Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Dokter dan dokter gigi merupakan profesi yang memiliki keluhuran
karena memberikan pelayanan kesehatan yang merupakan salah satu
kebutuhan dasar manusia. Dokter dan dokter gigi dalam melakukan praktik
kedokteran tidak lepas dari norma disiplin kedokteran yang secara tidak
langsung berfungsi untuk menjamin dan menjaga mutu pelayanan medis dari
tenaga kesehatan. Penegakan disiplin kedokteran sendiri berdasarkan
penjelasan pasal 55 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia No. 29
Tahun 2004 tentang praktik kedokteran adalah penegakan aturan-aturan
dan/atau ketentuan penerapan keilmuan dalam pelaksanaan pelayanan yang
harus diikuti oleh dokter dan dokter gigi.
Pada kenyataannya tidak semua tenaga medis menaati prinsip-prinsip
kedokteran tersebut, berbagai pelanggaran sering terjadi dan berdampak
buruk pada image dokter dan dokter gigi di masyarakat. Berbagai
pelanggaran tersebut secara umum terdapat dalam bentuk pelanggaran etika,
hukum, dan disiplin kedokteran. Seorang dokter yang tidak menjunjung
tinggi, menghayati, dan mengamalkan sumpah dokter merupakan salah satu
bentuk pelanggaran etika kedokteran, melakukan percobaan pembunuhan
merupakan salah satu bentuk pelanggaran hukum kedokteran, sedangkan
memberikan pelayanan medis yang tidak sesuai dengan kompetensinya
merupakan pelanggaran disiplin kedokteran. Salah satu pelanggaran disiplin
yang menjadi sorotan publik akhir-akhir ini yaitu tindakan aborsi yang
dilakukan seorang dokter gigi.
Oleh karena itu, pada laporan ini akan dibahas mengenai pelanggaranpelanggaran disiplin yang dilakukan oleh dokter gigi sesuai dengan berita
yang didapat berjudul Akhir Petualangan Dokter Aborsi berdasarkan
sumber indosiar.com.

B.

Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari laporan ini adalah sebagai berikut.
1. Apa saja bentuk-bentuk pelanggaran disiplin kedokteran yang terdapat di
dalam kasus?
2. Apa saja dasar hukum yang melandasi pelanggaran-pelanggaran disiplin
kedokteran yang terdapat dalam kasus?

C.

Tujuan
Tujuan dari laporan ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui berbagai bentuk pelanggaran disiplin kedokteran yang
terdapat dalam kasus
2. Untuk mengetahui dasar

hukum

yang

melandasi

pelanggaran-

pelanggaran disiplin kedokteran yang terdapat dalam kasus.


D.

Manfaat
Manfaat dari laporan ini adalah sebagai berikut.
1. Mahasiswa memahami contoh-contoh pelanggaran-pelanggaran disiplin
kedokteran
2. Mahasiswa memahami dasar hukum yang berlaku pada salah satu kasus
pelanggaran disiplin kedokteran
3. Mahasiswa mengetahui sanksi-sanksi yang
pelanggaran disiplin kedokteran
4. Mahasiswa dapat menghindari

ada bila melanggar

pelanggaran-pelanggaran

disiplin

kedokteran dimasa mendatang.

BAB II
ISI
A.

Tinjauan Pustaka
1.
Pengertian Disiplin Kedokteran
2

Menurut keputusan Konsil Kedokteran Indonesia Bab II Nomor


17/KKI/KEP/VIII/2006 tentang Pedoman Penegakan Disiplin Profesi
Kedokteran, disiplin kedokteran adalah aturan-aturan dan/atau
ketentuan penerapan keilmuan dalam pelaksanaan pelayanan yang
harus diikuti oleh dokter dan dokter gigi.
Menurut Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 4
Tahun 2011 tentang Disiplin Professional Dokter dan Dokter Gigi,
bentuk pelanggaran disiplin kedokteran pasal 3 ayat (1) terdiri dari 28
bentuk, yaitu:
a.
Melakukan Praktik Kedokteran dengan tidak kompeten.
b.
Tidak merujuk pasien kepada Dokter atau Dokter Gigi lain yang
c.

memiliki kompetensi yang sesuai.


Mendelegasikan pekerjaan kepada tenaga kesehatan tertentu
yang tidak memiliki kompetensi untuk melaksanakan pekerjaan

d.

tersebut.
Menyediakan Dokter atau Dokter Gigi pengganti sementara
yang tidak memiliki kompetensi dan kewenangan yang sesuai
atau tidak melakukan pemberitahuan perihal penggantian

e.

tersebut.
Menjalankan

Praktik

Kedokteran

dalam

kondisi

tingkat

kesehatan fisik ataupun mental sedemikian rupa sehingga tidak


f.

kompeten dan dapat membahayakan pasien.


Tidak melakukan tindakan/asuhan medis yang memadai pada

g.

situasi tertentu yang dapat membahayakan pasien.


Melakukan pemeriksaan atau pengobatan berlebihan yang tidak

h.

sesuai dengan kebutuhan pasien


Tidak memberikan penjelasan yang jujur, etis, dan memadai
(adequate information) kepada pasien atau keluarganya dalam

i.

melakukan Praktik Kedokteran.


Melakukan tindakan/asuhan

medis

tanpa

memperoleh

persetujuan dari pasien atau keluarga dekat, wali atau


j.

pengampunya.
Tidak membuat atau tidak menyimpan rekam medis dengan
sengaja.

k.

Melakukan perbuatan yang bertujuan untuk menghentikan


kehamilan yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-

l.

undagan yang berlaku.


Melakukan perbuatan yang dapat mengakhiri kehidupan pasien

m.

atas permintaan sendiri atau keluarganya.


Menjalankan Praktik Kedokteran dengan

menerapkan

pengetahuan, ketrampilan, atau teknologi yang belum diterima


n.

atau di luar tata cara Praktik Kedokteran yang layak.


Malakukan penelitian dalam Praktik Kedokteran dengan
menggunakan

manusia

sebagai

subjek

penelitian

tanpa

memperoleh persetujuan etik (ethical clearance) dari lembaga


o.

yang diakui pemerintah.


Tidak
melakukan
pertolongan

darurat

atas

dasar

perikemanusian, padahal tidak membahayakan dirinya, kecuali


bila ia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu
p.

melakukannya.
Menolak atau menghentikan tindakan/asuhan medis atau
tindakan pengobatan terhadap pasien tanpa alasan yang layak
dan sah sesuai dengan ketentuan etika profesi atau peraturan

q.
r.

perundang-undangan yang berlaku.


Membuka rahasia kedokteran.
Membuat keterangan medis yang tidak didasarkan kepada hasil

s.

pemeriksaan yang diketahuinnya secara benar dan patut.


Turut serta dalam perbuatan yang termasuk tindakan penyiksaan

t.

(torture) atau eksekusi hukuman mati.


Meresepkan atau memberikan obat golongan narkotika,
psikotropika, dan zat adiktif lainnya yang tidak sesuai dengan
ketantuan etika profesi atau peraturan perundang-undangan yang

u.

berlaku.
Melakukan pelecehan seksual, tindakan intimidasi, atau
tindakan kekerasan terhadap pasien dalam penyelenggaraan

v.

Praktik Kedokteran.
Menggunakan gelar akademik atau sebutan profesi yang bukan

w.

haknya.
Menerima imbalan sebagai hasil dari merujuk, meminta
pemeriksaan, atau memberikan resep obat/alat kesehatan.

x.

Mengiklankan

kemampuan/pelayanan

atau

kelebihan

kemampuan/pelayanan yang dimiliki baik lisan ataupun tulisan


y.

yang tidak benar atau menyesatkan.


Adiksi pada narkotika, psikotropika, alkohol, dan zat adiktif

z.

lainnya.
Berpraktik dengan menggunakan surat tanda registrasi, surat
izin praktik, dan/atau sertifikat kompetensi yang sah atau
berpraktik tanpa memiliki surat izin praktik sesuai dengan

aa.
bb.

ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.


Tidak jujur dalam menentukan jasa medis.
Tidak memberikan informasi dokumen dan alat bukti laiinya
yang diperlukan MKDKI/MKDKI-P untuk pemeriksaan atas
pengaduan dugaan pelanggaran Disiplin Professional Dokter
dan Dokter Gigi.

2.

Pengertian KKI
Berdasarkan Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 4
Tahun 2011 tentang Disiplin Profesional Dokter dan Dokter Gigi pasal
1 menyatakan bahwa, Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) adalah
suatu badan otonom, mandiri, nonstruktural, dan bersifat independen,
yang terdiri atas Konsil Kedokteran dan Konsil Kedokteran Gigi.
Menurut UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
pasal 4 yang menyebutkan, KKI dibentuk untuk melindungi
masyarakat penerima jasa pelayanan kesehatan, dan meningkatkan
mutu pelayanan kesehatan dari dokter dan dokter gigi, serta
bertanggung jawab kepada presiden. Selanjutnya pada pasal 5
dinyatakan bahwa KKI berkedudukan di ibukota negara Republik
Indonesia.
KKI didirikan pada tanggal 29 April 2005 di Jakarta yang
anggotanya terdiri dari 17 (tujuh belas) orang, merupakan perwakilan
dari,
1.
2.
3.
4.

Asosiasi Rumah Sakit Pendidikan Indonesia : 2 (dua) orang,


Kolegium Kedokteran Indonesia : 1 (satu) orang,
Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia : 2 (dua) orang,
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Gigi Indonesia : 2

5.

(dua) orang,
Persatuan Dokter Gigi Indonesia : 2 (dua) orang,

3.

6.
7.

Kolegium Kedokteran Gigi Indonesia : 1 (satu) orang,


Tokoh Masyarakat : 3 (tiga) orang, Departemen Kesehatan : 2

8.

(dua) orang,
Departemen Pendidikan Nasional : 2 (dua) orang.

Fungsi, Tugas dan Wewenang KKI


Fungsi KKI tertulis dalam UU Nomor 29 Tahun 2004 pasal 6
yang berbunyi, Konsil Kedokteran Indonesia mempunyai fungsi
pengaturan, pengesahan, penetapan, serta pembinaan dokter dan
dokter gigi yang menjalankan Praktik Kedokteran, dalam rangka
meningkatkan mutu pelayanan medis.
Tugas KKI berdasarkan UU No.29 Tahun 2004 Pasal 7 adalah:
1.
Melakukan registrasi dokter dan dokter gigi.
2.
Mengesahkan standar pendidikan profesi dokter dan dokter gigi.
3.
Melakukan pembinaan terhadap penyelenggaraan Praktik
Kedokteran yang dilaksanakan bersama lembaga terkait sesuai
dengan fungsi masing-masing.
Menurut UU Nomor 29 Tahun 2004 pasal 8 tentang Praktik
Kedokteran, wewenang KKI yaitu,
1.
Menyetujui dan menolak permohonan registrasi dokter dan
2.

dokter gigi.
Menerbitkan dan mencabut surat tanda registrasi dokter dan

3.
4.

dokter gigi.
Mengesahkan standar kompetensi dokter dan dokter gigi.
Melakukan pengujian terhadap persyaratan registrasi dokter dan

5.

dokter gigi.
Mengesahkan

6.

kedokteran gigi.
Melakukan pembinaan bersama terhadap dokter dan dokter gigi

penerapan

cabang

ilmu

kedokteran

dan

mengenai. pelaksanaan etika profesi yang ditetapkan oleh


7.

organisasi profesi.
Melakukan pencatatan terhadap dokter dan dokter gigi yang
dikenakan sanksi oleh organisasi profesi atau perangkatnya
karena melanggar ketentuan etika profesi.

4.

Pengertian MKDKI
Menurut Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor
15/KKI/PER/VIII/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Majelis

Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia dan Majelis Kehormatan


Disiplin Kedokteran Indonesia di tingkat provinsi, disebut juga
MKDKI adalah lembaga yang berwenang untuk menentukan ada
tidaknya kesalahan yang dilakukan dokter dan dokter gigi dalam
penerapan disiplin ilmu kedokteran dan kedokteran gigi dan
menetapkan sanksi. MKDKI merupakan lembaga otonom dari Konsil
Kedokteran Indonesia diatur dalam pasal 55 Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran.Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia
bertanggung jawab kepada Konsil Kedokteran Indonesia.
Menurut pasal 57 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, Majelis Kehormatan
Disiplin Kedokteran Indonesia berkedudukan di ibukota Negara
republik Indonesia. Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran di
tingkat provinsi dapat dibentuk oleh Konsil Kedokteran Indonesia
atas usul Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia.
Pimpinan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia terdiri
atas seseorang ketua, wakil ketua, dan sekertaris. Keanggotaan
Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia terdiri dari tiga
orang dokter dan tiga orang dokter gigi dari organisasi profesi
masing-masing, seorang dokter dan dokter gigi mewakili asosiasi
rumah sakit, dan tiga orang sarjana hukum. Berdasarkan pasal 60
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 tentang
Praktik

Kedokteran,

anggota

Majelis

Kehormatan

Disiplin

Kedokteran Indonesia ditetapkan oleh menteri atas usul organisasi


profesi.
Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI)
dan Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) dibentuk oleh Departemen
Kesehatan. Rencana pembentukan MKDKI dan KKI dilakukan
melalui pembahasan bersama organisasi profesi, asosiasi, dan institusi
pendidikan kedokteran. Dokter yang sudah menjalankan praktik tidak
akan lepas dari kemungkinan pelanggaran/kelalaian medis. Untuk itu
diperlukan proses pendisiplinan dokter praktik. Proses pendisiplinan

menganut

kaidah-kaidah

hokum

disiplin

profesi

kedokteran.

Hukuman maksimal dari proses penegakkan disiplin adalah


pencabutan registrasi dokter yang melanggar/lalai.
5.

Tugas dan Kewenangan MKDKI


Menurut pasal 64 Undang-Undang Nomor 29 than 2004 tentang
Praktik Kedokteran, majelis ini dibentuk untuk menegakkan disiplin
dokter dan dokter gigi dalam penyelenggaraan Praktik Kedokteran.
Penegakkan disiplin yang dimaksud adalah penegakkan aturan-aturan
dan/atau penerapan keilmuan dalam pelaksanaan pelayanaan yang
harus diikuti oleh dokter dan dokter gigi.
Tugas MKDKI adalah menerima pengaduan, memeriksa dan
memutuskan kasus pelanggran disiplin dokter dan dokter gigi yang
diajukan oleh masyarakat, serta menyusun pedoman dan tata cara
penanganan kasus pelanggaran disiplin dokter atau dokter gigi.
Majelis

Kehormatan

Disiplin

Kedokteran

Indonesia

dalam

menjalankan tugasnya bersifat independen, tidak terpengaruh oleh


siapapun atau lembaga lainnya (Pasal 55 Nomor 29 Tahun 2004
tentang Praktik Kedokteran).
MKDKI akan menentukan suatu permasalahan merupakan
pelanggran etika atau pelanggaran disiplin. Pelanggaran etika
penyelesaiannya akan dilakukan oleh organisasi profesi, sedangkan
pelanggaran disiplin akan dilakukan pemberian sanksi oleh MKDKI.
Sangksi disiplin yang diberikan terhadap pelanggaran disiplin
kedokteran menurut pasal 69 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004
tentang Praktik Kedokteran, dapat berupa :
a.
Pemberian peringatan tertulis.
b.
Rekomendasi pencabutan surat tanda registrasi atau surat izin
c.

praktik.
Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi
pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi.
Menurut
Peraturan
Konsil
Kedokteran

Nomor

15/KKI/PER/VIII/2006 tentang organisasi dan tata kerja Majelis


Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia dan Majelis Kehormatan

Disiplin Kedokteran Indonesia di tingkat provinsi, MKDKI


mempunyai wewenang,
a.
Menerima pengaduan pelanggaran disiplin dokter dan dokter
b.

gigi.
Menerapkan jenis pengaduan disiplin atau pelanggaran etika

c.

atau bukan keduannya.


Memeriksa pengaduan pelanggaran disiplin dokter dan dokter

d.

gigi.
Memutuskan ada tidaknya pelanggaran disiplin dokter dan

e.

dokter gigi.
Menentukan sanksi terhadap pelanggaran disiplin dokter dan

f.
g.

dokter gigi.
Melaksanakan keputusan MKDKI.
Menyusun tata cara penanganan kasus pelanggaran disiplin

h.
i.

dokter dan dokter gigi.


Menyusun buku pedoman MKDKI dan MKDKI-P.
Membina, mengkoordinasikan dan mengawasi pelaksanaan

j.

tugas MKDKI dan MKDKI-P.


Membuat dan memberikan pertimbangan usulan pembentukan

k.

MKDKI-P kepada Konsil Kedokteran Indonesia.


Mengadakan sosialisasi, penyuluhan, dan diseminasi tentang

l.

MKDKI dan MKDKI-P


Mencatat dan mendokumentasikan

pengaduan

proses

pemeriksaan dan keputusan MKDKI.


Dalam menjalankan fungsi, tugas dan wewenangnya, MKDKI
harus memperhatikan peraturan perundang-undangan di bidang
kesehatan serta peraturan perundang-undangan lain yang terkait dan
berlaku.
6.

Pengaduan Pelanggaran Disiplin Kedokteran Kepada Majelis


Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI)
Menurut pasal 66 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004
tentang Praktik Kedokteran, setiap orang yang mengetahi atau
kepentingannya dirugikan atas tindakan dokter atau dokter gigi dalam
menjalankan Praktik Kedokteran dapat mengadukan secara tertulis

kepada ketua majelis kehormatan disiplin kedokteran Indonesia.


Pengaduan sekurang-kurangnya harus memuat
a.
b.

Identitas pengadu dan pasien


Nama dan alamat tempat praktik dokter atau dokter gigi dan

c.
d.
e.
f.

waktu tindakan dilakukan


Waktu tindakan dilakukan
Alasan pengaduan
Alatbukti bila ada
Pernyataan tentang kebenaran pengaduan.
Menurut Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor

16/KKI/PER/VII/2006

pasal

ayat

(2)

tentang

Tata

Cara

Penangganan Kasus Dugaan Pelanggaran Disiplin Dokter dan Dokter


Gigi, apabila orang yang mengetahui atau kepentingannya dirugikan
atas tindakan dokter atau dokter gigi tersebut tidak mampu
mengadukan secara tertulis, dapat mengadukan secara lisan kepada
MKDKI atau MKDI-Provinsi. Tata cara penanganan kasus dugaan :
a.

Majelis pemeriksaan awal


Menurut Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor

16/KKI/PER/VII/2006 pasal 6 tentang Tata Cara Penanganan Kasus


Dugaan Pelanggaran Disiplin Dokter dan Dokter Gigi, MKDKI atau
MKDI-P melakukan pemeriksaan awal. Ketua MKDKI menetapkan
majelis pemeriksaan awal pada MKDKI terdiri dari tiga orang yang
diangkat dari anggota MKDKI.
Majelis pemeriksaan awal dapat melakukan investigasi untuk
melengkapi berkas dalam pemeriksaan awal. Majelis pemeriksaan awal
melakukan pemeriksaan awal antara lain, keabsahan aduan, keabsahan alat
bukti, menetapkan pelanggaran etik atau disiplin atau menolak pengaduan
karena tidak memenuhi syarat pengaduan atau tidak termasuk dalam
wewenang MKDKI dan melengkapi seluruh alat bukti. Bilamana dari hasil
pemeriksaan awal ditentukan bahwa pengaduan yang diajukan adalah
pelanggaran etik, maka MKDKI melanjutkan pengaduan tersebut kepada
organisasi profesi, namun bila pada pemeriksaan awal ditentukan bahwa
pengaduan tersebut adalah dugaan pelanggaran disiplin maka ditetapkan

10

majelis pemeriksaan disiplin oleh ketua MKDKI. Setiap keputusan majelis


pemeriksaan awal kurun waktu 14 hari kerja harus disampaikan kepada ketua
MKDKI.
Setiap orang
atau
kepentingan
yang dirugikan
Menolak karena halhal:

Pengaduan
tertulis/lisan

Penetapan majelis
pemeriksa awal

Pelanggaran etik

Pemeriksa
awal

Pelanggaran disiplin

Pelaksanaan keputusan

Kepada pengadu

Sekertariat
MKDKI/MKDKIP
Organisasi
Gambar 2.1 Skema alur tata cara penanganan
profesi dugaan

Penetapan Majelis
pemeriksa oleh
ketua MKDKI

pelanggaran

disiplin kedokteran (tahap awal pemeriksaan awal)


b.

Majelis pemeriksaan disiplin


Menurut Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor

16/KKI/PER/VIII/2006 pasal 7 tentang Cara Penanganan Kasus


Dugaan Pelanggaran Disiplin Dokter dan Dokter Gigi, selambatlambatnya dalam jangka waktu 14 hari kerja sesudah hasil
pemeriksaan awal diterima, MKDKI segera membentuk majelis
pemeriksaan disiplin untuk MKDKI dan 28 hari untuk MKDKIProvinsi. Majelis pemeriksaan disiplin tersebut ditetapkan dalam
keputusan ketua Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia.
Majelis pemeriksa disiplin dipilih dari anggota MKDKI dan/atau
MKDKI-P yang salah satunya harus ahli hukum yang bukan tenaga
medis.
Pemeriksa dokter atau dokter gigi yang diadukan dilakukan
dalam bentuk siding majelis pemeriksa disiplin. Sidang majelis
pemeriksa disiplin dipimpin oleh ketua majelis pemeriksa disiplin dan
didampingi oleh anggota majelis pemeriksa disiplin.

11

Pemeriksa dokter atau dokter gigi yang diadukan dilakukan


dalam bentuk siding majelis pemeriksa disiplin. Sidang majelis
pemeriksa disiplin dipimpin oleh ketua majelis pemeriksa disiplin dan
didampinpingi oleh anggota majelis pemeriksa disiplin dan seorang
panitera yang ditetapkan oleh ketua MKDKI. Sidang majelis
pemeriksa disiplin dihadiri oleh dokter atau dokter gigi yang
diadukan, dan dapat didampingi oleh pendamping sidang majelis
pemeriksa disiplin dilakukan secara tertutup.
Keputusan sidang majelis pemeriksa disiplin adalah keputusan
MKDKI atau MKDKI-Provinsi yang mengikat Konsil Kedokteran
Indonesia, dokter atau dokter gigi yang diaadukan, pengadu,
Departemen Kesehatan, Dinas Kesehatan kabupaten/kota serta
institusi terkait.
Keputusan tersebut dapat berupa,
1)
Tidak terbukti berslah melakukan pelanggaran disiplin
2)

kedokteran atau,
Terbukti bersalah

3)

kedokteran dan pemberi sanksi disiplin


Pengaduan yang telah diputuskan pada MKDKI atau

melakukan

pelanggaran

disiplin

MKDKI-P tidak dapat diadukan kembali


Sanksi disiplin dapat berupa,
1)
rekomendasi pencabutan surat tanda registrasi atau surat
2)

izin praktik.
Kewajiban mengikuti
a)
Pendidikan formal
b)
Pelatihan dalam pengetahuan dan ketrampilan di
institusi

pendidikan

atau

sarana

pelayanan

kesehatan, sekurang-kurangnya 3 bulan dan paling


lama 1 tahun.

Pemeriksaan awal
pelanggaran
disiplin

Bebas/tidak
bersalah

Penetapan
majelis
pemeriksaan oleh
ketua MKDKI

Peringatan tertulis

Pemeriksaan
proses pembuktian

Keputusan

Rekomendasi
pencabutan
SIP/STR

Mengikuti
pendidikan atau
pelatihan
12

Pelaksana keputusan

Sekretariat
MKDKI/MKDKI-P

Sekretariat
MKDKI/MKDKI-P

Sekretariat
MKDKI/MKDKI-P

Sekretariat
MKDKI/MKDI-P

Konsil Kedokteran
Indonesia

Dinkes
Kota/Kabupaten

Dokter atau Dokter


Gigi

Dokter atau Dokter


Gigi

Kolegium

Dokter atau
Dokter Gigi

Intitusi
Pendidikan

Gambar 2.2 Skema talur tata cara penanganan pelanggaran disiplin kedokteran

B.

Kasus dan Pembahasan


Judul kasus : Akhir Petualangan Dokter Aborsi
Bali - Pertengahan Februari lalu, Bali diguncang kabar tak sedap.
Seorang dokter, ditangkap karena kedapatan membuka praktek aborsi.
Selama hampir lima tahun berpraktek, sang dokter sendiri sudah sulit
menghitung, berapa janin yang telah ia gugurkan.
Dalam penangkapan itu, dua orang yang membantu sang dokter, juga
ikut diciduk, berikut semua peralatan yang dipakai dalam setiap kali
melakukan aborsi. Dari Denpasar Bali, inilah laporannya.

13

Pertengahan Februari lalu, warga Banjar Bekul, Desa Panjer,


Denpasar, Bali, dikejutkan oleh kehadiran serombongan anggota polisi di
lingkungan tempat tinggal mereka. Terlebih ketika kemudian terlihat, para
petugas itu menggelandang dua orang pria dan seorang wanita, dengan
wajah tertutup. Hiruk pikuk dan teriakan histeris mewarnai pemandangan
itu.
Sejak lima tahun terakhir, rumah megah di Jalan Tukad Petanu, Gang
Gelatik nomor 5 ini, memang diketahui telah menjadi tempat praktek
seorang dokter gigi. Setiap harinya, banyak pasien yang datang berobat.
Yang tidak lazim, jumlah pasien itu cukup banyak untuk hitungan
seorang dokter gigi. Belakangan tercium kabar, sang dokter tidak melayani
pasien gigi, tapi melakukan praktek aborsi. Namun tidak ada warga yang
berani bersikap, sampai akhirnya mereka melihat, sang dokter bersama dua
orang pembantunya, digelandang polisi.
Dokter yang ditangkap itu bernama Arik Wiantara. Sementara dua
pembantunya yang juga ikut ditangkap, masing-masing bernama Pande
Ketut Darmawan dan Susiati. Bersamaan dengan penangkapan itu, disita
pula sejumlah barang bukti, seperti alat penyedot darah, alat pemeriksa detak
jantung, alat untuk melakukan kuret serta alat penjepit yang dipakai untuk
menarik janin bayi dari dalam perut.
Sadar kasus ini mendapat perhatian besar masyarakat, polisi
langsung bekerja cepat. Hari itu ketiga tersangka langsung diperiksa. Dalam
pemeriksaan, di luar dugaan, ketiga tersangka secara terang-terangan
mengakui telah membuka praktek aborsi.
Soal kapan praktek itu dimulai, mereka tidak ingat persis, namun
diperoleh informasi sang dokter telah membuka praktek ilegal itu sejak lima
tahun terakhir, persisnya, tidak lama setelah ia selesaikan kuliahnya di
sekolah kedokteran gigi. Praktek mereka baru terkuak dan polisi bertindak,
setelah salah seorang dari pasien, meninggal dunia tidak lama setelah
menjalani aborsi.
Di hadapan polisi, Dokter Arik dan kedua pembantunya tidak merasa
bersalah. Mereka mengaku telah dengan sadar membuka praktek aborsi itu,
karena niatnya membantu mereka yang perlu pertolongan.

14

Di hadapan penyidik, Dokter Arik dan kedua pembantunya secara


terbuka, menceritakan perjalanan usaha mereka, membuka praktek aborsi.
Arik mengatakan, sebenarnya ia seorang dokter gigi.
Namun secara umum dia yakin bisa mengobati penyakit lain di luar
disiplin ilmunya. Namun keterlibatannya dalam urusan aborsi, terjadi tanpa
sengaja, saat ia masih duduk di bangku kuliah. Ia diminta tolong
menggugurkan kandungan bayi pacar temannya.
Setelah berhasil membantu menggugurkan kandungan dimasa kuliah
inilah, kepercayaan dirinya mulai tumbuh. Bahkan setelah selesai kuliah dan
mendapat izin praktek, ia lebih banyak melayani pasien aborsi, ketimbang
pasien gigi. Barang bukti yang berhasil diamankan petugas di tempat
prakteknyapun, hampir semuanya peralatan untuk keperluan aborsi. Mulai
dari obat bius, alat suntik, peralatan kuret, penyedot darah, sampai penjepit
janin.
Dalam menjalankan aksinya, Dokter Arik dibantu Pande Ketut
Darmawan, pegawai unit gawat darurat milik pemerintah kota Denpasar.
Kerjasamanya dengan sang dokter, terjadi secara kebetulan. Pasien yang
datang ke tempat praktek Dokter Arik, menurut keterangan Pande, biasanya
berada dalam keadaan putus asa, karena telah berusaha menggugurkan
kandungannya dengan segala cara, namun tidak berhasil. Sebagian malah
ada yang sudah pada taraf membahayakan jiwa.
Bermula dari rasa iba inilah, Pande kemudian mau membantu
praktek aborsi Dokter Arik, walaupun ia menyadari, praktek aborsi yang
dilakukan Dokter Arik, adalah tindakan ilegal. Adapun tersangka Susiati,
lebih banyak berperan mengantarkan pasien ke tempat praktek. Keterangan
Pande ini, dibenarkan Dokter Arik dan Susiati. Karena itu pula, para
tersangka membantah motivasi praktek aborsi mereka untuk mendapatkan
banyak uang.
Namun Pande dan Susi mengakui, hampir semua pasien yang datang,
memberikan uang secara sukarela. Dan dari uang pemberian pasien itu,
mereka mendapat bagian, walau jumlahnya tentu lebih sedikit dibanding
yang didapatkan sang dokter. Pande misalnya, mendapatkan 200 hingga 300
ribu setiap satu atau dua minggu. Sedangkan Susi mendapatkan rata-rata 100
ribu untuk setiap pasien yang dibawanya.

15

Namun polisi menemukan sejumlah bukti kuat, bahwa praktek aborsi


ini dilakukan para tersangka untuk mendapatkan uang banyak. Aborsi adalah
tindakan penuh resiko, karena bila tidak dilakukan dengan perhitungan
akurat, dan tenaga medis yang terlatih, bisa berakibat fatal bagi pasien.
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap ketiga
tersangka, polisi lalu menggelar rekonstruksi, untuk melihat lebih jelas,
proses aborsi berikut peran dari masing-masing tersangka.
Pihak Polda Bali seperti berlomba dengan waktu. Tidak lama setelah
melakukan pemeriksaan secara maraton kepada para tersangka, mereka
menggelar rekonstruksi, di tempat praktek Dokter Arik, tempat aborsi ini
dilakukan. Polisi berharap, mereka akan mendapatkan gambaran lebih jelas
tentang tindakan aborsi yang dilakukan. Jalannya rekonstruksi ini mendapat
perhatian

besar

masyarakat.

Keluarga

tersangka

juga

hadir

dan

mendampingi para tersangka.


Dengan mempelajari bukti-bukti dan keterangan para tersangka,
diperoleh gambaran bahwa, para pasien yang datang ke tempat praktek
tersangka, umumnya pasien dari kalangan remaja, korban pergaulan bebas.
Perasaan putus asa, menggiring mereka datang ke tempat tersangka.
Sebagian dari mereka dibawa tersangka Susiati. Setelah identitasnya di data,
selanjutnya pasien disuruh masuk ke ruang praktek. Di situ sudah menunggu
tersangka, Dokter Arik.
Setelah mengetahui data kesehatan dan perkembangan janin di perut
calon pasien, maka proses aborsipun mulai dilakukan, diawali dengan
pemberian suntikan bius. Proses aborsi berjalan singkat, hanya sekitar lima
menit. Setelah pasien siuman, tersangka memberikan obat dan suntikan lagi.
Sebelum pulang, pasien memberikan uang, yang besarnya sesuai
kesepakatan awal. Menurut Dokter Erik, banyaknya pasien yang datang
kepadanya, membuat ia tidak ragu lagi melakukan tindakan-tindakan dalam
proses aborsi itu. Ia yakin, dirinya memiliki kemampuan sepadan dengan
mereka yang membidangi masalah ini.
Namun di mata Made Suyasa, salah seorang dokter Ahli Kandungan
dan Kebidananh di Bali, melihat latar belakang keilmuannya, apa yang
dilakukan tersangka ini, sangat riskan dan dapat membahayakan pasien.
Infertilitas atau kemandulan, adalah salah satu efek jangka panjang
dari aborsi, jika dilakukan tidak dengan kemampuan yang memadai.
16

Sedangkan jangka pendeknya, pasien aborsi bisa mengalami pendarahan


hebat, yang bukan tidak mungkin berujung pada kematian mereka.
Tersangka tidak sependapat dengan pemikiran itu.
Akibat aksi tersangka ini, ribuan janin tak berdosa telah menjadi
korban. Usia pasien yang datang kepada Dokter Arik bervariasi, dari yang
masih berusia 15 tahun, hingga 38 tahun. Namun praktek aborsi tersangka
juga menelan korban.
Satu orang pasien, dikabarkan tewas setelah menjalani aborsi,
sementara satu pasien lainnya harus menjalani perawatan intensif di Rumah
Sakit Sanglah, Denpasar. Dari munculnya korban inilah, akhirnya praktek
ilegal sang dokter terungkap dan ia ditangkap. Sepak terjang Dokter Arik,
bukannya tidak pernah diketahui. Tempatnya praktek bahkan pernah
disantroni petugas Dinas Kesehatan. Itu terkait dengan ijin praktek
tersangka.
Hasil dari pemeriksaan ketika itu, Dinas Kesehatan melayangkan
surat peringatan pertama bagi tersangka. Namun surat peringatan itu seperti
tak berarti di mata tersangka. Ia tetap saja jalan dengan prakteknya. Ketika
surat peringatan kedua siap dilayangkan, sang dokter keburu ditangkap
aparat kepolisian.
Begitu bebasnya pergaulan masyarakat di Pulau Dewata, tetap saja,
masyarakat setempat miris, saat mendengar sepak terjang Dokter Arik dalam
menjalankan praktek aborsinya. Mereka berharap, tersangka dihukum berat.
Warga sekitar tempat praktek Dokter Arik, mengaku sudah lama
mencurigai tersangka membuka praktek aborsi. Setidaknya itu dilihat dari
banyaknya pasien yang datang, dan sebagian besar gadis remaja. Karena itu
sudah lama mereka resah dengan keberadaan tempat praktek itu.
Namun tak urung, ketika Dokter Arik dan dua pembantunya
ditangkap dengan tuduhan melakukan aborsi, mereka, terutama kalangan ibu
rumah tangga, mengaku kaget. Pernyataan kedua warga Denpasar ini, seolah
menyiratkan telah terjadinya pergeseran pola pergaulan di Bali. Dan hal ini
perlu segera mendapat perhatian serius dari semua pihak.
Karena itu Sudewa sangat setuju jika terhadap tersangka, kelak
diberikan hukuman berat, mengingat perbuatan yang telah dilakukannya.
Namun kuasa hukum tersangka, punya pandangan lain. Menurut mereka,

17

bagaimanapun niat tersangka membuka praktek aborsi untuk menolong


mereka yang kesulitan, patut dipertimbangkan.
Pihak berwenang sendiri telah mempersiapkan beberapa pasal
berlapis untuk menjerat tersangka, berkaitan dengan aktifitas aborsi
ilegalnya. Mulai dari sengaja merampas nyawa orang lain, sengaja
menggugurkan kandungan yang menyebabkan matinya si ibu, serta dokter
yang membantu kejahatan aborsi.
Adapun Dokter Arik, tetap yakin dan teguh dengan pendirian, bahwa
yang dilakukannya selama ini tidak melanggar hukum, bahkan banyak
bermanfaat bagi orang lain. Namun, aborsi tanpa izin, tetaplah tidak
dibenarkan.
Pelakunya harus dinilai sebagai pelaku kejahatan dan karenanya
harus diberi ganjaran demi tegakknya hukum. Tanpa tindakan tegas, akan
terjadi pergeseran nilai di masyarakat, bahwa aborsi lumrah dalam
kehidupan masyarakat maju. Pendidikan moral dan agama, menjadi kunci
utama agar kita tetap dapat mengontrol diri.
Berdasarkan kasus tersebut, drg. Arik ini jelas banyak melanggar
disiplin sebagai seorang dokter gigi. Pelanggaran yang telah dilakukan yaitu:
1. Terbukti melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan standar
kompetensinya

baik

dalam

penegakan

diagnosis

penatalaksanaan pasien sebagai dokter gigi. Hal ini

maupun

terlihat dari

tindakannnya melakukan praktik aborsi yang seharusnya dilakukan


oleh dokter spesialis obstetri dan ginekologi (Sp.OG). Hal ini
melanggar Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 4 Tahun
2011 tentang Disiplin Profesional Dokter dan Dokter Gigi Pasal 3
Ayat (2) huruf a yang berbunyi Setiap dokter dan dokter gigi
dilarang melakukan praktik kedokteran dengan tidak kompeten.
2.

drg. Arik tidak melakukan rujukan kepada profesi yang lebih


berwenang, seharusnya drg. Arik merujuk kepada dokter spesialis
obstetri dan ginekologi dalam situasi dimana penyakit atau kondisi
pasien di luar kompetensinya karena keterbatasan pengetahuan,
keterbatasan keterampilan, atau keterbatasan peralatan yang tersedia.
Hal ini melanggar Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 4

18

Tahun 2011 tentang Disiplin Profesional Dokter dan Dokter Gigi


Pasal 3 ayat (2) huruf b yang berbunyi Setiap dokter dan dokter gigi
dilarang tidak merujuk pasien kepada dokter atau dokter gigi lain
yang memiliki kompetensi yang sesuai.
3.

drg. Arik memperkerjakan dua orang yang bukan merupakan tenaga


medis ataupun tenaga kesehatan yang sesuai untuk membantunya
menjalankan praktik aborsinya yang jelas akan sangat membahayakan
nyawa pasien. Hal ini melanggar Peraturan Konsil Kedokteran
Indonesia Nomor 4 Tahun 2011 tentang Disiplin Profesional Dokter
dan Dokter Gigi Pasal 3 Ayat (2) huruf c Setiap dokter dan dokter
gigi dilarang mendelegasikan pekerjaan kepada tenaga kesehatan
tertentu yang tidak memiliki kompetensi dan kewenangan yang sesuai
atau tidak melakukan pemberitahuan perihal penggantian tersebut.
4. drg. Arik melakukan praktik aborsi bukan berdasarkan pada indikasi
medis, seperti pada keadaan gawat darurat, melainkan untuk
menghentikan kehamilan yang sangat berlawanan dengan peraturan
maupun perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Hal ini
melanggar Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 4 Tahun
2011 tentang Disiplin Profesional Dokter dan Dokter Gigi Pasal 3
Ayat (2) huruf k yang berbunyi Setiap dokter dan dokter gigi
dilarang melakukan perbuatan yang bertujuan untuk menghentikan
kehamilan yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
5. drg. Arik membuat seolah-olah gelar akademik yang bukan haknya
menjadi miliknya sebagai alibi untuk menjalankan praktik aborsi.
Arik Wiantara menggunakan gelar dokter S, KG bukan sebagai
sarjana Kedokteran Gigi tetapi sebagai Spesialis Kandungan
Ginekologi

sehingga

pasien-pasiennya

mempercayakan

untuk

melakukan aborsi di tempat praktiknya. Hal ini melanggar Peraturan


Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 4 Tahun 2011 tentang Disiplin
Profesional Dokter dan Dokter Gigi Pasal 3 ayat (2) huruf v Setiap

19

dokter dan dokter gigi dilarang menggunakan gelar akademik atau


sebutan profesi yang bukan haknya.
Drg. Arik melakukan pelanggaran disiplin, pelanggaran
disiplin akan dilakukan pemberian sanksi oleh MKDI. Sanksi disiplin
yang diberikan terhadap pelanggaran disiplin kedokteran menurut
pasal 69 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik
Kedokteran, dapat berupa :
a. Pemberian peringatan tertulis
b. Rekomendasi pencabutan surat tanda registrasi atau surat izin
praktik
c. Kewajiban mengikiti pendidikan atau pelatihan di institusi
pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi.
Selain itu pelanggaran yang dilakukan oleh dokter Arik
mengakibatkan ia dan pasien aborsinya terkena hukuman sanksi pidana.
Sanksi sanksi tersebut termuat dalam undang-undang yang diantaranya
sebagai berikut.
1. Undang Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran
Pasal 77 :
Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan identitas berupa
gelar atau bentuk lain yang menimbulkan kesan bagi masyarakat
seolah-olah yang bersangkutan adalah dokter atau dokter gigi yang
telah memiliki surat tanda registrasi dokter atau surat tanda
registrasi dokter gigi dan/atau surat izin praktik sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 73 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara
paling

lama

(lima)

tahun

atau

denda

paling

banyak

Rp150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).


2. Undang Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran
Pasal 78 :
Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan alat, metode atau
cara lain dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang
menimbulkan kesan seolah-olah yang bersangkutan adalah dokter

20

atau dokter gigi yang telah memiliki surat tanda registrasi dokter
atau surat tanda registrasi

dokter gigi atau surat izin praktik

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 ayat (2) dipidana dengan


pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling
banyak Rp150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).
3. Undang Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan Pasal
194 :
Setiap orang yang dengan sengaja melakukan aborsi tidak sesuai
dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 75 ayat (2)
dipidana dengan pidana penjara lama 10 tahun dan denda paling
banayak Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah)
4. Pasal 346 KUHP :
"Seorang wanita yang dengan sengaja menggugurkan atau
mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu,
diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun."
5. Pasal 347 KUHP :
(1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan
kandungan seorang wanita tanpa persetujuan wanita itu, diancam
dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.
2) Jika perbuatan itu mengakibatkan wanita itu meninggal, dia
diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
6. Pasal 348 KUHP :
(1) Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan
kandungannya seorang wanita dengan izin wanita itu, diancam
dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan wanita itu meninggal, dia
diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
7. Pasal 349 KUHP :
Jika seorang dokter, bidan atau ahli obat-obatan membantu
melakukan kejahatan yang tersebut dalam pasal 346, ataupun
melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang

21

diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan
dalam pasal-pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat
dicabut haknya untuk menjalankan pekerjaannya dalam mana
kejahatan itu dilakukan.
8. Pasal 378 KUHP :
Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri
atau orang lain secara melawan hukum, dengan memakai nama
palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat, ataupun rangkaian
kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang
sesuatu kepadanya, atau supaya memberi hutang rnaupun
menghapuskan piutang diancam karena penipuan dengan pidana
penjara paling lama empat tahun.
Kesalahan yang dilakukan drg. Arik dapat dikenakan hukuman
berat dan sanksi berlapis.

22

BAB III
PENUTUP
A.

Kesimpulan
Kesimpulan dari laporan ini adalah sebagai berikut.
1. Bentuk pelanggaran yang dilakukan pada kasus adalah melakukan
praktik

kedokteran

tidak

sesuai

dengan

kompetensinya,

tidak

melakukan rujukan kepada yang lebih berkompeten, memnperkerjakan


orang yang tidak sesuai dengan kompetensinya, melakukan praktik
aborsi tidak berdasarkan indikasi medis yang sesuai, melakukan
penipuan dengan menggunakan gelar yang bukan haknya.
2. Dasar hukum dari pelanggaran tersebut adalah Peraturan Konsil
Kedokteran Indonesia Nomor 4 Tahun 2011 tentang Disiplin
Profesional Dokter dan Dokter Gigi, Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, dan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2006 tentang
Kesehatan.
B.

Saran
Saran dari laporan ini adalah sebagai berikut.
1. Sebagai seorang dokter gigi seharusnya bekerja sesuai dengan
wewenang

dan

kompetensi

yang

dimilikinya

sehingga

dapat

memberikan manfaat bagi masyarakat di lingkungannya. Hal ini


berkaitan dengan salah satu isi sumpah dokter yang berbunyi Saya
akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan,
2. Sebagai dokter gigi seharusnya menolak melakukan tindakan aborsi
tersebut

dan

memberikan

edukasi

kepada

masyarakat

untuk

menghindari perilaku seks bebas, sehingga kehamilan diluar pernikahan


dapat diminimalisir.

23

DAFTAR PUSTAKA

Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 17/KKI/KEP/VIII/2006 tentang


Pedoman Penegakan Disiplin Profesi Kedokteran.
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 15/KKI/Per/VIII/2006 Tentang
Organisasi dan Tata Kerja Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran
Indonesia dan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia Di
Tingkat Provinsi.
Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 16/KKI/Per/VIII/2006 Tentang
Tata Cara Penanganan Kasus Dugaan Pelanggaran Disiplin Dokter dan
Dokter Gigi oleh Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia dan
Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia Di Tingkat Provinsi.
Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 4 Tahun 2011 tentang Disiplin
Profesional Dokter dan Dokter Gigi.
Undang-Undang republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran.

24