Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH PRODUKSI TERNAK PERAH

Pengendalian Kesehatan Peternakan Sapi Perah

Oleh:
Kelompok 4
Kelas:
C

DIAN ANGGRAINI

200110140060

REZA TAUFIK HASBIALLAH

200110140062

IMAN KUSUSMA WARDANI

200110140126

ELSA SALSABILLA

200110140136

LULU INTAN APRILIAN

200110140137

KIKI KURNIAWATI

200110140138

RISNA ROSDIANA

200110140139

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2016

I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Meningkatnya konsumsi protein hewani masyarakat yang diakibatkan oleh
tumbuhnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kebutuhan zat gizi asal hewani
ini menjadi peluang bagi peternak di Indonesia. Salah satu komoditas peternakan
yang dapat mensuplai kebutuhan konsumen tersebut adalah dari sektor peternakan
sapi perah yang menghasilkan produk utama hasil peternakan berupa susu yang
relative banyak disukai masyarakat karena selain harganya yang relative lebih
murah daripada daging, susu juga mengandung zat gizi yang lengkap.
Kesehatan pada ternak sapi perah menjadi hal yang sangat penting dan
sekaligus sangat perlu diperhatikan. Disamping memperhatikan bibit sapi yang
akan dipilih menjadi sapi perahan, perawatan terhadap kesehatan sapi perah juga
perlu diperhatikan.
Beternak sapi perah memang membutuhkan perhatian yang lebih intensif
dibanding dengan beternak sapi pedaging. Apa lagi dalam hal kesehatan.
Kesehatan sapi perah sangat berpengaruh terhadap kualitas susu yang dihasilkan.

1.2. Identifikasi Masalah


1.

Bagaimana pelaksanaan program kesehatan pada pengendalian penyakit


ternak perah.

2. Apa saja penyakit yang biasa timbul pada ternak perah.

1.3. Tujuan
1. Mengetahui pelaksanaan program kesehatan pada pengendalian penyakit
ternak perah.
2. Mengetahui macam-macam penyakit yang biasa timbul pada ternak
perah.

II
KAJIAN PUSTAKA

2.1. Teknik Anamnesa


Anamnesa yaitu suatu cara untuk mengetahui kondisi kesehatan ternak
dengan cara menanyakan pada pemilik ternak yang meliputi permasalahan pada
ternak dan hal ihwal yang berhubungan dengan kesehatan ternak (Siregar, 1997).
Pemeriksaan kesehatan ternak sangatlah penting karena untuk suatu prediksi
maupun identifikasi ternak tersebut sakit atau sehat (Akoso, 1996).
2.2. Manajemen Pemeliharaan
Ternak yang sehat akan selalu sadar dan cepat tanggap akan perubahan
situasi sekitar yang mencurigakan (Akoso, 1996). Beberapa faktor yang
menyebabkan hewan sakit antara lain faktor mekanis, termis, kekurangan nutrisi,
pengaruh zat kimia, dan faktor lingkungan (Siregar, 1997).
Pemeriksaan umum ternak dimulai dari suatu jarak yang tidak mengganggu
ketenangan ternak. Usaha kebersihan lingkungan kandang, seperti lantai yang
bersih dan kering, drainase sekitar bangunan kandang yang baik, pengapuran,
pengaturan ventilasi kandang yang sempurna dan sebagainya akan mampu
membentengi dari serangan berbagai jenis infeksi penyakit. Kesehatan sapi bisa
dicapai dengan tindakan hygiene, sanitasi lingkungan, vaksinasi, pemberian pakan
dan teknis yang tepat (Sugeng, 2000). Keadaan umum dan kelakuan hewan perlu
diperhatikan, hewan dalam keadaan berdiri atau tidur, tingkat kelesuan, kesadaran
dan kegelisahan sehingga dapat diketahui ternak tersebut sakit atau tidak,

pemeriksaan hewan yang sakit diantaranya memeriksa pakan, minum serta


penelitian meliputi adanya tinja dan kemih (Siregar, 1997).
2.3

Lingkungan kandang
Lingkungan peternakan merupakan tempat yang secara langsung

berhubungan dengan ternak yang dipelihara di peternakan tersebut. Sanitasi


lingkungan peternakan dilakukan dengan mengupayakan tidak adanya serangga
vektor-vektor penyakit yang dapat menyerang ternak. Selain itu penanganan
limbah yang tepat dapat mengurangi adanya pencemaran lingkungan dan
memudahkan tatalaksana sanitasi. Sanitasi perkandangan meliputi sanitasi
kandang sebelum digunakan dan selama pemeliharaan (Santosa, 1995). Lebih
lanjut dijelaskan bahwa sanitasi awal sebelum kandang digunakan merupakan
sanitasi kandang secara total dengan langkah-langkah yang diawali dengan
membersihkan debu yang ada di dalam kandang, mengeluarkan peralatan yang
ada dalam kandang, menyemprot kandang dengan insektisida, menyemprot
kandang dengan deterjen, menyemprot kandang dengan insektisida untuk kedua
kalinya, membetulkan bagian-bagian kandang yang rusak, menyemprot kandang
dengan desinfektan, membersihkan peralatan kandang di luar kandang dengan
menggunakan air dan desinfektan untuk kemudian dimasukan kembali ke dalam
kandang (Siregar, 1997).
2.4

Bangunan kandang
Kandang bagi ternak merupakan sarana yang sangat diperlukan, kandang

bukan hanya sebagai tempat tinggal saja tetapi kandang harus dapat melindungi
dari segala aspek dari luar yang menimbulkan gangguan. Adapun syarat kandang
yang baik antara lain memberi kenyamanan pada sapi, memenuhi persyaratan bagi
kesehatan sapi, memiliki ventilasi udara yang baik dan mudah dibersihkan.

Bentuk kandang yang sering dipergunakan adalah tipe tail to tail dimana sapi
saling membelakangi dan tipe face to face dimana sapi saling berhadapan
(Santosa, 1995). Secara umum konstruksi kandang harus kuat, mudah dibersihkan
dan sirkulasi udara di dalam kandang baik. Sehubungan itu perlu diperhatikan
yaitu arah kandang, ventilasi, atap, dinding, dan lantai kandang (Bambang, 1992).
Atap merupakan pembatas atas dari kandang dan berfungsi untuk
melindungi ternak dari pengaruh luar. Sudut kemiringan atap tergantung pada
lingkungan dan bahan atap yang digunakan. Kemiringan genting antara 30-45,
untuk asbes kemiringannya antara 15-20, dan dari dedaunan kemiringannya
antara 25-30 (Bambang, 1992). Dinding berfungsi sebagai pembatas angin,
penahan keluar masuknya udara dari kandang. Bahan yang digunakan untuk
membuat dinding adalah anyaman bambu, papan dan batu bata (Siregar, 1997).
Lantai kandang. Pembuatan lantai kandang harus memenuhi syarat: rata,
tidak licin, tidak mudah lembab, tahan injakan, dan awet (Bambang, 1992).
Ventilasi sangat berpengaruh pada kesehatan hewan, ventilasi berguna untuk
mengeluarkan udara kotor dari dalam kandang dan menggantikannya dengan
udara bersih dari luar kandang (Siregar, 1997)
Tempat pakan dan minum dibuat dari beton dengan lubang pembuangan air
pada bagian bawah. Bentuk tempat pakan dan minum sebaiknya dibuat cekung.
Tempat pakan dan minum dapat juga dibuat dari: papan kayu untuk tempat pakan
dan ember untuk tempat minum (Santosa, 1995). Ukuran kandang sangat
menentukan produktivitas sapi. Ternak akan merasa nyaman jika ukuran
kandangnya cocok untuk melakukan aktivitas. Panjang dan lebar kandang
menyesuaikan dengan jumlah sapi yang dipelihara (Murtidjo, 1993).
2.6

Kondisi ternak

Taraf kesehatan ternak terlihat dari permukaan kulit yang halus, bersih dan
mengkilat. Pertumbuhan bulu merata di permukaaan tubuhnya dan di daerah
tertentu mungkin bulu tumbuh panjang dan kasar terutama di daerah beriklim
sejuk, namun akan terlihat bahwa dalam keadaan normal penampilan bulu tidak
kusam (Santosa, 1995). Sudut mata terlihat bersih tanpa adanya kotoran atau
getah radang dan tidak terlihat perubahan warna di selaput lendir dan kornea
matanya. Ekornya selalu aktif mengibas untuk mengusir lalat. Pernafasan denyut
jantung dan ruminansi normal dan dapat dirasakan (Akoso, 1996).
Pemeriksaan secara fisik biasanya dilakukan pada saat ternak ini beraktifitas
tidak dalam posisi tidur, sangat terlihat jelas sekali tanda-tanda ternak yang sakit
dengan ternak yang sehat (Santosa, 1995). Dilakukan dengan cara palpasi,
inspeksi visual dan penciuman disamping pendengaran dengan cara auskultasi dan
perkusi. Perkusi yang dilakukan bersama dengan auskultasi untuk menentukan
diagnosa secara pasti terhadap lokasi jaringan yang berisi gas dalam rongga perut.
Suhu tubuh biasanya diukur melalui rektum. Suhu normal untuk sapi 38,5C
(101,5 F) suhu kritis 39,5C (103,0 F). Pulsus ditentukan dari arteri ekor atau
muka sapi, kadang-kadang frekuensi pulsus lebih mudah ditentukan dengan jalan
auskultasi jantung. Frekuensi pulsus permenit bagi ternak sapi 60-80 (Siregar,
1997).Frekuensi pernafasan bervariasi, tergantung dari jenis sapi dan umurnya.
Suara nafas halus, teratur dan tidak tersengal-sengal (Akoso, 1996).
Suhu tubuh sapi dipengaruhi oleh jenis, bangsa, umur, jenis kelamin, kondisi
dan aktivitasnya. Kisaran tubuh normal pada sapi adalah 38,5-39,6 0C dengan
suhu kritis 40 0C (Subronto, 1985). Suhu lingkungan yang berubah-ubah
menyebabkan ternak selalu berusaha untuk menjaga suhu tubuhnya agar tetap,
karena sapi adalah hewan homeothermis (Sugeng, 2000).

Rata-rata frekuensi pernafasan sapi adalah 10-30 kali per menit. Pernafasan
akan lebih cepat pada sapi yang ketakutan, lelah akibat bekerja berat dan kondisi
udara terlalu panas (Sugeng, 2000). Rata-rata frekuensi pernafasan sapi normal
adalah 19 kali permenit. Ternak yang banyak melakukan aktivitas maka frekuensi
pernafasannya lebih cepat, demikian pula jika suhu lingkungan meningkat maka
frekuensi pernafasannya juga semakin cepat (Frandson, 1992).
Pengukuran suhu rektal digunakan untuk mengetahui suhu tubuh.
Pengukuran suhu tubuh ini juga dapat dilakukan melalui mukosa vaginalis yang
disebut dengan suhu vaginalis (Frandson, 1992). Kisaran suhu tubuh normal anak
sapi 39,5-40C, sedangkan untuk sapi dewasa 38-39,5C (Sugeng, 2000).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan denyut nadi adalah umur,
spesies, kelamin, kondisi ternak, aktivitas dan suhu lingkungan (Akoso, 1996).
Hewan yang sakit atau stress akan meningkat denyut jantungnya untuk waktu
tertentu. Semakin tinggi aktivitas yang dilakukan ternak, semakin cepat denyut
nadinya. Hewan yang mempunyai ukuran tubuh lebih kecil, denyut nadinya lebih
besar daripada hewan yang mempunyai ukuran tubuh besar (Frandson, 1992).
Suara jantung berirama teratur dan nada yang tetap. Kelainan terhadap
keteraturan ritme denyut jantung merupakan indikasi adanya gangguan kondisi
sapi (Akoso, 1996). Proses ruminasi pada sapi sehat berupa peremasan pakan
yang ditelan secara kuat dan mantap kemudian dicampur dengan cairan. Peristiwa
ini menimbulkan gerakan rumen yang dapat dirasakan oleh tangan pemeriksa
dengan mengepalkan tinju dan mendesaknya di bagian kiri atas lambung tepat di
lekuk pinggang di belakang rusuk terakhir (Sugeng, 2000).
2.7

Pakan

Keberhasilan usaha ternak sapi akan tercapai apabila faktor-faktor


penunjangnya memperoleh perhatian yang penuh. Salah satu faktor yang utama
adalah makanan, di samping faktor genetis dan manajemen pemberian pakan yang
cukup dan memenuhi syarat tidak berarti akan bisa mengubah sifat-sifat genetik
sapi tetapi akan mampu memunculkan sifat-sifat pembawaan misalnya:
pertumbuhannya menjadi lebih sempurna dan lebih cepat dan persentasi
karkasnya akan menjadi lebih baik (Frandson, 1992). Jenis pakan penguat atau
konsentrat adalah pakan yang mengandung nutrisi tinggi dengan kadar serat kasar
yang rendah, peranan pakan konsentrat adalah untuk meningkatkan nilai nutrisi
yang rendah agar memenuhi kebutuhan normal hewan untuk tumbuh dan
berkembang cepat (Akoso, 1996).
2.8

Tata laksana
Kesehatan ternak adalah suatu status kondisi tubuh hewan dengan seluruh

sel yang menyusun dan cairan tubuh yang dikandungnya secara fisiologis
berfungsi normal. Hewan sakit adalah suatu kondisi yang ditimbulkan oleh suatu
individu hidup atau oleh penyebab lain baik yang diketahui maupun tidak yang
dapat merugikan kesehatan hewan tersebut. Faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi kesehatan hewan antara lain faktor mekanis, termis, nutrisi,
pengaruh zat kimia, keturunan, dan sebagainya (Akoso, 1996). Permukaan tubuh
ternak harus terjaga karena jasad renik atau kutu dapat masuk ke dalam tubuh
ternak melalui lubang-lubang tubuh seperti mulut, hidung, alat kelamin dan kulit
yang luka (Sudarmono, 2008).
Ciri-ciri sapi yang sehat adalah sigap, aktif, sadar keadaan sekitar dan bila
berjalan dilakukan dengan mudah serta dengan langkah yang teratur, matanya
bersianar, ekornya selalu bergerak melawan lalat, kulitnya halus mengkilat,

keadaan berdiri seimbang pada ke empat kakinya, mempunyai level punggung


yang nyata, pernafasan teratur dengan rata-rata 10-30 setiap menit. Jantung secara
normal berdenyut dari 40-60 kali setiap menit selain itu kontraksi pada rumen
dapat dirasakan pada bagian lambung kiri pada ternak (Akoso, 1996). Sapi sehat
bernafas dengan tenang dan teratur, tetapi sapi yang ketakutan, lelah akibat kerja
berat atau kondisi udara terlalu panas frekuansi pernafasan pada sapi akan menjadi
lebih cepat (Anderson, 1983). Penilaian fisiologis ternak meliputi penilaian
terhadap suhu rektal, frekuensi denyut jantung dan frekuensi nafas. Kisaran suhu
tubuh normal sapi rata-rata adalah 38,5C-39,6C (Akoso, 1996). Kandang
berfungsi untuk melindungi ternak, tempat istirahat ternak, mengontrol ternak,
dan memudahkan pelaksanaan pemeliharaan (Abidin, 2008).

III
PEMBAHASAN

3.1

Program Kesehatan
Sejak lahir kesehatan sapi perah harus dipantau dan dikelola secara baik

terutama untuk menurunkan resiko kejadian pneumonia atau radang paru, karena
dalam kehidupaan awal bulan pertama, penyakit pedet biasanya tentang masalah
pernapasan. Secara umum pedet baru lahir kondisinya masih lemah karena belum
memiliki antibody terhadap infeksi mikroba pathogen, sedangkan tubuhnya
membutuhkan perkuatan energy untuk tumbuh secara cepat dan tahan terhadap
berbagai keadaan lingkungan yang kondisinya sangat berbeda dengan lingkungan
yang dialami semasa dalam kandungan. Pedet lahir sehat belum menjamin kondisi
stabil seterusnya tanpa pemberian bantuan yang memadai dalam menjamin
stabilitas kesehatan tubuh, bahkan untuk daerah tertentu harus memperoleh
bantuan pencegahan melalui tindakan vaksinasi.
Perawatan kesehatan paling mendasar pada bulan pertama kehidupan pedet
adalah biosekuriti dengan melakukan sanitasi ketat terhadap makanan cair yang
diberikan dan desifeksi peralatan, memberi cukup peneduh dan kenyamanan
lingkungan serta menjamin kecukupan energy untuk tumbuh dan berkembang.
3.2

Vaksinasi
Salah satu program pencegahan penyakit pada peternakan sapi perah yaitu

dengan melaksanakan program vaksinasi. Vaksinasi dilakukan sesuai dengan

tingkat kerawanan penyakit hewan di masing-masing lokasi peternakan. Di


Indonesia vaksinasi untuk anak sapi yang baru lahir umumnya tidak dilakukan,
dan memang tidak ada keterpaksaan untuk melakukannya. Kecuali bila ada wabah
penyakit tertentu yang perlu pengendalian secara masal, atau jasad renik patogen
yang menyerang pedet dengan angka kesakitan atau angka kematian yang tinggi
dilokasi peternakan misalnya infeksi Salmonella, Clostridium, dan lain-lain.
Di negara tertentu, karena endemic terhadap penyakit menular strategis yang
berbahaya, vaksinasi untuk pencegahan biasa dilakukan secara rutin misalnya
terhadap Infectious Bovine rhinotracheitis (IBR) dan Bovine viral diarrhea (BVD)
sebagai tambahan, vaksinasi terhadap Rotavirus, Coronavirus dan Enterotoxemia
mungkin perlu untuk dilakukan bila terindikasi terjadi kasus di peternakan yang
bersangkutan.
Di Indonesia tindakan yang sama dengan melakukan vaksinasi terhadap
penyakit-penyakit tersebut pada saat ini tidak diperlukan. Program vaksinasi harus
dicatat dan dilakukan evaluasi setiap tahun sesuai perkembangan situasi penyakit
menular dikawasan peternakan, dengan melakukan konsultasike otoritas veteriner
di daerah yang sama. Vaksinasi yang tidak tepat sasaran sesuai situasi penyakit di
daerah masing-masing tidak akan memberikan manfaat dan bahkan berarti
pemborosan. Sebaliknya bila harus dilakukan vaksinasi tetapi tidak dilaksanakan
akan memiliki resiko tinggi terhadap kemungkinan infeksi.
3.3

Nutrisi Pakan
Factor nutrisi menjadi penting bagi kesehatan dan kebugaran pedet karena

berbeda dalam masa pertumbuhan, dan bertahan terhadap stress. Pemberian


imbangan nutrisi yang cukup terutama terhadap protein, energy, dan mineral
(trace mineral) diperlukan untuk memastikan kebutuhan dasar nutrisi yang baik

pasca lahir. Perhatian terhadap kebutuhan nutrisi bagi pedet bahkan perlu dimulai
sejak dini ketika induk dalam masih dalam masa kering dan pedet masih dalam
kandungan. Pakan yang diberikan harus dalam kondisi baru dan segar setiap hari.
Jangan membiarkan pakan sudah basi masih diberikan atau bercampur dengan
pakan yang baru dengan tujuan penghematan. Semua pakan yang diberikan perlu
diperhitungkan sesuai jatah habis dimakan dan sisanya dibuang. Semua bahan
pakan didalam gudang harus tercatat tanggal masuk dan diperhitungkan jadwal
pemakaiannya. Pedet dikelompokan sesuai umur dan kebutuhan nutrisi agar dapat
dijamin perolehan nutrisi yang sesuai dengan tingkat pertumbuhannya.
3.4

Sanitasi Kandang
Angka kematian untuk pedet tergolong tinggi bila dibandingkan sapi dara

atau dewasa. Untuk mengurangi resiko kematian, maka sanitasi dan kebersihan
kandang harus dijaga dengan baik. Kandang harus diupayakan secara teratur,
selalu kering, dapat cukup sinar matahari pagi dan memiliki kelengkapan ventilasi
baik. Dalam usianya yang sangat muda, pedet rentan terhadap berbagai infeksi
atau gangguan kesehatan. Pedet yang sakit, menderita diare atau terkena infeksi
jasad renik lain harus segera diisolasi agar tidak menular.
3.5

Penyakit yang Biasa Ditemukan dan Penanganannya

Penyakit cacingan
Penyakit cacingan banyak disebabkan oleh penggembalaan di pagi hari,
dimana hijauan terkontaminasi oleh telur cacing. Gejala yang timbul apabila sapi
perah terkena penyakit cacingan diantaranya: telur cacing ditemukan di feses, bulu
berdiri, dan tubuh kurus. Cacingan apabila dibiarkan maka dapat mempengaruhi
produksi susu. Penyakit cacingan menurut Spigel (2001) dapat menurunkan
produksi susu sebanyak 15% sehingga perlu ada penanganan serius dari penyakit

ini. Cara mengatasi ternak yang cacingan adalah dengan diberikan obat
Albendasol secara oral.

Endometritis
Endometritis merupakan peradangan di bagian endometrium. Endometritis
adalah peradangan pada lapisan endometrium uterus, biasanya terjadi sebagai
suatu hasil dari infeksi bakteri patogen terutama terjadi melalui vagina dan
menerobos serviks sehingga mengkontaminasi uterus selama partus, membuat
involusi uterus menjadi tertunda dan performa reproduksi memburuk. Sehingga
menyebabkan kerugian secara ekonomis.
Radang pada endometrium uterus ini juga dapat disebabkan infeksi sekunder
yang berasal dari bagian lain tubuh sehingga dapat menyebabkan gangguan
reproduksi pada hewan betina. Penyebab lain adalah karena kelanjutan dari
abnormalitas partus seperti abortus, retensio sekundinarium, kelahiran prematur,
kelahiran kembar, distokia serta perlukaan pada saat membantu kelahiran
(Sudarwanto, 1998). Endometritis sebagai gangguan pada saluran reproduksi
betina, dapat memperpanjang calving interval dan penurunan kesuburan hingga
kemajiran. Endometritis merupakan peradangan pada selaput lender uterus
(endometrium) yang diakibatkan oleh infeksi kuman yang masuk ke dalam uterus
melalui vagina, biasanya pada keadaan partus yang abnormal, atau secara
hematogen (aliran darah) (Sudarwanto, 1998). Endometritis disebabkan oleh
kuman spesifik pathogen pada uterus seperti Campylobacteriosis (Vibriosis),
Trichomoniasis dan Brucella abortus yang dapat menginfesi tanpa faktor
prediposisi yang lain. Untuk mengdiagnosa endometritis melalui palpasi rectal.

Penanganan ternak yang terdiagnosa penyakit endometritis adalah dengan


melakukan Spul atau pembersihan daerah uterus yang terkena radang dengan
menggunakan antiseptik. Sehingga, bakteri patogen didalam uterus mati. Dengan
begitu maka uterus dapat kembali sehat.
Masalah Reproduksi
Permasalahan yang timbul dalam reproduksi sapi perah banyak ditemui
beberapa kasus kelainan atau disfungsi. Yang biasa terjadi adalah kasus distokia
atau sulit melahirkan. Distokia adalah suatu gangguan dari suatu proses kelahiran
atau partus, yang mana dalam stadium pertama dan stadium kedua dari partus itu
keluarnya fetus menjadi lebih lama dan sulit, sehingga menjadi tidak mungkin
kembali bagi induk untuk mengeluarkan fetus kecuali dengan pertolongan
manusia. Pada umumnya kejadian distokia lebih sering terjadi pada sapi perah
dibanding sapi potong (Putro, 2012). Menurut Jackson (2007) kasus distokia
disebabkan oleh penimbunan lemak di pelvis, bobot lahir terlalu besar,
hipokalsemia, umur induk, presentasi kelahiran dan lama kebuntingan. Distokia
dapat dicegah dengan memperhatikan penyebab yang dapat menimbulkannya,
yaitu dengan pakan seimbang dan tidak berlebih, memperbaiki presentasi
kelahiran dengan palpasi rectal, kemudian diberikan tindakan suportif prepartus.
Suportif prepartus dengan menambahkan vitamin ADEK dan Ca pada umur 8
bulan kebuntingan. Selain untuk mencegah distokia, suportif prepartus juga untuk
menjaga stamina induk saat melahirkan nantinya.
Retensi Plasenta juga sering ditemui di farm. Retensio sekundinae yaitu
tertahannya plasenta atau selaput fetus setelah partus melebihi batas normalnya.
Secara fisiologik selaput fetus dikeluarkan dalam waktu 3-5 jam postpartus.
Apabila plasenta menetap lebih lama dari 8-12 jam kondisi ini dianggap

patologik, sehingga disebut retensio sekundinae (retensi plasenta) (Manan, 2002).


Patologi kejadian retensio sekundinae adalah kegagalan pelepasan vili kotiledon
fetal dari kripta karunkula maternal. Setelah fetus keluar dan korda umbilikalis
putus, tidak ada darah yang mengalir ke vili fetal sehingga vili tersebut berkerut
dan mengendur terhadap kripta karankula. Uterus terus berkontraksi dan sejumlah
darah yang tadinya mengalir ke uterus sangat berkurang. Karunkula meternal
mengecil karena suplai darah berkurang sehingga kripta pada karunkula
berdilatasi. Akibat dari semua itu vili kotiledon lepas dari kripta karankula
sehingga plasenta terlepas. Pada retensio sekundinae, pemisahan dan pelepasan
vili fetal dari kripta maternal terganggu, sehingga pertautan diantara keduanya
masih terjadi. Retensio sekundinae dan atau endometritis dapat menurunkan
kesuburan (infertilitas) pada penderita sampai pada kemajiran, sehingga
mengganggu proses reproduksi. Cara mengatasi ternak yang terkena retensi
plasenta adalah dengan membantu ternak mengeluarkan plasenta dengan palpasi
langsung dan dilakukan spul untuk menghindari radang atau luka di saluran
reproduksi.
Diare
Kasus diare biasa ditemukan pada pedet yang masih menyusu. Ketika pedet
pindah dari colostrum ke susu maka pedet biasanya terserang diare. Selain itu juga
diare disebabkan oleh bakteri di saluran pencernaan. Diare yang disebabkan oleh
bakteri dapat diatasi dengan penggunaan antibiotic.
Pneumonia
Pneumonia biasa ditemukan kasusnya pada pedet yang masih menyusu.
Ketika suhu dan kelembaban lingkungan kandang berubah maka pedet biasanya
akan terserang pneumonia. Untuk mengatasi hal tersebut maka lantai kandang

diberi alas agar suhu kandang optimal dan kelembabannya terjaga. Apabila alas
kandang terlalu basah maka dapat diganti secara berkala.

Bloat
Bloat atau kembung merupakan gangguan metabolic pada saluran
pencernaan khususnya di rumen. Hal ini disebabkan oleh produksi gas berlebih di
rumen dan ternak sulit untuk mengeluarkannya. Banyak cara untuk mengatasi
bloat yaitu dengan melubangi bagian rumen agar gas dapat keluar. Selain itu juga
dengan suplementasi minyak nabati yang mengandung asam lemak tak jenuh
dapat mengurangi bloat.
Mastitis
Mastitis merupakan infeksi atau peradangan pada jaringan interna ambing
yang dapat ditandai dengan perubahan kualitas maupun perubahan produksi susu
(Ensminger, 1991). Mastitis merupakan reaksi peradangan pada jaringan ambing
terhadap infeksi bakteri, kimia, panas, ataupun karena perlukaan (Schmidt et al.
1988). Respon peradangan ditandai dengan peningkatan protein darah dan sel
darah putih pada jaringan ambing dan susu. Tujuan dari peradangan adalah untuk
netralisasi terhadap penyebab iritasi, perbaikan jaringan yang rusak, dan
pengembalian fungsi normal ambing (Foley et al. 1972). Susu pada sapi yang
menderita mastitis akan mengalami perubahan secara fisik dan kimia. Perubahan
secara fisik antara lain terjadinya perubahan warna, bau, rasa, dan konsistensi.
Perubahan secara kimiawi meliputi penurunan jumlah kasein dan laktosa
(Subronto, 2003). Kejadian mastitis dapat disebabkan karena kausa infeksius dan
non-infeksius. Kausa infeksius disebabkan oleh mikroorganisme patogen masuk

melalui saluran puting susu ke dalam kelenjar ambing. Kausa non-infeksius


berkaitan dengan kondisi hewan/ternak dan kondisi lingkungan. Kerugian
ekonomi yang diakibatkan mastitis antara lain; terjadinya penurunan produksi
susu per kuartir per hari antara 9-45.5%, penurunan kualitas susu yang
mengakibatkan penolakan susu mencapai 30-40% dan penurunan kualitas hasil
olahan susu, peningkatan biaya perawatan dan pengobatan serta pengafkiran
ternak lebih awal (Sudarwanto dan Sudarnika, 2008). Penanganan kasus mastitis
adalah dengan penyuntikkan antibiotic langsung intramamae. Setelah beberapa
hari pasca penyuntikkan susu harus dianalisis kandungan residu antibiotiknya
menggunakan alat khusus. Apabila di dalam susu sudah negatif kandungan
antibiotikanya dilanjutkan dengan uji kandungan nutrient susu menggunakan alat
lactoscan. Apabila susu sudah layak konsumsi maka susu dari ternak tersebut
dapat dipasarkan kembali.
Brucellosis
Brucellosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri genus
Brucella. Brucella adalah bakteri yang berbentuk batang halus berukuran panjang
0,5-2,0 dan lebar 0,4-0,8 . Bakteri ini tidak bergerak, tidak berspora, bersifat
aerob dan parasit intraseluler yang dapat hidup dalam sel makrofag serta sel epitel
induk semang. Kemampuan ini yang menyebabkan pengobatan memakai
antibiotic kurang efisien dan efektif (Blood dan Radostitis 1989) serta
pemeriksaan bakteriologis yang sulit karena kuman jarang beredar di darah.
Penyebaran penyakit Bucellosis pada sapi telah dilaporkan terjadi hampir di
seluruh wilayah Indonesia yang setidaknya telah dilaporkan menyebar ke-26
propinsi (Sudibyo dan Ronohardjo, 1989). Penularan langsung terjadi bila sapi
menjilat/terjilat sisa kelahiran tersebut. Bakteri yang dikeluarkan bersamaan

dengan kelahiran tersebut mampu menularkan lagi hingga 600 ekor sapi lain.
Umumnya tingkat penularan tertinggi terjadi selama satu bulan sejak induk
penderita mengalami keguguran atau melahirkan. Selanjutnya bakteri akan
bersembunyi di dalam persendian, kelenjar limfe (khususnya supramaria) dan
kelenjar susu (Subronto 2003). Setelah itu infeksi akan mengalami penurunan
pada hari ke 48 hingga ke 90. Pada saat ini kuman Brucella tidak dapat diisolasi
dari darah atau uterus tidak bunting. Selama proses penyakit berlangsung, hewan
secara klinis nampak sepenuhnya sehat dan lesi yang timbul bersifat ringan.
Brucellosis pada sapi jantan dapat terjadi tanpa memperlihatkan gejala
klinis walau pembesaran tetes akibat epididimistis dan orchitis terjadi (Ressang
1984). Diagnosa penyakit umumnya dilakukan berdasarkan isolasi kuman
Brucella yang dikonfirmasikan dengan pengujian bakteriologi seperti uji biokimia
dan uji serologis . Uji serologis merupakan teknik diagnosa yang umum
digunakan untuk brucellosis yang di Indonesia umumnya menggunakan teknik
Rose Bengal Plate Test (RBPT), Serum Agglutination Test (SAT), dan
Complement Fixation Test (CFT). Sementara itu teknik diagnosa Enzymelinked
lmmunosorbent Assay (ELISA) adalah teknik diagnosa yang paling sensitif untuk
uji brucellosis .

IV
KESIMPULAN

1. Pelaksanaan program kesehatan pada pengendalian penyakit ternak perah


diantaranya dengan melaksanakan program vaksinasi, memperhatikan
kecukupan nutrisi ternak sesuai dengan kebutuhannya dan manajemen
pemberian pakan, serta menerapkan program biosecurity seperti sanitasi
kandang.
2. Penyakit-penyakit yang biasa timbul pada ternak perah diantaranya:
a. Cacingan
b. Endometritis
c. Masalah Reproduksi
d. Bloat
e. Brucellosis
f. Mastitis

DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Z. 2008. Penggemukan Sapi Potong. Agro Media: Jakarta.
Akoso, T. B. 1996. Kesehatan Sapi. Kanisius: Yogyakarta.
Anderson, B. E. 1983. Temperature Regulation and Enviromental Physiology, In :
Dukkes Physiologi of Domestic Animal. 10th ed. Melum J. (ed) Carnal
University Press. P. 719
Bambang I. C. 1992. The Physiologis of Domestic Animal. A Division of Cornell
University Press: Ithaca New York.
Blood DC, OM Radostitis. 1989. Veterinari Medicine. Bailliere Tindall, London.
England.
Ensminger ME. 1991. Animal Science. Illinois: Interstate.
Foley CR, Bath LD, Dickinson NF, Tucker AH. 1972. Dairy Cattle: Principles,
Practices, Problems, Profits. Lea & Febiger: Philadelphia.
Frandson, R. D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University
Press: Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh: Koen Praseno).
Jackson (2007) Jackson, P, G. 2007. Handbook Obstetrik Veteriner. Edisi ke-2.
Diterjemahkan oleh ArisJunaidi. Gadjah Mada University Press:
Yogyakarta.
Manan, 2002. Ilmu Kebidanan pada Ternak. Fakultas kedokteran Hewan
Universitas Syiah Kuala : Banda Aceh.
Murtidjo, B. A. 1993. Memelihara Domba. Penerbit Kanisius: Yogyakarta.
Putro, 2012 Putro, P.P., Prihatno, S.A., Setiawan, E.M.N. 2012. Petunjuk
Praktikum Ruminansia I Blok 115. Bagian Reproduksi dan Kebidanan.
FKH UGM: Yogyakarta.

Ressang AA. 1984. Patologi Khusus Veteriner. Institut Pertanian Bogor: Bogor.
Santosa, U. 1995. Tatalaksana Pemeliharaan Ternak Sapi. Penebar Swadaya:
Jakarta.
Schmidt GH, Van Vleck LD, Hutjens MF. 1988. Principles of Dairy Science. Ed
ke-2. Prentice Hall: New Jersey.
Siregar, B.S. 1997. Penggemukkan Sapi. Penebar Swadaya: Jakarta.
Subronto. 1985. Ilmu Penyakit Ternak. Gadjah Mada University Press:
Yogyakarta.
Subronto. 2003. Ilmu Penyakit Ternak I. Gadjah Mada Univ Press: Yogyakarta.
Sudarmono, A. S. 2008. Sapi Potong. Penebar Swadaya: Jakarta.
Sudarwanto M, Sudarnika E. 2008. Nilai diagnostik tes IPB mastitis
dibandingkan dengan jumlah sel somatik dalam susu. Prosiding Konferensi
Ilmiah Veteriner Nasional; Bogor, 19-22 Agu 2008. Bogor: KIVNAS. hlm
363-365.
Sudarwanto M. 1998. Pereaksi IPB-1 sebagai Pereaksi alternatif untuk
mendeteksi mastitis subklinis. Med Vet 5 (1): 1-5.
Sudibyo, A. dan P. Ronohardjo . 1989 . Brucellosis pada sapi perah . Prosiding
Pertemuan Ilmiah Ruminansia . Ruminansia besar, Jilid 1 :25-31
Sugeng, Y. B. 2000.Ternak Potong dan Kerja. Edisi I. CV. Swadaya: Jakarta.