Anda di halaman 1dari 103

NARSISME BAHASA PADA PELAPORAN KEGIATAN CSR

MELALUI PENDEKATAN SEMIOTIK DALAM


SUSTAINABILITY REPORT PT PLN (PERSERO)
DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN PERSYARATAN
DALAM MEMPEROLEH GELAR SARJANA AKUNTANSI
DEPARTEMEN AKUNTANSI
PROGRAM STUDI AKUNTANSI

DIAJUKAN OLEH
GADIS PURI RAHAYU
NIM: 041013245

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2015

ii

iii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji dan syukur hanya tertuju kepada Allah SWT.
Semoga rahmat, salam, serta hidayah-Nya terlimpah kepada Nabi Muhammad
SAW, para sahabat, dan pengikutnya sampai akhir jaman. Bahwasannya atas
Ridho Allah SWT, dan kehendak-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi
dengan judul Narsisme Bahasa Pada Pelaporan Kegiatan CSR Melalui
Pendekatan Semiotik Dalam Sustainability Report PT PLN (Persero).
Skripsi ini ditulis dalam upaya melengkapi syarat untuk mencapai derajat
Sarjana Strata-1 (S1), dan lebih dari itu, sesungguhnya penelitian ini merupakan
rangkuman dari proses pembelajaran yang telah ditempuh selama masa
perkuliahan. Semoga dengan terselesaikannya skripsi ini, dapat membantu
memberi sumbangsih bagi pihak-pihak yang berkepentingan dan para pembaca.
Skripsi ini penulis persembahkan untuk kedua orang tua penulis, ayah
(Sumardji) dan ibu (Surayah), yang telah senantiasa memberikan doa, dukungan,
serta perhatian kepada penulis.
Dalam penulisan skripsi ini penulis tidak lepas dari berbagai hambatan dan
rintangan. Akan tetapi, berkat bantuan dari berbagai pihak, maka segala macam
hambatan dapat teratasi. Untuk itu, penulis ingin menyampaikan ucapan terima
kasih yang tulus kepada:
1. Prof. Dr. Muslich Anshori, SE., M.Sc., Ak., selaku Dekan Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga.

iv

2. Drs. Agus Widodo M., M.Si., Ak., CMA., selaku Ketua Program Studi
Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga.
3. Prof. Drs. Tjiptohadi S., M.Ec., Ph.D., Ak., selaku dosen pembimbing
yang telah berkenan meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan,
pengarahan, nasihat, serta kritik yang membangun dalam proses
penyelesaian skripsi ini.
4. Seluruh Bapak dan Ibu dosen, serta staf yang telah memberikan bimbingan
dan ilmu selama penulis menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Universitas Airlangga.
5. Adikku tercinta, Arif Raharjo yang selalu memberikan semangat dan
menghibur disaat penulis merasa jenuh.
6. Keluarga besar penulisyang tidak berhenti memberikan semangat dan doa
untuk kelancaran penulisan skripsi ini.
7. Sahabat sekaligus saudara seperjuangan yang senantiasa membantu secara
langsung maupun tidak langsung dalam proses penyelesaian skripsi ini:
Siska Indah Kurniawati, Kak L, Melisa Anita Sari, Anggrainy Bouwita
Tekayadi, dan Shabrina Herawati.
8. Sahabat-sahabatku Eric, Dede, Yudha, Endah, Fani, Dewi, Taufik, Ella,
Panca, Vela, Fian, Dista, Ayu, Dwi, Reynaldi, dan Redy. Terima kasih
atas segala dukungan yang tak henti-hentinya kepada penulis dalam
pengerjaan skripsi, serta kebersamaan dan kekeluargaan yang kalian
berikan selama ini.

9. Teman-teman selama KKN, Adinda Anina, Giovanni, Dian Wahyu, Mas


Ryan, Mbak Nika, Mbak Jihan, serta Mas Kukuh, yang telah berbagi
pengalaman, kebersamaan, kekeluargaan, serta dukungan dan motivasi
selama KKN.
10. Ibu Mieke, Ibu Yusi, Bapak Naryo, serta Ibu Asih yang telah memberikan
pengalaman, bimbingan, serta motivasi selama magang di PGE Kamojang.
11. Seluruh teman-teman yang mendukung dengan semangat dan doa, yang
belum bisa penulis sebutkan satu per satu.

Sebagai manusia biasa, tentu penulis tidak luput dari kesalahan, termasuk
kesalahan dalam penyusunan skripsi ini. Penulis sangat menyadari bahwa salam
pengungkapan, penyajian, pemilihan kata-kata, maupun pembahasan materi,
skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, dengan kerendahan
hati penulis mengharapkan saran, kritik, dan segala bentuk pengarahan dari
berbagai pihak untuk perbaikan skripsi ini.
Seiring dengan ucapan terima ksih diatas, dan segala kekurangan yang
ada, penulis juga mengharapkan agar skripsi ini dapat nermanfaat bagi pihak yang
menggunakannya.
Surabaya, 20 Januari 2015
Penulis,

Gadis Puri Rahayu


vi

ABSTRACT
This study is intended to understand and analyze language narcissism in
sustainability report Perusahaan Listrik Negara, ltd. The purpose of this study is
to understand and analyze why and how corporate social responsibility reporting
practice used narcissism. In addition, this study was intended to understand and
analyze the ways and reasons used by Perusahaan Listik Negara, ltd (PLN) in
delivering and presenting information that is narrative in the sustainability
report.
This study uses semiotic analyses to analyze narrative teks on Perusahaan
Listrik Negara, ltd (PLN) sustainability report. The analyzed data is sustainability
report Perusahaan Listrik Negara, ltd (PLN) is obtained by downloading at
companys website, www.pln.co.id.
Result of this study indicate that Perusahaan Listrik Negara, ltd (PLN) use
language narcissism in sustainability reporting by way of designing such a way as
narrative text in the sustainability report. In addition, this research also showed
that there was language narcicism that can be classified as the comapnys efforts
in forming positive images, avoiding negative images and obtaining legitimation
from the stakeholders.

Keyword: narcissism, sosial responsibility, semiotic analyses, narrative text,


sustainability report.

vii

ABSTRAK
Penelitian ini merupakan penelitian mengenai fenomena narsisme bahasa
dalam pelaporan keberlanjutan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis mengapa dan bagaimana praktik pelaporan
tanggung jawab sosial perusahaan menggunakan narsisme. Selain itu, penelitian
ini juga bertujuan untuk memahami dan menganalisis alasan yang digunakan oleh
PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) dalam menyampaikan dan menyajikan
informasi yang bersifat naratif dalam laporan keberlanjutan.
Penelitian ini menggunakan analisis semiotik atas teks naratif yang
terkandung di dalam laporan keberlanjutan PT Perusahaan Listrik Negara
(Persero). Data yang dianalisis adalah laporan keberlanjutan PT Perusahaan
Listrik Negara (Persero) yang diperoleh dri situs resmi perusahaan, yaitu
www.pln.co.id.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam laporan keberlanjurtannya,
PT PLN (Persero) menggunakan narsisme bahasa dalam pelaporan keberlanjutan
dengan cara mendesain sedemikian rupa teks naratif pada laporan keberlanjutan.
Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa terdapat narsisme bahasa yang
dapat digolongkan sebagai upaya perusahaan dalam membentuk citra yang positif,
dan memperoleh legitimasi dari pemangku kepentingan.

Kata Kunci: narsisme, tanggung jawab sosial, analisis semiotik, teks naratif,
laporan keberlanjutan

viii

DAFTAR ISI

Halaman Judul .............................................................................................. i


Halaman Persetujuan Skripsi ...................................................................... ii
Halaman Pernyataan Orisinalitas Skripsi ................................................. iii
Kata Pengantar ............................................................................................. iv
Abstract .......................................................................................................... vii
Abstrak .......................................................................................................... viii
Daftar Isi ........................................................................................................ ix
Daftar Gambar .............................................................................................. xii

BAB 1 : PENDAHULUAN ........................................................................... 1


1.1. Latar Belakang ........................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah ...................................................................... 7
1.3. Tujuan Penelitian ....................................................................... 8
1.4. Manfaat Penelitian ..................................................................... 9
1.5. Sistematika Penulisan ................................................................ 10

BAB 2 : TINJAUAN PUSTAKA ................................................................. 12


2.1. Landasan Teori ........................................................................... 12
2.1.1. Teori Komunikasi ............................................................ 13
2.1.2. Teori Legitimasi ............................................................... 14
2.1.3. Teori Stakeholders ........................................................... 16
ix

2.1.4. Teori Warna ..................................................................... 17


2.1.5. Akuntansi Sebagai Bahasa Bisnis .................................... 20
2.1.6. Corporate Social Responsibility (CSR) ........................... 21
2.1.6.1. Manfaat Kegiatan CSR ..................................... 22
2.1.6.2. Bias-bias CSR ................................................... 24
2.1.6.3. Media Pengungkapan CSR ............................... 25
2.1.7. Sustainability Report (Laporan Keberlanjutan) ............... 26
2.1.8. Global Reporting Initiative (GRI) ................................... 28
2.1.9. Narsisme .......................................................................... 29
2.1.10. Semiotik ......................................................................... 30
2.1.10.1. Semiotika dalam Akuntansi ............................ 32
2.1.11. Corporate Image (Citra Perusahaan) ............................. 33
2.2. Penelitian Terdahulu .................................................................. 34
2.3. Kerangka Teoritis ....................................................................... 37

BAB 3 : METODE PENELITIAN .............................................................. 39


3.1. Pendekatan Penelitian ................................................................ 39
3.2. Metodologi Penelitian ................................................................ 40
3.3. Rancangan Penelitian ................................................................. 40
3.4. Jenis Data ................................................................................... 41
3.5. Prosedur Pengumpulan Data ...................................................... 42
3.5.1. Dokumetasi ...................................................................... 42
3.5.2. Penelusuran Data Online ................................................. 43
x

3.6. Analisis Data .............................................................................. 44

BAB 4 : HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................... 47


4.1. Gambaran Umum Subjek dan Objek Penelitian ........................ 47
4.2. Analisis Semiotika pada Struktur SR PT PLN (Persero) ........... 48
4.2.1. Sampul Depan Sustainability Report PT PLN ................. 50
4.2.2. Bagian Pengantar Sustainability Report PT PLN ............ 54
4.2.3. Sambutan Direktur Utama SR PT PLN (Persero) ............ 55
4.2.4. Profil Perusahaan ............................................................. 57
4.2.5. Tata Kelola Keberlanjutan ............................................... 59
4.2.6. Pelaporan dan Pengungkapan CSR .................................. 61
4.3. Narsisme Bahasa pada Sustainability Report PT PLN ............. 65
4.3.1. Membentuk Image yang Positif ....................................... 66
4.3.2. Pemerolehan Legitimasi dari Stakeholders ...................... 73
4.4. Media Pengungkapan CSR PT PLN Melalui Media Massa ..... 77

BAB 5 : KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................... 82


5.1. Kesimpulan ................................................................................ 82
5.2. Saran .......................................................................................... 84

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 85

xi

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Kerangka Teoritis .....................................................................

37

Gambar 4.1. Cover Sustainability Report PT PLN Tahun 2012 ...................

57

Gambar 4.2. Cover Sustainability Report PT PLN Tahun 2013 ...................

57

xii

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Laporan keuangan tidak pernah lepas dari dunia akuntansi maupun

perusahaan. Hal itu dikarenakan, laporan keuangan merupakan sebuah alat


komunikasi

perusahaan

yang

digunakan

oleh

manajemen

untuk

mempertanggungjawabkan sumber daya pemilik perusahaan yang sedang


dikelolanya (Belkaoui, 2006).
Laporan keuangan perusahaan berisi laporan posisi keuangan perusahaan
(neraca), laporan perubahan ekuitas, laporan laba rugi, laporan arus kas, serta
catatan atas laporan keuangan selama satu periode akuntansi. Tujuan dari laporan
keuangan adalah untuk memberikan informasi mengenai posisi keuangan
perusahaan kepada para pengguna, yang dapat digunakan untuk membandingkan,
meramalkan, dan mengevaluasi kekuatan suatu perusahaan (Belkaoui, 2006).
Laporan keuangan merupakan kumpulan laporan dari berbagai aktivitas
keuangan perusahaan yang bertujuan untuk menyediakan informasi yang
bermanfaat bagi pihak yang berkepentingan. Oleh karena itu, laporan keuangan
merupakan media komunikasi perantara yang digunakan oleh manajemen
perusahaan untuk menjalin komunikasi mengenai aktivitas yang dikelolanya
dengan pihak-pihak yang berkepentingan dalam perusahaan.
Pada awal kemunculannya, akuntansi hanya difokuskan untuk membuat
laporan keuangan yang terdiri dari beberapa komponen, yaitu laporan laba rugi,
1

laporan perubahan ekuitas, laporan posisi keunagan neraca, laporan arus kas, serta
catatan atas laporan keuangan.
Dengan berkembangnya waktu, maka kebutuhan stakeholders akan
informasi kinerja perusahaan menjadi semakin beragam. Stakeholders tidak hanya
menginginkan informasi kuantitatif, tetapi juga informasi kualitatif (Sakinah,
Wahyu, dan Masud, 2014). Selain itu, stakeholders juga menginginkan
transparasi perusahaan yang lebih baik lagi sebagai wujud tata kelola perusahaan
yang baik atau biasa disebut dengan Good Corporate Governance (Kamayanti
dan Atmadja, 2011). Tuntutan terhadap perusahaan untuk memberikan informasi
yang transparan dan tata kelola perusahaan yang baik, semakin memaksa
perusahaan untuk melaporkan semua aktivitasnya (Mulyanita, 2009). Sehingga,
dalam beberapa dekade tahun terakhir laporan keuangan diwujudkan dalam
bentuk annual report (laporan tahunan).
Annual report merupakan sebuah laporan pertanggungjawaban manajemen
kepada stakeholders. Annual report juga dibuat oleh perusahaan untuk
mengungkapkan tanggungjawab sosial yang dilakukan perusahaan sebagai bentuk
keterbukaan perusahaan kepada stakeholders. Tanggung jawab sosial perusahaan
atau biasa disebut dengan Corporate Social Responsibility (CSR) diwujudkan
oleh perusahaan dengan ikut turut serta dalam kegiatan sosial, perbaikan
lingkungan, serta perbaikan pendidikan masyarakat banyak.
Corporate Social Responsibility (CSR) pada intinya merupakan sebuah
bentuk upaya perusahaan dalam mengimplementasikan kepeduliannya terhadap
masalah sosial, pendidikan, serta lingkungan ke dalam kegiatan usaha perusahaan

(Kamayanti dan Atmadja, 2011). Sebagian besar perusahaan di berbagai sektor


bisnis di Indonesia melakukan pengungkapan Corporate Social Responsibility
(CSR) sebagai motivasi untuk meningkatkan kepercayaan stakeholders terhadap
pencapaian usaha perbaikan lingkungan, perbaikan pendidikan, pelayanan
kesehatan, serta partisipasi perusahaan dalam pengabdian masyarakat.
Annual report sebuah perusahaan selalu memuat informasi kuantitatif dan
informasi kualitatif. Informasi kuantitatif dalam annual report berupa laporan
keuangan yang berisi tentang angka-angka. Sedangkan informasi kualitatif yang
dimuat dalam annual report berupa gambar/ foto, grafik, serta teks naratif.
Umumnya, informasi kualitatif dalam annual report diwujudkan dalam profil
perusahaan, sejarah perusahaan, analisa manajemen, tata kelola perusahaan, serta
sambutan dewan direksi. Dengan demikian, maka kandungan informasi yang
bersifat kualitatif dalam annual report menjadi lebih banyak.
David (2002)

mengatakan bahwa bentuk muatan informasi kualitatif

dalam annual report meliputi teks naratif, gambar/ foto, grafik, dan tabel. Salah
satu unsur kualitatif yang paling banyak, serta paling mendominasi dalam annual
report adalah teks naratif.
Teks naratif dalam annual report merupakan bagian yang memainkan
peranan penting bagi perusahaan dalam menyampaikan informasi perusahaan,
serta membentuk citra dan reputasi perusahaan tersebut. Hal tersebut di dukung
oleh pendapat (Courtis, 1998) yang mengatakan bahwa kejelasan teks naratif
dalam annual report merupakan hal yang sangat penting untuk mencapai

transparasi bagi pihak yang berkepentingan dengan perusahaan, terutama investor


perusahaan.
Umumnya, informasi dalam annual report perusahaan yang berbentuk
teks naratif digunakan oleh manajemen perusahaan untuk membentuk citra dan
reputasi yang positif, serta untuk menghindari pencitraan negatif dari stakeholders
perusahaan. Padahal, Annual report perusahaan seharusnya juga memberikan
informasi tentang kegagalan yang pernah menimpa perusahaan, bukan hanya
menjelaskan tentang kesuksesan yang di raih oleh perusahaan. Namun,
kenyataannya perusahaan cenderung mengindari reputasi dan pencitraan yang
buruk dengan cara menutupi hal tersebut melalui pencitraan dan reputasi yang
baik. Umumnya, perusahaan membentuk citra dan reputasi yang baik dengan
memanfaatkan pelaporan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) melalui
sustainability report sebagai bentuk upaya untuk menyembunyikan kerusakan
yang telah dilakukan oleh perusahaan terhadap masyarakat sekitar dan alam
(Kamayanti dan Ahmar, 2010).
Dalam upaya membentuk citra dan reputasi yang positif, tidak
mengherankan jika manajemen perusahaan tidak bisa lepas dari perilaku narsisme.
Narsisme merupakan sikap yang dimiliki oleh individu dalam mempertahankan
serta meningkatkan penilaian yang sangat tinggi atas dirinya sendiri (Campbell, et
al, 2004). Selain itu, (Chatterje dan Hambrick, 2006) juga mengatakan bahwa
narsisme merupakan suatu hal yang dimiliki oleh individu atau entitas yang
dikaitkan secara positif dengan harga diri. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
narsisme memiliki kebutuhan yang kuat atas penilaian orang lain terhadap

keunggulan yang dimiliki. Oleh sebab itu, perilaku narsisme merupakan upaya
yang memiliki kecenderungan untuk menciptakan reputasi dan citra yang positif
atas dirinya, yang juga akan menimbulkan keyakinan serta optimisme yang kuat
atas hasil yang akan diperoleh nantinya.
Narsisme

kemungkinan

juga

dapat

terjadi

dalam

penyusunan

Sustainability report. Dalam konteks akuntansi sebagai media perantara antara


manajemen perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dalam
perusahaan, fenomena narsisme dapat terjadi dalam pemenuhan pencitraan
perusahaan. Hal ini, dilatarbelakangi oleh pendapat (Gardner dan Martinko, 1988)
yang menyatakan bahwa perusahaan dapat membentuk pencitraan yang positif
serta menghindari pencitraan yang negatif melalui teks naratif yang disampaikan
melalui pelaporan keuangan. Oleh karena itu, ada kemungkinan besar bahwa
dalam sustainability report perusahaan, manajemen akan cenderung menampilkan
prestasi-prestasi yang diraih perusahaan, khususnya bentuk tanggung jawab
perusahaan terhadap lingkungan sekitar perusahaan untuk mendapatkan reputasi
dan pencitraan yang positif dari masyarakat, serta menutupi kerusakan-kerusakan
lingkungan dan alam yang di akibatkan dari aktivitas perusahaan demi melindungi
kepentingan

perusahaan.

Kenyataan

ini

mengindikasikan

adanya

upaya

perusahaan untuk membuat perusahaannya selalu terlihat baik di mata publik,


upaya ini mengarah pada praktik narsisme bahasa yang digunakan manajemen
dalam penyusunan sustainability report.
Narsisme bahasa dalam sustainability report perusahaan, umumnya
dilakukan manajemen dengan cara menyampaikan argumen secara berlebihan

agar dapat meyakinkan stakeholders, bahwa aktivitas perusahaan sudah dikelola


dengan baik oleh perusahaan. Manajemen melakukan narsisme bahasa pada
pelaporan kegiatan Corporate Social Responsibility dalam sustainability report
melalui struktur penulisan kalimat (semiotik).
Selama ini penelitian tentang pelaporan sustainability report serta
pengungkapnnya kebanyakan berpusat pada laporan keuangan yang menggunakan
penelitian kuantitatif dalam menganalisis data. Oleh karena itu, penelitian ini
berusaha keluar dari zona aman, dengan cara meneliti secara kualitatif untuk
mengetahui perilaku manajemen perusahaan dalam melaporkan kegiatan
Corporate Social Responsibility.
Terdapat beberapa penelitian terdahulu yang mengungkap tentang
Corporate Social Responsibility. Suaryana 2010) melakukan penelitian tentang
implementasi social and enviromental accounting di Indonesia. Hasil penelitian
yang diperoleh menunjukkan bahwa pelaporan akuntansi pertanggungjawaban
sosial telah diterapkan pada perusahaan di Indonesia. Namun, dalam
penerapannya masih terdapat banyak kekurangan. Maka dari itu, para akuntan
mencari jalan keluarnya dengan cara membuat standar pelaporan sustainability
reporting serta memberikan penghargaan kepada perusahaan yang menerapkan
CSR dengan baik.
Chariri dan Nugroho (2009) mencoba untuk menganalisis pelaksanaan
sustainability reporting menggunakan pendekatan retorika. Hasil dari penelitian
ini menunjukkan bahwa informasi corporate social responsibility dalam bentuk
cerita retorik dapat membentuk image perusahaan menjadi positif. Selanjutnya,

Kamayanti dan Atmadja (2011) mengungkapkan tanggungjawab sosial dan


lingkungannya melalui indeks pengungkapan serta analisis semiotik pada bahasa
yang digunakan dalam penyusunan sustainability report. Kesimpulan dari
penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pengungkapan sosial
dalam dua periode. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya perkembangan
tanggung jawab sosial perusahaan pada tahun-tahun berikutnya.
Berangkat dari argumen tersebut, penelitian ini dimaksudkan untuk
menganalisis narsisme bahasa yang di lakukan manajemen pada sustainability
report perusahaan untuk mengetahui secara mendalam narsisme bahasa yang
digunakan perusahaan, terutama dalam melaporkan kegiatan corporate social
responsibility. Dimana perusahaan berusaha membentuk citra dan reputasi positif
melalui pelaporan kegiatan corporate social responsibility. Pemahamanan
terhadap narsisme bahasa dalam penyampaian pesan tidak bisa terlepas dari aspek
semiotik, karena aspek semiotik dapat membentuk bahasa yang digunakan dalam
komunikasi. Oleh karena itu, penelitian ini menampilkan sesuatu yang sedikit
berbeda dengan berfokus pada teks naratif, sehingga penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif berupa studi kasus pada sustainability report PT. Perusahaan
Listrik Negara (Persero) dengan menggunakan metode semiotik dalam
menganalisisnya.
1.2.

Rumusan Masalah
Perusahaan cenderung senang sekali untuk menyombongkan dirinya serta

berharap stakeholders dan publik memberikan pujian dan penilaian yang tinggi

terhadap perusahaan yang bersangkutan. Sehingga perusahaan mempunyai


harapan bahwa dengan melaporkan kegiatan corporate social responsibility, maka
perusahaan akan memperoleh penilaian masyarakat yang tinggi atas perusahaan
dan memperoleh pencitraan yang positif di mata stakeholders dan masyarakat.
Kondisi perusahaan dalam membentuk reputasi dan pencitraan perusahaan
dapat mengarah pada narsisme bahasa yang tersusun dalam sustainability report
perusahaan.
Berdasarkan beberapa uraian pada latar belakang diatas, maka rumusan
masalah dalam praproposal penelitian kualitatif ini adalah sebagai berikut:
1.

Bagaimana perusahaan menyampaikan pesan melalui informasi yang


disajikan dalam sustainability report dalam melaporkan kegiatan
Corporate Social Responsibility?

2.

Apakah perusahaan menggunakan narsisme bahasa dalam pelaporan


sustainability report dalam melaporkan kegiatan Corporate Social
Responsibility?

3.

Mengapa perusahaan menggunakan narsisme bahasa dalam pelaporan


sustainability report dalam melaporkan kegiatan Corporate Social
Responsibility?

1.3.

Tujuan Penelitian
Penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisis dan mengetahui secara

mendalam mengapa narsisme bahasa dalam pelaporan sustainability report dalam

melaporkan kegiatan Corporate Social Responsibility dapat terjadi. Dengan


demikian, penelitian ini mempunyai tujuan khusus sebagai berikut:
1.

Untuk

menganalisis

dan

mengetahui

bagaimana

perusahaan

menyampaikan pesan kegiatan Corporate Social Responsibility melalui


informasi yang disajikan dalam sustainability report.
2.

Untuk mengetahui apakah perusahaan menggunakan narsisme bahasa


dalam pelaporan sustainability report dalam melaporkan kegiatan
Corporate Social Responsibility.

3.

Untuk menganalisis dan memahami alasan perusahaan menggunakan


narsisme bahasa dalam penyajian informasi yang sifatnya naratif dalam
sustainability report.

1.4.
1.

Manfaat Penelitian
Bagi akademisi, kiranya hasil dari penelitian ini memberikan wawasan
yang lebih luas, inspirasi, serta motivasi agar sebuah penelitian dalam
bidang akuntansi, khususnya analisa sustainability report tidak hanya
terbatas pada penelitian kuantitatif saja. Selain itu, juga dapat dijadikan
referensi untuk penelitian selanjutnya yang masih sangat jarang dengan
topik yang sama.

2.

Bagi pemakai laporan keuangan, kiranya hasil dari penelitian ini


diharapkan dapat memberikan masukan dalam mempertimbangkan
informasi yang terkandung dalam sustainability report dalam pengambilan
keputusan investasi.

10

3.

Bagi perusahaan, kiranya hasil dari penelitian ini dapat memberikan


manfaat mengenai tujuan dan pelaporan corporate social responsibility,
bukan semata-mata untuk memperoleh legitimasi dari stakeholders.

4.

Bagi pemerintah, kiranya hasil penelitian ini dapat mengoptimalkan peran


pemerintah sebagai regulator dalam mendukung dan mengawasi
penerapan corporate social responsibility di Indonesia.

1.5.

Sistematika Penulisan
Skripsi ini disusun menggunakan metode kualitatif dengan metode

penelitian studi kasus. Dalam analisisnya, penelitian menggunakan content


analysis dengan pendekatan semiotik. Sehingga, skripsi ini terdiri dari lima bab
yang disusun secacar deskriptif.
Bab I Pendahuluan, berisi uraian permasalahan yang diangkat dalam
penelitian ini, yaitu latar belakang mengambil topik penelitian narsisme bahasa
dalam penelitian ini, serta berisi rumusan masalah mengapa dan bagaimana
narsisme bahasa digunakan oleh perusahaan dalam pelaporannya. Selain itu, bab
ini juga berisi manfaat penelitian untuk kalangan akademisi, regulator, dan
perusahan.
Bab II Tinjauan Pustaka, berisi tentang landasan teori seperti teori
komunikasi, teori stakeholders, teori legitimasi, teori warna, serta teori-teori lain
yang digunakan sebagai landasan penelitian dalam penelitian ini. Selain itu, bab
ini juga berisi penelitian-penelitian terdahulu yang pernah melakukan penelitian

11

sejenis. Selanjutnya, landasan teori digunakan untuk membentuk kerangka teoritis


penelitian.
Bab III Metodologi Penelitian, membahas mengenai desain penelitian
yang digunakan yaitu penelitian kualitatif studi kasus. Jenis data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa sustainability report PT
Perusahaan Listrik Negara (Persero). analisis data yang digunakan dalam
penelitian ini content analyses dan analisis semiotik.
Bab IV Hasil dan Pembahasan, berisi analisis atas penyajian informasi
kegiatan sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility) dalam sustainability
report. Setelah itu dapat diketahui motif dan tujuan perusahaan menggunakan
informasi yang bersifat naratif atas fenomena narsisme bahasa dalam pelaporan
perusahaan, yaitu untuk memperoleh legitimasi dari stakeholders dan untuk
membangun pencitraan yang positif.
Bab V Kesimpulan dan Saran, merupakan bagian penutup dari penelitian.
Bagian penutup ini terdiri atas kesimpulan dan saran untuk penelitian selanjutnya
yang mengambil topik yang sama tentang analisis semioti. Bagian ini juga berisi
saran yang digunakan untuk mengatasi kekurangan dalam penelitian selanjutnya.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Landasan Teori
Akuntansi merupakan suatu sarana untuk mengkomunikasikan informasi

perusahaan (Belkaoui, 1993). Oleh karena itu akuntansi dianggap sebagai bahasa
bisnis. Dalam konteks akuntansi, berbagai simbol (tanda, gambar, warna, serta
huruf) digunakan perusahaan dengan maksud menyampaikan pesan kepada pihakpihak yang berkepentingan yaitu stakeholders (Chariri dan Nugroho, 2009).
Pada awal perkembangannya, pelaporan akuntansi hanya terbatas pada
laporan keuangan yang terdiri dari laporan laba rugi, laporan perubahan modal,
neraca, laporan arus kas, serta catatan atas laporan keuangan (David, 2002).
Namun, dalam perkembangannya ruang lingkup laporan akuntansi tidak hanya
mencangkup laporan keuangan yang telah diaudit tetapi juga mencangkup
pelaporan informasi kualitatif, seperti informasi mengenai penghargaan yang
diterima perusahaan, sambutan dewan direksi, serta informasi mengenai kegiatan
sosial yang telah dilakukan perusahaan (CSR).
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah perusahaan
menggunakan narsisme bahasa dalam pelaporan kegiatan CSR, yang nantinya
akan berdampak pada value perusahaan yaitu memperoleh pencitraan yang postif
dan legitimasi dari stakeholders. Maka dari itu, penelitian ini akan menggunakan
teori-teori

yang

dianggap

mendukung

12

penelitian

ini.

Teori-teori

yang

13

berhubungan dengan penelitian ini adalah teori komunikasi, teori legitimasi, teori
warna, dan teori stakeholders.
2.1.1. Teori Komunikasi
Teori komunikasi aksi merupakan teori yang memandang masyarakat
melalui paradigma komunikasi. Komunikasi juga merupakan suatu media
interaksi simbolik (Kernstock, 2009). Komunikasi dari sudut pandang ini
merupakan suatu proses multidimensi di mana setiap individu bebas
mengekspresikan argumennya dalam mencapai pemahaman antar individu. Untuk
memahami proses sosial, Habernas (1983a) menyatakan bahwa harus ada
perubahan paradigma dasar dari proses sosial.
Dalam teorinya, Habernas (1983a) hanya membahas mengenai dua
tindakan dasar manusia, yaitu tindakan rasional dan interaksi sosial. Tindakan
rasional adalah tindakan dasar dalam hubungan manusia dengan alam sebagai
objek manipulasi, sementara interaksi sosial merupakan tindakan dasar dalam
hubungan manusia dengan sesamanya sebagai subjek.
Kepentingan (interest) merupakan suatu orientasi dasar yang berakar pada
kemampuan manusia, untuk melestarikan keberadaannya, dan untuk menentukan
serta mengkreasikan dirinya sendiri. Habermas (1983b) mengatakan bahwa
kepentingan (Interes) hanya dipengaruhi oleh kedua hal, yaitu money dan power.
Adanya kepentingan yang dipengaruhi oleh money dan power tersebut mendorong
perusahaan untuk tetap berupaya menciptakan image positif dan menghindari
image negatif, yang dapat berujung pada pemerolehan legitimasi dari stakeholder.

14

2.1.2. Teori legitimasi


Deegan (2003) mengemukakan bahwa teori legitimasi adalah perspektif
teori yang berada dalam kerangka teori ekonomi politik. Legitimasi dapat
dianggap sebagai asumsi atau persepsi yang menyatakan bahwa tindakan yang
dilakukan oleh suatu organisasi atau perusahaan merupakan tindakan yang di
inginkan, sesuai dengan sistem nilai, norma, kepercayaan, serta definisi yang
dikemukakan secara sosial (Suchman, 1995).
Teori legitimasi merupakan sebuah teori yang berbasis siste, yang telah
berkembang selama tiga dekade terakhir (Conway dan Patricia, 2008). Hal ini
didasarkan pada konsep bahwa suatu perusahaan atau organisasi memiliki
pengaruh dan dipengaruhi oleh masyarakat dimana organisasi atau perusahaan
tersebut berada (Deegan, 2003).
Dalam konsep tersebut ditegaskan bahwa perusahaan atau organisasi
berusaha untuk beroperasi dalam batas dan norma yang ada, serta ingin
memastikan bahwa aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan mendapatkan
legitimasi dari masyarakat (Conway dan Patricia, 2008).
Suatu perusahaan akan secaara aktif mencari image (pencitraan) yang
positif serta menghindari image negatif (Gardner and Martinko, 1988). Hal ini
berkaitan dengan usaha perusahaan dalam memperoleh legitimasi dari
masyarakat. Oleh karena itu, teori legitimasi benar-benar memberikan saran bagi
perusahaan untuk membangun kesesuaian nilai sosial yang diterapkan oleh
perusahaan dengan norma yang berlaku di masyarakat (Chariri dan Nugroho,
2009).

15

Lebih lanjut, legitimasi meruapakan proses bagaimana suatu entitas


pelapor berusaha memperoleh, menjaga dan memelihara, serta memperbaiki
legitimasi organisasi dimata stakeholders-nya. Manajemen legitimasi bergantung
pada komunikasi antara perusahaan dan stakeholders (Degan, 2003).
Ketika melakukan proses legitimasi, penggunaan strategi pengungkapan
akan membentuk opini atau apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh stakeholders
tentang perusahaan (Suchman, 1995).
Deegan (2003) menjelaskan bahwa ketika organisasi atau perusahaan
menemui ancaman legitimasi, maka organisasi dapat melegitimasi aktivitasaktivitasnya dengan berbagai cara, antara lain:
1. Organisasi dapat menyesuaikan output, tujuan, serta metode-metode
operasinya agar sesuai dengan definisi yang berlaku;
2. Organisasi dapat berusaha (misal, lewat komunikasi) untuk mengubah
definisi legitimasi sosial sehingga hal tersebut sesuai dengan praktikpraktik, dan nilai-nilai organisasi saat ini;
3. Organisasi dapat berusaha lewat komuniaksi untuk dapat dikenali lewat
simbol-simbol, dan nilai-nilai yang memiliki dasar legitimasi yang kuat.
Dengan kata lain, komunikasi dapat menjadi jalur penting untuk
memperoleh legitimasi dari pihak yang diharapkan perusahaan. Perusahaan dapat
mengungkapkan informasi-informasi yang dapat memperkuat legitimasinya
dengan cara menyebutkan penghargan-penghargaan lingkungan yang pernah
diraih perusahaan. Melalui pengungkapan, perusahaan juga dapat mengklarifikasi

16

atau bahkan membantah berita-berita negatif yang mungkin muncul di media


masa.
Meskipun demikian, tujuan utama dari pemerolehan legitimasi dari para
stakeholders adalah untuk menunjang tujuan utama perusahaan dalam usaha
mendapatkan laba. Lebih dari itu, legitimasi juga dapat meningkatkan reputasi
perusahaan yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap nilai perusahaan di
mata stakeholders. Dengan demikian, teori legitimasi memberikan pandangan
yang penting terhadap praktek pengungkapan sosial perusahaan.
2.1.3. Teori Stakeholders
Stakeholders merupakan individu, komunitas, sekelompok manusia, atau
masyarakat yang memiliki hubungan serta kepentingan terhadap perusahaan
(Utomo, 2011). Individu, komunitas, kelompok, atau masyarakat dapat disebut
sebagai stakeholders jika memiliki karakteristik, seperti mempunyai kekuasaan,
legitimasi, serta kepentingan terhadap perusahaan (Rizky, 2010).
Stakeholders merupakan pihak yang secara langsung maupun tidak
langsung mempengaruhi serta dipengaruhi perusahaan baik internal maupun
ekstenal. Menurut Magness (2008), stakeholders perusahaan dibagi menjadi dua
bentuk, yaitu:
1. Primary Stakeholders (stakeholders utama) merupakan pihak-pihak yang
mempunyai kepentingan secara ekonomi terhadap perusahaan dan
menanggung risiko yang dialami oleh perusahaan. Yang termasuk ke

17

dalam stakeholder ini adalah investor, karyawan, kreditor, komunitas


lokal, serta pemerintah.
2. Secondary Stakeholders (stakeholders sekunder) merupakan pihak-pihak
yang

mempengaruhi

dan

dipengaruhi

oleh

perusahaan,

tetapi

kelangsungan ekonomi perusahaan tidak ditentukan oleh stakeholders ini.


Yang termasuk dalam stakeholders ini adalah masyarakat dan lingkungan
sekitar tempat perusahaan beroperasi.
Dengan demikian, berdasarkan paparan teori stakeholders diatas,
perusahaan akan mengakomodasi kebutuhan dan keinginan stakeholders primer,
tanpa mengabaikan stakeholders sekunder. Perusahaan akan bereaksi untuk
memuaskan keinginan stakeholders (Chariri dan Nugroho, 2009). Salah satu
caranya dengan mendapatkan legitimasi dari stakeholders. Maka dari itu, teori ini
dianggap dapat mendukung penelitian ini.
2.1.4. Teori Warna
Warna adalah kesan yang diperoleh mata dari cahaya yang dipantulkan
oleh benda-bendayang dikenai cahaya tersebut (Nugraha, 2008). Lebih lanjut,
Sanyoto (2005) mendefisiniskan warna secara fisik dan psikologis. Warna secara
fisik adalah sifat cahaya yang dipancarkan, sedangkan secara psikologis sebagai
bagian dari pengalaman indera penglihatan.
Warna juga merupakan suatu alat komunikasi yang efektif untuk
mengungkapkan pesan, gagasan, atau ide tanpa menggunakan tulisan atau bahasa.
Pengertian tentang warna, baik berupa keharmonisan, pandangan, pola, dan asal-

18

usulnya menjadi bagian yang sangat penting untuk pengetahuan para seniman,
arsitek, serta pendesain dalam berkarya (Nugraha, 2008)
Brewster (1831) mengemukakan teori tentang pengelompokkan warna.
Teori brewster membagi warna-warna yang ada dalam alam menjadi empat
kelompok warna, yaitu warna primer, sekunder, tersier, dan netral. Berikut
pembagian kelompok warna menurut teori Brewster:
a. Warna Primer Warna dasar yang tidak berasal dari campuran warna lain.
Warna primer tersusun atas merah, kuning, dan hijau (Nugraha, 2008).
b. Warna Sekunder Warna sekunder merupakan hasil campuran dua warna
primer dengan proporsi 1:1 (Prawira, 1989).
c. Warna Tersier Warna tersier merupakan campuran salah satu warna
primer dengan salah satu warna sekunder (Nugraha, 2008).
d. Warna Netral Warna netral merupakan hasil campuran ketiga dasar
dalam proporsi 1:1:1, seperti hitam, cokelat, dan abu-abu (Nugraha, 2008).
Dari penampilan warna-warna secara visual, ada beberapa warna yang
seolah-oleh mendekati mata dan ada warna yang menjauhi mata. Berikut di bawah
adalah psikologi warna menurut Brewster (1831):
a. Warna hangat: merah, kuning, coklat, dan jingga.
b. Warna sejuk: hijau dan ungu.
c. Warna tegas: biru, merah, kuning, putih, dan hitam.
d. Warna gelap (tua): warna-warna yang mendekati warna hitam.
e. Warna terang (muda): warna-warna yang mendekati putih.
f. Warna Tenggelam: semua warna yang diberi campuran warna abu-abu.

19

Warna berfungsi untuk memberikan vibrasi tertentu di dalam suatu desain.


Warna mempunyai kekuatan yang begitu hebat, sehingga bisa memberikan efek
psikologis kepada semua orang yang melihatnya. Berikut di bawah adalah
psikologi warna menurut Brewster (1831):
1. Warna merah -- Merah merupakan warna yang kuat sekaligus hangat.
Umumnya di gunakan untuk memberikan efek psikologi panas, berani,
marah, dan berteriak. Warna merah Juga melambangkan produktifitas dan
keberanian warna yang secara instan dapat mendorong makin cepatnya
denyut nadi, menaikkan tekanan darah, serta mempercepat pernafasan.
2. Warna hijau -- Hijau merupakan warna yang tenang karena biasanya di
kaitkan dengan lingkungan dan alam untuk memberikan kesan segar.
3. Warna biru -- Biru merupakan warna favorit pria dan termasuk warna yang
dingin. Warna biru sering di sebut warna corporate karena hampir
semua perusahaan menggunakan warna biru sebagai warna utamanya.
Secara keseluruhan warna ini melambangkan kepercayaan, konservatif,
keamanan, tehnologi, kebersihan, dan keteraturan.
4. Warna kuning -- Kuning merupakan warna yang ceria dan menyenangkan.
5. Warna ungu -- Ungu merupakan warna yang memberikan kesan spiritual,
kekayaan, dan kebijaksanaan. Ungu juga warna yang unik karena sangat
jarang kita lihat di alam.
6. Warna coklat -- Coklat merupakan warna bumi, memberikan kesan
hangat, nyaman, kuat, dapat diandalkan, dan aman. Selain itu, coklat juga
memberikan kesan sophisticated karena dekat dengan warna emas.

20

7. Warna oranye -- Oranye merupakan hasil peleburan merah dan kuning,


sehingga efek yang di hasilkan masih tetap sama yaitu kuat dan hangat.
Warna ini sering di gunakan pada tombol website yang penting, seperti
buy now, register now dan lainnya yang sejenis. Dari sisi psikologis
sebenarnya warna oranye memberikan kesan tidak nyaman dan sedikit
gaduh. Mungkin karena sebab itulah warna ini paling banyak di pakai
untuk menarik perhatian orang.
8. Warna merah muda -- Merah muda adalah warna yang feminine dan
romantis.
9. Warna putih -- Putih merupakan warna yang murni, serta tidak ada
campuran apapun. Sehingga, menimbulkan efek suci. Steril. dan bersih
10. Warna hitam -- Hitam merupakan warna yang gelap, suram, menakutkan
tetapi elegan.
2.1.5. Akuntansi Sebagai Bahasa Bisnis
Akuntansi merupakan suatu sarana untuk mengkomunikasikan informasi
mengenai perusahaan (Belkaoui, 1993). Oleh karena itu, akuntansi dianggap
sebagai bahasa bisnis. Belkaoui (1993) juga berpendapat bahwa akuntansi
memiliki banyak hal yang sama dengan bahasa lain karena berbagai aktivitas
bisnia dilaporkan dalam laporan perusahaan menggunakan bahasa keuangan.
Bahasa

dibentuk

dari

simbol-simbol

(tanda-tanda)

yang

saling

berhubungan serta berkaitan antara satu dengan yang lain. Keberadaan simbol
memerlukan pemahaman yang jeas karena simbol bukan merupakan tanda yang

21

disusun secara acak, tetapi mengarah pada konsep tertentu. Simbol atau tanda
disusun menggunakan pola tertentu yang mengatur penggunaannya. Oleh karena
itu, pemahaman terhadap simbol atau tanda sangat bergantung pada makna yang
akan disampaikan dan diterima oleh pengirim dan penerima simbol (David, 2002).
Dalam konteks akuntansi, berbagai simbol (warna, tanda, gambar, huruf,
grafik, serta tabel) digunakan oleh perusahaan dengan maksud untuk
menyampaikan suatu pesan kepda pihak-pihak yang berkepentingan. Akuntansi
menggunakan simbol-simbol tertentu yang dituangkan dalam bentuk elemen
laporan keuangan, foto/gambar, tabel, grafik, dan teks naratif tertentu.
Pemahaman

terhadap

simbol

yang

demikian

dapat

dilakukan

dengan

menggunakan konsep semiotik (Chariri dan Nugroho, 2009).


2.1.6. Corporate Social Responsibility (CSR)
Penelitian yang dilakukan oleh Oktaviani (2012) menyebutkan bahwa
masyarakat semakin berani untuk beraspirasi dan mengekspresikan tuntutannya
terhadap dunia bisnis. Perusahaan tidak hanya dituntut untuk memperoleh
keuntungan dari usahanya, tetapi juga diminta untuk memberikan kontribusi
positif terhadap lingkungan sekitarnya.
Perubahan pada tingkat kesadaran masyarakat memunculkan kesadaran
tentang pentingnya melaksanakan apa yang kita kenal sebagai Corporate Social
Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial. Akan tetapi, sebagai sebuah
konsep yang semakin popular, ternyata CSR belum memiliki definisi tunggal.
Kamayanti dan Atmadja (2011) mengemukakan bahwa CSR adalah tanggung

22

jawab moral suatu organisasi bisnis terhadap kelompok yang menjadi


stakeholders-nya baik terkena pengaruh secara langsung atau tidak langsung dari
operasi perusahaan.
Wibisono (2007) mendefinisikan CSR sebagai tanggung jawab perusahaan
kepada stakeholders yang mencangkup aspek sosial, ekonomi, serta lingkungan
(triple bottom line) dalam rangka mencapai tujuan pembangunan yang
berkelanjutan.
Pada intinya kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social
responsibility) merupakan suatu kewajiban organisasi bisnis untuk mengambil
bagian dari kegiatan yang bertujuan untuk melindungi dan meningkatkan
kesejahteraan masyarakat secara keseluruan (Budiani, 2010)
Dari berbagai macam definisi CSR, dapat disimpulkan bahwa kegiatan
CSR merupakan suatu bentuk perwujudan komitmen perusahaan dalam
mensejahterahkan masyrakat atas dasar kesadaran bahwa perusahaan merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat. Jadi kegiatan Corporate Social
Responsibility ini pada dasarnya merupakan tanggung jawab perusahaan terhadap
lingkungan, sekaligus sebagai sarana untuk mendongkrak citra perusahaan yang
mengakibatkan meningkatnya keunggulan bersaing dan reputasi perusahaan.
2.1.6.1. Manfaat Kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR)
Menurut Wibisono (2007) dalam menjalankan tanggung jawab sosialnya,
perusahaan memfokuskan perhatiannya pada tiga hal yaitu;
a. Laba (Profit),

23

b. Masyarakat (People),
c. Lingkungan (Planet).
Dengan menjalankan kegiatan CSR, perusahaan diharapkan tidak hanya
fokus mengejar profit jangka pendek, tetapi juga turut aktif dalam berkontribusi
terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan. Kegiatan CSR
dapat dipandang sebagai aset strategis dan kompetitif bagi perusahaan di tengah
iklim bisnis yang makin berkembang. (Meutia, 2010).
Menurut Retno (2012) CSR dapat memberikan banyak keuntungan, antara
lain;
1. Meningkatkan profitabilitas dan kinera keuangan yang lebih baik bagi
perusahaan.
2. Menurunkan risiko konflik dengan masyarakat sekitar.
3. Mampu meningkatkan reputasi perusahaan yang juga merupakan bagian
dari pembangunan citra perusahaan.
Sedangkan menurut Susanto (2007) mengemukakan bahwa terdapat enam
manfaat yang diperoleh perusahaan dari kegiatan CSR, yaitu;
1. Mengurangi risiko dan perlakuan tidak pantas yang diterima perushaaan.
2. Membantu perusahaan meminimalkan dampak buruk yang diakibatkan
dari suatu krisis.
3. Menumbuhkan rasa kebanggan karyawan, serta meningkatkan loyalitas
mereka.
4. Mempererat hubungan antara perusahaan dengan para stakeholdersnya.
5. Meningkatkan penjualan.

24

6. Mendapatkan insentif dan perlakuan khusus lainnya.


Dalam mencapai keberhasilan dalam melakukan program CSR diperlukan
komitmen yang kuat, dukungan dan partisipasi aktif, serta ketulusan dari berbagai
pihak yang peduli terhadap program-program kegiatan CSR.
2.1.6.2. Bias-bias Corporate Social Responsibility (CSR)
Berdasarkan pengamatan terhadap praktik CSR selama ini, tidak semua
perusahaan mampu menjalankan CSR sesuai konsep CSR yang sesungguhnya.
Menurut Suharto (2008) bias-bias kegiatan CSR adalah sebagai berikut:
1. Kamuflase. Perusahaan melakukan kegiatan CSR tidak di dasari oleh
sebuah komitmen, melainkan untuk menutupi praktik bisnis yang
memunculkan ethical questions.
2. Generik. Program CSR yang dijalankan terlalu umum dan kurang fokus
karena dikembangkan berdasarkan program CSR yang telah dilakukan
pihak lain.
3. Directive. Kebijakan dan program CSR dirumuskan secara top down dan
hanya berdasarkan misi dan kepentingan perusahaan semata.
4. Lip Service. CSR tidak menjadi bagian dari strategi dan kebijakan
perusahaan. Biasanya program CSR diberikan berdasarkan belas kasihan.
5. Kiss and Run. Kegiatan CSR bersifat ad-hoc serta tidak berkelanjutan.
Program yang dikembangkan umumnya bersifat sementara, berjangka
pendek, tidak memperhatikan makna pemberdayaan, serta investasi sosial.

25

2.1.6.3. Media Corporate Social Responsibility Disclosure


Pengungkapan informasi corporate social responsibility dalam laporan
keberlanjutan merupakan salah satu cara perusahaan untuk membangun,
mempertahankan, serta melegitimasi perusahaan (Sayekti dan Wondabio, 2007).
Pengungkapan kinerja ekonomi, lingkungan, dan sosial di dalam
sustainability report adalah untuk mencerminkan tingkat akuntanbilitas,
responsibilitas, serta transparasi perusahaan kepada stakeholders. Pengungkapan
tersebut bertujuan untuk menjalin hubungan komunikasi yang baik dan efektif
antara

perusahaan

dengan

stakeholders

tentang

bagaimana

perusahaan

mengintegrasikan kegiatan Corporate Social Responsibility dalam setiap aspek


kegiatannya (Darwin, 2006).
Sebagian besar studi yang menganalisis pengungkapan informasi tanggung
jawab sosial perusahaan berfokus pada laporan tahunan (annual report) dan
laporan keberlanjutan (sustainability report), dimana kedua laporan tersebut
dianggap alat yang paling penting yang digunakan perusahaan untuk
berkomunikasi dengan stakeholders perusahaan (Chariri dan Nugroho, 2009).
Diharapkan investor dapat mempertimbangkan informasi corporate social
reponsibility yang diungkapkan, sehingga dalam pengambilan keputusan, investor
tidak semata-mata mendasar pada informasi laba saja.
Secara umum, tujuan pengungkapan adalah menyajikan informasi yang
dipandang perlu untuk mencapai tujuan pelaporan keuangan, serta melayani
berbagai pihak yang mempunyai kepentingan berbeda (Suwardjono, 2005). Oleh
karena itu, pengungkapan dituntut lebih dari sekedar pelaporan keuangan, tetapi

26

meliputi penyampaian informasi kualitatif dan kuantitatif, baik yang mandatory


maupun voluntary disclosure (Chrismawati, 2007).
2.1.7. Sustainability Report (Laporan Keberlanjutan)
Dalam melaporkan kegiatan atau aktivitas tanggung jawab sosialnya,
perusahaan menyajikan laporan keberlanjutan (sustainability report) sebagai
bentuk komunikasi dengan stakeholders atas upaya-upaya yang telah dilakukan
perusahaan dalam kerjasama dengan masyarakat dan pelestarian lingkungan
(Kamayanti dan Atmadja, 2011).
Sustainability reporting adalah praktik pelaporan, pengungkapan, dan
pertanggungjawaban kinerja perusahan mengenai kebijakan ekonomi, sosial dan
lingkungan, pengaruh dan kinerja perusahaan, serta produknya dalam konteks
pembangunan berkelanjutan (sustainability development) terhadap stakeholdes
internal dan eksternal (GRI Sustainability Reporting Guidelines, 2006).
Sustainability report mengandung banyak narrative text, foto, grafik, dan
tabel yang memuat penjelasan mengenai pelaksanaan kegiatan sustainability
perusahaan. Pelaporan keberlanjutan dapat didesain oleh manajemen sebagai
cerita retorik untuk membentuk image (pencitraan) pemakainya melalui
pemakaian teks naratif (Chariri dan Nugroho, 2009). Teks naratif merupakan
bagian yang memainkan peranan penting bagi perusahaan dalam membentuk
pencitraan (David, 2002).

27

Menurut Kamayanti dan Atmaja (2011), World Business Council for


Sustainable Development (WBCSD) mengemukakan beberapa manfaat yang di
dapat dari sustainability report antara lain:
1. Sustainability report memberikan informasi kepada stakeholders sehingga
membantu perusahaan mewujudkan transparansi.
2. Sustainability report membantu perusahaan membangun pencitraan yang
positif dimata stakeholders dan masyarakat.
3. Sustainability report menjadi cerminan mengenai bagaimana perusahaan
mengelola berbagai risikonya.
4. Sustainability report dapat digunakan sebagai stimulasi leadership
thinking dan performance yang didukung dengan semangat kompetisi.
5. Sustainability

report

dapat

mengembangkan

dan

memfasilitasi

pengimplementasian dari sistem manajemen yang lebih baik dalam


mengelola dampak lingkungan, ekonomi, dan sosial.
6. Sustainability

report

cenderung

mencerminkan

secara

langsung

kemampuan perusahaan untuk memenuhi keinginan pemegang saham


jangka panjang.
7. Sustainability report membantu perusahaan membangun ketertarikan para
pemegang

saham

dengan

visi

jangka

panjang

dan

membantu

mendemonstrasikan bagaimana meningkatkan nilai perusahaan terkait


dengan isu sosial dan lingkungannya.

28

2.1.8. Global Reporting Initiative (GRI)


Global Reporting Initiative (GRI) mempunyai misi untuk memenuhi
kebutuhan akan adanya komunikasi yang terbuka mengenai keberlanjutan
(sustainability) dan ekspektasi atas transparasi mengenai dampak ekonomi, sosial,
serta lingkungan dengan menyajikan kerangka yang terpercaya dan kredibel untuk
pelaporan berkelanjutan (sustainability reporting) yang bisa digunakan untuk
semua organisasi dari berbagai ukuran, sektor, atau lokasi (Global Reporting
Initiative, 2006).
GRI mendefinisikan transparasi sebagai pengungkapan lengkap atas
informasi dengan topik dan indikator yang telah diisyaratkan untuk merefleksikan
berbagai dampak yang ditimbulkan perusahaan dan membantu stakeholders untuk
membuat keputusan, dan juga proses, prosedur, dan asumsi yang digunakan untuk
menyiapkan pengungkapan itu (Global Reporting Initiative, 2006).
Kinerja keberlanjutan atas pelaporan entitas seharusnya ditampilkan dalam
cara yang beralasan dan seimbang, tidak hanya kontribusi positif namun juga yang
negatif. Laporan yang berbasis kerangka pelaporan GRI berisi hasil dan outcomes
dari waktu yang melingkupi laporan dan ini seharusnya menjadi wujud komitmen,
strategi, dan manajemen organisasi (Global Reporting Initiative, 2006).
Pedoman pelaporan GRI pertama kali dirilis pada tahun 2000 dan
menyatakan bagian yang berbeda yang direkomendasikan untuk disertakan dalam
sebuah laporan keberlanjutan. Untuk menambah transparasi dan kredibilitas dari
beberapa persyaratan laporan keberlanjutan dan prinsip kerja pelaporan keuangan
yang digunakan (Darwin, 2006).

29

2.1.9.

Narsisme
Narsisme merupakan suatu hal yang berkaitan secara positif dengan harga

diri (self-esteem), peningkatan bias diri (biased self-enhancement), intensitas


afektif (mood swings), serta penggunaan kata ganti personal saat berbicara.
Sebagai suatu karakteristik kepribadian, narsisme memiliki dua elemen penting
yaitu kognitif dan afektif (Chatterjee dan Hambrick, 2006).
Pada sisi kognitif, narsisme memerlukan adanya kepercayaan diri atas
keunggulan yang dimiliki oleh individu atau organisasi. Pelaku narsisme
cenderung melakukan penilaian yang tinggi atas dirinya sendiri, baik kreativitas,
kecerdasan, kompetensi, serta kemampuan dalam memimpin (Chatterjee dan
Hambrick, 2006). Sehingga, seseorang yang memiliki sifat narsisme akan sangat
yakin dan percaya diri atas kemampuan yang mereka miliki dalam domain tugas
(Campbell et all, 2004). Sedangkan dalam sisi motivasi, narsisme memiliki
kebutuhan yang kuat atas apresiasi orang lain terhadap keunggulan yang dimiliki.
Hal ini diperoleh baik dalam bentuk penghargaan, tepuk tangan, dan pujian
(Chatterjee dan Hambrick, 2006). Sehingga dapat disimpulkan bahwa narsisme
merupakan suatu hal yang menuntun seseorang dalam mengasumsikan posisi
kekuasaan dan pengaruhnya (Chatterjee dan Hambrick, 2006). Selain itu,
narsisme yang berkaitan erat dengan harga diri, membantu kemajuan profesional
seseorang (Raskin et al, 1991). Oleh karena itu, seseorang berusaha menciptakan
sebuah pencitraan yang baik, yang juga akan menimbulkan optimisme serta
keyakinan yang kuat atas hasil diperoleh nantinya karena adanya narsisme
(Budiani, 2011).

30

Berdasarkan konteks narsisme di atas, dapat disimpulkan bahwa narsisme


juga dapat terjadi dalam penulisan. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa pelaporan
kegiatan CSR dalam hal ini sustainability report didesain sedemikian rupaoleh
manajemen sehingga mengarah pada narsisme. Narsisme yang dibuat oleh
manajemen perusahaan dilakukan melalui argumen, data, dan angka tertentu. Hal
ini diharapkan mampu meyakinkan stakeholders bahwa aktivitas sosial
perusahaan yang telah dijalankan dan dikelola dengan benar mengarah pada
kepercayaan diri dalam pembuatan laporan keberlanjutan, sehingga manajer
perusahaan dipandang sudah berhasil dalam menjalankan tugasnya dengan baik.
Cara yang dilakukan manajer dalam melakukan narsisme bahasa pada
sustainability report dilakukan melalui struktur dan penulisan kalimat (semiotik)
dalam laporan tersebut.
2.1.10. Semiotik
Semiotik merupakan ilmu yang mengkaji tentang penggunaan simboldan
tanda-tanda dalam kehidupan manusia sebagai bagian dari kode yang digunakan
untuk mengkomunikasikan informasi. Artinya, semua yang hadir dalam
kehidupan manusia dapat dilihat sebagai tanda, yaitu sesuatu yang harus diberi
makna (Hoed, 2008).
Fokus dari semiotik terletak pada bentuk komunikasi itu sendiri yaitu
pesan atau teks yang disampaikan. Teks merupakan suatu kesatuan kebahasaan
yang mempunyai wujud (segi ekspresi) dan isi (Hoed, 2008). Oleh karena itu,

31

agar dapat disebut sebagai sebuah teks, maka harus memenuhi beberapa kriteria
tekstualitas sebagai berikut:
1. Di antara unsur-unsurnya terdapat kaitan semantik yang ditandai secara
formal (kohesi),
2. Segi isinya dapat berterima karena memenuhi logika tekstual (koherensi),
3. Teks diproduksi dengan maksud tertentu (intensionalitas),
4. Dapat diterima oleh pembaca/masyarakat pembaca (keberterimaan),
5. Mempunyai

kaitan

secara

semantik

dengan

teks

yang

lain

(intertekstualitas),
6. Mengandung informasi dan pesan tertentu (informativitas).
Sedangkan menurut Piliang (2003), semiotika mempelajari elemen-elemen
tanda di dalam sebuah sistem berdasarkan aturan main, serta memaknai peran
tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial. Salah satu cabang semiotika yang
cukup populer adalah semiotika teks, yaitu cabang semiotika yang secara khusus
mengkaji teks dalam berbagai bentuk dan tingkatan (Piliang, 2004).
Di dalam konteks semiotik, Hoed (2008) melihat teks sebagai suatu tanda
yang harus memiliki segi ekspresi dan isi. Dengan demikian, sebuah teks dapat
dilihat sebagai:
1. Suatu entitas yang mengandung unsur kebahasaan;
2. Suatu entitas yang untuk memahaminya harus bertumpu pada kaidahkaidah dalam bahasa teks tersebut;
3. Suatu bagian dari kebudayaan yang tidak dapat terlepas dari konteks
budaya penerima teks.

32

2.1.10.1. Semiotika dalam Akuntansi


Akuntansi adalah praktik dinamis yang dibentuk berdasarkan interaksi
sosial antara individu dengan lingkungannya (Chariri dan Nugroho, 2009).
Sehingga pelaporan kegiatan CSR merupakan bagian dari akuntansi.
Praktik pelaporan keuangan tidak hanya menyajikan informasi kuantitatif,
tetapi juga menyajikan informasi lain seperti teks naratif, tabel, foto, dan grafik
(David, 2002). Salah satunya adalah pelaporan kegiatan CSR atau sustainability
reporting.
Teks naratif merupakan bagian yang memainkan peranan penting bagi
perusahaan dalam membentuk image (pencitraan) perusahaan. Melalui teks
naratif, perusahaan secara aktif berusaha membentuk citra positif dan menghindari
citra negatif (Chariri dan Nugroho, 2009). Untuk dapat memahami teks naratif
yang ada dalam pelaporan kegiatan CSR, diperlukan usaha untuk memahami
makna dari tiap kata, simbol, kalimat yang terkandung dalam teks naratif tersebut.
Makna tersebut di interpretasikan sebagai pesan yang ingin disampaikan
perusahaan kepada stakeholders (Kamayanti dan Atmadja, 2011).
Apabila dikaitkan dengan pelaporan kegiatan CSR, simbol, gambar,
angka, atau teks naratif yang ada dalam sustainability report bukanlah sekedar
simbol melainkan memiliki makna dan sengaja di desain untuk menyampaikan
pesan tertentu kepada stakeholders-nya. Teks merupakan pengganti ucapan dan
pembakuan semua artikulasi yang sudah diungkapkan secara lisan dalam sebuah
naskah (Ricoeur, 2009).

33

2.1.11. Citra (image) Perusahaan


Secara bahasa, image berarti citra. Citra berkaitan dengan reputasi sebuah
perusahaan atau organisasi. Pencitraan adalah kepercayaan, apresiasi, dan persepsi
seseorang terhadap sesuatu. Bagi perusahaan, pencitraan berarti persepsi
masyarakat terhadap perusahaan (Kotler, 2000)
Roslina (2010) mengatakan bahwa citra perusahaan merupakan persepsi
ekternal stakeholders. Terdapat beberapa aspek yang dapat membentuk citra dan
reputasi perusahaan, antara lain:
1. Kemampuan finansial;
2. Mutu produk dan layanan;
3. Keunggulan dan kepekaan SDM;
4. Fokus pada pelanggan;
5. Inovasi;
6. Tanggung jawab sosial;
7. Tanggung jawab lingkungan;
8. Penegakan prinsip Good Corporate Governance (GCG).
Menurut Ardianto (2011) beranggapan bahwa citra perusahaan dapat
mempengaruhi persepsi atau penilaian masyarakat terhadap jati diri perusahaan
atau organisasi. Menurut Sutojo (2003) manfaat citra perusahaan yang baik dan
kuat yakni :
1.

Daya saing jangka menengah dan panjang yang mantap


Perusahaan berusaha memenangkan persaingan pasar dengan menyusun
stategi pemasaran taktis.

34

2.

Menjadi perisai selama krisis


Sebagian besar masyarakat dapat memahami atau memaafkan kesalahan
yang dibuat perusahaan dengan citra baik, yang menyebabkan mereka
mengalami krisis.

3.

Menjadi daya tarik eksekutif handal, yang mana eksekutif handal adalah
aset perusahaan.

4.

Meningkatkan efektivitas strategi pemasaran

5.

Menghemat biaya operasional karena citranya yang baik.

2.2.

Penelitian Terdahulu
Penelitian tentang pengungkapan pelaporan kegiatan CSR melalui annual

report maupun sustainability report kebanyakan dilakukan menggunakan


persamaan matematik dan analisis statistik. Namun demikian, sudah ada beberapa
pihak yang mencoba meneliti mengenai teks naratif pada pelaporan akuntansi.
Berikut adalah beberapa penelitian yang berkaitan dengan teks naratif pada
pelaporan kegiatan CSR.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Eccles (2010), menyatakan bahwa
tujuan dari pelaporan perusahaan adalah untuk memberikan informasi kepada
stockholder bahwa perusahaan telah menghasilkan nilai. Selain itu, laporan
perusahaan juga dapat memprediksi tren pengambilan keputusan investor. Dengan
demikian, tujuan dari pelaporan perusahaan adalah memungkinkan semua
stakeholders untuk menilai tanggung jawab perusahaan dan ketepatan tindakan
yang dilakukan oleh perusahaan.

35

Oktaviani (2012) dalam penelitiannya menyatakan bahwa transparasi di


dalam pelaporan akan membangun kembali kepercayaan publik terhadap
perusahaan. Pelaporan perusahaan memberikan gambaran mengenai perusahaan
itu sendiri serta bagaimana posisinya dalam masyarakat. Oktaviani juga
mengungkapkan pentingnya pengungkapan aspek non-keuangan sebagai bagian
dari keberlanjutan operasi perusahaan.
Chatterjee, et all (2010) meneliti apakah bagian naratif teks pada annual
report perusahaan di iran memenuhi persyaratan informasi kepada stakeholders.
Secara keseluruan, sebagian hasil mendukung teori stakeholders karena
kurangnya arus informasi perusahaan di Iran yang listed dalam memenuhi
kebutuhan informasi stakeholders.
Fitriani (2009) melakukan penelitian tentang retorika dalam annual report
perusahaan yang mengalami kerugian. Data yang diperoleh adalah data
dokumenter yang berupa annual report perusahaan. Data tersebut kemudian
dianalisis menggunakan pendekatan semiotik berdasarkan kaidah retorika. Hasil
yang diperoleh dari penelitian tersebut adalah manajemen menyajikan
informasinya dengan menggunakan teks naratif dan menjustifikasi bahwa
kerugian tersebut bukan disebabkan oleh kesalahan strategi manajemen,
melainkan faktor eksternal. Jadi, dapat disimpulkan bahwa teks naratif pada
dasarnya merupakan cerita retorik untuk membentuk citra yang positif, serta
untuk mempengaruhi stakeholders terutama pemegang saham agar mendapatkan
legitimasi.

36

Chariri dan Nugroho (2009) juga melakukan penelitian terhadap


pengungkapan serta pelaporan kegiatan CSR yang dilakukan PT. Antam.
Penelitian yang dilakukan menggunakan analisis semiotik dan retorika atas teks
naratif yang terkandung di dalam sustainability report PT. Antam. Hasil dari
penelitian menunjukkan bahwa PT. Antam berpedoman pada kerangka pelaporan
Global Reporting Initiative (GRI) dalam melakukan kegiatan CSR dan
pelaksanaan sustainability-nya. Selain itu, penelitian ini juga menyatakan
beberapa alasan yang melatarbelakangi pelaksanaan sustainability reporting oleh
PT. Antam.
Dari beberapa penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa kebanyakan
penelitian tentang teks naratif membahas masalah pengungkapan serta penyajian
dari teks naratif yang bersangkutan. Selain itu, disebutkan pula alasan pentingnya
penyajian teks naratif dalam pelaporan perusahaan, baik melaui naratif report
maupun sustainability report, yaitu untuk membangun pencitraan yang positif,
memperoleh legitimasi, serta meningkatkan reputasi perusahaan di mata
stakeholders.
Meskipun demikian, penelitian mengenai teks naratif dalam pelaporan
perusahan yang menggunakan perspektif bahasa dapat dikatakan masih sedikit.
Oleh sebab itu, penelitian ini akan mencoba untuk memahami serta menganalisis
laporan keberlanjutan perusahaan dengan persepektif bahasa melalui pendekatan
semioti teks.

37

2.3.

Kerangka Teoritis
Naratif teks pada annual report maupun sustainability report meliputi

sambutan yang diberikan dewan komisaris dan dewan direksi, serta analisis dan
pembahasan oleh manajemen.
Bersadarkan landasan teori yang telah di uraikan di atas, maka kerangka
teoritis pada penelitian adalah sebagai berikut:

Lingkungan
Bisnis/Akuntansi

Kegiatan Corporate
Sosial Responsibility
(CSR)

Annual Report/
Sustainability
Report

Semiotik teks
pada teks naratif

Legitimasi &
pencitraan positif dari
stakeholders

Gambar 2.1
Kerangka Teoritis

Narsisme

38

Pada teks naratif, perusahaan diharapkan dapat menyajikan suatu


informasi argumentatif yang tentunya dapat menghasilkan pencitraan yang positif
bagi perusahaan itu sendiri. Untuk dapat memahami bagaimana narsisme bahasa
yang digunakan manajemen perusahaan dalam pelaporan perusahaan (annual
report maupun sustainability report), diperlukan suatu kerangka teoritis.
Kondisi yang diciptakan perusahaan untuk membentuk citra perusahaan
dapat mengarah pada narsisme. Oleh karena itu, narsisme bahasa cenderung
digunakan manajemen untuk membentuk pencitraan yang berujung pada
pemerolehan legitimasi dari para stakeholders. Namun demikian, apabila
legitimasi yang diperoleh oleh perusahaan cenderung menurun dan mendapat
ancaman dari stakeholders, maka manajemen akan berusaha mendesain ulang teks
naratif menggunakan argumen, fakta, dan informasi lain yang lebih meyakinkan.

BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
3.1.

Pendekatan Penelitian
Perusahaan membuat laporan kegiatan sosialnya yang biasa dikenal

dengan sustainability report untuk melaporkan semua kegiatan sosial perusahaan.


Hal ini dilakukan perusahaan sebagai bentuk komunikasi dengan stakeholders
atas aktivitas-aktivitas yang telah dilakukan oleh perusahaan dalam upaya
pelestarian lingkungan dan kerjasama dengan masyarakat.
Akan tetapi, pelaporan kegiatan Corporate Social Responsibility
perusahaan tidak semuanya mencerminkan realita yang sesungguhnya. Padahal
pelaporan kegiatan Corporate Social Responsibility seharusnya mengungkap
semua tindakan perusahaan secara nyata serta tidak ada yang ditutup-tutupi.
Salah satu strategi perusahaan dalam memperoleh penilaian yang positif
dari masyarakat serta legitimasi dari stakeholders diwujudkan dengan membuat
sustainability report. Perusahaan berusaha membentuk pencitraan yang positif
melalui teks naratif yang tersusun dalam sustainability (David, 2002).
Dalam lingkup perusahaan, salah satu bentuk perwujudan dari teks naratif
adalah melalui sustainability report yang disajikan. Kelebihan menggunakan teks
naratif dalam penyusunan sustainability report adalah perusahaan dapat
melakukan penghalusan bahasa untuk mempengaruhi persepsi pembaca
sustainability report (Kamayanti dan Atmadja, 2011).

39

40

Dengan demikian, dapat memungkinkan pembuat sustainability report


untuk melakukan narsisme bahasa dalam penyusunan laporan tahunan tersebut.
3.2.

Metodologi Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif

interpretatif. Deskriptif mempunyai arti menceritakan maksud, sedangkan


interpretatif bersifat adanya kesan, pandangan, dan pendapat yang berhubungan
dengan tafsiran. Metode deskriptif interpretatif membahas permasalahan dengan
uraian-uraian yang jelas berdasarkan kemampuan pemahaman peneliti untuk
mengungkapkan maksud yang terdapat dalam objek penelitiannya, dalam hal ini
sustainability report PT PLN (Persero). Jadi metode deskriptif interpretatif adalah
suatu metode yang mencoba untuk menceritakan pendapat atau pandangan yang
ada dalam objek penelitian.
Oleh karena sebagian besar informasi yang berhubungan dengan penelitian
ini bersumber dari sustainability report PT PLN (Persero). Maka dari itu, metode
deskriptif interpretif ini digunakan dalam penelitian ini. Jadi, penelitian ini
menggunakan metode semiotik untuk mendeskripsikan dan memahami makna
yang terkandung dalam sustainability report PT PLN (Persero).
3.3.

Rancangan Penelitian
Penelitian kualitatif memiliki paradigma, tujuan, metode, serta tujuan yang

berbeda, sehingga tidak ada pola baku tentang format desain penelitian kualitatif.
Hal ini dikarenakan instrumen utama penelitian kualitatif adalah peneliti sendiri,

41

sehingga masing-masing orang bisa memiliki model desain sendiri sesuai


seleranya, dan umumnya penelitian kualitatif berangkat dari kasus tertentu,
sehingga sulit dirumuskan format desain penelitian yang baku (Sugiono, 2008).
Dalam penelitian ini, pemilihan desain penelitian dilakukan melalui empat
tahapan, yaitu:
1.

Menetapkan topik penelitian;

2.

Melakukan kajian antara teori yang berkaitan dengan topik penelitian;

3.

Mengumpulkan informasi (data-data) dari kepustakaan;

4.

Pemilihan teknis analisis data dan analisis dokumen.

3.4.

Jenis Data
Fitriani (2009) melakukan penelitian tentang retorika dalam annual report

perusahaan yang mengalami kerugian. Jenis data yang digunakan berupa lima
annual report perusahaan yang mengalami kerugian. Data yang diperoleh
kemudian dianalisis menggunakan pendekatan semiotik berdasarkan kaidah
retorika.
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif.
Sedangkan, sumber data yang digunakan merupakan data sekunder yang meliputi:
1) Laporan tahunan (annual report),
2) Laporan keberlanjutan (sustainability report),
3) Berita pers tentang kegiatan CSR perusahaan,
4) Buku-buku terkait yang digunakan untuk melakukan telaah teori,
5) Jurnal dan artikel ilmiah.

42

Yeoh (2010) melakukan penelitian kualitas pelaporan naratif perusahaan


yang listed di Inggris. Pendekatan kualitatif yang dilakukan adalah mengandalkan
analisis data sekunder dari studi kasus tiga perusahaan yang listed. Penelitian ini
berusaha untuk menganalisis keterbatasan pelaporan naratif tidak hanya bagi
pengambil keputusan (shareholders) tetapi juga bagi stakeholders.
3.5.

Prosedur Pengumpulan Data


Dalam penelitian ini, proses pengumpulan data dilakukan melalui dua

cara, yaitu metode dokumentasi dan metode penelusuran data online. Hal ini
dilakukan untuk meningkatkan kredibilitas penelitian.
3.5.1. Dokumentasi
Metode dokumenter adalah metode yang digunakan untuk menelusuri data
historis, metode dokumenter ini menarik untuk digunakan dalam berbagai ilmu
sosial karena sejumlah besar data sosial dan fakta tersimpan dalam bahan yang
berbentuk dokumetasi (Bungin, 2009).
Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini berupa sustainability
report perusahaan periode 2011-2013 yang dipublikasikan dalam situs resmi
perusahaan. Selain sustainability report perusahaan, penelitian ini juga
menggunakan data sekunder lain berupa berita pers perusahaan serta artikel
mengenai kegiatan Corporate Social Responsibility perusahaan.
Data-data

sekunder

tersebut

didokumentasikan untuk keperluan penelitian.

kemudian

dikumpulkan

dan

43

3.5.2. Penelusuran Data Online


Metode penelusuran data online adalah tata cara melakukan penelusuran
data melalui online data seperti internet atau media jaringan lainnya yang
menyediakan

fasilitas

online,

sehingga

memungkinkan

peneliti

untuk

memanfaatkan informasi online yang berupa data, secepat dan semudah mungkin,
serta dapat di pertanggung jawabkan secara akademis (Bungin, 2008).
Salah satu bentuk penelusuran online yang akan dilakukan dalam
penelitian ini adalah mengakses situs resmi perusahaan PT. Perusahaan Listrik
Negara yang dijadikan sebagai subjek penelitian yaitu www.pln.co.id untuk
mendapatkan data dokumeter berupa sustainability report perusahaan serta berita
pers yang dirilis oleh perusahaan di situs resmi milik perusahaan.
Langkah-langkah

mendapatkan

data

berupa

sustainability

report

perusahaan adalah sebagai berikut:


1.

Memasukkan alamat website perusahaan yaitu www.pln.co.id pada address


bar untuk membuka tampilan awal dari situs resmi milik perusahaan.

2.

Kemudian klik link Produk dan Layanan yang terdapat pada website resmi
perusahaan.

3.

Pilih link Investor kemudian sorot ke bawah, lalu klik Laporan


Keberlanjutan. Setelah itu akan muncul link download laporan
keberlanjutan dari tahun ketahun.

4.

Pilih laporan keberlanjutan yang akan di download.

5.

Kemudian komputer akan mendownload laporan keberlanjutan tersebut


secara otomatis.

44

Selain sustainability report perusahaan, penelitian ini juga memerlukan


artikel ilmiah, jurnal penelitian, serta berita pers perusahaan yang dapat diakses
dengan bantuan search engine seperti Google.
Berikut ini adalah langkah-langkah yang diperlukan untuk mencari berita
pers mengenai kegiatan CSR perusahaan;
1.

Memasukkan alamat search engine, misalnya www.google.com pada


address bar untuk masuk dalam tampilan awal Google;

2.

Setelah muncul tampilan awal dari Google, masukkan kata kunci yang
akan dicari, misal kegiatan CSR PLN;

3.

Kemudian klik Cari, maka tampilan Google selanjutnya menampilkan link


yang mengandung kata kunci kegiatan CSR PLN dari berbagai media
online.

3.6.

Analisis Data
Haniffa dan Hudaib (2007) melakukan analisis ethical identity pada

laporan tahunan bank syariah menggunakan content analysis dengan membangun


Ethical Identity Index (EII). Hal yang dilakukan untuk melakukan penelitian
tersebut adalah membandingkan antara actual, dan komunikasi, serta mengungkap
media lain seperti majalah in house dan koran.
Content analysis merupakan metode analisis data yang dilakukan melalui
teknik observasi dan analisis terhadap isi atau pesan dari suatu dokumen
(Indriantoro dan Supomo, 2009).

45

Penelitian ini menggunakan content analysis berupa analisis semiotik


dengan tujuan untuk mengetahui apakah perusahaan melaporkan kegiatan
tanggung jawab sosialnya sesuai dengan kenyataan yang ada atau malah melebihlebihkan agar mendapat pencitraan yang positif dari masyarakat dan legitimasi
dari stakeholders.
Semiotik adalah ilmu yang mengkaji tanda dalam kehidupan manusia
(Hoed, 2008). Tanda yang dimaksud dalam penelitian ini adalah laporan tanggung
jawab sosial perusahaan yang terdapat dalam sustainability report PT. Perusahaan
Listrik Negara.
Berangkat dari argumen di atas, penelitian ini juga menggunakan content
analysis berupa analisis semiotik atas teks naratif sustainability report PT.
Perusahaan Listrik Negara. Berikut dibawah ini adalah tahap-tahap metode
analisis dalam penelitian ini:
a.

Menginterpretasikan kalimat.dilakukan dengan cara memaknai kalimat.

b.

Mengidentifikasi kalimat dengan cara mencari kalimat yang cenderung


berlebihan dalam pelaporan kegiatan CSR.

c.

Mengumpulkan berita pers yang terkait dengan kegiatan CSR.

d.

Membandingkan hasil identifikasi kalimat dalam sustainability report


pada langkah kedua dengan berita pers yang didapat dari langkah ketiga.

e.

Mengungkapkan hasil analisis dalam bentuk kajian deskriptif, serta


menarik kesimpulan dari data-data yang diperoleh.
Berdasarkan penjabaran diatas, maka penelitian menggunakan metode

case study. Sedangkan untuk analisis data, penelitain ini menggunakan content

46

analysis dengan pendekatan semiotik. Metode tersebut dianggap tepat, karena


fokus utama penelitian adalah menginterpretasi makna dalam laporan perusahaan.

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.

Gambaran Umum Subjek Dan Objek Penelitian


Penelitian ini diawali dengan cara mendownload laporan keberlanjutan

(sustainability report) dari website PT PLN (Persero), yaitu www.pln.co.id.


Kemudian, dilanjutkan dengan mencari informasi mengenai kegiatan CSR PT
PLN (Persero).
Sustainability reporting atau juga sering dikenal dengan laporan CSR
merupakan laporan yang memuat kinerja perusahaan dalam tiga aspek, yaitu
ekonomi, lingkunga, dan sosial. Laporan ini menjadi sarana bagi peamngku
kepentingan (stakeholders) untuk menilai sejauh mana perusahaan mengatasi isu
keberlanjutan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat (Darwin,
2006).
Penelitian ini dilakukan pada akhir tahun 2014 sampai dengan awal tahun
2015, sehingga sustainability report yang digunakan sebagai objek penelitian
adalah sustainability report untuk tahun 2012 dan 2013. Hal ini dikarenakan
sustainability report untuk tahun 2014 belum terbit. Akses sustainability report
didapatkan melalui website perusahaan, pada alamat www.pln.co.id.
Penelitian ini juga memerlukan informasi mengenai kegiatan CSR yang
dilakukan oleh perusahaan melalui media massa, seperti internet. Secara
keseluruan, sebagian besar penelitian ini dilakukan menggunakan internet karena
kemudahan akses, serta cakupan informasi yang didapat lebih luas.
47

48

Selain itu, alasan memilih sustainability report sebagai objek penelitian


adalah dikarenakan sustainability report merupakan media pelaporan perusahaan
terkait aktivitasnya dengan lingkungan. Dan alasan terakhir adalah bahwa
sustainability report mudah diakses untuk keperluan penelitian (Haniffa dan
Hudaib, 2007).
4.2.

Analisis Semiotika pada Struktur Sustainability Report PT. PLN


(Persero)
Sustainability report merupakan salah satu media pengungkapan sosial

selain annual report, yang digunakan sebagai bukti bahwa perusahaan sudah
melaksanakan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR). Hal tersebut dapat
dilihat dari penyajian sustainability report PT PLN (Persero) yang memuat
penjelasan mengenai pelaksanaan kegiatan CSR perusahaan, baik dalam bentuk
teks naratif, foto, tabel, maupun grafik.
Penyajian sustainability report seperti yang telah dilakukan oleh PT PLN
(Persero) ini, sejalan dengan pendapat David (2002) yang menyatakan bahwa
praktik pelaporan perusahaan tidak hanya memuat informasi kuantitatif, tetapi
juga memuat informasi kualitatif berupa teks naratif, foto, tabel, serta grafik.
Laporan sustainability report di buat oleh PT PLN (persero), pertama
kalinya pada tahun 2008, tetapi pada tahun 2009 PT PLN (Persero) tidak
membuat sustainability report secara terpisah, melainkan digabung dalam annual
report PT PLN (Persero) 2009. Demikian hal ini terlihat dari bagian Tentang
Laporan Keberlanjutan PT. PLN (Persero) tahun 2013 (hal 27).

49

Sebagian materi pada laporan ini telah disajikan dalam Laporan Tahunan
PT PLN (Persero) Tahun 2013. Sebelumnya, laporan ini juga pernah
dibuat terpisah pada tahun 2008, 2010, 2011 dan 2012, pada tahun 2009
digabung dalam buku Laporan Tahunan PT PLN (Persero).
Pada sustainability report tahun 2012, manajemen PT PLN (Persero)
menyebutkan bahwa sustainability report pada tahun 2012 adalah laporan keempat sejak pertama kali terbit pada tahun 2008. Hal tersebut disebutkan pada
bagian Tentang Keberlanjtan PT PLN (Persero) tahun 2012 (hal 7).
Laporan ini merupakan laporan tahun ke-empat sejak laporan pertama
disampaikan pada tahun 2008.
Pernyataan tersebut berbeda dengan pernyataan PT PLN (Persero) pada
tahun 2013. PT PLN (Persero) menyebutkan bahwa sustainability report pada
tahun 2013 merupakan laporan ke-enam sejak pertama kali terbit, seperti
tercantum dalam pernyataan manajemen PT PLN (Persero) dalam sustainability
report tahun 2013 (hal 27).
Laporan ini merupakan laporan tahun ke-enam sejak laporan pertama
disampaikan pada tahun 2008 ...
Perbedaaan pernyataan pendapat manajemen dikarenakan pada tahun 2009
PT PLN (Persero) tidak menerbitkan sustainability report, melainkan hanya
menerbitkan annual report. Pada tahun 2013, PT PLN (Persero) menghitung
penerbitan sustainability report pada tahun 2009, padahal seharusnya tahun 2009
tidak di ikutsertakan, dikarenakan PT PLN hanya menerbitkan annual report saja
pada tahun 2009.

50

Berikut adalah pemaparan struktur sustainability report PT PLN (Persero)


pada tahun 2012 dan tahun 2013 secara umum.
4.2.1. Sampul Depan Sustainability Report PT PLN (Persero)
Sampul depan merupakan salah satu bagian yang mempunyai peranan
penting dalam sebuah pelaporan. Hal ini dikarenakan, pembentukan citra sebuah
perusahaan bisa dimulai dari bagian depan yaitu sampul depan sustainability
reporting (Preston et all, 2008).
Sampul depan dari laporan-laporan sustainability report PT PLN (Persero)
menggunakan gambar serta desain yang berbeda-beda setiap tahunnya. Setiap
desain dan gambar yang ditampilkan pada sampul depan laporan memiliki arti
atau makna tertentu.
Sampul depan sustainability report PT PLN (Persero) tahun 2012 seperti
tampak pada gambar 4.1, di dominasi warna hijau dan putih yang menjadi latar
belakang. Sampul depan tersebut di ikuti tagline Terang dan Peduli.
Menurut teori psikologi warna yang dikemukakan oleh Brewster (1831),
menyatakan bahwa warna hijau merupakan warna yang tenang karena biasanya di
kaitkan dengan lingkungan dan alam untuk memberikan kesan segar.
Tampaknya, PT PLN (Persero) berupaya membuat pencitraan pada
laporan ini sebagai laporan kinerja PT PLN (Persero) kepada stakeholders bahwa
PT PLN (Persero) peduli terhadap lingkungan sekitar, dengan menampilkan
dominasi warna hijau serta tagline Terang dan Peduli.

51

Sedangkan sampul depan sustainability report PT PLN (Persero) pada


tahun 2013 yang tampak pada gambar 4.2, berlatar belakang langit dan
didominasi gradasi warna biru, di ikuti dengan gambar lampu, dan tanaman yang
akan tumbuh dalam lampu tersebut. Pada tahun 2013, tagline yang digunakan PT
PLN (Persero) adalah Tata Kelola Berkualitas dan Inovasi untuk Berkelanjutan.
Berdasarkan teori psikologi warna yang dikemukakan oleh Brewster
(1831) menyatakan bahwa warna biru merupakan warna corporate, hal ini
dikarenakan hampir semua perusahaan menggunakan warna biru sebagai warna
utamanya.

Secara

keseluruhan

warna

ini

melambangkan

kepercayaan, konservatif, keamanan, tehnologi, kebersihan, dan keteraturan. Hal


ini sesuai dengan visi PT PLN (Persero) (hal 102).
Terwujudnya keharmonisan hubungan PT PLN (Persero) dengan
masyarakat sehingga akan menunjang keberhasilan kegiatan PT PLN
(Persero) dalam menyediakan tenaga listrik bagi masyarakat.
Sedangkan tagline Tata Kelola Berkualitas dan Inovasi untuk
Berkelanjutan,

serta

gambar

dalam

sustainability

report

tahun

2013

menunjukkan bahwa PT PLN (Persero) senantiasa berusaha berkomitmen tinggi


dalam mengembangkan usahanya dengan inovasi yang berkelanjutan serta tata
kelola yang berkualitas untuk memberikan nilai yang terbaik bagi seluruh
stakeholders perusahaan.
Dari deskripsi di atas, menunjukkan bahwa PT PLN (Persero) memiliki
tujuan khusus yang ingin disampaikan melalui sampul depan sustainability report.

52

Perusahaan melakukan pemilihan kata-kata, gambar, serta warna latar belakang


sampul dengan hati-hati terhadap segala materi yang digunakan.
Hal ini sejalan dengan pendapat Greenwood (2008) yang mengemukakan
bahwa perusahaan sangat berhati-hati menggunakan gambar dalam sampul depan
(cover) suatu laporan, yang nantinya akan memberikan kesan yang kuat mengenai
kinerja perusahaan kepada stakeholders.
Pada bagian sampul depan (cover) sustainability report PT PLN (Persero)
baik tahun 2012, maupun tahun 2013 tidak berisi teks naratif, melainkan hanya
kumpulan kata persuasif yang dalam hal ini disebut tagline, yang memotivasi
tanpa adanya kesan pengungkapan secara berlebihan.

Gambar 4.1

Gambar 4.2

Cover Sustainability Report


PT PLN (Persero) Tahun 2012

Cover Sustainability Report


PT PLN (Persero) Tahun 2013

53

4.2.2. Bagian Pengantar Sustainability Report PT PLN (Persero)


Bagian pengantar sustainability report PT PLN (Persero) pada tahun 2012
dan 2013 tidak mengalami perbedaan yang signifikan. Baik pada tahun 2012
maupun 2013, berisi tentang sekilas laporan.
Bagian pengantar ini memiliki dua poin pesan yang ingin disampaikan
perusahaan kepada audien. Poin pertama, PT PLN (Persero) ingin menunjukkan
kepada audien bahwa sustainability report PT PLN (Persero) disusun berdasarkan
format pelaporan Global Reporting Initiative (GRI). Sedangkan poin kedua adalah
PT PLN (Persero) ingin mengemukakan tujuan pembuatan sustainability report
PT PLN (Persero).
GRI merupakan pedoman penyusunan sustainability reporting yang
berstandart internasional, dan mempunyai misi untuk memenuhi kebutuhan akan
adanya komunikasi yang terbuka mengenai keberlanjutan (sustainability) dan
ekspektasi atas transparasi mengenai dampak ekonomi, sosial, serta lingkungan
dengan menyajikan kerangka yang terpercaya dan kredibel untuk pelaporan
berkelanjutan (sustainability reporting) yang bisa digunakan untuk semua
organisasi dari berbagai ukuran, sektor, atau lokasi (Global Reporting Initiative,
2006).
Pada poin pertama, dalam pembuatan sustainability report, PT PLN
(Persero) mengacu pada ketentuan sistem pelaporan berstandar Internasional,
yaitu GRI Sustainability Reporting Guideliness versi 3.1 (GRI G3.1) serta Electric

54

Utilities Sector Supplement (GRI G3.1-EUSS) Final Version. Hal ini disebutkan
pada sustainability report PT PLN (Persero) tahun 2012 (hal 7).
Dalam menyusun Laporan ini, kami menggunakan kerangka pelaporan
keberlanjutan yang dikeluarkan oleh Global Reporting Initiative (GRI)
lengkap dengan suplemen industri kelistrikan yang telah diakui dan
diterima luas secara internasional. Kerangka pelaporan ini lebih dikenal
dengan sebutan Pedoman Penyusunan Laporan Keberlanjutan GRI versi
3.1 & Electric Utilities Sector Supplement (GRI G3.1-EUSS) Final
Version. Pada tahun sebelumnya, kami menggunakan kerangka GRI
G3.0-EUSS Final Version.
Hal tersebut juga disebutkan dalam sustainability report tahun 2013 PT
PLN (Persero) Tahun 2013 (hal 27).
Dalam menyusun Laporan Keberlanjutan PT PLN (Persero) Tahun 2013,
kami menggunakan kerangka pelaporan keberlanjutan yang dikeluarkan
oleh Global Reporting Initiative (GRI) lengkap dengan suplemen
industri kelistrikan yang telah diakui dan diterima luas secara
internasional. Kerangka pelaporan dikenal dengan sebutan Pedoman
Penyusunan Laporan Keberlanjutan GRI versi 3.1 & Electric Utilities
Sector Supplement (GRI G3.1-EUSS) Final Version.

Pada poin kedua, PT PLN (Persero) ingin menyampaikan kepada audien


mengenai tujuan pembuatan sustainability report PT PLN (Persero). Berikut
pernyataan PT PLN (Persero) dalam sustainability report tahun 2013 (hal 27)
yang menyebutkan bahwa laporan ini bertujuan untuk menunjukkan kinerja
keberlanjutan PT PLN (Persero). Hal serupa juga ditunjukkan pada sustainability
report PT PLN (Persero) tahun 2012 (hal 7).
Laporan Keberlanjutan PT PLN (Persero) Tahun 2013 (Laporan atau
Kami) ini disampaikan untuk menunjukkan kepada para pemangku
kepentingan kinerja keberlanjutan PLN dalam bidang ekonomi,
lingkungan, dan sosial selama tahun 2013.

55

Cara yang digunakan perusahaan untuk mengirimkan pesan melalui


sustainability report merupakan strategi komunikasi perusahaan yang digunakan
untuk membangun kepercayaan publik (Kohut dan Segars, 1992).
Dengan demikian, PT PLN (Persero) menggunakan bagian pengantar pada
sustainability report sebagai alat komunikasi manajemen perusahaan kepada para
stakeholders perusahaan untuk memberikan informasi yang jelas dan transparan.
4.2.3. Sambutan Direktur Utama pada Sustainability Report PT PLN
(Persero)
Secara garis besar, isi sambutan dari direktur utama pada tahun 2012
maupun 2013 hampir sama yaitu berupa teks naratif. Isi dari pernyataan direktur
utama perusahaan tersebut berusaha membangun image perusahaan serta
mempengaruhi stakeholders. Berikut salah satu pernyataan direktur utama dalam
mempengaruhi stakeholders, terdapat pada sustainability report PT PLN (Persero)
tahun 2012 (hal 13).
... PLN konsisten mendistribusikan perolehan nilai ekonomi kepada
seluruh pemangku kepentingan, terutama kepada pemasok, kontraktor,
penyandang dana, karyawan, dan pemerintah.

Seakan konsisten dengan pernyataan tahun sebelumnya, direktur utama PT


PLN (Persero) juga menyatakan hal serupa untuk meningkatkan kepercayaan
pemangku kepentingan pada tahun 2013. Hal ini disebutkan pada sustainability
report tahun 2013 (hal 38).

56

PLN tetap berkomitmen penuh pada upaya meningkatkan kualitas


penerapan tata kelola perusahaan yang baik untuk meningkatkan
kepercayaan pemangku kepentingan ...

Selain itu, perusahaan juga berusaha menciptakan image yang positif,


melalui pernyataan direktur utama yang dibuat sedemikian rupa sehingga hanya
kesuksesan perusahaan yang dijelaskan, serta menghindari cerita mengenai
kegagalan yang dialami perusahaan. Berikut salah satu pernyataan direktur utama
PT PLN (Persero) pada sustainability report tahun 2013 (hal 36).
PLN telah berhasil mendapatkan benefit dari penjualan karbon kredit dari
skema VCS untuk tiga PLTA yang dikelola, ...

Hal serupa, yaitu berusaha membentuk image yang positif juga dinyatakan
oleh direktur utama PT PLN pada sustainability report tahun 2012 (hal 15).
Pada aspek lingkungan, PLN berpartisipasi pada upaya mengurangi
dampak lingkungan dari kegiatan usahanya melalui dua pendekatan, yaitu
(i) melalui perbaikan operasional yang menjadi sumber dampak
lingkungan; (ii) melalui upaya non-operasional yang memberi dampak
positif terhadap perbaikan kualitas lingkungan.

Dari pernyataan-pernyataan direktur utama PT PLN (Persero) pada tahun


2012 dan tahun 2013, perusahaan berupaya menjelaskan betapa perusahaan peduli
terhadap lingkungan sekitar, serta berusaha mempengaruhi stakeholders akan
kepedulian

perusahaan

terhadap

keadaaan

masyarakat

sekitar.

Melalui

pernyataan-pernyataan tersebut, diharapkan image positif dapat terbentuk di mata


stakeholders.

57

Hal tersebut konsisten dengan pendapat Deegan (2002) yang menyatakan


bahwa perusahaan berusaha menunjukkan argumen atau data tertentu untuk
meyakinkan stakeholders bahwa dalam menjalankan kegiatan operasionalnya,
perusahaan juga peduli terhadap lingkungan.
4.2.4. Profil Perusahaan
Pada sustainability report tahun 2012, profil PT PLN (Persero) dijelaskan
dalam bentuk teks naratif, grafik, tabel, serta gambar. Gambar-gambar yang
tercantum pada bagian profil perusahaan dalam sustainability report PT PLN
(Persero) tahun 2012 meliputi gambar seluruh peristiwa penting, penghargaan,
serta sertifikasi yang telah diraih selama tahun berjalan. Gambar-gambar tersebut
memakan tempat sebanyak 8 halaman pada sustainability report PT PLN
(Persero) tahun 2012, mulai dari halaman 37 sampai halaman 45. Terdapat pula
gambar peta Indonesia yang menunjukkan wilayah-wilayah operasional PT PLN
(Persero) yang tersebar di seluruh Indonesia.
Bagian profil perusahaan pada sustainability report PT PLN (Persero)
tahun 2013, mengalami perbedaan dari tahun sebelumnya. Jika pada tahun 2012,
profil perusahaan diletakkan sesudah sambutan direktur utama, lain halnya dengan
tahun 2013. Pada tahun 2013, PT PLN (Persero) menempatkan profil perusahaan
pada bagian akhir sustainability report. Selain itu, penempatan rangkaian
peristiwa penting, penghargaan,

serta sertifikasi

diletakkan pada awal

sustainability report, sehingga terpisah dari bagian profil perusahaan. Sehingga


pada bagian profil perusahaan tahun 2013, PT PLN (persero) hanya menggunakan

58

teks naratif, tabel, serta sedikit gambar. Gambar yang tercantum pada
sustainability report tahun 2013 ini hanya peta indonesia yang menjelaskan
wilayah-wilayah operasional perusahaan.
Dengan demikian, PT PLN (Persero) berupaya mengungkapkan

dan

menjelaskan mengenai identitas singkat perusahaan, perkembangan bisnisnya, dan


penghargaan-penghargaan, serta sertifikasi yang diraih untuk memperoleh atau
bahkan mempertahankan image positif pada PT PLN (Persero). Dalam bagian ini,
perusahaan berusaha mendeskripsikan perusahaan dengan baik.
Hal ini sejalan dengan teori self-presentation yang diungkapkan oleh
Goffman dimana individu atau organisasi mencoba untuk membentuk pikiran
orang lain tentang individu atau organisasi tersebut (Goffman, 1998). Pendapat
lain juga menyatakan hal yang sejenis, self presentation merupakan suatu kondisi
tertentu yang membuat individu atau organisasi menggambarkan dirinya secara
berlebihan, ataupun membuat image yang menyesatkan tentang dirinya di mata
orang lain, agar membuat orang lain memberikan penilaian yang positif bagi
individu atau organisasi, serta agar dihormati kemampuannya (Delameter and
Myers, 2007).
Sebagaimana, bahasan profil perusahan yang berisi bagian-bagian
mengenai identitas singkat perusahaan, perkembangan bisnis perusahaan,
sertifikasi, dan penghargaan yang diraih, maka terdapat kecenderungan
perusahaan membentuk pencitraan yang positif melalui pengungkapan beberapa
informasi-informasi tersebut diatas.

59

4.2.5. Tata Kelola Keberlanjutan


Bagian tata kelola keberlanjutan perusahaan ini menjelaskan mengenai
penerapan etika bisnis perusahaan, serta hubungan dengan stakeholders. Baik
pada sustainability report tahun 2012 maupun 2013, PT PLN (Persero)
mendeskripsikan keterlibatan stakeholders dan cenderung berpihak kepada
stakeholders karena perusahaan menggangap posisi stakeholders sangat
powerfull.
Pada sustainability report tahun 2012, PT PLN (Persero) menjelaskan
hubungannya dengan stakeholders dalam bentuk teks naratif. Berikut merupakan
kutipan dari sustainability report tahun 2012 (hal 84-85).
.... PLN telah mengidentifikasi dengan seksama grup pemangku
kepentingan utama yang memiliki pengaruh dominan terhadap
keberlangsungan usaha. Para pemangku kepentingan, terdiri atas
pemegang obligasi, pegawai, Pemerintah/Regulator (sebagai pemegang
saham maupun sebagai regulator-melalui OJK), legislator (DPR), mitra
kerja/pemasok (vendor), pelanggan, kreditor, masyarakat sekitar dan
media massa.

Dari pengungkapan diatas, menunjukkan bahwa stakeholders perusahaan


memiliki pengaruh yang dominan terhadap keberlangsungan usaha perusahaan.
Perusahaan berusaha mengadaptasikan dirinya dengan keinginan stakeholder
karena mereka menganggap posisi stakeholders yang sangat powerfull (Sakinah
dkk, 2014).
Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Belkaoui (1993)
dimana perusahaan tidak hanya memiliki shareholders, namun juga stakeholder
yang berperan sangat penting bagi keberlanjutan perusahaan.

60

Dalam sustainability report tahun 2013, perusahaan mengharapkan


feedback dari stakeholders atas pengungkapan yang dilakukan oleh perusahaan,
baik melalui sustainability report maupun media massa. Dengan adanya feedback
dari stakeholders, perusahaan dapat memahami harapan yang di inginkan oleh
stakeholders. Hal ini dinyatakan pada sustainability report tahun 2013 (hal 55).
Pelibatan tersebut lebih ditekankan pada upaya menjalin komunikasi
intensif yang terstruktur dan konstruktif, sehingga PLN dapat memahami
harapan para pemangku kepentingan dengan jelas. Dilain pihak, para
pemangku kepentingan dapat mengetahui sampai dimana upaya yang
dilakukan PLN dalam memenuhi harapan, mengetahui hambatan utama
yang dihadapi, bahkan dapat mengantisipasi sampai berapa jauh
harapannya
terpenuhi.
Oleh
sebab
itu,
PLN
senantiasa
mengkomunikasikan hasil operasional secara teratur melalui berbagai
media yang disiapkan untuk mendapatkan feed-back, berupa saran maupun
harapan yang diinginkan.

Dari pernyataan di atas, dapat diartikan bahwa PT PLN (Persero)


menggunakan sustainability report serta media massa sebagai alat komunikasi
antara manajemen perusahaan dengan stakeholders untuk memberikan informasi
yang transparan mengenai kegiatan yang dilakukan perusahaan.
Dalam hal sustainability report PT PLN (Persero), yang berperan sebagai
speaker adalah (manajemen) perusahaan, sedangkan audien dari sustainability
report perusahaan adalah para stakeholders (Chariri dan Nugroho, 2009).
Kondisi dari pernyataan-pernyataan diatas, sesuai dengan teori yang
dikemukakan oleh Belkaoui (2003) yang menyatakan bahwa perusahaan tidak
hanya memiliki shareholders namun juga stakeholders yang berperan sangat
penting bagi keberlanjutan perusahaan.

61

4.2.6. Pelaporan dan Pengungkapan Corporate Social Responsibility


Pada bagian pelaporan dan pengungkapan Corporate Social Responsibility
terdapat tiga bagian penting yang dilaporkan perusahaan dalam sustainability
reporting 2012. Sedangkan pada tahun 2013, perusahaan mengungkapkan empat
bagian penting.
Ketiga bagian penting tersebut pada sustainability report tahun 2012
terdiri dari tanggung jawab kepada karyawan, tanggung jawab kepada masyarakat,
serta tanggung jawab perusahaan kepada lingkungan. Sedangkan pada
sustainability report tahun 2013, perusahaan menambahkan satu komponen lagi,
yaitu tanggung jawab kepada konsumen.
Tanggung jawab PT PLN (Persero) kepada karyawan dilakukan untuk
memenuhi kebutuhan karyawan, serta menjaga kesuksesan pengelolaan
operasional perusahaan. Hal ini dinyatakan dalam sustainability report tahun 2012
(hal 96).
PLN menerapkan dua pendekatan utama dalam memenuhi kebutuhan
pegawai, yakni: (1), memastikan bahwa tenaga kerja yang ada telah
dioptimalkan atau memastikan bahwa setiap orang bekerja secara efektif
dan efisien dengan produktivitas yang setara dengan perusahaan yang
mempraktikkan standar terbaik di dunia. (2), melakukan peningkatan
kualitas dan kuantitas tenaga kerja sesuai kebutuhan organisasi.

Demikian pula tahun 2013, perusahaan menjelaskan tujuannya melakukan


tanggung jawab kepada karyawan. Hal ini dijelaskan pada pernyataan perusahaan
dalam sustainability report tahun 2013 (hal 164).

62

Pengelolaan aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di PLN


dilakukan sebagai salah satu upaya menjaga kesuksesan pengelolaan
operasional perusahaan, melalui peningkatan efisiensi operasional dari
berkurangnya jam kerja yang hilang. ...

PT PLN (Persero) menyatakan bahwa perusahaan berusaha menunjukkan


tanggung jawab terhadap konsumen melalui berbagai program. Hal ini dinyatakan
dalam sustainability report tahun 2013 (hal 82).
Kami menunjukkan komitmen tanggung jawab terhadap konsumen
melalui upaya menciptakan budaya layanan, memenuhi kebutuhan listrik
dengan investasi penambahan daya, merealisasikan program perbaikan
kualitas layanan dengan dukungan aplikasi teknologi informasi terkini dan
menjaga privasi para pelanggan.

Meskipun demikian, PT PLN (Persero) juga menyadari bahwa perusahaan


masih menerima keluhan dari konsumen, dan perusahaan mengklaim bahwa
perusahaan dapat menyelesaikan seluruh keluhan dengan baik. Hal ini diperjelas
pada sustainability report tahun 2013 (hal 84).
Pada periode pelaporan, Perseroan masih menerima keluhan konsumen
menyangkut pemenuhan peraturan dan etika mengenai dampak kesehatan,
keamanan dan keandalan aliran listrik, namun demikian Perseroan dapat
menyelesaikan seluruh keluhan tersebut dengan baik.

Bagian selanjutnya setelah tanggung jawab sosial perusahaan kepada


pelanggan adalah tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat. Baik
pada sustainability report tahun 2012 maupun 2013, perusahaan cenderung
melaporkan tentang hubungan perusahaan dengan masyarakat sekitar, serta
berbagai program yang telah dilakukan perusahaan dalam meningkatkan

63

kesejahteraan masyarakat. Berikut pernyataannya dalam sustainability report


tahun 2012 (hal 132).
Pada tahun 2012, PLN telah merealisasikan berbagai kegiatan
dalamrangka pelaksanaan Program Bina Lingkungan, baik dilaksanakan
oleh unit Kantor Pusat, Partisipasi pada BUMN Peduli dan dilimpahkan ke
Unit Pelaksana PKBL lain, sebagai berikut. ...

Pada sustainability report tahun 2013, perusahaan menyebutkan bahwa


realisasi program bina lingkungan merupakan salah satu wujud kepedulian
perusahaan

terhadap

masyarakat

sekitar.

Berikut

pernyataannya

dalam

sustainability report tahun 2013 (hal 107).


Realisasi Program Bina Lingkungan (BL) merupakan wujud kepedulian
PLN terhadap kesejahteraan sosial masyarakat di sekitar unit kerja
Perseroan dengan tujuan menciptakan hubungan yang selaras dan serasi
antara Perseroan dengan masyarakat dan lingkungan sekitar.

Selain tanggung jawab sosial perusahaan terhadap pelanggan, karyawan,


serta masyarakat, bagian penting lainnya adalah tanggung jawab perusahaan
terhadap lingkungan. Bahasan mengenai bagian ini merupakan salah satu bagian
yang penting pada sustainability report PT PLN (Persero) mengingat operasi
kedua perusahaan sangat berdampak pada lingkungan sekitar. Berikut salah satu
pernyataan PT PLN (Persero) mengenai tanggung jawabnya kepada lingkungan
pada sustainability report tahun 2012 (hal 142).
Upaya PLN dengan memperhatikan dan menjaga kelestarian lingkungan
dalam menjalankan kegiatan operasionalnya telah sejalan dengan visi
perusahaan yaitu Menjalankan Kegiatan Usaha yang Berwawasan
Lingkungan. PLN telah dan akan mengupayakan pengelolaan lingkungan

64

secara terus menerus serta melakukan pemantauan lingkungan secara


periodik. ...

Konsisten dengan pernyataan tahun sebelumnya, pada sustainability report


tahun 2013. PT PLN (Persero) juga mengungkapkan pernyataan yang serupa pada
sustainability report tahun 2013 (hal 117).
PLN telah dan akan terus mengupayakan pengurangan pencemaran tanah,
air dan udara oleh zat-zat polutan termasuk didalamnya adalah
pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Upaya ini dilakukan secara
menyeluruh dalam semua kegiatan penyediaan listrik oleh PLN baik itu
instalasi Pembangkit, Transmisi/Gardu Induk dan Distribusi.
Bukti serta komitmen PT PLN (Persero) terhadap pelestarian lingkungan
juga ditunjukkan dengan mampu mempertahankan sertifikasi ISO 14001:2004 dan
ISO 14001:2005. Hal tersebut dibuktikan dengan pernyataan dalam sustainability
report PT PLN (Persero) tahun 2013 (hal 120).
Sebagian besar instalasi pengelolaan lingkungan yang dilakukan oleh PLN
sudah terakreditasi secara internasional menurut standar ISO 14001:2004
dan ISO 14001: 2005. Dengan sistem yang terakreditasi maka pengelolaan
lingkungan di PLN dapat meningkat dari sisi efektivitasnya yang
mencakup sistem manajemen lingkungan, audit lingkungan, evaluasi
kinerja lingkungan, kajian daur hidup pokok serta menjaga kredibilitas
Perseroan dalam pengelolaan lingkungan.
Praktik pelaporan serta pengungkapan kegiatan CSR yang dilakukan oleh
PT PLN (Persero) sesuai dengan konsep yang dikembangkan oleh Elkington,
yaitu Triple Bottom Line. Triple Bottom Line berisi tiga pilar, yang juga dikenal
dengan sebutan 3P, yaitu Profit, People, dan Planet. Tujuannya adalah mengukur

65

hal yang berkaitan dengan kinerja keuangan, sosial, serta lingkungan perusahaan
selama satu periode berjalan (Wibisono, 2007).
4.3.

Narsisme Bahasa pada Sustainability Report PT. PLN (Persero)


PT PLN (Persero) sudah menerbitkan sustainability report sejak tahun

2008. Artinya, perusahaan sudah melakukan pelaporan kegiatan tanggung


jawabnya melalui media pelaporan tersendiri, sehingga tidak hanya dalam laporan
tahunan saja. Dengan demikian, perusahaan berusaha melaporkan kegiatan
tanggung jawab sosialnya secara lebih luas, dan transparan sebagai bentuk
kepedulian perusahaan terhadap lingkungan.
Sustainability report merupakan salah satu media pengungkapan kegiatan
Corporate Social Responsibility, sehingga memicu adanya penggunaan kalimatkalimat yang termasuk dalam kategori narsisme bahasa dalam sustainability
reporting (Sakinah dkk, 2014).
Umumnya, kalimat-kalimat dalam sustainability report digunakan
manajemen perusahaan untuk menyampaikan informasi yang sifatnya persuasif.
Manajemen menggunakan kalimat persuasif tersebut untuk mempengaruhi
pembaca melalui kata demi kata yang tercantum dalam sustainability report.
Hal tersebut sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Gardner dan
Martinko (1998)

yang menyatakan bahwa

perusahaan berusaha

untuk

menciptakan image yang positif, serta cenderung menghindari image yang


negatif.

66

4.3.1. Membentuk Image yang Positif


Sustainability report merupakan sarana komunikasi yang digunakan oleh
manajemen perusahaan untuk berhubungan dengan stakeholders perusahaan.
Bahasa merupakan sarana penting untuk menjalin sebuah komunikasi, sehingga
bahasa merupakan unsur pokok dalam komunikasi.
Komunikasi juga dapat digunakan sebagai salah satu cara individu
(perusahaan) untuk mengunggulkan dirinya, yang kemudian disebut dengan
narsisme. Dengan demikian, perilaku narsisme juga bisa terjadi dalam bahasa
penulisan, dalam hal ini penulisan pada sustainability report perusahaan.
Narsisme merupakan salah satu perilaku, dimana individu (perusahaan)
berusaha untuk menciptakan kepercayaan diri atas keunggulan yang dimiliki
untuk membentuk image yang positif. Pembentukan image positif dilakukan oleh
manajemen perusahaan melalui teks naratif pada sustainability reporting.
Narsisme dalam bentuk teks naratif dapat tergolong pada narsisme bahasa.
Umumnya upaya perusahaan untuk membentuk image negatif dilakukan dengan
cara, melaporkan serta mengungkapkan kegiatan-kegiatan perusahaan yang
berkaitan dengan lingkungan dan kemasyarakatan, keberhasilan yang telah
dilakukan, serta penghargaan dan sertifikasi yang diperoleh oleh perusahaan
(Diajeng dkk, 2014).
Pada awal sustainability report, PT PLN (Persero) terlihat menggunakan
bahasa yang tergolong pada kategori narsisme yaitu pada sustainability reporting
tahun 2012 (hal 9), serta tahun 2013 (hal 29).

67

Dari keseluruhan uraian dan data kompilasi ketaatan yang dilakukan,


Perseroan berpendapat bahwa berdasarkan penilaian sendiri, level aplikasi
standar GRI pada laporan ini memenuhi kriteria peringkat B.

PT PLN (Persero) menyantumkan nilai yang diperoleh untuk meyakinkan


kepada stakeholders bahwa sustainability report yang telah disusun oleh
perusahaan telah memenuhi kesesuaian pelaporan corporate social reponsibility
dengan GRI sebagai standar internasional. Selain itu, perusahaan juga
memberikan tanda petik dua, diantara nilainya untuk menarik perhatian
stakeholders.
Pengungkapan nilai tersebut cenderung mengisyaratkan bahwa perusahaan
percaya diri atas keberhasilan perusahaan menyusun sustainability report. Hal ini
sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Campbell et all, (2004) bahwa
pelaku narsisme sangat percaya diri atas kemampuan yang dimiliki dalam
menjalankan tugasnya. Dengan demikian, klaim nilai tersebut dapat dikategorikan
sebagai upaya perusahaan untuk membentuk image yang positif.
Bagian selanjutnya dari sustainability reporting PT PLN (Persero) yang
tergolong dalam narsisme bahasa adalah bagian pernyataan dari direktur utama.
Pada bagian ini, perusahaan cenderung menggunakan kata-kata hiperbola yang
mengarah pada narsisme bahasa. Sebagai contoh, narsisme bahasa yang terdapat
dalam salah satu pernyataan direktur utama pada sustainability report tahun 2012
(hal 12).
Melalui laporan ini kami ingin memberikan gambaran kesungguhan
komitmen Perseroan dalam berpartisipasi pada upaya mengatasi dampak
pemanasan global yang semakin mempengaruhi kehidupan sosial

68

kemasyarakatan di seluruh dunia melalui berbagai upaya nyata yang


direalisasikan sepanjang tahun pelaporan.

Penggunaan narsisme bahasa juga dilakukan oleh Nur Pamudji, selaku


direktur utama PT PLN (Persero) pada bagian awal sambutan dalam sustainability
report tahun 2013 (hal 30).
Kami konsisten dengan tekad mengedepankan proses bisnis yang semakin
transparan dan akuntabel sesuai kaidah tata kelola terbaik, demi
mendapatkan kepercayaan dan dukungan seluruh pemangku kepentingan
bagi pengembangan usaha serta mencapai tujuan mencukupi kebutuhan
listrik dalam rangka mendukung pembangunan ekonomi di seluruh negeri.
Kami berupaya menerapkan inovasi yang bermakna bagi tercapainya
kinerja PLN yang optimal dan berimbang dari aspek ekonomi, sosial dan
lingkungan demi terciptanya kehidupan generasi mendatang yang semakin
baik.
Penggunaan kata konsisten dengan tekad, tata kelola terbaik, serta
inovasi yang bermakna pada kalimat pernyataan direktur utama PT PLN
(Persero) terkesan berlebihan (hiperbola). Untuk menghindari kesan berlebihan,
kata dengan tekad dan yang bermanfaat dapat dihapus. Sedangkan, kata
terbaik dapat diganti dengan yang baik, karena pada kenyataannya tata kelola
PT PLN (Persero) belum mencapai tingkatan tertinggi alias terbaik.
Melalui kalimat pernyataan pada sustainability report tahun 2012 maupun
2013, Nur Pamudji selaku direktur utama PT PLN (Persero) berusaha
menunjukkan komitmennya untuk mengatasi dampak pemanasan global.
Penggunaan kalimat pada pernyataan diatas, terkesan berlebihan dan cenderung
mengarah pada narsisme bahasa. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa perusahaan

69

berusaha membentuk pencitraan dengan membangun image yang positif melalui


kalimat tersebut diatas.
Pembentukan image positif perusahaan berlanjut pada pemaparan
mengenai penghargaan yang diperoleh perusahaan. Pada tahun 2012, PT PLN
(Persero) menampilkan foto-foto rangkaian peristiwa penting, penghargaan, serta
sertifikasi yang diraih pada profil perusahaan sebanyak 8 halaman (hal 37-45).
Pada tahun 2013, PT PLN (Persero) menampilkannya pada bagian awal
sustainability report dan terpisah dari bagian profil perusahaan sebanyak 16
halaman (hal 8-23). Tampilan foto-foto rangkaian peristiwa penting, penghargaan,
serta sertifikasi pada tahun 2013 meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya.
Pemaparan foto-foto tersebut dapat digolongkan sebagai salah satu cara
pembentukan image positif yang nantinya akan mempengaruhi keputusan
stakeholders, disamping kondisi perusahaan yang mengalami kerugian pada tahun
2013. Hal ini menunjukkan bahwa manajemen percaya diri atas keberhasilan yang
diraih perusahaan, meskipun perusahan sedang dilanda kerugian. Sehingga,
nantinya dapat meningkatkan citra perusahaan di mata stakeholders.
Bagian sustainability reporting selanjutnya adalah tata kelola perusahaan.
Pada bagian ini, terdapat beberapa penggunaan kata-kata yang tergolong dalam
narsisme bahasa dalam sustainability report tahun 2012 (hal 83).
... pada pelaporan tahun 2012 ini, seluruh unit bisnis PLN telah
mendapatkan akreditasi atas beberapa sertifikasi dasar yang harus
dipenuhi.

70

PT PLN (Persero) berusaha menunjukkan prestasinya bahwa seluruh unit


bisnisnya telah mendapatkan akreditasi selama tahun 2012. Pada tahun 2013, PT
PLN (Persero) juga berusaha menciptakan image yang positif melalui
sustainability report tahun 2013 (hal 58).
PLN juga bekerja sama dengan akademisi dan konsultan sebagai tenaga
ahli yang dapat memberikan saran demi optimalisasi keberhasilan
pelaksanaan program tanggung jawab sosial perusahaan.
Berdasarkan teks naratif pada kalimat di atas, PT PLN (Persero)
menyakinkan kepada pembaca bahwa bekerjasama dengan pihak akademisi juga
konsultan akan meningkatkan keberhasilan perusahaan dalam melaksanakan
tanggung jawab sosial perusahaan. Upaya meyakinkan pembaca ini, dapat
digolongkan dalam narsisme bahasa.
Bagian selanjutnya yang merupakan bagian inti dari sustainability
reporting, yaitu bagian pelaporan dan pengungkapan Corporate Social
Responsibility (CSR). Pada bagian ini, PT PLN (Persero) mengawalinya dengan
rencana jangka panjang yang akan direalisasikan oleh perusahaan. Berikut
kutipannya dalam sustainability report tahun 2012 (hal 51).
Sebagai salah satu perusahaan yang seluruh saham dimiliki Pemerintah
maka setiap tahun Perseroan memberikan berbagai jenis kontribusi kepada
negara, yakni dalam bentuk pajak, dividen,retribusi, iuran tetap dan bea
masuk.
Total kontribusi yang dibayarkan kepada negara pada periode laporan
adalah sebesar Rp4,4 triliun atau naik 4,76% dari kontribusi tahun
sebelumnya sebesar Rp4,2 triliun.

71

Teks naratif diatas menjelaskan bahwa perusahaan terlihat mengunggulkan


kemampuan yang dimiliki, juga berusaha membentuk image yang positif melalui
pengungkapan kontribusinya kepada negara. Melalui teks naratif tersebut,
perusahaan dengan sadar memberitahukan kepada stakeholders bahwa perusahaan
merupakan salah satu BUMN yang berkontribusi besar dalam pendapatan negara,
hal ini diperkuat dengan pencatuman jumlah yang dibayarkan yaitu sebesar Rp4,4
triliun.
Pada tahun 2013, PT PLN juga melakukan hal yang sama yaitu, berusaha
menciptakan image yang positif. Hal ini dapat dilihat pada sustainability report
PT PLN (Persero) tahun 2013 (hal 113).
Pengurus Bank Sampah Bintang Mangrove Binaan PLN dalam Kick Andy
Metro TV dan aktivitas Sharing sebagai nara sumber dalam berbagai
kegiatan lingkungan.
PT PLN (Persero) memberikan ruang yang cukup besar untuk teks naratif
diatas, dengan harapan mampu menciptakan image yang postif di mata
stakeholders. Penggunaan bahasa yang tergolong dalam narsisme bahasa terlihat
saat perusahaan berusaha menonjolkan kepada stakeholders bahwa mitra
binaannya pernah menjadi narasumber dalam salah satu acara reality show.
Narsisme bahasa juga di gunakan perusahaan dalam sustainability report tahun
2013 (hal 117).
... bagi PLN, upaya menjaga kelestarian lingkungan merupakan salah satu
perwujudan penerapan falsafah triple bottom lines, atau disebut 3-P,
yakni keselarasan dalam memberikan performa dari sisi ekonomi (Profit),
masyarakat sekitar (People) dan lingkungan (Planet).

72

Untuk saat ini, PLN masih mengandalkan sumber energi tak terbarukan,
seperti batubara dan minyak bumi, dalam pembangunan pembangkit
listrik. Namun demikian, PLN terus berupaya dengan maksimal
memanfaatkan bahan bakar terbarukan seperti panas bumi, matahari, dan
air.

Pada bagian teks naratif diatas PT PLN (Persero) berusaha melakukan


penggambaran unik untuk mendapatkan citra yang positif dari stakeholders.
Perusahaan menggambarkan kondisi perusahaan yang masih menggandalkan
sumber energi tak terbarukan dalam melakukan kegiatan operasionalnya, tetapi di
sisi lain perusahaan berusaha mengalihkan perhatian stakeholders melalui teks
naratif lain yang digunakan sebelum dan sesudah perusahaan menggambarkan
kondisinya.
Melalui penggunaan narsisme bahasa dalam pernyataan manajemen
perusahaan di atas, kesan negatif yang secara nyata ada, dipatahkan dan
direkayasa sedemikian rupa agar stakeholders dapat menerima hal tersebut.
Sehingga

perusahaan dapat terlihat baik dan menguntungkan dihadapan

stakeholders.
Dilihat dari susunan kalimatnya, perusahaan secara sadar menggunakan
narsisme bahasa untuk menarik simpati stakeholders. hal ini sesuai dengan
pernyataan purba (2011) bahwa penggambaran unik tentang kondisi perusahaan
meruapakan bagian dari ciri-ciri narsisme bahasa (Sakinah dkk, 2014).
Isi teks naratif pada sustainability report PT PLN (Persero) kebanyakan
bercerita tentang keuanggulan serta kemampuan perusahaan yang condong untuk
membentuk image positif. Berdasarkan hasil penelitian, perusahaan menggunakan

73

kalimat-kalimat yang cenderung berlebihan, bahkan termasuk dalam ciri-ciri


bahasa yang mengandung unsur narsisme.
Kondisi tersebut sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Chatterje and
Hambrick (2006) bahwa sikap narsisme dalam bentuk teks naratif cenderung akan
menggambarkan penilaian yang tinggi terhadap sesuatu termasuk organisasi.
4.3.2. Pemerolehan Legitimasi dari Stakeholders
Setiap perusahaan memerlukan legitimasi dari seluruh stakeholders-nya
dalam menjalankan bisnisnya. Legitimasi dapat diperoleh melalui startegi
komunikasi dengan mengirimkan informasi kepada stakeholders-nya (Estetika,
2012). Komunikasi dan penyajian informasi, salah satunya diwujudkan PT PLN
(Persero) dalam pembuatan serta publikasi sustainability report. Berikut
pernyataan manajemen PT PLN pada sustainability report tahun 2012 (hal 7).
Laporan Keberlanjutan PT PLN (Persero ) Tahun 2012 (Laporan atau
Kami) ini disampaikan untuk menunjukkan kepada para pemangku
kepentingan kinerja keberlanjutan PLN dalam bidang ekonomi,
lingkungan, dan sosial selama tahun 2012.

Pada tahun 2013, PT PLN (Persero) juga mengungkapkan pernyataan yang


sama pada bagian awal sustainability report tahun 2013. Pada bagian ini, PT PLN
menjelaskan melalui naratif teks di atas bahwa penerbitan laporan ini dilakukan
oleh PT PLN (Persero) sebagai salah satu cara untuk memperoleh legitimasi
adalah dengan cara melaporkan kinerja keberlanjuttannya kepada stakeholders.
Pada bagian pernyataan direktur utama, PT PLN (Persero) juga berusaha
memperoleh legitimasi dari stakeholders. Berikut adalah kutipan pernyataan dari

74

Nur Pamudji selaku direktur utama PT PLN (Persero) pada sustainability report
tahun 2012 (hal 13).
Melalui kinerja ekonomi yang baik, kami mampu mendistribusikan
perolehan nilai ekonomi kepada seluruh pemangku kepentingan, terutama
kepada pemasok, kontraktor, penyandang dana, karyawan dan pemerintah.
Melalui teks naratif diatas, PT PLN (Persero) memberikan informasi
kepada

stakeholders

terkait

kinerja

ekonomi,

bahwa

perusahan

sudah

mendistribusikan nilai ekonomi yang diperoleh kepada stakeholders. Pada


sustainability report tahun 2013, direktur utama perusahaan juga mengungkapkan
pernyataan sejenis pada halaman 34, dengan menggunakan background warna
hijau dengan space yang lebih besar agar lebih menarik. Artinya, perusahaan
berusaha mendapatkan legitimasi dari stakeholders dengan adanya penonjolan
pada tulisan dan warna dalam kalimat tersebut.
Pada bagian awal sustainability report tahun 2013, PT PLN (Persero)
menyatakan bahwa perusahaan berusaha meningkatkan kualitas tata kelola untuk
mendapatkan legitimasi serta pencitraan. Berikut kutipannya:
... meningkatkan kualitas penerapan tata kelola perusahaan yang baik guna
meningkatkan citra PLN serta mendapatkan kepercayaan para pemangku
kepentingan, ...

Dari kutipan pernyataan dalam sustainability report di atas, dapat


disimpulkan bahwa perusahaan dalam hal ini PT PLN (Persero) ingin
mengumumkan

lewat

sustainability

report

bahwa

perusahaan

berusaha

75

meningkatkan

kualitas

tata

kelola

untuk

mendapatkan

legitimasi

dari

stakeholders.
PT PLN (Persero) juga berusaha memperoleh legitimasi dari stakeholders
melalui pernyataannya dalam sustainability report 2013 (hal 164).
Keberhasilan pengelolaan aspek K3 yang ditunjukkan dengan tidak adanya
kejadian kecelakaan (zero accident) membuat tidak ada jam kerja dan hari
kerja yang hilang, sehingga kegiatan perusahaan berjalan dengan semakin
efisien, meningkatkan produktivitas kerja dan lebih terjaminnya
keberlangsungan usaha.

Dari penyataan teks naratif di atas, PT PLN (Persero) mengklaim bahwa


perusahaannya mencatat zero accident. Hal ini dilakukan PT PLN (Persero) agar
reputasi perusahaan membaik serta mendapatkan legitimasi dari stakeholders, hal
ini dibuktikan di pernyataan berikutnya dalam sustainability report 2013 (hal
164).
Keberhasilan mencatatkan zero accident akan membuat reputasi Perseroan
membaik dan kenyamanan kerja meningkat, sehingga secara keseluruhan
akan memudahkan Perseroan dalam mendapatkan dukungan dari
pemangku kepentingan lain.

Pada tahun 2012, PT PLN mengeluarkan penyataannya terkait legitimasi


dalam sustainability report tahun 2012 (hal 85).
Dalam rangka menjaga dan meningkatkan manfaat positif komunikasi
konstruktif, sesuai dengan AD/ART dan peraturan perundangan yang
berlaku, maka Perseroan menyelenggarakan komunikasi intensif dan
mengelola keterlibatan pemangku kepentingan. Komunikasi yang
dilakukan diupayakan sesuai dengan karakteristik harapan yang melekat
pada masing-masing kelompok pemangku kepentingan.

76

PT PLN (Persero) mengungkapkan bahwa perusahaan menyelenggarakan


komunikasi intensif dengan stakeholders. Hal ini dilakukan agar perusahaan
mampu memenuhi harapan stakeholders perusahaan. Perusahaan senantisa
berusaha memenuhi harapan stakeholders, karena stakeholders merupakan pihak
yang penting serta bersifat vital bagi perusahaan.
Teks

naratif

yang terkandung dalam

sustainability report

juga

memungkinkan perusahaan untuk menceritakan semua aktivitas yang dilakukan


oleh perusahaan kepada stakeholders, disertai bukti-bukti dan fakta-fakta. Hal ini
dilakukan perusahaan dengan harapan stakeholders melegitimasi tindakannya,
keberadaannya diakui (Estetika, 2012). Hal ini di ungkapkan PT PLN (Persero)
dalam sustainability report tahun 2012 (hal 132), dan tahun 2013 (hal 131).
Pada tahun 2012, PLN telah merealisasikan berbagai kegiatan dalam
rangka pelaksanaan Program Bina Lingkungan, baik dilaksanakan oleh
unit Kantor Pusat, Partisipasi pada BUMN Peduli dan dilimpahkan ke Unit
Pelaksana PKBL lain, ... (SR 2012, halaman 132).
Dalam rangka mengurangi konsumsi energi tak langsung (energi yang
digunakan untuk kendaraan operasional), Perseroan juga melakukan
langkah-langkah penghematan, baik melalui perawatan rutin kendaraan
operasional maupun dengan penyediaan sarana perumahan pegawai di
sekitar instalasi utama. Program maupun kebijakan yang ditempuh untuk
menghemat pemakaian listrik mencakup, ... (SR 2013, halaman 131).

Tanggapan (feedback) dari pembaca sustainability report juga merupakan


salah satu usaha yang dilakukan perusahaan untuk mendapatkan legitimasi dan
memperbaiki laporan keberlanjutannya agar semakin baik dimasa mendatang. Hal
ini diungkapkan dengan jelas dalam sustainability report 2012 (hal 85).

77

... Perseroan senantiasa mengkomunikasikan kinerja operasionalnya secara


periodik melalui berbagai media untuk mendapatkan umpan balik berupa
saran maupun harapan yang diinginkan para pemangku kepentingan.

Harapan akan adanya feedback dari stakeholders ini sejalan dengan teori
yang dikemukakan oleh Deegan (2006) yang menyatakan bahwa perusahaan
berusaha memastikan bahwa kegiatan yang mereka lakukan, akan mendapatakan
legitimasi dari stakeholders serta pihak luar. Hal tersebut diperkuat dengan
kenyataan bahwa eksistensi suatu perusahaan sangat dipengaruhi oleh legitimasi
itu sendiri, sehingga perusahaan melakukan berbagai macam cara untuk
mendapatkan legitimasi tersebut (Sakinah dkk, 2014).
Teks naratif diatas menjelaskan bahwa PT PLN (Persero) menggunakan
berbagai macam strategi dan cara untuk meyakinkan stakeholders melalui
informasi kegiatan yang telah dilakukan oleh perusahaan, sehingga mampu
mengubah pandangan stakeholders.
Penjelasan-penjelas diatas mengisyaratkan bahwa penyampaian informasi
yang dilakukan oleh PT PLN (Persero) juga termasuk salah satu upaya
membentuk image perusahaan dengan tujuan memperoleh legitimasi. Hal ini
sesuai dengan pendapat Estetika (2012) yang menyatakan bahwa legitimasi akan
meningkatkan reputasi perusahaan yang pada akhirnya akan berpengaruh pada
nilai perusahaan tersebut.
4.4.

Media Pengungkapan Corporate Social Responsibility PT PLN


(Persero) Melalui Media Massa
Pengkomunikasian CSR melalui media akan meningkatkan reputasi

perusahaan di mata masyarakat. Pada pelaksanaannya, hal inilah yang menjadi

78

bagian pada proses membangun institusi, membentuk norma yang diterima dan
legitimasi praktik CSR (Achmad, 2007). Demikian pula dengan PT PLN
(Persero), selain melalui pelaporan perusahaan yaitu annual report dan
sustainability report, perusahaan juga melakukan pengungkapan kegiatan
Corporate Social Responsibility melalui media massa. Hal ini diperkuat dengan
pernyataan PT PLN (Persero) dalam sustainability report tahun 2013 (hal 59).
Untuk mengkomunikasikan kinerja perusahaan kepada publik dan pada
seluruh pemangku kepentingan, PLN melakukan berbagai program jumpa
pers atau media gathering untuk menjaga kepercayaan dan hubungan
dengan media. Selain melakukan hubungan dengan media, PLN aktif
mengelola beberapa media internal untuk mengkomunikasikan berbagai
rencana perusahaan, keberhasilan dan hambatan yang dihadapi agar
mendapatkan umpan balik yang positif.

Berdasarkan pernyataan diatas, perusahaan berusaha mengungkapkan


berbagai informasi mengenai kegiatan tanggung jawab sosialnya melalui berbagai
media untuk menunjukkan kesan bertanggung jawab, sehingga perusahaan dapat
memperoleh legitimasi dari stakeholders perusahaan.
Langkah-langkah yang dilakukan untuk mempermudah penelusuran
melalui internet, penelusuran dilakukan dengan bantuan search engine Google.
Berikut langkah-langkahnya;
1. Memasukkan alamat search engine, yaitu www.google.com pada address
bar untuk masuk dalam tampilan awal Google;
2.

Setelah muncul tampilan awal dari Google, masukkan kata kunci yang
akan dicari, yaitu CSR PLN 2012 dan CSR PLN 2013.

79

3.

Kemudian klik Cari, maka tampilan Google selanjutnya menampilkan link


yang mengandung kata kunci kegiatan CSR PLN

4.

Mengklik tampilan pada salah judul yang bergaris bawah untuk mengakses
Berikut hasil yang diperoleh melalui penelusuran CSR PLN 2012 dan

CSR PLN 2013 pada search engine Google.


2012, PLN Siapkan Dana CSR Rp30 Miliar :: Okezone ... -- 2012
Jan 24, 2012 - PT PLN (Persero) menganggarkan dana Rp30 miliar untuk
corporate social responsibility (CSR) di 2012.
economy.okezone.com/.../2012/.../2012-pln-siapkan-...Translate this page
CSR PT PLN 2012, 50 Anak Kurang Mampu DiSunat Gratis ... -- 2012
Oct 19, 2012 - Pasirpengaraian (Cakra FM) PT. PLN Rayon Pasir Pengaraian,
Kamis, (18/10), menyalurkan dana Coorporate Social Responsiblty (CSR) ...
radiocakra.blogspot.com Info Rohul Terkini Translate this page
PLN Serahkan Bantuan CSR 1 Miliar - Berita ... -- 2012
PLN Serahkan Bantuan CSR 1 Miliar. Kamis, 24 Mei 2012 15:19:08 | Berita |
(876 view). TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PLN menyalurkan bantuan
Program ...
www.ti.or.id Berita Translate this page
CSR PLN Peduli Pendidikan | GEMA PLN -- 2012
Gema PLN, Jakarta - R. Aulia Taswin, Direktur Eksekutif Gema PLN mengatakan
bahwa CSR PLN ... CSR PLN Batam peduli pendidikan . Jan 29 2012 ...

80

https://gerakanmpln.wordpress.com/2012/.../csr-pln-p...Translate this page


Program CSR PLN Bantu Operasi 8 Anak Penderita ... -- 2013
Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), pada tahun 2013 ini PLN
telah mengalokasikan dana sekitar 640 juta rupiah yang dibutuhkan untuk ...
www.pln.co.id/.../program-c...Translate this page Perusahaan Listrik Negara
Realisasi CSR Tahun 2013 bright PLN Batam -- 2013
Realisasi CSR tahun 2013. Peduli Sosial. Program peduli sosial ditujukan untuk
beban masyarakat akibat terkena musibah baik bersifat insidentil seperti ...
info.plnbatam.com/info/index.php?page...csr-2013Translate this page
Selain itu, PT PLN (Persero) juga mengungkapan informasi kegiatan CSR
perusahaan yang dapak diakses melalui http://www.pln.co.id/blog/csr/ untuk
memudahkan masyarakat atau stakeholders memperoleh informasi yang
bermacam-macam mengenai program Corporate Social Responsibility PT PLN
(Persero).
Internet sangat bermanfaat bagi perusahaan untuk membangun citra yang
positif yang akan bermuara pada pemerolehan legitimasi dari stakeholders. Salah
satu manfaat internet adalah bahwa perusahaan secara bebas dapat menyediakan
informasi yang dibutuhkan oleh stakeholders mengenai kegiatan operasional
perusahaan maupun aktivitas sosialnya.
Hal yang dilakukan oleh PT PLN (Persero) dengan melaporkan aktivitas
sosialnya melalui website perusahaan, didukung oleh pendapat Almilia, dkk
(2011) yang menyatakan bahwa perusahaan dapat melakukan pengungkapan

81

sukarela mengenai aktivitas sosial dan lingkungannya melalui website


perusahaan. Selain itu, penggunaan internet sebagai media pengungkapan
perusahaan juga dapat meningkatkan kualitas pengungkapan.

BAB 5
SIMPULAN DAN SARAN
5.1.

Simpulan
Berdasarkan fokus penelitian serta hasil analisis yang diuraikan pada bab

sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:


1. Fokus penelitian yang pertama adalah bagaimana cara perusahaan
menyampaikan

pesan

melalui

informasi

yang

disajikan

dalam

sustainability report.
Kesimpulan yang didapat adalah bahwa perusahaan dalam hal ini
PT PLN (Persero) mengungkapkan informasi dalam sustainability report
mengacu pada sistem pelaporan berstandar Internasional, yaitu GRI
Sustainability Reporting Guideliness versi 3.1 (GRI G3.1) serta Electric
Utilities Sector Supplement (GRI G3.1-EUSS) Final Version. Meskipun
mengacu pada peraturan yang sama, namun struktur penyusunan
sustainability report antara tahun 2012 dan tahun 2013 disajikan dalam
format penyusunan yang berbeda. Hal tersebut terlihat dari bagaimana cara
perusahaan menampilkan item profil perusahaan pada sustainability report.
Pada tahun 2012, profil perusahaan diletakkan setelah sambutan direktur
utama. Akan tetapi, pada sustainability report perusahaan tahun 2013,
bagian profil terletak pada akhir laporan, yaitu setelah pelaporan tanggung
jawab sosial. Selain itu, perusahaan juga menempatkan penghargaan serta
sertifikasi yang diperoleh pada bagian awal pelaporan. Hal ini berbeda dari
82

83

tahun sebelumnya, yang menampilkan pada bagian profil perusahaan.


Lebih lanjut, perusahaan juga ingin membangun persepsi stakeholders
melalui tampilan cover serta penulisan judul beserta highlight, yang pada
kenyataannya tidak terlepas dari kondisi aktual yang dihadapi perusahan
tersebut.
2. Fokus penelitian yang kedua adalah apakah perusahaan menggunakan
narsisme bahasa dalam pelaporan sustainability report.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perusahaan selaku PT
PLN (Persero) menggunakan narsisme bahasa dalam sustainability report
dengan cara mendesain sedemikian rupa teks naratif pada sustainbaility
report. Hal ini dibuktikan dengan adanya kata-kata yang hiperbola serta
penggambaran kondisi perusahaan secara unik melalui teks naratif.
3. Fokus penelitian yang terakhir adalah mengapa perusahaan menggunakan
narsisme bahasa dalam pelaporan sustainability report.
Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa narsisme bahasa
digunakan oleh PT PLN (Persero) dengan alasan untuk menghindari image
negatif serta membentuk image positif, melalui pesan yang disampaikan
pada teks naratif dalam sustainability report. Alasan lain yang tidak kalah
penting adalah bahwa perusahaan ingin mendapatkan legitimasi dari
stakeholders. Sehingga, selain media sustainability report perusahaan juga
melaporkan kegiatan sosialnya melalui media massa, salah satunya
internet. Hal ini dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh legitimasi
dari stakeholders.

84

5.2.

Saran
Penelitian ini hanya menggunakan data dokumenter (data sekunder)

berupa sustainability reporting, tanpa adanya wawancara serta observasi langsung


dengan pihak perusahaan. Kekurangan kedua adalah kemungkinan adanya
kesalahan dalam hasil analisis data, pada tahap interprestasi kalimat, karena
kalimat-kalimat yang dianalisis tanpa pengesahan dari pihak ketika, sebagai
contoh ahli bahasa.
Dengan demikian, untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk
melakukan wawancara secara mendalam dengan pihak-pihak yang terkait dengan
perusahaan maupun topik penelitian. Selain itu, topik penelitian dapat diperluas
dengan menganalisis isu lain seperti pengungkapan rasisme (perbedaan perlakuan)
antar stakeholder pada pelaporan perusahaan baik annual report maupun
sustainability report. Penelitian sejenis dengan objek sustainability reporting
dengan mempertimbangkan pencapaian perusahaan pada Indonesia Sustainability
Award juga akan menjadi topik menarik.

85

DAFTAR PUSTAKA
Achmad, Zaenuddin. 2007. Faktor-faktor Yang Berpengaruh Terhadap Praktek
Pengungkapan Sosial dan Lingkungan Pada Perusahaan manufaktur Go
Publik. Tesis tidak diterbitkan. Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro
Semarang.
Almilia, Luciana Spica, dkk. 2011. Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial dan Dampaknya Terhadap Kinerja
Keuangan dan Ukuran Perusahaan. Fokus Ekonomi, Vol. 10 No. 1, 50-68.
Ardianto, Elvinaro. 2011. Metodologi Penelitian untuk Public Relations
Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Ashforth, B. E. and B. W. Gibbs. 1990. The Double-Edge of Organizational
Legitimation. Organization Science, 1, pp.177-194.
Belkaoui, A. Riahi. 2006. Teori Akuntansi. Terjemahan oleh Drs. Erwan Dukat.
Jakarta: Salemba Empat.
Budiani, Rizka Julia. 2011. Narsisme Dalam Pelaporan Keuangan: Analisis
Semiotik Atas Laporan Keuangan Perusahaan Yang Mengalami Kerugian.
Skripsi tidak diterbitkan. Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro
Semarang.
Bungin, Burhan. 2008. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana Pranada Media
Group.
-----------. 2009. Penelitian Kualitatif, Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik,
dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana Media Group..
Campbell, W. K dkk. 2004. Narcissism, confidence, and risk attitude.Journal of
Behavioral Decision Making, 17: 297311.
Chariri, Anis. 2009. Landasan Filsafat dan Metode Penelitian Kualitatif.
Semarang: Laporan Pengembangan Akuntansi (LPA), Fakultas Ekonomi
Universitas Diponegoro.
Chariri, Anis dan Firman Nugroho. 2009. Retorika Dalam Pelaporan Corporate
Social Responsibility: Analisis Semiotik atas Sustainability reporting PT.
Aneka Tambang Tbk.. Simposium Nasional Akuntansi XII Palembang, 46 November 2009.
Chatterjee, A and D.C. Hambrick. 2006. It s All About Me: Narcissistic CEOs
and Their Effects on Company Strategy and Performance. The
Pennsylvania State University.

86

Conway, S., dan Patricia. 2008. Impression Management and Legitimacy in an


NGO Environment. Working Paper Series No: 2. University of
Tasmania.
Courtis, J.K. 1998. Annual Report Readability Variability: Test of the
Obfuscation Hypothesis. Accounting, Auditing andAccountability
Journal, 11 (4), 459-471.
Cultip, Scott and Allen H. Center. 1985. Effective Public Relation. New Jersey:
Prenrice. Hall.
Darwin, Ali. 2006. Akuntabilitas, Kebutuhan, Pelaporan, dan Pengungkapan CSR
bagi Perusahaan di Indonesia. Economics Business Accounting Review.
Edisi III. September - Desember: 83-95.
David, S. 2002. Narrative Pattern: Uses of Story in the Third Age of Knowledge
Management. Journal of Information and knowledge Management.
Volume: 1(1): 1-6
Deegan, C. 2003. Financial Accounting Theory. Sydney : The McGraw-Hill
Companies, Inc.
Delamater, J.D., & Myers, D.J. 2007. Social Psychology. International Student
Edition. Belmont, CA: Thomson Wadsworth.F
Djuarsa, Sasa Senjaya. 2007. Teori Komunikasi. Jakarta: Universitas Terbuka.
Eccles, Robert and George Serafeim. 2010. Corporate and Integrated Reporting:
A Functional Perspective. US: Harvard Business School.
Estetika, Risalah Nur. 2012. Analisis Semiotik Atas Sustainability Report 2010
PT. Semen Gresik (Persero) Tbk. Skripsi tidak diterbitkan. Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Surabaya.
Fitriany, Kiki. 2009. Retorika Dalam Pelaporan Keuangan: Analisis atas
Narrative Tekx dalam Annual Report Perusahaan yang Mengalami
Kerugian. Skripsi tidak diterbitkan. Fakultas Ekonomi Universitas
Diponegoro Semarang.
Gardner, W dan J. Martinko. 1988. Impression Management in Organization.
Journal of Management, Vol. 14, No.2, Hal. 321-338.
Global

Reporting Iniatiative. 2006. Pedoman


Netherland: Global Reporting IniatiativeTM.

Laporan

Keberlanjutan.

Goffman, Erving. 1959. The Presentation of Self in Everyday Life.


Harmondworth: Penguin.

87

Greenwood, M., Haylock, B., dan Uhlenbruch, P. 2008. How Do We Read


Annual Reports? A Critical Visual Analyisis. Journal of Monash
University.
Habermas,J. 1983a. The Theory of Communicative Action, Reason and the
Rationalization of Society. Volume 1. Beacon Press. Boston.

------------. 1983b. The Theory of Communicative Action, Lifeworld and System: A


Critique of Functionalist Reason. Volume 2. Beacon Press. Boston
Haniffa, R. dan M. Hudaib. 2007. Exploring the ethical identity of Islamic banks
via Communication in Annual Reports. Journal of Business Ethics, 76,
97-116.
Hoed, Benny H. 2007. Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya. Depok: Indonesia
University Press.
Indriantoro, Nur dan Bambang Supomo. 2009. Metodologi Penelitian Bisnis.
Yogyakarta: BPFE.
Iriantara, Yosal. 2005. Media Relations: Konsep, pendekatan, dan Praktik.
Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Kamayanti, Ari dan Nurmala Ahmar. 2010. Unmasking the Corporate Social
Responsibility Reporting. Dipresentasikan pada The First International
Conference in Business and Banking, 23-24 Februari 2010.
Kamayanti, Ari dan Soesilawati Atmadja. 2011. Mengeksplorasi Kepedulian
Lingkungan Dan Sosial PT. AKR Corporindo Tbk. Melalui Laporan CSR
(Studi Semiotika Dan Indeks Pengungkapan). Sekolah tinggi Ilmu
Ekonomi Mahardhika.
Kernstock, J. 2009. Implications of Habermass Theory of Communicative
Action for Corporate Brand Management. Corporate Communications:
An International Journal. Vol. 14 No. 4, hal. 389-403.
Kotler, Philip. 2000. Manajemen Pemasaran Milenium Jilid 2 Revisi ke Edisi
Sepuluh. Edisi Bahasa Indonesia, Terjemahan oleh Benyamin Molan.
Jakarta: PT. Prenhalindo.
Lesly, Philip. 1992. Public Reletions Handbook. New York: Pantice Hall.
Mulyanita, Sugesty. 2009. Pengaruh Biaya Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
Terhadap
Kinerja
Perusahaan
Perbankan.
Skripsi
tidak
diterbitkan.Fakultas Ekonomi Universitas Lampung.

88

Meutia, Inten. 2010. Shari ah Enterprise Theory sebagai Dasar Pengungkapan


Tanggung Jawab Sosial untuk Bank Syariah. Disertasi Tidak di terbitkan.
Program Doktor Ilmu Akuntansi Universitas Brawijaya, Malang.
Nasir, Muhammad. 2003. Metode Penelitian. Cetakan V. Jakarta: Ghalia.
Nugraha, Bambang. 2008. Perspektif Pendidikan Anak Berbakat. Jakarta:
Konsorsium Ilmu Pendidikan Tinggi, Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi, Departemen pendidikan dan kebudayaan.
Oktaviani, Rachmawati Meita. 2012. Corporate Social Responsibility dan Strategi
Perusahaan: Perspektif Pendekatan Kualitatif. Laporan penelitian. Fakultas
Ekonomi Universitas Stikubank Semarang.
Piliang, Y.A. 2003. Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna.
Bandung: Jalasutra.
Prawira, Sulasmi Darma. 1989. Warna Sebagai Salah Satu Unsur Seni dan
Desain. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Preston, A. M., C. Wright, and J. J. Young. 1996. Imag[in]ing Annual Reports.
Accounting, Organization and Society, 21:1, pp.113-137.
Raskin, R., J. Novacek, and R. Hogan. 1991. Narcissistic self-esteem
management. Journal of Personality and Social Psychology,60(6): 911
918.
Reddi, C. V. Narashima. 2009. Effective Public Relations and Media Strategy.
New Delhi: Asoke K Ghosh
Retno, Reny Dyah dan Denies Priantinah. 2012. Pengaruh Good Corporate
Governance dan Pengungkapan Corporate Social Responsibility Terhadap
Nilai Perusahaan. Jurnal Nominal Volume I (1) 86-90. Yogyakarta.
Reverte, C. 2008. Determinants of Corporate Social Responsibility Disclosure
Ratings by Spanish Listed Firms. Journal of Business Ethics.
Ricouer, Paul. 2008. Hermeneutika Ilmu Sosial. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Rizki, Y.M. 2010. Pemahaman Perusahaan terhadap Global Corporate
Citizenship: Analisis Semiotik Sustainability Reporting PT. Aneka
Tambang, Tbk dan PT Timah, Tbk. Skripsi Program S1 Fakultas
Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang.
Roslina. 2010. Citra Merek: Dimensi, Proses Serta Pengukurannya. Jurnal
Bisnis Dan Manajemen, vol.6 no.3.

89

Sakinah, Diajeng Ade dkk. 2014. Narsisme Dalam Pelaporan Corporate Social
Responsibility: Analisis Semiotik Atas Sustainability Reporting PT.
Kalitim Prima Coal dan PT. Perkebunan Nusantara XIII (Persero). eJournal Ekonomi Bisnis dan Akuntansi, Volume 1 (1): 32-42. Jember.
Sanyoto, Abdi S. 2005. Dasar-dasar Tata Rupa dan Desain. Yogyakarta: Arti
Bumi Intaran.
Sayekti dan Wondabio. 2007. Pengaruh CSR Disclosure Terhadap Earning
Response Coefficient. Makasar: Simposium Nasional Akuntansi X.
Sembiring, Eddy Rismanda. 2005. Karakteristik Perusahaan dan Pengungkapan
Tanggung Jawab Sosial. Solo: Simposium Nasional Akuntansi VIII.
Suaryana, Agung. 2009. Implementasi Akuntansi Sosial dan Lingkungan Di
Indonesia. Journal Ilmiah Akuntansi dan Bisnis, Volume 6 No.1, Januari
2011. Fakultas Ekonomi, Universitas Udayana Bali.
Suchman, M.C. 1995. Managing Legitimacy: Strategic and Insitutional
Approaches. Academy Management Review 1995, Vol. 20 No. 3, 571610
Sugiono, Prof. Dr. 2008. Metodologi Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D.
Bandung : Alfabeta.
Suharto, Edi. 2008. Corporate Social Responsibility: What is and Benefit for
Corporate. Corporate Social Responsibility: Strategy, Management and
Leadership. Jakarta: Hotel Aryaduta Jakarta
Susanto. 2007. A Strategic Management Approach Corporate
Responsibility. Jakarta: The Jakarta Consulting Group.

Social

Sutojo. 2003. Membangun Citra Perusahaan. Jakarta: PT Damar Mulia Pustaka.


Utomo, Muslim. 2000. Praktek Pengungkapan Sosial pada Laporan Tahunan
Perusahaan di Indonesia. Depok: Simposium Nasional Akuntansi III.
Utomo, Sukarno Tri. 2011. Rasisme Dalam Pelaporan Akuntansi: Analisis atas
Annual Report PT. Perusahaan Gas Negara, Tbk dan PT. Aneka
Tambang, Tbk dalam Perspektif Teori Komunikasi Aksi Habernas.. Skripsi
tidak diterbitkan. Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang.
Wibisono, Y. 2007. Membedah Konsep dan Aplikasi CSR. Gresik: Fascho
Publishing.
Yeoh, Peter. 2010. Narrative Reporting: The UK Experience. International
Journal of Law and Management: 211-231.

90

Zuhroh dan Sukmawati. 2003. Analisis Pengaruh Luas Pengungkapan Sosial


Dalam Laporan Tahunan Perusahaan Terhadap Reaksi Investor.
Surabaya: Simposium Nasional Akuntansi VI.

Dokumen
Annual Report. 2011. PT. Perusahaan Listrik Negara Tbk., (online).
(www.pln.co.id, diakses 29 September 2014).
Annual Report. 2012. PT. Perusahaan Listrik Negara Tbk., (online).
(www.pln.co.id, diakses 29 September 2014).
Annual Report. 2013. PT. Perusahaan Listrik Negara Tbk., (online).
(www.pln.co.id, diakses 29 September 2014).
Sustainability Report. 2011. PT. Perusahaan Listrik Negara Tbk., (online).
(www.pln.co.id, diakses 4 Desember 2014).
Sustainability Report. 2012. PT. Perusahaan Listrik Negara Tbk., (online).
(www.pln.co.id, diakses 4 Desember 2014).
Sustainability Report. 2013. PT. Perusahaan Listrik Negara Tbk., (online).
(www.pln.co.id, diakses 4 Desember 2014).

Situs
Brewster (1831). Definisi tentang warna. Retrieved 21 Desember, 2014, from
http://senibudayasenirupa.blogspot.com
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/12/21/15255738/Bos.PLN.Akui.Ada
.Praktik.Tidak.Sehat (diakses 22 November 2014)
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2009/02/19/20251213/CSR.Tidak.Bisa.D
pukul.Rata (diakses 22 November 2014)
http://foto.liputan6.com/show/1/30804/0/pln-serahkan-bantuan-csr-kepadadompet-dhuafa (diakses 22 November 2014)
http://regional.kompas.com/read/2014/10/21/17304401/Dituding.Cemari.Laut.PL
TU.Nii.Tanasa.Disegel.Warga (diakses 5 november 2014)
https://www.google.co.id/?gws_rd=ssl#q=CSR+PLN+2012 (diakses 12 Januari
2015)

91

http://economy.okezone.com/read/2012/01/24/19/562404/2012-pln-siapkan-danacsr-rp30-miliar (diakses 12 Januari 2015)


http://radiocakra.blogspot.com/2012/10/csr-pt-pln-2012-50-anak-kurangmampu.html (diakses 12 Januari 2015)
http://www.pln.co.id/blog/pln-serahkan-bantuan-csr-1-milyar-untuk-rumah-sakitterpadu-dompet-dhuafa/ (diakses 12 Januari 2015)
https://gerakanmpln.wordpress.com/2012/01/29/csr-pln-peduli-pendidikan/
(diakses 12 Januari 2015)
http://info.plnbatam.com/info/index.php?page=realisasi-csr-2013
Januari 2015)

(diakses

12

http://www.pln.co.id/blog/program-csr-pln-bantu-operasi-8-anak-penderitakelainan-jantung/ (diakses 12 Januari 2015)


https://www.google.co.id/?gws_rd=ssl#q=CSR+PLN+2013 (diakses 12 Januari
2015)