Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Kebijakan otonomi daerah yang nyata, luas, dan bertanggung jawab telah
mendorong implementasi kebijakan desentralisasi fiskal melalui sistem
perimbangan keuangan yang berpatokan pada prinsip money follow
functions. Dengan kebijakan desentralisasi fiskal, kepada Daerah
telahdiberikan sumber pendanaan yang cukup besar melalui berbagai
bentuk Transfer ke daerah dan sumber PAD yang terutama berasal dari
perpajakan
daerah,
guna
mencukupi
kebutuhan
pendanaan
desentralisasi.Sesuai
dengan
esensi
otonomi
daerah,
kepada
Daerahdiberikan diskresi yang cukup luas untuk membelanjakan sumber
pendanaan tersebut sesuai kewenangannya. Untuk menjaga agar upaya
penciptaan clean government dan good governance dapat terwujud
dengan baik, diperlukan tatanan penyelenggaraan keuangan pemerintah
daerah yang baik dan juga evaluasi terhadap berbagai kebijakan di bidang
pendanaan desentralisasi yang telah dan sedang berjalan.
Indonesia saat ini sedang menjalankan upaya desentralisasi yang paling
cepat dan meluas yang pernah ada dalam sejarah, dimotori oleh kekuatankekuatan politik regional yang muncul sejak jatuhnya pemerintahan
Suharto yang sentralistik dan otoriter. Walaupun besar dan beragam,
Indonesia pada waktu itu memiliki sistem administrasi dan fiskal yang
sangat terpusat. Dalam fiskal 1999, misalnya, pemerintah pusat
mengumpulkan 94 persen dari pendapatan pemerintah secara umum dan
sekitar 60 persen dari pengeluaran daerah dibiayai oleh transfer dari
pusat. Sistem ini memperlemah hubungan antara permintaan lokal dan
pengambilan keputusan dalam hal pelayanan publik lokal, mengurangi
akuntabilitas lokal, dan membuat alokasi yang bersifat ad hoc dari
sumberdaya fiskal di seluruh daerah.
Di masa lalu, ketidakpuasan timbul akibat pengendalian pemerintah pusat
terhadap penghasilan dari sumber daya alam di daerah serta kurang
sensitifnya pemerintah terhadap perbedaan antardaerah; ketidakpuasan
ini kemudian memunculkan permintaan yang kuat akan pembagian
kekuasaan.

1.2 PENGERTIAN DESENTRALISASI


Desentralisasi adalah penyerahan kewenangan dari pemerintah pusat
kepada pemerintah daerah untuk mengurusi urusan rumah tangganya
sendiri berdasarkan prakarsa dan aspirasi dari rakyatnya dalam kerangka
negara kesatuan Republik Indonesia. dengan adanya desentralisasi maka
muncullah otonomi bagi suatu pemerintahan daerah. Desentralisasi
sebenarnya adalah istilah dalam keorganisasian yang secara sederhana di
definisikan sebagai penyerahan kewenangan. Dalam kaitannya dengan
sistem pemerintahan Indonesia, desentralisasi akhir-akhir ini seringkali
dikaitkan
dengan
sistem
pemerintahan
karena
dengan
adanya
desentralisasi
sekarang
menyebabkan
perubahan
paradigma
pemerintahan di Indonesia. Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa
desentralisasi berhubungan dengan otonomi daerah. Sebab, otonomi
daerah merupakan kewenangan suatu daerah untuk menyusun, mengatur,
dan mengurus daerahnya sendiri tanpa ada campur tangan serta bantuan
dari pemerintah pusat. Jadi dengan adanya desentralisasi, maka akan
berdampak positif pada pembangunan daerah-daerah yang tertinggal
dalam suatu negara. Agar daerah tersebut dapat mandiri dan secara
otomatis dapat memajukan pembangunan nasional.
1.3 RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah makalah ini adalah sebagai berikut :
1.

Apa yang dimaksud dengan desentralisasi ?

2.
Apa
saja
desentralisasi ?

dasar

hukum

yang

melatarbelakangi

adanya

3.

Apa dampak posif dan negative dengan adanya desentralisasi ?

4.

Apa kaitannya desentralisasi dengan Hukum Administrasi Negara ?

5.

Apa saja Tujuan Desentralisasi ?

1.4 TUJUAN PENULISAN


Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai pemenuhan tugas Mata
Kuliah Hukum administrasi Negara

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 DASAR HUKUM DESENTRALISASI


Dasar Hukum Desentralisasi adalah :

UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;

UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;

Undang-undang No. 22 Tahun 1999 yang kemudian diubah menjadi


UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang mengatur
wewenang serta tanggung jawab politik dan administratif pemerintah
pusat,
provinsi,
kota,
dan
kabupaten
dalam
struktur
yang
terdesentralisasi.

Undang-undang No. 25 Tahun 1999 yang kemudian diubah menjadi


UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah
Pusat dan Pemerintah Daerah memberikan dasar hukum bagi
desentralisasi fiskal dengan menetapkan aturan baru tentang pembagian
sumber-sumber pendapatan dan transfer antar pemerintah.

UU Nomor 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi


Daerah;

PP Nomor 23 Tahun 2003 tentang Pengendalian Jumlah

Kumulatif Defisit APBN dan APBD serta Jumlah Kumulatif Pinjaman


Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;

PP Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan;

PP Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.

2.2 DESENTRALISASI DAN TATA PEMERINTAHAN


Latar belakang dan asal muasal reformasi desentralisasi adalah tidak
berfungsi dan gagalnya sistem pembuatan keputusan yang sentralistis
dimana pemerintah pusat tidak dapat menyediakan solusi-solusi bagi tiaptiap komunitas di tiap-tiap lokalitas yang beragam. Dalam hal ini reformasi
desentralisasi mempunyai fokus pada perbedaan lokalitas dan mencoba
mengembangkan kapasitas pemerintah daerah dalam memecahkan
permasalahan-permasalahan di tingkat lokal.
Selain itu adalah tidak efisiennya konsumsi sumberdaya lokal. Sistem
alokasi yang tersentralisasi telah gagal dalam memberikan hasil yang
efisien dan efektif dalam hal pengeluaran pemerintah pusat dan daerah,

contohnya adalah sistem alokasi penerimaan pajak. Pajak yang ditarik


secara terpusat oleh pemerintah pusat dan sistem konsumsi sumberdaya
lokal merupakan sistem yang sangat menguntungkan bagi pemerintah
pusat untuk mengontrol pengeluaran lokal dan pembuatan kebijakan di
daerah. Tidak mengherankan apabila pada masa orde baru, salah satu
mekanisme sentralisasi kekuasaan oleh pemerintah pusat berpusat pada
pengontrolan alokasi dana untuk pembangunan daerah.
Namun demikian, sistem tersebut dapat merusak hubungan antara
penerimaan dan pengeluaraan di daerah dan masyarakat lokal tidak dapat
mengawasi dan mengontrol keuangan pemerintah daerahnya masingmasing. Ketika masyarakat lokal cenderung untuk meminta banyak dari
pemerintah daerah sehubungan dengan pelayanan publik dan lain
sebagainya tanpa kesadaran akan biaya yang akan dikeluarkan oleh
pemerintah daerah, tingkat kepuasan masyarakat akan aktivitas
pemerintah daerah akan semakin berkurang seiring ketidakmampuan
pemerintah daerah membiayai pelayanan publik yang diinginkan oleh
masyarakat lokal. Hasilnya adalah kegagalan dalam alokasi sumberdaya
lokal bagi masyarakat lokal itu sendiri.
Yang terakhir adalah kematangan sistem pemerintahan daerah dan
masyarakat sipil di daerah. Di setiap daerah, dengan adanya tradisi
mengenai tata pemerintahan lokal, pemerintah daerah dan masyarakat
lokal memiliki pengalaman akan praktik tata pemerintahan yang baik
seseuai dengan kondisi khusus masing-masing. Sangatlah wajar jika
kemudian tiap daerah telah mempunyai modal yang cukup mengenai
pelaksanaan dan strategi tata pemerintahan lokal untuk kemudian
memperkaya konsep otonomi daerah.
Jalan yang terbaik untuk meminimalisasi persoalan yang diakibatkan
gagalnya sistem yang tersentraliasi adalah reformasi desentralisasi.
Dengan diberlakukannya UU No. 22/1999 dan amandemennya UU No.
32/2004
Indonesia
memasuki
tahapan
baru
kepemerintahan.
Desentralisasi dan otonomi diharapkan menjadi solusi yang tepat untuk
berbagai persoalan yang ada di daerah. Asumsi dasar desentralisasi yaitu
mendekatkan pelayanan dengan rakyat. Dengan sistem desentralisasi,
pelayanan publik menjadi mudah direalisasikan mengingat adanya
kedekatan antara penyedia layanan dan pengguna layanan. Terlebih lagi
mengingat bentuk negara Indonesia sebagai negara kepulauan yang sulit
dijangkau dan setiap wilayah memiliki karakteristik yang sangat berbeda.
Oleh karena itu, kebijakan otonomi daerah itu tidak hanya perlu dilihat
kaitannya dengan agenda pengalihan kewenangan dari Pemerintah Pusat
ke Pemerintah Daerah, tetapi juga menyangkut pengalihan kewenangan
dari pemerintahan ke masyarakat. Justru inilah yang harus dilihat sebagai

esensi pokok dari kebijakan otonomi daerah itu dalam arti yang
sesungguhnya. Otonomi daerah berarti otonomi masyarakat di daerahdaerah yang diharapkan dapat terus tumbuh dan berkembang
keprakarsaan dan kemandiriannya dalam iklim demokrasi dewasa ini.
Perubahan Tata Pemerintahan
Untuk mencapai tata pemerintahan lokal yang baik, terdapat beberapa
prinsip utama yang harus diperhatikan adalah :

Penciptaan demokrasi lokal adalah yang utama dimana dalam hal


ini mencakup lembaga

Perwakilan lokal yang dipilih oleh masyarakat lokal, hak pilih bagi
masyarakat lokal, partisipasi publik, dan lainnya.

Efisiensi dan efektifitas dari pemerintah daerah.

Prinsip rule of law termasuk di dalamnya due process of law dan


prinsip keadilan.

Pemberantasan korupsi.

Di era desentralisasi, tata pemerintahan yang baik adalah standar


minimum bagi pemerintah daerah. Selain itu, tata pemerintahan lokal
yang menjalankan desentralisasi membutuhkan lebih banyak kapasitas
dan kapabilitas karena tata pemerintah lokal dalam bentuk ini mempunyai
kewenangan dan sumber daya yang besar dan untuk memberdayakan
kewenangan dan sumber daya tersebut dibutuhkan kapasitas dan
kapabilitas
Untuk itu diperlukan pembangunan dan reformasi dalam pemerintahan
lokal dan masyarakat lokal. Pemerintah daerah sendiri akan sulit untuk
mereformasi dirinya sendiri, sementara itu pembangunan masyarakat
lokal sendiri sangat sulit dicapai jika hanya mengandalkan usaha sendirisendiri, oleh karena itulah diperlukan suatu hubungan saling membangun
antara pemerintah daerah dan masyarakat lokal dalam penciptaan tata
pemerintahan lokal yang baik.

2.3 TUJUAN DESENTRALISASI


Tujuan adanya desentralisasi adalah sebagai berikut :

Mengidentifikasi dan menganalisa relevansi konsep,formulasi dan


kebijakan di bidang pendanaan desentralisasi


Mewujudkan pengelolaan keuangan daerah secara efektif dan
efisien yang dilaksanakan melalui tata kelola pemerintahan yang baik
yang memiliki tiga pilar utama yaitu transparansi, akuntabilitas, dan
partisipatif.

Menjaga stabilitas keuangan daerah sehingga tidak memberikan


dampak yang berat bagi stabilitas keuangan negara secara keseluruhan.

Meningkatkan kualitas informasi keuangan daerah dan mendukung


pelaksanaan good governance melalui penyajian informasi keuangan
daerah yang teranalisa dengan baik.
2.4 KEGIATAN DESENTRALISASI
A. Evaluasi Pelaksanaan Pendanaan Desentralisasi

Penggunaan
sumber-sumber
pendanaan
desentralisasi, baik
melalui transfer maupun dari PAD harus mampu dilakukan secara efektif
dan efisien, sehingga dapat sebesar- besarnya menciptakan efek postif
bagi masyarakat lokal.

Dari pelaksanaan transfer dan perpajakan daerah yang selama ini


telah dijalankan perlu diketahui kekurangan dan permasalahannya. Hal ini
akan sangat berguna bagi Pemerintah Pusat untuk penyempurnaan
kebijakan yang terkait dengan pendanaan desentralisasi di masa yang
akan datang.

Beberapa analisa yang dilaksanakan di tahun 2008 dan akan


dilaksanakan di tahun 2009, antara lain, evaluasi DAU, evaluasi DAK,
evaluasi DBH, evaluasi PAD, analisa dampak terhadap perekonomian
daerah, analisa pelaporan keuangan daerah, pedoman BLUD, profil
keuangan daerah, dll.

Hasil analisa dijadikan sebagai bahan rekomendasi dalam berbagai


kebijakan di bidang desentralisasi fiskal.
B. MonitoringnPenyerapan/Realisasi Belanja Daerah

Banyaknya dana daerah yang tidak dapat direalisasikan dalam


belanja daerah akan dapat menurunkan kualitas layanan publik dari yang
seharusnya dan disamping itu juga akan mengurangi multiplier effect
belanja pemerintah daerah terhadap perekonomian daerah.

Daerah mempunyai kewajiban untuk menyerahkanlaporan realisasi


Semester I dan juga laporan realisasi tahunan.


Atas dasar laporan realisasi tersebut dilakukan suatu pemantauan
terhadap kinerja penyerapan belanja oleh daerah. yang idle dan disimpan
di Perbankan Nasional.

Berdasar pemantauan dan analisa terhadap realisasi belanja


tersebut akan direkomendasikan kebijakan-kebijakan di bidang fiskal
daerah yang relevan, yang dapat mendorong penyerapan belanja daerah.

Analisa terhadap belanja daerah juga meliputi analisa yang terkait


dengan komposisi dan proporsi belanja, baik berdasar klasifikasi ekonomi
maupun fungsi.

C. Monitoring Dana Pemda di Perbankan dan Dana Bank Pembangunan


Daerah di Sertifikat Bank Indonesia

Rendahnya penyerapan belanja APBD dapat ditengarai antara lain


oleh tingginya SiLPA dan tingginya dana Pemda yang idle dan disimpan di
Perbankan Nasional.

Alokasi Dana Transfer dari APBN ke daerah menunjukkan trend


peningkatan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun. Namun demikian,
dana tersebut tidak seluruhnya dapat dibelanjakan dalam tahun yang
bersangkutan sehingga dana yang menganggur di disimpan pada Bank
Pembangunan Daerah (BPD). BPD selanjutnya menginvestasikan dana
tersebut dalam instrumen investasi bebas resiko yaitu Sertifikat Bank
Indonesi (SBI). Penempatan dana BPD di SBI menunjukan angka yang
cukup signifikan pada awal tahun, dan sampai dengan triwulan III ada
kecenderungan naik dan cenderung menurun dari triwulan III sampai
dengan akhir tahun untuk setiap tahunnya.

DJPK bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI),melakukan


monitoring terhadap besaran dana BPD di SBI, untuk memperoleh
gambaran umum kecenderungan penyerapan belanja daerah. Hasil
monitoring akan dijadikan sebagai informasi pendukung dalam penetapan
kebijakan keuangan daerah.
D. Pengendalian Defisit APBD

Dalam rangka pengendalian fiskal nasional, khususnya yang terkait


dengan defisit anggaran Pemerintah yang harus dibiayai dengan utang,
Menteri Keuangan melakukan pengendalian terhadap defisit nasional.


Menteri Keuangan menetapkan batas maksimal jumlah kumulatif
defisit APBN dan APBD untuk setiap tahun anggaran.

Menteri
Keuangan
menetapkan
batas
maksimal
APBD masing-masing Daerah untuk setiap tahun anggaran.

defisit

Pelaksanaan pengendalian defisit dilakukan dengan cara sebagai


berikut :
E. Penyusunan Rekomendasi Kebijakan di Bidang Pelaporan Keuangan
Perusahaan Daerah dan Badan Layanan Umum Daerah, serta Investasi
Daerah

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun2005, Pemerintah


Daerah wajib menyampaikan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD
berupa (1) Laporan Realisasi Anggaran, (2) Neraca, (3) Laporan Arus Kas,
dan (4) Catatan atas Laporan Keuangan yang dilampiri dengan laporan
keuangan Badan Usaha Milik Daerah/Perusahaan Daerah dan BLUD. Hal ini
sesuai juga dengan Pasal 22 PP Nomor 8 tahun 2006 tentang Pelaporan
Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah.

Mengingat Pemerintah Daerah memiliki saham/penyertaan modal


pada Badan Usaha Milik Daerah/Perusahaan Daerah, maka penyertaan
laporan keuangan BUMD/Perusahaan Daerah dalam laporan keuangan
Pemerintah Daerah menjadi sangat penting, karena terkait juga dengan
kinerja keuangan Pemerintah Daerah.
F. Profil Kemampuan Keuangan Daerah

Adanya informasi yang cepat, akurat, transparan dan dapat


diandalkan merupakan suatu kebutuhan penting dan mendesak, terutama
terkait dengan fungsi informasi dalam mendukung pelaksanaan
pemantauan dan evaluasi kemampuan keuangan daerah, selain juga
dalam pengambilan keputusan dan perumusan kebijakan di bidang
desentralisasi fiskal. Untuk memenuhi fungsi informasi dimaksud,
diperlukan suatu alat yang dapat digunakan secara umum sebagai standar
pengukuran kemampuan keuangan daerah.

Penyusunan profil kemampuan keuangan daerah merupakan suatu


alat untuk meningkatkan kualitas informasi keuangan daerah dan
mendukung pelaksanaan good governance melalui penyajian informasi
keuangan daerah yang teranalisa dengan baik dan akurat secara terbuka
(transparan) kepada publik.

Output yang dihasilkan berupa Profil dan Analisis Kemampuan


Keuangan Daerah.

2.5 DAMPAK DESENTRALISASI


Dampak desentralisasi adalah sebagi berikut :
Segi Ekonomi
Dari segi ekonomi banyak sekali keuntungan dari penerapan sistem
desentralisasi ini dimana pemerintahan daerah akan mudah untuk
mengelola sumber daya alam yang dimilikinya, dengan demikian apabila
sumber daya alam yang dimiliki telah dikelola secara maksimal maka
pendapatan daerah dan pendapatan masyarakat akan meningkat.
Tetapi, penerapan sistem ini membukan peluang yang sebesar-besarnya
bagi pejabat daerah (pejabat yang tidak benar) untuk melalukan praktek
KKN.
Segi Sosial Budaya
Dengan diadakannya desentralisasi, akan memperkuat ikatan sosial
budaya pada suatu daerah. Karena dengan diterapkannya sistem
desentralisasi ini pemerintahan daerah akan dengan mudah untuk
mengembangkan kebudayaan yang dimiliki oleh daerah tersebut. Bahkan
kebudayaan tersebut dapat dikembangkan dan di perkenalkan kepada
daerah lain. Yang nantinya merupakan salah satu potensi daerah tersebut.
Sedangkan dampak negatif dari desentralisasi pada segi sosial budaya
adalah masing- masing daerah berlomba-lomba untuk menonjolkan
kebudayaannya masing-masing. Sehingga, secara tidak langsung ikut
melunturkan kesatuan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia itu
sendiri.
Segi Keamanan dan Politik
Dengan diadakannya desentralisasi dalam bidang keamanan merupakan
suatu upaya untuk mempertahankan kesatuan Negara Indonesia, karena
dengan diterapkannya kebijaksanaan ini akan bisa meredam daerahdaerah yang ingin memisahkan diri dengan NKRI, (daerah-daerah yang
merasa kurang puas dengan sistem atau apa saja yang menyangkut NKRI).
Tetapi disatu sisi desentralisasi berpotensi menyulut konflik antar daerah.
Dibidang politik, dampak positif yang didapat melalui desentralisasi
adalah sebagian besar keputusan dan kebijakan yang berada di daerah
dapat diputuskan di daerah tanpa adanya campur tangan dari
pemerintahan di pusat. Hal ini menyebabkan pemerintah daerah lebih
aktif dalam mengelola daerahnya.

Tetapi, dampak negatif yang terlihat dari sistem ini adalah euforia yang
berlebihan di mana wewenang tersebut hanya mementingkat kepentingan
golongan dan kelompok serta digunakan untuk mengeruk keuntungan
pribadi atau oknum. Hal tersebut terjadi karena sulit untuk dikontrol oleh
pemerintah di tingkat pusat.
2.6 KAITAN DESENTRALISASI DENGAN SISTEM HUKUM ADMINISTRASI
NEGARA
Desentralisasi dalam Sistem Administrasi Negara Kesatuan Republik
Indonesia (SANKRI) berarti pelimpahan kewenangan pusat dalam
mengatur
dan
mengurus
masalahmasalah
pemerintahan
dan
pembangunan daerah kepada daerah, kepada pemerintahan dan
masyarakat daerah, yang ditujukan pada perwujudan cita-cita dan tujuan
NKRI di daerah, pada terwujudnya masyarakat adil makmur di seluruh
daerah.
Dalam desentralisasi memiliki kebebasan untuk menyelenggarakan
administrasi pemerintahan sendiri yang merupakan bagian yang tak
terpisahkan dari hukum administrasi Negara.

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Dalam
Undang-undang
tentang
Pemerintahan
Daerah,
otonomi
dilaksanakan dengan pelimpahan kewenangan yang luas kepada daerah
Kabupaten/Kota, dan Daerah Provinsi berperan lebih banyak dalam

pelaksanaan tugas dekonsentrasi, termasuk urusan lintas Kabupaten/Kota


yang
memerlukan
penyelesaian
secara
terkoordinasi.
Penguatan
kelembagaan sangat diperlukan dalam mewujudkan format otonomi
daerah yang baru tersebut, termasuk kemampuan dalam proses
pengambilan keputusan. Ini adalah langkah yang tepat, sebab perubahanperubahan yang cepat di segala bidang pembangunan menuntut
pengambilan keputusan yang tidak terpusat, tetapi tersebar sesuai
dengan fungsi, dan tangungjawab yang ada di daerah.
Karena pembangunan pada hakekatnya dilaksanakan di daerah-daerah,
berbagai kewenangan yang selama ini ditangani oleh pemerintah pusat,
diserahkan kepada pemerintah daerah. Langkah-langkah serupa perlu
diikuti
pula
oleh
organisasi-organsasi
dunia
usaha,
khususnya
perusahaan-perusahaan besar yang berkantor pusat di Jakarta, sehingga
pengambilan keputusan bisnis bisa pula secara cepat dilakukan di daerah.
Dengan kata lain desentralisasi perlu juga dilakukan oleh organisasiorganisasi bisnis. Perbedaan perkembangan antardaerah mempunyai
implikasi yang berbeda pada macam dan intensitas peranan pemerintah,
namun pada umumnya masyarakat dan dunia usaha memerlukan (a)
desentralisasi dalam pemberian perizinan, dan efisiensi pelayanan
birokrasi bagi kegiatan-kegiatan dunia usaha di bidang sosial ekonomi,
(b) penyesuaian kebijakan pajak dan perkreditan yang lebih nyata bagi
pembangunan di kawasan-kawasan tertinggal, dan sistem perimbangan
keuangan pusat dan daerah yang sesuai dengan kontribusi dan potensi
pembangu-nan
daerah,
serta
(c)
ketersediaan
dan
kemudahan
mendapatkan informasi mengenai potensi dan peluang bisnis di daerah
dan di wilayah lainnya kepada daerah di dalam upaya peningkatan
pembangunan daerah.
3.2 SARAN

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya


bagi penulis.

kita.

Semoga dengan adanya makalah ini dapat menambah wawasan

DAFTAR PUSTAKA

http://rechtboy.wordpress.com/2007/08/19/desentralisasi-indonesiamemupuk-demokrasi-dan-penciptaan-tata-pemerintahan-lokal/

http://docs.google.com/viewer?
a=v&q=cache:zPotun104NsJ:www.djpk.depkeu.go.id/document.php/docum

ent/article/108/70/+kegiatan+DESENTRALISASI&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid
=ADGEESjMlMHKGlJ1-h2-yA9ECt4IvZj0p0gllb4t3ItdpUFj8lvRtFrYWmFo221QblKMbsadPzRKoqaGNYHD9AUdO9fkx4ccIz3pfRU76l8
sX_vxYgpC_nr1m_weosks30WoTy3TVCH&sig=AHIEtbTkp2tQ8rS99iGxJaxy8iT7xOPSg

http://docs.google.com/viewer?
a=v&q=cache:6DQZC8L7zPkJ:www.bappenas.go.id/get-fileserver/node/8554/+dampak+desentralisasi+terhadap+sistem+hukum+ad
ministrasi+negara&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid=ADGEESgkFwdLyj_kFo7iE87
arlF_zqNJIsCb0Cy_thvAYEMPaRGMbObSpiiPBFJT_Drac4154NE4YW5HsDqiHaYxIKSAGmoor3zGk8lH31BWwVmn9Np_QlRG5vf3
f2UdCroxuO4Fmxv&sig=AHIEtbQT8lU8OHyIpyOeqGAYcLS8dY_XRA

http://dikot.blogspot.com/2009/11/makalah-sentralisasi-dandesentralisasi.html

BAB 1
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang Masalah

Otonomi daerah menjadi sesuatu yang disakralkan pasca Reformasi 1998,


banyaknya perdebatan seputar otonomi daerah sebagai manifestasi dari
desentralisasi kekuasaan pemerintahan mendorong Pemerintah untuk
secara sungguhsungguh merealisasikan konsep otonomi daerah secara
jujur, penuh kerelaan dan konsekuen mengingat wacana dan konsep
otonomi daerah memiliki sejarah yang sangat panjang seiring berdirinya

Republik ini. Menurut aspek yuridis formal, sejak pertama kali muncul
dalam UU No. 1 tahun 1945 sampai dengan UU No. 5 tahun 1974,
semangat otonomi daerah sudah kelihatan dan menjadi dasar hukum
pelaksanaan pemerintahan di daerah. Hanya saja semangat para
penyelenggara pemerintahan masih jauh dari idealisme konsep otonomi
daerah itu sendiri. Bahasa yang digunakan juga belum seringkas dan
selugas otonomi daerah, masih seputar bagaimana mengatur urusan
rumah tangga (Marbun, 2005:45).
Indonesia adalah Negara Kesatuan yang berbentuk Republik yang terdiri
dari provinsi-provinsi dan kabupaten/kota yang merupakan daerah otonom
dan memiliki hak otonomi daerah sebagaimana diatur dalam UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah. Hak otonomi
bukan berarti untuk memecah daerah-daerah yang ada di Indonesia
melainkan untuk lebih memajukan daerah dengan melibatkan peran aktif
masyarakat daerah, peran aktif masyarakat di daerah dapat dilakukan
dengan cara pemberian otonomi tersebut. Otonomi daerah merupakan
salah satu kebijakan pengembangan wilayah yang mencoba merubah
sistem sentralistik menjadi desentralistik. Melalui kebijakan ini,
diharapkan dapat mempercepat proses pembangunan pada tingkat lokal,
memberi ruang gerak pada bidang politik, pengelolaan keuangan daerah
dan efisiensi pemanfaatan sumber daya daerah untuk kepentingan
masyarakat lokal, sehingga muncul formulasi dan model pembangunan
daerah yang efisien dan terdesentralisasi.
Sejak tahun 1945 sampai era Orde Baru, pemerintahan bersifat sentral
dan di era Reformasi ini diganti dengan asas desentralisasi atau otonomi
yang pertama kali diturunkan berdasarkan UU No. 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintahan Daerah dan UU No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, yang kemudian
dilanjutkan dengan UU No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
dan UU No.33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Daerah. Pemerintah pusat memberikan keleluasaan
kepada masyarakatnya untuk mengelola dan memanajemen potensi yang
dimiliki
masing-masing
daerah
yang
diwadahi
oleh pemerintah
daerah. Bagian Penjelasan Umum Undang-undang No. 32 Tahun 2004
menyatakan bahwa:
Prinsip otonomi daerah menggunakan prinsip otonomi seluas-luasnya
dalam arti daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua
urusan Pemerintahan di luar yang menjadi urusan Pemerintah yang
ditetapkan dalam undang-undang ini. Daerah memiliki kewenangan
membuat kebijakan daerah untuk memberi pelayanan, peningkatan peran
serta, prakarsa, dan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan pada
peningkatan kesejahteraan rakyat.

Dalam perkembangannya, konsepsi mengenai otonomi daerah yang pada


dasarnya merupakan sistem Pemerintahan desentralisasi atau tidak dari
pusat sering terjadi kesalahpahaman dalam menjalankannya. Apakah hal
tersebut dikarenakan masih minimnya pengetahuan mengenai konsep
desentralisasi, atau mungkin karena kurang siapnya baik itu masyarakat
atau
pemimpin
daerah
dalam
menjalankan
proses
otonomi
daerah. Berangkat dari kenyataankenyataan tersebut, tulisan ini
berusaha untuk menelaah kembali makna otonomi daerah, baik sebagai
sebuah konsep maupun sebagai sebuah sistem yang dilaksanakan
berdasarkan Undang-Undang yang berlaku. Hal inilah yang menjadi
ketertarikan penulis untuk mengkaji lebih dalam mengenai hal tersebut,
dengan mengangkat judul Otonomi Daerah di Indonesia Pada Masa
Reformasi.

BAB II
PEMBAHASAN
A.

Latar Belakang Otonomi Daerah

Kebijakan otonomi daerah lahir ditengah gejolak tuntutan berbagai


daerah terhadap berbagai kewenangan yang selama 20 tahun
Pemerintahan Orde Barumenjalankan mesin sentralistiknya. UU No. 5
tahun 1974 tentang Pemerintahan Daerah yang kemudian disusul dengan
UU No. 5 tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa menjadi tiang utama
tegaknya sentralisasi kekuasaan Orde Baru. Semua mesin partisipasi dan
prakarsa yang sebelumnya tumbuh sebelum Orde Baru berkuasa, secara
perlahan dilumpuhkan dibawah kontrol kekuasaan. Stabilitas politik demi
kelangsungan investasi ekonomi (pertumbuhan) menjadi alasan pertama
bagi Orde Baru untuk mematahkan setiap gerak prakarsa yang tumbuh
dari rakyat. Paling tidak ada dua faktor yang berperan kuat dalam

mendorong lahirnya kebijakan otonomi daerah berupa UU No. 22/1999.


Pertama, faktor internal yang didorong oleh berbagai protes atas
kebijakan politik sentralisme di masa lalu. Kedua, adalah faktor eksternal
yang dipengaruhi oleh dorongan internasional terhadap kepentingan
investasi terutama untuk efisiensi dari biaya investasi yang tinggi sebagai
akibat korupsi dan rantai birokrasi yang panjang.
Selama lima tahun pelaksanaan UU No. 22 tahun 1999, otonomi daerah
telah menjadi kebutuhan politik yang penting untuk memajukan
kehidupan demokrasi. Bukan hanya kenyataan bahwa masyarakat
Indonesia sangat heterogen dari segi perkembangan politiknya, namun
juga otonomi sudah menjadi alas bagi tumbuhnya dinamika politik yang
diharapkan akan mendorong lahirnya prakarsa dan keadilan. Walaupun
ada upaya kritis bahwa otonomi daerah tetap dipahami sebagai jalan lurus
bagi eksploitasi dan investasi, namun sebagai upaya membangun
prakarsa ditengah-tengah surutnya kemauan baik (good will) penguasa,
maka otonomi daerah dapat menjadi jalan alternatif bagi tumbuhnya
harapan bagi kemajuan daerah.

Pada saat rakyat Indonesia disibukkan dengan pelaksanakan Pemilu 2004,


Departemen Dalam Negeri (Depdagri) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
melakukan revisi terhadap UU No. 22 tahun 1999. Dilihat dari proses
penyusunan revisi, paling tidak ada dua cacat yang dibawa oleh UU yang
baru (UU No. 32 tahun 2004) yakni, proses penyusunan yang tergesa-gesa
dan tertutup ditengah-tengah rakyat sedang melakukan hajatan besar
pemilu. Padahal UU otonomi daerah adalah kebijakan yang sangat penting
dan menyangkut tentang kualitas pelaksanaan partisipasi rakyat dan
pelembagaan demokrasi. Kedua, UU tersebut disusun oleh DPR hasil
pemilu 2004 dimana pada waktu penyusunan revisi tersebut anggota DPR
sudah mau demisioner. Tanggal 29 September 2004 bersamaan dengan
berakhirnya masa jabatan anggota DPR periode 1999-2004, Sidang
Paripurna DPR menyetujui rancangan perubahan (revisi) terhadap UU No.
22 tahun 1999 menjadi UU No. 32 tahun 2004. Tanggal 1 Oktober anggota
DPR baru hasil pemilu 2004 dilantik. Secara de facto DPR pemilu 1999
sudah kehilangan relevansinya untuk menyusun dan mengagendakan
pembahasan kebijakan yang sangat krusial.
Tibalah saatnya Pemerintahan diuji kesungguhannya untuk menjalankan
amanat politik rakyat, termasuk komitmennya mengenai pelaksanaan
desentralisasi. Pasang surut desentralisasi yang diwarnai dengan tarik
ulur kepentingan pusat dan daerah harus segera digantikan dengan
penciptaan
sistem
Pemerintahan
di
tingkat
lokal
yang
demokratis. Sehubungan dengan itu, maka diperlukan upaya yang

sistematis untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan


desentralisasi yang berlangsung selama ini. Dibutuhkan indikator
desentralisasi yang membuka ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi
dalam berbagai aktivitas politik di tingkat lokal (political equality),
mengedepankan
pelayanan
kepada
kepentingan
publik
(local
accountability), dan meningkatkan akselerasi pembangunan sosial
ekonomi yang berbasis pada kebutuhan masyarakat setempat (local
responsibility). Selain harus tercermin dalam produk kebijakan, indikatorindikator itu juga harus terimplementasi dalam praktek desentralisasi
yang dijalankan oleh Pemerintahan lokal.
B.
Implikasi Kebijakan
Ekonomi dan Pendidikan
1.

Otonomi

Daerah

di

bidang

Politik,

Bidang Politik

Kebijaksanaan otonomi daerah yang baru membawa implikasi yang


luasdiantaranya terhadap pembinaan birokrasi di daerah, sekalipun segala
sesuatu
yang
menyangkut
masalah
kepegawaian
masih
tetap
menggunakan peraturan perundangan yang sudah ada, yaitu UndangUndang Pokok Kepegawaian. Hal ini dinyatakan dengan tegas dalam pasal
75 UU no.22 tahun 1999 yang menyatakan Norma, standar dan prosedur
mengenai
pengangkatan,
pemindahan,
pemberhentian,
penetapan
pensiun, gaji, tunjangan, kesejahteraan, hak dan kewajiban, serta
kedudukan hukum pegawai negeri sipil daerah, ditetapkan dengan
perundang-undangan.
2.

Bidang Ekonomi

Sektor perekonomian sangat sensitif apabila dihubungkan dengan proses


otonomi daerah. Pembangunan ekonomi suatu daerah seharusnya lebih
baik
apabila
diselenggarakan
dengan
konsep
desentralisasi.
Pembangunan ekonomi adalah suatu proses dimana suatu masyarakat
menciptakan suatu lingkungan yang mempengaruhi hasil-hasil indikator
ekonomi seperti kenaikan kesempatan kerja. Lingkungan yang dimaksud
sebagai sumber daya perencanaan meliputi lingkungan fisik, peraturan
dan perilaku (Blakley, 1989)

3.

Bidang Pendidikan

Desentralisasi pendidikan secara konseptual dapat dibedakan menjadi dua


jenis yaitu, pertama desentralisasi kewenangan disektor pendidikan dan
kedua desentralisasi pendidikan dengan fokus pada pemberian
kewenangan yang lebih besar ditingkat sekolah. Konsep pertama

berkaitan dengan penyelenggaraan Pemerintah dari pusat ke daerah


sebagai wujud dari demokratisasi, kebijakaan yang dimaksud lebih pada
kebijakaan pendidikan dan aspek pendanaannya dari Pemerintah pusat ke
daerah. Pada konsep kedua lebih fokus terhadap pemberian kewenangan
yang lebih besar ditingkat manejemen sekolah untuk meningkatkan
kualitas pendidikannya.
C.
Permasalahan Dan Upaya Mengatasi Masalah Yang Terjadi
Dalam Otonomi Daerah Pada Masa Reformasi
1.

Permasalahan Yang Timbul Dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah

Dalam UU No. 32 tahun 2004 pasal 1 ayat 5, pengertian otonomi daerah


adalah hak, wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan
mengurus sendiri urusan Pemerintah dan kepentingan masyarakat
setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Setelah
berlakunya peraturan tersebut, daerah diberi berbagai kewenangan untuk
mengatur urusan rumah tangganya, hal ini menimbulkan berbagai
masalah timbul akibat kewenangan tersebut. Permasalahan yang timbul
antara lain:
a.) Kondisi SDM aparatur pemerintahan
sepenuhnya pelaksanaan otonomi daerah.

yang

belum

menunjang

Penyelenggaraan otonomi daerah yang baik haruslah didukung oleh


kondisi SDM aparatur pemerintah yang memiliki kualitas yang cakap
sehingga dapat menjalankan berbagai kewenangan pemerintah daerah.
Namun sayangnya hal ini cukup sulit untuk diwujudkan. Pentingnya posisi
manusia karena manusia merupakan unsur dinamis dalam organisasi yang
bertindak/berfungsi
sebagai
subjek
penggerak
roda
organisasi
Pemerintahan. Oleh sebab itu kualitas mentalitas dan kapasitas manusia
yang kurang memadai dengan sendirinya melahirkan impikasi yang
kurang menguntungkan bagi penyelenggaraan otonomi daerah. Manusia
pelaksana Pemerintah daerah dapat di kelompokkan menjadi:
1.)
Pemerintah daerah yang terdiri dari kepala daerah dan dewan
perwakilan daerah (DPRD). Dalam kenyataan syarat syarat yang di
tentukan bagi seorang kepala daerah belum cukup menjamin tuntutan
kualitas yang ada.
2.)
Alat-alat perlengkapan daerah yakni aparatur daerah dan pegawai
daerah.
3.)
Rakyat
daerah
yakni
sebagai
komponen
environmental
(lingkungan)yang merupakan sumber energi terpenting bagi daerah
sebagai organisasi yang bersifat terbuka.

Para aparatur Pemerintah daerah pada umumnya memiliki kualitas yang


belum memadai, hal ini juga disebabkan oleh kurangnya kemampuan
daerah dalam merekrut pegawai baru yang berada di luar struktur
Pemerintahan sebelumnya. Menurut Widjaja (2003:37) Daerah mempunyai
kewenangan untuk mengangkat perangkat daerah, namun belum cukup
jelas kewenangannya untuk merekrut perangkat daerah baru yang berada
di luar struktur Pemerintahan sebelumnya, misalnya merekrut dari
kalangan LSM, Perguruan Tinggi, kalangan Swasta Profesional dan lainlain. Hal ini menyebabkan daerah sulit untuk mendapatkan calon-calon
pegawai yang cakap.

b.)

Bergesernya Korupsi Dari Pusat Ke Daerah

Korupsi yang awalnya terjadi pada Pemerintah pusat bergeser ke daerah


karena daerah diberikan wewenang sendiri dalam mengatur keuangannya.
Banyak pejabat daerah yang masih mempunyai kebiasaan menghamburhamburkan uang rakyat untuk ke luar Negeri dengan alasan studi
banding. Otonomi daerah memberikan kewenangan yang sangat penting
bagi kepala daerah. Hal ini juga menyebabkan adanya kedekatan pribadi
antara kepala daerah dan pengusaha yang ingin berinvestasi di daerah.
Dengan begitu maka akan terjadi pemerasan dan penyuapan.

c.)

Eksploitasi Pendapatan Daerah

Salah satu konsekuensi otonomi adalah kewenangan daerah yang lebih


besar dalam pengelolaan keuangannya, mulai dari proses pengumpulan
pendapatan sampai pada alokasi pemanfaatan pendapatan daerah
tersebut.
Dalam
kewenangan
semacam
ini
sebenarnya
sudah
muncul inherent risk, risiko bawaan, bahwa daerah akan melakukan upaya
maksimalisasi, bukan optimalisasi, perolehan pendapatan daerah. Upaya
ini didorong oleh kenyataan bahwa daerah harus mempunyai dana yang
cukup untuk melakukan kegiatan, baik itu rutin maupun pembangunan.
Daerah harus membayar seluruh gaji seluruh pegawai daerah, pegawai
pusat yang statusnya dialihkan menjadi pegawai daerah, dan anggota
legislatif daerah. Di samping itu daerah juga dituntut untuk tetap
menyelenggarakan jasa-jasa publik dan kegiatan pembangunan yang
membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dengan alasan di atas, biasanya
Pemerintah daerah kemudian berusaha mencari pendapatan daerah
sebanyak mungkin, seperti melalui pemungutan pajak, retribusi, hingga
eksploitasi daerah yang maksimal.

d.)
Kurangnya
Otonomi Daerah

Pemahaman

Terhadap

Konsep

Desentralisasi

Dan

Pasal 18 UUD 1945 menyebutkan bahwa Indonesia adalah Negara


Kesatuan yang terdesentralisasi. Pada kenyataan pemahaman terhadap
desentralisasi dan otonomi daerah masih kurang. Pemerintah pusat dan
Pemerintah daerah masih belum memaksimalkan perannya dalam
Pemerintahan. Mentalitas dari aparat Pemerintah baik pusat maupun
daerah masih belum mengalami perubahan yang mendasar. Hal ini terjadi
karena perubahan sistem tidak dibarengi penguatan kualitas sumber daya
manusia yang menunjang sistem Pemerintahan yang baru. Pelayanan
publik yang diharapkan, yaitu birokrasi yang sepenuhnya mendedikasikan
diri untuk untuk memenuhi kebutuhan rakyat sebagai pengguna jasa
adalah pelayanan publik yang ideal. Untuk merealisasikan bentuk
pelayanan publik yang sesuai dengan asas desentralisasi diperlukan
perubahan paradigma secara radikal dari aparat birokrasi sebagai unsur
utama dalam pencapaian tata Pemerintahan lokal.

e.)
Penyediaan Aturan Pelaksanaan Otonomi Daerah Yang Belum
Memadai
Pada awalnya peraturan mengenai pelaksanaan otonomi daerah di
tetapkan
dalam Ketetapan
MPR-RI
Nomor
XV/MPR/1998
tentang
Penyelenggaraan
Otonomi
Daerah;
Pengaturan,
Pembagian,
dan
Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang Berkeadilan; serta Perimbangan
Keuangan Pusat dan Daerah Dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Selanjutnya lahirlah UU No. 22/1999 tentang Pemerintahan
Daerah selanjutnya UU No. 25/1999 yang mengatur hubungan keuangan
pusat dan daerah, menggantikan UU No. 5/1974 yang sentralistik. Undangundang nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintah daerah, ditetapkan
berdasarkan kuatnya tuntutan masyarakat akan perlunya mengatur diri
sendiri sebagai dampak negatif dari sentralisasi yang dirasakan terlalu
lama semasa Orde Baru. Oleh karena tuntutan masyarakat itu terlalu
mendesak dan harus direspon dalam waktu singkat, maka Pemerintah
dengan persetujuan DPR-RI mengeluarkan undang-undang tentang
Pemerintah daerah. Namun sesuai dengan prosesnya yang mendesak,
tentu saja materi isi dan substansinya masih banyak kekurangan dan
kelemahan dan perlu diantisipasi oleh daerah. (Widjaja, 1999:1-2).
Menurut Widjaja (2003:35-37) ada beberapa hal yang harus dicermati
mengenai peraturan pelaksanaan Pemerintah daerah yang telah di susun,
antara lain:
1.

Pembagian Daerah.

2.

Pembentukan dan Susunan Daerah

3.

Kewenangan Daerah

4.

Bentuk dan Susunan Pemerintah Daerah

f.)

Potensi Munculnya Konflik Antar Daerah

Dengan pelaksanaan otonomi daerah muncul gejala etno-sentrisme atau


fenomena primordial kedaerahan semakin kuat. Indikasi etno-sentrisme
ini terlihat dalam beberapa kebijakan di daerah yang menyangkut
pemekaran daerah, pemilihan kepala daerah, rekruitmen birokrasi lokal
dan pembuatan kebijakan lainnya. Selain itu, ancaman disintegrasi juga
dapat memicu sebuah konflik. Dengan adanya pelimpahan pelimpahan
wewenang kepada daerah menyebabkan daerah menjadi terbagi-bagi dan
muncul kesenjangan yakni ketimpangan pembangunan antara daerah
yang sumber dayanya kaya dengan daerah yang hanya memiliki sumber
daya alam yang sedikit.
Adanya potensi sumber daya alam di suatu wilayah, juga rawan
menimbulkan perebutan dalam menentukan batas wilayah masing-masing.
Konflik horizontal sangat mudah tersulut. Di era otonomi daerah tuntutan
pemekaran wilayah juga semakin kencang dimana-mana. Pemekaran ini
telah menjadikan NKRI terkerat-kerat menjadi wilayah yang berkepingkeping. Satu provinsi pecah menjadi dua-tiga provinsi, satu kabupaten
pecah menjadi dua-tiga kabupaten, dan seterusnya, semakin berkepingkeping NKRI semakin mudah separatisme dan perpecahan terjadi.
2.
Upaya Mengatasi Masalah Yang Terjadi Dalam Otonomi Daerah
Pada Masa Reformasi
Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan
dalam otonomi daerah adalah sebagai berikut :
a.) Pemerintah pusat harus melaksanakan otonomi daerah dengan
penuh keikhlasan agar daerah dapat memperoleh hak untuk mengolah
sumber daya di daerah secara optimal.
b.) Bahwa tujuan dan semangat yang melandasi otonomi daerah adalah
hasrat untuk menggali sendiri pendapatan daerahnya serta kewenangan
untuk meningkatkan PAD masing-masing daerah menuju peningkatan
kesejahteraan masing-masing daerah menuju peningkatan masyarakat
daerah, oleh karena itu untuk mencegah kondisi disintesif, pemda dalam
rangka otonomi daerah perlu mengembangkan strategi efesiensi dalam
segala bidang.

c.) Untuk menopang pelaksanaan otonomi daerah perlu dikembangkan


ekonomi
kerakyatan
secara
sistematis,
mensinergikan
kegiatan
lembaga/institusiriset pada PTN/PTS di daerah dengan industri kecil
menengah dan tradisional.
d.) Merekomendasikan kepada pemerintah untuk memperbaiki dasardasar ekonomi yang sudah rapuh, dengan mengembangkan usaha
kecil/menengah dan koperasi menjadi lebih produktif serta berupaya terus
untuk memberantas kemiskinan structural.
e.) Memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam dengan baik agar
supaya sumber kekayaan yang tersebut dapat dimanfaatkan secara
optimal dan secara lestari.
f.)
Mendorong desentralisasi pembangunan daerah, mendayagunakan
lembaga di daerah khususnya DPRD untuk memiliki wewenang dan
kemandirian dalam membuat produk hukum pembangunan di daerah.
Ketentuan-ketentuan
yang
menyangkut
perizinan,
pengelolaan,
pendayagunaan dan lain sebagainya yang berkaitan dengan masalah
pembangunan yang di rumuskan oleh DPRD dan pemerintah daerah.

BAB III
KESIMPULAN

Otonomi daerah adalah suatu keadaan yang memungkinkan daerah dapat


mengaktualisasikan segala potensi terbaik yang dimilikinya secara
optimal. Pemberian otonomi daerah adalah mempercepat terwujudnya
kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan
dan peran masyarakat serta peningkatan daya saing daerah dengan
memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan
dan
kekhususan
suatu
daerah
dalam
sistem
Negara Kesatuan RepublikIndonesia, sehingga
pada
hakikatnya tujuan
otonomi
daerah
adalah
untuk
memberdayakan
daerah
dan
mensejahterakan rakyat.
Implementasi otonomi daerah telah memasuki era baru setelah
Pemerintah dan DPR sepakat untuk mengesahkan UU Nomor 32 Tahun
2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Sejalan

dengan diberlakukannya undang-undang otonomi tersebut memberikan


kewenangan penyelenggaraan Pemerintah daerah yang lebih luas. Hal
ini dapat terlihat dari beberapa aspek, diantaranya adalah aspek politik,
ekonomi dan pendidikan. Dalam Desentralisasi politik adanya sebuah
birokrasi yang muncul, dalampendidikan otonomi daerah menempatkan
sekolah sebagai garis depan dalam berperilaku untuk mengelola
pendidikan.
Desentralisasi
juga
memberikan
apresiasi
terhadap
perbedaan kemampuan dan keberanekaragaman kondisi daerah dan
rakyatnya. Dalam bidang ekonomi diharapkan munculnya kemandirian
dalam mengelola keuangan daerah.
Sejalan dengan itu, Pemerintah Daerah harus dapat mendayagunakan
potensi sumber daya daerah secara optimal. Dengan semakin
berkurangnya tingkat ketergantungan Pemerintah Daerah terhadap
Pemerintah Pusat, Daerah dituntut mampu meningkatkan profesionalisme
aparatur
Pemerintah
Daerah,
melaksanakan reformasi
akuntansi
keuangan daerah dan manajemen keuangan daerah, melaksanakan
perencanaan strategik secara benar, sehingga akan memacu terwujudnya
otonomi daerah yang nyata, dinamis, serasi, dan bertanggung jawab.
Adapun dampak negatif dari otonomi daerah adalah munculnya
kesempatan bagi oknum-oknum di tingkat daerah untuk melakukan
berbagai pelanggaran, munculnya pertentangan antara pemerintah
daerah dengan pusat, serta timbulnya kesenjangan antara daerah yang
pendapatannya tinggi dengan daerah yang masih berkembang. Bisa
dilihat bahwa masih banyak permasalahan yang mengiringi berjalannya
otonomi daerah di Indonesia. Permasalahan-permasalahan itu tentu harus
dicari penyelesaiannya agar tujuan awal dari otonomi daerah dapat
tercapai dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Marbun, B. (2005). Otonomi Daerah 19452005 Proses dan Realita


Perkembangan Otda Sejak Zaman Kolonial sampai Saat Ini. Jakarta:
Pustaka Sinar harapan.

Nazara, C.M. (2006). Dampak Otonomi Daerah Terhadap Pemekaran


Provinsi Banten.Skripsi pada FEM IPB Bogor: tidak diterbitkan.

Rosyada, D. et al. (2005). Demokrasi, Hak Asasi Manusia &Masyarakat


Madani. Jakarta: Tim Icce Uin Jakarta dan Prenada Media.

Salam, D. (2004). Otonomi Daerah, Dalam Perspektif Lingkungan, Nilai dan


Sumber Daya. Bandung: Djambatan.

Sam, C. dkk. (2008). Kebijakan Pendidikan Era Otonomi Daerah. Jakarta:


Raja Grafindo Persada.

Sarundajang. (1999). Arus Balik Kekuasaan Pusat ke Daerah. Jakarta:


Pustaka Sinar Harapan.

Soejito, I. (1981). Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.


Jakarta: Bina Aksara.

Syahrir. dkk. (2001). Pemulihan Ekonomi dan Otonomi Daerah(refleksi


pemikiran partai golkar. Jakarta: LASPI.

Widarta. (2001). Cara Mudah Memahami Otonomi Daerah. Yogyakarta:


Lapera Pustaka Utama.

Widjaja, H. (2003). Pemerintah Desa/marga Berdasarkan Undang-Undang


Nomor 22 tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah. Jakarta: Raja
Grafindo Persada.

Widjaja, H. (2003). Titik Berat Otonomi pada Daerah Tingkat II. Jakarta:
Raja Grafindo Persada.