Anda di halaman 1dari 31

Etika Profesi Kedokteran

Nadia Liem
102012357
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No.6, Kebon Jeruk, Jakarta Barat
Email: liemnadya@gmail.com

SKENARIO
Seorang pasien bayi dibawa orangtuanya datang ke tempat praktek dokter A, seorang
dokter anak. Ibu pasien bercerita bahwa ia adalah pasien seorang dokter obsgyn B sewaktu
melahirkan dan anaknya dirawat oleh dokter anak C. Baik dokter B maupun C tidak pernah
mengatakan bahwa anaknya menderita penyakit atau cedera sewaktu lahir dan dirawat disana.
Sepuluh hari pasca lahir orangtua bayi menemukan benjolan di pundak kanan bayi.
Setelah diperiksa oleh dokter anak A dan pemeriksaan radiologi sebagai
penunjangnya, pasien dinyatakan menderita fraktur klavikula kanan yang sudah berbentuk
khalus. Kepada dokter A mereka meminta kepastian apakah benar terjadi patah tulang
klavikula dan kapan kira-kira terjadinya. Bila benar bahwa patah tulang terssebut terjadi
sewaktu kelahiran, mereka akan menuntut dokter B karena telah mengakibatkan patah tulang
dan dokter C karena lalai tidak dapat mendiagnosisnya. Mereka juga menduga bahwa dokter
C kurang kompoten sehingga sebaiknya ia merawat anaknya ke dokter A saja. Dokter A
berpikir apa yang sebaiknya ia katakan.

Pendahuluan
Pada kasus tersebut, permasalahan utamanya ialah seorang ibu yang membawa bayi
ke dokter A yang diduga menderita fraktur klavikula kanan akibat kelalaian dr B dan C. Yang
akan dibahas di makalah ini berkaitan dengan kasus dia atas adalah etika profesi kedokteran,
hubungan dokter pasien, hubungan kesejawatan, dampak hukum yang timbul akibat
keputusan pasien, dan jalan keluar yang terbaik.
Jenis hubungan dokter-pasien sangat dipengaruhi oleh etika profesi kedokteran
sebagai konsekuensi dan kewajiban-kewajiban profesi yang memberikan batasan hubungan
tersebut. Walaupun hubungan dokter-pasien ini bersifat kontralektual namun mengingati sifat
praktek kedokteran yang berdasarkan ilmu empiris, maka prestasi kontrak tersebut bukan lah
hasil yang akan dicapai melainkan upaya yang sungguh-sungguh.1
Dengan menganggap bahwa teori kontrak telah

terlalu menyederhanakan nilai

hubungan dokter-pasien maka Smith dan Newton (1984) lebih memilih hubungan dokterpasien berdasar atas virtue sebagai hubungan paling cocok bagi hubungan dokter-pasien.
Etika kedokteran juga sangat berhubungan dengan hukum. Hampir di semua negara
ada hukum yang secara khusus mengatur bagaimana dokter harus bertindak berhubungan
dengan masalah etika dalam perawatan pasien dan penelitian. Badan yang mengatur dan
memberikan ijin praktek medis di setiap negara bisa dan memang menghukum dokter yang
melanggar etika. Namun etika dan hukum tidaklah sama. Sangat sering, bahkan etika
membuat standar perilaku yang lebih tinggi dibanding hukum, dan kadang etika
memungkinkan dokter perlu untuk melanggar hukum yang menyuruh melakukan tindakan
yang tidak etis. Hukum juga berbeda untuk tiap-tiap negara sedangkan etika dapat diterapkan
tanpa melihat batas negara. 2
Prinsip Prinsip Etika Profesi Kedokteran.
Pada dasarnya manusia memiliki 4 kebutuhan dasar, yaitu kebutuhan fisiologis yang
dipenuhi dengan makanan dan minuman, kebutuhan psikologis yang dipeuhi dengan rasa
kepuasan, istirahat dan santai, kebutuhan social yang dipenuhi dengan keluarga, teman dan
komuniti dan kebutuhan kreatif dan spiritual yang dipenuhi dengan melalui pengetahuan
kebenaran cinta. 2

Di dalam menentukan tindakan di bidang kesehatan atau kedokteran selain


mempertimbangkan

keempat

kebutuhan

di

atas,

keputusan

hendaknya

juga

mempertimbangkan hak-hak pasien. Pelanggaran atas hakpasien akan mengakibatkan juga


pelanggaran atas kebutuhan dasar di atas terutama kebutuhan kreatif dan spiritual pasien.
Beaucham and Childress (1994) menguraikan bahwa untuk mencapai ke suatu
keputusan etik diperlukan 4kaidah dasar moral dan beberapa rules dibawahnya. Keempat
dasar moral tersebut adalah: 2
a) Prinsip Autonomy.
Prinsip moral yang menghormati hak-hak pasien, terutama otonomi pasien. Prinsip moral
inilah yang kemudia melahirkan dokrin informes-consent.
Kata Autonomy, berasal dari bahasa Yunani, autos (self ) dan nomos (memerintah,
atau hukum). Pada awalnya, autonomy diartikan sebagai pemerintahan sendiri untuk kota
bagian Hellenic. Sejak saat itu, autonomy dikembangkan untuk ditujukan pada individual dan
memberi arti sebagai hak kebebasan, pilihan sendiri, menyebabkan satu perilaku, dan menjadi
diri sendiri.
Ciri-ciri prinsip autonomy adalah:
1. Menghargai pasien menentukan nasib sendiri
2. Berterus terang
3. Menghargai privasi
4. Melaksanakan informed consent (persetujuan pasien tentang apa yang akan dan apa
yang tidak akan dilakukannya, berdasarkan saran dokter.)
5. Tidak mengintervensi atau menghalangi autonomy pasien
6. Tidak berbohong meskipun demi kebaikan pasien
Menjaga hubungan baik dengan pasien
b) Prinsip Beneficience.
Prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang ditujukan kebaikan pasien . dalam
beneficience tidak hanya dikenal perbuatan untuk kebaikan saja, melainkan juga perbuatan
yang sisi baiknya lebih besar daripada sisi buruknya.

Beneficence lebih diartikan sebagai melakukan tindakan untuk kebaikan pasien. Lebih
mengutamakan altruisme atau pertolongan tanpa pamrih dan rela berkorban demi
kepentingan orang lain. Atau bisa kita persingkat yaitu altruisme dalam berpraktek.Kewajiban
berbuat baik menuntut bahwa kita harus membantu orang lain dalam memajukan kepentingan
mereka, jika kita dapat melakukannya tanpa risiko bagi diri kita sendiri.
Tindakan berbuat baik (beneficence):

General Beneficence :
o Melindungi dan mempertahankan hak yang lain
o Mencegah terjadi kecurigaan pada orang lain
o Menghilangkan kondisi penyebab kerugian pada yang lain
Specific beneficence :
o Menolong orang cacat
o Menyelamatkan orang dari bahaya
Mengutamakan kepentingan pasien
Memandang pasien/keluarga/sesuatu tidak hanya sejauh

dokter/rumah sakit/pihak lain


Maksimalisasi akibat baik (termasuk jumlah > akibat buruk)

menguntungkan

Menjamin nilai pokok : apa saja yang ada, pantas (elok) kita bersikap baik terhadapnya
(apalagi ada yang hidup).
c) Prinsip Non malaficence
Prinsip moral yang melarang tindakan yang memperburuk keadaan pasien. Prinsip ini
dikenal sebagai primum non nocere atau abovr all da no harm
Prinsip non-maleficence menekankan kepada pentingnya kewajiban untuk tidak
menyakiti secara sengaja. Hal ini berkaitan di dunia etika kedokteran dengan perkataan
Primum non nocere: Above all do no harm.Hal ini disebabkan kondisi pasien yang sangat
bergantung pada dokter, sehingga dokter dilarang untuk memperlakukan pasien sesuka
mereka.

Ciri-ciri Non-Maleficence:
1. Tidak membunuh pasien
2. Tidak memandang pasien hanya sebagai objek
3. Mengobati secara proposional
4

4.
5.
6.
7.

Mencegah pasien dari bahaya


Memberikan semangat hidup pada pasien
Tidak membahayakan kehidupan pasien karena kelalaian
Tidak melakukan white collar crime (kejahatan kerah putih, seperti malpraktik)

d) Prinsip justice
Prinsip moral yang mementingkan keadilan dalam bersikap mendistribusikan daya. Kata
keadilan bergantung pada konteksnya. Dalam bidang kesehatan keadilan dimaknai tentang
apa yang menjadi hak atau yang berhak didapatkan dari layanan kesehatan, akses terhadap
layanan kesehatan, dan promosi kesehatan yang tersedia atau disediakan oleh negara kepada
warganya.
Dalam bioetika, prinsip justice mengutamakan prinsip keadilan bagi pasien. Tidak peduli
pasien berada dari status sosial apa maupun suku mana, dokter harus memberikan pelayanan
pada pasien sesuai dengan hak pasien.
Ciri-ciri prinsip justice adalah:
1. Memberlakukan segala sesuatu secara universal
2. Menghargai hak sehat pasien (affordability, equality, accesibility, availability, quality)
3. Menghargai hak orang lain
4. Menjaga kelompok rentan (yang paling merugikan)
5. Mengembalikan hak kepada pemiliknya pada saat yang tepat dan kompeten
6. Tidak memberi beban berat secara tidak merata tanpa alasan sah/tepat, etc
Selain prinsip atau kaidah dasar moral di atas yang harus dijadikan pedoman dalam
mengambil keputusan klinis,profesional kedokteran juga mengenal etika profesi sebagai
panduan dalam bersikap dan berperilaku.baik sumpah dokter maupun kode etik kedokteran
berisikan sejumlah kewajiban moral yang melekat kepada para dokter.meskipun kewajiban
tersebut bukanlah kewajiban hukum sehingga tidak dapat dipaksakan secara hukum

Didalam menentukan tindakan di bidang kesehatan atau kedokteran, selain selain


mempertimbangkan empat kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan fisiologis yang
dipenuhi dengan makanan dan minuman, kebutuhan psikologis yang dipenuhi dengan rasa
puas, istirahat, santai dll, kemudian kebutuhan social yang dipenuhi dengan adanya keluarga,
teman dan komunitas serta kebutuhan yang tidak kalah penting yaitu kebutuhan kreatif dan
5

spiritual yang dipenuhi melalui pengetahuan, kebenaran, cinta dll, maka keputusan yang akan
diambil oleh dokter hendaknya mempertimbangkan juga hak-hak asasi pasien. Pelanggaran
atas hak pasien akan mengakibatkan pelanggaran atas kebutuhan dasar diatas terutama
kebutuhan kreatif dan spiritual pasien.1,2
Etika adalah disiplin ilmu yang mempelajari baik buruk atau benar salahnya suatu
sikap dan atau perbuatan seseotang individu atau institusi dilihat dari moralitas. Penilaian
baik buruk dan benar salah dari sisi moral tersebut menggunakan pendekatan teori etika yang
cukup banyak jumlahnya. Terdapat dua teori etika yang paling banyak dianut oleh orang yaitu
teori deontology dan teologi. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa deontology mengajarkan
bahwa baik-buruknya suatu perbuatan harus dilihat dari perbuatan itu sendiri, sedangkan
teologi mengajarkan untuk melihat baik-buruknya sesuatu dengan melihat hasil atau
akibatnya. Deontologi lebih mendasar kepada ajaran agama, tradisi dan budaya, sedangkn
teologi lebih berdasar pada arah penalaran dan pembenaran kepada azas manfaat. 1,3
Beuchamp dan Childress (1994) menguraikan bahwa untuk mencapai ke suatu
keputusan etik diperlukan 4 kaidah dasar moral dan beberapa aturan dibawahnya. Keempat
kaidah dasar moral tersebut adalah:
1. Prinsip Otonomi
Prinsip otonomi adalah prinsip moral yang menghormati hak-hak pasien, terutama
hak otonomi pasien. Prinsip moral inilah yang kemudian melahirkan doktrin informed
consent.
2. Prinsip Beneficence
Prinsip Beneficence adalah prinsip moral yng mengutamakan tindakan yang ditujukan
demi kebaikan pasien. Dalam beneficence tidak hanya dikenal perbuatan untuk
kebaikan saja, melainkan juga perbuatan yang sisi baiknya (manfaat) lebih besar dari
sisi buruknya.
3. Prinsip Non-malificence
Prinsip Non-malificence adalah prinsip moral yang melarang tindakan yang
memperburuk keadaan pasien. Prinsip ini juga dikenal dengan primum non nocere
atau above all, do no harm.
4. Prinsip Justice
Prinsip Justice adalah prinsip moral yang mementingkan fairness dan keadilan dalam
bersikap maupun dalam mendistribusikan sumber daya.
Sedangkan aturan turunannya adalah veracity (berbicara jujur, benar dan terbuka), privacy
(menghormat hak pribadi pasien), confidentiality (menjaga kerahasian pasien) dan fidelity
(loyalitas dan promise keeping).
Selain prinsip atau kaidah dasar moral diatas, yang harus dijadikan pedoman dalam
mengambil keputusan klinis, profesionalitas kedokteran juga mengenal etika profesi sebagai
6

panduan dalam bersikap dan berperilaku. Nilai-nilai dalam etika profesi tercermin dalam
sumpah dokter dank ode etik kedokteran. Sumpah berisi kontrak moral antara dokter
dengan Tuhan sang penciptanya, sedangkan kode etik kedokteran berisikan kontrak
kewajiban moral antara dokter dengan peer-groupnya yaitu masyarakat profesinya.Baik
sumpah dokter maupun kode etik kedokteran berisikan sejumlah kewajiban moral yang
melekat pada para dokter. Meskipun kewajiban tersebut bukanlah kewajiban hukum sehingga
tidak dapat dipaksakan secara hukum, namun kewajiban moral tersebut haruslah menjadi
pemimpin dari kewajiban dalam hokum kedokteran. Hukum kedokteran yang baik haruslah
hukum yang etis.1
Pembuatan keputusan etik, terutama dalam situasi klinik, dapat juga dilakukan dengan
pendekatan yang berbeda dengan pendekatan kaidah dasar moral diatas. Jonsen, Siegler dan
Winslade (2002) mengembangkan teori etik yang menggunakan 4 topik yang essential dalam
pelayanan klinik, yaitu:
1. Medical indication
Kedalam topic medical indication dimasukkan semua prosedur diagnostic dan terapi
yang sesuai untuk mengevaluasi keadaan pasien dan mengobatinya. Penilaian aspek
indikasi medis ini ditinjau dari sisi etiknya, terutama menggunakan kaidah
beneficence dan non-malificence. Pertanyaan etika pada topic ini adalah serupa
dengan seluruh informasi yang selayaknya disampaikan kepada pasien pada doktrin
informed consent.
2. Patient preferences
Pada topic ini, kita memperhatikan nilai dan penilaian pasien tentang manfaat dan
beban yang akan diterimanya, yang berarti cerminan kaidah autonomy. Pertanyaan
etika meliputi pertanyaan tentang kompetensi pasien, sifat volunteer sikap dan
keputusannya, pemahaman atas informasi, siapa pembuat keputusan bila pasien dalam
keadaan tidak sadar dan kompeten serta nilai dan keyakinan yang dianut oleh pasien.
3. Quality of life
Topik quality of life merupakan aktualisasi salah satu tujuan kedokteran yaitu
memperbaiki, menjaga atau meningkatkan kualitas hidup insane. Apa, siapa dan
bagaimana melakukan penilaian kualitas hidup merupakan pertanyaan etik sekitar
prognosis yang berkaitan dengan beneficence, non-malificence dan autonomy.
4. Contextual features
Dalam topic ini dibahas pertanyaan etik seputar aspek non medis yang mendahului
keputusan seperti factor keluarga, ekonomi, agama, budaya, kerahasiaan, alokasi
sumber daya dan factor hukum.
KELALAIAN MEDIK
Kelalaian medik adalah salah satu bentuk dari malpraktek medis, sekaligus
merupakan bentuk malpraktek medis yang paling sering terjadi. Pada dasarnya kelalaian
terjadi bila seseorang melakukan sesuatu yang seharusnta tidak dilakukan atau tidak
melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh orang lain yang mempunyanyai
7

kualifikasi yang sama pada keadaan yang sama. Perlu diingat bahwa pada umumnya
kelalaian yang dilakukan orange r orang bukanlah merupakan perbuatan yang dapat dihukum
kecuali apabila dilakukan oleh orang yang seharusnya (berdasarkan sifat profesinya)
bertindak hati-hati dan telah mengakibatkan kerugian atau cedera bagi orang lain. 1,4
Pengertian istilah kelalaian medik tersirat dari pengertian malpraktek medis menurut
World Medical Association (1992), yaitu: medical malpractice involves the physicians
failure to conform to the standard of care for treatment of the patients condition, or lack of
skill, or negligence in providing care to the patient, which is the direct cause of an injury to
the patient. WMA mengingatkan pula bahwa tidak semua kegagalan medis adalah akibat
malpraktek medis. Suatu peristiwa buruk yang tidak dapat diduga sebelumnya
(unforeseeable) yang terjadi saat dilakukan tindakan medis yang sesuai standar tetapi
mengakibatkan cedera pada pasien tidak termasuk ke dalam pengertian malpraktek. An
injury occurring in the course of medical treatment which could not be foreseen and was not
the result of the lack of skill or knowledge on the part of the treating physician is untoward
result, for which the physician should not bear any liability. 7
Sebagaimana diuraikan di atas, di dalam suatu layanan medik dikenal gugatan ganti
kerugian yang diakibatkan oleh kelalaian medik. Suatu perbuatan atau tindakan medis disebut
sebagai kelalaian apabila memenuhi empat unsur di bawah ini: 6
1. Duty atau kewajiban tenaga medis untuk melakukan sesuatu tindakan medis atau
untuk tidak melakukan sesuatu tindakan tertentu terhadap pasien tertentu pada situasi
dan kondisi yang tertentu. Dasar dari adanya kewajiban ini adalah adanya hubungan
kontraktual-profesional antara tenaga medis dengan pasiennya, yang menimbulkan
kewajiban umum sebagai akibat dari hubungan tersebut dan kewajiban profesional
bagi tenaga medis tersebut. Kewajiban profesional diuraikan di dalam sumpah profesi,
etik profesi, berbagai standar pelayanan, dan berbagai prosedur operasional.
Kewajiban-kewajiban tersebut dilihat dari segi hukum merupakan rambu-rambu yang
harus diikuti untuk mencapai perlindungan, baik bagi pemberi layanan maupun bagi
penerima layanan; atau dengan demikian untuk mencapai safety yang optimum.
2. Dereliction of the duty atau penyimpangan kewajiban tersebut. Dengan melihat uraian
tentang kewajiban di atas, maka mudah buat kita untuk memahami apakah arti
penyimpangan kewajiban. Dalam menilai kewajiban dalam bentuk suatu standar
8

pelayanan tertentu, haruslah kita tentukan terlebih dahulu tentang kualifikasi si


pemberi layanan (orang dan institusi), pada situasi seperti apa dan pada kondisi
bagaimana. Suatu standar pelayanan umumnya dibuat berdasarkan syarat minimal
yang harus diberikan atau disediakan (das sein), namun kadang-kadang suatu standar
juga melukiskan apa yang sebaiknya dilakukan atau disediakan (das sollen). Kedua
uraian standar tersebut harus hati-hati diinterpretasikan. Demikian pula suatu standar
umumnya berbicara tentang suatu situasi dan keadaan yang normal sehingga harus
dikoreksi terlebih dahulu untuk dapat diterapkan pada situasi dan kondisi yang
tertentu. Dalam hal ini harus diperhatikan adanya Golden Rule yang menyatakan
What is right (or wrong) for one person in a given situation is similarly right (or
wrong) for any other in an identical situation.
3. Damage atau kerugian. Yang dimaksud dengan kerugian adalah segala sesuatu yang
dirasakan oleh pasien sebagai kerugian akibat dari layanan kesehatan / kedokteran
yang diberikan oleh pemberi layanan. Jadi, unsur kerugian ini sangat berhubungan
erat dengan unsur hubungan sebab-akibatnya. Kerugian dapat berupa kerugian
materiel dan kerugian immateriel. Kerugian yang materiel sifatnya dapat berupa
kerugian yang nyata dan kerugian sebagai akibat kehilangan kesempatan. Kerugian
yang nyata adalah real cost atau biaya yang dikeluarkan untuk perawatan /
pengobatan penyakit atau cedera yang diakibatkan, baik yang telah dikeluarkan
sampai saat gugatan diajukan maupun biaya yang masih akan dikeluarkan untuk
perawatan / pemulihan. Kerugian juga dapat berupa kerugian akibat hilangnya
kesempatan untuk memperoleh penghasilan (loss of opportunity). Kerugian lain yang
lebih sulit dihitung adalah kerugian immateriel sebagai akibat dari sakit atau cacat
atau kematian seseorang.
4. Direct causal relationship atau hubungan sebab akibat yang nyata. Dalam hal ini harus
terdapat hubungan sebab-akibat antara penyimpangan kewajiban dengan kerugian
yang setidaknya merupakan proximate cause.
5. Gugatan ganti rugi akibat suatu kelalaian medik harus membuktikan adanya ke-empat
unsur di atas, dan apabila salah satu saja diantaranya tidak dapat dibuktikan maka
gugatan tersebut dapat dinilai tidak cukup bukti.
HUBUNGAN DOKTER - PASIEN
HUBUNGAN DOKTER & PASIEN
9

Hubungan dokter dengan pasien pada prinsipnya merupakan hubungan yang


berdasarkan atas kepercayaan antara keduanya. Keberhasilan suatu pengobatan tergantung di
antaranya pada seberapa besar kepercayaan pasien kepada dokternya. Hal inilah yang
menyebabkan hubungan seorang pasien dengan dokternya kadang sulit tergantikan oleh
dokter lain. Akan tetapi, hubungan ini dalam beberapa tahun terakhir ini telah berubah akibat
makin menipisnya keharmonisan antara keduanya. Berubahnya pola hubungan dokter-pasien
yang bersifat paternalistik menjadi hubungan kolegial atau kemitraan, membuat pasien makin
kritis terhadap dokternya. Ketika terjadi suatu hasil pengobatan yang tidak diinginkan seperti
penyakit makin parah, kecacatan atau kematian, maka pasien serta merta menganggap dokter
dan rumah sakitnya lalai.1,5
Di Indonesia, sebagian dokter merasa tidak mempunyai waktu yang cukup untuk
berbincang-bincang dengan pasiennya, sehingga hanya bertanya seperlunya. Akibatnya,
dokter bisa saja tidak mendapatkan keterangan yang cukup untuk menegakkan diagnosis dan
menentukan perencanaan dan tindakan lebih lanjut. Dari sisi pasien, umumnya pasien merasa
dalam posisi lebih rendah di hadapan dokter (superior-inferior), sehingga takut bertanya dan
bercerita atau hanya menjawab sesuai pertanyaan dokter saja. Tidak mudah bagi dokter untuk
menggali keterangan dari pasien karena memang tidak bisa diperoleh begitu saja. Perlu
dibangun hubungan saling percaya yang dilandasi keterbukaan, kejujuran dan pengertian
akan kebutuhan, harapan, maupun kepentingan masing-masing. Dengan terbangunnya
hubungan saling percaya, pasien akan memberikan keterangan yang benar dan lengkap
sehingga dapat membantu dokter dalam mendiagnosis penyakit pasien secara baik dan
memberi obat yang tepat bagi pasien. Komunikasi yang baik dan berlangsung dalam
kedudukan setara (tidak superior-inferior) sangat diperlukan agar pasien mau/dapat
menceritakan sakit/keluhan yang dialaminya secara jujur dan jelas. Komunikasi efektif
mampu mempengaruhi emosi pasien dalam pengambilan keputusan tentang rencana tindakan
selanjutnya, sedangkan komunikasi tidak efektif akan mengundang masalah.
TEORI HUBUNGAN DOKTER PASIEN
Teori hubungan dokter dengan pasien dapat dilukiskan dari aspek sifat antara lain:6
1. Bersifat religious
Pada awal profesi kedokteran, dipercaya bahwa timbulnya penyakit berasal
dari kemarahan dewa. Seorang yang sedang sakit melapor kepada sang pemimpin
agama lalu dibuat upaya keagamaan utuk penyembuhan.
2. Bersifat paternalistis
10

Pada perkembangan selanjutnya, muncul pembagian pekerjaan dimana orang


orang pandai pada masanya memiliki pemikiran tersendiri. Salah satunya adalah ada
orang orang yang mau menolong orang sakit. Orang tersebut boleh dikatakan dokter
generasi pertama dan tidak lagi berhubungan dengan upacara keagamaan. Dokter
zaman dahulu mempunyai murid dan menurunkan keahliannya kepada muridnya itu.
Profesi kedokteran seperti ini dimulai pada abad ke -5 SM oleh Hipokrates di Yunani.
Karena pengajaran (pendidikan ) yang bersifat turun temurun tersebut, para
dokter kuno merupakan golongan yang tertutup bagi komunitas terbatas yang
menguasai ilmu pengobatan ilmu kedokteran kuno tersebut. Masyarakat atau orang
awam sangat tidak memahami proses pengobatan. Akhirnya timbul suatu hubungan
yang berat sebelah dan pasien sangat tergantung pada dokter. Para dokter kuno selain
berpendidikan juga mengaku sebagai keturunan dewa. Hubungan ini disebut
hubungan paternalistis. Dokter mengobati dengan memberi perintah yang harus
dituruti oleh pasien hubungan modrl ini berlangsung sejak abad ke-5 SM sampai
zaman modern sebelum teknologi informasi berkembang.
Ilmu kedokteran sejak zaman Hipokrates hingga sekarang disebut juga seni
kedokteran ( medicine is a science and art ). Dokter zaman kuno menerima imbalan
sebagai tanda kehormatan, karena itu imbalan tersebut disebut honorarium (honor =
hormat ). Seiring dengan perkembangan teknologi kedoteran dan teknologi informasi,
terjadilah perubahan dalam hubungan kedokteran. Teknologi kedokteran dan
informasi memberikan dampak positif seperti diagnosa dan terapi yang tepat, selain
juga damak negatif seperti tingginya biaya pengobatan. Selain itu, akibat lain dari
modernisasi adalah perubahan hubungan dokter dan pasien dari paternalistis enjadi
hubungan baru yang lebih menonjolkan aspek bisnis sehingga hubungan dokter dan
pasien berubah menjadi hubungan antara penyedia jasa dan konsumen.
3. bersifat penyedia jasa dan konsumen
Hubungan jenis ini disebut juga provider dan consumer relationship. Perubahan dari
paternalistis ke hubnugan ini bertepatan dengan perkembangan teknologi informasi
dimana masyarakat makin sadar akan hak haknya serta mampu menilai pekerjaan
dokter. Berikut ini merupakan faktor faktor yang dapat mengidentifikasi
berakhirnya era paternalistis :
Pelayanan kesehatan mulai bergeser dari pelayanana prorangan ( praktik
pribadi ) menuju praktik pelayanan di rumah sakit.

11

Perkembangan ilmu teknologi kesehatan memberikan kesempatan tindakan


yang makin canggih. Namun, tidak semua tindakan berhasil dengan baik

sesuai harapan.
kekecewaan sering menimbulkan tuntutan hukum.
pengacara terlibat
Dalam era provider and costumer ini, terbentang jarak psikologis antara dokter

dan pasien. Seolah ada dua pihak yang menandatangani kontrak perjanjian dimana
pasien harus membayar dan dokter harus bekerja. Dengan demikian, unsur bisnis
terasa kental. Akibat dari pola hubungan ini, masyarakat mudah menuntut bila merasa
tidak puas dan dokter bersikap defensif ( defensive medical service ), ini membuat
hubungan dokter dan pasien sedikit merenggang. Berdasarkan pola hubungan ini,
tidak heran bahwa dalam undang undang perlindungan konsumen, praktik dokter
dimasukkan ke dalam industri jasa, dan dengan sendirinya praktik kedokteran masuk
dalam Undang Undang perlindungan konsumen. Kondisi ini menggelisahkan para
dokter sehingga sebagian dokter senior berusaha untuk merumuskan pola hubungan
baru, yaitu pola kemitraan dokter-pasien.

UU No. 8 / 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK) mempunyai 2 sasaran


pokok, yaitu :

Memberdayakan konsumen dalam hubungannya dengan pelaku usaha (publik


atau privat) barang dan atau jasa;

Mengembangkan sikap pelaku usaha yang jujur dan bertanggung jawab.


Jenis-jenis masalah perlindungan konsumen sejak berlakunya UU No. 8 / 1999

tentang Perlindungan Konsumen sangat beragam, namun gugatan konsumen terhadap


pelayanan jasa kesehatan dan yang berhubungan dengan masalah kesehatan masih
tergolong langka. Hal ini antara lain disebabkan selama ini hubungan antara si
penderita dengan si pengobat, yang dalam terminology dunia kedokteran dikenal
dengan istilah transaksi terapeutik, lebih banyak bersifat paternalistic. Seiring dengan
perubahan masyarakat, hubungan dokter - pasien juga semakin kompleks, yang
ditandai dengan pergeseran pola dari paternalistic menuju partnership, yaitu
12

kedudukan dokter sejajar dengan pasien (dokter merupakan partner dan mitra bagi
pasien).
4. Bersifat upaya bersama dan kemitraan
Dalam kondisi sakit, baik berat maupun ringan, baik sakit fisik maupun
mental, seorang pasien membutuhkan dokter. Di lain pihak, budaya paternalistis di
Indonesia jangan sampai disalahgunakan oleh dokter yang tujuan utamanya adalah
mencari uang tanpa memerhatikan kondisi pasien. Budaya saling menghargailah yng
justru harus dikembangkan agar ada rasa saling percaya antara pasien dan dokter. Di
Indonesia bayak pasien mengajukan tuntutan hukum kepada dokter, sementara sang
dokter bersikap defensif. Semakin banyak jug pasien yang pergi ke luar negeri untuk
berobat karena tidak lagi mempercayai kompetensi dokter di Indonesia. Tidak sedikit
pula dokter senior yang sangt diminati pasien hingga harus berpraktik hingga dini
hari, padahal banyak pasiennya yang bisa dirujuk atau didelegasikan kepada dokter
lain. Kondisi ini menyebabkan dokter tidak bisa bekerja maksimal dan
mengecewakan pasien. Peristiwa berlebihan semacam inilah yang akan diatur oleh
IDI dengan pembatasan tempat praktik dan pelayanan dokter di maksimum tiga
tempat. Hal tersebut tertuang dalam Undang undang no. 29 tahun 2004 tentang
praktik kedoteran dan kedokteran gigi.
Hubungan dokter-pasien semestinya atas saling percaya, bukan kontrak bisnis.
Dokter maupun pasien sama-sama profesional dan proporsional dalam memecahkan
permasalahan kesehatan. Dokter harus selalu berlaku profesional dalam menjalankan
profesinya, serta mengkomunikasikan secara proporsional segala aspek yang terkait
dengan tindakan medis yang dilakukannya. Sementara pasien mesti memahami aspek
yang terkait dengan pengambilan keputusan medis sehingga mengerti manfaat dan
risiko dari tindakan medis tersebut.
1. Hak Pasien
Dalam KODEKI terdapat pasal-pasal tentang kewajiban dokter terhadap pasien yang
merupakan pula hak-hak pasien yang perlu diperhatikan. Pada dasarnya hak-hak pasien
adalah sebagai berikut:3
a. Hak untuk hidup, hak atas tubuhnya sendiri, dan hak untuk mati secara wajar.
b. Memperoleh pelayanan kedokteran yang manusiawi sesuai dengan standar profesi
kedokteran.
c. Memperoleh penjelasan tentang diagnosis dan terapi dari dokter yang mengobatinya.

13

d. Menolak prosedur diagnosis dan terapi yang direncanakan, bahkan dapat menarik
diri dari kontak terapeutik.
e. Memperoleh penjelasan tentang riset kedokteran yang akan diikutinya.
f. Menolak atau menerima keikutsertaannya dalam riset kedokteran.
g. Dirujuk kepada dokter spesialis kalau diperlukan, dan dikembalikan kepada dokter
yang merujuknya setelah selesai konsultasi atau pengobatan untuk memperoleh
perawatan atau tindak lanjut.
h. Kerahasiaan dan rekam mediknya atas hal pribadi.
i. Memperoleh penjelasan tentang peraturan rumah sakit.
j. Berhubungan dengan keluarga, penasihat, atau rohaniawan, dan lain-lain yang
diperlukan selama perawatan di rumah sakit.
k. Memperoleh penjelasan tentang perincian biaya rawat inap, obat, pemeriksaan
laboratorium, pemeriksaan Rontgen, Ultrasonografi (USG), CT-scan, Magnetic
Resonance Imaging (MRI), dan sebagainya, (kalau dilakukan) biaya kamar bedah,
kamar bersalin, imbalan jasa dokter, dan lain-lainnya.
Hak memperoleh informasi atau penjelasan merupakan hak asasi pasien yang paling
utama, bahkan dalam tindakan-tindakan khususnya diperlukan Persetujuan Tindakan
Medik (PTM) yang ditandatangani oleh pasien dan/ atau keluarganya.
Dalam memberikan informasi kepada pasien, kadangkala agak sulit menentukan
informasi yang mana yang harus diberikan, karena sangat bergantung pada usia,
pendidikan, keadaan umum pasien dan mentalnya. Namun, pada umumnya dapat
dipedomani hal-hal berikut:
a. Informasi yang diberikan haruslah dengan bahasa yang dimengerti oleh pasien.
b. Pasien harus dapat memperoleh informasi tentang penyakitnya, tindakan-tindakan
yang akan diambil, kemungkinan komplikasi dan risiko-risikonya.
c. Untuk anak-anak dan pasien penyakit jiwa, informasi diberikan kepada orang tua
atau walinya.
2. Kewajiban Dokter
Kewajiban-kewajiban pasien pada garis besarnya adalah sebagai berikut:3
a. Memeriksakan diri sedini mungkin pada dokter
Masyarakat perlu diberi penyuluhan, bahwa pengobatan penyakit pada stadium dini
akan lebih berhasil dan mengurangi komplikasi yang merugikan. Penyakit kanker
stadium dini jelas pada umumnya dapat sembuh jika diberikan terapi yang tepat,
sedangkan pada stadium lanjut prognosisnya lebih buruk. Kadang kala pasien/
14

keluarganya membangunkan dokter pada tengah malam buta, padahal ia telah


menderita penyakit beberapa hari sebelumnya. Walaupun dokter harus siap melayani
pasien setiap waktu, alangkah baiknya jika pasien dapat berobat pada jam kerja.
Sebagai seorang manusia biasa dokter memerlukan juga istirahat yang cukup. Lain
halnya dengan kasus gawat darurat (emergency case).
b. Memberikan informasi yang benar dan lengkap tentang penyakitnya
Informasi yang benar dan lengkap dari pasien/ keluarga merupakan hal yang penting
bagi dokter dalam membantu menegakkan diagnosis penyakit. Bila dokter dituntut
malpraktik, tuntutan dapat gugur jika terbukti pasien telah memberikan keterangan
yang menyesatkan atau menyembunyikan hal-hal yang pernah dialaminya; tidak
memberitahukan obat-obat yang pernah diminumnya sehingga terjadinya interaksi
obat misalnya.
c. Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter
Pasien berkewajiban mematuhi petunjuk dokter tentang makan berpantang, minum,
pemakaian obat-obatan, istirahat, kerja, saat berobat ulang, dan lain-lain. Pasien
yang tidak mematuhi petunjuk dokternya, keberhasilan pengobatannya akan menjadi
berkurang.
d. Menandatangani surat-surat PTM, surat jaminan dirawat di rumah sakit, dan lainlainnya
Dalam kontrak terapeutik, ada tindakan medik, baik untuk tujuan diagnosis maupun
untuk terapi yang harus disetujui oleh pasien atau keluarganya, setelah diberi
penjelasan oleh dokter. Surat PTM yang sifatnya tulisan, harus ditandatangani oleh
pasien dan atau keluarganya.
e. Yakin pada dokternya, dan yakin akan sembuh
Pasien yang telah mempercayai dokter dalam upaya penyembuhannya, berkewajiban
menyerahkan dirinya untuk diperiksa dan diobati sesuai kemampuan dokter. Pasien
yang tidak yakin lagi pada kemampuan dokternya, dapat memutuskan kontrak
terapeutik atau dokternya sendiri yang menolak meneruskan perawatan.
f. Melunasi biaya perawatan di rumah sakit, biaya pemeriksaan dan pengobatan serta
honoratium dokter
Imbalan untuk dokter merupakan penghargaan yang sepantasnya diberikan oleh
pasien/ keluarga atas jerih payah seorang dokter. Kewajiban pasien ini haruslah
disesuaikan dengan kemampuannya dan besar kecilnya honorarium dokter tidak
15

boleh memengaruhi dokter dalam memberikan pelayanan kedokteran yang bermutu,


sesuai standar pelayanan medik.
Berdasarkan undang-undang praktek kedokteran dokter dan pasien memiliki hak dan
kewajiban masing-masing. Pada kasus ini yang menjadi masalah mengenai hak pasien
dimana terjadi kelalaian tindakan medis sehingga menimbulkan kerugian bagi pasien. Hakhak pasien seperti hak atas informasi, hak atas second opinion, hak untuk memberikan
persetujuan atau menolak suatu tindakan medis, hak untuk kerahasiaan, hak untuk
memperoleh pelayanan kesehatan dan hak untuk ganti rugi apabila ia dirugikan akibat
kesalahan tenaga kesehatan.
Oleh karena itu, pasien berhak menuntut atas kelalaian tersebut. Adapun hak dan
kewajiban dokter-pasien sesuai dengan undang-undang sebagai berikut:4
Hak dan Kewajiban Dokter atau Dokter Gigi
Pasal 50
Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai hak:
a. Memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan
standar profesi dan standar prosedur operasional;
b. Memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar prosedur
operasional;
c. Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau keluarganya; dan
d. Menerima imbalan jasa.
Pasal 51
Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai kewajiban:
a. Memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur
operasional serta kebutuhan medis pasien;
b. Merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian atau
kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau
pengobatan;
c. Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan juga setelah
pasien itu meninggal dunia;
d. Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada
orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya; dan
e. Menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran atau
kedokteran gigi.
16

Hak dan Kewajiban Pasien


Pasal 52
Pasien dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai hak:
a. Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 45 ayat (3);
b. Meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain;
c. Mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis;
d. Menolak tindakan medis; dan
e. Mendapatkan isi rekam medis.
Pasal 53
Pasien dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai kewajiban:
a. memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya;
b. mematuhi nasihat dan petunjuk dokter atau dokter gigi;
c. mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana pelayanan kesehatan; dan
d. memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.
Kewajiban Umum Dokter
Pasal 1
Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan Sumpah Dokter.2
Pasal 2
Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan standard
profesi yang tertinggi.2
Pasal 3
Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh
sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi.2
Pasal 4
Setiap dokter harus menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat memuji diri.2
Pasal 5
Tiap perbuatan atau nasehat yang mungkin melemahkan daya tahan psikis maupun fisik
hanya diberikan untuk kepentingan dan kebaikan pasien, setelah memperoleh persetujuan
pasien.2
Pasal 6

17

Setiap dokter harus senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan dan menerapkan setiap
penemuan teknik atau pengobatan baru yang belum diuji kebenarannya dan hal-hal yang
dapat menimbulkan keresahan masyarakat.2
Pasal 7
Seorang dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah diperiksa sendiri
kebenarannya.2
Pasal 7a
Seorang dokter harus, dalam setiap praktek medisnya, memberikan pelayanan medis yang
kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya, disertai rasa kasih sayang
(compassion) dan penghormatan atas martabat manusia.2
Pasal 7b
Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan sejawatnya, dan
berupaya untuk mengingatkan sejawatnya yang dia ketahui memiliki kekurangan dalam
karakter atau kompetensi, atau yang melakukan penipuan atau penggelapan, dalam
menangani pasien.2
Pasal 7c
Seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien, hak-hak sejawatnya, dan hak tenaga
kesehatan lainnya, dan harus menjaga kepercayaan pasien.2
Pasal 7d
Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup mahluk insani.2
Pasal 8
Dalam melakukan pekerjaannya seorang dokter harus memperhatikan kepentingan
masyarakat dan memperhatikan semua aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh
(promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif), baik fisik maupun psiko-sosial, serta berusaha
menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang sebenar-benarnya.2
Pasal 9
Setiap dokter dalam bekerja sama dengan para pejabat dibidang kesehatan dan bidang lainnya
serta masyarakat, harus saling menghormati.2
Kewajiban Dokter Terhadap Pasien
Pasal 10
Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala ilmu dan
keterampilannya untuk kepentingan pasien. Dalam hal ini ia tidak mampu melakukan suatu
18

pemeriksaan atau pengobatan, maka atas persetujuan pasien, ia wajib merujuk pasien kepada
dokter yang mempunyai keahlian dalam penyakit tersebut.2
Pasal 11
Setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada pasien agar senantiasa dapat
berhubungan dengan keluarga dan penasehatnya dalam beribadat dan atau dalam masalah
lainnya.2
Pasal 12
Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien,
bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia.2
Pasal 13
Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas perikemanusiaan,
kecuali bila ia yakin ada orang lain bersedia dan mampu memberikannya.2
Kewajiban Dokter Terhadap Masyarakat
Pasal 14
Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan.2
Pasal 15
Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dari teman sejawat, kecuali dengan
persetujuan atau berdasarkan prosedur yang etis.2
Kewajiban Dokter Terhadap Diri Sendiri
Pasal 16
Setiap dokter harus memelihara kesehatannya, supaya dapat bekerja dengan baik.2
Pasal 17
Setiap dokter harus senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
kedokteran/ kesehatan.2
HUBUNGAN REKAN SEJAWAT
Menurut Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) terdapat 4 kewajiban seorang
dokter dalam menjalani profesinya dan salah satunya itu adalah mengenai kewajiban terhadap
teman sejawat. Pasal-pasal dalam KODEKI yang mengatur mengenai kewajiban terhadap
teman sejawat adalah sebagai berikut: 1

Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan
sejawatnya, dan berupaya untuk mengingatkan sejawatnya yang dia ketahui memiliki
kekurangan dalam karakter atau kompetensi atau yang melakukan penipuan atau
penggelapan dalam menangani pasien.
19

Seorang dokter harus menghargai hak-hak pasien, hak-hak sejawatnya dan hak tenaga
kesehatan lainnya dan harus menjaga kepercayaan pasien.
Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia ingin diperlakukan.
Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dari teman sejawat, kecuali dengan
persetujuan atau berdasarkan prosedur yang etis.

Hubungan Dengan Teman Sejawat


Seorang dokter sebagai anggota profesi kesehatan, diharapkan memperlakukan profesi
kesehatan lain lebih sebagai anggota keluarga dibandingkan sebagai orang lain, bahkan
sebagai teman. Deklarasi Geneva dari WMA juga memuat janji Kolega saya akan menjadi
saudara saya. Interpretasi janji ini bervariasi dari satu negara dan negara lain sepanjang
waktu.5
Kerjasama dokter dengan sejawat antara lain:
1. Merujuk pasien
Pada pasien rawat jalan, karena alasan kompetensi dokter dan keterbatasan fasilitas
pelayanan, dokter yang merawat harus merujuk pasien pada sejawat lain untuk
mendapatkan saran, pemeriksaan atau tindakan lanjutan. Bagi dokter yang menerima
rujukan, sesuai dengan etika profesi, wajib menjawab/ memberikan saran tindakan akan
terapi dan mengembalikannya kepada dokter yang merujuk.5
2. Bekerjasama dengan sejawat
Dokter harus memperlakukan teman sejawat tanpa membedakan jenis kelamin, ras,
kecacatan, agama/ kepercayaan, usia, status sosial atau perbedaan kompetensi yang dapat
merugikan hubungan profesional antar sejawat. Seorang dokter tidak dibenarkan
mengkritik teman sejawat melalui pasien. Selain itu tidak dibenarkan seorang dokter
memberi komentar tentang suatu kasus, bila tidak pernah memeriksa atau merawat secara
langsung.5
3. Bekerjasama dalam tim
Asuhan kesehatan selalu ditingkatkan melalui kerjasama dalam tim multi disiplin.
Apabila bekerja dalam sebuah tim, dokter harus:5
Menunjuk ketua tim selaku penanggung jawab.
Tidak boleh mengubah akuntabilitas pribadi dalam perilaku keprofesian dan asuhan
yang diberikan.
Menghargai kompetensi dan kontribusi anggota tim.
Memelihara hubungan profesional dengan pasien.
Berkomunikasi secara efektif dengan anggota tim di dalam dan di luar tim.
20

Memastikan agar pasien dan anggota tim mengetahui dan memahami siapa yang
bertanggungjawab untuk setiap aspek pelayanan pasien.
Berpartisipasi dalam review secara teratur, audit dari standar dan kinerja tim, serta
menentukan langkah-langkah yang diperlukan untuk memperbaiki kinerja dan
kekurangan tim.
Menghadapi masalah kinerja dalam pelaksanaan kerja tim dilakukan secara terbuka
dan sportif.
4. Memimpin tim
Dalam memimpin sebuah tim, seorang dokter harus memastikan bahwa:5
Anggota tim telah mengacu pada seluruh acuan yang berkaitan dengan pelaksanaan
dan pelayanan kedokteran.
Anggota tim telah memenuhi kebutuhan pelayanan pasien.
Anggota tim telah memahami tanggungjawab individu dan tanggungjawab tim untuk
keselamatan pasien. Selanjutnya, secara terbuka dan bijak mencatat serta
mendiskusikan permasalahan yang dihadapi.
Acuan dari profesi lain dipertimbangkan untuk kepentingan pasien.
Setiap asuhan pasien telah terkoordinasi secara benar, dan setiap pasien harus tahu
siapa yang harus dihubungi apabila ada pertanyaan atau kekhawatiran.
Pengaturan dan pertanggungjawaban pembiayaan sudah tersedia.
Pemantauan dan evaluasi serta tindak lanjut dari audit standar pelayanan kedokteran
dan audit pelaksanaan tim dijalankan secara berkala dan setiap kekurangan harus
diselesaikan segera.
Sistem sudah disiapkan agar koordinasi untuk mengatasi setiap permasalahan dalam
kinerja, perilaku atau keselamatan anggota tim dapat tercapai.
Selalu mempertahankan dan meningkatkan praktek kedokteran yang benar dan baik.
5. Mengatur dokter pengganti
Ketika seorang dokter berhalangan, dokter tersebut harus menentukan dokter pengganti
serta mengatur proses pengalihan yang efektif dan komunikatif dengan dokter pengganti.
Dokter pengganti harus diinformasikan kepada pasien. Dokter harus memastikan bahwa
dokter pengganti mempunyai kemampuan, pengalaman, pengetahuan, dan keahlian
untuk mengerjakan tugasnya sebagai dokter pengganti. Dokter pengganti harus tetap
bertanggungjawab kepada dokter yang digantikan atau ketua tim dalam asuhan medis.5
6. Mematuhi tugas
Seorang dokter yang bekerja pada institusi pelayanan/ pendidikan kedokteran harus
mematuhi tugas yang digariskan pimpinan institusi, termasuk sebagai dokter pengganti.
Dokter penanggungjawab tim harus memastikan bahwa pasien atau keluarga pasien
21

mengetahui informasi tentang diri pasien akan disampaikan kepada seluruh anggota tim
yang akan memberi perawatan. Jika pasien menolak penyampaian informasi tersebut,
dokter penanggung jawab tim harus menjelaskan kepada pasien keuntungan bertukar
informasi dalam pelayanan kedokteran.5
7. Pendelegasian wewenang
Pendelegasian wewenang kepada perawat, mahasiswa kedokteran, peserta program
pendidikan dokter spesialis, atau dokter pengganti dalam hal pengobatan atau perawatan
atas nama dokter yang merawat, harus disesuaikan dengan kompetensi dalam
melaksanakan prosedur dan pemberian terapi sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Dokter yang mendelegasikan tetap menjadi penanggung jawab atas penanganan pasien
secara keseluruhan.5
8. Hubungan dan kinerja teman sejawat
Seorang dokter harus melindungi pasien dari resiko diciderai oleh teman sejawat lain,
kinerja maupun kesehatan. Keselamatan pasien harus diutamakan setiap saat. Jika
seorang dokter memiliki kekhawatiran bahwa teman sejawatnya tidak dalam keadaan fit
untuk praktek, dokter tersebut harus mengambil langkah yang tepat tanpa penundaan,
kemudian kekhawatiran tersebut ditelaah dan pasien terlindungi bila diperlukan.5
9. Menghormati teman sejawat
Seorang dokter harus memperlakukan teman sejawatnya dengan adil dan rasa hormat.
Seorang dokter tidak boleh mempermainkan atau mempermalukan teman sejawatnya,
atau mendiskriminasikan teman sejawatnya dengan tidak adil. Seorang dokter harus tidak
memberikan kritik yang tidak wajar atau tidak berdasar kepada teman sejawatnya yang
dapat mempengaruhi kepercayaan pasien dalam perawatan atau terapi yang sedang
dijalankan, atau dalam keputusan terapi pasien.5
10. Berbagi informasi dengan teman sejawat
Berbagi informasi dengan teman sejawat lain sangatlah penting untuk keselamatan dan
keefektifan perawatan pasien. Ketika seorang dokter merujuk pasien, dokter tersebut
harus memberikan semua informasi yang relevan mengenai pasiennya, termasuk riwayat
medis dan kondisi saat itu.5
Pengertian Malpraktik Medik
Saat ini di Indonesia banyak terdapat pengertian malapraktik medik sebagai akibat
belum adanya Peraturan Pemerintah tentang Standar Profesi. Namun demikian, untuk
mengetahui seorang dokter melakukan malpraktik/ tidak, maka kita dapat melihat unsur
22

standar profesi kedokteran sebagaimana dirumuskan oleh Leenen, yaitu: berbuat secara teliti/
seksama dikaitkan dengan kelalaian, sesuai ukuran ilmu medik, kemampuan rata-rata
dibanding kategori keahlian medik yang sama, situasi dan kondisi yang sama, sarana upaya
yang sebanding/ proporsional (asas proporsionalitas) dengan tujuan konkret tindakan/
perbuatan medik tersebut. Menurut Leenen, dokter yang tidak memenuhi unsur standar
profesi kedokteran berarti melakukan suatu kesalahan profesi (malpraktik). Selain itu, untuk
mengetahui adanya unsur perbuatan malapraktik juga dapat dilihat pada 4D of Negligence,
yaitu: Duty, Dereliction of that duty, Direct caution, dan Damage. Namun jika terdapat
kecacatan atau bukti konkret (seperti ada alat bedah yang tertinggal di dalam tubuh pasien)
maka empat D tersebut tidak perlu dicari lagi.
Mekanisme Pelaporan Kasus Malapraktik
Malapraktik dapat dilaporkan kepada Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran
Indonesia (MKDKI) jika pihak yang kepentingan atau merasa dirugikan tidak menerima dan
ingin menuntut keadilan. Berikut alur penanganan kasus pelanggaran disiplin dokter

Tahap Awal

Pengaduan
Penetapan
tertulis Majelis Pemeriksaan Awal
etiap orang atau kepentingan yang dirugikan
Oleh
Ketua MKDKI
verifikasi

Pemeriksaan Awal
Investigasi
Keputusan MPA

PenetapanMajelisPemeriksaAwal
OlehKetuaMKDKI
Ditolak Diluar Disiplin

Pelanggaran Etik

Pelanggaran Disiplin

PELAKSANAAN KEPUTUSAN MAJELIS PEMERIKSAAN AWAL


Kepada Pengadu

Penetapan Majelis Pemeriksa Disiplin Oleh Ketua MKDI


Sekretariat MKDKV
MKDKI-P

Organisasi Profesi

23

Pemeriksaan awal pelanggaran


Penetapan
disiplin
majelis pemeriksaPemeriksaan
oleh MKDKI proses pembuktian

Keputusan

Bebas/tidak bersalah

Rekomendasi pencabutanMengikuti
SIP/STR pendidikan/pelatihan
Peringatan Tertulis

PELAKSANAAN KEPUTUSAN

Sekretariat MKDKI/MKDKI-P
Sekretariat MKDKI/MKDKI-P
Sekretariat MKDKI/MKDKI-P
Sekretariat MKDKI/MKDKI-P

Tahap Pemeriksaan Disiplin


KKI
STR

Dinkes Kabupaten Kota


SIP

Dokter/dokter gigi

Dokter/dokter gigi

Dokter/dokter gigi

Institusi Pendidikan

Kolegeum

KKI

24

Sumber: http://inamc.or.id/?open=mkdki

DAMPAK HUKUM
Di dalam praktek kedokteran terdapat aspek etik profesi, disiplin profesi dan aspek
hukum yang sangat luas, yang sering tumpang-tindih pada suatu issue tertentu, seperti pada
informed consent, wajib simpan rahasia kedokteran, profesionalisme, dll. Sebenarnya banyak
kasus penuntutan hukum kepada dokter yang diduga melakukan kelalaian medic. Apabila
penuntutan dilakukan sesuai dengan proporsinya dapat diharapkan berperan dalam upaya
menjaga mutu pelayanan kedokteran kepada masyarakat. Namun disisi lain, penuntutan
sendiri dapat menyebabkan banyak dampak negative juga.1,7
Norma etik profesi disiplin profesi dan hukum pidana memang berada dalam satu
garis, dengan etik profesi di satu ujung dan hukum pidana di ujung lainnya. Disiplin profesi
terletak diantaranya dan kadang membaur dari ujung ke ujung. Bahkan di dalam praktek
kedokteran, aspek etik profesi dan/atau disiplin profesi seringkali tidak dapat dipisahkan dari
25

aspek hukumnya, oleh karena banyaknya norma etik profesi yang telah diangkat menjadi
norma hukum, atau sebaliknya norma hukum yang mengandung nilai nilai etika. Aspek etik
profesi yang mencantumkan juga kewajiban memenuhi standar profesi mengakibatkan
penilaian perilaku etik profesi seseorang dokter yang diadukan tidak dapat dipisahkan dengan
penilaian perilaku diiplin profesinya. Etik profesi yang memiliki sanksi moral dipaksa
berbaur dengan keprofesian yang memiliki sanksi disiplin profesi yang bersifat administratif.
Keadaan menjadi semakin sulit sejak para ahli hukum menganggap bahwa standar
prosedur dan standar pelayanan medis dianggap sebagai domain hukum, padahal selama ini
profesi menganggap bahwa memenuhi standar profesi adalah bagian dari sikap etis dan sikap
professional. Dengan demikian pelanggaran standar profesi dapat dinilai sebagai pelanggaran
etik profesi, disiplin profesi dan juga sekaligus pelanggaran hukum.
Dalam hal seorang dokter diduga melakukan pelanggaran etika kedokteran (tanpa
melanggar norma hukum), maka ia akan dipanggil dan disidang oleh Majelis Kehormatan
Etik Kedokteran (MKEK) IDI untuk dimintai pertanggungjawaban (etik dan disiplin
profesinya). Persidangan MKEK bertujuan untuk mempertahankan akuntabilitas,
profesionalisme dan keluhuran profesi. Saat ini MKEK menjadi satu-satunya majelis profesi
yang menyidangkan kasus dugaan pelanggaran etik dan/atau disiplin profesi di kalangan
kedokteran. MKEK dalam perjalanannya telah diperkuat dengan landasan hukum yang diatur
dalam UU No.18 tahun 2002 tentang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Di kemudian hari Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI),
lembaga yang dimandatkan untuk didirikan oleh UU No.29/2004, akan menjadi majelis yang
menyidangkan dugaan/pelanggaran disiplin profesi kedokteran. MKDKI bertujuan
menegakkan disiplin dokter / dokter gigi dalam penyelenggaraan praktik kedokteran. Domain
atau yurisdiksi MKDKI adalah disiplin pofesi, yaitu permasalahan yang timbul akibat dari
pelanggaran seseorang professional atas peraturan internal profesinya, yang menyimpangi
apa yang diharapkan akan dilakukan oleh orang (professional) dengan pengetahuan dan
ketrampilan yang rata-rata. Dalam hal MKDKI dalam sidangnya menemukan adanya
pelanggaran etika, maka MKDKI akan meneruskan kasus tersebut kepada MKEK.
Proses persidangan etik dan disiplin profesi dilakukan terpisah dari proses
persidangan gugatan perdata atau tuntutan pidana oleh karena domain dan jurisdiksinya
berbeda. Persidangan etik dan disiplin profesi dilakukan oleh MKEK IDI,sedangkan gugatan
perdata dan tuntutan pidana dilaksanakan di lembaga pengadilan di lingkungan peradilan
umum. Dokter tersangka pelaku pelanggaran standar profesi (kasus kelalaian medik) dapat
diperiksa oleh MKEK, dapat pula diperiksa dipengadilan tanpa adanya keharusan saling
berhubungan diantara keduanya. Seseorang yang telah diputus melanggar etik oleh MKEK
belum tentu dinyatakan bersalah oleh pengadilan, demikian pula sebaliknya.
Persidangan MKEK bersifat inkuisitorial khas profesi, yaitu Majelis (ketua dan
anggota) bersikap aktif melakukan pemeriksaan, tanpa adanya badan atau perorangan sebagai
penuntut. Persidangan MKEK secara formiel tidak menggunakan sistem pembuktian
sebagaimana lazimnya di dalam hukum acara pidana ataupun perdata, namun demikian tetap
berupaya melakukan pembuktian mendekati ketentuan-ketentuan pembuktian yang lazim.
26

Dalam melakukan pemeriksaannya, Majelis berwenang memperoleh:

Keterangan, baik lisan maupun tertulis (affidativ), langsung dari pihak-pihak terkait
(pengadu, teradu, pihak lain yang terkait) dan peer-group / para ahli di bidangnya
yang dibutuhkan.
Dokumen yang terkait, seperti bukti kompetensi dalam bentuk berbagai ijasah / brevet
dan pengalaman, bukti keanggotaan profesi, bukti kewenangan berupa Surat Ijin
Praktek Tenaga Medis, Perijinan Rumah Sakit tempat kejadian, bukti hubungan
dokter dengan Rumah Sakit, hospital by laws SOP dan SPM setempat, rekam medis,
dan surat-surat lain yang berkaitan dengan kasusnya.

Majelis etik ataupun disiplin umumnya tidak memiliki syarat-syarat bukti seketat pada
hukum pidana ataupun perdata. Bars Disciplinary Tribunal Regulation, misalnya,
membolehkan adanya bukti yang bersifat hearsay dan bukti tentang perilaku teradu di masa
lampau. Cara pemberian keterangan juga ada yang mengharuskan didahului dengan
pengangkatan sumpah, tetapi ada pula yang tidak mengharuskannya. 7
Putusan MKEK tidak ditujukan untuk kepentingan peradilan, oleh karenanya tidak
dapat dipergunakan sebagai bukti di pengadilan, kecuali atas perintah pengadilan dalam
bentuk permintaan keterangan ahli. Salah seorang anggota MKEK dapat memberikan
kesaksian ahli di pemeriksaan penyidik, kejaksaan ataupun di persidangan, menjelaskan
tentang jalannya persidangan dan putusan MKEK. Sekali lagi, hakim pengadilan tidak terikat
untuk sepaham dengan putusan MKEK. Eksekusi Putusan MKEK Wilayah dilaksanakan oleh
Pengurus IDI Wilayah dan/atau Pengurus Cabang Perhimpunan Profesi yang bersangkutan.
Khusus untuk SIP, eksekusinya diserahkan kepada Dinas Kesehatan setempat. Apabila
eksekusi telah dijalankan maka dokter teradu menerima keterangan telah menjalankan
putusan.
Gugatan yang tidak dibatasi terutama kerugian immaterial akan cenderung
mengakibatkan semakin rumitnya lingkaran setan pelayanan dokter dengan biaya yang tinggi.
Demikian pula biaya gugatan ganti rugi melalui persidangan, pengacara dan success fee. Oleh
karena itu World Medical Association menganjurkan kepada IDI untuk mencari jalan inovatif
dalam menyelesaikan masalah tuntutan ganti rugi seperti lebih memilih penyelesaian melalui
arbitrase daripada mellalui pengadilan. Penuntutan juga mengakibatkan tekanan psikologi
bagi para dokter yang diduga melakukan kelalaian medis. Meskipun pembayaran ganti rugi
dilakukan dengan menggunakan uang pertanggung jawaban asuransi profesi, namun
peristiwa penuntutan tersebut sudah mengakibatkan kegelisahan, depresi, perasaan bersalah
dan kehilangan rasa percaya diri dokter, karena nama baik dan reputasi dokter yang
bermasalah tersebut dapat tercemar. Para dokter yang pernah mengalami penuntutan akan
menderita litigation stress syndrome dengan derajat yang bervariasi.1
REKAM MEDIS
Dalam Permenkes No.749a/Menkes/Per/XII/1989 tentang Rekam Medis, disebutkan
pengertian mengenai Rekam Medis. Rekam medis adalah berkas yang berisi catatan dan
dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain
27

kepada pasien pada sarana pelayanan kesehatan. Secara sederhana Rekam Medis dapat
diartikan sebagai kumpulan keterangan tentang identitas, hasil anamnesis, pemeriksaan dan
catatan segala kegiatan para pelayan kesehatan atas pasien dari waktu ke waktu dan catatan
ini dapat berupa tulisan, gambar, rekaman elektronik (computer, microfilm dan rekaman
suara). 2,3
Terdapat 2 jenis Rekam Medis di Rumah sakit yaitu Rekam medis untuk pasien rawat
jalan dan rekam medis untuk pasien rawat inap. Untuk pasien rawat jalan, termasuk pasien
Gawat darurat, Rekam medis memiliki informasi pasien sebagai berikut:
1. Identitas dan formulir perizinan (Lembar Hak Kuasa)
2. Riwayat penyakit (anamnesis) tentang:
Keluhan utama
Riwayat sekarang
Riwayat penyakit yang pernah diderita
Riwayat keluarga tentang penyakit yang mungkin diturunkan
3. Laporan pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, Foto rontgen, scanning,
MRI dll
4. Diagnosis dan/atau diagnosis banding
5. Instruksi diagnostic dan terapeutik dengan tanda tangan pejabat kesehatan
yang berwenang.
Untuk rawat inap memuat informasi yang sama dengan yang terdapat dalam rawat jalan
tetapi dengan beberapa tambahan yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.

Persetujuan tindakan medik


Catatan konsultasi
Catatan perawat dan tenaga kesehatan lainnya
Catatan observasi klinik dan hasil pengobatan
Resume akhir dan evaluasi pengobatan
Resume ini dibuat segera sesudah pasien dipulangkan. Resume ini
dibuat secara singkat dan berisi penjelaskan mengapa pasien masuk Rumah
Sakit yang didapatkan dari hasil anamnesis, hasil pemeriksaan fisik diagnostic,
laboratorium, rontgen dll, pengobatan dan tindakan operasi yang dilakukan,
keadaan pasien saat keluar (perlu berobat jalan, mampu untuk bekerja dll), dan
anjuran pengobatan dan perawatan (nama obat dan dosisnya, tindakan
pengobatan lain, dirujuk kemana, perjanjian untuk datang lagi dll).

Bila ditelusuri lebih jauh, rekam medis mempunyai aspek hokum kedisiplinan dan
etik petugas kesehatan, kerahasiaan, keuangan, mutu serta manajemen Rumah Sakit dan audit
medic. Secara umum, kegunaan dari rekam medic adalah:8
1. Sebagai alat komunikasi antara dokter dan tenaga kesehatan lainnya yang ikut ambil
bagian dalam member pelayanan, pengobatan dan perawatan pasien
2. Sebagai dasar untuk perencanaan pengobatan atau perawatan yang harus diberikan
pada pasien

28

3. Sebagai bukti tertulis atas segala pelayanan, perkembangan penyakit dan pengobatan
selama pasien berkunjung atau dirawat di Rumah sakit
4. Sebagai dasar analisis, studi dan evaluasi terhadap mutu pelayanan yang diberikan
kepada pasien
5. Melindungi kepentingan hokum bagi pasien, Rumah sakit maupun dokter dan tenaga
kesehatan lainnya
6. Menyediakan data-data khusus yang sangat berguna untuk keperluan penelitian dan
pendidikan
7. Sebagai dasar dari perhitungan biaya pembayaran pelayanan medic pasien
8. Menjadi sumber ingatan yang perlu didokumentasikan serta sebagai bahan
pertanggungjawaban dan laporan
Seorang dokter mungkin saja telah bersikap dan berkomunikasi dengan baik,
membuat keputusan medik dengan cemerlang dan/atau telah melakukan tindakan diagnostik
dan terapi yang sesuai standar; namun kesemuanya tidak akan memiliki arti dalam
pembelaannya apabila tidak ada rekam medis yang baik. Rekam medis yang baik adalah
rekam medis yang memuat semua informasi yang dibutuhkan, baik yang diperoleh dari
pasien, pemikiran dokter, pemeriksaan dan tindakan dokter, komunikasi antar tenaga medis /
kesehatan, informed consent, dll informasi lain yang dapat menjadi bukti di kemudian hari
yang disusun secara berurutan kronologis. Sebuah adagium mengatakan good record good
defence, bad record bad defence, and no record no defence. 1,4
Biasanya kata kunci yang sering digunakan oleh para hakim adalah (1) bahwa
kewajiban profesi dokter adalah memberikan layanan dengan tingkat pengetahuan dan
ketrampilan yang normalnya diharapkan akan dimiliki oleh rata-rata dokter pada situasikondisi yang sama, (2) bahwa tindakan dokter adalah masih reasonable, dan didukung
oleh alasan penalaran yang benar, (3) bahwa dokter harus memperoleh informed consent
untuk tindakan diagnostik / terapi yang ia lakukan, dan (4) bahwa dokter harus membuat
rekam medis yang baik.
Rekam medis dapat digunakan sebagai alat pembuktian adanya kelalaian medis,
namun juga dapat digunakan untuk membuktikan bahwa seluruh proses penanganan dan
tindakan medis yang dilakukan dokter dan tenaga kesehatan lainnya sesuai dengan
standar profesi dan standar prosedur operasional atau berarti bahwa kelalaian medis
tersebut tidak terjadi.
SOLUSI
Hukum menginginkan agar seluruh masyarakat dalam menjalankan aktivitasnya
termasuk kewajiban profesinya harus dengan cara yang wajar dan menjaga agar orang lain
termasuk pasiennya tidak sampai menderita kerugian yang tidak perlu. Di dalam menjalin
adanya hubungan antara dokter dengan pasien di dalam pengobatannya terdapat unsur yang
sangat penting yaitu kepercayaan yang diberikan oleh pasien terhadap dokter yang
merawatnya bahwa dokter mempunyai ilmu ketrampilan untuk menyembuhkan penyakit
pasien, dokter akan bertindak dengan hati-hati dan teliti serta bertindak berdasarkan standar
29

profesi medik yang ada. Kepercayaan tersebut hendaknya jangan disia-siakan, dengan
menghindari melakukan malpraktek medik termasuk kelalaian medic. 8
Dalam kasus ini, langkah yang harus ditempuh oleh dokter A adalah harus sesuai dan
berdasar pada Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI), dimana selain menghargai dan
melayani pasien dengan sebaiknya, juga menjaga hubungan yang baik dengan rekan
sejawatnya. Dokter A dalam menghadapi pasien dan sejawatnya dilandaskan pada etika
kedokteran sbb:

Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah dokter.
Setiap dokter harus, dalam setiap praktek medisnya, memberikan pelayanan medis
yang kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya disertai rasa kasih
saying dan penghormatan atas martabat manusia
Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan
sejawatnya, dan berupaya untuk mengingatkan sejawatnya yang dia ketahui memiliki
kekurangan dalam karakter atau kompetensi atau yang melakukan penipuan atau
penggelapan dalam menangani pasien.
Seorang dokter harus menghargai hak-hak pasien, hak-hak sejawatnya dan hak tenaga
kesehatan lainnya dan harus menjaga kepercayaan pasien.

Jadi berdasarkan poin-poin etika kedokteran diatas, dokter diharapkan dapat tetap
melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya dalam memenuhi hak pasien tanpa melanggar
kode etik dan hubungan dengan sejawatnya.
PENUTUP
Kesimpulan
Kelalaian medis mungkin diakibatkan karena ketidakmampuan dokter untuk
mendiagnosa kondisi medis, kegagalan untuk memperingatkan pasien tentang risiko yang
mungkin selama jenis pengobatan tertentu, kelalaian dokter selama perawatan atau diagnosis,
kegagalan untuk mendapatkan persetujuan yang diperlukan dari pasien atau anggota
keluarganya selama pengobatan, pengobatan kesalahan dan penundaan sementara merujuk ke
spesialis yang berkaitan dengan keadaan pasien.
Semua kasus klinis dianggap kelalaian cedera pribadi di bawah hukum. Meskipun,
kelalaian klinis adalah bidang studi khusus di bawah hukum cedera pribadi karena melibatkan
kelalaian profesional yang memerlukan prinsip-prinsip hukum yang berbeda dan aturan
prosedur. Namun, mencari kompensasi dalam hal klaim atas kelalaian medis bukanlah
sederhana dan kerumitan prosedur bebas. Klaim dapat menguntungkan secara finansial hanya
ketika penderita mampu membuktikan bahwa ia memang menerima perawatan kesehatan di
bawah standar dibandingkan dengan perawatan kesehatan profesional yang kompeten di

30

bidang yang relevan kedokteran. Kita perlu juga membuktikan di depan hukum bahwa ia
telah menderita kerugian sebagai akibat dari kelalaian medis.

DAFTAR PUSTAKA
1. Sampurna B, Syamsu Z, Siswaja TD. Bioetik dan hukum kedokteran. Cetakan ke-2.
Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FKUI; 2007.hal.30-1, 79-83, 138-9.
2. Hanafiah J, Mair A. Etika kedokteran dan hukum kesehatan. Edisi 4. Jakarta: EGC;
2007.hal.83-90.
3. Hendrik. Etika dan hukum kesehatan. Edisi 2. Jakarta: EGC; 2012.hal.51-5.
4. Daliyono. Bagaimana dokter berpikir dan bekerja. Penerbit: PT.
Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 2006.
5. Bagian Kedokteran Forensik FKUI. Peraturan perundang-undangan bidang kedokteran.
Edisi ke-2. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 1994.h.17-8, 20-3.
6. Guwandi J. Hukum medik. Cetakan ke-3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2007.hal.236-42.
7. Budi

Sampurna.

2007.

Kelalaian

medik.

Diunduh

dari:

http://www.freewebs.com/kelalaianmedik. Pada 12 januari 20116


8. Hubungan

dokter

dan

pasien.

Diunduh

dari

http://prematuredoctor.blogspot.com/2010/06/hubungan-dokter-pasien.html. 15 Januari
20116.
9. Etika Profesi dalam Kesehatan. 2010. Diunduh dari: http://id.shvoong.com/medicine-andhealth/gynecology/2019661-etika-profesi-dalam-kesehatan/. 12 januari 2016.

31