Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH KIMIA ORGANIK

ASETON

Disusunoleh :
1. MaulanaRizki

XI-B

YAYASAN KARYA PEMBANGUNAN INDONESIA


SMK ANALIS KIMIA YKPI BOGOR
Jl. H. ACHMAD SOBANA, S.H. (Jl. BANGBARUNG RAYA) PERUMNAS
BANTARJATI BOGOR 16152

NOVEMBER 2013

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Zat kimia dapat dijumpai di mana saja dalam lingkungan dan sama seperti
tumbuh-tumbuhan ataupun air, zat kimia terbentuk secara alami di lingkungan.
Semua benda tersusun dari zat kimia, termasuk makanan kita, minuman, pakaian,
obat, tumbuhan dan bahkan diri kita sendiri. Walaupun sering terpikir bahwa jika zat
kimia terbentuk secara alami di lingkungan, maka zat itu tidak membahayakan,
terkadang yang terjadi justru yang sebaliknya. Kenyataannya, zat kimia alami atau
turunannya yang sama toksiknya bagi manusia dan lingkungan dengan zat kimia
buatan manusia seperti pestisida, obat-obatan terapeutik dan pelarut atau solvent yang
dipakai dalam industri.

1.2 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini diantaranya adalah:
1.

Mengetahui limbah apa saja yang dihasilkan dalam pengolahan antibiotik pada
perusahan farmasi, terutama aseton.

2.

Mengetahui kegunaan dari aseton

3.

Mengetahui regulasi yang mengatur tentang aseton.

1.3 Rumusan Masalah


1. Apa saja efek dari aseton bagi kesehatan ?

1.4 Manfaat
Dapat menambah wawasan tentang bahaya limbah B3 dan menambah
pengetahuan kita tentang aseton.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 TEORI
Aseton merupakan suatu keton yang dapat dibuat dari bahan dasar isopropil
alkohol dengan cara oksidasi. Aseton adalah zat tidak berwarna dengan berat jenis
0,812 gram/moldan mempunyai bau yang sengit yang menjadi tandanya. Aseton
dapat bercampur dalam air dan dalam semua perbandingan adalah suatu zat pelarut
yang baik bagi banyak zat-zat organik, aseton dipakai dalam pembuatan senyawa
penting antaranya Kloroform dan Iodoform.
Air kencing biasanya mengandung sedikit aseton, tetapi lebih banyak dalam
keadaan sakit tertentu seperti diabetes melitus. Aseton atau propanon mempunyai

rumus (CH3)2CO
Aseton dibuat secara teknik dengan :
1.

pemanasan kalsium asetat

2.

mengalirkan uap Asam Asetat pada kira kira 480 oC melalui oksidasi logam

yang bekerja katalis seperti Alumunium Oksida, Kalsium Oksida, Magnesium


Oksida.
3.

penguraian zat pati oleh bakteri-bakteri tertentu seperti baccilus aceto

aethyalitusdan bacillus maseransi hasil sampingan yang didapatkan adalah etil


alkohol.
4.

oksidasi alkohol sekunder 2-propanol dengan menghangatkannya dalam Kalium

dikromat dalam suasana asam.


( Isopropil Alkohol)

( Aseton)

Alkohol primer jika dioksidasi akan membentuk aldehid, sedangkan alkohol


sekunder jika dioksidasi akan membentuk keton dan alkohol tersier tidak
bisa dioksidasi kembali. Oleh karena itulah mengapa untuk mensintesis aseton
menggunakan alkohol sekunder.
Keton tahan terhadap oksidasi lanjutan, tidak perlu memisahkan hasilnya dari
campuran reaksi selama berlangsungnya reaksi oksidasi. Saat ini ada kecendrungan
yang meningkat menentukan peranan aseton dalam kimia atmosfer dan menentukan
sumber alami aseton.
Aseton ditemukan pada :
1.

upper troposphere dan lower stratosphere

2.

atmosfer sebagai hasil dari reaksi fotokimia dan hidrokarbon alam

3.

emisi langsung dari sumber-sumber biologik

4.

oksidasi atmosferik dan berbagai hidrokarbon biogenik.


Ada beberapa sumber biologik aseton yang telah dikenal, diantaranya sudah

dikarakteristik dengan baik, merupakan dekarboksilasi enzimatik dari asetoasetat


pada hewan.

Bakteri yang telah dikenal memproduksi aseton diantaranya :


1.

clostridium acetobutylium

2.

bakteri

aerobik

yaitu streptococus

cremonies dan streptococus

lactis bila

dibiarkan dalam skim milk.


3.

vibrio Sp bila dibiakkan dalam media yang mengandung L-leksin.

4.

pseudomonas aeruginosa

Sifat Sifat dari Aseton :


Sifat Kimia :
1.

bersifat polar

2.

dapat direduksi dengan LiAlH4 menjadi alkohol

3.

merupakan basa lewis lemah dengan mereaksikannya dengan asam kuat.

4.

tahan terhadap oksidasi atau tidak dapat dioksidasi, kecuali dalam keadaan

tertentu dimana rantai karbon pecah.


5.

larut dalam air

Sifat Fisika :
1.

berat jenis 0,787 g/mL

2.

titik didih 56oC

3.

titik beku -95oC

4.

tidak berwarna

5.

baunya sengit

6.

memiliki berat molekul 58 g/mol

Kegunaan Aseton :
1.

sebagai pelarut dalam senyawa karbon, plastik, lilin

2.

sebagai bahan dasar sintesis kloroform dan iodoform

3.

sebagai bahan pembuat cat

4.

sebagai bahan pembuat parfum

5.

sebagai pembersih cat kuku atau kuteks

6.

sebagai pembuat tinner

7.

pelarut dalam selulosa asetat, yang menghasilkan crayon.

Reaksi- Reaksi Aseton :


1.

akan membentuk hemi asetal, jika diberikan asam dan alkohol, dengan reaksi

sebagai berikut:
2.

bila ditambahkan dengan glikol akan membentuk ketal, dengan reaksi :

3.

reaksi dengan sianida

4.

reaksi reduksi, dengan reaksi sebagai berikut:

5.

aminasi reduksi, dengan reaksi sebagai berikut :


Untuk mengidentifikasi aseton, dapat melakukannya dengan hidrazin, maka

akan menghasilkan gas hidrogen. Aseton mudah terbakar dan mudah menguap. Uap

tersebut dapat menyebabkan percikan api dan berbahaya apabila tertelan atau terhirup
juga dapat mempengaruhi kerja sistem syaraf. Berdasarkan hazard diamond
(HD). Warna merah pada hazard diamond menunjukkan fire hazard. Fire hazard
menunjukkan bahwa bahan digolongkan tingkat bahaya berdasarkan flash point.
Semakin rendah flash point, maka bahan tersebut akan semakin berbahaya. Untuk
aseton termasuk dalam skala 3, dengan flash point kurang dari 100 o F. Kotak dengan
warna biru menunjukkan health hazard. Health Hazard menunjukkan efek bahan
berbahaya tersebut terhadap kesehatan manusia.Aseton termasuk dalam skala
1, dengan tingkat hazardnya adalah sedikit berbahaya, dengan tingkat hazardnya
adalah sedikit berbahaya. Warna kuning pada diamond hazard menunjukkan
reactivity, yaitu tingkat reaktivitas bahan kimia dan jenis hazard yang ditimbulkan.
Aceton termasuk dalam reactivity skala 0, sehingga tipe reaktivitasnya adalah tidak
reaktif. Walaupun mudah terbakar, aseton digunakan secara ekstensif pada proses
penyimpanan dan transpor asetilena dalam industri pertambangan.
Pada tekanan dan temperatur dan tekanan normal aseton bersifar relatif stabil.
Kondisi yang harus dihindari adalah: hindari panas, api, percikap api dan sumber
pembakaran. Kontainer dari aceton dapat pecah dan meledak bila terpapar dengan
panas

2.2 KEGUNAAN
1. Cairan pembersih
Aseton sering kali merupakan komponen utama (atau tunggal) dari cairan pelepas
cat kuku. Etil asetat, pelarut organik lainnya, kadang-kadang juga digunakan. Aseton
juga digunakan sebagai pelepas lem super. Ia juga dapat digunakan untuk
mengencerkan dan membersihkan resin kaca serat dan epoksi. Ia dapat melarutkan
berbagai macam plastik dan serat sintetis. Ia sangat baik digunakan untuk
mengencerkan resin kaca serat, membersihkan peralatan kaca gelas, dan melarutkan
resin epoksi dan lem super sebelum mengeras. Selain itu, aseton sangatlah efektif

ketika digunakan sebagai cairan pembersih dalam mengatasi tinta permanen.

2. Pelarut
Aseton dapat melarutkan berbagai macam plastik, meliputi botol Nalgene yang
dibuat dari polistirena, polikarbonat, dan beberapa jenis poliprolilena. Dalam
laboratorium,

aseton

digunakan

sebagai pelarut

aportik polar dalam

kebanyakan reaksi organik, seperti reaksi SN2. Penggunaan pelarut aseton juga
berperan penting pada oksidasi Jones. Oleh karena polaritas aseton yang menengah,
ia melarutkan berbagai macam senyawa. Sehingga ia umumnya ditampung dalam
botol cuci dan digunakan sebagai untuk membilas peralatan gelas laboratorium.
Walaupun mudah terbakar, aseton digunakan secara ekstensif pada proses
penyimpanan dan transpor asetilena dalam industri pertambangan. Bejana yang
mengandung bahan berpori pertama-tama diisi dengan aseton, kemudian asetilena,

yang akan larut dalam aseton. Satu liter aseton dapat melarutkan sekitas 250 liter
asetilena.[3][4]
3. Stok umpan
Dalam bidang industri, aseton direaksi dengan fenol untuk memproduksi bisfenol
A. Bisfenol A adalah komponen penting dalam berbagai polimer.

2.3 PRODUKSI

Aseton dibuat secara langsung maupun tidak langsung dari propena. Secara umum,
melalui proses kumena, benzena dialkilasi dengan propena dan produk proses
kumena (isopropilbenzena) dioksidasi untuk menghasilkan fenol dan Aseton:
C6H5CH(CH3)2 + O2 C6H5OH + OC(CH3)2
Konversi di atas terjadi melalui zat antara kumena hidroperoksida, C6H5C(OOH)

(CH3)2.

Aseton juga diproduksi melalui propena yang dioksidasi langsung dengan


menggunakan

katalis Pd(II)/Cu(II), mirip seperti 'proses wacker'.

Dahulu, aseton diproduksi dari distilasi kering senyawa asetat, misalnya kalsium
asetat.

Selama perang

dunia

dari fermentasi bakteri dikembangkan

I,

sebuah

proses

oleh Chaim

produksi

aseton

Weizmann dalam

rangka

membantu Britania dalam usaha perang. Proses ini kemudian ditinggalkan karena
rendahnya aseton butanol yang dihasilkan

Biosintesis

Sejumlah kecil aseton diproduksi dalam tubuh melalui dekarboksilasi jasad keton.

2.4 POTENSIAL EFEK PADA KESEHATAN


a. Bila terhirup

Apabila menghirup uap dari aseton


akan dapat menyebabkan gangguan pernafasan. Diantaranya dapat menyebabkan
batuk, pusing dan sakit kepala. Konsentrasi aceton dalam jumlah tinggi apabila
terhirup dapat menyebabkan depresi pada sistem syaraf pusat, necrosis

dan

ketidaksadaran. Konsentrasi uap kurang lebih 1000 ppm dapat menyebabkan iritasi
ringan yang tidak menetap pada sistem pernafasan atas. Paparan sampai 12.000 ppm
menyebabkan iritasi tenggorokan dan depresi sistem syaraf pusat dengan kaki lemah,
sakit kepala, pusing, muntah dan rasa tidak enak badan.
Efek lain yang mungkin dari paparan dalam konsentrasi tinggi diantaranya
perasaan kering pada mulut dan tenggorokan, tidak ada koordinasi antara gerakan
dengan ucapan, perasaan gelisah, anoreksia, sakit perut, perasaan mual, hematemesis,
hipotermia, dispnea, lambat, respirasi tidak teratur, nadi lemah, pingsan, dan pada
semua kasus sampai koma. Kerusakan hati yang diindikasikan dengan tingginya
level uribilin dan penyakit kuning. Kerusakan ginjal diindikasikan dengan adanya
albumin dan sel darah merah dan sel darah putih dalam urine. Kadar glukosa darah
dapat menyebabkan ketosis fatal bila memungkinkan.
Pekerja yang terpapar sampai 500 ppm/6 jam/6 hari mengalami iritasi pada
membran mukosa, bau yang tidak enak, mata berat, sakit kepala sepanjang malam
dan kelemahan umum yanga disertai perubahan hematologis. Hal tersebut dapat pulih
dalam beberapa

hari.

Pekerja yang terpapar sampai 1000 ppm selama 3 jam/hari selama 7 15 tahun
dilaporkan mengalami inflamasi kronis dari sistem pernafasan, lambung dan

duodenum, pusing, kehilangan kekuatan, dan asthenia. Efek terhadap sistem


reproduksi telah dilaporkan berpengaruh pada tikus percobaan pada dosis toksis
matenal (NIEHS).
b. Bila Tercerna
Apabila aceton dalam jumlah atau kadar kecil tertelan, maka tidak akan
menyebabkan efek yang membahayakan. Apabila masuk dalam sistem pencernaan
dalam jumlah besar, memungkinkan akan menyebabkan sakit perut, mual dan
muntah. Apabila aceton terhirup sampai ke paru-paru maka akan dapat menyebabkan
kerusakan

parah

pada

organ

paru-paru.

Paparan akut aceton dapat menyebabkan bau nafas seperti buah dan iritasi pada
membran mukosa dan gastroenteritis.pada kasus akut, periode latent mungkin diikuti
rasa gelisah, diare, mual dan muntah yang menyebabkan hematemesis dan sampai
keadaan pingsan. Luka pada hati juga dilaporkan. Kadar glukosa darah mungkin
terjadi dan mungkin terjadi ketosis fatal. Pada kadar 10-20 mililiter dapat ditoleransi
tanpa menyebabkan efek sakit. Pada kadar yang tinggi dapat menyebabkan kematian,
pharingeal, dan erosi pada jaringan lunak palatal dan eritema. 200 mililiter dapat
menyebabkan pingsan selama setengah jam, pipi kemerahan, nafas dangkal dan koma
selama 12 jam. Glukosuria pada ginjal dapat terjadi selama 5 bulan.
c. Kontak dengan kulit
Aceton dapat menyebabkan iritasi pada kulit. Menyebabkan kemerahan pada
kulit, rasa sakit, kulit kering dan kulit menjadi pecah-pecah. Kerusakan sel dan
lapisan luar epithelium kulit menjadi edemia dan hiperemia, tetapi reversible atau
dapat kembali semula. Terpapar aceton secara berulang dan dalam jangka waktu lama
dapat menyebabkan dermatitis dengan kulit kering, kulit pecah dan eritema.
d. Kontak dengan mata

Uap aceton dapat menyebabkan iritasi pada mata


dan akibatnya sampai iritasi berat, mata pedih, keluar air mata, mata merah dan rasa
nyeri mata. Bila aceton dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan kerusakan
epithel kornea dan konjungtiva. Bila terpapar uap aceton dalam jangka waktu yang
lama akan dapat menyebabkan iritasi

dan

conjungtivitis.

e. Paparan lain yang menyebabkan akibat kronis


Kondisi yang memperburuk keadaan adalah penggunaan minuman beralkohol
karena akan meningkatkan efek toksisitas.

2.5 ALTERNATIF PENGOLAHAN LIMBAH


a. Elektrostatic Precipitator
Menggunakan medan listrik untuk menangkap pertikel, Limbah gas dialirkan
dalam medan listrik. Polutan gas berbentuk partikel tertangkap medan listrik. Gas
keluar setelah daerah medan listrik

bersih dari

partikel.

b. Penyaringan Partikel
Menggunakan saringan dengan lobang lebih kecil dari partikel. Limbah gas
dialirkan ke saringan. Polutan gas berbentuk partikel tertangkap saringan. Gas keluar
setelah saringan sudah bersih dari

pertikel.

c. Wet Scrubbing (Absorbsi)


Menggunakan kolom berisi packing dibasahi pelarut kimia. Limbah gas
dialirkan melalui bawah kolom menerobos packing. Polutan gas tertangkap pelarut.
Gas keluar melalui bagian atas kolom sudah bersih.
d. Adsorpsi Dengan Karbon Aktif
Menggunakan karbon aktif untuk menyerap polutan kimia dalam limbah gas.
Komponen polutan dalam limbah gas dapat diserap oleh karbon aktif. Menggunakan

kolom berisi karbon aktif. Limbah gas dialirkan melalui bawak kolom. Polutan gas
tertangkap karbon aktif. Gas keluar melalui bagian atas kolom sudah bersih.

2.6 REGULASI YANG BERHUBUNGAN DENGAN ASETON


Aseton bukan polutan udara yang berbahaya (hazardous air pollutant/HAP).
Aceton dilaporkan bukan lagi termasuk Toxic Release Inventory (TRI). Aceton juga
bukan merupakan polutan yang menjadi prioritas di bawah Clean Water Act (CWA),
akan tetapi pembuangannya ke dalam air masih perlu dilihat kasus per kasus. Aceton
diketahui bukan penyebab masalah karsinogen.
Bila menyimpan aceton dalam jangka waktu hari atau tahun sebanyak 10.000
pound atau lebih, harus melaporkan kepada petugas pemadam kebakaran setempat.
Occupational Safety and Health Administration (OSHA) telah menentukan batas
1000 ppm dalam udaha di tempat kerja selama 8 jam per hari atau 40 jam per minggu.
Peralatan perlindungan pekerja diperlukan pada saat menangani aceton. Selain itu,
aceton merupakan subyek dari Hazard Communication Standard dari OSHA (29 CFR
1910.1200).
Persyaratan standar tersebut harus diinformasikan kepada pekerja Material Safety
DataSheet.
Limbah Bahan Beracun dan Berbahaya menurut PP 18 & 85 tahun 1999 adalah:
a. Sisa suatu usaha dan atau kegiatan
b. Yang mengandung bahan berbahaya dan / atau beracun (B3)
c. Yang karena sifat dan / atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya,
d. Baik secara langsung maupun tidak langsung,
e. Dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup,
f. Dan/atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup
manusia serta makhluk hidup lain.
Identifikasi Limbah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3) (Pasal 7) adalah(ayat
1): Tidak spesifik, Spesifik, Kadaluarsa, tumpahan, bekas kemasan, produk offspek.

Uji karakteristik: Sifat yang dimiliki bahan berbahaya yang berpotensi untuk
menimbulkan risk (ayat 3): Mudah meledak (Explosive), Mudah terbakar
(Flammable), Reaktif (Reactive), Beracun (toxic), Menyebabkan
(Infectious),

infeksi

Korosif(corrosive).

US EPA menghilangkan aceton dari daftar bahan toksik (Toxic Release


Inventory/TRI). The database for reporting toxic chemical uses, releases, and
transfers from certain manufacturing facilities. TRI reporting is no longer required for
acetone. Due to these regulatory changes, acetone has emerged as an attractive
alternative to other, more toxic chemicals

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Aseton terdaftar sebagai bahan pengganti untuk ozone depleting compounds
untuk beberapa penggunaan, termasuk metal, elektronik dan pembersih. Akan tetapi
harus hati-hati, bagaimanapun, penggunaan aceton memerlukan perhatian terhadap
keselamatan. Karena aceton juga menyisakan bahan yang dapat membahayakan.

3.2 Saran
Sebaiknya dalam menggunakan atau memanfaatkan zat kimia baik yang
tergolong B3 maupun tidak, kita harus selalu tetap berhati-hati dalam penggunaan
nya, karena zat kimia dapat merusak kesehatan dan lingkungan apabila tidak
dimanfaatkan dengan benar.

DAFTAR PUSTAKA
http://gurdani.wordpress.com/2008/08/13/aceton/
http://archive.org/stream/AsetonPeroksida/AsetonPeroksida_djvu.txt
http://teknikkimiausu.blogspot.com/2009/04/aseton.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Aseton
http://mencintaiprofesianda.blogspot.com/2011/09/makalah-toksikologilingkungan.html