Anda di halaman 1dari 145

RENUNGAN

Disaat kita hidup dalam kemewahan, selalu mengenakan aksesoris mahal, bergaul dengan
lingkungan orang- orang yang berada Ingatlah, bahwa masih banyak orang- orang yang
hidupnya jauh di bawah kita. Orang- orang yang selalu berpikir Besok apa yang
bisa dimakan..? Orang- orang yang memiliki beberapa keterbatasan, mulai dari tidak
adanya orang tua, minimnya dana untuk bersekolah, dan sedikitnya pakaian yang bisa
mereka kenakan.

Apa yang bisa Kita bantu??


Kami berharap, ebook ini tidak di copy paste tanpa izin dari Penulis, karena ebook ini
dijual dan lebih dari 10% dana yang terkumpul akan disedekahkan dan digunakan
untuk menyantuni anak- anak yatim piatu tersebut. Anda bisa berpartisipasi untuk
mempromosikan ebook ini ke teman- teman dan rekan kerja, melalui pembelian online di
website Kami di :

www.engineerwork.blogspot.com,

Kami memang bukan orang

yang sempurna, Kami juga bukan orang yang suci, tapi kami memiliki niatan yang tulus
untuk peduli dan membantu orang- orang seperti mereka.

Best Regard,

RS G R O U P

AZZA REKA STRUKTUR

Muhammad Miftakhur Riza


Manager and Structural Engineer at ARS GROUP

KATA PENGANTAR

Ilmu teknik sipil pada dasarnya adalah ilmu yang kuno. Orang- orang terdahulu pun telah
mampu menciptakan berbagai macam konstruksi yang kokoh, hal tersebut dibuktikan
dengan berbagai macam penemuan bangunan- bangunan prasejarah.
teknik

Namun ilmu

sipil tersebut terus berkembang karena 3 hal yaitu : adanya inovasi material-

material baru, teknik atau metode pelaksanaan yang semakin canggih, dan adanya teknologi
yang membantu dalam hal perencanaan, pengawasan, dll.
Perkembangan ilmu teknik sipil dirasakan begitu cepat karena adanya keinginan dan
kebutuhan manusia yang semakin meningkat, seperti banyaknya gedung- gedung
tinggi, jembatan, bangunan air, dan sarana prasarana lainnya. Sekarang untuk merencanakan
semua itu tidak menjadi masalah dan bisa dilakukan dengan cepat karena kecanggihan
teknologi untuk mendesain bangunan sipil.
ETABS (Extended Three dimension Analysis of Building Systems) adalah salah satu
progam computer yang digunakan khusus untuk perencanaan gedung dengan konstruksi
beton, baja, dan komposit. Software tersebut mempunyai tampilan yang hampir sama
dengan SAP karena dikembangkan oleh perusahaan yang sama (Computers and Structures
Inc, CSI) yaitu salah satu perusahaan pembuat piranti lunak (software) untuk perencanaanperencanaan struktur. Software- software dari CSI tersebut sudah digunakan di lebih dari 160
negara.
Buku ini membahas dengan detail cara- cara untuk mendesain struktur gedung
dengan ETABS yang meliputi : pemodelan struktur, input pembebaban, analisis gempa, dan
perhitungan struktur balok, kolom, plat, serta pondasi. Buku ini sangat cocok sebagai
referensi para pelajar yang sedang mendalami ilmu struktur dan para praktisi di dunia teknik
sipil.

Penulis,

DAFTAR ISI

1. Sistem Struktur

2. Asumsi yang Digunakan

3. Peraturan dan Standar Perencanaan

4. Material Struktur

4.1. Beton

4.2. Baja Tulangan

4.3. Baja Profil

5. Detail Elemen Struktur

5.1. Balok

5.2. Kolom

5.3. Plat Lantai

12

5.4. Shear Wall

13

5.5. Momen Inersia Penampang

14

6. Pemodelan Struktur

15

6.1. Penggambaran Elemen Balok

15

6.2. Penggambaran Elemen Kolom

18

6.3. Penggambaran Elemen Plat

20

6.4. Penggambaran Elemen Shear Wall

21

6.5. Pemodelan Pondasi

26

6.6. Kekakuan Sambungan (joint) Balok- Kolom

26

7. Denah Struktur

28

8. Pembebanan

32

8.1. Kombinasi Pembebanan

33

8.2. Perhitungan Beban Mati

37

8.2.1. Beban Mati pada Plat Lantai

37

8.2.2. Beban Mati pada Plat Atap

38

8.2.3. Beban Mati pada Balok

38

8.2.4. Beban pada Tangga

39

8.2.4.1. Beban pada Plat Tangga

41

8.2.4.2. Beban pada Bordes

41

8.3. Beban Hidup

44

8.4. Beban Gempa

47

8.4.1. Perhitungan Gempa Statik Ekuivalen secara Otomatis

47

8.4.1.1. Lantai Tingkat sebagai Diafragma

49

8.4.1.2. Waktu Getar Alami (T)

50

8.4.1.3. Faktor Keutamaan (I)

53

8.4.1.4. Penentuan Jenis Tanah

54

8.4.1.5. Perhitungan Beban Gempa Nominal (V)

56

8.4.1.6. Eksentrisitas Rencana (ed)

59

8.4.2. Perhitungan Gempa Statik Ekuivalen secara Manual

61

8.4.2.1. Perhitungan Berat Gedung (Wt)

62

8.4.2.2. Input Beban Gempa Statik Ekuivalen

68

8.4.3. Analisis Gempa Dinamik Respons Spektrum


8.4.3.1. Respons Spektrum Gempa Rencana
8.4.4. Analisis Gempa Dinamik Time History
9. Kontrol dan Analisis

71
72
76
80

9.1. Analisis Ragam Respon Spektrum

80

9.2. Partisipasi Massa

82

9.3. Gaya Geser Dasar Nominal, V (Base Shear)

84

9.4. Kinerja Sruktur Gedung

88

9.4.1. Kinerja Batas Layan

88

9.4.2. Kinerja Batas Ultimit

90

10. Perhitungan Struktur dengan ETABS

92

10.1. Peraturan yang Digunakan

92

10.2. EfektivitasPenampang

92

10.3. Analisis

94

10.4. Penulangan Balok

97

10.4.1. Desain Tulangan Utama Balok

99

10.4.2. Desain Tulangan Geser (sengkang)

100

10.4.3. Desain Tulangan Torsi

101

10.4.4. Desain Tulangan Badan

101

10.4.5. Kontrol Pesyaratan Balok pada SRPMK

101

10.4.6. Gambar Detail Penulangan Balok

104

10.5. Penulangan Kolom


104
10.5.1. Desain Tulangan Utama Kolom

107

10.5.2. Desain Tulangan Geser Kolom

107

10.5.3. Kontrol Pesyaratan Kolom pada SRPMK

107

10.5.4. Gambar Detail Penulangan Kolom

111

10.6. Penulangan Plat Lantai

112

10.7. Desain Pondasi

113

10.7.1. Data Tanah

113

10.7.2. Daya Dukung Pondasi Tiang Bor

114

11. Perhitungan Estimasi Biaya Pekerjaan Struktur

118

DAFTAR PUSTAKA

120

PENULIS

121

RS GR O U P

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

AZZA REKA STRUKTUR

KASUS
Sebuah gedung perkantoran 8 lantai akan direncanakan dengan struktur beton. Sistem
perencanaan dengan SRPMK (Struktur Rangka Pemikul Momen Khusus). Gedung
tersebut
terletak di lokasi zona gempa 3 dengan kondisi tanah sedang.

1. Sistem Struktur
Pemodelan struktur dilakukan dengan Program ETABS v9.7.2 (Extended Threedimensional Analysis of Building Systems. Perencanaan dengan Struktur Rangka Pemikul
Momen Khusus (SRPMK). Pemodelan struktur gedung 8 lantai untuk gedung
perkantoran yang akan didesain ditunjukkan pada Gambar berikut.

Gambar 1.1. Rencana Pemodelan Struktur Gedung Perkantoran 8 Lantai


www.engineerwork.blogspot.com

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

RS GR O U P

AZZA REKA STRUKTUR

2. Asumsi yang Digunakan


a. Efek P-delta diabaikan.
b.

Plat lantai dianggap sebagai elemen shell yang bersifat menerima beban tegak
lurus bidang (vertikal) dan beban lateral (horizontal) akibat gempa.

c. Pondasi dianggap jepit, karena desain pondasi menggunakan bore pile (pondasi
dalam), sehingga kedudukan pondasi diasumsikan tidak mengalami rotasi dan
translasi.

3. Peraturan dan Standard Perencanaan


a. Peraturan Perencanaan Tahan Gempa untuk Gedung SNI 03-1726-2000.
b. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Gedung SNI 03-28472002.
c. Tata Cara Perencanaan Struktur Baja untuk Bangunan Gedung SNI 03-17292002. d. Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung PPPURG
1987.
Untuk memulai pembuatan model struktur pada ETABS, dapat dilakukan dengan cara File
New Model No.

Gambar 3.1. Tampilan Awal Program ETABS


Setelah itu akan muncul kolom yang berisi data teknis bangunan. Kolom tersebut
diisi sesuai dengan model struktur gedung yang akan di desain yang meliputi :
a. Jumlah lantai (Number of Stories),
b. Ketinggan antar lantai yang sama (Typical Story
Height), c. Ketinggian lantai bawah (Bottom Story Height),
dan
d. Penentuan satuan (Units) yang akan digunakan.
www.engineerwork.blogspot.com

RS GR O U P

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

AZZA REKA STRUKTUR

Keterangan :
) Number of Stories :
jumlah lantai.
) Typical Story Height
: ketinggan antar
lantai yang sama.
) Bottom Story Height :
ketinggian lantai bawah.
) Units : pilihan
satuan yang akan
digunakan.

Gambar 3.2. Input Data Jumlah Lantai, Ketinggiannya, dan


Satuan
Denah struktur gedung cenderung mempunyai kesamaan (typical) dengan lantai- lantai di
bawah atau di atasnya, sehingga pada ETABS dapat dibuat hubungan kesamaan
antar lantai dengan menganggap satu/ beberapa lantai sebagai acuan lantai yang lain
(Master Story).
Keterangan :
) Master Story : bagian
lantai yang digunakan
untuk acuan lantai
yang lain.
) Similar to : lantai yang
mempunyai
karakteristik yang sama
(dengan Master Story).

www.engineerwork.blogspot.com

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

RS GR O U P

AZZA REKA STRUKTUR

Gambar 3.3. Data Karakteristik Lantai pada ETABS

www.engineerwork.blogspot.com

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

RS GR O U P

AZZA REKA STRUKTUR

Jarak antar As untuk penggambaran kolom dan balok dapat diinput dengan cara Edit
Edit Grid Data Modify/ Show System sebagai berikut.

Gambar 3.4. Coordinate System

Gambar 3.5. Input Data Jarak- jarak Grid atau As Bangunan

www.engineerwork.blogspot.com

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

RS GR O U P

AZZA REKA STRUKTUR

Tampilan grid yang telah diinput ditunjukkan pada Gambar berikut.

Gambar 3.6. Grid atau Sumbu As untuk Penggambaran Balok dan Kolom

4. Material Struktur
Struktur gedung didesain menggunakan bahan beton bertulang dengan mutu
dan persyaratan sesuai dengan standard peraturan yang ada sebagai berikut :

4.1. Beton
Kuat beton yang disyaratkan, fc

= 30 Mpa

Modulus elastisitas beton, Ec

= 4700 fc = 25742,96 MPa = 25742960 kN/m

Angka poison,

= 0,2

Modulus geser, G

= Ec / [ 2( 1 + ) ] = 8757,91MPa = 8757910 kN/m

4.2. Baja Tulangan


Diameter 12 mm menggunakan baja tulangan polos BJTP 24 dengan tegangan
leleh, fy = 240 MPa.
Diameter > 12 mm menggunakan baja tulangan ulir BJTD 40 dengan tegangan
leleh, fy = 400 MPa.
www.engineerwork.blogspot.com

RS GR O U P

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

AZZA REKA STRUKTUR

4.3. Baja Profil


Mutu baja profil yang digunakan untuk struktur baja harus memenuhi persyaratan
setara dengan BJ 40 dengan tegangan leleh fy = 400 MPa.

Bahan struktur beton yang digunakan adalah dengan spesifikasi berikut :


Mass per unit volume

= 2,4

Fc (mutu kuat tekan beton)

= 20 MPa = 20000 kNm

Fy (tegangan leleh tulangan utama), BJ 40

= 400 Mpa = 400000 kNm

Fys (tegangan leleh tulangan geser/ sengkang), BJ 24

= 240 Mpa = 240000

kNm

Data bahan tersebut dapat diinput ke dalam ETABS dengan cara Define Material
Properties Conc Modify seperti ditunjukkan pada Gambar berikut ini.

Gambar 4.1. Material Property Data (satuan kNm)

www.engineerwork.blogspot.com

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

RS GR O U P

AZZA REKA STRUKTUR

5. Detail Elemen Struktur


Elemen- elemen struktur yang digunakan dalam perencanaan gedung ditunjukkan
sebagai berikut :
Jenis struktur

= Beton bertulang

Pondasi

= Bore pile diameter 40 cm

Kode balok

= TB1 - 40x80 (balok tie beam arah X)


= TB2 - 30x50 (balok tie beam arah Y)
= B1 - 40x70 (balok utama lantai 1 lantai 4)
= B2 - 40x70 (balok utama lantai 5 lantai 7)
= B3 - 40x70 (balok utama lantai 5 lantai 7)
= B4 - 20x50 (balok pemikul lift lantai atap)
= BA - 30x60 (balok anak lantai 1 - lantai 7)
= BB - 20x40 (balok anak lantai atap)

Kode Kolom

= K1 - 70x70 (kolom utama lantai 1 lantai 4)


= K2 - 70x70 (kolom utama lantai 5 lantai 6)
= K3 - 20x20 (kolom utama lantai atap)

5.1. Balok
Input elemen struktur balok dilakukan dengan cara Define Frame Section
AddRectangular.

Gambar 5.1. Input Profil Balok dan Kolom

www.engineerwork.blogspot.com

RS GR O U P

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

AZZA REKA STRUKTUR

Detail penampang balok yang digunakan ditunjukkan sebagai berikut.

Gambar 5.2. Input Profil Balok B140x70 (satuan : meter)

Gambar 5.4. Input Profil Balok B420x50 (satuan : meter)

Gambar 5.3. Input Profil Balok BA-40x60


(satuan : meter)

Gambar 5.5. Input Profil Balok TB1-40x80


(satuan : meter)

Gambar 5.6. Input Profil Balok TB2-30x50


(satuan : meter)
www.engineerwork.blogspot.com

5.2. Kolom
Input elemen struktur kolom dilakukan dengan cara Define Frame Section Add
Rectangular.

Gambar 5.7. Input Profil Kolom K170x70 (satuan : meter)

Gambar 5.8. Input Profil Kolom K370x70 (satuan : meter)

Detail penulangan kolom bisa klik Reinforcement sebagai berikut :

Gambar 5.9. Desain Penulangan


Kolom K1-70x70 (satuan : meter)

Gambar 5.10. Desain Penulangan


Kolom K3-20x20 (satuan : meter)

Keterangan :
Cover to rebar center

: tebal selimut beton berdasarkan SNI Beton 03-2847-2002


Pasal 9.7.

Number of bar in 3 dir : jumlah tulangan arah sumbu 3.


Number of bar in 2 dir : jumlah tulangan arah sumbu 2.
Bar size

: dimensi tulangan tepi.

Corner Bar size

: dimensi tulangan ujung atau tepi sudut.

Karena ada perbedaan ukuran atau dimensi tulangan yang digunakan di Amerika dengan
di Indonesia, maka untuk membuat ukuran tulangan yang kita inginkan bisa
dilakukan dengan cara Option Preferences Reinforcement Bar Sizes.

Gambar 5.11. Input Dimensi Tulangan Baru - Diameter 22 (satuan : mm)

Keterangan :
Bar ID

: identitas nama tulangan,

Bar Area

: luas tulangan, dapat dihitung dengan cara A = x x d ,

Bar diameter : ukuran diameter tulangan.

Berdasarkan SNI Beton 03-2847-2002 Pasal 9.7 tebal selimut beton minimum
yang diizinkan adalah sebagai berikut :
Tabel 5.1. Persyaratan Tebal Selimut Minimum

Tebal selimut tersebut dapat diinput ke ETABS dengan cara Define Frame Section
Rectangular Reinforcement Concrete cover to Rebar Center. Tebal selimut untuk
balok dan kalom 40 mm, serta untuk Tie Biem 60 mm.

Gambar 5.12.Tebal Selimut untuk


Balok (satuan : meter)

Gambar 5.13.Tebal Selimut untuk


Tie Beam (satuan : meter)

5.3. Plat Lantai


Input elemen plat dilakukan dengan cara Define Wall/ Slab Deck Section Add
New
Slab. Ada 3 asumsi dalam pemodelan plat lantai yaitu
:
Shell

: plat diasumsikan menerima gaya vertikal akibat beban mati


dan hidup, juga menerima gaya horizontal/ lateral akibat
gempa.

Membrane

: plat diasumsikan menerima gaya horizontal saja.

Plate

: plat diasumsikan hanya menerima gaya vertikal saja,


akibat beban mati dan hidup.

Thick Plate

: plat diasumsikan mempunyai ketebalan lebih, biasanya


digunakan untuk jalan beton, tempat parkir dan plat
yang berfungsi sebagai pondasi.

Dalam perencanaan ini, plat dimodelkan sebagai Shell, sehingga selain menerima gaya
vertikal akibat beban mati dan hidup, plat juga diasumsikan menerima gaya horizontal/
lateral akibat gempa. Input data plat ditunjukkan pada Gambar berikut.

Gambar 5.14. Input Data Plat Lantai

Gambar 5.15. Data Plat S1


Lantai Basement

Gambar 5.16. Data Plat S2


Lantai 1- Lantai 7

Gambar 5.17. Data Plat S3


Lantai Atap

Pada plat lantai basement (S1) diasumsikan sebagai Thick Plate, karena dimensi plat
yang digunakan relatif tebal dan plat tersebut juga menumpu di tanah sebagai pondasi.

5.4. Shear Wall


Adanya gerakan lift menyebatkan getaran yang berakibat retaknya dinding, maka
digunakan shear wall untuk meredam getaran tersebut dan untuk memperbesar kekakuan
gedung akibat pengaruh gempa. Karena shear wall tersebut dimodelkan berbentuk tube
untuk lubang lift, maka bisa juga disebut core lift. Pemodelan shear wall tersebut dapat
dilakukan dengan cara Define Wall/ Slab Deck Section Add New Wall.

Gambar 5.18. Input Elemen Wall


Shear wall tersebut dapat diasumsikan sebagai Thick Plate, karena dimensi dinding yang
digunakan relatif tebal dan karena plat tersebut juga menumpu di tanah sebagai pondasi.

5.5. Momen Inersia Penampang


Besarnya waktu getar alami struktur (T) dapat diketahui dengan menganggap bahwa
momen inersia penampang untuk arah 2 axis atau 3 axis adalah utuh tanpa mengalami
keretakan, sehingga nilai faktor pengali diisi 1 dengan cara Define Frame Sections
Pilih Elemen Balok atau Kolom Modify/ Show Property Set Modifiers.

Gambar 5.19. Nilai Faktor Pengali 1 untuk Penampang Utuh Balok

Gambar 5.20. Nilai Faktor Pengali 1 untuk Penampang Utuh Kolom

6. Pemodelan Struktur
Pemodelan struktur gedung dilakukan secara 3D dengan menggambar semua
elemen balok, kolom, plat, dan shear wall. Cara penggambaran masing- masing
elemen ditunjukkan sebagai berikut.

6.1. Penggambaran Elemen Balok


Penggambaran elemen balok dapat dilakukan secara praktis dengan pilihan Similar Story
untuk beberapa lantai yang

mempunyai denah balok

yang sama (typical),

sedangkan untuk kasus dimana lantai yang didesain berbeda dengan lantai yang lain,
maka dapat digunakan pilihan One Story. Karakteristik tiap lantai tersebut dapat dilihat
pada Gambar
3.3. Penggambaran elemen balok tersebut dilakukan dengan cara Draw Draw
Line
Objects Draw Lines.

Gambar 6.1. Denah Rencana Balok Tie Beam (elevasi +1 meter)

Gambar 6.2. Denah Rencana Balok Lantai 1 sampai Lantai 4 (Similar


Stories)

Gambar 6.3. Denah Rencana Balok Lantai 5 sampai Lantai 6 (Similar


Stories)

Gambar 6.4. Denah Rencana Balok Lantai Lantai 7 (elevasi +26, 2


meter)

Gambar 6.5. Denah Rencana Balok Lantai Atap (elevasi +28,7 meter)

6.2. Penggambaran Elemen Kolom


Penggambaran elemen kolom dapat dilakukan secara praktis dengan pilihan Similar Story
untuk lantai yang mempunyai denah kolom yang sama (typical), sedangkan untuk kasus
dimana

lantai yang didesain

berbeda dengan

lantai yang

lain,

maka dapat

digunakan pilihan One Story. Karakteristik tiap lantai tersebut dapat dilihat pada Gambar
3.3. Penggambaran elemen kolom dapat dilakukan dengan cara Draw Draw Line
Objects Create Column in Region.

Gambar 6.6. Denah Rencana Kolom Lantai 1 sampai Lantai 4 (Similar Story)

Gambar 6.7. Denah Rencana Kolom Lantai 5 sampai Lantai 7 (Similar Story)

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung dengan ETABS

RS GR O U P

AZZA REKA STRUKTUR

6.3. Penggambaran Elemen Plat


Penggambaran elemen plat dapat dilakukan dengan cara Draw Draw Area Objects
Create Areas at Click. Karena ada lantai yang mempunyai jenis plat yang sama (typical),
maka penggambaran plat dapat dilakukan secara praktis dengan pilihan Similar Story,
sedangkan untuk kasus dimana lantai yang di desain berbeda dengan lantai yang
lain, maka dapat digunakan pilihan One Story. Plat lantai yang diinput ditunjukkan
sebagai berikut.

Gambar 6.8. Denah Rencana Plat Lantai Basement (S1)

Gambar 6.9. Denah Rencana Plat Lantai 1 sampai lantai 7 Basement

(S2)

RS GR O U P

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung dengan ETABS

RS GR O U P

AZZA REKA STRUKTUR

Gambar 6.10. Denah Rencana Plat Lantai Atap (S3)

6.4. Penggambaran Elemen Shear Wall


Penggambaran elemen wall dapat dilakukan dengan cara Draw Draw Area Objects
Create Areas at Click. Tampilan harus diubah terlebih dahulu menjadi XZ
(tampak samping). Elemen wall yang diinput ditunjukkan sebagai berikut.

Gambar 6.11. Elemen Shear Wall Memanjang pada As C-D dan I-J

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung dengan ETABS

RS GR O U P

AZZA REKA STRUKTUR

Gambar 6.12. Elemen Shear Wall Melintang pada As 2-3

Elemen shear wall didesain mempunyai sifat yang hampir sama dengan kolom
yaitu menerima beban aksial dan lentur, maka shear wall tersebut harus dimodelkan
sebagai elemen Pilar (Pier) . Pemodelan elemen Pier tersebut dilakukan dengan cara
memilih elemen shear wall terlebih dahulu, kemudian

Assign Shell/ Area Pier

Label - Add New Pier.

Gambar 6.13. Pembuatan Pier untuk Elemen Wall


Wall 1 adalah shear wall yang terletak di sebelah kiri dan Wall 2 adalah shear wall yang
terletak di sebelah kanan.

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung dengan ETABS


AZZA REKA STRUKTUR

RS GR O U P

Gambar 6.14. Pemodelan Elemen Wall sebagai Pier

Gambar 6.15. Tampak Elemen Wall 1 (kiri) dan Wall 2


(kanan)
Asumsi desain tulangan untuk shear wall dan dimensinya dapat diinput langsung dengan
fasilitas Section Designer dengan cara pilih salah satu tipe wall, kemudian Design
Shear Wall Design Define Pier Section for Checking Add New Pier Section
Section Designer. Karena bentuk penampang shear wall dari lantai dasar sampai lantai
atap adalah sama, maka dapat digunakan pilihan Start from Existing Wall Pier.

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

RS GR O U P

AZZA REKA STRUKTUR

Gambar 6.16. Pembuatan Detail Elemen Wall 1 (sebelah kiri) dengan Section
Designer

Gambar 6.17. Detail Penulangan dan Dimensi Elemen Wall 1 dengan Section
Designer

Gambar 6.18. Pembuatan Detail Elemen Wall 2 (sebelah kanan) dengan Section

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

Designer

RS GR O U P

AZZA REKA STRUKTUR

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

RS GR O U P

AZZA REKA STRUKTUR

Gambar 6.19. Detail Penulangan dan Dimensi Elemen Wall 2 dengan Section
Designer
Pemodelan elemen wall sebagai pilar (Pier) dilakukan dengan memberikan tulangan
langsung,

sehingga

elemen Pier tersebut

harus dimodelkan dengan General

Reinforcement. Bentuk dan desain wall dari lantai atas sampai bawah bentuknya sama,
maka Section at Bottom dan at Top juga sama.
Pemodelan General Reinforcement tersebut dilakukan dengan cara memilih/ menyeleksi
wall terlebih dahulu, kemudian Design Shear Wall Design Assign Pier Sections for
Checking General Reinforcing Pier Sections.

Gambar 6.20. General Reinforcing untuk Wall 1 dan Wall 2

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

RS GR O U P

AZZA REKA STRUKTUR

6.5. Pemodelan Pondasi


Pemodelan pondasi diasumsikan sebagai jepit, karena desain pondasi yang menggunakan
bore pile (pondasi dalam), sehingga kedudukan pondasi dianggap tidak mengalami rotasi
dan translasi. Pemodelan tumpuan tersebut dapat dilakukan dengan klik semua
kolom pada lantai dasar, kemudian Assign Joint/ Point Restrains.

Gambar 6.21. Penentuan Tipe Tumpuan Pondasi sebagai Jepit

6.6. Kekakuan Sambungan (joint) Balok- Kolom


Tingkat kekakuan balok- ko lom dapat dimodelkan sebagai Rigid Zone Offset atau
daerah yang kaku, karena pada struktur beton hubungan balok dan kolom adalah
monolite. Nilai Rigid Zone Factor atau faktor kekakuan berkisar dari 0 sampai 1. Angka
0 untuk tanpa kekakuan dan 1 untuk sangat kaku (full rigid). Tidak ada ketentuan khusus
untuk nilai tersebut, sepenuhnya adalah Engineering Judgement. Namun manual program
menyarankan nilai Rigid Zone Factor adalah 0,5.
Pada ETABS nilai kekakuan tersebut dapat diinput dengan memilih semua elemen balokkolom dengan cara Select By Frame Sections.

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

RS GR O U P

AZZA REKA STRUKTUR

Gambar 6.22. Pemilihan Seluruh Elemen Balok dan Kolom


Setelah semua elemen balok- kolom dipilih, nilai kekakuan (rigid factor)
dapat dimasukkan dengan cara Assign Frame/ Line End (Length) Offsets.

Gambar 6.23. Input Faktor Kekakuan Balok Kolom

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

RS GR O U P

AZZA REKA STRUKTUR

7. Denah Struktur
Pemodelan dan denah struktur rencana balok, kolom, plat, serta shear wall pada
ETABS
ditunjukkan pada Gambar berikut.

Gambar 7.1. Perencanaan Struktur Gedung Perkantoran secara 3D dengan ETABS

Gambar 7.2. Denah Rencana Balok, Kolom, dan Plat Lantai Tie
Beam

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

RS GR O U P

AZZA REKA STRUKTUR

Gambar 7.3. Denah Rencana Balok, Kolom, Plat Lantai 1 Lantai 4 (Similar Story)

Gambar 7.4. Denah Rencana Balok, Kolom, Plat Lantai 5 Lantai 6 (Similar Story)

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

RS GR O U P

AZZA REKA STRUKTUR

Gambar 7.5. Denah Rencana Balok, Kolom, Plat Lantai


7

Gambar 7.6. Denah Rencana Balok, Kolom, Plat Lantai


Atap

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

RS GR O U P

AZZA REKA STRUKTUR

Tampak struktur shear wall pada As 3 dan As D ditunjukkan pada Gambar berikut :

Gambar 7.7. Penampang Shear Wall pada As 3

Gambar 7.8. Penampang Shear Wall pada As D

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

RS GR O U P

AZZA REKA STRUKTUR

8. Pembebanan
Jenis beban yang bekerja pada gedung meliputi
:
a. Beban mati sendiri elemen struktur (Self Weight)
Meliput i : berat balok, kolom, shear wall, dan plat.
b. Beban mati elemen tambahan (Superimposed Dead Load)
Meliput i : dinding, keramik, plesteran, plumbing, mechanical electrical, dll.
c. Beban hidup (Live Load) : berupa beban luasan yang ditinjau berdasarkan
fungsi bangunan.
d. Beban Gempa (Earthquake Load): ditinjau terhadap beban gempa statik
dan dinamik.
Beban mati sendiri elemen struktur (Self Weight) yang terdiri dari ko lom, balok dan
plat sudah dihitung secara otomatis dalam ETABS dengan memberikan faktor pengali
berat sendiri (self weight multiplier) sama dengan 1, sedangkan beban mati elemen
tambahan yang terdiri dari dinding, keramik, plesteran, plumbing, dll diberikan faktor
pengali sama dengan 0, karena beban tersebut diinput secara manual.
Beban mati elemen tambahan sebaiknya dibuatkan Load Case tersendiri, misal
Dead untuk beban mati tambahan dan SW untuk beban mati sendiri (Self Weight).
Hal ini untuk menghindari kerancuan antara beban mati tambahan dengan berat
sendiri, dan untuk memisahkan massa bangunan tambahan dengan massa bangunan itu
sendiri. Jenis beban yang bekerja pada struktur gedung dapat diinput dengan cara Define
Static Load Case.

Gambar 8.1. Jenis- jenis Beban yang Bekerja pada Struktur Gedung

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

RS GR O U P

AZZA REKA STRUKTUR

8.1. Kombinasi Pembebanan


Struktur bangunan dirancang mampu menahan beban mati, hidup dan gempa sesuai
peraturan SNI Gempa 03-1726-2002 Pasal 4.1.1 dimana gempa rencana ditetapkan
mempunyai periode ulang 500 tahun, sehingga probabilitas terjadinya terbatas pada 10
% selama umur gedung 50 tahun. Kombinasi pembebanan yang digunakan mengacu
pada SNI Beton 03-2847-2002 Pasal 11.2 sebagai berikut :
Kombinasi = 1,4 D Kombinasi
= 1,2 D + 1,6 L Kombinasi =
1,2 D + Lr 1 E
Keterangan :
D : beban mati (dead load), meliputi berat sendiri gedung (self weight, SW)
dan beban mati tambahan (superimposed dead load, D),
L : beban hidup (live load), tergantung fungsi gedung,
Lr : beban hidup yang boleh direduksi dengan faktor pengali 0,5
E : beban gempa (earthquake load), ditinjau terhadap gempa statik (EQX, EQY),
gempa dinamik respons spektrum (RSPX, RSPY), dan gempa dinamik time
history (THX, THY).
Rincian kombinasi pembebanan tersebut ditunjukkan pada Tabel 8.1 berikut
:

RS GR O U P

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

AZZA REKA STRUKTUR

Tabel 8.1. Kombinasi Pembebanan


Nama Kombinasi

Kombinasi Pembebanan

Jenis Kombinasi

Kombinasi 1

1,4 D + 1,4 SW

Kombinasi 2

1,2 D + 1,2 SW + 1,6 L

Kombinasi 3

1,2 D + 1,2 SW + 0,5 L + 1 EQX

Kombinasi 4

1,2 D + 1,2 SW + 0,5 L - 1 EQX

Kombinasi 5

1,2 D + 1,2 SW + 0,5 L + 1 EQY

Kombinasi 6

1,2 D + 1,2 SW + 0,5 L - 1 EQY

Kombinasi 7

1,2 D + 1,2 SW + 0,5 L + 1 RSPX

Kombinasi pembebanan sementara

Kombinasi 8

1,2 D + 1,2 SW + 0,5 L - 1 RSPX

Kombinasi 9

1,2 D + 1,2 SW + 0,5 L + 1 RSPY

(akibat beban mati, hidup, dan gempa


dinamik respons spektrum)

Kombinasi 10

1,2 D + 1,2 SW + 0,5 L - 1 RSPY

Kombinasi 9

1,2 D + 1,2 SW + 0,5 L + 1 THX

Kombinasi pembebanan sementara

Kombinasi 10

1,2 D + 1,2 SW + 0,5 L - 1 THX

Kombinasi 11

1,2 D + 1,2 SW + 0,5 L + 1 THY

(akibat beban mati, hidup, dan gempa


dinamik time history)

Kombinasi 12

1,2 D + 1,2 SW + 0,5 L - 1 THY

Kombinasi pembebanan tetap


(akibat beban mati dan hidup)
Kombinasi pembebanan sementara
(akibat beban mati, hidup, dan gempa statik)

Berbagai kombinasi pembebanan tersebut diinput ke ETABS dengan cara Define Load
Combination Add New Combo.

Gambar 8.2. Input Berbagai Macam Kombinasi Pembebanan pada ETABS

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

RS GR O U P

AZZA REKA STRUKTUR

Gambar 8.3. Berbagai Macam Kombinasi Pembebanan yang telah Diinput

Seluruh kombinasi pembebanan yang telah diinput dalam ETABS tersebut dapat
dilihat dengan cara Display Load Definitions Load Combinations sebagai berikut :

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

RS GR O U P

AZZA REKA STRUKTUR

Kombinasi pembebanan yang telah diinput ditunjukkan pada Gambar berikut.

Gambar 8.4. Output Kombinasi Pembebanan ETABS

RS GR O U P

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

AZZA REKA STRUKTUR

8.2. Perhitungan Beban Mati (Dead Load)


Beban mati adalah beban dari semua elemen gedung yang bersifat permanen termasuk
peralatan tetap yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gedung. Jenisjenis beban mati pada gedung ditunjukkan pada Tabel berikut :
Tabel 8.2. Jenis Beban Mati pada Gedung
No.

Jenis Beban Mati

Berat

Satuan

Baja

78,5

kN/m

Beton

22

kN/m

Pasangan batu kali

22

kN/m

Mortar, spesi

22

kN/m

Beton bertulang

24

kN/m

Pasir

16

kN/m

Lapisan aspal

14

kN/m

Air

10

kN/m

Dinding pasangan bata batu

2,5

10

Curtain wall kaca + rangka

0,6

kN/m

11

Langit- langit dan penggantung

0,2

kN/m

12

Cladding metal sheet + rangka

0,2

kN/m

Finishing lantai (tegel atau keramik)

22

kN/m

13

14

Marmer, granit per cm tebal

0,24

kN/m

Instalasi plumbing (ME)

0,25

kN/m

15

Penutup atap genteng

0,5

kN/m

16

kN/m

8.2.1. Beban Mati pada Plat Lantai


Beban mati yang bekerja pada plat lantai gedung meliputi :
2

Beban pasir setebal 1 cm = 0,01 x 16

= 0,16 kN/m

Beban spesi setebal 3 cm = 0,03 x 22

= 0,66 kN/m

Beban keramik setebal 1 cm = 0,01 x 22

= 0,22 kN/m

Beban plafon dan penggantung

= 0,2 kN/m

Beban Instalasi ME

= 0,25 kN/m

2
2
2

Total beban mati pada plat lantai = 1,49 kN/m

RS GR O U P

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

AZZA REKA STRUKTUR

8.2.2. Beban Mati pada Plat Atap


Beban mati yang bekerja pada plat atap gedung meliputi :
2

Berat waterproofing dengan aspal tebal 2 cm = 0,02 x 14

= 0,28 kN/m

Berat plafon dan penggantung

= 0,2

Berat Instalasi ME

= 0,25 kN/m

kN/m

Total beban mati pada plat atap = 0,73 kN/m

Beban mati didistribusikan pada plat secara merata dengan cara Assign Shell/ Area
Loads Uniform Load Case Name Dead. Distribusi beban mati yang bekerja pada
plat ditunjukkan pada Gambar berikut.

Gambar 8.5. Distribusi Beban Mati pada Plat Lantai

8.2.3. Beban Mati pada Balok


Beban mati yang bekerja pada balok meliput i
:
Beban dinding pasangan bata batu = 3,6 x 2,50
kN/m Beban dinding partisi (cladding)

= 2 x 0,20

9
=

0,40 kN/m Beban reaksi pada balok akibat tangga

13,65 kN/m Beban reaksi pada balok akibat gerakan lift

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


70 ETABS
kN
dengan

RS GR O U P

AZZA REKA STRUKTUR

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

RS GR O U P

AZZA REKA STRUKTUR

Beban mati pada balok yang berupa beban garis seperti beban dinding dan partisi diinput
dengan cara Assign Frame/ Line Loads Distributed. Sedangkan beban

mati yang

berupa titik seperti beban lift dan reaksi tumpuan kuda- kuda diinput dengan cara Assign
Frame/ Line Loads Point. Distribusi beban mati yang bekerja pada balok ditunjukkan
pada Gambar berikut.

Gambar 8.6. Distribusi Beban Mati pada Balok

8.2.4. Beban pada Tangga


Beban pada tangga meliputi beban mati yang berupa antrede, optrede, dan
finishing
berupa pasangan keramik. Data teknis tangga dalam perencanaan adalah sebagai berikut
:

Gambar 8.7. Komponen Tangga

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

RS GR O U P

AZZA REKA STRUKTUR

Keterangan :
Langkah datar (antrede)

= 30 cm

Langkah naik (optrede)

= 20 cm

Jumlah total

= 18

Pemodelan struktur tangga dengan SAP v. 14 ditunjukkan pada Gambar berikut


:

Gambar 8.8. Pemodelan Struktur Tangga dengan SAP 2000


Plat tangga dimodelkan sebagai elemen Shell dimana plat tersebut menerima beban
vertikal (akibat beban mati dan hidup) dan menerima beban horizontal (akibat
gempa). Agar tegangan yang bekerja pada pelat tangga dapat merata, maka plat dibagi
dengan pias- pias kecil dengan cara Edit- Devide Areas.

Gambar 8.9. Pembagian Pias- pias Kecil untuk Meratakan Tegangan yang

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


Terjadi
dengan
ETABS

RS GR O U P

AZZA REKA STRUKTUR

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

RS GR O U P

AZZA REKA STRUKTUR

8.2.4.1. Beban pada Plat Tangga


Beban mati yang bekerja pada plat tangga meliput i :
Berat finishing lantai (spesi dan tegel) tebal 5 cm = 0,05 x 22

1,1 kN

Beban mati total trap beton = x 0,3 x 0,2 x 9 x 1,25

0,34 kN

Berat besi pegangan (handrill)

0,1 kN

Beban hidup

kN/m

8.2.4.2. Beban pada Bordes


Beban mati yang bekerja pada bordes meliput i :
Berat finishing lantai (spesi dan tegel) tebal 5 cm = 0,05 x 22

= 1,1 kN

Beban hidup

kN/m

Distribusi beban mati pada tangga dengan SAP ditunjukkan pada Gambar berikut.

Gambar 8.10. Distribusi Beban Mati pada Tangga

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

RS GR O U P

AZZA REKA STRUKTUR

Distribusi beban mati dan hidup pada tangga adalah beban terbagi merata pada
plat, sehingga dapat diinput dengan cara Assign Shell/ Area Loads Uniform
ditunjukkan pada Gambar berikut.

Gambar 8.11. Distribusi Beban Mati pada Tangga


Tulangan plat lantai tangga dapat didesain langsung pada SAP dengan cara mengganti
elemen plat menjadi shell, dengan cara Define Area Section Modify Shell Layered
Modify/ Show Layer Defintion Quick Start.

Gambar 8.12. Desain Penulangan Plat Tangga Arah X dan Y

RS GR O U P

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

AZZA REKA STRUKTUR

Tegangan yang terjadi pada tangga akibat beban mati dan hidup (kombinasi 2)
ditunjukkan pada Gambar berikut :

Gambar 8.13. Tegangan yang Terjadi Akibat Beban Mati dan Hidup (Mumax = 7,89 kNm)

Kontrol Kekuatan Tangga :


Luas tulangan terpakai, As = x x d x b/S
= x 3,14 x 12 x 1000/200 = 542,6 mm
Tinggi blok regangan,

a =

As x
fy
0,85 x fc x
b

a =

542 ,6 x 240

0,85 20 1000

Tinggi efektif, d

= 7,66 mm

= tebal plat selimut diameter tulangan


= 120 20 x 12 = 94 mm

Momen nominal, Mn

= As x fy x (d - ) x 10-6
2
= 542,6 x 240 x ( 94

Syarat :

7,66
)
2

x 10-6 = 11,74 kNm

Mn Mu
0,8 x 11,74
9,39

7,89
7,89 OK, Plat tangga mampu menerima
beban.

8.3. Beban Hidup (Live Load)


Beban hidup adalah beban yang bekerja pada lantai bangunan tergantung dari fungsi ruang
yang digunakan. Besarnya beban hidup

lantai bangunan menurut

Tata Cara

Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung PPPURG 1987 ditunjukkan pada Tabel
berikut :
Tabel 8.3. Beban Hidup untuk Gedung
No.

Jenis Beban Hidup

Beban

Satuan

Dak atap bangunan

kN/m

Rumah tinggal

kN/m

Kantor, sekolah, hotel, pasar, rumah sakit

2,5

kN/m

Hall, tangga, coridor, balcony

kN/m

Ruang olahraga, pabrik, bioskop, bengkel,

kN/m

kN/m

kN/m

perpustakaan, tempat ibadah, parkir, aula


6

Panggung penonton

Reduksi beban dapat dilakukan dengan cara mengalikan beban hidup dengan koefisien
reduksi yang nilainya tergantung pada penggunaan bangunan. Besarnya koefisien reduksi
beban hidup untuk perencanaan portal dan gempa ditentukan sebagai berikut :
Tabel 8.4. Faktor Reduksi Beban Hidup untuk Gedung
No.

Fungsi Bangunan

Perumahan : rumah tinggal, asrama hotel, rumah

Faktor Reduksi
untuk Portal

Faktor Reduksi
untuk Gempa

0,75

0,30

0,90

0,50

0,90

0,50

0,60

0,30

0,80

0,80

sakit
2

Gedung pendidikan : sekolah, ruang kuliah

Tempat pertemuan umum, tempat ibadah, bioskop,


restoran, ruang dansa, ruang pergelaran

Gedung perkantoran : kantor, bank

Gedung perdagangan dan ruang penyimpanan :


toko, toserba, pasar, gudang, ruang arsip,
perpustakaan

Tempat kendaraan: garasi, gedung parkir

0,90

0,50

Bangunan industri : pabrik, bengkel

1,00

0,90

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung dengan ETABS

RS GR O U P

AZZA REKA STRUKTUR

Dari Tabel 8.3, beban hidup yang bekerja untuk perkantoran adalah sebagai berikut
: Beban hidup ruang kerja
Beban hidup lantai atap

= 2,5 kN/m
=1

kN/m

Distribusi beban hidup pada lantai dilakukan dengan cara Assign Shell/ Area Loads
Uniform Load Case Name Life.

Gambar 8.14. Distribusi Beban Hidup pada Lantai Gedung Perkantoran (2,5 kN/m )

Semua elemen plat dapat dibagi menjadi pias- pias kecil agar disribusi beban dari plat ke
balok bisa lebih halus dan merata dengan cara pilih elemen plat, kemudian Edit Mesh
Areas. Elemen plat lantai yang telah dibagi menjadi pias- pias kecil dengan Meshing
Areas dapat dilihat pada Gambar berikut :

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung dengan ETABS

RS GR O U P

AZZA REKA STRUKTUR

Gambar 8.15. Pembagian Plat Menjadi Pias- pias Kecil (Meshing Areas)
Elemen shear wall yang telah dibagi menjadi pias- pias kecil dengan Meshing Areas
dapat dilihat pada Gambar berikut :

Gambar 8.16. Detail Elemen Shear Wall yang telah Dihaluskan dengan Meshing
Areas
Pembagaian elemen plat menjadi pias- pias kecil cukup dilakukan setiap jarak 0,5 m
1,5 m, karena pembagian pias yang terlalu rapat/ banyak akan membuat proses Run

Analysis menjadi lebih lama.

RS GR O U P

RS GR O U P
Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung dengan ETABS
AZZA REKA STRUKTUR

8.4. Beban Gempa


Analisis beban gempa dilakukan dengan 2 cara yaitu statik ekuivalen dan dinamik
respons spektrum. Untuk perhitungan gempa statik ekuivalen dapat dilakukan secara
otomatis dengan Auto Lateral Loads dan secara manual dengan cara menginput besarmya
beban gempa ke pusat massa struktur tiap lantai.

8.4.1. Perhitungan Gempa Statik Ekuivalen secara Otomatis


Beban gempa statik ekuivalen adalah penyederhanaan dari perhitungan beban gempa
yang sebenarnya dengan asumsi tanah dasar dianggap tetap (tidak bergetar), sehingga
beban gempa diekuivalensikan menjadi beban lateral statik yang bekerja

pada pusat

massa struktur tiap lantai bangunan.


Besarnya beban gempa yang bekerja pada struktur dapat dilakukan secara otomatis
dengan cara Define - Static Load Cases Pilih gempa Eqx dan Eqy Auto Lateral Load
User Coefficient.

Gambar 8.17. Pendefinisian Beban Gempa Statik secara Otomatis dengan Auto Lateral Load

RS GR O U P
Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung dengan ETABS
AZZA REKA STRUKTUR

Setelah Auto Lateral Load dipilih, kemudian klik Modify Lateral Load - User Coefficient
dan tetapkan arah untuk masing- masing gempa untuk arah X dan Y sebagai berikut.

Gambar 8.18. Pendefinisian Beban Gempa Statik EQX Arah X

Gambar 8.19. Pendefinisian Beban Gempa Statik EQY Arah Y

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

RS G R O U P

AZZA REKA STRUKTUR

8.4.1.1. Lantai Tingkat sebagai Diafragma


Pada SNI Gempa 1726-2002 Pasal 5.3.1 disebutkan bahwa lantai tingkat, atap beton dan
sistem lantai dengan ikatan suatu struktur gedung dapat dianggap sangat kaku
(rigid) dalam bidangnya dan dianggap bekerja sebagai diafragma terhadap beban gempa
horisontal. Maka, masing- masing lantai tingkat didefinisikan sebagai diafragma
kaku dengan cara Assign Joint/ point Diafragms Add New Diafragms seperti pada
Gambar berikut.

Gambar 8.20. Input Diafragma pada Masing masing Lantai


Elemen lantai yang didefinisikan sebagai diafragma ditunjukkan pada Gambar berikut
:

Gambar 8.21. Elemen Plat di Setiap Lantai yang Bekerja sebagai

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

RS G R O U P

AZZA REKA STRUKTUR

Diafragma

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

RS G R O U P

AZZA REKA STRUKTUR

8.4.1.2. Waktu Getar Alami (T)


Berdasarkan UBC (Uniform Building Code) 1997 section 1630.2.2, estimasi atau perkiraan
waktu getar alami gedung dengan struktur beton dapat dihitung dengan rumus :
0,75

T = 0,0731 x H

0,75

= 0,0731 x 26,2

= 0,846 detik

Berdasarkan SNI Gempa 1226- 2002 waktu getar struktur dapat didekati dengan Rumus
Rayleigh.
n

TR = 6,3

=
i =1

Wi d i
n

g Fi d i
i=1

Dimana :
Wi : berat lantai tingkat ke-i, termasuk beban hidup yang sesuai
(direduksi), z i : ketinggian lantai tingkat ke-i diukur dari taraf penjepitan
lateral,
Fi : beban gempa statik ekuivalen pada lantai tingkat ke-i,
di : simpangan horisontal lantai tingkat ke-i dinyatakan dalam
2

mm, g : percepatan gravitasi yang ditetapkan sebesar 9,81 m/det ,


n : nomor lantai tingkat paling atas.

Pada ETABS waktu getar alami dapat diketahui secara otomatis dari hasil ragam getar
atau Modal Analysis dengan cara Run, kemudian Display Show Mode Shapes.Waktu
getar analisis ETABS untuk Mode 1 dan Mode 2 ditunjukkan sebagai berikut :

Gambar 8.22. Waktu Getar StrukturMode 1 (arah X) dengan T1 = 0,7877 detik


Waktu getar struktur Mode 1 (T1) pada arah X adalah sebesar 0,7877 detik,
berarti struktur gedung kemungkinan akan mengalami gerakan dengan tipe pada Gambar
8.22 setiap 0,7877 detik.
Perilaku struktur tersebut dapat dilihat dengan cara Start Animation. Dari animasi yang
telah dijalankan dapat dilihat bahwa struktur tersebut dominan mengalami translasi
(tanpa rotasi) pada arah X pada Mode 1. Berarti struktur tersebut mempunyai kekakuan
yang cukup.

Waktu getar gedung pada Mode 2 ditunjukkan pada gambar


berikut.

Gambar 8.23. Waktu Getar StrukturMode2 (arah Y) dengan T2 = 0,7366 detik


Waktu getar struktur pada Mode 2 (T2) pada arah Y adalah sebesar 0,7366 detik, berarti
struktur gedung kemungkinan akan mengalami gerakan dengan tipe pada Gambar 8.23
setiap 0,7366 detik.
Dalam SNI Gempa Pasal 5.6 disebutkan bahwa waktu getar alami fundamental harus
dibatasi untuk mencegah penggunaan struktur gedung yang terlalu fleksibel dengan
persayaratan T1 < n , dimana n adalah jumlah lantai dan koefisien tergantung
dari zona gempa seperti pada Tabel berikut.
Tabel 8.5. Koefisien yang membatasi waktu getar alami
Fundamental struktur gedung

Lokasi gedung berada pada zona 3, maka = 0,18


Maka

T1 < x n

0,7877 < 0,18 x 8


0,7877 < 1,44 OK, waktu getar struktur gedung memenuhi persyaratan.
Gedung mempunyai kekakuan yang cukup.

8.4.1.3. Faktor Keutamaan Gedung (I)


Pada SNI Gempa 1736-2002 Pasal 4.1.2 disebutkan bahwa untuk berbagai kategori
gedung, bergantung pada probabilitas terjadinya keruntuhan struktur gedung selama umur
gedung dan umur gedung tersebut yang diharapkan, pengaruh gempa rencana terhadapnya
harus dikalikan dengan suatu Faktor Keutamaan (Important Factor, I)

menurut

persamaan I = I1 x I2 . Faktor- faktor keutamaan I1, I2 dan I ditetapkan pada Tabel berikut.
Tabel 8.6. Faktor Keutamaan (Important Factor, I) untuk
Berbagai Kategori Gedung

.
Semakin penting fungsi gedung, maka nilai faktor keutamaannya juga akan semakin
besar.

8.4.1.4. Penentuan Jenis Tanah


Konsep perancangan konstruksi didasarkan pada analisis kekuatan batas (ultimatestrength) yang mempunyai daktilitas cukup untuk menyerap energi gempa sesuai dengan
peraturan yang berlaku. Pembagian zona gempa di Indonesia dapat dilihat pada
Peta Gempa berikut.

Gambar 8.24. Zona Gempa di Indonesia


Berdasarkan SNI Gempa 1726-2002 Pasal 4.6.3 jenis tanah ditetapkan sebagai tanah
keras, tanah sedang, dan tanah lunak. Jika lapisan setebal maksimum 30 m paling atas
dipenuhi syarat- syarat yang tercantum dalam Tabel berikut :
Tabel 8.7. Jenis- jenis Tanah
Jenis
tanah

Kecepatan rambat gelombang

Keras

v s 350

N 50

S u 100

Sedang

175 v s< 350

15 N < 50

50 S u< 100

v s< 175

N < 15

S u< 50

Lunak

Khusus

geser rata-rata,

v s (m/det)

Nilai hasil Test Penetrasi


Standar rata-rata,

Kuat gese r niralir


rata-rata,

S u (kPa)

Atau, setiap profil dengan tanah lunak yang tebal total lebih dari 3 m dengan PI > 20,
wn 40% dan Su< 25 kPa
Diperlukan evaluasi khusus di setiap lokasi

Hasil data tanah berdasarkan nilai SPT (Soil Penetration Test) dihitung dengan rumus
sebagai berikut :

Dimana :
N : nilai hasil test penetrasi standar rata- rata,

ti : tebal lapisan tanah ke-i,


Ni : hasil test penetrasi standar lapisan tanah ke-i.
Getaran yang disebabkan oleh gempa cenderung membesar pada tanah lunak
dibandingkan pada tanah keras atau batuan. Proses penentuan klasifikasi tanah tersebut
berdasarkan data tanah pada kedalaman hingga 30 m, karena menurut penelitian hanya
lapisan- lapisan tanah sampai kedalaman 30 m saja yang menentukan pembesaran
gelombang gempa (Wangsadinata, 2006). Data tanah tersebut adalah shear wave velocity
(kecepatan rambat gelombang geser), standard penetration resistance (uji penetrasi
standard SPT) dan undrained shear strength (kuat geser undrained).
Dari 3 parameter tersebutminimal harus dipenuhi 2, dimana data yang terbaik adalah Vs
(shear wave velocity) dan data yang digunakan harus dimulai dari permukaan tanah,
bukan dari bawah basement (HATTI, 2006). Contoh Perhitungan Nilai SPT untuk
penentuan jenis tanah ditunjukkan pada Tabel berikut.

Tabel 8.8. Perhitungan Nilai SPT Rata- rata


Lapis

N SPT

Kedalaman (m)

Tebal (m)

N'= Tebal/ N SPT

0,250

0,857

15

11

0,200

19

13

0,105

52

15

0,038

25

18,5

0,140

50

24,5

0,120

42

30

0,143

N'

N'= 30/ N'

1,854

16,36

Dari hasil perhitungan didapat nilai Test Penetrasi Standar rata- rata, N = 16,36
maka berdasarkan Tabel 8.7 termasuk katagori Tanah Sedang.

8.4.1.5. Perhitungan Beban Gempa Nominal (V)


Beban gempa nominal statik ekuivalen yang terjadi di tingkat dasar dapat
dihitung berdasarkan zona gempa, faktor reduksi untuk jenis struktur yang
digunakan, fungsi
gedung, dan berat total gedung dengan persamaan :
Cx

V=

I
R

Wt

Dimana :
C : nilai faktor respons gempa, yang ditentukan berdasarkan wilayah
gempa, kondisi tanah dan waktu getar alami (T),
I

: faktor keutamaan gedung (berdasarkan SNI Gempa 1726-2002 Pasal

4.1.2), R : faktor reduksi gempa (berdasarkan SNI Gempa 1726-2002 Pasal


4.3.3),
Wt : berat total gedung, termasuk beban hidup yang sesuai (direduksi),

Nilai faktor respon gempa berdasarkan wilayah gempa dan jenis tanah ditentukan sebagai
berikut :

Katagori tanah sedang, maka C = 0,33/ T

Karena waktu getar struktur untuk arah X dan Y berbeda, maka nilai faktor respon
gempa juga berbeda. Nilai spektrum gempa rencana dihitung sebagai berikut berikut :
Gempa statik arah X (Mode 1), T1 = 0,7877 detik C1 = 0,33/ 0,7877 = 0,4189.
Gempa statik arah Y (Mode 2), T2 = 0,7366 detik C2 = 0,33/ 0,7366 = 0,4480.
Beban geser nominal untuk perhitungan gempa statik dapat dihitung sebagai berikut :
Vx =
=

xI

0,4189 x

x 114172,20 = 5626,67 kN

1
8,5

Vy =
=

xI

0,448 x

x 114172,20 = 6017,55 kN

1
8,5

Karena struktur gedung didesain dengan daktilitas penuh, diambil faktor daktilitas = 5,3
dan ditetapkan kuat lebih beban dan bahan yang terkandung di dalam struktur
gedung f1 = 1,6 sesuai SNI Gempa 1726- 2002 Pasal 4.3.3. Mak a R = x f1 = 5,3 x

1,6 = 8,5. Besarnya nilai faktor daktalitas () dan reduksi gempa (R) ditunjukkan pada
Tabel berikut.

Tabel 8.9. Parameter Daktilitas Struktur Gedung

Besarnya koefisien gaya geser gempa untuk arah X dan Y dapat dihitung sebagai berikut
:
Koefisien gaya geser dasar gempa arah X = C1 x I / R = 0,4189 x 1/ 8,5 = 0,0492.
Koefisien gaya geser dasar gempa arah Y = C2 x I / R = 0,4480 x 1/ 8,5 = 0,0527.
Besarnya nilai koefisien gaya geser gempa untuk arah X dan Y tersebut diinput ke ETABS
dengan cara Define Static Load Cases Pilih Load EQX dan EQY Modify lateral Load
Base Shear Coefficient.

Gambar 8.25. Koefisien Gaya Geser Dasar Gempa Arah X

Gambar 8.26. Koefisien Gaya Geser Dasar Gempa Arah Y

8.4.1.6. Eksentrisitas Rencana (ed)


SNI Gempa 1726- 2002 pasal 5.4.3 menyebutkan bahwa : Antara pusat massa dan pusat
rotasi lantai tingkat harus ditinjau suatu eksentrisitas rencana ed. Apabila ukuran
horisontal terbesar denah struktur gedung pada lantai tingkat itu, diukur tegak lurus
pada arah pembebanan gempa dinyatakan dengan b, maka eksentrisitas rencana ed
harus ditentukan sebagai berikut :
untuk 0 < e 0,3 b , maka ed = 1,5 e + 0,05 atau ed = e 0,05 b
Nilai dari keduanya dipilih
subsistem struktur gedung

yang pengaruhnya paling menentukan untuk unsur atau


yang

ditinjau,

dimana eksentrisitas (e)

pengurangan antara pusat massa dengan pusat rotasi.

adalah

Nilai pusat massa dan rotasi

bangunan dapat dicari pada ETABS dengan cara Run Display Show Tables Draw
Point Objects Analysis Results Building Output Center Mass Rigidity.

Gambar 8.27. Nilai Pusat Rotasi (XCR dan YCR) tiap Lantai

Besarnya eksentrisitas rencana (ed) tiap lantai dihitung pada Tabel berikut :
Tabel 8.10. Perhitungan Eksentrisitas Rencana (ed) Tiap Lantai
Lantai
Tie Beam
1
2
3
4
5
6
7
Atap

Pusat Massa

Pusat Rotasi

Eksentrisitas (e)

ed = 1,5e + 0,05b

ed = e - 0,05b

32,4
32,4
32,4
32,4
32,4
32,4
32,4
32,4
32,4

10,683
10,693
10,693
10,688
10,693
10,693
10,693
10,526
5,56

32,4
32,4
32,4
32,4
32,4
32,4
32,4
32,4
32,4

9,487
8,937
9,414
9,688
9,814
9,867
9,885
9,916
9,816

0
0
0
0
0
0
0
0
0

1,196
1,756
1,279
1
0,879
0,826
0,808
0,61
-4,256

1,08
1,08
1,08
1,08
1,08
1,08
1,08
1,08
1,08

2,87
3,71
3,00
2, 58
2,40
2,32
2,29
2,00
-5,30

-1,08
-1,08
-1,08
-1,08
-1,08
-1,08
-1,08
-1,08
-1,08

0,116
0,676
0,199
-0,08
-0,201
-0,254
-0,272
-0,47
-5,336

Dari hasil perhitungan eksentrisitas rencana (ed), digunakan nilai ed yang paling
berpengaruh
= 1,5 e + 0,05 b. Besarnya eksentrisitas tersebut dapat diinput ke ETABS dengan cara
Define
Static Load Case Pilih Gempa EQx atau EQy Modify Lateral Load Override.

Gambar 8.28. Input Besarnya Eksentrisitas Rencana (ed) arah X

Gambar 8.29. Input Besarnya Eksentrisitas Rencana (ed) arah Y

8.4.2. Perhitungan Beban Gempa Statik Ekuivalen secara Manual


Perhitungan beban gempa statik ekuivalen scara manual dilakukan dengan cara
menginput beban gempa nominal statik ekuivalen Fi pada pusat massa tiap lantai
gedung. Besarnya
beban gempa tersebut dihitung dengan persamaan :
Fi =

Wi z i
n

zi

i=1

Dimana :
Wi : berat lantai tingkat ke-i, berupa beban sendiri gedung, beban mati tambahan
dan beban hidup yang telah direduksi 30% (untuk gedung perkantoran),
Zi : ketinggian lantai tingkat ke-i diukur dari taraf penjepitan lateral
struktur bangunan,
n : lantai tingkat paling atas,
V : beban geser dasar nominal.
Agar gempa statik dapat diinput secara manual, maka definisi dari beban gempa harus
diubah dulu dengan cara Define Static Load Cases Pilih Load Eqx dan Eqy None.

Gambar 8.30. Pendefinisian Beban Gempa Statik secara Manual

8.4.2.1. Perhitungan Berat Gedung (Wt)


Berat total gedung (Wt) akibat berat sendiri secara otomatis dapat dihitung dengan
ETABS
dengan cara menyeleksi luasan masing- masing
Names.

lantai, kemudian Assign Group

Gambar 8.31. Pembuatan Group pada Tiap Lantai untuk Mengetahui Berat Gedung
Setelah masing-

masing

lantai dibuat

Group, berat

gedung tiap

lantai dapat

diketahui dengan cara Display Show Tables Building Data Groups Groups Masses
and Weights.

Gambar 8.32. Berat dan Massa Bangunan Tiap Lantai

Berat gedung tambahan seperti plesteran, dinding, keramik, dll harus dihitung
secara manual ditambah dengan 30% beban hidup.

a. Beban Mati Tambahan


Beban mati tambahan pada plat Lantai Base
Dinding tinggi 3,6 m = 3,6 x 171,2 x 2,5

= 1540,80 kN
2

Beban mati tambahan pada plat tiap lantai 1 sampai 6 (Luas = 1310,14 m )
Pasir setebal 1 cm = 0,01 x 16 x 1310,14

209,62 kN

Spesi setebal 3 cm = 0,03 x 22x 1310,14

864,69 kN

Keramik setebal 1 cm = 0,01 x 22 x 1310,14

288,23 kN

Plafon dan penggantung = 0,2 x 1310,14

262, 03 kN

Instalasi ME = 0,25 x 1310,14

327,53 kN

Dinding bata tinggi 3,6 m = 3,6 x 171,2 x 2,5

= 1540,80 kN

Dinding partisi (cladding) = 2 x 115,2 x 0,20

Beban reaksi pada tangga

46,08 kN

13,65 kN+

Beban mati total pada plat = 3553,35 kN


2

Beban mati tambahan pada plat lantai 7 (Luas = 867,14 m )


Beban plafon dan penggantung = 0,2 x 867,14

173,43 kN

Beban instalasi ME = 0,25 x 867,14

216,78 kN

Beban dinding bata tinggi 3,6 m = 3,6 x 129,6 x 2,5

= 1166,4

kN

Beban dinding partisi (cladding) = 2 x 72 x 0,20

kN

Beban total reaksi kuda- kuda

= 520

28,8

kN

Beban mati tambahan total pada plat lantai 7 = 2105,41 kN

b. Beban Hidup Tambahan


2

Beban hidup tambahan pada plat lantai base (Luas = 1327,42 m )


2

Beban hidup untuk gedung perkantoran

= 2,5 kN/m

Faktor reduksi

= 0,3

Beban hidup total = 2,5 x 0,3 x 1327,42

= 995,56 kN
2

Beban hidup tambahan pada plat tiap lantai 1 sampai 6 (Luas = 1310,14 m )
Beban hidup untuk gedung perkantoran

= 2,5 kN/m

Faktor reduksi

= 0,3

Beban hidup total = 2,5 x 0,3 x 1310,14

= 982,6 kN

Beban hidup tambahan pada plat lantai 7 (Luas = 867,14 m )


2

Beban hidup untuk gedung perkantoran

= 1 kN/m

Faktor reduksi

= 0,3

Beban hidup total = 1 x 0,3 x 867,14

= 260,14 kN
2

Beban hidup tambahan pada plat atap (Luas = 34,56 m )


2

Beban hidup untuk gedung perkantoran

= 1 kN/m

Faktor reduksi

= 0,3

Beban hidup total = 1 x 0,3 x 34,56

= 10,37 kN

Beban mati tambahan dan beban hidup tambahan dihitung, kemudian ditambah
dengan berat sendiri gedung (self weight) menjadi beban total seperti perhitungan berikut
:
Tabel 8.11. Perhitungan Beban Mati dan Beban Hidup Tambahan
Tingkat
Lantai

Beban Mati

Beban Hidup

Berat Sendiri

Beban Total

Tambahan (kN)

Tambahan (kN)

(kN)

(kN)

Tie Beam

1540,80

995,56

6258,10

8794,46

3553,35

982,6

10950,65

15486,60

3553,35

982,6

10885,63

15421,58

3553,35

982,6

10678,30

15214,25

3553,35

982,6

10747,09

15283,04

3553,35

982,6

10830,97

15366,92

3553,35

982,6

11219,23

15755,18

2105,41

260,14

8498,56

10864,11

Atap

0,00

10,37

1975,69
Beban total =

1986,06
114172,20

Besarnya perhitungan gaya lateral ekuivalen (Fi) setiap lantai dihitung sebagai berikut.
Tabel 8.12. Perhitungan Gaya Lateral Gempa Statik Ekuivalen (Fi)
Tingkat

Beban Total (kN)

Z (m)

W x Z (KnM)

Fx (kN)

Fy (kN)

Tie Beam

8794,46

1,00

8794,46

30,72

32,85

15486,60

4,60

71238,36

248,83

266,09

15421,58

8,20

126456,92

441,70

472,34

15214,25

11,80

179528,11

627,07

670,57

15283,04

15,40

235358,85

822,08

879,11

15366,92

19,00

291971,40

1019,82

1090,57

15755,18

22,60

356067,16

1243,70

1329,98

10864,11

26,20

284639,76

994,21

1063,19

Atap

1986,06

28,70

57000,04

199,09

212,91

114172,20

WxZ=

1611055,06

Wt =

SNI Gempa 1726- 2002 Pasal 5.8.2 menyebutkan bahwa : Untuk mensimulasikan arah
pengaruh gempa rencana yang sembarang terhadap struktur gedung, pengaruh
gempa dalam arah utama harus dianggap efektif 100% dan harus dianggap terjadi
bersamaan dengan pengaruh pembebanan gempa dalam arah tegak lurus pada
arah utama pembebanan tadi dengan efektifitas hanya 30%.
Beban gempa untuk masing- masing arah harus dianggap penuh (100%) untuk arah
yang ditinjau dan 30% untuk arah tegak lurusnya. Beban gempa yang diinput pada 2
arah tersebut sebagai antisipasi datangnya gempa dari arah yang tidak terduga, misalnya
dari arah 15, 30, 45, dll. Beban gempa yang diinput ke pusat massa tersebut
ditunjukkan pada Tabel berikut.
Tabel 8.13. Perhitungan Gaya Lateral Gempa Statik Ekuivalen (Fi) untuk Setiap Arah
Lantai

Perhitungan gempa 100% arah yang ditinjau dan 30% arah tegak lurus
Fx (kN)

30% Fx (kN)

Fy (kN)

30% Fy (kN)

Tie Beam

30,72

9,22

32,85

9,85

248,83

74,65

266,09

79,83

441,70

132,51

472,34

141,70

627,07

188,12

670,57

201,17

822,08

246,62

879,11

263,73

1019,82

305,95

1090,57

327,17

1243,70

373,11

1329,98

398,99

994,21

298,26

1063,19

318,96

Atap

199,09

59,73

212,91

63,87

Pada SNI Gempa 2002 Pasal 5.4.1 disebutkan bahwa titik tangkap beban gempa statik
dan dinamik adalah pada pusat massa. Untuk mengetahui koordinat titik pusat massa
tersebut dapat dilakukan dengan cara mengurangi pusat rotasi dengan eksentrisitas
rencana (ed). Perhitungan koordinat pusat massa ditunjukkan dalam Tabel berikut.

Tabel 8.14. Koordinat Pusat Massa pada Tiap Lantai


Story
Tie Beam
1
2
3
4
5
6
7
Atap

Pusat Massa

Pusat Rotasi

ed = 1,5e + 0,05b

32,4
32,4
32,4
32,4
32,4
32,4
32,4
32,4
32,4

10,683
10,693
10,693
10,688
10,693
10,693
10,693
10,526
5,56

32,4
32,4
32,4
32,4
32,4
32,4
32,4
32,4
32,4

9,487
8,937
9,414
9,688
9,814
9,867
9,885
9,916
9,816

1,08
1,08
1,08
1,08
1,08
1,08
1,08
1,08
1,08

2,87
3,71
3,00
2,58
2,40
2,32
2,29
2,00
-5,30

Koordinat pusat
massa
31,32
31,32
31,32
31,32
31,32
31,32
31,32
31,32
31,32

6,613
5,223
6,416
7,108
7,416
7,548
7,593
7,921
15,120

Adanya perbedaan letak dinding yang tidak beraturan, perbedaan dimensi struktur antar
lantai yang berbeda, dll menyebabkan letak titik pusat massa setiap lantai pun berbedabeda. Koordinat pusat massa yang telah diketahui tersebut, kemudian diinput ke ETABS
untuk memasukkan gaya gempa statik dengan cara Draw Draw Point Objects.

Gambar 8.33. Koordinat Pusat Massa pada Lantai 1

Gambar 8.34. Koordinat Pusat Massa pada Lantai 2


Input koordinat pusat massa pada lantai berikutnya (lantai 3 sampai lantai
atap)
juga dilakukan dengan cara yang sama.

8.4.2.2. Input Beban Gempa Statik Ekuivalen


Pada SNI Gempa 2002 Pasal 5.4.1 disebutkan bahwa titik tangkap beban gempa statik
dan dinamik adalah pada pusat massa. Jadi gaya gempa lateral ekuivalen (Fx dan Fy)
yang telah dihitung pada tersebut diinput ke koordinat pusat massa bangunan tiap lantai
dengan cara klik koordinat pusat massa, kemudian Assign Joint/ Point Loads Force
Load Case Name EQX / EQY.

Gambar 8.35. Input Beban Gempa arah X (EQX) pada Lantai 1

Gambar 8.36. Input Beban Gempa arah Y (EQY) pada Lantai 1

Gambar 8.37. Input Beban Gempa arah X (EQX) pada Lantai 2

Gambar 8.38. Input Beban Gempa arah Y (EQY) pada Lantai 2


Catatan :
Input beban gempa lantai berikutnya dapat diinput dengan cara yang
sama.
Perhitungan gempa statik ekuivalen bisa dilakukan dengan cara manual
atau otomatis, tergantung dari konfigurasi struktur dan denah gedung.

8.4.3. Analisis Gempa Dinamik Respons Spektrum


Analisis beban gempa dinamik respons spektrum ditentukan oleh percepatan gempa
rencana dan massa total struktur. Dalam analisis struktur terhadap beban gempa, massa
bangunan sangat menentukan besarnya gaya inersia akibat gempa. Maka massa tambahan
yang diinput pada ETABS meliputi massa akibat beban mati tambahan dan beban hidup
yang direduksi dengan faktor reduksi 0,3 (sesuai fungsi gedung).
Massa akibat berat sendiri (self weight) elemen struktur sudah dihitung secara
otomatis oleh program. Jadi hanya perlu input massa tambahan (berupa plesteran,
dinding, keramik, dll) yang dilakukan dengan cara Define Mass Source.

Gambar 8.39. Input Massa Beban Mati Tambahan (Dead) dan Beban Hidup

8.4.3.1. Respons Spektrum Gempa Rencana


Dalam

analisis

beban gempa dinamik, respons

spektrum disusun

berdasarkan

respons terhadap percepatan tanah (ground acceleration) hasil rekaman gempa. Desain
spektrum merupakan representasi gerakan tanah (ground motion) akibat getaran gempa
yang pernah terjadi pada suatu lokasi. Hal- hal yang dipertimbangkan adalah zona gempa
dan jenis tanah. Desain kurva respons spektrum untuk zona gempa 3 dengan kondisi
tanah lunak adalah sebagai berikut :
T

C = 0,33/T

0,23

0,2

0,55

0,6

0,55

0,8

0,41

0,33

1,2

0,28

1,4

0,24

1,6

0,21

1,8

0,18

0,17

2,2

0,15

2,4

0,14

2,6

0,13

2,8

0,12

0,11

Input data kurva spektrum gempa rencana kedalam ETABS dapat dilakukan dengan 2
cara yaitu dengan input manual ke program ETABS dan input otomatis dengan cara
mencopy data spektrum dari Excel ke notepad kemudian dimasukkan ke ETABS.
a. Input Manual
Input manual nilai spektrum gempa ke dalam ETABS dapat dilakukan dengan cara
Define Response Spectrum Functions User Spectrum Add New Spectrum.

Gambar 8.40. Input Manual Kurva Response Spectrum dengan User Spectrum

b. Input Otomatis
Input otomatis nilai spektrum gempa dapat dilakukan dengan cara mencopy
data spektrum dari Excel ke notepad

kemudian dimasukkan ke ETABS dengan

cara Define Response Spectrum Functions Spectrum From File Add New
Spectrum.

Gambar 8.41. Nilai Kurva Spektrum Gempa yang Dibuat di Excel dan Copy ke Notepad

RS G R O U P

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung dengan ETABS


AZZA REKA STRUKTUR

Gambar 8.42. Input Otomatis Kurva Response Spectrum dengan Spectrum From File
Setelah kurva respon spektrum dibuat, kemudian harus didefinisikan spectrum case
dengan cara Define Response Spectrum Case Add New Spectrum. Data yang harus
diinput adalah sebagai berikut :
a. Redaman struktur beton (damping)

= 0,05

Merupakan perbandingan redaman struktur beton dengan redaman kritis = 0,05.


b. Modal Combination

CQC (Complete Quadratic Combination)


Penjumlahan respons ragam getar untuk struktur gedung tidak beraturan
yang memiliki waktu- waktu getar alami yang

berdekatan, apabila

selisih nilai waktu gerarnya kurang dari 15%.


SRSS (Square Root of the Sum of Squares)
Untuk struktur gedung tidak beraturan yang memiliki waktu getar alami
yang berjauhan.
c. Input Response Spectra
Faktor keutamaan (I)

= 1 (untuk gedung perkantoran)

Faktor reduksi gempa (R)

= 8,5 (untuk daktalitas penuh)

Faktor skala gempa arah X

= (G x I)/ R = 9,81 x 1/ 8,5 = 1,15

Faktor skala gempa arah Y

= 30% x Gempa arah X = 0,346

RS G R O U P

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung dengan ETABS

RS G R O U P

AZZA REKA STRUKTUR

Response Spectrum Case Data dengan ETABS ditunjukkan pada Gambar berikut :

Gambar 8.43. Response Spectrum

Gambar 8.44. Response Spectrum

Case Gempa Arah X (RSPX)

Case Gempa Arah Y (RSPY)

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung dengan ETABS


AZZA REKA STRUKTUR

8.4.4. Analisis
History

Gempa

Dinamik

Time

Berdasarkan SNI Gempa 03-1726-2002 Pasal 7.3.1. Perhitungan respons dinamik struktur
gedung terhadap pengaruh gempa rencana, dapat dilakukan dengan metode analisis
dinamik 3 dimensi berupa analisis respons dinamik linier dan non linier time
history (riwayat waktu) dengan suatu akselerogram gempa yang diangkakan sebagai
gerakan tanah masukan.

Percepatan muka tanah asli dari gempa masukan harus

diskalakan ke taraf
Ao x I
.
R

pembebanan gempa nominal tersebut, sehingga nilai percepatan puncak A =


Dimana :

A = percepatan puncak gempa rencana pada taraf pembebanan nominal sebagai


gempa masukan untuk analisis respons dinamik linier riwayat waktu
struktur gedung.
Ao = percepatan puncak muka tanah akibat pengaruh gempa rencana
berdasarkan wilayah gempa dan jenis tanah tempat struktur gedung
I

= faktor keutamaan gedung ( I =1, untuk gedung perkantoran).

R = faktor reduksi gempa berdasarkan SNI Gempa 03-1726-2002 Pasal 4.3.6


Besarnya nilai percepatan puncak muka tanah akibat pengaruh gempa rencana (Ao)
ditunjukkan pada Tabel berikut.
Tabel 8.15. Percepatan Puncak Batuan Dasar dan Percepatan Puncak Muka Tanah
Zona Gempa Indonesia

Maka besarnya nilai A =

Ao x
I
R

0,23 x

1
8,
5

= 0,027 g

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung dengan ETABS


AZZA REKA STRUKTUR

Instalasi program ETABS yang standard biasanya belum bisa digunakan untuk analisis
gempa dinamik dengan Time History, maka program harus dimodifikasi dulu dengan cara
klik instalasi program/ install ulang, kemudian Modify Time History Function This
Feature will be installed on local hard drive.

Gambar 8.45. Modifikasi Program ETABS untuk Analisis Gempa Time History
Setelah program mempunyai fitur yang lengkap untuk analisis gempa dinamik, data
akselerogram Gempa El Centro dapat diinput otomatis dari ETABS dengan cara Define Time History Functions- Function From File Add New Function Browse.

Gambar 8.46. Input Akselerogram El Centro pada ETABS

RS G R O U P

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

AZZA REKA STRUKTUR

Nilai percepatan puncaknya gempa El Centro sebesar 0,3194 g dapat diketahui dengan
View File. (Keterangan : T adalah periode dan a adalah percepatan gempa).

Gambar 8.47. Nilai Percepatan Puncaknya Gempa El centro Sebesar 0,3194 g


Agar percepatan akselerogram tersebut sesuai target, maka diperlukan faktor
pengali sebagai berikut :
Faktor skala = (0,027 / 0,3194) x 9,81 = 0,8289.
Dengan 30% arah tegak lurusnya

= 0,03 x 0,8289 = 0,284.

Gambar 8.48. Detail Hubungan Antara Periode (T) dengan Akselerasi Gempa

RS G R O U P

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

AZZA REKA STRUKTUR

Berdasarkan Gambar 8.48, waktu rekaman total gempa El Centro adalah 12,113 detik
dengan interval waktu rata- rata (Output Time Step Size) 0,05 detik. Maka besarnya
Number of Output Time Steps adalah waktu total dibagi interval waktu rata- rata =
12,113 / 0,05
= 242,26 242. Nilai tersebut

diinput

ke ETA BS dengan cara Define- Time

History Cases-Add New History untuk arah X dan Y dengan redaman struktur beton
(damping) sebesar 5% sesuai SNI Gempa 03-1726- 2002 Pasal 7.2.3.

Gambar 8.49. Input Case Time History Arah X (ThX)

Gambar 8.50. Input Case Time History Arah Y (ThY)

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

RS G R O U P

AZZA REKA STRUKTUR

9. Kontrol dan Analisis


Setelah pemodelan struktur dan pembebanan selesai dilakukan, maka struktur perlu dicek
terhadap standard dan persyaratan yang berlaku sebagai berikut.

9.1. Analisis Ragam Respons Spektrum


Pada SNI Gempa 03-1726-2002 Pasal 7.2.2 disebutkan bahwa untuk struktur gedung
yang memiliki waktu getar alami yang berdekatan atau selisih nilainya kurang dari 15%,
harus dilakukan dengan metoda yang dikenal dengan Kombinasi Kuadratik Lengkap
(Complete Quadratic Combination atau CQC). Jika waktu getar alami yang berjauhan,
penjumlahan respons ragam tersebut dapat dilakukan dengan metoda yang dikenal
dengan Akar Jumlah Kuadrat (Square Root of the Sum of Squares atau SRSS).
Waktu getar alami tersebut dapat diketahui dengan ETABS dengan cara Run Display
Show Table Analysis Result Modal Information Table : Modal Participating Mass
Ratios.

RS G R O U P

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

AZZA REKA STRUKTUR

Gambar 9.1. Data Waktu Getar Struktur untuk 12 Mode


Untuk menentukan tipe analisis ragam respons spektrum yang sesuai, maka selisih
dari periode dihitung sebagai berikut :
Tabel 9.1. Perhitungan Selisih Periode (T) setiap Mode
Mode

Period (T)

T (%)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

0,787691
0,736565
0,718391
0,233087
0,207518
0,207291
0,119487
0,104193
0,102134
0,077075
0,066855
0,065707

6,49
2,47
67,55
10,97
0,11
42,36
12,80
1,98
24,54
13,26
1,72
13,65

Keterangan :
T : Selisih periode/ waktu getar yang dihitung dengan cara = (T1 T2) / T1 x 100%
dan seterusnya.
Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan pada Tabel 9.1,terlihat bahwa waktu getar
struktur ada yang melebihi 15%, maka sebaiknya digunakan kombinasi ragam spektrum
SRSS sesuai dengan persayaratan SNI Gempa 03-1726-2002 Pasal 7.2.2.

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

RS G R O U P

AZZA REKA STRUKTUR

Modifikasi tersebut dapat dilakukan dengan cara Define Response Spectrum Cases
Modify Show Spectrum Modal Combination.

Gambar 9.2. Modifikasi Kombinasi Ragam Spektrum menjadi Tipe


SRSS

9.2. Partisipasi Massa


Pada SNI Gempa 03-1726-2002 Pasal 7.2.1 disebutkan bahwa jumlah ragam vibrasi
yang ditinjau dalam penjumlahan respons harus menghasilkan partisipasi massa
minimum
90%. Dalam ETABS besarnya partisipasi massa tersebut dapat diketahui dengan Run
Display Show Table Analysis Result Modal Information Table : Modal
Participating Mass Ratios.

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

RS G R O U P

AZZA REKA STRUKTUR

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

RS G R O U P

AZZA REKA STRUKTUR

Gambar 9.3. Jumlah Partisipasi Massa pada 12 Mode (kurang dari 90%)
Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakuka n, jumlah partisipasi massa pada Mode ke
12 masih belum mencapai 90%. Maka jumlah mode harus ditambah dengan cara
Analyze Set Analysis Option Set Dynamic Parameters Number of Modes.

Gambar 9.4. Peningkatan Jumlah Mode agar Partisipasi Massa Menjadi Lebih dari
90%

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

RS G R O U P

AZZA REKA STRUKTUR

Berdasarkan hasil modifikasi peningkatan jumlah Mode, telah didapatkan jumlah partisipasi
massa minimum lebih dari 90%. Hal ini telah sesuai dengan Pasal SNI Gempa 03-

17262002 Pasal 7.2.1.

Gambar 9.5. Jumlah Partisipasi Massa pada 22 Mode (lebih dari 90%)

9.3. Gaya Geser Dasar Nominal, V (Base Shear)


Pada SNI Gempa 03-1726-2002 Pasal 7.1.3 disebutkan bahwa : Nilai akhir respons dinamik
struktur gedung terhadap pembebanan gempa nominal akibat pengaruh gempa rencana
dalam suatu arah tertentu, tidak boleh diambil kurang dari 80% nilai respons ragam yang
pertama. Bila respons dinamik struktur gedung dinyatakan dalam gaya geser dasar nominal
V, maka persyaratan tersebut dapat dinyatakan menurut persamaan berikut :
Vdinamik > 0,8 Vstatik
Cara menampilkan base shear akibat beban gempa statik dan dinamik dapat
dilakukan dengan cara Run Display Show Table Pilih Load Case untuk EQx, EQy,
RSPx, RSPy, THx dan THy.

RS G R O U P

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

AZZA REKA STRUKTUR

Gambar 9.6. Seleksi Load Case untuk Perhitungan Base Shear


Agar seleksi data dapat dipilih dengan lebih muda, Load Case bisa dipilih satu per
satu. Mulai dari EQx, EQy, RSPx, RSPy, THx dan THy. Jumlah base shear untuk masingmasing gempa dijumlahkan seperti ditunjukkan pada Tabel berikut :
Tabel 9.2. Hasil Penjumlahan Base Shear untuk Masing- masing Gempa
Tipe Beban Gempa
Statik

Dinamik

EQX
EQY
RSPX
RSPY
THX
ThY

Fx (kN)

Fy (kN)

80% Statik X

80% Statik Y

-11265,51
-1805,27
4019,28
1447,92
3493,41
1193,05

-1688,17
-12057
1572,7
4275,77
1309,93
3787,4

-9012,408
-1444,216

-1350,536
-9645,592

Dari Tabel tersebut disimpulkan persyaratan gaya geser gempa dinamik belum terpenuhi
(Vdinamik < 0,8 Vstatik), maka besanya Vdinamik harus dikalikan nilainya dengan faktor skala
0,8 V statik
V dinamik

a. Faktor Skala Gempa Dinamik Respon Spektrum :


9012,408

Arah X = 4019,28 = 2,24


Arah Y =

9645,592

4275,77

Aplikasi Perencanaan Struktur Gedung


dengan ETABS

= 2,55

RS G R O U P

AZZA REKA STRUKTUR

Nilai faktor skala yang telah dikoreksi tersebut diinput ke ETABS dengan cara Define
Response Spectrum Cases Modify/ Show Spectrum.

U1 = 1,154 x 2,24 = 2,585


U2 = 0,30 x 2,585 = 0,775

Gambar 9.7. Modifikasi Faktor Skala Gempa Dinamik Respon Spektrum X (RSPX)

U1 = 0,30 x 2,943 = 0,883


U2 = 1,154 x 2,55 = 2,943

Gambar 9.8. Modifikasi Faktor Skala Gempa Dinamik Respon Spektrum Y (RSPY)

b. Faktor Skala Gempa Dinamik Time History :


9012,408

Arah X = 3493,41 = 2,58


= 2,34

Arah Y =
9645,592
3787,4

Nilai faktor skala yang telah dikoreksi tersebut diinput ke ETABS dengan cara Define
Time History Cases Modify/ Show Spectrum.

Dir 1 = 0,8289 x 2,58= 2,14


Dir 2 = 0,30 x 2,14 = 0,642

Gambar 9.9. Modifikasi Faktor Skala Gempa Dinamik Time History X (THX)

Dir 2 = 0,8289 x 2,34 = 1,94


Dir 1 = 0,30x 1,94= 0,582

Gambar 9.9. Modifikasi Faktor Skala Gempa Dinamik Time History Y (THY)

9.4. Kinerja Sruktur Gedung


9.4.1. Kinerja Batas Layan
Pada SNI Gempa 03-1726-2002 Pasal 8.1 disebutkan bahwa kinerja batas layan struktur
gedung ditentukan oleh simpangan antar tingkat akibat pengaruh gempa rencana, yaitu
untuk membatasi terjadinya pelelehan baja, peretakan beton yang berlebihan, mencegah
kerusakan non struktur dan ketidaknyamanan penghuni.
Simpangan antar tingkat yang diizinkan tidak boleh melampaui 0,03/R x tinggi
tingkat yang bersangkutan atau 30 mm. Diambil yang terkecil. Besarnya simpangan yang
terjadi tersebut dapat diketahui pada ETABS dengan cara Run Display Show Story
Respons Plot. Besarnya simpangan arah X akibat gempa statik ditunjukkan sebagai
berikut.

Gambar 9.10. Besarnya Simpangan akibat Beban Gempa Statik Arah X

Besarnya simpangan arah Y akibat gempa statik ditunjukkan sebagai berikut.

Tabel 9.11. Besarnya Simpangan akibat Beban Gempa Statik Arah Y

Perhitungan kinerja batas layan akibat simpangan arah X dan Y dapat dibaca dari grafik

dan
dihitung sebagai berikut.
Perubahan simpangan, S = simpangan lantai atas - simpangan lantai dibawahnya.
Simpangan yang diizinkan = 0,03/R x tinggi tingkat yang bersangkutan atau 30 mm

Tabel 9.3. Kinerja Batas Layan Akibat Simpangan Gempa Statik X


No

Lantai

Tinggi tingkat
(mm)

Simpangan
(mm)

S (mm)

Diizinkan (mm)

Ket.

1
2
3
4
5
6
7
8
9

Tie Beam
Lantai 1
Lantai 2
Lantai 3
Lantai 4
Lantai 5
Lantai 6
Lantai 7
Atap

1000
3600
3600
3600
3600
3600
3600
3600
2500

0,59
3,80
9,17
14,93
20,59
25,56
29,85
33,27
34,15

0,59
3,21
5,37
5,76
5,66
4,97
4,29
3,42
0,88

3,53
12,71
12,71
12,71
12,71
12,71
12,71
12,71
8,82

OK
OK
OK
OK
OK
OK
OK
OK
OK

Tabel 9.4. Kinerja Batas Layan Akibat Simpangan Gempa Statik Y


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Lantai
Tie Beam
Lantai 1
Lantai 2
Lantai 3
Lantai 4
Lantai 5
Lantai 6
Lantai 7
Atap

Tinggi tingkat
(mm)

Simpangan
(mm)

S (mm)

Diizinkan (mm)

Ket.

1000
3600
3600
3600
3600
3600
3600
3600
2500

0,39
3,41
8,10
13,37
18,63
23,71
28,29
32,10
34,63

0,39
3,02
4,69
5,27
5,26
5,08
4,58
3,81
2,53

3,53
12,71
12,71
12,71
12,71
12,71
12,71
12,71
8,82

OK
OK
OK
OK
OK
OK
OK
OK
OK

9.4.2. Kinerja Batas Ultimit


Pada SNI Gempa 03-1726-2002 Pasal 8.2.1 disebutkan bahwa kinerja batas ultimit
struktur gedung ditentukan oleh simpangan dan simpangan antar tingkat maksimum
struktur gedung akibat pengaruh gempa rencana dalam kondisi struktur gedung di
ambang keruntuhan, yaitu untuk membatasi kemungkinan terjadinya keruntuhan struktur
gedung yang dapat menimbulkan korban jiwa manusia dan untuk mencegah benturan
berbahaya antar gedung atau antar bagian struktur gedung yang dipisah dengan sela
pemisah (sela dilatasi).
Simpangan dan simpangan antar tingkat ini harus dihitung dari simpangan struktur
gedung akibat pembebanan gempa nominal, dikalikan dengan suatu faktor pengali =
0,7 x R (untuk gedung beraturan).
Dalam Pasal 8.2.2, disebutkan bahwa dalam segala hal simpangan antar tingkat
yang dihitung dari simpangan struktur gedung untuk batas ultimit tidak boleh melampaui
0,02 kali tinggi tingkat yang bersangkutan.

Perhitungan simpangan untuk kinerja batas ultimit ditunjukkan sebagai berikut :


Faktor pengali,

= 0,7 x R
= 0,7 x 8,5 = 5,95

Simpangan yang diizinkan, max = 0,02 x H

Tabel 9.5. Kinerja Batas Ultimit Akibat Simpangan Gempa Statik X


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Tinggi tingkat
(mm)

Lantai
Tie Beam
Lantai 1
Lantai 2
Lantai 3
Lantai 4
Lantai 5
Lantai 6
Lantai 7
Atap

1000
3600
3600
3600
3600
3600
3600
3600
2500

Simpangan
(mm)
0,59
3,80
9,17
14,93
20,59
25,56
29,85
33,27
34,15

Sx

Diizinkan (mm)

Ket.

3,51
19,10
31,95
34,27
33,68
29,57
25,53
20,35
5,24

20,00
72,00
72,00
72,00
72,00
72,00
72,00
72,00
50,00

OK
OK
OK
OK
OK
OK
OK
OK
OK

Tabel 9.6. Kinerja Batas Ultimit Akibat Simpangan Gempa Statik Y


No

Lantai

Tinggi tingkat
(mm)

Simpangan
(mm)

Sx

Diizinkan (mm)

Ket.

1
2
3
4
5
6
7
8
9

Tie Beam
Lantai 1
Lantai 2
Lantai 3
Lantai 4
Lantai 5
Lantai 6
Lantai 7
Atap

1000
3600
3600
3600
3600
3600
3600
3600
2500

0,39
3,41
8,1
13,37
18,63
23,71
28,29
32,1
34,63

2,32
17,97
27,91
31,36
31,30
30,23
27,25
22,67
15,05

20,00
72,00
72,00
72,00
72,00
72,00
72,00
72,00
50,00

OK
OK
OK
OK
OK
OK
OK
OK
OK

10. Perhitungan Struktur dengan ETABS


10.1. Peraturan yang Digunakan
Peraturan yang digunakan adalah SNI Struktur Beton untuk Gedung 03-2847-2002 yang
mengadopsi peraturan ACI 318-99. Perbedaan yang harus disesuaikan adalah faktor
reduksi untuk SNI Beton Indonesia. Perbedaan faktor reduksi tersebut karena masih
lemahnya

tingkat

pengawasan

kerja

dan

mutu

untuk

proyek

konstruksi di

Indonesia. Faktor reduksi berdasarkan SNI Beton 03-2847-2002 Pasal 11.3 adalah sebagai
berikut.
Reduksi lentur (bending)

= 0,8

Reduksi geser (shear)

= 0,75

Nilai reduksi tersebut dapat diganti pada ETABS dengan cara Options Preferences
Concrete Frame Design.

Gambar 10.1. Penyesuaian Faktor Reduksi sesuai SNI Beton 03-2847-2002

10.2. EfektivitasPenampang
Pada struktur beton

pengaruh keretakan beton harus diperhitungkan terhadap

kekakuannya. Maka, momen inersia penampang unsur struktur dapat ditentukan sebesar
momen inersia penampang utuh dikalikan dengan persentase efektifitas penampang
berdasarkan SNI Beton 03-2847-2002 Pasal 12.11 sebagai berikut.
Balok

= 0,35 Ig

Kolom

= 0,70 Ig

Dinding struktural

= 0,35 Ig

Nilai persentase efektifitas penampang tersebut diinput ke ETABS dengan cara Define
Frame Sections Modify/ Show Property Set Modifiers.

Gambar 10.2. Contoh Input Nilai Persentase Efektifitas Penampang Balok

Gambar 10.3. Contoh Input Nilai Persentase Efektifitas Penampang Kolom

Gambar 10.4. Input Nilai Persentase Efektifitas Penampang Shear Wall

10.3. Analisis Gaya Dalam


Analisis untuk mengetahui besarnya gaya dalam berupa momen dan gaya geser
dapat dilakukan dengan cara Analyze Run Analyze. Kemudian Display Show
Member Forces/ Stress Diagram Frame/ Pier/ Spandrel Forces.
Keterang
an :
) Axial Force

: untuk menampilkan gaya aksial.

) Shear 2-2
sumbu 2-2.

: untuk menampilkan gaya geser pada

) Shear 3-3
sumbu 3-3.

: untuk menampilkan gaya geser pada

) Torsi

: untuk menampilkan besarnya torsi.

) Moment 2-2
sumbu 2-2.

: untuk menampilkan momen pada

) Moment 3-3
sumbu 3-3.

: untuk menampilkan momen pada

) Fill Diagram

: untuk menampilkan warna pada


diagram momen dan gaya geser.

) Show Values on Diagram : untuk menampilkan nilai


pada diagram momen dan gaya geser.

Gambar 10.5. Pilihan untuk Menampilkan Diagram Momen dan Gaya Geser

Diagram momen dan gaya geser yang terjadi akibat berbagai macam
kombinasi pembebanan ditunjukkan pada Gambar berikut.

Gambar 10.6. Diagram Momen dan Gaya Geser Akibat Beban Mati dan Hidup

Gambar 10.7. Diagram Momen dan Gaya Geser Akibat Gempa Statik Arah X

Gambar 10.8. Diagram Momen dan Gaya Geser Akibat Gempa Dinamik Time
History

Setelah di Run, Struktur dapat dianalisa kekuatannya dalam menahan berbagai macam
beban yang ada dengan cara Design Concrete Frame Design Start Design/ Start of
Structure.

Gambar 10.9. Pengecekan Struktur dengan ETABS

Beberapa frame balok yang berwarna merah (Overstress) dapat dimodifikasi


dengan cara : memeriksa kembali pemodelan struktur, meningkatkan mutu
material, atau memperbesar dimensi.

10.4. Penulangan Balok


Luas tulangan utama balok secara otomatis dapat diketahui dengan cara Design
Concrete Frame Design Display Design Info Longitudinal Reinforcing. Balok yang
akan dianalisis ditunjukkan pada Gambar berikut.

Gambar 10.10. Tampak Luas Tulangan Utama Balok Arah Memanjang

Luas tulangan geser (sengkang) secara otomatis dapat diketahui dengan cara Design
Concrete Frame Design Display Design Info Shear Reinforcing.

Gambar 10.11. Tampak Luas Tulangan Geser (sengkang) Arah Memanjang


Luas tulangan torsi secara otomatis dapat diketahui dengan cara Design Concrete Frame
Design Display Design Info Torsion Reinforcing.

Gambar 10.12. Tampak Luas Tulangan Torsi Arah Memanjang

Detail besarnya momen, gaya geser, torsi, dan luas tulangan balok yang ditinjau
dapat diketahui dengan cara klik kanan elemen, kemudian Summary.

Gambar 10.13. Detail Informasi Momen, Luas Tulangan, Gaya Geser, dan
Torsi, Balok yang Ditinjau

10.4.1. Desain Tulangan Utama Balok


Detail luas tulangan utama yang ditinjau pada Gambar 10.10 ditunjukkan sebagai berikut.
1962
951

Daerah tumpuan

63
6
91
0

Daerah lapangan

2001
969

Daerah tumpuan

Digunakan tulangan ulir diameter 22 (D22) As = d

2
2

= x 3,14 x 22 = 380 mm

a. Tulangan utama daerah tumpuan :


2

Luas tulangan bagian atas = 2001 mm jumlah tulangan = 2001 / 380 = 5,3 6
2

Luas tulangan bagian bawah = 969 mm jumlah tulangan = 969 / 380 = 2,6 3

b. Tulangan utama daerah lapangan :


2

Luas tulangan bagian atas = 636 mm jumlah tulangan = 636 / 380 = 1,67 2
2

Luas tulangan bagian bawah = 910 mm jumlah tulangan = 910 / 380 = 2,4 3

10.4.2. Desain Tulangan Geser (sengkang)


Detail luas tulangan geser (sengkang) yang ditinjau pada Gambar 10.11
ditunjukkan sebagai berikut.

0.861

Daerah tumpuan

0.501

Daerah lapangan

0.878

Daerah tumpuan

Digunakan tulangan polos diameter 10 As = d

2
2

= x 3,14 x 10 = 78,5 mm

a. Tulangan geser daerah tumpuan :


Asumsi digunakan sengkang 2P10- 150 (sengkang 2 kaki diameter 10 mm setiap jarak 150
2

mm), maka luas tulangan per 1 m = 2 x d x 1000/150


2

= 2 x x 3,14 x 10 x 1000/150 = 1507 mm .


2

Sehingga luas tulangan per meter panjang = 1507 /1000 = 1,507 mm / mm.
Kontrol keamanan : 1,507 > 0,878 sengkang aman dan mampu menahan gaya geser

b. Tulangan geser daerah lapangan :


Asumsi digunakan sengkang 2P10- 200 (sengkang 2 kaki diameter 10 mm setiap jarak 200
2

mm), maka luas tulangan per 1 m = 2 x d x 1000/200


2

= 2 x x 3,14 x 10 x 1000/200 = 785 mm .


2

Sehingga luas tulangan per meter panjang = 785 /1000 = 0,785 mm / mm.
Kontrol keamanan : 0,785 > 0,501 sengkang aman dan mampu menahan gaya geser.

10.4.3. Desain Tulangan Torsi


Detail dari luas tulangan torsi pada balok yang ditinjau pada Gambar 10.12
ditunjukkan sebagai berikut.
0.739

0.48
9
127
4

1274

0.74
0
1274

Bagian atas menunjukkan luas tulangan torsi untuk sengkang dan bagian bawah
menunjukkan luas tulangan torsi untuk tulangan utama (atas dan bawah). Karena luas
tulangan torsi lebih kecil dari luas tulangan utama dan sengkang, maka tidak diperlukan
tulangan untuk torsi.

10.4.4. Desain Tulangan Badan


Dimensi balok yang relatif tinggi (lebih dari 400 mm) membuat resiko retak pada
bagian badan semakin besar. Maka harus diberi tulangan pinggang dengan jarak
antar tulangan maksimal d/6 atau 300 mm (diambil yang terkecil).
Perhitungan d = tinggi balok - selimut - Dsengkang - Dtul. utama
= 700- 40- 10- ( x 22) = 639 mm
Maka diambil jarak tulangan minimum 300 mm, sehingga dengan tinggi balok 700
mm digunakan 2 buah tulangan badan pada masing- masing sisi.

10.4.5. Kontrol Persyaratan Balok pada SRPMK


Berdasarkan SNI Beton 03-2847-2002 Pasal 23.3 komponen struktur lentur SRPMK
harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. Gaya aksial terfaktor pada balok dibatasi maksimum 0,1x Ag x fc
Cek : 0,1 x Ag x fc = 0,1 x 400 x 700 x 30 Mpa = 840 kN.
Dari perhitungan ETABS gaya aksial yang terjadi adalah 0. Nilai tersebut
dapat diketahui dengan Run Display Show Table Frame Output Beam
Forces. Jadi 0 < 840 kN OK.

b. Bentang bersih struktur minimal 4x tinggi efektifnya.


Tinggi efektif = (d) = 700 (40 + 10 + x 22) = 639 mm x 4 = 2556 mm.
Bentang bersih balok = bentang balok - dimensi kolom = 7200 700 = 6500
mm. Jadi 6500 mm > 2556 mm OK.
c. Perbandingan lebar dan tinggi minimal 0,3
b = 400 mm, h = 700 mm, b/ h = 400/ 700 = 0,57.
Jadi 0,57 > 0,3 OK.
d. Lebar elemen tidak boleh :
Kurang dari 250 mm
b = 400 mm > 250 mm OK.
Melebihi lebar komponen struktur pendukung (diukur pada bidang tegak
lurus terhadap sumbu longitudinal komponen struktur lentur) + jarak
pada tiap sisi komponen struktur pendukung yang tidak melebihi dari
tinggi struktur lentur.
Jadi b = 250 mm < 700 mm OK.
e. Persyaratan Tulangan Longitudinal
Luas tulangan atas dan bawah tidak boleh kurang dari persyaratan
tulangan minimum untuk struktur lentur sesuai SNI Beton 03-2847-2002 Pasal
12.5 :
Asmin =

fc
4

xbxd=

30
4x

x 400 x 639 = 874,98 mm

400

fy
1,4

Asmin =

fy

x b x d = 1,4 x 400 x 639/ 400 = 894,6 mm

Berdasarkan output tulangan pada Gambar 10.10, luas tulangan di daerah


2

lapangan bagian atas 636 mm dan bagian bawah 910 mm , sehingga luas
tulangan total =
2

1546 mm > 894,6 mm OK.


Cek rasio tulangan :
As

1546

=
bx

= 0,00604
400 x
639

0,85 x
fc

600

( 600
+fy

) = 0,85

fy

0,85 x
30

600

(600

+400

) = 0,0325

400

max = 0,75 x b = 0,75 x 0,0325 = 0,0243


Berdasarkan SNI Beton 03-2847-2002 Pasal 23.3.2, batas rasio tulangan
yang digunakan adalah 0,025.
Jadi < max dan < 0,025 OK.
f. Persyaratan Tulangan Geser
Tulangan geser/ sengkang yang dipasang pada sendi plastis harus
memenuhi persyaratan sebagai berikut :
Sengkang tertutup pertama harus dipasang 50 mm dari muka tumpuan.
Jarak sengkang tidak boleh lebih = dari d/4
Cek : jarak sengkang tumpuan 150 mm < 639/4 = 159 OK.
Jarak sengkang tidak boleh lebih dari 8Dutama.
Cek : jarak sengkang tumpuan 150 mm < 8 x 22 = 176 OK.
Jarak sengkang tidak boleh lebih dari 24Dsengkang.
Cek : jarak sengkang tumpuan 150 mm < 24 x 10 = 240 OK.
Jarak sengkang tidak melebihi 300 mm.
Cek : jarak sengkang tumpuan 150 mm < 300 OK.
Jarak sengkang maksimum di sepanjang balok adalah d/2
Cek : jarak sengkang lapangan 250 mm < 639/2 = 319 mm OK.

10.4.6. Gambar Detail Penulangan Balok


Detail penulangan balok berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan ditunjukkan
pada
Gambar berikut.

Gambar 10.14. Detail Penulangan Balok

10.5. Penulangan Kolom


Luas tulangan utama kolom secara otomatis dapat diketahui dengan cara Design
Concrete Frame Design Display Design Info Longitudinal Reinforcing. Kolom yang
akan dianalisis ditunjukkan pada gambar berikut.

Gambar 10.15. Tampak Luas Tulangan Utama Kolom Arah Memanjang


Luas tulangan geser (sengkang) secara otomatis dapat diketahui dengan cara Design
Concrete Frame Design Display Design Info Shear Reinforcing.

Gambar 10.16. Tampak Luas Tulangan Geser (sengkang) Kolom Arah


Memanjang

Gambar 10.17. Detail Informasi Luas Tulangan, Momen, Gaya Geser, dan
Torsi, Kolom yang Ditinjau

Untuk menampilkan diagram interaksi kolom yang ditinjau, dapat dilakukan dengan
cara klik kanan kolom, kemudian Interaction.

Gambar 10.18. Diagram Interaksi Kolom yang


Ditinjau

10.5.1. Desain Tulangan Utama Kolom


Detail dari luas tulangan utama kolom yang ditinjau = 4900
2

mm . Digunakan tulangan ulir diameter 22 As = d

2
2

= x 3,14 x 22 = 380 mm

Maka jumlah tulangan yang dibutuhkan = 4900/ 380 = 13 digunakan 16 tulangan agar
dapat tersebar disemua sisi kolom. Jadi tulangan utama kolom adalah 16D22.

10.5.2. Desain Tulangan Geser Kolom


Dari ETABS detail luas tulangan geser (sengkang) kolom yang ditinjau = 1,005
2

mm . Digunakan tulangan polos 3P 10 As = 4 x d

2
2

= 3 x x 3,14 x 10 = 235,5 mm

Jarak sengkang = 235,5 / 1,005 = 234,3 mm digunakan 120 mm (sesuai persyaratan).


Jadi tulangan geser (sengkang) kolom adalah 3P10- 120.

10.5.3. Kontrol Persyaratan Kolom pada SRPMK


Berdasarkan SNI Beton 03-2847-2002 Pasal 23.4 komponen struktur yang
menerima kombinasi lentur dan aksial pada SRPMK harus memenuhi persyaratan
sebagai berikut :
a. Gaya aksial terfaktor maksimal yang bekerja pada kolom harus melebihi
0,1 x Ag x fc
2

Cek : 0,1 x (700 mm x 700 mm) x 30 N/mm = 1470 kN.


Dari hasil analisis ETABS diperoleh Pu sebesar 2257
kN Jadi 2257 > 1470 OK.
b. Sisi terpendek kolom tidak boleh kurang dari 300 mm.
Cek : lebar penampang kolom 700 mm > 300 mm OK.
c. Rasio dimensi tidak boleh kurang dari 0,4
Cek : lebar penampang kolom 700 mm > 300 mm OK.

d. Persyaratan Tulangan Geser


Tulangan geser/ sengkang kolom yang dipasang harus memenuhi persyaratan
sesuai SNI Beton 03-2847-2002 Pasal 23.4 .4.2 bahwa jarak maksimum sengkang
dipilih yang terkecil diantara:
dimensi penampang kolom terkecil.
Cek : jarak sengkang kolom di tumpuan 120 mm < x 700 = 175 mm (OK)
Jarak sengkang tidak boleh lebih dari 6Dutama.
Cek : jarak sengkang kolom di tumpuan 120 mm < 6 x 22 = 132 OK.

e. Kuat Kolom
Berdasarkan SNI Beton 03-2847-2002 Pasal 23.4.2.2

kuat kolom harus

memenuhi persyaratan Mc 1,2 Mg.


Dimana :
Mc = Jumlah Mn dua kolom yang bertemu di join,
Mg = Jumlah Mn dua balok yang bertemu di join,
Detail penampang kolom yang dianalisis ditunjukkan sebagai berikut.

Gambar 10.19. Detail Kolom yang Ditinjau (warna merah)


dengan
Mempertimbangkan Balok yang Menumpu dan Kolom di Atasnya (warna
hijau)

Gambar 10.20. Detail Luas Tulangan Kolom dan Balok yang ditinjau untuk
Kontrol
Strong Column Weak Beam
Besarnya Mn balok dapat diketahui dari luas tulangan seperti ditunjukkan pada
Gambar 10.20 sebagai berikut :
Luas tulangan tumpuan balok kiri
Tinggi blok regangan, a =

= 1984 + 961 = 2945 mm

As x
fy

0,85 x fc x
b

2945 x 400

0,85 x 30 x 400

Momen nominal, Mn

= 115 mm

= x As x fy x (d - a/2)
-6

= 0,8 x 2945 x 400 x (639 -115/2) x 10 = 548 kNm


Luas tulangan tumpuan balok kanan = 1998 + 967 = 2965 mm
Tinggi blok regangan, a =
=

As x
fy
0,85 x fc x b
2965 x 400

0,85 x 30 x 400

= 116 mm

Momen nominal, Mn

= x As x fy x (d a/2)
-6

= 0,8 x 2965 x 400 x (639 -116/2) x 10 = 551 kNm

Maka, jumlah Mn dua balok yang bertemu di join adalah :


Mg = Mn balok kiri + Mn balok kanan
= 548 kNm + 551 kNm
= 1099 kNm
Besarnya Mn pada kolom yang ditinjau dapat diketahui dengan diagram
interaksi kolom sebagai berikut.

1050 kNm

1190 kNm

Gambar 10.21. Diagram Interaksi Kolom yang Ditinjau


Keterangan :
, Gaya aksial terfaktor kolom yang di desain, Pn desain = 2257 kN
Mn

= 1190 kNm

, Gaya aksial terfaktor kolom yang di atas, Pn kolom atas = 1685 kN


Mn
Jadi

= 1050 kNm

Mc 1,2 Mg

1190 + 1190 1,2 x 1374


2240 1649 OK, syarat strong column weak beam terpenuhi.

10.5.4. Gambar Detail Penulangan Kolom


Detail penulangan kolom berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan ditunjukkan pada
Gambar berikut.

Gambar 10.22. Diagram Interaksi Kolom yang


Ditinjau

10.6. Penulangan Plat Lantai


Besarnya nilai tegangan yang terjadi pada plat lantai secara otomatis dapat diketahui
dengan cara Run Display Show Member Forces/ Stress Diagram Shell Stresses/ Forces.

Gambar 10.23. Tegangan yang Terjadi pada Plat Akibat Beban Mati dan Hidup
Dari hasil analis didapatkan Mu = 7,81 kNm
Digunakan tulangan polos P10- 150
Luas tulangan terpakai, As

= x x d x b/S
= x 3,14 x 10 x 1000/150 = 523,33 mm

Tinggi blok regangan,

a =

As x
fy

0,85 x fc x
b

a =

523,33 x 240

= 4,92

mm

0,85 30
1000

Momen nominal, Mn

= As x fy x (d - ) x 10-6
2
0,8 x 10,36
7,81

Syarat : Mn

Mu

4,92

= 523,33 x 240 x (85

-6

) x 10 = 10,36 kNm

8,28 7,81 OK, Plat mampu menerima beban.

10.7. Desain Pondasi


Pondasi yang digunakan adalah pondasi tiang bor (bore pile). Uraian data tanah
dan perhitungan daya dukung pondasi dijelaskan sebagai berikut.

10.7.1. Data Tanah


Hasil uji sondir menunjukka n bahwa kedalaman 0 m 9 m adalah tanah lunak
2

sampai sedang. Dan tanah keras dengan qc >150 kg/cm pada kedalaman -10,00 m.

Gambar 10.24. Uji Sondir pada Kedalaman 0 m 10 m


Hasil uji boring menunjukkan bahwa kedalaman 0 m 9 m adalah tanah lunak
sampai sedang dengan nilai NSPT = 5 10. Tanah keras dengan N > 50 mulai kedalaman
-12 m.

Gambar 10.25. Uji NSPT sampai Kedalaman -12 m

10.7.2. Daya Dukung Pondasi Tiang Bor


Daya dukung aksial tiang terdiri daya dukung ujung dasar tiang dan daya dukung
gesekan permukaan keliling tiang, dikurangi berat sendiri tiang dengan rumusan :
Qu = Q d + Qg - W
Qijin = (Qd + Qg) / FK - W
Dimana :
Qu : daya dukung batas tiang,
Qd : daya dukung batas dasar tiang,
Qg : daya dukung batas gesekan tiang,
W : berat sendiri tiang,
FK : faktor keamanan tiang =3.

a. Daya Dukung Ujung Tiang


Daya dukung ujung tiang untuk beberapa kondisi adalah sebagai
berikut. i)

Untuk tanah non kohesif :

Qd = 40 Nb Ap ...(ton) Menurut Mayerhoff (1956)


ii) Untuk dasar pondasi di bawah muka air tanah :
Nb= 15 + 0,5 (N-15)
iii) Untuk tanah berpasir N > 50
Qd < 750 Ap ... (ton) Suyono Sosrodarsono dan Kazuto Nakazawa
Keterangan :
Nb : harga N-SPT pada elevasi dasar tiang < 40
2

Ap : luas penampang dasar tiang (cm )

b. Daya Dukung Gesekan Tiang


i) Menurut Mayerhoff
Qg = 0.20 O (Ni x Li) ...(ton) untuk tiang pancang
Qg = 0.10 O (Ni x Li) ...(ton) untuk tiang bor
ii)

Menurut Suyono Sosrodarsono dan Kazuto Nakazawa :


Qg = O (Ni/2 x Li) ...(ton)

Keterangan :
2

Ni/2 < 12 ton/m

O : keliling penampang tiang


Ni : N-SPT pada segmen i tiang
Li : panjang segmen i tiang

Tabel 10.1. Kuat Dukung Pondasi Bore Pile dengan Berbagai Diameter
D (m)

Ap (m)

W (ton)

Nb

Nb'

Qd (ton)

Qg (ton)

Q.ijin (ton)

0.6
0.8

0.2826
0.5024

9.50
16.88

40
40

27.5
27.5

310.86
552.64

26.38
35.17

102.92
179.06

1
1.2

0.785
1.1304

26.38
37.98

40
40

27.5
27.5

863.5
1243.44

43.96
52.75

276.11
394.08

Besanya nilai beban titik pondasi daat diketahui dengan caraRun Display Show Tables
Analysis Results Reactions Support Reactions.

Gambar 10.26. Besarnya Beban Titik Pondasi

Gambar 10.27. Letak Titik- Titik Pondasi


Dari hasil analisis yang telah dilakukan, diperoleh beban titik pondasi antara 250 ton
800 ton. Berdasarkan Tabel 10.1, jika digunakan pondasi bore pile diameter 80 cm, maka
daya dukung pondasi adalah 179,06 ton.
Jumlah tiang pondasi untuk beban 250 ton = 250/ 179,06 = 1,4 2 tiang
Jadi jumlah tiang pondasi untuk beban 800 ton = 800/ 179,06 = 4,46 5 tiang
Denah layout pondasi bore pile ditunjukkan sebagai
berikut.

Gambar 10.28. Denah Pondasi Bore Pile

11. Perhitungan Estimasi Biaya Pekerjaan Struktur


Besarnya biaya yang dikeluarkan untuk pekerjaan struktur beton dalam proyek gedung
dipengaruhi oleh banyaknya volume beton yang digunakan untuk pengecoran
balok, kolom, shear wall, dan plat lantai. Berat beton untuk konstruksi atas dapat
diketahui dengan cara Display Show Tables Building Data Material List.

Gambar 11.1. Berat Beton Struktur Gedung Perkantoran 8 Lantai (ton)


Output yang ditampilkan tersebut belum termasuk berat tambahan seperti finishing dan
struktur bawah (pondasi), sehingga untuk elemen finishing dan tambahan lainnya serta
pondasi harus dihitung manual.
Output yang ditampilkan adalah dalam berat (ton), maka untuk mengubah nilainya
3

menjadi volume dapat dibagi dengan berat jenis beton 2,4 ton/m . Rincian dari volume
beton untuk masing- masing elemen dapat ditabelkan sebagai berikut.

Tabel 11.1. Berat dan Volume Beton Gedung Perkantoran 8 Lantai


No.
1
2
3
4

Elemen
Kolom
Balok
Wall
Plat Lantai

Berat (ton)
1224,563
3585,88
330,962
3258,048
Total =

Volume (m)
510,23
1494,12
137,90
1357,52
3499,77

Jika diasumsikan biaya pekerjaan beton bertulang per m adalah Rp 2.500.000, maka
estimasi biaya pekerjaan struktur adalah = Volume pekerjaan x harga satuan
= 3499,77 x Rp 2.500.000
= Rp 8.749.425.000

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1983. Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Bangunan Gedung. Yayasan Badan
Penerbit PU, Jakarta.
Anonim, 2002. Tata Cara Perhitungan Struktur Baja untuk Bangunan Gedung SNI 03-17292002. Badan Standarisasi Nasional. Jakarta.
Anonim, 2002. Tata Cara Perencanaan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung. Badan
Standarisasi Nasional. Jakarta.
Anonim, 2002. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung SNI 031726- 2002. Badan Standarisasi Nasional. Jakarta.
Asroni, A. 2010. Balok dan Pelat Beton Bertulang. Graha Ilmu. Yogyakarta.
Asroni, A. 2010. Kolom Fondasi dan Balok T Beton Bertulang. Graha Ilmu. Yogyakarta.
Dewobroto, W., 2007. Aplikasi Perencanaan Konstruksi dengan SAP 2000. Elex
Media
Komputindo. Jakarta.
Imran, I., Hendrik, F., 2010. Perencanaan Struktur Gedung Beton Bertulang Tahan Gempa.
Penerbit ITB. Bandung.
McCormac, Jack C., 2003. Desain Beton Bertulang Edisi Kelima. PT Gelora Aksara Pratama.
Bandung.
Nasution, A. 2009. Analisis dan Desain Struktur Beton Bertulang. Penerbit ITB. Bandung.
Satyarno I., Purbolaras N., R. Indra PP., 2012. Belajar SAP 2000 Analisis Gempa.
Zamil
Publishing. Yogyakarta.
Tavio., Benny Kusuma , 2010. Desain Sistem Rangka Pemikul Momen dan Dinding Struktur
Beton Bertulang Tahan Gempa. Penerbit ITS. Surabaya.

TENTANG PENULIS

Muhammad Miftakhur Riza adalah seorang owner, perencana


struktur dan konsultan pada perusahaan ARS GROUP (Azza Reka
Struktur). Profesinya di dunia rekayasa dimulai sejak menjadi
menjadi mahasiswa teknik sipil di Universitas Gadjah Mada
tahun
2010 berkat bimbingan Ir. Hotma Prawoto, MT dan Agus
Kurniawan, ST., MT., Ph.D.
Pengalaman-

pengalaman proyek yang pernah dikerjakan dan hasil pembelajarannya

ia tuliskan dalam blog :

www.engineerwork.blogspot.com. Ebook ini juga hanya

dijual di website tersebut dan lebih dari 10% dana yang terkumpul akan disumbangkan.

Contact : riza.inc@gmail.co m

RS G R O U P

AZZA REKA STRUKTUR