Anda di halaman 1dari 95

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Ikan terbang (Hirundichthys oxycephalus) merupakan salah satu potensi

perikanan pelagis kecil di Indonesia dengan pemanfaatannya cukup besar terutama


di perairan kawasan timur Indonesia, sehingga merupakan salah satu bagian
kegiatan penangkapan ikan bagi nelayan yang cukup penting. Ikan terbang telah
dikenal dan dikonsumsi oleh sebagian masyarakat Indonesia, khususnya di laut
Eureun Kabupaten Garut, letaknya 100 kilometer ke arah selatan dari Garut Kota.
Ikan terbang merupakan jenis ikan yang memiliki umur yang tidak panjang,
bahkan dilaporkan tidak lebih dari dua tahun (Campana et al., 1993), sehingga
dalam satu sikulus tahunan ketika telah selesai melakukan pemijahan untuk
peneluran, ikan tersebut mengalami kematian (post spawning mortality) sebagai
akibat habisnya cadangan energi yang tersimpan di dalam tubuhnnya akibat
kegiatan pemijahan yang telah dilakukan. Hal yang lain dilaporkan (Ali 2005)
bahwa sekitar 85 persen ikan terbang yang tertangkap, merupakan ikan terbang
yang berada dalam fase reproduktif yang belum selesai melakukan kegiatan
reproduksi pemijahan dan peneluran. Penangkapan ikan terbang dan penangkapan
telur ikan terbang, kedua-duanya merupakan dua sisi kegiatan eksploitasi
sumberdaya perikanan yang harus mendapat perhatian, sebagai langkah antisipasi
untuk menyelamatkan potensi ikan terbang di Indonesia.
Pemanfaatan sumberdaya hayati laut yang berwawasan lingkungan akan
lebih mudah dilakukan dan dikendalikan apabila mengetahui banyak mengenai
informasi-informasi biologis dari sumber hayati, seperti dengan mengetahui pola
pertumbuhan pada ikan terbang (Hirundichthys oxycephalus). Ikan ini merupakan
salah satu komoditas perikanan yang mempunyai nilai ekonomis penting. Melalui
otolit dapat diketahui perkembangan ikan. Menurut Pannella (1974) pertumbuhan
harian yang dialami ikan dapat ditandai pada otolitnya. Nielson dan Johnson (1983)
juga menyatakan bahwa secara anatomi, ada bagian-bagian tubuh ikan yang dapat
digunakan untuk menentukan tanda perkembangan yang tetap secara periodik, yaitu
pada bagian tubuh yang keras seperti pada otolit dimana tahapan waktu tetap dapat
1

ditandai. Otolit sebagai salah satu komponen berstruklw keras dalam tubuh ikan
terbentuk dari endapan kalsium karbonat dan orogonite dapat digunakan untuk
menghitung pertumbuhan dan menentukan umur ikan (Campana, 1987). Jones
(1992) dalam Stevenson dan Campana (1992) menyatakan bahwa penambahan
panjang ikan dapat diketahui lewat perhitungan dari setiap penambahan lingkaran
pada otolit. Pertumbuhan ikan terbang di Teluk Manado dilihat dari otolit belum
dilakukan.
1.2

Tujuan
Praktikum ini bertujuan mengetahui aspek biologi ikan terbang (pertumbuhan,

reproduksi, food habits) mengetahui pola pertumbuhan ikan terbang dan untuk
mendapatkan hubungan antara pertambahan panjang dan berat dengan pertambahan
ukuran otolit serta mendeskripsikan, menginterprestasi makrostruktur otolit ikan
terbang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Ikan Terbang (Hirundichthys oxycephalus)


Nama latin ikan terbang adalah Hirundichthys oxycephalus. Menurut Hutomo

et al (1985) ikan terbang dapat dibagi menjadi dua kelompok: bersayap dua
dan bersayap empat yang terbanging-terbanging memiliki mekanisme terbang
yang berbeda. Kemampuan terbang ikan ini merupakan sifat biologi yang paling
menonjol dan membedakannya dengan kelompok ikan yang lain. Kemampuan
tersebut merupakan proses evolusi sebagai adaptasi untuk menghindari pemangsa
di laut lepas dan gangguan kapal, serta untuk menghemat energi dalam mencari
makanan (Davenport 1994 in Ali & Nessa 2006 dalam Nurmawati 2007).

Gambar 1. Ikan terbang


Panjang tubuh ikan terbang (Hirundichtys oxycephalus) 3,9-4,1x panjang
kepala dan 5,8-6,4x tinggi tubuh (Bleeker in Hutomo et al 1985 dalam Nurmawati
2007) dan memiliki panjang rata-rata 18cm (parin 1999 dalam Nurmawati 2007).
Tubuhnya bulat memanjang seperti cerutu, agak termampat pada bagian samping.
Bagian atas tubuh berwarna gelap, bagian bawah tubuh mengkilap, hal ini bertujuan
untuk menghindari pemangsa baik dari udara maupun dari air.
Sirip dorsal dan anal transparan, sirip ekor abu-abu, sirip ventral keabu-abuan
di bagian atas dan terang di bagian bawah, sirip pectoral abu-abu tua dengan belangbelang pendek (Bleeker in hutomo 1985 dalam Nurmawati 2007). Sirip pectoral
panjang dan dapat diadaptasikan untuk melayang dan mengandung banyak duri
lemah dengan duri pertama tidak bercabang dan sisanya bercabang. Duri- duri
lemah pada sirip dorsal berjumlah 10-12, pada sirip anal 1-12, pada sirip pectoral
14-15 dengan sirip pertama tidak bercabang.

Sirip ventral tidak mencapai sirip dorsal dengan pangkal sirip ventral lebih
dekat ke ujung posterior kepala daripada ke pangkal ekor. Sirip pectoral mencapai
belakang sirip dorsal. Sirip ekor cagak (deeply emarginated) dengan sirip bagian
bawah lebih panjang. Garis lateral terletak pada bagian bawah tubuh. Sisik sikloid
berukuran relative besar dan mudah lepas dengan sisik pradorsal 32-37 dan jumlah
sisik pada poros tubuh 51-56. Giginya kecil, tumbuh pada kedua rahang.
Ikan terbang memiliki warna kulit biru dengan perut berwarna putih, sirip
dada sangat panjang dan lebar, dan sirip ekor membentuk huruf V. Mata ikan
terbang relatif besar dibanding spesies ikan lainnya. Ikan terbang memiliki panjang
tubuh rata-rata 17 cm, namun sebagian spesies (California Flying Fish) mampu
tumbuh hingga 40 cm.
Nilai ekonomi yang besar bagi sumberdaya tersebut sering kali mengabaikan
etika pemanfaatan sumberdaya berkelanjutan akibat tingginya permintaan pasar,
sehingga populasi jenis ikan ini mengalami penurunan terus menerus beberapa
tahun belakangan ini. Upaya untuk mencegah agar ikan terbang tidak punah dan
berkelanjutan diperlukan suatu kebijakan yang tepat. Untuk mendukung upaya
tersebut maka diperlukan inforterbangi penelitian pendukung baik biologi maupun
ekologi. Salah satu faktor ekologis yang memegang peranan penting dalam
kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan adalah makanan. Ikan tumbuh optimal
jika mendapat makanan dalam jumlah yang cukup dan gizi yang seimbang.
Makanan yang dimakan oleh ikan dimanfaatkan dalam siklus metabolisme
tubuhnya yang akan berpengaruh terhadap pertumbuhan, reproduksi dan tingkat
keberhasilan hidup untuk tiap individu-individu ikan di perairan tersebut.
Ketersediaan makanan yang cukup bagi ikan akan digunakan untuk pertumbuhan
sehingga dapat tumbuh dengan optimal.

2.1.1 Klasifikasi Ikan Terbang (Hirundichthys oxycephalus)


Menurut Parin (1999) dalam Nurmawati 2007 ikan terbang (Hirundichthys
oxycephalus) diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom
Filum
SubFilum
Ordo
Famili
Genus
Sub Genus
Spesies

: Animalia
: Chordata
: Vertebrata
: Beloniformes
: Exocoetidae
: Cyselurus
: Hirundichtys
: Hirundichthys oxycephalus

2.1.2 Aspek Pertmbuhan Ikan Terbang


Pertumbuhan ikan sangat berkaitan dengan natalitasnya. Faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan ada dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal adalah keturunan, jenis kelamin, umur, parasit, dan penyakit. Faktor
eksternal yang dominan adalah suhu dan makanan. Ikan muda tumbuh dalam siklus
musim tahunan dalam pertumbuhannya. Untuk bereproduksi ikan terbang
memerlukan habitat yang kondusif, ikan terbang akan bermigrasi ke perairan yang
lebih subur secara berkawanan. Migrasi bukan hanya untuk mencari makan, tetapi
juga untuk melakukan pemijahan. Perubahan lingkungan akan mempengaruhi
dinamika populasi ikan terbang.
Menurut Dwiponggo (1982), kecepatan pertumbuhan juga dipengaruhi oleh
ketersediaan makanan di lingkungan hidup ikan, karena kecepatan pertumbuhan
tersebut akan berlainan pada tahun yang berlainan juga, terutama pada ikan yang
masih muda ketika kecepatan tersebut relatif lebih cepat dibandingkan dengan ikan
yang sudah besar. Hal ini besar kemungkinan disebabkan keadaan lingkungan yang
berpengaruh terhadap pertumbuhan.
2.1.3 Aspek Reproduksi Ikan Terbang
Produksi ikan terbang di beberapa wilayah provinsi terjadi fluktuasi, bahkan
di beberapa wilayah lainnya menghasilkan ikan terbang yang cukup tinggi namun
pada tahun berikutnya tidak lagi menghasilkan ikan terbang lagi. Sebaliknya pada
wilayah yang tidak menghasilkan ikan terbang, lalu tahun selanjutnya juga

menghasilkan produksi ikan terbang. Sehingga hal ini menggambarkan bahwa


terjadi peningkatan dan penurunan di beberapa wilayah. Selain itu, besarnya
penurunan dan peningkatan produksi ikan terbang juga disebabkan adanya besar
kecilnya upaya penangkapan yang dilakukan dalam mengeksploitasi potensi
sumber daya ikan terbang di berbagai wilayah tersebut dan juga disebabkan karena
adanya lintas perdagangan.
Penyebaran dan pergerakan kawanan ikan terbang di perairan Selat Makasar
yang diketahui sebagai wilayah yang produksi ikan terbangnya tinggi, diduga
dipengaruhi oleh pergerakan dan dinamika massa air di perairan itu. Pergerakan dan
dinamika massa air di perairan ini diketahui pola siklus musim (monsoon) yang
terjadi setiap tahunnya dan besaran limpahan massa air yang mengalir dari
Samudera Pasifik. Hal tersebut menyebabkan massa air di perairan ini menjadi
sangat dinamis dengan potensi perikanan yang beragam menjadi penting. Dari hasil
pengamatan pola arus di wilayah tersebut bahwa Selat Makasar lebih banyak
menerima masukan massa air dari Samudera Pasifik daripada dari Samudera
Indonesia. Proses upwelling di perairan ditandai dengan adanya penurunan suhu
dan konsentrasi oksigen terlarut, namun terjadi peningkatan salinitas dan kadar zat
hara di daerah itu dibandingkan daerah sekitarnya. Kondisi tersebut sangat
memungkinkan adanya proses penaikan massa air dari lapisan bawah ke lapisan
permukaan yang membawa sejumlah massa air yang relatif dingin tapi dengan
kadar zat hara yang tinggi.

Gambar 2.Gonad Ikan Terbang Betina

2.1.4 Aspek Kebiasaan Makan Ikan Terbang


Hal-hal yang tercangkup didalam kebiasaan makan adalah kualitas dan
kuantitas makanan yang diamakan ikan. Kebiasaan makan ikan secara alami
bergantung pada lingkungan tempat ikan hidup. Besarnya populasi ikan didalam

suatu perairan salah satunya ditentukan oleh makanan yang tersedia. Dari makanan
ada faktor yang berhubungan dengan populasi yaitu kuantitas dan kualitas makanan
yang tersedia, dan lamanya waktu yang digunakan oleh ikan dalam memanfaatkan
makanan. Makanan yang dimanfaatkan oleh ikan akan mempengaruhi sisa
persediaan makanan di perairan. Makana yang dimanfaatkan tersebut akan
mempengaruhi pertumbuhan, kematangan tiap individu ikan, serta keberhasilan
hidupnya (survival). Populasi, pertumbuhan, reproduksi, dinamikan populasi ikan
juga ditentukan oleh ketersediaan makanan ikan di suatu perairan (Effendie 1997).
Makan merupakan faktor yang penting utuk kelangsungan hidup ikan. Untuk
mendapatkan pertumbuhan yang optimal diperlukan jumlah dan mutu makanan
dalam keadaan yang cukup serta seimbang sesuai dengan kondisi perairan. Makan
yang dimanfaatkan oleh ikan pertama-tama digunakan untuk memelihara tubuh dan
mengganti oragn tubuh rusak, sedangkan kelebihanya digunakan untuk
pertumbuhan. Pasokan nutrisi makan berfungsi sebagai dasar bagi organisme untuk
bertahan hidup (metabolisme). Beberapa bahan digunakan untuk pembetukan
jaringan tubuh (anabolisme) dan yang lainya utnuk memperoduksi energi
(katabolisme).
a

Gambar 3. a. Crustacea (1.Copepoda, 2. Cladocera, 3. Decapoda, 4. Mysidacea, 5.


Amphipoda)
b. Algae (1. Coscinusdiscus, 2. Caetocerus, 3. Rhizosolenia, 4. Thalasiossira,
5. Plaktoniella)
c. Chaetognata (1. Sagitta elegans, 2. Sagitta maxima)
(Sumber : Ali 1981)

Berdasarkan jumlah variasi macam-macam makana ikan dapat dibagi


menjadi euryphagic yaitu ikan pemakan bermacam-macam makanan, stenophagic

yaitu ikan yang memakan makanan dengan variasi makanan yang sedikit atau
sempit, dan monophagig yaitu yang hanya memakan sutu jenis makan saja
(Effendie 1997). Ikan terbang di laut Flores tediri dari copepoda sebagai makanan
utama, alga sebagai makanan pelengkap, beberapa spesies Chaetognatha dan
Malacostraca sebagai makanan tambahan. Ali (1981) mengatalan bahwa ikan
terbang dari speies Hirundichthys oxycephalus di laut Flres memakan plankton tiga
kelompok, yaitu algae, Crustaceda dan Chaetognatha. Kelompok makanan yang
mempunyai nilai indeks bagian terbesar (index propenderance) adalah crustacea
(70.93 %) yang terdiri dari Copepoda, Cladocera, Decapoda, Mysidacea dan
Amphipoda yang merupakan makanan utam, kemudian kelompok mkan algae
(20.69 %) yang teriri dari Coscinodixcus, Chaetoceros, Rhizosolenia, Thalassiosira,
dan Planktoniella, serta kelompok Chatognatha (8.89%) terdiri dari Saggita.
Perdator yang banyak memangsa ikan terbang antara lain lumba-lumba, ikan tuna,
ikan cakalang, dan ikan layaran (Moyle dan Cech 1982).
Kebiasaan makan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain habitat
hidupnya, kesukaan terhadap jenis makanan tertentu, musim, ukuran dan umur ikan.
Struktur pencernaa yang berperan dalam adaptasi makanan adalah mulut, gigi, tapis
insang, lambung, dan usus (Large 1961). Mengenai cara makan pada ikan sering
kali dihubungkan dengan bentuk tubuh yang khusus dan fungsional morfologi dan
tenggorokannya, rahang dan pencernaan makananya. Jadi ikan herbivor secara
sederhana dapat dikatakan tidak mempunyai kemampuan untuk mencerna material
selain tumbuhan, oleh karena itu ikan herbivor memiliki usus yang lebih panjang
karena material tumbuhan memerlukan waktu yang lama untuk dicerna. Lain
halnya dengan ikan karnivor yang memiliki usus yang lebih pendek dan khusus.
Hal ini menjelaskan perbandingan panjang usus dengan perbedaan cara makan,
sehingga dapat disimpulkan bahwa panjang usus sebagai gambaran dari spesialisai
penyesuaian di dalam ekologi kebiasaan makan (Effendie 1997).
Ketersediaan makan yang melimpah di suatu perairan tidak selalu
meninjukan bagoan terpenting dalam susunan makanan ikan. Sering kali akan
selektif terhadap makananya. Untuk menetukan jenis organisme yang dimanfaatkan
oleh ikan digunakan indeks bagian terbesar (Index of Propenderance) yang

merupakan gabungan dari metode frekuensi kejadian dan metode volumertik


(Effendie 1979).

Gambar 4. Saluran pencernaan ikan terbang

2.2

Aspek Pertumbuhan
Pertumbuhan merupakan pertambahan ukuran panjang atau berat dalam suatu

waktu. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ikan antara lain keturunan,


pertumbuhan kelamin dan umur, serta kerentanan penyakit. Keturunan
berhubungan dengan cara seleksi induk, yaitu induk yang bermutu tentu
menghasilkan anakan yang baik atau sebaliknya.
Pertumbuhan kelamin dan umur pun sangat berkaitan. Ada baiknya
pemeliharaan ikan pada beberapa jenis dipisahkan antara jantan dan betina. Hal ini
untuk menghindari adanya gejala pematangan kelamin secara dini. Bisa saja ikan
yang masih kecil sudah bertelur sehingga pertumbuhan badannya terhambat.
Kerentanan penyakit terkadang merupakan faktor keturunan dan tergantung
jenis ikan. Ada ikan yang tahan terhadap bakteri, tetapi rentan terhadap jamur atau
sebaliknya. Oleh karena itu, pengetahuan tentang jenis ikan pun diperlukan untuk
mengetahui setiap jenis penyakit yang sering menyerang ikan tersebut. Obat-obatan
yang digunakan untuk mengobati penyakit harus selalu disiapkan sebagai tindakan
antisipasi bila timbul penyakit.
Pada pemeliharaan ikan ini kualitas air, kepadatan ikan, serta jumlah dan
kualitas pakan pun harus selalu diperhatikan. Kepadatan ikan sangat penting untuk
kenyamanan hidup. Ikan yang terlalu padat dapat menimbulkan stres karena
kualitas air cepat menjadi jelek. Bahkan, oksigen terlarut cepat habis. Selain itu,
pada ikan tertentu dapat terjadi gesekan antar ikan sehingga menimbulkan luka.
Akibatnya, penampilan ikan menjadi jelek atau bahkan dapat menimbulkan
kematian.

10

Jumlah dan kualitas pakan merupakan faktor penting. Bila pakannya terlalu
sedikit, ikan akan sukar tumbuh. Sebaliknya bila terlalu banyak, kondisi air menjadi
jelek, terutama pakan buatan. Pemberian pakan dengan frekuensi lebih sering dan
jumlah yang tidak terlalu banyak akan lebih baik dibanding diberikan sekaligus
dalam jumlah banyak.
Pertumbuhan pada ikan dapat diketahui melalui penghitungan panjang dan
berat pada ikan yang kemudian dikorelasikan.
1)

Pengukuran panjang.
Pengukuran yang dilakukan adalah pengukuran system metric dengan satuan

panjang millimeter. Ada dua ukuran panjang yang diukur yaitu total length dan
standard length.
a)

Total length ( Panjang Total ) adalah panjang ikan yang diukur dari mulai
ujung terdepan bagian kepala sampai ujung terakhir bagian ekornya.

b)

Standard Length ( Panjang Standard ) adalah panjang ikan yang diukur dari
mulai ujung terdepan bagian kepala sampai ujung terakhir tulang ekornya.

2)

Pengukuran berat.
Pengukuran berat

dilakukan dengan cara

menimbang berat

ikan

menggunakan alat timbangan, satuan yang digunakan adalah gram. Alat timbang
yang dilakukan sebaiknya memiliki ketelitian yang baik dan mampu menunjukan
hasil timbangan secara langsung. Penimbangan ikan sebaiknya dilakukan oleh dua
orang, dimana yang satu menimbang dan yang satu lagi mencatat hasil timbangan.
3)

Menghitung hubungan panjang dan berat.


Hubungan panjang dan berat dapat dihitung dengan menggunakan rumus

sebagai berikut :
Log W = log a + b log L
Log a = log W x (log L)2 - log L x ( log L x log W)
N x ( log L)2 ( log )2
Log b = log W ( N x log a)
log L
Keterangan : W = Berat
L = Panjang
a = Konstanta

11

b = Konstanta
2.2.1 Hubungan Panjang Dan Berat Pada Ikan
Pertumbuhan adalah pertambahan ukuran panjang atau berat dalam suatu
waktu, akibat terjadinya pembelahan sel secara mitosis yang disebabkan oleh
kelebihan jumlah input energi dan asam amino yang berasal dari makanan. Faktor
yang mempengaruhi pertumbuhan ada 2 yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal umumnya faktor yang sukar untuk dikontrol, diantaranya adalah
keturunan, parasit, penyakit, sex,dan umur. Sedangkan faktor luar yang utama
mempengaruhi pertumbuhan adalah makanan dan suhu perairan, namun dari kedua
faktor tersebut belum diketahui faktor mana yang memegang peranan yang lebih
besar. Faktor kimia perairan dalam keadaan ekstrim mempunyai pengaruh hebat
terhadap pertumbuhan, bahkan dapat menyebabkan fatal. Diantaranya adalah
oksigen, karbondioksida, hidrogen sulfida, keasaman dan alkalinitas (Carlander
1969).

Gambar 5. Grafik Hubungan Panjang dan Berat pada Ikan


(Sumber : Effendi 1997)

Berat dapat diangggap sebagai suatu fungsi dari panjang. Hubungan panjang
dengan berat hampir mengikuti hukum kubik yaitu bahwa berat ikan sebagai
pangkat tiga dari panjangnya, tetapi hubungan yang terdapat pada ikan sebenarnya
tidak demikian karena bentuk dari panjang ikan berbeda-beda. Maka hubungan
tersebut tidak selamanya mengikuti hukum kubik tetapi dalam suatu bentuk rumus
yang umum (Lagler 1970) yaitu.

12

W = c x Ln
Keterangan :

W = Berat, c dan n = konstanta,


L = Panjang
Apabila rumus umum diatas trasnforterbangikan ke dalam logaritma maka

akan di dapatkan persamaan : Log W = Log c + n Log L, yaitu persamaan linear


atau persamaan garis lurus seperti di bawah harga n adalah harga pangkat yang
harus cocok dari panjang ikan agar sesuai dengan berat ikan. Harga eksponen ini
telah diketahui dari 398 populasi ikan berkisar 1,2 - 4, namun dari kebanyakan
harga n tadi berkisar dari 2,4 - 3,5. Bilamana harga n = 3 menunjukkan bahwa
pertumbuhan ikan tidak berubah bentuknya. Pertambahan panjang ikan seimbang
dengan pertambahan beratnya. Pertumbuhan demikian ialah pertumbuhan
isometrik. Sedangkan apabila n > atau n < dinamakan pertumbuhan allometrik.
Apabila harga n , dari 3 menunjukkan keadaan ikan yang kurus. Keadaan ikan yang
kurus dimana pertambahan panjang lebih cepat daripada pertambahan berat.
Apabila angkanya lebih besar dari 3 menunjukkan ikan itu montok. Pertambahan
berat lebih cepat daripada perubahan panjangnya (Lagler 1970).
2.2.2 Faktor Kondisi
Faktor kondisi adalah keadaan yang menyatakan kemontokan ikan secara
kualitas, dimana perhitungannya didasarkan pada panjang dan berat ikan. Faktor
kondisi atau indeks ponderal dan sering disebut faktor K yang merupakan hal yang
penting dari pertumbuhan ikan, karena faktor kondisi dapat digunakan untuk
menganalisis populasi. Beragamnya faktor kondisi disebabkan oleh pengaruh
makanan, umur, jenis kelamin dan kematangan gonadnya (Effendie 2002).
Salah satu derivat penting dari pertumbuhan ialah faktor kondisi atau indek
ponderal dan sering disebut pula sebagai faktor K. Faktor kondisi ini menunjukkan
keadaan baik dari ikan dilihat dari segi kapasitas fisik untuk survival dan reproduksi.
Di dalam penggunaan secara komersiil maka kondisi ini mempunyai arti kualitas
dan kuantitas daging ikan yang tersedia untuk dapat dimakan. Jadi kondisi di sini
mempunyai arti dapat memberi keterangan baik secara biologis atau secara
komersial (Effendie 2002).

13

Apabila dalam suatu perairan terjadi perubahan yang mendadak dari kondisi
ikan itu situasinya lebih memungkinkan untuk cepat diselidiki. Apabila kondisinya
kurang baik, mungkin populasinya terlalu padat dan sebaliknya bila kondisinya baik
mungkin terjadi pengurangan populasi atau tersedia makanan yang mendadak.
Banyaknya faktor yang mempengaruhi pertumbuhan diantaranya adalah rasio
pemberian pakan dan berat ikan. Pakan yang diberikan tidak dapat menunjang
untuk pertumbuhan dan pemeliharaan tubuh maka pertumbuhan akan terhambat
bahkan berhenti sama sekali. Hendaknya pakan sesuai dan tidak berlebihan.
Seringkali untuk mendapatkan pertumbuhan yang bagus harus biaya yang lebih
untuk makanan tetapi pemanfaatannya oleh ikan sangat rendah sehingga tidak
ekonomis. Faktor kondisi bergantung pada sistem ukuran yang dipakai maka faktor
kondisi ini ada tiga macam yaitu sistem metrik, sistem Inggris, sistem campuran.
Seperti telah dikemukakan didalam hubungan panjang berat bahwa panjang
ikan tidak selamanya mengikuti hukum kubik atau panjangnya selalu berpangkat
tiga, dimana hubungan tadi ialah W = cLn. Apabila menghitung kondisi
berdasarkan hubungan panjang berat dengan menggunakan rumus tadi, maka kita
akan mendapatkan faktor kondisi yang dinamakan faktor kondisi relatif (Kn),
dengan perumusan Kn = W / aLn, yaitu yang berdasarkan pengamatan dibagi
dengan berat yang berdasarkan kepada dugaan berat dari panjangnya, yaitu
berdasarkan kelompok umur, kelompok panjang atau sebagian dari populasi.
Menurut Carlender faktor kondisi relatif tidak cocok untuk membandingkan
diantara populasi. Faktor kondisi bergantung pada sistem ukuran yang dipakai maka
faktor kondisi ini ada tiga macam:
1.

Sistem metrik, dengan rumus:


K= 100 W (gram) / L3(mm) atau K=10.000 W (gram) / L3(mm)

2.

Sistem Inggris, dengan rumus:


C= 10.000 W (pounds) / L3 (inches)

3.

Sistem Campuran, dengan rumus:


R= 100 W (gram) / L3 (inches)

14

2.2.3 Pertumbuhan Von Benalanffy


Pertumbuhan merupakan peningkatan biomas suatu populasi yang dihasilkan
oleh akumulasi bahan-bahan yang ada dalam lingkungannya, perubahan panjang
atau berat ikan selama waktu tertentu. Untuk menghitung pertumbuhan diperlukan
data L atau W dan umur atau waktu. Studi pertumbuhan untuk penentuan ukuran
tubuh sebagai fungsi dari umur, semua studi pertumbuhan bekerja dengan data
komposisi umur, di daerah beriklim sedang, data komposisi umur dapat diperoleh
dari pengitungan lingkaran tahunan. Pertumbuhan ikan sering digambarkan dengan
bentuk perubahan L atau W berdasarkan waktu yang dinyatakan dengan
matematika. Von Bertalanffy adalah pertumbuhan panjang dan berat terhadap
waktu adalah berbeda.
1)

Jika L diplotkan terhadap waktu maka kurva dengan sudut yang semakin kecil
dengan bertambahnya umur maka garis kurva tersebut mendekati asymptote
atas yang sejajar dengan sumbu-x.

2)

Jika W diplotkan dengan umur maka kurva berbentuk sigmoid -peningkatan


atau perubahan W pada tahap awal rendah atau lambat, kemudian cepat dan
menurun setelah mencapai titik infleksi.
Pertumbuhan terdiri dari 2 macam seperti yang dibawah ini.

1)

Pertumbuhan absolut (ukuran rata-rata ikan pada umur tertentu)

2)

Pertumbuhan relatif (L/W dalam suatu periode dibandingkan dengan L/W


pada awal periode tersebut)
Didesain untuk menerangkan dan menduga perubahan-perubahan yang

terjadi di dalam suatu populasi ikan dari waktu ke waktu sehingga berguna untuk
mengambil keputusan dalam pengelolaan sumber daya perikanan terdapat 2 macam
yaitu.
1)

Model yang berhubungan dengan berat

2)

Model yang berhubungan dengan panjang

Sehingga model pertumbuhan yang berhubungan dengan panjang :


1)
2)
3)
4)

Model linier
Model logaritmik
Model eksponensial
Model geometrik

: Lt = a + bt
: Lt = a + b log t
: Lt = a.bt
: Lt = a.tb

15

5)
6)

Model Gompertz
: Lt = a.ebt
Model von Bertalanffy : Lt = L (1-e-k (t-to))
Persamaan pertumbuhan Von Bertalanffy merupakan dasar dalam bioper

yang digunakan sebagai suatu submodel dalam sejumlah model yang lebih rumit
dalam menjelaskan berbagai dinamika dari populasi ikan terdapat hubungan linier
antara kecepatan pertumbuhan dan panjang ikan.
Data frekuensi panjang digunakan untuk menduga model pertumbuhan Von
Bertallaffy. Model ini menggunakan rumus (Sparre & Venema 1999)

L(t) = L (1-e-k(t-t0) )
Keterangan:
L(T) : Panjang pada Waktu T,
L
: Panjang pada T Tak Berhingga, L
K
: Koefisien Pertumbuhan,
T0 : Waktu pada saat L0.
2.2.4 Metode Battacharya
Pada dasarnya metode Bhattacharya adalah suatu teknik memisahkan data
sebaran frekuensi panjang ke dalam beberapa distribusi normal (sebaran normal)
dari distribusi total. Penentuan distribusi normal ini dimulai dari sebaran kiri
distribusi total, kemudian bergerak ke kanan selama masih ada distribusi normal
yang dapat dipisahkan dari distribusi total (Sparre dan Venema 1992). Puncak dari
masing-masing distribusi normal merupakan modus frekwensi paniang dari tiap
bulan atau disebut kelompok umur (kohort). Kernudian kelompok umur ini akan
bergerak ke kanan pada bulan berikutnya; dengan kata lain kelompok umur itu
bertambah panjang atau tumbuh. Kurva distribusi normal tiap kelornpok umur
mempunyai persamaan berikut:
2
() =
exp(
)
2
2

Keterangan:
N
dL
s

: Jumlah populasi
: Lebar selang kelas
: Simpanganbaku

16

:Nilai tengah kelompok umur


Persamaan diatas meniadi persamaan kurva parabola dengan Fc (x) sebagai

peubah tak bebas dan x sebagai peubah bebas.


2.3

Aspek Reproduksi

2.3.1 Rasio Kelamin


Nisbah kelamin tau sex ratio merupaka perbandingan jumlah ikan jantan
dengan betina dalam suatu populasi dan kondisi ideal untuk mempertahankan suatu
spesies adalah 1: 1 (50% jantan dan 50 % betina), namun sering terjadi
penyimpangan dari pola 1:1, hal ini terjadi karena adanya perbedaan tingkah laku
ikan yang suka bergrombol, perbedaan laju mortalitas dan pertumbuhan (Nikosky
1963), menyatakan bahwa dalam ruaya ikan untuk memijah, perubahaan nisbah
kelamin terjadi teratur. Pada awalnya ikan jantan lebih dominan kemudian berubah
menjadi 1:1 diikuti dengan dominasi betina. Perubahaan ini terjadi pada saat
menjelang dan selama pemijahaan. Menurut Ali (1981) frekunsi panjang tertinggi
ikan terbang jantan dan betina di perairan Laut Flores berbeda pada kisaran 190200 mm panjang total. Kondisi ikan jantan dan betina pada kisaran tersebut telah
memijah.
2.3.2 Tingkat Kematangan Gonad
Tahap kematangan adalah perkembangan sel telur menjadi semakin besar,
berisi kuning telur dan akan diovulasikan pada ikan yang telah dewasa. Proses
pematangan gonad pada ikan yang telah dewasa dan induk sebenarnya terjadi mulai
dalam terbanga oosit muda dan bukan dari calon telur. Kematangan gonad dan
keberhasilan pemijahan berhubungan dengan ukuran dan umur ikan. Semakin besar
ukuran ikan, jumlah telurnya akan semakin banyak, ukuran telurnya juga relatif
lebih besar demikian pula kualitasnya semakin baik (Billard 1992).
Dalam individu telur terdapat proses yang dinamakan vitellogenesis yaitu
terjadinya pengendapan kuning telur pada tiap-tiap individu telur. Hal ini
menyebabkan terjadinya perubahan dalam gonad. Umumnya pertambahan berat
gonad pada ikan betina sebesar 10-25% dari berat tubuh dan pada ikan jantan
sebesar 5-10%. Dari TKG ini dapat diketahui bilamana ikan itu akan memijah, baru

17

memijah, atau sudah selesai memijah. Tiap-tiap spesies ikan pada waktu pertama
kali gonadnya menjadi terbangak tidak sama ukurannya (Bagenal dan Braum 1968).
Secara alamiah ukuran dan berat tubuh ikan dapat digunakan sebagai tanda
utama untuk mengetahui kematangan gonad. Tingkat kematangan gonad adalah
tahap tertentu perkembangan gonad sebelum dan sesudah ikan itu berpijah. Tiaptiap spesies ikan pada waktu pertama kali gonadnya menjadi terbangak tidak sama
ukurannya. Demikian pula ikan yang sama spesiesnya. Dalam bidang pembenihan
ikan, pencatatan perubahan atau tahap-tahap kematangan gonad diperlukan untuk
mengetahui perbandingan ikan-ikan yang akan melakukan reproduksi dan yang
tidak (Effendi 2002).
Pengamatan kematangan gonad dilakukan dengan dua cara yaitu cara
histologi yang dilakukan di laboratorium, yang kedua dengan cara pengamatan
morfologi yang dapat dilakukan di laboratorium dan di lapangan. Dari penelitian
secara histologi akan diketahui anatomi perkembangan gonad tadi lebih jelas dan
mendetail. Sedangkan hasil pengamatan secara morfologi tidak akan sedetail cara
histologi, namun cara morfologi ini banyak dilakukan oleh peneliti (Effendie
2002).
Dasar yang dipakai untuk menentukan TKG dengan cara morfologi ialah
bentuk, ukuran panjang dan berat, warna dan perkembangan isi gonad yang dapat
dilihat. Perkembangan ikan betina lebih banyak dilihat dari pada ikan jantan karena
perkembangan diameter telur yang terdapat dalam gonad lebih mudah dilihat dari
pada sperma yang terdapat didalam testis (Effendie 2002).
Morfologi gonad dan corak warna digunakan untuk membedakan tingkat
kematangan. Hal tersebut bermanfaat untuk menentukan terbanga memijah secara
umum dan menentukan langkah lanjut untuk pengelolaannya. Akan tetapi
kelemahannya adalah gonad yang telah ditentukan dengan cara tersebut
terterbanguk tingkat kematangan tinggi (Lam 1983).
Faktor-faktor utama yang mampu mempengaruhi kematangan gonad ikan,
antara lain suhu dan makanan, tetapi secara relatif perubahannya tidak besar dan di
daerah tropik gonad dapat terbangak lebih cepat. Kualitas pakan yang diberikan
harus mempunyai komposisi khusus yang merupakan faktor penting dalam

18

mendukung keberhasilan proses pematangan gonad dan pemijahan (Effendie,


2002). Untuk mengetahui tingkat kematangan gonad dapat dilihat dari beberapa
parameter, yang terlampir pada table.
Tingkat kematangan gonad (Bagenal dan Braum, 1968) yaitu.
1.

Dara : Organ seksual sangat kecil berdekatan di bawah tulang punggung.


Testes dan ovarium transparan, dari tidak berwarna sampai berwarna abu-abu.
Telur tidak terlihat dengan mata biasa.

2.

Dara Berkembang : Testes dan ovarium jernih, abu-abu merah. Panjangnya


setengah atau lebih sedikit dari panjang rongga bawah. Telur satu persatu
dapat terlihat dengan kaca pembesar.

3.

Perkembangan I : Testes dan ovarium bentuknya bulat telur, berwarna


kemerah-merahan dengan pembuluh kapiler. Gonad mengisi kira-kira
setengah ruang ke bagian bawah, telur dapat terlihat seperti serbuk putih.

4.

Perkembangan II : Testes berwarna putih kemerah-merahan. Tidak ada


sperma kalau bagian perut ditekan. Ovarium berwarna orange kemerahmerahan. Telur jelas dapat dibedakan, bentuknya bulat telur. Ovarium
mengisi kira-kira dua per tiga ruang bawah.

5.

Bunting : Organ seksual mengisi ruang bawah. Testes berwarna putih, keluar
testesan sperma kalau ditekan perutnya. Telur bentuknya bulat, beberapa dari
padanya jernih dan terbangak.

6.

Mijah : Telur dan sperma keluar dengan sedikit tekanan ke perut. Kebanyakan
telur berwarna jernih dengan beberapa yang berbentuk bulat telur di dalam
ovarium.

7.

Mijah/salin : Gonad belum kosong sama sekali tidak ada telur yang bulat telur.

8.

Salin : Testes dan ovarium kosong dan berwarna merah. Beberapa telur
sedang ada dalam keadaan dihisap kembali.

9.

Pulih salin : Testes dan ovarium berwarna jernih, abu-abu sampai merah.

19

2.3.3 Indeks Kematanagan Gonad


Perkembangan gonad yang semakin matang merupakan bagian dari
reproduksi ikan sebelum terjadi pemijahan. Selama itu sebagian besar hasil
metabolisme tertuju pada perkembangan gonad (Fujaya 2002).
Untuk mengetahui perubahan yang terjadi dalam gonad secara kuantitatif,
dapat dinyatakan dengan suatu indeks yang dinamakan Indeks Kematangan Gonad
(IKG), yaitu suatu nilai dalam persen sebagai hasil perbandingan berat gonad
dengan berat tubuh ikan terterbanguk gonad dikalikan 100% (Herawati 2014).
Bg
x100%
Bt
Keterangan : IKG = Indeks kematangan gonad
BG = Bobot gonad
BT = Bobot tubuh
=

Perbandingan tersebut ialah Index of maturity, namun diantara banyak


peneliti menamakan indeks tadi ialah Gonado Somatic Index. Indeks ini diterima
oleh para peneliti reproduksi ikan sebagai salah satu pengukur aktifitas gonad dan
beberapa peneliti lainnya menamakan indeks yang sama dengan nama Raport
Gonosomatique.Gonado Somatic Index (GSI) = Wg/W X 100% akan semakin
meningkat nilainya dan akan mencapai batas maksimum pada saat akan terjadi
pemijahan. Pada ikan betina nilai GSI lebih besar dibandingkan dengan ikan jantan.
Nilai GSI ikan thread fin berkisar antara 1-25%. Ikan dengan GSI 19%, ada yang
sanggup mengeluarkan telurnya. Indeks tersebut semakin bertambah besar dan nilai
tersebut akan mencapai batas kisaran maksimum pada saat akan terjadi pemijahan.
Adakalanya nilai GSI ini dihubungkan dengan Tingkat Kematangan Gonad (TKG)
yang pengamatannya berdasarkan ciri-ciri morfologi kematangan gonad. Dengan
memperbandingkan hal demikian, akan tampak hubungan antara perkembangan
didalam dan diluar gonad ikan, nilai-nilai morfologi yang dikuantitatifkan.
Bergantung pada macam dan pola pemijahannya, maka akan didapatkan nilai
indeks yang sangat bervariasi pada setiap saat (Johnson 1971).
Penghitungan indeks kematangan gonad selain menggunakan perbandingan
antara berat gonad dengan berat tubuh ikan, dapat juga dengan mengamati
perkembangan garis tengah telur yang dikandungnya hasil dari pengendapan

20

kuning telur selama proses vitellogenesis. Perkembangan gonad akan diikuti juga
dengan semakin membesarnya pula garis tengah telur yang dikandung didalamnya.
Sebaran garis tengah telur pada tiap tingkat kematangan gonad akan mencerminkan
pola pemijahan ikan tersebut (Johnson 1971).
2.3.4 Hepatosomaric Indeks
Hepato somatic Index (HSI) adalah indeks yang menunjukkan perbandingan
berat tubuh dan berat hati dan dinyatakan dalam persen (Effendie 1997). Pada saat
ikan mengalami perkembangan gonad, maka ditemukan adanya upaya yang optimal
untuk mempertahankan perkembangannya sehingga sebagian besar ikan
mengalami penurunan berat badan.
2.3.5 Frekunditas
Fekunditas adalah semua telur yang akan dikeluarkan pada waktu pemijahan.
Fekunditas secara tidak langsung, dapat reproduksimenaksir jumlah anak ikan yang
akan dihasilkan dan akan menentukan pula jumlah ikan dalam kelas umur yang
bersangkutan. Jumlah telur yang terdapat dalam ovari ikan dinamakan fekunditas
individu, fekunditas mutlak atau fekunditas total. Fekunditas individu akan sukar
diterapkan untuk ikan-ikan yang mengadakan pemijahanm beberapa kali dalam
setahun, karena mengandung telur dari berbagai tingkat dan akan lebih sulit lagi
menentukan telur yang benar-benar akan dikeluarkan pada tahun yang akan datang.
Fekunditas total ialah jumlah telur yang dihasilkan dalam ikan selama hidup.
Fekunditas relatif adalah jumlah telur per satuan berat atau panjang. Ikan-ikan yang
tua dan besar ukurannya mempunyai fekunditas relatif lebih kecil. Umumnya
fekunditas relatif lebih tinggi dibandingkan dengan fekunditas individu. Fekunditas
relatif akan menjadi maksimum pada golongan ikan yang terbangih muda
(Nikolsky 1963).
Bagi ikan-ikan tropik dan sub-tropik, definisi fekunditas yang paling cocok
mengingat kondisinya ialah jumlah telur yang dikeluarkan oleh ikan dalam rata-rata
terbanga hidupnya. Parameter ini sesuai dengan studi populasi dan dapat ditentukan
karena kematangan tiap-tiap ikan pada waktu pertama kalinya dapat diketahui dan
juga statistik kecepatan mortalitasnya dapat ditentukan dalam pengelolaan

21

perikanan yang baik. Dalam menghitung fekuinditas dikenal lima metode (Bagenal
dan Braum 1968), yaitu :
a.

Metode Numerik, metode sensus dengan menghitung semua jumlah telur


yang ada pada gonad secara manual (satu per saru).

b.

Metode Volumetrik, perhitungan sampel, caranya sebagai berikut :


Menghitung volume gonad secara keseluruhan (dapat dilakukan dengan
meterbangukannya pada gelas ukur berisi air, dan menghitung selisis volume
awal air saja dan volume akhir, yaitu air dan gonad). V Membagi kedua gonad
menjadi 3 bagian (anterior A, tengah T, dan posterior, P). v menghitung
volume ke-3 bagian gonad tersebut di setiap gonad (terdapat 6 bagian).
(seperti pada cara yang pertama). x menghitung telur pada 6 bagian telur
tersebut secara manual. X menghitung fekuinditas dengan meterbangukannya
pada rumus.
X

V . x
v

Penghitungan kedua metode diharapkan memberi hasil yang mendekati.


c.

Metode gravimetrik, prinsip metode ini sama dengan volumetrik,


yang membedakan hanya pada ukuran volume diganti dengan ukuran
berat gonad.
Rumus :
X: x=G:g
Keterangan :
X : Jumlah telur yang akan dicari
x : Jumlah telur contoh
G : Berat seluruh gonad
g : Berat gonad contoh

d.

Metode gabungan (hitung gravimetrik dan volumetrik).


Rumus :

F = (G x V x X) / Q
Keterangan :
F : Fekunditas
G : Berat gonad total

22

V : Volume pengenceran
X : Jumlah telur
Q : Berat telur contoh
e.

Metode Van Bayers, merupakan metode penghitungan fekunditas dengan


menggunakan tabel yang sudah ada dilihat dari diameter telur Ikan Terbang.

2.3.6 Diameter Telur


Mengetahui diameter dan posisi inti telur sangatlah penting untuk dilakukan.
Besar diameter telur dan pengamatan posisi inti dapat digunakan sebagai
pertimbangan penentuan tingkat kematangan gonad. Telur yang sudah matang
cenderung memilik diameter yang besar. Pada telur yang sudah matang, posisi inti
telur cenderung berada pada salah satu kutub dari telur dan tidak berada di tengah.
Selain itu biasanya diameter telur dapat dihubungkan dengan perkiraan nilai
fekunditas, pada ikan-ikan yang memiliki telur yang besar fekunditasnya biasanya
cenderung kecil (Herawati 2014). Diameter telur ada hubungannya dengan
fekunditas. Makin banyak telur yang dipijahkan (fekunditas), maka ukuran
diameter telurnya makin kecil, demikian pula sebaliknya (Tang dan Affandi 2001).
Hal ini juga dikemukakan oleh Wootton (1998) bahwa ikan yang memiliki diameter
telur lebih kecil biasanya mempunyai fekunditas yang lebih banyak, sedangkan
yang memiliki diameter telur yang besar cenderung memiliki fekunditas rendah.
Semakin besar ukuran diameter telur akan semakin baik, karena dalam telur
tersebut tersedia makanan cadangan sehingga larva ikan akan dapat bertahan lebih
lama.
2.3.7 Tingkat Kematanagan Telur
Mengetahui diameter dan posisi inti telur sangatlah penting untuk dilakukan.
Besar diameter telur dan pengamatan posisi inti dapat digunakan sebagai
pertimbangan penentuan tingkat kematangan gonad. Telur yang sudah matang
cenderung memiliki diameter yang besar. Pada telur yang sudah matang, posisi inti
telur cenderung berada pada salah satu kutub dari telur dan tidak berada di tengah.
Selain itu biasanya diameter telur dapat dihubungkan dengan perkiraan nilai

23

fekunditas, pada ikan-ikan yang memiliki telur yang besar fekunditasnya biasanya
cenderung kecil.
2.4

Food Feeding Habits


Makanan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan bagi reproduksi,

dinamika populasi dan kondisi ikan di suatu. Keberadaan suatu jenis ikan di
perairan memiliki hubungan yang erat dengan keberadaan makanannya Kebiasaan
makanan ikan secara alami tergantung kepada lingkungan tempat ikan itu hidup
(Effendie 2002).
Kebiasaan makanan ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain habitat,
kesukaan terhadap jenis makanan tertentu, musim, periode harian mencari makanan,
spesies kompetitor, ukuran dan umur ikan bahwa urutan kebiasaan makanan ikan
terdiri dari yang pertama makanan utama, yaitu makanan yang biasa dimakan dalam
jumlah yang banyak, yang kedua makanan tambahan, yaitu makanan yang biasa
dimakan dan ditemukan di dalam usus dalam jumlah yang lebih sesikit, ketiga
makanan pelengkap, yaitu makanan yang terdapat dalam saluran pencernaan
dengan jumlah yang sangat sedikit serta, ke empat makanan pengganti, yaitu
makanan yang hanya dikonsumsi jika makanan utama tidak tersedia.
Klasifikasi pola makan berdasar jenis makanansebagai berikut.
1

Ikan pemakan daging (carnivora) : ikan hampal

Ikan pemakan tumbuhan (herbivora): ikan nilem, ikan lalawak, ikan beureum
panon

Ikan pemakan segala (omnivora) : jenis pemakan tumbuhan dan juga berbagai
macam hewan dan serangga seperti laron, kroto dll. : ikan mas , ikan mujair,
ikan nila
Ada beberapa metoda yang digunakan untuk mempelajari Food And Feeding

Habits.
1.

Metode Jumlah : Dilakukan dengan cara memisahkan semua benda yang ada
didalam saluran pencernaan berdasarkan species masing masing.

2.

Metode Frekuensi Kejadian : Hampir sama dengan cara pada metode jumlah,
tetapi hasilnya dinyatakan dalam persen.

24

3.

Metode Perkiraan Tumpukan Dalam Persen : Pada metode ini dilakukan


dengan cara mengukur isi alat pencernaan. Kemudian isi tersebut diencerkan
dengan pengisian air sampai 10 kali, hasil pengenceran diamati dibawah
mikroskop. Lalu kita dapat menentukan Food And Feeding Habits ikan dari
banyaknya jenis makanan yang terlihat dibawah mikroskop.

4.

Metode Volumetrik :Metode ini dilakukan dengan cara mongering udarakan


isi dari saluran pencernaan kemudian setelah dikeringkan isi dari saluran
pencernaan masing masing dipisahkan sesuai dengan jenisnya.

5.

Metode Gravimetrik : Pada dasarnya metode ini sama dengan metode


volumetric hanya saja isi dari saluran pencernaan dkiukur berdasarkan
beratnya.

2.4.1 Indeks Preponderan


Tidak keseluruhan makanan yang ada dalam suatu perairan dimakan oleh
ikan. Beberapa faktor yang mempengaruhi dimakan atau tidaknya suatu zat
makanan oleh ikan diantaranya yaitu ukuran makanan ikan, warna makanan dan
selera makan ikan terhadap makanan tersebut. Sedangkan jumlah makanan yang
dibutuhkan oleh ikan tergantung pada kebiasaan makan, kelimpahan makanan, nilai
konversi makanan serta kondisi makanan ikan tersebut. Untuk mengusahakan
penangkapan, pemeliharaan dan peternakan ikan dengan sukses, seringkali
diperlukan pengetahuan praktis tentang jenis makanan yang disukai ikan
bersangkutan, baik berupa anakan, maupun setelah dewasa. Untuk itu penting
penelitian tentang makanan dan kebiasaan makan ikan yang didasarkan atas
pemeriksaan isi lambung dan usus ikan yang bersangkutan. Dari hasil studi ini
kemudian dapat ditarik suatu kesimpulan apakah ikan yang bersangkutan itu
tergolong jenis herbivora, karnivora atau omnivore. Apakah jenis-jenis makanan
pokoknya dan apa saja yang menjadi makanan sambilannya. Ada lima cara yang
dapat digunakan mempelajari makanan dan kebiasaan makanan ikan yaitu metode
jumlah, metode frekuensi kejadian, metode perkiraan tumpukan dengan persen,
metode volumerik dan metode grafimetrik (Antoni 2013).

25

Menurut Sutomo (1988), kebiasaan makan dianalisis dengan menggunakan


indeks preponderan. Indeks preponderan adalah gabungan metode frekuensi
kejadian dan volumetrik. Pada analisis kebiasaan makanan ikan, pakan
dikelompokkan menjadi lima kelompok pakan yaitu fitoplankton, zooplankton,
bagian tumbuhan, bagian hewan dan detritus. Setiap kelompok pakan dapat
dikategorikan berdasarkan nilai Indeks of Preponderan (IP) yaitu sebagai kelompok
pakan utama bagi ikan apabila IP lebih besar dari 20%, pakan pelengkap apabila
5% IP 20% dan pakan tambahan apabila IP kurang dari 5%. Rumus IP adalah
sebagai berikut :
IPi =
Keterangan:
Ipi
Vi
Oi
(VixOi)

VixOi
100%
n

VixOi
i=1

= Indeks Preponderam
= Presentase volume satu macam makanan
= Presentase frekuensi kejadian satu macam makanan
= Jumlah Vi x Oi dari semua jenis makanan

Kelompok pakan utama


: IP > 25%
Kelompok pakan pelengkap : 5% IP 25%
Kelompok pakan tambahan : IP < 5%
Pada analisis kebiasaan makanan ikan, pakan dikelompokkan menjadi lima
kelompok pakan yaitu fitoplankton, zooplankton, bagian tumbuhan, bagian hewan
dan detritus. Setiap kelompok pakan dapat dikategorikan berdasarkan nilai Indeks
of Preponderan (IP) yaitu sebagai kelompok pakan utama bagi ikan apabila IP lebih
besar dari 20%, pakan pelengkap apabila 5% IP 20% dan pakan tambahan
apabila IP kurang dari 5%. Menurut Wijayanti (2009) frekuensi kejadian ditentukan
dengan mencatat keberadaan masing-masing organisme yang terdapat dalam
sejumlah alat pencernaan ikan yang berisi bahan makanannya dan dinyatakan
dalam persen.
2.4.2 Indeks Pilihan
Indeks pilihan dapat digunakan untuk untuk membandingkan pakan alami
yang dipilih oleh ikan dengan sumber daya pakan yang tersedia dialam (Bowen
1985). Indeks pilihan dianalisis berdasarkan Ivlev (1961) dalam Valiela (1995):

26

Keterangan :
E
ri
pi

: Indeks pilihan
: Jumlah relatif macam-macam organisme yang dimakan
: Jumlah relatif macam-macam organisme dalam perairan

Nilai indeks pilihan ini berkisar antara + 1 sampai 1


0<E<1
-1<E<0
E=0

: Pakan digemari
: Pakan tidak digemari
: Tidak ada seleksi oleh ikan tehadap pakan.

2.4.3 Tingkat Trofik


Tingkat trofik adalah tingkat dalam rantai makanan di mana suatu organisme
memperoleh energi. Tingkat Tropik pertama berisi sebagin besar organisme yang
terdiri dari tanaman. Organisme dalam lapisan ini disebut produsen primer karena
mereka mendapatkan energi mereka dari sumber abiotik. Produsen yang paling
utama mendapatkan energi langsung dari matahari. Produsen primer yang penting
bagi keseluruhan rantai makanan karena mereka adalah sumber asli dari energi yang
kemudian dilewatkan antara organisme lainnya
Ttpxli
)
100

= 1 + (
Tp
Ttp
Li

= Tingkat Trofik Ikan


= Tingkat trofik kelompok pakan ke-p
= Indeks bagian terbesar untuk kelompok pakan ke-p

Kategori tingkat trofik ikan, yaitu:


Tingkat trofik 2
: ikan herbivora
Tingkat trofik 2,5
: ikan omnivora
Tingkat trofik 3 atau lebih
: ikan karnivora
2.4.4 Metode Langsung
Metode langsung adalah metode pengrukuran umur ikan hanya bisa
dilakukan pada ikan budidaya

27

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1

Waktu dan Tempat


Plaksanaan kegiatan praktikum biologi perikanan analisis aspek biologi

(pertumbuhan, dan kebiasaan makan) Ikan Terbang (Hirundichthys Oxycephalus)


dilakukan pada hari Selasa, 26 April

2016 di Laboratorium FHA Fakultas

Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran Jatinangor.


3.2

Alat dan Bahan


Dalam pelaksanaan praktikum ini digunakan alat-alat dan bahan sebagai

berikut.
3.2.1 Alat Aspek Biologi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum biologi perikanan analisis aspek
biologi (pertumbuhan, dan kebiasaan makan) Ikan Terbang (cyclocheilichthys
macropus).
1)

Penggaris

: Untuk mengukur panjang ikan, panjang usus

2)

Gunting bedah : Untuk menggunting ikan dalam proses pembedahan

3)

Pinset

: Untuk mengambil hati, gonad dan usus ikan

4)

Pisau bedah

: Untuk membedah ikan

5)

Cawan petri

: Wadah untuk meletakkan hati, dan gonad

6)

Mikroskop

: Alat untuk mengamati gonad

7)

Wadah plastik : Wadah untuk menaruh alat dan bahan yang digunakan

8)

Timbangan

: Mengukur bobot ikan, bobot hati, dan bobot gonad

9)

Cover glass

: Wadah untuk menaruh isi usus saat diamati

3.2.2 Alat Penentu Umur Ikan


1)

Mikroskop

: Alat untuk mengamatai otolith

2)

Cover glass

: Wadah untuk menaruh otolith saat diamati

3)

Pisau bedah

: Untuk membedah kepala ikan

4)

Pinset

: Untuk mengambil otolith ikan dari kepala

5)

Wadah plastik : wadah utnuk menaruh alat dan bahan yang digunakan

28

3.2.3 Bahan Aspek Biologi


Bahan yang digunakan dalam praktikum biologi perikanan analisis aspek
biologi (pertumbuhan, dan kebiasaan makan) adalah Ikan Terbang (Hirundichthys
Oxycephalus)sebagai objek pengamatan.
3.2.4 Bahan Penentu umur
Bahan yang digunakan dalam praktikum biologi perikanan penentu umur
Ikan Terbang (Hirundichthys Oxycephalus) adalah otolith yang diambil di bagian
kepala ikan terbang.
3.3

Prosedur Kerja
Prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum analisis aspek biologi

(pertumbuhan, dan kebiasaan makan) Ikan Terbang (cyclocheilichthys macropus).


3.3.1 Pertumbuhan
Langkah yang dilakukan dalam identifikasi pertumbuhan sebagai berikut.
1)

Siapkan terlebih dahulu alat dan bahan yang diperlukan.

2)

Diambil ikan terbang.

3)

Diukur panjang ikan, baik HL, TL, SL dengan menggunakan penggaris.

4)

Diukur bobot ikan dengan menggunakan timbangan.

5)

Dicatat dalam tabel perhitungan.

3.3.2 Rasio Kelamin


Langkah yang dilakukan dalam identifikasi reproduksi adalah :
1)

Disiapkan terlebih dahulu alat dan bahan yang diperlukan

2)

Diambil ikan terbang

3)

Diatikan ikan terbang dengan menggunakan sonde

4)

Dibedah ikan terbang dengan menggunakan pisau dan gunting bedah dimulai
dari bagian urogenital

5)

Dilakukan pengamatan jenis kelamin pada ikan terbang

29

3.3.3 Tingkat Kematangan Gonad


Langkah yang dilakukan dalam tingkat kematangan gonad adalah
1)
2)

Disiapkan terlebih dahulu alat dan bahan yang diperlukan


Diambil ikan terbang

3)

Diatikan ikan terbang dengan menggunakan sonde

4)

Dibedah ikan terbang dengan menggunakan pisau dan gunting bedah dimulai
dari bagian urogenital

5)

Diambil dan letakkan gonad ikan terbang di atas cawan petri

6)

Dilakukan pengamatan pada gonad ikan terbang

7)

Ditentukan nilai TKG ikan terbang

3.3.4 Indeks Kematangan Gonad


Langkah yang dilakukan dalam indeks kematangan gonad adalah
1)

Disiapkan terlebih dahulu alat dan bahan yang diperlukan

2)

Diambil ikan terbang

3)

Dimatikan ikan terbang dengan menggunakan sonde

4)

Dibedah ikan terbang dengan menggunakan pisau dan gunting bedah dimulai
dari bagian urogenital

5)

Diambil gonad yang ada didalam perut, hingga terpisah dari orga lain.

6)

Ditimbang bobot gonad ikan terbang dengan menggunakan timbangan

7)

Dihitung nilai IKG ikan terbang

3.3.5 Food Habbits


Langkah yang dilakukan dalam TL identifikasi food habbits adalah :
1)

Disiapkan terlebih dahulu alat dan bahan yang diperlukan.

2)

Diambil ikan terbang.

3)

Dimatikan ikan terbang dengan menggunakan sonde.

4)

Dibedah ikan terbang dengan menggunakan pisau dan gunting bedah dimulai
dari bagian urogenital.

5)

Diambil usus, bentangkan atau panjangkan usus.

6)

Diurut usus hingga keluar isi dari usus.

7)

Diamati isi usus dengan menggunakan mikroskop.

30

8)

Dicatat pada tabel pengamatan.

3.3.6 Otolith
Langkah yang dilakukan dalam penetu umur ikan terbang adalah :
1)

Disiapkan terlebih dahulu alat dan bahan yang diperlukan

2)

Diambil ikan terbang

3)

Dimatikan ikan terbang dengan menggunakan sonde

4)

Dilakukan pembedahaan dibagian kepala ikan.

5)

Dikeluarkan otolith ikan menggunakan pinset

6)

Ditimbang otolith ikan

7)

Diamplas ukuran yang paling halus

8)

Diamati dibawah mikroskop untuk melihat lingkaran pertumbuhan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
Hasil yang diperoleh pada praktikum ini baik data kelompok maupun data
angkatan adalah sebagai berikut.
4.1.1 Hasil Pengamatan Pertumbuhan
Berikut merupakan tebel hasil pengamatan pertumbuhan ikan terbang yang
diperoleh.

Kelompok

22

Tabel 1. Hasil pertumbuhan kelompok


Pertumbuhan
Kelamin
Nama
Panjang (mm)
Praktikan
Berat
SL
FL
TL
Jantan
Betina
Teguh
Firmansyah
Nadimas
195
205 225 152.5

Ravinsyah
Sukma
Widyawati

4.1.2 Hasil Pengamatan Reproduksi Kelompok


Berikut ini merupakan table hasil pengamatan reproduksi ikan terbang yang
diperoleh
Tabel 2. Data Reproduksi Kelompok
F
TKG

Dara
Berkembang

BG
(gr)

PG
(cm)

IKG
(%)

BH
(gr)

PH
(cm)

HSI
(%)

1.41

0.92 %

31

DT (m)

Letak Inti

M
K

32

4.1.3 Hasil Pengamatan Food and Feeding Habits Kelompok


Berikut merupakan table hasil pengamatan food and feeding habits yang
diperoleh
Tabel 3. Data Kelompok Food and Feeding Habits
Jenis Makanan
Jumlah
Keterangan
Fitoplankton

Coscinusdiscus sp

Zooplankton

Cladocera sp

Benthos

Bagian Hewan

Bagian Tumbuhan

Detritus

Ikan

4.1.4 Hasil Pengamatan Otolith Ikan Terbang


Berikut merupakan table hasil pengamatan otolith ikan terbang yang
diperoleh.

Kel.

Tabel 4. Data Otolith Kelompok


Otolith
Nama Praktikan
Berat
Garis
Panjang

Keterangan
Umur Ikan

Teguh Firmansyah
22

Nadimas Raviansyah
Sukma widyawati

0.08 gr

570
garis

0.1

1 tahun, 7
bulan

Br. S

4.1.5 Hasil Data Disrtibusi Panjang Ikan Bulan Maret


Hasil dari panjang total ikan terbang betina bulan april dapat dilihat pada
tabel adalah sebagai berikut
Tabel 5 . Distribusi panjang total ikan terbang betina bulan Maret
Kelas ke
1
2
3

Interval
200 - 225
226 - 251
252 - 277

Frekuensi
2
11
12

FR
6%
32%
35%

Rata rata
213
240
267

33

Kelas ke
4
5
6

Interval
278 - 302
304 - 329
330 - 335

Frekuensi
6
2
1

FR
18%
6%
3%

Rata rata
294
321
348

Distribusi Panjang Ikan Terbang Jantan


40%
32%

Frekuensi (%)

35%

35%

30%
25%

18%

20%
15%
10%

6%

6%

5%

3%

0%
200 - 225

226 - 251

252 - 277

278 - 302

304 - 329

330 - 335

Interval TL (mm)

Gambar 6.Grafik distribusi panjang total ikan terbang jantan bulan maret

4.1.6 Distribusi Panjang Total Ikan Terbang Betina Bulan April


Hasil dari panjang total ikan terbang betina bulan april dapat dilihat pada
tabel adalah sebagai berikut :
Tabel 6. Distribusi panjang total ikan terbang betina bulan april
Kelas ke
1
2
3
4
5
6

Interval
210-228
229-247
248-266
267-285
286-304
305-323

Frekuensi
2
1
2
11
5
2

FR
9%
4%
9%
48%
22%
9%

Rata-rata
219
238
257
276
295
314

34

PERTUMBUHAN IKAN TERBANG BETINA


48%

50%

Frekuensi (%)

40%
30%

22%

20%
9%

9%

9%

4%

10%
0%
210-228

229-247

248-266

267-285

286-304

305-323

Interval TL (mm)

Gambar 7 .Grafik distribusi panjang total ikan terbang betina bulan april

4.1.7 Kohort Ikan Terbang Bulan Maret


Berikut ini merupakan data angkatan Kohort I Ikan Terbang Bulan Maret
yang diperoleh
Tabel 7. Kohort 1 ikan terbang bulan maret
LI - L2

N1+

N1

157-172
173-188
189-204
205-220

5
13
12
10
40

5
13
12
2
32

Berikut ini merupakan data angkatan Kohort II Ikan Terbang Bulan Maret
yang diperoleh .
Tabel 8. Kohort 2 ikan terbang bulan maret
LI - L2
N2+
N2
3082
2
334
3351
1
361

3
3

35

4.1.8 Hasil Data Kohort Bulan April


Berikut ini merupakan data angkatan Kohort II Ikan Terbang Bulan April
yang diperoleh
Tabel 9 Kohort I ikan terbang bulan april
LI - L2
188210
211233
234256
257279

N1+
3

N1
3

21

21

17

17

43

43

Berikut ini merupakan data angkatan Kohort II Ikan Terbang Bulan April
yang diperoleh
Tabel 10. Kohort II ikan terbang bulan april
LI - L2
280302
303325

N2+

N2

14

14

17

17

4.1.9 Hasil Regresi Ikan Terbang Jantan Bulan Maret


Hasil dari regresi ikan terbang jantan bulan maret bisa dilihat dari tabel
adalah sebagai berikut :
Tabel 11. Hasil regresi ikan terbang jantan bulan maret
Kel-

TL

Bobot

3A
8A
9A
10A
11A
13A

270
255
250
250
267
200

137,88
114,89
117,38
128
147,28
62,86

Log L
(X)
2,43
2,41
2,40
2,40
2,43
2,30

Log W(Y)

(Log L)2

2,14
2,06
2,07
2,11
2,17
1,80

5,91
5,79
5,75
5,75
5,89
5,29

Log L.Log
W
5,20
4,96
4,96
5,05
5,26
4,14

36

Kel-

TL

Bobot

15A
16A
17A
18A
21A
22A
3B
4B
5B
6B
7B
9B
12B
15B
16B
17B
18B
19B
20B
21B
1C
2C
4C
6C
7C
12C
14C
15C

245
202
240
275
312
220
260
247
280
270
260
308
237
289
255
240
300
300
249
289
275
250
355
260
300
250
271
285

116,59
72,12
118,97
163,17
191,16
102,6
126
113
197
136
128
204
100,18
189,77
132,01
125,93
185,45
167,62
115,24
192,05
153,82
118
221
125
184
102,21
117,06
151,94

Log L
(X)
2,39
2,31
2,38
2,44
2,49
2,34
2,41
2,39
2,45
2,43
2,41
2,49
2,37
2,46
2,41
2,38
2,48
2,48
2,40
2,46
2,44
2,40
2,55
2,41
2,48
2,40
2,43
2,45
82,30

Log W(Y)

(Log L)2

2,07
1,86
2,08
2,21
2,28
2,01
2,10
2,05
2,29
2,13
2,11
2,31
2,00
2,28
2,12
2,10
2,27
2,22
2,06
2,28
2,19
2,07
2,34
2,10
2,26
2,01
2,07
2,18
72,41

5,71
5,31
5,67
5,95
6,22
5,49
5,83
5,72
5,99
5,91
5,83
6,19
5,64
6,06
5,79
5,67
6,14
6,14
5,74
6,06
5,95
5,75
6,50
5,83
6,14
5,75
5,92
6,03
199,30

Log L.Log
W
4,94
4,28
4,94
5,40
5,69
4,71
5,07
4,91
5,61
5,19
5,09
5,75
4,75
5,61
5,10
5,00
5,62
5,51
4,94
5,62
5,33
4,97
5,98
5,06
5,61
4,82
5,03
5,36
175,47

Bobot

Relasi Panjang Berat Ikan


Terbang Jantan
5
0
2,25

2,3

2,35

Series1

2,4

2,45
2,5
2,55
Panjangy = 2,2553x - 3,3295

2,6

Linear (Series1)

Gambar 8 . Grafik relasi panjang berat ikan terbang jantan bulan maret

37

4.1.10 Hasil Regresi Ikan Terbang Betina Bulan April


Hasil dari regresi ikan terbang betina bulan april bisa dilihat dari table
adalah sebagai berikut :
Tabel 12 Hasil regresi ikan terbang betina bulan april
Kel-

TL

Bobot

4A
6A
9A
13A
17A
18A
22A
1B
9B
10B
11B
12B
13B
15B
16B
17B
18B
19B
20B
22B
1C
3C
5C

290

247.48

300

227.6

210

113.64

320

238.82

285

199.87

275

178.92

225

152.5

268

188

247

154

285

215.3

280

191.7

280

192.97

271

214.93

293

199.89

300

175

260

164.24

275

182.5

275

166.41

275

182.5

290

200.62

265

147

310

280

285

183

Log L
(X)
2.46
2.48
2.32
2.51
2.45
2.44
2.35
2.43
2.39
2.45
2.45
2.45
2.43
2.47
2.48
2.41
2.44
2.44
2.44
2.46
2.42
2.49
2.45
56.13

Log
W(Y)
2.39
2.36
2.06
2.38
2.30
2.25
2.18
2.27
2.19
2.33
2.28
2.29
2.33
2.30
2.24
2.22
2.26
2.22
2.26
2.30
2.17
2.45
2.26
52.30

(Log L)2
6.06
6.14
5.39
6.28
6.03
5.95
5.53
5.90
5.72
6.03
5.99
5.99
5.92
6.09
6.14
5.83
5.95
5.95
5.95
6.06
5.87
6.21
6.03
136.99

Log L.Log
W
5.89
5.84
4.77
5.96
5.65
5.49
5.14
5.52
5.23
5.73
5.59
5.59
5.67
5.68
5.56
5.35
5.52
5.42
5.52
5.67
5.25
6.10
5.55
127.68

Bobot

REGRESI PANJANG BERAT IKAN TERBANG


BETINA
2,60
2,40
2,20
2,00

y = 1,7164x - 1,9146
R = 0,7075
Series1
2,30

2,40

2,50

2,60

Linear (Series1)

Panjang

Gambar 9 . Grafik relasi panjang berat ikan terbang betina bulan april

38

4.1.11 Hasil Pengamatan Tingkat Kematangan Gonad Angkatan


Hasil data rasio kematangan gonad ikan terbang jantan yang didapatkan
dari data angkatan pada bulan Maret sebagai berikut.
Tabel 13. Rasio Kematangan Gonad Ikan Terbang Jantan Bulan Maret
Interval

DB

190-217

PI

3%

218-245

9%

246-273

6%

274-301

3%

P II

PS

3%
3%

3%

15%

15%

9%

3%

12%

3%

3%

3%

302-329

330-355

3%

3%

3%

Hasil grafik tingkat kematangan gonad ikan terbang jantan yang didapatkan
dari data angkatan pada bulan Maret sebagai berikut:

Distribusi TKG Ikan Terbang Jantan Bulan Maret


16%
14%
12%
10%
8%
6%
4%
2%
0%

15%

15%
12%

9%

9%

6%
3%

3% 3%

190-217

3% 3% 3%
3%3%
3%
3%

218-245

246-273

3%

274-301

3%

302-329

330-355

Gambar 10. Tingkat Kematangan Gonad Ikan Terbang Jantan Bulan Maret

Hasil data rasio kematangan gonad ikan terbang jantan yang didapatkan dari
data angkatan pada bulan April sebagai berikut:
Tabel 14 . Rasio Kematangan Gonad Ikan Terbang Jantan Bulan April
Interval
188-206
207-225
226-244
245-263
264-282
283-301
302-320

D
2,70%
2,70%

DB
2,70%
2,70%
5,41%
10,81%

2,70%
2,70%
2,70%

PI

P II

8,11%
8,11%
10,81%

10,81%
13,51%
8,11%
5,41%

PS

39

Hasil grafik tingkat kematangan gonad ikan terbang jantan yang didapatkan
dari data angkatan pada bulan april sebagai berikut:

Distribusi TKG Ikan Terbang Jantan Bulan April


16,00%
14,00%
10,81%
12,00%
10,00%
8,00%
5,41%
6,00%
2,70%
2,70%
4,00% 2,70%2,70%2,70%2,70% 2,70%
2,00%
0,00%
Dara
Dara Berkembang
188-206

207-225

226-244

13,51%
10,81%

10,81%

8,11%
8,11%

8,11%
5,41%

Perkembangan 1

245-263

264-282

Perkembangan 2

283-301

302-320

Gambar 11. Tingkat Kematangan Gonad Ikan Terbang Jantan Bulan April

Hasil data rasio kematangan gonad ikan terbang betina yang didapatkan dari
data angkatan pada bulan Maret sebagai berikut:
Tabel 15 Rasio Kematangan Gonad Ikan Terbang Betina Bulan Maret
Interval D
199-225
226-252
253-279
280-306

DB

PI
11%
11%
11%

P II

M
22%
11%

22%

11%

PS

Hasil grafik tingkat kematangan gonad ikan terbang betina yang didapatkan
dari data angkatan pada bulan Maret sebagai berikut:

Distribusi TKG Ikan Terbang Betina Bulan Maret


22%

0,25

22%

0,2
0,15

11%11%
11%

11%

11%

0,1
0,05
0
D

DB

PI
199-225

P II
226-252

B
253-279

PS

280-306

Gambar 12. Tingkat Kematangan Gonad Ikan Terbang Betina Bulan Maret

40

Hasil data rasio kematangan gonad ikan terbang betina yang didapatkan dari
data angkatan pada bulan April sebagai berikut:
Tabel 16. Rasio Kematangan Gonad Ikan Terbang Betina Bulan April
Interval
210-228
229-247
248-266
267-285
286-304
305-323

DB
4%

PI

P II

B
4%
4%

MS

4%
9%
9%

PS

4%
4%

30% 4%
13%
4%

4%

Hasil grafik tingkat kematangan gonad ikan terbang betina yang didapatkan
dari data angkatan pada bulan April sebagai berikut:

Distribusi TKG Ikan Terbang Betina April


35%

30%

30%
25%
20%
13%

15%
9%

10%
4%

5%

4%

9%
4%

4%
4% 4%

4%

4%
4%

P II

MS

0%
D

DB

210-228

PI

229-247

248-266

267-285

286-304

PS
305-323

Gambar 13. Tingkat Kematangan Gonad Ikan Terbang Betina Bulan April

Keterangan:
D
= Dara
DB = Dara Berkembang
P I = Perkembangan I
P II = Perkembangan II
B
= Bunting
M = Mijah
MS = Mijah Salin
S
= Salin
PS = Pulih Salin

41

4.1.12 Hasil Pengamatan Indeks Kematangan Gonad Angkat


Hasil data distribusi indeks kematangan gonad berdasarkan interval TL ikan terbang
jantan disajikan pada bulan Maret sebagai berikut :

Tabel 17. Distribusi IKG Ikan Terbang Jantan Bulan Maret


Interval
bb
ba
Nt
190-217
0,26%
0,64%
0,45%
218-245
0,45%
1,56%
1,01%
246-273
0,14%
2,64%
1,39%
274-301
0,54%
9,08%
4,81%
302-329
0,59%
0,71%
0,65%
330-355
2,19%
1,10%
Hasil grafik distribusi indeks kematangan gonad berdasarkan interval TL ikan
terbang jantan disajikan pada bulan Maret sebagai berikut :

Distribusi IKG Ikan Terbang Jantan Bulan


Maret
6,00%
4,81%

5,00%
4,00%
3,00%
2,00%
1,01%
1,00%

1,39%

1,10%
0,65%

0,45%

0,00%
190-217

218-245

246-273

274-301

302-329

330-355

Gambar 14. Distribusi IKG Ikan Terbang Jantan Bulan Maret


Hasil data distribusi indeks kematangan gonad berdasarkan interval TL ikan terbang
jantan disajikan pada bulan April sebagai berikut :

Tabel 18. Distribusi IKG Ikan Terbang Jantan Bulan April


Interval
bb
ba
Nt
188-206 0,12%
0,06%
207-225 0,76%
0,38%
226-244 0,45% 2,18% 1,32%
245-263 0,37% 0,96% 0,67%
264-282 0,50% 2,39% 1,45%
283-301 0,46% 1,35% 0,91%
302-320 0,49%
0,25%

42

Hasil grafik distribusi indeks kematangan gonad berdasarkan interval TL ikan


terbang jantan disajikan pada bulan April sebagai berikut :

Distribusi IKG Ikan Terbang Jantan April


1,60%

1,45%
1,32%

1,40%
1,20%

0,91%

1,00%
0,80%

0,67%

0,60%

0,38%

0,40%
0,20%

0,25%
0,06%

0,00%
188-206

207-225

226-244

245-263

264-282

283-301

302-320

Gambar 15 . Distribusi IKG Ikan Terbang Jantan Bulan April


Hasil data distribusi indeks kematangan gonad berdasarkan interval TL ikan terbang
betina disajikan pada bulan Maret sebagai berikut :

Tabel.19 Distribusi IKG Ikan Terbang Betina Bulan Maret


Interval
bb
ba
Nt
199-225 11,09% 13,51%
12,30%
226-252 11,60%
5,80%
253-279 0,30%
0,15%
280-306 0,76%
18,13%
9,45%
Hasil grafik distribusi indeks kematangan gonad berdasarkan interval TL ikan
terbang jantan disajikan pada bulan maret sebagai berikut :

Distribusi IKG Ikan Terbang Betina Maret


14,00%

12,30%

12,00%
9,45%

10,00%
8,00%

5,80%

6,00%
4,00%
2,00%

0,15%

0,00%
199-225

226-252

253-279

280-306

Gambar 16. Distribusi IKG Ikan Terbang Betina Bulan Maret

43

Hasil data distribusi indeks kematangan gonad berdasarkan interval TL ikan terbang
betina disajikan pada bulan April sebagai berikut :

Tabel 20. Distribusi IKG Ikan Terbang Betina Bulan April


Interval
Persentase
210-228 0,92 21,3 11,11
11,11%
229-247 9,67
4,835
4,84%
248-266 2,72 37,6 20,16
20,16%
267-285 0,95 22,19 11,57
11,57%
286-304 4,13 13,76 8,945
8,95%
305-323 0,86 13,57 7,215
7,22%
Hasil grafik distribusi indeks kematangan gonad berdasarkan interval TL ikan
terbang jantan disajikan pada bulan April sebagai berikut :

DIstribusi IKG Ikan Terbang Betina


April
25,00%

20,16%

20,00%
15,00%

11,57%

11,11%

8,95%

10,00%

7,22%

4,84%

5,00%
0,00%
210-228

229-247

248-266

267-285

286-304

305-323

Gambar 17. Distribusi IKG Ikan Terbang Betina Bulan April


Hasil data hubungan panjang dengan fekunditas ikan terbang betina pada bulan
Maret sebagai berikut :

Tabel 21. Hubungan Panjang Fekunditas Ikan Terbang Betina Bulan Meret
Kel.
6A
7A
19A
1B
14B
22B
9C
10C
11C

TL
300
289
220
253
206
290
210
250
306

Fekunditas
4123
2816

966
13402
2492
10713

Hasil grafik data hubungan panjang dengan fekunditas ikan terbang betina pada
bulan Maret sebagai berikut :

44

Axis Title

Hubungan Panjang Fekunditas Bulan


Maret
y = 127,93e0,0134x
R = 0,3278

16000
14000
12000
10000
8000
6000
4000
2000
0

Fekunditas
Expon. (Fekunditas)

100

200

300

400

Axis Title

Gambar 18. Hubungan Panjang Fekunditas Ikan Terbang Betina Bulan Maret
Hasil data hubungan panjang dengan fekunditas ikan terbang betina pada bulan
April sebagai berikut :

Tabel 22. Hubungan Panjang Fekunditas Ikan Terbang Betina Bulan April
Kel.
4A
6A
9A
13A
17A
18A
22A
1B
9B
10B
11B
12B
15B
13B
16B
17B
18B
19B
20B
22B
1C
3C
5C

TL
290
300
210
320
285
275
225
268
247
285
280
280
293
271
300
260
275
275
275
290
265
310
285

Fekunditas
12208
3289
2487
21296
5229
9213
4300
11232
9872
14716
11274
19520
937
1522
5305
8564
5305
1253
3808
-

Hasil grafik data hubungan panjang dengan fekunditas ikan terbang betina pada
bulan April sebagai berikut :

45

Hubungan Panjang Fekunditas Bulan


April
25000

Axis Title

20000
15000
Series1

10000

Expon. (Series1)
5000
0
0

100

200

300

400

Axis Title

y = 709,79e0,0075x
R = 0,0384

Gambar 19. Hubungan Panjang Fekunditas Ikan Terbang Betina Bulan April

4.1.13 Hasil Pengamatan Rasio Kelamin Ikan Terbang Angkatan


Hasil pengamatan rasio kelamin ikan terbang yang didapatkan dari data
angkatan bulan April sebagai berikut:
Tabel 23. Rasio Kelamin Ikan Terbang Angkatan
Rasio Kelamin
Terbang Jantan Terbang Betina
Jumlah
37
23
Hasil diagram rasio jenis kelamin ikan terbang yang didapatkan dari data
angkatan bulan April sebagai berikut :

RASIO JENIS KELAMIN


IKAN TERBANG
BETINA
38%

JANTAN
62%

Gambar 20 . Diagram Rasio Jenis Kelamin Ikan Terbang Bulan April

Rasio jenis kelamin ikan terbang:


37
Jantan = 60 x 100 % = 62 %

46

23

Betina = 60 x 100 % = 38 %
Hasil pengamatan rasio kelamin ikan terbang yang didapatkan dari data
angkatan bulan Maret sebagai berikut:
Tabel 24 . Rasio Kelamin Ikan Terbang Angkatan
Rasio Kelamin
Terbang Jantan Terbang Betina
Jumlah
34
9
Hasil diagram rasio jenis kelamin ikan terbang yang didapatkan dari data
angkatan bulan Maret sebagai berikut :

Rasio Jenis Kelamin Ikan Terbang


21%
79%

Jantan

Betina

Gambar 21 . Diagram Rasio Jenis Kelamin Ikan Terbang Bulan Maret

4.1.14 Hasil Pengamatan Food Habits


Berikut ini merupakan grafik hasil pengamatan Food and Feeding Habits
Angkatan yang diproleh.
600
500

487
337

400
300
200
100

94
0

12

Gambar 22. Grafik Food and Habits Ikan Kapiat

47

Berikut ini adalah uraian data dari hasil perhitungan index of preponderan
ikan terbang dari berbagai kelompok dalam satu angkatan :
Tabel 25. Data Hasil Perhitungan Indeks of Preponderan Ikan Kapiat
Kelompok
Jumlah
IP
Keteranan
Fitoplankton
43.45
Pakan Utama
487
Bentos
0%
0
Bag. Hewan
94
8.4%
Pakan Pelengkap
Bag. Tumbuhan
12
1.07%
Pakan Tambahan
Detritus
0
0.0%
Ikan
8
0,85%
Pakan Tambahan
Zooplankton
337
30%
Pakan Utama
Keterangan :
IP > 25%
5% IP 25%
IP < 5%

= Kelompok pakan utama


= Kelompok pakan pelengkap
= Kelompok pakan tambahan

Berikut ini adalah grafik dari hasil perhitungan index of preponderan ikan
terbang dari berbagai kelompok dalam satu angkatan :
INDEKS OF PROPENDERAN IKAN TERBANG
60,00%

51,92%

50,00%
40,00%

35,93%

30,00%
20,00%
10,02%
10,00%
0,00%

1,28%

0,00%

0,00%

Gambar 23. Grafik Indeks Propenderan Ikan Terbang

0,85%

48

Berikut ini adalah uraian data dari hasil perhitungan tingkat trofik ikan
Terbang dari berbagai kelompok dalam satu angkata :
Tabel 26. Data Hasil Perhitungan Tingkat Trofik Ikan Terbang
Nama Spesies
Tingkat Tropik Ikan
Ikan Terbang
2.45
4.2

Pembahasan

4.2.1 Pertumbuhan
Pertumbuhan pada ikan dapat diketahui melalui pengukuran panjang dan
berat. Pengukuran panjang dilakukan dengan menggunakan mistar atau penggaris,
sedangkan pengukuran berat dilakukan dengan menggunakan timbangan analitik.
Pengukuran panjang yang dilakukan dalam praktikum ini ada tiga yaitu total length
(TL), forth length (FL) dan standard length (SL). Objek yang digunakan adalah ikan
terbang yang diperoleh dari perairan Samudra Hindia yaiu Ciauteureun,
Pamengpeuk Garut.
Ikan terbang yang diperoleh oleh kelompok 22 kelas a berjenis kelamin jantan
(bulan maret) dengan bobot ikan sebesar 108.38 gram serta ikan berjenis kelamin
betina (bulan april) dengan boot ikan sebesar 152.50 gram. Untuk ikan berjenis
kelamin jantan nilai TL yang didapatkan kelompok kami sebesar 245 mm yang
diukur dari bagian anterior mulut ikan terbang sampai ujung terakhir bagian
posterior sirip caudal ikan terbang, sedangkan nilai SL yang didapatkan oleh
kelompok kami sebesar 185 mm yang diukur dari bagian anterior mulur ikan
sampai ujung terakhir tulang ekor ikan terbang tersebut dan FL 200 mm dan untuk
ikan berjenis kelamin betina nilai TL yang didapatkan kelompok kami sebesar 255
mm yang diukur dari bagian anterior mulut ikan terbang sampai ujung terakhir
bagian posterior sirip caudal ikan terbang, sedangkan nilai SL yang didapatkan oleh
kelompok kami sebesar 195 mm yang diukur dari bagian anterior mulur ikan
sampai ujung terakhir tulang ekor ikan terbang tersebut dan FL 205 mm. Menurut
Dwiponggo (1982) kecepatan pertumbuhan juga dipengaruhi oleh ketersediaan
makanan di lingkungan hidup ikan, karena kecepatan pertumbuhan tersebut akan
berlainan pada tahun yang berlainan juga, terutama pada ikan yang terbang muda
ketika kecepatan tersebut relatif lebih cepat dibandingkan dengan ikan yang sudah

49

besar. Hal ini besar kemungkinan disebabkan keadaan lingkungan yang


berpengaruh terhadap pertumbuhan. Data angkatan ikan terbang jantan (bulan
maret) diperoleh panjang rata-rata berkisar antara 213-348 mm dan berat berkisar
antara 62,86-221 gram, ikan terbang betina (bulan april) diperoleh panjang rata-rata
berkisar antara 219-314 mm dan berat berkisar antara 113,64 280 gram.
Peningkatan nilai faktor kondisi dapat terjadi seiring dengan peningkatan
kematangan gonad dan akan mencapai puncaknya sebelum terjadi pemijahan
(Effendie 1997).
Faktor internal dan eksternal sangat berpengaruh pada panjang dan tubuh ikan
tersebut. Kondisi seringkali berbeda pada setiap tingkat pertumbuhan. Factor
internal dapat berupa sifat keturunan sex, sex, parasit, dan penyakit. Makanan
dengan kandungan nutrisi yang baik akan mendukung pertumbuhan dari ikan
tersebut, sedangkan suhu akan mempengaruhi proses kimiawi tubuh (Effendie
2002) Faktor-faktor kimia peairan dalam keadaan ekstrim mempunyai pengaruh
hebat dalam pertmbuhan diantaranya oksigen,karon dioksida, idrogen sulfida,
keasaman alkalinitas, dimana akan mempengarui terhadap makanan.Sifat
pertumbuhan dapat dibagi menjadi

dua yaitu isometric dimana pertumbuhan

panjang dan berat ikan seimbang dan alometrik dimana pertumbuhan panjang dan
berat ikan tidak seimbang (Effendie 2002). Hasil dari kohort ikan terbang bulan
maret yaitu dari 40 ekor ikan yang ada terdapat 32 ikan yang berasal dari satu kohort
yang sama dan memiliki panjang rata-rata 251.91 cm dan dari 3 ekor ikan yang
ada terdapat 3ekor merupakan ikan yang berasal dari satu kohort yang sama dan
memiliki panjang rata-rata 308 cm. Hasil kohort ikan terbang bulan april yaitu dari
43 ekor ikan yang ada merupakan ikan yang berasal dar isatu kohort yang sama dan
memiliki panjang rata-rata 255,10 cm dan Dari 17 ekorikan yang ada merupakan
ikan yang berasal dari satu kohort yang sama dan memiliki panjang rata-rata 280
cm.
Pertumbuhan alometrik ikan terbang jantan adalah negatif karena nilai dari b
nya sendiri adalah 2.2553 dan ini menandakan pertumbuhan panjang lebih cepat
dari pada bobot badan sedangkan untuk ikan terbang betina pertumbuhan alometrik
menunjukkan hasil negtif karena nilai b nya sendiri adalah 1.7164 dan ini

50

menandakan pertumbuhan panjang lebih cepat dari pada bobot badan, hasil
alometrik negative ini dikarenakan penyusutan bobot badan yang terjadi pada ikan.
Ikan betina lebih panjang karena ikan betina memerlukan energi yang banyak untuk
membentuk gonad.
4.2.2 Reproduksi
Untuk faktor faktor yang memperngaruhi reproduksi sampai matang gonad
seperti yang sudah diketahui adalah perbedaan spesies, umur dan ukuran serta sifatsifat fisiologi individu. Sedangkan faktor eksternal yang berpengaruh adalah suhu,
arus, adanya individu yang berbeda jenis kelamin dan tempat berpijah yang sesuai.
Dari rasio kelamin yang didapat dari data angkatan didapati perbandingan ratio
kelamin jantan dan betina yaitu 2:1, yang idealnya adalah 1:1. Dari perbedaan
perbandingan tersebut alasannya adalah karena keadaan tersebut untuk menjaga
populasi ikan tersebut.
Berdasarkan tabel diatas ikan yang kami amati dengan bobot tubuh 152,50
gram diketahui Tingkat Kematangan Gonad (TKG) nya dalam tahap Dara
Berkembang. Tahap tersebut bisa diamati melalui morfologi gonadnya. Menurut
Kesteven dalam (Effendi 1997), gonad tahap Dara Berkembang ditandai dengan
testes dan ovarium jernih, abu-abu merah. Panjangnya setengah atau lebih sedikit
dari panjang rongga bawah. Telur satu persatu dapat terlihat dengan kaca pembesar.
TKG juga dapat diketahui dari nilai-nilai yang dapat dihubungkan dengan tingkat
kematangan gonad yaitu Indeks Kematangan Gonad (IKG). Nilai IKG dari ikan
yang diamati sebesar 0,92% sesuai dengan tahap kematangan gonad yang diamati
secara morfologi. Dasar yang dipakai untuk menentukan tingkat kematangan gonad
dengan cara morfologi ialah bentuk, ukuran panjang dan berat gonad, warna dan
perkembangan isi gonad yang dapat dilihat.
IKG yang didapat termasuk sangat rendah karena TKG yang didapat juga
masih dalam tahap Dara Berkembang serta bobot ikan yang cukup kecil
dibandingkan ikan lain. Berat ringannya bobot ikan mempengaruhi bobot gonad
yang didapat. Menurut Effendie (2002) ikan yang mempunyai berat tubuh lebih

51

berat maka akan memiliki berat gonad yang jauh lebih berat. Umumnya pada ikan
betina nilai indeks IKG lebih besar dibandingkan ikan jantan.
Berdasarkan data angkatan, pengamatan reproduksi ikan terbang terdiri dari
penentuan TKG berdasarkan morfologi gonad, nilai IKG, nilai HSI, fekunditas,
diameter telur, hingga letak inti pada telur. Indikator tersebut digunakan untuk
membedakan jenis kelamin hingga untuk mengetahui musim mijah pada ikan.
Dan dari seluruh indikator dia atas, mereka mempunyai hubungan masing masing,
yaitu hubungan antara TKG dan letak inti telur yang semakin tinggi nilai TKGnya
maka inti telur makin melebur. Juga hubungan anatara diameter telur dan
fekunditas, makin tinggi fekunditas maka diameter telur semakin kecil begitu
sebaliknya.
Menurut grafik TKG ikan Terbang, gonad ikan Terbang jantan yang diamati
paling banyak diketahui dalam tahap Perkembangan II (TKG IV). Sedangkan pada
gonad ikan Terbang betina diketahui yang dalam tahap perkembangan I sama besar
dengan gonad ikan yang sedang dalam keadaan Bunting (TKG V). Perbedaan dari
TKG ini juga dipengaruhi oleh pertumbuhan ikan tersebut, karena ketika
pertumbuhan berhenti, maka TKGnya mulai berkembang. Selain dari pertumbuhan,
perbedaaan TKG juga dipengaruhi oleh musim dan cuaca, dimana puncak memijah
ikan Terbang adalah dari bulan September hingga Februari, namun karena adanya
perubuhaan iklim yang ekstrem, maka sampel ikan masih ada yang dalam fase
bunting atau mijah. Dan perbedaan lain dalam pengamatan ikan jantan dan betina
terletak pada penghitungan HSI (Hepatosomatik Indeks), diameter telur, dan
penentuan letak inti telur yang tidak dilakukan pada ikan jantan. Khusus untuk HSI
itu berhubungan dengan inti telur, karena ketika berat hatinya tinggi, maka bisa
disimpulkan bahwa ikan tersebut tengah isntesis fitelugenesis ( pembentukkan
kuning telur ) dan ketika HSI kecil maka ikan tersebut telah selesai memijah.
4.2.3 Food habits
Hal-hal yang tercangkup didalam kebiasaan makan adalah kualitas dan
kuantitas makanan yang diamakan ikan. Kebiasaan makan ikan secara alami
bergantung pada lingkungan tempat ikan hidup. Besarnya populasi ikan didalam

52

suatu perairan salah satunya ditentukan oleh makanan yang tersedia. Dari makanan
ada faktor yang berhubungan dengan populasi yaitu kuantitas dan kualitas makanan
yang tersedia, dan lamanya waktu yang digunakan oleh ikan dalam memanfaatkan
makanan. Makanan yang dimanfaatkan oleh ikan akan mempengaruhi sisa
persediaan makanan di perairan. Makana yang dimanfaatkan tersebut akan
mempengaruhi pertumbuhan, kematangan tiap individu ikan, serta keberhasilan
hidupnya (survival). Populasi, pertumbuhan, reproduksi, dinamikan populasi ikan
juga ditentukan oleh ketersediaan makanan ikan di suatu perairan (Effendie 1997).
Kebiasaan makan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain habitat
hidupnya, kesukaan terhadap jenis makanan tertentu, musim, ukuran dan umur ikan.
Struktur pencernaan yang berperan dalam adaptasi makanan adalah mulut, gigi,
tapis insang, lambung, dan usus (Large 1961). Mengenai cara makan pada ikan
sering kali dihubungkan dengan bentuk tubuh yang khusus dan fungsional
morfologi dan tenggorokannya, rahang dan pencernaan makananya. Jadi ikan
herbivor secara sederhana dapat dikatakan tidak mempunyai kemampuan untuk
mencerna material selain tumbuhan, oleh karena itu ikan herbivor memiliki usus
yang lebih panjang karena material tumbuhan memerlukan waktu yang lama untuk
dicerna. Lain halnya dengan ikan karnivor yang memiliki usus yang lebih pendek
dan khusus. Hal ini menjelaskan perbandingan panjang usus dengan perbedaan cara
makan, sehingga dapat disimpulkan bahwa panjang usus sebagai gambaran dari
spesialisai penyesuaian di dalam ekologi kebiasaan makan (Effendie 1997).
Dari grafik dan diagram batang menunjukan bahwa ikan terbang termasuk
dalam kategori ikan herbivora karena ikan ini memakan fitoplankton. Berdasarkan
hasil perhitungan tingkat trofik ikan terbang didapatkan nilai TP 2.451, serta ikan
pengamatan kelompok kami mempunyai panjang usus 13 cm (panjang) ini berarti
ikan terbang termasuk kedalam kelompok ikan omnivor. Cenderung omnivora
dapat disebabkan kerana ikan terbang memanfaatkan pakan yang berlimpah ada
disekitarnya yang nilainya itu mendekati nilai trofik 2.5 Berdasarkan kriteria tingkat
trofik berikut :
a)
b)
c)

Tingkat Trofik 1
Tingkat Trofik 2.5
Tingkat Trofik > 3

: Ikan Herbivora
: Ikan Omnivora
: Ikan Karnivora

53

Dari hasil data pengamatan angkatan, ikan terbang banyak makan


fitoplankton dibandingkan pakan lainnya. Ini terlihat pada grafik dan diagram
presentase food habit ikan terbang dalam suatu perairan. Maka dapat dianalisis
bahwa ikan terbang ini termasuk ikan herbivora. Hal tersebut dapat disebabkan
karena ikan yang sudah terbiasa memanfaatkan ketersediaan pakan yang ada di
perarian dan

berdasarkan data perairan yang diamati, plankton merupakan

sumberdaya pakan yang cukup melimpah di perairan, sehingga ikan juga


memanfaatkan ketersediaan pakan yang ada dan menjadi terbiasa menggunakan
plankton sebagai pakan utama.
Ikan terbang memiliki nilai indeks preponderan dengan jumlah terbesar yaitu
memakan plankton jenis fitoplankton, zooplankton. Untuk nilai dari indeks
preponderan fitoplankton 51.92 %, zooplankton 35.93 %, bagian hewan 8.4 %,
bagian tumbuhan 1.07 %, benthos 0 %, detritus 0 % dan ikan 0,85 %. Jika seekor
ikan memiliki indeks preponderan fitoplankton lebih dari 25% maka fitoplankton
tersebut dijadikan pakan utama, untuk 5%-25% dijadikan pakan pelengkap dan
untuk kurang dari 5% dijadikan pakan tambahan. Fitoplaknton dan zooplankton
merupakan pakan utama ikan terbang. Benthos, tumbuhan, detritus, bagian
tumbuhan merupkan pakan tambahan ikan terbang.
Berdasarkan literatur ikan terbang di laut Flores tediri dari copepoda sebagai
makanan utama, alga sebagai makanan pelengkap, beberapa spesies Chaetognatha
dan Malacostraca sebagai makanan tambahan. Ali (1981) mengatalan bahwa ikan
terbang dari speies Hirundichthys oxycephalus di laut Flores memakan plankton
tiga kelompok, yaitu algae, Crustaceda dan Chaetognatha. Kelompok makanan
yang mempunyai nilai indeks bagian terbesar (index propenderance) adalah
crustacea (70.93 %) yang terdiri dari Copepoda, Cladocera, Decapoda, Mysidacea
dan Amphipoda yang merupakan makanan utam, kemudian kelompok mkan algae
(20.69 %) yang terdiri dari Coscinodixcus, Chaetoceros, Rhizosolenia,
Thalassiosira, dan Planktoniella, serta kelompok Chatognatha (8.89%) terdiri dari
Saggita ( Ali 1981). Perdator yang banyak memangsa ikan terbang antara lain
lumba-lumba, ikan tuna, ikan cakalang, dan ikan layaran (Moyle dan Cech 1982).

54

4.2.4 Otolith
Pada otolith atau penentuan umur ikan terbang pada kelompok 22A diketahui
lekukan sebanyak 570 dengan panjang otolith 0,10 cm dan berat otolith 0,08 gram,
usia ikan kelompok kami adalah 1 tahun 7 bulan bila dihitung berdasarkan
banyaknya garis pada otolith. Secara visual otolit pada ikan terbang berwarna putih,
bagian tepi berlekuk dan berbentuk oval. Pada sisi lateral bagian dalam terdapat
semacam saluran yang pendek-pendek dari tengah ke tepi otolit yang menurut
Pannella (1980) disebut slrie. Pada bagian tengah otolit terdapat garis gelap dan
garis terang yang oleh Pannella (1971) disebut sebagai awal perkembangan dari
ikan. Garis terang merupakan penampilan pertumbuhan yang normal, sedangkan
garis gelap adalah kondisibiologis yang dialami ikan seperti faktor lingkungan,
penyakit, reproduksi dan migrasi (Simkiss 1974).

BAB V
PENUTUP
5.1

Kesimpulan

1)

Ikan terbang yang diperoleh oleh kelompok 22 kelas a berjenis kelamin jantan
(bulan maret) dengan bobot ikan sebesar 108.38 gram serta ikan berjenis
kelamin betina (bulan april) dengan boot ikan sebesar 152.50 gram.

2)

Untuk ikan berjenis kelamin jantan nilai TL yang didapatkan kelompok


sebesar 245 mm yang diukur dari bagian anterior mulut ikan terbang sampai
ujung terakhir bagian posterior sirip caudal ikan terbang, sedangkan nilai SL
yang didapatkan oleh kelompok kami sebesar 185 mm yang diukur dari
bagian anterior mulur ikan sampai ujung terakhir tulang ekor ikan terbang
tersebut dan FL 200 mm dan untuk ikan berjenis kelamin betina nilai TL yang
didapatkan kelompok kami sebesar 255 mm yang diukur dari bagian anterior
mulut ikan terbang sampai ujung terakhir bagian posterior sirip caudal ikan
terbang, sedangkan nilai SL yang didapatkan oleh kelompok kami sebesar
195 mm yang diukur dari bagian anterior mulur ikan sampai ujung terakhir
tulang ekor ikan terbang tersebut dan FL 205 mm

3)

Data angkatan ikan terbang jantan (bulan maret) diperoleh panjang rata-rata
berkisar antara 213-348 mm dan berat berkisar antara 62,86-221 gram, ikan
terbang betina (bulan april) diperoleh panjang rata-rata berkisar antara 219314 mm dan berat berkisar antara 113,64 280 gram. Peningkatan nilai faktor
kondisi dapat terjadi seiring dengan peningkatan kematangan gonad dan akan
mencapai puncaknya sebelum terjadi pemijahan.

4)

Hasil dari kohort ikan terbang bulan maret yaitu dari 40 ekor ikan yang ada
terdapat 32 ikan yang berasal dari satu kohort yang sama dan memiliki
panjang rata-rata 251.91 cm dan dari 3 ekor ikan yang ada terdapat 3ekor
merupakan ikan yang berasal dari satu kohort yang sama dan memiliki
panjang rata-rata 308 cm. Hasil kohort ikan terbang bulan april yaitu dari 43
ekor ikan yang ada merupakan ikan yang berasal dar isatu kohort yang sama
dan memiliki panjang rata-rata 255,10 cm dan Dari 17 ekorikan yang ada

55

56

merupakan ikan yang berasal dari satu kohort yang sama dan memiliki
panjang rata-rata 280 cm.
5)

Pertumbuhan alometrik ikan terbang jantan adalah negatif karena nilai dari b
nya sendiri adalah 2.2553 dan ini menandakan pertumbuhan panjang lebih
cepat dari pada bobot badan sedangkan untuk ikan terbang betina
pertumbuhan alometrik menunjukkan hasil negtif karena nilai b nya sendiri
adalah 1.7164 dan ini menandakan pertumbuhan panjang lebih cepat dari
pada bobot badan, hasil alometrik negative.

6)

Dari rasio kelamin yang didapat dari data angkatan didapati perbandingan
ratio kelamin jantan dan betina yaitu 2:1, yang idealnya adalah 1:1. Dari
perbedaan perbandingan tersebut alasannya adalah karena keadaan tersebut
untuk menjaga populasi ikan tersebut. Berdasarkan tabel diatas ikan yang
kami amati dengan bobot tubuh 152,50 gram diketahui Tingkat Kematangan
Gonad (TKG) nya dalam tahap Dara Berkembang.

7)

Berdasarkan hasil perhitungan tingkat trofik ikan terbang didapatkan nilai TP


2.451, serta ikan pengamatan kelompok kami mempunyai panjang usus 13
cm (panjang) ini berarti ikan terbang termasuk kedalam kelompok ikan
omnivor. Cenderung omnivora dapat disebabkan kerana ikan terbang
memanfaatkan pakan yang berlimpah ada disekitarnya yang nilainya itu
mendekati nilai trofik 2.5 .

8)

Ikan terbang memiliki nilai indeks preponderan dengan jumlah terbesar yaitu
memakan plankton jenis fitoplankton, zooplankton. Untuk nilai dari indeks
preponderan fitoplankton 51.92 %, zooplankton 35.93 %, bagian hewan 8.4
%, bagian tumbuhan 1.07 %, benthos 0 %, detritus 0 % dan ikan 1 %. Jika
seekor ikan memiliki indeks preponderan fitoplankton lebih dari 25% maka
fitoplankton tersebut dijadikan pakan utama, untuk 5%-25% dijadikan pakan
pelengkap dan untuk kurang dari 5% dijadikan pakan tambahan. Fitoplaknton
dan zooplankton merupakan pakan utama ikan terbang. Benthos, tumbuhan,
detritus, bagian tumbuhan merupkan pakan tambahan ikan terbang. Ikan
terbang memiliki nilai indeks preponderan dengan jumlah terbesar yaitu
memakan plankton jenis fitoplankton, zooplankton. Untuk nilai dari indeks

57

preponderan fitoplankton 51.92 %, zooplankton 35.93 %, bagian hewan 8.4


%, bagian tumbuhan 1.07 %, benthos 0 %, detritus 0 % dan ikan 0,85 %. Jika
seekor ikan memiliki indeks preponderan fitoplankton lebih dari 25% maka
fitoplankton tersebut dijadikan pakan utama, untuk 5%-25% dijadikan pakan
pelengkap dan untuk kurang dari 5% dijadikan pakan tambahan. Fitoplaknton
dan zooplankton merupakan pakan utama ikan terbang. Benthos, tumbuhan,
detritus, bagian tumbuhan merupkan pakan tambahan ikan terbang.
5.2

Saran
Saat praktikum dilaksanakan diharapkan agar alat dan bahan disiapkan

dengan baik agar bisa dipakai dengan baik dan tidak ada waktu yang terbuang dan
menggunakan sampel ikan yang masih hidup supaya mendapatkan hasil peneltian
sesuai dengan literature.

DAFTAR PUSTAKA
Ali, S. A., M. N. Nessa, M. I. Djawad, dan S. B. A. Omar, 2004. Musim dan
Kelimpahan Ikan Terbang (Exocoetidae) di Sekitar Kabupaten Takalar (Laut
Flores) Sulawesi Selatan. Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan, 3 (14):165172. Torani
Ali, S. A. 1981. Kebiasaan Makanan, Pemijahan, Hubungan Berat Panjang
dan Faktor Kondisi Ikan Terbang Cypselurus oxycephalus (Bleeker) di
Laut Flores Sulawesi Selatan. Tesis Sarjana Perikanan. Fakultas Ilmuilmu Pertanian Unhas.Ujung Pandang.p.45.
Ali, S. A.2005. Kondisi Sediaan dan Keragaman Populasi Ikan Terbang (H.
oxycephalus) di Laut Flores dan Selat Makassar. Disertasi. Program Pasca
Sarjana. Universitas Hasanuddin. Makassar
Andriani. E. 2007. Produksi, CPUEdan Musim Rajungan (Portunnus Pelagicus) di
pulau salemo.Skripsi jurusan Perikanan Fakultas Ilmu Kelautan dan
Perikanan Universitas Hasanuddin, Makassar.
Campana, S.E., H.A. Oxenford, and J.N. Smith. 1993. Radiochemical
determination of longevity in flying fish Hirundichthys affinis using Th228/Ra-228. Mar.Ecol.Prog. Ser. 100: 211-219.
Campana, S.E., J.A. Gagne and J. Mondro. 1978. Otolith microstructure of larv
herring (Clupea harengus). Can. Fish Aquat. Sci. 44:ll-13
Devenpor, J.1994. How and Why Flying Fish Fly (Review). Journal Fish
Biologyand Fisheries. 4: 184-214
Effendie, M. I.1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama. Yogyakarta.
Effendie,M. I.2002. Biologi Perikanan. Cetakan Kedua/Edisi Revisi. Yayasan
Pustaka Nusantara. Yogyakarta. P.163.
Hunte, W; H. A. Oxenford dan R. Mahon. 1995. Distribution and Relative
abudance of flying fish (exocoetidae), in the eastern Caribbean (spawning
substrat, eggs, and larvae). Mar. Ecol. Prog. Ser. 117:25-37.
Hunter,J. R.1981. Feeding Ecology and Predation of Marine Fish larvae. P33-77
in R. Lasker (Ed). Marine Fish Larvae: Morphology, Ecology, and
Relation to Fisheries. Washington Sea Grant, Seattle.
Hutomo, dkk. 1985. Sumberdaya Ikan Terbang. Lembaga Oseanografi
Nasional LIPI. Jakarta.

58

59

Mamangkey, J.J. 2002. Hubungan Perkembangan Otolit Dengan Pertumbuhan


Ikan Terbang (Cypselurus Poeciloptefns) Di Perairan Teluk Manado
[Relationship Between Otholith And Growth Of Flyingfish, Cypselurus
Poecilopterus In Manado Bay]. Jurndl lktiologi lndonesia Universitas Negeri
Manado Kampus UNIMA. Tondano
Jones, C.M. 1992. Development and application of the otolith increment technique
in otolit microstructur ex. and analysis. 1n Stevenson dan Campana. Dept. of
Fish and Oceans Sci. I17. Ottawa.
Nelson, J. S. 1994. The fishes of the world. John wiley and Sons. New York
Nessa, M. N., H. Sugondo, I. Andarias, dan A. Rantetondok . 1977.
Studi Pendahuluan terhadap perikanan ikan terbang di Selat
Makassar. Lontara. 13:643-669
Pannella, G. 1971. Fish Otolith : Daily growth layer and periodical patterns,
Science ll73 : ll24 -1127.

LAMPIRAN

60

Lampiran 1. Alat dan Bahan

Jarum pentul sebagai alat bantu


pengukuran

Stryrofoam sebagai tatakan pengukuran ikan

Gunting untuk membedah ikan

Penjepit sebagai alat bantu bedah ikan

Penggaris untuk mengukur panjang


tubuh ikan

Milimeterblok untuk mengukur panjang


tubuh ikan

Ose untuk membantu melihat organ


Dalam ikan lalawak

Cawan petri sebagai wadah


menempatkan ikan

61

62

Objek glass

Pisau sebagai alat pembedah ikan

Mikroskop untuk mengamati isi usus

Ikan Terbang sebagai objek pengamatan

Gelas ukur untuk mengukur


volume air

Amplas untuk mengamplas otolit

Lampiran 2. Prosedur Kerja


1)
Pertumbuhan
Disiapkan alat, bahan, dan ikan terbang sebagai objek pengamatan

Diukur panjang ikan, baik HL, TL, SL dengan menggunakan penggaris.

Diukur bobot ikan dengan menggunakan timbangan.

Dicatat hasil pengamatan


2)

Rasio Kelamin
Disiapkan alat, bahan, dan ikan terbang sebagai objek pengamatan

Dimatikan ikan terbang dengan menggunakan sonde

Dibedah ikan terbang dengan menggunakan pisau dan gunting bedah dimulai dari
bagian urogenital

Dilakukan pengamatan jenis kelamin pada ikan terbang

Dicatat hasil pengamatan

63

3)

Tingkat Kematangan Gonad


Disiapkan alat, bahan, dan ikan terbang sebagai objek pengamatan

Dimatikan ikan terbang dengan menggunakan sonde

Dibedah ikan terbang dengan menggunakan pisau dan gunting bedah dimulai dari
bagian urogenital

Diambil dan letakkan gonad ikan terbang di atas cawan petri

Dilakukan pengamatan pada gonad ikan terbang

Ditentukan nilai TKG ikan terbang

Dicatat hasil pengamatan


4)

Indeks Kematangan Gonad


Disiapkan alat, bahan, dan ikan terbang sebagai objek pengamatan

Dimatikan ikan terbang dengan menggunakan sonde

Dibedah ikan terbang dengan menggunakan pisau dan gunting bedah dimulai dari
bagian urogenital

64

5)

Tingkat Kematangan Gonad


Disiapkan alat, bahan, dan ikan terbang sebagai objek pengamatan

Dimatikan ikan terbang dengan menggunakan sonde

Dibedah ikan terbang dengan menggunakan pisau dan gunting bedah dimulai dari
bagian urogenital

Diambil dan letakkan gonad ikan terbang di atas cawan petri

Dilakukan pengamatan pada gonad ikan terbang

Ditentukan nilai TKG ikan terbang

Dicatat hasil pengamatan


6)

Indeks Kematangan Gonad


Disiapkan alat, bahan, dan ikan terbang sebagai objek pengamatan

Dimatikan ikan terbang dengan menggunakan sonde

Dibedah ikan terbang dengan menggunakan pisau dan gunting bedah dimulai dari
bagian urogenital

65

Diambil gonad yang ada didalam perut, hingga terpisah dari organ lain.

Ditimbang bobot gonad ikan terbang dengan menggunakan timbangan

Ditentukan nilai TKG ikan terbang

Dihitung nilai IKG ikan terbang dan dicatat hasil pengamatan


7)

Food Habits
Disiapkan alat, bahan, dan ikan terbang sebagai objek pengamatan

Dimatikan ikan terbang dengan menggunakan sonde

Dibedah ikan terbang dengan menggunakan pisau dan gunting bedah dimulai dari
bagian urogenital

Diambil usus, bentangkan atau panjangkan usus.

Diurut usus hingga keluar isi dari usus.

Diamati isi usus dengan menggunakan mikroskop dan dicatat hasil pengamatan.

66

8)

Otolith
Disiapkan alat, bahan, dan ikan terbang sebagai objek pengamatan

Dimatikan ikan terbang dengan menggunakan sonde

Dilakukan pembedahaan dibagian kepala ikan.

Dikeluarkan otolith ikan menggunakan pinset

Ditimbang otolith ikan dan diberikan kristal

Diamplas ukuran yang paling halus

Diamati dibawah mikroskop untuk melihat lingkaran pertumbuhan.

67

Lampiran 3. Data Angkatan Hasil Pengamatan Pertumbuhan


1)

Pertumbuhan Ikan Terbang Jantan Bulan April


Berikut ini merupakan tabel hasil pengamatan pertumbuhan ikan terbang

jantan bulan april angkatan yang diproleh.


Tabel 27. Data Hasil pertumbuhan ikan terbang jantan bulan april angakatan
Pertumbuhan
Kel-

Nama Praktikan

Panjang (mm)

Berat

SL

FL

TL

1A

Melinda Fauziah
M. Syarif
Maulana
Ahmad Resman

180

200

250

126,54

2A

Delia Iga Utari


Cindy Senjaya
MS
Satryo Bayuaji

190

215

235

136,82

210

220

275

144,6

235

254

292

207,78

210

216

260

160

190

200

245

116

180

190

235

86,36

185

190

241

104,34

245

260

300

219,71

Hilya

3A

5A

7A

Freddy
Julian
M. Fauzan Al
Mubarok
Iis Risnawati
Bagas Jodi
Santoso
Fadilah Amelia
Despriyanto
Supriadi
Deanta Faiz
Gitri Maudy

8A

10A

11A

12A

Prasetya Adhi
Agid Faishal
Vidya
Yustindriarini
Rizky
Adikusuma
Tanti Yunita
Maryam
Nurlatifah
Ahmad Fadhillah
Dita Azzohrah
Virida Martugi
H.
Haniyah
Khoiriyah
Zeind Ramadhan

68

69

Pertumbuhan
Kel-

Nama Praktikan

Panjang (mm)

Berat

SL

FL

TL

200

210

270

147,48

190

220

260

130,96

186

204

236

121,37

195

208

211

111,99

190

210

240

129,48

195

200

240

105,65

193

205

237

115,92

210

217

265

128

210

217

265

128

200

210

250

129

185

200

250

137,23

205

220

270

177,96

Rihat
14A

Tirani
Alif
Tri Nurhadi

15A

16A

Hapsari
M. Rohimda
Alya Mirza
Artiana
Arief
Hidayatullah
Helena Asut
Rofiah

19A

Bagas
Ahmad Reynaldi
Nur Anisa Diva

20A

M. Triandi
M. Arief S.
Wulan S

21A

Septy A
M Agung MN
Sunendi

2B

Usi Supinar
Isma Yuniar
Firdaus

3B

4B

5B

6B

7B

Shinta Siti F
Imas Siti Zaenab
Siti Laila
Rufaidah
Ade Khoerul
Umam
Ulfah M
Pipit Widia
Ningsih
Ilvan Aji P
Lena Lutfina
Imas Siti
Nurhalimah
Egi Sahril
Yunia Qonitatin
AM
Disa Nirmala

70

Pertumbuhan
Kel-

Nama Praktikan

Panjang (mm)

Berat

SL

FL

TL

195

215

264

132

188

216

265

148,36

243

267

319

242,01

195

205

245

124

195

210

250

157

180

205

240

113

Hardiono
Tondang
Zukhrufa Dewi
Gilang Fajar
8B

Jian Setiawan
Asri Astuti
Neng Rima N

14B

Achmad Raffi U
Indra Adiwiguna
Ristiana Dewi

21B

Rizki Ayu R
Ivan Maulana P
Gilang Ramadan

2C

Astri Dinnaryanti
Dyara
Ridwantara
Helinda Utami
Ricky Rahmat

4C

Salma Azka
Nita Ulfah
Ghifar Hakim

6C

Shelvy Vestadia
Ranti Rahmadina
Indra Nata

7C

Alyanisa A

220

205

250

131

8C

Esha Resti
Andreas
Sugiharta
Yosua Edward
Annisa
Nurjannah
Fakhrizal Dwi R

236

257

290

218

9C

Yulita

163

165

188

67

190

212

250

114

185

230

195

108

Rangga Maulana
Naufal Trofis
10C

11C

Gerry Yoshua
Citra Melinda
Tiara Ghaisany
M Fauzan
Azhima
Arita

71

Pertumbuhan
Kel-

12C

Nama Praktikan
Bhayu
Dwi
Oktarahdiana
Anisa Irawati

Panjang (mm)

Berat

SL

FL

TL

185

205

250

112

Dwi Ari
Dedeh Priyatna
13C

Galang P Wijaya

186

205

235

117

14C

Arif Rochman
Mauren
Widiandoni
Viga Ananda

195

210

245

119

185

205

240

112

235

250

280

176

M Ikhsan CU
Luthfi Rahman
15C

Arsa Dipanoto
Try Setiani
Anggi R

16c

2)

Agung Prabowo
Rahmi
Rahmawati
Salma K

Pertumbuhan Ikan Terbang Betin Bulan April


Berikut ini merupakan tabel hasil pengamatan pertumbuhan ikan terbang

betina bulan april angkatan yang diproleh.


Tabel 28. Data Hasil pertumbuhan ikan terbang betia bulan april angakatan
Kel-

Nama Praktikan
SL

4A

6A

9A

Isnaeni Faizah
Rahayu Ardinur
Iffa
Nendra Suhendra
Fadhilah Rayafi
Mahesa Giyats
Reifolnanda
Fitri Rizki
Febrianty
Farras Ghaly
Mukhamad Rifqi
A.

Pertumbuhan
Panjang (mm)
FL
TL

Berat

245

250

290

247,48

240

260

300

227,6

170

185

210

113,64

72

Kel-

Nama Praktikan
SL

13A

17A

18A

22A

1B

9B

10B

11B

12B

13B

15B

16B

17B

Syifa Hanifah
M. Faisal A.
Anwar M. S.
Fikri Khairi
Breagitta
Meiti Anita
Nadia Maudina
Andres Erik
Gilang Yandika
Teguh Firmansyah
Nadimas
Sukma Widyawati
Idzhar Syifana R
Agiandanu
Lina Aprilia
Christ Permana
Syifa Mauladani
Darajat Prasetya
W
Didi Arpindi
Novi Puspitawati
Rizki Nugraha S
Mandala E
Ayunani A
Indriani O A
Rifqi A
Ruli Aisyah
Adi Prasetyo
Eka Agustina
Ridwan Ariyo
Anandita R
Dewanto B
Felisha Gitalasa
Januar Awalin H
Gusman Maulana
Adinda Kinasih J
Deliani D Freskya
Rezky Hartanto
Melinda Iriani
Arnesih

Pertumbuhan
Panjang (mm)
FL
TL

Berat

255

275

320

238,82

215

235

285

199,87

215

235

275

178,92

195

205

225

152,5

222

227

268

188

205

214

247

154

215

240

285

215,3

210

230

280

191,7

220

241

280

192,97

216

237

271

214,93

237

247

293

199,89

230

245

300

175

220

235

260

164,24

73

Kel-

Pertumbuhan
Panjang (mm)
FL
TL

Nama Praktikan
SL
Mochmmad Elang
Tuhpatur Rohmah
Amalia Fajri R
Ahmad Abdul G
Nurhalimah
Egi Rhamadan
Agung Setiawan
Hyunananda
Wahyu Setiawan
Intan Nadifah
Ayang Denika
Agnesia Amalia S
Annisa Putri S
Hazimah Fikriyah
Sadra Muhammad
Laily Latifah
Muhammad Fitri
Rizky
Sulastin Akhodiah

18B

19B

20B

22B

1C

3C

Miko Kun Mliki


M Ihsan Fadylah
Nurul Hidayati

5C

3)

Berat

235

260

275

182,5

205

225

275

166,41

235

260

275

182,5

240

258

290

200,62

225

205

265

147

255

275

310

280

220

240

285

183

Pertumbuhan Ikan Terbang Jantan Bulan Maret


Berikut ini merupakan tabel hasil pengamatan pertumbuhan ikan terbang

jantan bulan maret angkatan yang diproleh.


Tabel 29. Data Hasil pertumbuhan ikan jantan bulan maret angakatan
Pertumbuhan
Kel-

Nama Praktikan

Panjang (mm)

Berat

SL

FL

TL

230

240

270

137,88

189

213

255

114,89

195

210

250

117,38

Hilya Andiani
3A

Freddy Aditya
Julian Alfath
Gitri Maudy

8A

Prasetya Adhi
Agid Faishal

9A

Fitri Rizki Febrianty


Farras Ghaly

74

Pertumbuhan
Kel-

Nama Praktikan

Panjang (mm)

Berat

SL

FL

TL

190

210

250

128

215

221

267

147,28

160

165

200

62,86

185

205

245

116,59

158

170

202

72,12

185

201

240

118,97

220

235

275

163,17

235

248

312

191,12

185

200

245

108,38

205

215

260

126

190

208

247

113

230

250

280

197

210

223

270

136

Mukhamad Rifqi A.
Vidya Yustindriarini
10A

Rizky Adikusuma
Tanti Yunita
Maryam Nurlatifah

11A

Ahmad Fadhillah
Dita Azzohrah
Syifa Hanifah

13A

M. Faisal A.
Anwar M. S.
Tri Nurhadi

15A

Hapsari
M. Rohimda
Alya Mirza Artiana

16A

Arief Hidayatullah
Helena Asut
Fikri Khairi

17A

Breagitta
Meiti Anita
Nadia Maudina

18A

Andres Erik
Gilang Yandika
Wulan Sutiandri

21A

Septy Audiyanti
M. Agung Meidito
Teguh Firmansyah

22A

Nadimas
Sukma Widyawati
Firdaus

3B

Shinta Siti F
Imas Siti Zaenab
Siti Laila Rufaidah

4B

Ade Khoerul Umam


Ulfah M
Pipit Widia Ningsih

5B

Ilvan Aji P
Lena Lutfina

6B

Imas Siti Nurhalimah

75

Pertumbuhan
Kel-

Nama Praktikan

Panjang (mm)

Berat

SL

FL

TL

210

225

260

128

250

257

308

204

177

198

237

100,18

249

238

289

189,77

195

210

255

132,01

195

210

240

125,93

220

245

300

185,45

240

250

300

167,62

184

203

249

115,24

220

239

289

192,05

220

235

275

153,82

195

205

250

118

Egi Sahril
Yunia Qonitatin AM
Disa Nirmala
7B

Hardiono Tondang
Zukhrufa Dewi
Christ Permana

9B

Syifa Mauladani
Darajat Prasetya W
Didi Arpindi
Ruli Aisyah

12B

Adi Prasetyo
Eka Agustina
Felisha Gitalasa

15B

Januar Awalin H
Gusman Maulana
Adinda Kinasih J

16B

Deliani D Freskya
Rezky Hartanto
Melinda Iriani

17B

Arnesih
Mochmmad Elang
Tuhpatur Rohmah

18B

Amalia Fajri R
Ahmad Abdul G
Nurhalimah

19B

Egi Rhamadan
Agung Setiawan
Hyunananda

20B

Wahyu Setiawan
Intan Nadifah
Ristiana Dewi

21B

Rizki Ayu R
Ivan Maulana P
Gilang Ramadan
Sadra Muhammad

1C

Laily Latifah
Hazimah Fikriyah

2C

Astri D.

76

Pertumbuhan
Kel-

Nama Praktikan

Panjang (mm)

Berat

SL

FL

TL

260

270

355

221

190

210

260

125

235

240

300

184

190

205

250

102,21

195

214

271

117,06

220

235

285

151,94

Dyara Ridwantara
Helinda Utami
Nita Ulfah
4C

Ricky Rahmat M
Salma Azka
Ghifar Hakim

6C

Shelvy Vestadia
Ranti Rahmadina
Alyannisa Ayu

7C

M.Indra Nata
Esha Resti
Dwi Ari

12C

Anissa Irawati
Dwi Oktarahdiana
Mauren Widiandoni

14C

M Ikhsan C U
Viga Ananda W
Lutfi Rahman

15C

Arsa Dipanoto
Try Setiani

4)

Pertumbuhan Ikan Terbang Betina Bulan Maret


Berikut ini merupakan tabel hasil pengamatan pertumbuhan ikan terbang

betina bulan maret angkatan yang diproleh.


Tabel 30. Data Hasil pertumbuhan ikan terbang betina bulan maret angakatan
Pertumbuhan
Kel-

Nama Praktikan

Panjang (mm)

Berat

SL

FL

TL

230

240

300

193,36

235

240

289

216,6

164

183

220

102,6

Fadhilah Rayafi
6A

Mahesa Giyats
Reifolnanda
Fadilah Amelia

7A

Despriyanto Supriadi
Deanta Faiz
Rofiah Khairunisa

19A

Ahmad Reynaldi
Yohanes Bagas P.

77

Pertumbuhan
Kel-

Nama Praktikan

Panjang (mm)

Berat

SL

FL

TL

185

200

253

115

152

176

206

68,61

220

245

290

209,38

175

180

210

78,13

250

260

250

213,96

255

260

306

220,92

Idzhar Syifana R
1B

Agiandanu
Lina Aprilia
Neng Rima N

14B

Achmad Raffi U
Indra Adiwiguna
Ayang Denika

22B

Agnesia Amalia S
Annisa Putri S
Fakhrizal Dwi R

9C

Yulita
Rabgga Maulana
Naufal Trofis

10C

Tiara Ghasisany
Citra Melinda
Gerry Yosua
Arita

11C

Bhayu Prasetya
M Fauzan Azhima

Lampiran 4. Data Angkatan Hasil Reproduksi Angkatan


1)

Data Reproduksi Ikan Terbang Jantan April


Berikut ini merupakan tabel hasil pengamatan reproduksi ikan terbang jantan

bulan april angkatan yang diproleh.


Tabel 31. Data hasil reproduksi ikan terbang jantan bulan april angakatan
KeA4:G32
1A
2A
3A
5A
7A
8A
10A
11A
12A

TKG
Pekrembangan I
Perkembangan I
Perkembangan II
Perkembangan II
Perkembangan II
Dara Berkembang
Perkembangan II
Perkembangan II
Dara Berkembang

Bw

BGd

PGd

IKG

126,54
136,82
144,6
207,78
160
116
86,36
104,34
219,71

0,99
1,22
2,29
2,8
1,53
0,43
1,88
0,51
2,11

9
6,5
11
11
17,5
13,8
12
8,5
2

0,78%
0,89%
1,58%
1,35%
0,96%
0,37%
2,18%
0,49%
0,96%

78

KeA4:G32

Bw

BGd

PGd

IKG

147,48
130,96

19A
20A
21A
2B
3B
4B

Dara
Perkembangan II
Dara Berkembang
Dara berkembang
Dara
Perkembangan II
Perkembangan I
Perkembangan I
Perkembangan II

121,37
111,99
129,48
105,65
115,92
128,00
128,00

3,52
0,9
0,63
0,85
1,08
0,31
1,07
1,27
0,64

15
10,5
10,5
10,71
18
12,4
9,4
9,4
10

2,39%
0,69%
0,52%
0,76%
0,83%
0,29%
0,92%
0,99%

5B
6B
7B
8B
14B
21B

Perkembangan II
Perkembangan I
Perkembangan I
Perkembangan I
Perkembangan I
Dara

129
137,23
177,96
132
148,36
242,01

0,76
0,81
1,74
1,21
0,96
1,19

7,5
7,5
8
8
15
9,8

2C
4C
6C
7C
8C
9C
10C
11C
12C
13C
14C
15C

Dara Berkembang
Dara Berkembang
Perkembangan II
Perkembangan II
Perkembangan II
Dara
Dara Berkembang
Dara Berkembang
Perkembangan II
Dara Berkembang
Perkembangan I
Perkembangan I
Perkembangan II

124
157
113
131,00
218,00

0,46
1
0,51
1
1

67,89
114,96
109,65
112,24
117,95
119,13
112,84
176,07

0,08
1,07
0,51
0,71
0,63
1,04
0,9
1,77

7,5
10
6,5
9
10,5
9
7,9
7,8
8,7
9,5
16,6
10
11,5

14A
15A
16A

16C

TKG

0,50%
0,59%
0,59%
0,98%
0,92%
0,65%
0,49%
0,37%
0,64%
0,45%
0,76%
0,46%
0,12%
0,93%
0,47%
0,63%
0,53%
0,87%
0,80%
1,01%

2)

Data Reproduksi Ikan Terbang betina April


Berikut ini merupakan tabel hasil pengamatan reproduksi ikan terbang betina

bulan april angkatan yang diproleh.


Tabel 32. Data hasil reproduksi ikan terbang betina bulan april angakatan
Diameter
Kel-

TKG

Bw

BGd

PGd

IKG

BHt

PHt

HSI

Letak Inti

Fekunditas
Kecil

Sedang

Besar

MK

4a

Bunting

247,48

34

11,5

13,74%

1,21%

12208

80

100

120

12208

6a

Bunting

227,6

24,16

14

10,62%

1,01

0,44%

3289

80

100

130

3289

9A

Bunting

113,64

24,2

21,30%

1,25

1,10%

2487

75

80

121

13A

Dara
Berkembang

238,82

28,05

14

11,75%

0,62

0,26%

21296

40

50

70

17a

Mijah

199,87

28,7

10

14,36%

0,65

0,33%

5229

40

56

70

18A

Bunting

178,92

19,14

12

10,70%

1,12

0,63%

9213

60

70

90

22A

Dara
Berkembang

1B

2750
8128

13168
127

0
7370

1843

152,5

1,41

0,92%

Mijah Salin

188

1,79

11,5

0,95%

0,09

0,047%

9B

Bunting

154

14,9

12,8

9,67%

0,12

0,9

0,078%

4300

45

100

120

537

1254

2509

10B

Bunting

215,3

32

10,5

14,86%

0,26

1,2

0,121%

11232

140

145

150

1000

2406

7826

11B

Bunting

191,7

28,1

13

14,66%

0,19

0,099%

9872

40

52

60

1234

8638

12B

Bunting

192,97

26,97

11

13,98%

0,31

1,5

0,160%

14716

45

62

76

43

81

14601

15B

Bunting

199,89

27,52

14

13,76%

0,96

2,5

0,480%

11274

45

50

70

10841

296

137

13B

Bunting

214,93

47,7

13,1

22,19%

19520

59

61

62

4880

13420

1220

16B

Perkembangan
II

175,00

7,22

12

4,13%

1,5

0,860%

937

60

65

70

843

94

17B

Perkembangan
II

164,24

5,92

13

3,60%

0,7

0,430%

1522

52

60

65

20

100

150

18B

Bunting

182,5

16,07

11

8,80%

5305

66

78

83

4986

272

47

19B

Perkembangan
I

166,41

4,88

10,5

4,60%

8564

12

20

22

6865

1437

262

20B

Bunting

182,5

16,07

11

8,80%

5305

66

78

83

4986

272

47

0,21

79

80

Diameter
Kel-

TKG

Bw

BGd

PGd

IKG

BHt

PHt

HSI

22B

Perkembangan
II

200,62

4,26

11,5

2,10%

1C

Mijah Salin

147,00

8,5

2,72%

1,36%

3C

Bunting

280,00

38

14

13,57%

1,43%

3)

Letak Inti

Fekunditas

1253

3808

Kecil

Sedang

Besar

60

65

70

70

80

100

T
1128

125

3801

Data Reproduksi Ikan Terbang Jantan Maret


Berikut ini merupakan tabel hasil pengamatan reproduksi ikan terbang jantan

bulan maret angkatan yang diproleh.


Tabel 33. Data hasil reproduksi ikan terbang jantan bulan maret angakatan
Kel3A
8A
9A
10A
11A
13A
15A
16A
17A
18A
21A
22A
3B
4B
5B
6B
7B
9B
12B
15B
16B
17B
18B

TKG
Perkembangan I
Perkembangan II
Perkembangan II
Perkembangan II
Perkembangan I
Perkembangan II
Perkembangan II
Dara Berkembang
Dara
Perkembangan II
Perkembangan II
Perkembangan I
Dara Berkembang
Dara
Perkembangan I
Dara Berkembang
Dara Berkembang
Perkembangan I
Dara
Dara Berkembang
Perkembangan I
Dara
Dara

Bw

BGd

PGd

IKG

137,88
114,89
117,38
128,00

1,3
0,67
0,42
2
0,83
0,4
1,21
0,19
1,86
0,93
1,13
0,74
0,59
0,16
1,42
0,46
0,8
1,45
0,45
1,41
0,89
0,63
1,24

7
17,5
6
9
10,3
6
8
5,65
8,3
9
22,5
9
7
8,5
11
9,5
8,5
9,8
9,5
8,2
10
13
9

0,94%
0,58%
0,36%
1,56%
0,56%
0,64%
1,04%
0,26%
1,56%
0,57%
0,59%
0,72%
0,47%
0,14%
0,72%
0,34%
0,63%
0,71%
0,45%
0,74%
0,67%
0,50%
0,67%

147,28
62,86
116,59
72,12
118,97
163,17
191,16
102,6
126
113
197
136
128
204
100,18
189,77
132,01
125,93
185,45

MK

81

Kel19B
20B
21B
1C
2C
4C
6C
7C
12C
14C
15C

4)

TKG
Bunting
Dara
Perkembangan I
Salin
Dara Berkembang
Perkembangan II
Dara Berkembang
Perkembangan I
Perkembangan I
Perkembangan I
Perkembangan I

Bw

BGd

PGd

IKG

167,62
115,24
192,05
153,82
118
221
125
184
102,31
117,06
151,94

1,45
0,7
1,71
1,56
0,75
4,84
3,3
16,7
0,31
0,6
0,82

11,5
7,4
8,1
9
11
10
19
10,5
9,3
20
8

0,87%
0,61%
0,89%
1,01%
0,64%
2,19%
2,64%
9,08%
0,30%
0,51%
0,54%

Data Reproduksi Ikan Terbang Betina Maret


Berikut ini merupakan tabel hasil pengamatan reproduksi ikan terbang betina

bulan maret angkatan yang diproleh.


Tabel 34. Data hasil reproduksi ikan terbang betina bulan maret angakatan
Letak Inti
Kel-

TKG

Bw

BGd

PGd

IKG

BHt

PHt

HSI

Fekunditas

Diameter
T

MK

6A

Perkembangan
II

193,36

26,98

12,7

13,95%

0,73

0,38%

4123

20

7A

Perkembangan
II

218,60

39,63

13,7

18,13%

0,11

0,5

0,05%

2816

40

k19A

Perkembangan
I

102,60

13,86

8,65

13,51%

0,24

0,23%

1B

Perkembangan
I

115

0,35

10

0,30%

0,22

4,5

0,19%

14B

Mijah

68,61

7,61

11,09%

0,17

1,9

0,25%

966

135

10

22B

Bunting

209,38

28,24

12,5

13,49%

0,44

5,5

0,21%

13. 402,67

135

10

82

Letak Inti
Kel-

TKG

Bw

BGd

PGd

IKG

BHt

PHt

HSI

Fekunditas

Diameter
T

9C

Mijah

78,13

9,24

10

11,83%

0,58

10C

Mijah

213,96

24,95

13,5

11,66%

0,32

11C

Perkembangan
I

220,92

1,67

11

0,76%

0,88

4,4

0,74%

2492

0,15%

10713

MK

0,40%

Lampiran 5. Food and Habits


Berikut ini merupakan tabel hasil pengamatan Food and Feeding Habits
Angkatan yang diproleh.
Tabel 35. Data Hasil foof Habis angakatan

1
8
1
1
1
1

1
8
1
1
1
1

4
1

2
1
3

Ikan

Detritus

Bag. Hewan

Benthos

Rotatoria

Decapoda

3
30
5
94
4
77
8
3
70
3
1
1
3

Cladocera

copepoda

1A
2A
3A
4A
5A
6A
7A
8A
9A
10A
11A
12A
13A

Fitoplankton

Kel-

Bag. Tumbuhan

Jenis Pakan
Zooplankton

83

Ikan

Detritus

Bag. Hewan

Benthos

Rotatoria

Decapoda

Cladocera

copepoda

14A
15A
16A
17A
18A
19A
20A
21A
22A
1B
2B
3B
4B
5B
6B
7B
8B
9B
10B
11B
12B
13B
14B
15B
16B
17B
18B
19B
20B
21B
22B
1C

Fitoplankton

Kel-

Bag. Tumbuhan

Jenis Pakan
Zooplankton

1
1
1
1
1
2
1
2
1
9
2
1
4
2
60
38
9
38
1
1

1
2
1
1

1
1
2

1
1
2

1
7

1
7

1
3

2
1
3
2
2
2
3
3
3
3
14
4
2

2
1
3
2
2
2
3
3
3
3
14
4
2

8
5
12
8
9
5
5
5
9
7
1

8
1

84

Ikan

Detritus

15C
16C

6
7
3
3
3
5
53
5
5
1
4
5
5
0
4

Bag. Hewan

14C

Benthos

Rotatoria

6
7
3
3
3
5
53

Decapoda

Cladocera

copepoda

2C
3C
4C
5C
6C
7C
8C
9C
10C
11C
12C
13C

Fitoplankton

Kel-

Bag. Tumbuhan

Jenis Pakan
Zooplankton

Lampiran 6. Data Angkatan Hasil Pengamatan Otolith


Berikut ini merupakan tabel hasil pengamatan otolith ikan terbang angkatan
yang diproleh.
Tabel 36. Data Hasil Otolith Angakatan
Kel-

Nama Praktikan

Berat (gr)

Panjang (mm)

0,05

0,07

0,08

Melindda Fauziah
1A

M. Syarif Maulana
Ahmad Resman
Delia Iga Utari

2A

Cindy Senjaya
Satryo Bayuaji

3A

Hilya Andiani

85

Kel-

Nama Praktikan

Berat (gr)

Panjang (mm)

0,04

0,9

0,12

10

0,07

0,07

0,6

0,6

0,07

0,07

0,6

0,9

10

0,13

0,09

Freddy Aditya
Julian Alfath
Isnaeni Faizah
4A

Rahayu Ardinur Iffa


Nendra Suhendra
M. Fauzan Al Mubarok

5A

Iis Risnawati
Bagas Jodi Santoso
Fadhilah Rayafi

6A

Mahesa Giyats
Reifolnanda
Fadilah Amelia

7A

Despriyanto Supriadi
Deanta Faiz
Gitri Maudy

8A

Prasetya Adhi
Agid Faishal
Fitri Rizki Febrianty

9A

Farras Ghaly
Mukhamad Rifqi A.
Vidya Yustindriarini

10A

Rizky Adikusuma
Tanti Yunita
Maryam Nurlatifah

11A

Ahmad Fadhillah
Dita Azzohrah
Virida Martugi H.

12A

Haniyah Khoiriyah
Zeind Ramadhan
Syifa Hanifah

13A

M. Faisal A.
Anwar M. S.
Rihat

14A

Tirani
Alif

15A

Tri Nurhadi

0,12

86

Kel-

Nama Praktikan

Berat (gr)

Panjang (mm)

0,07

10

0,1

0,09

0,06

10

0,09

15

0,09

0,08

0,05

0,05

0,02

0,03

0,06

Hapsari
M. Rohimda
Alya Mirza Artiana
16A

Arief Hidayatullah
Helena Asut
Fikri Khairi

17A

Breagitta
Meiti Anita
Nadia Maudina

18A

Andres Erik
Gilang Yandika
Rofiah Khairunisa

19A

Ahmad Reynaldi
Yohanes Bagas P.
Nur Anisa Diva

20A

M. Triandi
M. Arief S.
Wulan Sutiandri

21A

Septy Audiyanti
M. Agung Meidito
Teguh Firmansyah

22A

Nadimas
Sukma Widyawati
Idzhar Syifana R

1B

Agiandanu
Lina Aprilia
Sunendi

2B

Usi Supinar
Isma Yuniar
Firdaus

3B

Shinta Siti F
Imas Siti Zaenab
Siti Laila Rufaidah

4B

Ade Khoerul Umam


Ulfah M

5B

Pipit Widia Ningsih

87

Kel-

Nama Praktikan

Berat (gr)

Panjang (mm)

0,06

0,08

0,08

0,09

0,08

0,12

0,1

11

0,2

11

0,08

0,8

0,09

0,06

Ilvan Aji P
Lena Lutfina
Imas Siti Nurhalimah
6B

Egi Sahril
Yunia Qonitatin AM
Disa Nirmala

7B

Hardiono Tondang
Zukhrufa Dewi
Gilang Fajar

8B

Jian Setiawan
Asri Astuti
Christ Permana

9B

Syifa Mauladani
Darajat Prasetya W
Didi Arpindi
Novi Puspitawati

10B

Rizki Nugraha S
Mandala E
Ayunani A

11B

Indriani O A
Rifqi A
Ruli Aisyah

12B

Adi Prasetyo
Eka Agustina
Ridwan Ariyo

13B

Anandita R
Dewanto B
Neng Rima N

14B

Achmad Raffi U
Indra Adiwiguna
Felisha Gitalasa

15B

Januar Awalin H
Gusman Maulana
Adinda Kinasih J

16B

Deliani D Freskya
Rezky Hartanto

88

Kel-

Nama Praktikan

Berat (gr)

Panjang (mm)

0,09

0,09

0,035

1,7

0,08

0,14

0,05

0,06

0,2

0,1

10

0,08

0,06

Melinda Iriani
17B

Arnesih
Mochmmad Elang
Tuhpatur Rohmah

18B

Amalia Fajri R
Ahmad Abdul G
Nurhalimah

19B

Egi Rhamadan
Agung Setiawan
Hyunananda

20B

Wahyu Setiawan
Intan Nadifah
Ristiana Dewi

21B

Rizki Ayu R
Ivan Maulana P
Gilang Ramadan
Ayang Denika

22B

Agnesia Amalia S
Annisa Putri S
Sadra Muhammad

1C

Laily Latifah
Hazimah Fikriyah
Astri D.

2C

Dyara Ridwantara
Helinda Utami

Sulastin
3C

M. Fitri Rizky
Sukma Akbar
Nita Ulfah

4C

Ricky Rahmat M
Salma Azka

Miko Kun Maliki


5C

M. Ihsan Fadyla
Nurul Hidayati

6C

Ghifar Hakim
Shelvy Vestadia

0,05

89

Kel-

Nama Praktikan

Berat (gr)

Panjang (mm)

0,8

0,09

Ranti Rahmadina
Alyannisa Ayu
7C

M.Indra Nata
Esha Resti

Andreas Sugiharta
8C

Annisa Nurjannah
Yoshua Edward
Fakhrizal Dwi R

9C

Yulita

0,1

Rabgga Maulana
Naufal Trofis
10C

Tiara Ghasisany
Citra Melinda

0,08

Gerry Yosua
Arita
11C

Bhayu Prasetya

0,05

M Fauzan Azhima
Dwi Ari
12C

Anissa Irawati

0,06

0,2

Dwi Oktarahdiana

Dedeh Priyatna Sari


13C

Galang Putra W.
Arif Rochman
Mauren Widiandoni

14C

M Ikhsan C U

0,08

Viga Ananda W
Lutfi Rahman
15C

Arsa Dipanoto

0,1

Try Setiani

Salma Khairunnisa
16C

Rahmi Rahmawati
Anggi R
Agung Prabowo

0,06

90

Lampiran 7. Kegiatan Pengukuran Panjang dan Berat Ikan Terbang

Pengukuran bobot ikan terbang

Pengukuran panjang ikan terbang

Lampiran 8. Kegiatan Pengamatan Reproduksi Ikan Terbang

Pengukuran gonad ikan terbang

Pengukuran panjang gonad

Lampiran 9. Kegiatan Pengamatan Kebiasaan Makan Ikan Terbang

Pengukuran panjang usus ikan terbang

Isi Perut Ikan Terbang

Pemberian akuades pada isis usus


ikan terbang

Pengamatan isi perut dibawah mikroskop

Lampiran 10. Kegiatan Pengamatan Otolith Ikan Terbang

Otolit ikan terbang

Pencarian otolit pada kepala


ikan terbang

Penimbangan otolit ikan terbang

Pemanasan dan pemberian kristal pada


Otolit ikan terbang

Kepala ikan setelah dipotong


Lampiran 11. Perhitungan Regresi Pertumbuhan Ikan Kapiat dengan
Metode Perhitungan Lagler
1)

Ikan Kapiat Jantan pada Bulan Maret


log a =

log W (log L)2 log L (log L log W)


N (log L)2 ( log L)2

log a
=

72.4086429781 199.304750300869 82.30076717 175.468506617798

34 199.304750300869 6773,41627677055

91

9,8062004440053
2,94523345899506

log a =

log a = 3.32951549699943
b =
b =

log W (N log a)
log L

72.4086429781 (34 3.32951549699943)


82.30076717

b =

185.612169876081
82.30076717

b =2,2553
2)

Ikan Terbang Betina pada Bulan Maret


log a =

log W (log L)2 log L (log L log W)


N (log L)2 ( log L)2
log a

19.4225700590219 52.193 21.6657082476299 46.859183788099

9 52.1930953196442 469,402913871417
log a =

1,5133542320242
0,334944005380

log a = 4,518230533
b =
b =

log W (N log a)
log L

19,4225700590219 (9 4,518230533)
21,6657082476299
b =

60,0866448578724
21,6657082476299
b =2,7734

3)

Ikan Terbang Jantan pada bulan April


log a =

log W (log L)2 log L (log L log W)


N (log L)2 ( log L)2
log a

78.4914513632951 213.118475770392 88.784478460175 188.501287264052


37 213,12 7882,68361544528

log a =

8,010003259184
2,69998805922933

92

log a = 2,966680994
log W (N log a)
log L

b =

b =

78.4914513632951 (37 2,966680994)


88.784478460175

b =

188,258648139116
88.784478460175

b =2,1204

4)

Ikan Terbang Betina pada bulan April


log W (log L)2 log L (log L log W)
log a =
N (log L)2 ( log L)2
log a

52.2984360712314 136.99435201338 56.1250212886923 127.683189851443


23 136.99435201338 3150,01801465616

log a =

1,631387729
0,85208165158565

log a = 1,914590844
log W (N log a)
log L

b =
b =

52.2984360712314 (23 1,914590844)

56,1250212886923
b =

96,3340254937693
56.1250212886923
b = 1,7164

Lampiran 12. Perhitungan Indeks Preponderan


IPi =

VixOi
100%
n

VixOi
i=1

Kelompok pakan utama


: IP > 25%
Kelompok pakan pelengkap : 5% IP 25%
Kelompok pakan tambahan : IP < 5%
a. IPi Fitoplankton

93

IPi =

1x487
100%
938

= 51.92 %
b. IPi Zooplankton
IPi =

1x337
100%
938

= 35.93 %
c. IPi Benthos
IPi =

1x0
100%
938

=0%
d. IPi Bagian Hewan
IPi =

1x94
100
938

= 10.02 %
e. IPi Bagian Tumbuhan
IPi =

1x12
100
938

= 1,28%
f. IPi Detrius
1x0
100%
938
= 0%
g. IPi Ikan
IPi =

IPi =

1x8
100%
938

= 0.85 %
Lampiran 13. Perhitungan Tingkat Trofik
TP = 1+((

51.92x1
100

35.931

)+(

100

)+(

10.022
100

= 2.451
Kategori tingkat trofik ikan, yaitu :
Tingkat trofik 2
: ikan herbivora
Tingkat 2,5
: ikan omnivora
94

)+(

1.283

0.853

100

100

)+(

))

Tingkat trofik 3 atau lebih

: ikan karnivora

Menurut data diatas dapat disimpulkan bahwa ikan kapiat tergolong


kedalam kelompok ikan omnivora cenderung karnivora.

95