Anda di halaman 1dari 47

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Seiring dengan perkembangan jaman dan kemajuan teknologi mendorong para

dosen untuk memberikan tugas berupa perancangan berbasis komputer/perancangan


menggunakan sofware. Pada tugas ini gedung pusat kegiatan mahasiswa dijadikan
pilihan untuk perancangan.
Perancangan ini memuat laporan perhitungan struktur untuk bangunan GEDUNG
PERKULIAHAN DAN ADMINISTRASI STIKES ACHMAD YANI CIMAHI yang akan didirikan
dikawasan kampus UNJANI, kota Cimahi.

1.2.

Lingkup Pekerjaan
Gedung ini terdiri dari 3 lantai dengan Ruang lingkup pekrjaan adalah sebagai

berikut:
1.

Perencanaan gording

2.

Perencanaan rangka atap

3.

Perencanaan tangga

4.

Perencanaan struktur utama

5.

Perencanaan pondasi

1.3

Software yang Digunakan


Pada proses desain/perhitungan digunakan software sebagai alat bantu yaitu:

1. ETABS 9.7.0
2. AUTOCAD 2008
3. SAP 2000 v.14
4. Micosoft office 2007

BAB II
KRITERIA DESAIN
2.1. Standar Acuan yang Digunakan

Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung 1987.

SNI 03-2847-2002, Tata cara perhitungan struktur beton untuk bangunan


gedung.

SNI 03-1729-2002, Tata cara perhitungan struktur baja untuk bangunan


gedung.

SNI 03-1726-2002, Standar perencanaan ketahanan gempa untuk struktur


bangunan gedung.

2.2. Data Teknis


Fungsi bangunan

Gedung Perkuliahan dan Administrasi

Jenis struktur

Beton bertulang

Sistem struktur

SRPMM (Sistem Rangka Pemikul Momen


Menengah)

Jumlah lantai

4 lantai

Tinggi lantai

3,80 m

Lokasi

Cimahi (Wilayah gempa IV)

Jenis tanah

Sedang

Sistem penghubung lantai

Tangga

Struktur atap

Rangka baja

2.3. Layout Struktur


Berikut ini adalah layout struktur yang direncanakan:

Gambar 2.1. Gambar Layout Lantai 1

Gambar 2.2. Gambar Layout Lantai 2

Gambar 2.3. Gambar Layout Lantai 3

Gambar 2.4. Gambar Layout Lantai 4

2.4. Spesifikasi Material


Mutu beton

fc = 30 MPa

Mutu baja

fy = 400 MPa

Mutu rangka

BJ 37
fy = 240 MPa
fu = 370 MPa

Mutu sengkang

fyu = 240 MPa

Modulus elastisitas baja

Es = 200000 MPa

Modulus elastisitas beton

Ec = 4700 fc Mpa

Berat jenis beton

b = 2400 kg/ m3

Berat jenis baja

c = 7850 kg/ m3

2.5. Sistem Konstruksi


Terdapat tiga sistem Konstruksi menurut SNI 03-1726-2002, yaitu:
a. SRPMB (Sistem Rangka Pemikul Momen Biasa), dipakai pada struktur
bangunan yang berada di lokasi wilayah gempa 1 dan 2.
b.

SRPMM (Sistem Rangka Pemikul Momen Menengah), dipakai pada struktur


bangunan yang berada di lokasi wilayah gempa 3 dan 4.

c.

SRPMK (Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus), dipakai pada struktur


bangunan yang berada di lokasi wilayah gempa 5 dan 6.

Karena lokasi struktur bangunan ini berada pada wilayah gempa 4, maka sistem
konstruksi yang digunakan adalah SRPMM (Sistem Rangka Pemikul Momen
Menengah).

BAB III
PEMODELAN STRUKTUR
3.1.

Preliminary Design
Kegiatan preliminary design dilakukan untuk mendapatkan dimensi penampang
balok, kolom, dan pelat.
3.1.1. Preliminary Design Balok

Gambar 3.1. Gambar Pemodelan Balok

Tabel 3.1. Tebal Minimum Balok Non-Prategang atau Pelat Satu Arah Bila Lendutan Tidak
Dihitung

Sumber: SNI 03-2847-2002

Tebal balok yang digunakan berdasarkan tabel di atas adalah:


Tebal minimum balok dengan satu ujung menerus
Tebal minimum balok dengan dua ujung menerus
Berdasarkan perhitungan di atas diambil tebal minimum yang terbesar, yaitu
389,189 mm. Namun ukuran tersebut dianggap terlalu kecil, maka tinggi
minimum balok yang akan digunakan diperbesar hingga 600 mm. Jika tinggi balok
sebesar 600 mm, menurut peraturan gempa untuk menentukan lebar balok
minimum berlaku b = h. Maka lebar minimum balok adalah (600 mm) = 300
mm.

Selanjutnya, ditentukan dimensi balok anak yaitu dengan tinggi 450 mm dan lebar
250 mm.

3.1.2. Preliminary Design Pelat


Untuk menentukan sistem pelat yang akan digunakan dalam perencanaan
ditentukan berdasarkan perbandingan antara panjang pelat dengan lebar pelat.

P/L = 3600/3600 mm = 1 P/L < 2 => digunakan sistem pelat dua arah.
Dengan menggunakan asumsi awal bahwa tebal pelat adalah 120 mm,
maka dilakukan analisis untuk mengetahui kekuatannya.

Panel 1

Menghitung alpha interior

Menghitung alpha interior

&

10

Menghitung alpha eksterior

11

Panel 2

Menghitung alpha interior

12

Menghitung alpha interior

13

Menghitung alpha eksterior

14

Menghitung alpha eksterior

Dari hasil perhitungan

kedua panel yang ditinjau, maka didapat :

Dari kedua nilai tersebut didapat rumusan untuk menghitung hmin pelat
berdasarkan nilai

yaitu:

15

Ln (bentang bersih terpanjang)

Sn (bentang bersih terpendek)

Dengan

, maka:

nilai tersebut merupakan nilai tebal minimum pelat. Dari hasil tersebut dapat
disimpulkan bahwa asumsi awal adalah sudah memenuhi (100 mm > 85,333
mm).

3.1.3. Preliminary Design Kolom


Untuk mendesain dimensi kolom, dipilih satu kolom yang diperkirakan akan
menerima beban yang paling besar, berikut dijelaskan pada gambar di bawah ini
yang dipilih sebagai tributary area untuk kolom.

16

Perhitungan Pu yang akan diterima oleh kolom


a.

Beban Mati (PDL)


Pelat

Balok x

Balok y

Kolom

Total PDL = 11701,44 kg


b.

Beban Hidup (PLL)


Total PLL =

c.

Beban Mati Tambahan (PSDL)


Keramik

Spesi

Pasir

Plafond

ME
Dinding

Total PSDL = 9866,8656 kg

17

Luas kolom perhitungan

Namun untuk dimensi kolom ditetapkan

18

dan

Gambar 3.2. Gambar Pemodelan Struktur

19

BAB IV
PEMBEBANAN
4.1.

Beban Mati (Dead Load)


Berat mati atau berat sendiri struktur didapat dari perhitungan secara otomatis

oleh program berdasarkan nilai berat jenis material yang digunakan. Material yang
diinputkan kedalam program adalah material baja dengan berat jenis 7850 kg/m3 dan
material beton dengan berat jenis beton sebesar 2400 kg/m3.
4.2.

Beban Mati Tambahan (Super Dead Load)


Beban mati tambahan adalah beban tambahan lain yang membebani struktur

secara tetap, antara lain finishing dan dinding. Dalam perencanaan ini, beban mati
tambahan yang diperhitungkan antara lain:

Beban keramik

= 24 kg/m2

Beban spesi per cm

= 21 kg/m2

Beban pasir

= 16 kg/m2

Beban plafond + penggantung

= 18 kg/m2

Mekanikal elektrikal

= 25 kg/m2

Beban dinding bata

= 250 kg/m2

4.3.

Beban Hidup (Live Load)


Sesuai dengan peraturan pembebanan Indonesia, nilai beban hidup untuk gedung

yang difungsikan sebagai gedung perkuliahan dan administrasi adalah sebesar 250
kg/m2. Dan beban hidup pada atap diperhitungkan sebesar 100 kg/m2 dan beban hidup
pada koridor diperhitungkan sebesar 300 kg/m2.

4.4.

Beban Gempa (Earthquake Load)


Analisis pembebanan gempa yang digunakan adalah analisis dinamik yaitu

menggunakan analisis respons spektrum. Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya


beban gempa antara lain:
a.

Faktor keutamaan struktur (I)


Faktor keutamaan struktur digunakan untuk memperbesar beban gempa
rencana, agar sistem struktur mampu untuk memikul beban gempa dengan

20

periode ulang yang lebih panjang. Bangunan gedung perkuliahan dan administrasi
adalah bangunan dengan faktor keutamaan 1.

b.

Faktor reduksi gempa (R)


Sistem struktur ini pada dasarnya memiliki rangka ruang pemikul beban
gravitasi secara lengkap, dimana beban lateral dipikul rangka pemikul momen
terutama melalui mekanisme lentur. Biasanya untuk Sistem Rangka Pemikul
Momen Menengah dari beton bertulang harga faktor daktilitas maksimum m =
3,3 dan faktor reduksi gempa maksimum Rm = 5,5.

c.

Faktor respon gempa (C)


Besarnya faktor respon gempa didapat dari diagram spektrum respons
gempa. Pemilihan dan penggunaan diagram spektrum respons gempa didasarkan
pada zona gempa dan jenis tanah.
Faktor wilayah gempa dimaksudkan untuk memperhitungkan pengaruh dari
beban gempa pada suatu wilayah tertentu. Penentuan zona gempa menurut
lokasi pembangunan gedung tersebut yaitu di kawasan Cimahi dan berdasarkan
peta wilayah kegempaan, wilayah tersebut termasuk dalam zona 4 dengan jenis
tanah sedang.

Gambar 4.1. Peta Wilayah Gempa

21

Gambar 4.2. Kurva Respons Spektum

4.5.

Aplikasi Pembebanan Pada Model


Berikut ini akan diberikan tampilan input akibat beban luar pada model struktur.

Gambar 0.3. Beban Mati Tambahan Lantai 1

22

Gambar 0.4. Beban Mati Tambahan Lantai 2

Gambar 0.5. Beban Mati Tambahan Lantai 3

Gambar 0.6. Beban Mati Tambahan Lantai 4

23

Gambar 0.7. Beban Hidup Lantai 1

Gambar 0.8. Beban Hidup Lantai 2

Gambar 0.9.Beban Hidup Lantai 3

24

Gambar 0.10. Beban Hidup Lantai 4

Gambar 0.11. Beban Dinding

Gambar 0.62. Beban Atap

25

4.6.

Kombinasi Pembebanan
Kombinasi pembebanan dibuat berdasarkan beban-beban rencana yang akan
terjadi pada struktur gedung. Adapun kombinasi yang digunakan adalah sebagai berikut:
Untuk Struktur Atas
a.

Tinjauan gravitasi
q = 1,4 DL + 1,4 SDL
q = 1,4 DL + 1,4 SDL
q = 1,2 DL + 1,2 SDL + 1,6 LL

b.

Tinjauan dinamis
q = 1,2 DL + 1,2 SDL + 1,0 LL 1,0 Eq-X 0,3 Eq-Y
q = 1,2 DL + 1,2 SDL + 1,0 LL 0,3 Eq-X 1,0 Eq-Y
q = 0,9 DL + 0,9 SDL 1,0 Eq-X 0,3 Eq-Y
q = 0,9 DL + 0,9 SDL 0,3 Eq-X 1,0 Eq-Y
dimana,
DL
SDL
LL
Eq-X
Eq-Y

: Beban mati
: Baban mati tambahan
: Beban hidup
: Beban gempa arahX
: Beban gempa arahY

26

BAB V
ANALISIS STRUKTUR
5.1.

Analisis Modal

Analisis modal dilakukan untuk mendapatkan nilai perioda getar alami struktur.
Perioda getar alami struktur (T) dapat ditentukan dengan bantuan program ETABS.
Dalam hal ini perioda bangunan pada saat mode1 dominan untuk arah-x dan mode2
dominan untuk arah-y. Nilai perioda struktur yang dihasilkan adalah sebagai berikut.
Tabel 0.1. Perioda Alami Struktur

Untuk mencegah penggunaan struktur gedung yang terlalu fleksibel, nilai waktu
getar alami fundamental (T1) dari struktur gedung harus dibatasi, bergantung pada
koefisien untuk wilayah gempa tempat struktur gedung berada dan tinggi bangunan
yang kemudian dievaluasi menurut SNI 03-1726-2002 pasal 5.6 tentang pembatasan
waktu getar alami fundamental. Diperoleh nilai T1 adalah sebagai berikut:
Nilai T yang diperoleh untuk arah-x ternyata lebih besar dari batas waktu getar
alami (T1), maka untuk perhitungan mendapatkan nilai faktor respons gempa digunakan
nilai T1 sebesar 0,68 detik.
5.2.

Evaluasi Beban Gempa


Evaluasi beban gempa menggunakan persamaan

. Dimana nilai R

adalah sebesar 5,5. Berat struktur diperoleh dengan menghitung beban mati sebesar
100% dan beban hidup sebesar 30% sehingga berat struktur didapat sebesar
387777,481 kg.
Pasal 7.1.3 SNI 03-1726-2003 menyatakan bahwa nilai akhir respons dinamik
struktur bangunan gedung terhadap pembebanan gempa nominal dalam suatu arah
tertentu, tidak boleh diambil kurang dari 80 % nilai respons ragam yang pertama. Oleh
karena itu, harus dilakukan pengecekan terhadap nilai gaya geser yang terjadi. Jika tidak
memenuhi, maka harus dikalikan dengan faktor koreksi sebesar

dimana V1 adalah

gaya geser dasar dengan analisis statik dan VRSP adalah gaya geser dasar dengan analisis
dinamik.

27

Tabel 0.2. Pengecekan Gaya Geser

Nilai gaya geser yang ditinjau pada sistem struktur tersebut belum memenuhi
persyaratan SNI, maka nilai gaya geser tersebut perlu dikalikan dengan faktor
koreksi. Perhitungan gaya geser setelah dikalikan faktor koreksi adalah sebagai
berikut:
Arah x = 310221,9848/226733,24 = 1,37
Arah y = 310221,9848/169705,83 = 1,83
Tabel 0.2. Pengecekan Gaya Geser Setelah dikalikan Faktor Koreksi

Nilai gaya geser tanpa dikalikan faktor koreksi sudah memenuhi persyaratan SNI.
5.3.

Evaluasi Kinerja Struktur


5.3.1. Evaluasi Kinerja Batas Layan
Kinerja batas layan struktur bangunan gedung ditentukan oleh simpangan
antar tingkat akibat pengaruh gempa nominal yang telah dikalikan dengan faktor
skala. Untuk memenuhi persyaratan kinerja batas layan struktur bangunan
gedung, dalam segala hal simpangan antar tingkat yang dihitung dari simpangan
struktur bangunan gedung menurut pasal 8.1.1 tidak boleh melampaui 0,03/R kali
tinggi tingkat yang bersangkutan atau 30 mm, tergantung mana yang nilainya
lebih kecil.
Tabel 0.3. Simpangan Arah-X (Batas Layan)

28

Tabel 0.4. Simpangan Arah-Y (Batas Layan)

Simpangan antar tingkat untuk masing-masing sistem struktur lebih kecil


dari persyaratan simpangan maksimum untuk kinerja batas layan berdasarkan SNI
03-1726-2002.
5.3.2. Evaluasi Kinerja Batas Ultimit
Kinerja batas ultimit struktur bangunan gedung ditentukan oleh simpangan
dan simpangan antar tingkat maksimum struktur bangunan gedung akibat
pengaruh gempa rencana, yaitu untuk membatasi kemungkinan terjadinya
keruntuhan struktur bangunan gedung yang dapat menimbulkan korban jiwa
manusia dan untuk mencegah benturan berbahaya antar gedung atau antar
bagian struktur bangunan gedung yang dipisah oleh sela pemisah (sela dilatasi).
Sesuai Pasal 4.4.3 SNI 03-1726-2002, simpangan dan simpangan antar tingkat
harus dihitung dari simpangan struktur bangunan gedung akibat pembebanan
gempa nominal, dikalikan dengan suatu faktor pengali
struktur bangunan gedung beraturan adalah

dengan ketentuan untuk


dan untuk segala hal

simpangan antar tingkat yang dihitung tidak boleh melampaui 0,02 kali tinggi
tingkat yang bersangkutan.
Tabel 0.5. Simpangan Arah-X (Batas Ultimate)

Tabel 0.6. Simpangan Arah-Y (Batas Ultimate)

29

Kedua sistem struktur memenuhi syarat kinerja batas ultimit karena nilai
simpangan ultimit yang terjadi berada dibawah nilai batas yang ditentukan SNI 031726-2002.
5.4.

Perencanaan Struktur Atap


5.4.1. Model Struktur Atap

Gambar 5.1. Denah Atap

Dari denah rangka atap di atas terdapat beberapa tipe atap yang digunakan.
Dalam proses pendesainan, diambil tipe atap yang dominan dan terbesar, yaitu
tipe rangka atap 1. Dan berikut gambar rangka yang digunakan:

30

Gambar 5.2. Rangka Atap Tipe 1

5.4.2. Perencanaan Struktur Rangka Atap


Proses pendesainan menggunakan software SAP 2000 v.14.

Perencanaan Pembebanan Gording


Data struktur
Jarak kuda-kuda

: 3,6 meter

Kemiringan

: 26

Lebar bentang

: 18 meter

Mutu bahan

: BJ 37

Penutup atap

: Beton

Jarak antar gording

= 26
x = 0,9
tan = y : x y = 0,439 m

Gording menggunakan profil kanal C.125.50.20.3,2


Berikut data profil untuk gording: q

= 6,76 kg/m

= 8,607 cm2

Zx

= 37,4 cm3

Zy

= 8,19 cm3

Perhitungan Dimensi Pembebanan Gording

31

Beban Kerja

Akibat Beban Mati


Berat sendiri

= 6,76 kg/m

Berat penutup mata

Total beban mati

= 56,76 kg/m

Akibat Beban Hidup

= 100 kg

Akibat Beban Hujan


Koefisien tekanan akibat air hujan

=
=
= 19,2 kg/m

Beban akibat hujan

Akibat Beban Angin


Beban tekanan angin diperhitungakn 40 kg/m2.

Resume Beban Kerja:

Beban Ultimate

32

Fy

= cos

Fx

= sin

Sumbu X

Sumbu Y

Resume beban ultimate:

Dipasang 1 trekstang, maka:

Persyaratan Konstruksi

OK!

33

Perhitungan Struktur Kuda-kuda


Beban mati
Beban hidup
Beban hujan
Beban angin
Beban angin

Selanjutnya beban-beban struktur kuda-kuda di atas dimasukkan kedalam perhitungan


dan pemodelan beban kombinasi menggunakan software SAP 200 v.14. Berikut adalah
kombinasi yang digunakkan:

1,4 DL

1,2 DL + 05 LL

1,2 DL + 0,5 RL

1,2 DL + 1,6 LL + 0,8 WL1

1,2 DL + 1,6 RL + 0,8 WL1

1,2 DL + 1,6 LL + 0,8 WL2

1,2 DL + 1,6 RL + 0,8 WL2

1,2 DL + 1,3 WL1 + 0,5 LL

1,2 DL + 1,3 WL1 + 0,5 RL

1,2 DL + 1,3 WL2 + 0,5 LL

1,2 DL + 1,3 WL2 + 0,5 RL

Gambar 5.3. Pemodelan Rangka


Dari kombinasi di atas didapat kombinasi terbesar, dengan kombinasi tersebut didapatkan
gaya reaksi pada perletakan yaitu

34

Pada sumbu X sebesar 3579,85 kg dan pada sumbu Y sebesar 5644 kg.
Perhitungan beban terhadap sumbu Y dimasukan kedalam perhitungan kolom.

Display Hasil Program SAP 2000 v.14

Gambar 5.4. Frame Section

Gambar 5.5. Detail Frame Section

35

Gambar 5.6. Bentuk Deformasi Rangka

Gambar 5.7. Diagram Momen

Gambar 5.8. Diagram Geser

Gambar 5.9. Diagram Gaya Aksial

Gambar 5.10. Beban Mati

36

Gambar 5.11. Beban Hidup

Gambar 5.12. Beban Hujan

Gambar 5.13. Beban Angin Tekan

Gambar 5.14. Beban Angin Isap

37

Gambar 5.15. Detail Reaksi Perletakan

5.5.

Perencanaan Tangga
5.5.1. Model Tangga

Gambar 5.16. Model Tangga

Gambar 5.17. Model Pembebanan Beban Hidup

Gambar 5.18. Model Pembebanan Beban Mati


Tambahan

38

Gambar 5.19. Reaksi Perletakan Tangga

5.5.2. Perencanaan Tulangan Tangga

Gambar 5.20. Luasan Tulangan Tangga

Tabel 5.7. Konfigurasi Tulangan Tangga

5.6.

Perencanaan Struktur Utama


Perencanaan struktur utama meliputi perencanaan penulangan pada pelat,
balok, dan kolom berdasarkan gaya dalam yang terjadi pada elemen struktur.

39

5.6.1. Perencanaan Pelat


5.6.2. Perencanaan Tulangan Balok dan Kolom
Penulangan pada balok didasarkan pada gaya dalam maksimum elemen
struktur setiap lantainya. Gaya dalam tersebut digunakan untuk menghitung
jumlah tulangan yang diperlukan. Berikut akan diberikan rekapitulasi gaya dalam
maksimum di setiap lantai. Untuk perhitungan gaya-gaya dalam dan perhitungan
tulangan dari balok dan kolom dapat dilihat pada lampiran.
Tabel 5.8. Gaya Dalam Balok

Tabel 5.9 Gaya Dalam Pada Kolom

40

BAB VI
DESAIN ELEMEN STRUKTUR
6.1.

Rekaputilasi Dimensi Atap

Berikut adalah rekapitulasi dimensi dan panjang las struktur rangka atap baja.
Perhitungan dengan menggunakan program SAP 2000, output selengkapnya dapat
dilihat pada lampiran.

Gambar 6.1. Rekapitulasi Dimensi Rangka Atap

Tabel 6.2. Rekapitulasi Dimensi Rangka Atap


(halaman berikutnya)

41

Nama
Batang

Dimensi
Batang
(mm)

Jumlah
Pelat
Kopel
(buah)

Panjang
Las
(t = 4 mm)
(mm)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50

2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L40.40.4
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40

Nama
Batang

Dimensi
Batang
(mm)

Jumlah
Pelat
Kopel
(buah)

Panjang
Las
(t = 4 mm)
(mm)

51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101

2L30.30.3
2L40.40.4
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3
2L30.30.3

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40
40

42

6.2. Rekapitulasi Penulangan Tangga


Berikut adalah rekapitulasi penulangan tangga. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat
pada lampiran.
Tabel 6.2. Rekapitulasi Penulangan Tangga

6.3. Rekapitulasi Penulangan Pelat


Berikut adalah rekapitulasi penulangan pada pelat lantai dan pelat dak. Perhitungan
selengkapnya dapat dilihat pada lampiran.
Tabel 6.3. Rekapitulasi Penulangan Pelat

6.4.

Rekapitulasi Penulangan Balok


Berikut adalah rekapitulasi penulangan balok. Perhitungan selengkapnya dapat
dilihat pada lampiran.
LANTAI 1

Gambar 6.2. Denah Pembalokan Lantai 1

43

Tabel 6.5 Rekapitulasi Penulangan Balok Utama Lantai 1

LANTAI 2

Gambar 6.3. Denah Pembalokan Lantai 2

44

Tabel 6.6. Rekapitulasi Penulangan Balok Utama Lantai 2

LANTAI 3

Gambar 6.4. Denah Pembalokan Lantai 3

45

Tabel 6.7. Rekapitulasi Penulangan Balok Utama Lantai 3

LANTAI 4

Gambar 6.5. Denah Pembalokan Lantai 4

46

Tabel 6.8. Rekapitulasi Penulangan Balok Utama Lantai 4

6.5.

Rekapitulasi Penulangan Kolom


Berikut adalah rekapitulasi penulangan kolom. Perhitungan selengkapnya dapat
dilihat pada lampiran.
Tabel 6.9. Rekapitulasi Penulangan Kolom

47