Anda di halaman 1dari 37
Laporan Perancangan Bangunan Gedung BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Letak geografis wilayah Indonesia yang

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Letak geografis wilayah Indonesia yang berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama: lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Filiphina menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki potensi aktivitas seismik cukup tinggi dan rawan terhadap bahaya gempa. Disebabkan oleh tingginya aktivitas seismik tersebut, maka dalam perencanaan bangunan di Indonesia harus memperhitungkan aspek-aspek kegempaan disamping tinjauan

aspek-aspek pembebanan lainnya. Struktur Beton bertulang merupakan jenis struktur yang paling banyak

digunakan. Untuk keperluan perencanaan struktur beton bertulang, ada tiga aspek yang perlu diperhatikan, yaitu:

- Perhitungan mekanika gaya dari sistem struktur akibat pembebanan

- Perhitungan jumlah tulangan yang diperlukan oleh elemen-elemen struktur

- Penempatan dan pemasangan tulangan pada struktur

Selain pemahaman yang baik mengenai konsep dan teori dari struktur beton

bertulang, beberapa hal yang perlu dipersiapkan:

- Standar pembebanan dan standar beton yang berlaku

- Software yang digunakan.

1.2 Tujuan Tujuan dari laporan ini :

1. Mengetahui perilaku struktur rangka beton bertulang bertingkat yang direncanakan dengan SRPMM

Laporan Perancangan Bangunan Gedung 2. Mengetahui kebutuhan luasan dan penempatan tulangan lentur dan geser pada

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

2. Mengetahui kebutuhan luasan dan penempatan tulangan lentur dan geser pada balok

3. Mengetahui Kebutuhan luasan dan penempatan tulangan pada kolom

4. Mengetahui Kebutuhan luasan dan penempatan tulangan pada pelat

5. Mengetahui Kebutuhan luasan dan penempatan tulangan pada tangga

1.3 Peraturan dan Standar Perencanaan Yang Digunakan

Beberapa peraturan dan standar perencanaan yang berlaku di Indonesia dijadikan acuan untuk menganalisis struktur Condotel Bukit Vipassana Lembang. Peraturan dan standar perencanaan yang digunakan adalah sebagai beriikut :

1.

SNI-03-1729-2002 : Tata Cara Perencanaan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung.

2.

SNI-03-2847-2002 : Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung.

3.

SNI-03-1726-2012 : Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung.

4.

Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung PPPRUG

1987.

1.4

Software Yang Digunakan Untuk memudahkan proses analisis struktur Condotel Bukit Vipassana

Lembang, digunakan beberapa software untuk membantu proses analisis. Software yang digunakan adalah sebagai berikut :

1. ETABS 2013 digunakan untuk melakukan analisis portal yang terdiri dari

balok, kolom, dan pelat.

2. SAP V.14.00 digunakan untuk melakukan analisis atap dan tangga.

Laporan Perancangan Bangunan Gedung 3. AutoCad 2013 digunakan untuk menggambar gambar desain dan gambar detail

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

3. AutoCad 2013 digunakan untuk menggambar gambar desain dan gambar detail balok dan kolom.

4. Microsoft Excel 2007 digunakan untuk pengecekan hasil perhitungan analisis struktur.

Laporan Perancangan Bangunan Gedung BAB II KRITERIA DESAIN 2.1 Deskripsi Gedung Fungsi Gedung Jenis Struktur

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

BAB II KRITERIA DESAIN

2.1 Deskripsi Gedung Fungsi Gedung Jenis Struktur Sistem Struktur

Jumlah Lantai Tinggi Lantai Tipikal Tinggi Lantai Ballroom Lokasi Jenis Tanah Sistem Penghubung Lantai Struktur Atap

2.2 Asumsi Yang Digunakan

: Condotel : Beton Bertulang : Sistem Rangka Pemikul Momen Menengah (SRPMM) : 6 : 3,7 m : 4,97 m : Lembang, Bandung Barat : Sedang : Tangga dan Lift : Single Beam dan Dak Beton

a. Efek P-delta diabaikan.

b. Pelat lantai dianggap sebagai membrane.

c. Pondasi dianggap jepit.

2.3 Model Struktur Berikut adalah pemodelan struktur Condotel Bukit Vipassana Lembang

yang dilakukan di ETABS 2013.

Laporan Perancangan Bangunan Gedung Gambar Denah Lantai 1 Gambar Denah Lantai 2-4 Gambar Denah Lantai

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

Laporan Perancangan Bangunan Gedung Gambar Denah Lantai 1 Gambar Denah Lantai 2-4 Gambar Denah Lantai 5

Gambar Denah Lantai 1

Laporan Perancangan Bangunan Gedung Gambar Denah Lantai 1 Gambar Denah Lantai 2-4 Gambar Denah Lantai 5

Gambar Denah Lantai 2-4

Laporan Perancangan Bangunan Gedung Gambar Denah Lantai 1 Gambar Denah Lantai 2-4 Gambar Denah Lantai 5

Gambar Denah Lantai 5

Laporan Perancangan Bangunan Gedung Gambar Denah Lantai 1 Gambar Denah Lantai 2-4 Gambar Denah Lantai 5
Laporan Perancangan Bangunan Gedung Gambar Denah Lantai 6 (Ballroom) Gambar Denah Atap 2.4 Kriteria Material

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

Gambar Denah Lantai 6 (Ballroom)

Perancangan Bangunan Gedung Gambar Denah Lantai 6 (Ballroom) Gambar Denah Atap 2.4 Kriteria Material Material yang

Gambar Denah Atap

2.4 Kriteria Material

Material yang digunakan dalam perancangan portal bangunan condotel terdiri dari beton dan baja tulangan. Sedangkan untuk perancangan atap material yang digunakan adalah baja profil. Berikut spesifikasi masing-masing

material :

Beton Kuat beton yang diisyaratkan, fc’

Modulus elastisitas beton, Ec Poison ratio, v

MPa

Baja Tulangan Modulus Elastisitas Baja, Es Mutu Baja Tulangan Geser Mutu Baja Tulangan Lentur

Mpa Mpa (BJTP 24) Mpa (BJTU 40)

Baja Profil Modulus Elastisitas Baja, Es

Mpa

2.5

Kriteria Pembebanan

a. Beban Mati Sendiri (Dead Load)

Laporan Perancangan Bangunan Gedung Beban mati adalah beban dengan besar yang konstan dan berada pada

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

Beban mati adalah beban dengan besar yang konstan dan berada pada posisi yang sama setiap saat. Beban mati sendiri meliputi berat balok, kolom, shear wall, dan pelat lantai. Beban mati sendiri dihitung secara otomatis oleh ETABS 2013.

b. Beban Mati Tambahan (Superimposed Dead Load)

Beban mati tambahan, adalah berat seluruh bahan yang menimbulkan suatu beban pada struktur dan mungkin besarnya berubah selama umur struktur. Beban SDL pada struktur ditunjukan pada tabel berikut.

No

Jenis Beban SDL

Berat

Satuan

1

Pasir

1600

Kg/m 3

2

Spesi

2200

Kg/m 3

3

Keramik

24

Kg/m 2

4

Plafond

18

Kg/m 2

5

Instalasi M/E

25

Kg/m 2

6

Genteng Metal

30

Kg/m 2

7

Dinding ½ bata

250

Kg/m 2

Beban SDL yang bekerja pada lantai 1-6 meliputi :

Pasir dengan tebal 1 cm Spesi dengan tebal 2,5 cm Keramik Plafond Instalasi M/E Total beban SDL yang bekerja Beban SDL yang bekerja pada balok meliputi :

Beban dinding ½ bata

c. Beban Hidup (Live Load)

kg/m

kg/m

kg/m

kg/m

2

2

2

2

kg/m 2

kg/m 2

kg/m 2

Laporan Perancangan Bangunan Gedung Beban hidup adalah beban yang besar dan posisinya dapat berubah- ubah.

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

Beban hidup adalah beban yang besar dan posisinya dapat berubah- ubah. Beban hidup yang bekerja sesuai PPPRUG 1987 untuk condotel adalah sebagai berikut :

Lantai 1-5 Lantai 6 (ballroom) Koridor dan balkon Dak

kg/m

kg/m

kg/m

kg/m

2

2

2

2

d. Beban Gempa

Beban Gempa yang digunakan adalah analisis respon spektrum. Berdasarkan SNI-03-1726-2012 untuk struktur yang berfungsi sebagai hotel masuk kedalam kategori risiko bangunan gedung II dengan faktor keamanan gempa (I e ) 1,0.

Tabel Kategori Risiko Bangunan

gempa (I e ) 1,0. Tabel Kategori Risiko Bangunan Tabel Faktor Keamanan Gempa Kondisi tanah tempat

Tabel Faktor Keamanan Gempa

Tabel Kategori Risiko Bangunan Tabel Faktor Keamanan Gempa Kondisi tanah tempat condotel ini dibangun termasuk dalam

Kondisi tanah tempat condotel ini dibangun termasuk dalam klasifikasi situs SD (tanah sedang). Berdasarkan data-data tersebut maka didapat respon spektra untuk daerah lembang yang ditunjukan dalam gambar berikut.

Laporan Perancangan Bangunan Gedung Gambar Respon Spektra Daerah Lembang Dengan Jenis Batuan Tanah Sedang Data-data

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

Laporan Perancangan Bangunan Gedung Gambar Respon Spektra Daerah Lembang Dengan Jenis Batuan Tanah Sedang Data-data yang

Gambar Respon Spektra Daerah Lembang Dengan Jenis Batuan Tanah Sedang

Data-data yang terkait dengan respons spektra dicantumkan dalam tabel berikut.

Variabel

Nilai

PGA (g)

0,600

S S (g)

1,500

S 1 (g)

0,595

C RS

0,894

C R1

0,902

F PGA

1,000

F A

1,000

F V

1,500

PSA (g)

0,600

S MS (g)

1,500

S M1

0,892

S DS (g)

1,000

S D1 (g)

0,595

T0 (detik)

0,119

Ts (detik)

0,595

Laporan Perancangan Bangunan Gedung Struktur harus ditetapkan memiliki suatu kategori desain seismik yang mengikuti pasal

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

Struktur harus ditetapkan memiliki suatu kategori desain seismik yang mengikuti pasal 6.5 SNI-03-1726-2012. Apabila S1 lebih kecil dari 0,75, kategori desain seismik diijinkan untuk ditentukan sesuai dgn tabel berikut.

seismik diijinkan untuk ditentukan sesuai dgn tabel berikut. Condotel Bukit Vipassana dirancang sebagai Sistem Rangka
seismik diijinkan untuk ditentukan sesuai dgn tabel berikut. Condotel Bukit Vipassana dirancang sebagai Sistem Rangka

Condotel Bukit Vipassana dirancang sebagai Sistem Rangka Pemikul Momen Menengah. Sistem penahan-gaya gempa yang berbeda diijinkan untuk digunakan, untuk menahan gaya gempa di masing-masing arah kedua sumbu ortogonal struktur. Bila sistem yang berbeda digunakan, masing-masing nilai R ,C d b , dan Ω 0 g harus dikenakan pada setiap sistem.

Laporan Perancangan Bangunan Gedung Dalam software ETABS 2013 kurva respon spektra harus didefinisikan spectrum case

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

Laporan Perancangan Bangunan Gedung Dalam software ETABS 2013 kurva respon spektra harus didefinisikan spectrum case .
Laporan Perancangan Bangunan Gedung Dalam software ETABS 2013 kurva respon spektra harus didefinisikan spectrum case .

Dalam software ETABS 2013 kurva respon spektra harus didefinisikan spectrum case. Data yang harus diinput adalah sebagai berikut :

Redaman struktur beton (dumping)

0,05

 

CQC (apabila selisih waktu getar

Modal Combination

<15%)

SRSS (apabila selisih waktu getar

15%<

Faktor skala gempa [ (GxI e )/R]

1,23

e. Beban Pada Tangga Data Teknis Tangga Lebar Tangga Tinggi Tangga Lebar Langkah Datar (Antrede) Lebar Langkah Naik (Optrede) Jumlah Anak Tangga

: 1.25 m : 1.85 m : 30 cm : 18,5 cm : 10 buah

Laporan Perancangan Bangunan Gedung Tebal pelat tangga : 25 cm Gambar Komponen Tangga Beban Pada

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

Tebal pelat tangga

: 25 cm

Perancangan Bangunan Gedung Tebal pelat tangga : 25 cm Gambar Komponen Tangga Beban Pada Tangga 1.

Gambar Komponen Tangga

Beban Pada Tangga

1. Beban pada pelat tangga

- Berat finishing lantai (spesi dan keamik) tebal 5 cm

= 0.05 x 22

= 1.1

KN

- Beban mati total trap beton

= 0.5 x 0.3 x 0.185 x 10 x 1.25 = 0.35 KN

- Berat besi pegangan (handrail)

P SDL

- Beban hidup (q LL )

2. Beban pada Bordes

= 0.1

KN +

= 1.55 KN

= 3 KN/m 2

- Berat finishing lantai (spesi dan keamik) tebal 5 cm

= 0.05 x 22

P SDL

- Beban hidup (q LL )

= 1.1 KN +

= 1.1 KN

= 3 KN/m 2

Berikut

adalah

hasil

analisis

tangga

menggunakan

program

SAP

V.14.00.

Tabel Reaksi Perletakan

F3

kN

Joint

1

32,137

Laporan Perancangan Bangunan Gedung 2 35,281 5 12,527 6 3,313 7 36,758 8 29,03 9

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

2

35,281

5

12,527

6

3,313

7

36,758

8

29,03

9

22,876

f.

Beban Atap Data Teknis Atap

Jarak Kuda Kuda

=

4

m

Kemiringan Atap Lebar

21 o

= = 12 m

 

Mutu Bahan

=

Bj 37

Penutup atap Genteng Metal

=

q =

30

Kg/m 2

Dimensi Gording Dimensi Kuda-Kuda

= C 150 x 75 x 9 x 12,5 = IWF 150 x 10 x 7 x 10

Type Atap

= Single Beam

Beban Pada Atap Beban SDL yang bekerja pada atap meliputi :

Genteng Metal

kg/m 2

Beban Hidup

kg

Beban Hujan

 

kg/m

2

Beban Angin Hisap

kg/m

2

Beban Angin Tekan

kg/m 2

Berdasarkan analisis SAP V14.00 didapatkan reaksi perletakkan sebesar 7370,49 kg.

Laporan Perancangan Bangunan Gedung Gambar Reaksi Perletakkan g. Kombinasi Pembebanan Kombinasi pembebanan yang digunakan

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

Laporan Perancangan Bangunan Gedung Gambar Reaksi Perletakkan g. Kombinasi Pembebanan Kombinasi pembebanan yang digunakan

Gambar Reaksi Perletakkan

g. Kombinasi Pembebanan

Kombinasi pembebanan yang digunakan adalah kombinasi pembebanan metoda ultimit. 1,4 DL + 1,4 SDL 1,2 DL + 1,2 SDL + 1,6 LL

1,2 DL + 1,2 SDL + 1,0 LL + 1,0 Ex + 0,3 Ey 1,2 DL + 1,2 SDL + 1,0 LL + 1,0 Ex - 0,3 Ey 1,2 DL + 1,2 SDL + 1,0 LL - 1,0 Ex + 0,3 Ey 1,2 DL + 1,2 SDL + 1,0 LL - 1,0 Ex - 0,3 Ey 1,2 DL + 1,2 SDL + 1,0 LL + 0,3 Ex + 1,0 Ey 1,2 DL + 1,2 SDL + 1,0 LL + 0,3 Ex - 1,0 Ey 1,2 DL + 1,2 SDL + 1,0 LL - 0,3 Ex + 1,0 Ey 1,2 DL + 1,2 SDL + 1,0 LL - 0,3 Ex - 1,0 Ey 0,9 DL + 0,9 SDL + 1,0 Ex + 0,3 Ey 0,9 DL + 0,9 SDL + 1,0 Ex - 0,3 Ey 0,9 DL + 0,9 SDL - 1,0 Ex + 0,3 Ey 0,9 DL + 0,9 SDL - 1,0 Ex - 0,3 Ey

Laporan Perancangan Bangunan Gedung 0,9 DL + 0,9 SDL + 0,3 Ex + 1,0 Ey

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

0,9 DL + 0,9 SDL + 0,3 Ex + 1,0 Ey 0,9 DL + 0,9 SDL + 0,3 Ex - 1,0 Ey 0,9 DL + 0,9 SDL - 0,3 Ex + 1,0 Ey 0,9 DL + 0,9 SDL - 0,3 Ex - 1,0 Ey

Laporan Perancangan Bangunan Gedung BAB III PRELIMINARY DESAIN 3.1 Balok SNI 03-2847-2002 mengatur mengenai tinggi

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

BAB III PRELIMINARY DESAIN

3.1 Balok SNI 03-2847-2002 mengatur mengenai tinggi minimum balok dan pelat yang diizinkan jikalau tidak dilakukan kontrol terhadap lendutan. Hal tersebut diatur dalam pasal 11.5 Tabel 8.

lendutan. Hal tersebut diatur dalam pasal 11.5 Tabel 8. a. Balok Induk Secara umum, balok induk

a. Balok Induk

Secara umum, balok induk merupakan penyangga struktur utama pada bangunan yang secara fisik mengikat kolom-kolom utama bangunan secara rigid. Seluruh gaya-gaya yang bekerja pada balok ini akhirnya didistribusikan ke pondasi melalui kolom bangunan.

Laporan Perancangan Bangunan Gedung   Arah X     Satu Ujung Dua Ujung Kantilever Menerus

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

 

Arah X

 
 

Satu Ujung

Dua Ujung

Kantilever

Menerus (mm)

Menerus (mm)

(mm)

Panjang Balok (l )

 

8000

mm

 

Tinggi (h)

432

 

381

 

Lebar (b)

216

190,5

 

600

x 600

600

x 600

Dimensi Awal

   

600

x 400

600

x 400

(h

x b)

   

-

 

400

x 300

400

x 300

Digunakan di lantai

Lantai 1 dan 6 Lantai 2-5 Atap

 

Panjang Balok (l )

 

10000 mm

 

Tinggi (h)

541

 

476

 

Lebar (b)

270

 

238

 

600

x 600

600

x 600

Dimensi Awal

   

600

x 400

600

x 400

(h

x b)

   

-

 

400

x 300

400

x 300

Digunakan di lantai

 

Lantai 1 dan 6 Lantai 2-5 Atap

 

Panjang Balok (l )

 

4000

mm

 

Tinggi (h)

 

500

Lebar (b)

 

-

250

Dimensi Awal

 

-

700 x 450

(h

x b)

 

Digunakan di lantai

 

Lantai 1 - Atap

Laporan Perancangan Bangunan Gedung Panjang Balok ( l )   5200 mm   Tinggi (h)

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

Panjang Balok (l )

 

5200

mm

 

Tinggi (h)

   

650

Lebar (b)

 

-

 

325

Dimensi Awal

   
 

-

700

x 450

(h

x b)

   

Digunakan di lantai

 

Lantai 1 - 6

 

Arah Y

 
 

Satu Ujung

Dua Ujung

Kantilever

Menerus (mm)

Menerus (mm)

(mm)

Panjang Balok (l )

 

6000

mm

 

Tinggi (h)

324

 

286

 

750

Lebar (b)

162

 

143

 

375

 

600

x 600

600

x 600

 

Dimensi Awal

   

600

x 400

600

x 400

800

x 400

(h

x b)

     
 

400

x 300

400

x 300

Digunakan di lantai

 

Lantai 1 dan 6 Lantai 2-5 Atap

 

Lantai 1-atap

Panjang Balok (l )

 

2000

mm

 

Tinggi (h)

108

 

95

 

250

Lebar (b)

 

54

47,5

 

125

Dimensi Awal (h x b)

400

x 300

400

x 300

400

x 300

500

x 350

500

x 350

500

x 350

Digunakan di lantai

 

Lantai 1 -5 dan atap Lantai 6

 
Laporan Perancangan Bangunan Gedung Catatan : Berdasarkan SNI 03-2847-2002 pasal 9.7.1 nilai tebal selimut beton

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

Catatan :

Berdasarkan SNI 03-2847-2002 pasal 9.7.1 nilai tebal selimut beton minimum untuk balok induk adalah 40 mm.

b. Balok Anak

Fungsi balok anak adalah sebagai pembagi / pendistribusi beban. Pada bangunan bertingkat biasanya terlihat bahwa ujung-ujung balok anak terhubung pada balok induk. Meskipun berukuran lebih kecil daripada balok induk, penggunaan komponen ini sangat vital, khususnya untuk mendukung bentang kerja optimal dari plat lantai. Untuk dimensi balok anak diasumsikan setengah dari dimensi balok induk.

 

Dimensi Balok Induk

Dimensi Balok Anak

Lantai

(mm)

(mm)

1 dan 6

600

x 600

400

x 300

2 5

600

x 400

400

x 200

Atap

400

x 300

300

x 300

Catatan :

Berdasarkan SNI 03-2847-2002 pasal 9.7.1 nilai tebal selimut beton minimum untuk balok anak adalah 20 mm.

3.2 Pelat Untuk menentukan tebal minimum pelat harus dilakukan perbandingan bentang panjang terhadap bentang pendek pelat yang ditinjau.

β panel 1

SNI 03-2847-2002 pasal 11.5.3 (2) menentukan bahwa tebal minimum pelat tanpa balok interior yang menghubungkan tumpuan-tumpuannya dan mempunyai rasio bentang panjang terhadap bentang pendek yang tidak lebih

Laporan Perancangan Bangunan Gedung dari dua, harus memenuhi ketentuan Tabel 10. Tabel 10 ditunjukan dalam

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

dari dua, harus memenuhi ketentuan Tabel 10. Tabel 10 ditunjukan dalam gambar berikut.

Tabel 10. Tabel 10 ditunjukan dalam gambar berikut. Gambar Tabel 10 SNI 03-2847-2002 Dengan asumsi tebal

Gambar Tabel 10 SNI 03-2847-2002

dalam gambar berikut. Gambar Tabel 10 SNI 03-2847-2002 Dengan asumsi tebal pelat 120 mm, maka dilakukan

Dengan asumsi tebal pelat 120 mm, maka dilakukan analisis untuk mengetahui

kekuatannya. Untuk menentukan nilai α dibantu dengan program Microsoft Excel

2007.

Laporan Perancangan Bangunan Gedung C C α3 C α4 D D B B α2 A

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

C C α3 C α4 D D B B α2 A α1 A
C C
α3
C
α4
D
D
B
B α2
A
α1
A

Gambar Panel 1

Dimensi Pelat

Asumsi Tebal Pelat

 

120

mm

Panjang Pelat

L

3000

mm

Tinggi Segmen 1

h1

600

mm

Lebar Segmen 1

b1

400

mm

Tinggi Segmen 2

h2

120

mm

Lebar Segmen 2

b2

480

mm

Perhitungan α1

Luas Segmen 1

A1

240000

mm

2

Luas Segmen 2

A2

57600

mm

2

Titik Berat Segmen 1

Y1

300

mm

Titik Berat Segmen 2

Y2

60

mm

Titik Berat

Y rta2

254

mm

Jarak Titik berat ke titik berat segmen

d1

   

1

-46

mm

Jarak Titik berat ke titik berat segmen

d2

   

2

194

mm

Momen Inersia Segmen 1

I ox1

7200000000

mm

4

Momen Inersia Segmen 2

I ox2

69120000

mm

4

Laporan Perancangan Bangunan Gedung Momen Inersia Balok I balok 9944732903 mm 4 Panjang Pelat Yang

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

Momen Inersia Balok

I

balok

9944732903

mm

4

Panjang Pelat Yang Diperhitungkan

L/2

1500

mm

Momen Inersia Pelat

I

pelat

216000000

mm

4

   

α1

46

Dimensi Pelat

Asumsi Tebal Pelat

120

mm

Panjang Pelat

L

4500

mm

Tinggi Segmen 1

h1

600

mm

Lebar Segmen 1

b1

400

mm

Tinggi Segmen 2

h2

120

mm

Lebar Segmen 2

b2

480

mm

Perhitungan α2 & α4

Luas Segmen 1

A1

240000

mm

2

Luas Segmen 2

A2

57600

mm

2

Titik Berat Segmen 1

Y1

300

mm

Titik Berat Segmen 2

Y2

60

mm

Titik Berat

Y rta2

254

mm

Jarak Titik berat ke titik berat segmen

d1

-46

mm

1

Jarak Titik berat ke titik berat segmen

d2

194

mm

2

Momen Inersia Segmen 1

I ox1

7200000000

mm

4

Momen Inersia Segmen 2

I ox2

69120000

mm

4

Momen Inersia Balok

I balok

9944732903

mm

4

Panjang Pelat Yang Diperhitungkan

L/2

2250

mm

Momen Inersia Pelat

I

pelat

324000000

mm

4

   

α2& α4

31

Dimensi Pelat

Asumsi Tebal Pelat

h

120

mm

Panjang Pelat

L

3000

mm

Tinggi Segmen 1

h1

400

mm

Lebar Segmen 1

b1

200

mm

Laporan Perancangan Bangunan Gedung Tinggi Segmen 2   h2 120 mm Lebar Segmen 2  

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

Tinggi Segmen 2

 

h2

120

mm

Lebar Segmen 2

 

b2

1160

mm

Perhitungan α3

 

Luas

Segmen 1

 

A1

80000

mm

2

Luas

Segmen 2

 

A2

139200

mm

2

Titik

Berat Segmen 1

 

Y1

200

mm

Titik

Berat Segmen 2

 

Y2

60

mm

Titik

Berat

 

Ŷ

111

mm

Jarak Titik berat ke titik berat segmen 1

d1

-89

mm

Jarak Titik berat ke titik berat segmen 2

d2

51

mm

Momen Inersia Segmen 1

 

I ox1

1066666667

mm

4

Momen Inersia Segmen 2

 

I ox2

167040000

mm

4

Momen Inersia Balok

 

I balok

2229443893

mm

4

Panjang Pelat Yang Diperhitungkan

L/2

3000

mm

Momen Inersia Pelat

 

I

pelat

432000000

mm

4

 

α3

5

   
 

mm

 

mm

mm

mm

Menurut SNI 03-2847-2002 pasal 11.5.3, untuk mengetahui tebal minimum suatu pelat dengan sistem 2 arah dan nilai , digunakan rumus

pendekatan sebagai berikut dengan catatan nilai tersebut tidak kurang dari 90

mm atau tidak kurang dari:

rumus pendekatan sebagai berikut dengan catatan nilai tersebut tidak kurang dari 90 mm atau tidak kurang

mm

Laporan Perancangan Bangunan Gedung Dari hasil analisa diatas dapat disimpulkan bahwa asumsi awal tebal pelat

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

Dari hasil analisa diatas dapat disimpulkan bahwa asumsi awal tebal pelat sebesar 120 mm dapat digunakan karena lebih besar dari tebal minimum.

3.3 Kolom Kolom merupakan elemen struktur vertikal yang menyalurkan gaya tekan aksial dengan atau tanpa momen dari pelat lantai dan atap ke pondasi. Dalam mendesain dimensi kolom, kolom yang ditinjau merupakan yang menerima beban terbesar. Berikut adalah gambar kolom yang ditinjau.

beban terbesar. Berikut adalah gambar kolom yang ditinjau. Perhitungan beban (Pu) yang akan diterima oleh kolom

Perhitungan beban (Pu) yang akan diterima oleh kolom adalah sebagai berikut dengan asumsi fy =400 Mpa, fc’=30 Mpa, ρ = 0,015, dan dimensi awal kolom 700 x 700 mm :

a. Beban Mati (SDL)

Pelat

kg

Balok x

kg

Balok y

kg

Kolom

kg

Total P DL

kg

b. Beban Hidup (P LL )

Total P LL

kg

Laporan Perancangan Bangunan Gedung c. Beban Mati Tambahan (P S D L ) Beban plafond

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

c. Beban Mati Tambahan (P SDL )

Beban plafond dsb

kg

Beban Dinding

kg

Total P SDL

kg

d. Beban Mati Atap Berdasarkan hasil analisis SAP V.14.00 didapat beban atap yang bekerja pada kolom sebesar 7370,49 kg.

beban atap yang bekerja pada kolom sebesar 7370,49 kg. Pu Pu Pu Pu kg N Luas

Pu

Pu

Pu

Pu

kg

N

Luas kolom perhitungan

Asumsi h = 600 mm

b

Namun untuk dimensi kolom ditetapkan :

Ground Floor

Lantai 1

: 600 x 600 mm : 600 x 500 mm

- 5

Laporan Perancangan Bangunan Gedung Lantai Balroom : 400 x 400 mm 26

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

Lantai Balroom : 400 x 400 mm

Laporan Perancangan Bangunan Gedung Lantai Balroom : 400 x 400 mm 26
Laporan Perancangan Bangunan Gedung Lantai Balroom : 400 x 400 mm 26
Laporan Perancangan Bangunan Gedung 27

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

Laporan Perancangan Bangunan Gedung 27
Laporan Perancangan Bangunan Gedung 27
Laporan Perancangan Bangunan Gedung BAB IV ANALISIS STRUKTUR 4.1 Jumlah ragam Berdasarkan SNI 03-1726-2012 pasal

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

BAB IV ANALISIS STRUKTUR

4.1 Jumlah ragam Berdasarkan SNI 03-1726-2012 pasal 7.9.1 analisis harus dilakukan untuk

menentukan ragam getar alami untuk struktur. Analisis harus menyertakan

jumlah ragam yang cukup untuk mendapatkan partisipasi massa ragam

terkombinasi sebesar paling sedikit 90 persen dari massa aktual dalam masing-

masing arah horisontal ortogonal dari respons yang ditinjau oleh model. Dalam

ETABS besarnya partisipasi massa ditunjukan dalam tabel berikut :

Mode

Period

UX

UY

Sum

Sum

Partisipasi Massa

sec

UX

UY

UX

UY

1

1,974

0,0034

0,5418

0,0034

0,5418

0,34

54,18

2

1,104

0,4282

0,0497

0,4316

0,5915

43,16

59,15

3

0,788

0,2133

0,0563

0,6449

0,6478

64,49

64,78

4

0,528

0,0028

0,0666

0,6477

0,7143

64,77

71,43

5

0,352

0,0111

0,1139

0,6588

0,8283

65,88

82,83

6

0,234

0,0929

0,0556

0,7517

0,8839

75,17

88,39

7

0,192

0,1242

0,0163

0,8759

0,9002

87,59

90,02

8

0,152

0,002

0,0324

0,878

0,9327

87,8

93,27

9

0,108

0,0223

0,03

0,9003

0,9627

90,03

96,27

10

0,095

0,042

0,0092

0,9423

0,9719

94,23

97,19

11

0,085

0,0021

0,0012

0,9443

0,9731

94,43

97,31

12

0,072

0,004

0,0172

0,9483

0,9903

94,83

99,03

Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, jumlah paritisipasi massa pada

mode 9 telah mencapai 90%, sehingga tidak perlu dilakukan penambahan Mode.

4.2 Parameter Respon Terkombinasi

Berdasarkan SNI-1726-2012 nilai untuk masing-masing parameter yang

ditinjau, yang dihitung untuk berbagai ragam, harus dikombinasikan

menggunakan metoda akar kuadrat jumlah kuadrat (SRSS) atau metoda

Laporan Perancangan Bangunan Gedung kombinasi kuadrat lengkap (CQC). Metoda CQC harus digunakan untuk masing- masing

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

kombinasi kuadrat lengkap (CQC). Metoda CQC harus digunakan untuk masing- masing nilai ragam di mana nilai ragam berjarak dekat. Nilai ragam dianggap berjarak dekat apabila selisih waktu getar (perioda) kurang dr 15%.

Mode

Period

sec

ΔT

1

1,974

 

44,07

2

1,104

 

28,62

3

0,788

 

32,99

4

0,528

 

33,33

5

0,352

 

33,52

6

0,234

 

17,95

7

0,192

 

20,83

8

0,152

 

28,95

9

0,108

 

12,04

10

0,095

 

10,53

11

0,085

 

15,29

12

0,072

Berdasarkan perhitungan diatas terlihat bahwa waktu getar melebihi 15 %. Dengan demikian nilai untuk masing-masing parameter yang ditinjau harus dikombinasikan menggunakan metoda akar kuadrat jumlah kuadrat (SRSS).

4.3 Penentuan Perioda Perioda fundamental struktur, T , tidak boleh melebihi hasil koefisien untuk batasan atas pada perioda yang dihitung (C u ) dan perioda fundamental T a . Perioda fundamental pendekatan T a , dalam detik, harus ditentukan dari persamaan berikut :

Laporan Perancangan Bangunan Gedung Ta dalam struktur ini adalah 7. Koefisien untuk batas atas yang

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

Ta

dalam struktur ini adalah 7. Koefisien untuk batas atas yang dihitung

dimana N adalah jumlah tingkat. Jumlah tingkat

yang dihitung dimana N adalah jumlah tingkat. Jumlah tingkat   Period     T yg Mode
yang dihitung dimana N adalah jumlah tingkat. Jumlah tingkat   Period     T yg Mode
 

Period

   

T yg

Mode

sec

Ta

CuTa

digunakan

1

1,974

0,7

0,98

0,98

2

1,104

0,98

4.4 Gaya Geser Dasar Nominal Pada SNI 03-1726-2012 pasal 7.9.4 geser dasar (V ) harus dihitung dalam masing-masing dua arah horisontal ortogonal menggunakan perioda fundamental struktur yang dihitung T dalam masing-masing arah. Gaya geser dasar ragam (V t ) tidak boleh lebih kecil dari 85% nilai gaya geser (V). Geser dasar seismik, V , dalam arah yang ditetapkan harus ditentukan sesuai dengan persamaan berikut

Dimana :

Cs

=

Laporan Perancangan Bangunan GedungW Massa tiap lantai yang dihitung menggunakan ETABS 2013 ditunjukan dalam tabel berikut : Story

W

Massa tiap lantai yang dihitung menggunakan ETABS 2013 ditunjukan dalam

tabel berikut :

Story

Massa

kN

Story8

8,592

Story7

285,1038

Story6

903,996

Story5

1065,8201

Story4

1263,0937

Story3

1314,3568

Story2

1323,1781

Story1

1226,0679

Base

86,3136

Total

7476,522

Dari tabel diatas didapatkan massa struktur sebesar 7476,522. Oleh karena itu

besarnya berat seismik efektif (W) = massa struktur x gravitasi. Hasil perhitungan

gaya geser dasar ditunjukan dalam tabel berikut :

 

W

V

Cs

[kN]

[kN]

0,2

73344,68

14668,94

Selanjutnya nilai gaya geser dasar static yang telah dihitung dibandingkan

dengan nilai gaya geser dasar respon spektra yang didapatkan dengan bantuan

software ETABS 2013.

Tipe Gempa

Fx

Fy

85% Statik

85% Statik

[kN]

[kN]

X

Y

Statik

Arah X

14668,94

0

   

Arah Y

0

14668,94

12468,59

12468,59

Dinamik

EqX

4714,8303

2201,3163

EqY

2201,3163

3316,2224

   
Laporan Perancangan Bangunan Gedung Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa persyaratan gempa dinamik belum terpenuhi

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa persyaratan gempa dinamik belum terpenuhi (V dinamik < 0,85 V statik ), sehingga besarnya V dinamik harus dikalikan

dengan faktor skala

.

Faktor Skala Gempa Dinamik Respon Spektrum

Arah X

Arah X

4.5 Kinerja Batas Layan Kinerja batas layan struktur gedung ditentukan oleh simpangan anatar tingkat akibat pengaruh gempa rencana, yaitu untuk membatasi terjadinya pelelehan baja, peretakan beton yang berlebihan, mencegah kerusakan non struktur dan ketidaknyamanan penghuni. Berdasarkan SNI 1726 2012 simpangan antar lantai tingkat desain (Δ) tidak boleh melebihi simpangan antar lantai tingkat ijin (Δ a ). (Δ a ) didapatkan dari tabel berikut untuk semua tingkat.

a ) didapatkan dari tabel berikut untuk semua tingkat. Tabel Simpangan Antar Lantai Ijin Besarnya simpangan

Tabel Simpangan Antar Lantai Ijin

Besarnya simpangan yang terjadi akibat gempa dinamik yang didapat dari hasil analisis ETABS 2013 adalah sebagai berikut.

Laporan Perancangan Bangunan Gedung Besarnya Simpangan Akibat Gempa Dinamik Arah X Besarnya Simpangan Akibat Gempa

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

Laporan Perancangan Bangunan Gedung Besarnya Simpangan Akibat Gempa Dinamik Arah X Besarnya Simpangan Akibat Gempa Dinamik

Besarnya Simpangan Akibat Gempa Dinamik Arah X

Bangunan Gedung Besarnya Simpangan Akibat Gempa Dinamik Arah X Besarnya Simpangan Akibat Gempa Dinamik Arah Y

Besarnya Simpangan Akibat Gempa Dinamik Arah Y

Laporan Perancangan Bangunan Gedung Perhitungan kinerja batas layan akibat simpangan arah X dan Y dapat

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

Perhitungan kinerja batas layan akibat simpangan arah X dan Y dapat dibaca dari grafik dan dihitung sebagai berikut :

Simpangan antar lantai (Δ)

Simpangan yang diizinkan (Δ a )

= simpangan lantai atas simpangan lantai dibawahnya. = 0,02 x tinggi tingkat dibawahnya

Tabel Kinerja Batas Layan Akibat Simpangan Gempa Dinamik Arah X

No

Lantai

Tinggi

Simpangan

Δs

Δa

Ket

 

Tingkat

1

Dak Lift

3100

2,24

0,17

79,4

OK

2

Atap

3970

2,07

0,26

74

OK

3

Ballroom

3700

1,81

0,5

74

OK

4

5

3700

1,31

0,4

74

OK

5

4

3700

0,91

0,36

74

OK

6

3

3700

0,55

0,3

74

OK

7

2

3700

0,25

0,19

74

OK

8

1

3700

0,06

0,06

74

OK

Tabel Kinerja Batas Layan Akibat Simpangan Gempa Dinamik Arah Y

No

Lantai

Tinggi

Simpangan

Δs

Δa

Ket

 

Tingkat

1

Dak Lift

3100

15,86

1,22

79,4

OK

2

Atap

3970

14,64

3,17

74

OK

3

Ballroom

3700

11,47

3,38

74

OK

4

5

3700

8,09

2,75

74

OK

5

4

3700

5,34

2,27

74

OK

6

3

3700

3,07

1,72

74

OK

7

2

3700

1,35

1,026

74

OK

8

1

3700

0,324

0,324

74

OK

4.6 Kinerja Batas Ultimit Kinerja batas ultimit struktur gedung ditentukan oleh simpangan dan simpangan antar tingkat maksimum struktur gedung akibat pengaruh gempa rencana dalam kondisi struktur gedung di ambang keruntuhan, yaitu untuk membatasi kemungkinan terjadinya keruntuhan struktur gedung yang dapat menimbulkan korban jiwa manusia dan untuk mencegah benturan berbahaya

Laporan Perancangan Bangunan Gedung antar gedung atau antar bagian struktur gedung yang dipisah dengan sela

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

antar gedung atau antar bagian struktur gedung yang dipisah dengan sela pemisah. Nilai perpindahan elastis akibat gempa desain tingkat kekuatan ex ) harus dikalikan dengan nilai C d /I e . Perhitungan kinerja batas ultimit adalah sebagai berikut.

δ

x

Δ

δ

Tabel Kinerja Batas Ultimit Akibat Gempa Dinamik Arah X

No

Lantai

tinggi

simpangan

Δs

Δ

Δa

Ket

 

Tingkat

1

Dak Lift

3100

2,24

0,17

0,765

79,4

OK

2

Atap

3970

2,07

0,26

1,17

74

OK

3

Ballroom

3700

1,81

0,5

2,25

74

OK

4

5

3700

1,31

0,4

1,8

74

OK

5

4

3700

0,91

0,36

1,62

74

OK

6

3

3700

0,55

0,3

1,35

74

OK

7

2

3700

0,25

0,19

0,855

74

OK

8

1

3700

0,06

0,06

0,27

74

OK

 

Tabel Kinerja Batas Ultimit Akibat Gempa Dinamik Arah Y

 

No

Lantai

Tinggi

simpangan

Δs

Δ

Δa

Ket

 

Tingkat

1

Dak Lift

3100

15,86

1,22

5,49

79,4

OK

2

Atap

3970

14,64

3,17

14,265

74

OK

3

Ballroom

3700

11,47

3,38

15,21

74

OK

4

5

3700

8,09

2,75

12,375

74

OK

5

4

3700

5,34

2,27

10,215

74

OK

6

3

3700

3,07

1,72

7,74

74

OK

7

2

3700

1,35

1,026

4,617

74

OK

8

1

3700

0,324

0,324

1,458

74

OK

Laporan Perancangan Bangunan Gedung BAB V DESAIN ELEMEN STRUKTUR Sesuai dengan hasil perhitungan yang telah

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

BAB V DESAIN ELEMEN STRUKTUR

Sesuai dengan hasil perhitungan yang telah dilakukan berdasarkan gaya-gaya dalam yang berpengaruh terhadap kekuatan suatu struktur bangunan gedung Condotel Bukit Vipassana Lembang, berikut ini adalah rekapitulasi hasil desain elemen struktur yang mendukung kekuatan struktur bangunan gedung ini. Perhitungan atau analisis desain elemen struktur secara detail akan dilampirkan pada lampiran.

5.1 Atap

   

Dimensi Kuda-Kuda

   

IWF 150 x 10 x 7 x 10

   
 

Dimensi Gording

   

C 150 x75 x 9 x 12,5

 

5.2 Balok

 
 

Tumpuan

 

Lapangan

 

Lantai

Balok

Mu

Vu

Mu

Vu

   

Tul

Tul

Tul

Tul

[Kn]

[kN]

[kN]

[kN]

 

2P16-

2P16-

 

Induk

44,38

1D-22

190

308

5D22

55

 

1

200

250

   

2P16-

2P16-

Anak

15,81

1D22

191,7

149,3

3D22

15,81

 

200

250

 

2P16-

2P16-

 

Induk

83,14

2D22

191,7

312

6D22

47,43

2-5

 

200

250

 

2P16-

2P16-

Anak

35,8

1D22

96

129,06

3D22

28,38

 

200

250

 

2P16-

2P16-

 

Induk

109,15

2D22

201,42

331,52

6D22

70,08

 

6

200

250

   

2P16-

2P16-

Anak

100

2D22

98,01

233,72

4D22

43,8

 

200

250

 

7

Induk

70,27

2D22

94,41

2P16-

166,48

3D22

16,93

2P16-

Laporan Perancangan Bangunan Gedung   200 250     2P16- 2P16- Anak 64,63 2D22 95,18

Laporan Perancangan Bangunan Gedung

 

200

250

   

2P16-

2P16-

Anak

64,63

2D22

95,18

158,17

3D22

26,68

 

200

250

5.3 Kolom

 
 

Lantai

Dimensi

Dimensi

 

Kolom

Tulangan

 

Kolom

Lantai Dasar

K 600 x 600

16D22

Lantai 1

K 600 x 400

16D22

Lantai 2

K 600 x 400

16D22

Lantai 3

K 600 x 400

16D22

Lantai 4

K 600 x 400

16D22

Lantai 5

K 600 x 400

16D22

Lantai 6

K 400 x 400

12D22

5.4 Tangga

Tumpuan

D12-175

Lapangan

D12-175

Bordes

D12-175

Bagi

D10-200