Anda di halaman 1dari 16

Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kabupaten/kota di provinsi jawa

timur

Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar


kabupaten/kota di provinsi jawa timur

Strategi Pengelolaan Wilayah Pesisir


Pesisir merupakan daerah pertemuan antara darat dan laut; ke arah darat meliputi bagian
daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti
pasang surut, angin laut, dan perembesan air asin; sedangkan ke arah laut meliputi bagian laut
yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan
aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan
hutan dan pencemaran (Soegiarto, 1976; Dahuri et al, 2001).

Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: KEP.10/MEN/2002 tentang


Pedoman Umum Perencanaan Pengelolaan Pesisir Terpadu, Wilayah Pesisir didefinisikan sebagai
wilayah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang saling berinteraksi, dimana ke arah laut
12 mil dari garis pantai untuk propinsi dan sepertiga dari wilayah laut itu (kewenangan
propinsi) untuk kabupaten/kota dan ke arah darat batas administrasi kabupaten/kota.
Wilayah pesisir adalah suatu wilayah peralihan antara daratan dan lautan dimana batasnya
dapat didefinisikan baik dalam konteks struktur administrasi pemerintah maupun secara
ekologis. Batas ke arah darat dari wilayah pesisir mencakup batas administratif seluruh desa
(sesuai dengan ketentuan Direktorat Jenderal Pemerintahan Umum dan otonomi Daerah,
Depdagri) yang termasuk dalam wilayah pesisir menurut Program Evaluasi Sumber Daya
Kelautan (MERP). Sementara batas wilayah ke arah laut suatu wilayah pesisir untuk keperluan
praktis dalam proyek MERP adalah sesuai dengan batas laut yang terdapat dalam peta
Lingkungan Pantai Indonesia (LPI) dengan skala 1:50.000 yang diterbitkan oleh Badan
Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), (Dahuri dkk.,1996).
Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Wilayah pesisir adalah daerah
pertemuan antara darat dan laut; kearah darat wilayah pesisir meliputi bagian daratan baik
kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat laut seperti pasang surut,
angin laut, dan perembesan air asin; sedangkan kearah laut mencakup bagian laut yang masih
dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air
tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan
pencemaran.
Peranan pusat-pusat pertumbuhan terhadap pengembangan ekonomi wilayah di propinsi Jawa
Timur
Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kabupaten/kota di provinsi jawa
timur

Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kabupaten/kota di provinsi jawa
timur

Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar


kabupaten/kota di provinsi jawa timur

Daerah pesisir merupakan salah satu pusat kegiatan ekonomi nasional melalui kegiatan
masyarakat seperti perikanan laut, perdagangan, budidaya perikanan (aquakultur),
transportasi, pariwisata, pengeboran minyak dan sebagainya. Seperti diketahui bahwa secara
biologis wilayah pesisir merupakan lingkungan bahari yang paling produktif dengan sumber daya
maritim utamanya seperti hutan bakau (mangrove), terumbu karang (coral reefs), padang
lamun (sea grass beds), estuaria, daerah pasang surut dan laut lepas serta sumber daya yang
tak dapat diperbaharui lainnya seperti minyak bumi dan gas alam.
Manfaat ekosistem pantai sangat banyak, namun demikian tidak terlepas dari permasalahan
lingkungan, sebagai akibat dari pemanfaatan sumber daya alam di wilayah pantai. Permasalahan
lingkungan yang sering terjadi di wilayah perairan pantai, adalah pencemaran, erosi pantai,
banjir, inturusi air laut, penurunan biodiversitas pada ekosistem mangrove dan rawa, serta
permasalahan sosial ekonomi.
Lingkungan pantai merupakan daerah yang selalu mengalami perubahan, karena merupakan
daerah pertemuan kekuatan yang berasal darat dan laut . Perubahan ini dapat terjadi secara
lambat hingga cepat tergantung pada imbang daya antara topografi, batuan, dan sifatnya
dengan gelombang, pasang surut dan angin. Oleh karena itu didalam pengelolaan daerah
pessisir diperlukan suatu kajian keruangan mengingat perubahan ini bervariasi antar suatu
tempat dengan tempat lain.
Banyak faktor yang menyebabkan pola pembangunan sumber daya pesisir dan lautan selama ini
bersifat tidak optimal dan berkelanjutan. Namun, kesepakatan umum mengungkapkan bahwa
salah satu penyebabnya terutama adalah perencanaan dan pelaksanaan pembangunan sumber
daya pesisir dan lautan yang selama ini dijalankan secara sektoral dan terpilah-pilah. Beberapa
usaha untuk menanggulangi erosi dan mundurnya garis pantai telah dilakukan oleh pihak-pihak
terkait, diantaranya adalah dengan melakukan kegiatan pengisian pantai (beach fill). Tetapi
pada kenyataannya pantai tersebut masih terjadi erosi dan terjadi mundurnya garis pantai di
sekitar pantai pasir buatan.
Permasalahan Pesisir
Banyaknya pemanfaatan dan berbagai aktifitas yang terus berlangsung dampak negatif pun
muncul.
Dampak-dampak
utama
saat
ini
berupa
polusi,
abrasi,
erosi
dan
sedimentasi, kerusakan kawasan pantai seperti hilangnya mangrove, degradasi daya dukung
lingkungan dan kerusakan biota pantai/laut. Termasuk diantaranya isu administrasi, hukum
seperti otonomi daerah, peningkatan PAD (Pendapatan Asli Daerah), konflik-konflik daerah
Peranan pusat-pusat pertumbuhan terhadap pengembangan ekonomi wilayah di propinsi Jawa
Timur
Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kabupaten/kota di provinsi jawa
timur

Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kabupaten/kota di provinsi jawa
timur

Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar


kabupaten/kota di provinsi jawa timur
dan sektoral
merupakan
persoalan
yang
harus
dipecahkan
bersama
manajemen kawasan pantai terpadu.

melalui

Selain itu berdasarkan pemantauan Departemen Kelautan dan Perikanan serta Badan Koordinasi
Survei dan Pemetaan Nasional, kenaikan muka air laut di Indonesia rata-rata 5-10 milimeter per
tahun. Strategi adaptasi dan mitigasi belum menyeluruh sehingga garis pantai semakin
mundur. Luas daratan hilang setiap tahun mencapai 4.759 hektar. Terkikisnya daratan pesisir
itu memusnahkan vegetasi mangrove karena tidak mampu bermigrasi. Mangrove sebagai
penahan gelombang air laut terancam punah.
Konsep Pengelolaan Terpadu Wilayah Pesisir
Pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir yang mengelola adalah semua orang dengan objek
segala sesuatu yang ada di wilayah pesisir. Contoh pengelolaan wilayah pesisir adalah ;
pengelolaan perikanan, pengelolaan hutan pantai, pendidikan dan kesehatan. Yang paling
utama dari konsep pengelolaan wilayah pesisir adalah fokus pada karakteristik wilayah dari
pesisir itu sendiri, dimana inti dari konsep pengelolaan wilayah pesisir adalah kombinasi dari
pembangunan adaptif, terintegrasi, lingkungan, ekonomi dan sistem sosial.
Pengelolaan terpadu Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah suatu proses perencanaan,
pemanfaatan, pengawasan dan pengendalian Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil antar
sektor, antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah, antara ekosistem darat dan laut, serta
antara ilmu pengetahuan dan manajemen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Menurut UU No. 27 Tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil,
pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dilaksanakan dengan tujuan untuk
melindungi, mengkonservasi, merehabilitasi, memanfaatkan, dan memperkaya Sumber Daya
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil serta sistem ekologisnya secara berkelanjutan; menciptakan
keharmonisan dan sinergi antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam pengelolaan Sumber
Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil; memperkuat peran serta masyarakat dan lembaga
pemerintah serta mendorong inisiatif masyarakat dalam pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil agar tercapai keadilan, keseimbangan, keberkelanjutan, meningkatkan nilai
sosial, ekonomi, dan budaya Masyarakat melalui peran serta masyarakat dalam pemanfaatan
Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

Peranan pusat-pusat pertumbuhan terhadap pengembangan ekonomi wilayah di propinsi Jawa


Timur
Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kabupaten/kota di provinsi jawa
timur

Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kabupaten/kota di provinsi jawa
timur

Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar


kabupaten/kota di provinsi jawa timur
Dalam pengelolaan pantai juga harus diperhatikan upaya pengendalian kerusakan pantai. Selain
itu diperhatikan juga upaya pengawasan. Pengendalian kerusakan pantai merupakan upaya
untuk mencegah, menanggulangi, serta melakukan pemulihan kualitas lingkungan yang rusak
yang disebabkan oleh alam dan manusia. Pengendalian Kerusakan pantai yang dapat merugikan
kehidupan, dilakukan secara menyeluruh yang mencakup upaya pencegahan, penanggulangan,
dan pemulihan. Upaya pencegahan dilakukan melalui perencanaan pengendalian kerusakan
pantai yang disusun secara terpadu dan menyeluruh.

Pencegahan dilakukan baik melalui kegiatan fisik dan/atau nonfisik. Kegiatan fisik dapat berupa
pembangunan sarana dan prasarana daerah pantai serta upaya lainnya dalam
rangka pencegahan kerusakan/ bencana pantai. Upaya pencegahan lebih diutamakan pada
kegiatan nonfisik berupa kegiatan penyusunan dan/atau penerapan piranti lunak yang
meliputi antara lain pengaturan, pembinaan, pengawasan, dan pengendalian. Pengendalian
kerusakan pantai ini menjadi tanggung jawab pemerintah, pemerintah daerah, serta pengelola
pantai dan masyarakat.
Mitigasi bencana adalah kegiatan-kegiatan yang bersifat meringankan penderitaan akibat
bencana. Penanggulangan dilakukan secara terpadu oleh instansi-instansi terkait dan
masyarakat melalui suatu badan koordinasi penanggulangan bencana pada tingkat nasional,
Propinsi, dan kabupaten/kota.
Pemulihan kerusakan daerah pantai dilakukan dengan memulihkan kembali fungsi lingkungan
hidup dan sistem prasarana daerah pantai. Contoh upaya pemulihan terhadap kerusakan pantai
dapat dijumpai pada:
Pantai berpasir yang mengalami kerusakan akibat pengaruh adanya angkutan pasir sejajar
pantai atau angkutan pasir tegak lurus yang melebihi pasokannya. Pemulihan dapat dilakukan
dengan cara pengisian (suplai) pasir sampai pada kedudukan garis pantai awal ditambah dengan
pengisian pasir awal dan pengisian pasir secara periodik sehingga pasir yang keluar seimbang
dengan pasir yang masuk. Untuk mengurangi jumlah pasir yang diisikan secara periodik, maka
pada lokasi pantai yang dipulihkan dapat dipasang krib tegak lurus atau krib sejajar pantai yang
berfungsi mengurangi besarnya angkutan pasir sejajar pantai.
Peranan pusat-pusat pertumbuhan terhadap pengembangan ekonomi wilayah di propinsi Jawa
Timur
Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kabupaten/kota di provinsi jawa
timur

Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kabupaten/kota di provinsi jawa
timur

Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar


kabupaten/kota di provinsi jawa timur
Pantai berbakau, maka pemulihan dapat dilakukan dengan usaha penanaman bakau. Agar bakau
yang masih muda tahan terhadap hempasan gelombang, didepan lokasi yang di tanami bakau,
perlu dipasang struktur semacam pemecah gelombang yang bersifat sementara. Apabila bakau
telah tumbuh dan mampu menahan gelombang, pemecah gelombang tidak berfungsi lagi.
Pantai berkarang, pemulihan kerusakan karang dapat dilakukan dengan usaha penanaman
karang, dengan cara menempelkan potongan karang pada akar karang yang masih ada. Untuk
pemulihan pantai berbakau dan pantai berkarang perlu keahlian khusus dalam kedua bidang
tersebut, antara lain ahli biologi dan lingkungan.
Perlindungan dan pengamanan daerah pantai terhadap ancaman gelombang, diutamakan
menggunakan perlindungan alami yang ada. Kalau ternyata perlindungan alami sudah tidak
dapat dimanfaatkan atau sudah tidak dapat diaktifkan kembali untuk kegiatan perlindungan
pantai, maka baru dipilih alaternatif lain yaitu dengan menggunakan perlindungan buatan
(artificial protection).

Alam pada umumnya telah menyediakan mekanisme perlindungan pantai secara alamiah yang
efektif. Perlindungan alamiah ini dapat berupa hamparan pasir di pantai yang cukup banyak,
atau tanaman pantai yang tumbuh di daerah berlumpur seperti pohon mangrove dan nipah,
atau terumbu karang yang berada di sepanjang pantai. Perlindungan alami ini sudah berjalan
sangat lama, sehingga telah membentuk suatu keseimbangan yang dinamis. Bilamana
perlindungan alami ini terganggu maka akan terjadi ketidakstabilan di pantai tersebut.

Referensi Artikel :
Branch M.C., 1998. Regional Planning, In Introduction and Explanation Preager, New York Wespart
Connection, London.
Cicin-Sain, B., 1993.Sustainable Development and Integrated Coastal Zone Management, Ocean and
Coastal Management.
Clark, J.R., 1996. Coastal Zone Management, Lewis Publisher, Florida.
Dahuri, H.R., Rais, J., Ginting, S.P., dan Sitepu, M.J., 1996. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan
Lautan Secara Terpadu, PT Pradnya Paramita, Jakarta.
Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air dan Direktorat Bina
Teknik, 2003. Pedoman Umum Pengamanan dan Penanganan Kerusakan Pantai, Jakarta.
Kay R and Alder J, 1999. Coastal Planning and Management, E & FN Spon, an imprint of Routledge,
London.
Peranan pusat-pusat pertumbuhan terhadap pengembangan ekonomi wilayah di propinsi Jawa
Timur
Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kabupaten/kota di provinsi jawa
timur

Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kabupaten/kota di provinsi jawa
timur

Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar


kabupaten/kota di provinsi jawa timur
Menteri Permukiman Dan Prasarana Wilayah, 2003. Tinjauan Aspek Penataan Ruang Dalam Pengelolaan
Wilayah Laut Dan Pesisir. Surabaya.

Batasan Wilayah Pesisir


pesisir pantai
Wilayah Pesisir
Menurut Bengen (2001). Wilayah pesisir didefinisikan sebagai wilayah dimana
daratan berbatasan dengan laut, batas di daratan meliputi daerah-daerah yang
tergenang dengan air maupun yang tidak tergenang air yang masih dipengaruhi
proses-proses laut seperti pasang surut, angin laut, intrusi garam, sedangkan
batas di laut ialah daerah-daerah yang dipengeruhi oleh proses-proses alami di
daratan seperti sedimentasi dan mengalirnya air tawar ke laut yang dipengaruhi
oleh kegiatan-kegiatan manusia di daratan.
Perencanaan Terpadu Wilayah Pesisir
Perencanaan terpadu dimaksudkan untuk mengkoordinasikan dan mengarahkan
berbagai aktivitas dari dua atau lebih sektor perncanaan pembangunan dalam
kaitannya dengan pengelolaan wilayah pesisir dan lautan. Perencanaan terpadu
lebih merupakan upaya secara terperogram untuk mencapai tujuan dengan
mengharmoniskan dan engoptimalkan berbagai kepentingan untuk memelihara
lingkungan, keterlibatan masyarakat dan pembangunan ekonomi.
Keterpaduan juga diartikan sebagai koordinasi antara tahapan pembangunan di
wilayah pesisir dan lautan yang meliputi : pengumpulan dan analisis data,
perencanaan, implementasi, dan kegiatan konstruksi (Sorensen et al., 1984).
Sedangkan Dahuri, dkk., (1996) menyarangkan agar keterpaduan perencanaan
dan pengelolaan sumberdaya alam, termasuk di pesisir dan lautan, dilakukan
pada ketiga tataran yaitu : tataran teknis, konsultatif, dan koordinasi. Pada
tataran teknis, semua pertimbangan teknis, ekonomi sosial dan lingkungan
secara proporsional dimasukkan ke dalam setiap perencanaan dan
pembanguanan sumberdaya pesisir dan lautan.
Pada tatanan Konsultatif, segenap aspirasi dan kebutuhan pihak-pihak yang
terlibat ataupun yang terkena dampak pembangunan di wilayah pesisir
hendaknya diperhatikan sejak tahap perencanaan sampai tahap pelaksanaan.
Sedangkan pada tataran Koordinasi, disyaratkan perlunya kejasama yang
harmonis antara stakeholders (pemerintah, swasta, dan masyarakat).
Pengelolaan Wilayah Pesisir Secara Terpadu
Peranan pusat-pusat pertumbuhan terhadap pengembangan ekonomi wilayah di propinsi Jawa
Timur
Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kabupaten/kota di provinsi jawa
timur

Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kabupaten/kota di provinsi jawa
timur

Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar


kabupaten/kota di provinsi jawa timur
Berdasarkan Djojpbroto (1998), bahwa daerah pesisir Indonesia berbeda-beda
menurut kondisi geografis dan kependudukan. Oleh karena itu, tujuan dan
keadaan lokal juga berbeda sehingga setiap rencana akan memerlukan
perlakuan yang berbeda. Namun demikian suatu urutan yang terdiri dari 10
tahap dapat direkomendasikan sebagai suatu pedoman perencanaan. Tiap tahap
mewakili suatu kegiatan spesifik atau suatu rangkaian kegiatan yang hasilnya
memberikan informasi untuk tahap-tahap berikut :

1. Tentukan sasaran dan kerangka acuan,


Aturlah pekerjaan,
2. Analisis kesulitan yang ada,
3. Identifikasi kesempatan untuk perubahan,
4. Evaluasi kemampuan sumberdaya,
5. Penilaian alternatif,
6. Ambil pilihan yang paling baik,
7. Siapkan rencana,
8. Implementasi,
9. Penentuan revisi rencana.
Kesepuluh tahapan ini meringkaskan proses perencanaan yang menggambarkan
langkah-langkah yang terlibat dalam perencanaan zona pesisir secara terpadu.
Pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu merupakan pendekatan pengelolaan
yang melibatkan dua atau lebih ekosistem, sumberdaya dan kegiatan
pemanfaatan secara terpadu, agar tercapai tujuan pembangunan wilayah pesisir
secara berkelanjutan (sustainable), sehingga keterpaduannya mengandung tiga
dimensi ; dimensi sektoral, bidang ilmu, dan keterkaitan ekologis (Dahuri, dkk.,
1996). Keterpaduan sektor diartikan sebagai perlunya koordinasi tugas,
wewenang dan tanggung jawab antara sektor atau instansi pemerintah pada
tingkat pemerintah tertentu (horizontal integration), dan antara tingkat
pemerintah mulai tingkat desa, kecamatan, kabupaten, dan propinsi sampai
tingkat pusat (vertical integration).
Didasari kenyataan bahwa wilayah pesisir terdiri dari sistem sosial dan alam
yang terjalin secara kompleks dan dinamis, maka keterpaduan bidang ilmu
mensyaratkan di dalam pengelolaan wilayah pesisir hendaknya dilaksanakan
dengan pendekatan interdisiplin ilmu, yang melibatkan bidang ilmu : ekonomi,
ekologi, teknik, sosiologi, hukum, dan lainnya yang terkait. Kanrena wilayah
pesisir terdiri dari berbagai ekosiostem (mangrove, terumbu karang, lamun,
estuaria dan lain-lain) yang saling terkait satu sama lain, disamping itu wilayah
Peranan pusat-pusat pertumbuhan terhadap pengembangan ekonomi wilayah di propinsi Jawa
Timur
Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kabupaten/kota di provinsi jawa
timur

Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kabupaten/kota di provinsi jawa
timur

Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar


kabupaten/kota di provinsi jawa timur
ini juga dipengaruhi oleh berbagai kegiatan manusia, proses-proses alamiah
yang terdapat di lahan atas (upland areas) maupun laut lepas, kondisi ini
mensyaratkan bahwa Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu
(PWPLT) harus memperhatikan keterkaitan ekologis tersebut.

Share on Facebook

PENDEKATAN
TIPOLOGI
WILAYAH
DALAM PENGEMBANGAN DESA-DESA
PESISIR DI PROVINSI MALUKU

(Region
in

Typology

Approach
on
Maluku

Coastal

Villages

Development
Province)

Peranan pusat-pusat pertumbuhan terhadap pengembangan ekonomi wilayah di propinsi Jawa


Timur
Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kabupaten/kota di provinsi jawa
timur

Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kabupaten/kota di provinsi jawa
timur

Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar


kabupaten/kota di provinsi jawa timur

JAMES ABRAHAMSZ
Program Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas
Pattimura
Jl. Mr. Ch. Ssoplanit, Kampus - Poka Ambon. Telp. 0911 - 3302211
ABSTRACT : To develop the coastal villages, many approach were done. This study use the
new one, typology approach which shown relationship between infrastructure existence with
production capacity at coastal villages. Results of this study were shown, based on their
characteristics, coastal villages were divide on four tipes there is core regions, resource
frontier regions, depressed regions and slowly developing/stagnan regions. This results also
give the development strategy formulations include: (i) Core regions have the priority to
maintain the production capacities and infrastructure existence, and still go to equilibrium
line, O-E. (ii) On resource frontier regions, infrastructure development in resources
management as main priority. (iii) Depressed regions were really need production capacity
increase through technology inovation, investation and human resource quality. (iv) On
slowly developing/stagnating region, inovations subtitute (knowledge and technology) were
priority on natural resource management, and can be pushed to increase economic activities
through technology inovation and to pull development determinants like labor potential and
investations
to
support
natural
resources
management,
effectivelly.
Key

words

Region

typology,

development,

coastal

villages

PENDAHULUAN
Provinsi Maluku yang merupakan provinsi kepulauan menunjukkan karakteristik yang unik
dengan luasan wilayah darat sebesar 54.185 Km2 atau sebesar 7,6 % dari total luas wilayah.
Sisanya 92,4 % (658.294 Km2) merupakan wilayah laut yang cukup potensial peranannya
bagi pembangunan provinsi ini. Potensi wilayah kepulauan ini ditunjukan juga dengan
besarnya jumlah pulau yakni sebanyak 1.412 buah. Banyaknya jumlah pulau ini memberikan
kontribusi yang kuat terhadap panjang garis pantai di Provinsi Maluku yang mencapai
10.662,92 Km (Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Maluku, 2005).
Distribusi jumlah pulau yang cukup banyak di Provinsi Maluku relatif berpengaruh terhadap
akses terhadap pengembangan wilayah secara agregat termasuk masyarakatnya.
Permasalahan umum yang dialami secara meluas di Indonesia seperti akses yang lemah,
kurangnya kegiatan pembangunan, tingginya jumlah penduduk miskin dan persoalan lain
seperti penurunan kualitas lingkungan, juga ditemukan di Provinsi Maluku. Kondisi ini
sangat mungkin terjadi karena terisolasinya pulau-pulau kecil di kawasan perbatasan dan di
kawasan terluar, disamping tidak tersentuhnya kawasan-kawasan tersebut termasuk desadesa pesisirnya oleh inovasi pengetahuan maupun teknologi.
Desa pesisir merupakan salah satu bagian wilayah pesisir yang sangat ter-marginal-kan, oleh
karena itu desa-desa pesisir sangat potensial menjadi kantong-kantong kemiskinan.
Kesulitan mengatasi masalah kemiskinan di desa-desa pesisir menjadikan wilayah pesisir
termasuk wilayah yang rawan di bidang sosial ekonomi. Kerawanan di bidang sosial
ekonomi dapat menjadi lahan subur bagi timbulnya kerawanan-kerawanan di bidang
kehidupan yang lain (Rahmalia, 2003). Lebih lanjut dikemukakan bahwa kemiskinan dan
tekanan-tekanan sosial ekonomi yang dihadapi oleh rumah tangga nelayan di desa pesisir
berakar dari faktor-faktor kompleks yang saling terkait. Faktor-faktor tersebut dapat
diklasifikasikan kedalam faktor alamiah dan non alamiah. Faktor alamiah berkaitan dengan
fluktuasi musim penangkapan dan struktur alamiah sumberdaya ekonomi desa. Faktor non
Peranan pusat-pusat pertumbuhan terhadap pengembangan ekonomi wilayah di propinsi Jawa
Timur
Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kabupaten/kota di provinsi jawa
timur

Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kabupaten/kota di provinsi jawa
timur

Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar


kabupaten/kota di provinsi jawa timur
alamiah berhubungan dengan keterbatasan daya jangkau teknologi penangkapan,
ketimpangan dalam sistem bagi hasil dan tidak adanya jaminan sosial tenaga kerja yang
pasti, lemahnya jaringan pemasaran dan belum berfungsinya koperasi nelayan yang ada,
serta dampak negatif kebijakan modernisasi perikanan yang telah berlangsung sejak
seperempat abad terakhir ini.
Dalam kaitannya dengan karakteristik masyarakat pesisir, Satria (2002) menyatakan bahwa
secara sosiologis, karakteristik masyarakat pesisir berbeda dengan masyarakat agraris
seiring dengan perbedaan karakteristik sumberdaya yang dihadapi. Masyarakat pesisir
menghadapi sumberdaya yang hingga saat ini masih bersifat open access. Karakteristik
sumberdaya seperti ini menyebabkan mereka (nelayan) harus berpindah-pindah untuk
memperoleh hasil yang maksimal. Kondisi demilikian menyebabkan elemen risikonya
menjadi sangat tinggi.
Risiko yang sangat tinggi yang dihadapi masyarakat pesisir menempatkan mereka pada
posisi sosial yang menarik untuk dicermati baik secara kultural maupun struktural, karena
dikebanyakan wilayah masyarakat pesisir memiliki status yang relatif rendah. Rendahnya
posisi sosial masyarakat pesisir, disebabkan karena keterasingan dan keterisolasian. Kedua
faktor ini mengakibatkan masyarakat pesisir tidak mengetahui lebih jauh pengetahuan dan
teknologi baru yang telah dikembangkan. Interaksi dengan masyarakat lain juga menjadi
sangat lemah.
Di sisi lain, pengembangan kawasan pesisir sebagai sentra industri, pemukiman,
perhubungan, pariwisata, dan perikanan dan pengembangan lain menjadikan pesisir sebagai
kawasan yang paling rentan secara ekologis dan rawan terhadap berbagai konflik
pemanfaatan ruang. Tingginya kegiatan pembangunan ekonomi kota yang menjangkau
kawasan pesisir ini seharusnya membawa dampak positif terhadap tingkat kesejahteraan
masyarakatnya, namun perkembangan ini sering belum dirasakan merata oleh seluruh
masyarakat, khususnya masyarakat desa pesisir. Hal ini antara lain disebabkan belum
optimalnya kebijakan-kebijakan yang mengatur tentang arahan pengembangan desa-desa
pesisir. Dengan demikian perlu dilakukan upaya-upaya untuk mengatasi keadaan di atas,
paling tidak kebijakan yang mengarahkan desa-desa pesisir sebagai salah satu basis
pembangunan wilayah. Konsekuensinya eksistensi infrastruktur (social and economic
overhead capital) sebagai basis pelayanan wilayah secara internal maupun eksternal dapat
mendorong dinamika perkembangan desa-desa pesisir.
Pentingnya eksistensi infrastruktur untuk kepentingan pelayanan pembangunan di wilayah
pesisir merupakan bagian penting dalam penentuan tipologi desa-desa pesisir secara spasial.
Hal inilah yang mendasari kajian tentang pendekatan tipologi wilayah dalam pengembangan
desa-desa pesisir di Provinsi Maluku. Pada bagian pertama kajian ini akan diberikan
gambaran pesisir sebagai kawasan strategis secara kewilayahan, bagian kedua tipologi desadesa pesisir, dan bagian ketiga strategi pengembangan desa-desa pesisir berdasarkan
karakteristik
tipologinya.

PEMBAHASAN
Pesisir
Sebagai
Kawasan
Strategis
Dalam konteks kewilayahan, kawasan pesisir yang memiliki posisi strategis di dalam
struktur alokasi dan distribusi sumberdaya ekonomi disebut memiliki locational rent yang
tinggi. Nilai ekonomi kawasan pesisir, selain ditentukan oleh rent lokasi (locational rent),
juga mengandung tiga unsur economic rent lainnya, yakni: ricardian rent, environmental
rent dan social rent. Ricardian rent adalah rent berdasarkan kekayaan dan kesesuaian
sumberdaya yang dimiliki untuk berbagai penggunaan, seperti kesesuaiannya (suitability)
untuk berbagai aktivitas budidaya (tambak), kesesuaian fisik untuk pengembangan
pelabuhan, dan sebagainya. Environmental rent kawasan pesisir adalah nilai atau fungsi
Peranan pusat-pusat pertumbuhan terhadap pengembangan ekonomi wilayah di propinsi Jawa
Timur
Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kabupaten/kota di provinsi jawa
timur

Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kabupaten/kota di provinsi jawa
timur

Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar


kabupaten/kota di provinsi jawa timur
kawasan yang didasarkan atas fungsinya di dalam keseimbangan lingkungan, sedangkan
social rent menyangkut manfaat kawasan untuk berbagai fungsi sosial. Di dalam mekanisme
pasar, umumnya locational dan ricardian rent yang terinternalisasi dalam struktur nilai
pasar, sehinggga berbagai fungsi lingkungan dan sosial kawasan pesisir banyak mengalami
degradasi dan tidak mendapat penilaian semestinya.
Peranan strategis wilayah pesisir hanya tercapai jika memenuhi persyaratan-persyaratan
berikut: (1) Basis ekonomi (economic base) wilayah yang bertumbuh atas sumberdaya
domestik yang terbaharui (domestic renewable resources), (2) Memiliki keterkaitan ke
belakang (backward lingkage) dan ke depan (forward lingkage) terhadap berbagai sektor
ekonomi lainnya di daerah yang bersangkutan secara signifikan sehingga perkembangan
sektor basis dapat menimbulkan efek ganda (multiplier effect) terhadap perkembangan
sektor-sektor lainnya di daerah yang bersangkutan, (3) Efek ganda (multiplier effect) yang
signifikan dari sektor basis dan sektor-sektor turunan dan penunjangnya dengan penciptaan
tenaga kerja dan pendapatan masyarakat (sektor rumah tangga), sektor pemerintah
lokal/daerah (sektor pajak/retribusi) dan PDRB wilayah, (4) Keterkaitan lintas regional di
dalam maupun antar wilayah yang tinggi (inter and inter-regional interaction) akan lebih
menjamin aliran alokasi dan distribusi sumberdaya yang efisien dan stabil sehingga
menurunkan ketidakpastian (uncertainty), dan (5) Terjadinya learning process secara
berkelanjutan yang mendorong terjadinya koreksi dan peningkatan secara terus menerus.
Untuk mencapai pembangunan sumberdaya wilayah pesisir dan lautan secara optimal dan
berkelanjutan, salah satu aspek yang sangat penting adalah aspek sosial, ekonomi dan
budaya. Aspek ini mensyaratkan bahwa masyarakat pesisir sebagai pelaku dan sekaligus
tujuan pembangunan wilayah pesisir dan lautan harus mendapatkan manfaat terbesar dari
kegiatan pembangunan tersebut. Kenyataan selama ini menunjukkan bahwa sebagian besar
keuntungan yang didapatkan justru dinikmati oleh penduduk di luar wilayah pesisir. Oleh
karena itu kebijakan pembangunan dan pemanfaatan sumberdaya di wilayah pesisir yang
harus diterapkan adalah : (1) Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat
pesisir dan memastikan bahwa mereka mendapatkan manfaat sebesar-besarnya dari
kegiatan pembangunan dan pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan; (2) Meningkatkan
peran serta masyarakat pesisir dalam pembangunan dan pengelolaan sumberdaya wilayah
pesisir dan lautan; dan (3) Memasyarakatkan pembangunan masyarakat pesisir yang
berwawasan
lingkungan
yang
diikuti
oleh
peningkatan
pendapatan.

Tipologi
Desa-Desa
Pesisir
Determinan pembangunan yang sangat berfungsi dalam menentukan tipologi wilayah dan
menjadi elemen utama dalam membangun keterkaitan internal dan eksternal meliputi
determinan ekonomi, sosial dan politik (Stohr, 1975) meliputi :
1.
Determinan
ekonomi
yang
meliputi
:
Transfer faktor-faktor produksi antar wilayah, merubah kapasitas produksi tiap wilayah;
Redistribusi permintaan yang efektif atau daya beli antar wilayah yang merubah kapasitas
pasarnya;
Urbanization economies untuk penghematan melalui penggunaan bersama prasarana
lokal;
Linkage effect untuk penghematan karena ketergantungan terhadap berbagai kegiatan
ekonomi;
Nilai tukar, untuk mengekspor barang-barang yang langka dan karena itu berharga tinggi,
serta mengimpor barang-barang yang banyak dan karena itu harganya rendah;
Regional multiplier, tingkat dimana pendapatan wilayah meningkatkan regional saving,
meningkatkan investasi wilayah dan memperluas kapasitas produksi wilayah.
Peranan pusat-pusat pertumbuhan terhadap pengembangan ekonomi wilayah di propinsi Jawa
Timur
Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kabupaten/kota di provinsi jawa
timur

Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kabupaten/kota di provinsi jawa
timur

Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar


kabupaten/kota di provinsi jawa timur
2.
Determinan
sosial
:
Kemampuan untuk mentransfer inovasi institusional ke suatu wilayah yang mempengaruhi
kapasitasnya untuk memobilisir dan menggunakan sumber daya dan untuk mengorganisir
pembangunan, yang juga disebut sebagai infrastruktur psiko-sosial dari suatu wilayah.
3.
Determinan
politik
:
Tingkat pengambilan keputusan secara otonom, antara lain : kapasitas untuk memobilisasi
dan menggunakan sumber daya dalam melayani setiap sasaran pembangunannya. Ini
tergantung pada distribusi kapasitas pengambilan keputusan antar tiap tingkatan wilayah.
Bila mengacu pada pola spasial determinan-determinan pembangunan yang mempengaruhi
wilayah-wilayah pengembangan (determinan ekonomi, sosial dan politik), dapat dibedakan
tipe-tipe wilayah itu menurut besaran relatif dan jenis spread dan backwash effect masingmasing (Stohr, 1975). Untuk kajian ini, klasifikasi tipologi wilayah yang diturunkan,
didasarkan pada hubungan eksistensi infrastruktur pelayanan pembangunan di setiap
wilayah dengan kapasitas wilayah yang ditunjukan dengan tingkat produksi sumberdaya
pesisir dan laut.
Berdasarkan ukuran-ukuran yang ada, tipologi wilayah dapat dibedakan dengan asumsi
bahwa fenomena spread dan backwash effect yang terjadi dalam tiap wilayah adalah berbeda
karena kemampuannya dalam menarik determinan-determinan pembangunan dan
pemancarannya ke dalam wilayah cenderung berbeda. Ukuran kapasitas menurut tingkat
produksi sumberdaya pesisir dan laut digunakan sebagai alternatif dalam menjawab
ketidakjelasan pengaruh ekonomi wilayah dalam menerangkan besaran kapasitas wilayah
secara agregat. Sebagai contoh, banyak kegiatan industri yang memberikan kontribusi
terhadap pendapatan wilayah, namun pancarannya dipandang belum menjangkau
keseluruhan wilayahnya, sehingga muncul kantong-kantong dalam kawasan yang
masyarakatnya masih berada pada suatu garis kemiskinan. Munculnya kantong-kantong
inipun tidak akan jelas terlihat bila tidak dilakukan pembedahan spasial menurut kapasitas
masyarakat
dalam
melakukan
kegiatan
produksi
di
tiap
wilayah.
Kapasitas yang dimaksudkan munjukan kondisi riil sosial ekonomi wilayah yang ditemukan
dalam masyarakat lokal wilayah. Artinya bahwa tingkatan produksi yang berbeda juga
memberikan gambaran terjadinya kesenjangan antar desa wilayah dalam penarikan
determinan-determinan pembangunan dan kemampuan untuk memancarkannya dalam
wilayah.
Hasil yang ditunjukkan dari hubungan eksistensi infrastruktur pelayanan pembangunan
dengan kapasitas produksi membedakan desa-desa pesisir atas 4 tipe. Ekspresi grafis yang
diadopsi dari Stohr (1975) menjadi inspirasi untuk membagi desa-desa pesisir menjadi 4
tipe, yaitu : (a) wilayah inti (core region); (b) wilayah periferi aktif (resource frontier region);
(c) wilayah periferi pasif (depressed region); dan (d) wilayah periferi netral (slowly
developing/stagnating
region),
sebagaimana
terlihat
dalam
Gambar
1.

1.
Desa
pesisir
sebagai
core
region
Di Provinsi Maluku, desa-desa pesisir yang umumnya dekat dengan pusat-pusat pelayanan
berfungsi sebagai core region, sedangkan desa-desa lain di sekitarnya periferinya. Core
region yang teridentifikasi di Provinsi Maluku ialah desa-desa pesisir yang berada tepat atau
sangat dekat dengan pusat-pusat pelayanan seperti pusat Provinsi Kota Ambon, pusat
Kabupaten Namlea, Piru, Masohi, Bula, Tual, Dobo dan Saumlaki. Demikian juga pusatpusat kecamatan yang terdistribusi pada 62 titik di seluruh kebupaten/kota. Hal ini sesuai
dengan posisi pusat-pusat ini dalam wilayah sebagai pusat administratif dan pusat
pelayanan
kawasan.
Impuls-impuls pembangunan yang bekerja dengan baik meningkatkan peluang core region
dalam menarik kegiatan ekonomi potensial atau paling tidak menarik potensi ekonomi
wilayah periferi ke dalam wilayahnya. Kehadiran sektor-sektor informal di pusat-pusat
pelayanan ini merupakan bentuk penarikan kegiatan ekonomi potensial dari wilayah lain.
Peranan pusat-pusat pertumbuhan terhadap pengembangan ekonomi wilayah di propinsi Jawa
Timur
Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kabupaten/kota di provinsi jawa
timur

Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kabupaten/kota di provinsi jawa
timur

Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar


kabupaten/kota di provinsi jawa timur
Potensi ekonomi wilayah yang ditarik ke pusat-pusat tersebut dan sekitarnya banyak terjadi
melalui proses perdagangan hasil-hasil perikanan.
Stohr (1975) mengemukakan bahwa desa-desa pesisir sebagai core region praktis memiliki
semua determinan pembangunan, dimana impuls-impuls pembangunan dari luar maupun
dari dalam bekerja dengan baik. Oleh karenanya, jika dibandingkan dengan desa-desa lain
maka pemilikan faktor produksi seperti modal dan teknologi relatif lebih tinggi di core
region. Desa-desa ini jugalah yang harus berada pada posisi dimana pancaran faktor-faktor
produksi mengalir ke wilayah lain.
Di sini terlihat juga bahwa sebenarnya keterkaitan antara desa-desa pesisir core region
dengan wilayah lain telah terbentuk. Manfaat besar yang dimiliki oleh desa-desa yang
termasuk
dalam
tipe
core
region
antara
lain
:
(1) Terjadi permintaan yang tinggi dalam wilayah, baik terhadap faktor produksi maupun
sumber daya pendukungnya dalam pemenuhan kegiatan produksi serta kebutuhan
masyarakat yang makin meningkat, sehingga gerakan perekonomian pda desa-desa inti ini
menjadi lebih dinamis. Hal ini terbukti dari adanya aliran masuk sumber daya alam dan
barang-barang
kebutuhan
primer,
sekunder
maupun
tersier.
(2) Sebagai konsekuensinya juga terjadi keuntungan urbanisasi karena mengalirnya tenaga
kerja dengan berbagai tingkatan ketrampilan yang turut menggerakan pembangunan
ekonomi dalam wilayah, terutama desa-desa pesisir lain di luar core region.
(3) Ada juga keterkaitan yang tercipta melalui aliran sumber daya alam atau komoditi, dan
berpeluang menciptakan bentuk-bentuk yang menguntungkan dari perdagangan antar
wilayah.
Dari aspek sosial kemasyarakatan, desa-desa pesisir yang termasuk dalam core region
cenderung memiliki masyarakat yang majemuk dibandingkan desa-desa lain. Kondisi ini
mendukung pembentukan struktur sosial wilayah dengan potensi inovasi yang tinggi.
Dengan demikian penyesuaian masyarakat dalam menghadapi perubahan inovasi lebih
tinggi. Ini juga bermanfaat bagi desa-desa tersebut dalam pembangunan wilayahnya.
Dinamika yang ditunjukkan melalui karakteristik wilayahnya ini menempatkan core region
sebagai
wilayah
yang
memiliki
tingkatan
kapasitas
produksi
tertinggi.

2.
Desa
pesisir
sebagai
resource
frontier
region
Tipe pertama dari desa-desa periferi adalah periferi aktif yang dalam kajian disebut dengan
resource frontier region. Desa-desa ini disebut sebagai wilayah yang memiliki peluang baru
dalam mana pembangunannya didasarkan pada eksploitasi yang tinggi terhadap sumber
daya alamnya. Perbedaan dalam perkembangan kegiatan-kegiatan produktif pada desa-desa
ini memposisikannya sebagai wilayah yang terdepan dalam pemanfaatan sumberdaya pesisir
dan laut. Fenomena tersebut menjadi menarik bila ditelusuri menurut spread effect yang
terjadi dalam wilayah. Ada indikasi bahwa keuntungan aglomerasi tidak terjadi secara
merata dalam wilayah ini, karena tendensi fungsional pusat untuk memberikan pelayanan
dalam wilayah hanya terkonsentrasi pada daerah pusat dan desa-desa yang dekat pusat.
Faktor yang berpengaruh terhadap fenomena ini, salah satunya adalah kuat-lemahnya
interaksi yang terjadi antara desa-desa hinterland dengan pusatnya.
Dalam hubungannya dengan fenomena tersebut, dapat dikemukakan bahwa desa-desa ini
memiliki kemampuan untuk menarik faktor-faktor produksi sebagai penggerak determinan
pembangunan seperti tenaga kerja, modal, dan teknologi. Ada dua hal yang muncul sebagai
dampak
dari
tarikan-tarikan
ini,
yaitu
:
Penarikan tenaga kerja dari luar wilayah tidak akan membuka peluang bagi tenaga kerja
lokal untuk mengisi peluang kerja dalam kegiatan ekonomi produktif. Namun di sisi lain
kehadiran tenaga kerja juga membuka peluang baru bagi masyarakat untuk mengantisipasi
meningkatnya permintaan terhadap produksi wilayah dan memperkuat struktur sosial
masyarakat.
Penarikan modal dan teknologi merupakan kekuatan untuk meningkatkan inovasionalnya.
Peranan pusat-pusat pertumbuhan terhadap pengembangan ekonomi wilayah di propinsi Jawa
Timur
Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kabupaten/kota di provinsi jawa
timur

Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kabupaten/kota di provinsi jawa
timur

Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar


kabupaten/kota di provinsi jawa timur
Belum lagi ditambah dengan semakin fleksibelnya struktur sosial wilayah sebagai kekuatan
dalam penyerapan impuls-impuls inovasional.
Secara teoritis, desa-desa periferi aktif ini tergantung terutama pada kekuatan
pembangunan dari luar. Untuk mempertahankan keberlanjutan pembangunannya, wilayah
ini memiliki kemampuan untuk menahan pengembalian faktor yang cukup (melalui upah)
untuk meningkatkan permintaan internal terhadap suplai-suplai yang mendasar dalam
melayani wilayahnya serta memadukannya dalam gerakan proses pengembangan dari luar.
Fenomena menarik untuk Provinsi Maluku ialah bahwa desa-desa periferi aktif ini lebih
menunjukan adanya proporsi kegiatan produksi yang tinggi pada kondisi dimana eksistensi
infrastruktur pelayanan yang kurang. Kondisi demikian ditemukan pada masayarakat di
pulau-pulau kecil dan pesisir yang umumnya merupakan pendatang atau bukan masyarakat
asli Maluku seperti ditemukan di Seram Bagian Barat, Seram Bagian Timur, Bagian Utara
Pulau Buru, dan beberapa pulau kecil lainnya di Maluku Tenggara dan Maluku Tenggara
Barat.

3.
Desa
Pesisir
sebagai
depressed
region
Desa-desa pesisir yang termasuk dalam tipe depressed region berada pada kondisi dimana
perekonomiannya tidak dapat bergerak secara optimal karena terlalu banyak penarikan dari
luar terhadap determinan pembangunan tanpa diimbangi penarikannya ke dalam. Hasil
produksi primernya (sumberdaya alam pesisir dan laut) tidak mengalami sentuhan inovasi
yang berarti dan karenanya aliran produksi ke luar sangat kurang. Banyak ditemukan aliran
sumberdaya alam yang ke luar hanya menjangkau wilayah-wilayah terdekat, dan produksi
perikanan yang dihasilkan tidak mengalami proses pengolahan yang berarti. Kalau pun ada,
hanya terbatas pada skala usaha rumah tangga dan sangat minim dukungan subtitusi
teknologi dari luar.
Sebagai dampak dari fenomena di atas, cenderung melemah permintaan produksi dari luar
wilayah. Walaupun sebenarnya desa-desa pesisir periferi pasif ini memiliki peluang interaksi
yang tinggi dengan basis wilayah yang lebih besar, namun nilai tukarnya cenderung negatif.
Spread effect yang terjadi melalui aliran masuk impuls-impuls teknologi dan inovasi sosial
sangat lemah. Determinan-determinan pembangunan yang sempat ikut tertarik masuk lebih
disebabkan mengalirnya penduduk ke dalam wilayah. Dan dengan demikian, pemilikan
faktor-faktor produksi ekonomi sangat kurang dan struktur sosial yang dimiliki cenderung
kaku. Hal yang terakhir ini menyatakan kondisi riil wilayah yang berada pada interaksi sosial
internal dan eksternal kawasan yang lemah. Salah satunya karena hubungan-hubungan
melalui aktifitas ekonomi terlokalisir di tingkat desa atau di hinterland saja.
Pengaruh penduduk di tingkat lokal sangat besar terhadap kapasitas ekonomi yang
karenanya mengkondisikan rata-rata pendapatan penduduk yang rendah sehingga tingkat
permintaannya secara efektif juga menjadi lemah. Untuk keberlanjutan pembangunan
internalnya, fenomena ini sangat berdampak pada dinamika perekonomiannya. Eksistensi
infrastrruktur terlalu besar dibandingkan kemampuan produksinya, dan karena
pendapatannya yang rendah, maka daya belinya secara agregat menjadi lemah untuk
menunjang pembangunan internalnya. Diduga kehadiran infrastruktur wilayah tidak
cenderung meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat lokal, tetapi berorientasi pada dan
mendukung
kegiatan
investasi
besar
dari
masyarakat
di
luar
wilayah.
4.
Desa
pesisir
sebagai
slowly
developing/stagnan
region
Sebagai konsekuensi rendahnya kapasitas produksi masyarakat dalam wilayah dan
rendahnya eksistensi infrastruktur pelayanan dalam menggerakan perekonomiannya, maka
desa-desa pesisir ini masuk dalam klasifikasi tipe wilayah periferi netral (slowly
developing/stagnan region). Wilayah ini secara agregat memiliki kesulitan dalam
perekonomiannya karena penarikan determinan pembangunan dari luar terlalu kuat,
terutama SDA-nya, walaupun sebenarnya terdapat juga penarikan ke dalam dari
Peranan pusat-pusat pertumbuhan terhadap pengembangan ekonomi wilayah di propinsi Jawa
Timur
Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kabupaten/kota di provinsi jawa
timur

Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kabupaten/kota di provinsi jawa
timur

Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar


kabupaten/kota di provinsi jawa timur
determinan-determinan tersebut. Disebutkan agregat bermakna : secara keseluruhan desadesa pesisir ini berada pada posisi yang lemah untuk bersaing dengan desa-desa lain. Diduga
daya beli yang lemah ditemukan hampir pada seluruh hinterland karena masih kuatnya
perilaku
subsistensi
masyarakat.
Internal spread effect yang diharapkan bisa menggerakkan pembangunan wilayah, tidak
jalan dengan baik karena lebih banyak fenomena backwash effect yang berperan. Hinterland
dengan potensi SDM-nya tidak termanfaatkan penuh untuk kegiatan-kegiatan tersebut
ekonomi produktif. Mereka ditemukan banyak berada pada kelas pekerja yang menurut
ukuran ekonominya berpendapatan rendah. Wilayah ini memiliki sumber daya yang terbatas
sementara penduduknya hanya terkonsentrasi pada kegiatan-kegiatan yang berbasis
perikanan tradisional.
Berdasarkan karakteristik tersebut, wilayah ini cenderung memiliki perkembangan
pembangunan yang lambat, bahkan sering stagnan karena kegiatan ekonomi subsisten lebih
dominan di sana. Ketergantungan mereka yang besar terhadap nilai sumber daya yang
dimiliki tanpa sentuhan inovasi serta jarak terhadap pasar yang cukup jauh menjadi
penyebab
utama
stagnasi
dan
lambatnya
gerak
pembangunan.

Strategi Pengembangan Desa-Desa Pesisir Berdasarkan Karakteristik Tipologi


Kajian karakteristik tipologi wilayah ini menyatakan bahwa perbedaan tipe desa-desa pesisir
di Maluku masih ditemukan sebagai akibat dari tingkatan kapasitas produksi sumberdaya
pesisir dan laut yang relatif berbeda, juga eksistensi infrastruktur dalam wilayah. Wilayah
periferi aktif memiliki kesenjangan kapasitas produksi yang besar, sedangkan wilayah inti
dan periferi netral berada pada suatu posisi keseimbangan ekonomi yang ditunjukkan oleh
garis keseimbangan ekonomi O-E (Gambar 2).
Walaupun desa-desa yang termasuk dalam slowly developing/stagnating region memiliki
pembangunan yang lambat dan sering stagnan, namun dua wilayah periferi lain (resource
frontier region dan depressed region) lebih membutuhkan kebijakan pembangunan ekonomi
wilayah. Sasarannya adalah mendorong kedua wilayah ini untuk masuk mendekati garis
keseimbangan ekonomi (O-E). Model yang direkomendasikan dalam pengembangan desadesa pesisir sebagaimana tergambar pada Gambar 2 memberikan bukti bahwa strategi yang
dikembangkan akan cukup variatif sesuai dengan tipe-tipe desa pesisir.
Core region mendapat prioritas untuk tetap mempertahankan kapasitas produksi dan
eksistensi infrastruktur, sambil menggerakan kegiatan pembangunannya mengarah pada
garis keseimbangan O-E (i). Untuk resource frontier region, pengembangan infrastruktur
dalam pengelolaan sumber-sumber menjadi prioritas utama (ii). Pada desa-desa pesisir
dengan tipe depressed region sangat membutuhkan peningkatan kapasitas produksi melalui
aliran inovasi teknologi, investasi dan peningkatan kualitas sumberdaya manusianya (iii).
Sedangkan pada slowly developing/stagnating region, subtitusi inovasi (pengetahuan dan
teknologi) menjadi prioritasnya dalam pengelolaan sumber-sumber, dan harus mampu
didorong untuk meningkatkan kegiatan ekonomi wilayah melalui sentuhan inovasi teknologi
serta menarik determinan pembangunan seperti potensi penduduk (tenaga kerja) dan
investasi dalam mengefektifkan pengelolaan sumber-sumber dalam wilayah (iv).
PENUTUP
Kajian ini menemukan adanya perbedaan tipologi desa-desa pesisir, dimana dari empat tipe
wilayah yang dibedakan berdasarkan eksistensi infrastruktur pelayanan dan kapasitas
produksi sumber daya pesisir dan laut terdapat perbedaan yang tajam pada kedua faktor
yang dikaji. Hasil ini menemukan adanya model pengembangan desa-desa pesisir dengan
rumusan empat strategi umum pengembangan. Paling tidak temuan ini menjadi bagian
penting untuk dijadikan model dan konsep dasar dalam penentuan kebijakan
Peranan pusat-pusat pertumbuhan terhadap pengembangan ekonomi wilayah di propinsi Jawa
Timur
Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kabupaten/kota di provinsi jawa
timur

Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kabupaten/kota di provinsi jawa
timur

Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar


kabupaten/kota di provinsi jawa timur
pengembangan
desa-desa
pesisir
di
Provinsi

DAFTAR

Maluku.
PUSTAKA

Anonimous, 1985. Data dan Informasi Perikanan dan Kelautan Provinsi Maluku. Dinas
Perikanan
dan
Kelautan
Provinsi
Maluku,
Ambon.
Budiharsono, S. 2001. Teknik Analisis Pembangunan Wilayah Pesisir dan Lautan. Pradnya
Paramita,
Jakarta.
159
halaman.
Rahmalia, E. 2003. Analisis Tipologi dan Pengembangan Desa-desa Pesisir Kota Bandar
Lampung.
Tesis.
Institut
Pertanian
Bogor.
Bogor.
Satria, A. 2002. Pengantar Sosiologi Masyarakat Pesisir. Cidesindo. Jakarta. 130 halaman.
Stohr, W., 1975. Regional Development; Experiences and Prospects in Latin America. Vol : 3.
United Nations Research Institute For Social Development. Geneva. 186 pp.
Diposkan oleh JAMES ABRAHAMSZ di 07.06.00
Label: Pengembangan Desa Pesisir, Tipologi Wilayah

Peranan pusat-pusat pertumbuhan terhadap pengembangan ekonomi wilayah di propinsi Jawa


Timur
Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kabupaten/kota di provinsi jawa
timur