Anda di halaman 1dari 10

Tinjauan Pustaka

Pemeriksaan Elektolit

Pembimbing : dr. Arief Priambodo Sp.A. M.kes


Nama : Calista Paramita
NIM : 11.2014.038

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
RS BAYUKARTA
15 Februari 2016 23 April 2015
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen KridaWacana
Pendahuluan

Elektrolit adalah senyawa di dalam larutan yang berdisosiasi menjadi partikel yang
bermuatan (ion) positif atau negatif. Ion bermuatan positif disebut kation dan ion
bermuatan negatif disebut anion. Keseimbangan keduanya disebut sebagai
elektronetralitas. 1
Sebagian besar proses metabolisme memerlukan dan dipengaruhi oleh elektrolit.
Konsentrasi elektrolit yang tidak normal dapat menyebabkan banyak gangguan. 1
Pemeliharaan homeostasis cairan tubuh adalah penting bagi kelangsungan hidup
semua organisme. Pemeliharaan tekanan osmotik dan distribusi beberapa
kompartemen cairan tubuh manusia adalah fungsi utama empat elektrolit mayor,
yaitu natrium (Na+ ), kalium (K+ ), klorida (Cl- ), dan bikarbonat (HCO3 - ).
Pemeriksaan keempat elektrolit mayor tersebut dalam klinis dikenal sebagai profil
elektrolit.1
Fisiologi Natrium, Kalium Dan Klorida
Cairan tubuh terdiri dari air dan elektrolit. Cairan tubuh dibedakan atas cairan
ekstrasel dan intrasel. Cairan ekstrasel meliputi plasma dan cairan interstisial.
Distribusi elektrolit pada cairan intrasel dan ekstrasel dapat dilihat pada Gambar 1.
1,2

1. Fisiologi Natrium
Natrium adalah kation terbanyak dalam cairan ekstrasel, jumlahnya bisa
mencapai 60 mEq per kilogram berat badan dan sebagian kecil (sekitar 10- 14
mEq/L) berada dalam cairan intrasel 2,3. Lebih dari 90% tekanan osmotik di
cairan ekstrasel ditentukan oleh garam yang mengandung natrium, khususnya
dalam bentuk natrium klorida (NaCl) dan natrium bikarbonat (NaHCO3)
sehingga perubahan tekanan osmotik pada cairan ekstrasel menggambarkan
perubahan konsentrasi natrium3 . Perbedaan kadar natrium intravaskuler dan

interstitial disebabkan oleh keseimbangan Gibbs Donnan, sedangkan perbedaan


kadar natrium dalam cairan ekstrasel dan intrasel disebabkan oleh adanya
transpor aktif dari natrium keluar sel yang bertukar dengan masuknya kalium ke
dalam sel (pompa Na+ K + ) 2,4,9-10. Kadar natrium dalam cairan ekstrasel
dan cairan intrasel dapat dilihat pada Tabel 1. Jumlah natrium dalam tubuh
merupakan gambaran keseimbangan antara natrium yang masuk dan natrium
yang dikeluarkan. Pemasukan natrium yang berasal dari diet melalui epitel
mukosa saluran cerna dengan proses difusi dan pengeluarannya melalui ginjal
atau saluran cerna atau keringat di kulit. 3,4. Pemasukan dan pengeluaran
natrium perhari mencapai 48-144 mEq. 3

Jumlah natrium yang keluar dari traktus gastrointestinal dan kulit kurang dari
10%. Cairan yang berisi konsentrasi natrium yang berada pada saluran cerna
bagian atas hampir mendekati cairan ekstrasel, namun natrium direabsorpsi
sebagai cairan pada saluran cerna bagian bawah, oleh karena itu konsentrasi
natrium pada feses hanya mencapai 40 mEq/L4 .
Keringat adalah cairan hipotonik yang berisi natrium dan klorida. Kandungan
natrium pada cairan keringat orang normal rerata 50 mEq/L. Jumlah
pengeluaran keringat akan meningkat sebanding dengan lamanya periode
terpapar pada lingkungan yang panas, latihan fisik dan demam 1,4 .
Ekskresi natrium terutama dilakukan oleh ginjal. Pengaturan eksresi ini
dilakukan untuk mempertahankan homeostasis natrium, yang sangat
diperlukan untuk mempertahankan volume cairan tubuh. Natrium difiltrasi
bebas di glomerulus, direabsorpsi secara aktif 60-65% di tubulus proksimal
bersama dengan H2O dan klorida yang direabsorpsi secara pasif, sisanya
direabsorpsi di lengkung henle (25-30%), tubulus distal (5%) dan duktus
koligentes (4%). Sekresi natrium di urine Aldosteron menstimulasi tubulus distal
untuk mereabsorpsi natrium bersama air secara pasif dan mensekresi kalium
pada
sistem
renin-angiotensin-aldosteron
untuk
mempertahankan
1,2,5
elektroneutralitas.
2. Fisiologi Kalium

Sekitar 98% jumlah kalium dalam tubuh berada di dalam cairan intrasel.
Konsentrasi kalium intrasel sekitar 145 mEq/L dan konsentrasi kalium
ekstrasel 4-5 mEq/L (sekitar 2%). Jumlah konsentrasi kalium pada orang
dewasa berkisar 50-60 per kilogram berat badan (3000-4000 mEq). Jumlah
kalium ini dipengaruhi oleh umur dan jenis kelamin. Jumlah kalium pada
wanita 25% lebih kecil dibanding pada laki-laki dan jumlah kalium pada orang
dewasa lebih kecil 20% dibandingkan pada anak-anak. 2
Perbedaan kadar kalium di dalam plasma dan cairan interstisial dipengaruhi
oleh keseimbangan Gibbs-Donnan, sedangkan perbedaan kalium cairan
intrasel dengan cairan interstisial adalah akibat adanya transpor aktif
(transpor aktif kalium ke dalam sel bertukar dengan natrium). 3,4
Jumlah kalium dalam tubuh merupakan cermin keseimbangan kalium yang
masuk dan keluar. Pemasukan kalium melalui saluran cerna tergantung dari
jumlah dan jenis makanan. Orang dewasa pada keadaan normal
mengkonsumsi 60-100 mEq kalium perhari (hampir sama dengan konsumsi
natrium). Kalium difiltrasi di glomerulus, sebagian besar (70- 80%)
direabsorpsi secara aktif maupun pasif di tubulus proksimal dan direabsorpsi
bersama dengan natrium dan klorida di lengkung henle. 3,5 Kalium dikeluarkan
dari tubuh melalui traktus gastrointestinal kurang dari 5%, kulit dan urine
mencapai 90%. 4,5
3.

Fisiologi Klorida
Klorida merupakan anion utama dalam cairan ekstrasel. Pemeriksaan
konsentrasi klorida dalam plasma berguna sebagai diagnosis banding pada
gangguan keseimbangan asam-basa, dan menghitung anion gap. 1,4
Jumlah klorida pada orang dewasa normal sekitar 30 mEq per kilogram berat
badan. Sekitar 88% klorida berada dalam cairan ekstraseluler dan 12% dalam
cairan intrasel. Konsentrasi klorida pada bayi lebih tinggi dibandingkan pada
anak-anak dan dewasa. 2,4
Keseimbangan Gibbs-Donnan mengakibatkan kadar klorida dalam cairan
interstisial lebih tinggi dibanding dalam plasma. Klorida dapat menembus
membran sel secara pasif. 2 Perbedaan kadar klorida antara cairan interstisial dan
cairan intrasel disebabkan oleh perbedaan potensial di permukaan luar dan
dalam membran sel.2 Jumlah klorida dalam tubuh ditentukan oleh keseimbangan
antara klorida yang masuk dan yang keluar. Klorida yang masuk tergantung dari
jumlah dan jenis makanan. Kandungan klorida dalam makanan sama dengan
natrium. Orang dewasa pada keadaan normal rerata mengkonsumsi 50-200 mEq
klorida per hari, dan ekskresi klorida bersama feses sekitar 1-2 mEq perhari.
Drainase lambung atau usus pada diare menyebabkan ekskresi klorida mencapai
100 mEq perhari. Kadar klorida dalam keringat bervariasi, rerata 40 mEq/L. Bila

pengeluaran keringat berlebihan, kehilangan klorida dapat mencapai 200 mEq


per hari. Ekskresi utama klorida adalah melalui ginjal. 1,4,
Perubahan komposisi dan volume cairan tubuh yang disebabkan oleh gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit disebabkan oleh berbagai macam keadaan
atau penyakit. Sebagian besar gangguan ini disebabkan oleh penyakit saluran
cerna. Di dalam tubuh homeostasis dijaga oleh aktifitas yang merupakan
kerjasama antara lingkungan, hormonal, ginjal, adaptasi vaskuler untuk
perubahan volume dan tekanan osmotic. Total cairan tubuh yang mengambil 5572% massa tubuh, beragam menurut jenis kelamin, umur dan kadar lemak yang
mengambil bagian antara intraseluler dan ekstraseluler. Cairan ekstra seluler
yang merupakan 1/3 total cairan tubuh, terdiri dari cairan plasma intravaskuler,
dan cairan interstisiil ekstravaskuler. Ion2 elektrolit yang utama adalah Na+, Cl-,
HCO3, sedangkan yang jumlahnya sedikit adalah K+, Mg, Ca, fosfat, sulfat, asam
organic, dan protein. Komponen cairan intraseluler ialah K+, protein, Mg, Sulfat,
dan Fosfat. Dalam cairan ekstraseluler Na+ dan Cl- mengisi lebih dari 90%
larutannya. Konsentrasi serum Na menggambarkan jumlah relatif air dan natrium
dalam plasma. Mempertahankan konsentrasi natrium dalam keadaan normal
berarti ikut bagian dalam pengaturan volume cairan tubuh. Besarnya kandungan
dalam cairan ekstraselluler dan intraselluler tergantung pada jumlah air di
dalamnya, sedangkan distribusi air tergantung pada osmolalitasnya. Osmolalitas
larutan merupakan fungsi dari jumlah partikel larutan atau osmolar per unit
volume. Satuan osmolalitas diukur dengan mOsm/L. Harga normal osmolalitas
serum 265 sampai 285 yang dipertahankan oleh fungsi ginjal, zat yang terlarut
atau konsentrasi dari urin. Hal ini diatur oleh berbagai mekanisme seperti filtrasi
glomerulus, tekanan arteri, aliran darah, faktor fisik dalam ginjal, sistem syaraf
simpatik dan hormon seperti aldosteron, faktor natruretik atrium, vasopressin,
dan dopamin. Sistim ini ditujukan untuk mengendalikan keseimbangan air dan
elektrolit melalui ultrafiltrasi glomeruler plasma diikuti dengan perubahan
kandungan elektrolit pada ultrafiltrasi ini oleh reabsorpsi dan sekresi tubuler.
Mekanisme ini bersama sama dengan rasa haus mengendalikan baik volume
maupun osmolalitas plasma. Kelainan akibat perubahan volume dan komposisi
cairan tubuh perlu diatasi dengan penambahan kebutuhan rumatan, koreksi
defisit volume dan elektrolit, dan mengganti kehilangan yang sedang
berlangsung. 6
Kebutuhan cairan rumatan dan elektrolit6
Kebutuhan cairan rumatan untuk mengganti kehilangan cairan sensible dan
insensible harus dihitung secara teliti dan tergantung pada pemakaian energi,
meskipun jumlah itu bisa dihitung berdasarkan berat badan. Kehilangan
insensible melalui kulit dan saluran napas yang biasanya bebas elektrolit lebih
besar pada bayi baru lahir dari pada orang dewasa. Kehilangan sensible terutama
dari urin mengambil porsi 50% kebutuhan cairan. Jadi kehilangan cairan melalui
urin tidak perlu diganti sepanjang output urin tidak lebih dari 50-60% cairan

rumatan. Kebutuhan kalori untuk tumbuh bisa di perkirakan equivalent dengan


kcal untuk setiap cc kebutuhan air. Faktor yang dapat meningkatkan kebutuhan
kalori dan air ialah panas (10% untuk setiap 1 derajat C), aktifitas fisik,
kehilangan gastrointestinal yang sedang berlangsung, hiperventilasi, keadaan
hipermetabolik. Kebalikan dari keadaan diatas seperti anuria, oligouria atau
gagal. 6
Salah satu contoh penyakit saluran cerna adalah muntah dan diare. Anamnesis
dan pemeriksaan fisis diperlukan untuk memperkirakan apakah ada
perkembangan kearah dehidrasi tampak Pengeluaran tidak normal seperti stoma,
aspirasi nasogastrik, diare berkepanjangan, luka bakar, harus di analisa dan
diukur secara betul untuk menghitung jumlah cairan yang diperlukan.
Kekurangan cairan dan elektrolit biasanya akibat kehilangan normal atau
berlebihan atau penurunan pemasukan normal. Salah satu contoh penyakit
saluran cerna adalah muntah dan diare. Anamnesis dan pemeriksaan fisis
diperlukan untuk memperkirakan apakah ada perkembangan kearah dehidrasi
tampak pada Tabel 2. Informasi ini untuk menentukan berapa persen dehidrasi
yang terjadi sehingga bisa diperhitungkan seperti misalnya dehidrasi 10%
berhubungan dengan defisit 100 ml/ kg berat badan. Pengukuran elektrolit tidak
dibutuhkan jika defisit hanya kurang dari 5% berat badan tapi jika lebih dari 5%
berat badan maka perlu diperhitungkan kadar elektrolit dan hasil pemeriksaan
laboratorium lainnya seperti asam basa darah. 6

Dehidrasi

Dehidrasi adalah kekurangan cairan tubuh. Penyebab dehidrasi adalah kehilangan


cairan yang berlebihan atau kekurangan pemasukan cairan tubuh. Diare dan
muntah adalah penyakit yang sering menyebabkan dehidrasi pada bayi dan
anak. Dehidrasi yang disebabkan oleh diare merupakan dehidrasi yang
terbanyak. Hal ini terjadi jika cairan yang disekresi lebih banyak dari kapasitas
absorpsi atau adanya kegagalan absorpsi. Cairan saluran cerna merupakan

campuran dari makanan dan sekresi cairan lambung, pankreas, empedu dan
usus. Pada diare sekretori terjadi kehilangan cairan, natrum dan klorida. Pada
diare karena rotavirus kehilangan HCO3 dan kalium di usus menyebabkan
asidosis metabolik dan penekanan kalium. Umumnya anak sakit dengan
anoreksia dan kehilangan cairan dan elektrolit menyebabkan dehidrasi isotonic.
Dehidrasi berhubungan dengan fungsi berbagai macam sistim organ jadi
homeostasis cairan tubuh tak dapat dipertahankan. Pengobatan yang effektif
hanyalah pengembalikan fungsi ginjal sehingga ginjal dapat memandu
memperbaiki keseimbangan asam basa dan elektrolit. Kehilangan volume cairan
yang ringan bisa diganti dengan cairan oral meskipun banyak senter melakukan
penggantian secara parenteral. 6
Gejala dari gangguan elektrolite

Tanda dehidrasi ditandai dengan urine yang berkurang atau warna urine yang
lebih gelap dari biasanya. Atauu gangguan elektrolite yang lain penyebabnya
seperti pusing, , lemas, keram, dan otot yang spasme . beberapa hal uang lain
seperti sulit bernafas atau jantung yang berdebar. Dan beberapa tanda dehidrasi
yang berat. 7
Elektrolite darah

Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel bermuatan listrik


yang disebut ion jika berada dalam larutan. Ion terbagi nmenjadi anion dan kation
tergantung mereka bergerak dalam medan listrik menuju katode anode yang
menunjukan mereka mempunyai muatan positip dan negatip. 8
Metode pemeriksaan elektrolit darah

Beberapa metode pemeriksaan elektrolit darah diantaranya adalah sebagai


berikut : 8
1.
2.
3.
4.

Metode Flame Emision Spectrophotometry


Metode Potesiometer dengan menggunakan Ion Selectife Elektrodes (ISE)
Spektrofotometri
Metode Potensiometer dengan munggunakan Biosensor.

Selama bertahun-tahun metode untuk menganalisa natrium dan kalium terdiri


dari flame photometry dimana kation-kation tersebut diukur berdasarkan
intensitas garis spektral emisi atomik saat mendapat eksitasi dari sinar kontrol.
Metode spektrofotometri adalah metode pengukuran berdasarkan perubahan
warna atau terjadinya kekeruhan adalah proporsional dengan elektrolit yang kita
ukur. Metode ISE (Ion Selective Electrode) prinsip pemeriksaannya didasarkan
pada adanya potensial muatan listrik yang diantara kedua elektrode (bolam,
kalommel). Metode biosensor mempunyai prinsip : bila sample diposisikan pada
electrode Na, K, Cl ditentukan suatu keseimbangan dengan electrode mambrane

permukaan. Kemudian potensial yang terbentuk sesuai dengan logaritma serta


aktifitas analit dalam sample. Jalue elektrik diantara referens dan ISE dilengkapi
dengan empat referens electrode yang mengandung elektrik kalollel dan larutan
saltbridge. Potensio dari electrode Na, K, Cl diukur berturut-turut terhadap
electrode referens oleh electrometer impedans tinggi. Konsentrasi ion yang
diukur dihitung dari potensial electrode dengan menggunakan persamaan Nernst.
Faktor Yang Mempengaruhi Kadar Elektrolit Darah

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pemeriksaan elektrolit yang terbagi


dalam faktor pre analitik, analitik dan paska analitik. 8
Faktor pre analitik
1) Persiapan penderita Sebelum pengambilan bahan pemeriksaan penderita
perlu dipersiapkan, diinformasikan, serta diberi penjelasan seperlunya
mengenai tindakan yang akan dikerjakan. Beberapa keadaan yang dapat
mempengaruhi hasil antara lain : obat diuretic, aktifitas fisik, puasa, stress
dan sebagainya harus diberitahukan juga agar dihindari.
2) Pengambilan sampel Kalium adalah salah satu elektrolit kimia terpenting yaitu
dalam bahwa kelainanya dapat segera mengancam nyawa, kesalahan
pengukuran dapat menimbulkan konsekuensi serius apabila terapi didasarkan
pada hasil yang tidak akurat. Untungnya kita dapat mengetahui apakah terjadi
proses hemolisis atau tidak oleh warna merah hemoglobin yang juga
dibebaskan kedalam serum setelah serum dipisahkan dari sel setelah
pemusingan. Nilai kalium dapat meninggi apabila pasien berulang-berulang
membuka dan menutup genggaman tanganya secara kuat sementara
torniquet terpasang untuk pungsi vena. Apabila diambil dengan benar serum
yang tidak hemolisis merupakan spesimen yang baik untuk penentuan
elektrolit. Trombosit mengandung kalium yang dalam keadaan normal
dikeluarkan ke dalam serum pada pembentukan bekuan, sehingga serum
diperkirakan memiliki nilai kalium yang sedikit lebih tinggi daripada plasma
pada orang yang sama (umumnya meningkat kurang dari0,5 mEq/L). Pada
kenyataanya pasien dengan trombositosis sering memperlihatkan nilai kalium
jauh diatas rentang normal. Keadaan ini dapat diperbaiki dengan memperoleh
nilai kalium plasma pada sampel yang sudah diberi heparin yang trombositnya
tidak mengaktifkan dan mengeluarkan kalium intraselnya.
Pengambilan sampel sebaiknya dilakukan pada pagi hari sebelum banyak
melakukan aktifitas fisik. Bila tidak mungkin usahakan untuk mengambil darah
pada waktu yang sama, misalnya pengambilan sampel pukul 11.00.
pemeriksaan ulang juga dilakukan pada pukul 11.00. karena hsil pemeriksaan
kalium juga dipengaruhi oleh perubahan analit dari waktu kewaktu (variasi
diurnal), dan meminimalkan variasi intra individu. Pada pengambilansampel
sebaiknya pasien diambil pada posisi duduk atau berbaring. Pengambilan
sampel darah vena dapat menggunakan spuit ataupun vakutainer (tabung
vakum hampa udara).

3) Pengiriman dan penanganan sampel Setelah darah diambil segera kirim


kelaboratorium, darah dalam wadah segera dipindahkan ke tabung sentrifus
dan diputar selama 10-15 menit dengan kecepatan 3000 rpm, kemudian
serum segera dipisahkan. Sampel yang hemolysis tak dapat diperiksa untuk
analisa elektrolit karena kalium keluar dari eritrosit. Jika sampel bercampur
dengan antikoagulan pada suhu kamar, maka nilai kalium akan turun karena
sel-sel memakai glukosa mendorong kalium ke dalam sel. Pemberian nomor
atau label pasien harus benar-benar cermat dan teliti, karena kekeliuran
dalam hal ini akan berakibat fatal
4) Wadah penampung
Faktor analitik8
1) Persiapan reagen Sebelum menggunakan reagen hendaknya diperhatikan
beberapa hal yang penting. Keadaan fisik reagen perlu diamati terlebih
dahulu mengenai kemasan dan masa kadaluwarsanya. Reagen yang
kemasanya rusak dan masa kadaluwarsanya sudah tercapai sebaiknya tidak
dipergunakan. Suhu penyimpanan reagen yan baik di dalam almari pendingin
(suhu 2-8 0C) atau sesuai dengan anjuran dari petunjuk tertulis yang ada
pada kemasan atau di dalam kit reagen yang digunakan
2) Peralatan
Sebelum menggunakan alat perlu diperhatikan beberapa hal penting. Alat
yang digunakan harus suadah terkalibrasi dengan baik. Pemeriksaan bahan
kontrol perlu dilakukan sebelum pemeriksaan terhadap sampel. Hal penting
lainnya adalah mengikuti seluruh rangkaian protap pemakaian alat yang
telah dibakukan
Faktor paska analitik8
Faktor paska analitik menjadi sangat penting artinya mengingat seluruh
rangkaian pemeriksaan akan menjadi tidak memiliki arti sama sekali apabila
pencatatan dan pelaporan hasil tidak sesuai dengan hasil riil yang didapatkan.
Melaporkan hasil apa adanya tanpa ada rekayasa hasil merupakan sebuah
keharusan untuk memberikan gambaran klinis yang sebenarnya dari pasien yang
diperiksa.

DAFTAR PUSTAKA
1. Ira F, Rismawati Y. Tinjauan Pustaka fisiologi dan gangguan keseimbangan
natrium, kalium, dan klorida serta pemeriksaan laboratorium. Diunduh dari :
Jurnal Kesehatan Andalas. 2012; 1(2). Hlm 80-4. 17 April 2016.
2. 1. Wilson L.M, Keseimbangan Cairan dan Elektrolit serta Penilaiannya dalam:
Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, Edisi ke-4, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta, 1995, hh. 283- 301.

3. Sacher R.A. dan Mcpherson R.A, Pengaturan Asam-Basa dan Elektrolit pada:
Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium, edisi kedua, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta, 2002, hh.320-340.
4. Darwis D, Moenajat Y, Nur B.M, Madjid A.S, Siregar P, Aniwidyaningsih W, dkk,
Fisiologi Keseimbangan Air dan Elektrolit dalam Gangguan Keseimbangan AirElektrolit dan Asam-Basa, Fisiologi, Patofisiologi, Diagnosis dan Tatalaksana,
ed. ke-2, FK-UI, Jakarta, 2008, hh. 29-114.
5. Matfin G. and Porth C.M, Disorders of Fluid and Electrolyte Balance In:
Pathophysiology Concepts of Altered Health States, 8th Edition, McGraw Hill
Companies USA, 2009, pp. 761-803.
6. M. Juffrie. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit pada saluran cerna di
unduh dari http://saripediatri.idai.or.id/pdfile/6-1-6s.pdf. Juni 2004: 52-9. 17
April 2016.
7. Admin. Diagnosing fluid dan electrolyte disorder in children. Diunduh dari
http://nyulangone.org/conditions/fluid-electrolyte-disorders-inchildren/diagnosis. Nyu hospital center 2016. 17 April 2016
8. Rahma M, Rizky A. elektrolite darah. Di unduh dari:
http://digilib.unimus.ac.id/download.php?id=17089. 2005. Acces 17 April 2016