Anda di halaman 1dari 46

TUGAS MATA KULIAH JEMBATAN

Perencanaan dan Metode Konstruksi Jembatan Gantung


(Suspension Bridge)

Disusun oleh :
Andreas Brian V. P.

(135060100111011)

Zuhal Azmi

(135060101111037)

Yopi Adi Prayoga

(135060101111039)

Ivan Agus Hadinata

(135060101111043)

Reza Dwipa Sandhi

(135060101111059)

Najmi Faradisa

(135060101111061)

Mala

(135060101111067)

Salwa Saputri

(135060107111011)

Ika Widyastuti

(135060107111057)

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK SIPIL
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Jembatan merupakan sebuah struktur konstruksi yang memungkinkan rute

transportasi melalui sungai, danau, kali, jalan raya, jalan kereta api dan lain-lain.
Jembatan adalah suatu struktur konstruksi yang berfungsi untuk menghubungkan dua
bagian jalan yang terputus oleh adanya rintangan-rintangan seperti lembah yang dalam,
alur sungai saluran irigasi dan pembuang.
Pada jaman dahulu, manusia membuat jembatan dengan konstruksi sederhana
dan hanya menggunakan batang kayu atau bebatuan sebagai penghubung dua bagian
jalan yang terputus. Seiring dengan perkembangan jaman, konstruksi jembatan juga
semakin berkembang dan semakin modern. Manusia tak hanya menggunakan kayu dan
batu secara sederhana, namun mulai menggunakan material lain seperti baja, beton,
maupun campuran keduanya. Bentuk-bentuk konstruksi jembatan pun semakin beragam
dan kompleks.
Konstruksi jembatan yang semakin beragam dan kompleks tentu membutuhkan
perencanaan dan metode pelaksanaan yang kompleks pula. Setiap konstruksi jembatan
memiliki metode perencanaannya masing-masing dan berbeda satu sama lain. Hal ini
dikarenakan setiap bentuk konstruksi memiliki material dan karakateristik dalam
menahan beban yang berbeda-beda.
Salah satu bentuk konstruksi yang mulai sering digunakan saat ini adalah
jembatan gantung (suspension bridge). Jembatan gantung dipilih karena mampu
digunakan dalam bentang yang panjang. Jembatan gantung juga digunakan pada medan
di mana tidak memungkinkan untuk membangun pilar di bawah jembatan. Dengan
memperhatikan beberapa faktor di atas, jembatan gantung dapat menjadi pilihan yang
efisien.
Pembangunan jembatan gantung memerlukan tahap perencanaan yang cukup
rumit karena memiliki bagian struktur yang kompleks. Selain itu, dalam pembangunan
jembatan gantung juga perlu memerhatikan metode pelaksanaan yang tepat agar tidak
terjadi kegagalan saat proses konstruksi. Dalam makalah ini, akan dibahas mengenai
perencanaan dan metode pelaksanaan konstruksi jembatan gantung dengan lebih
terperinci.
1.2.
Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah perencanaan jembatan gantung (suspension bridge)?

2. Bagaimanakah metode pelaksanaan konstruksi pada jembatan gantung


(suspension bridge)?

1.3.

Tujuan
Tujuan dalam penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui perencanaan jembatan gantung (suspension bridge).
2. Mengetahui metode pelaksanaan konstruksi pada jembatan gantung
(suspension bridge).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Jembatan Gantung


Jembatan gantung adalah jembatan di mana seluruh beban lalu lintas dan gaya
yang bekerja dipikul oleh sepasang kabel pemikul yang menumpu di atas 2 pasang
menara/pylon dan 2 pasang blok angker. Bangunan atas jembatan gantung terdiri dari
lantai jembatan, gelagar pengaku, batang penggantung, kabel pemikul, dan kabel
pengaman (berdasarkan Pedoman Perencanaan dan Pelaksanaan Konstruksi Jembatan
Gantung Untuk Pejalan Kaki).
Jembatan gantung tertua dan terbesar pada abad ke-18 adalah Jembatan Menai
Straits di Inggris yang dibangun pada tahun 1825. Jembatan tersebut menggunakan
menara batu dan kabel dari rantai besi untuk menggantung jalan raya. Pada tahun 1939
kabel penggantung diganti dengan baja batangan. Dengan semakin majunya teknologi
dan meningkatnya kebutuhan manusia akan transportasi, tipe jembatan gantung semakin
berkembang, yaitu dengan memanfaatkan kabel-kabel baja.

Gambar 2.1 Menai Suspension Bridge (Desember 2009). Sumber : Wikipedia

Jembatan gantung merupakan pilihan yang efisien dan efektif sebagai sarana
transportasi untuk menyeberangi sungai atau jurang. Keunggulan jembatan gantung
dibandingkan dengan jembatan lainnya, antara lain :
- Memiliki nilai estetika

Memiliki bentang relatif panjang untuk melewati sungai atau jurang di mana
pemasangan tiang-tiang penyangga secara menerus dengan bentang pendek

tidak dimungkinkan
Jembatan gantung memiliki beberapa elemen struktur dominan, seperti kabel
utama, batang penggantung, gelagar memanjang, dan menara. Di antara elemen struktur
tersebut, perlu diteliti elemen mana yang memberi kontribusi dominan terhadap tingkat
keamanan struktur, dan seberapa besar pengaruh perubahan kuantitas dimensi elemen
struktur terhadap perubahan tingkat keamanan struktur. Dalam merancang jembatan
yang aman namun ekonomis, perlu ditentukan pilihan dimensi yang sesuai.
Pengguna jembatan dan tingkat lalu lintas harus diidentifikasi secara jelas karena
akan menentukan lebar lantai jembatan yang diperlukan dan beban hidup pada jembatan
yang akhirnya akan menentukan biaya konstruksi. Lebar untuk jalan masuk dan lintasan
untuk tipetipe yang berbeda dan tingkat-tingkat lalu lintas terdiri dari dua lebar standar,
yaitu:
a) 1 m sampai dengan 1,4 m untuk pejalan kaki, sepeda, hewan ternak, sekawanan
hewan, gerobak dorong beroda satu dan beroda dua, dan motor (jembatan
pejalan kaki kelas II)
b) 1,4 m sampai dengan 1,8 m untuk kendaraan yang ditarik hewan dan kendaraan
bermotor ringan dengan maksimum roda tiga (jembatan pejalan kaki kelas I).
2.2 Struktur Jembatan Gantung
Tipe yang lebih konvensional dari jembatan gantung yaitu yang menggunakan
kabel menerus yang ditahan oleh menara pada setiap ujung jembatan. Kabel tersebut
digunakan untuk menahan batang penggantung lantai jembatan.Lantai jembatan boleh
lentur atau kaku, tetapi harus cukup kuat menahan beban lalu lintas antara kabel dan juga
untuk menahan beban angin. Bagian ujung menara harus cukup tinggi untuk
memungkinkan kabel utama melengkung, antara 1 : 8 dan 1 : 11.

Gambar 2.2 Skema Umum Struktur Jembatan Gantung


Bagian-bagian struktur jembatan gantung :

a) Bangunan atas
- Lantai jembatan berfungsi untuk memikul beban lalu lintas yang melewati
jembatan serta melimpahkan beban dan gaya-gaya tersebut ke gelagar
-

memanjang
Gelagar memanjang berfungsi sebagai pemikul lantai dan sandaran serta

melimpahkan beban dan gaya-gaya tersebut ke gelagar melintang


Gelagar melintang berfungsi sebagai pemikul gelagar memanjang serta

melimpahkan beban dan gaya-gaya tersebut ke batang penggantung


Gelagar pengaku berfungsi sebagai pemikul sebagian beban hidup dan

sebagai pengaku
Batang / kabel penggantung berfungsi sebagai pemikul gelagar utama serta

melimpahkan beban-beban dan gaya-gaya yang beberja ke kabel utama


Kabel utama berfungsi sebagai pemikul beban dan gaya-gaya yang bekerja
pada batang / kabel penggantung serta melimpahkan beban dan gaya-gaya

tersebut ke menara / pylon pemikul dan blok angker


Pagar pengaman berfungsi untuk mengamankan pejalan kaki
Ikatan kabel angin berfungsi untuk memikul gaya angin yang bekerja
pada bangunan atas

b) Bangunan bawah
- Menara/pylon berfungsi sebagai tumpuan kabel utama dan gelagar utama,
serta melimpahkan beban dan gaya-gaya yang bekerja melalui struktur pilar
-

atau langsung ke pondasi


Blok angker adalah tipe angker untuk semua jenis tanah yang berfungsi
sebagai penahan ujung-ujung kabel utama serta melimpahkan gaya-gaya yang

dipikulnya ke pondasi
Pondasi menara dan blok angker berfungsi sebagai pemikul menara dan
blok angker serta melimpahkan beban dan gaya-gaya yang bekerja ke lapisan
tanah pendukung

Selain bentang utama, biasanya jembatan gantung mempunyai bentang luar (side
span) yang berfungsi untuk mengikat/mengangkerkan kabel utama pada blok angker.
Walaupun pada kondisi tertentu terdapat keadaan di mana kabel utama dapat langsung
diangkerkan pada ujung jembatan dan tidak memungkinkan adanya bentang luar, bahkan
kadangkala tidak membutuhkan dibangunnya pilar.

2.3 Tipe Jembatan Gantung


Berkaitan dengan bentang luar (side span) terdapat bentuk struktur jembatan
gantung sebagai berikut :
1. Bentuk bentang War Bebas (side span free)
Pada bentang luar, kabel utama tidak menahan/dihubungkan dengan lantai
jembatan oleh hanger, jadi tidak terdapat hanger pada bentang luar. Disebut juga
dengan tipe straight backstays atau kabel utama pada bentang luar berbentuk
lurus.

Gambar 2.3 Jembatan Gantung Side Span Free


2. Bentuk bentang luar digantungi (side span suspended)
Pada bentuk ini kabel utama pada bentang luar menahan struktur lantai jembatan
dan dihubungkan oleh hanger.

Gambar 2.4 Jembatan Gantung Side Span Suspended


Steinman (1953), membedakan jembatan gantung menjadi 2 tipe, yaitu :
a) Jembatan gantung tanpa pengaku
Adalah tipe jembatan gantung di mana seluruh beban sendiri dan lalu lintas
didukung penuh oleh kabel. Hal ini dikarenakan tidak terdapatnya elemen
struktur kaku pada jembatan. Dalam perhitungan struktur secara keseluruhan,
struktur pendukung lantai lalu lintas kekakuannya (EI) dapat diabaikan,
sehingga seluruh beban mati dan beban lalu lintas akan didukung secara
penuh oleh kebel baja melalui hanger
b) Jembatan gantung dengan pengaku
Adalah tipe jembatan gantung di mana pada salah satu bagian strukturnya
mempunyai bagian yang lurus yang berfungsi untuk mendukung lantai lalu

lintas (dek). Dek pada jembatan gantung jenis ini biasanya berupa struktur
rangka, yang mempunyai kekakuan (EI) tertentu. Dalam perhitungan struktur
secara keseluruhan, beban dari lantai jembatan didukung secara bersamasama oleh kabel dan gelagar pengaku berdasarkan prinsip kompatibilitas
lendutan (kerja sama antara kabel dan dek)
Jembatan gantung dengan pengaku mempunyai dua bentuk umum, yaitu :
1. Tipe rangka batang kaku (stiffening truss)
Pada tipe ini jembatan mempunyai bagian yang kaku atau diperkaku yaitu
pada bagian lurus pendukung lantai jembatan (dek).

Gambar 2.5 Tipe rangka batang kaku


2. Tipe rangka kaku (braced chain)
Pada tipe ini bagian yang kaku atau diperkaku adalah bagian yang
berfungsi sebagai kabel utama.

Gambar 2.6 Tipe rangka kaku


2.4 Pembebanan Jembatan Gantung
Beban yang harus direncanakan antara lain :
a) Beban Vertikal
Beban vertikal berupa :
- Beban mati dari berat sendiri jembatan;
- Beban hidup dari pengguna jembatan
Beban vertikal rencana adalah kombinasi dari beban mati dan beban hidup
terbesar yang diperkirakan dari pengguna jembatan
b) Beban Samping
Beban samping disebabkan oleh :
- Tekanan Angin
- Gempa
- Pengguna yang bersandar atau membentur pagar pengaman

Benturan ringan yang diakibatkan oleh batuan-batuan yang terbawa oleh


sungai/arus. Jika benturan keras dari objek yang lebih besar pada aliran
airyang cepat maka jarak bebas lantai jembatan harus ditambah untuk
mengurangi resiko benturan dan kerusakan.

Standar perencanaan untuk jembatan pejalan kaki mempertimbangkan standar


perencanaan kecepatan angin 35 m/detik, yang mengakibatkan tekanan seragam pada sisi
depan yang terbuka dari batang-batang jembatan dari 130 kg/m2. Karena tidak mungkin
lalu lintas di atas jembatan pada angin yang besar, beban angin dipertimbangkan terpisah
dari beban hidup vertikal.
Beban gempa dihitung secara statik ekuivalen dengan memberikan beban lateral
di puncak menara sebesar 15% sampai dengan maksimum 20% beban mati pada puncak
menara. Beban gempa tidak dihitung bersamaan dengan beban angin karena tidak terjadi
pada waktu yang sama.
c) Beban Hidup
Ada dua aspek beban hidup yang perlu dipertimbangkan:
a) Beban terpusat pada lantai jembatan jembatan akibat langkah kaki manusia untuk
memeriksa kekuatan lantai jembatan
b) Beban yang dipindahkan dari lantai jembatan ke batang struktur yang kemudian
dipindahkan ke tumpuan jembatan. Aksi beban ini akan terdistribusi pendek atau
menerus sepanjang batang-batang longitudinal yang menahan lantai jembatan.
Beban hidup yang paling kritis yang dipikul karena pengguna jembatan pejalan
kaki ditunjukkan pada Tabel 2.1. Dipertimbangkan bahwa beban terpusat 2000 kgf (20
kN) untuk kendaraan ringan/ternak dan beban merata 5 kPa memberikan batas yang
cukup untuk keselamatan untuk semua pengguna biasa dari jembatan pejalan kaki.
Tabel 2.1 Beban Hidup yang dipikul dan lendutan izin jembatan gantung pejalan kaki

2.5 Sistem Kabel


Kabel merupakan bahan atau material utama dalam struktur jembatan gantung.
Karakteristik kabel kaitannya dengan struktur jembatan gantung antara lain :
a) Kabel utama yang digunakan berupa untaian (strand). Jenis kabel dapat dilihat
pada Gambar 2.7
b) Kabel dengan inti yang lunak tidak diizinkan digunakan pada jembatan gantung
c) Kabel harus memiliki tegangan leleh minimal sebesar 1500 MPa
d) Batang penggantung menggunakan baja bundar sesuai spesifikasi baja pada
Tabel 2.2
e) Kabel ikatan angin menggunakan baja bundar sesuai spesifikasi baja pada Tabel
f)
g)
h)
i)

2.2
Kabel mempunyai penampang yang seragam/homogen pada seluruh bentang
Tidak dapat menahan momen dan gaya desak
Gaya-gaya dalam yang bekerja selalu merupakan gaya tarik aksial
Bila kabel menerima beban terbagi merata, maka wujudnya akan merupakan

lengkung parabola
j) Pada jembatan gantung kabel menderita beberapa beban titik sepanjang beban
mendatar

Gambar 2.7 Penampang melintang kabel


Jika beban vertikal dikenakan pada kabel gantung yang diikatkan pada 2
tumpuan, maka akan memberikan bentuk segi banyak terbatas yang ditentukan
oleh hubungan antar beban seperti yang terlihat oleh gambar. Jika f adalah
kedalaman lengkungan atau simpangan kabel (sag) atau ordinat dari titik terendah
adalah C dan Mc adalah momen lentur balok sederhana pada titik C, maka H
didapat dari :

Mc
f
Besarnya tegangan pada kabel T dengan adalah sudut kabel terhadapa
horisontal pada setiap titik dimana tegangan T adalah besar dari setiap anggota
poligon meningkat ke arah tumpuan, maka dapat menggunakan persamaan :

T cos H
H
T
cos
T H sec

d2y w

dx 2 H

Persasamaan diferensial untuk kurva kabel :

Tabel 2.2 Spesifikasi Baja

Gambar 2.8 Gaya-gaya yang bekerja pada Jembatan Gantung


2.6 Menara (Tower)
Menara pada sistem jembatan gantung akan menjadi tumpuan kabel utama.
Beban yang dipikul oleh kabel selanjutnya diteruskan ke menara yang kemudian
disebarkan ke tanah melalui fondasi. Dengan demikian agar dapat menyalurkan beban
dengan baik, perlu diketahui pula bentuk atau macam menara yang digunakan
Bentuk menara dapat berupa portal, multistory, atau diagonally bracedframe.
Konstruksi menara dapat juga berupa konstruksi cellular, yang terbuat dari pelat baja
lembaran, baja berongga, atau beton bertulang. Tumpuan menara baja biasanya dapat
diasumsikan jepit atau send. Sedangkan tumpuan kabel di bagian atas menara, sering
digunakan tumpuan rol untuk mengurangi pengaruh ketidakseimbangan menara akibat
lendutan kabel.

Gambar 2.9 Beberapa tipe menara

Gambar 2.10 Kondisi tumpuan pada puncak menara


2.8
Mc

Kabel Parabola
w.l 2
8

Untuk beban terbagi merata, momen lentur maksimum pada balok

sederhana menjadi :

w.l 2
8
2
w.l
H
8. f
H. f

Karena pada struktur jembatan gantung terdapat gaya H pada masingmasing pylon maka rumus momen lentur diatas dapat diubah menjadi :

T1 H 2 Q 2
w.l 2
T 1
8. f
w.l
8f

T1

w.l

1 16n 2
Adapun besar tegangan maksimum pada kabel yang terjadi

pada kedua buah tumpuan menjadi :

f
l

Dengan :
8

L l 1 n 2
3

Hasil integrasi dari beberapa rumus yang ada pada jembatan

gantung diperoleh panjang kabel parabola diantara dua tumpuan dengan elevasi yang
sama :

2.9
L

Jembatan tanpa Pengaku


HL
16 2
1 n
Es. A
3

Jembatan gantung tanpa pengaku hanya digunakan untuk

struktur yang sederhana (bukan untuk struktur yang rumit dan berfungsi untuk menahan
beban yang terlalu beart), karena ridak adanya pendukung lantai jembatan yang kaku
atau tidak memenuhi syarat untuk diperhitungkan sebagai balok menerus. Perubahan
panjang kabel diantara dua tumpuan (L) adalah sebagai hasil dari pemanjangan elastis,
gelinciran kabel, atau perubahan suhu, sedangkan akibat dari lendutan pilar dan lendutan
kabel perubahan panjang bentang adalah L dan f adalah perubahan simpangan (sag)
kabel. Besar perubahan panjang kabel setelah pembebanan dapat menggunakan
persamaan :

16
n 5 24n 2
15

Sedangkan untuk lendutan sag dapat menggunakan persamaan :

H
xf
f
Dari beberapa konsep diatas, termasuk juga pertambahan panjang kabel

akibat beban yang terjadi maka pada kabel jembatan gantung tersebut terjadi tambahan
komponen horisontal akhir sebesar :

2.10

Jembatan dengan Pengaku


Jembatan gantung dengan pengaku adalah tipe jembatan gantung yang memiliki

struktur yang kompleks karena kebutuhan akan persyaratan keamanan dan kenyamanan,
memiliki bagian struktur dengan kekakuan tertentu. Secara umum fungsi dari bagian
yang mempunyai kekakuan tertentu pada jembatan gantung adalah untuk :
1. Bersama-sama dengan kabel mendukung beban lalulintas pada lantai
jembatan.
2. Mendistribusikan beban titik, dan beban asimetris untuk menjaga kabel tetap
parabolik.
3. Membatasi terjadinya lendutan statis pada kabel
N

8
3EI

(1 8n 2 )
2
5 Af Es
Hubungan antara kabel dengan kekakuan rangka batang

dinyatakan dalam bentuk N yaitu :

Dengan,
E

: modulus elastisitas bahan dek

: momen inersia penampang

: luas penampang kabel utama

Es

: modulus elastisitas kabel utama

H max

1
P.l
(5 Nn)
Komponen horisontal atau tegangan horisontal kabel :

5Pl 4
8
1

384 EI
5N

Dan lendutan pada dek adalah :

BAB III
CONTOH PERENCANAAN JEMBATAN GANTUNG
1. Analisis Lendutan dan Tegangan Kabel
Diketahui data :
Main Cable :
Es
= 2.106 kg/m2
A
= 1,2667.10-4 m2
Kayu
:
E
= 1.109 kg/m2
I
= 1,296.10-3 m4 (9/12)
Beban mati (w) + beban hidup (p) = 635 kg/m
Panjang kabel = bentang = 12 meter dengan sag maksimum = 1,6 meter.
Pemyelesaian :

1. Bila Jembatan tanpa pengaku


Sag ratio awal :
f 1.6
1
n

l
12 7.5

Pl 2
635 x12 2
T
(1 16n 2 )1 / 2
8f
8 x1,6

1 16 1

7.5

1/ 2

8096,25kg
Tegangan kabel

awal :

tan 4n 4 x

1
7,5

arc. tan 4n 28,0725 o


H T cos 8096,25. cos( 28,0725) 7143,96kg
Komponen horisontal awal :

HL
16 2
7143,96 x12
1 16 1 0,018524m
L
1 n
Es. A
3
3 7,5
(2 x1010 x 2 x1,2667 x10 4 )

anjang kabel setelah pembebanan :

L
0,018524

16
n(5 24n 2 ) 16 x 1 5 24 1
15
15 7,5
7,5

Lendutan sag :

H
7143,96
xf
x 0,02846 127,1609kg
f
1,6
Tambahan komponen

horisontal akhir :

0,02848m

Komponen horisontal akhir :


H = 7143,96 127,1609 = 7016,799 kg

2. Bila jembatan dengan pengaku


8
3EI
N
(1 8n 2 )
2
5 A.Es. f
8
3 x1,296 x10 3 x1,0 x10 9
N
5 2 x1,2667 x10 4 x 2 x1010 x1,6 2

1 8 1 2,284

7,5

Komponen horisontal H :
P.l
635 x12
H

5002,732
5.N .n
1
5 x 2,284 x

7,5

Lendutan pada dek :


5 Pl 4
8
d
1

384 EI
5N
d

Harga N :

5 x 635 x12 4
8

1
0,01983m
9
3
5 x 2,28475
384 x1,0 x10 x 2 x1,296 x10

2. Analisis Jembatan Gantung


Jembatan gantung yang dianalisis adalah jembatan untuk pejalan kaki di sungai
Asahan. Panjang 66 meter, lebar 1 meter pada elevasi +7,00 meter dari muka air
sungai. Tipe jembatan deck, backsaty tanpa pengaku. Beban yang bekerja antara
lain, beban hidup sebesar 100 kg/m2, beban mati berat sendiri struktur (wood = 980
kg/m3, wood (plani) = 2300 kg.m3, ijin kayu = 60 kg/cm2). Gambar tampak
jembatan sebagai berikut :

Gambar 3.1Jembatan Gantung tampak Samping

Gambar 3.2 Potongan Jembatan


Penyelesaian :
1. Deck (2,5/20 cm)
Beban Mati = 0,025 x 0,2 x 980
Beban Hidup = 100 x 0,2
Total
Gambar Struktur :

= 4,90 kg/m
= 20 kg/m +
= 24,9 kg/m = 25 kg/m

Gambar 3.3 Beban pada Deck Jembatan


Diperoleh perhitungan SAP :
Mmax = 0,5 kg/m
RA = RC = 3,75 kg
M
0,5 x10 2

2,4kg / cm 2 60kg / cm 2
W 1

2
x 20 x 2,5
6

2. Longitudinal Beam
Middle Beam (6/10)
Dead Load
= 0,06 x 0,1 x 980
Deck Load
= 12,5 / 0,4
Total
Gambar Stuktur :

RB = 12,5 kg

= 5,88 kg/m
= 31,25 kg/m +
= 37,13 kg/m

Gambar 3.4 Beban pada Gelagar Memanjang


Diperoleh perhitungan SAP :
RA = RC = 60,575 kg
RB = 170,95 kg
Mmax = 33,5 kgm

Side Beam (6/10)


Dead Load

= 0,06 x 0,1 x 980

= 5,88 kg/m

Deck Load

= 3,75 / 0,2

= 18,75 kg/m +

Total

= 24,63 kg/m

Diperoleh perhitungan SAP :


RA = RC = 18,47725 kg
RB = 61,575 kg
Mmax = 12,315 kgm
Beban ambil yang didapat untuk dihitung pada gelagar utama adalah pada
middle beam yakni :
RA = RC = 60,575 kg
RB = 170,95 kg

3. Transversal Beam
Beban yang bekerja seperi yang terlihat pada gambar berikut ini.
Berat profil CNP 65 = 7,043 kg/m.
Gambar Struktur :

Gambar 3.5 Beban pada Gelagar Melintang


Sehingga diperoleh :
RA = RB = 150,5715 kg.

4. Hangers
Menggunakan diameter -5. Hangers diupayakan mampu menahan tarik.
fy = 240 MPa
Nu .Nn
1
150,5715 240. .5 3
4
150,5715 471,24kg
Kuat Tarik Bahan :

.....Ok !!
5. Main Cable
Pembebanan :
Dead Load
1. Balok Memanjang (3 buah) = 3 x 5,88
2. Deck (2,5/20)
= 1 x 0,025 x 980
3. Balok Melintang (33 buah) = (33x4,9x0,8)/66
4. Berat Hanger (asumsi)
5. Main Cable (-25) = 2 x 3,023 x 66,162 / 66
6. Beban lain-lain (asumsi)

= 17,64 kg/m
= 24,5 kg/m
= 1,96 kg/m
= 2 kg/m
= 6,06 kg/m
= 1 kg/m +

Total
Live Load
1. Live Load

= 53,722 kg/m
= 750 / 66,00 = 11,3636 kg/m

Total Beban = qDL + qLL = 53,722 + 11,3636 = 65,1 kg/m


Setelah beban yang bekerja pada jembatan telah dicari, maka selanjutnya
dihitung beban horisontal yang bekerja pada jembatan.
tan = 4 n = 4 (f / l) = 4 (1 / 33) = 4/33

= arc.tan(4/33) = 6,9112o

P.l 2 65,1.66 2

17723,475kg
8. f
8.2

H
17723,475

17853,199kg
cos cos(6,9112)

T1

T 17853,199

8926,5995kg
2
2

Untuk satu kabel :

Kapasitas beban kabel -25 dapat dilihat pada tabel dibawah adalah kira-kira
sebesar 55 ton (minimum breaking load).

Tabel 3.1Spesifikasi Kabel Jembatan Gantung

Tc
55000

6,161
T 1 8926,5995
Maka faktor keamanan (n) :

Setelah main cable telah memenuhi syarat angka kemanan, back stays juga
perlu dicek angka keamanannya. Berikut merupakan gambar detail
pembebanannya :

Gambar Buhul pada Pylon

Gambar 3.6Gambar Tumpuan Pylon


T1

H
17723,475

20465,306kg
cos 30
cos 30

Back stays menggunakan profil -25.

Maka perhitungan back stays cable :

Tc
55000

5,375
T 1 10232,653
Untuk satu kabel maka T1 = 20465,306 / 2 =

10232,653 kg
Faktor Keamanan (n) :

6. Pylon
Dari gambar pembebanan pada main cable maka besar beban yang diterima
pylon :
Vtotal = (8926,5995.sin(6,9112) + 10232,653 sin(30)) = 6190,472 kg (tekan ke
arah pylon).
Untuk perencanaan profil pylon, maka perlu dilakukan coba-coba untuk
menemukan profil pylon agar mampu menahan beban yang diterima pylon.
Profil pylon digunakan profil CNP 30 (coba-coba). Data dari profil CNP 30
adalah sebagai berikut :
A
= 5880 mm2
b
= 100 mm
4
Ix
= 80300000 mm
h
= 300 mm
ix
= 117 mm
tf
= 16 mm
Lk = 3,5 m = 3500 mm
tw
= 10 mm
Iy
= 4950000 mm4

iy
= 29 mm
Mutu Baja yang digunakan adalah BJ-37 (fy = 240 MPa)
Karena sumbu lemah merupakan sumbu y maka sumbu x tidak perlu dihitung
kekuatan tekuknya. Perhitungan tekuk seperti perhitungan tekuk pada struktur
baja :
b 250

tf
fy

100
250

16
240
6,25 16,137

Cek Kelangsingan Penampang :

Cek kekuatan Profil


k .L 2,1.3500

253,448
iy
29

fy 253,448
240

2,795
E

200000

Jenis tumpuan : jepit bebas ( k =

2,1 )

Nu Nn
61904,72 . A.

fy
w

240
9,766
61904,72 122826,1315
61904,72 0,85.5880.

Karena c 1,25 maka w = 1,25.c 2 =


1,25.2,7952 = 9,766

Jadi penampang CNP30 dapat digunakan sebagai profil pylon supaya dapat
menerima beban yang terjadi pada pylon
.
7. Pondasi
Gaya Vertikal dari satu pylon = 6190,472 kg
Karena gaya vertikal pada pondasi diakibatkan oleh 2 pylon maka = 2 x
6190,472 = 12380,944 kg. Tegangan ijin tanah sebesar 0,6 kg/cm2
Ukuran pondasi yang digunakan : 2 m x 2 m x 1 m
beton = 2400 kg/m3
Berat Pondasi = Volume Pondasi x beton = 2 x 2 x 1 x 2400 = 9600 kg
Q 9600 12380,944

0,55 0,6kg / cm 2
A
40000

8. Block Anchor
Diketahui :
tanah
= 1500 kg/m3
beton
= 2400 kg/m3
H
=3m
Gambar Detail Angkur :

Gambar 3.7 Detail Blok Angkur


Sehingga, dapat diuraikan gaya-gayanya :
V1
= 10232,653.sin30
= 5116,326 kg
H1
= 10232,653.cos30 = 8861,737 kg
Berat Blok Angkur
= 1,5 x 2 x 3 x 2400 = 21600 kg
Karena pada angkur terjadi pada tanah yang ditanam, tanpa ada perbedaan muka
tanah maka tekanan tanah dapat diabaikan. Sehingga perhitungan stabilitas
guling dari angkur tersebut :

FSguling

H 1.1,5
8861,737.1,5

0,806
( V ).1 (21600 5116,326).1

Karena FS guling kurang dari 1 maka, dimensi blok angkur perlu diubah.
Berat Blok Angkur
FSguling

= (1,5 x 1 x 3) x 2400 = 10800 kg

H 1.1,5
8861,737.1,5

2,339
( V ).1 (10800 5116,326).1

Karena FS guling lebih dari 1 maka dimensi blok angkur diperoleh sebesar 1,5 x
1 x 3.

BAB IV
METODE PELAKSANAAN
A) PROSEDUR PELAKSANAAN JEMBATAN GANTUNG TIPE 21 M
Berikut ini adalah langkah demi langkah yang dianjurkan untuk diikuti dalam
pelaksanaan ereksi di lapangan.
Seebelum memulai langkah pertama, demi kelancaran pekerjaan dianjurkan
untuk mengadakan pengecekan secara menyeluruh sebagai berikut :
a) Bongkar peti - peti komponen dan sekali lagi isi peti satu persatu dicek terhadap
packing list.
b) Periksa semua bahan yang perlu disediakan setempat.
c) Periksa dan cek semua peralatan bantu yang diperlukan.
d) Baca pedoman secara menyeluruh untuk mendapatkan gambaran umum cara
pemasangan.
e) Cocokan mur dengan baut/pasangannya masing - masing,terutama mur untuk
hanger(penggantung)harus dikerjakan khusus.
Dianjurkan

untuk

tidak

memulai

pekerjaan

bila

masih

ada

kekurangan

bahan,komponen atau alat tersebut di atas, karena akan sangat mengganggu kelancaran
pelaksanaan.
Apabila segala sesuatunya telah siap, selanjutnya ikutilah prosedur berikut ini:

1. Langkah 1. Menyiapkan Pondasi dan Angkur


Sebelum memulai menggali tanah untuk pondasi, perlu pertimbangan beberapa
hal dalam menempatkan jembatan gantung dan kaitnya dengan medan yang dijumpai
di lapangan.
a) Arah jembatan diusahakan melintang sungai/tebing dengan arah 90 derajat
dengan kata lain cari jarak yang terpendek.
b) Tempatkan pondasi tiang pada bagian tanah yang sudah stabil (lereng alami) dan
pada bagian sungai yang lurus, untuk menghidari erosi air sungai terhadap tanah
tepi sungai
c) Sedapat mungkin jarak tepi pondasi paling dekat dengan tepi sungai, mempunyai
jarak yang cukup aman terhadap erosi 5,00 M.
2. Langkah 2. Merakit dan Mendirikan Tiang
Perlu diketahui bahwa akibat pertimbangan teknis, design kaki kolom (pilon)
direncanakan khusus untuk mengatasi kelemahan yang ada. Selanjutnya ikuti
petunjuk petunjuk yang tertera dalam methode pelaksanaan .

3. Langkah 3. Memasang Kabel Utama, penyetelan spanscrew(waltermur) & klem gantung.


a) Ikat spanscrew (waltermur) yang telah terpasang pada ujung kabel utama (KU)
dengan tambang/tali dan ditarik ke seberang sungai sesuai dengan sarana
penyeberangan yang ada
b) Tarik dengan katrol sehingga ujung kabel utama sampai diseberang
c) Masukan baut angkur dan pasang ke angkur yang telah tertanam dibeton kedalam
spanscrew (waltermur utama) di ke dua belah ujungnya.
d) Tarik / angkat dengan katrol sehingga kabel meletak pada kedudukannya diatas
tiang penyangga.
e) Stel spanscrew (waltermur utama) sehingga lengkungan kabel sesuai kedudukan
lengkungannya.Untuk menentukan kedudukan lengkungan kabel utama dengan
cara sederhana sebagai berikut :
Ukur dari sepatu pilon ke atas setinggi 1,50 m dikedua tiang penyangga
dan diberi mistar,water pass /mendatar garis pandang dari mistar pada
tiang penyangga dengan tiang penyangga di seberang menjadi garis visir

sekaligus garis arah nivo.


Kedudukan lengkungan kabel terbawah harus menyinggung garis visir
tersebut.

4. Langkah 4. Memasang Rangka Lantai Jembatan, Klem dan Hanger pada Kabel
Utama

a) Siapkan batang peluncur,yang kedua ujungnya mengait dengan kabel utama


dan dapat di kendalikan dengan tali atau tambang dengan kerekan yang di
kaitkan dengan tambang atas(melintang) tiang penyangga.
b) Buat tangga gantung dari tali tambang seperti tangga tali pada kapal kapal
laut.
c) Buat tangga gantung dari tali tambang seperti tangga tali pada kapal kapal
laut.
d) Persiapkan rangka lantai pertama Pasang klem dan hanger pada kabel utama
dengan sarana tangga tali tersebut
e) Siapkan rakitan pertama rangka lantai dengan satu ujung depan ( doubel
batang melintang). Sedangkan ujung belakang (satu batang melintang )
rangka lantai pertama diperkirakan masih didarat.
f) Masukan ujung hanger (terlebih dahulu pasang mur & ring) pada lubang plat
penggantung kemudian dipasang mur.
g) Untuk memasang rangka lantai kedua dan seterusnya (sudah diatas sungai)
dengan cara sebagi berikut;
Ulur kedua peluncur yang telah terkait ujung tangga tali sampai

kedudukan yang di kehendaki.


Pasang klem dan hanger seperti pada langkah 4.
Siapkan rakitan rangka lantai berikutnya (doubel batang melintang)

sedangkan ujung lainnya tanpa batang melintang.


Masukan ujung batang penggantung pada lubang plat penggantung

pada batang melintang kemudian dipasangmur.


Lepaskan perlahan lahan sehingga batang melintangterdorong
kedepan dan ujung batang memanjangdapat di baut dengan rangka
yang sudah terpasang.

Sudah barang tentu pemasangan rangka lantai tersebut memerlukan papan


pertolongan untuk menambah pijakan tenaga kerja.
h) Pilih batang melintang yang ada lubang angkur ikatan angin untuk dipasang
pada rakitan dari kedua ujung jembatan.
i) Dianjurkan pemasangan rangka lantai sedapat mungkin dikerjakan dari kedua
arah
j) Stel tinggi rendahnya rangka lantai dengan jalan;
mengencangkan spancrew (waltermur utama).
menyetel mur pada ujung hanger

5. Langkah 5. Memasang Kabel Angin


a) Lepaskan angkur pada spanscrew (waltermur angin) bagian lingkaran yang
lubangnya penuh ( cincin penuh ) untuk nantinya dipasang di rakitan lantai
dasar yang kedua belah ujung jembatan dimana rakitan tersebut telah tersedia
lubang angkurnya.
b) Pasang kabel angin ( K.A )pada angkur yang diambil dari spanscrew
(waltermur angin).
c) Masukkan angkur ring penuh ke rakitan lantai dan spanscrew keangkur
angkur ikatan angin yang telah tertanam dalam angkur blok kabel angin.
d) Setelah terpasang keempat empatnya , stell kabel angin tersebut dengan cara
memutar spanscrew (waltermur angin) sehingga kedudukan rangka lantai
simetris dan kabel angin telah kencang.
6. Langkah 6. Memasang Sandaran
a) Pasang sandaran pada rangkaian lantai yang tersedia lubang - lubang untuk
sandaran.
b) Pasang sandaran atas untuk kanan dan kiri
c) Setelah terpasang semua , luruskan sandaran tersebut dan kemudian baut
dikencangkan sampai sandaran tersebut bila didorong tidak bergoyang.
d) Pasang kawat setelah papan lantai dipasang.
7. Langkah 7. Memasang Papan Lantai
a) Papan lantai sebelum dipasang dibor dahulu untuk lubang baut pengait.
b) Potong papan tersebut dibagian yang terkena gangguan tiang sandaran dan
plat kopel rangka lantai.
c) Pasang papan mengait pada batang memanjang rangka lantai
d) Pasang plat penjepit papan

B) PROSEDUR PELAKSANAAN JEMBATAN GANTUNG TIPE 30 M


Berikut ini adalah langkah demi langkah yang dianjurkan untuk diikuti dalam
melaksanakan pemasangan jembatan di lapangan.
Sebelum memulai langkah pertama, demi kelancaran pekerjaan dianjurkan untuk
mengadakan pemeriksaan secara menyeluruh sebagai berikut :

Bongkar peti-peti packing dan cocokan isi peti dengan packing list yang terlampir.
Periksa semua bahan yang perlu disediakan dilapangan.

Siapkan semua alat bantu yang diperlukan


Baca buku pedoman secara menyeluruh untuk mendapatkan gambaran cara

pemasangan
Periksa mur baut sesuai ukurannya masing-masing, dan pisahkan menurut
jenisnya.

Apabila segala sesuatunya telah siap, selanjutnya ikutilah prosedur berikut ini :
2 .1 .LANGKAH MENYIAPKAN PONDASI DAN BLOK ANGKUR.
Sebelum memulai pekerjaan bangunan bawah jembatan, perlu dipertimbangkan beberapa
hal dalam menempatkan jembatan gantung dan kaitannya dengan medan yang dijumpai
dilapangan.

Arah jembatan diusahakan tegak lurus dengan aliran sungai


Letakkan bangunan bawah blok angkur pada bagian tanah yang sudah stabil.
Jarak bangunan bawah dari tepi sungai harus cukup aman terhadap erosi atau

tanah longsor dengan jarak +5,00 meter dari bibir sungai.


Pada saat pengecoran blok angkur utama, harus diperhatikan sudut kemiringan
batang as waltermur utama yaitu 21,80 derajat terhadap bidang mendatar.

2 .2 .LANGKAH MERAKIT & MENDIRIKAN PORTAL


Sebelum mendirikan menara atau kolom perlu dipersiapkan alat-alat bantu seperti box
bantu, seling, tacle dan sebagainya, selanjutnya ikuti prosedur sebagai berikut :
1. Cor angkur portal pada bangunan bawah .
2. Dirikan box bantu
3. Dirikan kaki portal atau menara pada angkurnya
4. Pasang batang pengaku
5. Lanjutkan menyambung kaki menara atau portal ke segmen berikutnya.
6. Kencangkan semua baut yang ada.
7. Pasang dudukkan kabel ( sadel / roller)

2.3. LANGKAH MENARIK KABEL UTAMA

1.
2.
3.
4.
5.

Kuncikan ujung kabel utama pada blok angkur.


Tarik ujung kabel ke seberang sungai dengan bantuan seling yang dibentang.
Naikan kabel ke atas sadel atau dudukkan kabel dan pasang tutupnya.
Pasang ujung kabel ke blok angkur ujung yang satunya
Stel kabel utama dengan pesediaan resistan atau persediaan lenturan kabel sebelum
dan sesudah dibebani

2.4. LANGKAH MEMASANG HANGER UTAMA DAN GIRDER

Buatlah tangga gantung dari tambang atau bambu dan pasang pengait pada

ujungnya.
Gantungkan tangga pada kabel utama dan tali erat erat
Pasang hanger utama
Pasang angkur ujung jembatan
Stel rangkaian batang bawah
Stel batang vertikal ke batang bawah sekaligus pasangkan plat buhul
Stel batang melintang dan pagar.
Stel rangkaian batang bawah, batang vertikal dan batang melintang tersebut

dengan hanger utama.


Stel batang rangkaian atas ke rangkaian yang sudah tergantung tersebut, sekaligus

batang tegak sandaran.


Pasang batang-batang diagonal dan kencangkan semua baut.
Lanjutkan pada segmen berikutnya dangan langkah awal merangkai batang

bawah terlebih dahulu


Pelaksanaan pemasangan dapat dilakukan dari dua arah atau dari kedua ujung

jembatan
Kencangkan semua baut

2.5.LANGKAH MEMASANG RAILLING DAN STEL KELENGKUNGAN


Setelah struktur jembatan terpasang, maka langkah selanjutnya adalah memasang batang
sandaran (railling), stel kelengkungan dengan menggunakan walfer mur utama.
2.6. LANGKAH MEMASANG KABEL ANGIN

Bentangkan kabel angin dan tarik keseberang sungai


Pasang ikatan angin pada kabel angin
Kencangkan kabel angin kanan-kiri

2.7. LANGKAH MEMASANG PAPAN LANTAI JEMBATAN

Sebagai langkah terakhir dari pelaksanaan pemasangan jembatan gantung ini adalah
pemasangan papan lantai jembatan.

C) PROSEDUR PELAKSANAAN JEMBATAN GANTUNG TIPE 120 M

1. PERSIAPAN
1. Persiapan Alat
Tambang
Lier tangan, tackle kapasitas 3 ton, tackle 5 ton
Kunci pas/ ring

Kunci sock
Pipa atau box bantu
Roda katrol
Balok kayu atau batang kelapa

2. Pemeriksaan komponen
Periksa komponen sesuai dengan packing list terlampir; jumlahnya,

kodenya, dan jenisnya


Kumpulkan atau pisahkan komponen sesuai dengan jenis dan
ukurannya,

agar

tidak

terjadi

pencampuran

jenis,

mengakibatkan keterlambatan pelaksanaan pemasangan.


Misalhnya :
Komponen portal
Komponen girder
Komponen hanger
Dan lain sebagainya
2. LANGKAH KERJA
1. pekerjaan site plan
2. pekerjaan bangunan bawah/pondasi
3. pekerjaan pemasangan portal
4. pekerjaan pemasangan roller
5. pekerjaan pemasangan kabel utama
6. pekerjaan pemasangan hanger
7. pekerjaan merangkai pengaku girder dan batang tegak sandaran
8. pekerjaan pemasangan girder
9. pekerjaan pemeriksaan chamber
10. pekerjaan pemasangan sandaran
11. pekerjaan pemasangan lantai jembatan
12. pekerjaan pemeriksaan chamber kembali
13. pekerjaan pemasangan kabel angina dan ikatan angin
14. pekerjaan pengecoran plat injak
15. pemeriksaan akhir

A. PEKERJAAN SITE PLAN


1. Persiapan peralatan
theodolite atau waterpass
patok dari kayu atau bamboo
meterean
3. Langkah kerja

sehingga

Tentukan As jembatan gantung yaitu dari pondasi portal ke pondasi

portal yang satunya lagi dengan ketentuan yang berlaku


Penenttuan angkur block kabel utama yang perlu diperhatikan adalah
jarak antara pondasi dan kolom ke angkur block kabel utama tetapi
ini tidaklah mutlak, karena yang sangat menentukan dan perlu

diperhatikan adalah sudut kemiringan kabel utama yaitu 21.8 derajat


Menentukan pondasi kabel angina, yang perlu diperhatikan adalah
jarak antara pondasi kolom dengan pondasi kabel angin. Jika tidak
memungkinkan sesuai dengan gambar maka diperbolehkan untuk
merubah posisi atau kedudukan pondasi kabel angin.

B. PEKERJAAN BANGUNAN BAWAH ATAU PONDASI PORTAL


1. Persiapan alat

Cangkul
Meteran
Gergaji
Palu
Papan kayu
Kayu kaso
Paku secukupnya

2. Langkah Kerja

Tentukan lokasi yang akan dipergunakan untuk mendirikan pondasi


portal, dengen ketentuan jarak pondasi dari tepi sungai kurang lebih 5

m dari tepi sungai.


Mulailah mengagali sesuai dengan ukuran, bentuk dan struktur

pondasi portal
Siapkan alat alat bantu seperti, kayu, papan kayu, dan lain sebagainya

untuk persiapan pengecoran bagian bawah pondasi portal.


Siapkan juga bahan bahan pengecoran seperti, semen, pasir, kapur,

batu kali, batu kerikil, dan lain sebagainya.


Tentukan perbandingan bahan bahan adukan, sesuai dengan ketentuan
yang benar.

C. PEKERJAAN BLOK ANGKUR KABEL UTAMA


1. Persiapan peralatan
Cangkul
Meteran
Gergaji
Kayu kaso
Papan kayu
Palu
Paku secukupnya

2. Langkah Kerja
Tentukan lokasi atau tempat yang akan dipergunakan untuk

mendirikan blok angkur kabel utama.


Mulailah menggali sesuai dengan ukuran dan bentuk serta struktur

bangunan blok angkur kabel utama.


Siapkan dan pasang alat alat bantu seperti, kayu kaso, papan kayu, dan

lain sebagainya untuk persiapan pengecoran.


Pasang angkur utama pada kedudukannya.
Setelah angkur utama terpasang, pasanglah as waltemur sesuai dengan
ketentuan, agar nantinya bisa memudahkan dalam pemasangan kabel

baja utama.
Jika semua sudah terpasang dengan benar dan siap untuk dicor,
langsung dicor dengan adukan beton.

D.PEKERJAAN BLOK ANGKUR KABEL ANGIN


1. Persiapan peralatan
Cangkul
Meteran
Gergaji
Kayu kaso, papan
Palu
Paku secukupnya
2. langkah kerja
langkah pertama yang harus kita lakukan adalah menentukan lokasi
yang akan digunakan untuk mendirikan blok angkur kabel angin
sesuai deengan jarak yang diperbolehkan.

Mulailah menggali sesuai dengan ukuran dan bentuk


Kemudian pasanglah alat bantu untuk persiapan pengecoran
Kemudian pasanglah angkur dan as waltemur kabel angin
Bila semua sudah siap maka angkur mulai di cor

E. PEMASANGAN ANGKUR KOLOM


1. Persiapan Peralatan
Alat alat pengecoran
2. Langkah Kerja
Siapkan alat angkur kolom dengan jumlah 64 batang
Ukurlah sesuai dengan ketentuan posisi posisi angkur kolom
Pasang angkur kolom dengan posisi arah tekukan berlawanan
Jika semua angkur telah terpasang, maka mulai pengecoran

F. MENDIRIKAN KAKI PORTAL


1. Persiapan Peralatan
Lier
Tackle 3 ton
Pipa(box bantu +/- 12 m)
Tambang
Seling
Mur angkur dia 7/8 dengan jumlah 64 buah
2. Langkah kerja
Siapkan kaki portal dengan jumlah 32 batang dirikanlah pipa (box
bantu yang telah terpasang seling dan tackle 3 ton) yang berguna

untuk mendirikan kaki kaki portal


Periksalah bahwa pipa (box bantu itu benar benar aman, dan mampu
untuk mendirikan kaki portal, sehingga waktu pemasangan tidak

mengalami kecelakaan
Ikatlah seling ( rantai tackle 3 ton) tersebut pada kaki portal.
Mulailah pemasangan, paskan lubang kaki portal (plat yang telah

terpasang) dengan angkur kolom


Jika sudah terpasang, pasanglah mur angkur dia 7/8 lalu kencangkan.
Pasang kaki portal lainya satu persatu, untuk menyingkat waktu
pasanglah kaki portal untuk dua lokasi (dua pondasi) secara
bersamaan.

G. PEKERJAAN PEMASANGAN SEGMEN PORTAL


1. Persiapan peralatan
Tambang
Tackle
Kunci pas
Mur baut dia 5/8
2. Langkah Kerja
Apabila kaki portal telah terpasang semua, kemudian siapkan batang

diagonal dan batang daftar portal (P.1, P.5, s/d P.16)


Siapkan tambang dan tacle, lalu mulailah melakukan pemasangan,
dimulai dari batang portal (P.1, P.5, P.6, P.7, P.8) dan diteruskan

dengan batang diagonal portal


Setelah semua terpasang, kencangkan mur baut
Untuk mempersingkat waktu, pemasangan batang diagonal portal

kerjakan secara bersamaan untuk dua portal


Dalam melaksanakan pemasangan jangan lupa menggunakan alat
pengaman

H. PEKERJAAN PEMASANGAN ROLLER


1. Persiapan Peralatan
Kunci pas
Mur baut dia
Tacle
Tambang
2. Langkah Kerja
Naikkan roller dengan menggunakan tacle dan box bantu
Pasang dan paskan kedudukannya
Pasang mur baut dan kencangkan
Dalam pemasangan roller ini, tutupnya harus dibuka terlebih dahulu
Untuk mempersingkat waktu pemasangan roler ini dapat dilakukan

pada dua portal secara bersamaan


Dalam pemasangan jangan lupa menggunakan alat pengaman

I. PEKERJAAN PEMASANGAN KABEL UTAMA

1. Persiapan Peralatan
Tacle
Tambang
Drum/perahu
2. Langkah kerja
Setelah roller terpasang di portal, mulailah persiapan untuk

pemasangan kabel utama.


Langka pertama gulungan kabel utama harus dibuka terlebih dahulu,

kemudian kuncikan salah satu ujung kabel utama ke waltemur utama.


Dan untuk ujung yang satu lagi kita sebrangkan dengan menggunakan
alat ppenyebrangan yang ada

J. PEMASANGAN KABEL UTAMA KE ROLLER


1. Persiapan Peralatan
Tambang atau seling
Tacle
Katrol roda
Box bantu
2. Langkah Kerja
Jika ujung salah satu kabel telah terkunci diblok angkur dan ujung
satunya lagi telah disebrangkan maka kita bersiap untuk menaikkan

kabel utama ke roller


Terlebih dahulu kita ukur panjang kabel utama antara blok angkur ke

as portal
Untuk memudahkan dalam menaikkan kabel utama, terlebih dahulu
kabel dilengkungkan dan diikat dengan tambang, kemudian ditarik

keatas dengan menggunakan tacle yang sudah disiapkan sebelumnya


Setelah kabel berada diatas, masukkan kabel ke roller atau dudukan
kabel, kemudian lepaskan ikatan lengkungan kabel tadi dan roller pun
dipasang tutupnya.

K. PEKERJAAN PENYETELAN LAYOUT KABEL UTAMA


1. Persiapan peralatan
Tacle

Balok kayu
Seling atau tambang
2. Langkah Kerja
Putar waltemur
Apabila setelah diputar waltemur kabel utama ternyata masih kurang
juga maka kita kendorkan buldoggrip lalu tekukan kabel agak
dimajukan lebih kedepan

L.PEKERJAAN PEMASANGAN HANGER


1. Persiapan Peralatan
Tangga yang dibuat dari tambang atau bamboo
Tacle
Kunci pas dan kunci ring
Mur baut secukupnya

2. Langkah Kerja
Setelah kabel utama terpasang dan sesuai dengan aturan layoutnya,

siapkanlah batang batang hanger


Langkah pertama ialah dengan cara memasang hanger yang lebih
panjang atau hanger yang paling ujung dengan menggunakan tangga
yang terbuat dari tambang atau seling

M. PEKERJAAN MERANGKAI RANGKA PENGAKU GIRDER


1. Persiapan Peralatan
Kunci kunci
Tambang
Tacle
2. Langkah Kerja
Setelah hanger kita pasang maka kita mulai menyiapkan untuk

pemasangan rangka pengaku girder


Langkah pertama kita rangkai terlebih dahulu rangkaian pengaku
girder bawah, kemudian kita rangkai rangka pengaku girder vertical
lalu kita pasang di hanger

Setelah rangkaian tadi kita pasang di hanger, kemudian rangka

dipasang pengaku girder atas dan rangka pengaku girder diagonal


Pada saat pemasangan pengaku girder atas, sekalian kita pasang
batang tegak sandaran.

N. PEKERJAAN MERANGKAI GIRDER


1. Persiapan peralatan
Kunci pass
Tambang
Tacle
2. Langkah Kerja
Setelah rangka pengaku girder sudah terangkai siapkan batang batang

girder (L.54, L.55, L.56)


Pasang batang girder diatas rangka pengaku girder, dimulai dari kedua

ujung jembatan yang nantinya akan berakhir ditengah jembatan.


Adapun dalam merangkai batang ketiga lajur atau baris secara

bersamaan
Pada setiap pemasangan batang girder jangan lupa untuk di mur, dan

langsung dikencangkan
Jangan lupa memakai alat pengaman

O. PEKERJAAN PEMERIKSAAN CAMBER


1. Persiapan Peralatan
Theodolite atau waterpass
2. langkah kerja
pemeriksaan ini dilakukan setelah semua konstruksi atas selain papan

lantai sudah terpasang


pemeriksaan dimulai dari salah satu ujung jembatan dengan
menggunakan theodolite atau waterpass.

P. PEKERJAAN PEMASANGAN SANDARAN (RAILING)

1. Persiapan Peralatan
Kunci pass dan kunci ring
Mur baut
2. langkah kerja
apabila batang tegak sandaran sudah terpasang, siapkan batang

sandaran (S.1, S.2, S.3)


pada segmen kesatu, pasang terlebih dahulu batang sandaran ujung
(S.1) sebanyak 6 batang, yaitu untuk lajur kanan sebanyak 3 batang

dan untuk lajur kiri sebanyak 3 batang


pada segmen kedua, mulai memasang batang sandaran terusan (S.2)
pada segmen terakhir pasang batang S.3 seperti pada segmen kesatu

Q. PEKERJAAN PEMASANGAN PAPAN LANTAI


1. Persiapan Peralatan
Kunci pass dan kunci ring
Mur baut
Papan lantai
Plat pengait papan atau klem papan
2. Langkah Kerja
Siapkan papan lantai yang udah diserut atau dihaluskan dengan

standart ukuran tebal = 50 mm, lebar = 250 mm, panjang 1700 mm


Dalam pemasangan papan lantai sebaiknya dilakukan dari kedua belah
ujung jembatan yang nantinya akan bertemu ditengah jembatan. Hal
ini dimaksudkan agar beban jembatan selama pemasangan lantai dapat
seimbang, sehingga memudahkan dalam pemasangan dan menghemat
waktu

R. PEKERJAAN PEMASANGAN CAMBER KEMBALI


1. Persiapan Peralatan
Theodolite atau waterpass
2. Langkah kerja
Setelah sandaran dan papan lantai terpasang maka sebaiknya kita
adakan pemeriksaan terhadap camber kembali dengan cara yang sama
dengan cara pemeriksaan camber yang pertama tadi

S. PEKERJAAN PEMASANGAN KABEL ANGIN


1. Persiapan Peralatan
Tambang
Buldoggrip
Kunci pass dan kunci ring

2. Langkah Kerja
Buka gulungan kabel, kemudian bentangka sejajar bentang jembatan
Salah satu ujung kunci pada waltemur kabel angina, lalu pasang ikatan
kabel angina dengan catatan buldoggrip sudah terpasang dengan mur

baut belum dikencangkan


Ujung kabel yg belum terkunci ditarik dan dikuncikan pada waltemur

ujung satunya
Untuk mempercepat waktu pemasangan, stel kedua kabel angin secara
bersamaan, setelah semua kabel angina terpasang periksa kelurusan
dan goyangan jembatan

T. PEKERJAAN PENGECORAN PLAT INJAK


1. Persiapan Peralatan
Papan atau kayu
Paku secukupnya
Palu
2. Langkah Kerja
Setelah kabel angina dan ikatan kabel terpasang, dan bentangan
jembatan gantung telah lurus maka selanjutnya pengecoran plat injak
di ujung jembatan

U. PEKERJAAN PEMERIKSAAN AKHIR


1. Persiapan Peralatan
Waterpass atau theodolite
Meteran
2. Langkah Kerja
Setelah segalanya telah terpasang dan bentangan jembatan gantung
telah lurus maka yang harus kita lakukan adalah mengadakan
pemeriksaan menyeluruh atau pemeriksaan akhir

Pertama yang harus selalu diperiksa adalah kekencangan mur baut


Kemudian ketepatan camber
Kemudian kita periksakan kelendutan dan goyangan jembatan serta
kelurusan jembatan

BAB V
KESIMPULAN

Jembatan gantung saat ini mulai sering digunakan dalam dunia konstruksi
jembatan, terutama digunakan untuk jembatan dengan bentang yang panjang. Selain itu,
jembatan gantung juga biasa digunakan pada medan yang tidak memungkinkan untuk
membangun pilar di bawah jembatan. Konstruksi jembatan gantung bisa menjadi
alternatif yang tepat untuk membangun jembatan pada kondisi-kondisi di atas.

Konstruksi jembatan gantung memerlukan tahap perencanaan yang baik


karena memiliki komponen struktur yang cukup kompleks. Perencanaan yang diperlukan
pada konstruksi jembatan gantung antara lain perencanaan lantai jembatan, gelagar
memanjang, gelagar melintang, hanger, kabel utama, menara (pylon), angkur, dan,
pondasi. Perhitungan kabel jembatan gantung disesuaikan dengan spesifikasi yang
tersedia.
Selain perencanaan, konstruksi jembatan gantung juga membutuhkan metode
pelaksanaan yang baik. Metode pelaksanaan jembatan gantung dibedakan menjadi
beberapa tipe berdasarkan bentang jembatan. Pemilihan metode pelaksanaan yang tepat
akan memudahkan tahap pelaksanaan konstruksi.