Anda di halaman 1dari 3

1

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.
Pengertian jembatan secara umum adalah suatu
konstruksi yang berfungsi untuk menghubungkan dua
bagian jalan yang terputus oleh adanya rintanganrintangan seperti lembah yang dalam, alur sungai, danau,
saluran irigasi, kali, jalan kereta api, jalan raya yang
melintang tidak sebidang dan lain-lain." (Nasution,
2012:1).
Jembatan dapat dianggap baik dan kokoh bila jembatan
tersebut tidak ambruk atau roboh ketika terdapat kendaraan
yang melintas di atasnya. Tapi perlu diingat, bahwa setiap bentuk
konstruksi juga memiliki umur rencana tidak terkecuali jembatan.
Saat umur jembatan tersebut telah melampaui batas umur
rencana atau saat kondisi jembatan sudah tidak layak pakai
maka,

diperlukan

perencanaan

jembatan

yang

baru

guna

memenuhi tingkat pelayanan transportasi yang sesuai dengan


standar yang berlaku.
Jembatan Setail yang terdapat di Desa Jalen, Kecamatan
Genteng, Kabupaten Banyuwangi ini menghubungkan antara
Desa Jalen di sebelah Barat jembatan dengan Desa Ciningsari di
sebelah timur jembatan. Jembatan dengan gelagar beton yang
terdiri dari tiga segmen tersebut membentang sejauh 62,5
meter di atas Sungai Setail dan ditopang dengan pilar-pilar
komposit di bagian bawahnya. Adapun lingkungan sekeliling
jembatan yang dimaksud merupakan lahan pertanian (sawah/
tegalan),

kawasan

pendidikan

dan

sebagian

kecil

daerah

perniagaan.
Kondisi

Jembatan

Setail

saat

ini

mengalami

beberapa

kerusakan. Di antara kerusakan tersebut yaitu, kropos pada


abutment bagian timur, hilangnya beberapa bagian handling
pada struktur atas serta ikatan antara pelat lantai kendaraan

dengan pilar-pilar di bawahnya yang tidak sepenuhnya menyatu.


Sehingga, baik struktur atas maupun struktur bawah jembatan
sudah mengalami kerusakan yang dapat mengganggu nilai
fungsional jembatan itu sendiri. Selain itu, seiring dengan
kemajuan zaman tidak menutup kemungkinan di tahun-tahun
pertumbuhan

penduduk

sekitar

akan

jauh

lebih

cepat

berkembang sehingga tingkat sarana transportasinya pun harus


turut meningkat.
Oleh sebab itu, studi perencanaan Jembatan Setail ini dirasa
perlu

dilakukan

agar

faktor

keamanan

dan

kenyamanan

pengguna dalam jangka waktu yang lama dapat terpenuhi.

1.2 Rumusan Masalah.


Adapun perumusan masalah yang didapat dari latar belakang
yang

telah

diuraikan

sebelumnya

adalah

"Bagaimana

merencanakan Jembatan Setail yang awalnya dibangun dengan


struktur beton menjadi struktur rangka baja yang aman sesuai
Standar Nasional Indonesia (SNI) yang berlaku?."
1.3 Tujuan.
Berdasar pada rumusan masalah yang ada, maka tujuan dari
penelitian ini yaitu, untuk merencanakan Jembatan Setail yang
awalnya dibangun dengan struktur beton menjadi struktur
rangka baja yang aman sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI)
yang berlaku.
1.4 Manfaat.
Adapun manfaat yang akan diperoleh dari perencanaan
jembatan rangka baja ini, yaitu :

1) Meningkatkan pelayanan serta faktor keamanan dan


kenyamanan

pengguna

jalan

pada

jembatan

dan

penduduk sekitar;
2) Dapat membantu perorangan atau instansi terkait dalam
perencanaan jembatan rangka baja;
3) Sebagai usaha untuk merealisasikan setiap ilmu yang
berkaitan dengan teori yang diperoleh selama masa-masa
perkuliahan.
1.5 Batasan Masalah.
Beberapa batasan masalah

yang

akan

dibahas

dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut :


1) Perencanaan jembatan meliputi perencanaan bangunan
atas (super structures) beserta abutment hingga gambar
desain

tidak

termasuk

desain,

ukuran,

dan

jumlah

pondasi.
2) Jembatan yang direncanakan merupakan jembatan rangka
baja

dengan

bentang

62,50

meter,

lebar

jalur

perkerasan 7,00 meter (2 lajur x 4,00 meter), lebar


trotoar kanan dan kiri 1,00 meter (2 x 1,00 meter).
3) Sifat mekanis untuk baja struktural dalam studi
perencanaan ini menggunakan jenis baja BJ 41 (fu = 410
Mpa; fy = 250 Mpa; Regangan minimum = 18%),
sedangkan untuk kuat tekan beton rencana menggunakan
K350 (f'c = 35 Mpa).

Anda mungkin juga menyukai