Anda di halaman 1dari 13

Menu

FIGHT AGAINST AIDS, Save The Children Indonesia


WORKING TOGETHER SUPPORT TO THE HEALTH OF ALL CHILDREN BY RESEARCH,
EDUCATION AND INFORMATION NETWORKING
TANDA, GEJALA HIV AIDS DAN DIAGNOSISNYA
Manifestasi klinis dan Diagnosis
HIV pada Anak
Dr Widodo Judarwanto SpA
PENDAHULUAN
Infeksi HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome)
pertama kali dilaporkan di Amerika pada tahun 1981 pada orang dewasa homoseksual, sedangkan
pada anak tahun 1983. Enam tahun kemudian (1989), AIDS sudah merupakan penyakit yang
mengancam kesehatan anak di Amerika. Di seluruh dunia, AIDS menyebabkan kematian pada
lebih dari 8,000 orang setiap hari saat ini, yang berarti 1 orang setiap 10 detik. Karena itu infeksi
HIV dianggap sebagai penyebab kematian tertinggi akibat satu jenis agen infeksius.
AIDS pada anak pertama kali dilaporkan oleh Oleske, Rubinstein dan Amman pada tahun 1983 di
Amerika Serikat. Sejak itu laporan jumlah AIDS pada anak di Amerika makin lama makin
meningkat. Pada bulan Desember 1989 di Amerika telah dilaporkan 1995 anak yang berumur
kurang dari 13 tahun yang menderita AIDS dan pada bulan Maret 1993 terdapat 4.480 kasus.
Jumlah ini merupakan l,5 % dari seluruh jumlah kasus AIDS yang dilaporkan di Amerika. Di
Eropa sampai tahun 1988 terdapat 356 anak dengan AIDS. Kasus infeksi HIV terbanyak pada
orang dewasa maupun anak-anak tertinggi di dunia adalah di Afrika terutama negara-negara
Afrika Sub-Sahara.
Sejak dimulainya epidemi HIV, AIDS telah mematikan lebih dari 25 juta orang; lebih dari 14 juta
anak kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya akibat AIDS. Setiap tahun diperkirakan 3 juta
orang meninggal karena AIDS; 500,000 diantaranya adalah anak di bawah umur 15 tahun. Setiap
tahun pula terjadi infeksi baru pada 5 juta orang terutama di negara terbelakang dan berkembang;
700,000 diantaranya terjadi pada anak-anak. Dengan angka transmisi sebesar ini maka dari 37.8
juta orang pengidap infeksi HIV/AIDS pada tahun 2005, terdapat 2.1 juta anak-anak di bawah 15
tahun.
Infeksi HIV
Infeksi HIV adalah penyakit yang diakibatkan oleh infeksi virus HIV (Human Immunodeficiency
Virus). AIDS adalah penyakit yang menunjukkan adanya sindrom defisiensi imun selular sebagai
akibat infeksi HIV.
Cara paling efisien dan efektif untuk menanggulangi infeksi HIV pada anak secara universal
adalah dengan mengurangi penularan dari ibu ke anaknya (mother-to-child transmission (MTCT).
Namun demikian setiap hari terjadi 1800 infeksi baru pada anak umur kurang dari 15 tahun, 90%
nya di negara berkembang atau terbelakang dan melalui penularan dari ibu ke anaknya. Upaya

pencegahan transmisi HIV pada anak menurut WHO dilakukan melalui 4 strategi, yaitu mencegah
penularan HIV pada wanita usia subur, mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada wanita
HIV, mencegah penularan HIV dari ibu HIV hamil ke anak yang akan dilahirkannya dan
memberikan dukungan, layanan dan perawatan berkesinambungan bagi pengidap HIV. Pemberian
obat Anti Retroviral (ARV) untuk anak dan bayi yang terinfeksi karenanya menjadi satu jalan
untuk menanggulangi pandemi HIV pada anak di samping upaya untuk mencegah penularan
infeksi HIV pada anak dan bayi.
Penyebab penyakit AIDS adalah HIV yaitu virus yang tergolong ke dalam keluarga retrovirus
subkelompok lentivirus, seperti virus Visna pada biri-biri, sapi, dan feline serta Simian
Immunodeficiency Virus (SIV). Lentivirus mampu menyebabkan efek sitopatik yang singkat dan
infeksi laten dalam jangka panjang, juga menyebabkan penyakit progresif dan fatal termasuk
wasting syndrom dan degenerasi susunan saraf pusat.
Perjalanan penyakit HIV
Perkembangan penyakit AIDS tergantung dari kemampuan virus HIV untuk menghancurkan
sistem imun pejamu dan ketidakmampuan sistem imun untuk menghancurkan HIV.
Penyakit HIV dimulai dengan infeksi akut yang tidak dapat diatasi sempurna oleh respons imun
adaptif, dan berlanjut menjadi infeksi jaringan limfoid perifer yang kronik dan progresif.
Perjalanan penyakit HIV dapat diikuti dengan memeriksa jumlah virus di plasma dan jumlah sel T
CD4+ dalam darah. Infeksi primer HIV pada fetus dan neonatus terjadi pada situasi sistim imun
imatur, sehingga penjelasan berikut merupakan ilustrasi patogenesis yang khas dapat diikuti pada
orang dewasa.
Infeksi primer terjadi bila virion HIV dalam darah, semen, atau cairan tubuh lainnya dari
seseorang masuk ke dalam sel orang lain melalui fusi yang diperantarai oleh reseptor gp120 atau
gp41. Tergantung dari tempat masuknya virus, sel T CD4+ dan monosit di darah, atau sel T CD4+
dan makrofag di jaringan mukosa merupakan sel yang pertama terkena. Sel dendrit di epitel
tempat masuknya virus akan menangkap virus kemudian bermigrasi ke kelenjar getah bening. Sel
dendrit mengekspresikan protein yang berperan dalam pengikatan envelope HIV, sehingga sel
dendrit berperan besar dalam penyebaran HIV ke jaringan limfoid. Di jaringan limfoid, sel dendrit
dapat menularkan HIV ke sel T CD4+ melalui kontak langsung antar sel.
Beberapa hari setelah paparan pertama dengan HIV, replikasi virus dalam jumlah banyak dapat
dideteksi di kelenjar getah bening. Replikasi ini menyebabkan viremia disertai dengan sindrom
HIV akut (gejala dan tanda nonspesifik seperti infeksi virus lainnya). Virus menyebar ke seluruh
tubuh dan menginfeksi sel T subset CD4 atau T helper, makrofag, dan sel dendrit di jaringan
limfoid perifer. Setelah penyebaran infeksi HIV, terjadi respons imun adaptif baik humoral
maupun selular terhadap antigen virus. Respons imun dapat mengontrol sebagian dari infeksi dan
produksi virus, yang menyebabkan berkurangnya viremia dalam 12 minggu setelah paparan
pertama.
Setelah infeksi akut, terjadilah fase kedua dimana kelenjar getah bening dan limpa menjadi tempat
replikasi HIV dan destruksi sel. Pada tahap ini, sistem imun masih kompeten mengatasi infeksi
mikroba oportunistik dan belum muncul manifestasi klinis infeksi HIV, sehingga fase ini disebut
juga masa laten klinis (clinical latency period). Pada fase ini jumlah virus rendah dan sebagian
besar sel T perifer tidak mengandung HIV. Kendati demikian, penghancuran sel T CD4+ dalam
jaringan limfoid terus berlangsung dan jumlah sel T CD4+ yang bersirkulasi semakin berkurang.

Lebih dari 90% sel T yang berjumlah 1012 terdapat dalam jaringan limfoid, dan HIV diperkirakan
menghancurkan 1-2 x 109 sel T CD4+ per hari. Pada awal penyakit, tubuh dapat menggantikan sel
T CD4+ yang hancur dengan yang baru. Namun setelah beberapa tahun, siklus infeksi virus,
kematian sel T, dan infeksi baru berjalan terus sehingga akhirnya menyebabkan penurunan jumlah
sel T CD4+ di jaringan limfoid dan sirkulasi.
Pada fase kronik progresif, pasien rentan terhadap infeksi lain, dan respons imun terhadap infeksi
tersebut akan menstimulasi produksi HIV dan destruksi jaringan limfoid. Transkripsi gen HIV
dapat ditingkatkan oleh stimulus yang mengaktivasi sel T, seperti antigen dan sitokin. Sitokin
(misalnya TNF) yang diproduksi sistem imun alamiah sebagai respons terhadap infeksi mikroba,
sangat efektif untuk memacu produksi HIV. Jadi, pada saat sistem imun berusaha menghancurkan
mikroba lain, terjadi pula kerusakan terhadap sistem imun oleh HIV.
Penyakit HIV berjalan terus ke fase akhir dan letal yang disebut AIDS dimana terjadi destruksi
seluruh jaringan limfoid perifer, jumlah sel T CD4+ dalam darah kurang dari 200 sel/mm3, dan
viremia HIV meningkat drastis. Pasien AIDS menderita infeksi oportunistik, neoplasma, kaheksia
(HIV wasting syndrome), gagal ginjal (nefropati HIV), dan degenerasi susunan saraf pusat
(ensefalopati HIV).
MNAIFESTASI KLINIS
TANDA DAN GEJALA INFEKSI HIV DAN AIDS.
Fase penyakit
Manifestasi klinis
Penyakit HIV akut
Demam, sakit kepala, sakit tenggorokan dengan faringitis, limfadenopati generalisata, eritema
Masa laten klinis
Berkurangnya jumlah sel T CD4+
AIDS
Infeksi oportunistik
Protozoa (Pneumocystis carinii, Cryptosporidium)
Bakteri (Toxoplasma, Mycobacterium avium, Nocardia, Salmonella)
Jamur (Candida, Cryptococcus neoformans, Coccidioides immitis, Histoplasma capsulatum)
Virus (cytomegalovirus, herpes simplex, varicella-zoster)
Tumor
Limfoma (termasuk limfoma sel B yang berhubungan dengan EBV)
Sarkoma Kaposi
Karsinoma servikal
Ensefalopati
Wasting syndrome
MASA INKUBASI DAN PENULARAN
Masa inkubasi pada orang dewasa berkisar 3 bulan sampai terbentuknya antibodi anti HIV.
Manifestasi klinis infeksi HIV dapat singkat maupun bertahun-tahun kemudian. Khusus pada bayi
di bawah umur 1 tahun, diketahui bahwa viremia sudah dapat dideteksi pada bulan-bulan awal
kehidupan dan tetap terdeteksi hingga usia 1 tahun. Manifestasi klinis infeksi oportunistik sudah

dapat dilihat ketika usia 2 bulan.


Cara penularan HIV yang paling penting pada anak adalah dari ibu kandungnya yang sudah
mengidap HIV baik saat sebelum dan sesudah kehamilan. Penularan lain yang juga penting adalah
dari transfusi produk darah yang tercemar HIV, kontak seksual dini pada perlakuan salah seksual
atau perkosaan anak oleh penderita HIV, prostitusi anak, dan sebab-sebab lain yang buktinya
sangat sedikit.
Meskipun HIV dapat ditemukan pada cairan tubuh pengidap HIV seperti air ludah (saliva) dan air
mata serta urin, namun ciuman, berenang di kolam renang atau kontak sosial seperti pelukan dan
berjabatan tangan, serta dengan barang yang dipergunakan sehari-hari bukanlah merupakan cara
untuk penularan. Oleh karena itu, seorang anak yang terinfeksi HIV tetapi belum memberikan
gejala AIDS tidak perlu dikucilkan dari sekolah atau pergaulan.
Ibu hamil yang terinfeksi HIV dapat menularkan virus tersebut ke bayi yang dikandungnya. Cara
transmisi ini dinamakan juga transmisi secara vertikal. Transmisi dapat terjadi melalui plasenta
(intrauterin) intrapartum, yaitu pada waktu bayi terpapar dengan darah ibu atau sekret genitalia
yang mengandung HIVselama proses kelahiran, dan post partum melalui ASI. Transmisi dapat
terjadi pada 20-50% kasus.
Faktor prediktor penularan adalah stadium infeksi ibu, kadar Limfosit T CD4 dan jumlah virus
pada tubuh ibu, penyakit koinfeksi hepatitis B, CMV atau penyakit menular seksual lain pada ibu,
serta apakah ibu pengguna narkoba suntik sebelumnya dan tidak minum obat ARV selama hamil.
Proses intrapartum yang sulit juga akan meningkatkan transmisi, yaitu lamanya ketuban pecah,
persalinan per vaginam dan dilakukannya prosedur invasif pada bayi. Selain itu prematuritas akan
meningkatkan angka transmisi HIV pada bayi.
HIV dapat diisolasi dari ASI pada ibu yang mengandung HIV di dalam tubuhnya baik dari cairan
ASI maupun sel-sel yang berada dalam cairan ASI (limfosit, epitel duktus laktiferus). Risiko untuk
tertular HIV melalui ASI adalah 11-29%. Bayi yang lahir dari ibu HIV (+) dan mendapat ASI
tidak semuanya tertular HIV, dan hingga kini belum didapatkan jawaban pasti; tetapi diduga IgA
yang terlarut berperan dalam proses pengurangan antigen. WHO menganjurkan untuk negara
dengan angka kematian bayi tinggi dan akses terhadap pengganti air susu ibu rendah, pemberian
ASI eksklusif sebagai pilihan cara nutrisi bagi bayi yang lahir dari ibu HIV (+). Transmisi melalui
perawatan ibu ke bayinya belum pernah dilaporkan.
Penularan dapat terjadi melalui transfusi darah yang mengandung HIV atau produk darah yang
berasal dari donor yang mengandung HIV. Dengan sudah dilakukannya skrining darah donor
untuk HIV, maka transmisi melalui cara ini menjadi jauh berkurang.
Penularan melalui cara ini terutama ditemukan pada penyalahguna obat intravena yang
menggunakan jarum suntik bersama. Sekali tertulari, maka seorang pengguna akan dapat menulari
pasangannya melalui hubungan seksual. Untuk mengantisipasi tersebarnya aneka penyakit melalui
cara ini, di banyak negara maju sudah dilakukan program harm reduction bagi pengguna narkoba
dengan membagikan jarum suntik steril pada pemakai.
Penularan cara ini ditemukan pada anak remaja yang berganti-ganti pasangan seksual, atau korban
perkosaan, atau prostitusi anak. Penderita AIDS yang berumur 20-an mendapat infeksi HIV pada

masa remaja.
MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis infeksi HIV pada anak bervariasi dari asimtomatis sampai penyakit berat yang
dinamakan AIDS. AIDS pada anak terutama terjadi pada umur muda karena sebagian besar
(>80%) AIDS pada anak akibat transmisi vertikal dari ibu ke anak. Lima puluh persen kasus AIDS
anak berumur <>
Gejala klinis yang terlihat adalah akibat adanya infeksi oleh mikroorganisme yang ada di
lingkungan anak. Oleh karena itu, manifestasinya pun berupa manifestasi nonspesifik berupa
gagal tumbuh, berat badan menurun, anemia, panas berulang, limfadenopati, dan
hepatosplenomegali. Gejala yang menjurus kemungkinan adanya infeksi HIV adalah adanya
infeksi oportunistik, yaitu infeksi dengan kuman, parasit, jamur, atau protozoa yang lazimnya
tidak memberikan penyakit pada anak normal. Karena adanya penurunan fungsi imun, terutama
imunitas selular, maka anak akan menjadi sakit bila terpajan pada organisme tersebut, yang
biasanya lebih lama, lebih berat serta sering berulang. Penyakit tersebut antara lain kandidiasis
mulut yang dapat menyebar ke esofagus, radang paru karena Pneumocystis carinii, radang paru
karena mikobakterium atipik, atau toksoplasmosis otak. Bila anak terserang Mycobacterium
tuberculosis, penyakitnya akan berjalan berat dengan kelainan luas pada paru dan otak. Anak
sering juga menderita diare berulang.
Manifestasi klinis lainnya yang sering ditemukan pada anak adalah pneumonia interstisialis
limfositik, yaitu kelainan yang mungkin langsung disebabkan oleh HIV pada jaringan paru.
Manifestasi klinisnya berupa hipoksia, sesak napas, jari tabuh, dan limfadenopati. Secara
radiologis terlihat adanya infiltrat retikulonodular difus bilateral, terkadang dengan adenopati di
hilus dan mediastinum.
Manifestasi klinis yang lebih tragis adalah yang dinamakan ensefalopati kronik yang
mengakibatkan hambatan perkembangan atau kemunduran ketrampilan motorik dan daya
intelektual, sehingga terjadi retardasi mental dan motorik. Ensefalopati dapat merupakan
manifestasi primer infeksi HIV. Otak menjadi atrofi dengan pelebaran ventrikel dan kadangkala
terdapat kalsifikasi. Antigen HIV dapat ditemukan pada jaringan susunan saraf pusat atau cairan
serebrospinal.
Stadium Klinis WHO untuk Bayi dan Anak yang Terinfeksi HIV a, b
Stadium klinis 1
Asimtomatik
Limfadenopati generalisata persisten
Stadium klinis 2
Hepatosplenomegali persisten yang tidak dapat dijelaskana
Erupsi pruritik papular
Infeksi virus wart luas
Angular cheilitis
Moluskum kontagiosum luas

Ulserasi oral berulang


Pembesaran kelenjar parotis persisten yang tidak dapat dijelaskan
Eritema ginggival lineal
Herpes zoster
Infeksi saluran napas atas kronik atau berulang (otitis media, otorrhoea, sinusitis, tonsillitis )
Infeksi kuku oleh fungus
Stadium klinis 3
Malnutrisi sedang yang tidak dapat dijelaskan, tidak berespons secara adekuat terhadap terapi
standara
Diare persisten yang tidak dapat dijelaskan (14 hari atau lebih ) a
Demam persisten yang tidak dapat dijelaskan (lebih dari 37.5o C intermiten atau konstan, > 1
bulan) a
Kandidosis oral persisten (di luar saat 6- 8 minggu pertama kehidupan)
Oral hairy leukoplakia
Periodontitis/ginggivitis ulseratif nekrotikans akut
TB kelenjar
TB Paru
Pneumonia bakterial yang berat dan berulang
Pneumonistis interstitial limfoid simtomatik
Penyakit paru-berhubungan dengan HIV yang kronik termasuk bronkiektasis
Anemia yang tidak dapat dijelaskan (<8g/dl>
Stadium klinis 4b
Malnutrisi, wasting dan stunting berat yang tidak dapat dijelaskan dan tidak berespons terhadap
terapi standara
Pneumonia pneumosistis
Infeksi bakterial berat yang berulang (misalnya empiema, piomiositis, infeksi tulang dan sendi,
meningitis, kecuali pneumonia)
Infeksi herpes simplex kronik (orolabial atau kutaneus > 1 bulan atau viseralis di lokasi manapun)
TB ekstrapulmonar
Sarkoma Kaposi
Kandidiasis esofagus (atau trakea, bronkus, atau paru)
Toksoplasmosis susunan saraf pusat (di luar masa neonatus)
Ensefalopati HIV
Infeksi sitomegalovirus (CMV), retinitis atau infeksi CMV pada organ lain, dengan onset umur >
1bulan
Kriptokokosis ekstrapulmonar termasuk meningitis
Mikosis endemik diseminata (histoplasmosis, coccidiomycosis)
Kriptosporidiosis kronik (dengan diarea)
Isosporiasis kronik
Infeksi mikobakteria non-tuberkulosis diseminata
Kardiomiopati atau nefropati yang dihubungkan dengan HIV yang simtomatik
Limfoma sel B non-Hodgkin atau limfoma serebral
Progressive multifocal leukoencephalopathy

Catatan:
a. Tidak dapat dijelaskan ebrarti kondisi tersebut tidak dapat dibuktikan oleh sebab yang lain
b. Beberapa kondisi khas regional seperti Penisiliosis dapat disertakan pada kategori ini
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Pemeriksaan assay antibodi dapat mendeteksi antibodi terhadap HIV. Tetapi karena antibodi anti
HIV maternal ditransfer secara pasif selama kehamilan dan dapat dideteksi hingga usia anak 18
bulan, maka adanya hasil antibodi yang positif pada anak kurang dari 18 bulan tidak serta merta
menjadikan seorang anak pasti terinfeksi HIV. Karenanya diperlukan uji laboratorik yang mampu
mendeteksi virus atau komponennya seperti:
assay untuk mendeteksi DNA HIV dari plasma
assay untuk mendeteksi RNA HIV dari plasma
assay untuk mendeteksi antigen p24 Immune Complex Dissociated (ICD)
Teknologi uji virologi masih dianggap mahal dan kompleks untuk negara berkembang. Real time
PCR(RT-PCR) mampu mendeteksi RNA dan DNA HIV, dan saat ini sudah dipasarkan dengan
harga yang jauh lebih murah dari sebelumnya. Assay ICD p24 yang sudah dikembangkan hingga
generasi keempat masih dapat dipergunakan secara terbatas. Evaluasi dan pemantauan kualitas uji
laboratorium harus terus dilakukan untuk kepastian program. Selain sampel darah lengkap (whole
blood) yang sulit diambil pada bayi kecil, saat ini juga telah dikembangkan di negara tertentu
penggunaan dried blood spots (DBS) pada kertas saring tertentu untuk uji DNA maupun RNA
HIV. Tetapi uji ini belum dipergunakan secara luas, masih terbatas pada penelitian.
Meskipun uji deteksi antibodi tidak dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis definitif HIV
pada anak yang berumur kurang dari 18 bulan, antibodi HIV dapat digunakan untuk mengeksklusi
infeksi HIV, paling dini pada usia 9 sampai 12 bulan pada bayi yang tidak mendapat ASI atau
yang sudah dihentikan pemberian ASI sekurang-kurangnya 6 minggu sebelum dilakukannya uji
antibodi. Dasarnya adalah antibodi maternal akan sudah menghilang dari tubuh anak pada usia 12
bulan.
Pada anak yang berumur lebih dari 18 bulan uji antibodi termasuk uji cepat (rapid test) dapat
digunakan untuk mendiagnosis infeksi HIV sama seperti orang dewasa.
Pemeriksaan laboratorium lain bersifat melengkapi informasi dan membantu dalam penentuan
stadium serta pemilihan obat ARV. Pada pemeriksaan darah tepi dapat dijumpai anemia,
leukositopenia, limfopenia, dan trombositopenia. Hal ini dapat disebabkan oleh efek langsung
HIV pada sel asal, adanya pembentukan autoantibodi terhadap sel asal, atau akibat infeksi
oportunistik.
Jumlah limfosit CD4 menurun dan CD8 meningkat sehingga rasio CD4/CD8 menurun. Fungsi sel
T menurun, dapat dilihat dari menurunnya respons proliferatif sel T terhadap antigen atau
mitogen. Secara in vivo, menurunnya fungsi sel T ini dapat pula dilihat dari adanya anergi kulit
terhadap antigen yang menimbulkan hipersensitivitas tipe lambat. Kadar imunoglobulin
meningkat secara poliklonal. Tetapi meskipun terdapat hipergamaglobulinemia, respons antibodi
spesifik terhadap antigen baru, seperti respons terhadap vaksinasi difteri, tetanus, atau hepatitis B
menurun.
DIAGNOSIS
Anak yang berumur kurang dari 18 bulan

Diagnosis definitif laboratoris infeksi HIV pada anak yang berumur kurang dari 18 bulan hanya
dapat ditegakkan melalui uji virologik. Hasil yang positif memastikan terdapat infeksi HIV. Tetapi
bila akses untuk uji virologik ini terbatas, WHO menganjurkan untuk dilakukan pada usia 6-8
minggu, dimana bayi yang tertular in utero, maupun intra partum dapat tercakup.
Uji virologik yang dilakukan pada usia 48 jam dapat mengidentifikasi bayi yang tertular in utero,
tetapi sensitivitasnya masih sekitar 48%. Bila dilakukan pada usia 4 minggu maka sensitivitasnya
naik menjadi 98%.
Satu hasil positif uji virologik pada usia berapa pun dianggap diagnostik pasti. Meskipun demikian
tetap direkomendasikan untuk melakukan uji ulang pada sampel darah yang berbeda. Bila tidak
mungkin dilakukan dua kali maka harus dipastikan kehandalan laboratorium penguji.
Pada anak yang didiagnosis infeksi HIV hanya dengan satu kali pemeriksaan virologik yang
positif, harus dilakukan uji antibodi anti HIV pada usia lebih dari 18 bulan.
Diagnosis infeksi HIV pada bayi yang mendapat ASI
Bila seorang bayi yang terpapar infeksi HIV mendapat ASI, ia akan terus berisiko tertulari HIV
selama masa pemberian ASI; karenanya uji virologik negatif pada bayi yang terus mendapat ASI
tidak menyingkirkan kemungkinan infeksi HIV. Dianjurkan uji virologik dilakukan setelah bayi
tidak lagi mendapat ASI selama minimal 6 minggu. Bila saat itu bayi sudah berumur 9-18 bulan
saat pemberian ASI dihentikan, uji antibodi dapat dilakukan sebelum uji virologik, karena secara
praktis uji antibodi jauh lebih murah. Bila hasil uji antibodi positif, maka pemeriksaan uji
virologik diperlukan untuk mendiagnosis pasti, meskipun waktu yang pasti anak-anak membuat
antibodi anti HIV pada yang terinfeksi post partum belum diketahui.
Bila uji virologik tidak dapat dilakukan tetapi ada tempat yang mampu memeriksa, semua bayi
kurang dari 12 bulan yang terpapar HIV dan menunjukkan gejala dan tanda infeksi HIV harus
dirujuk untuk uji virologik. Hasil yang positif pada stadium apapun menunjukkan positif infeksi
HIV.
Pada usia 12 bulan, sebagian besar bayi yang terpapar HIV sudah tidak lagi memiliki antibodi
maternal. Hasil uji antibodi yang positif pada usia ini dapat dianggap indikasi tertular (94.5%
seroreversi pada usia 12 bulan; Spesifisitas 96%) dan harus diulang pada usia 18 bulan.
Secara umum waktu pendeteksian tidak berbeda, assay DNA dapat mulai diperiksa pada usia 48
jam. Pemakaian ARV pada ibu dan bayinya untuk PMTCT tidak akan mempengaruhi hasilnya.
DNA HIV akan tetap terdeteksi pada sel mononuklear darah tepi anak yang terinfeksi HIV dan
sudah mendapat ARV meskipun hasil assay RNA HIVnya tidak terdeteksi.
Sampai saat ini belum ada data pasti apakah sensitivitas RNA HIV atau assay antigen ICD p24
dipengaruhi oleh profilaksis ARV pada ibu dan bayi. WHO menyatakan bahwa pemeriksaan RNA
tidak berbeda dengan DNA, dalam hal sensitivitas dan spesifisitas, pada bayi yang lahir mendapat
ARV.
Diagnosis infeksi bila ibu minum ARV
Belum diketahui apakah pemakaian ARV pada ibu yang menyusui bayinya dapat mempengaruhi
deteksi RNA HIV atau p24 pada bayi, meskipun sudah dibuktikan uji DNA HIV tidak
terpengaruh.

Anak yang berumur lebih dari 18 bulan


Diagnosis definitif infeksi HIV pada anak yang berumur lebih dari 18 bulan (apakah paparannya
diketahui atau tidak) dapat menggunakan uji antibodi, sesuai proses diagnosis pada orang dewasa.
Konfirmasi hasil yang positif harus mengikuti algoritme standar nasional, paling tidak
menggunakan reagen uji antibodi yang berbeda.
Tidak ada algoritme diagnosis klinis tunggal yang terbukti sangat sensitif atau spesifik untuk
mendiagnosis HIV. Akurasi diagnosis berdasarkan algoritme klinis jarang yang mencapai
sensitifitas 70% dan bervariasi menurut umur; bahkan tidak dapat diandalkan unutk mendiagnosis
infeksi HIV pada bayi yang berumur kurang dari 12 bulan. Uji antibodi anti HIV (dapat berupa
rapid test) dan peningkatan akses untuk uji virologik dini dapat membantu dokter membuat
algoritme diagnostik yang lebih baik. Dalam situasi sulit diperbolehkan menggunakan dasar klinis
untuk memulai pengobatan ARV pada anak kurang dari 18 bulan dan terpapar HIV yang berada
dalam kondisi sakit berat. Penegakan diagnosis berdasarkan gejala klinis yang dikombinasikan
dengan pemeriksaan CD4 atau parameter lain saat ini belum terbukti sebagai alat diagnosis infeksi
HIV.
Untuk bayi dan anak berumur kurang dari 18 bulan yang berada di tempat dimana uji virologik
tidak mungkin dilakukan, terdapat gejala yang sugestif infeksi HIV, diagnosis presumtif ineksi
HIV secara klinis dapat dibuat. Diagnosis infeksi ini dapat menjadi dasar untuk menilai apakah
diperlukan pemberian ARV segera.
Pada anak yang berumur lebih dari 18 bulan dengan gejala dan tanda sugestif infeksi HIV, dapat
digunakan pemeriksaan antibodi untuk menegakkan diagnosis. Diagnosis presumtif pada kondisi
ini tidak dianjurkan karena pemeriksaan antibodi saja dapat digunakan untuk menegakkan
diagnosis. Beberapa kondisi seperti pneumonia pneumositis, kandidiasis esofagus, meningitis
kriptokokus jarang terjadi pada anak yang tidak terinfeksi HIV. Karenanya kondisi klinis seperti
ini menjadi faktor penentu untuk pemeriksaan antibodi anti HIV.
Metode yang direkomendasikan untuk mendiagnosis infeksi HIV pada bayi dan anak
Metode
Rekomendasi
Tingkat rekomendasi/bukti
Uji virologik( DNA, RNA, ICD)
Untuk mendiagnosis infeksi pada bayi < 18 bulan ; uji inisial direkomendasi mulai umur 6-8
minggu
A(I)
Uji antibodi anti HIV
Untuk mendiagnosis infeksi HIV pada ibu atau identifikasi paparan pada bayi
A(I)
A(IV)
Untuk mendiagnosis infeksi pada anak > 18 bulan

Untuk mengidentifikasi infeksi HIV pada umur < 18 bulan dengan kemungkinan besar HIV
positif*
* Anak kurang dari 18 bulan dengan hasil uji antibodi positif termasuk di antaranya adalah anak
yang benar-benar terinfeksi, dan anak yang tidak terinfeksi tetapi masih membawa antibodi
maternal.
DAFTAR PUSTAKA

Centers for Disease Control and Prevention. 1994 Revised classification system for human
immunodeficiency virus infection in children less than 13 years of age; Official authorized
addenda: human immunodeficiency virus infection codes and official guidelines for coding and
reporting ICD-9-CM. MMWR 1994;43(No.RR-12):1-10
World Health Organization. Paediatric HIV and treatment of children living with HIV. Available at
http://www.who.int/hiv/paediatric/en/index.html. Accessed 2006.
World Health Organization. The World Health Report: Global Healthtodays challenges.
Available at http://www.who.int/whr/2003/en/Chapter1.pdf. Accessed 2005.
Epocrates. Drug Information. Epocrates Online. Available at http://www.epocrates.com/. Accessed
2007.
Kovacs A, Scott GB. Advances in the management and care of HIV-positive newborns and infants.
In: Pizzo PA, Wilfert CM. Pediatric AIDS: The Challenge of HIV Infection in Infants, Children,
and Adolescents. 3rd ed. Philadelphia, Pa: Lippincott Williams & Wilkins; 1998:567-92.
Laude TA. Manifestations of HIV disease in children. Clin Dermatol. Jul-Aug 2000;18(4):457-67.
Layton TL, Davis-McFarland E. Pediatric human immunodeficiency virus and acquired
immunodeficiency syndrome: an overview. Semin Speech Lang. 2000;21(1):7-17.
Nesheim S, Palumbo P, Sullivan K, Lee F, Vink P, Abrams E, Bulterys M. Quantitative RNA
testing for diagnosis of HIV-Infected infants. J Acquir Immune Defic Syndr
Wade AM, Ades AE. Age-related reference ranges: significance tests for models and confidence
intervals for centiles. Stat Med. 1994 Nov 30;13(22):2359-67.
Shearer WT, Rosenblatt HM, Gelman RS, Oyomopito R, Plaeger S, Stiehm ER, et al. Lymphocyte
subsets in healthy children from birth through 18 years of age: the Pediatric AIDS Clinical Trials
Group P1009 study. J Allergy Clin Immunol. 2003 Nov;112(5):973-80.

Supported by
FIGHT AGAINTS AIDS, SAVE INDONESIAN CHILDRENS
Yudhasmara Foundation
Working together against HIV and Aids in Indonesia, Save our Children From HIV-AIDS
Office ; JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Indonesia 10210
phone : 62(021) 70081995 5703646
email : judarwanto@gmail.com,

https://childrenhivaids.wordpress.com/

Editor in Chief :
Dr WIDODO JUDARWANTO
phone : 62(021) 70081995 62(021) 5703646, mobile : 0817171764
email : judarwanto@gmail.com

Copyright 2009, Fight Against Aids, Save Indonesian Childrens Information Education
Network. All rights reserved.
About these ads
Share this:
StumbleUponReddit
Loading...
Related
TANDA DAN GEJALA HIV DAN AIDS PADA ANAK
In "a.tanda-gejala"
HARI AIDS SEDUNIA : Selamatkan Anak Indonesia dari Ancaman HIV AIDS
In "a.aids di indonesia"
AIDS DI INDONESIA
In "a.aids di indonesia"
January 13, 20091 Reply
Previous
Next
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *
Name *
Email *
Website
Comment
Notify me of new comments via email.
gonjonglaweh on June 24, 2010 at 3:32 am
Lengkap banget neh informasi nya..thanks ya
Reply

Top Posts
HERPES GENITALIS : PENYAKIT MENULAR SEKSUAL
Gonore (GO) atau kencing nanah: Penyakit Menular Seksual Yang Paling Sering Terjadi
TANDA, GEJALA HIV AIDS DAN DIAGNOSISNYA
KONDILOMA AKUMINATA : PENYAKIT MENULAR SEKSUAL
Darimana HIV Aids Berasal ?
TANDA DAN GEJALA HIV DAN AIDS PADA ANAK
HIV DAN AIDS PADA BAYI BARU LAHIR
SIFILIS : PENYAKIT MENULAR SEKSUAL
KUTU KELAMIN (Kutu Pubic,PEDICULUS PUBIS) : PENYAKIT MENULAR SEKSUAL
About Us
Join With my Twitter
Pneumonia and wheezing in the first year: An international perspective - Garcia-Marcos - 2015 Pediatric... fb.me/7f9cz4iOa 2 weeks ago
Recent Posts
Ibu Rumah Tangga Terinveksi HIV Terus Meningkat
Darimana HIV Aids Berasal ?
Generasi anak bebas AIDS dapat terwujud
WHO menganjurkan pengobatan dini dan secara bertahap menghentikan penggunaan d4T
Bayi tanpa HIV yang lahir dari ibu dengan HIV tidak mengalami masalah pertumbuhan
Selzentry meningkatkan CD4 lebih banyak
Anak-anak dengan HIV hidup dan berkembang
Memulai pengobatan HIV mengurangi risiko kematian dari semua sebab manfaat tambahan
untuk pengobatan
Mengapa pria yang disunat memiliki kemungkinan lebih kecil untuk terinfeksi HIV:
Perubahan bakteri
Penelitian membuka rahasia hubungan protein terhadap penyebaran virus
SAVE SINCE PREGNANCY

Internal Links
Children Allergy Clinic
Children Autism Clinic
Children Fever Clinic
Children Foot Clinic
Children Sleep Clinic
Children Speech Clinic
CLinic For Children
Clinical Pediatric HIV-AIDS

Indonesian Brestfeeding Network


Poems and Songs For Children
Save Our Children from Smoke
Save Your Children

Media Internal
Koran Anak Indonesia
Koran Demokrasi Indonesia
Koran Indonesa Sehat
SPECIAL LINKS
AIDSinfo(Dept. of Health and Human Services)
CDC Divisions of HIV/AIDS Prevention