobatan dapat langsung diberikan (Kemenkes, 2012).
Tujuan umum pengobatan HK adalah untuk memberikan jaminan pada anak atau bayi
yang mengidap hipotiroidisme mampu mencapai pertumbuhan dan perkembangan mental sesuai
tingkatan genetiknya. Hal ini dapat dilakukan dengan FT4 dan TSH dikembalikan ke kadar
normalnya (Kemenkes, 2012). Skrining ini juga memiliki keuntungan yaitu memiliki biaya yang
rendah dibandingkan dengan hipotiroidisme pada orang yang sudah tua (Rose et al, 2006).
Spesimen yang digunakan untuk tes skrining bayi baru lahir adalah darah dari tumit yang
ditusukan dan dikumpulkan pada kartu kertas filter khusus. Spesimen dikumpulkan secara rutin
antara dua dan lima hari dari usia bayi tersebut. Beberapa program menggunakan darah tali pusat
untuk skrining. Selain itu, beberapa program juga secara rutin mendapatkan 2 spesimen diantara
usia bayi dua dan enam minggu . Kartu kertas filter tersebut kemudian dikirim ke laboratorium
untuk pengujian (Rastogi, 2010).
Pada awal dilakukannya skrining, sebagian besar program melakukan tes T4 awal, dengan tes
TSH untuk menindak lanjuti bayi dengan T4 yang rendah. Dengan meningkatkan akurasi
pengukuran TSH, banyak program skrining melakukan tes TSH awal untuk mendeteksi
hipotiroid kongenital. (Rastogi, 2010)

Berikut merupakan algoritma diagnosis pada hipotiroid kongenital menurut Rastogi, 2010 :

LAMPIRAN
1. In those countries with newborn screening programs in place, essentially all infants with
congenital hypothyroidism are diagnosed after detection by newborn screening tests.
Screening programs have been developed in Canada, the United States, parts of Mexico,
Western Europe, Japan, Australia, New Zealand, and Israel, and they are under
development in parts of many countries in Eastern Europe, Asia, South America and
Africa. Of the worldwide birth population of 127 million, it is estimated that 25 percent
undergo screening for congenital hypothyroidism. In infants born in locations without
newborn screening programs, diagnosis may be made after development of clinical
manifestations of hypothyroidism (Rastogi, 2010).
2. Di Indonesia, skrining neonatal HK saat ini belum merupakan program nasional. Telaah
rekam medis di klinik endokrin anak RSCM dan RSHS menunjukkan bahwa lebih dari
70% penderita HK didia nosis setelah umur 1 tahun. Hanya 2,3% yang bisa dikenali sebel
m umur 3 bulan. Dengan demikian deteksi dini melalui skrining p da BBL sangat penting
dan bayi bisa segera mendapatkan pengobatan (Kemenkes, 2012).
3. In addition to the profound clinical benefit, it has been estimated that the cost of
screening for CH is much lower than the cost of diagnosing CH at an older age (Rose et
al, 2006).
4. Tujuan umum pengobatan HK adalah menjamin agar anak mampu mencapai
pertumbuhan dan perkembangan mental mendekati potensi genetiknya. Keadaan ini bisa
dicapai

dengan

mengembalikan

FT4

dan TSH

dalam

rentang

normal

dan

mempertahankan status klinis dan biokimiawi dalam keadaan eutiroid (tiroid nor al).
Apapun penyebabnya, terapi sulih hormone dengan (pil tiroksin L-thyroxine harus
secepatnya diberikan begitu diagnosis ditegakkan (Kemenkes, 2012).
5. The specimen used for newborn screening tests is blood from a heel-prick collected on
special filter paper cards. The specimen is routinely collected between two and five days
of age (or at discharge from the hospital, if this occurs earlier); some programs use cord
blood for screening. In addition, someprogramsalsoroutinely obtain a 2nd specimen

between two and six weeks of age. The filter paper cards are then sent to a centralized
laboratory for testing (Rastogi, 2010).
6. Early in the experience of screening, most programs undertook an initial T4 test, with a
follow-up TSH test on infants below a specified T4 cutoff [2]. With increasing accuracy
of TSH measurement, many screening programs now carry out an initial TSH test to
detect congenital hypothyroidism. Each program must develop its own T4 and TSH
cutoff for recall of infants with abnormal test results (Rastogi, 2010).

DAFTAR PUSTAKA

1. Rastogi M V, Lavaranchi SH. Congenital hypothyroidism. Orphanet J. Rare Dis.


[Internet]. 2010 [cited 2015 jun 27];5(1):17. Available from: www.ojrd.com/content/5/1/7
2. Rose SR, Brown RS, Foley T, Kaplowitz PB, Kaye CI, Sundararajan S, et al. Update of
newborn screening and therapy for congenital hypothyroidis. American Academy of
Pediatric [Internet]. 2006 jun [cited 2016 jan 8];117(6):2290-303.Available from
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubme/16740880
3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Skrining Hipotiroid Kongenital.
2012. Available from: http://www.peroustakaan.depkes.go.id

Blok 15: Sistem Endokrin


SKRINING HIPOTIROID PADA NEONATUS

Disusun oleh:

Siti Nurul Muharrom


H1A013060

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM


NUSA TENGGARA BARAT
2015