Anda di halaman 1dari 2

Inovasi

Konseling Gizi Bagi Penderita TB
Konseling Gizi Bagi Penderita TB

nutrisi dapat membantu

Kuntuk meningkatkan hasil

terapi pada pasien tuberkulosis. Penelitian randomized control trial (RCT) yang dilakukan oleh Paton et al pada tahun 2003 di Singapura memperlihatkan bahwa konseling nutrisi untuk meningkatkan asupan

e n e r g i , p r o t e i n d a n l e m a k dikombinasikan dengan konsumsi suplemen yang dimulai sejak fase awal pengobatan TB, menghasilkan peningkatan signifikan dalam berat badan dan fungsi fisik setelah enam minggu.

Melihat pentingnya asuhan nutrisi pada pasien TB tersebut, maka Puskesmas Godean II mulai tahun 2011 melaksanakan prosedur standar konseling nutrisi pada pasien yang menjalani pengobatan TB. Pasien yang telah didiagnosis TB oleh dokter dan siap menjalani

terapi kemudian dirujuk ke poli gizi dengan membawa informasi/hasil

p e m e r i k s a a n , s e l a n j u t n y a

nutrisionis mengkaji secara detail tentang keadaan pasien secara keseluruhan. Setelah diagnosa nutrisi ditentukan, langkah selanjutnya adalah menetapkan pedoman diet. Pedoman nutrisi

u n t u k p e n d e r i t a T B y a n g diterapkan di Puskesmas Godean II mengambil sumber dari penelitian- penelitian yang telah direview

dalam NutritionalSupplementsfor

onseling dan suplementasi

Pasien TB di Puskesmas

People Being Treated for Active Tuberculosis.

Pada pasien TB perlu dilakukan penambahan kalori, yakni sekitar 10%-30%. Apabila pasien diberikan sesuai pembagian makan sehari 3 kali dengan (presentase 30% pagi dan 35% siang dan sore), mungkin justru menimbulkan kesulitan. Pada awal fase intensif pengobatan, pasien TB mungkin masih mengalami batuk dan ketidaknyamanan dalam bernafas yang berdampak pada tingkat penerimaan makanan. Belum lagi dosis obat fase intensif yang masih cukup tinggi seringkali menimbulkan rasa mual pada pasien. Anjuran makan yang dilakukan dalam penanganan pasien TB di Puskesmas Godean II adalah makan dengan porsi sedikit tapi sering, mulai dari 4x -6x per harinya dengan tambahan 3x makanan selingan. Protein diberikan setiap kali makan 2 porsi masing-masing untuk hewani dan nabati. Yang perlu diperhatikan dalam pemberian makanan adalah jarak antara obat dan makanan, karena dapat mempengaruhi bioavailabilitas isoniazid dan rifampisin dalam regimen terapi TB, setidaknya diberikan jarak 30 menit - 1 jam setelah meminum obat Fixed Drug Combination (FDC) di pagi hari baru kemudian sarapan.

EDISI 2/2012/JENDELA Husada 20

baru kemudian sarapan. EDISI 2/2012/ JENDELA Husada 20 Godean II diberikan motivasi untuk mengkonsumsi lebih banyak

Godean II diberikan motivasi untuk mengkonsumsi lebih banyak protein baik hewani maupun nabati, hingga minimal mencapai 75-100 gram perhari. Anjuran untuk konsumsi putih telur dan segelas susu setidaknya 2 kali sehari (siang dan sore hari) juga ditekankan.

Asupan mikronutrien

tidak kalah pentingnya dengan nutrisi yang lain. Oleh karena itu, pada pasien TB di Puskesmas Godean II diberikan pula edukasi mengenai makanan dengan kadar vitamin A dan zink yang tinggi. Kebutuhan vitamin B6 yang meningkat karena penggunaan

i s o n i a z i d j u g a h a r u s

d i b e r i t a h u k a n , d i s e r t a i

suplementasi vitamin B6 setiap hari.

Asupan cairan tidak boleh dilupakan, setidaknya 10-12 gelas air putih wajib diminum setiap hari oleh pasien. Selain karena kebutuhan cairan yang harus terpenuhi saat sakit, fungsi klirens ginjal terhadap obat- obatan TB juga harus dijaga agar tetap lancar.

D a l a m m e m b e r i k a n diet/pengaturan makan wajib diperhatikan tahapan/fase

s e b e r a p a a s u p a n y a n g

dibutuhkan dan kemampuan pasien pasien dalam menerima m a k a n a n . H a l t e r s e b u t dikarenakan agar tidak terjadi

refeeding syndrome, terutama pada pasien TB yang mengawali terapi dengan status nutrisi yang buruk. (AlfianDestiadi)

terapi dengan status nutrisi yang buruk. ( AlfianDestiadi) 2012 Pemerintah Kabupaten M Sleman menggulirkan program
terapi dengan status nutrisi yang buruk. ( AlfianDestiadi) 2012 Pemerintah Kabupaten M Sleman menggulirkan program

2012

Pemerintah Kabupaten

MSleman menggulirkan

program Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Program ini m e n e r u s k a n p r o g r a m sebelumnya yaitu Jaminan P e m e l i h a r a a n K e s e h a t a n Masyarakat (JPKM). Beberapa kebijakan baru turut mewarnai penggantian tersebut. Salah satunya adalah dibukanya kembali kepesertaan untuk masyarakat umum/mandiri yang sempat dihentikan pada tahun 2010. Banyak keluhan masyarakat pasca digulirkannya program baru ini. Masyarakat merasa “susah” mengakses manfaat program saat dirawat di rumah s a k i t . I n i k a r e n a a d a n y a ketentuan bahwa peserta baru bisa mendapatkan manfaat 2 bulan setelah terdaftar sebagai peserta.

Jamkesda dan Asuransi Sosial:

Beberapa Modifikasi Pasal 19 ayat (1) UU No. 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional mengharuskan penyelenggaraan Jaminan

emasuki

Tahun

Kesehatan berdasar prinsip asuransi sosial. Ada tiga ciri pokok

a s u r a n s i s o s i a l . P e r t a m a , iuran/premi relatif kecil dan besarannya sama untuk setiap peserta. Kedua, manfaat/paket jaminan dibuat sama untuk semua peserta. Ketiga, kepesertaan bersifat wajib atas dasar undang- undang. Kewajiban ini akan memaksa kepesertaan bersifat kelompok. Semakin besar anggota

k e l o m p o k , s e m a k i n

menguntungkan dari sisi pooling anggaran mengikuti hukum jumlah besar (The Law of The Large

N u m b e r ). Perkalian jumlah anggota yang besar dengan iuran/premi menyebabkan pooling anggaran yang besar pula untuk biaya peserta saat sakit. Contoh asuransi model ini adalah Askes dengan peserta kelompok PNS.

P r o g r a m J a m k e s d a Kabupaten Sleman tidaklah secara ketat menerapkan ciri-ciri pokok asuransi sosial. Modifikasi dilakukan menyesuaikan kondisi

m a s y a r a k a t y a n g b e l u m sepenuhnya menerima asuransi

kesehatan. Tentu saja ini mengandung risiko kegagalan dalam mewujudkan pooling anggaran dan keuangan yang sehat. Masyarakat belum pada tingkatan “asuransi minded”. Filosofi “sedia payung sebelum hujan” belum familier dalam

m e n s i k a p i k e m u n g k i n a n terjadinya sakit. Padahal masyarakat tahu bahwa sakit merupakan satu kepastian dan tidak bisa diramal kapan terjadi. Baru setelah sakit dengan biaya besar terjadi, masyarakat bingung.

Pasal 7 ayat (1) dan (2) Perda No. 11/2010 mewajibkan masyarakat mengikuti Program Jamkesda. Namun tidak ada

rumusan – “atau lebih tepat jika dikatakan tidak mungkin dirumuskan” – sanksi bagi yang

t i d a k m e n g i k u t i .

Konsekwensinya, status wajib ini tidak mempunyai daya dorong untuk memobilisasi masyarakat guna mewujudkan pooling peserta yang besar sebagai ciri pokok asuransi sosial. Padahal dengan manfaat sebagaimana diatur dalam Perbup No. 41/2011, dengan iuran sebesar 60.000,- / j i w a / t a h u n p a l i n g t i d a k dibutuhkan peserta 150.000 jiwa agar keuangan program tetap sehat. Untuk menyelaraskan dengan status wajib, rekruitmen dimodifikasi guna memudahkan masyarakat menjadi peserta. Pasal 4 ayat (9) huruf a Perbup 41/2011 membuka peluang diterimanya peserta perseorangan. Jenis kepesertaan yang sebenarnya tidak dikenal dalam asuransi sosial. Ada pun pengertian kelompok dibuat longgar. Cukup 25 orang sudah memenuhi syarat. Sekali lagi, modifikasi ini diperlukan untuk menyesuaikan

EDISI 2/2012/JENDELA Husada 13

orang sudah memenuhi syarat. Sekali lagi, modifikasi ini diperlukan untuk menyesuaikan EDISI 2/2012/ JENDELA Husada 13
dengan kondisi masyarakat. Tidaklah bijak jika status wajib tersebut tidak diimbangi kemudahan menjadi peserta. Tidak
dengan
kondisi
masyarakat.
Tidaklah bijak jika status wajib
tersebut tidak diimbangi kemudahan
menjadi peserta. Tidak mudah
mengelompokkan masyarakat dalam
jumlah besar sementara itu belum
dipandang sebagai kebutuhan.
Potensi Bahaya Moral
Ada beberapa celah bagi
tumbuh suburnya bahaya moral
dengan dimodifiikasinya ciri-ciri
pokok asuransi sosial pada program
J a m k e s d a . K e c e n d e r u n g a n
masyarakat yang baru sadar biaya
pasca sakit, menyebabkan mereka
baru berminat mengikuti asuransi
kesehatan setelah sakit. Potensi ini
terbuka seiring dengan dibukanya
kepesertaan perseorangan.
Langkah Antisipasif
Beberapa kebijakan telah
diambil sebagai antisipasi potensi
bahaya moral di atas. Pasal 4 ayat
(9) huruf a Perbup No. 41/2011
hanya memberikan kesempatan
peserta perorangan mendaftar di
bulan Januari dan Juli. Pasal ini
akan menghambat
orang yang terkena gagal ginjal di
bulan Pebruari misalnya, untuk
menjadi peserta. Mau tidak mau
harus menunggu bulan Juli.
Mungkin sakitnya sudah tak
tertangani dan meninggal. Tidak
ada manfaatnya menjadi peserta di
bulan itu.
diperbaiki. Daripada menjadi
peserta saat sakit tapi tidak bisa
mendapatkan manfaat, lebih
baik ikut saat sehat walaupun
mungkin tidak akan sakit. Jadi,
“Sedia Payung Sebelum Hujan”.
Iuran mereka yang sehat bisa
t e r m a n f a a t k a n u n t u k
membantu biaya peserta yang
sakit. Potensi ini akan menjaga
keuangan Jamkesda tetap sehat
t a n p a d i b a y a n g - b a y a n g i
ancaman kebangkrutan.
Pada kasus gagal ginjal
misalnya, maka dengan iur Rp.
60.000,- akan terdaftar sebagai
peserta. Mungkin esoknya cuci darah
di rumah sakit. Peserta mendapat
santunan Rp. 300.000,-/tindakan. Jika
frekwensi cuci darah 3 kali seminggu
maka akan mendapat santunan Rp.
43.200.000,-. Ini setara dengan iuran
720 peserta. Artinya satu orang peserta
gagal ginjal membutuhkan subsidi 719
peserta sehat untuk biaya sakitnya.
Tapi jika mayoritas peserta orang
sakit, dari mana subsidi biaya didapat?
B a r a n g k a l i p e l u a n g
menjadi peserta sesegera mungkin
masih terbuka jika mengacu ayat
(9) huruf b pasal yang sama.
Peserta kelompok dimungkinkan
mendaftar setiap saat. Tapi
pemanfaatan jaminan akan
terganjal Pasal 9 ayat (4) Perda No.
11 / 2010 di mana jaminan hanya
bisa didapatkan 2 bulan pasca
menjadi peserta.
Banyak pekerjaan rumah
yang harus diselesaikan.
Komunikasi dengan masyarakt
guna menjelaskan substansi
program harus dibangun. Yang
perlu diingat, Jamkesda bukan
hanya tugas unit kerja atau
SKPD tertentu. Jamkesda
m e r u p a k a n p r o g r a m
pemerintah kabupaten. Jadi
menjadi tanggung jawab semua
unsur pemerintah kabupaten.
Tentunya sesuai peran masing-
masing. Mudah-mudahan ke
depan, pertanyaan/keluhan
sebagaimana diuraikan pada
Pasal-pasal di atas dibuat
s e d e m i k i a n r u p a u n t u k
memerangi paradigma “menjadi
peserta Jamkesda jika sakit”.
Harapannya dalam jangka panjang
paradigma masyarakat bisa
bagian pengantar tulisan ini bisa
d i e l i m i n i r . P a l i n g t i d a k
dikurangi.
Agus Triono, ST
Kepala UPT JPKM Kabupaten Sleman
Potensi lain adalah ketentuan
sedikitnya jumlah anggota untuk
peserta kelompok. Pasal 4 ayat (9)
huruf b Perbup No. 41/2001 hanya
mempersyaratkan 25 orang. Pasal ini
mudah disiasati. Satu saja pasien
“berpromosi” di rumah sakit, mudah
terkumpul 25 orang sakit. Mereka
tentu antusias bergabung dengan
Jamkesda. Bayangkan, 25 orang
identik dengan iuran Rp. 1.500.0000,-.
Tapi berpuluh/berratus juta santunan
biaya sakit akan mereka keruk.
Hitung-hitungan tersebut bisa
m e n j a d i g a m b a r a n . P e s e r t a
diuntungkan, tapi pengelola program
bisa bangkrut. Ini berbahaya bagi
keberlanjutan program. Jika program
berhenti di tengah jalan, peserta juga
yang akan dirugikan.
Orang Sehat pun punya Jamkesda
EDISI 2/2012/JENDELA Husada 14
Inovasi
Inovasi

Inovasi

Inovasi

Kiprah Desa Siaga Wonokerto dalam Penanggulangan TB

Inovasi Kiprah Desa Siaga Wonokerto dalam Penanggulangan TB P strategis mengingat desa ini merupakan desa dengan

Pstrategis mengingat desa

ini merupakan desa dengan bahaya bencana erupsi merapi. Untuk mendukung peran promotif dan preventifnya, d a l a m k e p e n g u r u s a n n y a Poskesdes Desa Wonokerto membentuk seksi pencegahan penyakit. Seksi ini bertugas mengumpulkan semua data dan informasi di masyarakat yang berkaitan dengan kejadian penyakit. Kegiatan ini telah mendapat dukungan dari tokoh masyarakat seperti kepala dusun, sehingga setiap hari Kamis akan ada penyampaian informasi di masing-masing dusun yang difasilitasi oleh pemerintah Desa. Menurut koordinator Poskesdes Desa Wonokerto bidan Yamsiyah A.md.Keb,, seksi ini bertujuan menanggulangi permasalahan penyakit yang rawan seperti

embentukan desa siaga di

Desa Wonokerto sangat

malaria dan TB Paru.

Untuk menyebarluaskan

informasi tentang bahaya TB di m a s y a r a k a t , d i l a k u k a n sosialisasi bersama antara Puskesmas dengan Poskesdes. Diantaranya berupa penyuluhan TB, pemasangan spanduk TB, pembagian stiker TB, dan pemutaran film TB. Rangkaian kegiatan diawali pada saat peringatan hari TBC tanggal 24 Maret di Puskesmas berupa pemutaran film. Dilanjutkan pertemuan tingkat desa di Desa Wonokerto yang difasilitasi oleh Puskesmas Turi pada tanggal 28 Maret 2012. Kegiatan

d i r u a n g

i n i b e r t e m p a t

P o s k e s d e s W o n o k e r t o , sekaligus sebagai syukuran

selesainya penataan ruangan pasca erupsi Merapi 2010 lalu.

Pertemuan yang dihadiri segenap unsur Pemerintah Desa, Kepala Dusun, Pengurus

Poskesdes dan Puskemas ini menghasikan garis besar rencana program kegiatan di tahun 2012. Salah satunya adalah meningkatkan upaya penanggulangan penyakit TB melalui penyuluhan dan kampanye PHBS.

Selanjutnya pada hari Jumat tangggal 30 Maret 2012 dilaksanakan senam sehat

b e r s a m a d i h a l a m a n

Puskesmas Turi. Rangkaian kegiatan diakhiri pada hari Selasa tanggal 2 April 2012

d e n g a n p e l a k s a n a k a n

refrheshing kader Posyandu

se-Kecamatan Turi yang

b e r t e m p a t d i D e s a

Wonokerto. Dalam kegiatan ini dilakukan penyegaran dan motivasi bagi kader untuk selalu meng-kampanyekan PHBS serta melaksanakan

pengamatan penyakit di

m a s y a r a k a t . D e n g a n keterlibatan kader Posyandu, akan memperluas jejaring

p e n a n g g u l a n g a n T B d i

masyarakat sehingga akan tercipta sistem surveilans berbasis masyarakat.

Pada akhirnya desa

s i a g a W o n o k e r t o s i a p

b e r p a r t i s i p a s i d a l a m

m e n u n j a n g k o m i t m e n Indonesia dalam MDGs pada

t u j u a n k e - 6 y a i t u

mengendalikan penyakit menular (TB). (Bayu Adi Arjito)

EDISI 2/2012/JENDELA Husada 19