Anda di halaman 1dari 3

Penatalaksanaan peningkatan tekanan intrakranial

Tujuan utama dari penatalaksanaan pada pasien dengan peningkatan tekanan


intrakranial adalah mengidentifikasi penyebab dan menurunkan tekanan
intrakranial. Penting untuk tidak menunda pengobatan dalam situasi dimana
menentukan penyebab memerlukan waktu. Ketika gejala klinis dari peningkatan
TIK telah muncul, maka tekanan tersebut harus segera diturunkan.
ABCs
Penilaian dan manajemen airway, breathing dan circulation (ABCs) adalah
langkah awalnya. Intubasi endotrakeal harus dipertimbangkan pada pasien
dengan penurunan GCS, apnea atau tidak mampu mempertahankan pernafasan
normal. Intubasi harus disertai dengan pemberian obat-obatan yang bisa
mencegah peningkatan TIK selama prosedur. Obat-obat yang disarankan adalah
lidokain, thiopental dan agen blokade depolarisasi neuromuskular short acting
(vecuronium, atracurium). Kecukupan oksigenasi harus dipastikan. Jika ada
tanda-tanda kegagalan sirkulasi, bolus cairan harus diberikan. Lalu pengambilan
sampel yang sesuai dengan anamnesis untuk pemeriksaan laboratorium juga
harus dilakukan.

Posisi
Elevasi kepala 1530 telah terbukti menurunkan TIK tanpa menurunkan perfusi
jaringan otak. Dokter harus memastikan bahwa pasien euvolemik dan tidak
dalam keadaan syok sebelum pasien diposisikan.

Hiperventilasi
Penurunan PaCO2 ke 30-35 mmHg adalah cara cepat dan efektif untuk
mengurangi TIK. Hiperventilasi bertindak sebagai vasokontriksi pembuluh darah
otak dan mengurangi aliran darah otak. Efek vasokontriksi ini pada arteriol otak
hanya berlangsung 11-20 jam karena cairan serebrospinal dengan cepat
menyeimbangkan pHnya pada kadar PaCO2 yang baru. Akan tetapi hiperventilasi
yang terlalu agresif dapat menyebabkan atau memperberat iskemia otak. Karena
itu hiperventilasi paling efektif digunakan pada fase akut, peningkatan
mendadak TIK atau adanya tanda-tanda herniasi. Akan tetapi hal ini masih
kontroversial dikarenakan kurangnya data yang menunjukan keuntungan atau
kerugian dari hiperventilasi.
Mannitol
Manitol adalah terapi utama dalam peningkatan TIK. Salah satu mekanisme yang
jelas adalah melalui diuresis osmotik dengan menarik edema dari parenkim otak.
Hal ini biasanya memakan waktu 15-30 menit, dan efeknya biasanya
berlangsung 1,5-6 jam. Mekanisme lain adalah dengan ekspansi plasma dan
penurunan viskositas darah, sehingga meningkatkan aliran darah dan akhirnya

mengakibatkan vasokonstriksi intrakranial dalam upaya untuk mempertahankan


aliran darah konstan. Vasokonstriksi ini akhirnya mengarah ke penurunan volume
intrakranial (hipotesis Monroe-Kelly) dan penurunan TIK. Dosis optimal dari
manitol tidak diketahui. Dosis awal yang biasa digunakan adalah 0,25-1 g/kgBB
diikuti dengan 0,25-0,5 g/kgBB bolus diulang setiap 2-6 jam. Selama pemberian
manitol, keseimbangan cairan harus diawasi untuk menghindari syok dan
hipovolemia. Selain itu manitol juga bisa melewati BBB dan menyebabkan
rebound dari peningkatan TIK. Karena alasan itu, maka saat waktunya untuk
menghentkan manitol maka harus ditappering off, dan penggunaannya harus
dibatasi hingga 48-72 jam. Manitol juga bisa menyebabkan hipokalemia,
hemolisis dan gagal ginjal. Penggunaan manitol di ICU harus disertai monitor TIK
dan osmolaritas serum harus dijaga agar tetap <320 mmol/Kg.
Hipertonic saline
Hipertonic saline mempunyai keuntungan dibandingkan dengan manitol.
Hipertonic saline bisa digunakan pada pasein dengan gagal ginjal atau
osmolaritas serum >320 mmol/Kg. Pada penelitian yang berbeda, konsentrasi
dari hipertonic saline bervariasi dari 1,7% hingga 30%, dan metode
pemberiannya pun bervariasi, sehingga belum ada rekomendasi pemberian yang
tepat. Pemberian hipertonic saline bisa diberikan secara infus 0,1-1 mL/Kg/jam
hingga mencapai target Na 145-155 meq/L. Kadar Na dan status neurologis
harus dimonitor dengan ketat selama pemberian. Monitor kada Na dan
osmolaritas serum dilakukan setiap 2-4 jam hingga kadar yang diinginkan
tercapai dan dikontrol setiap 12 jam. Dengan pengawasan yang hati-hati,
hipertonic saline dapat digunakan hingga 7 hari. Efek amping dari pemberian
hipertonic saline ini adalah perdarahan, peningkatan TIK rebound, hipokalemi,
hiperkloremia asidosis, myelinolisis, volume overload, gagal jantung dan edema
paru.
Steroid
Glukokortikoid sangat efektif dalam mengatasi edema vasogenik yang menyertai
tumor, peradangan, infeksi, dan kondisi lain yang berhubungan dengan
peningkatan permeabilitas BBB termasuk manipulasi bedah. Steroid yang biasa
dipakai adalah dexamethasone dengan dosis 0,4-1,5 mg/kg/ hari dibagi tiap 6
jam. Tetapi dalam bebapa penelitian, penggunaan steroid pada trauma otak dan
stroke tidak menunjukan hasil yang bermakna.

Sedasi dan analagesi


Peningkatan TIK diperburuk dengan agitasi, nyeri, dan asinkroni nafas pasien.
Pemberian analgesi dan sedasi yang adekuat, serta kadang pelumpuh otot
adalah terapi adjuvan yang berguna dalam kasus peingktana TIK. Obat yang bia
dipakai adalah golongan benzodiazepine (diazepam, midazolam), dan jika sedatif
tidak efektif, maka bisa digunakan agen pelumpuh otot seperti pancuronium,
atracurium, dll.

Tekanan darah dan suhu


Pasien dengan peningkatan Tik harus dijaga agar tekanan darahnya tidak
melebihi 180mmHg terutama pada pasien dengan hemoragic intrakranial. Selain
itu juga adanya hipotensi harus diawasi. Hipotensi berhubungan dengan
peningkatan mortalitas 27-50% pada pasien dengan trauma otak. Biasanya
dokter akan membatasi cairan agar mengurangi edema, tetapi hal ini berbahaya
pada pasien yang memang sudah kekurangan cairan.
Selain itu suhu tubuh juga harus dimonitor dengan ketat. Terlepas dari penyebab
suhu tinggi, demam saja meningkatkan metabolisme, pelepasan glutamat, dan
aktivitas neutrofil, yang menyebabkan kerusakan BBB. Suhu tinggi juga diketahui
menyebabkan terbentuknya radikal bebas dan proteolisis sitoskleletal. Hal ini
menyebabkan dan memperburuk kerusakan otak dan sel neuron.
Kadar glukosa darah
Hipoglikema diketahui dapat menyebabkan stres sistemik dan menyebabkan
gangguan aliran darah otak, meningkatkan aliran darah otak hingga 300% pada
hipoglikemia berat. Di sisi lain, hiperglikemia berhubungan dengan hail
neurologis yang jelek dan meningkatkan mortalitas. Pemantauan kadar gula
darah harus dilakukan, dan kadar gula darah dijaga dalam kadar 80-120 mg/dL.

Bedah
LCS dapat didrainase dan TIK dapat diturunkan melalui pemasangan VP shunt.
Hal ini berguna bila ada hidrosefalus. VP shunt juga berguna untuk monitoring
TIK. Selain itu bila melalui rediografi kepala, penyebab peningkatan TIK dapat
ditentukan, maka tindakan bedah bisa dilakukan. Keadaan yang sering
memerlukan tindakan bedah saraf adalah akut epidural atau subdural hematom,
abses otak atau tumor otak.

Sumber
Sankhyan N, et al. Management of raised intracranial pressure. Indian J Pediatr
(2010) 77:14091416.